APAKAH SHOLAT ITU SEBENARNYA?

12

March 18, 2013 by Islam saja

Peneliti: Wakas Mohammed

Penerjemah: Islam saja

 

Infromasi tambahan tentang sholat menurut Al-Quran:

  1. Sholat harus dilakukan selama/ mendekati waktu pagi dan petang [11:114, 17:78, 24:58]
  2. Lelaki dan perempuan dapat menegakkan sholat. [9:71]
  3. Mereka yang menegakkan/ menjaga sholat adalah mereka yang rukuk (rendah hati) [2:43, 5:55]
  4. Apakah ayat 2:43-45 sedang menjelaskan hal yang sama?
  5. Seseorang dapat meminta tolong melalui sholat [2:45, 2:153]
  6. Mereka yang mempunyai keimanan akan menegakkan sholat [2:277, 4:43, 4:162, 5:55, 8:3, 14:31, 27:3 adalah sedikit contohnya]
  7. Sholat dapat melibatkan aktifitas berbicara/ membaca/ pidato dan orang harus mengetahui apa yang sedang dikatakan (yaitu dengan akal pikiran yang jernih, tidak ”sukaro” [hilang kesadaran/ mabuk]). [4:43, 11:84-94]
  8. Seseorang harus bersih ketika menuju sholat. [4:43, 5:6]
  9. Sholat itu dibatasi [4:101, 4:103, 5:106, 62:10]
  10. Sholat bisa dipendekkan (dihentikan ?) dan dikerjakan sambil bergerak bila keadaan kurang memungkinkan [[2:238-239, 4:101]
  11. Dalam kondisi khawatir/ takut (dalam kondisi berperang?) dapat dilakukan dalam dua kelompok secara bergantian [4:102]
  12. Dapat diakhiri dengan sujud (pengakuan/ tunduk berserah diri/ menyetujui/ mendengar dan menta’ati/ menanggapi secara positif) [4:102]
  13. Bagi orang-orang yang beriman sholat adalah Kitab/ perintah/ undang-undang yang diatur waktunya [4:103]
  14. Tersirat suatu pengertian bahwa merubah perkataan dari yang semestinya, banyak melupakan apa yang seharusnya diingat adalah bagian dari pelanggaran terhadap menegakkan sholat [5:12-13]
  15. Orang dapat dipanggil untuk sholat [5:58, 62:9]
  16. Ada seseorang yang menjadikan sholat sebagai suatu permainan (kesenangan/ hiburan) [5:58]
  17. Apakah tidak menghormati perjanjian dalam kitab Allah dan memberikan keterangan yang salah tentang Allah berlawanan dengan berpegang teguh pada Kitab Allah dan menegakkan sholat? [7:169-170]
  18. Musyrikin dapat bertaubat (kembali) dan menegakkan sholat setelah mereka melanggar perjanjian [9:5, 9:11]
  19. Apakah ayat 9:11-12 menjelaskan adanya pertentangan antara menegakkan sholat dengan yang memutuskannya?
  20. Masjid-masjid (institusi-institusi pengakuan) selalu dipelihara/ dikunjungi oleh mereka yang menegakkan sholat [9:18]
  21. Sholat dapat dihadiri [9:54]
  22. Ketika mempunyai otoritas di atas bumi memungkinkan seseorang untuk menegakkan sholat dengan lebih mudah [10:87, 22:41]
  23. Tempat tinggal/ rumah dapat digunakan untuk menegakkan sholat [3:39, 10:87, 33:33]
  24. Apakah ayat 14:37 menyiratkan pengertian bahwa menempatkan keturunan seseorang pada sebuah rumah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan memungkinkan merkea menegakkan sholat dengan lebih baik?
  25. Apakah ayat 17:78 menunjukkan bahwa istilah “Quran-al-fajr” dan “sholat-al-fajr” adalah saling menggantikan, yaitu dua hal yang berkaitan erat ?
  26. Sholat dapat terabaikan/ kehilangan maknanya jika mengikuti hawa nafsu/ keinginan [19:59, 107:5].
  27. Menegakkan sholat untuk mengingat/ menyebut Allah [20:14]
  28. Sholat mencegah/ menghalangi kejahatan dan kekejian [29:45]
  29. Apakah ayat 31:2-7 menjelaskan adanya pertentangan antara menegakkan sholat (yang didasarkan pada bimbingan/ system Tuhan) dengan menegakkan suatu perkataan yang tidak berguna? (perhatian dengan teliti kata ‘itu’ (HA) pada ayat 31:6)
  30. Apakah ayat 33:33-34 menyiratkan pengertian bahwa menegakkan sholat dikaitkan dengan mempelajari kitab Allah?
  31. Mereka yang menegakkan/ menjaga sholat adalah mereka yang nenerima seruan Tuhan mereka, melibatkan diri dalam konsultasi timbal balik (musyawarah) dan berbagi rizki yang diberikan oleh Allah [42:38]
  32. Burung-burung mengetahui sholat mereka [24:41]
  33. Seseorang harus mengamankan/ melindungi/ memelihara sholat yang paling sesuai/ setara/ adil/ seimbang [2:238].

Tambahan (pandangan lain) dari penerjemah:

  1. Apakah ”QOONITIIN” pada ayat 2:238 sebenarnya adalah ketaatan seseorang karena menjaga kehormatannya seperti ”AL-QOONITIIN” pada ayat 66:12 ?
  2. Apakah “QUUMU LILLAH” pada ayat 2:238 sebenarnya berkaitan erat dengan ”YUQIIMAA HUDUUD ALLAH” pada ayat 2:229 ?
  3. Apakah ”KHIFTUM” pada ayat 2:239 sebenarnya berkaitan dengan ”YAKHOOFA ALLA YUQIIMA HUDUUD ALLAH” dan ”FA IN KHIFTUM ALLA YUQIIMAA HUDUUD ALLAH” pada ayat 2:229 ?
  4. Lalu, apakah sholawat dan sholat pada ayat 2:238 sebenarnya berkaitan dengan implementasi dari hudud Allah dalam kehidaupan berkeluarga ?. Perhatikan dengan teliti konteks ayat 2:221-241.
  5. Seseorang dapat menegakkan sholat dengan malas dan hanya untuk pamer pada orang lain [4:142]
  6. Menyiratkan adanya sholat secara berjama’ah (berkelompok/ dalam suatu komunitas/ banyak) [4:142, 5:58, 9:54, 22:41, 42:38, 62:9]
  7. Melibatkan diri dalam hal-hal yang meracuni diri (minum-minuman keras) dan judi dapat menghalangi sholat. [5:91]
  8. Sholat juga berkaitan dengan pembuatan wasiat si mati dan sumpah dilakukan setelah sholat [5:106]
  9. Seseorang disuruh agar menyuruh keluarganya untuk sholat [19:55, 20:132]
  10. Orang harus bersabar dalam melaksanakan sholat [2:45, 20:132]
  11. Orang-orang yang menegakkan sholat termasuk dalam MUKHBITIIN (bersikap rendah hati/ sederhana/ berserah diri/ taat) [22:34-35]
  12. Orang hendaknya tidak dikacaukan oleh perniagaan dan jual-beli ketika menegakkan sholat [24:37]
  13. Orang harus rendah hati selama sholat [23:2]
  14. Musholliin (mereka yang mengikuti secara dekat atau selalu bersandar/ menempel) adalah mereka yang tetap/ melindungi/ menjaga sholatnya [70:22-23]
  15. Seseorang dapat menegakkan sholat sekedar untuk pamer [107:5-6]
  16. Ada yang sholat dengan melibatkan kebisingan/ siulan/ sambil bermalas-malasan/ penipuan/ kepalsuan/ tepuk tangan? [8:35]
  17. Dahulu musyrikin menegakkan sholat di sekitar Baitullah [8:35]
  18. Sholat seseorang dapat memerintahkan orang lain (misalnya menegakkan suatu sistem tertentu) [11:87]
  19. Sholat seseorang bisa memberikan kedamaian kepada yang lain, yaitu mereka akan diperlakukan dengan cara tertentu [9:103]
  20. Seseorang (Muhammad) tidak boleh terlalu keras dalam sholatnya [17:110]
  21. Sholat seseorang dapat kepada/ untuk Allah [6:162, 108:2, 87:15]
  22. Sholat harus diselenggarakan dengan serius [4:142, 5:58, 9:54, 107:5]
  23. Ayat 75:31-32 menyiratkan pengertian bahwa lawan dari kata sho-la (yaitu fi’il dari isim sholat) adalah “berpaling” (ta-walla)
  24. Ada orang yang menghalangi/ melarang orang lain sholat [96:9-10]
  25. Sebuah contoh tentang sholat yang dilakukan di suatu tempat khusus (mihrab) dan sendirian [3:39]
  26. Tanya-jawab dapat dilakukan selama orang sho-la (yaitu fi’il dari isim sholat) [3:39]
  27. Apakah Sholat melibatkan aktifitas berdo’a/ permohonan [3:37-40] ?
  28. Tuhan dan para malaikat dapat sholat kepada/ untuk anda/ kita, yang mengakibatkan kita keluar dari kegelapan kepada cahaya [33:43, 33:56]
  29. Sholat memungkinkan dilakukan antar sesama manusia [33:56, 9:103]
  30. Seseorang dapat melakukan sholat untuk orang lain (sekelompok orang) [4:102]. Perhatikan kata ”la-HUM” pada awal ayat ini.
  31. Orang hendaknya tidak sholat bagi orang munafiq [9:84]. (Apakah ini menyiratkan pengertian seseorang harus sholat bagi orang-orang beriman?)

 

Tambahan dari penerjemah:

Ayat 75:31-32 menyiratkan pengertian bahwa lawan dari kata sholat adalah “berpaling”/ “menghindari”. Padanan kata dalam bahasa Indonesia yang paling cocok dengan “lawan kata dari berpaling” adalah “memperhatikan” atau “memberikan perhatian” atau “mencurahkan perhatian kepada” sesuatu. Apakah sesuatu yang diperhatikan tersebut tergantung konteks kalimatnya. Pengertian ini cocok untuk diterapkan pada hampir semua ayat-ayat di atas.

Dalam bahasa Indonesia kata memperhatiakan itu menyiratkan banyak makna tergantung konteks kalimatnya. Sebagai contoh:

  1. Ketika seseorang mengatakan: “Kenakalan remaja bisa disebabkan karena kurangnya perhatian orang tuanya kepada anak tersebut”. Ini bermakna bahwa kenakalan remaja bisia disebabkan oleh orang tua yang kurang “memperhatikan” si remaja tersebut, yaitu misalnya: tidak mendidiknya, kurang memberikan pengarahan, tidak memantau perkembangan perilakunya dll.
  2. Ketika dikatakan: “Andi nilainya jelek karena kurang memperhatikan pelajaran ketika di kelas”. Ini bisa bermakna Andi tidak serius mendengarkan pelajaran, tidak konsentrasi terhadap pelajaran dll.

Sholat adalah isim dari sho-la-wa. Dengan demikian sholat adalah “keadaan memperhatikan sesuatu” atau “keadaan memberikan perhatian kepada sesuatu”. Saya belum menemukan padanan satu kata dlm bhs Indonesia yang mengambarkan “keadaan memperhatikan sesuatu”.

Berbeda dengan kata zakat yang merupakan isim dari kata za-ka-wa (tumbuh/ berkembang/ meningkat secara fisik dan mental), sehingga zakat bermakna “keadaan tumbuh/ berkembang/ meningkat secara fisik dan mental”. Yang padanan satu kata dalam Indonesianya adalah “pertumbuhan/ perkembangan/ peningkatan secara fisik dan mental”

Contoh penggunaan pengertian sholat di atas pada ayat-ayat di mana kata sholat atau sho-la-wa/ya tidak mungkin bermakna ritual sholat 5 x sehari yang berupa gerakan fisik berurutan dengan bacaan tertentu pada setiap perubahan posisinya, adalah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya YU-SHOLLU kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, SHOLLU kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [33:56].

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya “memberikan perhatian” kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, “berilah perhatian” kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [33:56].

Cara Allah dan para malaikat memberikan perhatian kepada Nabi, bisa saja dengan cara memberikan kekuatan batin, bantuan ghoib pada saat perang dll.

Cara umat Muhammad memberikan perhatian kepada Nabi adalah dengan cara menolongnya, memberi dukungan moral dan material, membantu dalam jihad dll.

2. Dan janganlah TUSHOLLI (kamu sho-la) kepada seorang yang mati di antara mereka selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [9:84]

Dan janganlah kamu “memberikan perhatian” kepada seorang yang mati di antara mereka selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [9:84]

Ini bisa berarti bahwa muslimin tidak perlu memberikan perhatian penuh pada munafiqin yang telah mati, misalkan mendo’akan mereka, memberikan penghormatan dll, Bila perlu biarkanlah sesama munafiqin yang mengurus jasad mereka.

3. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan AQOMUSH-SHOLAH dan ATUZZAKAH, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [9:45]

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka kembali dan “menegakkan/ mentaati perjanjian” dan “melakukan perbaikan”, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [9:45].

Sholat pada ayat ini tidak mungkin dipahami sebagai sholat ritual, karena musyrikin tidak mungkin mau melakukan sholat ritual. Kalau dipahami bahwa mereka telah muslim, maka ini berarti melakukan pemaksaan agar musyrikin menjadi muslim dengan ancaman pedang dan ini bertentangan dengan ayat 2:256.

4. Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah SHOLAT (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”. [5:106]

Sholat pada ayat ini berarti memperhatikan/ menyimak isi dari wasiat atau membacanya dengan teliti jika wasiat itu tertulis dan ini harus dilakukan oleh kedua saksi baik muslim maupun non muslim, bukan melakukan ritual sholat seperti di hari ini, karena saksi yang non muslim tidak mungkin bersedia melakukan sholat ritual.

5. Peliharalah SEMUA SHOLAT, dan SHOLAT WUSTHAA. Tegakkanlah karena Allah dengan ta’at. [2:23].

Peliharalah SEMUA KEADAAN MEMPERHATIKAN HUDUD ALLAH YANG TERKAIT DENGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA, dan KEADAAN MEMPERHATIKAN HUDUD ALLAH SECARA ADIL/ SEIMBANG. Tegakkanlah karena Allah dengan ta’at. [2:23].

Perhatikanlah hudud Allah pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

 

Pernyataan Penting:

Tulisan di atas mencerminkan pemahaman saya tentang sholat hingga pada saat artikel ini ditulis dan bisa saja berubah bila menemukan pemahaman baru yang lebih mencerahkan.

Artikel yang asli dari si peneliti dapat dibaca di: http://mypercept.co.uk/articles/quran_on_salat.htm

12 thoughts on “APAKAH SHOLAT ITU SEBENARNYA?

  1. arief budiman says:

    Brilliant

  2. Amjr says:

    Kita itu jangan mudah ditipu walaupun org tsb dr bangsa Arab. Dari uraian anda sy menyimpulkan tentang sholat bahwa : sholat adalah merupakan aktifitas pikiran dan perasaan saja. Atau aktifitas yang mungkin juga melibatkan perbuatan atau ucapan tetapi tidak mempunyai tuntunan standar baku dari Rosulullah ataupun Allah Swt. Jika ini benar pengertiannya spt itu maka sy anggap anda tersesat dr jalan Allah Swt. Hilang di jalan yg terang. Ini sangat berbeda dengan pengertian sholat pada umumnya. Pd umumnya sholat sendiri diartikan dg = doa. Ttp doa disini mempunyai tanda kutip. Yaitu dengan istilah sholat. Yg pelaksanaanya harus mengikuti standar baku aturan Rosulullah Saw. Menurut hadist sholat adl diawali dengan takbiratulih ihram dan diakhiri salam. Dlm Alquran jelas dikatakan bhw sholat melibatkan aktivitas diantaranya : berdiri, duduk, rukuk, sujud, dan mengucapkan sesuatu yg tidak terlalu keras dan tdk terlalu lirih. Ini mengindikasikan bahwa dlm aktifitas tsb tentunya kita harus membaca suatu bacaan yg sudah diberikan dan di contohkan. Hingga itu bisa dikatakan atau di kategorikan sebagai “sholat” . Kita tak mungkin mengarang sendiri ucapan dan tingkah lakunya . Tata cara dan bacaan sholat ada dlm hadist. Di dalam Alquran tak ada. Berlanjut…

  3. Amjr says:

    Allah swt memerintahkan org Islam utk sholat. Dg logika tentunya secara otomatis seorang muslim tau amalan2 apa yg hrs dilakukan di dalam sholat tsb. Tuntunan amalan tsb tentunya sudah ada, bukan perintah itu datang kepada kita baru kemudian kita ngarang amalannya. Contoh = seseorang diperintahkan utk “sekolah ” secara otomatis seseorang itu harus tau tindakan-tindakan standar baku apa yg harus dilakukan sehingga ia bisa dikategorikan sebagai seorang yg “bersekolah”. Contohnya : ia harus mendatangi institusi yg bernama sekolahan, mendaftar pd tgl pendaftaran, memakai seragam, berangkat pd kan pelajaran dll. Scut tindakan yg tak sesuai mengakibatkan ia tidak dinamakan sekolah. Misalnya dia malah ndaftar di pabrik. Istilah itu ada dan diturunkan atau digunakan di tengah masyarakat tentunya sudah dijelaskan tata cara amalan yg harus dilakukan sehingga seseorang itu bisa dikatakan sudah melakukan “istilah” tersebut. Maaf , sy menilai anda kacau dlm memaknai sholat. Ini karena anda tak meyakini keberadaan hadist Rosulullah. Ini adalah kekeliruan yg serius. Kesalahan satu mengakibatkan kesalahan yg lainnya. Pd Qs 9:103 anda memaknai sholat. Ini keliru. Yg benar adl “mendoakan ” yg tdk mempunyai standar baku spt sholat. Anda hrs mengerti bahasa Arab. Perbedaan lafal mengakibatkan perbedaan makna. Beda kasro atau dhoma mengakibatkan beda makna. Lafal pada ayat tersebut berbeda dengan lafal pada ayat lain yg bermakna “sholat”.

  4. Amjr says:

    Keberadaan hadist akan dijaga Oleh Allah swt ini berdasar pd Qs 15: 9 “sesungguhnya, Kamilah yg menurunkan peringatan, dan sesungguhnya kami benar2 menjaganya ” 15:9 peringatan tersebut adalah merupakan Din atau Agama atau aturan. Yg berupa Alquran dan Al hadist Rosulullah. Keduanya merupakan wahyu Allah Swt. Qs 53 : 3-4 ” Dan tiadalah ucapanya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan”.

    Mengenai qs 9 : 5 . Itu bukan pemaksaan suatu agama. Kalau kita tdk paham mengenai ayat Allah swt, itu bukan ayatnya yg salah, itu karena kita yg tak mengerti makna ayat Allah swt. Perintah untuk memerangi itu datang karena mereka telah melanggar perjanjian dengan berbuat jahat . Baca Qs 9 : 8 – 13. Pada hakikatnya mereka telah dihukum mati oleh Allah Swt dikarenakan perbuatan mereka sendiri. Dan itu wajar karena mereka tlh memerangi. Hanya saja mereka masih diberi kesempatan hidup jika mereka tertangkap atau menyerahkan diri , lihat ayat ke 6. Perhatikan urut2 an kalimat pd Qs 9:5 mereka tidak harus di bunuh
    “apabila sudah habis bulan2 haram itu. Maka perangilah org2 musyrikin itu di mana saja km jumpai mereka. Dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berikanlah kebebasan kpd mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah maha pengampun lg maha penyayang “. (Qs 9 :5 )

  5. Amjr says:

    Dalam ayat tsb memang diperintahkan untuk dibunuh, tentunya thd org2 yg melawan dan memerangi, tp kalimat berikutnya kita juga diperintahkan utk menangkap kmd mengintai. Ini berpengertian bahwa mereka yg diintai masih di biarkan hidup. Berarti mereka yg tlh ditangkap harus dikurung atau dipenjara. Kalimat mengerjakan sholat ini berpengertian bahwa mereka tlh masuk Islam. Setelah mrk ditangkap kemudian dikurung jika mereka masuk Islam maka mereka diawasi atau di intai apakah mrk benar2 mengerjakan sholat dan membayar zakat, jika iya maka mereka dibiarkan utk hidup bebas. Terus pd ayat ke 6. Seseorang yg menyerahkan diri dibiarkan hidup dan ditempatkan di tempat yg aman. Demikian kurang kebhinya minya maaf. Semoga kita bisa memaknai sholat seperti yg dicontohkan Rosulullah Saw. Karena ibadah yg paling bagus adalah Sholat.

    • Islam saja says:

      Apa yang disebut sebagai kitab2 hadits atau sunnah Rosul sebenarnya disusun berdasarkan asumsi bahwa ada orang (biasanya disebut perawi) yang bisa mengingat 100% ucapan orang lain kata demi kata yang ia dengar, lalu menyampaikannya kepada orang lain.
      Nah adakah di dunia ini orang yang mampu mengingat ucapan orang lain kata demi kata 100%? tidak ada yang berkurang satu katapun dan tidak ada yang berubah satu katapun?
      Kalau ada orang seperti ini, maka laporan ucapan, perbuatan dan persetujuan Nabi itu memang benar2 ada.
      Namun kalau tidak ada, maka yang disebut hadits atau sunnah Rosul sesuai yg didefinisikan oleh si pembuat bid’ah, sebenarnya tidak ada

  6. eem says:

    Hihihi.. Lucu sekali.. Sekali baca jelas terlihat dlm menafsirkan dan memahami al-qur’an anda hanya berdasarkan asumsi, prasangka dan bermain logika semata.. Jd begitu hasilnya.. Setiap menjelaskan ayat yg versi anda selalu menggunakan contoh kasus berdasarkan logika.. Inilah hasil pemikiran kalau menafsirkan isi alquran semau nya sendiri dg logika tanpa mau menyertai dg hadits2 yg sohih.. Mdh2an Allah membuka pemikiran..
    Tp gak kaget.. Krn nabi muhammad ribuan tahun lalu sdh berkata bahwa islam akan terbagi menjadi 73 golongan.. Dan hanya 1 golongan yg ahli surga.. Wallaualam bissowaf..

    • Islam saja says:

      Apa yang disebut sebagai kitab2 hadits atau sunnah Rosul sebenarnya disusun berdasarkan asumsi bahwa ada orang (biasanya disebut perawi) yang bisa mengingat 100% ucapan orang lain kata demi kata yang ia dengar, lalu menyampaikannya kepada orang lain.
      Nah adakah di dunia ini orang yang mampu mengingat ucapan orang lain kata demi kata 100%? tidak ada yang berkurang satu katapun dan tidak ada yang berubah satu katapun?
      Kalau ada orang seperti ini, maka laporan ucapan, perbuatan dan persetujuan Nabi itu memang benar2 ada.
      Namun kalau tidak ada, maka yang disebut hadits atau sunnah Rosul sesuai yg didefinisikan oleh si pembuat bid’ah, sebenarnya tidak ada.

  7. joko says:

    Kalo di baca ber ulang ulang Annisa ayat 102, maka Anda akan menemukan Nabi shalat dengan para sahabat… Dalam keadaan perang, nabi shalat sempurna sedangkan sahabat shalat qoshor.…. Dan itu salah satu contoh gerakan shalat dalam Alquran…

    Siapa bilang Allah tidak mengajarkan gerakan shalat dalam Alquran…. Hanya orang2 yang tidak atau kurang menyelami Alquran saja yang tidak tahu…

    • Islam saja says:

      Meneliti lebih jauh ayat Annisa:102:

      Makna kata AKHODZA:

      YA’KHUDZU dan KHUDZUU pada ayat 4:102 berasal dari tsulatsi A-KHO-DZA.
      A-KHO-DZA menurut Lane’s Lexicon bermakna:
      1. mengambil/ memegang dengan tangan (benda riil) contoh: 2:51, 92, 116, 260 dan 4:102
      2. mengambil (benda abstrak) yang ada konsekuensinya, misalnya perjanjian: 2: 63, 83, 84
      3. menerima (benda abstrak) yang ada konsekuensinya, misalnya perjanjian: 2: 48, 80
      4. berdampak/ memberikan pengaruh secara fisik/ mental
      5. menguasai/ mengendalikan secara fisik/ mental, contoh: 2:255
      6. memusnahkan/ meghancurkan secara total, contoh: 40:22
      7. menahan/ mencegah (seseorang dari melakukan sesuatu yang diinginkan orang tsb.)
      8. mengambil dan tidak melepaskan (menahan), contoh: 12:78
      9. menghukum (akibat melakukan kesalahan), contoh 2:225.
      10. membunuh/ menyembelih, contoh: 2:67
      11. mengikuti, menganut, menjadi sebagai (apa yang dikatakan seseorang)
      12. mulai melakukan sesuatu

      Dengan demikian AKHODZA bisa berarti mengambil/ memegang/ menerima sesuatu dengan konsekuensi tertentu yang relevan dengan apa yang diambil/ dipegang/ diterima tersebut.

      Alhamdulillah, akhirnya ditemukan rujukan yang bisa dipakai untuk memahamai makna dari kalimat ”wal-yak-khudhu hidhrohum”.
      Di Lane Lexicon hal. 534, diberikan contoh tentang makna dari kata ”akho-dha hidh-ro-hu”, yaitu ”he took care; was cautions, or vigilant” (ia telah menjaga, memperhatikan, atau waspada).
      Dengan demikian makna dari kata ”wal-yak-khudhu hidhro-hum” adalah ”dan hendaklah mereka tetap/ senantiasa menjaga/ memperhatikan/ waspada”. Update tgl. 2 Maret 2014.
      Oleh karena yang dipegang pada ayat 4:102 adalah senjata, maka konsekuensinya adalah menjaga dan menggunakan senjata tersebut untuk melindungi diri atau untuk membunuh musuh

      Makna dari “FAL YAKUUNU MIN WAROO IKUM” (QS 4:102).

      Kata di atas oleh Tim DEPAG diterjemahkan sebagai “maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)”

      Benarkah terjemahan tersebut?

      Kalau dilihat kata demi kata, maka rangkaian kata tsb. bisa diartikan sebagai “maka hendaklah/ adalah mereka dari belakang kamu semua”. Kalau mengikuti kata demi katanya, maka rangkaian kata ini tidak dapat dipahami maknanya.

      Alhamdulillah ditemukan rujukan yang bisa dipakai untuk memahami makna rangkaian kata tsb.
      Di Lane Lexicon hal. 3052, kalimat “subjek + MIN WAROOI + obyek”, itu merupakan idiom (ungkapan) yang artinya: subyek + tetap mengawasi + obyek (note: mungkin dalam konteks untuk melindungi).

      Di sana ada contoh makna dari kalimat “ALLAHU+MIN WAROOI+KA” (Allah tetap mengawasi/ melihat kamu). Dengan demikian terjemahan harfiah dari “FAL YAKUUNU MIN WAROO IKUM” adalah, “maka hendaklah/ adalah mereka tetap mengawasi/ melihat kamu semua”. Di sini, masih perlu ditelusuri siapa yang dimaksud dengan “mereka” (yg tersirat pada kata YAKUUNU) dan “kamu semua” (KUM).

      Jadi dalam konteks ayat 4:102, makna ”FAL YAKUUNUU MIN WAROO-I KUM” semestinya dipahami sebagai ”maka hendaklah ’THOO-IFATUN yang pertama’ tetap mengawasi/ melihat (menjaga (?) dalam konteks dari bahaya musuh) ’THOO-IFATUN yang kedua’” (yang akan sholat). Update tgl. 1 Maret 2014.

      Dan apabila kamu (tunggal lelaki) TELAH berada di tengah-tengah mereka (anggota pasukan) lalu kamu (tunggal lelaki) TELAH bangkit/ berdiri/ mengatur shalat BAGI/ UNTUK/ YANG DITUJUKAN KEPADA mereka, maka hendaklah THOOIFATUN dari sebagian mereka (anggota pasukan) bangkit/ berdiri/ mengatur BERSAMA kamu (tunggal lelaki) dan hendaklah mereka memegang/ mengambil senjata mereka (untuk siap digunakan), kemudian apabila mereka TELAH SUJUD, maka hendaklah mereka (THOO-IFATUN pertama) tetap mengawasi/ melihat kamu semua (THOOIFATUN yang lain), dan hendaklah datang THOO-IFATUN yang kedua yang belum sholat, lalu hendaklah mereka sholat BERSAMA kamu (tunggal lelaki), dan hendaklah mereka tetap waspada dan (memegang) senjata mereka (untuk siap digunakan). Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu (perbekalan dalam berperang), lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu (yaitu menghentikan peperangan sementara waktu), jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan tetap waspadalah kamu semua. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (4:102)

      Jika dibandingkan sholat ala kitab fiqh, pada ayat di atas justru:
      1. Sholat ditujukan kepada sekelompok orang yang juga sholat.
      2. Tidak ada gerakan tubuh berurutan.
      3. Tidak ada bacaan tertentu di setiap posisi diam (berdiri, membungkuk, duduk dan ketikan menempelkan dahi di lantai).
      4. Orang-orang yang SEDANG sholat disuruh tetap waspada sambil MEMEGANG senjata mereka.

      Note: Bila sujud pada ayat di atas dipahami sebagai sujud-7 (menempelkan 7 anggota badan di lantai/ kain sajadah), maka akan dengan sangat mudahnya leher pasukan muslimin dipenggal oleh musuh ketika sujud-7. Pasti ada makna lain dari kata sujud tersebut (lihat artikel sujud di blog ini juga: https://muslimsaja.wordpress.com/2013/03/18/al-quran-menyelamatkan-makna-kata-sujud/).

      Allahu ‘a’lam.

  8. nurcahaya says:

    Penelusuran yg menarik, ada juga ditemukan tulisan yg serupa memaknainya ? Di link dibawah ini ?
    Pada akhirnya tergantung masing2 memaknai dan mendirikan pahamnya dlm hatinya atas semua yg di baca? Dan doa keselamatan bagi semua yg mencari….🙂

    Salam

    http://penerang-info.blogspot.co.id/2016/04/makna-sholat-penelusuran-dati-ayat2.html?m=0

  9. Rul says:

    Ass. Saya berharap bung Islam saja dapat menyajikan penafsiran ayat-ayat Al Quran mengenai waktu-waktu sholat seperti antara lain tercantum dalam QS Al Isra (17) : 78 dan QS Hud (11) : 114. Apa makna kata “duluki as syam” dan “thorofa yi nahari” ?. Hal tersebut saya pandang perlu karena “sholat 5 waktu” tidak disebutkan secara jelas dan tegas dalam Al Quran. Tks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: