Category Archives: Sejarah Islam

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (7)

BAGIAN- 16

SHURA (DEWAN KONSULTATIF)

Setelah mempelajari Karbala Ki Haqiqat (Karbala: Fakta atau Fiksi?) selama sebulan, para anggota Shura yang berbeda-beda bertemu dua kali pada tanggal 8 dan 9 Juli 2000.

Berikut para anggota yang mengambil bagian:

Qari Ghulam Muhammad Malik, London

Allama Zeeshan Qadri, Hyderabad Deccan

Nuri Muslim Syed, Damascus

Mrs. Mukhtar Begum, Durban

Mrs. Batool Sultana, Sweden

Hakeem Saadat Hassan Qarshi, Chittagong

Dr. Shujauddin Kirmani, Karachi

Maulvi Hafiz Muhammad Haq, Patna

Mrs. Rabab Naqvi, Qatar

Hassan Raza Akhtar, Montreal.

Aku berhutang kepada pendapat yang dinyatakan oleh para anggota dewan dan yang lainnya. Berikut adalah ringkasan hasil kerja tersebut:

Qari Ghulam Muhammad Malik: Setelah menulis buku tentang isu sensitip seperti ini, adalah mengejutkan bahwa Dr. Shabbir Ahmed belum dianugrahi fonis dari para mullah. Karbala Ki Haqeeqat adalah sebuah buku yang membuka mata. Sebuah buku yang sangat bagus dan enak dibaca. Buku ini sebaiknya menjangkau sebanyak-banyaknya kaum Muslimin.

Allama Zeeshan Qadri: Menceritakan kebenaran adalah melampaui tingkatan berbahaya, riset ini luar biasa.

Dr. Shabbir Ahmed: Saya meminta para anggota agar tetap mengarahkan pada kritikan.

Allama Zeeshan Qadri: Apa ada di sana untuk mengkritik? Orang tidak bisa menemukan sebuah persamaan tentang penyimpangan sektarian dalam buku anda manapun termasuk yang ini. Dan semua statemen telah didokumentasikan dengan bak. Aku berpikir buku ini akan tangguh berhadapan dengan mereka yang dengan teguh mengikuti nenek moyang mereka. Bagaimanapun, al-hamdulillah, Ummah Muslimin telah cukup sadar. Mengetahui kebenaran akan menjadi sebuah pelepasan yang besar bagi ratusan ribu orang.

Naskah ini telah disampaikan kepada Sayed Muhammad An-Noori dari Damascus, dengan tulisan tangan dalam Bahasa Inggris. Ia berkata, “Ini merupakan suatu hal yang baik bahwa buku ini telah diterbitkan sejauh ini dalam bahasa Urdu. Saya telah menempuh perjalanan secara luas dan menemukan bahwa orang-orang yang seharusnya paling berpandangan terbuka, yakni orang-orang Arab, ternyata adalah yang paling kaku pada hari ini. Mereka bereaksi secara buta sama sekali. Di Syria para pemalas yang berjongkok di jalan-jalan baik yang memuliakan Hazrat Ali ataupun yang menghina dia juga bereaksi. Ada sebuah laporkan perkataan Nabi yang menyatakan bahwa orang-orang akan menjadi ekstrim dalam memuji dan menghina Hazrat Ali sebagaimana yang dilakukan bangsa Yahudi dan Nasrani terhadap Yesus Kristus. Bagi Muslimin, buku ini akan menjadi sebuah cara menuju keseimbangan dalam pemikiran mereka.”

Mrs. Mukhtar Begum adalah seorang Aktifis Islam di Durban, Afrika Selatan. Dia berkata, “Buku ini telah memenuhi suatu kebutuhan mendesak dari waktu kami.”

Mrs. Batool Sultana Agha Stockholm, Sweden: hanyalah orang-orang yang kekurangan visi dan kebijaksanaan yang dapat percaya kepada fiksi tentang Imam Mahdi. Aku bagaimanapun, takut akan reaksi yang emosional terhadap buku ini dan pengarangnya.”

Allama Zeeshan Qadri: Tidak ada pekerjaan tentang segala hal yang bermakna bisa dilakukan dalam kondisi ketakutan. Aku telah melihat sendiri buku Abdul Jabbar Qaramati di Musium Istanbul pada tahun 1960 dan aku menulis beberapa komentar dalam bahasa Urdu dan Inggris untuk dipublikasikan. Namun tidak ada jurnal yang berani menerbitkan komentarku.

Dr. Shujauddin Kirmani, seorang ahli ilmu agama dan psikolog di Karachi, berkata: Harus diingat bahwa di sejarah kita telah pernah ada zaman ketika para perawi, sarjana Hadith dan sejarawan, telah menggabungkan diri mereka dengan lingkungan kerajaan. Para raja akan memberi banyak penghargaan kepada mereka untuk tulisan yang menyenangkan mereka. Jadi, banyak dari para pengarang ini menari sesuai dengan irama musik para pelindung mereka.

Maulvi Hafiz Muhammad Haq: Hinaan kepada akal manusia telah diungkapkan dalam Karbala Ki Haqeeqat yang memungkinkan pembaca meneliti sendiri Kebenaran vs Kebohongan.

Mrs. Rabab Aqeel Naqvi: Apapun yang pernah kita dengar dan baca sejak masa kanak-kanak telah diruntuhkan. Argumentasi dan acuan sedang menyilaukan mata kita. Dalam waktu beberapa jam aku telah melihat sekitar 90 buku berserak di sekitar Dr. Shabbir yang darinya acuan telah diambil oleh buku ini. Bahkan pengadaan dari buku yang jarang ini adalah suatu hal yang menakjubkan!

Dr. Shabbir Ahmed: Aku berhutang kepada para pembacaku yang tetap mengirimi aku buku-buku unik dan sulit ditemukan dari seluruh sudut dunia.

Mr. Hassan Raza Akhtar (Pustakawan): Aku dengan sepenuhnya setuju dengan Mrs. Rabab Naqvi. Sejak membaca buku ini, aku merasakan sedang hidup dalam suatu hidup yang baru. Begitu banyak kebingungan telah dibuka dari pikiranku.

Allama Zeeshan Qadri: Aku lupa menyebutkan suatu hal yang sangat penting. Munajaat Zainul Abideen, sebuah buku yang menurut dugaan ditulis oleh Imam Zain pada zaman dahulu semasa hidupnya tidak menyebutkan sama sekali tentang Karbala!

Dr. Shabbir Ahmed: Luar biasa! Aku berterima kasih kepada semua anggota Shura yang terhormat atas pendapat mereka. Bahkan buku-buku Hadith yang ditulis pada abad ke-2 dan ke-3 sekalipun tidak menyebutkan peristiwa itu sama sekali. Karbala Ki Haqeeqat adalah masalah yang rumit di mana ketidak sempurnaan mungkin ada dalam teks ini. In-sha-Allah dengan bantuan dan bimbingan anda, maka akan ada perbaikan pada edisi berikutnya.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (6)

BAGIAN- 15

SESI TANYA – JAWAB

Pembaca yth.,

Selama menyusun buku ini bersama-sama, beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan telah bertanya kepada saya beberapa pertanyaan sangat penting.

Pertanyaan (Q): Selamat bahwa Anda bukan kepunyaan sekte manapun, tetapi harus ada suatu kepercayaan dari yang lain yang boleh jadi memuakkan bagi kamu? Hassan Akhtar, Detroit.

Jawaban (A): Aku menyatakan dengan segenap jiwa saya, bahwa saya bukan kepunyaan sekte manapun. Penghormatan dan cinta kepada Al-Quran dan Nabi yang agung, cukup sebagai alasan yang masuk akal, dari sangkar pemikiran keberagamaan saya. Mengenai kepercayaan terhadap yang lain, saya kira saya tidak membawa rasa suka dan tidak suka secara pribadi. Menjadikan Kitab Allah sebagai Ukuran Yang terakhir, kita semua harus tidak mengindahkan dogma non-Qura’nic di mana saja kita temui.

Q. Terlepas dari sudut pandang Shi’ah, buku anda, Karbala: Fakta atau Fiksi?- tidak akan mendapatkan persetujuan dari alim ulama non-Shi’ah kita. Hafiz Ghulam Muhammad, Jacksonville.

A. Mendapatkan persetujuan dari seseorang bukanlah tujuanku. Integritas dalam riset adalah yang paling penting bagiku. Selain sebagai dokter, aku adalah seorang siswa sejarah, psikologi, filosofi dan ilmu agama. Setelah melakukan riset menurut kemampuan terbaik yang kumiliki, saya menyajikan kesimpulan yang tulus dengan tetap menghormati yang lain. Tentu saja, seorang murid yang dapat berbuat keliru seperti saya, mungkin juga membuat kekeliruan. Syiah, non-Syiah dan yang lainnya mempunyai hak mutlak untuk menolak hasil riset saya.

Q. Sesuai dengan tema dari buku ini, aku ingin bertanya kenyataan dari Panjtan Pak (Lima Figur suci, Muhammad (S), Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain). Humera Jaafri, Orlando.

A: Banyak Muslimin dari berbagai sekte menganggap lima orang terkemuka yang agung ini sebagai Panjtan Pak. Kita tidak mempunyai keraguan tentang karakter mulia mereka. Namun demikian, istilah Panjtan Pak atau istilah lainnya tidak nampak di Quran, atau nama selain Muhammad tidak nampak di Kitab tersebut. Menurut Kitab Allah, kualitas pribadi tergantung pada perbuatan individu, bukan pada kekerabatan.

Q. Muslimin tetap mempermasalahkan tentang Tritunggal dalam ajaran Kristen. Bagaimana tentang Segilima mereka sendiri (Panjtan Pak)? Andrea Maseeh, Gujranwala.

A: Perhatikan pertanyaan yang terakhir dan jawabannya. Ini adalah dogma yang non-Quranic. Bagi  Muslimin, tentu saja juga manusia seluruhnya, kewenangan terakhir tidak lain hanyalah Kitab Allah. Tidak ada ‘Segilima’ dalam Al-Quran.

Q. “Setelah mepelajari naskah dari buku ini”, Khateeb Muhammad Yaseen Jafri, seorang Muhaddith dari Multan berkata, “Bukumu akan sangat membantu menyingkirkan pernyataan melebih-lebihkan yang tak terbilang banyaknya dalam sejarah kita. Tetapi tolong ditinjauan ulang Ayat tentang ‘Tatheer’.”

A. Aku berterima kasih kepada Mr. Jafri yang terpandang, bahwa ia mempelajri naskah ini dan memberi nasihat yang berharga. Untuk memenuhi keinginannya aku sudah meninjau apa yang disebut Ayah Tatheer (33:33). Ayah 28 hingga ayat 34 dari Sura Ahzab tersebut semuanya ditujukan kepada isteri Rasul yang agung (Para ibu mukminin). Ayah 33 dan 34 berisi perintah khusus kepada para wanita mulia ini dan rumah tangga secara umum. Hazrat Ali bukanlah seseorang yang tinggal di dalamnya tetapi seorang menantu. Oleh karena itu, kita tidak menemukan apapun pada ayat ini untuk dikaitkan kepada Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain. Semua narasi yang mengaitkan mereka dengan ayat ini muncul pada abad ketiga dan keempat AH oleh orang-orang untuk mengadu domba Muslimin.

Q. Yang terhormat Sheikhul-Hadith Mufti Muhammad Irshad Nizami juga telah dengan baik meninjau ulang secara kritis naskah ini. Ia berkata, “Acuan anda akurat. Usaha ini mungkin akan menciptakan dua jenis reaksi. Sebagian orang akan merasa mendapat serangan. Pada sisi lain, pemikir yang tidak memihak akan menemukan di dalamnya potensi untuk kembali kepada AL-Quran dan dengan begitu akan mempersatukan dua sekte utama Islam.”  Syekh Sahib, dengan penuh harapan, lebih lanjut  berkata, “Riset sejenis ini  semestinya telah dilakukan orang tua seperti aku. Sekarang pada saat umurku yang sudah senja (80 tahun lebih) aku merasakan bahwa aku akan mampu meinggalkan dunia ini dengan kepuasan, karena seseorang telah melakukan pekerjaan yang telah ditinggalkan selama berabad-abad. Tolong perhatikan dua persoalan atas nama saya karena mereka sering salah tafsir.

Satu:  “Ayah Tatheer” (33:33) hanya menyinggung kepada rumah tangga Nabi (Ahlul Bait) yaitu mereka yang tinggal di rumah Rasool (S), yaitu isterinya dan anak-anak mereka. Jika Hazrat Ali dimasukkan karena dia sepupu Nabi, lalu bagaimana dengan Hazrat Abbas bin Abdul Muttalib, paman Nabi, kenapa diabaikan? Kekerabatan seorang paman adalah lebih dekat dibandingkan dengan seorang sepupu. Dan, bagaimana dengan para putri Nabi selain dari Hazrat Fatima! Berdasarkan sejarah ini, banyak khalifah dari dinasti Abbasiah mengklaim bahwa pemerintahan mereka adalah sebagai pemerintahan Ahlul Bait.  Para pendukung Abbasiah yang pertama, Khalifah Abul Abbas, menganggap dia sebagai Imam yang syah.

Dua: ”Al-Mawaddata fil Qurba” harus dengan tepat dipahami. Istilah ini pada ayat 42:23 bermakna menghormati orang-orang yang dekat. Ayat 42:23 ini adalah berita gembira dari Allah kepada para hamba-Nya yang beriman dan hidup dengan kesalehan. Katakanlah, “Tidak ada imbalan yang aku minta kepadamu untuk ini selain dari bahwa kamu menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang dekat dalam ikatan kemanusiaan” (dan dengan begitu mencari jalan menuju Tuhanmu 25:57). Karena, seseorang yang bermanfaat bagi orang banyak, Kami akan menghadiahi dia tambahan kebaikan. Dan, sungguh, Allah bebas dari ketidaksempurnaan, sangat tanggap untuk berterima kasih.

Sebagian orang secara keliru menginterpretasikan ‘’Al-Mawaddata fil Qurba” seolah-olah Nabi yang agung meminta orang-orang untuk mencintai familinya sebagai imbalan atas jasa-jasanya. Penafsiran ini jelas keliru jika dikaitkan dengan semangat Al-Qur’an yang menyiratkan bahwa kekerabatan, ras, warna kulit dan etnik tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan kemuliaan atau kebaikan seseorang.

Juga, istilah untuk famili/ keluarga adalah ”dzil Qurba” atau ”Aqraba”, bukan ”Fil Qurba”.

Hazraat Nooh, Hud, Lut, Saleh, Shoaib, dan semua Nabi yang lainnya mengatakan kepada kaumnya bahwa mereka tidak meminta imbalan jasa apapun atas pelayanan mereka. Maka, bagaimana bisa Nabi yang agung meminta suatu imbalan atas risalahnya? Al-Quran menolak konsep ini dengan menyatakan bahwa hanya karakter pribadi dari seorang individu yang bisa dijadikan ukuran kehormatan seseorang. Menjadi bapak Hazrat Ibrahim tidak memberikan manfaat bagi Azar, demikian juga menjadi keturunan seorang Nabi tidak bisa membantu anak Nuh. Hubungan keluarga tidak memberikan jaminan keselamatan bagi isteri Hazraat Nuh dan Lut. Dengan cara yang sama, adalah dari keturunan Nabi juga seorang seperti Muhammad Ali Baab dilahirkan, yang pada faktanya meninggalkan Islam dan menciptakan agama Bahai.”

Q. Bagaimana mungkin Nabi meinggalkan dunia ini tanpa menunjuk nama seorang pengganti?” Kazim Ali Zaidi

A. Surah Shoora menyuruh konsultasi timbal balik untuk menjalankan urusan orang-orang yang beriman.

Q. Saya berpikir Maudoodi Sahib benar ketika bertanya apa yang ditinggalkan kepada kita jika kita tidak menerima tulisan dari para sejarawan kita. Alhaj Muhammad Raghib Siddiqui, Lahore.

A. Muslimin secara unik meletakkan dirinya dengan membandingkan dengan orang yang lain. Mereka mempunyai Al-Quran yang akan memisahkan yang benar dari yang palsu. Kita semestinya menerima catatan dari sejarah dan hadits zaman dulu hanya jika sesuai dengan AL-Quran.

Q. Tetapi Al-Quran tidak diwahyukan selama peristiwa Jamal, Saffain dan Karbala ?

A. Benar. Namun demikian, bagaimana bisa para sejarawan tiga atau empat ratus tahun kemudian memberikan penjelasan yang lebih baik perihal karakter para Sahaba Karam dibandingkan dengan yang disampaikan Al-Quran?

Mr. Surjeet Singh Lamba dari Delhi, India, telah mengirimkan sebagian dari puisinya untuk dimasukkan ke dalam buku ini. (Terjemahan dari Urdu)

Siapa yang lebih besar keimanannya dibanding Siddique

Siapa yang lebih adil dibanding Farooq

Siapa yang lebih dermawan dibanding Uthman

Siapa yang lebih berani dibanding Ali Singa Allah

Jika seperti itu sifat para pelayan betapa besar Sultan jadinya

Ungkapan ringkas ini membawa sebuah pelajaran bagi kaum Muslimin yang senantiasa mengumumkan Sahaba Karam berdasarkan kepercayaan sektarian mereka yang patut disayangkan.

Q. Perjalanan episode Karbala yang berkaitan dengan masa lalu, selalu menciptakan keraguan. Bukumu telah melepaskan belenggu di pikiranku. Aku berdoa semoga bukumu menjadi sebuah basis untuk kesatuan di antara Muslimin! Prof. Abdul Hamid Mansoori, Patna (India)

A. Tentu saja, prioritas utama untuk Ummah adalah mempersatukan diri mereka di bawah panji Al-Qur’an. Yang kulakukan hanyalah sebuah usaha sederhana.

Q. Sebuah pemikiran yang kecil akan mengantarkan kita kepada memahami bahwa Islam itu datang untuk mengangkat ras manusia kepada kemuliaan yang baru, dan tidak untuk selalu meratap dan berduka cita atas kejadian berabad-abad yang lalu. Fuad Haufmann, Turkey.

A. Bahan pemikiran untuk masyarakat yang tajam pikiran.

Q. Menurut Imam Ja’far Sadiq dan Imam Ali Raza, Sufisme adalah bid’ah. Meskipun saya seorang pengikut Syiahh, aku tidak mengetahui dasar pemikiran dari ajaran ini. Mrs. Amtul Quddus, Houston

A. Para ulama Athna Ashri menghormati para Sufi dan Sufisme sebagai olok-olok, tetapi untuk tujuan yang salah. Menurut mereka, seseorang yang tidak mampu mengenali Imam pada zamannya sama sekali tidak bisa menjadi orang yang bijaksana. Imam sekarang, menurut mereka,  Mahdi yang sedang bersembunyi.

Q. Aku pernah mendengar bahwa ada hubungan kekerabatan antara Yazeed Ibn Muawiya dan Hazrat Hussain? Feroz Malik, Faisalabad

A. Seorang kemenakan perempuan dari Imam Hussain adalah isteri Yazeed dan salah seorang dari isteri Imam Hussain, Rubab adalah kemenakan Yazeed.

Q. Meskipun seorang Zaidi, aku sudah membebaskan diriku dari bencana sektarianisme. Saya bukan seorang Sunni maupun Shi’i, tetapi hanyalah seorang Muslim. Tetapi untuk penelitian akademis, apakah prinsip utama pada sekte Shi’ah? Nawab Hussain Zaidi, Orlando

A. Quran menjadikan hal itu jelasa bahwa Nabi yang agung tidak ada kaitan apapun dengan mereka yang membagi-bagi Islam dalam berbagai sekte (6/159). Aku menghargai pemahamanmu. Quaid Azam  dilahirkan dalam sebuah keluarga Ismaili Khoja, tetapi ketika ia ditanya sekte apa yang ia punyai, maka ia menjawab, “Pertama ceritakan kepada kami sekte apa yang dipunyai Nabi dan para sahabatnya”. Lihatlah juga jawaban dari pertanyaan berikutnya.

Q. Apakah semua Shi’ah juga mempunyai sekte seperti Sunni? Niaz Ahmad Khan, Indiana.

A. Dikarenakan mengabaikan Al-Quran, maka terdapat sejumlah besar sekte dan sub-sekte di antara Muslimin yang pada awal abad 21 ini, yang dihitung oleh Alhaj Irshad Kareem Tughree dari Istanbul sebanyak 191 sekte! Berikut adalah beberapa  sekte Shi’ah:

(i)     Syiah Athna Ashree – Mereka yang mengakui adanya 12 Imam

(ii)    Kaisania – Mereka yang menghormati Muhammad Bin Hanfia, (yang meninggal pada tahun 84 AH) sebagai Imam yang syah dan Mahdi yang dijanjikan. Ia adalah putra Hanfia, isteri Hazrat Ali yang lain, di samping Fatima. Mukhtar Thaqafi mengikuti sekte ini.

(iii)   Zaidi – Mereka yang mengakui Zaid putra Imam Zainul Abedin (w.125 AH/ 739 CE) sebagai Imam yang terakhir. Oleh karena itu mereka disebut sebagai Syiah  “Lima Imami”  untuk membedakan dengan Syiah “Dua belas Imami”.

(iv)   Ismaili – Imam Zainul Abedin, Imam yang keempat mempunyai dua orang putra yaitu Baqir dan Zaid. Zaid tidak menerima Baqir sebagai Imam. Imam yang keenam Jafar Sadiq mempunyai dua putra yaitu Musa Kazim dan Ismail. Mereka yang menerima Ismail dan keturunannya sebagai Imam  disebut Ismaili. Pangeran Karim Agha Khan adalah Imam mereka yang ke-49. Pada sisi lain, mereka yang menerima Imamah Musa Kazim selanjutnya disebut pengikut 12 Imamah atau Asna Asharis.

Terlepas dari ini, terdapat sekte lain seperti Fatimi, non-Fatimi, Alavi, Khariji, Bohra, Khoja, Shaikhia, Durooz, Jabria, Qadaria, Tawwabin dan seterusnya.

Q. Bagaimana status Ahlus Sunna? Yang mana, di antara sekte yang tak terbilang banyaknya itu ada pada jalan yang lurus? Salma Abdur Razzaq, Miami

A. Ahlus Sunna (Sunni) juga telah melakukan pembagian-pembagian pada dirinya. Sebenarnya telah menipu masyarakat banyak, para alim ulama telah menguraikan sekte mereka sebagai ”Kelompok Pemikiran”. Ahlus Sunna mempunyai dua sekte utama, Muqallid dan Ghair Muqallid, yang berarti para penganut setia dan yang bukan penganut setia. Kemudian ada yang percaya pada Fiqh dan ada yang percaya pada Hadith. Ke bawahnya lagi, di antara Ahlul Hadith ada yang seperti Wahabi dan Wahabi yang lain. Di antara Ahlul Fiqh ada Hanafi, Hanbali, Maliki dan Shafi’i. Di antara Hanafi ada Deobandi dan Barelvi. Di antara Barelvi ada Raza Khani dan Tawheedi. Di antara Deobandis ada Qadeemi dan Jadeedi, Jalal Abadi dan Towni yang baru, dan seterusnya.

Sekte yang mana yang merupakan jalan yang lurus? Tidak ada sekte yang berada pada jalan yang lurus. Al-Quran mengumumkan bahwa tiap-tiap sekte adalah Mushrik dan mengasingkan dari Rasul yang agung. Al-Kitab menamai semua orang yang menyerahkan diri pada Allah sebagai Muslimin (22:78). Tidak ada ruang bagi seorang Muslim untuk berpecah-belah di dalam kerangka Al-Quran.

Q. “Perbedaan pendapat di antara Ummah adalah rahmat Allah”, mengutip suatu Hadith, Banday Ali Hussaini dari Kathiawar.

A. Banyak Ulama yang telah menerima Hadith ini sebagai palsu. Perpecahan atau Perselisihan adalah sebuah bencana dipandang dari sudut Al-Quran. Karakteristik utama dari Kitab Allah adalah bebas dari pertentangan.

Q. Bagaimana mungkin perpecahan sektarian kita diakhiri? M. Najeeb Chaudhry, Kot Radha Kishan.

A. Hanya ada satu cara. “Pegang kuat-kuat bersama-sama tali Allah (Al-Quran) dan jangan terbagi-bagi.” Hadith, sejarah, riwayat hidup dan hadits Nabi, semua harus diteliti dengan cermat berdasarkan Al-Quran, bukan sebaliknya, menjadikan AL-Quran tunduk kepadanya.

Penyair terkenal, Akbar Ilahabadi dengan sangat tepat menulis:

Karena menghancurkan dampak dari AL-Quran

Dibebankan kepada kita sepasukan para pembawa cerita

Q. Apakah Mahdi yang dinantikan oleh Sunni dan Syiahh adalah orang yang sama atau dua orang yang berbeda? Maqbool Sherwani, Texas

A. Ada sejumlah kabar angin mengenai hal itu. Mahdi Qadiani datang dan meninggal pada tahun 1908. Menurut Dr. Israr Ahmad, Mahdi Sunni telah dilahirkan pada tahun 1962. Tetapi ia gagal ketika melakukan tindakan pertamanya selama Hajji tahun 2002 ketika ia telah berumur 40 tahun.

Secara umum, Mahdi Sunni dipercaya sebagai manusia yang akan dilahirkan, sedangkan Mahdi Shi’ah adalah orang yang telah dilahirkan dan pergi menyembunyikan diri (ghoib) pada tahun 878 CE dan sedang berkelana ke alam semesta dari persembunyiannya di gua Samera di Iraq.

Imam Zaid dan Ismail berturut-turut adalah Mahdi Syi’ah Zaidi dan Ismaili belum muncul untuk yang kedua kalinya. Muhammad bin Hanafia, yaitu Mahdi Syi’ah Kissania juga belum muncul hingga kini.

Terdapat juga seorang Mahdi pada zaman dinasti Abbasiah yang bernama Abdullah bin Maimoon. Dan Khalifah Abbassiah Mansoor menamai putranya Muhammad Abdullah Mahdi yang siap menerima sebagai Mahdi.

Pernah muncul seorang Mahdi dari Jaunpore di anak benua Indo-Pakistan. Mr. Sherwani! Aku telah melihat seorang Mahdi dirantai. Ada banyak Mahdi yang bisa dipilih dan anda dapat mengambil salah satunya. Tetapi Allama Iqbal berkata:

Lihatlah turunnya Tuhan pada menara hati mu

Lepaskan sekali waktu penantian terhadap Mahdi dan Yesus

Q. Mengapa tidak ada Imam dari antara keturunan Hazrat Hasan putra Ali, sedangkan, terdapat sangat banyak Imam di antara keturunan Hazrat Hussain? Nadira Khatoon, Montreal

A. Kendati pergerakan Kaissania, Zaidi, Alavi dan Ismaili, pada umumnya lebih percaya bahwa Imam adalah hanya dari keturunan Hazrat Hussain. Meskipun begitu, banyak juga orang-orang yang menerima Muhammad Nafs Zakiyah dan Ibrahim (keduanya cicit lelaki Hazrat Hasan), sebagai Imam terakhir. Ada orang yang percaya bahwa keduanya akan menjadi Mahdi di akhir zaman.

Q. Harmuzan dilaporkan telah berkata kepada Hazrat Umar bahwa Tuhan bersama kaum Muslimin. Lalu, apa yang telah para Majusi lakukan dalam rangka mengasingkan Tuhan dari Muslimin? Khan M. Bhutta, N. Carolina

A. Anda telah bertanya sebuah pertanyaan yang sangat penting. Panitia pusat Majusi Asavirah tentu saja membuat suatu rencana yang sangat cerdik untuk menjadikan Muslimin meninggalkan Al-Quran. Jika anda mendapati mereka terjerat hadits, mereka memberikan alasan, anda telah mengasingkan mereka dari Al-Quran, dan akhirnya, akan mengasingkan mereka dari Allah. Nabi yang agung telah melakukan pengamatan yang tajam mengenai ini, “Bangsa-bangsa zaman dulu binasa dikarenakan mereka meninggalkan Kitab Allah dengan memakai buatan manusia.”

Q. Berapa banyak Ahadith yang ada di buku Usul Kafi karangan Imam Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini dan berapa banyak darinya yang otentik? Kazim Syed Ali, Atlanta

A. Ini adalah jawaban dari penerjemah Usul-Kafi, Maulana Zafar Syed Hassan Amrohi dari kata pengantarnya pada vol. 1: “Ada 16,199 Ahadeeth di Al-kafi, darinya hanya 5072 yang otentik.”Yang mana yang 5072 itu?- Ia tidak mengatakannya.

Q. Terdapat suatu kesan umum bahwa kebijakan yang salah dan nepotismelah yang menyebabkan pembunuhan Hazrat Usman. Seberapa jauh kebenaran hal itu? Ini adalah apa yang Maudoodi menulis. (M. Kafeela Asghar, Muradabad)

A. Menurut Quran (9:51) Maulana (Wali kami) hanya pantas untuk Allah. Memanggil manusia dengan Maulana adalah serupa dengan syirik. Mullah Maudoodi terjerat dengan fiksi karangan Zuhri, Bukhari dan Tabari seperti seekor lalat terjebak jaring laba-laba. Fitnah kepada seorang sahabat besar Nabi (Hazrat Uthman) adalah suatu kejahatan, tidak lebih dari itu. Kampanye fitnah terhadap Sahaba Karam adalah sebuah konspirasi jahat para penjahat Islam. Al-Quran bersaksi bahwa semua sahabat Nabi (S) adalah orang-orang yang benar-benar beriman (8:74), mereka semua bersaudara satu sama lain (3:103), Allah ridhi/ disenangkan oleh mereka dan mereka juga disenangkan olehNya. (9:100)

Q. Buku ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya peristiwa Karbala tidak terjadi. Apakah ini semata-mata fiksi? Ghazala Shaheen, New Jersey

A. Ya, tentu saja. Anda perlu membaca ulang buku ini.

Q. Mengapa di sana tidak disebut-sebut nama tokoh Mukhtar Saqafi? Dr. Farzand Ali, Toronto

A. Karena Mukhtar Saqafi tidak ada kaitannya dengan Hazrat Hussain. Di dalam buku sejarah buatan/ palsu, ia diceritakan telah melakukan pembalasan dendam kepada para pembunuh Karbala. Tetapi, ia mengakui Muhammad keturunan Hazrat Ali dari Hanafia, sebagai Imam Mahdi terakhir yang syah. Ia menganggap para Imam yang lain sebagai kehilangan jiwa dan para perampas kuasa. Menurut Hujjatullah Moosvi, (Meezanul Faris), Mus’ab bin Zubair telah memenggal kepala Saqafi untuk menyenangkan Hazrat Zainul Abedin karena ia menolak mengakui Zain sebagai Imam.

Q. Tiap-tiap sekte mempunyai penafsiran sendiri terhadap Al-Quran, jadi ..… Firdous Jabeen, Florida

A. Penafsiran berbeda hanya ketika kita memandang al-Quran dengan lensa mereka yang disebut para Imam dan tulisan mereka. Al-Quran berkata bahwa dia menguraikan secara terperinci segalanya (tibyanan likulli syai-in) dengan jelas dan tanpa keraguan apapaun. Tentu saja, mudah untuk memahaminya dan menjelaskan dirinya sendiri. Hanya mereka yang akan mampu menyentuh (memahami) Al-Quran yang suci, yaitu mereka yang mendekati Kitab tersebut dengan pikiran terbuka dan tidak memihak.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (5)

BAGIAN- 14

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

HAZRAT HUSSAIN:

Pemerintahan Keemasannya

Rombongan para musafir akan tetap pada tujuan mereka kendati menghadapi berbagai tantangan yang datang kepada mereka.

Setelah pengunduran diri Imam Hasan, Hazrat Mua’wiya menetapkan Hazrat Imam Hussain sebagai gubernur Iraq. Kalifah yang saleh melanjutkan semua keagungan. Untuk pertama kali dunia bersaksi bahwa di suatu pemerintahan seluas 3,5 juta mil persegi, tidak ada yang bisa menemukan seorangpun yang berkeinginan untuk menerima derma. Dan tidak ada seekor anjingpun mati disebabkan kelaparan pada daerah tersebut. Ini adalah zaman yang patut dicontoh ketika seorang gadis yang membawa barang barang perhiasan bisa bepergian sendiri di atas seekor unta atau kuda sepanjang perjalanan lebih dari seratus mil tanpa rasa takut, kecuali kepada Tuhan!

Harmuzan, seorang aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar, menjadikan dirinya dibunuh pada tahun 23 AH. Anaknya, Jaban bin Harmuzan, telah bergabung dengan sanak keluarganya di  Koofa pada umur mudanya. Ini adalah Jaban bin Harmuzan yang sama yang pernah melakukan usaha pembunuhannya yang gagal kepada Hazrat Hasan pada tahun 46 AH (Meezanul Faris). Pada serangan itu, Hazrat Hasan telah menderita luka-luka serius pada pahanya, tetapi dapat disembuhkan. Di sini, perlu dicatat dengan baik bahwa setelah membunuh Hazrat Uthman, Saba bin Shamoon dan Abdullah bin Saba telah menghilang tanpa bekas. Menurut Hujjatullah Moosvi, mereka telah menghabiskan sisa umur mereka dalam penyamaran di Yemen. Jaban bin Harmuzan juga telah berhasil melarikan diri setelah menyerang Hazrat Hasan ketika orang-orang masih mencurigainya.

KESYAHIDAN IMAM HUSSAIN 680 CE

Hazrat Muawiya meninggal pada tahun 60 AH/ 680 CE. Pertemuan Dewan Syura untuk pemilihan  khalifah yang baru sedang berlangsung di Damascus, Koofa dan Madinah, ketika Jaban dan kaki tangannya memasuki kantor Gubernur di Koofa dengan diselimuti gelap malam. Mereka membunuh Gubernur Hazrat Hussain dengan sebuah pukulan pedang yang memisahkan kepala dari badan Beliau. Karena tidakadanya tindakan pengamanan dan terjadi pada kegelapan malam, Jaban dan kaki tangannya dengan mudah meloloskan diri. Menurut Allama Masoodi, Jaban tetap aktif melawan Hazrat Abdulla bin Zubair sepanjang sisa umur hidupnya. Pada akhirnya, ia dibunuh ketika sedang mencoba membunuh, pada akhir hidupnya pada tahun 70 AH. Ia juga mempunyai nama Islam, Bilal bin Yousuf.

BEBERAPA KEANEHAN TENTANG SEJARAH KITA

Dalam mengungkapkan kenyataan tentang tragedi Karbala dan sejarah lainnya, saya telah mengambil bab-bab sejarah dari banyak sumber. Kendati singkat, banyak acuan telah diberikan. Penelitian ini memerlukan sejumlah besar potongan dan sedikit informasi yang terserak di sana-sini dan kemudian meletakkannya bersama-sama untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan. Pembaca mungkin akan bertanya mengapa tak seorangpun menulis buku seperti ini sebelumnya. Barangkali jawabannya telah diberikan dalam buku saya, The Criminal of Islam, “Aku benar-benar tidak tahu.” Secara singkat,  alasannya bisa jadi karena mudah tertipu, kepercayaan yang kurang/ tidak kritis kepada para sejarawan, tidakadanya waktu dan sumber daya untuk penelitian baru, keputus-asaan dalam membuat terobosan baru, rasa takut hidup yang menyimpang dari main-stream, takut terhadap tuduhan keagamaan dari para Mullah dan lain lain. Beberapa sarjana mungkin telah terikat pada topik lain yang lebih penting.

TABARI:

Sejarah tentang muslimin pertama yang pernah ada adalah yang ditulis oleh ‘Imam’ Tabari (839-923 CE)  pada rentang abad yang ketiga dan keempat AH. Ia meninggal pada tahun 310 AH.

Apa sumber yang  ia pakai? Ia tidak mempunyai begitu banyak sejenis catatan yang dijadikan rujukan. Apapun yang ia catat adalah bersumber atau atas dasar “mendengar dari seseorang”. Mendengar dari siapa? Mendengar dari seseorang yang mendengar dari orang lain dan seterusnya…

Tabari sendiri memasukkan di dalam bukunya sebuah penyangkalan sejak dini bahwa mereka yang  menyampaikan ceritera kepadanya harus dipersalahkan jika ditemukan adanya kemustahilan dalam tulisannya! Yang lebih buruk dari itu adalah bahwa Tabari menulis apa yang ia sukai … Ia menulis apapun termasuk yang disampaikan oleh orang-orang yang berpemahaman Majusi di dalam hatinya dan… ia pun menulis apapun yang para ulama kerajaan perintahkan. Puncak dari semua itu adalah, bahwa ia mencatat semua informasi dari orang-orang yang ke dalam pikirannya telah dirasuki paham-paham/ ajaran tertentu oleh keturunan intelektual Harmuzan, Jafeena dan Saba bin Sham’oon. Tabari sendiri adalah seorang yang mampu membuat cerita dan tukang cerita. Ia membebaskan raja dari kesulitan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Hanya sejarah dan pengungkapan yang seperti inilah yang sesuai dengan para raja Abbasiah yang akan menyucikan dan mengesahkan martabat raja mereka, membuka pintu kearah kekayaan dan kenikmatan dunia, memungkinkan mereka untuk menimbun kekayaan dan membantunya memelihara budak dan harem-harem wanita. Tabari memberikan mereka segalanya. Sebagai balasannya, mereka mengguyurkan kepadanya emas, penghormatan dan berbagai anugrah.

Dengan menyusun buku sejarah (13 volume) dan tafsir Al-Quran (30 volume) ia dimahkotai sebagai seorang Imam yang paling dihormati. Lalu, siapa yang mampu dan berani mengoreksi hasil karyanya yang luar biasa tersebut?

KULAINI:

Yang ini adalah Muhammad bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini. Sebagai seorang keturunan Majusi, hasil karyanya juga sungguh mengesankan (Meezanul Faris). Seperti Tabari, ia juga tidak mempunyai satupun sumber tertulis dalam membuat bukunya. Ia menulis semata-mata didasarkan atas hasil dengar-dengar dan hal itu dilakukan sudah sangat terlambat yaitu pada akhir abad ke-4 dan ke-5 AH.

Para pembaca yang berpandangan terbuka dapat membayangkan kenyataan apa yang dapat ditemukan dalam tulisannya yang semata-mata didasarkan atas pembicaraan yang terbawa angin, “Ia berkata anu karena ia mendengarnya dari seseorang yang mendengarnya dari dia, dan seterusnya dan sebagainya”.

Yang lebih penting adalah, pengujian secara obyektif untuk melihat kandungan dari tulisannya (dan juga sejarawan yang lain) selalu terbuka lebar bagi para pencari kebenaran. Tulisan mereka sangat penuh dengan kebohongan, kepalsuan, hal-hal yang tidak masuk akal dan motiv tersembunyi.

SIAPA YANG BERANI BERBICARA TENTANG KEBENARAN!

Tabari khususnya memperoleh pengaruh karena adanya dukungan kerajaan Abbasiah. Orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang memberanikan diri berdebat dengan dia, maka para Qadzi (hakim) kerajaan akan memberikan label kepada orang seperti itu sebagai ahli bid’ah, seorang Mo’tazilah (orang yang berpendapat dengan cara berfikir yang rasional) dan bahkan akan dipancung. Dan tulisannya akan dilemparkan ke perapian. Inilah kenapa, seiring dengan berjalannya waktu, dengan tanpa rintangan tulisan-tulisan Tabari dan Muhaddithin pilihan kerajaan semakin banyak memperoleh justifikasi keaslian dan kesucian. Dengan lingkungan seperti ini, siapa yang mampu dan berani mengungkapkan kebenaran? Bagaimana seseorang berani berpendapat berbeda?

Menurut Allama Habibur Rahman Kandhalvi, para pegawai kunci Abbasiah dipegang oleh orang-orang Majusi. Para wanita mereka menduduki harem-harem Abbasiah. Dengan lingkungan yang seperti inilah penyimpangan yang serius diciptakan di bidang keimanan. Adalah benar-benar merupakan suatu kegemparan jika melaporkan suatu kebenaran yang sesungguhnya. Para sejarawan adalah orang-orang Majusi dan para penulis Hadith (perkataan dan perbuatan Nabi) dan Seerah (riwayat hidup Nabi) adalah orang-orang Yahudi dan Majusi.

Penulis pertama kronologi sejarah tentang peperangan Nabi yang agung dan riwayat hidupnya adalah seorang Majusi yang bernama Muhammad bin Ishaq bin Yassar. Ia juga telah dicatat sebagai orang Yahudi dalam beberapa laporan. Hasil kompilasinya sudah tidak ada! Tetapi versi yang diedit yang ditulis oleh Ibnu Hisham, yang berjudul ”Sirah”, didasarkan pada buku Ibnu Ishaq. Tipu dayanya adalah serupa dengan lainnya. Ia akan menguraikan beberapa baris dengan topik cerita yang bersifat memuji Nabi, dalam rangka untuk menetapkan kredibilitasnya terhadap Islam, yang kemudian diikuti dengan baris-baris atau paragraf narasi yang bersifat menghina. Kebanyakan dari sumbernya adalah Yahudi dan Majusi. Itulah mengapa Imam Malik telah menjuluki Muhammad bin Ishaq sebagai seorang pendusta. Antara Muhammad bin Ishaq dan turunannya yang pertama yang tersedia dari hasil karya Ibn Hisham, semua perawinya adalah orang-orang Persia dan Yahudi seperti Ziad Al-Bakai, Muslimatil Abrash dan Hameed Razi. Juga ada Waqidi, seorang Majusi tulen dan mempunyai reputasi sebagai pendusta terbesar pada zamannya (Mazhabi Dastanain aur Unki Haqeeqat oleh Allama Habib Kandhalwi).

Marilah kita lihat sebuah contoh mutiara laporan yang ditaburkan oleh karakter seperti ini: ”Siapa saja yang menyumbangkan dua unit doa sambil membayangkan kecantikan Puteri Shahr Bano, akan memperoleh tujuh puluh ribu istana baginya di Surga. Setiap dari istana-istana tersebut akan mempunyai tujuh puluh ribu kamar, setiap kamar tujuh puluh ribu singgasana dan setiap singgasana akan mempunyai tujuh puluh ribu bidadari yang siap jatuh dalam pelukan”.

Bencana lain yang ditimbulkan dari buku-buku seperti ini adalah tidakadanya garis pemisah yang jelas antara tiga disiplin ilmu, yaitu sejarah, tafsir (pengungkapan makna Al-Quran) dan Hadith (tradisi Nabi yang agung). Mereka semua dijalin dengan cara yang membingungkan. Dan mereka dipenuhi dengan pertentangan di sana sini.

Allama Shibli Nomani, pada halaman 27 Seeratun Nabi-nya telah memberikan suatu kutipan yang mengejutkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, yang menyatakan bahwa “Tiga jenis buku benar-benar tidak ditemukan, yaitu: Mughazi, Malaham dan Tafseer” (Peperangan-peperangan yang dihadiri Nabi, Pergerakan-pergerakan kecil dan Pengungkapan makna Al-Quran).

SEMUA SAHABA KARAM – KECUALI LIMA – MENJADI AHLUL BID’AH!

Atau, masih adakah seorang saja yang muslim? Imam Bukhari telah menyatakan bahwa para Sahabat Nabi telah kembali menjadi murtad ketika Nabi meninggal (Kitabul Fatan). Tabari menulis: Rasul Allah berkata, “Sebagian dari sahabatku akan mengunjungiku di telaga. Allah akan menjauhkan mereka dari hadapanku. Aku akan berkata: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Tetapi aku akan diberitahu: Kamu tidak mengetahui perbuatan apa yang mereka lakukan sepeninggal kamu.”

Bagaikan bola yang menggelinding ke depan, Hafiz Ibn Hajr menyatakan, “Umro bin Sabit telah berkata bahwa semuanya, kecuali lima, menjadi ahli bid’ah setelah meninggalnya Nabi.”

Dan Ayatullah Aluzma Al-Hussaini menembakkan bola mencapai sasarannya. Ia menulis, “Mereka yang lima itu, yaitu yang tetap dalam kelompok Islam adalah Salman Farsi, Miqdad, Abu Zar, Ammar dan Hazeefa.”

DUA LAGI DISINGKIRKAN!

Namun tidak hanya sampai di situ, lebih lanjut “orang-orang yang selamat” dikurangi lagi menjadi tinggal tiga. Hazrat Ammar dan Hazrat Hazeefa juga dibuang dari wadah Islam. Akhirnya score dua gol! Apakah ini akhir dari permainan mereka? [Secara mencengangkan, para sejarawan dan kolektor Hadith yang brilian melupakan untuk memasukkan orang sekaliber Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain dalam kelompok elit dari sedikit orang-orang yang mereka anggap setia dengan Islam. Apakah jalan sudah berujung? Ternyata belum]

SCORE GOL YANG LAIN – HANYA SEORANG MUSLIM YANG TERSISA:

Dikatakan oleh sejarawan kita bahwa jika keimanan Hazrat Salman Farsi dibandingkan dengan yang lain, maka keimanan Hazraat Miqdad dan Abu Zar Al-Ghaffari tidak akan sebanding dan, karena itulah maka mereka berdua perlu dianggap ahlul bid’ah juga! Maka, kesudahannya, setelah Nabi meninggal, hanya seorang Muslimin tetap setia di muka bumi ini, yaitu Salman Farsi. Ingat bahwa ia berasal dari Persia!

Imam Malik (salah seorang murid Al-Zuhri) dengan Muwatta yang terkenal itu tidak mau ketinggalan. Sesungguhnya ia mendahului kelompok tersebut di atas. Ia meletakkan dasar cerita tersebut dengan mencatat pada bab Kitabul Jihad, “Rasul Allah berkata tentang para syahid Uhud bahwa ia sendiri akan bersaksi kepada Allah tentang iman mereka. Hazrat Abu Bakr meminta keterangan tentang dirinya. Nabi berkata, “Aku tidak mengetahui bid’ah apa yang direncanakan setelah aku.”Hazrat Abu Bakr mulai menangis dan berteriak-teriak. Nabi tidak menghibur dia.” Paragrap yang terakhir ini disampaikan dengan singkat dalam buku “Saat Sahaba Kay Halaat-E-Zindagi”v(Kejadian dalam Hidup Tujuh Sahaba Vol. 3, hal. 19) karangan Ayatullah As-Syed Murtaza Hussain Nasir Ferozabadi terbitan Nasir Ptinting Press. Ia telah mengambil semua narasi dari enam buku “otentik” Ahadith dan sumber Sunni.

MUSLIMIN YANG MUDAH TERTIPU:

Adalah luar biasa bahwa kita Muslimin menganggap kumpulan dongeng ini merupakan buku-buku yang paling akurat, keaslian buku-buku tersebut menjadi yang kedua setelah Al-Quran. Hal ini, di samping hinaan yang memalukan kepada akal sehat, sekelompok orang memproklamirkan bahwa Bukhari dan Muslim adalah Kitab yang paling akurat, sementara yang lain setuju untuk menempatkan posisi istimewa ini kepada Tabari, Al-Kulaini dan buku-buku Syiah yang lain.

Mullah yang sangat terkenal seperti “Maulana” Maudoodi, sempat memperhatikan cerita kosong ini pada abad ke dua puluh, dengan menyatakan, “Jika kita membuang cerita ini, apa yang masih tersisa pada kita?” Baiklah, kita masih mewarisi Kitab Allah dan semua laporan yang lulus dengan Furqon ini untuk memilah dan memilih yang benar dari yang salah. Namun aturan yang sederhana ini gagal untuk meresap pada pikiran para Mullah yang tertutup. Sesungguhnya, bagi Muslimin hal ini merupakan sebuah tugas yang gampang. Apa yang para sejarawan dan Muhaddithin tulis, harus di-check kembali kebenarannya dengan Al-Quran. Sebagai contoh, apakah Al-Quran secara gamblang berkata bahwa para sahabat Nabi yang dihormati akan berpaling kepada bid’ah segera setelah Beliau meninggal dunia? Bukankah AL-Quran memberikan serangkaian penghargaan yang tinggi pada semua sahabat Nabi yang agung?

ORANG-ORANG MUNAFIK SUDAH DIKENAL:

Banyak sejarawan menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa bahkan pada masa hidup Nabi yang agung, kebanyakan dari sahabatnya adalah orang-orang munafik yang tidak dikenal (kecuali bagi para Penjahat Islam ini). Namun demikian Al-Quran ayat 3:179 dan 40:30 telah memberitahu kita bahwa orang-orang munafik telah diketahui dengan baik ketika mereka hidup bersama dengan Nabi.

BEBERAPA KRONOLOGI: ISLAM MURNI MENJADI ISLAM AJAMI MASA KINI

PENYAKIT QALA QALA QALA

Yang berikut adalah tahun kematian dari sebagian sejarawan dan para pengumpul Hadith. Hal ini akan membantu kita dalam menentukan siapa dan kapan Islam yang murni berubah menjadi Islam yang palsu, buatan manusia, Islam Ajami, Islam yang Nomor Dua.

Dua fakta harus selalu diingat. Pertama, Nabi meninggal pada tahun 11 AH (632 CE). Kedua, bahwa para pengarang tersebut (yang hidup lebih dari seabad setelah Nabi meninggal), pada saat mereka menulis, tidak satupun dari mereka mengacu pada tulisan ulama sebelumnya. Mereka semua menulis berdasarkan pada mendengar ucapan orang sezamannya, “Ia berkata ini atau sesuatu seperti ini, saya mendengar bahwa ia mendengar dari si Anu yang mendengar dari si Anu bahwa Nabi berkata ini atau begitu ….”- Itulah penyakit QALA QALA QALA.

Tolong Perhatian!

Sebelum kita lanjutkan, mari kita secara singkat menyelidiki apa kata Al-Quran terhadap para pemalsu ini:

6:112. Begitulah Kami mengadakan bagi tiap-tiap Nabi seorang musuh, syaitan-syaitan dari manusia dan jin, yang mewahyukan ucapan palsu yang indah-indah kepada satu sama lain, untuk menipu; dan sekiranya Pemelihara kamu menghendaki, tentu mereka tidak membuatnya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka mengada-adakan.

6:113. Dan supaya hati orang-orang yang tidak mempercayai akhirat condong kepadanya, dan supaya mereka sangat berpuas hati dengannya, dan supaya mereka memperoleh apa yang mereka peroleh.

22:52. Kami tidak mengutus seseorang Rasul, dan tidak juga seseorang Nabi sebelum kamu, melainkan bahawa apabila dia berkhayal, syaitan melemparkan ke dalam khayalannya; tetapi Allah menghapuskan apa yang dilempar syaitan, kemudian Allah menentukan ayat-ayat-Nya; Allah Mengetahui, Bijaksana. [Syaitan-syaitan manusia kemudian mencoba untuk mengubah ajaran-Nya setelah ia pergi. Allah, kemudian, mengirim Rasul (Pesuruh) yang lain untuk mengembalikan kemurnian Pesan-Nya 6:113. Hingga Pesan yang terakhir diwahyukan dan Allah sendiri yang menjamin pemeliharaan-Nya]

22:53. (Allah mengijinkan manusia-manusia syaitan ini untuk melanjutkan bujukan jahat mereka) Supaya Dia menjadikan apa yang syaitan lemparkan, (sebagai) satu cobaan bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, dan orang-orang yang hati mereka keras; dan sesungguhnya orang-orang yang zalim adalah dalam permusuhan yang sangat. [Zulm= pengasingan diri dari sesuatu yang benar, 2:53. Bagian akhir dari ayat tersebut telah menjelaskan akifitas mereka]

22:54. Dan supaya orang-orang yang diberi pengetahuan mengetahui bahwa ia yang benar dari Pemelihara kamu, dan mempercayainya, dan hati mereka merendah kepada-Nya; dan sesungguhnya Allah selamanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang percaya pada jalan lurus. (5:48,15:19)

22:55. Dan orang-orang yang tidak percaya tidak henti-hentinya dalam keragu-raguan padanya, sehingga ”Saat” datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau datang kepada mereka azab hari yang tandus.

Kita melihat bahwa Quran telah betul-betul memperingatkan dari awal kepada Muslimin tentang adanya komplotan/ konspirator sejarawan dan ahli hadits yang akan merusak Islam. Proses transisi dari Al-Islam, (DEENILLAH di  Al-Quran) menjadi IN2 (Islam Nomor Dua) adalah suatu penghancuran yaitu melalui komplotan tersembunyi.

Ketika komplotan tersebut telah mulai bekerja selama awal dinasti Abbasiah, mereka memerlukan waktu agar ajaran IN2 tersebar kepada masyarakat banyak. Metode mereka dengan cara memasukkan ajaran IN2 melalui tulisan, penggandaan, komunikasi dan penyebaran buku-buku, benar-benar lamban dan membosankan. Itulah mengapa Revolusi Islam terjadi dalam prosesnya selama berabad-abad. Kemunduran secara moral, sosial, ilmu pengetahuan dan politik kaum muslimin mulai terjadi sejak sekitar 800 tahun kemudian, yaitu pada abad ke-13 M, yaitu ditandai secara nyata dengan adanya serangan gencar oleh Hulago pada pusat kekhalifahan Baghdad pada tahun 1258 M atas undangan orang-orang Persia.

Berikut ini adalah daftar sebagian dari para komplotan/ konspirator yang paling utama (atau bisa jadi mereka adalah korban konspirasi juga?) yang telah memesongkan Islam dari DEEN kepada agama buatan sebagaimana yang kita lihat hari ini. Tahun kematian mereka diberi tanda *.

Perlu diketahui bahwa AH menunjukkan AL-HIJRAH, yaitu penanggalan sistim bulan kaum Muslimin yang dimulai sejak hijrah Nabi yang agung dari Makkah ke Madinah pada tahun  623 CE. Seratus tahun penanggalan Gregorian sama dengan 103 tahun sistem putaran bulan. Nabi yang agung menuju ke kehidupan berikutnya pada tahun 632 CE atau 9 AH.

MEREKA YANG ”BERCAHAYA”:

  • Imam Ibn Jareer at-Tabari 310* (penafsir al-Quran yang pertama dan sejarawan yang pertama)

IMAM HADITH SUNNI:

  1. Imam Muhammad Ismail Bukhari             256*
  2. Muslimin Imam Bin Hajjaj                       261*
  3. Imam Abu Dawood                                275*
  4. Imam Abu Abdullah bin Majah                273*
  5. Imam Abu Musa Tirmizi                          279*
  6. Imam Abdur Rahman Nisai                     303*
  7. Imam Malik bin Anas                              179*

Imam Malik adalah juga seorang Muhaddith (Pengumpul Hadith). Anehnya, ia adalah satu-satunya Muhaddith yang berasal dari Arab (bukan Persia). Koleksinya, Muwatta tidak diperhitungkan kedalam anggota Sahah Sittah (Enam kebenaran)!

IMAM FIQH (AHLI HUKUM):

  1. Imam Malik bin Anas      179*
  2. Imam Abu Hanifa           150* (Tanpa buku)
  3. Imam Ahmad bin Hanbal 241*
  4. Imam Shafi’I                  204*
  5. Imam Ja’Far Saadiq       145* (diterima oleh Syiah- Tanpa buku)

IMAM HADITH SYIAH:

  1. Muhammad Syekh Bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini 329* menulis Al-Kafi
  2. Syekh Saddooq Abu Jafar Muhammad Bin Ali Tabrasi 381* menulis Man Yazharal Faqeeh
  3. Syekh Abu Jafar Muhammad Ibn-Hasan Toosi 460* menulis Tehzeebul Ahkam dan Al-Istabsar

SEBUAH PERNYATAAN PRIBADI

Mungkin sudah saatnya untuk menyatakan dan menegaskan bahwa Shabbir tidak mempunyai sekte. Ia mengetahui dengan cukup baik bahwa sektarianisme adalah syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu merupakan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan) (QS, 30:31-32) dan bahwa Rasulullah yang agung tidak ada sangkut pautnya dengan sekte-sekte tersebut. (Al-Qur’an 6:159)

Aku dengan sungguh-sungguh sudah mencoba untuk menjadikan sesuatu itu mudah dan menghematkan waktu bagi para pembaca yang terhormat. Pembaca didukung untuk mempunyai pandangan yang ringkas terhadap sumber yang sangat banyak, yang mana buku-buku tersebut telah dianggap asli dan “suci”, untuk memastikan apa yang sebenarnya telah ditulis didalam buku-buku yang diskralkan tersebut.

Banyak dari para pembaca dan teman yang saya hormati sangat menginginkan bahwa Shabbir telah menkritisi semua agama dan sekte. Apakah ia tidak menyadari adanya semua resiko termasuk adanya hukuman dari pada mullah? Dengan mengenali adanya resiko, aku harus berterima kasih kepada mereka atas perhatiannya yang tulus. Sekalipun begitu, dogma yang sudah terbentuk secara mapan tidak bisa dilawan tanpa keberanian? Al-Quran memerintahkan kepada kita untuk tidak menyembunyikan kebenaran (2:42). Tolong ijinkan saya untuk menyatakan bahwa aku tengah menantang kepercayaan yang dipegang oleh anggota keluarga di mana aku dilahirkan dan kami telah melihat cahaya.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (4)

BAGIAN- 13

PEMBUNUHAN PARA KHALIFAH ISLAM

HAZRAT UMAR FAROOQ (23 H/ 644 CE):

Setelah kekalahan Persia di pertempuran Qadisia, Harmuzan, gubernur Tastar, dibawa ke Madinah sebagai narapidana (14 AH/ 635 CE). Tastar adalah provinsi Iran yang paling penting dan menjadi rumah angkatan perangnya yang paling besar. Ia diperkenalkan kepada Hazrat Umar, kemudian Khalifah Islam bertanya kepadanya, “Harmuzan! Kami orang Arab adalah penghuni padang pasir yang kamu menganggap terlalu rendah meski hanya dalam perkelahian. Kami dahulu biasa menjilat sebagian kecil dari pasukanmu. Sekarang kamu dapat melihat mahkota dan tahta Rajamu bersandar pada kaki kami sedangkan pemiliknya sedang melarikan diri mencari tempat untuk menyelamatkan jiwanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Harmuzan menjawab, “Tuan, sudah biasa terjadi suatu peperangan antara orang-orang Persia dengan orang-orang Arab. Namun sekarang Anda mempunyai Tuhan yang bersama Anda.”

Oleh karena kejahatan peperangannya, Harmuzan dihukum mati. Bagaimanapun, ia dapat menyelamatkan hidupnya melalui suatu tipu muslihat yang licik. Selama percakapan, ia meminta air minum. Ia diberikan air dalam sebuag gelas berbentuk piala dari emas yang didatangkan dari Tastar. Harmuzan meminta Hazrat Umar untuk menangguhkan hukuman untuk menjalani hidupnya sampai ia menghabiskan air minumannya. Permintaannya dikabulkan.

Bagai Sebuah Dongeng !

Terdengar seperti sebuah dongeng, begitu ia siap pada tempatnya untuk dieksekusi, Harmuzan menumpahkan air tersebut ke tanah. Ia belum minum dan oleh karena itu Pemerintah menangguhkan hukuman tanpa batas akhir. Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais yang hadir pada peristiwa itu, memastikan dengan bertanya; “Wahai Pemimpin orang beriman! Anda sudah tentu menangguhkan hukuman Harmuzan.” Atas kejadian ini, Hazrat Umar berkata kepada Harmuzan, “Harmuzan! Aku adalah seorang tawanan kepada kedermawanan dari muslimin ini.” Harmuzan akhirnya dibebaskan. Secara yang terlihat ia memeluk Islam dan berdiam di  Madinah.

Sekarang kita akan melihat bahwa pembunuhan Hazrat Umar bukanlah tindakan perorangan Feroze Abululu, tetapi ia hanyalah bagian dari suatu komplotan “lima belas permata’.

Feroz Abululu oleh sejarah telah dijelaskan secara membingungkan, ada yang menyebutnya seorang Kristen dan ada yang menyebutnya sebagai seorang Majusi. Sebenarnya ia adalah seorang Majusi. Siapapun Feroz, ia hanyalah bertindak sebagai alat. Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang memanfaatkan alat itu. Pemimpin dari pion-pion ‘Permata’ Cisra di  Madinah tidak lain adalah Harmuzan. Di Madinah, sahabat tetapnya adalah Jafeena Al-Khalil. Jafeena adalah seorang yang berpendirian Kristen dan seorang ahli Alkitab (Bible), bahasa Ibrani dan Arab. Ia adalah pion politis dari Kekaisaran Roma dan telah bertindak sebagai seorang pejabat di Damascus, Palestine dan Heerah. Sahabat ketiganya adalah seorang Yahudi bernama Saba bin Sham’oon. Ia adalah orang yang mempunyai anak bernama Abdullah Ibn Saba,  yang akan segera muncul di kemudian hari dengan karakter buruknya di panggung sejarah. Ketiganya tinggal di Madinah sebagai muslimin. Ketiganya adalah dedengkotnya konsprirator dan pengatur makar yang pintar.

MERPATI POS

Kardinal Roma, Thomas Melon, pada abad ke-11 menulis bahwa pada puncak Kerajaan Islam, orang-orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah tidak mempunyai pusat kekuasaan yang kuat, tetapi mereka menghasilkan banyak kuasa melalui rencana rahasia mereka. Mereka telah mempunyai sebuah sistem komunikasi yang canggih. Orang-orang Nasrani dan Majusi mengambil keuntungan yang besar dari sistem komunikasi ini. Merpati yang terlatih akan terbang setiap hari antara Madinah, Koofa dan Samarqand. Aktivitas kurir merpati ini menghasilkan peristiwa yang mengerikan. Beberapa dari kejadian tersebut adalah:

Suatu hari Feroz Abululu kebetulan bertemu dengan Hazrat Umar. Ia berkata kepada Feroze, “Aku mendengar bahwa kamu dapat membuat alat penggilingan”. Feroz menjawab dengan pedas, “Wahai Pemimpin orang beriman! Aku akan membuat sebuah penggilingan yang mengesankan di  Madinah yang akan tetap berputar selamanya.”

Sementara itu, Heraclius yang baru, Raja Byzantium, melarikan diri dari kekuatan Islam, bergabung dengan para pengungsi orang-orang istana Persia di Samarqand. Merpati pos dijaga tetap terbang antara Madinah dan Samarqand.

Ada seorang yang bernama Ka’ab Ahbar. Hingga hari ini tidaklah jelas apakah ia memeluk Islam atau tidak. Ia adalah seorang sarjana besar Taurat. Ketika Hazrat Umar tiba di Jerusalem pada penaklukannya (16 AH/ 635 CE), Kardinal dan Sri Paus Severinus mengundang dia untuk sholat pada Makam yang suci. Hazrat Umar dengan sopan menolak tawaran tersebut dengan berkata, “Aku khawatir nantinya Muslimin akan mulai mengubah gereja menjadi masjid.” Kemudian, ia melakukan sholatnya di  atas tanah terbuka dekat reruntuhan Kuil Sulaeman. Ia tetap melakukan hal itu hingga ia tinggal di Jerusalem. Ka’ab Ahbar melepas sepatunya ketika mendekati Batu Jacob. Ka’ab menyarankan kepada Hazrat Umar untuk melakukan sholat pada tempat itu. Terhadap hal ini, Hazrat Umar berkata, “Apakah kamu masih mempunyai sisa-sisa Keyahudian dalam dirimu?”

Abdul Malik bin Marwan telah membangun sebuah kubah di atas Batu Jacob pada sekitar tahun 60 AH ketika membangun Masjidil Aqsa. Sekarang dikenal sebagai Kubah Batu (Qubbah-Tas-Sakhra).

Suatu ketika, Hazrat Abuzar Ghaffari dan Hazrat Umar sedang mendiskusikan tentang topik Zakat. Ka’ab Ahbar berkata sesuatu. Abuzar menegur dia, “Wahai Yahudi! Akankah kamu mengajar kami Islam?”

Berkata Abdur Rahman bin Abu Bakr, “Aku melihat Harmuzan yang Majusi, Jafeena yang Kristen, dan Feroz Abululu berbisik-bisi, pada hari sebelum Hazrat Umar dibunuh. Mereka mempunyai golok bermata ganda yang sama dengan yang kemudian ditemukan di dekat mayat Abululu.”

Tiga hari sebelum pembunuhan tersebut, Ka’ab Ahbar berkata kepada Amirul Muminin – Hazrat Umar, bahwa ia akan mati dalam tiga hari. Abbas Mahmud Alakkad, seorang Sejarawan Mesir telah menulis bahwa Ka’ab Ahbar adalah seorang yang berpaham Yahudi dan ia adalah kaki tangan utama bersama-sama dengan Harmuzan dan Jafeenatil Khaleel berkomplot melakukan pembunhan tersebut. Pada malam sebelum pembunuhan Hazrat Umar Farooq, Ka’ab Ahbar berkata kepada Hazrat Umar, “Waktu telah berlalu bagi kamu.”

Abdul Qadir Ali Moosvi menulis, “Pada saat bencana ini, kekuasaan Islam dengan aman berdiri tegak dan mental yang terpelihara pada masyarakat dipastikan benar-benar damai dan bebas dari gangguan secara menyeluruh. Sekumpulan orang-orang yang bergabung dalam Iman Tuhan. Tak seorangpun akan membayangkan kemungkinan adanya komplotan yang mengerikan seperti itu. Jika memang pernah terjadi perselisihan antar kelompok Muslimin atau pernah terjadi pertumbahan berdarah selama lima puluh hingga seratus tahun pertama Negara Islam, pasti Muslimin tidak akan bisa membanjiri daerah seluas dua pertiga dunia. Mereka kepunyaan jaman Islam yang benar-benar diberkati. Al-Qur’an memberikan kesaksikan bahwa mereka yang benar-benar beriman akan berkasih-sayang satu sama lain. Allah ridho dengan mereka dan mereka ridho kepada-Nya, demikian pernyataan Al-Qur’an. Pada zaman kedamaian ini kelihatannya tidak ada peluang untuk melakukan gerakan makar di bawah tanah.”

TRAGEDI 23 H/ 644 CE

Dengan adanya panggilan untuk sholat fajar pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 AH, para sahabat Nabi yang agung berkumpul di Masjid Nabawi. Harat Umar tiba untuk memimpin sholat tersebut. Tidak lama setelah ia bertakbeer kemudian seseorang tiba-tiba mendekati dia dari depan dan melukai dia dengan goloknya pada beberapa tempat. Orang-orang yang berkumpul tersebut mengejar dan menangkap Feroz Abululu. Bagaimanapun, si penyerang membunuh dirinya sendiri dengan golok miliknya. Bukti yang paling kuat yang berhubungan dengan kejahatanan tersebut telah hilang untuk selamanya. Jafeena dan Harmuzan dibunuh oleh amukan masa setelah itu. Yahudi Saba bin Shamoon melarikan diri dan bergabung dengan kelompok persekongkolannya di Samarqand. Ka’ab Ahbar tidak ditangkap karena ia dianggap sebagai muslim yang tidak bersalah. Ironisnya, orang ini selalu berkata bahwa ia tidak akan memeluk Islam hingga ia secara penuh yakin dengan melihat berkah yang banyak dari jalan hidup Islam.

Dengan pembunuhan terhadap Hazrat Umar, makar orang-orang Persia semakin meningkatkan usahanya untuk mengasingkan Muslimin dari Tuhan mereka yaitu dengan menjauhkan Muslimin dari Al-Quran. Umar Farooq adalah rintangan yang paling besar bagi usaha mereka. Ketika berita pembunuhan khalifah sampai ke Samarqand, orang-orang istana Persia menyalakan langit dengan sorak kegirangan dengan petasan luncur.

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi menulis di dalam bukunya Meezanul Faris bahwa mekanisme syura kekhalifahan demikian sangat berkompeten, sehingga tanpa memboroskan waktu kesyahidan tersebut, Hazrat Usman terpilih sebagai Khalifah yang baru melalui musyawaroh antar sahabat yang diberkati.

PEMBUNUHAN HAZRAT UTHMAN 35 H/ 656 CE

Kita telah melihat modus operandi Majusi, Yahudi, dan Nasrani di  jaman Hazrat Umar.

Potongan-potongan yang terserak: Muzakkarah Hur bin Abdul Rahman (100-101H), Meezanul Faris, Fitnatul Kubra oleh Taha Hussain, Ajaibit Tareekh oleh Yaqoot Hamdi, Kitab Dalail-e-Nabawwut Syedna Muhammad oleh Abdul Jabbar Qaramati (280H), Tasweer Ka Doosra Rukh dan Intizar-E- Mahdi-O-Maseeh keduanya oleh Muhaddithul Asr Allama Tamanna Imadi. Mazhabi Dastanain Aur Unki Haqeeqat, oleh Allama Habibur Rahman Kandhalvi, Shahkar-e- Risalat oleh Allama Ghulam Ahmad Parvez, Tarikh-E-Islam oleh Dr. Oleh Dr. Hameeduddin, Profesor dari Harvard Universitas, dan banyak buku lainnya menyoroti sejarah abad pertama Islam mengukir guratan emas. Tetapi hal tersebut terserak seperti potongan teka-teki puzzle. Menggabungkan potongan-potongan informasi ini secara bersama-sama, gambaran yang muncul benar-benar mengagumkan walaupun disertai dengan tetesan darah yang suci.

Sebagaimana disebutkan di atas, setelah penaklukan Persia, ribuan orang yang berkedok muslimin menetap di luar, terutama di Iraq karena dekatnya Iraq dengan Persia. Mereka lebih mungkin ditemukan dan ditawan di ibukota kekhalifahan sehingga jumlah orang-orang Persia seperti ini lebih sedikit di Hejaz. Hazrat Umar tidak begitu sadar pada situasi ini. Maka, pada tahun 18 AH ia meminta bantuan dan menugaskan Hazrat Ali sebagai gubernur Iraq untuk pengawasan dan pendidikan unsur-unsur Persia ini.

Bertentangan dengan pernyataan sejarawan seperti Tabari, Ibn Hisham, dan Kulaini, semua dalam kedamaian dan ketenangan pada jaman Hazrat Uthman. Pasang naik Islam yang diberkati memberikan pengaruh pada semua aspek kehidupan yang menyertainya: di daratan, masyarakat dan hati. Hazrat Uthman mengendalikan dengan penuh kewaspadaan atas ibukota Madinah dan Hazrat Ali mengendalikan provinsi Iraq. Hazrat Muawiya di  Syria dan Hazrat Umro bin Al-’Aas di  Mesir, semuanya  terbukti sebagai gubernur yang handal. Tim kerja mereka dan para sahabat yang lain dengan karakter mereka yang patut dicontoh menambah semangat untuk bekerja keras karena Allah, sedang membawa Islam dari hari ke hari dari satu puncak kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Semboyan yang menyebar di seluruh kawasan adalah, “Kesucian adalah kenangan Anda!”. Pemimpin-pemimpin atau panutan-panutan Islam yang besar sangat mengetahui dengan baik bahwa penegakan perintah Al-Qur’an adalah prioritas utama Pemerintahan. Nabi yang agung telah melatih sendiri orang-orang istimewa ini dan mereka sangat berkasih sayang satu sama lain dan untuk kemanusiaan.

Mereka begitu berminat dan bersemangat untuk menyebarkan pesan-pesan Islam kepada seluruh penjuru dunia yang penguasa mereka tidak begitu peduli terhadap harkat dan martabat pribadi dari masyarakatnya. Keabadian dari Al-Quran memberikan kepada mereka kepercayaan diri secara ekstrim. Satu hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa pada waktu itu jika orang-orang diajak kepada Islam, mereka tidak menolak seperti pada hari ini. Tidak ada tuduhan murtad dan pengucilan (Takfeer) terhadap masyarakat. Jadi, pada negara Islam setiap orang yang menyatakan Islam diterima sebagai seorang Muslim. Tak seorangpun ‘yang dibedah dadanya’ untuk melihat apakah seseorang itu munafik, Majusi, Yahudi atau Kristen dalam hati mereka. Para Sahabat Nabi yang agung, memperlihatkan watak yang membuat kagum seluruh dunia, tidak menempatkan para penjaga di pintu-pintu masuk/ keluar mereka.

Mengambil keuntungan dari situasi seperti ini, tetua Yahudi, Saba bin Shamoon yang mempunyai nama Islam Saba Assalameh, dan anaknya Abdullah bin Saba masuk ibukota Madinah dalam kegelapan dari jam-jam akhir malam dan membunuh Hazrat Uthman dengan pedang mereka ketika Beliau sedang membaca Al-Quran. Kedua pembunuh tersebut menghilang dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak. (35 AH)

PEMBUNUHAN HAZRAT ALI 661 CE

Ketika Hazrat Usman sahid, Hazrat Ali sedang menjabat gubernur Iraq.

Para wakil Hazrat Uthman dengan segera menerapkan perintah Al-Qur’an untuk bermusyawarah untuk menetapkan pemimpin baru. Sebuah pertemuan para Sahabah yang mulia dilaksanakan di Masjid Nabawi, Madinah. Dua resolusi telah dihasilkan- pertama, bahwa Khalifah berikutnya adalah Hazrat Ali – kedua, bahwa ibukota negara akan dipindahkan ke tempat di mana Hazrat Ali menjabat sebagai gubernur Iraq. Dalam pertemuan ini juga terlewatkan perihal perlunya keamanan pribadi untuk Khalifah Islam, hal ini dikarenakan para sahabat membenci, dalam keadaan apapun, ada jarak antara diri mereka dengan masyarakatnya. Bagi mereka menempatkan para penjaga/ pengawal di pintu gerbang adalah sesuatu kebiasaan yang aneh.

Bagaimanapun, kapal negara Islam tetap berlayar dengan baik walaupun di tengah gelombang kecil intrik dan konspirasi. Tetapi pada tanggal 18 Ramadhan 40 AH (661 CE) tangan-tangan dari orang-orang istana Persia menyerang lagi. Pada waktu fajar menyingsing, ketika Hazrat Ali sedang memimpin sholat di Koofa, seorang Majusi bernama Jamshed Khorasani, yang mempunyai nama Islam, menyerang secara tiba-tiba dari persembunyiannya dan menikam Beliau dengan senjata tajamnya – pisau bermata dua – beberapa kali. Pada hari ketiga setelah serangan ini, yaitu pada 20 Ramadhan, Khalifah yang keempat akhirnya gagal untuk bertahan terhadap luka yang dideritanya. Dalam buku sejarah konvensional kita, Jamshed Khorasani ini dikenal sebagai Abdur Rahman Ibnu Maljam Al-Khariji. Jamshed dengan cepat segera ditangkap oleh jamaah. Ia diadili dalam sidang pengadilan dan menerima hukuman mati.

HAZRAT HASAN, SEORANG GUBERNUR

Sekarang karena Koofa adalah ibukota negara, para anggota dewan Syura bertemu di sana. Hanya ada dua nama yang muncul pada pemilihan Khalifah tersebut, yaitu Hazrat Hasan bin Ali dan Amir Muawiya, gubernur Syria. Hazrat Hasan menolak untuk menerima menjadi Kalifah. Oleh karena itu, Hazrat Mu’awiya menduduki jabatan sebagai Khalifah yang baru. Ia telah mempunyai cukup modal yang besar seperti sejarah yang baik di bidang administrasi, ketajaman politis dan popularitas di tengah masyarakat. Namun demikian ia harus memenuhi persyaratan konstitusional berupa kesetiaan masyarakat.

Sekarang ibukota negara dipindah ke Damascus. Beberapa orang Suriah mulai berdiri sebagai pengawal dengan pakaian sipil tanpa sepengetahuan Khalifah. Ketika pada bulan Ramadhan 40 AH seseorang menyerang Hazrat Mu’awiya, seorang penjaga menebas kepala penyerbu di sana. Hazrat Muawiya hanya menderita luka-luka kecil.

Unsur-unsur yang membahayakan kepada Islam menjadi paham bahwa disain mereka tidak mungkin berhasil di Damascus yang sekarang sebagai ibukota negara. Maka, mereka mengalihkan perhatian mereka kembali lagi ke Iraq di mana Hazrat Hasan telah ditetapkan sebagai gubernur oleh Hazrat Mu’awiya. Karena penuh dengan rasa kasih dan kedermawanan, Hazrat Hasan menjadikan provinsinya bagaikan sebuah surga di atas bumi. Setelah menegakkan administrasi di Iraq pada setiap lapisan pemerintahan, ia berhenti dari jabatannya pada tahun 48 AH karena penyakit dan mengambil tempat kediaman di Madinah.

Imam Ghazali melaporkan bahwa Imam Hasan mempunyai dua ratus isteri. Pada beberapa referensi lain, termasuk dalam tulisan-tulisan Ghazali, dinyatakan bahwa ia biasa menikahi empat wanita baru dan menceraikan empat isterinya setiap minggu!  Hanyalah orang-orang dengan tujuan untuk menghina Beliaulah yang tanpa merasa bersalah melempar tuduhan seperti itu pada Imam yang diakui oleh masyarakatnya.

Ada sebuah laporan yang diulang-ulang oleh Haq Ali Haq, seorang Presiden Jami’a Al-Azhar masa lalu, bahwa salah seorang isterinya, Ja’da, tidak setia dan Imam Hasan ingin menceraikannya. Bagaimanapun, sebelum ia melakukannya, istrinya meracuni dia dan ia langsung meninggal. Hal ini terjadi di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Penelitian Mahmood Ali Abbasi menyimpulkan bahwa Hazrat Hasan meninggal akibat TBC paru-paru di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (3)

BAGIAN- 12

ARSIP KHILAFAT RASHIDIIN DAN GUBERNURAN HAZRAT HUSSAIN LENYAP.

Alqami, perdana menteri kalifah Abbasiah yang terakhir, dan Toosi, ketua penasehat dan perdana menteri Hulagu Khan adalah seorang pengikut Zoroaster yang berkedok Muslim (menurut beberapa laporan berpaham Syiahh). Kerja sama/ kolaborasi mereka dan undangan rahasia dari Alqami menyiapkan jalan bagi invasi Mongol terhadap Kerajaan Muslimin. Hulagu Khan kemudian menggerebek Baghdad seperti angin topan pada tahun 1258 CE (655 H).

Singkatnya, kekhalifahan Abbasiah berakhir. Banyak Penulis sejarah yang telah melaporkan bahwa sangat banyak buku dimusnahkan dari perpustakaan Baghdad dan dilemparkan ke sungai Tigris sehingga airnya berubah menjadi hitam. Digambarkan bahwa orang-orang bisa menyeberangi sungai tersebut melalui jembatan dari buku-buku tersebut pada daerah sungai yang dangkal.

Hulago Khan, orang-orang istananya dan angkatan perangnya adalah penyembah berhala. Melakukan penaklukan telah menjadi hiburan mereka sejak masa Changez Khan. Mereka menyerbu banyak kerajaan, bangsa-bangsa, kota-kota besar dan kota-kota kecil, dan menghancurkannya. Mereka tidak mempunyai empati dan memusuhi pengetahuan dan literatur.

Lalu, mengapa mereka melemparkan buku-buku tersebut ke sungai?

Rancangannya adalah dengan mengisi perpustakaan ini dengan buku-buku yang mewakili paham Ajami yaitu Islam nomor dua. (Meezanul Faris). Dengan anjuran Alqami dan Toosi, angkatan perang Mongol tersebut mengambil langkah pemusnahan secara ekstrim terhadap semua buku yang mereka bisa pegang dengan tangan mereka, dari rumah-rumah, dari para sarjana dan dari institusi-institusi pendidikan. Untuk detailnyaa, silahkan dilihat “Tasweer Ka Dusra Rukh”. (Sisi lain dari sebuah Gambaran) oleh Jame-ul-Uloom Allama MohiuddinTamanna Imadi.

Kami menemukan adanya acuan pada buku-buku sejarah yang diterima secara luas adanya beratus-ratus hasil karya yang lebih tua dari penulis zaman dahulu, tetapi buku-buku tersebut tidak ada lagi.

Apa yang terjadi pada buku-buku tersebut?

Terima kasih kita ucapkan kepada Muqatdar Billah dan Musta’sam Billah demikian juga Naseeruddin Toosi dan Nasr Nawsher Alqami, buku-buku yang telah diselamatkan adalah buku-buku seperti Sejarah karangan Tabari (yang dikenal sebagai Induk dari Sejarah-sejarah, Umm-Ut-Tawareekh, Tareekh-Ul-Umam Wal- Mulook, dan 30 volume Tafseer oleh “Imam” Ibn Jareer Rustam Tabari. (Ref. Mua’Jjamul Adaba). (CATATAN: Buku ini mempunyai peranan besar memecah belah muslimin hingga hari ini dan menjauhkan muslimin dari memahami Al-Quran secara semestinya).

Hasil karya dari sarjana besar seperti Abu muslim Isphahani dan Abul Qasim Balakhi, Aqeel bin Asad telah benar-benar dimusnahkan sepenuhnya yang hari ini nama mereka hanya dapat ditemukan sebagai acuan kecil dalam buku-buku dari pengarang yang lain.

SEWADAH DEBU

Pada zaman Hazrat Umar, Muslimin telah menaklukkan salah satu dari super power zaman itu, yaitu Persia, dengan sepenuhnya. Mereka juga menaklukkan separuh bagian timur dari super power lain, Byzantium (kota Yunani kuno),  Kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi bagian barat masih terselamatkan. Kita ingat bahwa ketika pada tahun 631 CE Khusro Parvez, Raja Persia, merobek-robek surat yang Nabi kirimkan kepadanya. Nabi yang agung, kemudian, telah memperkirakan bahwa Kerajaan Persia akan koyak berkeping-keping – berantakan seperti kertas tersebut.

Ada contoh lain perilaku Khusrau Parvez yang kurang ajar. Ia mengutus seorang dari para gubernurnya yang bernama Bazan kepada Nabi dengan pesan, “Wahai Mohammad! Sungguhpun kamu hanyalah seorang budak bagiku, namun kamu berani menasehatiku! Datanglah anda untuk menyerahkan diri, jika tidak aku akan datang sendiri untuk menangkap kamu.” Sambil tersenyum, Nabi yang agung berkata kepada Bazan, “Temui rajamu. Putranya Sherovia telah membunuh dia semalam!

Sekarang, Yazdgard menjadi pengganti yang ke lima dari Khusro Parvez. Ia adalah raja ketika Hazrat Saad bin Abi Waqas mengirim utusan ke sana untuk mengajak kepada Islam. Mereka menyampaikan sebuah pesan dari Khalifah di Madinah yang memperingatkan dia agar berhenti menekan masyarakatnya, jika tidak malapetakan akan datang menimpa dia dan kerajaannya. Sebelum memberikan jawaban kepada utusan tersebut, Yazdgard memerintahkan salah satu dari pengawalya untuk membawa sebuah wadah yang berisi debu. Sambil membawa wadah tersebut, Raja berkata kepada utusan tersebut, “Pergilah dan berikan ini kepada Pemimpinmu Sa’ad bin Abi Waqas.” Ketika menerima hadiah tersebut, Hazrat Sa’d berseru, “Sambutlah, wahai tentara Islam! Hari ini Raja Persia telah menyerahkan tanahnya kepada kita!”

KEMATIAN  DINASTI SASSANID

Rangkaian pertempuran antara orang-orang Persia dengan Muslimin menjadikan kota Qadisia (14 AH/ 636 CE) dan ibukota Persia Madain (16 AH) di bawah kendali Hazrat Sa’d bin Abi Waqas. Kaisar Sassanid yang terakhir, Yazdgard melarikan diri dan menjalani hidupnya dalam pengembaraan dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia mengakhiri pengembaraannya bersembunyi di suatu tempat penggilingan, sambil menjadi perampok muatan emas, seorang petani membunuh dia dengan kampaknya. Candi-candi api menjadi dingin dan sebagaimana yang diperkirakan oleh Nabi yang agung, gelang-gelang emas Cisra dibawa ke Madinah. Khalifah Hazrat Umar memberikan gelang tersebut kepada Saraqa bin Malik Ja’sham. Saraqa adalah orang yang digoda dengan hadiah seratus unta, jika bisa menawan Nabi (S) dan Abu Bakr Siddiq (ra) ketika Hijrah (migrasi ke Madinah). Pada saat yang lemah tersebut lima belas tahun sebelumnya, Nabi (S) telah berkata kepada Saraqa, “Aku melihat gelang Cisra menghiasi lenganmu.”

Kematian yang mengerikan dari raja yang terakhir dinasti Sassanid tersebut beritanya menyebar menimbulkan awan kesedihan di seluruh Persia. Mereka tidak memuja-muja raja mereka tetapi:

Tidak ada halangan yang masih ada pada jalan kelaliman

Ketika para budak menjadi tetap kecanduan kepada hal itu

PARA PUTERI PARSI

Dari sudut pandang orang-orang Persia kondisi mereka menjadi semakin buruk, karena tiga putri dari raja yang terakhir ditangkap selama pertempuran dan dibawa ke Madinah. Puteri Shahr Bano adalah salah satu dari mereka. Menurut riset kami, nama aslinya adalah Shahrzadi dan dia adalah putri Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Ketika puteri tersebut dinikahkan dengan Imam Hussain, hal itu dianggap sebagai sebuah kehilangan ganda oleh sisa-sisa elit Persia. Ini terjadi pada tahun 25 AH. Dorongan mereka untuk melakukan balas dendam menjadi semakin kuat.


MAKAR AJAMI

Meezanil Faris oleh Hujjatullah Moosvi

RANCANGAN PARA PERMATA PERSIA

Para Permata: Seperti Sembilan Permata yang terkenal dari istana Raja Mughal Akbar, para raja Sassanid juga mempunyai duapuluh permata atau orang dekat istana. Lima belas darinya selamat dari pertempuran Qadisia dan Madain. Mereka semua, kemudian, mencari tempat perlindungan kepada Kaisar Cina Khaqan di  Samarqand.

Mereka membuat rencana masa depan sebagai berikut:

  • Ribuan dari orang-orang Persia ditempatkan di kota-kota besar utama dunia Islam seperti Mesir, Madinah, Makkah, Damascus, Baghdad, Basra, Koofa, San’aa dan Jerusalem. Mereka berpura-pura menjadi Muslimin. (Mizanul Faris, Hujjatullah Moosvi)
  • Misi mereka adalah memata-matai dunia Islam. Mereka lalu melaporkan kepada ‘lima belas permata’, yang disebut Asawarah (mereka yang memakai gelang emas kerajaan, sebuah tanda untuk membedakan bahwa mereka orang-orang istana Persia). Para penyusup ini dipersyaratkan mempunyai penguasaan atas bahasa Arab. Mereka harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang sejarah Roma dan Persia, demikian juga perihal tatakrama masyarakat Arab. Kebanyakan dari individu yang direkrut untuk menjadi mata-mata mempunyai ketrampilan dan pendidikan satu bidang tertentu atau lebih, seperti bahasa, menulis, akuntansi, kerajinan tangan, pandai besi, pengelasan, persenjataan dan pengobatan.
  • Berdasarkan ketrampilan mereka tersebut, orang-orang Persia yang bertobat ini (yang sebenarnya para penyusup), memajukan bidang mereka masing-masing di kota-kota besar tempat tinggal mereka. Mereka harus memperoleh pekerjaan dan menembus ke dalam lapisan yang sensitip di pemerintah. Dan mereka berhasil melaksanakan rencana busuk mereka.
  • ”Para permata’ tersebut paling efisien dan berhasil dalam kampanye mereka ketika sebagai pengungsi di kekaisaran Cina. Perlu diingat bahwa misi mereka adalah dua hal, pertama adalah memperlemah pusat pemerintahan Islam dengan membunuh para khalifah satu demi satu; dan yang kedua adalah mengasingkan Muslimin dari Al-Quran. Bazer yang berpengalaman dari Samarqand, yang dulunya seorang penasehat khusus Khusro Parvez, memimpin komite Asawirah tersebut. Kaum tua Marzaban, yang dulunya juga penasehat, adalah wakilnya. Kedua-duanya adalah politikus perencana yang sangat berpengalaman.