Category Archives: Sejarah Islam

HADITH DI MATA IMAM ABU HANIFAH

Nama Imam Abu Hanifah (rahmatullah alaih) tidak memerlukan pengenalan lebih jauh dalam lingkaran Jurisprudensi Islam, di mana ia mendapat penghargaan yang tinggi dan dihormati. Pada pendahuluan menulisan ini, dalam konteks dengan Dr. Allama M. Iqbal, kami menyebutkan tentang pandangan Imam Hanifah (R) terhadap ahadith. Pada halaman berikut kita akan mengemukakan kepada anda suatu laporan terperinci tentang topik ini.

 IMAM-AZAM SANGAT SEDIKIT MEMINTA BANTUAN PADA AHADITH:

Dipandang dari sudut aturan Al-Qur-an, menyusun detail tentang ajaran al-quran disebut sebagai Hukum Islam (Fiqh). Sepanjang periode sahabat Rosul, tidak ada spekulasi tentang ajaran ini. Bagaimanapun, usaha yang paling utama dan paling efektif telah dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (R) yang dikenal sebagai “Imam-Azam” di kalangan masyarakat Islam. Dan dengan itulah ia berhak/ layak mendapat julukan tersebut. Ia mengkhususkan diri di bidang hukum Islam dan unggul di bidangnya. Hukum-hukum hasil karya Imam masih diterapkan hingga hari ini. Sekarangpun, mayoritas muslimin mengikuti hukum yang diatributkan kepada dia. Hampir semua ulama Islam mengetahui bahwa jurisprudensi Imam Azam adalah dari hasil spekulasi. Spekulasi pada konteks ini berarti bahwa kita membuat hukum fiqh atas usaha kita sendiri, berdasar pada aturan Al-Qur-an suci. Para ulama juga sadar pada fakta ini bahwa ketika membuat suatu hukum fiqh, Imam Azam sangat sedikit bersandar pada ahadith. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bahwa beliau tidak bisa memperoleh ahadith pada zaman itu. Menurut beberapa laporan, beliau itu lahir pada tahun 61 Hijrah, sedangkan yang lain menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 80 Hijrah dan tahun kematiannya adalah 150 H. Adalah akan lebih mudah untuk mengakses hadith tentang apapun pada zaman beliau dibandingkan dengan zaman ketika Imam Bukhari bekerja mengumpulkan hadits (yaitu pada tahun 256 Hijrah). Berkaitan dengan pengakuannya terhadap hadits Rosulullah, Muhammad bin Sum’aa berkata bahwa ia mendengar Imam Yusuf berkata, “Aku tunduk kepada mayoritas ahadith. Faktanya adalah bahwa pandangan Abu Hanifah sangat berbeda dengan saya. (Sejarah oleh Khateeb Baghdadi, halaman 340). Alasannya adalah bahwa beliau tidak menganggap ahadits sebagai wahyu Allah yang tidak dapat dirobah, atau tidak boleh diragukan. Dari awal hingga akhir, Imam Azam membangun struktur Deen-nya berdasar atas keyakinan. Dalam hal ini, Deen yang meyakinkan ini tersembunyi dalam Al-Qur-an.

Karenanya, Ali Ibnul Madani mengutip cerita yang menggambarkan hal ini dari Abdul Razzaq yang berkata, “hukum sedang duduk dengan seorang yang lebih tua ketika Abdullah Ibnul Mubarok datang dan bergabung dengan kami. Kami mendengar orang yang lebih tua berkomentar bahwa ia tidak mengetahui orang yang lebih mengetahui dan merenungkan tentang hukum Islam, dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang mahir menjelaskan kepada orang-orang secara gamblang aliran kemerdekaan hidup dalam hukum Islam dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang lebih berhati-hati dibanding Abu Hanifah, yang tidak membawa kecurigaan atau kerancuan apapun dalam Deen Allah. (Khateeb Baghdadi, halaman 339).

Dipandang dari sudut Al-Qur-an, dengan proposal dari penasehatnya dan usaha perenungan pribadinya, ia membuat hukum fiqh. Bilamana seseorang menolak pada putusannya, atas dasar hadith Rosul, beliau akan selalu menyampaikan kepada dia, seperti Hazrat Umar ketika berkata, “Keputusan Rosulullah adalah menurut keadaan zamannya, zaman telah berubah sekarang, karena alasan inilah maka keputusan hukum perlu dikembangkan.” Atau beliau mengikuti kata-kata Hazrat Aisha (R) dan sahabat Rosul yang lain yang berkata, “Siapa yang mengetahui apa yang Rosulullah katakan, atau bagaimana si pendengar memahaminya? Bagaimana mungkin kita, di hadapan Al-Qur-an, membuat kerancuan merupakan bagian dari ad-Deen?” Karena beliau kebanyakan tunduk pada fakta tersebut, bahwa ahadith Rosul Allah tidak bisa dipercaya, atau hadits tidak tanpa perubahan, hal ini menjadikan beliau, pada kondisi diskusi/ debat yang panas terhadap ahadith, dan dengan penuh semangat.

Imam Sufyan bin Ainee menyatakan bahwa aku belum pernah melihat sesiapapun lebih berani dalam bidang Allah dibanding Abu Hanifah (R). Ketika saya sedang mengutip suatu hadith di mana Imam Abu Hanifah (R) datang untuk mengetahuinya. “Sebelum penjual dan pembeli berpisah, transaksi tersebut batal.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Ceritakan kepadaku, jika kedua-duanya sedang bepergian sekapal. Jika kedua-duanya terkunci dalam penjara. Atau jika kedua-duanya bersama-sama dalam suatu perjalanan. Bagaimana mereka akan berpisah, atau bagaimana mereka akan bisa menutup transaksi mereka.”

IMAM AZAM MEMBUANG LEBIH DARI 400 AHADITH:

Abu Saleh Farah menulis bahwa ia mendengar Yusuf bin As-baat berkata, “Abu Hanifah (R) membuang lebih dari 400 ahadith Rosul” Maka saya bertanya kepada Yusuf, “Wahai Abu Muhammad! Apakah kamu ingat ahadith itu?” Ia mengiakan. Aku meminta dia untuk menceritakan sebagian dari ahadith itu.

Yusuf bin As-baat berkata, Rosululla berkata, “Perihal barang-barang rampasan perang, dua bagian kepunyaan kuda dan satu bagian jatuh kepada penunggangnya.”Abu Hanifah (R) berkata bahwa ia tidak bisa membuat satu bagian dari binatang sepadan dengan satu bagian dari mukmin. Mereka berkata bahwa Rasul menandai binatang korban dengan tombaknya. Abu Hanifah (R) berkata, “Menandai binatang berarti mengubah bentuk binatang itu’. Rasul berkata, “Sekali waktu konsumen dan pemilik sudah pergi, kontrak atau transaksi tidak bisa dibatalkan.” Pendapat Abu Hanifah adalah, “Ketika transaksi ditutup, tidak bisa dibatalkan.” Ketika Rasul memutuskan untuk bepergian, beliau akan mengundi untuk memilih salah seorang isterinya untuk menemani beliau. Mereka meyakini, para sahabatnya, melakukan hal yang sama. Tetapi Abu Hanifah (R) berkata mengundi adalah judi.

Abu Saeeb berkata bahwa ia mendengar dari Imam hadith yang terkenal bernama Wakeeh, bahwa Abu Hanifah (R) telah menentang dua ratus ahadith. Abdul Ali bin Hamad ketika mengutip dari bapaknya Hamad bin Salma menceriterakan, ketika Abu Hanifah (R) menemukan ahadith Rasul Allah, ia membuangnya diganti dengan pendapat pribadinya. Imam Ahmad bin Hambal (R) juga telah menulis hadith yang sama dari Hamad dari Muwamal. (Khateeb, halaman 390-91)

Abu Ishaaq Fazari berkata bahwa ia sering pergi menemui Abu Hanifah (R) dan bertanya berbagai hal berkenaan dengan “jihad’. “Suatu hari ia bertanya kepada beliau tentang suatu masalah. Ketika ia mendengar jawabannya, ia berkata bahwa Rasul Allah telah berkata yang berbeda tentang hal ini. Menanggapi ini Abu Hanifah (R) menjawab, “Maafkan saya dari omong kosong ini.” Yang dengan cara yang sama, suatu hari, beliau ditanya lagi tentang suatu masalah yang tentangnya beliau memberi suatu jawaban. Ia mengulangi hal yang sama bahwa Rasul telah berkata sesuatu yang berbeda. Abu Hanifah (R) berkata, “Ambil kertas catatanmu dan usapkan pada seekor babi.” (Khateeb, halaman 387)

Abu Hanifah (R) diberitahu suatu hadith tentang suatu pemberontakan melawan Sultan zamannya. Abu Hanifah (R) menjawab bahwa itu tak lain hanyalah dongengan. Ali Ibnu Asim menulis bahwa ia menceritakan suatu hadith Rasul kepada Abu Hanifah (R). Abu Hanifah (R) menolak untuk menerimanya. Aku menegaskan bahwa itu adalah perkataan dari Nabi yang mulia. Ia menjawab, “Ya! Dan aku keberatan untuk menerima.” (Khateeb, halaman 387)

Bashar bin Mufazal berkata, ia menerangkan kepada Abu Hanifah (R), perkataan Rasul Allah, bahwa Nafy (R) telah mengutip dari Ibn Umar, “Pelanggan dan pemilik tidak bisa melanggar suatu kontrak atau memutus transaksi, ketika mereka sudah berpisah satu sama lain.” Terhadap hal ini Abu Hanifah (R) berkata, itu hanyalah sebuah nyanyian perang.

Aku berkata bahwa Fi’ada mengutip dari Hazrat Anas (R) bahwa seorang Yahudi meremukkan kepala seorang muslimah dengan dua batu. Rasul melakukan yang sama, sebagai balasan/ qishosh kepada Yahudi itu. Abu Hanifah menanggapi bahwa itu semua adalah sampah.

Serupa dengan itu, seseorang mengutip di depan dia, keputusan Hazrat Umar tentang suksesi. Abu Hanifah (R) menjawab, itu adalah cerita palsu dari Setan. (Abdul Warris telah mengutip hal yang sama). (Note: mungkin yang dimaksudkan tentang suksesi ini adalah sejarah versi Majusi Persia bahwa Umar telah merekayasa terpilihnya Usman sebagai penggantinya dalam rangka menyingkirkan Ali).

Yahya Ibnu Adam berkata bahwa suatu hadith dikutip di depan Imam Abu Hanifah (R), tentang Rasul yang menyatakan, “wudhu itu adalah separuh iman!” Abu Hanifah (R) menjawab, “Oleh karena itu, kita harus melaksanakan wudhu dua kali dan lengkaplah iman kita!”

Dengan cara yang sama, Abu Hanifah (R) diberitahu hadits Rasul yang berkata, “berkata aku tidak tahu adalah separuh pengetahuan.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Maka kita harus mengulangi, aku tidak mengetahui, dua kali dan lengkaplah pengetahuan kita.”

PERINTAH ADALAH SEJARAH DAN MASA LALU:

Bashr Ibnu Asry menyatakan, “Aku pergi ke Abu Awana dan menceritakan kepadanya bahwa aku datang untuk mengetahui, apakah kamu mempunyai buku Abu Hanifah. Bisakah kamu mendapatkannya untuku, karena aku ingin mempelajarinya. Abu Awana menjawab, “Nak! Aku gembira kamu mengingatkan aku”. Dan ia pergi menuju sebuah peti dan mengambil sebuah buku darinya. Setelah merobek berkeping-keping, ia melemparkannya. Aku terkejut dan berkata, “Hargailah.” Ia berkata, “Suatu hari aku sedang duduk dengan Abu Hanifah (R) ketika pengawal Sultan datang kepadanya dan meminta keterangan tentang hukuman mencuri sebuah sarang lebah. Abu Hanifah (R) tanpa ragu-ragu menjawab, jika harganya sepuluh dirham, maka tangannya harus dipotong. Ketika pengawal sudah pergi, aku berkata kepada Abu Hanifah (R), “Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Aku telah diberitahu oleh Yahya bin Saeed, yang diberitahu oleh Muhammad bin Haban, yang diberitahu oleh Rafay bin Khadeej bahwa Rasul berkata, “Kamu tidak boleh memotong tangan atas pencurian hewan dan tumbuh-tumbuhan.” Kamu harus segera menyelematkan orang tadi, kalau tidak; pegawai Sultan akan memotong tangannya. Lagi Abu Hanifah (R) menjawab tanpa ragu-ragu, “Keputusan telah diambil dan dikerjakan berdasarkan itu.” Dan tangan pencuri tersebut dipotong.

AQQIQAH ADALAH JAHILIYYAH:

Abu Bakr Asrm menyatakan bahwa Abu Abdullah bin Ahmad bin Hambal (R) telah menerangkan, di depan kami, banyak ahadith Rasul, perkataan dari para sahabat dan tabi-in (R) tentang topik aqqiqah (pembagian daging korban binatang pada saat kelahiran seorang anak). Dengan sebuah senyuman dan wajah yang mengagumkan, ia berkata, “Tetapi Abu Hanifah (R) berpikir bahwa ini semua adalah tindakan jahiliyyah.”

Muhammad bin Yusuf Baykundi berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal (R) mengamati seseorang yang menulis tentang Abu Hanifah (R) di mana ia berkata bahwa adalah memungkinkan melakukan perceraian sebelum akad nikah dilakukan. Imam Ahmad melakukan pembelaan, “Tidak mungkin! Kamu pikir Abu Hanifah (R) tidak tinggal di Iraq, atau bahwa ia bukanlah orang yang terpelajar. Terhadap topik ini, Rasul, para sahabatnya, sekitar tiga puluh tabi-in, termasuk Saeed bin Jabeer, Saeed bin Almseeb, Ataa, Tawus, Ikrimah dan yang lain-lainnya sudah setuju dengan suara bulat bahwa perceraian tidak mungkin sebelum akad nikah. Bagaimana mungkin Abu Hanifah (R) berkata seperti itu? (Khateeb, halaman 411)

Sudahkah anda mengamati pendekatan dengan hadith oleh para ahli fiqh Islam yang paling besar? Hukum-hukum yang diundangkan dan dibuat, atau diatributkan kepada beliau diterapkan ke dalam mayoritas masyarakat dunia Islam. Dan tidak ada orang manapun yang menyebut Imam Azam dan Muslim Hanafi sebagai kafir. Padahal, intensitas Imam Abu Hanifah (R) menolak ahadith, akan sulit ditemukan contohnya di kalangan penolak hadith lainnya.

BAHKAN RASUL PUN PASTI AKAN SETUJU, JIKA AKU HIDUP PADA ZAMAN ITU:

Imam Azam telah mendukung pandangannya dengan pertimbangan akal. Menurut dia, Rasul sendiri, ketika membuat hukum, memusyawarahkan berbagai permasalahan dengan para sahabatnya dan memakai pendapat yang ia anggap terbaik. Setelah itu ia berkata, “Jika aku hidup pada zaman Rasul, kemudian aku akan mengambil bagian dalam panitia penasehatnya. Aku yakin bahwa pada berbagai hal Rasul pasti mengambil pendapatku.”

Karenanya:

“Mahmood bin Musa berkata bahwa aku mendengarnya dari Yusuf bin Asbaat, bahwa Imam Abu Hanifah (R) biasa berkata, “Jika Rasul menemukan aku, dan aku berjumpa dengan dia, terhadap mayoritas dari persoalan, Ia pasti akan mengakui pendapatku. Aku mendengar Abu Ishaaq berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) menentang kebanyakan ahadith Rasul. (Khateeb sejarah, halaman 287)”

Kita berpikir tidak ada lagi yang perlu dikatakan tentang isu ini. Singkatnya, ini berarti bahwa otoritas pusat (pimpinan eksekutive Negara yang berdasarkan Al-Qur-an) dalam bermusyawarah dengan para anggota perwakilan masyarakat, mengambil keputusan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari sudut pandang Al-Qur-an yang disebut “Syari’ah Islam.” Dan keputusan ini menyesuaikan diri dengan keadaan zaman yang berubah-ubah. Adalah karena pendekatan yang spesifik inilah maka Imam Abu Hanifah (R) di kemudian hari dikafirkan. Ia dimahkotai dengan berbagai cercaan, keterangan yang menghina dan tuduhan yang tidak masuk akal.

HINAAN DARI PARA PENULIS HADITH:

Imam Malik bin Anas berkata bahwa virus Abu Hanifah (R) tidak lebih mematikan dibandingkan dengan gurita Setan. Dalam doktrinnya, demikian juga dalam pengingkarannya terhadap ahadith. Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak bisa membayangkan, setelah ancaman Da’jall, ancaman apapun terhadap Islam, yang lebih besar dari pada Abu Hanifah (R)….’ (Khateeb, halaman 396)

Sulaiman bin Husain Halbee menulis bahwa Imam Auzai telah sering didengar berkata bahwa Abu Hanifah (R), satu demi satu, telah mengurangi setiap batalyon Islam. Fazari berkata bahwa ia mendengar Auzaee dan Sofyan berkata bahwa tidak ada seorangpun dalam Islam yang lebih bernasib sial dibandingkan dengan Abu Hanifah (R). Imam Sha’afi telah menggunakan kata “yang terburuk.” Telah ditanyai Qais bin Alzabea tentang Abu Hanifah (R). Ia berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang paling bodoh tentang hadits dan ahli hukum masa depan yang paling bijaksana. (Khateeb, halaman 498)

Umrah bin Qais telah berkata bahwa siapapun yang ingin mencari kebenaran, ia harus memperhatikan Abu Hanifah (R) dari Kufa. Setelah itu ia harus menentang perkataan dan ucapannya. Am’aar bin Zar’eeq berkata agar menentang Abu Hanifah (R) dan kamu akan menemukan kebenaran. Bushra berkata agar menentang dia dan kamu akan melihat kebenaran. Dengan kata lain, kita dapat berkata, diberkatilah mereka yang menentang dia. (Khateeb, halaman 408)

ADALAH SEBUAH KEJAHATAN MENYEBUT ABU HANIFAH DI DALAM MESJID:

Abu Ubaid berkata bahwa ia sedang duduk dengan Aswad Ibnu Salim di Mesjid Jamia Raza’fah. Selagi mendiskusikan suatu topik, keluar dari lidahku bahwa pendapat Abu Hanifah seperti ini. Aku segera diperingatkan oleh Aswad mengapa aku menyebut Abu Hanifah (R) di dalam mesjid? Dan karena kesalahan ini ia tidak berbicara denganku hingga kematiannya. (Khateeb, halaman 409)

Safyan mengutip Hishaam bin Marwah, yang mendapat hadith ini dari bapaknya. Yang menyatakan, bahwa berbagai persoalan diantara Bani Israel sangat harmoni, hingga anak-anak, para budak dan pelayan wanita jumlahnya menjadi terlalu banyak, dan sekarang mengganggu sistem. Para budak wanita ini telah berada pada jalur yang rusak, sekarang mereka membawa yang lainnya pada jalan mereka. Setelah itu Safyan menyatakan, di Islam juga berbagai hal publik adalah sangat harmoni. Hingga Abu Hanifah (R) dari Kufa, But’ee dari Basra dan Rabia Ibnu Abdur Rahman datang ke Medina dan mengubah pola teladan itu. (Khateeb, halaman 394)

FIQH HANAFI ADALAH HASIL KARYA DA’JAAL:

Hamduya bin Mukhlid menyatakan bahwa Muhammad bin Maslama Medeeni ditanya mengapa pendapat Abu Hanifah yang sudah menjadi percakapan secara terus menerus dalam semua empat sudut tetapi tidak bisa menyebar ke bagian dalam seluruh Medina. Muhammad bin Maslama menjawab, “Alasannya adalah, Rasul menceritakan kepada kita bahwa seorang malaikat ditempatkan pada tiap-tiap persimpangan di Medina, yang akan menghentikan Da’jal memasuki Medina. Karena literatur ini adalah juga hasil karya Da’jal, maka itu tidak bisa menyebar ke seluruh bagian dalam Medina. (Khateeb, halaman 396)

IMAM ABU HANIFAH (R) ADALAH BISU DAN YATIM DI BIDANG HADITH:

Ibnu Ishaaq Trindi menulis bahwa Abdullah Ibnul Mubarik berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang buta huruf menyangkut ahadith. Sr’eej bin Yunus dikutip pernah berkata bahwa Abu Katan menulis, walaupun kita menceriterakan hadith dari Abu Hanifah (R), ia adalah bisu di bidang hadith. Ibnu Numr berkata bahwa aku menemukan orang-orang dengan suara bulat mengakui pada fakta, terhadap apa yang harus dikatakan terhadap pendapat dan pandangannya, kami tidak mempercayai hadith Abu Hanifah (R) apapun. Hajjaj bin Artaat menulis, “Siapa Abu Hanifah? Siapa yang mau mendengar Abu Hanifah? Abu Hanifah bukan apa-apa?”

Ali bin Al-Madeeni menyatakan bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Yahya Ibnu Saeed Kat’aan, ketika seseorang sedang bertanya kepada dia tentang salah satu dari hadith Abu Hanifah. Terhadap hal itu Yahya berkata, “Sejak kapan Abu Hanifah mengetahui sesuatu tentang hadith?”

Muhammad bin Hamad Makri menulis bahwa Yahya bin Mueen (R) ditanya tentang Abu Hanifah (R), mengenai itu ia menjawab, “Berapa banyak ahadith yang ia punyai yang kamu bertanya kepadaku mengenai dia?”

Abu Bakr Ibnu Shazaan berkata bahwa ia diberitahu oleh Abu Bakr Ibnu Abi Dawood, kemarin Abu Hanifah (R) mengcopy 150 ahadith, separuh darinya dibuang olehnya karena ada kesalahan.

IMAM ABU HANIFAH TIDAK DIHORMATI:

Mo’el berkata bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Sofyan as-Sauree. Saur’ee pada waktu itu sedang mengelilingi Ka’bah. Ia mulai mengulangi kata-kata, “Abu Hanifah bukan orang suci dan dipercaya” hingga ia menyelesaikan putaran Ka’bah-nya. (Khateeb, halaman 415).

Berbagai pandangan yang dikutip di atas harus diingat ketika kita menguji tentang siapa yang membentuk opini ini dan siapa yang mereka bicarakan. Masing-masing dari mereka dianggap pilar dari eksistensi hadith. Inilah keputusan dari para pilar Islam terhadap diri Abu Hanifah (R). Mari kita lihat apa yang telah mereka katakan terhadap dua pengikut terkenalnya yaitu Imam Abu Yusuf (R) dan Imam Muhammad (R). Sebelum kita membaca lebih lanjut, harus ditekankan di sini, bahwa dalam keseluruhan madzab Hanafi, tidak satupun buku yang dikarang oleh Abu Hanifah (R) yang mencapai kepda kita. Apapun yang kita ketahui tentang dia telah menjadi kebaikan dari dua orang pengikutnya tersebut di atas.

IMAM YUSUF DI BAWAH PENELITIAN YANG CERMAT OLEH PARA SARJANA IMAM-IMAM:

Abdul Razzaq bin Umar menyatakan bahwa ia sedang duduk dengan Abdullah Ibnul Mubarok, ketika seseorang bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Abdullah mengabulkan dia suatu keputusan. Orang tersebut berkata bahwa ia telah bertanya kepada Abu Yusuf (R) tentang masalah yang sama, tetapi ia tidak memberi keputusan apapun yang bertentangan dengan anda. Abdullah kemudian berkata kepada lelaki tersebut, “Jika kamu melakukan sholatmu, dan imamnya adalah Abu Yusuf (R), manapun yang kamu ingat, maka kamu harus mengulangi sholat-sholatmu. (Khateeb, halaman 257)

Abda bin Abdullah Khorasani berkata bahwa seseorang bertanya kepada Abdullah Ibnul Mubarok tentang siapa yang lebih baik di antara Abu Yusuf dan Muhammad. Abdullah Ibnul Mubarik berkata, “Jangan berkata seperti ini. Kamu seharusnya bertanya: siapa diantara keduanya yang lebih besar dustanya?. “Lalu lelaki itu berkata, “Katakan kepadaku?” Abdullah berkata, “Abu Yusuf!”

Abdullah bin Idrees berkata, “Abu Hanifah adalah kasus yang tidak biasa dan ekstrim yang telah berlalu. Abu Yusuf adalah seekor musang dan seorang penyeberang ganda. (Khateeb)

IMAM ABU YUSUF DITUDUH BERBOHONG OLEH IMAM ABU HANIFAH:

Muhammad bin Ishmael Bukhari telah dikutip bahwa Imam Abu Hanifah (R) berkata, “Mengapa kamu semua tidak terkejut mengenai Ya’coob (Imam Abu Yusuf), ia telah menuduhku menceritakan kebohongan yang belum pernah aku katakan.”

Abu Naeem Fazl bin Waqeen berkata bahwa dia mendengar Abu Hanifah (R) menceritakan tentang Abu Yusuf, “Celaka kamu, kamu sudah terlalu banyak berbicara tentang aku di dalam buku ini yang aku belum pernah mengatakannya.” (Khateeb)

Ibnu abi Sha’ibah dan Ibnu Maghlabi mengutip Yahya bin Mu’een bahwa Abu Yusuf (R) tidak mempunyai persepsi terhadap hadith. Tetapi kami masih mempertimbangkan dia sebagai bisa dipercaya. (Khateeb, halaman 259)

Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa walaupun aku pertama kali mengambil hadith ini dari Abu Yusuf (R), aku tidak akan menceriterakan ahadith ini. Meskipun demikian, ia adalah sangat jujur, orang tidak boleh mengambil hadith apapun dari para pengikut Abu Hanifah (R).

Abul Hassan bertanya tentang Abu Yusuf (R) kepada Imam Daru Kutni, terhadapnya ia menjawab bahwa Abu Yusuf (R) secara komparatif lebih kokoh, meskipun begitu, ia seperti seorang yang timpang di antara yang pincang. Imam Muhammad bin Ishmael Bukhari berkata bahwa Ya’coob bin Ibrahim Abu Yusuf Qazi telah dikeluarkan dari lingkaran para ahli hadith. (Khateeb, halaman 259-60)

Imam Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa Ya’coob Abu Yusuf (R) adalah di antara pengagum hadith, seperti Abu Hanifah (R) dan Muhammad bin AlHassan (R) keduanya adalah menentang hadith Rasul. (Khateeb, halaman 179)

IMAM MUHAMMAD ADALAH PENDUSTA:

Yahya bin Mueen ditanya tentang Muhammad bin AlHassan (R), tentangnya ia menjawab bahwa Muhammad bin AlHassan adalah seorang pendusta. Pada kesempatan lain ia berkata AlHassan itu sudah tua, kadang-kadang ia berkata bahwa tak seorangpun mengambil hadith dari dia, ia tidak ada apa-apanya. (Khateeb, halaman 180)

Abu Dawood memegang pandangan yang sama tentang AlHassan bahwa tidak ada hadith yang diambil dari dia dan bahwa ia tidak berharga.

Imam Abul Hassan Daru Kutni berkata bahwa Muhammad Ibnul Hassan (R) telah disebut sebagai seorang pendusta oleh Yahya bin Mueen (R) dan Imam Ahmad bin Hambal (R). Sejauh yang ia perhatikan, Abul Hassan dapat dimaafkan. (Khateeb, halaman 181)

Bsh’ar bin Al-Waleed mengutip perkataan Abu Yusuf (R), “Tanyalah si pembohong Muhammad bin Al Hassan ini, bahwa apa yang ia tulis tentang aku, ia tidak pernah mendengar kata-kata itu dari aku. (Khateeb, halaman 180)

Yahya bin Mueen berkata bahwa Muhammad bin AlHassan (R) ditanya di depan aku tentang buku yang ia tulis, bahwa ia tidak pernah mendengarnya dari Abu Yusuf (R)? Muhammad bersumpah atas nama Tuhan dan menolak. Meskipun begitu, adalah benar juga bahwa aku mengetahui buku ini lebih baik daripada semua orang, dari Abu Yusuf (R) aku hanya mendengar “jama’ sagheera”. (Khateeb)

 

JURISPRUDENSI HANAFI TIDAK PERMANEN SEPANJANG ZAMAN:

Terkait dengan hadith yang anda telah dibaca perihal gagasan Imam Azam dan para pengikutnya. Setelah melalui ini, terdapat isu lain yang menarik, yaitu, apakah Imam Azam tidak pernah menginginkan untuk memproklamirkan bahwa dirinya menciptakan jurisprudensi yang tetap/ tidak dapat diubah hingga akhir zaman? Sekarang ini nyata sekali, bahwa seorang pemikir yang tidak percaya bahwa keputusan Rasul tak dapat diubah, bagaimana mungkin ia percaya bahwa putusan miliknya dapat tetap permanen? Tentang isu ini, kita memiliki bukti historis, bahwa Abu Hanifah (R) dengan tegas menentang dugaan bahwa usaha rohaninya mempunyai nilai yang tidak tergantung waktu.

Nazar bin Muhammad berkata bahwa kami sering menemui Imam Abu Hanifah (R) dan menemani kami seseorang dari Syria. Ketika Orang Suriah itu sedang berangkat dari tempat nginapnya, ia menemui Abu Hanifah (R) untuk mengucapkan salam perpisahan. Abu Hanifah (R) bertanya, “Wahai Orang Suriah! Apakah kamu akan membawa literatur jurisprudensi ini bersama dengan kamu.” Orang Suriah itu mengiakan. Mengenai ini Imam berkata, “Hati-hatilah, kamu membawa suatu kejahatan yang sangat besar.” (Khateeb, halaman 401)

Mazahm bin Za’farr berkata bahwa dia sendiri bertanya kepada Imam Abu Hanifah (R) tentang apa yang beliau tulis dalam bukunya dan keputusan yang ia berikan, apakah semua kebenaran yang mana tidak ada keraguan atau kerancuan apapun di dalamnya? Imam Abu Hanifah (R) menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu. Sangat mungkin bahwa semua ini adalah palsu dan tidak ada keraguan atau keuntungan yang tertinggal di dalam keputusan yang menjadi palsu.

Imam Ja’far (R) berkata bahwa kami sering mengunjungi Imam Abu Hanifah (R). Apapun keputusan yang ia buat kami menulisnya. Imam Ja’far menulis bahwa suatu hari Imam Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf, “Celaka kamu Ya’coob! Jangan mencatat semua hal dan setiap yang kamu dengar dari aku. Aku bisa membuat suatu pendapat hari ini yang mungkin besok berubah atau dihindari.”

Abu Naeem (R) berkata bahwa ia mendengar Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf (R), jangan menulis putusanku pada setiap masalah. Demi Allah! Aku sama sekali menganggap apakah aku sudah berbuat salah atau aku seorang pemenang.

Suhail bin Muzahm berkata bahwa ia sering mendengar Abu Hanifah (R) membacakan ayaat ini:

“Wahai Rasul! Tunjukkanlah tanda kepada orang-orang itu, yang mendengarkan dan kemudian bertindak sesuai dengan apa yang nampak baik bagi mereka.” (Khateeb, halaman 352)

Dari ekstraksi singkat catatan sejarah tentang Imam Abu Hanifah (R), bisa ditangkap bahwa ia tidak menganggap Fiqh-nya bebas dari kesalahan. Lalu bagaimana mungkin bagi kita untuk mewarisi hasil kerjanya setingkat dengan wahyu. Dan menganggap mereka sempurna, menerapkan hukum-hukum itu, hingga akhir zaman.

Mari kita ulangi, secara singkat, keistimewaan Imam Abu Hanifah (R):

  1. Satu-satunya yang permanen dalam ad-Deen adalah prinsip dan aturan Al-Qur-an.
  2. Tradisi (hadith/ sunnah) mempunyai nilai historis. Kita dapat mendapatkan bantuan darinya, tetapi tidak harus dianggap permanen dalam ad-Deen kita.
  3. Dipandang dari sudut prinsip Al-Qur-an, kita harus menciptakan jurisprudensi kita sendiri (fiqh) dengan usaha rohani. Hasil usaha ini tidak bernilai secara terus-menerus.

Setelah rekapitulasi ini, kami akan meringkas isu ini yang diambil dari Imam Ahmad bin Hambal (R). Dalam mana ditulis: “Ibraheem Hubee berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) telah membawa begitu banyak hal baru pada pengetahuan kami, yang akan lebih baik dari pada mengunyah air. Suatu hari, aku bertanya kepada Imam Hambal (R) tentang Abu Hanifah (R), ia menjawab dengan ekspresi terkejut dan berkata, “Itu nampak seolah-olah Abu Hanifah sedang menulis sebuah Islam yang baru secara lengkap.” (Khateeb, halaman 413)

Jadi, jika hari ini seseorang mengatakan hadith yang sama yang membicarakan Imam Azam pada zaman itu dan para pengkultus nenek moyang kita men-dogmatisasi bahwa pribadi ini membuat agama baru; hal itu bukan merupakan sesuatu yang baru di atas bumi ini. Hal seperti itu sudah berlangsung sejak zaman dahulu.

Sumber: http://www.toluislam.com/index.pl/mag?func=viewSubmission&sid=77&wid=40

Saat ini artikel di atas sudah tidak ada di situs tsb. Belum ditemukan dipindah kemana. Saya menemukan artikel di situs tsb. pada tahun 2008.

Sikap Umar terhadap Hadith

Umar ibn al-Khattab dan Pertanyaannya terhadap Hadith

Dikarenakan status Umar dalam sejarah dan tradisi Islam, maka rincian keberatan yang dikaitkan kepada Beliau layak untuk dilakukan pemeriksaan yang cermat. ‘Umar ibn al-Khattab adalah di kalangan umat Islam awal yang cukup penting, salah seorang sahabat Muhmmad yang cukup dekat, seorang pemimpin Islam, dan orang kedua orang yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Sebagai khalifah kedua dari empat khalifah yang mendapat petunjuk (al-khulafa ‘al-Rasyidin), reputasi Umar terkait kesalehan dan dedikasinya untuk Islam telah melegenda dan tidak diragukan lagi di kalangan Muslim Sunni sepanjang sejarah.12 Pendapat beliau tentang masalah-masalah keagamaan juga sangat dihormati.

Dalam disertasi Harvardnya tahun 1996, Linda Kern telah memeriksa figur ‘Umar di Hadith al-Bukhari, dan beberapa pengamatannya menarik secara khusus untuk penelitian ini. Pertama, Pengamatan Kern bahwa  “[a] menurut kebijaksanaan umum, kecemburuan ‘Umar dalam melindungi wahyu Ilahiah membuatnya mendapatkan laqab (julukan kehormatan) paling populer al-faruq, atau seseorang yang dengan tekun ‘membedakan’ antara firman Allah dan setiap potensi perubahan terhadapnya.”13  Gambaran ‘Umar ini, yang Kern memberikan gambaran kepada kita dari al-Bukhari yang mengungkapkan mengapa ‘Umar adalah seorang tokoh “batang yang menyinari” dalam kontroversi tentang Hadith.

Tersebar di seluruh berbagai corak literatur Islam dari abad ketiga/ kesembilan dan seterusnya yang melaporkan bahwa tokoh legendaris ini dianggap sebagi sumber yang sangat keberatan terhadap penulisan dan penyebaran Hadith. Setelah dikumpulkan, rincian cerita-cerita ini memberikan sebuah kesan yang kuat dan mempertegas pandangan Kern bahwa dalam cerita ini ‘Umar “secara radikal memisahkan otoritas Rosul dari Risalah-Nya …. [dan] membedakan al-Kitab sebagai suber kebenaran yang independen yang terhadapnya tidak ada aturan yang harus diikuti yang bisa dilakukan.” 14

Ini adalah aspek khusus yang sangat penting dari kontroversi tentang Hadith sebagai sumber otoritas tulisan suci yang bertumpu pada kepercayaan pada otoritas Kenabian dan dualitas wahyu.

‘Umar di al-Tabaqat al-Kubra

Dalam dekade antara meninggalnya al-Shafi’i pada tahun 204/820 dan meninggalnya Ibnu Qutaibah pada tahun 276 AH, koleksi besar pertama Hadith dan karya-karya penting lainnya yang masih digunakan sampai sekarang telah kumpulkan/ ditulis. Salah satu yang terakhir adalah al-Tabaqat al-Kubra (Generasi terbesar) oleh Abu ‘Abd Allah Mumammad bin Sa’d (168 / 784-230 / 845). Sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Sa’d. Ia lahir dan dibesarkan di Basra. Dia pindah ke Baghdad di mana ia menjadi sekretaris sejarawan Abu ‘Abd Allah Mumammad bin ‘Umar al-Waqidi (w. 207/747). Ibnu Sa’d juga dikatakan telah melakukan perjalanan ke Kufah dan Madinah dan telah dikaitkan dengan banyak para ulama yang paling penting pada zamannya.15 Tidak disebutkan bahwa al-Shafi’i adalah di antara ulama yang dengannya Ibn Sa’d yang dikaitkan; Namun, kedunya adalah orang dewasa pada pergantian abad ketiga Hijrah dan keduaya bepergian dalam lingkaran ilmiah di pusat-pusat pembelajaran. Adalah wajar berasumsi bahwa bahkan jika keduanya tidak pernah bertemu, Ibn Sa’d sadar akan adanya kontroversi perihal Hadith dan doktrin dualisme wahyu yang mana al-Shafi’i sedang memperjuangkan pada zaman itu.

Meskipun dia bukan pendiri sebuah sekolah pemikiran atau arsitek doktrin Islam, Ibnu Sa’d memiliki pengaruh besar pada umat Islam melalui karya utamanya. Tabaqat-nya adalah salah satu yang paling awal dan biografi yang paling luas dari generasi pertama umat Islam. Karya ini terdiri dari laporan-laporan yang, seperti Hadith Nabi, terdiri dari sebagian besar isnad dan matn. Karena judulnya mengindikasikan, adalah sebuah catatan kehidupan para anggota dari generasi awal utama, dimulai dari Adam dan Hawa dan bergerak melalui garis keturunan leluhur Mumammad turun hingga zaman Ibn Sa’d sendiri. Ibn Sa’d menceritakan cerita tanpa komentar. Adalah melalui media al-Tabaqat al-Kubra inilah Muslimin dari waktu ke waktu hingga hari ini telah memahami kehidupan Nabi dan generasi awal Muslimin. Penulis biografi belakangan melaporkan bahwa Ibn Sa’d dapat dipercaya (Thiqa) dan benar (Saduq). Karena reputasi yang baik ini, mayoritas Muslim menerima cerita-cerita yang berhubungan dengan gambaran yang akurat dari bagaimana Muslim awal memahami dan mempraktekkan Islam.

Cerita pertama Ibnu Sa’d yang meriwayatkan tentang sikap ‘Umar terhadap pencatatan Hadith terjadi di bab dimana ia menceritakan penunjukannya sebagai Khalifah (Dzikir istikhlaf ‘Umar). Dia mengutip sebuah cerita dari Sufyan bin ‘Uyayna (w. 198 AH), pada otoritas al-Zuhri bahwa “‘Umar ingin (Arada) menulis Tradisi (al-sunan), sehingga ia menghabiskan sebulan sholat mengharapkan petunjuk; dan setelah itu, ia menjadi bertekad untuk menulisnya. Tetapi kemudian dia berkata: “Aku teringat orang yang menulis sebuah buku, maka mereka mengabdikan diri untuk itu (aqbalu ‘alaihi) dan mengabaikan Kitab Allah (wa-Taraku Kitab Allah). ‘ “16

Salah satu argumen yang dapat digunakan untuk melawan penerimaan cerita ini adalah bahwa itu adalah mursal – isnad-nya hilang – sebuah hubungan langsung antara al-Zuhri (b. c. 50/670) dan ‘Umar (w. 22/644) -dan karena itulah harus tidak diperhitungkan. Namun, Ibnu Sa’d belum melihat cocok untuk mengecualikan atas dasar hal itu dan dua tokoh al-Shafi’i dan Ibnu Qutaibah diketahui memiliki laporan mursal yang diterima dari individu yang dipercaya.

Kata-kata dari cerita ini adalah sangat langsung dan tidak meninggalkan keraguan karena apa yang ‘Umar khawatirkan akan terjadi jika ia melakukan penulisan Tradisi (Al-sunan) Nabi: bahwa, seperti orang-orang sebelum mereka, Muslim mungkin mengalihkan perhatian mereka ke buku itu dan mengabaikan Al Qur’an. Siapa orang-orang itu tidak disebutkan dalam cerita ini. Namun, cerita-cerita lain ditemukan di tempat lain di Tabaqat sama-sama jelas dalam kata-kata dan memberikan rincian tambahan.

Cerita berikutnya yang Ibnu Sa’d menceritakan tentang Amirul Mukminin dan sikapnya terhadap Hadith ditemukan dalam volume lima dari Tabaqat. Cerita ini dikaitkan dengan otoritas al-Qasim bin Mumammad bin Abi Bakr al-Siddiq (w. 106 H.) -cucu Abu Bakar, sahabat terdekat Muhammad yang lain dan Khalifah pertama yang mendapat petunjuk yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi. Ketika al-Qasim diminta oleh muridnya ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ (w. 164 AH) untuk mendiktekan Hadith, ia menolak, sambil mengatakan, “Hadith berlipat ganda selama zaman ‘Umar; maka ia memanggil orang-orang untuk membawa hadith-hadith itu kepada dia, dan ketika mereka membawa hadith-hadith kepadanya, ia memerintahkan hadith-hadith itu untuk dibakar. Setelah itu, ia mengatakan, ‘sebuah Mishna seperti Mishna dari Ahli Kitab,’ (mathna’a ka mathna’at ahl al-Kitab).” “Sejak hari itu,” ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ meneruskan, “Al-Qasim melarang saya untuk menulis Hadith.” 17 Sebagaimana dalam cerita pertama, apa yang mengganggu ‘Umar adalah penulisan sebuah buku yang akan menyaingi dengan Kitab Allah. Dia membandingkan Hadith yang ditulis tersebut dengan Mishna milik Ahli Kitab. Dalam paham agama yahudi, Mishna berfungsi sama dengan fungsi Hadith yang telah datang untuk melayani di dalam Islam. Ini adalah kodifikasi yang Hukum Lisan dan berisi aturan yang terkait dengan rincian ritual bersuci, berdoa, pernikahan, perceraian, dan sebagainya. Mishna dan Gemara secara bersama-sama membentuk Talmud, yang merupakan buku paling penting dalam agama Yahudi selain Taurat.18

Namun, ‘Umar diakui dengan keberatannya untuk tidak hanya dalam hal penulisan Hadith, tetapi juga dalam hal penyebarannya. Mungkin kisah yang terkuat dan paling menarik tentang sikap ‘Umar terhadap hadith Nabi saw adalah yang ditemukan dalam volume enam dari Tabaqat. Di sini, Ibn Sa’d mengaitkan cerita tentang instruksi ‘Umar kepada delegasi dari para sahabat bahwa ia akan mengirim untuk wilayah Kufah untuk melayani sebagai administrator. Dia memerintahkan kepada mereka untuk tidak mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an dengan periwayatan Hadith.
Sekali lagi, kata-kata yang dikaitkan kepada ‘Umar adalah signifikan: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum jarridu al-Qur’an wa-aqillu al-Riwayat ‘an Rasul Allah” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka! Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah!).19 Beberapa isu adalah penting tentang cerita khusus ini.

Isu pertama menyangkut kata-kata, dan yang kedua menyangkut seseorang yang menyebarkan cerita. ‘Umar memberikan perintah yang kuat dan langsung dalam cerita ini: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka!). ‘Umar mengikutkan perintah berikut ini dengan yang sama-sama langsung yang layak perhatian: “Jarridu al-Qur’an.” Kata kerja Arab jarrid adalah bersifat perintah bentuk kedua dari j-r-d, yang secara harfiah bermakna menjadikan sesuatu telanjang. Menurut Lisan al-‘Arab, bila digunakan dengan Al Qur’an sebagai objeknya, seperti di cerita ini, itu bermakna tidak memberi pakaian al-Qur’an dengan apa pun. Dalam Lisan, Ibn Mannur seara khusus mengutip Ibn ‘Uyayna (w. 198 AH), yang dari dia Ibn Sa’d mengaitkan cerita ini, yang mengatakan bahwa jarridu al-Qur’an berarti tidak mengenakan pakaian kepada Al-Qur’an dengan aHadiths dari Ahli Kitab.20 Namun, di dalam cerita ini, kata-kata ‘Umar berikutnya menunjukkan bahwa sumber dari cerita (al-aHadith) dimana Al Qur’an tidak dikenakan pakaian adalah-al-Riwayat ‘an Rasul Allah-riwayat dari Rasul Allah. Dalam melaporkan cerita ini dari Ibn Uyayna, Ibnu Sa’d tidak menunjukkan bahwa Ibn ‘Uyayna ditawarkan selain pemahaman literal dari kata-kata ‘Umar ini.

Namun jelas bahwa ‘Umar belum melarang secara kaku dalam riwayat yang seperti ini: “jarridu al-Qur’an wa aqillu al-Riwayat ‘an rasul Allah” (Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah.). Cerita ini tidak berbicara tentang Rosul atau apa yang Rosul ucapkan yang mengganggu ‘Umar. Apa yang mengganggu dia adalah adanya kemungkinan mengakibatkan sesuatu yang akan menyaingi Kitab Allah. Dalam cerita sebelumnya, kekhawatiran ‘Umar adalah bahwa penulisan ahadith akan berakibat demikian. Dalam cerita ini jelas bahwa dia takut setiap riwayat dari hadith Nabi akan berakibat hal yang sama.

Secara bersamaan, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa penulisan dan penyebaran aHadith menjadi praktek umum yang diterima – hanya setelah pertimbangan yang hati-hati bahwa ‘Umar menolak gagasan menempatkan Hadith dalam tulisan, dan kemudian mengambil langkah drastis menyerukan dan menghancurkan apa orang lain telah menulis Hadith. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan ‘Umar ini merepresentasikan sebuah pergeseran radikal dari norma yang berlaku. Dalam kasus ini, ‘Umar, sesuai dengan citranya sebagai pembela Kitab Allah, bertindak dalam menanggapi sesuatu yang menyaingi status dan kewenangan dari Kitab Allah.

Jika cerita ini benar-benar mewakili sikap ‘Umar terhadap penulisan dan penyebaran hadith Nabi, dapat dikatakan bahwa hal itu mewakili pendapat pribadi dan tidak didasarkan pada perintah dari Nabi.21 Namun demikian, ada dua masalah dengan argumen ini. Pertama, mengandaikan penerimaan atas perintah Nabi, di luar al-Qur’an, mengikat, sementara gagasan itu masih merupakan masalah yang diperdebatkan ketika ‘Abd al-Razzaq dan Ibn Sa’d sedang menulis. Kedua, dan ini lebih penting, bahkan jika hal itu hanyalah pendapat Umar secara pribadi, itu masih merupakan dasar dari keberatan terhadap penyebaran dan penulisan Hadith. Menurut cerita ini, ‘Umar sangat menentang baik penulisan maupun penyebaran Hadith – bukan karena ia tidak menyetujui penulisan atau berbagi informasi, tetapi karena ia khawatir bahwa ahadith akan memperoleh status sama atau bahkan lebih tinggi dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan jika cerita ini tidak benar-benar mewakili sikap, perintah dan tindakan ‘Umar, cerita itu mewakilinya sebagai pola dasar pembela Kitab Allah pada suatu zaman ketika beberapa orang melihat hadith Nabi sebagai pesaing status dan otoritas Kitab Allah.

‘Umar di Hadith

The Tabaqat bukanlah satu-satunya sumber abad ketiga yang menggambarkan ‘Umar sebagai keberatan dengan cerita-cerita yang merupakan  ekstra-Qur’an. Beberapa koleksi Hadith, baik , yang kanonik maupun nonkanonik, melaporkan perhatian ‘Umar tentang cerita-cerita extra Qur’anic dari Nabi. Koleksi Hadith yang akhirnya menjadi dikanonisasi bukanlah koleksi Hadith awal yang telah sampai kepada kita. Karya lebih awal yang penting adalah Musannaf dari ‘Abd al-Razzaq al-San’ani (w. 211/827).22 ‘Abd al-Razzaq melaporan baik keputusan ‘Umar untuk tidak melakukan penulisan Sunnah karena takut hal itu akan menyebabkan sebuah buku yang kepadanya orang-orang berpaling dan meninggalkan Kitab Allah23, dan juga cerita dimana ‘Umar memberikan perintah ini kepada orang-orang yang ia kirim untuk memerintah.24 Rincian dari kisah yang pertama hampir identik dengan minor tetapi ada penambahan penting. Namun demikian, rincian kisah yang terakhir berbeda lebih dramatis antara versi yang dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq dan versi yang dilaporkan sekitar dua dekade kemudian oleh Ibn Sa’d. Cerita tentang ‘Umar meninggalkan gagasan untuk melakukan penulisan Sunnah direkam oleh ‘Abd al-Razzaq dengan menambahkan pernyataan bahwa ‘Umar berkonsultasi dengan para sahabat Nabi tentang masalah ini dan bahwa mereka mendorong dia untuk melakukan hal itu. Versi ‘Abd al-Razzaq juga berakhir dengan pernyataan dramatis yang dikaitkan kepada ‘Umar. Setelah mengingatkan orang-orang sebelumnya yang menulis sebuah buku yang mereka membaktikan diri mereka dan untuk itu mereka “meninggalkan Kitab Allah,” ‘Umar dilaporkan sebagai mengatakan, “wa-inni  wallahi la ulabbis Kitab Allah bi-shayy’in abadan” (Demi Allah! Aku tidak akan pernah mengenakan pakaian kepada al-Qur’an dengan apa pun). 25
Melihat kembali dalam Lisan al-‘Arab yang dikemukakan sebelumnya dalam diskusi tentang cerita terkiat dalam Tabaqat, Ibnu Mannur menetapkan bahwa jarridu al-Qur’an bermakna tidak mengenkan pakaian kepadanya dengan apa pun (la tulabbisu bihi shayyan).26 Tambahan ini menunjukkan bahwa Hadith tidak hanya akan menyebabkan orang untuk meninggalkan Al-Qur’an, tetapi mereka mungkin juga entah bagaimana  menyembunyikan al-Quran dari mereka.

Rincian cerita yang berbeda -bahkan lebih, dalam cerita-cerita yang ‘Umar dikutip sebagai memerintahkan gubernur untuk “telanjangi al-Qur’an.” Dalam rangka untuk mengungkapkan perbedaan tersebut, marilah kita bandingkan kedua cerita itu secara keseluruhan:

Pertama, versi Ibn Sa’d:

Kami menuju Kufah dan ‘Umar menemani kami sejauh Sirar. Lalu ia mengambil air wudu, mencuci dua kali, dan berkata: “Kamu tahu mengapa aku telah menemani kamu? ” Kami berkata: “Ya, kita sahabat Rosul Allah (damai dan rahmat atas dia)”. Lalu, ia berkata: “Kamu akan datang kepada orang-orang yang bagi mereka dengungan Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadiths, dan sehingga mengikat mereka. Telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan  riwayat dari Rosul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan aku adalah sekutu kamu.”27

Sekarang, cerita sebagaimana yang  dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq:

Ketika Umar bin al-Khattab mengirim gubernurpropinsinya, ia menetapkan: “Jangan mengendarai kuda pekerja; jangan makan sumsum; jangan memakai pakaian halus; jangan memaku pintu kamu terhadap kebutuhan orang-orang; dan jika kamu melakukan hal ini, hukuman tanpa diragukan lagi akan menimpa kamu.” Kemudian dia menemani mereka, dan ketika ia bermaksud untuk kembali, dia berkata: “Saya tidak memberi kamu otoritas atas darah Muslimin, atau di atas reputasi mereka, atau lebih dari kepemilikan mereka; tetapi saya telah mengirim kamu untuk menegakkan Salat dengan mereka, dan untuk membagi rampasan perang mereka dan hakimi di antara mereka dengan adil. Kemudian, jika sesuatu tidak jelas bagi mereka, rujuk mereka kepada saya. Sungguh, jangan mengalahkan Arab, sehingga mempermalukan mereka, dan jangan menahan mereka [tentara di baris depan] sehingga menyebabkan mereka berselisih, dan jangan meninggikan diri kamu di atas mereka sehingga mengusir mereka; telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan akau sekutu kamu.” 28

Cerita sebelumnya yang dikaitkan dengan ‘Abd al-Razzaq agak lebih panjang dari pada cerita yang belakangan, yang berisi berbagai macam perintah. Ini adalah daftar perintah dan larangan termasuk perintah untuk “telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasulullah.” Namun, cerita yang belakangan yang direkam oleh Ibn Sa’d tidak berisi salah satu perintah-perintah lain yang ditemukan pada versi awal. Sebaliknya,  berfokus pada urutan tertentu ini dan termasuk rincian penalaran, dalam kata-kata yang puitis, pada bagian ucapan ‘Umar ini: “kamu akan datang kepada orang-orang sebuah kota yang kepada mereka dengungan dari Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadith. . .”  Perbandingan pembacaan Al-Qur’an dengan dengungan lebah menunjukkan bahwa orang-orang terus-menerus sibuk dengan Al-Qur’an. Hadith digambarkan sebagai sesuatu yang dapat mengambil perhatian mereka jauh dari Al-Qur’an. Gagasan bahwa Hadith akan mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an adalah inti dari argumen menentang Hadith yang akan kita lihat nanti di Taqyid al-’Ilm oleh Al-Khatib al-Baghdadi, dan dalam argumen modern.

Meningkatnya detil dan perluasan yang dibuktikan dalam cerita yang melaporkan tentang ‘Umar dari Musannaf ‘Abd al-Razzaq dan Tabaqat Ibn Sa’d pada awal dan pertengahan ketiga abad Hijriah, ke Taqyid al-’Ilm al-Baghdadi pada pertengahan abad ke-lima Hijriah menunjukkan bahwa karena Hadith memperoleh kewenangan dan perhatian yang lebih besar, maka mereka yang menentang otoritas itu mengembangkan dan menyempurnakan argumen mereka sendiri.

‘Umar juga tokoh yangg menonjol dalam cerita yang ditemukan di koleksi dari Hadith kanonik. Cerita itu berhubungan dengan insiden yang terjadi selama Nabi  Mumammad sakit yang terakhir. Beberapa versi dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim, serta di Musnad dari Ahmad. Dalam setiap versi rincian inti ceritanya adalah sama: selama Mumammad sakit yang terakhir, ia meminta bahan untuk menulis  agar ia dapat menulis sesuatu untuk orang-orang untuk memastikan bahwa mereka tidak akan tersesat. Melihat demam yang telah menguasai Nabi, ‘Umar dikutip mengatakan: “Mereka memiliki Al-Qur’an, dan Kitab Allah adalah cukup bagi kami.”29 Cerita-cerita ini memperkuat gagasan bahwa Al Qur’an adalah cukup untuk menjaga orang-orang dari tersesat. Selanjutnya, mereka bergerak kepada ‘Umar melaporkan penentangannya kepada sumber tertulis selain Al-Qur’an-meski dari tangan Nabi sendiri-kembali ke masa Nabi. Menghubungkan keinginan Nabi untuk menulis sesuatu (mungkin selain dari Al-Qur’an) yang akan menjaga orang tidak tersesat kepada keadaan beliau yang sedang dikuasai oleh demam menyiratkan bahwa jika ia telah mengendalikan kemampuannya, dia tidak ingin melakukan hal ini. Seperti cerita-cerita yang dilaporkan oleh Ibnu Sa’d, bisa dikatakan bahwa cerita ini mewakili opini ‘Umar secara pribadi, terutama karena mereka juga menyatakan bahwa ada ketidaksepakatan yang kuat di antara para sahabat yang hadir pada saat itu.30 Namun, di sini juga, bahkan jika ini dipahami sebagai pendapat ‘Umar secara pribadi, perhatian utama yang dikaitkan dengan dia adalah jelas. Ia merasa begitu kuat bahwa al-Qur’an adalah cukup sebagai sumber otoritatif petunjuk dimana ia menolak permintaan Nabi untuk bahan menulis, sambil mengingatkan Nabi bahwa orang-orang telah memiliki Alquran dan bahwa itu adalah cukup.

Sambil menggali cerita respon ‘Umar atas permintaan Nabi, Kern mengatakan:

Dengan deklarasi Umar bahwa Kitab Allah “cukup,” namun, tidak hanya pentingnya Muhammad untuk menafsirkan wahyu berkurang, tetapi gagasan superioritas dia dalam permasalah agama juga dikesampingkan pada saat itu, menurut interpretasi Umar, Kitab Allah sendiri akan sepenuhnya memadai . . . Deklarasi ‘Umar bahwa Kitab Allah sudah cukup mengubah konsepsi apa wahyu itu, namun demikia, hanya sejauh mengubah konsepsi peran Nabi.31

Perubahan yang Kern merujuk adalah pergeseran dari “yang sedang berlangsung, tak terduga,
situasi khusus wahyu” kepada “sebuah totalitas wahyu yang sempurna dan kekal, atau lebih tepatnya, Wahyu.”32 Sekali lagi, Penilaian Kern ini membantu menjelaskan mengapa ‘Umar adalah sosok ideal untuk menemukan di pusat perbedaan pendapat tentang kewenangan Hadith. Sifat alami dari wahyu dan peran Nabi ada pada jantung dari perbedaan tersebut.

Pelarangan yang dilaporkan dari Nabi

Tidak hanya ‘Umar yang dipercayai melarang penulisan bahan ekstra-Qur’an dari Nabi. Selain kisah-kisah keberatan Umar, koleksi Hadith kanonik juga melaporkan perintah langsung dari Nabi yang melarang para pengikutnya dari menulis apapun pada kewenangannya selain Al-Qur’an dan memerintahkan mereka yang telah melakukannya untuk menghapus apa yang telah mereka tulis. Laporan ini diriwayatkan sebanyak tujuh kali dalam tiga koleksi, dengan variasi minor dalam konten tekstualnya, dengan beberapa rantai perawi yang berbeda pada otoritas Abu Sa’id al-Khudri.33 Menurut Azmi, hanya satu rantai perawi yang dianggap sehat (sahih) menurut standar klasik Muslim dalam kritik Hadith.34 Dengan pengecualian pada laporan di sahih Muslim, berbagai versi adalah terpisah secara identik dari perbedaan kata-kata Arab yang bermakna “kecuali.” Karena para pendukung Hadith yang menulis karya-karya klasik yang sampai kepada kita, maka sulit untuk memastikan betapa pentingnya pelarangan yang dilaporkan dari Nabi adalah merupakan argumen dari lawan-lawan mereka. Namun demikian, kontroversi yang dipicu oleh laporan ini telah ditangani dari abad ketiga / kesembilan hingga hari ini di dalam karya-karya dari berbagai ulama. Keberadaan laporan yang sama-sama sahih di mana Nabi mengizinkan menulis adalah dasar dari salah satu tanggapan yang paling sering dikemukakan oleh para pendukung Hadith- dimana larangan penulisan Hadith itu kemudian dibatalkan oleh pernyataan yang mengizinkan untuk melakukannya.35
Bersama-sama dengan laporan yang berkaitan dengan oposisi ‘Umar terhadap penyebaran dan pencatatan Hadith, laporan-laporan dari Nabi ini telah memicu baik diskusi pada zaman klasik maupun modern atas legitimasi Hadis sebagai sumber otoritatif petunjuk agama bagi umat Islam.

REFERENSI KAJIAN:

  1. ‘Abd Allah ibn Mumammad al-Nashi’, Kitab Usul al-Nimal in Frühe Mu’tazilitische Häresiographie: Zwei Werke des Na,i’al-Akbar (Beirut, 1971), 69.
  2. Abu al-Musayn Mumammad ibn Ammad al-Mala’i, Kitab al-Tanbih wal-Radd ‘ala Ahl al-Ahwa’ wal-Bida’ (Istanbul: Matba’at al-Dawla, 1936), 42.
  3. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Al-Risala. Edited by Ammad M. Shakir (Cairo, 1940), 89.
  4. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Kitab Jima’al-’Ilm in Kitab al-Umm, vol. 7. Edited by Mammud Matraji (Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyya, 1996), 460–483.
  5. Al-Shafi’i, al-Risala, 93.
  6. Ibn Qutayba, Ta’wil Mukhtalif al-Hadith (Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi, n.d.).
  7. EI2, vol. 4 (Leiden: Brill, 1978), 468b–471a.
  8. Michael Cook, “Anan and Islam: Origins of Karaite Scripturalism,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 9 (1987), note 33, 167.
  9. Al-Shafi’i, Jima’al-’Ilm, 460.
  10. Ibid., 467.
  11. ibid.
  12. The Shi’as have a more negative view of ‘Umar and other close companions of Mumammad.
  13. Linda Lee Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab in al-Bukhari’s Kitab al-Jami’ al-Sahih (PhD diss., Harvard University, 1996), 19.
  14. Ibid., 93.
  15. Ihsan ‘Abbas, introduction to al-Tabaqat al-Kubra, vol. 1, by Ibn Sa’d (Beirut: Dar Beirut lil-Tiba’a wal-Nashr, 1960), 5–18.
  16. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. III, pt. I. Edited by Eduard Sachau (Leiden: E.J. Brill, 1904), 206.
  17. Ibid., vol. V, 140.
  18. “Mishna,” http://www.encyclopedia.com/articles/08554.html.
  19. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  20. Ibn Mannur, Lisan al-’Arab, vol. 1 (Beirut: Dar Lisan al-’Arab, 1988), 433.
  21. In fact, al-Azmi makes both of these arguments against a similar story recorded by al-Khatib al-Baghdadi more than two centuries after ‘Abd al-Razzaq and Ibn Sa’d.
  22. Harald Motzki, “The Musannaf of ‘Abd al-Razzaq al-Sana’i as a Source of Authentic AHadith of the First Century A.H,” JNES 50 (1991), 1–22.
  23. ‘Abd al-Razzaq ibn Hammam al-Himyari, Kitab al-Musannaf, vol. 11 min manshurat al-Majlis al-’Ilmi; 39. al-Taba’a 2 ( Beirut: al-Maktab al-Islami, 1983), 257.
  24. Ibid., 325.
  25. Ibid., 257–258.
  26. Manzur, Lisan, vol. 1, 433.
  27. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  28. ‘Abd al-Razzaq, Kitab al-Musannaf, vol. 11, 325.
  29. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0. al-Bukhari 4079, 5237; Muslim 3091; Ammad 2835, 2945.
  30. Ibid.
  31. Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab,” 61.
  32. Ibid.
  33. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0, Muslim 5326; Ammad 10663, 10665, 10731, 10916, 11110; al-Darimi 451.
  34. Mohammad Mustafa Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Beirut: al-Maktab al-Islami), 22.
  35. For a detailed synopsis of classical Muslim explanations of these Hadith, see Azmi, 23–24.

Note:

Artikel di atas dikutip dan diterjemahkan secara bebas dari ebook: Hadith As Scripture – Discussions  on the Authority of Prophetic Traditions in Islam by Aisha Y. Musa

http://meine-islam-reform.de/index.php/component/attachments/download/119.html

Hadits Ghadir Khum (perspektif Suni)

PENDAHULUAN

Tidak mungkin untuk membahas hadis Ghadir Khum tanpa memahami pertama kali konteks tertentu di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang dia katakan. Ini adalah pedoman umum yang berkaitan dengan kanon Islam secara keseluruhan: penting untuk mengetahui latar belakang di mana suatu ayat Alquran diturunkan atau suatu hadis tertentu dikatakan.

Misalnya, ayat Quran “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” sering digunakan oleh orientalis untuk menyalahgunakan dan menjadikannya tampak seolah-olah Islam menganjurkan pembunuhan orang di mana saja dan kapan saja anda menjumpai mereka. Tentu saja, jika kita melihat ketika ayat ini diturunkan, kita menemukan bahwa ayat itu adalah khusus diwahyukan pada pertempuran antara Muslim dan Mushriks Quraisy, hal ini membuat kita menyadari bahwa hal itu bukanlah hukum umum untuk membunuh orang tetapi ayat tersebut diwahyukan pada situasi tertentu.

Demikian juga, Hadis Ghadir Khum hanya dapat dipahami dalam konteks pada peristiwa apa ia diucapkan:

Sekelompok tentara sangat keras mengkritik Ali bin Abi Thalib (رضى الله عنه) pada masalah tertentu, dan berita ini sampai kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), yang kemudian Beliau berkata apa yang Beliau katakan dalam hadis Ghadir Khum. Seperti orientalis, para propagandis Syiah berupaya untuk menghapus latar belakang konteks di mana Hadis tersebut dikatakan untuk memberikan gambaran yang sama sekali berbeda (dan menyesatkan).

Tujuannya Nabi mengatakan kembali apa yang dikatakan di Ghadir Khum sama sekali tidak untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah tetapi itu hanyalah untuk membela Ali (رضى الله عنه) terhadap fitnah yang dikatakan terhadap dia. Hanya dengan membuang konteks latar belakang suatu hadits adalah mungkin untuk menciptakan pemahaman Syiah terhadap teks tersebut sesuai keinginan mereka. Untuk alasan inilah kita harus selalu mengingatkan saudara kita Syiah konteks latar belakang di mana Hadis Ghadir Khum dikatakan.

PENTINGNYA GHADIR KHUM UNTUK SYIAH

Syiah mengklaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menetapkan Ali (رضى الله عنه) secara ilahiah untuk menjadi penggantinya di suatu tempat yang disebut Ghadir Khum. Sebelum kita membahas peristiwa Ghadir Khum dengan saudara-saudara kita Syiah, pertama-tama kita harus mendefinisikan parameter debat. Dengan kata lain, kita harus “mengatur taruhannya”:

(1) Jika Syiah dapat membuktikan versi mereka tentang Ghadir Khum, maka pasti Ali (رضى الله عنه) telah ditunjuk oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) secara ilaiyah dan akidah Syiah adalah benar.

(2) Jika, kaum Sunni menyangkal gagasan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum, maka saudara kita Syiah harus bersedia menerima kenyataan bahwa Ali (رضى الله عنه ) tidak pernah ditunjuk sama sekali oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu seluruh keyakinan Syiah tidak valid.

Alasan kita membuat “taruhan” ini sangat jelas bahwa sejak awal propagandis Syiah memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan “tiang gawang” setiap kali mereka kalah debat. Mereka akan melompat dari satu topik ke yang lain, jika mereka kehilangan perdebatan Ghadir Khum, maka mereka akan membawa pada Insiden Pintu Rumah Fatimah, atau Saqifah, atau Fadak, atau siapa tahu apa lagi.

Seluruh pondasi Syi’ah bertumpu pada peristiwa Ghadir Khum ini, karena di sini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), dianggap mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya. Jika kejadian ini tidak sebagaimana klaim Syiah, maka Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak pernah mengangkat Ali (رضى الله عنه) dan Syiah harus meninggalkan semua klaim mereka, seperti ide bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) merebut kekhalifahan yang ditunjuk oleh Allah untuk Ali (رضى الله عنه).

Memang, peristiwa Ghadir Khum sangat penting bagi paradigma Syiah -dan begitu pentingnya bagi teologi Syiah-maka massa Syiah memiliki perayaan tahunan yang dikenal sebagai “Eid Al-Ghadir”.

 Amaana.org says

Eid-e Gadhir is celebrated with great rejoicing by Shia Muslims where they remember Prophet Muhammad’s last instructions to the believers. Eid-e-Ghadir is one of the most important days of rejoicing for Shia Muslims around the world as that was the day our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) declared Hazrat Ali’s vicegerency at Ghadir e Khumm on his return from his last pilgrimage…

source: http://www.amaana.org/gadhir/gadhir1.htm

Berdasarkan apa yang seharusnya terjadi di Ghadir Khum, Syiah menolak kekhalifahan Abu Bakar (رضى الله عنه), berpisah dari Muslim mainstream, dan menyatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah yang pertama dari imam yang ditetapkan secara ilahiah. Situs Syiah, Al-Islam.org, merujuk pada Ghadir Khum sebagai “peristiwa penting” dan pondasi bagi Imamah Ali (رضى الله عنه).

Alasan perlunya sangat menekankan pentingnya Ghadir Khum bagi Syiah adalah bahwa kita akan menunjukkan bagaimana ‘senjata’ yang diduga kuat di gudang propaganda Syiah tersebut sebenarnya sangat lemah. Jika hal ini adalah sangat mendasar bagi Syi’ah, maka sesungguhnya doktrin Syi’ah adalah sangat lemah. Syiah mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum tapi logika sederhana menentukan sebaliknya.

BAGAIMANA TERJADINYA KLAIM SYIAH TERSEBUT?

 Al-Islam.org says

“After completing his last pilgrimage (Hajjatul-Wada’), Prophet [s] was leaving Makkah toward Madinah, where he and the crowd of people reached a place called Ghadir Khumm (which is close to today’s al-Juhfah). It was a place where people from different provinces used to greet each other before taking different routes for their homes.

In this place, the following verse of the Qur’an was revealed:

“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Qur’an 5:67)

The last sentence in the above verse indicates that the Prophet [s] was mindful of the reaction of his people in delivering that message but Allah informs him not to worry, for He will protect His Messenger from people.

Then followed the key sentence denoting the clear designation of ‘Ali as the leader of the Muslim ummah. The Prophet [s] held up the hand of ‘Ali and said:

“For whoever I am his Leader (mawla), ‘Ali is his Leader (mawla).”

Immediately after the Prophet [s] finished his speech, the following verse of the Qur’an was revealed:

“Today I have perfected your religion and completed my favour upon you, and I was satisfied that Islam be your religion.” (Qur’an 5:3)

The above verse clearly indicates that Islam without clearing up matter of leadership after Prophet [s] was not complete, and completion of religion was due to announcement of the Prophet’s immediate successor.

source: http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm

MENGAPA TIDAK MASUK AKAL?

Syiah mengklaim bahwa ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyelesaikan haji terakhir, mengatakan Kotbah Perpisahannya di puncak Gunung Arafah di Mekkah, dan kemudian setelah itu menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum.

Mari kita analisa klaim ini: Ghadir Khum terletak antara Mekah dan Madinah, di dekat kota Al-Juhfah, seperti yang disebutkan oleh situs Al-Islam.org. Ini adalah lubang air di tengah padang pasir. Pukulan telak kepada argumen Syiah adalah bahwa pada kenyataannya Ghadir Khum itu terletak sekitar 250 km dari Mekah. Fakta sederhana ini cukup untuk menghancurkan seluruh premis Syi’ah.

Seperti kita semua tahu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyampaikan Khotbah Perpisahannya di Mekah pada haji terakhir. Ini terjadi di depan sebagian besar kaum muslimin, yang datang dari berbagai kota untuk melakukan haji. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, maka sama sekali tidak ada penjelasan yg rasional mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak melakukan hal ini selama Khotbah Perpisahan kepada semua kaum muslimin. Seluruh umat yang berkumpul di sana untuk mendengar kata-kata perpisahan, sehingga pasti merupakan saat dan kesempatan yang paling tepat untuk menunjuk penggantinya.

Nabi (صلى عليه الله وآله وسلم) dan Muslim menyelesaikan haji mereka dan setelah itu semua orang kembali ke kota masing-masing. Penduduk Madinah kembali ke Madinah, masyarakat Taif kembali ke Taif, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, masyarakat Suriah kembali ke Suriah, dan orang-orang Mekkah tetap tinggal di Mekah.

Hanya kelompok orang-orang yang hidup di kota-kota di sebelah Utara Semenanjung Arab yang melalui Ghadir Khum. Dan ini hanya akan terdiri dari orang-orang yang menuju Madinah dan minoritas Muslim yang tinggal di tempat seperti Suriah. Oleh karena itu, ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berhenti di Ghadir Khum dan ketika insiden yang dianggap terjadi, justru sejumlah besar kaum muslim tidak hadir, yaitu mereka yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll. Setelah Haji, orang Mekah tetap tinggal di Mekah, orang-orang Taif kembali ke Taif, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, dll. Hanya sekelompok orang yang pergi ke Madinah (atau lewat melalui / dekat) yang menyertai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menuju Ghadir Khum.

Oleh karena itu, bertentangan dengan klaim Syiah, justru Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak menunjuk Ali (رضى الله عنه) di depan seluruh kaum muslimin, melainkan yang terjadi di Ghadir Khum hanya di depan sebagian Muslim yang sedang pulang menuju ke Madinah (atau lewat melalui / dekat). Mari kita lihat apa yang diklaim oleh situs Syiah:

 The Thaqalayn Muslim Association says

“On the 18th of Dhul-Hajjah, after completing his “farewell pilgrimage” (Hajjatul- Wida’a), the Messenger of Allah (peace be upon him and his progeny) had departed Makkah en route to Madinah. He and the entire Muslim caravan, numbering over 100,000, were stopped at Ghadeer Khumm, a deserted-yet-strategically situated area that lies between Makkah and Madinah (near today’s Juhfah). In those days, Ghadeer Khumm served as a point of departure, where the various Muslims who had come to perform the pilgrimage from neighbouring lands would disperse and embark upon their own routes back home.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Situs Syiah mengklaim bahwa “Ghadeer Khum merupakan tempat kedatangan, di mana berbagai Muslim yang datang untuk melakukan haji dari daerah di sekitarnya akan menyebar dan memulai rute mereka sendiri untuk pulang.” Apa yang terlihat pada peta akan menunjukkan bagaimana hal tersebut benar-benar tidak masuk akal. Peta berikut datang dari Al-Islam.org:

Dari peta di atas adalah jelas bahwa orang-orang yang melewati Ghadir Kum adalah hanya mereka yang menuju ke Madinah atau kota-kota di sebelah utara Ghadir Kum. Oleh karena itu, merupakan hal yang sangat tidak bijaksana bagi Nabi menyampaikan pidato penting tentang penggantinya di tempat itu, karena tidak seluruh muslim hadir di tempat itu. Akan lebih tepat jika pidato penting tersebut disampaikan di Mekah tempat di mana seluruh muslim berkumpul.

Ilustrasi detilnya adalah sebagai berikut:

Ketika umat Islam akan beribadah haji, mari kita asumsikan bahwa ini adalah rute normal yang mereka ambil:

arabia1

https://www.sjiieten-ontmaskerd.nl/AhlelBayt.com/www.ahlelbayt.com/wp/wp-content/uploads/2007/03/arabia1.bmp

Sekarang kaum Muslim dari seluruh penjuru kota telah berkumpul di Mekah, bukankah ini merupakan waktu yang paling tepat untuk menyatakan siapa pengganti Nabi?

Namun para propagandis Syiah ingin agar kita percaya bahwa Muslim yang akan pulang ke Taif dan Yaman setelah haji akan melakukan perjalanan tambahan sekitar 500 km, perjalanan bolak-balik dari Mekah ke Ghadir Khum dan kemudian baru melakukan perjalanan dari Makah ke arah kota asalnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syiah sendiri, Ghadir Khum adalah sebuah lubang air dan tempat beristirahat bagi mereka yang bepergian … sesuatu hal yang mereka gagal untuk menyebutkan bahwa Ghadir Kum adalah tempat istirahat sepulang haji yang hanya cocok bagi mereka melewatinya, yaitu mereka yang pulang dari Mekah ke arah utara bukan bagi mereka yang pulang dari Mekah ke arah selatan!

Syiah ingin kita percaya bahwa perjalanan kembalinya Muslim setelah haji akan terlihat seperti ini:

arabiaWrong

Rute seperti di atas tentu saja tidak wajar dan aneh bahkan sulit diterima akal sehat. Semestinya setelah haji, semua orang kembali ke kota-kota atau rumah mereka masing-masing dan orang Mekah akan tetap tinggal di sana. Mengapa mereka setelah haji harus melalui rute melewati Ghodir Kum, mengingat fakta bahwa Muslim pada waktu itu kebanyakan berjalan kaki di gurun pasir yang berat. Perjalanan ekstra menuju Ghadir Khum sekitar 250 km dan kembali lagi akan menambahkan waktu beberapa minggu perjalanan. Apakah hal ini tidak aneh dan merendahkan akal sehat?

Semestinya, gambaran rute perjalanan pulang kaum muslimin setelah haji pada waktu itu adalah sebagai berikut:

arabiaReturn

Oleh karena itu, kesimpulan kami adalah bahwa klaim Syiah bahwa Nabi menunjuk Ali di depan seluruh Muslim sangatlah tidak mungkin karena pada kenyataannya Nabi sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut pada Khotbah Perpisahannya di Arafah. Adapun peristiwa Ghadir Khum, kita telah melihat bagaimana mungkin tempat ini akan menjadi tempat yang tepat yang digunakan Nabi untuk menunjuk Ali sebagai khalifah berikutnya, karena hal sepenting itu semestinya disampaikan oleh Nabi kepada seluruh muslimin sewaktu mereka masih berkumpul pada saat haji, bukan hanya kepada sebagian muslimin yang sedang melakukan perjalanan pulang ke arah sebelah utara kota Mekah.

APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI GHADIR KHUM ?

Tidak ada yang menyangkal adanya peristiwa Ghadir Khum, namun, apa yang kami sangkal adalah berlebihan-lebihannya Syiah berkaitan dengan cara yang mereka lakukan dalam mengungkapkan peristiwa tersebut.

Pertama, Syiah melebih-lebihkan tentang berapa banyak sebenarnya orang yang hadir di Ghadir Khum, mereka sering memberikan gambaran bahwa jumlahnya ratusan ribu. Seperti yang telah kami ilustrasikan di atas, bahwa hanya kaum Muslimin yang menuju ke Madinah saja yang hadir di Ghadir Khum, ini berarti bahwa orang-orang Mekah tidak hadir, demikian juga orang-orang  Taif, Yaman, dll. Bahkan Syiah sering menyatakan bahwa 100.000 orang hadir di Ghadir Khum, suatu angka yang lebih tepat tentang jumlah orang yang hadir di Mekah untuk melaksanakan haji dari seluruh kota, bukan jumlah orang-orang yang kembali ke Madinah (yang hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut). Berapapun jumlahnya, yang jelas hanya sebagian dari Muslim yang tidak termasuk Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll

Selain dari itu, konteks Ghadir Khum harus juga dipertimbangkan.

Apa yang terjadi di Ghadir Khum adalah bahwa Nabi menanggapi individu tertentu yang mengkritik Ali bin Abi Thalib. Latar belakang di balik peristiwa ini adalah bahwa beberapa bulan sebelumnya, Nabi telah mengirim Ali bersama 300 orang pasukan ke Yaman dalam sebuah ekspedisi. Hal ini disebutkan di website Syiah, www.najaf.org: “Ali diangkat sebagai pemimpin ekspedisi ke Yaman.”

(http://www.najaf.org/english/book/20/4.htm)

Tentara yang dipimpin oleh Ali sangat sukses di Yaman dan mereka mendapatkan banyak jarahan perang. Perihal jarahan perang inilah terjadi perselisihan antara Ali di satu sisi dan tentaranya di sisi lain. Hal ini diceritakan dalam buku Ibn Kathir “Al-Bidayah Wan-Nihayah”:

Di antara seperlima dari harta rampasan tersebut terdapat cukup pakaian linen untuk seluruh tentara, tetapi Ali telah memutuskan bahwa hal itu harus diserahkan kepada Nabi dan tidak disentuh.

Setelah kemenangan di Yaman, Ali menempatkan wakil komandannya yang bertanggung jawab atas pasukan yang ditempatkan di Yaman, sementara ia sendiri menuju ke Mekah untuk  menemui Nabi  untuk berhaji. Kami membaca:

Dalam kondisi tidak ada dia (Ali), bagaimanapun, orang yang ia tinggalkan sebagai petugas telah dibujuk untuk meminjamkan kepada setiap orang suatu perubahan baru pakaian selain dari linen tersebut. Perubahan tersebut sangat diperlukan karena mereka telah jauh dari rumah selama hampir tiga bulan.

Pasukan yang ditempatkan di Yaman kemudian berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan Nabi:

Ketika mereka (para prajurit yang dikirim ke Yaman) belum jauh dari memasuki kota (Mekah), Ali berkuda keluar untuk menemui mereka dan heran melihat perubahan yang telah terjadi (dalam hal pakaian mereka).

“Aku memberi mereka pakaian,” kata wakil komandan, “bahwa penampilan mereka mungkin akan lebih pantas ketika mereka berada di kalangan masyarakat.” Orang-orang semua tahu bahwa setiap orang di Mekah sekarang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghormati hari raya tersebut, dan mereka ingin terlihat yang terbaik. Tetapi Ali merasa ia tidak setuju kebebasan seperti itu dan ia memerintahkan mereka untuk mengenakan lagi pakaian lama mereka dan mengembalikan yang baru ke harta rampasan. Kebencian yang sangat dirasakan oleh seluruh tentara terhadap masalah ini, dan ketika Nabi mendengar hal itu, ia (Nabi) berkata: “Wahai manusia, jangan menyalahkan Ali, karena dia terlalu berhati-hati di jalan Allah untuk disalahkan.” Tetapi kata-kata ini belum cukup, atau mungkin hanya didengar oleh beberapa orang, dan kebencian masih berlanjut.

Dalam perjalanan pulang menuju Medina salah seorang pasukan mengeluhkan Ali kepada Nabi, yang membuat wajah Beliau berubah: “Bukankah aku tidak lebih dekat kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” katanya, dan ketika orang itu mengiyakan, ia menambahkan: “Barangsiapa yang menjadikan saya sahabat tercintanya, maka Ali adalah (juga) sahabat tercintanya.” Kemudian dalam perjalanan tersebut, ketika mereka berhenti di Ghadir Khum, Ia (Nabi) mengumpulkan semua orang, dan mengambil tangan Ali sambil mengulangi kata-kata tersebut [yaitu siapapun yang mencintai saya, maka Ali ini adalah (juga) sahabat tercintanya]”, yang ia menambahkan doa: “Ya Allah, jadikanlah teman orang yang menjadikan dia temannya, dan musuhilah orang yang memusuhinya”, dan pengerutuan terhadap Ali tersebut menjadi tidak terdengar.

Para prajurit di bawah komando Ali tidak hanya terganggu perihal perubahan pakaian tersebut tetapi juga atas pembagian harta rampasan perang pada umumnya. Kaum muslimin, berkat kepemimpinan besar Ali, telah mendapatkan banyak unta, tetapi Ali melarang mereka dari mengambil kepemilikan unta tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said bahwa Ali mencegah mereka dari mengendarai unta-unta dari harta rampasan perang yang telah mereka peroleh. Tetapi ketika Ali telah pergi ke Mekah, wakil komandannya menyerah pada permintaan pasukannya dan memungkinkan mereka menaiki unta tersebut. Ketika Ali melihat hal itu, ia menjadi marah dan ia menyalahkan wakil komandannya. Abu Sa’id berkata: “Ketika kami berada di perjalanan pulang ke Madinah, kami menyebutkan kepada Nabi sifat keras yang tidak mengenakkan yang kami lihat dari Ali , Nabi berkata: “Hentikan… demi Allah, aku telah mengetahui bahwa dia (Ali) telah melakukan hal baik karena Allah.”

Kejadian serupa ini telah dijelaskan dalam Sirah RasulAllah Ibnu Ishaq, kami membaca:

Ketika Ali datang (kembali) dari Yaman untuk memenuhi Rasul di Mekah, ia bergegas kepadanya dan meninggalkan orang yang bertanggung jawab atas pasukannya kepada salah seorang sahabatnya yang pergi dan memakaikan kepada setiap orang dalam pasukannya dengan pakaian dari linen yang dipunyai Ali. Ketika tentara mendekati, dia (Ali) pergi menemui mereka dan menemukan mereka mengenakan pakaian tersebut. Ketika ia bertanya apa gerangan yang telah terjadi, orang itu (wakilnya) mengatakan bahwa ia telah memakaikan orang-orang sehingga mereka kelihatan pantas ketika mereka berbaur dengan masyarakat. Dia (Ali) mengatakan kepada dia untuk melepas pakaian tersebut sebelum mereka menemui Rasul dan mereka melakukannya dan mengembalikan pakaian tersebut di antara harta rampasan perang. Tentara tersebut menunjukkan kebencian terhadap perlakuan yang merekaterima … ketika orang-orang mengeluhkan perihal Ali, Rasul muncul untuk mengatasi mereka dan dia (perawi) mendengar dia (Nabi) mengatakan: “Jangan salahkan Ali, karena dia terlalu teliti dalam hal-hal berkaitan dengan Allah, atau di jalan Allah, untuk disalahkan.”

(Ibnu Ishaq, Sirah Rasool-Allah, hal. 650)

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang di pasukan tersebut (yaitu kontingen yang dikirim ke Yaman) mulai mengkritik Ali karena ia mencegah mereka dari menunggang unta dan mengambil kembali pakaian baru yang telah mereka peroleh. Yaitu orang-orang yang menyertai Nabi ke Madinah melalui Ghadir Khum, dan merekalah yang sedang dibahas dalam Hadis terkenal Ghadir Khum.

Bahkan, dalam “Tarikh al-Islam”, peristiwa Ghadir Khum berada di bawah judul “Penghiburan bagi Ali”. Kami membaca:

Penghiburan bagi Ali

Selama haji, beberapa pengikut Ali yang telah bersama dia ke Yaman mengeluh kepada Nabi tentang Ali. Beberapa kesalahpahaman orang Yaman telah menimbulkan keraguan. Ditujukan kepada para sahabat di Ghadir Khum, Nabi saw bersabda memuji Ali: “Seseorang yang dia teman saya adalah teman Ali …” Mengikuti ucapan Nabi tersebut, Umar mengucapkan selamat kepada Ali berkata: “Mulai hari ini Anda adalah teman special saya”. Nabi kemudian tiba kembali di Al-Madinah dan anaknya Ibrahim meninggal dunia.

(Tarikh al-Islam, Vol.1, hal. 241)

KANDUNGAN HADITS GHADIR KHUM

Rangkuman Hadits Ghadir Khum: Para prajurit tentara Ali sangat marah kepada Ali karena menolak mereka perihal linen dan unta dari rampasan perang, dan mereka tidak senang dengan fakta bahwa Ali sendiri mendapatkan bagian khusus dari Khums (yaitu seperlima dari harta rampasan perang). Tentu saja, Ali tidak dapat disalahkan untuk hak istimewa mengambil bagian ekstra dari Khums, yang merupakan hak yang diberikan kepada keluarga Nabi menurut Al-Quran. Meskipun demikian, orang-orang telah marah, sehingga mereka mengambil tindakkan khusus membela diri ketika Ali mengambil seorang budak wanita untuk dirinya dari Khums; para prajurit tersebut secara salah menuduh Ali sebagai seorang munafik karena menolak pakaian dan unta untuk para apasukan tetapi untuk dirinya sendiri mengambil seorang budak wanita. Adalah karena kritik yang keliru kepada Ali inilah maka Nabi membela Ali dalam hadits Ghadir Khum.

ShiaChat Member says

You sick Saudi perverts can believe whatever filth you want about anyone at your own personal leisure but don’t dare bring this up here…

That accusation [that Imam Ali slept with a slave girl] is blatantly ummayyad propaganda to make our Mawla (A.S.) look bad…

Pertama-tama, Hadits Ghadir Khum sebagaimana yang tercatat dalam kitab Sahih Bukhari tidak dimaksudkan untuk menjadikan Ali terlihat jahat sama sekali. Bahkan, Nabi membela tindakan Ali. Perlu dicatat bahwa bahkan Nabi sendiri mengambil seorang budak wanita dan ini telah diriwayatkan baik dalam Hadits Sunni dan Syiah. Perbudakan adalah norma budaya pada zaman itu dan Nabi mendesak umat Islam untuk memperlakukan budak wanita mereka sebagai istri mereka. Pada kesempatan lain, Nabi akan mendorong penyetaraan budak dan menikahi mereka. Dalam setiap kasus, ada banyak artikel panjang yang mempertahankan posisi Islam tentang hal ini, dan pembaca bebas untuk mencari di internet bagi mereka.

Kedua, juga harus dicatat bahwa Buraida tidak mengkritik Ali karena dia pikir memiliki seorang budak wanita itu tidak bermoral. Sebaliknya, Buraida hanya mengkritik Ali karena mengambil bagian dari Khums sementara melarang kepada anak buahnya, bagi Buraida, merupakan hal yang tidak relevan terkait dengan apa yang Ali ambil dari Khums apakah itu berupa budakwanita, linen, atau unta.

Ketiga, fakta bahwa Ali mengambil seorang budak wanita dikisahkan dalam Hadits Syiah, lalu mengapa Syiah harus bereaksi begitu hebat ketika narasi yang sama ada dalam Hadits Sunni? Bukankah hal ini merupakan kemunafikan? Sesungguhnya, Buraida yang marah kepada Ali karena mengambil seorang budak wanita di Hadits Sunni, sama saja dengan Fatima yang marah kepada Ali karena mengambil seorang budak wanita di Hadits Syiah. Hadits Shia ini diriwayatkan oleh salah seorang tetua teologi Syiah, yaitu Ibnu Babaveh Al-Qummi, dan tersedia di YaZahra.com, sebuah situs Syiah terkemuka:

YaZahra.org says

Majlisi “Biharul anwar” 43/147

عن أبي ذر رحمة الله عليه قال : كنت أنا وجعفر بن أبي طالب مهاجرين إلى بلاد الحبشة ( 1 ) فاهديت لجعفر جارية قيمتها أربعة آلاف درهم ، فلما قدمنا المدينة أهداها لعلي عليه السلام تخدمه ، فجعلها علي في منزل فاطمة .

فدخلت فاطمة عليها السلام يوما فنظرت إلى رأس علي عليه السلام في حجر الجارية فقالت : يا أبا الحسن فعلتها ، فقال : لا والله يا بنت محمد ما فعلت شيئا فما الذي تريدين ؟ قالت تأذن لي في المصير إلى منزل أبي رسول الله صلى الله عليه واله فقال لها : قد أذنت لك .

فتجللت بجلالها ، وتبرقعت ببرقعها

[Terjemahan: Al-Qummi dan Al-Majlisi meriwayatkan berdasarkan otoritas Abu Thar: Saya berhijrah dengan Jafar bin Abi Thalib ke Abyssynia. Seorang gadis wanita senilai 4.000 dirham diberikan kepada Jafar sebagai hadiah. Ketika kami tiba di Madinah dia memberikannya kepada Ali sebagai hadiah untuk melayani dia. Ali menempatkannya di rumah Fathimah. Suatu hari Fatima masuk dan melihat kepala Ali ada di pangkuan gadis itu. Dia berkata: “Wahai Abu Al-Hasan! ?! Apakah Anda telah melakukannya “Dia berkata:”Wahai puteri Muhammad! Saya tidak melakukan apa-apa, apa itu yang kamu inginkan “Dia berkata: “Apakah kamu mengizinkan saya untuk pergi ke rumah ayahku? “Dia berkata:”Aku akan mengijinkan kamu”. Lalu, dia memakai Jilbabnya dan pergi menemui Nabi.

(sumber: Ibnu Babaveh Al-Qummi’s “Elal Al-Sharae ‘”, hal.163, juga diriwayatkan di Bihar Al-Anwar, hal. 43-44, Bab tentang “Bagaimana dia hidup dengan Ali “)]

sumber: http://www.yazahra.net/ara/html/4/behar43/a15.html

Keempat- adalah kenyataan bahwa insiden ini disebutkan dalam sumber-sumber Syiah juga. Syaikh Mufid, sarjana klasik Syiah, menulis:

(Sebelumnya) Amirul mukminin telah memilih seorang budak wanita dari antara para tawanan. Sekarang Khalid mengirim Buraida kepada Nabi. Dia berkata: “Temui (Nabi) sebelum keduluan para pasukan. Katakan padanya apa yang telah Ali lakukan dalam memilih seorang budak-wanita untuk dirinya dari Khums dan membawa dirinya dalam aib … ”

Buraida pergi kepada Nabi. Dia (Buraida) telah membawa surat dari Khalid yang dengannya ia diutus. Dia mulai membacanya. Wajah Nabi mulai berubah.

“Rasul Allah,” kata Buraida, “jika Anda mengijinkan orang (bertindak) seperti ini, maka barang rampasan mereka akan hilang.”

“Celakalah atasmu, Buraida,” kata Nabi kepadanya. “Kamu telah melakukan suatu tindakan kemunafikan. Ali bin Abi Thalib diperbolehkan untuk memiliki apa yang diperbolehkan untuk saya dari rampasan perang mereka … Buraida, saya memperingatkan kamu bahwa jika kamu membenci Ali, maka Allah akan membencimu. ”

Buraida melaporkan: “Saya ingin bumi terbelah untuk aku agar saya bisa tertelan ke dalamnya. Lalu aku berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kemarahan Allah dan kemarahan Rasul Allah. Rasul Allah, ampunilah aku. Aku tidak akan pernah membenci Ali dan aku hanya akan berbicara yang baik tentang dia. ”

Nabi memaafkan dia.

Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 111-112)

Hadits Ghadir Khum diceritakan dalam kitab Sahih Bukhari (Volume 5, Buku 59 Nomor 637):

Dikisahkan oleh Buraida:

Nabi mengirim Ali kepada Khalid untuk membawa Khumus (barang jarahan) dan aku membenci Ali, dan Ali habis mandi (setelah tindakan seksual dengan seorang budak wanita dari Khumus). Aku berkata kepada Khalid, “Tidakkah kamu melihat ini (yaitu Ali)?” Ketika kami berjumpa Nabi, aku sebutkan hal itu kepadanya. Dia (Nabi) berkata, “Wahai Buraida! Apakah kamu membenci Ali? “Aku berkata,” Ya “Dia berkata,” Apakah kamu membenci dia, karena dia pantas menerima lebih dari itu dari Khumlus.. “

Ini adalah versi Ghadir Khum sebagaimana yang dikisahkan dalam Sahihayn (yaitu Bukhari dan Muslim), dengan tidak menyebutkan semua kata “mawla.” Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagaimana yang ia katakan ‘Jika saya “mawla” seseorang maka maka Ali adalah “mawla”-nya juga’, kalimat ini tidak ada dalam buku-buku Sahih (Bukhari dan Muslim), tetapi itu adalah salah satu laporan yang diriwayatkan oleh para ulama dan tentang keasliannya orang-orang berbeda pendapat. ”

Oleh karena itu, kami melihat bahwa Syiah telah banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak ada relevansinya dengan imamah. Kandungan dan konteks Hadits Ghadir Khum jauh dari penunjukan dan pencalonan kekhalifahan. Ulama Syiah, SHM Jafri, menulis:

Sunni menjelaskan keadaan yang mengharuskan munculnya nasihat Nabi [di Ghadir Khum] bahwa beberapa orang menggerutu perihal Ali karena perlakuan kasar dan acuh tak acuh dalam distribusi dari harta rampasan dari ekspedisi Al-Yaman, yang baru saja terjadi di bawah Kepemimpinan Ali, dan dari sana ia, bersama dengan dia mereka yang berpartisipasi dalam ekspedisi tersebut, langsung pergi ke Mekah untuk bergabung dengan Nabi pada upacara haji. Untuk menghilangkan perasaan sakit terhadap sepupunya, Nabi berbicara dengan cara ini.

(Asal Usul dan Perkembangan Awal Islam Syiah, oleh SHM Jafri, hal. 21-22)

SYIAH BERUSAHA UNTUK MENAFIKAN KONTEKS TERSEBUT:

Kaum Sunni mengatakan bahwa Nabi (صلّى الله عليه وآله وسلّم) terpaksa membuat pernyataannya di Ghadir Khum adalah karena apa terjadi antara Ali (رضّى الله عنه) dan tentaranya di Yaman. Syiah menanggapinya dalam salah satu dari dua cara. Respon pertama adalah menolak sama sekali kejadian Yaman, sambil mengklaim bahwa hanyalah “propaganda Umayyah” bahwa Ali (رضّى الله عنه) pernah mengambil budak wanita seperti itu. Tentu saja, respons seperti ini langsung dapat disangkal dengan menunjukkan bahwa riwayat ini juga tersedia dalam sumber-sumber Syiah juga, termasuk buku Syaikh Mufid Kitab Al-Irshad. Oleh karena itu, propagandis Syiah harus kembali pada penjelasan lain, yang ditawarkan oleh “Taair-al-Quds” di bawah ini, yang mengakui bahwa peristiwa Yaman memang terjadi tetapi hal itu tidak ada hubungannya dengan Ghadir Khum.

Taair-al-Quds, Admin of ShiaOfAhlAlBayt says

“The Hadiths mentioning this incident [of Ali’s soldiers getting angry at him]…have nothing to do with the incident of Ghadeer Khumm.

The entire episode [of Ali’s soldiers getting angry at him] took place in Madinah in the Mosque around the Hujrah of the Prophet (s) and finished there and thus has nothing to do with the incident of Ghadir Khumm! The prophet (s) had already clarified this matter/issue which the Wahabi/ Nawaasib aim to present as the context in the incident of Ghadir, which took place at a latter time in history.

…The incident of Ghadeer took place on 18th DhilHajj while the incident of Yemen took place in Rabbi ul Aakhir (Thaani) or Jamaadi ul Ulaa according to historians. There is no compatibility or possibility of mixing both these incidents as one of them took place on return from Meccah after Hajj while the other took place in Yemen earlier on and got resolved earlier as well in Masjid e Nabavi, Medinah, before the Prophet (s) even left for Hajj! . ”

Pada kenyataanya, kedua peristiwa (apa yang terjadi di Yaman dan Ghadir Khum) terjadi pada tahun terakhir kehidupan Nabi. Menurut ulama Syiah klasik, Syekh Mufid, ekspedisi di Yaman mulai berakhir pada lima hari terakhir bulan Dhu al-Qa’dah (bulan Islam ke-11) dan peristiwa Ghadir Khum terjadi tepat setelah itu pada bulan Dhu al- Hijjah (bulan Islam ke-12). “Taair-al-Quds” telah melakukan penipuan dengan mengklaim bahwa ekspedisi Yaman terjadi pada bulan Rabi’ al-Thani (bulan Islam ke-4) atau Jumada al-Awwal (Bulan Islam ke-5), sedangkan Ghadir Khum terjadi di  bulan ke-12, ini adalah setengah kebenaran yang mengerikan. Operasi militer Yaman berlangsung berbulan-bulan dan hingga bulan ke-11! Jadi ekspedisi Yaman mungkin sudah dimulai sejak beberapa bulan sebelumnya, pasti tidak berakhir sebelum lima hari terakhir bulan ke-11, yang setelahnya Ali dan tentaranya segera bergabung dengan Nabi di Mekkah untuk melakukan haji.

Adapun klaim “Taair-al-Quds” bahwa insiden Yaman itu diselesaikan di Madinah, maka ini adalah kejanggalan di pihaknya. Setelah apa yang terjadi di Yaman (yaitu dalam menyikapi Khums), Ali pergi berkuda untuk menemui Nabi di Mekah, bukan di Madinah. Ali dan anak buahnya melakukan haji dengan Nabi dan pada waktu itulah tentaranya menggerutu tentang Ali, yang memicu munculnya pernyataan di Ghadir Khum.

“Taair-al-Quds” menyebutnya sebagai propaganda “Wahabi/ Nawaasib” untuk mengklaim bahwa sengketa antara Ali dan tentaranya terjadi tepat sebelum Ghadir Khum. Kami ingin bertanya kepada “Taair-al-Quds”, apakah ia menganggap bahwa Syaikh Mufid adalah salah satu dari “Nawaasib”? Syaikh Mufid, dalam buku epiknya “Kitab al-Irshad” menyebutkan sengketa di Yaman (antara Ali dan tentaranya) pada bagian yang sama dengan bagian yang berjudul “Haji perpisahan Nabi dan Deklarasi di Ghadir Khum”! Kami membaca:

 Haji perpisahan Nabi dan Deklarasi di Ghadir Khum:

… Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, telah mengirim dia (Ali), kedamaian atasnya, ke Yaman untuk mengumpulkan bagian sperlima (khums) dari emas dan perak mereka dan mengumpulkan perisai dada dan hal-hal lain … Lalu Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, memutuskan untuk pergi haji dan untuk melaksanakan tugas yang Allah Ta’ala, telah putuskan …

Dia, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, berangkat dengan mereka selama lima hari yang tersisa pada (bulan) Dhu al-Qa’da. Dia telah menulis kepada Amirul mukminin (Ali), kedamaian atasnya, tentang pergi menunaikan ibadah haji dari Yaman …

Sementara itu, Amirul mukminin, kedamaian atasnya, berangkat dengan para prajurit yang menemaninya ke Yaman. Dia telah membawa perisai dada yang telah dikumpulkan dari orang-orang Najran. Ketika Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, sudah mendekati Mekah dalam perjalanannya dari Madinah, Amirul Mukminin (Ali), kedamaian atasnya, sudah mendekatinya dalam perjalanannya dari Yaman. Dia (Ali) mendahului tentaranya untuk bertemu Nabi, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, dan ia meninggalkan salah seorang dari mereka untuk bertanggung jawab terhadap mereka (pasukan). Ia datang kepada Nabi sebagai yang berikutnya melihat Mekah. Dia (Ali) menyambutnya (Nabi) dan menginformasikan kepadanya (Nabi) dari apa yang dia (Ali) telah lakukan dan apa yang dia (Ali) telah kumpulkan [dari Khums] dan bahwa ia telah bergegas mendahului tentaranya untuk bertemu dengannya. Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya, senang pada hal itu dan senang bertemu dengannya…

Amirul mukminin, kedamaian atasnya, mengucapkan selamat jalan kepadanya (Nabi) dan kembali ke pasukannya. Dia (Ali) bertemu mereka mendekatinya dan menemukan bahwa mereka telah mengenakan perisai dada yang mereka punya. Dia (Ali) mencela mereka untuk itu.

“Memalukan kamu!” Katanya (Ali) kepada orang yang sudah ditunjuk sebagai wakilnya atas mereka. “Apa yang membuat kamu memberikan mereka perisai dada sebelum kita menyerahkannya kepada Rasul Allah, semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya? Saya tidak memberi kamu izin untuk melakukan hal itu. ”

“Mereka meminta saya untuk membiarkan deck diri mereka keluar dan memasuki keadaan pensucian dengannya, dan kemudian mereka akan mengembalikan padaku,” jawabnya.

Amirul mukminin, kedamaian atasnya, mengambilnya dari orang-orang dan menempatkannya kembali di karung. Mereka tidak puas dengan dia karena hal itu. Ketika mereka tiba di Mekah, keluhan mereka terhadap Amirul Mukminin, kedamaian atasnya, menjadi tambah banyak. Rasul Allah memerintahkan panggilan yang akan diberikan antara orang-orang: “Hentikan lidah anda (membicarakan) Ali bin Abi Thalib, kedamaian atasnya. Dia adalah orang yang keras untuk kepentingan Allah, Yang Maha Kuasa dan maha Tinggi, bukan orang yang sesat dalam agama-Nya … ”

Ketika Rasul Allah melakukan ritual ibadah haji, ia menjadikan Ali sebagai pasangannya dalam pengorbanan hewan. Kemudian dia memulai perjalanannya kembali ke Madinah. (Ali) dan Muslim pergi dengan dia. Dia tiba di tempat yang dikenal sebagai Ghadir Khum …

(Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 119-123)

(Note: Meskipun pada rangkaian kalimat di atas Syaikh Mufid menceritakan adanya perbedaan pendapat antara Ali dengan pasukannya yang semakin kuat di Mekah, namun sesuai keyakinan Syiah beliau tidak mengaitkan sama sekali kejadian di Ghadir Kum dengan adanya perbedaan pendapat dan adanya kebencian pasukan Ali terhadap Ali, namun justru mengaitkannya dengan asbabun nuzul ayat 5:67, yang akan kami bahas pada bagian selanjutnya)

SIAPA SAJA YANG MARAH KEPADA ALI ?

Para propagandis Syiah kemudian mengklaim bahwa hanya Khalid dan Buraida yang marah kepada Ali.

 Taair-al-Quds, Admin of ShiaOfAhlAlBayt says

“None of the hadiths mention any third individual besides Khalid bin Walid and Burayda (or Bara as in Tirmidhi) to be the complainers or the ones who initiated this BUGHZ (hatred) campaign towards Imam Ali (a.s) as reported through this incident.

Ini adalah satu lagi kebohongan terang-terangan oleh “Taair -al-Quds”. Bahkan, semua (atau setidaknya sebagian besar) tentara Ali yang kecewa dengan dia, bukan hanya satu atau dua tentara. Syaikh Mufid menulis:

Amirul mukminin, damai atasnya, mengambilnya (perisai dada) dari orang-orang dan mengembalikan ke karung. Mereka tidak puas dengan dia karena hal itu. Ketika mereka tiba di Mekah, keluhan mereka terhadap Amirul Mukminin, damai atasnya, menjadi bertambah banyak. Rasul Allah memerintahkan panggilan yang akan diberikan antara orang-orang: “Hentikan lidah kamu semua (berbicara) tentang Ali bin Abi Thalib, damai atasnya. Dia adalah seorang yang keras untuk kepentingan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, bukan seorang yang sesat dalam agama-Nya … ”

(Kitab al-Irshad, oleh Syaikh Mufid, hal. 121-122)

Keluhan terhadap Ali adalah “banyak” dan hal dilakukan oleh “orang-orang” yang tidak puas (tidak satu atau dua orang), dan Nabi memerintahkan panggilan kepada orang-orang secara umum. Hal ini jelas bahwa sebagian besar tentara Ali yang tidak puas dengannya karena ia menolak untuk membolehkan mereka memakai perisai dada dari Khums. Oleh karena itu, tidaklah pantas untuk menyalahkan kepada satu atau dua individu, karena kebenaran dari masalah ini adalah bahwa Ali telah membuat marah semua tentara-Nya, dan kami mencari perlindungan Allah dari menyalahkan siapa pun, terutama karena Nabi sendiri telah memaafkan Buraida dan yang lainnya.

Intinya, bagaimanapun, adalah bahwa banyak orang yang marah kepada Ali dan ini adalah alasan mengapa Nabi harus membuat deklarasi di Ghadir Khum, untuk melepaskan Ali dari tuduhan – tidak untuk mencalonkan Ali sebagai penggantinya.

TAMBAHAN KALIMAT PALSU

Taktik Syiah umum untuk menipu orang awam Sunni adalah menyatakan bahwa Hadits Ghadir Khum ada di Bukhari dan di buku-buku yang paling terpercaya di kalangan Sunni (seringkali memberi kesan kepada Sunni dengan daftar referensi yang banyak), dan kemudian mereka mengutip berbagai versi dari sumber yang kabur dan tidak bias dipercaya, yang menggambarkan Ghadir Khum dengan cara yang sangat berbeda dari yang dinyatakan sebenarnya dalam buku otentik tersebut. Taktik mengelabui orang seperti ini disebut “menerima dengan mengaitkan.”

Pada kenyataannya, hanya ada dua penambahan pada Hadits yang dianggap otentik dan itu pun hanya oleh beberapa ulama. Untuk tujuan debat, bagaimanapun, kita akan menerimanya sebagai otentik. Sekali lagi, dua tambahan ini tidak ada di Sahihayn tetapi mereka ada dalam berbagai variasi narasi dalam buku-buku lain. Sebagai murid Hadits tahu, bahwa Hadits memiliki berbagai tingkatan, seperti Hadits Ghadir Khum, yang paling otentik adalah apa yang ada di Sahih Bukhari seperti yang dikutip di atas. Namun, ada versi lain yang memiliki dua tambahan:

  1. Penambahan pertama adalah: “Man Kuntu mawla fa` Ali mawla”. (Siapa yang menjadikan saya Mawla, maka Ali ini juga mawla-nya).
  2. Penambahan kedua adalah: “Allahummu wali man walaah wa `adi man `adaah.” (Ya Allah, bertemanlah dengan siapa saja yang berteman dengan dia dan jadilah musuh siapa saja yang memusuhi dia).

Penambahan pertama umumnya diterima, sedangkan yang kedua adalah lemah, namun beberapa ulama menganggapnya otentik. Sedangkan penambahan lainnya, sejauh ini tidak terdapat dalam buku otentik dan “mawdoo” atau dipalsukan. Secara umum, Syiah puas dalam mendasarkan argumen mereka pada dua tambahan pertama, tetapi tak diragukan lagi setelah mereka membantah, mereka kemudian seringkali akan meminta tolong untuk menggunakan sumber palsu untuk menghasilkan dukungan tambahan, seperti Nabi mengatakan Ali adalah Wasi-nya, Khalifah-nya, Imam, dll. Ini semua adalah palsu, dan secara historis Syiah telah memproduksi banyak Hadits palsu. Syiah mampu menghasilkan daftar panjang referensi palsu tentang Ghadir Khum karena mereka sendiri telah bertanggung jawab atas banyaknya pemalsuan berkaitan dengan Ghadir Khum.

Kami telah melihat versi Ghadir Khum dalam kitab Sahih Bukhari, dan bagaimana hal itu tidak mengandung penambahan “mawla”. Namun, penambahan “mawla” dapat ditemukan dalam variasi dari Hadits:

Buraida meriwayatkan: “Saya menyerbu Yaman dengan Ali dan aku melihat kedinginan dari bagian dia, maka ketika saya datang (kembali) kepada Rasul Allah dan menyebutkan Ali dan mengkritiknya, aku melihat wajah Rasulullah perubahan dan ia berkata: ‘Wahai Buraida, bukankah saya tidak lebih dekat dengan orang-orang yang beriman daripada mereka terhadap diri mereka sendiri?” kataku: “Ya, Wahai Rasulullah. ” Dia (lalu) berkata: ‘Siapa saja yang saya adalah mawlanya, maka Ali ini juga mawla nya. ”

(Musnad Ahmad [v5 / p347 / # 22995] dengan rantai transmisi yang sahih dan semua perawinya dapat dipercaya [thiqa] yang diandalkan oleh al-Bukhari dan Muslim, al-Nisa’i dalam Sunan al-Kubra [v5 / P45 / # 8145 ], al-Hakim dalam al-Mustadrak [v3 / p119 / # 4578]; Abu Nu`aym, Ibnu Jarir dan lainnya)

Dalam versi yang sedikit berbeda:

Buraida meriwayatkan: “Nabi mengutus saya ke Yaman dengan Ali dan aku melihat kedinginan dari bagian dia, ketika aku kembali dan mengeluh tentang dirinya kepada Rasulullah, dia (Rasulullah) mengangkat kepalanya ke arah (dia) dan berkata: ‘Wahai Buraida! ‘Siapa saja yang saya adalah mawlanya, maka Ali ini juga mawla nya. ”

(Sunan al-Kubra, v5, p130, # 8466, sebuah laporan serupa dapat ditemukan di Musannaf Ibnu Abi Shayba [v6, hal. 374])

Dalam riwayat lain, Nabi berkata: “allahummu wali man walaah wa `adi man `adaah”, yang diterjemahkan menjadi: “Ya Allah, menjadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan menjadilah musuh siapa saja memusuhi dia”. Beberapa ulama telah meragukan keaslian pernyataan ini, tetapi kami akan menerima tambahan kedua ini sebagai otentik.

Ini adalah dua penambahan pada Hadits Ghadir Khum yang bisa dianggap otentik, dan oleh karena itu terhadap dua tambahan ini saja kami akan membahasnya lebih lanjut.

Para propagandis Syiah akan sering menambahkan berbagai macam riwayat dari sumber yang lemah dan tidak jelas, tetapi ini bukan suatu metodologi yang valid dalam berdebat. Sering kali, referensi tersebut tidak mungkin untuk dipakai memverifikasi dan sering kali mereka tidak ada sama sekali atau secara dramatis keluar dari konteks. Apa yang aneh dan sedikit lucu adalah bahwa Sunni seringkali mengutip dari Al-Kafi, buku yang paling otentik dari Hadits Syiah, dan Syiah langsung menolak Hadits ini sebagai dasar argumentasi. Jika seperti ini sikap Syiah terhadap buku Hadits mereka yang paling otentik, lalu kenapa Syiah mengharapkan kita untuk menerima riwayat dari sumber yang tidak jelas dan tidak dapat diandalkan? Dalam kasus apapun, untuk menjadi adil, hanya dua tambahan tersebut yang akan kita membahas, yaitu: (1) … ini adalah Ali juga mawla-nya …, dan (2) … jadilah teman barang siapa yang berteman dengan dia.


DEFINISI KATA “MAWLA”

Klaim Syiah bahwa kata “mawla” di sini berarti “pemimpin”/ “tuan”. Hal ini didasarkan pada terjemahan yang keliru dari kata tersebut yang mereka klaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya. Bahkan, kata “mawla” – sebagaimana banyak kata Arab lainnya – memiliki beberapa kemungkinan terjemahan.

Syiah awam mungkin akan terkejut jika mengetahui bahwa sesungguhnya definisi yang paling umum dari kata “mawla” sebenarnya adalah “hamba” dan bukan “tuan“. Seorang bekas budak yang menjadi seorang pembantu dan tidak memiliki hubungan suku disebut sebagai seorang Mawla. Seperti Salim yang dipanggil Salim mawla Abi Hudzaifah karena dia adalah pembantu Abu Hudzaifah.

Kita hanya perlu membuka sebuah kamus bahasa Arab untuk melihat berbagai definisi kata “mawla.” Ibnu Al-Atheer berkata bahwa kata “mawla” dapat digunakan untuk maksud, antara lain, sebagai berikut: tuan, pemilik, dermawan, pembebas, pembantu, kekasih, sekutu, budak, hamba, kakak ipar, sepupu, teman, dll

Sekarang mari kita periksa lagi hadis tersebut:

 “Barangsiapa saya mawlanya, maka Ali ini juga mawlanya. Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia. “

Kata “mawla” di sini tidak dapat merujuk pada arti “pemimpin”, tetapi terjemahan terbaik dari kata “mawla” tersebut adalah “seorang teman tercinta”. Jelas bahwa “mawla” di sini bermakna mencintai/ menyayangi dan hubungan dekat, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan dari kata Mu`adat (permusuhan). Definisi dari kata “mawla” yang ini paling masuk akal berkaitan dengan konteks kalimat karena Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) segera mengatakan Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia“. Lebih dari itu, makna tersebut juga sesuai dengan peristiwa yang melatarbelakanginya.

Syiah dapat saja menolak untuk percaya bahwa mawla di sini berarti “sahabat tercinta”, tetapi kenyataannya adalah bahwa kata itu tidak dapat diterjemahkan dalam makna lain ketika kita mempertimbangkan bahwa tambahan kalimat yang mengikutinya adalah tentang berteman dengan dia, bukan tentang diperintah oleh dia atau yang seperti itu. Sebenarnya sulit dipercaya bahwa Syiah bisa menerjemahkan kata itu dengan arti Khalifah dan Imam ketika konteksnya tidak ada hubungannya dengan hal itu.

Al-Jazari mengatakan dalam al-Nihaayah:

 “Kata mawla sering disebutkan dalam hadits, dan ini adalah isim yang diterapkan pada banyak hal. Kata ini mungkin merujuk kepada seorang penguasa, seorang pemilik, seorang yang menguasai, seorang dermawan, orang yang membebaskan budak, seorang pendukung, orang yang mengasihi yang lain, seorang pengikut, seorang tetangga, seorang sepupu (anak paman dari pihak ayah), seorang sekutu, seorang budak, seorang budak  yang sudah dibebaskan, seseorang yang kepadanya seseorang telah melakukan bantuan. Kebanyakan dari makna-makna ini disebut dalam berbagai Hadis, sehingga harus dipahami dengan cara yang disiratkan oleh konteks hadits yang didalamnya kata tersbut digunakan.“

Imam Syafi’i berkata berkaitan dengan mawla khusus dalam hadits Ghadir Khum ini:

 “Yang dimaksud dengan itu adalah ikatan (persahabatan, persaudaraan, dan cinta) dalam Islam.”

Allah berfirman dalam Al-Quran:

 Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu (teman setiamu). Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (Quran, 57:15)

Sesuai konteks kalimatnya, tidak ada penerjemah di dunia ini – bahkan Syiah yang setia – pernah menerjemahkan kata „mawla“ tersebut dengan arti “Imam” atau “khalifah”, karena akan menjadikan kalimat tersebut tidak bermakna. Api neraka pada ayat di atas disebut sebagai „mawla“ bagi orang-orang kafir karena kedekatan yang sangat mereka kepadanya, dan inilah definisi mawla yang sedang dimaksud dalam Hadis Ghadir Khum (kedekatan yang sangat yaitu kepada Nabi, Ali, dan orang yang beriman). Memang, kata “mawla” berasal dari “Wilayah” dan bukan “Walayah”. Wilayah mengacu pada cinta dan Nusrah (pertolongan dan bantuan), dan tidak boleh dikaburkan dengan kata Walayah, yang mengacu pada kepemimpinan.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

 “Itu karena Allah adalah mawla (yaitu melindungi teman, pelindung, dll) dari orang-orang yang beriman, dan karena orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka.” (Quran, 47:11)

Ayat ini tidak merujuk kepada Khilafah atau Imamah, tetapi lebih mengacu pada teman yang melindungi secara dekat. Jika tidak demikian, maka makna ayat itu akan menjadi tidak masuk akal. Para komentator Syiah tampaknya mengabaikan bagian kedua dari ayat ini dimana Allah berfirman: “orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka”. Apakah ini berarti bahwa orang-orang kafir tidak akan memiliki pemimpin? Tentu saja orang-orang kafir memiliki pemimpin, sebagaimana hari ini orang-orang kafir Amerika memiliki George Bush sebagai pemimpin mereka. Fakta ini disebutkan dalam Al-Quran sendiri:

 “Perangi/ bunuh para pemimpin (A-IMMAH) orang-orang kafir.” (Quran, 09:12)

” Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin (A-IMMAH) yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Quran, 28:41)

Jadi ketika Allah mengatakan “orang-orang kafir tidak mempunyai mawla bagi mereka”, maka hal ini merujuk kepada pelindung yang sangat dekat, bukan karena mereka tidak memiliki pemimpin. Ayat 47:11 sama sekali tidak menggunakan kata mawla yang berarti Imam atau Khalifah, tetapi lebih mengacu ke teman melindungi dekat. Untuk makna pemimpin secara tegas Allah menggunakan kata IMAM yang jamaknya A-IMMAH sebagaimana yang digunakan pada ayat 9:12 dan 28:41.

Hadis Ghadir Khum dimaksudkan untuk ditafsirkan dengan cara yang sama. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memberikan nasihat kepada orang-orang untuk mencintai Ali (رضى الله عنه) dan dekat dengan dia. Dan ini persis seperti apa yang Abu Bakar (رضى الله عنه), Umar (رضى الله عنه), dan Usman (رضى الله عنه) lakukan (yaitu mereka menjadi sahabat tercinta Ali). Bahkan, Umar (رضى الله عنه) begitu dicintai Ali (رضى الله عنه) bahwa ia (Ali) mengawinkan putrinya kepadanya (Umar). Ali (رضى الله عنه) menjabat sebagai wazir dan kepercayaan dekat bagi ketiga khalifah, sedemikian rupa terjadi rasa saling mengasihi dan hormat antara ketiga khalifah dan Ali (رضى الله عنه). Dengan kata lain, Hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya dengan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya, tetapi hanyalah dimaksudkan agar orang-orang berhenti mengkritik Ali (رضى الله عنه ) dan mencintainya.

Allah berfirman dalam Al-Quran:

 “Tentu mawla (teman-teman tercinta) kamu adalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang percaya – orang-orang yang menegakkan shalat dan melaksanakan zakat, dan mereka sujud dengan rendah hati. Adapun orang-orang yang berpaling (dari persahabatan) kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, (biarkan mereka tahu bahwa) itu adalah partai Allah yang akan menang “(Qur’an, 5:55-56).

Dalam ayat di atas, Allah merujuk kepada semua orang yang percaya sebagai mawla. Bagaimana bisa, klaim Syiah bahwa kata mawla mengacu pada kekhalifahan atau Imamah, kecuali kalau semua orang beriman itu tiba-tiba menjadi khalifah atau imam bagi Nabi? (Mengenai ini, justru Syiah akan membuat klaim keterlaluan bahwa ayat ini merujuk kepada Ali sendiri, meskipun ada fakta nyata bahwa pada ayat tersebut menyebut kepada orang-orang yang percaya dalam bentuk jamak. Memang tidak diragukan lagi, bahwa Ali – seperti kebanyakan orang-orang yang percaya lainnya – termasuk dalam ayat ini, tetapi tidak bisa disimpulkan hanya mengacu secara eksklusif baginya karena jelas dalam bentuk jamak). Memang, kata “mawla” di sini bermakna cinta, kedekatan yang ekstrim, dan membantu. Bahkan, tidak ada satu contoh dalam Quran di mana kata “mawla” digunakan untuk merujuk pada arti Imamah atau Khilafah.

Dalam ayat lain di Al- Quran, Allah berfirman:

 “Tidak ada mawla akan menguntungkan Malwa dia di Hari Pembalasan.” (44:41)

Apakah ini berarti bahwa “pemimpin tidak akan menguntungkan pemimpin dia pada hari kiamat”? Tentunya ini tidak masuk akal. Sebaliknya, kami melihat dalam ayat tersebut bahwa Allah merujuk kepada dua orang dan panggilan keduanya harus mawla, jika mawla itu berarti pemimpin, maka hanya satu dari mereka yang bisa menjadi pemimpin yang lain. Tetapi jika mawla berarti teman tercinta, maka sesungguhnya mereka bisa mawla satu sama lain dan secara bahasa akan tepat untuk merujuk kepada mereka berdua sebagai mawla sebagaimana yang Allah lakukan dalam al-Quran.

Kata “mawla” yang digunakan dalam Hadis juga berarti sahabat tercinta, marilah kita periksa Sahih al-Bukhari (Volume 4, Buku 56, Nomor 715). Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan:

 “Suku-suku Quraisy, Al-Ansar, Juhaina, Muzaina, Aslam, Ghifar dan Ashja ‘adalah penolong tercinta saya (Mawali), dan mereka tidak memiliki pelindung kecuali Allah dan Rasul-Nya.”

Apakah kata “mawla” di sini merujuk kepada Khilafah atau Imamah? Apakah suku-suku tersebut adalah Khalifah atau Imam atas Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم)? Tentu saja tidak. Akan lebih logis bahwa mereka dekat sekali dan cinta kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan dengan demikian disebut sebagai Mawali (jamak dari mawla).

Juga penting untuk ditunjukkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mengatakan “setelah saya” di hadis Ghadir Khum. Dia hanya mengatakan “siapapun yang saya mawlanya, Ali juga mawla-nya” tanpa memberikan kerangka waktu. Ini berarti bahwa keadaan yang diharapkan ini (mencintai Nabi dan Ali) adalah seterusnya.

Jika ucapan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermakna “siapapun yang saya pemimpinnya, Ali juga pemimpinnya”, sebagai makna yang dipahami oleh saudara-saudara kita Syiah, maka akan ada masalah yang sangat besar bagi umat Islam. Tidak akan pernah ada dua khalifah atau Imam di daerah yang sama pada saat yang sama, dan ada banyak hadis di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memperingatkan tentang memiliki dua khalifah. Tanpa adanya kalimat “setelah saya”, ucapan di Ghadir Kum akan menjadi kalimat yang sangat membingungkan yang akan menimbulkan banyak fitnah.

Tentu saja, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak bermaksud seperti itu dan tidak ada para sahabat yang memahaminya seperti itu. Di sisi lain, sangatlah mungkin untuk memiliki lebih dari satu mawla (teman tercinta) pada waktu yang sama. Seseorang dapat mencintai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan dekat dengan beliau, dan pada saat yang sama mencintai dan dekat dengan Ali (رضى الله عنه).

Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه), maka mengapa Nabi menggunakan kalimat yang ambigu seperti itu? Alih-alih mengatakan sesuatu yang jelas, seperti “siapa yang saya mawlanya, maka Ali juga mawlanya”, mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mengatakan sesuatu yang lebih jelas seperti “Saya mencalonkan Ali untuk menjadi khalifah setelah saya mati” atau “Ali adalah pengganti saya dan khalifah pertama kaum muslimin setelah saya”. Tentunya, ini akan membereskan masalah ini. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) diperintahkan agar jelas dalam menyampaikan Pesan, dan tidak ada sahabat menafsirkan pernyataannya di Ghadir Khum bahwa Ali (رضى الله عنه) dinominasikan sebagai khalifah.

Untuk ini, propagandis Syiah akan membuat pernyataan bertentangan, sebagai berikut:

 ShiaChat Member says

“The prophet (SAW) did in fact say clearly that IMAM ALI (A.S.) was his successor and the next Caliph and many other clearer things but these hadeeth were not transmitted by the sahaba and the sunnis because they wished to deny the imamate of IMAM ALI (A.S.). The sahaba and sunnis didnt remove the mawla hadeeth because it could be misinterpreted to deny the imamate of IMAM ALI (A.S.).

Some even say that the prophet (SAW) used intentionally vague wording otherwise people would have tampered his words. Had he used a more direct and clear term, then the sahaba would know that the people would think that it is about the IMAMATE of IMAM ALI (A.S.) and they would then take it out. In fact, in other SHIA hadeeths, the prophet (SAW) did in fact say it clearly that IMAM ALI (A.S.) is the successor and the next Caliph but the Sunnis reject those. ”

Argumen di atas sebenarnya mengakui seluruh perdebatan. Di sini, Syiah mengatakan:

1)     Perkataan yang jelas dari Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah dihapus oleh Sunni.

2)     Hadis Ghadir Khum tentang Ali (رضى الله عنه) menjadi mawla tidak dihapus karena tidak langsung dan jelas tentang masalah Imamah atau Khilafah.

Kalau begitu, bukankah seluruh perdebatan selesai? Bukankah Syiah yang selalu bergumentasi bahwa hadis Ghadir Khum adalah bukti jelas dan pasti peruhal Imamah dan Kekhalifahan Ali (رضى الله عنه)? Dan memang, argumen Syiah tersebut mengakui kenyataan bahwa hadis tentang Ghadir Khum tidak berbicara jelas tentang Imamah/ Khilafah, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah mawla orang-orang yang percaya, yang dengan cara apapun tidak membuktikan bahwa Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah.

Bahkan, kalaulah seandainya jelas, maka tentu para sahabat tidak akan menyampaikan hadits tersebut, bukan? Karena itu, kami melihat bahwa – berdasarkan pada garis pemikiran ini – bahwa hadits Ghadir Khum tidaklah jelas tentang Imamah Ali (رضى الله عنه), jika tidak demikian maka hadits ini tidak akan pernah diriwayatkan oleh para sahabat yang sama-sama berusaha untuk merebut Khilafah Ali.

Sesungguhnya, hadis Ghadir Khum tidak pernah ditafsirkan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah khalifah, namun hanya untuk menunjukkan kebajikan Ali (رضى الله عنه). Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memuji seseorang, ini tidak otomatis membuat orang itu menjadi Khalifah umat. Adapun tentang adanya Hadis Syiah tentang masalah ini, maka tidak relevan dengan kami karena Syiah sangat dikenal sebagai pembohong dan banyak memalsukan hadits.

Kesimpulan

Bertentangan dengan klaim Syiah, hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya dengan Khilafah atau Imamah. Sebaliknya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) hanyalah menyangkal sekelompok orang di bawah komando Ali (رضى الله عنه) yang mengkritik Ali (رضى الله عنه) dengan kata-kata yang sangat kasar. Berdasarkan ini, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mendesak orang-orang bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah mawla (teman tercinta) dari semua kaum muslimin, seperti halnya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم). Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah, maka ia (صلى الله عليه وآله وسلم) akan melakukannya dalam Khotbah Perpisahan di Mekah bukan dalam perjalanan kembali ke Madinah di tengah gurun 250 km dari Mekah kepada sebagian muslimin.

MULLAH SYIAH MEMPERLAKUKAN AL-QURAN SEBAGAI MAINAN.

Al-Islam.org says

“In this place (of Ghadir Khumm), the following verse of the Qur’an was revealed:

“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Qur’an 5:67)

The last sentence in the above verse indicates that the Prophet [s] was mindful of the reaction of his people in delivering that message but Allah informs him not to worry, for He will protect His Messenger from people. source: http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm

Ini adalah klaim yang sering diulang-ulang olehSyiah, yaitu bahwa ayat (5:67) ini diturunkan sehubungan dengan pencalonan Khalifah Ali. Dengan kata lain, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak perlu khawatir mengenai reaksi yang mengerikan dari para sahabat terhadap deklarasi Imamah dan Khilafah Ali.

Seperti yang biasanya terjadi, propagandis Syiah tidak ragu-ragu untuk mempermainkan Al-Quran dan menggunakan Al-Quran sebagai dalil pelengkap doktrin mereka . Kenyataanya, ayat 5:67 tidaklah mungkin telah diwahyukan dalam kaitannya dengan nominasi Ali, karena ayat itu diarahkan terhadap Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Kristen).  Syiah menggunakan ayat di luar konteks, tanpa mempertimbangkan ayat sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat:

 [5:66] Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

[5:67] Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

[5:68] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

Jadi kami melihat bahwa ayat sebelum dan setelahnya berbicara tentang Ahli Kitab, dan dalam konteks ini bahwa ayat 5:67 diturunkan, untuk meyakinkan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bahwa dia tidak boleh takut kepada orang-orang Yahudi atau orang Kristen dan bahwa ia (صلى الله عليه وآله وسلم) harus secara jelas menyampaikan pesan Islam yang akan lebih tinggi mengatasi Yahudi dan Kristen. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) diceritakan dalam ayat 5:67 bahwa ia tidak boleh takut kepada orang-orang yang bermaksud jahat, dan pada ayat yang berikutnya (5:68) Allah mengatakan bahwa pesan Islam hanya akan “menambah kedurhakaan dan kekafiran mereka”. Adalah sangat jelas bahwa ayat tersebut sedang berbicara tentang kelompok orang yang sama, yaitu orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab yang bermaksud membuat kerusakan dan kekafiran.

Pada kenyataannya, hampir keseluruhan ayat sedang membicarakan Ahlul Kitab dan kami melihat ayat 5:59 hingga 5:86 adalah mengacu pada Ahli Kitab. Mari kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

5:59. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, adakah kamu mendendami kami kerana kami percaya kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan sebelumnya, dan bahwa kebanyakan kamu adalah orang-orang fasiq?”

5:60. Katakanlah, “Bolehkah aku memberitahu kamu, sebagai ganjaran di sisi Allah, yang lebih buruk daripada itu? Sesiapa yang Allah melaknatkan, dan padanya Dia murka, dan menjadikan antara mereka beruk dan babi, dan penyembah-penyembah Thagut – mereka itu lebih buruk tempatnya, dan lebih jauh sesat daripada jalan yang betul.”

5:61. Apabila mereka datang kepada kamu, mereka berkata, “Kami percaya”; tetapi mereka masuk dengan ketidakpercayaan, dan mereka keluar dengannya; Allah sangat mengetahui apa yang mereka menyembunyikan.

5:62. Kamu melihat kebanyakan antara mereka bersegera dalam dosa dan permusuhan, dan bagaimana mereka memakan yang haram; buruknya apa yang mereka buat!

5:63. Mengapakah rabani-rabani (orang-orang yang menguasai), dan habr (ulama agama) tidak melarang mereka daripada ucapan dosa, dan memakan yang haram? Buruknya apa yang mereka mengerjakan!

5:64. Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Yang terbelenggu ialah tangan-tangan mereka, dan mereka dilaknati kerana apa yang mereka mengatakan. Tidak, tetapi tangan-Nya terjulur; Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia mengkehendaki. Dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu akan menambah kepada kebanyakan antara mereka, dalam kelampauan batas, dan ketidakpercayaan; dan Kami melemparkan di kalangan mereka, permusuhan dan kebencian, sampai Hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api untuk perang, Allah memadamnya. Mereka berusaha di bumi untuk membuat kerosakan padanya; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerosakan.

5:65. Tetapi sekiranya ahli Kitab percaya dan bertakwa, tentu Kami melepaskan mereka daripada kejahatan-kejahatan mereka, dan tentu Kami memasukkan mereka ke Taman Kebahagiaan.

5:66. Sekiranya mereka melakukan Taurat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka daripada Pemelihara mereka, tentu mereka akan makan apa yang di atas mereka, dan apa yang di bawah kaki mereka. Antara mereka adalah umat yang adil, tetapi kebanyakan antara mereka, adalah jahat apa yang mereka buat.

5:67. Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu kerana, jika kamu tidak lakukan, tidaklah kamu menyampaikan Mesej-Nya. Allah melindungi kamu daripada manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tidak percaya.

5:68. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, kamu tiada di atas sesuatu, sehingga kamu melakukan Taurat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu.” Dan apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu akan menambah kepada kebanyakan daripada mereka dalam kelampauan batas, dan ketidakpercayaan; maka janganlah berdukacita terhadap kaum yang tidak percaya.

5:69. Sesungguhnya orang-orang yang percaya, dan orang-orang Yahudi, dan Sabiin, dan orang-orang Kristian, sesiapa yang percaya kepada Allah, dan Hari Akhir, dan membuat kerja-kerja kebaikan, maka tiadalah ketakutan pada mereka, dan tidaklah mereka bersedih.

5:70. Dan Kami telah mengambil perjanjian Bani Israil, dan Kami mengutus rasul-rasul kepada mereka. Setiap kali datang kepada mereka seorang rasul, dengan apa yang jiwa mereka tidak menginginkan, segolongan mereka mendustakan, dan segolongan lain mereka bunuh.

5:71. Dan mereka menyangka bahwa tidak akan menjadi cubaan; mereka menjadi buta, dan menjadi pekak. Kemudian Allah menerima taubat mereka; kemudian mereka menjadi buta lagi, kebanyakan daripada mereka, menjadi pekak; dan Allah melihat apa yang mereka buat.

5:72. Merekalah orang-orang yang tidak percaya, yang berkata, “Allah, Dia ialah al-Masih putera Mariam.” Berkata al-Masih, “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Pemeliharaku dan Pemeliharamu. Sesungguhnya sesiapa menyekutukan Allah, Allah akan mengharamkannya Taman, dan tempat menginapnya ialah Api; orang-orang yang zalim tidak ada penolong-penolong.”

5:73. Orang-orang yang tidak percayalah yang berkata, “Allah ialah yang ketiga daripada yang Tiga.” Tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Satu. Jika mereka tidak berhenti daripada apa yang mereka mengatakan, tentu akan menyentuh orang-orang antara mereka yang tidak percaya, azab yang pedih.

5:74. Tidakkah mereka bertaubat kepada Allah, dan meminta ampunan-Nya? Allah Pengampun, Pengasih.

5:75. Al-Masih, putera Mariam, hanyalah seorang rasul; rasul-rasul sebelum dia telah berlalu. Ibunya seorang wanita yang benar; mereka berdua makan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami memperjelaskan ayat-ayat kepada mereka, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.

5:76. Katakanlah, “Adakah kamu sembah, selain daripada Allah, apa yang tidak boleh memudaratkan, atau memanfaatkan kamu? Dan Allah, Dia Yang Mendengar, Yang Mengetahui.”

5:77. Katakanlah, “Wahai ahli Kitab, janganlah berlebih-lebihan dalam agama kamu, selain daripada yang benar, dan janganlah mengikuti keinginan kaum yang telah sesat sebelumnya, dan menyesatkan ramai, dan sesat lagi daripada jalan yang betul.”

5:78. Telah dilaknati orang-orang yang tidak percaya daripada Bani Israil oleh lidah Daud, dan Isa putera Mariam; itu adalah kerana keingkaran mereka, dan pencabulan mereka.

5:79. Mereka tidak saling melarang daripada sebarang kemungkaran yang mereka melakukan; sungguh buruknya apa yang mereka buat!

5:80. Kamu melihat kebanyakan antara mereka menjadikan orang-orang yang tidak percaya sebagai sahabat-sahabat mereka. Buruknya apa yang mereka mendahulukan untuk diri-diri mereka sendiri, kerana kemurkaan Allah kepada mereka, dan dalam azab mereka tinggal selama-lamanya.

5:81. Sekiranya mereka mempercayai Allah, dan Nabi, dan apa yang diturunkan kepada mereka, tentu mereka tidak mengambil mereka sebagai wali-wali (sahabat-sahabat); tetapi kebanyakan antara mereka adalah orang-orang fasiq.

5:82. Sungguh, kamu mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang percaya ialah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang mempersekutukan; dan sungguh kamu mendapati yang paling dekat dengan mereka dalam kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya ialah orang-orang yang berkata, “Kami adalah orang-orang Kristian”; itu adalah kerana sebahagian mereka adalah paderi-paderi dan rahib-rahib, dan mereka tidak menyombongkan diri.

5:83. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada rasul, kamu melihat mata-mata mereka mencucurkan air mata kerana mereka mengenali yang benar. Mereka berkata, “Wahai Pemelihara kami, kami percaya, maka tuliskanlah kami antara para saksi.

5:84. Tidakkah kami patut mempercayai Allah, dan yang benar yang datang kepada kami, dan menginginkan supaya Pemelihara kami memasukkan kami berserta kaum yang salih?”

5:85. Dan Allah mengganjari mereka kerana apa yang mereka mengatakan, dengan taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya tinggal selama-lamanya; itulah balasan ke atas orang-orang yang berbuat baik.

5:86. Tetapi orang-orang yang tidak percaya, dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang Jahim.

Adalah sangat jelas bahwa semua ayat-ayat di atas adalah tentang orang Yahudi dan Kristen, dan anehnya Syiah memotong dan menyisipkan ayat Al-Quran sesuai dengan keinginan mereka. Ini adalah memanipulasi Firman Allah dan dosa yang sangat besar yang mengarah ke jalur kufur. Namun, Anda akan menemukan bahwa Syiah secara umum membuat klaim bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan Ghadir Khum dan pencalonan Ali (رضى الله عنه). Jadi ini adalah perjalanan panjang propagandis Syiah dalam rangka membelokkan/ mengeluarkan Al-Quran dan hadis dari konteksnya dalam rangka menciptakan kisah imajiner bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah.

APAKAH KEJADIAN GHADIR KHUM MERUPAKAN ASBANUN NUZUL AYAT 5:67 ?

Al-Islam.org says

“In this place, the following verse was revealed:

“O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don’t do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people …” (Quran 5:67).

Some of Sunni references confirming that the revelation of the above verse of Al-Quran was right before the speech of Prophet in Ghadir Khum:

(1) Tafsir al-Kabir, by Fakhr al-Razi, under commentary of verse 5:67, v12, pp 49-50, narrated on the authorities of Ibn Abbas, al-Bara Ibn Azib, and Muhammad Ibn Ali.

(2) Asbab al-Nuzool, by al-Wahidi, p50, narrated on the authorities of Atiyyah and Abu Sa’id al Khudri.

(3) Nuzul al-Quran, by al-Hafiz Abu Nu’aym narrated on the authorities Abu Sa’id Khudri and Abu Rafi.

(4) al-Fusool al Muhimmah, by Ibn Sabbagh al-Maliki al-Makki, p24

(5) Durr al-Manthur, by al-Hafiz al-Suyuti, under commentary of verse 5:67

(6) Fathul Qadir, by al-Shawkani, under commentary of verse 5:67

(7) Fathul Bayan, by Hasan Khan, under commentary of verse 5:67

(8) Shaykh Muhi al-Din al-Nawawi, under commentary of verse 5:67

(9) al-Sirah al-Halabiyah, by Noor al-Din al-Halabi, v3, p301

(10) Umdatul Qari fi Sharh Sahih al-Bukhari, by al-Ayni

(11) Tafsir al-Nisaboori, v6, p194

(12) and many more such as Ibn Mardawayh, etc…

source: http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm

Para propagandis Syiah telah berbohong, karena tidak ada cara lain untuk menjelaskan masalah ini. Selain mengeluarkan dari konteksnya, mereka juga telah terkenal dalam mengutip referensi sepotong-sepotong.

Dalam masalah ini Syiah memberikan dua belas sumber/ refensi, marilah kita lihat satu per satu. Yang pertama adalah at-Tafsir al-Kabir oleh Imam Razi. Syiah berusaha untuk menipu Sunni dengan membuat seolah-olah Imam ar-Razi percaya bahwa ayat 5:67 ini diturunkan di Ghadir Khum. Padahal, dalam bukunya Imam Razi mengatakan yang sebaliknya!

Imam Razi menyebutkan bahwa orang-orang telah mengklaim bahwa ayat ini diturunkan pada kejadian yang berbeda-beda. Dia mendaftar sepuluh kemungkinan ketika ayat itu diwahyukan. Sudah dikenal bahwa gaya para ulama adalah mendaftar terlebih dahulu pandangan yang paling penting dan kemudian menampilkan yang paling penting. Seharusnya Syiah yang licik mengetahui bahwa Imam ar-Razi tidak menyebutkan Ghadir Khum sebagai yang paling mungkin, yang berarti di matanya peristiwa Ghadir Khum adalah pendapat mungkin paling lemah.

Sekarang kita akan membaca komentar kata demi kata dari Imam Razi:

 Ulama tafsir telah menyebutkan banyak penyebab turunnya wahyu:

(1)  Yang pertama adalah bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan perajaman dan pembalasan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya dalam kisah orang Yahudi.

(2)  Penyebab kedua adalah bahwa ayat itu telah diwahyukan karena kritik dan mengolok-olok agama yang dilakukan oleh orang Yahudi, dan Nabi tetap diam tentang mereka, sehingga ayat ini diturunkan.

(3)  Ketiga: Ketika ayat pilihan diturunkan, yaitu “Hai Nabi! katakanlah kepada istri-istrimu: ” (yaitu 33:28), Nabi tidak menyampaikan ayat ini kepada mereka karena khawatir mereka memilih dunia, dan dengan demikian ayat itu (5:67) diturunkan.

(4)  Keempat: Ayat ini diwahyukan berkaitan dengan Zayd dan Zaynab Bint Jahsh. Aisyah berkata: Barang siapa mengklaim bahwa Rasulullah menyembunyikan bagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, maka ia telah melakukan kebohongan besar terhadap Allah, karena Allah telah berkata: “Wahai Rasul (Muhammad)! Beritakan (Pesan tersebut)” dan kalau seandainya Rasulullah menyembunyikan bagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, maka dia telah menyembunyikan firman-Nya: “Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya “[33:37]

(5)  Kelima: Ayat ini diungkapkan berkaitan dengan Jihad, karena orang-orang munafik membencinya, maka ia digunakan untuk menahan alasan mereka untuk Jihad.

(6)  Keenam: Ketika firman Allah telah diwahyukan: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.[6:108], Nabi menahan diri dari memaki Tuhan mereka, jadi ayat ini diwahyukan, dan Dia berkata: “Nyatakan” yaitu kesalahan/ kritik tentang tuhan-tuhan mereka dan jangan menyembunyikannya, dan Allah akan melindungi kamu terhadap gangguan mereka.

(7)  Ketujuh: Ayat ini diungkapkan berkaitan dengan hak-hak Muslim, karena di Haji Terakhir setelah ia menyatakan aturan dan ritual haji, ia berkata: Bukankah saya telah menyatakan (kepada Anda)? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Ya Allah saksikanlah.

(8)  Kedelapan: Telah diriwayatkan bahwa ia sedang beristirahat di bawah pohon pada salah satu perjalanan dan menggantung pedangnya di atasnya, ketika seorang Badui datang saat ia sedang tidur dan menyambar pedang tersebut sambil berkata: “Wahai Muhammad, siapa yang akan melindungi kamu dari saya?”. Dia berkata: “Allah”, lalu tangan si Badui tersebut gemetar, pedang itu jatuh dari tangannya, dan ia memukulkan kepalanya ke pohon sampai pecah otaknya, jadi Allah menurunkan ayat ini dan menjelaskan bahwa Dia akan melindungi dia terhadap orang-orang.

(9)  Kesembilan: Ia biasanya takut kepada Quraish, orang-orang Yahudi dan Kristen, maka Allah menghapuskan ketakutan ini dari hatinya dengan ayat ini.

(10)         Kesepuluh: Ayat ini telah diwahyukan untuk menekankan keunggulan Ali, dan ketika ayat ini diwahyukan, Nabi memegang tangan Ali dan berkata: “Seseorang yang telah memiliki saya sebagai mawla-nya telah memiliki Ali sebagai mawla-nya. Ya Allah, Jadilah temannya yang berteman dengan dia, dan jadilah musuhnya siapa yang memusuhinya”. (Segera) setelah ini, Umar menemui dia (Ali) dan berkata:”. Wahai Ibnu Abi Thalib! Saya mengucapkan selamat kepada Anda, sekarang Anda adalah mawla saya dan mawla setiap mukmin laki-laki dan perempuan”. Ini adalah perkataan yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Baraa bin Aazib dan Muhammad bin Ali.

Anda harus tahu bahwa, meskipun dengan riwayat yang banyak, adalah lebih cocok untuk menjelaskan bahwa ayat tersebut sebagai Allah sedang meyakinkan dia (Nabi) adanya perlindungan terhadap skema licik orang-orang Yahudi dan Kristen dan memerintahkan dia untuk mengumumkan risalah-Nya tanpa rasa takut terhadap mereka . Hal ini karena konteks sebelum ayat ini dan setelah ayat ini adalah dialamatkan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen, adalah tidak akan mungkin untuk meletakkan ayat di tengah (ayat-ayat lain) menjadikannya asing (tidak relevan) dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

(Sumber: Tafsir al-Kabir, by Fakhr al-Razi, di bawah komentar dari ayat 5:67, volume 12, hal. 49-50)

Dengan kata lain, Imam ar-Razi menyebutkan sepuluh kemungkinan, tetapi ia menyatakan bahwa pendapat yang kuat adalah bahwa ayat ini diturunkan tentang orang Yahudi dan Kristen dan itulah mengapa ia menyebutkan kemungkinan ini yang pertama.

Apa yang mengherankan adalah bahwa Encyclopedia Syiah yang licik tidak menyebutkan bahwa Imam ar-Razi menyebutkan sepuluh kemungkinan dan menyatakan bahwa satu-satunya yang masuk akal adalah yang pertama. Sebaliknya Syiah mengandalkan kutipan sepotong, dan memang wajar karena mereka adalah orang-orang yang mencintai Taqiyyah dan penipuan. Kami memperingatkan Sunni awam untuk tidak terkesima dengan daftar yang panjang referensi mereka, jika Syiah memberikan daftar referensi namun tidak ada kutipan yang lengkap, itu adalah tanda-tanda bahwa mereka memelintir teks sebagaimana mereka memesongkan/ memelintir Al-Quran dan bermain lego dengan itu.

Adapun narasi yang dilaporkan oleh Ibnu Abi Hatim, rantai perawinya adalah sebagai berikut:

 Ayah saya mengatakan kepada kami: Utsman Ibnu Khurzad mengatakan kepada kami: Ismail Ibnu Zakaria mengatakan kepada kami: Ali bin Abis mengatakan kepada kami: dari Al-Amash dari Atiya Al-Awfi dari Abu Saeed Al-Khudri.

Isnad tersebut lemah. Jika kita menganalisis para perawi, maka kita menemukan:

(1) Ismail Ibn Zakaria Al-Kufi

Abu Yahya meriwayatkan dari Ahmad Ibnu Hanbal: “Dia adalah lemah.”

Al-Nasai berkata dalam Jarh wa Tadeel: “Dia tidak kuat.”

(2) Ali Ibn Abis

Yahya Ibnu Maeen berkata: “Dia tida ada apa-apanya.” Dan seperti ini juga kata Ibrahim Ibnu Yaqub Al-Jozqani, Al-Nasai, dan Abu Al-Fath Al-Azdi.

Ibnu Hibban berkata: “kesalahannya berlebihan sehingga dia layak untuk diabaikan.”

(3) Al-Amash

Dia adalah Mudalis.

(4) Atiya Al-Awfi:

Ahmad mengatakan: “Dia adalah lemah.”

Al-Nasai mengatakan: “Dia adalah lemah.”

Ibn Hiban berkata: “Dia mendengar dari Abu Saeed hadits dan ketika dia meninggal, dia biasa duduk dengan Al-Kalbi, sehingga Al-Kalbi berkata: “Rasulullah saw bersabda seperti itu-dan itu,” ia akan mengingatnya dan dia memberinya kunya Abu Saeed dan meriwayatkan darinya. Jadi jika dikatakan kepadanya: “Siapa yang menceritakan ini padamu?” Dia akan berkata: “Abu Saeed meriwayatkan ini kepada saya”. Jadi mereka (yaitu orang-orang yang bertanya) akan berpikir bahwa yang ia maksudkan adalah Abu Saeed Al-Khudri, padahal pada kenyataannya yang dimaksud adalah Al-Kalbi.

Dia menyatakan lebih lanjut: “Tidak diperbolehkan menulis narasinya kecuali karena kagum tentang mereka.”

Dan kemudian dia mengaitkan dari Khalid Al-Ahmar bahwa ia berkata: “Al-Kalbi berkata kepada saya: Atiya berkata kepada saya: Aku telah memberikan kamu kunya Abu Saeed, sehingga aku berkata:. Abu Saeed menceritakan kepada kami”

Oleh karena itu, Abu Saeed dalam narasi ini bisa jadi sebenarnya Al-Kalbi dan bukan sahabat Nabi, yakni Abu Saeed Al-Khudri.

(5) Abu Sa’id: Ibnu Muhammad Al-Sae’b Al-Kalbi

Al-Suyuti berkata dalam Al-Itqan mengenai Tafsir Ibnu Abbas: “Dan rantai terlemahnya adalah jalan Al-Kalbi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas. Dan jika narasi tersebut dari Muhammad Ibn Marwan Al-Sadi, yang masih muda, ditambahkan maka ini adalah rantai kebohongan, dan cukup sering Al-Thalabi dan Al-Wahidi menceritakan melalui jalur itu. ”

Yaqut Al-Hamawi mengatakan dalam Mu’jam Al-Udaba tafsir at-Tabari: “Dan dia (Tabari) tidak menjadikan referensi untuk setiap Tafsir yang tidak dipercaya, karena ia tidak memasukkan dalam bukunya apa pun dari buku Muhammad Ibn Al- Sa’eb Al-Kalbi atau Muqatil bin Sulaiman atau Muhammad bin Umar Al-Waqidi karena mereka menciptakan kecurigaan (athina’) dalam pandangannya, dan Allah mengetahui yang terbaik. ”

Al-Bukhari menyebutkan dalam bukunya Tareekh Al-Kabir: “Muhammad Ibn Al Sae’b Abu Al-Nadhir Al-Kalbi telah ditinggalkan oleh Yahya Ibnu Saeed.” Ibnu Mahdi dan Ali mengatakan kepada kami: “Yahya Ibnu Saeed mengatakan kepada kami: dari Sufyan: Al-Kalbi mengatakan kepadaku: Abu Shalih mengatakan kepadaku: semua yang saya katakan adalah kebohongan “.

Al-Nasai mengatakan: “Ia tidak dipercaya dan hadisnya  seyogyanya tidak ditulis.”

Ahmad Ibn Haroon berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad Ibnu Hanbal tentang Tafsir Al-Kalbi.” Dia berkata: “Kebohongan”. Aku berkata: “? Apakah diperbolehkan bagi saya untuk melihat ke dalamnya” Dia berkata: “Tidak”

KESIMPULAN: Riwayat ini tidak memiliki kredibilitas sama sekali.

Buku-buku lain yang dikutip oleh Syiah berisi rantai perawi yang sama, seperti Asbab Al Nuzul oleh Imam Wahidi al Naysaburi:

أخبرنا أبو سعيد محمد بن علي الصفار قال: أخبرنا الحسن بن أحمد المخلدي قال: أخبرنا محمد بن حمدون بن خالد قال: حدثنا محمد بن إبراهيم الخلوتي قال: حدثنا الحسن بن حماد سجادة قال: حدثنا علي بن عابس عن الأعمش وأبي حجاب عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال: نزلت هذه الآية (يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك) يوم غدير خم في علي بن أبي طالب رضي الله عنه

Dalam Tafsir Dar al-Manthur Imam Suyuti, kita menemukan bahwa rantai yang sama dikutip:

# 6609 حدثنا ابى ثنا عثمان بن حرزاد, ثنا اسماعيل بن زكريا, ثنا علي بن عابس عن الاعمش ابني الحجاب, عن عطية العوفي عن ابى سعيد الخدري قال: نزلت هذه الاية يا ايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك في علي بن ابى طالب

Dan sama halnya dengan Imam al-Shawkani dalam Fath Al Qadir.

Intinya adalah bahwa tidak ada sumber yang benar-benar membuktikan argumen Syiah. Jika mereka lakukan, maka Anda akan melihat Syiah memberikan kutipan lengkap, tetapi mereka tidak bisa melakukan hal itu karena akan mengungkap kelemahan argumen mereka! Menyimpulkan masalah ini, maka tidak ada sumber terpercaya Sunni yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum.

Sebagaimana diketahui, bahwa peristiwa Ghadir Khum terjadi pada waktu yang dekat dengan wafatnya Nabi ketika seluruh Arabia telah ditundukkan oleh kaum Muslim di bawah bimbingan Nabi, termasuk orang-orang Kristen di Najran dan Yahudi di Yaman. Apa yang perlu ditakutkan oleh Nabi untuk memproklamasikan risalahnya ketika pengikut-pengikutnya telah meningkat ratusan kali lipat? Tidak akan masuk akal bahwa ayat ini telah diwahyukan pada saat puncak kekuasaan Nabi. Sebaliknya, ayat ini diturunkan pada tahap awal era kenabian ketika Islam masih berjuang untuk bertahan hidup yang dikelilingi oleh banyak musuh.

 

APAKAH KEJADIAN GHADIR KHUM MERUPAKAN ASBABUN NUZUL AYAT 5:3?

Al-Islam.org says

“Revelation of Qur’anic Verse 5:3

Immediately after the Prophet [s] finished his speech, the following verse of the Qur’an was revealed:

“Today I have perfected your religion and completed my favour upon you, and I was satisfied that Islam be your religion.” (Qur’an 5:3)

The above verse clearly indicates that Islam without clearing up matter of leadership after Prophet [s] was not complete, and completion of religion was due to announcement of the Prophet’s immediate successor.

source: http://www.al-islam.org/ghadir/incident.htm

Ini adalah satu lagi pemalsuan Syiah: Alquran ayat 05:03 (“hari ini aku telah menyempurnakan agamamu …”) diwahyukan pada akhir Khotbah Perpisahan di puncak Gunung Arafat. Fakta ini dilaporkan dalam Hadis yang diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, al-Sunan, dan lain-lain:

 “Ayat ini (yaitu ‘Hari ini aku telah menyempurnakan agamamu …’) diturunkan pada hari Jumat, hari Arafat …”

Saat itu, setelah semuanya, Khotbah Perpisahan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu wajar untuk mengasumsikan bahwa itu adalah tempat yang tepat bagi agama untuk disegel. Bahkan, adalah karena alasan inilah kami menyangkal bahwa Ghadir Khum mungkin dalam kaitannya dengan Imamah Ali (رضى الله عنه). Ayat “Hari ini saya telah menyempurnakan agamamu …” sudah diturunkan dan tidak ada lagi yang bisa ditambahkan untuk diimani setelah ini. Jika Syiah bersikeras bahwa sesuatu yang sepenting Imamah Ali (رضى الله عنه) ditambahkan setelah ini, maka mana ayat dalam Al-Quran tentang hal ini?

Mengapa Al-Quran benar-benar diam dalam hal pencalonan Ali (رضى الله عنه)? Sesungguhnya, Allah akan menyebutkan hal ini dalam Al-Quran jika hal ini sesuatu yang diperintahkan secara ilahiah? Mengapa Allah yang semestinya menurunkan ayat 5:67 dan 5:03 yang semuanya tentang Ali (رضى الله عنه) dan Imamahnya, tetapi Allah tidak memilih untuk mencantumkan nama Ali dalam ayat-ayat dan menjadikannya jelas bagi kaum muslimin bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah pemimpin ilahiah yang ditunjuk berikutnya bagi kaum muslimin? Untuk menambah lebih banyak kebingungan mengenai masalah ini, tidak satu pun dari ayat-ayat ini berbicara tentang Imamah atau Khilafah sama sekali. Hal ini benar-benar menakjubkan bagaimana mungkin Syiah selalu mengatakan bahwa hal ini dan ayat Al-Qur’an ini mengacu pada Imamah Ali (رضى الله عنه), namun Allah  sendiri tidak pernah mengatakan demikian.

ShiaChat Member says

“Ghadir Khumm was a central location, a source of water that represented the last place where the people from different locations were together before splitting up on their separate ways to go home. It was the last moment during the hajj when indeed EVERYONE was present.”

Ghadir Khum adalah suatu lokasi yang hanya bagi Muslim yang menuju ke arah utara, baik ke Madinah atau yang melewati Madinah ke tempat seperti Suriah. Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, bahwa Ghadir Khum itu terletak di antara Mekkah dan Madinah; Ghadir Khum terletak sekitar 250 km dari Mekah. Memang mungkin merupakan tempat berhenti umum bagi sebagian umat Islam yang ke Utara, tetapi bagaimanapun, bukan lokasi pemberhentian bagi umat Islam yang menuju ke arah lain, seperti ke Selatan Mekah ke Taif atau Yaman.

Apakah masuk akal logis bahwa orang-orang Mekah perlu melewati Ghadir Khum pada “perjalanan kembali” mereka ke Mekkah setelah haji? Apakah mereka belum berada di Mekkah, kota asal mereka? Kaum muslimin Mekah akan mengakhiri haji mereka di Mekkah, dan kaum Muslim Madinah akan pergi ke rumah mereka di Madinah, berhenti di Ghadir Khum tanpa ditemani kaum muslimin Mekah yang mereka tinggalkan di Mekah. Hal yang sama dapat dikatakan bagi orang-orang Yaman, Taif, dll. Sesungguhnya, semua muslim dari semua kota-kota besar tidak termasuk yang mendengar pidato nabi di Ghadir Khum, dan ini sangat aneh: Jika seandainya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah, maka semestinya Beliau akan melakukan hal ini di depan seluruh kaum muslimin dari Mekah, Taif, Yaman, dll.

Bahkan, pendebat Syiah telah secara akut menyadari fakta ini dan itulah mengapa mereka bersikeras mengatakan kepada orang-orang bahwa Ghadir Khum adalah tempat dimana seluruh umat Islam menuju tempat tersebut sebelum berpisah untuk kembali ke rumah dan oleh karena itu Ghadir Khum dialamatkan kepada seluruh Muslim. “Fakta” ini hanya dipercaya oleh orang-orang yang tidak tahu yang tidak peduli pada peta dan benar-benar mencari tahu di mana lokasi Ghadir Khum ini. Setelah seseorang mengeluarkan peta, maka menjadi sangat jelas betapa bohongnya klaim Syiah tersebut; pada kenyataannya, hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang hadir di Ghadir Khum (yaitu orang-orang menuju Madinah).

Berdasarkan pada jarak dari Mekah ke Ghadir Khum, maka kami memastikan bahwa jauh lebih bisa diterima akal bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) adalah mengoreksi kelompok tertentu umat Islam (yaitu para prajurit dari Madinah yang telah dikirim ke Yaman) daripada dialamatkan kepada massa umum kaum muslimin. Pidato Ghadir Khum ditujukan terutama untuk kelompok orang yang telah mengecam Ali (رضى الله عنه), dan itulah mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak memasukkan masalah ini dalam pidato Khotbah Perpisahan pada Haji Terakhir di depan massa Muslim yang lebih banyak dan lengkap.

The Thaqalayn Muslim Association says

“An Appeal to Common Sense:

Allah, the All-Knowing, describes the sublime character of the Prophet Muhammad (peace be upon him and his progeny) as follows:

“Certainly a Messenger has come to you from among yourselves; grievous to him is your falling into distress, excessively solicitous respecting you; to the believers (he is) compassionate… ” [9:128]

The Prophet (peace be upon him and his progeny) was an extremely kind-hearted and compassionate. He always took every effort to ensure the well-being and comfort of his followers, and was never known to impose any extra burden or hardship upon others. He was even known to shorten his prayers upon hearing the voice of a baby crying. It is impossible to infer that the Prophet, who was sent as “a mercy unto the worlds” had ordered his followers to sit in the burning heat of the Arabian desert, without any shade, for several hours, only to announce to them that ‘Ali ibn Abi Talib was his “friend.”

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

ShiaChat Member says

“why do you think Muhammad stopped 60 000 people in the middle of the desert months before he knew he was going to die? To say, “ya know, Ali is my buddy?!”

Pada kenyataannya, statement Syiah di atas telah mengangkat masalah yang harus mereka jawab sendiri. Kami ingin mengajukan pertanyaan yang sama persis: mengapa Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله وسلم) secara tidak masuk akal memaksa penduduk Mekah untuk keluar pergi sejauh 250 km ke lubang air Ghadir Khum yang terletak di tengah padang pasir? Mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memaksa Rakyat Taif untuk pergi ke arah berlawanan (Utara) dari rute perjalanan pulang yang sebenarnya (ke arah Selatan)? Syiah yang tinggal Taif sekarang yang melakukan perjalanan ke Mekah, setelah menyelesaikan Haji, kemudian mereka akan kembali ke Taif. Mereka tidak merasa perlu untuk melakukan perjalanan 250 km ke Ghadir Khum dan kemudian berbalik arah melakukan perjalanan 250 km lagi kembali ke Mekah dan baru kemudian ke Taif di sebelah Selatan, sebuah perjalanan tambahan sia-sia yang akan menambah waktu beberapa minggu!

Sebaliknya, apa yang lebih mungkin adalah bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan Muslim yang menuju Madinah berhenti di lubang air Ghadir Khum untuk menyegarkan diri beristirahat. Di sana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) masih mendengar orang mengkritik Ali (رضى الله عنه) lagi walaupun sebelumnya Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah memperingatkan mereka. Oleh karena itu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ditujukan kepada mereka semua yang ada di Ghadir Khum, mendesak mereka untuk menjadikan Ali (رضى الله عنه) sebagai teman tercinta. Perlu dicatat bahwa Muslim yang menuju ke Madinah umumnya akan berhenti di Ghadir Khum karena merupakan sumber mata air, tempat itu adalah pemberhentian sementara dalam perjalanan ke Madinah, di mana umat Islam akan beristirahat untuk sementara dan selama istirahat tersebut Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memperingatkan mereka setelah sekelompok Muslim mengkritik Ali (رضى الله عنه).

The Thaqalayn Muslim Association says

“Laudation from the Muslims

After his speech, the Messenger of Allah asked every body to give the oath of allegiance to ‘Ali (عليه السلام) and congratulate him. Among the first Muslims to congratulate ‘Ali were ‘Umar and Abu Bakr, who said: “Well done, O son of Abu Talib! Today you have become the leader (Mawla) of all believing men and women.”

[Found in Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Tafsir al-Kabir by Fakhrudeen al-Razi, Kitabul Wilayah by at-Tabari, and many others]

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Ini adalah propaganda Syiah yang khas dan klasik, mereka akan mengatakan hal-hal seperti “itu ada di buku kamu sendiri” dan kemudian secara tidak sopan megutip buku-buku kami tetapi sambil menyuntikkan maksud mereka sendiri ke dalamnya. Apa yang ditemukan dalam teks laporan tersebut hanyalah bahwa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi mawla (teman tercinta) untuk semua Muslim, tidak berisi laporan bahwa Umar (رضى الله عنه) membai’at Ali (رضى الله عنه). Ali (رضى الله عنه) sedang dikritik keras oleh anak buahnya dan dalam suasana ini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) membela Ali (رضى الله عنه) dan memberitahu Muslim bahwa mereka tidak boleh membenci Ali (رضى الله عنه) namun mencintainya.

Bahkan, argumen Syiah tersebut lebih tidak masuk akal. Jika Umar (رضى الله عنه) dan kaum Muslim yang ada di situ berjanji setia (baya’ah) kepada Ali (رضى الله عنه) dan berkata “hari ini Anda telah menjadi pemimpin …”, lalu bagaimana dengan kepemimpinan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم)? Kata kunci di sini adalah “hari ini” dan “Anda telah menjadi”, yang berarti bahwa Ali (رضى الله عنه) pada saat itu Mawla. Jika kita mengambil definisi Mawla itu adalah Imam atau Khalifah, maka ini berarti bahwa Ali (رضى الله عنه) pada saat itu Imam/ Khalifah kaum muslimin dan bukanya Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله وسلم). Tentunya, umat Islam tidak boleh memiliki dua penguasa pada saat yang sama, dan ini dinyatakan pada Hadits Sunni dan Syiah.

Semestinya, jika Umar (رضى الله عنه) benar-benar memberi selamat kepada Ali (رضى الله عنه) sebagai calon Khalifah berikutnya, maka ia akan mengatakan seperti ini: “Selamat, wahai Ali bin Abi Thalib! Anda akan segera menjadi khalifah dari seluruh muslimin”. Atau mungkin: “Selamat, wahai Ali bin Abi Thalib! Anda dinominasikan untuk satu hari menjadi (future tense) Khalifah seluruh Muslim”. Dia tentu tidak akan berkata: “Selamat… hari ini Anda telah menjadi pemimpin”.

Pemahaman yang lebih tepat perihal ucapan selamat yang diberikan oleh Umar (رضى الله عنه) ini adalah bahwa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi teman yang terkasih dari semua muslimin. Suasana yang demikianlah, yaitu dimana orang telah mengkritik dan menyakiti Ali (رضى الله عنه), sehingga Umar bin al-Khattab (رضى الله عنه) pergi untuk menghibur dia dan mengatakan kata-kata yang baik kepadanya. Pembaca yang cerdik akan mencatat bahwa Umar (رضى الله عنه) sangat baik dalam pujiannya kepada Ali (رضى الله عنه), dan ini bertentangan dengan sudut pandang Syiah yang memberikan gambaran adanya konflik antara Umar (رضى الله عنه) dan Ali (رضى الله عنه), yaitu penggambaran Umar (رضى الله عنه) sebagai penindas/ perampas hak Ali (رضى الله عنه). Apakah kata-kata tersebut nampak sebagai ucapan dari seseorang yang membenci Ali (رضى الله عنه) sebagai klaim Syiah?

Jika kita menerjemahkan kata “mawla” di sini berarti “pemimpin”, lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) mem-baya’ah kepada Ali dengan begitu penuh kasih dengan mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه)? Syiah sebelumnya mengklaim bahwa Allah telah menurunkan ayat 5:67 untuk mendorong Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) tanpa rasa takut akan pembalasan dari orang-orang:

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Al-Quran, 5:67).

Syiah mengatakan bahwa “orang-orang (yang mengganggu)” ini adalah para sahabat khususnya Abu Bakar (رضى الله عنه) dan Umar (رضى الله عنه). Jika ayat ini benar-benar diungkapkan tentang Umar (رضى الله عنه)-dan jika Umar (رضى الله عنه) benar-benar berusaha untuk merebut kekhalifahan Ali (رضى الله عنه)-lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) mengucapkan selamat kepada Ali (رضى الله عنه) pada pencalonannya? Paling tidak, kita mengharapkan bahwa orang tersebut akan enggan memberikan Baya’ah, atau sama sekali tidak mau. Tapi di sini, kita melihat bahwa Umar (رضى الله عنه) adalah yang pertama memberi selamat kepada Ali (رضى الله عنه) berkaitan dia menjadi mawla. Intinya adalah bahwa jika kata “mawla” berarti pemimpin, maka Umar (رضى الله عنه) tidak akan mengucapkan selamat kepadanya. Pujian yang dikatakan oleh Umar (رضى الله عنه) ini disebarkan secara luas kepada masyarakat, lalu mengapa Umar (رضى الله عنه) harus melakukan hal itu, yaitu mendukung Ali (رضى الله عنه) jika ia benar-benar melawan dia atau jika “mawla” benar-benar berarti “pemimpin”? Umar (رضى الله عنه) menginterpretasikan “mawla” adalah “sahabat tercinta” dan bukan “pemimpin” dan ini adalah makna yang dipahami oleh orang-orang waktu itu.

The Thaqalayn Muslim Association says

“The Meaning of Mawla

The schools of thought differ on the interpretation of the word “Mawla.” In Arabic, the world “Mawla” has many meanings. It can mean master, friend, slave, or even client. If a word has more than one meaning, the best way to ascertain its true connotation is to look at the association (qarinah) and the context. There are scores of “associations” in this hadith which clearly show that the only meaning fitting the occasion can be “master”. Some of them are as follows.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Kami pasti setuju dengan penulis Syiah ini, bahwa ada banyak arti yang berbeda untuk kata “mawla” dan kami senang bahwa mereka setidaknya mengakui adanya banyak arti. Dari sinilah harapan kami bahwa Syiah awam setidaknya mengakui kenyataan ini dalam berdebat, bukannya keras kepala sehubungan dengan pandangan bahwa mawla hanya bisa berarti “pemimpin”. Meskipun yang kita kutip di atas dari sebuah artikel propaganda Syiah, setidaknya kami tanpa diragukan lagi setuju dengan statement pendahuluan tersebut, yaitu bahwa:

1)     mawla memiliki banyak arti yang berbeda.

2)     Kita harus melihat konteks dimana kata itu dikatakan/ digunakan untuk memastikan artinya.

Namun, kami tidak setuju dengan pasal yang menyatakan bahwa mawla di sini harus diterjemahkan sebagai „pemimpin“ atau „tuan“. Mari kita lohat artikel ini point demi pint, Insya-Allah:

SalamIran.org says

“In addition, there is also what (the Prophet), peace be on him and his family, said on the day of Ghadir Khumm. The community had gathered to listen to the sermon (in which he asked):

“Am I not more appropriate for authority (awla) over you than yourselves?”

“Yes”, they answered.

Then he spoke to them in an ordered manner without any interruption in his speech:

“Whomsoever I am the authority over (mawla), Ali is also the authority over.”

source: http://www.salamiran.org/Religion/Imam1/index.html

The Thaqalayn Muslim Association says

“First: The question which the Holy Prophet asked just before this declaration: “Do I not have more authority (awla) upon you than you have yourselves?” When they said: “Yes, surely,” then the Prophet proceeded to declare that: “Whoever whose mawla I am. ‘Ali is his mawla.” Without doubt, the word “mawla” in this declaration has the same meaning as “awla” (having more authority upon you).

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Justru artinya tidak seperti itu. Awla dan mawla adalah dua kata yang berbeda!

Ketika menjelaskan dirinya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan:

“Apakah aku tidak lebih sesuai menjadi seorang Awla (otoritas) atas kamu dari pada dirimu sendiri?”

Dan ketika menggambarkan Ali (رضى الله عنه), tiba-tiba Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) beralih mengucapkan:

“Barangsiapa yang saya adalah mawla-nya, maka Ali ini juga mawla-nya.”

Apapun alasannya, dengan adanya perubahan kata tersebut (AULA vs MAWLA) justru sepenuhnya meniadakan klaim Syiah!

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) semestinya hanya cukup mengatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah Awla atas orang-orang, tapi dia sebagai gantinya justru mengatakan mawla. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyatakan pertama bahwa Allah memiliki kewenangan atas orang-orang, kemudian ia mengatakan bahwa ia sendiri memiliki kewenangan atas orang-orang, tapi kemudian tiba-tiba ia beralih dan menggunakan kata “mawla” untuk Ali (رضى الله عنه), meskipun dia telah menggunakan kata “Awla” untuk Allah dan dirinya sendiri.

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyebutkan bahwa ia memiliki kewenangan atas orang-orang beriman sehingga mereka akan mendengarkan dia dan melakukan perintahnya untuk mencintai Ali (رضى الله عنه) seperti keinginannya. Kaum Muslimin di bawah komando Ali telah membenci dia, sehingga Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menggunakan pengaruhnya/ kewenangannya untuk membuat mereka mencintai Ali (رضى عنه الله) dan menjadikan dia sebagai teman setianya.

Tampaknya Syiah sedang mencengkeram sedotan sambil mencoba menyuntikkan makna Imamah atau Khilafah ke dalam kata “mawla”. Dalam rangka membangun pernyataan mereka, mereka akan memanfaatkan ayat-ayat Al-quran yang sama sekali tidak ada relevansinya. Bagaimanapun kelihatan bagusnya hasil kerja Syiah, tidak ada kebenaran apapun di dalamnya, karena di sini, Syiah ingin agar kita percaya bahwa Awla sama dengan mawla. Syiah hanya perlu selangkah lagi untuk mengklaim bahwa Ali (رضى الله عنه) haruslah seorang Wali karena kata-kata “Ali” dan “Wali” begitu mirip.

The Thaqalayn Muslim Association says

“Second: The following prayer which the Holy Prophet uttered just after this declaration: “O Allah! Love him who loves ‘Ali, and be the enemy of the enemy of ‘Ali; help him who helps ‘Ali, and forsake him who forsakes ‘Ali.”

This prayer shows that ‘Ali, on that day, was entrusted with a responsibility which, by its very nature, would make some people his enemy; and in carrying out that responsibility he would need helpers and supporters. Are helpers ever needed to carry on a friendship?

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Al-Islam.org says

“Glitters of Ahadith Relevant to the Ghadir Incident

“To whomsoever I have been a master, this `Ali is [henceforth] his master; O Lord! Befriend whoever befriends him, and be the enemy to whoever antagonizes him.”

source: http://al-islam1.org/murajaat/54.htm

Penulis Syiah dari artikel tersebut telah dengan jelas menyatakan bahwa dalam rangka untuk mencari tahu apa makna dari “mawla”, kita memerlukan petunjuk dari sisi konteks kalimatnya. Dan ia menunjukkan kepada kami kalimat berikutnya di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan: “Ya Allah! Bertemanlah dengan siapa yang berteman dengan dia, dan menjadilah musuh kepada siapapun yang memusuhi dia. “.

Ini adalah hujjah (bukti) kuat terhadap klaim Syiah! Kata yang digunakan adalah “berteman” atau “mencintai” yang berarti bahwa mawla dalam konteks ini sedang digunakan untuk merujuk kepada “sahabat tercinta”. Adalah jelas dari sini bahwa “mawla” di sini menunjuk pada cinta dan kedekatan hubungan, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan kata dari Mu`adat (permusuhan). Definisi kata “mawla” inilah yang paling masuk akal sesuai konteksnya, karena Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) segera mengatakan “Ya Allah, menjadilah teman dengan siapa saja yang berteman dengan dia dan menjadilah musuh dengan siapa saja yang memusuhi dia.”

Bagaimana bisa diterjemahkan dengan makna lain ketika kita harus mempertimbangkan bahwa tambahan kalimat berikutnya adalah tentang berteman dengan dia, bukan tentang diperintah oleh dia atau sesuatu yang seperti itu? Hal ini sebenarnya sulit dipercaya bahwa Syiah bisa menerjemahkan kata itu dengan makna Khilafah dan Imamah ketika konteksnya tidak ada hubungannya dengan itu.

Adapun bagian ini:

The Thaqalayn Muslim Association says

“This prayer shows that ‘Ali, on that day, was entrusted with a responsibility which, by its very nature, would make some people his enemy; and in carrying out that responsibility he would need helpers and supporters.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Hal di atas hanyalah semata-mata dugaan dan imajinasi Syiah saja. Imajinasi Syiah telah dikenal tidak mengenal batas dan dia (Syiah) dapat membaca (mereka-reka?) suatu teks sesuatu hal yang menakjubkan. Seolah-olah Syiah memiliki jenis kemampuan khusus atau kacamata super yang hanya dia yang dapat membaca apa yang manusia normal tidak bisa membacanya, dan ini adalah sepasang kacamata yang dia gunakan ketika membaca baik ayat-ayat Al-Quran maupuan Hadits. Mungkin alien dari Mars yang akan menyerang dan mereka membenci Ali (رضى الله عنه), jadi karena inilah Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan ini! Dan lihatlah, tulisan kata “alien” yang memiliki kata “Ali” di dalamnya! Syiah lupa pada fakta sebelumnya bahwa para sahabat yang menjadi pasukannya telah tunduk kepada komnado Ali ketika menyerang Yaman dan berhasil. Jadi tidak ada sama sekali kebencian terhadap kepemimpinannya, tetapi kebencian kepada Ali muncul akibat kebijakannya terhadap harta rampasan perang.

Tidak ada perlunya menanggapi tebakan dan dugaan Syiah tersebut ketika kita sudah tahu mengapa Ali (رضى الله عنه) memiliki banyak musuh. Ada beberapa riwayat tentang bagaimana Ali (رضى الله عنه) telah marahi tentaranya dengan mengambil kembali barang-barang rampasan perang mereka dan orang-orang ini mengeluhkan tentang Ali (رضى الله عنه). Dalam suasana seperti itulah Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin membela Ali (رضى الله عنه) dan mendesak orang-orang untuk mencintai dan berteman dengan Ali (رضى الله عنه) karena Ali (رضى الله عنه) harus dicintai oleh seluruh umat Islam, dan memang semua Ahlus Sunnah mencintai Ali (رضى الله عنه) sampai hari ini.

Sejauh gagasan yang tidak masuk akal yang mengatakan bahwa teman itu bukanlah penolong, maka kami bertanya-tanya, teman seperti apa yang dipunyai oleh penulis Syiah ini? Bagian yang sangat penting dari persahabatan/ pertemanan adalah berkisar sekitar menolong, memberikan dukungan, dll. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan dalam banyak hadits bahwa Muslim harus menolong saudara-saudara, teman, tetangga, mereka dll.

The Thaqalayn Muslim Association says

“Third: The declaration of the Holy Prophet that: “It seems imminent that I will be called away (by Allah) and I will answer that call.” This clearly shows that he was making arrangements for the leadership of the Muslims after his death.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Bagaimana bisa jelas? Hal itu tidak jelas sama sekali. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud seperti itu, lalu kenapa dia tidak (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan hal itu? Mengapa harus Syiah yang menjadi juru bicara Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) yang selalu mengatakan kepada kita bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud begini dan begitu meskipun Nabi hanya berkata begini dan begitu? Tentunya, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bisa saja mengatakan “Saya akan mati dan karena itu saya khawatir tentang siapa yang akan menjadi penerus saya dan inilah sebabnya mengapa saya mencalonkan Ali untuk menjadi khalifah sesudah aku.” Namun sebaliknya, kita harus menebak dan percaya kepada Syiah bahwa inilah apa yang benar-benar Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) maksudkan, dan kita semua tahu bagaimana kreatifitas imajinasi Syiah ini.

Bantahan terhadap klaim Syiah ini adalah pada kenyataannya bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan sesuatu yang mirip di atas dalam Khotbah Perpisahan di puncak Gunung Arafat, yang memulai pidatonya dengan mengatakan:

“Wahai manusia, pinjamkan kepada saya telinga dengan penuh perhatian, karena saya tidak tahu apakah setelah tahun ini, saya masih akan ada di antara kalian lagi.” (Baihaqi)

Namun, setelah itu Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) sama sekali tidak menyebutkan kepemimpinan kaum muslimin dalam pidato tersebut. Jadi kami melihat bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah mengemukakan kata pendahuluan tersebut karena ia akan meninggal, dan ini tidak berarti bahwa ia sedang berbicara tentang kepemimpinan. Bahkan, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) khawatir tentang keluarganya setelah kematiannya, ini adalah emosi dan kekhawatiran manusia normal. Setiap orang dari kita akan khawatir tentang apa yang akan terjadi pada anak-anak, istri atau kerabat dekat kita setelah kita mati. Ini adalah kekhawatiran umum ketika manusia di ranjang kematian mereka. Dan kekhawatiran dalam kasus Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ini meningkat karena ada Muslim tertentu yang mengkritik dan (secara emosional) menyakiti sepupunya.

The Thaqalayn Muslim Association says

“Fourth: The congratulations of the Companions and their expressions of joy do not leave room for doubt concerning the meaning of this declaration.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Kami telah membahas hal ini sebelumnya. Syiah sebelumnya mengklaim bahwa Allah telah menurunkan ayat 5:67 untuk mendorong Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Ali (رضى الله عنه) tanpa rasa takut akan gangguan dari orang-orang:

 “Hai Nabi! Wartakan pesan yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak, maka kamu tidak memenuhi dan menyatakan risalah-Nya. Allah akan melindungi kamu dari (gangguan) manusia. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir ” (Quran, 5:67).

Dan Syiah mengatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang pertama-tama menentang pencalonan Ali (رضى الله عنه). Namun sekarang, artikel tersebut mengklaim bahwa para sahabat telah “mengekspresikan rasa sukacita”. Apakah ini tidak kontradiktif? Jika orang-orang dan para sahabat begitu menentang pencalonan Ali sehingga Allah telah menurunkan sebuah ayat Al-Quran mengenai hal ini, maka mengapa mereka mengucapkan selamat kepada Ali (رضى عنه الله) dan dengan “ekspresi sukacita”? Ini sungguh kontradiksi yang sangat besar, tetapi tak diragukan lagi itu adalah hasil tak terelakkan untuk melanjutkan setiap argumen – tidak peduli seberapa palsunya – dalam rangka memperkuat argumen seseorang. Apa yang terjadi adalah bahwa propagandis Syiah melakukan hal seperti ini begitu sering, ia lupa argumen sebelumnya dan tanpa disengaja terdapat dua klaim yang saling bertentangan.

Sungguh aneh bagaimana Syiah mencoba untuk mengecilkan kebesaran dari pernyataan sebagai “sahabat tercinta”: kami sering melihat Syiah yang mengatakan hal-hal seperti “tentu tidak mungkin berarti ‘hanya sekedar teman'”. Kami tidak mengerti apa yang mereka maksudkan dengan “hanya sekedar“ teman. Pertama-tama, bukan teman lama, tetapi teman tercinta, menunjukkan kasih sayang dan cinta yang mendalam. Nabi Ibrahim (عليه السلام) disebut sebagai “Khaleel-Allah” yang berarti “sahabat Allah” dan julukan ini diberikan kepadanya oleh Allah. Ini adalah julukan istimewa besar, dan tak seorang pun akan berkata “hanya sekedar teman” di sini. Dinyatakan sebagai sahabat Allah bukanlah hal yang kecil, dan juga bukan suatu hal yang kecil/ remeh disebut sebagai “kekasih ummat”.

The Thaqalayn Muslim Association says

“…only to announce to them that ‘Ali ibn Abi Talib was his “friend.”

Such a claim is yet more absurd when one considers the fact that ‘Ali already had an exalted status in comparison with the other Muslims.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Benar, bahwa Ali (رضى الله عنه) telah memiliki status mulia, tetapi adalah hal yang konyol jika mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) hanya dapat memuji seseorang sekali atau dua kali.

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) meninggikan status Umar (رضى الله عنه) pada berbagai kesempatan, namun kita tidak akan pernah menemukan salah satu dari Sunni yang meragukan keaslian pujian Nabi hanya karena ia telah memuji sebelumnya. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) sering memuji kepada orang-orang layak menerima pujian, dan Ali (رضى الله عنه) adalah salah satu individu tersebut. Dan meskipun Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) telah meninggikan Ali (رضى الله عنه) dalam berbagai cara dan kesempatan sebelumnya, maka di sini ia memberinya kehormatan menjadi dicintai umat.

Selain dari itu, kejadian ini harus dilihat dalam konteks yang sesuai. Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menanggapi kelompok tertentu yang membenci Ali (رضى الله عنه) dan menjadi musuh-musuhnya. Menanggapi kejadian ini, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mendesak umat Islam untuk mencintai Ali (رضى الله عنه). Oleh karena itu, apa yang dikatakan di Ghadir Khum harus diletakkan pada konteksnya: seandainya Sahabi lain telah dihina dan dibenci, maka kemungkinan Nabi akan memberikan pidato seperti itu juga untuk Sahabi tersebut. Hal ini tentu saja tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti untuk Imamah atau Khilafah dari Sahabi tersebut.

Al-Islam.org says

“Number of Companions in Ghadir Khumm

Allah ordered His Prophet [s] to inform the people of this designation at a time of crowded populous so that all could become the narrators of the tradition, while they exceeded a hundred thousand.

Narrated by Zayd b. Arqam: Abu al-Tufayl said: “I heard it from the Messenger of Allah [s], and there was no one (there) except that he saw him with his eyes and heard him with his ears.”

source: http://al-islam1.org/murajaat/54.htm

Syiah sering membawa narasi ini untuk membuktikan entah bagaimana bahwa semua Muslim seolah-olah hadir di Ghadir Khum. Namun, kami mendesak para pembaca untuk tidak bias ketika melihat teks yang hanya mengatakan: “tidak ada seorangpun (di sana) kecuali bahwa ia melihat dia dengan matanya dan mendengarkan dia dengan telinganya.” Sederhananya adalah bahwa semua yang hadir di Ghadir Khum mendengar Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang ia katakan tentang Ali (رضى الله عنه). Kami sudah sepakat bahwa orang-orang di Ghadir Khum sedang diberi arahan oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), tetapi masalahnya adalah bahwa hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang melewati Ghadir Khum pada hari itu.

PENDIRIAN CUCU ALI, AL-HASAN BIN HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB (رضى الله عنه)

Diriwayatkan dalam “Al-Tabaqat Al-Kubra” Ibnu Saad :

Seorang Rafidhi (orang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar) berkata kepadanya (Al-Hasan bin Hasan), “Bukankah Rasulullah berkata kepada Ali: ‘Jika saya mawla seseorang, Ali adalah mawla-nya?” ”

Dia (Al Hasan) menjawab, “Demi Allah, jika ia bermaksud bahwa hal itu adalah kepemimpinan dan pemerintahan, maka semestinya dia akan lebih eksplisit kepada kamu dalam menyatakan hal itu, sama seperti ketika ia secara eksplisit kepada kamu tentang Salat, zakat dan ibadah haji ke Rumah suci. Ia semestinya akan mengatakan kepada kamu, ‘Wahai manusia! Ini adalah pemimpin kamu setelah saya ‘Rasulullah memberikan nasihat terbaik kepada orang-orang (yaitu dengan arti yang jelas).. ”

(Sumber: Al-Tabaqat Al-Kubra, Volume 5)

Pujian serupa untuk sahabat yang lain.

Fakta bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai “mawla” (teman tercinta) tidak dapat digunakan sebagai bukti pencalonan Ali (رضى الله عنه) oleh Nabi sebagai khalifah. Banyak sahabat lain yang dipuji dengan cara yang serupa, namun tidak seorang pun memahami kalimat tersebut bermakna bahwa sahabat lain ditetapkan secara ilahiah sebagai Imam yang tidak bersalah. Mari kita ambil contoh Hadis mengenai dengan Umar bin Al-Khattab (رضى الله عنه).

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Kebenaran, setelah saya, adalah dengan Umar dimanapun dia berada” (HR. ibn Abbas)

Namun, tidak ada yang menggunakan hadits ini untuk mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mencalonkan Umar (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, bahkan Umar (رضى الله عنه) sendiri tidak menafsirkan seperti itu, dan dia sendiri yang dicalonkan oleh Abu Bakar (رضى الله عنه) untuk menjadi khalifah penggantinya. Dalam hadis lain, kami membaca:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Jika seorang Nabi menggantikan saya, maka itu adalah Umar ibn al-Khattab.” (Sunan al-Tirmidzi)

Jika seandainya hadis di atas tentang Ali (رضى الله عنه), tentu Syiah akan mengutipnya di kiri, kanan, dan tengah, tetapi pemahaman yang rasional Ahlus Sunnah tetap mempertimbangkan berbagai hadis lain di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memuji banyak sahabat dengan berbagai cara. Ini semua adalah bukti untuk meninggikan sahabat tetapi hadits-hadits tersebut tidak berarti pencalonan Nabi untuk kekhalifahan dan hadits-hadits tersebut tidak bermakna pengangkatan secara ilahiah oleh Allah. Dalam hadis lain, kami membaca:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Yang pertama yang padanya kebenaran akan berjabat tangan dengan Umar …” (diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’b)

Dan dalam hadis lain, kami membaca:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Terdapat bangsa-bangsa sebelum kamu yang terinspirasi, dan jika ada satu diantara umatku maka ia adalah Umar.” (Riwayat Abu Hurrairah)

Oleh karena itu, berdasarkan Hadis ini dan banyak Hadis serupa lainnya yang dikatakan kepada sahabat lain, kami melihat bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) memanggil Ali (رضى الله عنه) menjadi “mawla” (teman tercinta) bukan merupakan pencalonan Nabi untuk menjadi Khilafah, karena orang lain juga dipuji dengan cara serupa.

Nyatanya, apa yang Syiah lakukan adalah menolak semua Hadis yang terkait dengan orang-orang yang tidak mereka sukai dan hanya menerima hadits-hadits yang terkait dengan Ali (رضى الله عنه). Apa yang agak lucu dan aneh adalah bahwa Syiah tidak peduli untuk memeriksa Isnad, tetapi bagi Shia suatu Hadis akan otentik jika berisi pujian kepada Ali (رضى الله عنه) dan suatu hadits adalah palsu jika memuji sahabat lainnya. Ini adalah “ilmu” Hadits dari Syiah, dan memang tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Syiah akan menerima suatu hadits dengan perawi Mickey Mouse jika memuji Ali (رضى الله عنه), dan mereka akan menolak hadits yang diriwayat melalui Ali (رضى الله عنه) jika hadits itu memuji Abu Bakar (رضى الله عنه), Umar (رضى الله عنه), dll

Sekarang mari kita lihat kalimat selanjutnya pada Hadits tersebut, yaitu sebagai berikut:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Jadikan teman siapa saja yang berteman dengan dia (yaitu Ali), dan musuhi siapa saja yang berlawanan dengan dia.”

Syiah akan menggunakan hadits ini untuk mengkritik para sahabat yang berbeda berpendapat dengan Ali (رضى الله عنه), namun apakah mereka tidak tahu bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) juga pernah mengatakan hal serupa kepada sahabat lainnya? Sebagai contoh, kami membaca Hadis berikut:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Siapa pun yang marah dengan Umar berarti marah dengan saya. Barangsiapa mengasihi Umar berarti mencintaiku” (At-Tabrani).

Bahkan, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan hal ini tidak hanya tentang Ali (رضى الله عنه) dan Umar (رضى الله عنه), tetapi tentang semua sahabatnya:

Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata: “Allah, Allah! Takut kepada-Nya sehubungan dengan sahabat saya! Jangan membuat mereka sebagai target setelah aku! Barangsiapa mencintai mereka (berarti) mengasihi mereka dengan cintanya bagi saya, dan barangsiapa membenci mereka (berarti) membenci mereka dengan kebenciannya bagi saya. Barangsiapa membawa permusuhan kepada mereka, (berarti) membawa permusuhan kepada saya, dan barangsiapa membawa permusuhan kepada saya, (berarti) membawa permusuhan kepada Allah. Barangsiapa membawa permusuhan kepada Allah akan binasa!”. (Diriwayatkan dari Abdallah ibn Mughaffal oleh Al-Tirmidzi, oleh Ahmad dengan tiga rantai baik dalam Musnad-nya, al-Bukhari dalam Tarikh-nya, al-Baihaqi dalam Shu`ab al-Iman dan lain-lain. Al-Suyuti menyatakan hadits tersebut hasan di Jami `al-Saghir # 1442).

Kata perpisahan

Syiah telah menjauhkan peristiwa Ghadir Khum dari konteksnya. Hadis Ghadir Khum tidak ada hubungannya sama sekali dengan Imamah atau Khilafah, dan jika tidak demikian, maka tidak ada yang menghalangi Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) untuk menyatakan dengan jelas dari pada menggunakan kata “mawla” yang dikenal oleh semua orang bermakna “sahabat tercinta”.

Lebih-lebih lagi, Ghadir Khum terletak 250 km dari Mekah: jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) bermaksud untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) maka semestinya dia akan melakukan hal itu pada pertemuan yang lebih besar di puncak Gunung Arafat selama Khotbah Perpisahan di depan semua kaum muslimin dari setiap penjuru kota.

Paradigma Syiah secara keseluruhan didasarkan pada ide sekilas dan mudah disangkal bahwa Ghadir Khum adalah lokasi sentral di mana semua umat Islam akan berkumpul bersama sebelum berpisah dan pergi ke rumah masing-masing. Padahal, hanya Muslim yang menuju ke Madinah yang akan melewati Ghadir Khum, bukan Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll.

Ratusan tahun yang lalu, massa Syiah dengan mudah bisa saja disesatkan karena banyak dari mereka tidak mempunyai peta untuk memeriksa di mana Ghadir Khum ini dan mereka hanya akan menerima mitos umum bahwa Ghadir Khum adalah tempat pertemuan bagi umat Islam sebelum mereka berpisah. Namun pada hari ini, di era informasi dan teknologi, peta yang akurat ada kentikan jari kita dan tidak ada orang yang berakal bisa dibodohi oleh mitos Syiah.

Kami telah menunjukkan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mencalonkan Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum sebagaimana klaim Syiah. Ini adalah pondasi keyakinan Syi’ah, yang tanpanya iman mereka tidak memiliki dasar apapun: jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak mencalonkan Ali (رضى الله عنه) menjadi khalifah, maka Syiah tidak bisa lagi mengklaim bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) atau Sunni merebut penunjukan ilahiah penugasan Ali (رضى الله عنه). Dan dengan itu, seluruh paham Syi’ah runtuh dengan sendirinya, karena jarak 250 km yang tidak diperhitungkan oleh Syiah yang memisahkan Ghadir Khum dari Mekah, telah memisahkan Syi’ah dari kebenaran.

Artikel ini saya terjemahan secara bebas dan ada yang diringkas dari artikel aslinya yang ditulis oleh: Ibn al-Hashimi, di http://www.ahlelbayt.com

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (9)

BAGIAN- 18

PENGUNGKAPAN SELANJUTNYA

Marilah sekarang kita klarifikasi lebih lanjut tentang isu tertentu.

1. Tolong lihat kembali buku harian Hur bin Abdur Rahman pada Bab 11.

Manusia istimewa ini adalah salah seorang gubernur Andalusia (Spanyol) selama pemerintahan Hazrat Umar bin Abdul Aziz (99 – 101 AH). Buku hariannya menceritakan kepada kita bahwa:

Hazraat Ali, Hasan dan Hussain secara berturut-turut adalah para gubernur Iraq. Hazraat Ali dan Hussain mengorbankan hidup mereka di kantor bergengsi tersebut. Integritas, kewaspadaan dan kompetensi mereka telah mengubah Irak yang pada masa kini sedang tidak beruntung menjadi sebuah surga di atas bumi. Ketika Jamshed Khurasani membunuh Hazrat Ali dan Jaban bin Harmuzan membunuh Hazrat Hussain, para komplotan Persia dengan gembira mengira bahwa mereka telah memberikan pukulan fatal kepada Kekhalifahan Islam dan bahwa Iraq akan jatuh ke pangkuan mereka. Namun ternyata sebaliknya, darah Hazraat Ali dan Hussain tidak tumpah dengan sia-sia.

Kemudian, para kurir yang berasal dari Damascus (kota besar Kekhalifahan) menceritakan bahwa pada tahun 100 AH Kufa, Basra dan… (tidak dapat dibaca) di Iraq adalah lebih makmur dibandingkan dengan Syria, Palestine dan Mesir.”

2. Meezanul Faris (Timbangan Persia) karangan Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi.

Kita sudah mencatat pada Bab 13 bahwa Hazrat Uthman menjadi Amirul Mu’mineen (Pemimpin orang-orang beriman) selama 12 tahun setelah kesyahidan Hazrat Umar pada tahun 23 AH. Selama masa pemerintahan Hazrat Usman sebagai Khalifah di Madinah, Hazrat Ali masih tetap sebagai gubernur Iraq yang ditetapkan oleh Kalifah dengan Koofa sebagai ibukota propinsi.

Sebuah buku yang bagus sekali, Meezanul Faris yang diterbitkan di Iran karangan Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi mempunyai dua bab yang terperinci yang menguraikan sebuah gambaran yang indah jaman Hazrat Usman yang dermawan. “Adalah sebuah model Negara dengan keadilan, persamaan hak, kedamaian, tenang, maju dan makmur yang patut dicontoh.” Buku Meezan menggunakan sumber masa lampau tentang sejarah Khilafat-Rashida (Kalifah yang dipandu). Banyak dari sumber ini telah ditemukan baru-baru ini di Istanbul dan Spanyol. Tidak terlalu mengejutkan, bahwa buku tersebut telah dibuang di Iran.

3. Dalaail-an-Nabuwwah Syedina Muhammad (Analisa Logis Kenabian Muhammad, Pemimpin kita) oleh Abdul Jabbar Fatimi

Sekarang kita mengacu kembali pada Bab 9. Hanya satu naskah tulisan tangan dari buku Abdul Jabbar Qaramati yang ada di Musium Istanbul.

Yang terhormat Pimpinan Dewan Konsultatif kita, Allama Zeeshan Qadri Naqshabandi telah mendapatkan kesempatan istimewa untuk melihat naskah buku unik ini. Pengarang dari naskah Arab ini, Abdul Jabbar Qaramati, sepertinya adalah seorang yang beriman dan benar-benar seorang pengagum Nabi yang agung. Meskipun demikian sekte ‘Qaramati” kemungkinan tidak lebih dari hanya sekedar kepercayaan yang diatributkan kepadanya untuk mencemari namanya, Abdul Jabbar nampak seperti orang yang sepenuhnya bebas dari semua sektarianisme.

Karena tinggal lama di Jordan, salah satu dari pembaca, Fouad Hoffmann (tidak ada hubungannya dengan Murad Hoffman), beliau mampu berbicara dan membaca Arab dengan fasih. Terjemahkan berikut ini adalah beberapa kutipan dari buku tersebut yang dicopy oleh Fouad Hoffmann:

“Apa yang bisa dijadikan sebagai sebuah argumentasi yang lebih untuk mendukung kebenaran dari Kenabian Muhammad (S) dibandingkan dengan fakta bahwa 250 tahun setelah Beliau meninggal, Beliau masih sebagai cahaya mercusuar bagi semuanya?”

“Ummah Muslimin mendapatkan hadiah seorang permata langka dalam pribadi yang terhormat Abu Bakr Siddiq. Salam hormat kepada Abu Bakr! Dialah yang menjaga Sistem tetap bersemangat setelah Nabi (S).”

“Salam hormat kepada Hazrat Umar- Ia memelihara Ummah Muslimin terhadap reaksi negatif atas malapetaka hilangnya Nabi dan penggantinya!”

“Salam hormat dalam kaitannya dengan Uthman yang dermawan, Uthman dua cahaya yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh yang terhormat Umar Farooq dari tahun 23 hingga 35 AH sedemikian baiknya sehingga Kekhalifahan tetap aktif bekerja dengan baik.” [Perhatikan hahwa dongeng yang dianggap terjadi tentang adanya pemberontakan sepanjang pemerintahan Hazrat Uthman secara pasti tidak dikemukakan oleh Qaramati. “ Tentang ”Dua cahaya” adalah julukan kepada Hazrat Uthman yang menunjukkan bahwa ia menikahi putri kedua Nabi yang agung setelah yang putri Nabi yang sebelumnya meninggal]

“Salam hormat kami kepada Ali Ibn Abi Talib- Ia masih tetap sebagai gubernur Iraq (13-40 AH), provinsi utama kami, yang dengan penuh kedamaian memimpin Kekhalifahan mulai dari tahun 35 hingga 40 AH.”

“Madinah, sebagai pusat Kekhalifahan, telah menjadi pusat kegiatan dari intrik (tipu daya) kaum Majusi dan Yahudi. Adalah strategi yang berpandangan jauh dari Hazrat Ali sehingga Beliau memindahkan ibukota negara Islam dari Madinah ke Koofa pada saat yang tepat.”

“Bahkan hingga hari ini (sekitar 280 AH) Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan.”

BAGIAN- 19-

PENUTUP

Sebuah Kebaikan- Sebuah Buku- Sebuah Permintaan

1. KEBAIKAN

Para pembacaku yang terhormat masih tetap melakukan suatu kebaikan yang besar dengan cara mengirimi saya buku-buku, tulisan dan artikel yang langka, yang diluar jangkauanku. Atas sikap yang baik ini, saya tetap merasa berhutang kepada mereka.

2. SEBUAH BUKU

Ad-Deen Wad-Daulah (Agama dan Negara)

Karangan Ali bin Sahl Raban, yang dditulis pada tahun 205 AH.

Ketika baris-baris sedang ditulis, saya menerima dari seorang wanita Arab di Madinah, Versi bahasa Inggris sebuah buku Arab yang langka, Ad-Deen Wad-Daulah.

Pengarangnya lahir pada tahun 160 AH yang berarti bahwa ia mendahului sejarawan yang sangat terkenal Tabari yang baru lahir 64 tahun kemudian, yaitu tahun 224 AH. Penyelidikan awal buku tersebut mencerminkan bahwa pengarangnya benar-benar mencintai Nabi yang agung. Ia telah mengumpulkan ramalan dalam Alkitab (Bibel) tentang kedatangan Nabi Muhammad dengan referensi yang banyak dan ketrampilan yang baik sekali. Ali bin Sahl bin Raban adalah seorang sarjana Bibel dan mempunyai minat yang besar dan keahlian berdialog dengan Yahudi dan Kristen.

Pada prakata buku tersebut, Adil Nowaihidh dari Penerbit Darul Afaq dari Beirut berkata bahwa Ali bin Sahl bin Raban telah menyempurnakan dan bekerja dengan penuh keadilan terhadap masalah tersebut.

Bukunya berkata:

“Para Pengikut Nabi dan mereka yang memperkenalkan Islam kepada yang lain adalah orang-orang yang benar-benar sholeh.

Adalah dikarenakan kemuliaan Nabi yang agung sehingga individu-individu dengan status yang tinggi seperti Hazraat Abu Bakr, Umar Ibn Khattab, Uthman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib menjadi bintang-bintang Ummah.

Ummah yang diberkati selanjutnya adalah para laki-laki dan wanita terhormat berikut:
Hasan bin Ali

Hussain bin Ali

Abdullah Bin Zubair

Abdul Malik

Waleed Bin Abdul Malik

Muhammad Bin Hanfia

Abdullah Bin Umar

Abdur Rahman bin Abu Bakr

Khadijah

Ayesha

Fatima

Zainab

Karimah [Isteri Umar bin Abdul Aziz]

Juga dikarenakan adanya pelatihan dari Nabi yang agung sehingga tidak ada perselisihan di antara Ummah Muslimin tersebut. Nama-nama di atas dan yang lainnya menyebar seperti bintang. Mereka semua telah hidup sebagai contoh bahwa, “Semua orang beriman adalah bersaudara satu sama lain” hingga hari ini (205 AH).

Tidak ada kekuasaan di atas bumi yang dapat menghentikan pergerakan cepat Islam. Dengan pesan yang mulia ini, tipu daya apapun yang pernah dicoba, mereka akan mati secara alami.”

PEPERANGAN JAMAL, SAFFAIN, NEHRWAN DAN KARBALA ADALAH FIKSI

Kutipan-kutipan dari Ad-Deen Wad-Daulah di atas dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa laporan-laporan tentang adanya kerusuhan internal di kalangan pemerintahan Muslimin seperti peperangan Jamal, Saffain, Nehrwan, dan Karbala adalah tak lain hanyalah usaha menjijikkan yang bersifat memecah belah dari para sejarawan kita.

1. PERMINTAAN

Ijinkan saya untuk berkata lagi bahwa buku ini telah mengkritik sejarah dan para sejarawan. Saya tetap masih sangat menghormati para sahabat Rasul, dan kepada keluarganya. Keturunan harus dibedakan dengan keluarga. Ketika keluarga secara langsung diurus oleh Nabi yang agung, sedangkan keturunan tidak mempunyai keuntungan itu dan banyak di antara mereka telah menjadi jahat dalam karakter mereka sebagaimana yang diperlihatkan sepanjang sejarah.

Dengan kerendahan hati, saya sampaikan bahwa saya tidak menganggap penemuan atau pemikiran saya untuk dicatat dalam sebuah prasasti, tetapi riset saya ini saya lakukan dengan tulus hati. Dan saya terbuka bagi usul dan kritik. Tentu saja, saya menghormati hak-hak para pembaca untuk berbeda dengan saya. Tolong yakinlah bahwa Shabbir Ahmed tidak ada hubunganya dengan sekte apapaun. Buku saya Islam Kay Mujrim (Para Penjahat Islam) adalah bukti nyata di mana saya dengan kritis menguji kepercayaan yang non-Quranic dari semua sekte. Menurut Al-Quran, memilih sebuah sekte termasuk kategori musyrik (politheisme) dan mereka yang menjadi anggota sebuah sekte akan kehilangan ikatan dengan Nabi yang agung. Akhirnya, marilah kita simpulkan buku ini dengan sebuah perkataan Hazrat Ali:

“Jangan lihat siapa yang berkata, tetapi lihat apa yang dikatakan.”

Dengan hormat,

Shabbir Ahmed, M.D.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (8)

BAGIAN- 17

REAKSI TERHADAP CETAKAN PERTAMA

Cetakan pertama dari buku ini telah diterbitkan pada bulan Agustus 2000. Lebih dari sepuluh ribu buku dari edisi ini telah terjual dan dibagi-bagikan secara cuma-cuma selama akhir delapan bulan. Berikut adalah ringkasan komentar terhadap versi bahasa Urdu dari Karbala: Fakta atau Fiksi?

Telah disebutkan oleh Al-Quran bahwa sektarianisme adalah serupa dengan Syirik (Politheisme). Seseorang yang mengidentifikasi dirinya dengan sebuah sekte maka putus semua ikatannya dengan Nabi yang agung. Meskipun demikian, kami telah mengamati sepenuhnya perbedaan reaksi pada buku kami dari kaum yang disebut Sunni dan Shi’ah.

Sunni secara berkelimpahan menerima buku tersebut. Mereka berkomentar sebagai berikut:

* Setelah membaca buku ini kita merasakan bahwa kami telah dibangunkan dari tidur.
* Ini merupakan sebuah pembebasan yang menyenangkan dari penipuan besar yang diputar oleh para sejarawan dan perawi terkemuka kita.
* Kita pernah mendengar cerita Karbala sejak masa kanak-kanak. Tetapi dogma, cerita dan praktek tertentu tidak dengan tiba-tiba menjadikannya jelas.
* Kita pernah membaca dan mendengarkan cerita aneh seperti itu yang nampak menghina akal sehat. Barangkali kita terlalu mudah tertipu.
* Dalam mengemukakan cerita Karbala, Imam Tabari telah dengan sungguh-sungguh mencaci para Sahabat dan menghina Nabi yang agung.
* Beberapa pembaca merasa seharusnya telah ada uraian yang lebih detail perihal Hazrat Hussain sebagai gubernur dan pembunuhannya oleh Jaban.
* Beberapa pembaca yang lain berkomentar bahwa buku ini nampak berakhir secara tiba-tiba.

Komentar ini akan dimuat kedalam edisi berikutnya, In-sha-Allah.

Untuk menangkap kembali beberapa poin, adalah sangat sulit untuk memaafkan kepercayaan masa lampau kita. Dalam konteks ini adalah penting untuk menyebutkan bahwa tidak lain hanyalah Tabari bin Rustam yang menyusun cerita Karbala 240 tahun setelah pembunuhan Gubernur Imam Hussain. Dan ia menyandarkan dugaan kejadian Karbala kepada Abu Mukhnif yang meninggal 50-100 tahun sebelum Tabari dilahirkan. “Abu Mukhnif berkata ini dan menulis itu.” Tetapi ia telah meninggalkan tak satupun sisa catatan ! Dongeng yang kita dengar sejak masa kanak-kanak menjadi berurat berakar dalam kepribadian kita. Karenanya, kebanyakan orang tidak akan mendengarkan penjelasan apapun terhadap apa yang telah mereka sanjung.

Aku dapat mengatakan berdasarkan pengalaman pribadi bahwa hanya sekitar sepuluh persen dari muslimin yang mempunyai fleksibilitas cukup untuk terpikat dengan gagasan baru di luar arus mayoritas. Cara berfikir yang revolusioner adalah terlalu besar untuk sukses. Secara kebetulan, selalu sebuah minoritas yang diperlukan untuk memecah berhala dari pola yang sudah terbentuk. Mayoritas tersebut kemudian akan mengikutinya.

Sepuluh persen dari pembaca Shii kita yang patut dimuliakan, baik lelaki maupun perempuan, telah berkata bahwa kebenaran telah terbit pada jiwa mereka. Maka, mulai sekarang mereka tidak akan melakukan Maatam (Memukul dada) pada bulan Muharram.

Duapuluh persen dari para pembaca Shii berseru bahwa studi ini nampak berdasarkan pada fakta, tetapi jalan apa yang sebaiknya ditempuh sekarang?! Aku telah menceritakan kepada mereka bahwa masalah ini adalah sederhana. Mereka semestinya merengkuh kembali Kitab Allah. Tidak ada penafsiran yang dibuat-buat dalam Kitab tersebut. Olok-olok terhadap Al-Quran yang disebut ‘maksud/ makna yang tersembunyi’ harus dibuang. Para Mullah baik masa kini atau zaman dulu dan bagaimanapun besarnya nama mereka semestinya tidak diikuti tanpa suatu pemeriksaan. Keyakinan yang buta merupakan bagian dari kekafiran. AL-Quran harus ditafsirkan dengan al-Quran sendiri dan bukan oleh sejarah, tradisi/ hadits dan dugaan dari Shan-An-Nuzool (keadaan seputar turunnya wahyu). Beberapa prinsip berikut adalah sangat jelas:

1. Keturunan tidak akan menganugerahkan martabat pada siapapun. Di hadapan Allah terdapat satu-satunya kriteria untuk keunggulan, yaitu karakter. Apakah itu Umayyah atau Banu Hashim, jika kekhalifahan dengan cara pewarisan dari bapak kepada anak lalu kepada cucu, maka sistem seperti itu adalah kerajaan yang bertentangan dengan AL-Kitab.
2. Menurut AL-Quran, semua persoalan Muslimin termasuk kekhalifahan semestinya ditetapkan melalui konsultasi timbal balik (musyawarah).
3. Menjadi seorang penguasa pada Sistem yang ditetapkan secara Ilahiah adalah sebuah tanggung jawab yang luar biasa. Orang yang benar-benar beriman seperti para Sahabat tidak akan mendambakan kekuasaan maupun menuruti kesenangan diri dengan mengadakan peperangan untuk mendapatkan kekuasaan seperti halnya kebiasaan politisi masa kini. Dahulu mereka menganggap bahwa kekhalifahan adalah sebuah beban. Hazrat Ali dan keluarganya tidak akan mengharap-harapkan kekuasaan. Dalam penggambaran mereka yang tamak dan dahaga akan kekuasaan, berarti para sejarawan telah bersalah karena secara tidak langsung telah menghina mereka.
4. Karena bagi seorang yang beriman, harta dan kekayaan adalah tak lain hanyalah hiburan yang cepat berlalu. Mereka tidak akan merasa kehilangan atas sebidang tanah atau properti demikian juga mereka tidak akan mempedulikan kekuasaan.
5. Selama masa kehadirannya, Nabi yang agung menghapuskan „thaar“, rantai balas dendam atas pembunuhan, generasi demi generasi. Al-Quran dengan kuat mengumumkan bahwa tidak ada seorangpun yang akan membawa beban orang lain dan semua orang akan bertanggung jawab atas tindakan dirinya sendiri. Sehingga anjuran untuk pembalasan dendam akan menghasilkan tidak lain hanyalah kedengkian dan rasa dendam. Di AL-Quran, prinsip Qisas (Hukum balas) secara spesifik diterapkan terhadap pelanggar melalui suatu pengadilan, bukan terhadap anak-anak pelanggar atau cucunya.
6. Al-Quran menceritakan kepada kita untuk tidak mengikuti dugaan karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban (17:36). Nabi yang agung berkata, “Adalah cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang pendusta ketika seseorang menyampaikan kepada orang lain apa yang telah ia dengar.” Cerita Karbala mengandung kabar burung dari Tabari yang hanya berdasarkan pada “Abu Mukhnif berkata ini, Abu Mukhnif berkata itu.” Dengan penyebaran yang intensif ini, ia mempromosikan persekongkolan musuh-musuh Islam. Apakah Karbala bukan sebuah cerita yang hanya berdasarkan pada kabar burung?
7. Allah memerintahkan kepada mukminiin untuk tidak bersedih pada apa yang hilang (3:153). Sekarang, bukankah mempraktekkan upacara perkabungan, ratapan dan pemukulan dada secara nyata bertentangan dengan Al-Quran? Apakah Hazrat Hussain dan keluarganya memperkenalkan penggambaran duka cita dan ratapan seperti itu? Tidak, berdasarkan pada otoritas Al-Quran, para Sahabat sebagai mukminin adalah orang yang tidak takut atau berduka berlama-lama..
8. Al-Quran berkata lebih dari sekali, “Kamu tidak akan pernah melihat Hukum Allah berubah”. Oleh karena itu, mukjizat pada para Imam tidak lebih dari sekedar dongeng belaka. Hukum sebab-akibat adalah salah satu dari hukum Ketuhanan yang tidak dapat diubah di alam semesta sebagaimana berulang-kali dinyatakan oleh AL-Quran.
9. Menurut al-Quran, hakim yang paling akhir adalah Allah. Tidak seorangpun akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh generasi sebelumnya. ‘Mengkapling” surga dan neraka kepada para sahabat Nabi, mengutuk orang-orang zaman dahulu; dan pendewaan kepada sebagian dari mereka, akan dapat menciptakan perpecahan dan kebencian. “Mereka yang tinggal di masa lalu akan kehilangan masa depan,” kata Cisero.
10. Al-Quran tidak memerintahkan kita untuk merahasiakan kebenaran. Oleh karena itu, prinsip palsu Taqiyyah (merahasiakan kebenaran dan memperlihatkan kebohongan) harus dibuang.

Beberapa ulama Shii mempertahankan pendapatnya bahwa kepala Hussain yang dipenggal membaca al-Quran dan hal itu merupakan mukjizat. Lebih lanjut, beberapa ulama lainnya menyatakan, “Kami menerima bahwa Imam (Mahdi) dilahirkan dari paha ibu mereka, atau kepala yang dipenggal membaca Al-Quran adalah hal yang tidak logis. Namun demikian, mempercayai hal itu memperkuat Iman.” Apakah hal itu benar-benar terjadi? Itu tidak lebih dari membuka sebuah kaleng cacing yang utuh dan secara intelektual kaum muda memperolok-olok dogma-dogma seperti ini sebagai lelucon.

Di tengah-tengah kegundahan para Mullah pada cetakan pertama, saya diingatkan oleh penyair terkemuka, Syekh S’adi, “Diam adalah bantahan yang terbaik kepada yang bodoh.”

Karya ini didasarkan pada menjadikan Kitab Allah sebagai ukuran, dan tulisan dari para alim ulama telah diteliti dengan Cahaya Al-Quran. Sekarang para pembaca dapat membentuk pendapat mereka sendiri.

Ketika baris-baris ini sedang ditulis, seorang yang lebih tua dari Texas telah mengomentari bahwa sebuah suara yang terasing dari suatu kebenaran akan dengan mudah ditenggelamkan dalam kegaduhan mesin propaganda yang hebat dari para alim ulama. Saya setuju bahwa para alim ulama kita selalu merupakan rintangan yang paling besar dalam perubahan. “Ulema” masa lampau adalah sumber mata pencaharian bagi para alim ulama masa kini. Namun demikian, hal ini dengan cepat akan berubah. Terutama sejak munculnya internet, Muslimin pada khususnya menemukan apa yang selama ini dirahasiakan dalam volume buku yang sangat besar atas nama Islam. Saya berkata dirahasiakan karena masyarakat awam jarang memperoleh buku yang sangat besar ini dan hanya para alim ulama kita yang mempunyai waktu dan akses untuk membacanya.

Kurang dari satu tahun, ratusan ribu individu di seluruh dunia telah setuju dengan riset saya yang sederhana tentang ”Karbala: Fakta atau Fiksi” dan juga buku ”Para Penjahat Islam”. Orang-orang ini datang dari berbagai sekte Islam. Sekarang mereka tidak lagi bertahan pada sekte apapun tetapi menyatakan diri mereka secara sederhana sebagai Muslimin. Yang menggembirakan adalah bahwa diantara mereka adalah para pengikut Syiahh yang telah terbebaskan dari meratap dan memukul dada secara terus menerus.

Para pembaca yth.! Perlu ditegaskan kembali bahwa saya benar-benar menghormati Ahlul Bait (keluarga Nabi yang agung) lebih dari yang para sejarawan masa lalu yang secara de facto telah menghina mereka dengan berkedok penghormatan seperti yang sudah anda lihat.

Setiap langkah aku menyalakan sebuah lilin dengan darah jantungku

Seseorang boleh jadi mengikuti jalan kecil yang sama.