APAKAH ISLAM ITU OFENSIV?

Leave a comment

October 18, 2016 by Islam saja

Karena adanya pengutipan ayat-ayat al-Quran pada video di youtube berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=sK-J7ZUi9xA

sebagai orang awam saya jadi terdorong untuk mengemukakan pendapat pribadi saya (tidak mengatasnamakan madzab apapun) terhadap beberapa tafsir pak Saefudin Ibrahim (SI) tentang beberapa topik yang dia angkat. Untuk kesempatan ini saya ingin sedikit menanggapi tafsir  dia terkait dengan ayat 9:29 dan 2:191 (perhatikan tafsir SI mulai menit ke 14:30, yang menurut dia, inilah beberapa ayat yang mendasari bahwa Islam itu disebarluaskan dengan pedang.

Kembali ke topik, ayat 9:29 menyatakan sbb:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (terjemahan DEPAG).

Sedangkan ayat 2:191 menyatakan sbb:

2:191 Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (Note: Fitnah pada ayat ini bukan sebagaimana makna kata fitnah dalam bhs Indonesia sehari-hari yang dipahami kebanyakan orang, tetapi adalah hukuman, penderitaan atau peperangan).

Pak SI -yang dulunya mengaku sebagai guru tafsir al-quran- kurang lebih berpendapat bahwa Islam itu disebarkan dengan pedang berdasarkan pemahaman dia atas 2 ayat tersebut dan juga sebagaimana yang dilaporkan di dalam dokumen sejarah Islam yang ada di kitab-kitab sejarah yang belum dia uraikan secara rinci dalam ceramahnya.

Karena pak SI merasa tidak mampu menjalankan Islam yang kaffah, yaitu Islam yang juga membunuhi orang-orang kafir, yahudi dan kristen, maka dia memutuskan keluar dari Islam.

Di satu sisi keluarnya dia dari Islam tentu menguntungkan Islam itu sendiri, karena kalau dia tetap di dalam Islam bisa jadi bila ada kesempatan dia dan anak-anaknya akan membunuhi orang-orang kafir dan Kristen yang ada di Indonesia berdasarkan pemahaman dia atas kedua ayat di atas dan sumber hukum Islam yang lain. Bahkan bisa jadi dia akan menyiapkan anak-anaknya sebagai “pengantin” bom bunuh diri.

Di sisi lain, saya pribadi tidak memungkiri adanya paham atau pengajaran Islam yang ofensif tersebut, mengingat saya sendiri pernah berpaham seperti itu akibat dari membaca al-quran yang belum menyeluruh atau pengaruh paham kelompok tertentu yang menegakkan Islam lewat jalur kekerasan dan peperangan. Tindakan kekerasan yang dialami oleh kelompok al-qiadah, pengusiran dan bahkan pembantaian yang dialami oleh pengikut Ahmadiah dan GAFATAR di Indonesia merepresentasikan adanya paham Islam yang berdakwah dengan menghalalkan kekerasan ini. Gerakan ISIS mungkin juga merepresentasikan paham penegakan ajaran Islam secara ofensif ini

Selanjutnya, mari kita lebih fokus menyoroti kedua ayat ini yang jika hanya membaca ayat ini, memang bisa mengesankan bahwa Islam diturunkan ke dunia ini dengan misi untuk membunuhi orang-orang kafir, yahudi dan nasrani disebabkan oleh keyakinan kekafiran (pengingkaran/ penolakan) mereka kepada Islam.

Dalam memahami al-Quran, saya mencoba untuk menggunakan metode yang menurut saya justru metode ini mempunyai landasan yang kuat karena dilakukan atas dasar arahan beberapa ayat al-quran yang bisa dirujuk untuk memastikan bahwa metode ini benar.

Dan tentu saja mohon maaf dan mohon ijin kalau metode dan/ atau kesimpulan saya akhirnya berbeda dengan paham mayoritas.

Namun ada permintaan dari saya, ketika membaca ulasan saya ini, tolong sambil menyanding al-Quran terjemahan DEPAG agar lebih bisa menangkap dengan apa yang saya maksudkan mengingat saya tidak mengutip semua ayat satu demi satu dan saya hanya fokus pada pesan al-Quran secara globalnya saja.

Metode tersebut adalah sbb:

  • Memperlakukan al-Quran sebagai satu kesatuan ajaran. Al-quran adalah petunjuk bagi umat manusia (hudan linnaas) (AQ, 2:185). Artinya keseluruhan isi dari al-quran, bukan ayat-ayat tertentu saja, atau secara sepotong-sepotong. Allah melarang kita membagi-bagi al-Quran (AQ, 15:91)
  • Mencari petunjuk dari ayat lain. Di dalam al-Quran itu ada penjelasan dari petunjuk itu sendiri (bayyinatin minalhuda) (AQ, 2:185). Justru kita harus berusaha mencari penjelasan suatu ayat kepada ayat-ayat yang lain. Kita harus mengaitkan ayat yang satu dengan ayat yang lain jika memang relevan dengan topik yang sedang kita gali maksudnya.
  • Menjadikan al-Quran sebagai al-Furqon, yaitu pembeda antara yang benar dengan yang salah (AQ, 2:185). Artinya kalau ada perbedaan pendapat di kalangan umat manusia, maka harus dihakimi dengan al-Quran, atau dengan kata lain al-Quran sebagai rujukan yang paling tinggi (di atas kitab-kitab hadits, fiqh dan kitab-kitab sejarah), walaupun bisa jadi dengan merujuk kepada al-Quran tidak menutup kemungkinan tetap terjadi perbedaan.
  • Jangan takut menyaring ajaran-ajaran yang bersumber selain dari al-quran (misalnya di kitab-kitab hadits ataupun fiqh masa lalu) dengan ayat-ayat al-Quran, mengingat Kitabullah masa lalu saja harus diuji dengan Kitab Al-Quran (AQ, 5:48), apalagi kitab-kitab yang murni susunan manusia (si penyusun tidak langsung mendapatkan wahyu dari Allah).
  • Menggali makna dari sisi bahasanya. Harus diyakini bahwa al-Quran itu berbahasa Arab (AQ, 16:103, 26:195, 41:44, ) dan bahasa Arab yang dipakai sehari-hari oleh Nabi (AQ, 19:97, 44:58). Karena saya tidak ahli bahasa Arab, maka short cut –nya dengan cara membandingkan berbagai terjemahan dan membuka kamus jika menemukan kata-kata yang perlu didalami secara khusus.

Mari kita terapkan metoda di atas untuk mengevaluasi apakah Allah menyuruh kita untuk menyebarkan Islam dengan pedang.

Pembahasan ayat 2:191.

Untuk ayat 2:191 dengan mudah bisa disimpulkan bahwa ayat ini tidak menyuruh membunuh orang-orang kafir akibat dari keyakinan kafir mereka, tetapi karena tindakan badani/ fisik mereka yang memulai memerangi mukminin. Ini terlihat dengan jelas jika ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya.

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (AQ, 2:190). Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (AQ, 2:191)

Jadi, perintah membunuh pada ayat 2:191 adalah terjadi karena dalam konteks membalas serangan orang-orang yang terlebih dahulu memerangi mukminiin. Atau dengan kata lain, perintah itu terjadi ketika perang sedang berkecamuk.

Namun demikian peperangan harus segera dihentikan setelah terlihat tanda-tanda kaum yang memerangi mukminin ini berhenti memusuhi mukminin sebagaimana dinyatakan pada ayat selanjutnya:

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (AQ, 2:192).  Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim. (AQ, 2:193)

Selain dari adanya kriteria kapan peperangan itu diperbolehkan/ diperintahkan, pada ayat selanjutnya juga dikemukakan batasan tingkatan dari intensitas serangan balas tersebut:

Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa (AQ, 2:194).

Jadi dalam melakukan serangan balas pun ada etikanya, yaitu harus diusahakan seimbang dengan serangan musuh, tidak boleh lebih keras atau lebih kejam dibandingkan dengan serangan musuh mukminin. Kira-kira kalau diterapkan di jaman sekarang, kalau musuh memakai senapan, maka mukminin tidak boleh memakai bom, apalagi bom nuklir. Ini menegaskan bahwa misi Islam itu tidak untuk memusnahkan umat manusia yang kebetulan kafir. Ingat: misi Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin (AQ, 21:107). Bukan hanya rahmatan lil muslimiin saja.

Pembahasan ayat 9:29

Dengan membaca bahasan ayat 2:191 sebenarnya sudah tergambar dengan jelas bagaimana Islam membolehkan dan bahkan menyuruh berperang, berikut etika global pelaksanaannya.

Terkait dengan ayat 9:29, dengan metode yang saya kemukakan, walaupun kita belum mengaitkan dengan ayat-ayat di suroh lainnya, yaitu hanya dengan mengaitkan dengan ayat-ayat lainnya pada suroh 9 (at-Taubah), akan menjadi jelas peristiwa apa yang melatarbelakangi adanya perintah perang pada ayat 9:29.

Kalau dibaca mulai dari ayat 1 hingga ayat 36, maka paling tidak diperoleh informasi sebagai sebagai berikut:

  1. Baroah itu terjadi dengan musyrikiin yang telah mengikat perjanjian dengan mukminin (9:1)
  2. Baroah dikecualikan dengan musyrikiin yang masih mentaati perjanjian (9:4,7)
  3. Penyebab musyrikiin diperangi, diantara disebabkan oleh karena mereka tidak mentaati perjanjian, membantu musuh mukminiin, tidak memelihara hubungan kekerabatan, lain di muka lain di hati, menghalangi jalan Allah, mencerca diinul-Islam, memulai memerangi mukminin (9:4, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 36)
  4. Jika musyrikin kembali mentaati perjanjian, maka mereka diberi kebebasan untuk hidup normal (9:5, 11)
  5. Musyrikiin yang meminta perlindungan harus dilindungi (9:6)

Nah siapakah yang dimaksudkan musyrikiin ini? Apakah kaum penyembah berhala saja, atau termasuk kaum yang lain?

Kalau diperhatikan dengan seksama ayat 29 hingga 36, maka bisa disimpulkan musyrikiin yang AllH dan RosulNya ber-baro-ah dengan mereka adalah termasuk kaum musyrikin dari ahlul kitab juga, yaitu ahlul kitab yang menganggap Uzair serta Isa sebagai anak Allah dan menganggap para ahbar dan rahib sebagai rob-rob/ tuhan-tuhan mereka (9:30-31). Terhadap kelompok musyrikin dari ahlul-kitab ini berlaku ketentuan yang sama, yaitu mereka diperangi karena merusak perjanjian dan memulai peperangan kepada mukminiin (9:36). Jadi musyrikin pada ayat 9:1 adalah juga musyrikin dari kelompok ahlul kitab juga.

Apa itu JIZYAH?

Yang menjadikan ayat 9:29 seolah-olah bermakna lain (misalnya membunuh semua ahlul kitab walau mereka cinta damai) adalah karena jizyah diartikan sebagai “uang/ pajak perlindungan” atau istilah premannya adalah “uang keamanan”.

Kata jazaaa-un bermakna pengembalian dari sesuatu, yang oleh tim DEPAG diterjemahkan sebagai balasan dari suatu perbuatan (misal di 2:85, 191), baik perbuatan baik maupun buruk. Pada kata jazaa-un yang memberikan balasan adalah pihak lain, bukan pihak yang berbuat. Sedangkan pada kata jizyah, sesuatu yang harus dikembalikan/ dibayarkan sebagai akibat dari suatu perbuatan dilakukan oleh yang berbuat, bukan oleh pihak lain. Jadi di sini lebih tepat bermakna ganti rugi yang harus dibayarkan oleh si pelaku terhadap kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari peperangan yang mereka mulai. Sedangkan upeti/ pajak perlindungan istilah arabnya adalah KHORJAN (upah atas jasa) sebagaimana yang dipakai pada ayat 18:94.

Sebagai kesimpulan bahwa Islam itu cenderung kepada perdamaian dapat dibaca pada ayat-ayat berikut:

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ref. AQ, 8:61)

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka WALI-WALI (pemimpin, pelindung, penolong, sekutu, teman dekat), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka WALI, dan jangan (pula) menjadi penolong, KECUALI:

  • orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau
  • orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.

Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. TETAPI jika mereka:

  • membiarkan kamu, dan
  • tidak memerangi kamu serta
  • mengemukakan perdamaian kepadamu

MAKA ALLAH TIDAK MEMBERI JALAN BAGIMU (UNTUK MENAWAN DAN MEMBUNUH) MEREKA. (refer AQ, 4:89-90).

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang:

  • TIADA memerangimu karena agama dan
  • Tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai WALI (sekutu) mu atas orang-orang yang:

  • memerangi kamu karena agama dan
  • mengusir kamu dari negerimu dan
  • mendukung (orang lain) untuk mengusirmu.

Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai WALI, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (refer AQ, 60:8-9)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (refer AQ, 41:34)

Lalu dari mana paham bahwa Islam adalah boleh atau bahkan harus disebarluaskan dengan pedang?  

Mereka yang berpendapat bahwa ajaran Islam itu pada dasarnya ofensiv, salah satunya diwakili oleh kelompok berikut:

quote:

Hukum-Hukum Jihad

HT telah menjelaskan sejumlah hukum-hukum jihad dalam kitab Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah juz 2. Dibahas misalnya hukum jihad dari segi kapan fardhu kifayah dan kapan fardhu ‘ain, pengaturan jihad oleh Khalifah, hubungan jihad dengan keberadaan Khalifah, hukum orang yang mati syahiid, penjagaan perbatasan negara (ar-ribath), hukum meminta pertolongan orang kafir dalam jihad, tawanan perang, berdusta dalam perang, perdamaian (hudnah), dan sebagainya. (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz 2 dari halaman 145 s/d halaman 231). Dalam kitab Hizbut Tahrir (Ta’rif), hlm. 115-116, dijelaskan secara ringkas hukum terpenting dalam jihad.

Jihad hukumnya fardhu berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Al-Hadits. Nash Al-Qur`an misalnya QS Al-Anfaal : 39; QS Al-Baqarah : 193; QS At-Taubah : 29; QS Al-Baqarah : 216; QS At-Taubah : 39; QS At-Taubah : 132.

Nash Al-Hadits misalnya hadits shahih riwayat Imam Muslim :

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ؛ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang mati dan belum pernah berperang dan belum pernah berniat untuk berperang, maka dia mati dengan membawa satu cabang [sifat] kemunafikan.” (HR Muslim, Kitabul Imarah, no 1910).

Jihad hukumnya fardhu kifayah untuk memulainya, dan fardhu ‘ain jika musuh menyerang. Yang dimaksud “fardhu kifayah memulainya” (fardhu kifayatin ibtidaa`an), adalah bahwa kita (kaum muslimin) secara fadhu kifayah wajib memulai perang meskipun musuh (kaum kafir) tidak memulai memerangi kita. Jika tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang melakukan jihad ini dalam zaman tertentu, maka berdosalah semua kaum muslimin karena meninggalkan kewajiban jihad. (in lam yaqum bil qitaali ibtidaa`an ahadun min al muslimiina fi zamanin maa atsimal jamii’u bi-tarkihi).(Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 2/148).

Namun demikian, tidak halal kaum muslimin memulai perang kepada kaum kafir, sebelum menyampaikan dakwah Islam. Jadi yang pertama-tama, adalah wajib lebih dulu menyampaikan dakwah mengajak kaum kafir masuk ke dalam agama Islam. Jika mereka tidak mau masuk Islam, maka kaum kafir itu diminta membayar jizyah. Dan jika mereka tetap tidak mau membayar jizyah, barulah kaum muslimin boleh memerangi mereka. (Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 2/149).

Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Shahih Muslim dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya. (Lihat Shahih Muslim, kitabul Jihad, no. 1731, juga hadits yang semakna dalam Sunan Abu Dawud, no. 2858; Jami’ Tirmidzi, no. 1408). (Hisyam Al-Badrani, Syarah Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah Juz 2, hlm. 176).

HT menolak pembatasan jihad hanya pada jihad defensif (jihad difa’i) saja, yaitu hanya disyariatkan dalam rangka bertahan terhadap serangan musuh. Pembatasan ini batil, karena dalam Islam juga terdapat jihad ofensif (jihad hujuumi/jihad thalab), yaitu jihad yang bersifat aktif menyerang musuh kafir lebih dahulu, tanpa menunggu diserang musuh. Jadi jihad defensif dan jihad ofensif kedua-duanya ada dan diakui dalam Islam, bukan hanya jihad defensif saja. (Lihat kitab HT berjudul Hatmiyyah Ash-Shira’ Baina Al-Hadharah Al-Islamiyyah wa al-Hadharah Al-Gharbiyyah).

Dalam Al-Qur`an terdapat dalil yang mensyariatkan jihad defensif (lihat QS Al-Baqarah : 190). Namun dalam Al-Qur`an juga terdapat dalil yang mensyariatkan jihad ofensif (misalnya QS At-Taubah : 29). Khalifah Umar bin Khaththab dulu banyak melakukan penaklukan (futuhat) yang hakikatnya adalah jihad ofensif yang tanpa menunggu serangan musuh lebih dulu.

Mereka yang membatasi jihad hanya pada jihad defensif sebenarnya telah melakukan ta`wil yang batil sebagai upaya membela diri dari serangan kaum orientalis yang kafir. Memang banyak kaum orientalis yang kafir yang telah menyerang dan mengecam jihad. Mereka memberi predikat-predikat buruk kepada jihad, misalnya disebut sebagai penyebaran agama dengan pedang, tindakan biadab, barbar, kejam, tak berperikemanusiaan, dan sebagainya. Dalam kitab Iftiraa`aat Haula Ghaayaat Al Jihad, karya Dr. Muhammad Na’im Yasin (Darul Arqam ; 1984) dapat dijumpai kutipan-kutipan serangan terhadap jihad yang dilontarkan oleh kaum orientalis yang kafir, seperti Philip K. Hitti, Ignaz Goldziher, Majid Khadduri, Arnold Toynbee, Lorents Brown, dan sebagainya.

Akhirnya sebagian umat Islam yang tersudut mencoba membela diri. Mereka ini sayangnya membela secara salah dan melakukan penakwilan yang batil dengan mengatakan bahwa jihad dalam Islam hanya jihad defensif saja. Jelas takwil ini seperti tak dapat diterima dan tertolak (marduud), karena bertentangan dengan nash syara’ dan realitas sejarah futuhat pada masa Khulafa`ur Rasyidin. (Lihat Busthomi Muhammad Said, Gerakan Pembaruan Agama (Mafhum Tajdid Ad-Diin), Bekasi : Wala Press, 1995, hlm. 317-321).

End quote:

Dikutip dari link: https://hizbut-tahrir.or.id/2013/11/25/jihad-dalam-perspektif-hizbut-tahrir/

Dapat juga dibaca di link-link yang sejalan dengan paham di atas, yaitu:

http://margasungkaibungamayangbuaysemen.blogspot.co.id/2012/05/jihad-menurut-menurut-imam-abu-hanifah.html

https://id.scribd.com/doc/57890416/Hukum-Jihad-Itu-Terbagi-Dua

http://razipothman.blogspot.co.id/2010/04/jihad-fisabilillah-3-menurut-ahli-fiqih.html

 

JIHAD OFENSIV TIDAK SEJALAN DENGAN PRINSIP-PRINSIP FUNDAMENTAL YANG DIAJARKAN OLEH AYAT-AYAT BERIKUT:

Tidak ada paksaan di dalam ad-Diin; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (AQ, 2: 256).

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (AQ, 10:99)

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.  (AQ, 50:45)

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (AQ, 18:29)

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. (AQ, 10:108).

Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengadzabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka. (AQ, 17: 54).

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (AQ, 88: 21-22),

Untukmulah Diin-mu dan untukkulah Diin-ku”.  (AQ, 109:6).

JIHAD OFENSIV JUGA TIDAK SEJALAN DENGAN ADANYA PERSYARATAN DIPERBOLEHKANNYA BERPERANG PADA AYAT-AYAT BERIKUT:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (AQ, 2:190)

…. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.  (AQ, 4:91)

Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biar pun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman. (AQ, 8:19)

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (AQ, 8:30)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, (AQ, 8:36)

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). (AQ, 8:55-56)

Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (AQ, 9: 12-13)

… dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; … (AQ, 9: 36)

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (AQ, 22:39).

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ref. AQ, 8:61)

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: