Sikap Umar terhadap Hadith

Leave a comment

April 16, 2016 by Islam saja

Umar ibn al-Khattab dan Pertanyaannya terhadap Hadith

Dikarenakan status Umar dalam sejarah dan tradisi Islam, maka rincian keberatan yang dikaitkan kepada Beliau layak untuk dilakukan pemeriksaan yang cermat. ‘Umar ibn al-Khattab adalah di kalangan umat Islam awal yang cukup penting, salah seorang sahabat Muhmmad yang cukup dekat, seorang pemimpin Islam, dan orang kedua orang yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Sebagai khalifah kedua dari empat khalifah yang mendapat petunjuk (al-khulafa ‘al-Rasyidin), reputasi Umar terkait kesalehan dan dedikasinya untuk Islam telah melegenda dan tidak diragukan lagi di kalangan Muslim Sunni sepanjang sejarah.12 Pendapat beliau tentang masalah-masalah keagamaan juga sangat dihormati.

Dalam disertasi Harvardnya tahun 1996, Linda Kern telah memeriksa figur ‘Umar di Hadith al-Bukhari, dan beberapa pengamatannya menarik secara khusus untuk penelitian ini. Pertama, Pengamatan Kern bahwa  “[a] menurut kebijaksanaan umum, kecemburuan ‘Umar dalam melindungi wahyu Ilahiah membuatnya mendapatkan laqab (julukan kehormatan) paling populer al-faruq, atau seseorang yang dengan tekun ‘membedakan’ antara firman Allah dan setiap potensi perubahan terhadapnya.”13  Gambaran ‘Umar ini, yang Kern memberikan gambaran kepada kita dari al-Bukhari yang mengungkapkan mengapa ‘Umar adalah seorang tokoh “batang yang menyinari” dalam kontroversi tentang Hadith.

Tersebar di seluruh berbagai corak literatur Islam dari abad ketiga/ kesembilan dan seterusnya yang melaporkan bahwa tokoh legendaris ini dianggap sebagi sumber yang sangat keberatan terhadap penulisan dan penyebaran Hadith. Setelah dikumpulkan, rincian cerita-cerita ini memberikan sebuah kesan yang kuat dan mempertegas pandangan Kern bahwa dalam cerita ini ‘Umar “secara radikal memisahkan otoritas Rosul dari Risalah-Nya …. [dan] membedakan al-Kitab sebagai suber kebenaran yang independen yang terhadapnya tidak ada aturan yang harus diikuti yang bisa dilakukan.” 14

Ini adalah aspek khusus yang sangat penting dari kontroversi tentang Hadith sebagai sumber otoritas tulisan suci yang bertumpu pada kepercayaan pada otoritas Kenabian dan dualitas wahyu.

‘Umar di al-Tabaqat al-Kubra

Dalam dekade antara meninggalnya al-Shafi’i pada tahun 204/820 dan meninggalnya Ibnu Qutaibah pada tahun 276 AH, koleksi besar pertama Hadith dan karya-karya penting lainnya yang masih digunakan sampai sekarang telah kumpulkan/ ditulis. Salah satu yang terakhir adalah al-Tabaqat al-Kubra (Generasi terbesar) oleh Abu ‘Abd Allah Mumammad bin Sa’d (168 / 784-230 / 845). Sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Sa’d. Ia lahir dan dibesarkan di Basra. Dia pindah ke Baghdad di mana ia menjadi sekretaris sejarawan Abu ‘Abd Allah Mumammad bin ‘Umar al-Waqidi (w. 207/747). Ibnu Sa’d juga dikatakan telah melakukan perjalanan ke Kufah dan Madinah dan telah dikaitkan dengan banyak para ulama yang paling penting pada zamannya.15 Tidak disebutkan bahwa al-Shafi’i adalah di antara ulama yang dengannya Ibn Sa’d yang dikaitkan; Namun, kedunya adalah orang dewasa pada pergantian abad ketiga Hijrah dan keduaya bepergian dalam lingkaran ilmiah di pusat-pusat pembelajaran. Adalah wajar berasumsi bahwa bahkan jika keduanya tidak pernah bertemu, Ibn Sa’d sadar akan adanya kontroversi perihal Hadith dan doktrin dualisme wahyu yang mana al-Shafi’i sedang memperjuangkan pada zaman itu.

Meskipun dia bukan pendiri sebuah sekolah pemikiran atau arsitek doktrin Islam, Ibnu Sa’d memiliki pengaruh besar pada umat Islam melalui karya utamanya. Tabaqat-nya adalah salah satu yang paling awal dan biografi yang paling luas dari generasi pertama umat Islam. Karya ini terdiri dari laporan-laporan yang, seperti Hadith Nabi, terdiri dari sebagian besar isnad dan matn. Karena judulnya mengindikasikan, adalah sebuah catatan kehidupan para anggota dari generasi awal utama, dimulai dari Adam dan Hawa dan bergerak melalui garis keturunan leluhur Mumammad turun hingga zaman Ibn Sa’d sendiri. Ibn Sa’d menceritakan cerita tanpa komentar. Adalah melalui media al-Tabaqat al-Kubra inilah Muslimin dari waktu ke waktu hingga hari ini telah memahami kehidupan Nabi dan generasi awal Muslimin. Penulis biografi belakangan melaporkan bahwa Ibn Sa’d dapat dipercaya (Thiqa) dan benar (Saduq). Karena reputasi yang baik ini, mayoritas Muslim menerima cerita-cerita yang berhubungan dengan gambaran yang akurat dari bagaimana Muslim awal memahami dan mempraktekkan Islam.

Cerita pertama Ibnu Sa’d yang meriwayatkan tentang sikap ‘Umar terhadap pencatatan Hadith terjadi di bab dimana ia menceritakan penunjukannya sebagai Khalifah (Dzikir istikhlaf ‘Umar). Dia mengutip sebuah cerita dari Sufyan bin ‘Uyayna (w. 198 AH), pada otoritas al-Zuhri bahwa “‘Umar ingin (Arada) menulis Tradisi (al-sunan), sehingga ia menghabiskan sebulan sholat mengharapkan petunjuk; dan setelah itu, ia menjadi bertekad untuk menulisnya. Tetapi kemudian dia berkata: “Aku teringat orang yang menulis sebuah buku, maka mereka mengabdikan diri untuk itu (aqbalu ‘alaihi) dan mengabaikan Kitab Allah (wa-Taraku Kitab Allah). ‘ “16

Salah satu argumen yang dapat digunakan untuk melawan penerimaan cerita ini adalah bahwa itu adalah mursal – isnad-nya hilang – sebuah hubungan langsung antara al-Zuhri (b. c. 50/670) dan ‘Umar (w. 22/644) -dan karena itulah harus tidak diperhitungkan. Namun, Ibnu Sa’d belum melihat cocok untuk mengecualikan atas dasar hal itu dan dua tokoh al-Shafi’i dan Ibnu Qutaibah diketahui memiliki laporan mursal yang diterima dari individu yang dipercaya.

Kata-kata dari cerita ini adalah sangat langsung dan tidak meninggalkan keraguan karena apa yang ‘Umar khawatirkan akan terjadi jika ia melakukan penulisan Tradisi (Al-sunan) Nabi: bahwa, seperti orang-orang sebelum mereka, Muslim mungkin mengalihkan perhatian mereka ke buku itu dan mengabaikan Al Qur’an. Siapa orang-orang itu tidak disebutkan dalam cerita ini. Namun, cerita-cerita lain ditemukan di tempat lain di Tabaqat sama-sama jelas dalam kata-kata dan memberikan rincian tambahan.

Cerita berikutnya yang Ibnu Sa’d menceritakan tentang Amirul Mukminin dan sikapnya terhadap Hadith ditemukan dalam volume lima dari Tabaqat. Cerita ini dikaitkan dengan otoritas al-Qasim bin Mumammad bin Abi Bakr al-Siddiq (w. 106 H.) -cucu Abu Bakar, sahabat terdekat Muhammad yang lain dan Khalifah pertama yang mendapat petunjuk yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi. Ketika al-Qasim diminta oleh muridnya ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ (w. 164 AH) untuk mendiktekan Hadith, ia menolak, sambil mengatakan, “Hadith berlipat ganda selama zaman ‘Umar; maka ia memanggil orang-orang untuk membawa hadith-hadith itu kepada dia, dan ketika mereka membawa hadith-hadith kepadanya, ia memerintahkan hadith-hadith itu untuk dibakar. Setelah itu, ia mengatakan, ‘sebuah Mishna seperti Mishna dari Ahli Kitab,’ (mathna’a ka mathna’at ahl al-Kitab).” “Sejak hari itu,” ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ meneruskan, “Al-Qasim melarang saya untuk menulis Hadith.” 17 Sebagaimana dalam cerita pertama, apa yang mengganggu ‘Umar adalah penulisan sebuah buku yang akan menyaingi dengan Kitab Allah. Dia membandingkan Hadith yang ditulis tersebut dengan Mishna milik Ahli Kitab. Dalam paham agama yahudi, Mishna berfungsi sama dengan fungsi Hadith yang telah datang untuk melayani di dalam Islam. Ini adalah kodifikasi yang Hukum Lisan dan berisi aturan yang terkait dengan rincian ritual bersuci, berdoa, pernikahan, perceraian, dan sebagainya. Mishna dan Gemara secara bersama-sama membentuk Talmud, yang merupakan buku paling penting dalam agama Yahudi selain Taurat.18

Namun, ‘Umar diakui dengan keberatannya untuk tidak hanya dalam hal penulisan Hadith, tetapi juga dalam hal penyebarannya. Mungkin kisah yang terkuat dan paling menarik tentang sikap ‘Umar terhadap hadith Nabi saw adalah yang ditemukan dalam volume enam dari Tabaqat. Di sini, Ibn Sa’d mengaitkan cerita tentang instruksi ‘Umar kepada delegasi dari para sahabat bahwa ia akan mengirim untuk wilayah Kufah untuk melayani sebagai administrator. Dia memerintahkan kepada mereka untuk tidak mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an dengan periwayatan Hadith.
Sekali lagi, kata-kata yang dikaitkan kepada ‘Umar adalah signifikan: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum jarridu al-Qur’an wa-aqillu al-Riwayat ‘an Rasul Allah” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka! Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah!).19 Beberapa isu adalah penting tentang cerita khusus ini.

Isu pertama menyangkut kata-kata, dan yang kedua menyangkut seseorang yang menyebarkan cerita. ‘Umar memberikan perintah yang kuat dan langsung dalam cerita ini: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka!). ‘Umar mengikutkan perintah berikut ini dengan yang sama-sama langsung yang layak perhatian: “Jarridu al-Qur’an.” Kata kerja Arab jarrid adalah bersifat perintah bentuk kedua dari j-r-d, yang secara harfiah bermakna menjadikan sesuatu telanjang. Menurut Lisan al-‘Arab, bila digunakan dengan Al Qur’an sebagai objeknya, seperti di cerita ini, itu bermakna tidak memberi pakaian al-Qur’an dengan apa pun. Dalam Lisan, Ibn Mannur seara khusus mengutip Ibn ‘Uyayna (w. 198 AH), yang dari dia Ibn Sa’d mengaitkan cerita ini, yang mengatakan bahwa jarridu al-Qur’an berarti tidak mengenakan pakaian kepada Al-Qur’an dengan aHadiths dari Ahli Kitab.20 Namun, di dalam cerita ini, kata-kata ‘Umar berikutnya menunjukkan bahwa sumber dari cerita (al-aHadith) dimana Al Qur’an tidak dikenakan pakaian adalah-al-Riwayat ‘an Rasul Allah-riwayat dari Rasul Allah. Dalam melaporkan cerita ini dari Ibn Uyayna, Ibnu Sa’d tidak menunjukkan bahwa Ibn ‘Uyayna ditawarkan selain pemahaman literal dari kata-kata ‘Umar ini.

Namun jelas bahwa ‘Umar belum melarang secara kaku dalam riwayat yang seperti ini: “jarridu al-Qur’an wa aqillu al-Riwayat ‘an rasul Allah” (Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah.). Cerita ini tidak berbicara tentang Rosul atau apa yang Rosul ucapkan yang mengganggu ‘Umar. Apa yang mengganggu dia adalah adanya kemungkinan mengakibatkan sesuatu yang akan menyaingi Kitab Allah. Dalam cerita sebelumnya, kekhawatiran ‘Umar adalah bahwa penulisan ahadith akan berakibat demikian. Dalam cerita ini jelas bahwa dia takut setiap riwayat dari hadith Nabi akan berakibat hal yang sama.

Secara bersamaan, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa penulisan dan penyebaran aHadith menjadi praktek umum yang diterima – hanya setelah pertimbangan yang hati-hati bahwa ‘Umar menolak gagasan menempatkan Hadith dalam tulisan, dan kemudian mengambil langkah drastis menyerukan dan menghancurkan apa orang lain telah menulis Hadith. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan ‘Umar ini merepresentasikan sebuah pergeseran radikal dari norma yang berlaku. Dalam kasus ini, ‘Umar, sesuai dengan citranya sebagai pembela Kitab Allah, bertindak dalam menanggapi sesuatu yang menyaingi status dan kewenangan dari Kitab Allah.

Jika cerita ini benar-benar mewakili sikap ‘Umar terhadap penulisan dan penyebaran hadith Nabi, dapat dikatakan bahwa hal itu mewakili pendapat pribadi dan tidak didasarkan pada perintah dari Nabi.21 Namun demikian, ada dua masalah dengan argumen ini. Pertama, mengandaikan penerimaan atas perintah Nabi, di luar al-Qur’an, mengikat, sementara gagasan itu masih merupakan masalah yang diperdebatkan ketika ‘Abd al-Razzaq dan Ibn Sa’d sedang menulis. Kedua, dan ini lebih penting, bahkan jika hal itu hanyalah pendapat Umar secara pribadi, itu masih merupakan dasar dari keberatan terhadap penyebaran dan penulisan Hadith. Menurut cerita ini, ‘Umar sangat menentang baik penulisan maupun penyebaran Hadith – bukan karena ia tidak menyetujui penulisan atau berbagi informasi, tetapi karena ia khawatir bahwa ahadith akan memperoleh status sama atau bahkan lebih tinggi dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan jika cerita ini tidak benar-benar mewakili sikap, perintah dan tindakan ‘Umar, cerita itu mewakilinya sebagai pola dasar pembela Kitab Allah pada suatu zaman ketika beberapa orang melihat hadith Nabi sebagai pesaing status dan otoritas Kitab Allah.

‘Umar di Hadith

The Tabaqat bukanlah satu-satunya sumber abad ketiga yang menggambarkan ‘Umar sebagai keberatan dengan cerita-cerita yang merupakan  ekstra-Qur’an. Beberapa koleksi Hadith, baik , yang kanonik maupun nonkanonik, melaporkan perhatian ‘Umar tentang cerita-cerita extra Qur’anic dari Nabi. Koleksi Hadith yang akhirnya menjadi dikanonisasi bukanlah koleksi Hadith awal yang telah sampai kepada kita. Karya lebih awal yang penting adalah Musannaf dari ‘Abd al-Razzaq al-San’ani (w. 211/827).22 ‘Abd al-Razzaq melaporan baik keputusan ‘Umar untuk tidak melakukan penulisan Sunnah karena takut hal itu akan menyebabkan sebuah buku yang kepadanya orang-orang berpaling dan meninggalkan Kitab Allah23, dan juga cerita dimana ‘Umar memberikan perintah ini kepada orang-orang yang ia kirim untuk memerintah.24 Rincian dari kisah yang pertama hampir identik dengan minor tetapi ada penambahan penting. Namun demikian, rincian kisah yang terakhir berbeda lebih dramatis antara versi yang dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq dan versi yang dilaporkan sekitar dua dekade kemudian oleh Ibn Sa’d. Cerita tentang ‘Umar meninggalkan gagasan untuk melakukan penulisan Sunnah direkam oleh ‘Abd al-Razzaq dengan menambahkan pernyataan bahwa ‘Umar berkonsultasi dengan para sahabat Nabi tentang masalah ini dan bahwa mereka mendorong dia untuk melakukan hal itu. Versi ‘Abd al-Razzaq juga berakhir dengan pernyataan dramatis yang dikaitkan kepada ‘Umar. Setelah mengingatkan orang-orang sebelumnya yang menulis sebuah buku yang mereka membaktikan diri mereka dan untuk itu mereka “meninggalkan Kitab Allah,” ‘Umar dilaporkan sebagai mengatakan, “wa-inni  wallahi la ulabbis Kitab Allah bi-shayy’in abadan” (Demi Allah! Aku tidak akan pernah mengenakan pakaian kepada al-Qur’an dengan apa pun). 25
Melihat kembali dalam Lisan al-‘Arab yang dikemukakan sebelumnya dalam diskusi tentang cerita terkiat dalam Tabaqat, Ibnu Mannur menetapkan bahwa jarridu al-Qur’an bermakna tidak mengenkan pakaian kepadanya dengan apa pun (la tulabbisu bihi shayyan).26 Tambahan ini menunjukkan bahwa Hadith tidak hanya akan menyebabkan orang untuk meninggalkan Al-Qur’an, tetapi mereka mungkin juga entah bagaimana  menyembunyikan al-Quran dari mereka.

Rincian cerita yang berbeda -bahkan lebih, dalam cerita-cerita yang ‘Umar dikutip sebagai memerintahkan gubernur untuk “telanjangi al-Qur’an.” Dalam rangka untuk mengungkapkan perbedaan tersebut, marilah kita bandingkan kedua cerita itu secara keseluruhan:

Pertama, versi Ibn Sa’d:

Kami menuju Kufah dan ‘Umar menemani kami sejauh Sirar. Lalu ia mengambil air wudu, mencuci dua kali, dan berkata: “Kamu tahu mengapa aku telah menemani kamu? ” Kami berkata: “Ya, kita sahabat Rosul Allah (damai dan rahmat atas dia)”. Lalu, ia berkata: “Kamu akan datang kepada orang-orang yang bagi mereka dengungan Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadiths, dan sehingga mengikat mereka. Telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan  riwayat dari Rosul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan aku adalah sekutu kamu.”27

Sekarang, cerita sebagaimana yang  dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq:

Ketika Umar bin al-Khattab mengirim gubernurpropinsinya, ia menetapkan: “Jangan mengendarai kuda pekerja; jangan makan sumsum; jangan memakai pakaian halus; jangan memaku pintu kamu terhadap kebutuhan orang-orang; dan jika kamu melakukan hal ini, hukuman tanpa diragukan lagi akan menimpa kamu.” Kemudian dia menemani mereka, dan ketika ia bermaksud untuk kembali, dia berkata: “Saya tidak memberi kamu otoritas atas darah Muslimin, atau di atas reputasi mereka, atau lebih dari kepemilikan mereka; tetapi saya telah mengirim kamu untuk menegakkan Salat dengan mereka, dan untuk membagi rampasan perang mereka dan hakimi di antara mereka dengan adil. Kemudian, jika sesuatu tidak jelas bagi mereka, rujuk mereka kepada saya. Sungguh, jangan mengalahkan Arab, sehingga mempermalukan mereka, dan jangan menahan mereka [tentara di baris depan] sehingga menyebabkan mereka berselisih, dan jangan meninggikan diri kamu di atas mereka sehingga mengusir mereka; telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan akau sekutu kamu.” 28

Cerita sebelumnya yang dikaitkan dengan ‘Abd al-Razzaq agak lebih panjang dari pada cerita yang belakangan, yang berisi berbagai macam perintah. Ini adalah daftar perintah dan larangan termasuk perintah untuk “telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasulullah.” Namun, cerita yang belakangan yang direkam oleh Ibn Sa’d tidak berisi salah satu perintah-perintah lain yang ditemukan pada versi awal. Sebaliknya,  berfokus pada urutan tertentu ini dan termasuk rincian penalaran, dalam kata-kata yang puitis, pada bagian ucapan ‘Umar ini: “kamu akan datang kepada orang-orang sebuah kota yang kepada mereka dengungan dari Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadith. . .”  Perbandingan pembacaan Al-Qur’an dengan dengungan lebah menunjukkan bahwa orang-orang terus-menerus sibuk dengan Al-Qur’an. Hadith digambarkan sebagai sesuatu yang dapat mengambil perhatian mereka jauh dari Al-Qur’an. Gagasan bahwa Hadith akan mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an adalah inti dari argumen menentang Hadith yang akan kita lihat nanti di Taqyid al-’Ilm oleh Al-Khatib al-Baghdadi, dan dalam argumen modern.

Meningkatnya detil dan perluasan yang dibuktikan dalam cerita yang melaporkan tentang ‘Umar dari Musannaf ‘Abd al-Razzaq dan Tabaqat Ibn Sa’d pada awal dan pertengahan ketiga abad Hijriah, ke Taqyid al-’Ilm al-Baghdadi pada pertengahan abad ke-lima Hijriah menunjukkan bahwa karena Hadith memperoleh kewenangan dan perhatian yang lebih besar, maka mereka yang menentang otoritas itu mengembangkan dan menyempurnakan argumen mereka sendiri.

‘Umar juga tokoh yangg menonjol dalam cerita yang ditemukan di koleksi dari Hadith kanonik. Cerita itu berhubungan dengan insiden yang terjadi selama Nabi  Mumammad sakit yang terakhir. Beberapa versi dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim, serta di Musnad dari Ahmad. Dalam setiap versi rincian inti ceritanya adalah sama: selama Mumammad sakit yang terakhir, ia meminta bahan untuk menulis  agar ia dapat menulis sesuatu untuk orang-orang untuk memastikan bahwa mereka tidak akan tersesat. Melihat demam yang telah menguasai Nabi, ‘Umar dikutip mengatakan: “Mereka memiliki Al-Qur’an, dan Kitab Allah adalah cukup bagi kami.”29 Cerita-cerita ini memperkuat gagasan bahwa Al Qur’an adalah cukup untuk menjaga orang-orang dari tersesat. Selanjutnya, mereka bergerak kepada ‘Umar melaporkan penentangannya kepada sumber tertulis selain Al-Qur’an-meski dari tangan Nabi sendiri-kembali ke masa Nabi. Menghubungkan keinginan Nabi untuk menulis sesuatu (mungkin selain dari Al-Qur’an) yang akan menjaga orang tidak tersesat kepada keadaan beliau yang sedang dikuasai oleh demam menyiratkan bahwa jika ia telah mengendalikan kemampuannya, dia tidak ingin melakukan hal ini. Seperti cerita-cerita yang dilaporkan oleh Ibnu Sa’d, bisa dikatakan bahwa cerita ini mewakili opini ‘Umar secara pribadi, terutama karena mereka juga menyatakan bahwa ada ketidaksepakatan yang kuat di antara para sahabat yang hadir pada saat itu.30 Namun, di sini juga, bahkan jika ini dipahami sebagai pendapat ‘Umar secara pribadi, perhatian utama yang dikaitkan dengan dia adalah jelas. Ia merasa begitu kuat bahwa al-Qur’an adalah cukup sebagai sumber otoritatif petunjuk dimana ia menolak permintaan Nabi untuk bahan menulis, sambil mengingatkan Nabi bahwa orang-orang telah memiliki Alquran dan bahwa itu adalah cukup.

Sambil menggali cerita respon ‘Umar atas permintaan Nabi, Kern mengatakan:

Dengan deklarasi Umar bahwa Kitab Allah “cukup,” namun, tidak hanya pentingnya Muhammad untuk menafsirkan wahyu berkurang, tetapi gagasan superioritas dia dalam permasalah agama juga dikesampingkan pada saat itu, menurut interpretasi Umar, Kitab Allah sendiri akan sepenuhnya memadai . . . Deklarasi ‘Umar bahwa Kitab Allah sudah cukup mengubah konsepsi apa wahyu itu, namun demikia, hanya sejauh mengubah konsepsi peran Nabi.31

Perubahan yang Kern merujuk adalah pergeseran dari “yang sedang berlangsung, tak terduga,
situasi khusus wahyu” kepada “sebuah totalitas wahyu yang sempurna dan kekal, atau lebih tepatnya, Wahyu.”32 Sekali lagi, Penilaian Kern ini membantu menjelaskan mengapa ‘Umar adalah sosok ideal untuk menemukan di pusat perbedaan pendapat tentang kewenangan Hadith. Sifat alami dari wahyu dan peran Nabi ada pada jantung dari perbedaan tersebut.

Pelarangan yang dilaporkan dari Nabi

Tidak hanya ‘Umar yang dipercayai melarang penulisan bahan ekstra-Qur’an dari Nabi. Selain kisah-kisah keberatan Umar, koleksi Hadith kanonik juga melaporkan perintah langsung dari Nabi yang melarang para pengikutnya dari menulis apapun pada kewenangannya selain Al-Qur’an dan memerintahkan mereka yang telah melakukannya untuk menghapus apa yang telah mereka tulis. Laporan ini diriwayatkan sebanyak tujuh kali dalam tiga koleksi, dengan variasi minor dalam konten tekstualnya, dengan beberapa rantai perawi yang berbeda pada otoritas Abu Sa’id al-Khudri.33 Menurut Azmi, hanya satu rantai perawi yang dianggap sehat (sahih) menurut standar klasik Muslim dalam kritik Hadith.34 Dengan pengecualian pada laporan di sahih Muslim, berbagai versi adalah terpisah secara identik dari perbedaan kata-kata Arab yang bermakna “kecuali.” Karena para pendukung Hadith yang menulis karya-karya klasik yang sampai kepada kita, maka sulit untuk memastikan betapa pentingnya pelarangan yang dilaporkan dari Nabi adalah merupakan argumen dari lawan-lawan mereka. Namun demikian, kontroversi yang dipicu oleh laporan ini telah ditangani dari abad ketiga / kesembilan hingga hari ini di dalam karya-karya dari berbagai ulama. Keberadaan laporan yang sama-sama sahih di mana Nabi mengizinkan menulis adalah dasar dari salah satu tanggapan yang paling sering dikemukakan oleh para pendukung Hadith- dimana larangan penulisan Hadith itu kemudian dibatalkan oleh pernyataan yang mengizinkan untuk melakukannya.35
Bersama-sama dengan laporan yang berkaitan dengan oposisi ‘Umar terhadap penyebaran dan pencatatan Hadith, laporan-laporan dari Nabi ini telah memicu baik diskusi pada zaman klasik maupun modern atas legitimasi Hadis sebagai sumber otoritatif petunjuk agama bagi umat Islam.

REFERENSI KAJIAN:

  1. ‘Abd Allah ibn Mumammad al-Nashi’, Kitab Usul al-Nimal in Frühe Mu’tazilitische Häresiographie: Zwei Werke des Na,i’al-Akbar (Beirut, 1971), 69.
  2. Abu al-Musayn Mumammad ibn Ammad al-Mala’i, Kitab al-Tanbih wal-Radd ‘ala Ahl al-Ahwa’ wal-Bida’ (Istanbul: Matba’at al-Dawla, 1936), 42.
  3. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Al-Risala. Edited by Ammad M. Shakir (Cairo, 1940), 89.
  4. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Kitab Jima’al-’Ilm in Kitab al-Umm, vol. 7. Edited by Mammud Matraji (Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyya, 1996), 460–483.
  5. Al-Shafi’i, al-Risala, 93.
  6. Ibn Qutayba, Ta’wil Mukhtalif al-Hadith (Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi, n.d.).
  7. EI2, vol. 4 (Leiden: Brill, 1978), 468b–471a.
  8. Michael Cook, “Anan and Islam: Origins of Karaite Scripturalism,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 9 (1987), note 33, 167.
  9. Al-Shafi’i, Jima’al-’Ilm, 460.
  10. Ibid., 467.
  11. ibid.
  12. The Shi’as have a more negative view of ‘Umar and other close companions of Mumammad.
  13. Linda Lee Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab in al-Bukhari’s Kitab al-Jami’ al-Sahih (PhD diss., Harvard University, 1996), 19.
  14. Ibid., 93.
  15. Ihsan ‘Abbas, introduction to al-Tabaqat al-Kubra, vol. 1, by Ibn Sa’d (Beirut: Dar Beirut lil-Tiba’a wal-Nashr, 1960), 5–18.
  16. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. III, pt. I. Edited by Eduard Sachau (Leiden: E.J. Brill, 1904), 206.
  17. Ibid., vol. V, 140.
  18. “Mishna,” http://www.encyclopedia.com/articles/08554.html.
  19. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  20. Ibn Mannur, Lisan al-’Arab, vol. 1 (Beirut: Dar Lisan al-’Arab, 1988), 433.
  21. In fact, al-Azmi makes both of these arguments against a similar story recorded by al-Khatib al-Baghdadi more than two centuries after ‘Abd al-Razzaq and Ibn Sa’d.
  22. Harald Motzki, “The Musannaf of ‘Abd al-Razzaq al-Sana’i as a Source of Authentic AHadith of the First Century A.H,” JNES 50 (1991), 1–22.
  23. ‘Abd al-Razzaq ibn Hammam al-Himyari, Kitab al-Musannaf, vol. 11 min manshurat al-Majlis al-’Ilmi; 39. al-Taba’a 2 ( Beirut: al-Maktab al-Islami, 1983), 257.
  24. Ibid., 325.
  25. Ibid., 257–258.
  26. Manzur, Lisan, vol. 1, 433.
  27. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  28. ‘Abd al-Razzaq, Kitab al-Musannaf, vol. 11, 325.
  29. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0. al-Bukhari 4079, 5237; Muslim 3091; Ammad 2835, 2945.
  30. Ibid.
  31. Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab,” 61.
  32. Ibid.
  33. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0, Muslim 5326; Ammad 10663, 10665, 10731, 10916, 11110; al-Darimi 451.
  34. Mohammad Mustafa Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Beirut: al-Maktab al-Islami), 22.
  35. For a detailed synopsis of classical Muslim explanations of these Hadith, see Azmi, 23–24.

Note:

Artikel di atas dikutip dan diterjemahkan secara bebas dari ebook: Hadith As Scripture – Discussions  on the Authority of Prophetic Traditions in Islam by Aisha Y. Musa

http://meine-islam-reform.de/index.php/component/attachments/download/119.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: