MENERIMA HADITS DARI PERAWI TUNGGAL

5

July 14, 2012 by Islam saja

Peneliti: Dr Ahmad Shafaat (Mei, 2004)

Penerjemah: Islam saja

Para ulama dari zaman awal telah membahas pertanyaan apakah dalam kondisi tertentu wajib menerima sebuah hadits gharib, yaitu sebuah hadits yang hanya disampaikan oleh satu orang perawi pada tahapan proses transmisinya [1]. Tujuan artikel ini adalah untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diberikan oleh para ahli terhadap pertanyaan ini.

Untuk memulainya, marilah kita perjelas aspek penting dari pertanyaan itu dengan pengamatan berikut:

1)      Isi (matn) dari sebuah hadits dapat diterima tanpa menerimanya sebagai kata/ tindakan yang benar-benar asli berasal dari Nabi. Sebagai contoh, isi dari sebuah hadits yang terkenal, “Carilah pengetahuan meski harus di China,” dapat diterima, karena hal ini cukup konsisten dengan penekanan Islam pada semangat mencari ilmu. Tetapi dalam kasus ini kita tidak harus menerimanya sebagai kata yang asli dari Nabi. Bahkan, para ulama hadits menolak pengatributan hadits ini kepada Nabi (Ibn al-Jawzi, Kitab al-Mawdu’at 1/154).

2)      Penerimaan sesuatu dapat mengikat dan mengatasi keraguan atau bisa mengikat sampai ia diragukan. Misalnya, penerimaan sebuah ayat al-Qur`an atau sebuah hadits yang dinilai otentik mengatasi setiap bentuk keraguan yang masuk akal adalah mengikat dan mengatasi kecurigaan. Tetapi penafsiran sebuah ayat al-Qur`an atau sebuah hadits otentik oleh para ulama adalah mengikat selama seseorang tidak meragukan validitasnya baik dengan argumennya sendiri atau bersandar pada otoritas ulama lainnya. Sebagai contoh, sebuah perintah ul al-‘amr, yang secara sah dipilih oleh syura, adalah mengikat, selama perintah itu tidak berhasil dipertanyakan dengan cahaya al-Qur`an dan hadits otentik di depan sebuah pengadilan Islam yang independen (4:59).

3)      Pertanyaan tentang apakah mengikat untuk menerima isi dari sebuah hadits jika hadits tersebut mengatakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam al-Qur`an. Jika sebuah hadits hanya menyatakan ulang dari suatu keyakinan (keyakinan-keyakinan) atau perintah (perintah-perintah) yang ditemukan di Al-Qur`an, penerimaan matnnya adalah jelas mengikat, meskipun tidak perlu diterima sebagai kata/ tindakan yang otentik dari Nabi.

Di bawah ini, kecuali dinyatakan khusus, menerima sebuah hadits berarti menerima tidak hanya isinya tetapi juga keasliannya sebagai kata/ tindakan dari Nabi. Juga, kata “mengikat” akan dipahami dalam pengertian wajib dan mengatasi keraguan. Dengan demikian, pertanyaan yang dipertimbangkan dalam artikel ini dapat dinyatakan secara lebih tepat sebagai berikut: Apakah, dengan beberapa kondisi tertentu, mengikat dan mengatasi keraguan untuk menerima keaslian sebuah hadits gharib?

Jawaban yang diberikan dalam artikel ini adalah tidak. Muslim secara individu atau secara kolektif boleh menerima hadits seperti itu dan berpikir/ bertindak sesuai dengan itu tetapi tidak dalam kondisi penerimaannya mengikat.

Bukti dari kami untuk pandangan ini terdiri dari lima bagian:

i)           Bukti bahwa isnad yang shahih (yaitu, sebuah isnad yang mencapai Nabi tanpa terputus dan terdiri dari para perawi yang dapat dipercaya) tidak menjamin keaslian sebuah hadits.

ii)         Argumen yang menunjukkan bahwa melengkapi tingkat kesehatan dari isnad dengan kondisi lain tidak menjadikan penerimaan sebuah hadits gharib mengikat.

iii)       Argumen dari persyaratan al-Qur’an bahwa minimal harus ada dua orang saksi dalam hal-hal penting.

iv)       Argumen dengan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa Nabi, para sahabat dan para tabi-in yang tidak selalu menerima sebuah khabar (laporan) dari seorang perawi tunggal yang bisa dipercaya.

v)         Argumen bahwa contoh-contoh penerimaan oleh para sahabat terhadap sebuah khabar yang datang hanya dari satu orang perawi hanya membuktikan kebolehannya dan BUKAN kewajiban menerima laporan seperti itu.

(I)

Isnadyang shahih TIDAK MENJAMIN keaslian Hadits gharib

Hampir semua ulama sepakat bahwa sebuah hadits yang mengikat ia harus memiliki isnad yang shahih. Sebagian ulama seperti Ibnu Hazm menganggap kondisi ini cukup, yaitu, mereka menganggap mengikat untuk menerima hadits dengan isnad shahih. Posisi ini mencerminkan kecenderungan umum di kalangan ulama hadits untuk menunjukkan kehati-hatian dalam hal menolak sebuah hadits dibandingkan bila menerimanya. Untuk menjelaskan poin ini lebih jauh, anggaplah bahwa sebuah hadits tersebut dinilai mungkin sekali otentik namun masih tetap ada keraguan tentang keasliannya. Haruskah kita menerimanya karena memiliki beberapa probabilitas menjadi otentik atau sebaiknya kita menolaknya karena ada keraguan tentang keasliannya? Kecenderungan para ulama adalah menerimanya sebagai otentik dan kemudian menjadikan penerimaan tersebut mengikat bagi seluruh Muslim. Tetapi argumen berikut menunjukkan bahwa dengan masih adanya keraguan, kita tidak harus menerima hadits seperti itu sebagai otentik atau paling tidak tidak harus menganggap penerimaannya mengikat.

Islam adalah yang terakhir dari agama wahyu dan dimaksudkan untuk seluruh umat manusia dan untuk semua zaman. Adalah perlu bagi sebuah agama seperti ini mengkomunikasikan kepada kita ajaran-ajarannya yang mengikat sedemikian rupa sehingga tidak ada keraguan sedikitpun bahwa ajaran-ajaran tersebut diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu jika ada suatu keraguan yang masuk akal tentang keaslian sebuah hadits maka hadits itu adalah tidak asli ataupun tidak dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya menjadi mengikat.

Sangat mudah untuk melihat bahwa ada hal yang meraguan tentang keaslian sebuah hadits gharib meskipun isnadnya terlihat baik. Karena, ada sangat banyak kemungkinan kesalahan yang tidak disadari atau tidak disengaja atau disengaja [2] selama waktu yang lama ketika transmisi ahadits yang utamanya secara oral dan tidak melalui buku yang terawat baik. Mempersyaratkan bahwa para perawi harus bisa dipercaya dapat mengurangi kesalahan secara sengaja akibat ketidakjujuran, tetapi tidak dapat menghilangkannya sama sekali. Hal ini karena kejujuran dari seorang perawi, setidaknya jika perawi tersebut bukan seorang shohabat, adalah ditentukan oleh manusia [3], yang tidak bisa mengtahui secara pasti keadaan sebenarnya dari hati seseorang. Hal ini tidak hanya dibuat jelas oleh al-Qur`an (4:25, 53:32, 60:10 dll), tetapi juga ditunjukkan oleh banyak contoh adanya orang yang dipercaya oleh orang lain, tetapi kemudian terbukti bahwa orang itu ternyata sangat tidak jujur. Adapun kesalahan dari orang yang jujur, yaitu jenis kesalahan yang disadari (khilaf), di bawah sadar (misalnya: dalam kondisi mabuk, sedang stress atau sakit keras) atau tidak disengaja, pasti tetap mungkin terjadi bagi semua manusia, bahkan bagi para Nabi sekalipun.

Oleh karena itu jika kita mejadikan mengikat penerimaan hadits gharib, bahkan meski kita mempersyaratkan semua perawinya dikenal dan dipercaya, banyak kesalahan akan memasuki Islam dan mendapatkan pensakralan. Bisa dikatakan bahwa menolak ahadits seperti ini juga akan menghasilkan banyak kesalahan, karena kita akan menolak beberapa hadits yang lebih otentik. Tetapi kita harus ingat bahwa Rasulullah diutus oleh Allah bagi seluruh umat manusia (dan jin) dan untuk setiap zaman dan karenanya, seperti disebutkan di atas, Allah tidak akan mengkomunikasikan ajaran-ajaran yang mengikat kita melalui sebuah hadits gharib, yang tunduk pada adanya keraguan. Oleh karena itu dalam menolak sebuah hadits gharib atau menerimanya tanpa menjadikan penerimaan tersebut wajib, tidak ada bahaya dari berbuat kekeliruan.

 

Sebuah contoh hadits palsu dengan isnad yang sahih.

Bahwa isnadyang sahih tidak menjamin keaslian sebuah hadits juga dibuktikan dengan contoh berikut. Perhatikan hadits berikut:

Hisyam bin ‘Ammar meriwayatkan kepada kami: Isa bin Yunus meriwayatkan kepada kami: Yusuf bin Ishaq meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir bin ‘Abd Allah

bahwa seorang pria berkata: “Ya Rasulullah! Saya mempunyai beberapa kekayaan dan seorang anak (walad). Ayah saya ingin mengambil (yajtaha) kekayaan saya”. Dia berkata: “Kamu dan hartamu milik ayahmu”. (Ibnu Majah 2282)

Isnad hadits ini adalah shahih [4]. Namun hadits ini adalah benar-benar palsu, sebagaimana yang bisa kita lihat dari diskusi tentang masalah ini di al-Risalah dari Syafi’i.

Narasi di Syafi’i berjalan sebagai berikut:

Sufyan [bin ‘Uyaynah] mengatakan kepada kami dari Muhammad bin al-Munkadir yang mengatakan:

Seorang pria berkata kepada Nabi: “Ya Rasulullah! Saya memiliki keluarga dan kekayaan saya sendiri, dan ayah saya memiliki keluarga dan kekayaan sendiri. Namun ia ingin mengambil harta saya dan menggunakannya untuk memberi makan keluarganya”. Nabi berkata: “Kamu dan kekayaan kamu milik ayahmu”.

Perhatikan bahwa Syafi’i mengetahui hadits tersebut dengan rantai isnad yang mencapai Muhammad bin al-Munkadir yang berbeda dari pada yang ada di Ibnu Majah. Ini berarti bahwa terdapat peluang kemungkinan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh al-Munkadir [d. 131], seorang Tabi’in muda yang dianggap sangat dapat dipercaya. Juga agar perhatikan bahwa dalam narasi Syafi’i, al-Munkadir tidak mengatakan bahwa hadits tersebut dari Jabir bin ‘Abd Allah atau Sahabat lainnya.

Setelah mengutip hadits terebut, kita akan menemukan diskusi yang sangat mencerahkan berikut dalam al-Risalah:

Ia [teman bicara] berkata: Kami tidak menerima hadits ini, tetapi beberapa pengikut Anda menerimanya.

Syafi’i berkata: Tidak, karena dia yang menerima akan memberikan ayah yang kaya [hak untuk] mengambil kekayaan anaknya.

Dia berkata: Itu benar. Tidak ada seorangpun yang menerimanya. Tetapi kenapa orang-orang tidak menerimanya?

Syafi’i berkata: Karena ini tidak terbukti dari Nabi. Karena ketika Allah memutuskan bahwa seorang ayah bisa mewarisi dari anaknya seperti (kerabat) lain, Dia menempatkan ayah dengan dasar yang sama sebagaimana ahli waris lainnya. Memang, ayah menerima bagian yang lebih kecil dari ahli waris lainnya, yang menunjukkan bahwa anak memiliki kekayaannya terpisah dari ayahnya.

Dia berkata: Apakah Muhammad bin al-Munkadir sangat dipercaya menurut Anda?

Syafi’i berkata: Ya. Sebab, ia dibedakan dalam urusan agama dan kesalehan. Tetapi kita tidak tahu dari siapa ia menerima hadits ini.

Di sini Syafi’i memberikan argumen penentu yang menunjukkan bahwa hadits ini bertentangan secara langsung dengan Al-Qur’an dan karena itu harus ditolak [5]. Selain itu, dialog antara dia dan teman bicaranya juga menunjukkan bahwa tidak hanya Syafi’i tetapi juga hampir semua ulama lainnya pada masanya menolak hadits tersebut. Para ulama belakangan juga menolaknya sebagaimana yang ditunjukkan oleh fakta bahwa hadits itu hanya ditemukan di Ibnu Majah di antara sembilan buku yang tercakup dalam Ensiklopedi Hadits.

Dari contoh ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan yang sangat penting, yang dapat didukung oleh banyak contoh lainnya:

  • Sebuah pemalsuan yang lengkap dapat memperoleh isnad sahih yang sempurna.
  • Bahkan perawi yang sangat dipuji dan terpercaya seperti al-Munkadir bisa menjadi ceroboh dan mengatributkan kepalsuan kepada Nabi Suci (semoga Allah menghargai dan memberkati dia selama-lamanya).

Kontradiksi di antara ahadits

Bukti lebih lanjut bahwa isnad yang shahih tidak menjamin keaslian sebuah hadits ditunjukkan oleh fakta bahwa kita sering menemukan riwayat dari hadits yang sama, semua dengan asanid yang sahih, yang bertentangan satu sama lain. (Lihat artikel “Menghadapi Kontradiksi di antara hadits”). Jelas, bahwa beberapa narasi yang bertentangan ini tidak dapat dipercaya meskipun ada fakta bahwa mereka memiliki asanid yang sahih.

(II)

KONDISI TAMBAHAN TIDAK MENGHILANGKAN KERAGU-RAGUAN YANG WAJAR

Kebanyakan ahli mengakui bahwa tingkat kesehatan dari  isnad tidak jaminan keaslian sebuah hadits. Maka mereka memberlakukan kondisi-kondisi tambahan sebelum menerima sebuah hadits gharib menjadi mengikat. Namun demikian, kondisi-kondisi tambahan ini juga tidak menghilangkan keragu-raguan yang ada dalam keaslian sebuah hadits gharib atau mereka menjadi begitu ketat yang hampir tidak ada hadits gharib yang memenuhi kondisi tersebut dengan cara yang dapat dibuktikan.

Pandangan Syafi’i

Syafi’i mensyaratkan kondisi berikut sebelum sebuah hadits gharib menjadi mengikat:  Setiap perawi dalam isnad harus

  1. layak secara meyakinkan dalam agamanya, dan
  2. dikenal mengirimkan hadits secara dipercaya,
  3. harus memahami dan melafalkan dengan benar apa yang ia sampaikan,
  4. harus menghafal hadits tersebut dan harus mampu menyampaikan kata demi kata, tidak hanya menyampaikan makna [6].
  5. bukan seorang mudallis, yang menghubungkan/ mengaitkan narasinya kepada seseorang, yang darinya ia tidak mendengar narasi tersebut.
  6. narasi-nya tidak boleh diatributkan kepada Nabi sesuatu yang bertentangan dengan otoritas lain yang dapat dipercaya yang diriwayatkan dari dia.

Permasalahan dengan persyaratan di atas adalah bahwa mereka kebanyakan bersifat teoritis dan kita tidak punya cara untuk memverifikasi kondisi-kondisi tersebut dalam kasus-kasus tertentu. Sebagai contoh, syarat bahwa perawi tidak boleh seorang mudallis tidak bisa dipenuhi oleh banyak perawi dari tiga generasi pertama yang hidup di zaman ketika standard yang tinggi di bidang keilmuan belum sepenuhnya mapan. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar dalam bukunya Tabaqat al-Mudallisin, tadlis telah diatributkan bahkan kepada ulama Hadits besar zaman awal seperti Hasan al-Bashri, ‘Amr bin Dinar, Qatadah, Ayyub al-Sakhtiyani, Ibnu Shihab al-Zuhri, Malik bin Anas, Sufyan al-Thawri, Sufyan bin ‘Uyaynah dan Musa bin’ Uqbah. Dari sudut pandang Syafi-i ini maka sulit untuk mengatakan apakah ada perawi dalam beberapa generasi pertama yang benar-benar bebas dari tadlis.

Suatu ketidakpastian serupa juga terjadi berkaitan dengan kondisi penyampaian kata demi kata atau bahkan penyampaian maknanya. Dalam kasus sebuah hadits gharib kita hanya bergantung pada perawi tunggal pada beberapa tahap transmisinya dan kita tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah perawi tunggal ini men-transmisi-kan makna hadits dengan benar, lebih-lebih lagi apakah dia menularkannya secara benar kata demi kata. Kemungkinan untuk setiap hadits di-transmisikan secara akurat baik secara makna ataupun kata-kata, dalam setiap kasus sangat kecil. Karena narasi dari mayoritas ahadits dengan asanid yang sahih, termasuk ahdits yang dipakai oleh Syafi’i, datang kepada kita dengan variasi yang signifikan baik dalam hal makna maupun susuan kata demi kata, sehingga tidak akan terjadi suatu hadits gharib yang di-transmisikan memenuhi kondisi yang dipersyaratkan oleh Shafi ‘i. Pada zaman Syafi’i praktek penyampaian kata demi kata telah menjadi hal yang umum. Namun pada tiga generasi pertama yang penting para perawi secara bebas menyampaikan hadits baik dari sisi kata demi kata maupun maknanya. Hal ini dapat diilustrasikan dengan contoh yang Syafi’i kutip sendiri. Beikut adalah hadits yang dilaporkan dari Abu Hurairah yang melarang menikahi seorang wanita dan bibinya sekaligus. Berikut adalah beberapa susunan kata yang berbeda di mana hadits ini telah diriwayatkan:

i)           Nabi melarang seorang lelaki membawa bersama-sama (sebagai istrinya) seorang wanita dan bibi dari pihak ayahnya atau seorang wanita dan bibi dari pihak ibunya.

ii)          Nabi melarang dari empat wanita yang dibawa bersama-sama (dalam pernikahan): seorang wanita dan bibi dari pihak ayahnya atau seorang wanita dan bibi dari pihak ibunya.

iii)       Saya mendengar Nabi berkata: “Para bibi dari pihak ayah tidak boleh menikah bersama dengan anak perempuan dari saudara laki-lakinya atau anak perempuan dari saudara perempuan bersama dengan bibi dari pihak ibunya”

Jelas sekali bahwa riwayat-riwayat di atas tidak memenuhi persyaratan bahwa penyampainya bisa dipercaya secara kata demi kata, tetapi hanya secara makna. Tetapi dalam contoh ini bahkan makna pun tidak dijaga dengan teliti. Karena ada perbedaan yang signifikan antara:

“Nabi melarang  …” (i dan ii)

dan

“Saya mendengar Nabi berkata…” (iii).

Pada pernyataan kedua Nabi sebenarnya dikutip sedangkan pada pernyataan pertama Nabi tidak dikutip sehingga apa yang dikatakan mungkin hanya interpretasi Abu Hurairah terhadap kata-kata Nabi.

Syafi’i mengakui bahwa meskipun kondisi yang diberlakukan oleh dia, masih terdapat kemungkinan kesalahan dalam sebuahh dadits yang disampaikan oleh perawi tunggal pada tahap tertentu. Tetapi dia bersikeras bahwa hadits seperti itu masih harus diterima hanya seperti seseorang harus menerima di sebuah pengadilan dari kesaksian para saksi dari “hanya karakter”, meskipun penilaian tentang kebenaran dari karakter mereka dan kesaksian mereka dapat berbuat salah. Namun jumlah saksi dalam kasus-kasus penting adalah lebih dari seorang dan karena itu kemungkinan salah jauh lebih sedikit dibandingkan dalam kasus menerima narasi yang ditransmisikan pada tahap tertentu hanya oleh satu orang perawi. Selain itu, orang harus lebih berhati-hati dalam menetapkan hukum dibanding dalam hal menerapkan hukum dalam kasus tertentu, karena kesalahan dalam penerapan dalam kasus-kasus tertentu hanya mempengaruhi sejumlah kecil orang, sementara kesalahan dalam formulasi hukum akan mempengaruhi seluruh umat setiap zaman.

Pandangan Albani

Nasir al-Din al-Albani [7] berbicara tentang hadits ahad, yaitu ahadits yang diriwayatkan hanya oleh sejumlah relatif kecil dari perawi di setiap generasi pertama. Karena sebuah hadits gharib adalah kasus khusus dari sebuah hadits ahad, apa yang dia katakan tentang ahadits ahad berlaku juga untuk ahadits gharib.

Albani, seperti Syafi’i, memberlakukan beberapa kondisi tambahan sebelum sebuah hadits gharib dengan isnad shahih bisa mengikat. Mengikuti tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, ia mensyaratkan bahwa hadits itu “diterima dan tidak diperdebatkan oleh umat” dan “tidak mempunyai cacat tersembunyi”. Oleh para ulama, “cacat tersembunyi” berarti kelemahan dalam sebuah hadits yang menjadi jelas bila dibandingkan dengan riwayat-riwayat lain yang terkait. Misalnya, satu orang perawi mentransmisikan hadits dari seorang Sahabat sebagai pernyataan Nabi sementara beberapa perawi terpercaya lainnya sebagai pembanding mentrasmisikan hadits tersebut sebagai pernyataan seorang Shohabat. Dalam kasus ini ada kemungkinan bahwa perawi tersebut telah membuat kesalahan dalam mengaitkan pernyataan kepada Nabi. Contoh lainnya, satu orang perawi menyampaikan sebuah hadits yang ditemukan bertentangan dengan beberapa hadits lain tentang topik serupa. Sekali lagi, ada kemungkinan bahwa perawi telah membuat kesalahan.

Seperti dalam kasus kondisi yang diberlakukan oleh Syafi’i, pemenuhan kondisi yang dipersyaratkan oleh Albani juga sangat sulit, kalau bukan mustahil, untuk membuktikan keaslian ahadits gharib. Pertama karena adanya kesulitan mendefinisikan persetujuan seluruh umat (ijma‘) dan kemudian membuktikan bahwa persetujuan tersebut telah terjadi (lihat artikel saya, “Arti Ijma’”). Tentu saja, tidak ada cara untuk membuktikan adanya ijma’ dalam bentuk apapun terhadap keaslian sebuah hadits gharib dalam beberapa generasi pertama. Untuk membuktikan ijma’ seperti ini akan membutuhkan pernyataan dari banyak sahabat dan tabiin terhadap hadits yang sedang dipertanyakan. Tetapi pernyataan seperti ini akan berarti bahwa hadits tersebut disampaikan oleh beberapa sahabat dan tabiin, yang sangat tidak mungkin terjadi pada sebuah hadits gharib, karena sebuah hadits gharib biasanya hanya memiliki satu orang perawi dari antara para sahabat.

Bagi banyak ulama, ijma‘ yang dicapai setelah zaman para sahabat tidak memiliki kekuatan mengikat. Selain dari itu, kita perlu bertanya apakah ijma‘ ini didasarkan pada pengetahuan sejarah atau beberapa pertimbangan lain. Pertanyaan tentang keaslian sebuah hadits adalah pertanyaan sejarah dan jika ijma’ tentang hal itu didasarkan pada sesuatu selain analisis sejarah atau analisis historis yang sangat dangkal, maka halkk itu tidak ada nilainya. Hal ini seperti persetujuan manusia pada satu waktu bahwa bumi ini datar, yang didasarkan pada penglihatan yang sangat dangkal.

Sekarang akan nampak bahwa tidak ada kasus di mana ummat menyetujui keaslian sebuah hadits gharib atas dasar pengetahuan atau analisis sejarah. Albani menyebutkan tiga contoh hadits ahad yang memenuhi kondisi yang diberlakukannya:

I)          “Tindakan didasarkan pada niat …”.

II)         “Jika dia (lelaki) berbaring di antara empat anggota badan dia (wanita) dan melelahkan dia (perempuan), ghusl adalah wajib.”

III)     “Rasulullah Allah mewajibkan sodaqoh al-fitr pada setiap orang, muda atau tua, pria atau wanita.”

Dari ketiga hadits di atas, hadits “Tindakan didasarkan pada niat …,” adalah gharib [8]. Hadits ini, menurut hampir semua ahli hadits, diriwayatkan dari Nabi saw hanya oleh Umar bin Khattab (wafat tahun 23 H), dari ‘Umar hanya oleh ‘Alqamah bin Waqqas al-Laythi (tanggal kematian tidak diketahui), dari ‘Alqamah hanya oleh Muhammad bin Ibrahim al-Taymi (w. 120), dan dari Muhammad bin Yahya hanya oleh Sa’id al-Anshari (w. 144). Kemudian dari Yahya hadits tersebut diriwayatkan oleh lebih dari 200 perawi.

Hadits tersebut mengekspresikan ide yang pasti di dalam Al-Qur’an [9] dan karenanya isinya harus diterima oleh umat Islam. Tetapi tidak ada alasan mengapa kita juga harus menerimanya sebagai kata-kata yang otentik/ asli Nabi. Meskipun kita menganggap bahwa hadits tersebut memang terkait dengan ‘Umar, dari dia terkait dengan  ‘Alqamah, dan dari dia terkait dengan Muhmmad bin Ibrahim, sebagaimana Yahya laporkan, Yahya atau siapapun dari tiga perawi sebelumnya bisa saja membuat kesalahan dalam pengkaitannya kepada Nabi. Sebagai contoh, hadits bisa saja merupakan perkataan Umar yang secara tidak disengaja berubah menjadi sebuah hadits Nabi oleh ‘Alqamah atau Muhammad atau Yahya.

Pada masa para sahabat dan tabi-in tidak ada kesepakatan ummat pada keaslian hadits ini. Sebab, mempertimbangkan bahwa pada masing-masing empat generasi pertama hanya satu orang perawi yang mentransmisikan hadits ini, maka jelas bahwa sebagian besar sahabat dan tabi-in bahkan tidak mengetahui tentang hadits ini apalagi menyetujui keasliannya.

Albani dan beberapa ulama sebelumnya [10] mengemukakan bahwa umat telah menerima keaslian hadits tersebut, tetapi kalaulah demikian, ternyata penerimaan ini tidak didasarkan pada pengetahuan sejarah. Para Ulama Muslim tidak mungkin memiliki informasi tentang sejarah hadits tersebut sebelum Yahya, karena tidak ada informasi seperti itu yang tercatat atau diasumsikan. Jadi atas dasar apa mereka telah sepakat bahwa hadits itu asli? Persetujuan ini secara sederhana hanya didasarkan pada kenyataan bahwa isi hadits tersebut dapat diterima dan bahwa Yahya melaporankannya dengan isnadyang sahih. Tetapi baik keberterimaan isi dari sebuah hadits maupun tingkat kesehatan isnadnya tidaklah cukup untuk menetapkan keaslian sebagai hadits Nabi.

Pandangan lain

Sebagai tambahan terhadap pandangan yang diusulkan oleh Syafi’i dan Albani, ada usulan lain untuk ahadits ahad atau gharib agar mengikat. Beberapa ulama telah menyarankan bahwa hadits ahad yang ditemukan dalam Bukhari dan Muslim adalah mengikat. Pandangan ini tidak lebih baik daripada Syafi’i dan Albani. Karena, meskipun benar bahwa Bukhari dan Muslim adalah koleksi hadits yang disusun secara paling hati-hati, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa setiap hadits yang ditemukan dalam kedua koleksi tersebut adalah pasti asli, sedangkan setiap hadits yang tidak ditemukan di dalamnya adalah pasti tidak otentik dan dapat diabaikan. Hadits yang saling bertentangan ditemukan dalam Bukhari dan Muslim baik secara sendiri-sendiri mapupun maupun dalam materi hadits yang disepakati oleh mereka berdua (lihat artikel saya, “Menghadapi Kontradiksi Di antara hadits”). Ini berarti bahwa beberapa ahadits dalam Bukhari dan Muslim, bahkan meski mereka berdua setuju, adalah tidak otentik, dan kita tidak dapat menjadikan setiap koleksi hadits itu mengikat setelah mengetahui bahwa beberapa dari mereka secara palsu dikaitkan kepada Nabi.

Saran lain diajukan oleh beberapa ulama Ahl al-Kalam yang mengatakan bahwa ahadits ahad dengan asanid yang sahih adalah mengikat jika ahaditsituberkaitan dengan masalah hukum tetapi ahaditstersebut  tidak mengikat jika berkaitan dengan masalah ‘Aqa`id, yaitu kepercayaan tentang Allah dan yang gaib (Ghayb). Asumsi yang dipakai di sini adalah bahwa masalah ‘Aqa`id memerlukan dasar yang lebih pasti daripada masalah hukum. Tetapi jenis pembedaan antara hukum dan ‘Aqa`id ini tidak ditemukan di dalam Al-Qur`an dan ahadits otentik. Dalam kedua sumber Islam tersebut, hokum dan ‘Aqa`id bercampur bersama-sama dalam datu kesatuan yang harmonis. Hukum dilaksanakan berangkat dari keyakinan tertentu tentang Allah dan yang tak terlihat (ghoib) seperti keyakinan bahwa Allah telah mewahyukan hukum-hukum tresebut. Suatu tindakan diatur oleh hukum yang mengekspresikan dan mendukung keyakinan tertentu. Misalnya, berdo’a mengekspresikan keyakinan akan keberadaan Allh dan yang ghaib dan kebutuhan untuk bisa terhubung dengan-Nya, dan pada saat yang sama membantu dalam menjaga dan memperkuat keyakinan itu. Di dalam Islam ada keyakinan yang diajarkan demi memuaskan rasa ingin tahu kita. Semua keyakinan tentang Tuhan dan yang tak terlihat diajarkan untuk membantu kita menjalankan kehidupan kita dengan cara yang benar yang mengarah kepada keberhasilan di dunia dan akhirat. Lebih dari itu, Al-Qur`an mengutuk menjadikan sesuatu itu halal atau haram tanpa otoritas dari wahyu Ilahi sama halnya dengan mengutuk mengatakan hal-hal tentang Allah (merumuskan ‘Aqa`id) tanpa otoritas seperti itu [11]. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara tingkat kepastian dari keaslian hadits yang dipersyaratkan untuk memberikan hukum dan ahadits yang mengajar ‘Aqa`id.

 

(III)

AL-QUR’AN MEMBUTUHKAN SETIDAKNYA DUA ORANG SAKSI UNTUK MASALAH PENTING

Al-Qur`an Suci mengatakan:

“Hai orang-orang yang beriman! Jika orang tidak benar (fasiq) datang kepada kamu membawa berita, pastikan hal itu, jangan sampai kamu menyakiti suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya dan kemudian kamu menyesal terhadap apa yang kamu lakukan “(49:6)

Albani, seraya mengikuti Ibnu al-Qayyim, dengan merujuk pada ayat di atas dan mencapai kesimpulan yang mengejutkan: “Ayat ini berarti bahwa jika seorang Muslim yang benar membawa sebuah khabar, maka berita itu harus diterima dengan penuh keyakinan. Memverifikasi khabar tersebut tidak diwajibkan terhadap kaum Muslimin, justru berita tersebut harus langsung diterima. Inilah sebabnya mengapa Ibn al-Qayyim berkata: “Ayat ini berarti bahwa khabar ahad harus diterima tanpa perlu verifikasi. Jika khabar tersebut belum pasti, maka verifikasi akan diperlukan…'”. Kesimpulan seperti itu dari ayat yang bersifat umum seperti ini berlawanan dengan logika akal sehat. Perlunya memverifikasi berita yang dibawa oleh seorang fasiq hanya dapat berarti bahwa berita yang dibawa oleh seorang muttaqi mungkin dapat diterima tanpa verifikasi. Tidak ada aturan logika yang bisa membenarkan deduksi tersebut bahwa berita yang dibawa oleh seorang muttaqi harus diterima. Memang, kita dengan mudah dapat menunjukkan dari Al-Qur`an bahwa deduksi ini adalah keliru.

Dalam kasus di mana Qur’an menentukan jumlah saksi – misalnya transaksi utang-piutang dan penetapan bersalah untuk kasus seks ilegal – kedua kasus itu membutuhkan lebih dari satu orang saksi. Sejak dari Syafi’I, beberapa ulama telah membuat pembedaan antara menjadi seorang saksi di pengadilan dan menjadi seorang perawi dari sebuah hadits, tetapi dalam kedua kasus itu adalah penting guna menetapkan fakta. Dan jika dua orangg atau lebih saksi diperlukan untuk menetapkan fakta-fakta suatu kasus hukum, maka justru lebih diperlukan lagi untuk mengharuskan adanya beberapa saksi untuk menetapkan fakta-fakta tentang ketentuan/ aturan hukum, yaitu, fakta seperti keaslian sebuah hadits yang akan menentukan aturan hukumnya. Syafi’i menekankan bahwa Al-Qur`an tidak menetapkan absolut minimum bagi saksi dan oleh karena itu satu orang saksi sudah cukup. Tetapi hal ini justru mengabaikan fakta bahwa semakin penting fakta-fakta untuk ditetapkan akan semakin lebih penting memiliki banyak saksi. Jelasnya adalah lebih penting menetapkan keaslian sebuah hadits dari pada menetapkan ketentuan kesepakatan utang-piutang, karena penerimaan dari sebuah hadits palsu dapat mengakibatkan konsekuensi negatif yang lebih buruk bagi miliaran umat manusia hingga hari kebangkitan, sedangkan suatu kesalahan dalam menerima kesaksian palsu dalam kasus kesepakatan utang-piutang tertentu akan memiliki konsekuensi yang lebih terbatas.

Al-Qur`an tidak menganggap kesaksian satu orang yang bisa diandalkan tanpa suatu keraguan, bahkan meski orang itu dianggap dapat dipercaya. Maka dalam ayat 24:6-9, dikatakan bahwa jika melalui li’an seorang suami yang menuduh istrinya berzina, tuduhannya tidak akan diterima jika istrinya membantah si suami dengan sumpah yang sama. Hal ini berlaku meskipun jika si suami dapat dibuktikan dapat dipercaya dan istrinya dapat dibuktikan sebagai seorang pembohong dan pengundang nafsu. Alasan karakter si suami atau istri tidak menjadi masalah di sini, sehingga bahwa kesaksian dari suami saja tidaklah cukup untuk menetapkan kesalahan si isteri betapapun terpercayanya si suami mungkin atau betapa tidak bisa dipercayanya si isteri mungkin. Kesalahannya ditetapkan hanya ketika kata-kata si suami dikuatkan oleh diamnya atau pengakuan  dari si isteri. Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an mengakui adanya keragu-raguan dalam kesaksian dari satu orang bahkan jika orang itu muttaqi dan dapat dipercaya dan bahkan bila dia bersaksi dengan empat kali sumpah yang khidmat dan satu pernyataan bahwa kutukan Allah akan menimpa dirinya, jika dia berbohong.

Syafi’i juga menekankan bahwa di banyak negara Allah hanya mengirimkan satu orang Rosul dan ini membuktikan bahwa laporan dari satu orang yang dapat dipercaya harus diterima. Tetapi Allah sering mengirimkan Rasul-Nya dengan tanda-tanda yang bertindak sebagai saksi tambahan untuk kebenaran pesan mereka. Tambahan lagi, para Rasul mendukung dan mengkonfirmasi pesan satu sama lain dan dengan demikian membentuk serangkaian saksi untuk kebenaran agama. Akhirnya, seperti yang Syafi’i sendiri tekankan, Allah kadang-kadang mengutus lebih dari satu orang Rosul atau Nabi pada satu waktu. Hal ini terutama terjadi pada kasus tahapan penting dalam sejarah wahyu. Itulah kenapa pada tahap awal dari tradisi Ibrahimi, ada dua nabi sekaligus – Ibrahim sendiri dan Luth, kemudian Ismail dan Ishaq, kemudian Ya’qub dan Yusuf. Kemudian dalam organisasi yang menentukan dari agama Israel, Allah mengutus dua orang utusan – Musa dan Harun. Kemudian, di tahap akhir dari tradisi Israel ia kembali mengutus dua orang utusan – ‘Isa dan Yahya.

(IV)

 BEBERAPA CONTOH YANG MENUNJUKKAN BAHWA NABI, PARA SHOHABAT, DAN PARA TABI’IN TIDAK SELALU MENERIMA SEBUAH KHABAR DARI PERAWI TUNGGAL YANG BISA DIPERCAYA

Mari kita kembali kepada Hadits untuk melihat apa yang bisa mengajarkan tentang penerimaan hadits gharib. Dalam diskusi berikut kita tidak akan menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang keaslian hadits yang digunakan, karena argumen kami ditujukan kepada Muslimin yang menerima sebagian besar ahadits ini sebagai otentik.

Kami menemukan dua jenis ahadits yang relevan dengan pertanyaan tentang penerimaan hadits gharib:

1)      Ahadits di mana beberapa tabiin, sahabat, atau Nabi tidak menerima khabar yang datang dari hanya satu orang sahabat yang dapat dipercaya, tetapi mensyaratkan pembuktian dari orang kedua.

2)      Ahadits di mana sebuah khabar dari perawi tunggal diterima.

Jenis pertama dari ahadits membuktikan bahwa penerimaan sebuah hadits gharib tidak mengikat. Kesimpulan ini tidak dinegasikan oleh kategori hadits kedua, karena, mereka hanya membuktikan bahwa sebuah khabar dari perawi tunggal yang bisa dipercaya dapat diterima dan bukan harus diterima.

Kami menyajikan empat contoh tipe pertama dari ahadits tersebut:

i)         Muslim mencatat hadits berikut tentang Shaqiq [w. 108], seorang tabiin:

Abdullah bin Shaqiq berkata: Ibnu Abbas suatu hari berpidato kepada kami setelah al-‘asr sampai matahari menghilang dan bintang-bintang muncul, dan (karena waktu maghrib telah berlalu) orang-orang mulai berkata: sholat, sholat! Seseorang dari Bani Tamim datang dan tanpa mengendur atau berhenti (terus mengatakan): sholat, sholat! Ibnu Abbas berkata: Semoga kamu dirampas dari ibumu, apakah kamu mengajari saya Sunnah? Dan kemudian dia berkata: Aku melihat Rasulullah menggabungkan sholat dhuhur dan asar dan sholat masghrib dan  ‘isya’. Abdullah bin Shaqiq berkata: Keraguan muncul dalam pikiran saya tentang hal itu. Maka saya mendatangi Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan ia memberikan kesaksian pernyataannya. (Muslim # 1154)

Shaqiq jelas tidak menganggap laporan dari Ibnu Abbas tersebut mengikat tanpa melakukan verifikasi lebih jauh.

ii)       Dalam sebuah hadits yang ditemukan dalam Muwatta (1520), Bukhari (1920, 5776, 6806), Muslim (4009), Abu Daud (4509), dan Ahmad (18689, 18786, 18840, 18915) kami membaca bahwa:

Abu Musa pergi menemui Umar dan meminta izin untuk masuk tiga kali. Tetapi Umar tidak menjawab karena ia sibuk. Maka Abu Musa kembali pulang. Ketika Umar menyelesaikan pekerjaannya ia berkata, “Bukankah aku mendengar suara ‘Abd Allah bin Qais (= Abu Musa)? Biarkan dia masuk”. Umar diberitahu bahwa ia telah pergi. Maka, dia mengirim kepada dia dan pada ketika datang, Abu Musa berkata, “Kami diperintahkan untuk melakukan demikian (yaitu agar pergi jika tidak diperkenankan setelah meminta izin tiga kali). Umar berkata kepadanya, “Bawalah seorang saksi untuk membuktikan pernyataan kamu.” Dalam beberapa narasi di Bukhari dan Muslim, Umar mengancam Abu Musa dengan suatu tindakan yang tidak spesifik jika dia tidak membawa seorang saksi kedua. Abu Musa membawa Abu Sa’id al-Khudri yang bersaksi di depan ‘Umar. Dalam narasi dalam Muwatta, Umar berkata kepada Abu Musa: “Aku tidak meragukan kamu. Aku hanya takut bahwa orang mungkin akan mengaitkan sesuatu kepada Rasulullah yang ia tidak mengatakan.”

Jelas di sini bahwa ‘Umar tidak menganggap laporan Abu Musa mengikat meskipun ada fakta bahwa ia menganggap Abu Musa dapat dipercaya [12].

iii)     Hadits lain ditemukan dalam Muwatta (953), Tirmidzi (2026, 2027), Abu Daud (2507), Ibnu Majah (2714) dan Darimi (2810) yang memberitahu kita bahwa

Seorang nenek-nenek medatangi Abu Bakar al-Siddiq dan menanyai dia perihal warisannya [ketika salah satu cucunya meninggal]. Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Kamu tidak mendapatkan apa-apa di dalam Kitab Allah, dan aku tidak tahu apakah kamuu memiliki sesuatu menurut Sunnah Rasulullah.  Pergilah, hingga aku bertanya kepada orang-orang”. Dia bertanya kepada orang-orang, dan al-Mughirah bin Shu’bah berkata, “Saya hadir bersama Rasul Allah ketika dia memberikan nenek tersebut seperenam”. Abu Bakar berkata:” Apakah ada orang lain bersama kamu? Muhammad bin Maslamah al-Anshari berdiri dan mengatakan seperti apa al-Mughirah katakan. Abu Bakar al-Siddiq memberi bagian tersebut kepada si nenek.

Tidak ada indikasi di sini bahwa Abu Bakar menganggap Shohabat al-Mughirah sebagai kurang dipercaya namun ia tidak bertindak berdasarkan hadits tersebut berdasarkan keterangan al-Mughirah saja tetapi  mensyaratkan pembenaran seorang saksi kedua.

Jadi baik Abu Bakar ataupun Umar tidak menganggap mengikat untuk menerima hadits yang datang dari satu orang sahabat yang dapat dipercaya.

Dalam kasus Nabi, dimana beliau adalah sumber dari ahadits bukan penerima, kita tidak dapat berbicara tentang penerimaan beliau terhadap ahadits dari perawi tunggal. Tetapi kita bisa membicarakan tentang apakah beliau menganggap penerimaan sebuah khabar dari satu orang yang bisa dipercaya itu mengikat.

iv)     Dalam kaitannya dengan ini kami menemukan hadits berikut dalam Muwatta (195), Bukhari (6709), Muslim (896, 897), Abu Daud (856), Tirmidzi (365), Nasa`i (1209), Ibnu Majah (1204), Ahmad (6903, 7342, 7486, 9099, 9545), dan Darimi (1458):

Abu Hurairah berkata: Rosul Allah menyelesaikan shalatnya setelah melakukan dua rak’at saja. Dhu al-Yadayn bertanya: “Apakah sholat tersebut disingkat, ya Rasulullah, atau anda lupa”. Nabi berkata: “Apakah Dhu al-Yadayn benar?” Orang-orang berkata, “Ya.” Kemudian Rasulullah berdiri dan melakukan dua rak’at lainnya….

Di sini tidak ada indikasi bahwa Nabi menganggap Dhu al-Yadayn tidak bisa diandalkan. Namun, ia mengkonfirmasi kata-katanya dari orang lain. Kebetulan, hadits ini juga menunjukkan bahwa bahkan Nabi bisa melakukan kesalahan.

(V)

CONTOH PENERIMAAN SEBUAH KHABAR DARI PERAWI TUNGGAL OLEH SEORANG SHOHABAT: HAL INI HANYA MEMBUKTIKAN KEBOLEHANNYA  BUKAN KEHARUSAN

Para ulama yang berpendapat bahwa dalam kondisi tertentu sebuah hadits gharib harus diterima juga mengutip beberapa hadits sebagai dukungan mereka. Namun, hadits yang dikutip oleh mereka mencerminkan keadaan khusus pada zaman Nabi dan para sahabat, yaitu sebagai berikut:

  • Pada zaman Nabi dan para sahabat rantai transmisi hanya dari satu orang perawi (seorang sahabat) yang langsung mendengar kata atau melihat tindakan yang dia laporkan. Tetapi untuk generasi setelahnya rantai transmisi terdiri dari lebih dari satu perawi, dan semakin panjang rantai transmisi tersebut akan menjadikan laporan semakin kurang dapat diandalkan, baik dari segi pengkaitannya kepada Nabi maupun akurasi isinya.
  • Pada zaman Nabi, setiap ada kesalahan dalam menerima ahadits sangat diharapkan kemungkinan besar akan ditemukan oleh Nabi dan kemudian dikoreksi sebelum diterima secara luas. Bahkan pada saat para sahabat membuat kesalahan dalam pelaporan, masih memiliki kesempatan yang relatif tinggi untuk ditemukan dan diperbaiki karena pengetahuan yang lebih tinggi di antara mereka tentang kata-kata/ tindakan Nabi. Tetapi di zaman setelah itu, kesalahan yang terjadi dalam menerima ahadits akan jauh lebih sulit untuk diperbaiki.

Pengamatan di atas menunjukkan bahwa generasi umat Islam setelah Nabi dan para sahabat harus jauh lebih berhati-hati dalam menerima sebuah hadits gharib.

Bahkan lebih penting lagi, tradisi di mana sebuah hadits atau khabar yang disampaikan oleh seorang sahabat tunggal diterima oleh sahabat yang lain, hanya membuktikan bahwa laporan seperti itu dapat diterima dan bukan harus diterima, sebagaimana kami sekarang akan tunjukkan dengan memeriksa banyak dari ahadits ini.

i)           Ketika orang-orang berada di Quba` melakukan sholat fajr, tiba-tiba seseorang datang kepada mereka dan berkata: “Di suatu malam hari bagian dari al-Qur’an diwahyukan kepada Rasul Allah dan dia telah diperintahkan untuk menghadapi Ka’bah. Maka  kamu memalingkan wajah kamu ke arah itu.” Wajah mereka menghadap Syam, sehingga mereka memalingkan ke arah Ka’bah. (HR Bukhari 9/357) [13]

Dalam hadits ini, orang-orang yang sholat di Quba’ berbuat atas dasar ajaran yang dilaporkan oleh satu orang. Tetapi di dalam hadits tidak ada indikasi telah mengikat mereka untuk melakukannya. Dalam al-Risalah-nya, Syafi’i mengatakan bahwa para sahabat tersebut tidak akan membuat suatu bid’ah dalam agama dengan berpaling ke arah kiblat baru “kecuali mereka harus melakukannya”. Komentar ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa menerima sebuah khabar dari seorang perawi handal tunggal dianggap wajib oleh para sahabat. Tetapi perlu dicatat bahwa tidak ada bahayanya pada zaman itu ketika sebuah bid’ah yang tidak sah mungkin terjadi di dalam Islam, karena jika laporan itu salah, kesalahannya akan segera diketahui dan dikoreksi hampir pada hari yang sama. Situasinya sangat berbeda bagi generasi zaman berikutnya umat Islam. Jika kita menerima sebuah hadits gharib sebagai otentik, ada kemungkinan yang wajar bahwa kita menegakkan kesalahan di dalam Islam yang mungkin tidak pernah akan diperbaiki. Lebih dari itu, kontroversi tentang kiblat sudah terjadi di antara orang-orang Yahudi dan Muslim dan sangat mungkin bahwa umat Islam mengharapkan adanya perubahan kiblat, sehingga ketika mereka menemukan laporan perubahan tersebut dengan sepenuhnya diterima.

Sangat menarik bahwa Syafi’i sendiri kemudian berbicara tentang kebolehannya dan bukan keharusannya menerima laporan tersebut. Dia berpendapat bahwa jika mengikuti perintah agama yang dilaporkan oleh satu orang tidak “diperbolehkan”, maka Nabi, setelah mengetahui tindakan orang-orang, akan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menunggu sampai mereka mendengar dari dia atau dari lebih dari satu orang. Jenis kurangnya perbedaan yang jelas antara “kebolehan” dan “keharusan” ditemukan di seluruh perlakuan dari pertanyaan tentang penerimaan hadits gharib tersebut oleh Syafi’i dan para ulama lain.

ii)         Malik (bin Al-Huwayrith) menyampaikan: Kami datang kepada Nabi dan kami adalah orang-orang yang masih muda yang hampir sama umurnya dan kami tinggal dengan dia … dia berkata: “Kembalilah kepada keluarga-keluargamu dan tinggallah bersama mereka dan ajari mereka dan suruh mereka (untuk melakukan perbuatan baik)”. Nabi menyebutkan beberapa hal yang sebagian saya ingat dan sebagian tidak saya ingat. Lalu ia berkata: “Sholatlah sebagaimana kamu lihat saya sholat, dan ketika waktunya shalat, salah satu dari kamu harus mengumadangkan adzan untuk sholat tersebut dan yang tertua dari kamu harus memimpin sholat tersebut “(HR Bukhari 9/352).

Hadits ini digunakan oleh Albani untuk berpendapat bahwa ahadits ahad harus diterima karena setiap individu diminta oleh Nabi untuk mengajarkan Islam kepada keluarganya. Tetapi situasi di sini adalah bahwa beberapa orang yang baru saja berpindah masuk Islam mengunjungi Nabi yang mengajarkan mereka hal-hal mendasar tentang Islam dan kemudian meminta mereka untuk menjelaskan hal-hal itu kepada keluarga mereka. Suau pendidikan, apakah itu tentang Islam atau lainnya, tidak bisa diselesaikan dalam satu tahap. Hal ini harus dimulai di suatu tempat dan kemudian secara bertahap akan mencapai suatu tingkat kelengkapan dan akurasi yang diinginkan. Nabi hanya memulai proses pendidikan Islam dari keluarga Malik dan teman-temannya. Diharapkan bahwa para keluarga tersebut akan melanjutkan proses tersebut sehingga lebih tepat dan komprehensif dengan berjalannya waktu. Tidak ada indikasi dalam hadits tersebut bahwa Nabi berharap bahwa apa yang orang-orang muda tersebut ajarkan kepada keluarga mereka setelah kembali ke rumah harus diterima oleh semua umat Islam sampai hari penghakiman, bahkan meskipun ia adalah satu-satunya orang yang mengatakannya. Malik bin al-Huwayrith sendiri mengatakan bahwa dia lupa beberapa hal yang Nabi ajarkan kepada dia dan rekan-rekannya. Ingat bahwa melupakan tidak hanya dapat secara sepenuhnya menghapus sepotong informasi dari memori, tetapi juga dapat mengakibatkan hilangnya sebagian informasi dan dengan cara ini mendistorsi atau menjadikan suatu informasi menjadi kurang akurat. Dengan kondisi seperti ini bagaimana kita bisa menerima apa yang Malik bin al-Huwayrith telah katakan, jika tidak dikonfirmasi secara independen oleh perawi lain? Memang, para ulama tidak menerima ucapannya dalam hal siapa yang harus menjadi imam di dalam shalat. Malik bin al-Huwayrith mengatakan bahwa Nabi mengatakan kepadanya bahwa yang tertua dari kelompok itu harus menjadi imam, tetapi hal ini tidak diterima oleh kebanyakan ulama!

iii)       ‘Umar berkata: Ada seorang lelaki dari Anshar (seorang teman saya). Jika dia tidak hadir di pertemuan dengan Rasul Allah, saya biasa hadir dengan Rasul Allah dan saya akan mengatakan kepadanya apa yang saya dengar dari Rasul Allah, dan ketika saya absen dari Rasulullah dia biasa hadir dengan dia, dan dia akan mengatakan padaku apa yang dia dengar dari Rasulullah. (HR Bukhari 9/362)

Di sini kita memiliki gambaran tentang melanjutkan pendidikan dengan banyak kesempatan bagi masing-masing dari dua orang teman untuk menemukan dan memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan oleh yang lain. Juga, tidak ada indikasi bahwa Umar dan teman-temannya selalu menerima laporan masing-masing tanpa bertanya lebih lanjut. Sebaliknya ada beberapa indikasi bahwa mereka tidak seperti itu. Karena pada versi lebih panjang, ‘Umar mengatakan kepada kita:

Teman Ansari saya, pada hari gilirannya, pergi (ke kota) dan kembali kepada kami di malam hari … Dia berkata: “. … Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya”

Umar tidak sepenuhnya menerima laporan tersebut, meskipun ia memberikan kredibilitas yang cukup untuk itu, bukan karena ia berpikir bahwa laporan dari seorang saksi yang dapat dipercaya tentang suatu tindakan Nabi harus diterima, tetapi karena dia “sudah berpikir bahwa ini (perceraian) mungkin akan terjadi dalam waktu dekat”. Umar sendiri pergi untuk mengunjungi Nabi dan pertama-tama bertanya kepada putrinya, Umm al-Mu`minin Hafsah dan kemudian kepada Nabi sendiri apakah dia telah menceraikan istri-istrinya. Nabi mengatakan kepadanya bahwa ia tidak menceraikan. (HR Bukhari 7/119) [14].

Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya Umar tidak selalu sepenuhnya menerima laporan dari temannya tetapi juga bahwa laporan dari orang yang dapat dipercaya juga bisa salah.

iv)       Dari Anas: Orang-orang dari Yaman datang kepada Rasul Allah dan berkata: Kirim kepada kami seseorang yang seharusnya mengajar kami Sunnah dan al-Islam, kemudian ia menyambar tangan Abu Ubaidah dan berkata: Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari ummat ini. (Muslim 6/111)

Tetapi Nabi juga dilaporkan telah mengirim Ali, Mu’adz, dan Abu Musa ke Yaman. Para utusan ini juga menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang di sana, sehingga memberikan kepada mereka lebih dari satu orang saksi. Bukhari sebenarnya memulai hadits-nya tentang khabar al-wahid dengan memberikan pada bab pertama judul yang panjang yang mengandung kalimat menarik berikut ini:

Bagaimana Nabi mengikirim ‘Umara`-nya satu demi satu sehingga jika salah satu dari mereka melupakan (sesuatu), yang lain akan membawa mereka kembali kepada Sunnah.

Hal ini sejalan dengan apa yang kita katakan sebelumnya bahwa pendidikan adalah proses yang berkelanjutan dan kita dikonfirmasikan dalam pengetahuan kita biasanya dengan mendengar beberapa sumber yang saling mendukung satu sama lain, baik secara simultan atau dari zaman ke zaman.

Juga harus diperhatikan bahwa Nabi tidak selalu mengutus satu orang untuk mengajar. Dalam satu kasus dilaporkan dalam banyak buku termasuk Ibnu Ishaq, Ibnu Sa’ad, Bukhari, dan Muslim bahwa ia mengirim 70 orang:

Anas bin Malik berkata: Beberapa orang datang kepada Rasulullah dan berkata kepadanya: Kirim dengan kami beberapa orang yang mungkin mengajar kami Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, ia mengirim tujuh puluh orang dari Ansar …. (HR Muslim 20/4682)

v)         Dari Abu Hurairah: Kemudian Nabi berkata “Engkau, wahai Unays!” sampaikan kepada seorang lelaki dari Bani Aslam, “Pergilah besok pagi kepada istri dari ini (pria) dan jika dia mengaku, maka rajam dia.” Pagi berikutnya Unays pergi kepada istri tersebut dan dia mengaku dan dia dirajam. (HR Bukhari 9/365)

Hadits ini diperiksa secara rinci dalam Bab 9 dilihat dari sudut pandang historisitasnya. Di sini kita mengomentari penggunaan hadits tersebut oleh para ulama untuk mendukung pandangan mereka bahwa dalam kondisi tertentu hadits itu mengikat untuk menerima kata-kata dari satu orang. Argumen yang digunakan adalah bahwa satu orang, yaitu Unays, dianggap cukup untuk mengelola pengakuan dan melaksanakan hukuman. Tetapi kita tidak tahu apakah Unays hanya seorang diri ketika ia menerima pengakuan dan melakukan hukuman tersebut. Al-Qur`an dengan jelas menyatakan bahwa hukuman tersebut harus disaksikan oleh sekelompok orang-orang yang beriman. Ini berarti bahwa, paling tidak hukuman itu harus disaksikan oleh orang-orang yang beriman lainnya, meskipun tidak disebutkan dalam hadits tersebut. Demikian pula, sangat mungkin bahwa pengakuan itu juga diberikan di hadapan beberapa saksi, meskipun hadits tersebut tidak menyebutkannya. Tambahan lagi, bahkan jika pengakuan itu diberikan benar-benara secara pribadi, namun pelaksanaan hukuman secara publik memberikan pembuktian yang memadai akan kebenaran pengakuan itu. Sebab, jika si wanita tidak mengaku dan dibawa untuk dihukum tanpa pengakuan, maka dia bisa protes di hadapan orang banyak pada saat hukuman akan dilaksanakan, dan dalam hal ini hukuman akan dibatalkan. Fakta bahwa dia dihukum berarti bahwa dia tidak protes dan diamnya merupakan pernyataan di hadapan publik atas pengakuannya.

vi)       Kemudian [Nabi] mengutus Abu Bakar untuk memerintahkan haji pada tahun ke-9 agar dia dapat menetapkan (yuqim) bagi Muslimin haji mereka sementara musyrikun pada tempat pemberhentian haji mereka. Maka Abu Bakar berangkat dengan beberapa Muslim dengan dia .. (Ibnu Ishaq seperti dikutip oleh Ibnu Hisham 831, 833)

Ibnu Ishaq menyebutkan hadits lain yang menyatakan bahwa setelah Abu Bakar pergi, Surah 9 (Bara`ah) diwahyukan yang berdasarkan itu Nabi mengutus Ali untuk menyampaikan kepada para musyrikun pesan yang terkandung dalam Surah tersebut [15]. Hal ini seharusnya membuktikan bahwa pelajaran agama atau pesan agama dari satu orang harus diterima. Tetapi fakta bahwa Abu Bakar adalah orang yang bertanggung jawab atas haji tersebut tidak berarti bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui ritual haji. Apa yang ia ajarkan kepada para peziarah haji akan bisa diverifikasi kebenarannya oleh orang lain [16] Demikian pula., apabila dikatakan bahwa Nabi mengutus Ali, itu tidak berarti bahwa ‘Ali pergi sendirian dan ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui pesan yang harus dia sampaikan. Kadang-kadang ketika hadits mengatakan bahwa Nabi mengutus seorang sahabat untuk suatu tugas tertentu, itu berarti bahwa Shohabat tersebut disebutkan sebagai penanggung jawab atas tugas tersebut dan bukannya ia adalah satu-satunya orang yang terlibat dalam pelaksanaan tugas itu.

vii)     Malik mengatakan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari ‘Ata’ bin Yasar bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan suatu menjual sebuah cangkir emas atau perak lebih dari nilai beratnya. Abu al-Darda` berkata kepadanya: “Saya mendengar Rasul Allah melarang hal itu”. Mu’awiyah berkata: “Saya tidak melihat bahaya apa pun di dalamnya”. Abu Darda` berkata: “Siapa yang akan mendukung saya terhadap Mu’awiyah? Aku meriwayatkan kepada dia dari Rasul Allah dan ia memberi saya pendapatnya sendiri. Aku tidak bisa hidup di tanah yang sama dengan kamu” (Al-Risalah, juga ditemukan dalam Muwatta 1147, dengan tambahan: “Abu al-Darda` pergi menghadap ‘Umar dan menyebutkan (tindakan Muawiyah itu) kepadanya. ‘Umar menulis (surat) kepada Muawiyah yang mengatakan kepadanya untuk menjual tidak seperti itu, tetapi hanya dalam quatity sama, berat untuk berat”. Bagian ini hilang/ tidak ada dalam Syafi’i dan mungkin merupakan tambahan kemudian dalam Muwatta)

Dalam hadits ini, dasar dari protes yang dilakukan oleh Abu al-Darda` bukanlah karena Muawiyah tidak menerima sebuah hadits dari perawi tunggal. Sebaliknya, Abu al-Darda` marah karena Muawiyah mengabaikan hadits yang dikutipkan kepadanya.

viii)   Sa’id bin Jubair berkata: Aku berkata kepada Ibnu Abbas bahwa Nawf al-Bakkali berpendapat bahwa Musa berhubungan dengan Bani Isra`il tidak sama dengan berhubungan dengan Khadir. Dia berkata: Musuh Allah telah berbohong. Saya mendengar Ubay bin Ka’b berkata: Aku mendengar Rasulullah mengatakan … [sebuah hadits panjang tentang Musa dan al-Khadir] (Muslim 4385, Bukhari 119, Abu Da ` ud 4082, Tirmidzi 3074)

Di sini tidak ada indikasi bahwa Ibnu Abbas menerima hadits dari Ubay karena ia pikir itu adalah kewajibannya untuk melakukannya. Ada kemungkinan bahwa ia menerimanya hanya karena dia menemukannya bisa diterima. Juga, Ibnu Abbas mungkin merasa bahwa hadits Ubay, meskipun tanpa didukung oleh orang lain, adalah sumber petunjuk yang lebih baik daripada dari pendapat yang berlawanan dari al-Bakkali yang tampaknya tidak memiliki dasar sama sekali.

Kami telah memeriksa banyak hadits di atas di mana para sahabat menerima sebuah laporan dari Nabi yang ditransmisikan oleh satu orang sahabat saja. Pemeriksaan kami menunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut menetapkan diperbolehkannya menerima laporan seperti itu tetapi tidak diharuskan. Hal ini bersama dengan ahadits di mana Nabi atau para sahabat atau tabiin tidak menerima laporan yang disampaikan oleh seorang sahabat tunggal membuktikan bahwa menurut keterangan ahadits itu sendiri, menerima hadits gharib tidaklah mengikat (boleh menerima boleh menolak).

PERSYARATAN MINIMAL UNTUK PENERIMAAN SEBUAH HADITS MENJADI MENGIKAT

Kesimpulan kami bahwa penerimaan terhadap sebuah hadits gharib yang secara alamiahnya tidak mengikat, akan menimbulkan pertanyaan: Kapan penerimaan suatu hadits mengikat?

Secara umum, jawabannya adalah: ketika keasliannya ditegakkan tanpa keragu-raguan. Tetapi orang akan ingin mengetahui kapan keaslian sebuah hadits ditegakkan tanpa keragu-raguan? Mengingat diskusi pada artikel ini singkat, meskipun belum cukup, persyaratan untuk ini adalah sebagai berikut: Sebuah hadits harus diriwayatkan oleh setidaknya dua orang sahabat; dari masing-masing sahabat itu harus diriwayatkan oleh setidaknya dua orang tabi-in terpercaya, dari setiap tabi-in harus diriwayatkan oleh setidaknya dua perawi yang dapat diandalkan pada generasi ketiga, dan seterusnya.

Kondisi ini sangat penting dalam tiga generasi pertama, karena dimulai dari generasi keempat pelestarian hadits dilakukan dengan perhatian yang jauh lebih besar (yaitu dengan cara ditulis).

Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Catatan kaki:

[1] Perhatikan bahwa jumlah perawi yang melaporkan sebuah hadits cenderung meningkat atau tetap sama seiring dengan berjalannya generasi, kita dapat menyempurnakan istilah gharib sebagai berikut: jika sebuah hadits dikatakan ditrasmisikan/ ditularkan langsung dari Nabi oleh hanya satu orang perawi (Shohabat), tetapi kemudian jumlah perawinya meningkat menjadi dua orang atau lebih, maka kita akan menyebutnya gharib pada rantai/ kaitan pertama. Jika sebuah hadits dikatakan ditularkan langsung dari Nabi oleh hanya satu orang perawi, dan dari satu orang perawi ini ditularkan juga oleh hanya satu orang perawi, tetapi kemudian setelah itu jumlah perawi meningkat menjadi dua orang atau lebih, maka kita akan menyebutnya gharib hingga rantai kedua dan seterusnya. Misalnya, hadits yang sangat terkenal berikut ini gharib hingga rantai keempat:

Al-Humaydi Abdullah bin al-Zubayr meriwayatkan kepada kami sambil berkata: Sufyan meriwayatkan kepada kami sambil mengatakan: Yahya bin Sa’id al-Anshari meriwayatkan kepada kami sambil berkata: Muhammad bin Ibrahim al-Taymi memberitahu saya bahwa ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqas al-Laythi yang mengatakan: Aku mendengar Umar bin al-Khattab mengatakan dari mimbar: Aku mendengar Rasulullah mengatakan:

“Perbuatan itu hanya didasarkan pada niat dan bagi setiap orang hanya apa yang ia niatkan Jadi siapa pun yang melakukan hijrah untuk keuntungan di dunia ini atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrah-nya adalah untuk apa ia berhijrah..” (HR Bukhari 1)

Meskipun hadits ini telah diriwayatkan dengan asanid mencapai Sahabat lainnya seperti Abu Sa’id, para ulama hampir dengan suara bulat menolak asanid itu. Mereka mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Nabi saw hanya oleh Umar bin Khattab (wafat 23), dari ‘Umar hanya oleh ‘Alqamah bin Waqqas al-Laythi (tahun meninggal tidak diketahui), dari ‘Alqamah hanya oleh Muhammad bin Ibrahim al-Taymi (w. 120), dan dari Muhammad hanya oleh Yahya bin Sa’id al-Anshari (w. 144). Kemudian dari Yahya hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 200 orang perawi. Dengan demikian masing-masing empat perawi generasi awal adalah satu-satunya yang meriwayatkan hadits tersebut pada generasinya, tetapi setelah itu jumlah perawi meningkat tajam. Karena alasan inilah maka hadits ini gharib hingga rantai keempat.

Sangat menarik untuk bertanya mengapa sampai zaman Yahya (w. 144) hadits tersebut ditularkan oleh hanya satu orang perawi pada setiap tahap, sedangkan dari Yahya hadits tersebut ditularkan oleh lebih dari dua ratus perawi. Ada dua penjelasan yang mungkin dari fakta ini:

a)      Hadits ini dibuat pada zaman Yahya dalam dekade-dekade awal abad kedua. Penjelasan ini tidak terlihat benar karena contoh hijrah yang diberikan dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa hadits tersebut milik zaman yang sangat awal.

b)      Hadits tersebut sudah tua tetapi pada awalnya tidak mempunyai konotasi hukum. Namun, pada zaman Yahya, dan mungkin di bawah pengaruhnya, hadits tersebut memperoleh penafsiran hukum, seperti yang kita lihat dari komentar berikut oleh Nawawi:

“Dan di [hadits ini] ada dalil bahwa al-taharah, yaitu, al-wudhu, al-ghusl, dan al-tayammum hanya sah jika dengan niat dan demikian juga dalam hal sholat, zakat, puasa, haji, i‘tikaf dan semua ‘ibadat. Tetapi untuk menghilangkan al-najasah telahdiketahui dengan baik di antara kita bahwa niat bukanlah dipersyaratkan karena itu merupakan salah satu masalah meninggalkan sesuatu dan meninggalkan sesuatu tidak membutuhkan niat. Dan mereka telah melaporkan secara ijma’ tentangnya. Tetapi beberapa rekan-rekan kita berbeda pendapat dari itu dan menjadikan (niat) itu diperlukan (bahkan dalam kasus ini). Hal ini, bagaimanapun, salah. Tetapi niat masuk persyaratan perceraian, al-‘itq, dan al-qadhf … ”

Sekali hadits menemukan penafsiran hukum sebagaimana yang disebutkan secara singkat oleh Nawawi, maka hadits tersebut mulai menyebar secara luas.

[2] Kesalahan secara sadar mungkin merupakan hasil dari perubahan atau pemalsuan yang tidak jujur dari suatu hadits atau bagian dari hadits. Atau, mungkin merupakan hasil dari deduksi yang jujur dari beberapa asumsi yang diadakan secara jujur. Kesalahan di bawah sadar adalah kesalahan yang dilakukan di bawah pengaruh motivasi yang baik ataupun buruk atau asumsi-asumsi, yang terhadapnya si perawi tidak menyadarinya. Kesalahan yang tidak sadar adalah kesalahan yang di dalamnya motivasi-motivasi dan asumsi-asumsi para perawi tidak memainkan peranan penting. Misalnya, seorang perawi menerima suatu pendapat dari seorang Sahabat tetapi meyakini bahwa Shohabat tersebut tidak menyatakan pendapat tersebut tanpa diajarkan oleh Nabi, ia mengaitkan pendapat tersebut kepada Nabi. Ini adalah kesalahan yang sadar tetapi jujur. Jika ia melakukan hal yang sama dengan tujuan secara sadar menipu orang-orang agar menerima pendapat tersebut (sebagai dari Nabi), maka hal ini merupakan kasus kesalahan secara sadar dan tidak jujur. Jika proses yang tidak jujur atau jujur sama-sama bekerja secara tidak disadari, maka hal ini akan menjadi contoh dari kesalahan di bawah sadar. Sebuah kesalahan yang tidak disadari mungkin terjadi, misalnya, karena seorang perawi menerima hadits secara lisan, salah mendengar susunan kata-kata atau frase di dalamnya, dan melaporkannnya sebagaimana yang ia dengar.

[3] Umumnya seorang perawi dianggap dapat dipercaya jika mayoritas komentar yang tercatat di dalam buku-buku Hadits dan Rijal mengatakan bahwa dia dapat dipercaya. Tetapi keputusan ini juga bisa memiliki kesalahan. Sebagian besar komentar mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah adalah lemah dalam hal hadits yang mungkin tidak akurat. Di sisi lain, mayoritas komentar mengatakan bahwa Ibnu Shihab bisa dipercaya, sebuah keputusan yang perlu dipertanyakan jika kita melihat pada hadits yang ia ditransmisikan.

Buku-buku yang merekam komentar-komentar tentang para perawi meliputi: Tabaqat oleh Muhammad bin Saad al-Zuhri (wafat 230), Al-Tarikh oleh Ibnu Ma’in (w. 233), Tabaqat oleh Khalifah bin Khayyat (w. 240), al Tarikh oleh Bukhari (w. 256), al-Kuna`wa al-Asma` oleh Muslim (w. 261), al-Du’afa`oleh Nasa`i (w. 303), al-Du’afa`oleh al-‘Uqayli (w.322), Kitab al-Jarh wa al-ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim (w. 327), al-Kamil fi Du’afa`al-Rijal oleh Ibnu ‘Adi (w. 365) , al-Majruhin oleh Ibn Hibban (w. 354), al-Sunan oleh Daraqutni (w. 385), Ma’arif ‘Ulum al-Hadits oleh al-Hakim (w. 405), al-Ahkam al-Kubra oleh ‘Abd al-Haqq al-Ishbili (w. 580), al-Du’afa oleh al-Dhahabi (wafat 748).

[4] Isnad tersebut lengkap dan setiap perawi dalam isnad tersebut dianggap dapat dipercaya:

  • Jabir bin ‘Abdullah (w. 78) adalah seorang sahabat dan karenanya dianggap dapat dipercaya.
  • Muhammad bin al-Munkadir (w. 131) digambarkan dalam Ensiklopedia Hadits sebagai thiqah, hafiz, sangat dipuji oleh beberapa ulama. Bukhari memiliki hadits dari dia (misalnya # 187).
  • Yusuf bin Ishaq (w. 157) digambarkan sebagai thiqah, hafiz, mustaqim al-hadits dan Bukhari 1656 adalah dari dia.
  • Isa bin Yunus (w. 187) digambarkan sebagai thiqah, thiqah thabt; Bukhari 804 adalah dari dia.
  • Hisyam bin ‘Ammar (w. 245) dikatakan sebagai saduq, thiqah, ja`iz al-hadits, Bukhari 1936 adalah dari dia.
  • Pengumpul Ibnu Majah (209-273) telah dikritik karena masuk dalam Sunannya ahadits yang lemah dan ditolak tanpa menambahkan suatu catatan tentangnya seperti yang dilakukan Tirmidzi dan Abu Da`ud. Tetapi para ulama sepakat tentang ketinggian keilmuannya dan kepercayaannya.

[5] Dalam menghadapi kontradiksi antara Al-Qur`an dan hadits, menolak hadits adalah salah satu pilihan yang terbuka. Pilihan lainnya adalah dengan dalil pembatalan hadits oleh Al-Quran atau al-Qur’an oleh hadits. Bagi Syafi’i pilihan ini tidak terbuka sejak ia secara eksplisit menyatakan bahwa sebuah hadits tidak bisa membatalkan bagian dari Al-Qur`an sebagaimana Al-Qur’an tidak bisa membatalkan sebuah hadits. Kebanyakan ulama lainnya membolehkan kemungkinan Al-Qur`an membatalkan sebuah hadits dan sebuah hadits mutawatir membatalkan Al-Qur`an. Hanya minoritas yang membolehkan kemungkinan sebuah hadits ahad membatalkan Al-Qur`an. Oleh karena itu pandangan mayoritas adalah bahwa dalam kasus adanya pertentangan antara Al-Qur`an dan hadits ahad, maka yang kedua yang harus ditolak.

[6] Namun ketika membahas ahadits tentang tashahhud didalam sholat, Syafi’i menganggap dibolehkannya mengubah susunan kata-kata dari sebuah hadits. Dia mengatakan: “Jadi perubahan dalam kata-kata dari setiap teks, kecuali komunikasi ilahiah, diperbolehkan jika artinya tidak berubah. Seorang tabi-in berkata: ‘Aku telah mendengar beberapa sahabat sepakat dalam arti tetapi tidak sepakat pada susunan kata-kata [dari ahadits yang diriwayatkan oleh mereka]. Aku mengangkat masalah ini dengan salah satu dari mereka, yang mengatakan, adalah dibolehkan kecuali kalau maknanya yang berubah.”

[7] Lihat bukunya, Al-Hadits Hujjah bi Nafs hi fi al-‘Aqa`id wa al-Ahkam.

 

[8] Dua hadits lainnya yang diperkuat oleh riwayat-riwayat dari sahabat lain dengan asanid yang sahih lainnya sehingga tidak gharib. Jadi hadits dari Abu Hurairah mengenai kewajiban ghusl setelah berhubungan seks, meski jika tindakan seksual tersebut tidak selesai, diperkuat oleh sebuah hadits dari Aisyah dalam shahih Muslim. Saya telah membahas dalam “Menghadapi Kontradiksi Diantara Ahadits”, di mana tiga poin dikemukakan tentang hal ini:

a)      hadits tersebut mempunyai cacat tersembunyi;

b)      tidak diterima dengan sesuatu seperti konsensus pada zaman para sahabat dan tabi-in,

c)      penerimaan di zaman kemudian adalah merupakan hasil dari prinsip ihtiyat (kehati-hatian) dan bukan merupakan dukungan terhadap keasliannya.

Demikian juga, hadits Ibnu ‘Umar tentang zakat al-fitr diperkuat oleh ahadits dengan asanid sahih dari sahabat lainnya seperti Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah dan ini tidak gharib. Dengan demikian kita memiliki hadits berikut dari Abu Sa’id al-Khudri:

Yahya bin Yahya meriwayatkan kepada kami dan berkata: saya membacakan kepada Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyad bin Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh bahwa ia mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata:

Kami biasa memberikan (pada zaman Nabi) sebagai zakat al-fitr satu sa’ tepung (gandum) atau satu sa’ jelai atau satu sa’ kurma atau satu sa’ keju halus atau satu sa’ kismis. (Muslim)

Hadits ini tidak memberitahu kepada kita apakah zakat al-fitr adalah dianjurkan (sunnah) atau wajib pada zaman Nabi, sedangkan hadits dari Ibnu Umar nampak menjadikannya wajib. Tetapi menarik bahwa riwayat-riwayat dari hadits Ibnu Umar tidak mengutip Nabi tetapi hanya mengatakan bahwa ia mewajibkan atau ia memerintahkan, yang mungkin merupakan interpretasi Ibnu ‘Umar. Tambahan lagi, meski hadits Ibnu Umar telah ditafsirkan bahwa zakat al-fitr adalah sunnah, sebagaimana kami pelajari dari komentar berikut oleh Nawawi:

Orang-orang telah berbeda tentang makna farada (dalam hadits ini). Sebagian di antara generasi sebelumnya dan setelagnya mengatakan bahwa itu berarti menjadikan sesuatu wajib. Jadi dalam pandangan mereka zakat al-fitr adalah wajib dan termasuk dalam firman umum dari yang Maha Tinggi: “berikan al-zakat“.

(The farada kata) terutama digunakan dalam syari’ah dengan arti ini. Ishaq bin Rahawayah mengatakan bahwa ada sesuatu seperti ijma ‘pada ijab zakat al-fitr. tetapi beberapa orang al-‘Irak, beberapa rekan dari Malik dan beberapa rekan dari Syafi’i dan akhirnya Da `ud berkata: Ini adalah Sunnah dan tidak Wajib. Mereka mengambil farada berarti: untuk mengatur jumlah yang dengan cara penugasan (qadara ‘ala sabil al-nadb). Abu Hanifah mengatakan bahwa Wajib tidak Fard, berdasarkan perbedaan antara fardhu dan Wajib dalam madzhab-nya. Menurut al-Qadhi beberapa mengatakan bahwa al-fitrah itu dibatalkan oleh perintah membayar al-zakat. Menurut pendapat saya ini salah, pandangan yang benar adalah bahwa itu adalah fardhu Wajib. (Nawawi)

Bahwa zakat al-fitr adalah sunnah atau kewajiban yang mapan juga ditunjukkan oleh hadits berikut dari Abu Hurairah:

Abu Tahir dan Harun bin Sa’id al-Ayli dan Ahmad bin Isa meriwayatkan kepadaku dengan mengatakan: Ibnu Wahb meriwayatkan kepada kami: Makhramah memberitahu saya dari ayahnya dari ‘Irak bin Malik yang berkata:

Aku mendengar Abu Hurairah meriwayatkan dari Rosul Allah bahwa ia berkata: Untuk seorang budak tidak ada sodaqoh kecuali sadaqah al-fitr. (Muslim)

Ini berarti bahwa sadaqah al-fitr adalah wajib atau sunnah bagi beberapa individu dalam perawatan seseorang.

Pada saat yang sama, keberadaan zakat al-fitr di zaman Nabi nampak akan dipertanyakan oleh ahadits di mana Nabi, setelah sholat ‘Ied, menasihati orang-orang atau khususnya para wanita, untuk memberikan derma. Ahadits ini tidak berbicara tentang jumlah tertentu yang harus dibayarkan. Satu hadits menetapkan bahwa derma yang Nabi perintahkan berbeda dengan zakat al-fitr, tetapi ini mungkin merupakan harmonisasi dari hadits derma sukarela tanpa ukuran tertentu dan zakat al-fitr dengan kadar tertentu.

[9] Hal ini ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut:

3:145 – “Barang siapa menghendaki pahala di dunia kami akan memberi dia darinya, dan barangsiapa menghendaki pahala di akhirat, kami akan memberi dia darinya”. (lihat juga ayat 3:152, 4:134).

30:39 – “Dan apa yang kamu berikan dari zakat yang kamu maksudkan untuk mencari keridaan Allah (wajh allah), maka mereka (yang melakukannya) akan memiliki pertumbuhan berlipat ganda.”

76:9 – (Orang-orang yang benar mengatakan:) “Kami memberi makan kepadamu hanya demi ridho Allah. Kami tidak mengharapkan imbalan atau ucapan terima kasih dari kamu”.

Kami juga dapat menyebutkan referensi al-Quran tentang orang-orang munafik. Hal ini karena motivasi manusia menentukan nilai dari tindakannya, bahwa orang-orang munafik tidak akan menerima pengampunan dan keselamatan walaupun mereka menyatakan beriman kepada Nabi Muhammad (63:1, 6).

[10] Sebagai contoh, Nawawi mengatakan: “Muslimin telah sepakat tentang posisinya yang tinggi dari hadits ini dan terhadap banyak manfaatnya (fawa`id) dan kesahihannya. Syafi’i dan lainnya berkata: Ini adalah sepertiga Islam. Syafi’i juga berkata: Ini relevan dengan 70 permasalahan dalam fiqh. Yang lainnya mengatakan: Ini adalah seperempat dari Islam. ‘Abd al-Rahman bin Mahdi dan lainnya berkata: Sangat diharapkan bahwa setiap orang yang menulis sebuah kitab seyogyanya memulai dengan hadits ini sebagai pengingat bagi siswanya agar menjadikan niatnya benar … “. Orang mungkin akan bertanya jika hadits tersebut begitu penting, mengapa umat harus menunggu selama sekitar seratus tahun sebelum mempelajari tentang hal itu?

[11] Dengan demikian kita baca di dalam Al-Qur`an:

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun (tanpa otoritas)”. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. (6:148)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (16:116)

Pada ayat di atas, melarang sesuatu atau membuat sesuatu halal dan haram (merumuskan hukum) tanpa pengetahuan tertentu adalah dikutuk.

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (7:33)

Dalam ayat ini mengatakan sesuatu tentang Allah, termasuk merumuskan ‘Aqa`id, tanpa pengetahuan adalah dilarang.

[12] Syafi’i menyebutkan hadits ini dan menganggapnya otentik. Dia mencoba untuk menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan bahwa Umar ingin berhati-hati. Hal ini dapat dipahami menurut salah satu atau kedua cara berikut:

a)      ‘Umar ingin berhati-hati sebelum menerima hadits dari Abu Musa.

b)      Dia sendiri menerima hadits tersebut, tetapi ia ingin menekankan perlunya kehati-hatian kepada orang lain dengan menuntut pembuktian dari perawi kedua.

Dalam kedua kasus, adalah jelas bahwa Umar tidak berpikir bahwa penerimaan hadits dari satu orang tunggal yang dapat dipercaya adalah mengikat.

[13] Komentar kami pada hadits ini juga akan berlaku untuk hadits serupa lainnya seperti Bukhari 9/359, yang menurutnya beberapa lelaki memecahkan guci-guci anggur setelah mendengar dari satu orang, Abu Thalhah, bahwa anggur telah diharamkan.

[14] Ada ahadits lain yang menurutnya Umar menerima sebuah hadits yang dilaporkan oleh seorang Shohabat tunggal. Tetapi tak satu pun dari ahadits tersebut memberikan indikasi bahwa Umar merasa wajib untuk melakukannya. Misalnya, ketika Umar menghadapi pertanyaan tentang apakah pajak perorangan harus dikumpulkan dari orang-orang Majusi, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf  meriwayatkan hadits tersebut: “Ikutilah yang berkaitan dengan mereka apa yang Anda ikuti berkaitan dengan ahlul kitab”. Umar bertindak atas dasar hadits ini tanpa memerlukan pembuktian lebih lanjut. Dalam hadits ini tidak ada indikasi bahwa Umar merasa berkewajiban untuk menerima laporan dari Abdul Rahman.

[15] Dalam hadits berikut yang dikutip oleh Syafi’i, ‘Ali membawa sebuah pesan yang berbeda bagi para jema’ah haji dari pada pesan yang disebutkan dalam Ibnu Ishaq:

Abd al-‘Aziz [al-Darawardi] mengatakan kepada kami dari Yazid bin Hadi dari Abdullah bin Abi Salamah dari ‘Amr bin Sulaiman al-Zuraqi dari ibunya, yang mengatakan: Ketika kami berada di Mina, Ali bin Abi Thalib tiba dengan seekor unta dan menyatakan bahwa Rasulullah berkata: “Ini adalah hari untuk makan dan minum, sehingga tidak ada yang harus puasa.” Ali berkeliling dengan untanya menyebarkan pesan ini dengan suara keras kepada masyarakat.

Syafi’i juga mengutip hadits lain serupa di mana Shohabat lain, Ibnu Mirba’ datang untuk berhaji dan mengumumkan sebuah pesan dari Nabi tentang ritual tersebut. Kita tidak diberitahu dalam dua hadits ini sampai sejauh mana orang-orang menerima pesan tersebut. Generasi berikutnya dari umat Islam ternyata tidak menerimanya, karena kedua hadits tersebut tidak ada di Muwatta, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan beberapa buku lainnya. Jelasnya, kedua hadits tersebut tidak dapat dipercaya oleh sejumlah besar ulama hadits sebelumnya.

[16] Komentar serupa berlaku untuk contoh-contoh lainnya yang disebutkan oleh Syafi’i tentang perorangan yang ditunjuk sebagai pemimpin (`Umara) umat Islam di berbagai daerah atau para pemimpin kelompok Muslimin di dalam perjalanan. Setiap ajaran Islam yang disampaikan oleh para pemimpin ini diharapkan akan diketahui umat Islam lainnya dalam kelompok tersebut dan tunduk pada verifikasi mereka. Dalam hal tidak ada orang yang berilmu dalam kelompok tersebur instruksi Islami yang disampaikan oleh para pemimpin tersebut diharapkan merupakan ajaran-ajaran tingkat dasar dan mendasar yang telah sampai kepada kita dari berbagai sumber, sehingga kita tidak harus bergantung pada seorang Sahabat tunggal untuk ajaran-ajaran tersebut.

Sumber: http://www.islamicperspectives.com/SingleNarrator.htm

5 thoughts on “MENERIMA HADITS DARI PERAWI TUNGGAL

  1. safe mode says:

    Kitab Quran : 1 kitab – tidak ada keraguan di dalamnya.
    Kitab Hadis: banyak kitab – ada keraguan di dalamnya.

    Safe mode: “Yang meragukan, tinggalkan saja”

  2. tovan says:

    Ini situs yg saya cari-cari!!! situs yg mengisi celah antara situs syiah dan situs sunni
    keep posting ya mass..

    salam

  3. Nick says:

    izin share dan copas…terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: