HADITH DI MATA IMAM ABU HANIFAH

2

April 24, 2016 by Islam saja

Nama Imam Abu Hanifah (rahmatullah alaih) tidak memerlukan pengenalan lebih jauh dalam lingkaran Jurisprudensi Islam, di mana ia mendapat penghargaan yang tinggi dan dihormati. Pada pendahuluan menulisan ini, dalam konteks dengan Dr. Allama M. Iqbal, kami menyebutkan tentang pandangan Imam Hanifah (R) terhadap ahadith. Pada halaman berikut kita akan mengemukakan kepada anda suatu laporan terperinci tentang topik ini.

 IMAM-AZAM SANGAT SEDIKIT MEMINTA BANTUAN PADA AHADITH:

Dipandang dari sudut aturan Al-Qur-an, menyusun detail tentang ajaran al-quran disebut sebagai Hukum Islam (Fiqh). Sepanjang periode sahabat Rosul, tidak ada spekulasi tentang ajaran ini. Bagaimanapun, usaha yang paling utama dan paling efektif telah dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (R) yang dikenal sebagai “Imam-Azam” di kalangan masyarakat Islam. Dan dengan itulah ia berhak/ layak mendapat julukan tersebut. Ia mengkhususkan diri di bidang hukum Islam dan unggul di bidangnya. Hukum-hukum hasil karya Imam masih diterapkan hingga hari ini. Sekarangpun, mayoritas muslimin mengikuti hukum yang diatributkan kepada dia. Hampir semua ulama Islam mengetahui bahwa jurisprudensi Imam Azam adalah dari hasil spekulasi. Spekulasi pada konteks ini berarti bahwa kita membuat hukum fiqh atas usaha kita sendiri, berdasar pada aturan Al-Qur-an suci. Para ulama juga sadar pada fakta ini bahwa ketika membuat suatu hukum fiqh, Imam Azam sangat sedikit bersandar pada ahadith. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bahwa beliau tidak bisa memperoleh ahadith pada zaman itu. Menurut beberapa laporan, beliau itu lahir pada tahun 61 Hijrah, sedangkan yang lain menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 80 Hijrah dan tahun kematiannya adalah 150 H. Adalah akan lebih mudah untuk mengakses hadith tentang apapun pada zaman beliau dibandingkan dengan zaman ketika Imam Bukhari bekerja mengumpulkan hadits (yaitu pada tahun 256 Hijrah). Berkaitan dengan pengakuannya terhadap hadits Rosulullah, Muhammad bin Sum’aa berkata bahwa ia mendengar Imam Yusuf berkata, “Aku tunduk kepada mayoritas ahadith. Faktanya adalah bahwa pandangan Abu Hanifah sangat berbeda dengan saya. (Sejarah oleh Khateeb Baghdadi, halaman 340). Alasannya adalah bahwa beliau tidak menganggap ahadits sebagai wahyu Allah yang tidak dapat dirobah, atau tidak boleh diragukan. Dari awal hingga akhir, Imam Azam membangun struktur Deen-nya berdasar atas keyakinan. Dalam hal ini, Deen yang meyakinkan ini tersembunyi dalam Al-Qur-an.

Karenanya, Ali Ibnul Madani mengutip cerita yang menggambarkan hal ini dari Abdul Razzaq yang berkata, “hukum sedang duduk dengan seorang yang lebih tua ketika Abdullah Ibnul Mubarok datang dan bergabung dengan kami. Kami mendengar orang yang lebih tua berkomentar bahwa ia tidak mengetahui orang yang lebih mengetahui dan merenungkan tentang hukum Islam, dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang mahir menjelaskan kepada orang-orang secara gamblang aliran kemerdekaan hidup dalam hukum Islam dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang lebih berhati-hati dibanding Abu Hanifah, yang tidak membawa kecurigaan atau kerancuan apapun dalam Deen Allah. (Khateeb Baghdadi, halaman 339).

Dipandang dari sudut Al-Qur-an, dengan proposal dari penasehatnya dan usaha perenungan pribadinya, ia membuat hukum fiqh. Bilamana seseorang menolak pada putusannya, atas dasar hadith Rosul, beliau akan selalu menyampaikan kepada dia, seperti Hazrat Umar ketika berkata, “Keputusan Rosulullah adalah menurut keadaan zamannya, zaman telah berubah sekarang, karena alasan inilah maka keputusan hukum perlu dikembangkan.” Atau beliau mengikuti kata-kata Hazrat Aisha (R) dan sahabat Rosul yang lain yang berkata, “Siapa yang mengetahui apa yang Rosulullah katakan, atau bagaimana si pendengar memahaminya? Bagaimana mungkin kita, di hadapan Al-Qur-an, membuat kerancuan merupakan bagian dari ad-Deen?” Karena beliau kebanyakan tunduk pada fakta tersebut, bahwa ahadith Rosul Allah tidak bisa dipercaya, atau hadits tidak tanpa perubahan, hal ini menjadikan beliau, pada kondisi diskusi/ debat yang panas terhadap ahadith, dan dengan penuh semangat.

Imam Sufyan bin Ainee menyatakan bahwa aku belum pernah melihat sesiapapun lebih berani dalam bidang Allah dibanding Abu Hanifah (R). Ketika saya sedang mengutip suatu hadith di mana Imam Abu Hanifah (R) datang untuk mengetahuinya. “Sebelum penjual dan pembeli berpisah, transaksi tersebut batal.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Ceritakan kepadaku, jika kedua-duanya sedang bepergian sekapal. Jika kedua-duanya terkunci dalam penjara. Atau jika kedua-duanya bersama-sama dalam suatu perjalanan. Bagaimana mereka akan berpisah, atau bagaimana mereka akan bisa menutup transaksi mereka.”

IMAM AZAM MEMBUANG LEBIH DARI 400 AHADITH:

Abu Saleh Farah menulis bahwa ia mendengar Yusuf bin As-baat berkata, “Abu Hanifah (R) membuang lebih dari 400 ahadith Rosul” Maka saya bertanya kepada Yusuf, “Wahai Abu Muhammad! Apakah kamu ingat ahadith itu?” Ia mengiakan. Aku meminta dia untuk menceritakan sebagian dari ahadith itu.

Yusuf bin As-baat berkata, Rosululla berkata, “Perihal barang-barang rampasan perang, dua bagian kepunyaan kuda dan satu bagian jatuh kepada penunggangnya.”Abu Hanifah (R) berkata bahwa ia tidak bisa membuat satu bagian dari binatang sepadan dengan satu bagian dari mukmin. Mereka berkata bahwa Rasul menandai binatang korban dengan tombaknya. Abu Hanifah (R) berkata, “Menandai binatang berarti mengubah bentuk binatang itu’. Rasul berkata, “Sekali waktu konsumen dan pemilik sudah pergi, kontrak atau transaksi tidak bisa dibatalkan.” Pendapat Abu Hanifah adalah, “Ketika transaksi ditutup, tidak bisa dibatalkan.” Ketika Rasul memutuskan untuk bepergian, beliau akan mengundi untuk memilih salah seorang isterinya untuk menemani beliau. Mereka meyakini, para sahabatnya, melakukan hal yang sama. Tetapi Abu Hanifah (R) berkata mengundi adalah judi.

Abu Saeeb berkata bahwa ia mendengar dari Imam hadith yang terkenal bernama Wakeeh, bahwa Abu Hanifah (R) telah menentang dua ratus ahadith. Abdul Ali bin Hamad ketika mengutip dari bapaknya Hamad bin Salma menceriterakan, ketika Abu Hanifah (R) menemukan ahadith Rasul Allah, ia membuangnya diganti dengan pendapat pribadinya. Imam Ahmad bin Hambal (R) juga telah menulis hadith yang sama dari Hamad dari Muwamal. (Khateeb, halaman 390-91)

Abu Ishaaq Fazari berkata bahwa ia sering pergi menemui Abu Hanifah (R) dan bertanya berbagai hal berkenaan dengan “jihad’. “Suatu hari ia bertanya kepada beliau tentang suatu masalah. Ketika ia mendengar jawabannya, ia berkata bahwa Rasul Allah telah berkata yang berbeda tentang hal ini. Menanggapi ini Abu Hanifah (R) menjawab, “Maafkan saya dari omong kosong ini.” Yang dengan cara yang sama, suatu hari, beliau ditanya lagi tentang suatu masalah yang tentangnya beliau memberi suatu jawaban. Ia mengulangi hal yang sama bahwa Rasul telah berkata sesuatu yang berbeda. Abu Hanifah (R) berkata, “Ambil kertas catatanmu dan usapkan pada seekor babi.” (Khateeb, halaman 387)

Abu Hanifah (R) diberitahu suatu hadith tentang suatu pemberontakan melawan Sultan zamannya. Abu Hanifah (R) menjawab bahwa itu tak lain hanyalah dongengan. Ali Ibnu Asim menulis bahwa ia menceritakan suatu hadith Rasul kepada Abu Hanifah (R). Abu Hanifah (R) menolak untuk menerimanya. Aku menegaskan bahwa itu adalah perkataan dari Nabi yang mulia. Ia menjawab, “Ya! Dan aku keberatan untuk menerima.” (Khateeb, halaman 387)

Bashar bin Mufazal berkata, ia menerangkan kepada Abu Hanifah (R), perkataan Rasul Allah, bahwa Nafy (R) telah mengutip dari Ibn Umar, “Pelanggan dan pemilik tidak bisa melanggar suatu kontrak atau memutus transaksi, ketika mereka sudah berpisah satu sama lain.” Terhadap hal ini Abu Hanifah (R) berkata, itu hanyalah sebuah nyanyian perang.

Aku berkata bahwa Fi’ada mengutip dari Hazrat Anas (R) bahwa seorang Yahudi meremukkan kepala seorang muslimah dengan dua batu. Rasul melakukan yang sama, sebagai balasan/ qishosh kepada Yahudi itu. Abu Hanifah menanggapi bahwa itu semua adalah sampah.

Serupa dengan itu, seseorang mengutip di depan dia, keputusan Hazrat Umar tentang suksesi. Abu Hanifah (R) menjawab, itu adalah cerita palsu dari Setan. (Abdul Warris telah mengutip hal yang sama). (Note: mungkin yang dimaksudkan tentang suksesi ini adalah sejarah versi Majusi Persia bahwa Umar telah merekayasa terpilihnya Usman sebagai penggantinya dalam rangka menyingkirkan Ali).

Yahya Ibnu Adam berkata bahwa suatu hadith dikutip di depan Imam Abu Hanifah (R), tentang Rasul yang menyatakan, “wudhu itu adalah separuh iman!” Abu Hanifah (R) menjawab, “Oleh karena itu, kita harus melaksanakan wudhu dua kali dan lengkaplah iman kita!”

Dengan cara yang sama, Abu Hanifah (R) diberitahu hadits Rasul yang berkata, “berkata aku tidak tahu adalah separuh pengetahuan.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Maka kita harus mengulangi, aku tidak mengetahui, dua kali dan lengkaplah pengetahuan kita.”

PERINTAH ADALAH SEJARAH DAN MASA LALU:

Bashr Ibnu Asry menyatakan, “Aku pergi ke Abu Awana dan menceritakan kepadanya bahwa aku datang untuk mengetahui, apakah kamu mempunyai buku Abu Hanifah. Bisakah kamu mendapatkannya untuku, karena aku ingin mempelajarinya. Abu Awana menjawab, “Nak! Aku gembira kamu mengingatkan aku”. Dan ia pergi menuju sebuah peti dan mengambil sebuah buku darinya. Setelah merobek berkeping-keping, ia melemparkannya. Aku terkejut dan berkata, “Hargailah.” Ia berkata, “Suatu hari aku sedang duduk dengan Abu Hanifah (R) ketika pengawal Sultan datang kepadanya dan meminta keterangan tentang hukuman mencuri sebuah sarang lebah. Abu Hanifah (R) tanpa ragu-ragu menjawab, jika harganya sepuluh dirham, maka tangannya harus dipotong. Ketika pengawal sudah pergi, aku berkata kepada Abu Hanifah (R), “Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Aku telah diberitahu oleh Yahya bin Saeed, yang diberitahu oleh Muhammad bin Haban, yang diberitahu oleh Rafay bin Khadeej bahwa Rasul berkata, “Kamu tidak boleh memotong tangan atas pencurian hewan dan tumbuh-tumbuhan.” Kamu harus segera menyelematkan orang tadi, kalau tidak; pegawai Sultan akan memotong tangannya. Lagi Abu Hanifah (R) menjawab tanpa ragu-ragu, “Keputusan telah diambil dan dikerjakan berdasarkan itu.” Dan tangan pencuri tersebut dipotong.

AQQIQAH ADALAH JAHILIYYAH:

Abu Bakr Asrm menyatakan bahwa Abu Abdullah bin Ahmad bin Hambal (R) telah menerangkan, di depan kami, banyak ahadith Rasul, perkataan dari para sahabat dan tabi-in (R) tentang topik aqqiqah (pembagian daging korban binatang pada saat kelahiran seorang anak). Dengan sebuah senyuman dan wajah yang mengagumkan, ia berkata, “Tetapi Abu Hanifah (R) berpikir bahwa ini semua adalah tindakan jahiliyyah.”

Muhammad bin Yusuf Baykundi berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal (R) mengamati seseorang yang menulis tentang Abu Hanifah (R) di mana ia berkata bahwa adalah memungkinkan melakukan perceraian sebelum akad nikah dilakukan. Imam Ahmad melakukan pembelaan, “Tidak mungkin! Kamu pikir Abu Hanifah (R) tidak tinggal di Iraq, atau bahwa ia bukanlah orang yang terpelajar. Terhadap topik ini, Rasul, para sahabatnya, sekitar tiga puluh tabi-in, termasuk Saeed bin Jabeer, Saeed bin Almseeb, Ataa, Tawus, Ikrimah dan yang lain-lainnya sudah setuju dengan suara bulat bahwa perceraian tidak mungkin sebelum akad nikah. Bagaimana mungkin Abu Hanifah (R) berkata seperti itu? (Khateeb, halaman 411)

Sudahkah anda mengamati pendekatan dengan hadith oleh para ahli fiqh Islam yang paling besar? Hukum-hukum yang diundangkan dan dibuat, atau diatributkan kepada beliau diterapkan ke dalam mayoritas masyarakat dunia Islam. Dan tidak ada orang manapun yang menyebut Imam Azam dan Muslim Hanafi sebagai kafir. Padahal, intensitas Imam Abu Hanifah (R) menolak ahadith, akan sulit ditemukan contohnya di kalangan penolak hadith lainnya.

BAHKAN RASUL PUN PASTI AKAN SETUJU, JIKA AKU HIDUP PADA ZAMAN ITU:

Imam Azam telah mendukung pandangannya dengan pertimbangan akal. Menurut dia, Rasul sendiri, ketika membuat hukum, memusyawarahkan berbagai permasalahan dengan para sahabatnya dan memakai pendapat yang ia anggap terbaik. Setelah itu ia berkata, “Jika aku hidup pada zaman Rasul, kemudian aku akan mengambil bagian dalam panitia penasehatnya. Aku yakin bahwa pada berbagai hal Rasul pasti mengambil pendapatku.”

Karenanya:

“Mahmood bin Musa berkata bahwa aku mendengarnya dari Yusuf bin Asbaat, bahwa Imam Abu Hanifah (R) biasa berkata, “Jika Rasul menemukan aku, dan aku berjumpa dengan dia, terhadap mayoritas dari persoalan, Ia pasti akan mengakui pendapatku. Aku mendengar Abu Ishaaq berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) menentang kebanyakan ahadith Rasul. (Khateeb sejarah, halaman 287)”

Kita berpikir tidak ada lagi yang perlu dikatakan tentang isu ini. Singkatnya, ini berarti bahwa otoritas pusat (pimpinan eksekutive Negara yang berdasarkan Al-Qur-an) dalam bermusyawarah dengan para anggota perwakilan masyarakat, mengambil keputusan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari sudut pandang Al-Qur-an yang disebut “Syari’ah Islam.” Dan keputusan ini menyesuaikan diri dengan keadaan zaman yang berubah-ubah. Adalah karena pendekatan yang spesifik inilah maka Imam Abu Hanifah (R) di kemudian hari dikafirkan. Ia dimahkotai dengan berbagai cercaan, keterangan yang menghina dan tuduhan yang tidak masuk akal.

HINAAN DARI PARA PENULIS HADITH:

Imam Malik bin Anas berkata bahwa virus Abu Hanifah (R) tidak lebih mematikan dibandingkan dengan gurita Setan. Dalam doktrinnya, demikian juga dalam pengingkarannya terhadap ahadith. Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak bisa membayangkan, setelah ancaman Da’jall, ancaman apapun terhadap Islam, yang lebih besar dari pada Abu Hanifah (R)….’ (Khateeb, halaman 396)

Sulaiman bin Husain Halbee menulis bahwa Imam Auzai telah sering didengar berkata bahwa Abu Hanifah (R), satu demi satu, telah mengurangi setiap batalyon Islam. Fazari berkata bahwa ia mendengar Auzaee dan Sofyan berkata bahwa tidak ada seorangpun dalam Islam yang lebih bernasib sial dibandingkan dengan Abu Hanifah (R). Imam Sha’afi telah menggunakan kata “yang terburuk.” Telah ditanyai Qais bin Alzabea tentang Abu Hanifah (R). Ia berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang paling bodoh tentang hadits dan ahli hukum masa depan yang paling bijaksana. (Khateeb, halaman 498)

Umrah bin Qais telah berkata bahwa siapapun yang ingin mencari kebenaran, ia harus memperhatikan Abu Hanifah (R) dari Kufa. Setelah itu ia harus menentang perkataan dan ucapannya. Am’aar bin Zar’eeq berkata agar menentang Abu Hanifah (R) dan kamu akan menemukan kebenaran. Bushra berkata agar menentang dia dan kamu akan melihat kebenaran. Dengan kata lain, kita dapat berkata, diberkatilah mereka yang menentang dia. (Khateeb, halaman 408)

ADALAH SEBUAH KEJAHATAN MENYEBUT ABU HANIFAH DI DALAM MESJID:

Abu Ubaid berkata bahwa ia sedang duduk dengan Aswad Ibnu Salim di Mesjid Jamia Raza’fah. Selagi mendiskusikan suatu topik, keluar dari lidahku bahwa pendapat Abu Hanifah seperti ini. Aku segera diperingatkan oleh Aswad mengapa aku menyebut Abu Hanifah (R) di dalam mesjid? Dan karena kesalahan ini ia tidak berbicara denganku hingga kematiannya. (Khateeb, halaman 409)

Safyan mengutip Hishaam bin Marwah, yang mendapat hadith ini dari bapaknya. Yang menyatakan, bahwa berbagai persoalan diantara Bani Israel sangat harmoni, hingga anak-anak, para budak dan pelayan wanita jumlahnya menjadi terlalu banyak, dan sekarang mengganggu sistem. Para budak wanita ini telah berada pada jalur yang rusak, sekarang mereka membawa yang lainnya pada jalan mereka. Setelah itu Safyan menyatakan, di Islam juga berbagai hal publik adalah sangat harmoni. Hingga Abu Hanifah (R) dari Kufa, But’ee dari Basra dan Rabia Ibnu Abdur Rahman datang ke Medina dan mengubah pola teladan itu. (Khateeb, halaman 394)

FIQH HANAFI ADALAH HASIL KARYA DA’JAAL:

Hamduya bin Mukhlid menyatakan bahwa Muhammad bin Maslama Medeeni ditanya mengapa pendapat Abu Hanifah yang sudah menjadi percakapan secara terus menerus dalam semua empat sudut tetapi tidak bisa menyebar ke bagian dalam seluruh Medina. Muhammad bin Maslama menjawab, “Alasannya adalah, Rasul menceritakan kepada kita bahwa seorang malaikat ditempatkan pada tiap-tiap persimpangan di Medina, yang akan menghentikan Da’jal memasuki Medina. Karena literatur ini adalah juga hasil karya Da’jal, maka itu tidak bisa menyebar ke seluruh bagian dalam Medina. (Khateeb, halaman 396)

IMAM ABU HANIFAH (R) ADALAH BISU DAN YATIM DI BIDANG HADITH:

Ibnu Ishaaq Trindi menulis bahwa Abdullah Ibnul Mubarik berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang buta huruf menyangkut ahadith. Sr’eej bin Yunus dikutip pernah berkata bahwa Abu Katan menulis, walaupun kita menceriterakan hadith dari Abu Hanifah (R), ia adalah bisu di bidang hadith. Ibnu Numr berkata bahwa aku menemukan orang-orang dengan suara bulat mengakui pada fakta, terhadap apa yang harus dikatakan terhadap pendapat dan pandangannya, kami tidak mempercayai hadith Abu Hanifah (R) apapun. Hajjaj bin Artaat menulis, “Siapa Abu Hanifah? Siapa yang mau mendengar Abu Hanifah? Abu Hanifah bukan apa-apa?”

Ali bin Al-Madeeni menyatakan bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Yahya Ibnu Saeed Kat’aan, ketika seseorang sedang bertanya kepada dia tentang salah satu dari hadith Abu Hanifah. Terhadap hal itu Yahya berkata, “Sejak kapan Abu Hanifah mengetahui sesuatu tentang hadith?”

Muhammad bin Hamad Makri menulis bahwa Yahya bin Mueen (R) ditanya tentang Abu Hanifah (R), mengenai itu ia menjawab, “Berapa banyak ahadith yang ia punyai yang kamu bertanya kepadaku mengenai dia?”

Abu Bakr Ibnu Shazaan berkata bahwa ia diberitahu oleh Abu Bakr Ibnu Abi Dawood, kemarin Abu Hanifah (R) mengcopy 150 ahadith, separuh darinya dibuang olehnya karena ada kesalahan.

IMAM ABU HANIFAH TIDAK DIHORMATI:

Mo’el berkata bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Sofyan as-Sauree. Saur’ee pada waktu itu sedang mengelilingi Ka’bah. Ia mulai mengulangi kata-kata, “Abu Hanifah bukan orang suci dan dipercaya” hingga ia menyelesaikan putaran Ka’bah-nya. (Khateeb, halaman 415).

Berbagai pandangan yang dikutip di atas harus diingat ketika kita menguji tentang siapa yang membentuk opini ini dan siapa yang mereka bicarakan. Masing-masing dari mereka dianggap pilar dari eksistensi hadith. Inilah keputusan dari para pilar Islam terhadap diri Abu Hanifah (R). Mari kita lihat apa yang telah mereka katakan terhadap dua pengikut terkenalnya yaitu Imam Abu Yusuf (R) dan Imam Muhammad (R). Sebelum kita membaca lebih lanjut, harus ditekankan di sini, bahwa dalam keseluruhan madzab Hanafi, tidak satupun buku yang dikarang oleh Abu Hanifah (R) yang mencapai kepda kita. Apapun yang kita ketahui tentang dia telah menjadi kebaikan dari dua orang pengikutnya tersebut di atas.

IMAM YUSUF DI BAWAH PENELITIAN YANG CERMAT OLEH PARA SARJANA IMAM-IMAM:

Abdul Razzaq bin Umar menyatakan bahwa ia sedang duduk dengan Abdullah Ibnul Mubarok, ketika seseorang bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Abdullah mengabulkan dia suatu keputusan. Orang tersebut berkata bahwa ia telah bertanya kepada Abu Yusuf (R) tentang masalah yang sama, tetapi ia tidak memberi keputusan apapun yang bertentangan dengan anda. Abdullah kemudian berkata kepada lelaki tersebut, “Jika kamu melakukan sholatmu, dan imamnya adalah Abu Yusuf (R), manapun yang kamu ingat, maka kamu harus mengulangi sholat-sholatmu. (Khateeb, halaman 257)

Abda bin Abdullah Khorasani berkata bahwa seseorang bertanya kepada Abdullah Ibnul Mubarok tentang siapa yang lebih baik di antara Abu Yusuf dan Muhammad. Abdullah Ibnul Mubarik berkata, “Jangan berkata seperti ini. Kamu seharusnya bertanya: siapa diantara keduanya yang lebih besar dustanya?. “Lalu lelaki itu berkata, “Katakan kepadaku?” Abdullah berkata, “Abu Yusuf!”

Abdullah bin Idrees berkata, “Abu Hanifah adalah kasus yang tidak biasa dan ekstrim yang telah berlalu. Abu Yusuf adalah seekor musang dan seorang penyeberang ganda. (Khateeb)

IMAM ABU YUSUF DITUDUH BERBOHONG OLEH IMAM ABU HANIFAH:

Muhammad bin Ishmael Bukhari telah dikutip bahwa Imam Abu Hanifah (R) berkata, “Mengapa kamu semua tidak terkejut mengenai Ya’coob (Imam Abu Yusuf), ia telah menuduhku menceritakan kebohongan yang belum pernah aku katakan.”

Abu Naeem Fazl bin Waqeen berkata bahwa dia mendengar Abu Hanifah (R) menceritakan tentang Abu Yusuf, “Celaka kamu, kamu sudah terlalu banyak berbicara tentang aku di dalam buku ini yang aku belum pernah mengatakannya.” (Khateeb)

Ibnu abi Sha’ibah dan Ibnu Maghlabi mengutip Yahya bin Mu’een bahwa Abu Yusuf (R) tidak mempunyai persepsi terhadap hadith. Tetapi kami masih mempertimbangkan dia sebagai bisa dipercaya. (Khateeb, halaman 259)

Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa walaupun aku pertama kali mengambil hadith ini dari Abu Yusuf (R), aku tidak akan menceriterakan ahadith ini. Meskipun demikian, ia adalah sangat jujur, orang tidak boleh mengambil hadith apapun dari para pengikut Abu Hanifah (R).

Abul Hassan bertanya tentang Abu Yusuf (R) kepada Imam Daru Kutni, terhadapnya ia menjawab bahwa Abu Yusuf (R) secara komparatif lebih kokoh, meskipun begitu, ia seperti seorang yang timpang di antara yang pincang. Imam Muhammad bin Ishmael Bukhari berkata bahwa Ya’coob bin Ibrahim Abu Yusuf Qazi telah dikeluarkan dari lingkaran para ahli hadith. (Khateeb, halaman 259-60)

Imam Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa Ya’coob Abu Yusuf (R) adalah di antara pengagum hadith, seperti Abu Hanifah (R) dan Muhammad bin AlHassan (R) keduanya adalah menentang hadith Rasul. (Khateeb, halaman 179)

IMAM MUHAMMAD ADALAH PENDUSTA:

Yahya bin Mueen ditanya tentang Muhammad bin AlHassan (R), tentangnya ia menjawab bahwa Muhammad bin AlHassan adalah seorang pendusta. Pada kesempatan lain ia berkata AlHassan itu sudah tua, kadang-kadang ia berkata bahwa tak seorangpun mengambil hadith dari dia, ia tidak ada apa-apanya. (Khateeb, halaman 180)

Abu Dawood memegang pandangan yang sama tentang AlHassan bahwa tidak ada hadith yang diambil dari dia dan bahwa ia tidak berharga.

Imam Abul Hassan Daru Kutni berkata bahwa Muhammad Ibnul Hassan (R) telah disebut sebagai seorang pendusta oleh Yahya bin Mueen (R) dan Imam Ahmad bin Hambal (R). Sejauh yang ia perhatikan, Abul Hassan dapat dimaafkan. (Khateeb, halaman 181)

Bsh’ar bin Al-Waleed mengutip perkataan Abu Yusuf (R), “Tanyalah si pembohong Muhammad bin Al Hassan ini, bahwa apa yang ia tulis tentang aku, ia tidak pernah mendengar kata-kata itu dari aku. (Khateeb, halaman 180)

Yahya bin Mueen berkata bahwa Muhammad bin AlHassan (R) ditanya di depan aku tentang buku yang ia tulis, bahwa ia tidak pernah mendengarnya dari Abu Yusuf (R)? Muhammad bersumpah atas nama Tuhan dan menolak. Meskipun begitu, adalah benar juga bahwa aku mengetahui buku ini lebih baik daripada semua orang, dari Abu Yusuf (R) aku hanya mendengar “jama’ sagheera”. (Khateeb)

 

JURISPRUDENSI HANAFI TIDAK PERMANEN SEPANJANG ZAMAN:

Terkait dengan hadith yang anda telah dibaca perihal gagasan Imam Azam dan para pengikutnya. Setelah melalui ini, terdapat isu lain yang menarik, yaitu, apakah Imam Azam tidak pernah menginginkan untuk memproklamirkan bahwa dirinya menciptakan jurisprudensi yang tetap/ tidak dapat diubah hingga akhir zaman? Sekarang ini nyata sekali, bahwa seorang pemikir yang tidak percaya bahwa keputusan Rasul tak dapat diubah, bagaimana mungkin ia percaya bahwa putusan miliknya dapat tetap permanen? Tentang isu ini, kita memiliki bukti historis, bahwa Abu Hanifah (R) dengan tegas menentang dugaan bahwa usaha rohaninya mempunyai nilai yang tidak tergantung waktu.

Nazar bin Muhammad berkata bahwa kami sering menemui Imam Abu Hanifah (R) dan menemani kami seseorang dari Syria. Ketika Orang Suriah itu sedang berangkat dari tempat nginapnya, ia menemui Abu Hanifah (R) untuk mengucapkan salam perpisahan. Abu Hanifah (R) bertanya, “Wahai Orang Suriah! Apakah kamu akan membawa literatur jurisprudensi ini bersama dengan kamu.” Orang Suriah itu mengiakan. Mengenai ini Imam berkata, “Hati-hatilah, kamu membawa suatu kejahatan yang sangat besar.” (Khateeb, halaman 401)

Mazahm bin Za’farr berkata bahwa dia sendiri bertanya kepada Imam Abu Hanifah (R) tentang apa yang beliau tulis dalam bukunya dan keputusan yang ia berikan, apakah semua kebenaran yang mana tidak ada keraguan atau kerancuan apapun di dalamnya? Imam Abu Hanifah (R) menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu. Sangat mungkin bahwa semua ini adalah palsu dan tidak ada keraguan atau keuntungan yang tertinggal di dalam keputusan yang menjadi palsu.

Imam Ja’far (R) berkata bahwa kami sering mengunjungi Imam Abu Hanifah (R). Apapun keputusan yang ia buat kami menulisnya. Imam Ja’far menulis bahwa suatu hari Imam Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf, “Celaka kamu Ya’coob! Jangan mencatat semua hal dan setiap yang kamu dengar dari aku. Aku bisa membuat suatu pendapat hari ini yang mungkin besok berubah atau dihindari.”

Abu Naeem (R) berkata bahwa ia mendengar Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf (R), jangan menulis putusanku pada setiap masalah. Demi Allah! Aku sama sekali menganggap apakah aku sudah berbuat salah atau aku seorang pemenang.

Suhail bin Muzahm berkata bahwa ia sering mendengar Abu Hanifah (R) membacakan ayaat ini:

“Wahai Rasul! Tunjukkanlah tanda kepada orang-orang itu, yang mendengarkan dan kemudian bertindak sesuai dengan apa yang nampak baik bagi mereka.” (Khateeb, halaman 352)

Dari ekstraksi singkat catatan sejarah tentang Imam Abu Hanifah (R), bisa ditangkap bahwa ia tidak menganggap Fiqh-nya bebas dari kesalahan. Lalu bagaimana mungkin bagi kita untuk mewarisi hasil kerjanya setingkat dengan wahyu. Dan menganggap mereka sempurna, menerapkan hukum-hukum itu, hingga akhir zaman.

Mari kita ulangi, secara singkat, keistimewaan Imam Abu Hanifah (R):

  1. Satu-satunya yang permanen dalam ad-Deen adalah prinsip dan aturan Al-Qur-an.
  2. Tradisi (hadith/ sunnah) mempunyai nilai historis. Kita dapat mendapatkan bantuan darinya, tetapi tidak harus dianggap permanen dalam ad-Deen kita.
  3. Dipandang dari sudut prinsip Al-Qur-an, kita harus menciptakan jurisprudensi kita sendiri (fiqh) dengan usaha rohani. Hasil usaha ini tidak bernilai secara terus-menerus.

Setelah rekapitulasi ini, kami akan meringkas isu ini yang diambil dari Imam Ahmad bin Hambal (R). Dalam mana ditulis: “Ibraheem Hubee berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) telah membawa begitu banyak hal baru pada pengetahuan kami, yang akan lebih baik dari pada mengunyah air. Suatu hari, aku bertanya kepada Imam Hambal (R) tentang Abu Hanifah (R), ia menjawab dengan ekspresi terkejut dan berkata, “Itu nampak seolah-olah Abu Hanifah sedang menulis sebuah Islam yang baru secara lengkap.” (Khateeb, halaman 413)

Jadi, jika hari ini seseorang mengatakan hadith yang sama yang membicarakan Imam Azam pada zaman itu dan para pengkultus nenek moyang kita men-dogmatisasi bahwa pribadi ini membuat agama baru; hal itu bukan merupakan sesuatu yang baru di atas bumi ini. Hal seperti itu sudah berlangsung sejak zaman dahulu.

Sumber: http://www.toluislam.com/index.pl/mag?func=viewSubmission&sid=77&wid=40

Saat ini artikel di atas sudah tidak ada di situs tsb. Belum ditemukan dipindah kemana. Saya menemukan artikel di situs tsb. pada tahun 2008.

2 thoughts on “HADITH DI MATA IMAM ABU HANIFAH

  1. alby says:

    sayang suka dengan artikel anda… teruslah menulis karena saya dan yang lain akan selalu menunggu tulisan selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: