YANG PERLU DIUNGKAP TERKAIT KONTRAK SEX MUT-‘AH

1

May 30, 2013 by Islam saja

Oleh: Abid Bata

Penerjemah: Islam saja

PENDAHULUAN

Sementara BBC mengungkapkan pelecehan seks pada anak, blog Iran mengklaim mengekspos skandal seks lain yang memalukan: Bahwa seorang lelaki yang mengoperasikan klub seks Mut’ah dari lantai atas flatnya. Blog mengklaim bahwa ia mengajak beberapa perempuan jalanan dari suatu jalan ke flatnya dan membayar mereka untuk seks. Awalnya teman-temannya bercanda pada kecanduannya untuk seks, tetapi bercanda mereka berhenti ketika ditemukan bahwa dalam petualangan seksnya dia bahkan berhasil tidur dengan beberapa perempuan yang ada hubungan keluarga termasuk ibu-ibu dan putri-putri mereka terpaksa menjajakan diri di jalanan karena kemiskinan.

Saat ditangkap si germo berpendapat bahwa kesalahan tidak ada pada dirinya tetapi pada izin keagamaan dari Mut’ah. Dia berargumen bahwa mengingat sifat alami Mut’ah maka akan tak terelakkan bahwa para lelaki yang hobi berpetualang seks akhirnya akan tidur dengan para wanita yang menjajakan  diri mereka di lingkaran Mut’ah. Dia mengatakan bahwa karena tidak ada yang tahu siapa sedang melakukan Mut’ah dengan siapa, yang bisa jadi wanita-wanita yang sama bisa suatu saat tidur dengan anak laki-lakinya dan ayahnya, yang telah terjadi – karena suatu kesalahan – tidur dengan ibu-ibunya dan anak-anak perempuannya.

Efek pertama dari cerita ini kotor ini pada diri saya hanya terkejut. Saya hanya berlindung pada penyangkalan karena saya tidak memiliki dalam diriku untuk mempertanyakan kekurangan dalam sistem Syiah kita. Bagaimana mungkin sistem ilahi dari Mut’ah begitu rusak yang dapat berakhir hingga orang melakukan incest (hubungan sex dengan orang yang masih ada hubungan keluarga dekat)? Ini semestinya membuktikan bahwa Mut’ah adalah gagal sebagai solusi sosial bagi masalah seks. Ini akan membuktikan bahwa semua alasan untuk Mut’ah adalah salah, dan makanya saya menolak cerita dan klaim dan oleh karena itu Mut’ah adalah tidak baik.

Saya terus membiarkan diriku dalam penyangkalan sampai saya mendengar cerita baru tentang bagaimana para anggota parlemen Iran telah menyusun undang-undang ‘agama’ baru yang mengizinkan membuka ‘Rumah-rumah Seks. “Di rumah-rumah ini wanita-wanita Iran yang menjual seks di jalanan akan secara resmi mendaftarkan diri mereka sebagai ‘wanita-wanita Mut’ah’ dan menjual ‘seks yang aman dan bermoral’ di bawah perlindungan hukum. Koran-koran Barat menjuluki rumah-rumah ini sebagai “SHIA BORDIL” tetapi pertanyaan kemarahan di kepala saya adalah: “Mengapa rumah-rumah seks ini diperkenalkan kepada masyarakat Iran oleh orang-orang yang tidak ma’shum? “. Bagi saya titik tolak menjadi Syiah adalah percaya bahwa hanya seorang yang ma’shum yang boleh merancang undang-undang dan sistem, dan, karenanya, melindungi Islam dari bid’ah dan turunannya yang rusak. Lalu mengapa laki-laki yang tidak mashum menciptakan hukum bagi kita yang kita harus menganggap sebagai perintah ilahi? Mengapa platform Islam Syiah yang digunakan untuk melegalkan rumah seks dalam budaya Islam?

Berbagai kelompok perempuan di Iran mengatakan bahwa hukum dibuat atau diturunkan oleh orang yang diberi label SHIA hanya untuk menjadikan kita begitu saja menerima mereka. Banyak pejabat tinggi di pemerintah Iran juga telah jujur ​​dalam keprihatinan mereka tentang bagaimana Mut’ah telah memberikan celah ideal untuk kejahatan seks. Pada suatu kasus khusus pemerkosaan dalam keluarga – “Yang Mulia, saya tidak memperkosa sepupu saya yang sudah saya cerai ketika dia sendirian: saya Mut’ah dengan dia!” Dan karena dalam sistem kita dibutuhkan dua perempuan untuk melawan bukti satu orang, maka si pemerkosa tidak pernah dikenakan hukuman.

Laporan yang disampaikan oleh satu kelompok wanita di Iran mengatakan bahwa gadis-gadis pelarian sering dijemput dan dipaksa untuk Mut’ah atau diperkosa oleh tuan-tanah di Teheran yang menginginkan seks sebagai uang muka untuk sewa. Ketika gadis-gadis tersebut pergi ke polisi tuan-tanah tersebut mengaku melakukan mut-‘ah yang ‘islami’ dengan mereka. Beberapa dari gadis-gadis ini akhirnya hamil dan bunuh diri. Beberapa menjadi pelacur Mut’ah dan melayani seks oral karena hal ini tidak memerlukan masa tunggu iddah. Banyak dari mereka berlari pada obat-obatan dan telah kehilangan harga diri mereka dan kepercayaan mereka di dalam masyarakat dan dalam sistem yang diberi label ‘Islam’. Dari sinilah para misionaris Kristen melompat dan mencoba untuk mengubah agama gadis-gadis tersebut. Bahkan, misi Kristen beroperasi di berbagai tempat secara rahasia di Iran dan melihat sejumlah besar perempuan berpindah agama sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa gadis-gadis tersebut kehilangan haknya setelah digunakan dan disalahgunakan di bawah sistem yang diberi label Islam.

Jika Anda melihat secara lebih luas, Anda akan menyadari bahwa banyak dampak dari sistem Mut’ah yang bersifat global. Mut’ah dikenal untuk menjadi alat bagi lelaki untuk memeras pekerja wanita di tempat-tempat seperti Pakistan di mana para bos mengancam untuk memecat karyawan perempuan yang miskin dari pekerjaan mereka jika mereka tidak melakukan itu dengan mereka atau mitra bisnis mereka. Para tuan tanah kaya akan membayar para ayah yang miskin untuk meyakinkan anak-anak perempuan mereka untuk memberikan kepada mereka seks sebelum mereka menikah.

BBC World Service menyebarkan cerita tentang bejatnya mullah ‘Syiah’ yang dipukuli oleh perempuan ‘Sunni’ di India ketika mereka mencoba untuk meyakinkan mereka untuk melakukan Mut’ah dan menarik pakaian mereka.

Di Iran seorang pembaca berita wanita terkenal ditangkap membuat video porno dengan lelaki yang ia lakukan secara Mut’ah. Wanita lain Iran melakukan Mut’ah dengan pemain sepakbola keren dan kemudian istrinya cemburu dan dibunuhnya. Pesepakbola tersebut berdiri di dekatnya tampak gembira ketika isterinya sedang digantung.

Di Tanzania Mut’ah telah membawa VD dan HIV di dalam komunitas Khoja.

Di Inggris juga kisah Mut’ah memberikan banyak bukti dampak buruknya pada orang-orang kita dan khususnya pada keluarga kita. Dan semua ini terjadi atas nama sistem yang berlabel Islam Syiah.

Jadi mungkinkah sesuatu yang terbukti sangat destruktif itu Islami? Bukankah Imam Ali (as) memberitahu kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu Halal atau Haram adalah dengan melihat dampaknya? Jika kita mengikuti prinsip yang Imam Ali ajarkan kepada kita maka pasti Mut’ah tidak bisa diterima karena akan membawa begitu banyak kehancuran di dalam kehidupan kita.

Bayangkan berapa banyak lelaki Syiah di Inggris berselingkuh secara Mut’ah dengan segala jenis wanita sementara para istri mereka merana di rumah. Hal ini telah menciptakan masalah kepercayaan dan menggerogoti nilai-nilai sebuah lembaga perkawinan. Anak-anak perempuan melihat ibu-ibu mereka marah sementara para ayah memuaskan kebiasaan rendah mereka dengan melakukan Mut’ah. Bagaimana anak-anak perempuan ini bereaksi adalah sesuatu yang perlu direnungkan, karena tidak ada gadis yang melihat ibunya marah dan frustrasi akan bersedia menikah dalam suatu sistem di mana para lelaki bebas selingkuh sementara para istri mereka merana di rumah dengan berjilbab. Standar ganda adalah sesuatu yang pada akhirnya akan menggerogoti keluarga kita dan iman kita.

Memang, Mut’ah mungkin memiliki beberapa pembenaran tetapi seperti khomar yang mungkin juga memiliki beberapa manfaat disamping fakta bahwa hal itu akan mengikat orang dan menghancurkan kehidupan. Selanjutnya, pembenaran Mut’ah sangat rumit dalam agama kita karena sebagian darinya didasarkan pada pemerasan terbuka. Misalnya dalam salah satu kitab-kitab awal para Imam kita telah dituduh mengatakan bahwa orang yang tidak menerima Mut’ah akan masuk neraka (1). Sehingga Anda bahkan tidak bisa berbeda atau menentangnya tanpa ancaman neraka kepada Anda!

Dan jika Anda membaca kitab-kitab tersebut lebih  lanjut, Anda akan menyimpulkan bahwa Mut’ah itu begitu sangat dihormati di kitab-kitab kita yang bahkan dapat diekstrapolasikan kedalam Kalimah Shahadah kita (“Mut’ah Halal Ullah!”). Berikut adalah contohnya:

Tertulis dalam kitab-kitab kita bahwa para imam kita mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah maka air najis dari Ghusal Janabat dirinya akan menjadi begitu suci dimana setiap tetesnya akan dihitung di surga sebagai sawab (2). Tingkat peringkat ini bahkan tidak diberikan kepada air suci Zamzam. Bayangkan: Kitab-kitab kita memberikan  derajat lebih kepada air ghusal najis dari mereka yang melakukan Mut’ah daripada air Zamzam!

Suatu ketika saya bertanya kepada seseorang yang tinggi dalam pembentukan Syiah kita mengapa nama-nama para imam kita disalahgunakan untuk membenarkan dan memuliakan Mut’ah dalam kitab-kitab kita, ia menjawab bahwa Mut’ah adalah sebuah ‘karunia & hak’ istimewa bagi Syiah karena kita percaya kepada wilayah Imam Ali! Lagi-lagi nama Imam digunakan untuk membenarkan sesuatu yang membawa begitu banyak kehancuran bagi kehidupan masyarakat.

Lelaki itu juga mengatakan kepada saya bahwa kita sebagai Syiah diberi hak istimewa ini karena kita adalah para penghuni surga yang mendapatkan tunjangan khusus. Dia menyarankan kepada saya untuk mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah karena mereka semua adalah pemalsuan melawan ‘Imam Zaman.” Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang pertama yang Imam Zaman akan bunuh adalah orang-orang yang menolak Mut’ah. Sekali lagi ancaman kematian dan neraka diletakkan kepada siapa saja yang mempertanyakan hal-hal dan mulai berpikir secara mandiri.

Saya sangat gelisah dengan logika bahwa saya harus mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah. Saya menganggap itu sebagai ‘hak asasi manusia’ dan ‘hak Islam’ untuk bertanya, mengeksplorasi dan berfikir untuk diri sendiri. Saya mulai melihat Islam sebagai pedoman yang membuka pintu pikiran, bukan malah menutupnya! Justru terbalik ketika seorang Muslim mengatakan kepada Muslim lainnya untuk menutup pikirannya karena seruan al-Quran kepada manusia agar berpikir mandiri.

Saya tidak bisa menerima menjadi digembok kepala saya seolah-olah saya sedang hidup di jaringan dari era abad pertengahan takhayul dan kebohongan yang dibingkai dalam konteks agama. Oleh karena itulah, saya telah menulis artikel singkat ini. Saya tidak hanya mempertanyakan Mut’ah tetapi saya juga mempertanyakan pola pikir kita dan doktrin-doktrin kita. Saya tahu saya akan melawan zona kenyamanan kebanyakan orang. Saya tahu bahwa kemapanan kita akan sangat tidak senang dengan saya, tetapi apa yang harus saya katakan akan menjadi jalan alternatif untuk berpikir bagi banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir di luar yang biasanya.

Saya berdoa agar artikel ini adalah nutrisi berpikir bagi Anda. Jika Anda pikir saya salah maka silakan beritahu saya. Tetapi tolong jangan membuat kesalahan dengan mengabaikan bukti konkret dan substansial yang melawan Mut’ah hanya karena tidak pas dengan kepribadian yang Anda ikuti atau dengan cara berpikir yang telah lama diajarkan. Mempelajari berarti mempertanyakan diri sendiri, melihat bukti alternatif, menerima fakta dan kemudian melanjutkan. Ini adalah seperti orang-orang yang membawa dinamika hidup dan bergerak lebih dekat kepada Allah.

BUKTI 1 – NILAI-NILAI ISLAM

Sebagai bukti pertama melawan Mut’ah adalah mempertimbangkan nilai-nilai moral Islam dan betapa Mut’ah mengolok-olok nilai-nilai itu. Salah satu tampilan khas simbolik yang mewakili nilai-nilai Islam adalah jilbab. Kenapa Hijab datang kepada Islam? Mengapa seorang wanita Muslim menutupi tubuhnya bahkan ketika berdoa ketika Tuhan menciptakan dia dan memberinya semua pesona seksual? Apa yang kita secara tradisional telah diajarkan tentang Hijab? Apakah Hijab hanya formalitas fikih yang dapat dihapus dengan kontrak sex atau apakah hijab memiliki nilai sosial, moral dan pribadi lebih dalam yang tidak dapat diperdagangkan atau dikompromikan pada kontrak sex?

Quran secara eksplisit menyatakan bahwa penutup luar (Hijab) adalah tidak hanya sekedar sebuah isu, tetapi merupakan nilai-nilai yang dimaksudkan untuk ditanamkan. Tetapi karena kita diajarkan untuk menjadi begitu terpaku pada aturan fikih, akhirnya menempatkannya dengan lebih menekankan pada Hijab luar daripada keseluruhan tujuan Hijab. Sehingga kita marah jika seorang wanita tidak mengenakan jilbab, tetapi kita menganggap merupakan suatu berkah bagi diri wanita jika dia setuju untuk membuka bajunya dalam kontrak sex Mut’ah. Kita perlu menyetel ulang cara berpikir kita dan menerima bahwa fungsi utama Hijab, sebagaimana al-Quran nyatakan, adalah untuk mengembangkan keunggulan moral pada diri wanita sehingga ia ‘mengenal’ dirinya, dan meningkatkan diri dari ego dasar dan tidak berkompromi menyangkut kehormatan dirinya.

Jadi akankah seorang wanita dengan kelembutan dan keunggulan moral yang tinggi akan menurunkan nilai dari hal-hal penting dalam hidupnya seperti hubungan sex dan cinta? Akankah seorang wanita seperti ini akan mejadikan Jilbab hanya sekedar formalitas fikih seolah-olah itu tidak bernilai baginya sehingga boleh dilepas untuk suatu kontrak sex?

Dan bagaimana dengan ikon dibalik Hijab seperti Syeda Fatimah (as)? Apakah ikon ini memiliki makna nyata dalam kehidupan kita? Apakah kita mengikuti teladan mereka? Ingat, mereka tidak pernah melepas Jilbab pada kontrak sex, dan mereka juga tidak pernah melakukan Mut’ah – meskipun dengan calon suami mereka sendiri!

Kesalahannya adalah bahwa kita telah mencampurkan sesuatu dan menjadi bingung tentang apa Islam itu sebenarnya. Kita tidak bisa melihat perbedaan antara bimbingan moral Islam dan apa yang diturunkan untuk kita oleh ekstrapolasi dan interpretasi. Kita tidak menyadari bahwa kita telah melanggar nilai-nilai moral Islam yang tinggi karena kita asyik dengan formalitas fikih. Ketika kita dihadapkan dengan fakta bahwa baik Syeda Fatima maupun ikon Islam lainnya tidak melakukan Mut’ah, maka kita membuat-buat alasannya. Kitaa membuat pembenaran sesuatu berdasarkan keinginan kita. Kita seperti orang yang minum alkohol dan selalu menemukan alasannya. Kita mengabaikan fakta bahwa jika Syeda Fatima bahkan tidak melakukan Mut’ah dengan calon suaminya maka itu berarti bahwa tidak ada ruang untuk Mut’ah dalam hidupnya.

Satu hal yang kita tidak pernah diberitahu kenapa pernikahan Syeda Fatimah ditahbiskan di surga adalah karena sebuah pernikahan di Islam adalah perintah ilahiah. Hal ini karena hubungan yang diikat oleh pernikahan memiliki tangan Tuhan di dalamnya. al-Quran mengatakan bahwa suami dan istri adalah kenyamanan dan kedamaian satu sama lain. Mereka yang membangun cinta sejati dan abadi juga akan disatukan di surga. Hubungan mereka dihargai begitu tinggi oleh Islam.

Quran tidak mendefinisikan pernikahan sebagai urusan kontrak seks sementara dalam periode waktu pendek. Menurut al-Quran, jika Anda menikahi seorang budak wanita sekalipun maka tidak bisa bersifat sementara tetapi Anda harus menghormatinya sebagai pasangan hidup. Mereka yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah Islami telah membawa kebingungan ke dalam Islam tentang nilai-nilai moral Islam dan tentang apa arti hubungan pernikahan di dalam Islam. Islam seperti ini bukanlah Islam dari Nabi yang menghabiskan sepuluh tahun pertama dari hidupnya di Mekkah jahiliyah untuk mendefinisikan Islam sebagai kekuatan moral bagi dunia dan dia tidak pernah melakukan Mut’ah meski dalam masyarakat jahiliyah.

Hampir kita umat Islam saat ini selalu melupakan bahwa kehidupan Nabi di Mekah adalah akar Islam yang mendorong keadaan moral di Madinah. Kita tahu begitu sedikit tentang Islam sebagai kekuatan moral dan namun kita memiliki mereka yang mendominasi orang-orang yang berpikir bahwa hanya karena mereka telah membaca beberapa kitab fikih, dan telah hafal sejarah dari sudut politik dan sektarian, lalu mereka telah menguasai Islam dari dalam dan dari luar. Ini adalah orang-orang yang telah me-redefinisi Islam sebagai agama tanpa jiwa yang mendorong kita untuk fokus pada aturan fikih luar sambil benar-benar mengabaikan nilai-nilai yang lebih dalam dari Islam. Dan karena alasan inilah kita telah merendahkan nilai moral institusi perkawinan dan dibawa ke dalam ranah kontrak sex. Kita telah melakukan hal yang sama terhadap jilbab dan dengan demikian kita memiliki para wanita yang akan melepas jilbabnya demi kontrak sex dan tidak menyadari kontradiksi yang mereka lakukan dengan nilai-nilai di balik pemakaian jilbab yang dimaksudkan untuk ditanamkan.

BUKTI 2 – ‘TARK E AULA’

Berikut ini adalah isu lain melawan Mut’ah. Ini dilakukan dengan apa yang disebut Tark E Aula. Ini berarti bahwa jika seorang ma’shum tidak melakukan suatu mustahabat maka sesuatu itu berarti salah. Ketika Nabi Adam melakukan Tark E Aula maka ia harus bertobat selama beberapa tahun dan tetap dipisah dari istri tercintanya sebagai hukuman. (Menariknya, Allah tidak menyediakan bagi dia dengan seseorang untuk melakukan Mut’ah ketika ia dipisah dari istrinya. Alangkah malangnya Adam!).

Jadi tanyakan pada diri anda bahwa jika Mut’ah begitu baik maka mengapa wanita yang ma’shum seperti Syeda Fatimah, Bibi Mariam, Syeda Asiah, Syeda Khadijah atau Syeda Zainab tidak pernah melakukannya, karena kalau tidak demikian mut’ah akan menjadi Tark E Aula.

Bahkan Nabi Muhammad pun tidak pernah melakukan mut’ah. Dan tidak ada laporan yang teruji bahwa setiap Imam melakukannya karena tidak ada yang menyebutkan bahwa salah satu dari mereka dilahirkan dari mut’ah ataupun memiliki anak dari mut’ah. Ada empat belas ma’shumeens dan tidak satupun dari mereka lahir dari mut’ah ataupun memiliki seorang anak dari mut’ah. Sungguh aneh bahwa tidak seorang pun Imam yang lahir dari Mut’ah meskipun fikih kita mengklaim mut’ah itu adalah ‘tsawab’ (karunia) untuk melakukannya. Tentunya jika Mut’ah begitu baik maka semestinya para imam kita harus memberikan contoh dan setidaknya menghasilkan seorang anak dari hasil mut’ah. Fakta ini saja sudah cukup untuk mendiskreditkan Mut’ah dan melepaskannya dari Islam Syiah.

Suatu kali saya menyajikan uji ilmiah ini bahwa tidak seorang pun ma’shum melakukan Mut’ah, maka seorang Mullah mengatakan kepada saya bahwa Ibn Zubair lahir dari hasil Mut’ah. Tetapi Ibnu Zubair tidak lahir dari orang yang ma’shum. Bahkan ia adalah musuh Ahlul Baith. Jadi kenapa kita diberikan contoh praktek-praktek jahiliyah yang ada di dalam Islam ketika isu Tark e Aula relevan dengan seorang ma’shum yang seharusnya tidak pernah melupakan perbuatan baik? Contoh Ibnu Zubair tidak relevan dengan diskusi tentang Tark E Aula yang berarti bahwa seorang ma’shum tidak bisa melupakan tindakan baik sementara kita tahu bahwa tidak seorang pun ma’shum yang tercatat pernah melakukan Mut’ah.

 

BUKTI 3 – ASAL USUL MUT’AH

Hal lain yang tidak ditekankan kepada kita adalah kenyataan bahwa Mut’ah adalah suatu bid’ah Jahiliyah. Lelaki Arab sebelum Islam menciptakan Mut’ah untuk menggunakan perempuan dan kemudian membuangnya seolah-olah mereka telah menyewa seekor keledai untuk dinaiki selama beberapa hari atau beberapa jam atau beberapa menit. Begitulah Mut’ah di antara orang-orang Arab dimana para janda yang terhormat dibawa kepada sex mut’ah oleh para kreditur untuk melunasi hutang suami mereka yang meninggal. Orang-orang Arab ini memperlakukan para wanita seperti objek dan oleh karenanya adalah wajar bagi mereka untuk menciptakan Mut’ah. Bukti bahwa kaum jahiliyah mengambil janda untuk Mut’ah adalah berikut:

“Diriwayatkan bahwa Zubair biasa melakukan banyak mut’ah sebelum ia menjadi Muslim dan setelah pindah agama ia pernah mengatakan bahwa bila Nabi meninggal maka dia akan mengambil para jandanya untuk di-mut’ah dalam rangka berhubungan seks dengan mereka. Setelah itu, sebuah ayat diturunkan melarang istri-istri Nabi diambil dalam pernikahan dan menyatakan bahwa mereka sebagai ibu bagi orang-orang yang beriman. ”

Riwayat ini membutuhkan analisa yang baik tetapi hal itu menambah bukti bahwa orang-orang Islam yang masih memiliki mentalitas jahiliyah yang biasa menunggu seorang lelaki mati sehingga mereka bisa melakukan Mut’ah dengan jandanya. Dalam kasus ini Zubair sedang menunggu Nabi meninggal! Betapa menyedihkan bahwa para mullah kita memberi contoh kepada kita untuk mengikuti Zubair sambil menyatakan bahwa mereka menginginkan kita untuk mengikuti jejak dari Ahlul Baith!

Jika Islam memang mengizinkan Mut’ah, maka akan tak terelakkan untuk para lelaki SEPERTI Zubair di komunitas kita menunggu lelaki lain mati sehingga jandanya menjadi komoditas sex yang siap pakai! Bagaimana bangkrutnya etika Islam jika Mut’ah telah diterima secara luas dalam budaya Islam dan jiwa para lelaki kita?

Namun hari ini kita memiliki para ‘intelektual’ yang telah menggunakan busana keagamaan dan mencoba untuk membenarkan Mut’ah dengan mengatakan bahwa Islam meminjam beberapa budaya jahiliyah agar menjadikannya lengkap. Mereka sengaja kehilangan hal penting bahwa alasan orang-orang jahilyah melakukan Mut’ah adalah karena mereka menganggap perempuan sebagai komoditas. Dalam Islam memperlakukan perempuan sebagai komoditas adalah dosa dan penghinaan. Perempuan, menurut al-Quran, adalah pasangan jiwa lelaki dan sehingga menghina atau merendahkan mereka adalah merendahkan laki-laki juga. Lebih dari itu, Islam tidak menjadi lengkap dengan meminjam kebiasaan jahiliyah. Gagasan bahwa kebiasaan jahiliyah seperti menyewa perempuan dalam bentuk Mut’ah dapat menjadi bagian dari Islam, membuktikan bahwa para ulama zaman dahulu menciptakan sesuatu dengan mencampur Islam dengan kebiasaan jahiliyah zaman dahulu. Akibatnya Islam menjadi diikat dengan kotoran nilai-nilai jahiliyah. Inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak kontradiksi dalam Islam yang ditulis setelah Nabi. Sunni dan Syiah telah menderita karena hal ini meskipun kedua sekte tersebut menolak untuk mengakuinya.

Untuk lebih membuktikan bahwa Islam telah dicampur dengan ide-ide jahiliyah, perhatikanlah masalah perbudakan. Ini adalah suatu kejahatan dimana al-Quran mencoba untuk mengekangnya. Satu-satunya alasan Nabi masih memberikan toleransi adalah karena perbudakan itu sistemik dan tidak realistis untuk benar-benar melarangnya (pada zaman itu). Dan hanya karena Nabi pada zaman itu belum bisa melarangnya, maka tidak berarti bahwa perbudakan itu disahkan oleh beliau. Nabi sendiri tidak pernah memelihara budak meskipun adalah fakta bahwa perbudakan merajalela pada zaman itu. Beliau mengatakan kepada para sahabatnya untuk membebaskan budak sebanyak yang mereka bisa. Beliau mendefinisikan hak-hak budak yang belum dibebaskan. Dia bahkan mengangkat mereka ke status Muztad’afeens (tertindas). Namun para pedagang budak Arab yang datang setelah Nabi telah berhasil mempertahankan perbudakan booming di masyarakat muslim selama berabad-abad. Cara mereka mengatur kelestarian perbudakan adalah mengikat Islam dengan jahiliyah yang telah menciptakan perbudakan di tempat pertama.

Dan realitas yang menyedihkan adalah bahwa sementara seluruh dunia bergerak untuk menghapuskan perbudakan, justru para pedagang dan penguasa Muslim yang menolak untuk melarangnya. Bahkan ketika perusahaan India Inggris Timur mengambil alih India, raja-raja dan putri-putri Mugal menggunakan Islam untuk tetap menghidupkan budaya perbudakan dan harem. Mereka datang dengan ungkapan-ungkapan seperti: ‘Tidak ada yang bisa menjadikan Harram pada apa yang Halal E Muhammadi.” Dengan ide-ide seperti ini masyarakat Muslim kita tidak melarang perbudakan hingga tahun 1962 ketika Inggris memaksa suatu larangan kepada kita – sekitar dua abad setelah penghapusan yang terjadi di Eropa Kristen.

Betapa buruknya hal di atas, ketika Nabi Muhammad mencapai begitu banyak dalam membebaskan budak, justru ironinya butuh komitmen Eropa Kristen untuk mendorong perbudakan berakhir pada dunia Muslim. Mungkin kita akan terus membenarkan Mut’ah dengan cara yang sama hingga orang lain mengajari kita betapa salahnya mut’ah itu. Kita akan melakukan ini meskipun tahu bahwa Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah sebagaimana beliau tidak pernah mempertahankan perbudakan bahkan dalam sebuah masyarakat dimana perbudakan dan Mut’ah sudah sistemik.

BUKTI 4 – SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI SIAPA?

Kita semua tahu bahwa Islam mengatakan bahwa para wanita harus meningkatkan keunggulan moral mereka ke tingkat di mana surga terletak di bawah telapak kaki mereka. Tetapi jenis keunggulan moral apa yang ada pada wanita yang secara bodoh setuju pada mengontrakkan tubuh mereka untuk kontrak seks?

Jenis perempuan yang melakukan kontrak Mut’ah adalah orang-orang yang Anda bisa melihat telanjang satu menit dan kemudian ketika Mut’ah selesai mereka memakai pakaian mereka tak ubahnya seperti penari telanjang murahan yang melepas celana dalamnya menit demi menit atas dasar kontrak, yang merupakan campuran antara nilai-nilai tinggi Islam dan nilai-nilai pelacuran perempuan rendahan, yang menjadikan jilbab mereka sebuah kontrak dengan para lelaki daripada sebagai pelindung untuk mengendalikan ego dan untuk pertumbuhan rohani dan jiwa, yang berpikir tidak mengapa tidur dengan suami orang lain dengan kontrak sex dan tidak mempunyai hati nurani atau rasa bersalah pada diri sendiri dalam melakukan hal itu – tetapi siapa yang tidak menyukainya ketika beberapa perempuan lain tidur dengan suami mereka, siapakah yang telah belajar untuk menghidupkan atau mematikan cinta mereka, siapakah yang digunakan, kehilangan dan murahan, dan siapakah yang telah mengumpulkan begitu banyak kotoran dalam kehidupan mereka yang bahkan seratus Ghusal dari Mut’ah tidak akan membersihkan mereka.

Rajutan moral apa yang para wanita tersesat bisa berikan kepada masyarakat Islam ketika mereka telah mengizinkan kehidupan mereka sendiri untuk diisi dengan kotoran, kebingungan, kerangka dan kontradiksi! Dan dalam kelompok perempuan Mut’ah murahan ini selalu ada orang-orang yang telah melakukan aborsi sebagai akibat langsung dari budaya kontrak sex Mut’ah cepat. Tetapi mengapa ulama kita mengabaikan semua ini? Mengapa mereka menggunakan nama Ahlul Bait untuk mengakomodasi hal-hal seperti itu ketika Imam Ali mengatakan kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu merupakan kejahatan hanya dengan melihat akibat langsungnya?

Tetapi masih ada cahaya! Satu hal yang menakjubkan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa Allah menjadikan sinar terang-Nya di daerah dan periode sejarah yang paling gelap. Maka Dia mengangkat seorang lelaki di tempat yang paling tidak terduga untuk membuka mata kita terhadap standar masyarakat  yang munafik dan membingungkan. Dia adalah Malcom X. Dia menarik diri dari masyarakat yang rusak dimana sex dikemas seperti sebuah prestasi, permainan, kontrak atau hanya dilampiaskan secara singkat. Dia mengatakan kepada Amerika untuk mengubah dirinya dengan belajar dari Islam Nabi Muhammad. Secara khusus, ia mengatakan kepada para wanita hitam yang tertipu dan kehilangan moralnya untuk beralih ke Islam untuk mendapatkan bimbingan bagi anak-anak perempuan mereka dan mendapatkan kembali harga diri mereka sendiri. Dia mengatakan bahwa kegagalan masyarakat Amerika Hitam itu sebagian besar disebabkan oleh pencemaran moral pada para wanitanya oleh para lelaki hitam yang telah kehilangan arah moral mereka. Dia mengatakan kepada para lelaki untuk menghargai cinta yang diberikan para wanita dan tidak merendahkan nilainya menjadi kontrak sex singkat. Dia memahami kekuatan cinta sejati dalam kehidupan pria dan wanita. Dia tahu bahwa kekuatan masyarakat akan didapat dari membangun keunggulan moral. Dia adalah salah seorang yang berhasil berbicara lantang tentang hubungan keluarga yang langgeng, stabilitas hati dan penanaman cinta sejati dan abadi antara pria dan wanita. Dia mencoba membangun abad ke-20 Amerika menuju era baru bimbingan moral – Tepat seperti apa yang Nabi Muhammad (as) capai di Medina pada abad ke-6.

Saat ini Islam kita tidak seperti Islam dari Nabi. Kita tidak mempunyai apa-apa untuk dunia modern karena standar kita sendiri membingungkan. Kita hanya melegalkan hal-hal yang kita inginkan dan berpura-pura bahwa tidak ada implikasi moral pada kita. Sering non-Muslim seperti Hindu dan Sikh memiliki nilai lebih kuat daripada yang kita lakukan. Sikap mereka terhadap perempuan dan terhadap seks adalah sesuatu yang jauh lebih sehat daripada kita. Dan bagian dari kesalahan tersebut adalah bahwa kita secara sistemik diajarkan untuk mengikuti ‘turunan’ Islam, seperti burung beo. Jika kita terus mengikuti Islam seperti ini maka, saya pikir, kita akan akhirnya kehilangan Islam sama sekali dan kita akan mati sebagai penurut dan orang yang berpikiran tertutup seperti ketika kita masih hidup.

 

BUKTI 5 – WANITA MEMILIKI KECERDASAN YANG RENDAH

Sekarang di sini adalah salah satu paradoks terburuk dalam versi Syiah kita. Dalam semua kitab-kitab kita ada tertulis bahwa perempuan adalah ‘Nakis E Akal’ atau rendah akal. Hal ini ditulis dalam kitab terkemuka dan dibuktikan oleh ilmu agama ‘Elm ul Rijal’ bahwa Imam Ali mengatakan bahwa perempuan itu ular dan kalajengking. Karena ini adalah mutawatir (terpercaya) dan Rijali (rantai sanadnya terbukti), maka ulama kita zaman dahulu belum menolaknya meskipun ulama zamansekarang malu dengan hadits itu dan mencoba untuk meng-kontekstualisasi dalam rangka menjadikan riwayat itu tetap terhormat. Bahkan,  generasi para ulama zaman dahulu telah menggunakan hadits ini untuk mengatakan bahwa seorang wanita tidak bisa menjadi hakim dalam masyarakat Islam karena dia akhirnya akan membuat keputusan yang ’emosional’. Kaum Sunni telah selangkah lebih jauh dalam merendahkan perempuan dengan mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka yang masuk neraka adalah perempuan.

Jadi sejak hal itu terukir di kitab-kitab Syiah dan Sunni kita,  bahwa perempuan itu rendah/kurang akalnya dan tidak dapat dipercaya dalam membuat keputusan yang tepat, lalu mengapa para pembuat fikih kita membolehkan kontrak seks rahasia dengan mereka ketika kerendahan akal mereka akan menjadikan rentan terhadap kekeliruan dan kesalahan dalam mengambil keputusan ? Tentunya, orang yang rendah/ kurang akal – seperti para wanita – tidak bisa memutuskan sendiri untuk melakukan Mut’ah tanpa risiko dirayu, dimanfaatkan dan dieksploitasi. Oleh karena itu, tidakkah terlalu nyaman bagi spesies laki-laki ‘cerdas’ yang tanpa saksi yang dipersyarat untuk menyetujui berhubungan seks dengan spesies yang kurang berakal, yaitu perempuan!

Lebih dari itu, hukum-hukum fikih kita yang asli/ awal juga mengatakan bahwa jika seorang wanita menjadi hamil akibat Mut’ah maka hanya ucapan si lelaki yang akan diterima untuk menyatakan bahwa anak itu adalah anaknya atau tidak. Wanita yang sedang hamil oleh Mut’ah tidak memiliki hak suara setelah si lelakinya menolak anak tersebut adalah anaknya.

Ketika saya menulis ke kantor seorang ulama untuk bertanya mengapa kata akhir dari lelaki untuk menerima atau menolak bahwa anak Mut’ah adalah anaknya atau bukan, maka kantor tersebut akhirnya menjawab kepada saya bahwa hal itu untuk mencegah para lelaki dari diperas. Di sini, sekali lagi, apa yang disebut sebagai hukum Islam kita di zaman dahulu terbukti ditulis untuk kenyamanan para lelaki dan dengan cara mengorbankan perempuan yang lemah. Tak perlu dikatakan bahwa hukum yang tidak adil ini telah tersingkir oleh ilmu sidik jari genetik modern!

Sekali lagi hukum kita seperti ini terbukti lebih jahiliyah dibanding Islam. Pada kenyataannya, bahkan ketika Anda menganalisis gagasan bahwa Allah menciptakan wanita itu memang ‘Nakis’ kemudian Anda menyadari bahwa itu benar-benar bertentangan dengan keadilan Allah, yang berarti bahwa di satu sisi kita mengaku percaya bahwa Allah itu adil (bagian dari Usool e Din), sementara di sisi lain kita menjadikan Allah itu tidak adil dengan mengatakan bahwa ia menjadikan wanita sebagai Nakis! Kita harus cukup hanya dengan melihat kontradiksi antara Usool dan fikih bagi kita untuk melihat betapa banyak yang salah dalam definisi kita tentang Islam.

 

BUKTI 6 – RIWAYAT MUT’AH DI KITAB SUNNI

Alih-alih menerima bukti yang melawan Mut’ah, ulama Syiah kita justru telah menggali parit lebih dalam untuk membenarkan Mut’ah. Salah satu buktinya mereka sering mengutip – untuk ‘membuktikan’ Mut’ah – dari kitab-kitab Sunni yang disebut Sahih Bukhari. Volume kitab ini yang ditulis sekitar 150 tahun setelah Nabi wafat dan salah satu narasi ‘sahih’ di dalamnya mengatakan bahwa dua orang lelaki Muslim sangat ingin berhubungan seks ketika bepergian melalui padang pasir bersama Nabi. Mereka datang menangis menghadap Nabi untuk meminta izin mengebiri diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa berhubungan seks selama lebih dari enam hari! Cerita tersebut mengatakan bahwa Nabi menertawakan mereka dan mengatakan kepada mereka agar melakukan Mut’ah.

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa kedua lelaki tersebut bergegas mengarungi padang pasir dan  menemukan seorang wanita sendirian. Mereka menggambarkan dia sebagai ‘wanita cantik yang langsing’. Jadi setelah ‘memeriksa si wanita tersebut’ kedua lelaki tersebut menawari kepadanya selimutnya masing-masing demi hubungan seks. Wanita itu menerima lelaki yang lebih muda dan melakukan hubungan seks dengan endusan nafas penuh dengan si wanita. Orang tua yang malang tersebut berdiri menunggu tetapi tidak mendapatkan apa-apa!

Tak perlu dikatakan lagi, ulama Syiah kita menerima cerita Sunni ini pada nilai permukaannya karena ia bekerja secara nyaman untuk membenarkan Mut’ah. Mereka setuju dengan cerita tersebut karena rijalinya dan cocok dengan apa yang kitab Syi’ah katakan. Tetapi marilah kita melakukan beberapa pengujian ilmiah terhadapnya untuk melihat seberapa validkah kisah tersebut.

Pertama, kita harus menerima bahwa seorang wanita kebetulan duduk sendirian di padang pasir yang luas dan siap untuk Mut’ah. Seberapa besar kemungkinan ini? Jelas, cerita ini mulai berantakan pada rintangan pertama!

Tetapi bahkan jika tidak secara kebetulan memang ada seorang wanita sedang duduk sendirian di suatu tempat di padang pasir yang luas, maka bagaimana mungkin untuk menemukan dirinya karena padang pasir tidak memiliki papan tanda yang menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk sendirian yang siap untuk hubungan seks! O maaf, mungkin dua lelaki tersebut memiliki sebuah sistem pelacakan GPS Mut’ah (Miss Tom Tom!) untuk menemukan wanita sendirian di padang pasir yang siap dimut’ah!

Lalu, apakah dia memberikan seks hanya karena ia takut dari dua orang karena dia sendirian? Mungkin para ulama kita dapat menurunkan hukum bahwa jika sekelompok lelaki Syiah yang melihat ‘wanita langsing cantik’ duduk sendirian di kursi taman maka itu boleh saja ia mencoba meyakinkannya untuk berhubungan seks (suatu bentuk pemaksaan atau pelecehan seksual?) dan berjanji untuk memberikan kepada si wanita tersebut sebuah selimut setelah nafsunya terlampiaskan.

(Yang menjadikan hal seperti itu adalah prostitusi, tidak peduli betapa banyak para ulama mengingkarinya!).

Lalu, apakah mereka bertanya kepada si wanita itu apakah ia sudah menikah? Lalu apakah dia hamil? Lalu apakah si lelaki memeriksa apakah ibunya juga menjual seks, siapa tahu ayah-ayah mereka telah melakukan hubungan sex dengan dia yang berarti si wanita itu ternyata kakak mereka? ….

Lalu bagaimana dengan nasib si lelaki yang lebih tua: Bagaimana dia bisa melampiaskan nafsunya ketika ia siap untuk mengebiri dirinya sendiri? Apakah tidak ada solusi yang lebih mudah baginya daripada menghabiskan waktunya berjalan berkeliling di gurun pasir dalam keadaan frustrasi! Karena Islam adalah agama yang universal, apa ada solusi untuk dia? Mengapa kisah itu tidak memikirkan nasib hasrat seksualnya yang sudah memuncak? (Note: Apakah sebagai solusi akhirnya dia mengebiri dirinya sendiri?)

Jelas kisah tersebut terlalu kosong untuk harus dianggap serius. Kisah-kisah palsu dan dibuat-buat seringkali tidak lengkap dan isinya karut seperti di atas.

Dan ada cacat utama dalam cerita ini. Cacat tersebut jelas sekali ketika Anda mempertimbangkan kenyataan bahwa kedua lelaki tersebut membawa dirinya ke titik puncak hasrat sexual. Mereka bahkan siap untuk mengebiri diri mereka sendiri. Jadi mengapa mereka telah membawa diri mereka pada kondisi ini jika Mut’ah tidak pernah dilarang? Pertanyaan utamanya adalah: “Mengapa mereka berpikir mut’ah dilarang?”

Dan karena mereka membawa diri mereka kepada puncak nafsu, maka itu akan berarti bahwa Nabi telah gagal dalam tugasnya untuk menjelaskan kepada para sahabat yang kesepian di padang gurun bahwa Mut’ah itu halal. Biasanya, seorang pemimpin yang baik yang memimpin anak buahnya ke padang pasir akan memberitahu mereka bagaimana untuk menghindari puncak nafsu untuk apa pun. Cerita tersebut menjadi lebih meragukan lagi ketika Anda lebih lanjut mempertimbangkan fakta bahwa kedua lelaki tersebut adalah di antara sahabat paling dekat dari Nabi yang seharusnya sudah tahu apa yang dilarang dan apa yang tidak.

Cerita dengan begitu banyak celah kekurangan, hanya melayani tujuan untuk memalsukan bukti bahwa Nabi memperbolehkan Mut’ah. Tetapi terdapat sebuah pembuka mata utama bagi kita, karena kisah tersebut memberitahu kita tentang telah rusaknya pola pikir kita. Berikut adalah penjelasannya:

Kisah dua lelaki yang tidak mampu menahan birahi, lalu memberikan selimut untuk membayar seksnya adalah di dalam Sahih Bukhari yang merupakan kitab Sunni. Oleh karena itu aneh bahwa kita Syiah awalnya mengejek kitab ini karena hanya memiliki beberapa hadits dari ma’shumeen, namun kemudian kita melakukan hal yang sebaliknya, yaitu menggunakan kitab tersebut untuk membenarkan hal yang meragukan seperti Mut’ah?

Hal ini seperti sebuah sekte Protestan yang awalnya mengejek buku-buku Katolik, namun kemudian menggunakan buku tersebut untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah? Saya secara pribadi tidak menganggap dua kesalahan dalam membuat sebuah kebenaran dan sehingga tidak masalah jika riwayat-riwayat tentang Mut’ah ada di kitab-kitab Syi’ah dan Sunni. Kekurangan-kekurangan yang konsisten di dalam kitab-kitab Sunni dan Syiah hanya membuktikan bahwa keduanya memiliki sejarah pemalsuan yang sama. Cara berfikir kita, karena itu adalah salah, jika kita mengatakan bahwa jika kedua kitab Sunni dan Syi’ah memiliki pemalsuan yang sama maka kita harus menerima mereka sebagai mutawatir (terpercaya) dan menerimanya sebagai kebenaran!

Apa yang saya perhatikan adalah bahwa semua kekurangan di narasi Mut’ah ini memberikan dampak kecil kepada orang-orang yang bersikeras membela Mut’ah. Mereka berpikir bahwa jika kita mempertanyakan Mut’ah maka itu melanggar agama. Oleh karena itu mereka akan mempertahankan Mut’ah dengan argumen dihasilkan secara buatan karena keseluruhan iman kita tergantung pada mempertahankan argument seperti itu. Mereka mengabaikan bukti-bukti tersebut dan mencoba untuk berargumen dengan cara yang sama dengan kaum Sunni ketika berargumen tentang hukum ‘talak tiga’ mereka. Sesungguhnya, waktu untuk membuka kunci pikiran baik di Sunni maupun Syiah harus tiba. Mungkin tugas pertama dari Syiah 12 Imam akan membawa Sunni dan Syiah kepada kepekaan mereka dan membuat mereka melihat betapa banyak mereka telah menyimpang dari Islam dari Nabi yang sebenarnya.

Satu hal yang menarik adalah bahwa para marjah kita tidak pernah mengatakan kepada kita untuk mengikuti mereka secara membabi buta atau menjadi seperti budak mental. Para Marjah kita hanya memberikan informasi pendapat-pendapat yang dapat berubah jika argumen yang lebih baik datang di depan mereka. Inilah apa yang menjadikan Syiah dinamis dan berbeda. Sebagai contoh beberapa Marjah akhir-akhir ini melarang kita untuk makan dari tangan Ismailies tetapi kemudian mengubah fatwa mereka ketika dikemukakan dengan argumen dan bukti-bukti yang lebih baik. Bahkan untuk menyatukan Syiah pada Asyura mendorong ulama tersebut untuk menggeser dari fatwa asli mereka mengikuti cakrawala terpisah. Selama bertahun-tahun Ashura diperingati pada hari-hari terpisah sampai berubah karena fatwa. Ada banyak contoh seperti itu bagaimana para ulama tetap dinamis dan bergerak maju. Ini adalah kita, orang-orang, yang ingin mengikuti mereka secara membabi buta ketika mereka tidak meminta kita untuk mengikuti mereka dengan cara seperti zombie.

Kenyataannya sejarah mengatakan bahwa Imam Ali tidak pernah ingin Syiahnya menjadi seperti budak. Adalah Muawiya yang mengembangkan masyarakatnya agar mengikuti dia seperti zombie yang otaknya mati. Suatu hari ia didorong bahwa para pengikutnya begitu setia kepadanya bahwa jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu unta betina maka para pengikutnya yang ‘setia’ akan menerimanya. Terhadap hal seperti ini Syiah E Ali mengatakan bahwa ini bukan loyalitas: Pada kenyataannya, itu adalah ketaatan buta dan kebodohan belaka!

BUKTI 7 – ALTERNATIF YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QURAN

Kisah dua orang lelaki yang sedang memuncak birahinya dan Nabi membolehkan mereka untuk melakukan Mut’ah sebenarnya bertentangan dengan al-Quran. Marilah kita lihat apa yang al-Quran nyatakan:

Dalam ayat 4:25 lelaki yang sudah butuh sex diberitahu untuk menikahi seorang gadis budak dengan cara nikkah (aqad) ataupun belajar melakukan pengendalian diri? Ayat ini tidak memberikan Mut’ah sebagai alternatif pilihan. Tetapi seorang ulama mengatakan kepada saya bahwa bahkan jika Mut’ah tidak disebutkan dalam ayat 4:25, tetapi disebutkan dalam ayat 4:24. Namun, hal ini tidak benar karena kata ‘Mut’ah’ pun bahkan tidak ada dalam ayat 4:24.

Ulama lain mengatakan kepada saya bahwa tidak mengapa Mut’ah tidak disebutkan sebagai kata-kata asli dari al-Quran karena kata-kata yang telah dihapus dan hilang adalah: “Jika kamu mengambil perempuan untuk kesenangan selama waktu yang terbatas, maka berilah mereka pembayaran yang telah disepakati …. ”

Ini adalah sesuatu yang memalukan bahwa beberapa ‘ulama’ melakukan apa saja untuk membenarkan Mut’ah, bahkan jika mereka harus menggunakan narasi dari Elm ul Rijal yang membuktikan bahwa al-Quran telah diubah seperti di atas. Saya menemukan ini merupakan jenis argument yang menjijikkan dan tidak berguna. Ketika seseorang mengatakan bahwa al-Quran itu sudah diubah, maka orang tersebut telah berhenti menjadi seorang ulama di mata saya!

Jadi pertanyaannya yang masih ada adalah: Jika Mut’ah diterima di dalam al-Quran maka mengapa mut’ah bahkan tidak disebutkan di mana pun di dalamnya? Kenyataannya adalah bahwa bahkan memakan daging babi saja disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan, tetapi Mut’ah bahkan tidak disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan sexual. Apakah ini bukan bukti bahwa mut’ah itu benar-benar tidak diterima di dalam al-Quran?

BUKTI 8 – KATA-KATA ASLI DALAM AL-QURAN

Apa yang telah saya temukan tentang metode penurunan hukum dari kitab-kitab – baik dari merek Sunni maupun Syiah – adalah bahwa penurunan hukum dilakukan pertama-tama dari kitab-kitab dan kemudian al-Quran digunakan setelah itu sebagai alat untuk membenarkan apa yang telah diturunkan dari kitab-kitab tersebut. Dan oleh karena itu ayat-ayat dipotong dan disisipkan dan dikeluarkan dari al-Quran sesuai dengan hasil penurunan hukum.

Hukum Sunni yang menyatakan talak tiga juga dilakukan seperti ini. Pembenaran para Wahabi untuk memukul istri Anda adalah metode penurunan yang sama dan kemudian dicocokkan dengan kata-kata di dalam al-Quran yang dikutip di luar konteks. Untuk melegalkan perbudakan juga dilakukan seperti ini selama berabad-abad oleh kaum Sunni dan Syiah. Untuk menjadikan anak-anak yang tidak sah sebagai warga kelas dua juga dengan metode seperti ini di kedua sekte tersebut. Dan hukum Mut’ah juga diturunkan dengan metode yang sama dalam hukum Syiah. Bahkan untuk mengungkapkan bahwa Mut’ah itu berasal dari al-Quran dilakukan dengan cara kata-kata asli dari al-Quran pasti telah diubah di dalam Tafsir Al-Quran dan kata-kata baru yang ditambahkan di tempat itu. Mari saya buktikan masalah ini:

Untuk membenarkan Mut’ah, para ulama zaman dahulu pertama-tama akan memilih sendiri cerita dari kitab-kitab yang membenarkan Mut’ah. Mereka mengabaikan semua riwayat dan cerita yang melawan Mut’ah. Kemudian mereka beralih ke al-Quran untuk melihat mana ayat yang menyebutkan Mut’ah. Mereka tidak menemukan apa-apa! Makanya mereka mengubah kata-kata tersebut dalam tafsir mereka. Inilah yang terjadi pada 4:24 ayat. Berikut adalah buktinya:

Dalam ayat 4:24 Al-Quran tertulis bahwa ketika wanita yang Anda nikahi ISTAMTA’TUM (memenuhi) kaulnya maka si suami harus memberikan AJAR (pemberian)nya. Tetapi Tafsir Syiah telah mengubah kata Al-Quran ISTAMTA’TUM menjadi Mut’ah dan kata AJAR menjadi Mahar. Jadi tafsir tersebut akan mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah (kontrak sex sementara) maka berikan Mahar (Pembayaran)nya.

Bahkan, beberapa kata tambahan seperti ‘hingga waktu yang terbatas’ atau ‘berusaha untuk melakukan Mut’ah’ atau ‘dengan orang yang kamu melakukan Mut’ah’ sering ditambahkan pada ayat tersebut dalam rangka untuk menipu kita, meskipun kata-kata tersebut sama sekali tidak ada di dalam Al-Quran. Bahkan diklaim dalam beberapa riwayat bahwa kata-kata asli tersebut telah dihapus di kemudian hari oleh orang-orang yang menentang Mut’ah seperti khalifah kedua – Umar.

Untuk membenarkan diri mereka para ulama zaman dahulu mengatakan dalam tafsir-tafsir mereka bahwa tidak apa-apa jika kata Mut’ah tidak ada dalam al-Quran karena mereka mengatakan bahwa kita dapat menggunakan Elm Ul Rijal untuk menukar kata-kata Al-Qur’an dengan kata-kata yang ditemukan di dalam kitab-kitab. Elm Ul Rijal berarti pengetahuan tentang rantai riwayat. Mereka mengatakan bahwa menurut Elm ini kata Istamta’tum dalam ayat 4:24 al-Quran dapat ditukar dengan kata Mut’ah karena Elm tersebut mengatakan bahwa Imam telah ‘berkata’ demikian. Sekali lagi nama para Imam sedang disalahgunakan untuk membenarkan mengubah kata-kata Al-Quran agar cocok dengan tafsir tersebut. Para ulama zaman dahulu bahkan mengatakan bahwa tafsir asli yang ditulis oleh Imam Ali memiliki kata Mut’ah dan bukan kata Istimtatum. Mereka mengatakan bahwa ketika Imam ke-12 muncul, maka al-Quran yang asli atau Tafsir yang asli akan menunjukkan bahwa kata tersebut adalah Mut’ah dan bukan Istamta’tum!

Tetapi tanyakan pada diri Anda sendiri mampukah seorang Imam yang ma’shum seperti Imam Ali pernah mengubah kata-kata al-Quran dalam tafsirnya!. Selain itu, jika Allah bermaksud Mut’ah lalu mengapa Dia tidak menggunakannya dalam ayat tersebut? Mengapa Dia menggunakan kata ISTAMTA’TUM?

Sebagai Syiah E Ali kita diberitahu oleh Imam Ali untuk percaya bahwa al-Quran itu sempurna dalam setiap kata-katanya, lalu mengapa ulama kita menukar kata-kata Al-Qur’an dalam tafsir mereka dan kemudian menyalahkan hal itu kepada Imam Ali? Mengapa mereka mengatakan bahwa beberapa kata seperti ‘untuk waktu yang terbatas,’ telah hilang? Dan salah satu tata bahasa Arab ulama Syi’ah modern bahkan mencoba untuk membenarkan kesalahan zaman dahulu dengan menyatakan bahwa kata ‘istamta’tum’ yang digunakan pada ayat 4:24 adalah sama dengan kata ‘Mut’ah’ kecuali bahwa kata Mut’ah lebih baik karena itu adalah akar kata yang ke-12 dari kata Istamta’tum. Tetapi mengenai ini ada beberapa argumen mengapa ia benar-benar salah:

  1. Istamta’tum secara harfiah bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ tetapi secara konvensional, Mut’ah (menurut Elm Ul Rijal) berarti sekedar ‘menyewa vagina’ atau ‘kawin kontrak’. Jadi kedua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda. Mereka tidak sinonim. Jadi bagaimana mereka dapat dipertukarkan?
  2. Jika Anda menafsirkan Mut’ah juga bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ maka itu akan berarti bahwa Mut’ah tidak bermakna ‘pernikahan sementara.’ Oleh karena itu apa gunanya menukar kata tersebut?
  3. Istamta’tum adalah kata kerja, sedangkan Mut’ah secara konvensional digunakan sebagai kata benda. Oleh karena itu dua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan jika Anda ingin menggunakan Mut’ah dalam makna konvensional.
  4. Jika Anda mengikuti konteks ayat tersebut, maka Anda akan melihat bahwa isi ayat itu adalah mempertentangkan antara nikah dengan sekedar pelampiasan nafsu. Mut’ah adalah tentang nafsu. Jadi konteks Mut’ah benar-benar berlawanan dengan isi ayat tersebut.
  5. Jika Istamta’tum bermakna ‘pernikahan sementara’ maka akan menjadikan beberapa ayat di al-Quran tidak bermakna karena kata Istamta’tum juga digunakan pada ayat-ayat lain di mana Mut’ah bahkan tidak disinggung.
  6. Kata pernikahan dalam al-Quran adalah aqad. Jika al-Quran membolehkan pernikahan sementara maka akan menggunakan turunan dari kata aqad tersebut dan bukan akar ke-12 dari istamta’tum!
  7. Pasti ada alasan yang baik mengapa Allah tidak memasukkan kata Mut’ah pada keseluruhan al-Quran. Karena Allah telah mengeluarkan kata mut’ah dari al-Quran, maka itu berarti bahwa Mut’ah, apa pun arti yang Anda ingin ambil, tidak ada dalam al-Quran.

BUKTI 9 – MENJADI SYI’AH

Baru-baru ini, ketika saya bertanya kepada seorang ulama TV terkenal mengenai bukti yang melawan Mut’ah, saya menemukan diri saya berdebat melawan suatu kontradiksi ganda. Ketika saya berkata kepadanya bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran, dia bereaksi dengan mengatakan bahwa bahkan NIKKAH juga tidak disebutkan dalam al-Quran. Lalu saya katakan kepadanya bahwa sinonim dari Nikkah adalah AQAD yang digunakan berkali-kali dalam al-Quran. Saya katakan kepadanya hukum-hukum Nikkah juga ada di dalam al-Quran. Saya juga mengatakan kepadanya bahwa Imam Ali (as) mengatakan bahwa untuk memahami al-Quran kita harus mengkolaborasi satu ayat dengan ayat lainnya, tetapi tidak ada ayat kolaboratif dalam al-Quran untuk Mut’ah. Selain itu, tidak ada sinonim dari Mut’ah dalam al-Quran. Dan tidak ada satu pun hukum-hukum yang mengatur Mut’ah dalam al-Quran. Lalu segera, ulama tersebut membuat tuduhan kepada saya dan saya dicap sebagai non-Syiah. Ia mengatakan bahwa karena saya tidak menerima tanpa bertanya apa yang Marjas katakana, maka saya bukan Syiah!

Lalu saya mencoba menanggapi lagi. Saya katakan saya tidak bisa menerima Mut’ah karena tak seorang pun imam melakukannya. Lalu dia terganggu dengan kata-kata saya dan menjadi terganggu. Tetapi saya masih mengatakan kepadanya bahwa identitas pertama seorang ulama adalah bahwa dia rendah hati dan bersedia mengakui jika ia salah dalam pemikirannya.

Tetapi ulama ini mengatakan kepada saya bahwa seorang marja tidak pernah salah dan harus diikuti tanpa bertanya. Dia mengatakan kepada saya bahwa Imam Zaman pertama kali akan membunuh mereka yang tidak secara taqlid mengikuti seorang Marja karena tidak satupun shalat dan roza mereka akan diterima oleh Allah. Saya membantah bahwa kondisi seperti itu tidak ada dalam al-Quran. Lalu dia menjadi lebih gelisah dan membalas dengan kata-kata berikut:

“Memang Mut’ah tidak dalam al-Quran tetapi al-Quran tidak cukup. Mereka yang mengatakan bahwa al-Quran adalah cukup adalah seperti Umar yang mengubah banyak hal di dalam Islam. Dia adalah orang yang melarang Mut’ah dan membawa Tarawee ke dalam Islam. Hal ini dibuktikan dengan ratusan riwayat Rijali di kitab-kitab Sunni dan Syiah. ”

Yang jelas, argumen Mut’ah tersebut, sekarang sedang berpaling ke isu sektarian dalam rangka mengaburkan bukti yang menentangnya. Pertama saya dicap sebagai non Syi’ah dan sekarang al-Quran dicap sebagai ‘tidak cukup.” Dan ketika semua argumen gagal, maka semua menjadi kesalahan Umar yang mampu menghapus Mut’ah dalam satu gebrakan, sedangkan Nabi tidak pernah bisa bahkan menghapus atau melarang perbudakan setelah keseluruhan misi Islam.

Tetapi berurusan dengan lelaki yang mengaku sebagai seorang ulama, maka saya harus mengangkat satu masalah pada saat yang sama. Maka pertama saya bertanya kepadanya bahwa jika al-Quran tidak cukup, bukankah itu artinya al-Quran ‘tidak memadai!”

Itulah, lalu ia bangkit dan pergi! Dia tidak berbicara kepada saya sejak itu. Dia menghindar dari saya yang membuktikan bahwa bukan al-Quran yang tidak memadai tetapi dia dan ilmunya dan ide-idenya. Jika al-Quran tidak cukup maka apa yang terjadi pada petunjuk Imam Ja’far Sadik (as) kepada Syiah asli di mana ia secara jelas menjadikan al-Quran satu-satunya tolok ukur untuk memutuskan apakah riwayat-riwayat dan kisah-kisah itu bisa diterima atau harus dibuang. Dia berkata: “Jika sesuatu bertentangan dengan al-Quran, membuanglah ia jauh-jauh meskipun jika mereka diklaim datang dari Ahlul Baith”. Jelas sekali, bahwa al-Quran adalah ‘cukup’ bagi Imam sebagai tolok ukur/ patokan. Lalu mengapa ini orang yang disebut ulama mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup? Tidak cukup untuk apa, dan untuk siapa?

Apa yang saya sadari adalah bahwa jenis ulama yang khas seperti ini akan mengatakan dua hal yang berlawanan kepada kita tergantung kepada apa yang cocok bagi mereka. Mereka pertama-tama akan mengatakan bahwa kita Syiah tidak menerima apa-apa yang melawan al-Quran. Tetapi ketika tidak cocok dengan mereka maka mereka akan mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup.

Banyak yang disebut ulama juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang siap pakai seperti ‘al-Quran ini tidak cukup’, hanya karena penurunan hokum mereka tidak diterima oleh al-Quran. Oleh karena itu dengan menggunakan kata-kata ini mereka mencoba untuk mengabaikan al-Quran dari diskusi-diskusi. Hal ini seperti menghilangkan bukti forensik utama dari suatu kasus pengadilan hanya karena tidak sesuai dengan pelaku kejahatan!

Dan jenis ulama seperti ini akan mengabaikan para imam kita hanya seperti mereka dengan cepat mengabaikan al-Quran. Anda perlu mengalami ini untuk diri anda sendiri. Berikut adalah apa yang Anda perlu lakukan:

Tanyalah seorang ulama yang membela Mut’ah, mengapa Imam Ali Reza (as) menolak pengikutnya untuk melakukan Mut’ah dengan mengatakan: “Ini adalah bagi para pelacur dan Anda tidak perlu itu …” Saya menjamin Anda bahwa seorang ulama yang membela Mut’ah akan membuat sebuat plintiran dalam rangka mengabaikan apa yang dikatakan Imam.

Sekarang, berikut adalah situasi lain yang telah saya alami. Suatu kali saya mencoba meyakinkan seorang teman untuk tidak melakukan Mut’ah ketika istrinya tercinta pergi mengunjungi ibunya di Dar, dia tertawa dan berkata: “Kamu tidak usah melakukannya jika kamu tidak ingin”. Lalu saya mengatakan kepadanya bahwa bahkan Jimmy Salive bisa bersembunyi di balik pernyataan konyol seperti: “Kamu tidak usah melakukan kekerasan pada anak jika kamu tidak ingin.”

Lalu dia sangat marah dan mulai berdebat bahwa jika Mut’ah itu salah maka dia tidak akan disalahkan karena para marja yang akan disalahkan. Ini adalah hal yang baru bagi saya! Saya sekarang diberitahu bahwa para marja akan memikul tanggung jawab perbuatan para lelaki yang menikmati seks dengan gadis-gadis ‘kulit putih’ seksi. Jadi para lelaki itu mendapat kenikmatan, sementara para marja mendapatkan disalahkan. Alangkah nyamannya! Dan betapa tidak adilnya!

Dan melemparkan kesalahan kepada para marja benar-benar bertentangan dengan al-Quran yang memperingatkan kita bahwa kitalah yang akan disalahkan terhadap tindakan yang kita ambil. Dan lebih dari itu, bahkan otak beku teroris Al Qaeda pun bisa membantah: “Kami akan masuk ke surga, meski jika kami melakukan bom bunuh diri, karena mufti kami yang akan disalahkan!” Ini jelas merupakan sikap jenis Zombie karena kita umat Islam telah belajar sebagai bagian dari mentalitas keagamaan kita. Bukankah sudah waktunya untuk bertanya pada diri kita sendiri dan mentalitas dan pembenaran diri kita yang rusak? Tantangan kita di dunia modern adalah mengambil mentalitas Zombies dan Bombies ini dan mencabutnya keluar dari Islam.

Sebenarnya, ketika Anda mempelajari Islam Syiah dengan benar, Anda akan melihat bahwa tidak seorangpun Marja yang ingin Anda mengikuti mereka secara membabi buta. Ada banyak contoh dalam sejarah dimana marja telah mengubah peraturan mereka karena mereka menemukan kesalahan. Menjadi seorang marja, Anda perlu menyempurnakan seperti ini. Adalah kita yang bersikeras dalam menjadikan mereka setengah dewa. Bahkan Imam Khomeni tidak membolehkan mengikuti secara membabi buta. Sebenarnya siapapun yang meminta diikuti secara membabi buta adalah seorang penindas karena ia menghentikan Anda berpikir untuk diri sendiri. Ikut secara membabi buta diajarkan oleh Muawiyah yang bangga bahwa para pengikutnya akan mempercayai dia bahkan jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu adalah unta betina.

Apa yang telah saya temukan adalah bahwa ada kelompok fanatik ‘agama’ dalam setiap masyarakat yang akan mengabaikan semua bukti dan argumen yang jelas karena mereka pikir agama adalah monopoli mereka. Mereka ingin Islam terikat dengan keinginan dan ide-ide yang salah dan emosional mereka. Mereka berpikir bahwa hubungan mereka dengan Allah begitu dekat, sehingga mereka dapat mengaitkan ide-ide palsu mereka kepada-Nya. Jadi mereka memaksakan ide-ide mereka sendiri kepada kita, bahkan ketika ide-ide mereka terbukti melawan al-Quran dan melawan ma’shumeen. Mereka hanya menyalahgunakan nama al-Quran dan ma’shumeen sebagaimana Kristen menyalahgunakan nama Alkitab dan Kristus. Orang-orang jenis ini akan ada di setiap masyarakat. Mereka ingin mendominasi, menyalahkan dan merumitkan persoalan ketika mereka tidak memiliki jawaban. Dan ketika mereka gagal, mereka akan menyerang pribadi. Mereka akan melakukan segala sesuatu kecuali mengubah pola pikir mereka dan belajar untuk menerima bahwa mereka punya salah.

Kebenaran terbuka adalah bahwa untuk menjadi seorang Syiah Ali adalah bukan tentang mengikuti para marja secara membabi buta, tetapi tentang mengikuti para marja dalam semua hal kecuali untuk hal-hal yang telah terbukti salah. Syiah Imam Ali tidak tertutup pikirannya tetapi orang-orang yang berprinsip tinggi, berpengetahuan dan tajam dalam pemikiran mereka. Marilah kita setidaknya mengakui bahwa kita masih jauh dari menjadi orang seperti itu karena definisi keseluruhan kita menjadi Syiah adalah mengikuti seorang marja meski ketika ia terbukti telah melakukan kekeliruan.

RINGKASAN BUKTI TAMBAHAN

Berikut adalah beberapa fakta ringkasan tambahan yang melawan Mut’ah:

FAKTA 1:

Sebuah hadits yang paling sering dikutip dan diterima berdasar Elm Ul Rijal adalah bahwa jika Mut’ah diizinkan maka yang paling celakalah yang akan berzinah. Imam Ali-lah yang sedang didakwa mengatakan ini! Tetapi hadits ini mengabaikan bahwa Mut’ah telah menyebabkan banyak kejahatan seperti pemerkosaan. Ambil contoh: Katakanlah seorang bos memperkosa sekretarisnya dan kemudian mengklaim dia melakuan Mut’ah. Apakah Mut’ah, karena itu, bukan merupakan celah bagi pemerkosa seperti dia?

Jadi, jika sebuah hadis mengatakan bahwa jika Mut’ah diizinkan maka hanya yang celakalah yang akan berzinah, lalu bagaimana tentang semua hal celaka yang disebabkan oleh Mut’ah? Dapatkah sebuah hadis yang benar menjadi begitu picik dalam mendukung si pemerkosa dan merugikan korbannya? Dan bagaimana tentang semua kejahatan lain akibat dari Mut’ah seperti peningkatan aborsi, mengarahkan perempuan kepada prostitusi, penurunan standard dalam hubungan keluarga, menjadikan hijab tak ubahnya seperti pakaian dari seorang penari telanjang yang dilepas pada saat kontrak sex dll? Selain itu, jika seorang lelaki melakukan Mut’ah ketika istrinya sedang diam di rumah, maka apakah ini tidak akan mendorong para perempuan untuk mulai melakukan perzinahan hanya karena dendam?

FAKTA 2:

Hal lain yang benar-benar lucu dalam kitab-kitab kita untuk membenarkan Mut’ah adalah ini: Allah memberikan kepada kita lembaga suci Mut’ah karena Dia melarang bagi kita kenikmatan alkohol! Ya, narasi ini ada di kitab-kitab tersebut dan jelas sebuah upaya paksa untuk membenarkan Mut’ah. Bahkan para ulama yang memalsukan ini ke dalam kitab-kitab tersebut pasti para ulama berkaliber rendah karena mereka tidak tahu bahwa hal-hal yang diharamkan di dalam Islam adalah untuk tujuan yang baik dan bukan karena sebagai pengganti hal-hal lain yang diharamkan.

Hukum Islam tidak seperti jungkat-jungkit di mana jika satu hal dilarang maka hal lain diperbolehkan. Jadi jenis mullah seperti apa yang menulis ini di dalam kitab-kitab kita? Dan mengapa kita harus mengikuti ide-ide konyol mereka tentang bagaimana hukum dibuat di dalam Islam?

FAKTA 3:

Sebuah cerita dalam kitab-kitab kita mengatakan bahwa jika Anda melakukan satu Mut’ah Anda akan mati seperti matinya Imam Husain dan jika Anda melakukan empat Mut’ah Anda akan diangkat ke derajat Nabi.

Ya hal-hal sejenis ini yang dengan sengaja ditulis untuk mempromosikan Mut’ah tetapi bukankah hal-hal sejenis ini merupakan penghinaan terhadap perjuangan dan pengorbanan Ma’shumeen kita? Jika kitab Sunni memiliki hal-hal seperti ini, maka saluran TV Syi’ah kita akan secara bombastis membuktikan bahwa kaum Sunni menghina para imam kita. Tetapi kita tidak mengatakan apa-apa ketika kitab kita sendiri melakukan hal ini. Satu aturan bagi mereka dan aturan yang lain bagi kita, eh!

FAKTA 4:

Al-Qur’an memberitahu kita untuk mengikuti contoh dari Nabi, bahkan Imam Ali pun mengikuti contoh dari Nabi tersebut. Namun Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah. Sekarang juga sedang diterima bahwa tidak ada bukti yang kuat bahwa para Imam pernah melakukan Mut’ah. Jika salah seorang imam telah melakukan Mut’ah maka setidaknya seorang Imam akan lahir dari hasil mut’ah atau akan memiliki anak dari mut’ah. Mengapa tidak ada hal seperti itu di forensik sejarah jika memang Mut’ah diterima oleh mereka? Mengatakan bahwa ‘mungkin mereka melakukan’ bukanlah sebuah argumen tetapi dugaan. Kita tidak dapat mendasarkan argumen pada dugaan!

Bahkan, terbukti bahwa ada hadits di mana Imam Ali, Imam Jaffer E Sadik dan Imam Ali Reza menolak pengikut mereka untuk melakukan Mut’ah. Hadits seperti itu tidak pernah diungkapkan, sehingga kita tidak menyadari bahwa ada alternatif cara berpikir yang lebih logis dan lebih sesuai dengan al-Quran dan praktek ma’shumeen tersebut.

 

BUKTI PUNCAK:  FAKTA TENTANG MUT’AH PADA ZAMAN UMAR

Seluruh kontroversi Mut’ah dimulai dengan seorang lelaki bernama Amr bin Harits. Dia membuat hamil seorang wanita budak muda dan kemudian menyangkalnya. Insiden itu terjadi pada masa khalifah kedua, Umar bin Khattab.

Cerita ini ada di kitab-kitab Sunni dan Syiah. Jika cerita ini benar berarti bahwa Amr bin Harits telah terus menyangkal bahwa ia telah membuat si wanita hamil sampai cerita tentang wanita tersebut mencapai Umar. Umar tadinya tidak tahu hal itu! Cerita tersebut mengatakan bahwa Umar segera menangkap lelaki tua tersebut yang sedang mencoba untuk melarikan diri dari Madinah.

Ketika Amr melihat Umar, dia memutuskan untuk menerima apa yang telah dilakukannya, tetapi beralih menyalahkan. Dia menyalahkan perbuatannya kepada Nabi dengan mengatakan bahwa Nabi (dan Abu Bakar) telah membolehkan dia untuk melakukan Mut’ah dengan banyak gadis dan wanita sebanyak yang ia inginkan. Dia juga mengatakan bahwa ketika gadis-gadis menjadi hamil maka lelakilah yang memiliki kata Pamungkas dalam menerima dia untuk menjadi ayah atau tidak! Lalu Umar berkata: “Jika kamu begitu yakin bahwa Nabi membolehkan bagi kamu, maka mengapa kamu berbohong tentang apa yang kamu lakukan?” Tidak ada jawaban dari Amr bin Harrith.

Menjadi seorang Sahabat, Amr bin Harits seharusnya menampilkan keunggulan moral yang tinggi dan setidaknya tidak seharusnya berbohong. Tetapi Umar memiliki pertanyaan lagi. Dia bertanya: “Mengapa tidak ada kejadian seperti itu yang terjadi di masa Nabi atau Abu Bakar di mana gadis-gadis hamil akan datang kepada mereka dan mengklaim bahwa para lelakinya menyangkal sebagai ayah?” Sekali lagi Amr bin Harits tidak punya jawaban.

Umar kemudian menyeret Amr ke masjid untuk melihat apakah ada yang bisa memverifikasi klaim tersebut bahwa Nabi telah membolehkan orang-orang seperti dia untuk melakukan Mut’ah. Banyak sahabat terkenal berpendapat bahwa jika Mut’ah diizinkan oleh Nabi dan Abu Bakar maka semestinya sudah ada sejumlah besar anak yang lahir di Madinah yang jalur keturunannya diragukan. Para sahabat lebih jauh berpendapat bahwa tidak ada pezina yang akan dicambuk pada masa mereka karena mereka semua akan menyatakan telah melakukan Mut’ah. Kemudian Umar berkata: “Saya telah bersama Nabi sejak di Mekah tetapi saya tidak tahu adanya kasus tersebut.”

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa ketika Amr Harits tidak punya jawaban dan dalam aturan Umar yang keras dari keadilan yang tegas, ia dicambuk. Tetapi Amr adalah lelaki yang sudah tua dan banyak memohon Umar untuk tidak mencambuk dia. Kemudian setelah ragu-ragu lama, Abdullah bin Abbas berbicara mendukung Amr. Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa ketika Abduallah ibn Abbas ditantang oleh para sahabat lain, ia dengan cepat mengubah pendapatnya dan mengatakan bahwa Mut’ah hanya diizinkan oleh Nabi dalam beberapa pertempuran dengan orang-orang kafir seperti di Hunain ketika mereka mewarisi para wanita dari pertempuran.

Dan dalam satu riwayat dalam kitab Syi’ah kita juga secara jelas menyatakan bahwa untuk memastikan apakah Mut’ah itu diperbolehkan, Umar juga pergi ke Imam Ali (as). Hal ini ditulis dalam kitab-kitab Syiah kita (4) bahwa Imam Ali mengatakan bahwa Mut’ah dilarang secara total. Tetapi untuk menjelaskan hal ini ulama Syiah kita telah menulis bahwa Imam Ali mengatakan ‘kebohongan’ kepada Umar karena ia ber-taqiyyah, atau mereka mengabaikan cerita tersebut dan mengatakan cerita itu tidak ‘mutawatir.’

Dalam setiap aspek, Umar mempunyai cukup bukti bahwa Mut’ah tidak diperbolehkan dan, oleh karena itu, Amr harus dicambuk. Tetapi Amr adalah seorang lelaki tua yang teman-teman dan kerabat dekat dia tahu bahwa dia akan mati jika dicambuk. Lalu mereka bersikeras bahwa Umar harus membiarkan dia pergi dengan menerima bahwa Amr benar-benar berpikir bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Amr sendiri terus berkata bahwa dia yakin bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Jadi akhirnya, memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut, Umar menggunakan kata-kata: “Nabi membolehkan kamu Mut’ah tetapi saya melarangnya untuk kamu dari sekarang!” Ia kemudian mengancam merajam kepada siapa saja yang melakukan Mut’ah, meskipun jika mereka mengklaim bahwa Nabi telah membolehkannya.

Jadi, apakah Umar benar ketika mengucapkan kata-kata di atas? Apakah dia menggunakan kata-kata tersebut karena dia melawan Nabi atau apakah dia menggunakan kata-kata tersebut dalam konteks bukti yang dimilikinya. Marilah kita, oleh karena itu, melihat bukti-bukti yang ada di depan Umar.

  1. Pertama, Umar telah menyaksikan bahwa Amr bin Harits telah berbohong tentang menjadi ayah dari janin tersebut yang berarti ia tidak bisa dipercaya dalam apa yang dia katakan dan hanya mengatakan hal-hal yang menguntungkan baginya.
  2. Umar juga melihat bagaimana Amr tua ini mencoba untuk melarikan diri dari Madinah dan tidak mengambil tanggung jawab terhadap anak dan ibunya.
  3. Lalu Amr tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan penting tentang apa yang Nabi dan Abu Bakar telah izinkan.
  4. Lalu Abdullah bin Abbas mengubah ceritanya
  5. Selanjutnya, Umar tahu bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran.
  6. Dia juga tahu bahwa model peran Islam yaitu Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah.
  7. Dia juga mendengar dari Imam Ali yang mengatakan mut’ah itu dilarang (meskipun ulama Syiah mengabaikan riwayat ini, padahal ditemukan di kitab-kitab Syiah).
  8. Dan terakhir, ia menyaksikan penderitaan dari budak wanita muda lemah yang dihamili. Islam bukanlah agama jahiliyah di mana laki-laki mengeksploitasi wanita lemah dengan mengambil keuntungan dari kelemahan mereka!

Jadi jelas bahwa Umar memiliki semua bukti melawan Mut’ah dan kata-katanya, karena itu, hanya akan memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut untuk menghindari dia dari dicambuk. Jadi, Umar hanya mengucapkan kata-kata dalam konteks semua bukti di atas yang dia dapatkan melawan Mut’ah.

Saat ini ada banyak ulama yang secara sengaja menggunakan kata-kata Umar untuk menyerang dan mengklaim bahwa kata-kata Umar yang diucapkan dalam istilah yang umum adalah membuktikan bahwa dia adalah seorang munafik dan telah berbalik melawan Nabi. Mereka lupa bahwa Amr bin Harith-lah yang telah berbohong. Adalah Amr yang menyatakan bahwa Nabi membolehkan laki-laki untuk membuat gadis hamil dan kemudian menolak sebagai ayah dari bayinya.

Hari ini, fikih kita tentang Mut’ah menerima semua klaim Amr bin Harits dan sahabat-sahabatnya. Kita bahkan menerima bahwa lelakilah yang mempunyai kata pemutus dalam menerima anak hasil Mut’ah itu miliknya atau bukan. Kita dengan sengaja mengabaikan semua bukti yang ada di depan Umar.

Sebaliknya kita mengambil kata-kata Umar (“Saya melarangmu apa yang Nabi mengizinkan kamu!”) dan menjadikannya “di dalam daun ara” untuk menyembunyikan agenda politik kita melawan dia. Kita menolak untuk menerima bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan kata-kata ini secara terang-terangan karena itu akan berarti bunuh diri politik baginya. Sebaliknya, orang seperti Amr bin Harith, ia sudah berkata bohong. Dia juga akan mengubah ceritanya seperti Abdullah bin Abbas. Dia juga akan melakukan TAKKIYA! Kita tampaknya mengabaikan fakta bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan jenis kata-kata ini di depan umum. Sebaliknya ia akan bersikeras bahwa bukti yang melawan Mut’ah menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah mengizinkan mut’ah. Kita tampaknya mengabaikan bahwa Umar hanya menggunakan kata-kata ini dalam konteks bukti yang melawan dia dan hanya setelah memberikan Amr Harits manfaat dari keragu-raguan sehingga ia dapat diselamatkan dari hokum cambuk.

KONTRAK SEX MUT’AH PADA MASA KEKHALIFAHAN IMAM ALI

Sebuah fakta sejarah yang melawan Mut’ah adalah bahwa ketika Imam Ali (as) resmi menjadi Khalifah ke-4 dia tidak pernah melegalkan Mut’ah. Dalam rangka untuk menjelaskan mengapa Imam Ali (as) tidak pernah melegalkan Mut’ah selama pemerintahannya sebagai Khalifah ke-4, ulama Syiah kita memberi alasan bahwa masyarakat belum siap untuk itu. Mereka berpendapat bahwa meskipun Mut’ah tetap ilegal di pemerintahan Imam Ali (as) kita harus menganggapnya sebagai hukum dalam Islam Syiah yang didasarkan pada nama Imam Ali. Dengan kata lain, kita harus melawan “pengharraman resmi” Imam Ali dan masih menyebut diri kita Syiah Ali!

Berbagai dalih diberikan untuk menjelaskan mengapa Imam Ali tidak melegalkan Mut’ah:

  • Salah satunya adalah bahwa orang akan berbalik melawan dia, sehingga ia tidak mau mengambil risiko itu.
  • Yang kedua adalah bahwa ia sangat banyak terlibat dalam peperangan sehingga ia tidak punya waktu untuk melegalkannya.
  • Yang ketiga adalah bahwa dia hanya memperbolehkan ‘Syiah’nya untuk melakukannya secara pribadi tetapi tetap ilegal bagi orang lain.

Semua alasan yang dibuat-buat ini tidak masuk akal karena pada kenyataannya Mut’ah tetap ilegal pada zaman Imam Ali (as). Jadi, jika dia tetap menjaga secara resmi ilegal, lalu para mullah yang datang pada abad-abad kemudian tidak dapat menjadikannya hukum resmi, ini adalah karena akan melawan terhadap pemerintahannya. Membuat alasan untuk melegalkan Mut’ah adalah berbalik melawan pemerintahan Imam Ali.

Terdapat juga kontradiksi pada klaim bahwa masyarakat tidak siap jika Mut’ah harus dilegalisir oleh Imam Ali. Hal ini karena teks Syiah kita memberitahu kita bahwa salah seorang lelaki Syiah Ali biasa melakukan begitu banyak mut’ah secara diam-diam dimana dia akan memberikan nama baru kepada setiap wanita pasangan mut’ahnya dan memberitahu anak-anaknya untuk tidak melakukan Mut’ah dengan wanita dengan nama-nama tersebut karena mereka menjadi ‘ ibu sementara” dari anak-anak lelakinya. Jadi jika jenis cerita itu benar maka itu akan berarti bahwa pada masa Imam Ali ada banyak lelaki yang melakukan Mut’ah yang berarti bertentangan dengan klaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah. Sehingga kita tidak dapat menerima keduanya karena pertama-tama mengklaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah dan kemudian ada cerita dalam kitab-kitab kita yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah praktik yang umum di masa pemerintahan Imam Ali.

Selain itu, klaim bahwa masyarakat akan berbalik melawan Imam Ali jika dia melegalkan Mut’ah, bisa disimpulkan bahwa ketika Umar dianggap mampu mengubah masyarakat dengan pelarangan mut’ah, namun Imam Ali tidak mampu mengembalikan itu, yang berarti ia tidak memiliki ketegasan atau keberanian seperti Umar. Itu berarti menganggap Imam Ali adalah pemimpin yang lemah dan ini, oleh karenanya, merupakan penghinaan kepada Imam kita. Selain itu, memberikan argument bahwa Imam Ali terlibat dalam banyak peperangan adalah tidak relevan, karena Umar juga terlibat dalam peperang yang jauh lebih besar di mana kerajaan besar seperti Bizantium dan Persia yang dikalahkan.

Dan mengatakan bahwa Imam Ali terlalu sibuk (dalam hal-hal seperti peperangan) dan karena itu dia tidak melegalkan mut’ah, ini berarti bahwa dia lebih seperti seorang pemimpin militer daripada seorang pemimpin politik. Ini benar-benar salah karena dia melakukan banyak banyak untuk mendefinisikan pemerintahan Islam. Keajaiban dia adalah bahwa sementara ia terlibat dalam banyak peperangan, namun dia mampu membentuk pemerintah keduanya dalam sejarah. Inilah sebabnya mengapa, bahkan musuh-musuhnya, akan merujuk pada keunggulan administrasinya. Keadilannya, ajarannya, kesejahteraannya dll yang semua brilian. Jadi mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk melarang Mut’ah benar-benar konyol dan merupakan usaha yang lemah untuk memberikan argument kenapa Mut’ah tidak dilegalkan pada masa pemerintahan Imam Ali.

Artikel di atas diterjemahkan secara bebas dari artikel yang ada di: http://mullaandmutah.weebly.com/chapter-1-on-the-hidden-truths.html

One thought on “YANG PERLU DIUNGKAP TERKAIT KONTRAK SEX MUT-‘AH

  1. artikel yang bagus sekali dan banyak membawa pengertian baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: