BOLEHKAH MENGGAULI (MEMPERKOSA?) BUDAK WANITA?

Leave a comment

November 20, 2016 by Islam saja

Salamun alaikum

Pendapat yang mewakili tentang kehalalan menggauli budak wanita, salah satunya dapat dibaca di link berikut

http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muminun-ayat-1-11.html

Konon ISIS termasuk kelompok yang menghidupkan kembali dan seklaigus mempraktekkan ajaran klasik tentang kehalalan menggauli dan/ atau memperkosa budak wanita ini. https://m.merdeka.com/dunia/isis-rutin-perkosa-tawanan-perempuan-non-muslim.html.

Text arab pada ayat 23:6 dan 70:30 yang oleh tim penerjemah DEPAG diterjemahkan sebagai budak (wanita) adalah “Maa Malakat Aimaanuhum” (MMAH).

Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau saya berbeda paham dengan mayoritas muslimin terkait dengan masalah hukum menggauli/ memperkosa MMAH ini. Apa yang saya pahami ini sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkan para ulama yang menghalalkan menggauli MMAH ini. Kalau paham saya dianggap salah, tolong diabaikan saja dan agar dimaklumi karena saya hanyalah orang awam biasa yang sedang dalam proses mencari pemahaman Islam yang terbaik.

 

KATA PENTING AZWAAJUN

Selain topik idiom MMAH, ada kata penting lainnya yang perlu diperhatikan di sini, yaitu kata azwaajun. AZWAAJ (jamak dari ZAUJAN) itu makna asalnya adalah pasangan-pasangan (bisa para lelaki ataupun perempuan). Secara kontekstual di dalam suatu kalimat, kata ini bisa bermakna para isteri atau para suami, bisa juga makna umumnya yaitu pasangan-pasangan (baca ayat 6:143, 15:88, 20:53, 20:131, 42:11, 78:8) . Kalau pengertiannya para isteri, berarti para pasangan perempuan yang sudah dinikahi (33:50). Kalau pengertiannya para suami (2:232), berarti para pasangan lelaki yang sudah menikahi pasangan wanitanya. Kalau pengertianya pasangan, belum tentu sudah dinikahi. Kasus yang sama terjadi pada term ANNISA (di sini justru ANNISA maksudnya adalah para istri, sedangkan AZWAJ maksudnya pasangan BAKAL suami).

Nah AZWAAJ dan MMAH pada ayat 23:5-6 (dan juga ayat 70:30) mengandung pengertian AZWAAJ dan MMAH yang telah dinikahi, mengingat konteksnya adalah memelihara kemaluan, yaitu idiom bahasa Arab lainnya yang bermakna berhubungan badan secara sah bukan zina.

 

NAH, SIAPAKAH MMA INI?

Ada yang berpendapat bahwa MMA itu adalah BUDAK WANITA, padahal Allah telah menggunkan term lain untuk budak wanita, yaitu sekali dalam bentuk tunggal “AMATUN” pada ayat 2:221 dan yang kedua dalam bentuk jamaknya “IMAAUN” pada ayat 24:32.

Ada juga yang berpendapat bahwa MMA itu adalah TAWANAN PERANG WANITA, padahal Allah telah menggunkan term lain untuk menyebut tawanan perangan, yaitu kata ASROO (2:85, 33:26, 76:8).

MMAH secara harfiah tersusun dari kata-kata berikut:

MA = siaapa/ apa

MALAKAT = telah memliki/ menguasai/ menikahi

AIMANUN = tangan kanan

HUM = mereka

Tafsir dari idiom “Ma malakat Aimanuhum” (MMAH) yang pada umumnya diartikan sebagai para wanita tawanan perang (yang dengannya seseorang dapat melakukan hubungan seks sesuka hati) tidak sepenuhnya benar dan/ atau tidak sejalan dengan ayat-ayat lain di dalam al-Quran, serta bertentangan atau tidak didukung dengan hukum-hukum Allah yang lain di dalam Al-Quran.

 

MAKNA KATA MALAKA

Kata “Malakat” itu mempunyai akar kata mim-lam-kaf  (M-L-K). Pengertian utamanya adalah:

  • Telah menguasai atau memiliki [sesuatu atau seseorang], terutama sekali dengan kemampuan untuk memilikinya bagi dirinya sendiri secara eksklusif.

Pengertian lainnya adalah:

  • Telah mempunyai kekuasaan untuk memerintah atau menerapkan otoritas
  • Telah memperoleh
  • Telah mengambilalih
  • Telah menikahi

Sebagaimana yang dapat dilihat bahwa salah satu artinya adalah “MENIKAHI”. Ini adalah menurut salah satu dari kamus bahasa Arab yang dianggap otentik, yaitu Lisan-Ul-Arab oleh Ibn-Manzoor Vol. 13, halaman 184 – http://www.ghazali.org/arabic/lisanal-arab.zip. Kamus otentik Arab Modern lainnya juga menguraikan arti ini (Kamus Arab – Inggris, Wortabet halaman 659- http://www.ghazali.org/books/wortbat-porter-4thed.pdf).

IM-LAA-KUL-MAR-ATI bermakna UQ-DATUN-NIKAAHI, Lisan-ul-Arab halaman 3032.

Menurut Lisan-Ul-Arab halaman 4278, MILAAKUN dan AL-IMLAAKU berarti:

  • Perkawinan/ pernikahan
  • Ikatan pernikahan yang suci

Menurut kamus yang sama, MILAAKUN juga berarti

– Isteri

Kata “milkun” yang jamaknya “amlaak” berarti:

  • Kepemilikan
  • Tanah
  • Keuntungan
  • Kekayaan
  • Real estate
  • Properti

Kata “mulkun” berarti:

  • Kedaulatan
  • Kerajaan
  • Kepemilikan
  • Hak kepemilikan (apa yang menjadi hak milikmu)

Dalam idiom “Maa Malakat Aimaanuhum”, kata MALAKAT adalah dengan pola MASA LALU (madhi), yang mengandung pengertian “Apa yang TELAH mereka PUNYAI”, atau “apa yang TELAH mereka kuasai” atau “YANG TELAH menjadi milikmu”. Secara gramatikal, tidak bisa dipake dengan pengertian “apa yang AKAN mereka kuasai” atau “apa yang AKAN mereka punyai”. Bentuk masa yang akan datang atau waktu sekarang (mudlori’) kata ini (yamliku) sama sekali berbeda dan telah digunakan dalam berbagai ayat Al-Quran, misalnya ayat  5:17, 5:76, 10:31, 13:16, 17:56, 19:87, 20:89, 25:3, 29:7, 34:22, 34:42, 35:13, 39:43, 43:86, 82:19 (tamliku).

 

SEKARANG MARI KITA LIHAT KATA “AIMAANUKUM”.

Kata “AIMAANUN” adalah jamak dari ”YAMINUN” dan bermakna “TANGAN KANAN”. Akar/ tsulatsi dari kata ini adalah ya-mim-nunn Y-M-N.

Kata “YAMINUN” juga berarti:

  • Sebuah perjanjian
  • Sebuah sumpah

Kata “YUMNUN”, mempunyai akar yang sama dan bermakna:

  • Kemakmuran
  • Kesuksesan
  • Keberuntungan
  • Pertanda baik
  • Kesempatan yang menguntungkan

Sekarang mari kita renungkan tentang “pernikahan” yang juga merupakan sebuah perjanjian yang kuat sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Quran pada ayat 4:21 dan juga merupakan sebuah peristiwa yang menguntungkan, maka terlihat adanya kecocokan dengan penggunaan kata “AIMAANUN” dalam konteks pernikahan.

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa makna sesuai konteks kalimatnya bahwa MMAH/K, mungkin saja adalah:

  • Para pasangan
  • Para isteri
  • Para pelayan
  • Para tawanan perang
  • Para bawahan
  • Segala hal yang menjadi hak milik mereka/ kamu

 

MAKNA KATA AW

Selanjutnya, ada kata penting lain yang telah digunakan sebagai kata penghubung yang harus pula dipahami maknanya. Kata tersebut adalah “AW”, yang telah digunakan pada ungkapan “AW maa malakat aymaanuhum”. “AW” pada umumnya diterjemahkan sebagai “ATAU”. Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa “ATAU” adalah salah satu dari arti AW”, tetapi pada kenyataannya, kata ini digunakan tidak kurang dari 12 makna yang berbeda yang juga diterangkan dalam kamus Arabic-English Lane. Salah satu dari penggunaan kata ini adalah TAFSEEL, yaitu bersifat MENGURAIKAN atau MENJELASKAN. Dengan kata lain, “AW” juga digunakan untuk menambahkan beberapa maksud arti kepada kata yang sebelumnya atau untuk menjelaskan kata sebelumnya atau untuk memberi beberapa atribut atau karakter pada kata sebelumnya.

Tolong perhatikan ayat 17:110. Pada ayat ini, ada suatu ungkapan “Ud ‘u Allaaha aw ud ‘u alrrahmaana”. Perhatikan baik-baik bagaimana kata “Allah” dan “Rahman” dipisahkan oleh kata “AW”. Di sini kata “aw” TIDAK menyiratkan bahwa “Allah” dan “Rahman” adalah DUA entity yang berbeda. Tidak perlu diragukan lagi, bahwa “Allah” dan “Rahman” adalah sama. “Rahman” adalah salah satu atribut Allah”.

Sekarang kita perhatikan ayat 23:6 dan 70:30.

  • 23:6. Illa ’Ala azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fainnahum ghayru maluumiina
  • 70:30. Illa ’Ala azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fainnahum ghayru maluumiina

Pada kedua ayat di atas, “azwaajihim” dan “maa malakat aymaanuhum” dipisahkan oleh “aw”. Kalau kita mengambil pengertian kata AW sebagai Tafseel, maka pada kedua ayat tersebut tidaklah berarti bahwa “azwaajihim” dan “maa malakat aymaanuhum” itu adalah dua obyek yang berbeda. Sebenarnya, keduanya mengacu pada obyek sama. “azwajihim” YAITU “maa malakat aymanuhum” yaitu “pasangan mereka” yaitu “apa  siapa yang  mereka kuasai dengan hak sepenuhnya”.

Jadi dari sisi bahasa Arab, dengan memilih makna MALAKAT = menikahi dan AW adalah TAFSIL, maka ayat 23:5-6, bisa dipahami sebagai berikut:

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka (kuam lelaki) yaitu siapa-siapa yang kepada mereka (kaum wanita) dengan kemampuan mereka (kaum lelaki) telah menikahi; maka sesungguhnya mereka (kaum lelaki) dalam hal ini tiada tercela.

Atau kita tetap mempertahankan pengertian bahwa AW adalah kata penghubung untuk suatu pilihan dan kata MALAKAT bermakna memiliki, maka ayat 23:5-6 menjadi:

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (Note1: dimana sesuai dengan banyak ayat-ayat al-Quran di tempat lain adalah dengan cara menikah), kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka (kaum lelaki) (Note2: yaitu yang sudah dinikahi – bukan pasangan “kumpul kebo” atau “living together”) ATAU MMAH (Note: tentu saja yang sudah dinikahi juga, sesuai Note1); maka sesungguhnya mereka (kaum lelaki) dalam hal ini tiada tercela.

Pemahaman di atas adalah 2 versi yang masih memungkinkan jika ditinjau dari sisi bahasa Arab.

Siapakah MMAH itu? Akan kita bahas pada postingan selanjutnya.

 

BERSETUBUH TANPA NIKAH TERGOLONG ZINA.

Ingin menyetubuhi budak perempuan (AMATUN) harus melalui prosedur huduud/ hukum pernikahan:

Dan NIKAHKANLAH (AN-KI-KHUU) orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan (orang-orang) yang sholih dari budak-budakmu yang lelaki (‘IBAADIKUM) dan budak-budakmu yang perempuan (IMAAIKUM). Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (24:32).

Ingin menyetubuhi MMAK juga harus lewat pernikahan:

Ayat 4:23 menguraikan para wanita yang TIDAK BOLEH dinikahi. Dan disambung dengan ayat berikutnya:

…Dan (diharamkan juga kamu menikahi) Al-muhshonat (= yang sudah menikah) dari sebagian wanita kecuali MMAK… (4:24).

Jadi, ayat di atas menjelaskan keharaman menikahi AL-MUHSHONAAT (wanita yang statusnya sudah menikah atau wanita bersuami), kecuali MMAK. Jadi MMAK termasuk kategori wanita bersuami yang BOLEH dinikahi jika ingin menggauli mereka, yang tidak lain adalah wanita bersuami yang ditawan dalam suatu peperangan.

Selain dari daftar wanita yang diharamkan oleh ayat 4:22-23 dan awal ayat 4:24, maka wanita tersebut BOLEH/ HALAL (bukan kategori wanita yang haram) dinikahi:

…. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. dst (AQ, 4:24)

Selengkapnya rangkaian ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang ayahmu telah menikahinya, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

Diharamkan (juga) atas kamu (menikahi):

  • ibu-ibumu;
  • anak-anakmu yang perempuan;
  • saudara-saudaramu yang perempuan,
  • saudara-saudara bapakmu yang perempuan;
  • saudara-saudara ibumu yang perempuan;
  • anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki;
  • anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;
  • ibu-ibumu yang menyusui kamu;
  • saudara perempuan sepersusuan;
  • ibu-ibu istrimu (mertua);
  • anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya;
  • istri-istri anak kandungmu (menantu); dan
  • menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
  • wanita yang bersuami (AL-MUHSHONAAT), kecuali MMAK

sebagai ketetapan-Nya atas kamu.

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) menginginkan dengan hartamu untuk MENIKAHI BUKAN untuk berzina. Maka apa yang telah kamu nikmati (campuri) dari mereka (F), berikanlah kepada mereka (F) maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (AQ, 4:22-24.)

Bahwa MMAK adalah wanita yang boleh dinikahi (tidak dizinahi) juga dijelaskan pada ayat 4:3-4 berikut:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau (nikahilah) MMAK. (AQ, 4:3)

 

BAGAIMANA CARA MENIKAHI MMAK?

Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk menikahi wanita merdeka lagi beriman, maka (ia boleh menikahi) MMAK dari gadis-gadis yang beriman. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dst. (Al-Quran 4:25)

Apakah ayat di atas tidak cukup jelas bahwa Allah sedang menceritakan kepada kita bahwa jika ingin berhubungan sex dengan wanita ini (Maa Malakat Aymanukum) maka HARUS menikahi mereka!.

Dan pada kenyataannya ayat 4:25 juga membeberkan aturan menikahi MMAK ini, yaitu:

  1. Meminta ijin ahlinya/ penanggungjawabnya.
  2. Memberikan mas kawin kepada mereka.

Mungkin ayat 4:3 dan 4:24-25 adalah ayat yang paling gamblang yang menjelaskan bahwa MMAK itu termasuk diantara kelompok wanita yang tidak diharamkan untuk dinikahi atau mempunyai kedudukan/ status yang sama dengan kelompok wanita lain yang halal dinikahi. Lebih khusus lagi, ayat 4:24 menjelaskan bahwa MMAK adalah termasuk kelompok wanita YANG BERSUAMI, namun suaminya kafiriin, yaitu para wanita tawanan perang. Oleh karena itu kalau peperangan terjadi sesama muslim, maka wanita (yang bersuami) yang ditawan tidak termasuk MMAK, namun lebih pas masuk kelompok AL-MUHSHONAAT.

Jadi di sini saya juga mendapat penjelasan bahwa walapun para wanita bersuami itu pada umumnya haram dinikahi, namun ADA wanita yang berstatus ISTRI ORANG yang HALAL DINIKAHI, yaitu:

  1. Para isteri KAFIRIIN yang mukminat dan hijrah kepada kaum muslimin (kerana begitu para isteri ini menjadi beriman, maka perkawinan mereka menjadi batal/ tidak syah).
  2. Para isteri KAFIRIIN yang menjadi tawanan perang kaum muslimin yang juga disebut MMAK (dengan catatan: mereka sudah meninggalkan kemusyrikannya [2:221]).

Dari ayat-ayat di atas juga jelas bagi saya bahwa:

  • ADA PILIHAN yang HALAL dan yang HARAM, yaitu hanya pilihan antara NIKAH atau ZINA/ PERKOSAAN, tidak ada pilihan lain.
  • Bahwa daftar wanita yang HALAL DINIKAHI (bukan dizinahi/ diperkosa) sudah jelas, tidak ada jenis hubungan sex yang HALAL selain NIKAH.
  • MMAH/K termasuk dalam kelompok wanita yang halal dinikahi, tidak untuk dizinahi/ diperkosa.
  • Bahwa MMAH/K adalah wanita yang telah bersuami yang mendapat pengecualian halal untuk Siapakah wanita ini ?

Coba anda perhatikan juga ayat berikut:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu pasangan-pasangan (AZWAAJAN) kamu yang kamu telah memberikan mas kawin mereka:

  • Yaitu ma malakat yamiinuka (MMYK) dari apa yang Allah telah memberikan kepadamu, (1)
  • Yaitu anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, (2)
  • Yaitu anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, (3)
  • Yaitu anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu (4)
  • Yaitu anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu (5)
  • Yaitu perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau menikahinya, (6)

sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (33:50)

Note: bahwa kata WA bisa bermakna yaitu dapat dibaca di link berikut:

http://islamicdawn.com/wp-content/uploads/flipbook/19/book.html#p=174

Apakah menurut anda para wanita kategori 1 hingga 6 tersebut halal disetubuhi oleh Nabi tanpa melalui proses pernikahan ?

 

AYAT-AYAT LAIN TENTANG MMAK/H

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan MAA MALAKAT AIMANUKUM. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (AQ, 4:36)

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada MAA MALAKAT AIMANUHUM, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? (AQ, 16:71)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada:

–   suami mereka, atau

–   ayah mereka, atau

–   ayah suami mereka, atau

–   putra-putra mereka, atau

–   putra-putra suami mereka, atau

–   saudara-saudara laki-laki mereka, atau

–   putra-putra saudara laki-laki mereka, atau

–   putra-putra saudara perempuan mereka, atau

–   wanita-wanita Islam, atau

–   MAA MALAKAT AIMANUHUNNA, atau

–   pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau

–   anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (AQ, 24:31)

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan MAA MALAKAT AIMANUKUM yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa wanita-wanita mudamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu). (AQ, 24:33)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah MALAKAT AIMANUKUM, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (AQ, 24:58).

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara MAA MALAKAT AIMANUKUM, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. (AQ, 30:28)

Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan MAA MALAKAT AIMANUHUNNA, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (AQ, 33:55)

Jadi bisa disimpulkan bahwa MMA/ MMY adalah:

  1. Wanita yang bisa dijadikan pilihan untuk dinikahi (4:3, 25, 23:5-6, 33:50, 52, 70:29-30)
  2. Adalah merupakan pengecualian dari kelompok wanita bersuami yang boleh dinikahi (4:24), misalnya isteri-isteri orang-orang kafir yang meninggalkan suami mereka dan meminta perlindungan kepada kita (60:10).
  3. Atau wanita yang mempunyai wali atau penanggungjawab (4:25), karenanya harus meminta ijin Ahlinya jika ingin menikahi mereka;
  4. Lelaki atau wanita yang tergantung secara finansial kepada kita (4:36, 16:71, 30:28);
  5. Lelaki atau wanita yang tinggal serumah dengan kita (24:31, 58, 33:55);
  6. Lelaki atau wanita yang terikat perjanjian (24:33)

Penghalalan menyetubuhi budak tanpa nikah tidak sejalan dengan ayat yang membolehkan menikahi budak (yang menyiratkan bahwa jika ingin menggauli budak, harus dinikahi terlebih dahulu) dan hubungan diluar nikah dikategorikan zina.

Mereka yang menghalal menyetubuhi budak tanpa prosesi nikah, harus berkreasi membuat hukum-hukum turunannya, misalnya:

  • Boleh tidaknya menggauli budak wanita yang dimiliki bersama (dimiliki lebih dari satu orang), siapa yang lebih berhak menyetubuhinya ? Apa semua pemilik boleh menyetubuhi?
  • Bolehkan seorang bapak menggauli budak milik anaknya?
  • Bolehkah seorang anak menggauli budak milik bapaknya ?
  • Bolehkah seorang anak menyetubuhi budak yang diberikan oleh ayahnya, dimana si budak pernah disetubuhi oleh ayahnya?
  • Bolehkah menjual budak yang sedang hamil oleh tuannya ? Bagaimana status anak si budak ini?
  • Adakah masa idah bagi budak yang dijual tuannya dalam keadaan hamil ?
  • Apakah anak budak tetap berstatus budak, bila bapaknya adalah tuannya ?
  • dll

Al-Quran yang diklaim oleh Allah sebagai “tibyaanan likulli syai-in” (menjelaskan segala sesuatu) atau “tafshiilan kulli syai-in” (memerinci segala sesuatu) itu, ternyata absen dari mengatur hubungan persetubuhan antara tuan dengan budak wanitanya  beserta konsekuensi hukum yang mengikutinya. Apakah anda berani mengatakan bahwa al-quran kurang lengkap dalam memberi petunjuk terkait masalah ini?.

Hal serupa terjadi pada kontrak sex mut’ah, yaitu jenis kontrak sex yang oleh kreatornya disebut nikah. Maka para kreatornya harus berkreasi membuat hukum turunannya, misalnya tidak ada batas waktu yang spesifik, ada iddah yang lamanya 1/2 iddah nikah versi Al-Quran, si anak hasil kontrak sex hanya mewarisi harta ibunya dll. Padahal Al-Quran tidak mengajarkan jenis nikah selain nikah yang diajarkan oleh Al-Quran itu sendiri, yang sifatnya UQDATAN NIKAH (Ikatan yang mengikat/ ikatan yang kuat) dan MITSAAQON GHOLIDHO (perjanjian yang kuat), dan Allah telah mengatur hukum turunanya, yaitu aturan perceraian, masa iddah, harta warisan dll.

Rujukan: diolah dari berbagai sumber kajian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: