HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (4)

2

January 29, 2012 by Islam saja

BAGIAN I

Bab 4

Al-Quran dan Hukuman Pra-Quran untuk Zina

Dari sudut pandang Islam maupun ilmiah-historis, Islam adalah merupakan kelanjutan dari agama sebelumnya, terutama yang ditemukan dalam apa yang oleh perspektif Barat disebut Timur Dekat, tetapi oleh perspektif orang timur disebut sebagai Barat Dekat.

Dari sudut pandang ilmiah-historis tidak ada perkembangan dalam sejarah yang terjadi di ruang hampa, tidak terkait dengan apa yang sebelumnya atau sesudahnya. Dari sudut pandang Islam, agama Islam merupakan kelanjutan dari karya nabi sebelumnya yang dalam banyak kasus telah dimasukkan ke dalam Islam dalam bentuk yang jauh lebih baik dan dalam banyak kasus lainnya dimurnikan dari tahrif (perubahan). Oleh karena itu akan berguna bagi kita untuk menjaga apa yang sebelum kita berupa agama atau budaya atau hadits sebelum kita dan harus diungkapkan pada setiap topik yang sedang dibahas. Sangat sering dengan informasi tersebut memungkinkan bagi kita untuk melihat bahwa Al-Quran memurnikan dan mengembangkan ide-ide dan praktek sebelumnya begitu jauh untuk menunjukkan keasliannya sebagai inspirasi Ilahi.

Tetapi dalam kasus hukuman bagi pezina ada alasan khusus untuk memperhatikan agama-agama sebelumnya atau ahadits sebelumnya: sebagaimana yang akan kita lihat dalam bab-bab berikutnya, ada bukti bahwa setidaknya beberapa ide dalam hadits tentang hukuman bagi zina berasal dari sumber-sumber pra-Islam dan bukan dari Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi.

 

Hukum Sumeria/ Babilonia

Zina, terutama bila dilakukan dengan wanita yang sudah menikah telah dianggap sebagai kesalahan yang harus dihukum sejak zaman awal karena kami mempunyai catatan tertulis. Dokumen hukum awal yang cukup komprehensif yang kita miliki adalah Kode Hammurabi. Dokumen ini bukan merupakan kodifikasi lengkap dari hukum Babilonia tetapi merupakan kumpulan keputusan hukum raja Babilonia Hammurabi pada sekitar abad 18 SM – keputusan-keputusan yang diterpakan secara parsial sebagai praktek hukum pada zaman dahulu, beberapa di antaranya mungkin diwariskan dari tradisi Sumeria.

Dalam Kode Hammurabi, perzinahan dihukum mati oleh kedua belah pihak dengan cara ditenggelamkan, tetapi jika suami pezina wanita itu bersedia untuk memaafkan dia, maka raja boleh memberi pengampunan kepada pezina tersebut. Untuk kasus incest Kode tersebut mengatur hukuman yang bervariasi beratnya tergantung pada keluarga yang terlibat. Jika seorang pria melakukan hubungan seksual dengan ibunya, maka keduanya dibakar sampai mati, jika dengan ibu tiri, maka laki-laki itu menjadi bukan ahli waris, jika dengan anak wanitanya, maka orang itu diasingkan, jika dengan saudara sepupu wanita, maka ia ditenggelamkan, jika dengan tunangan anak laki-lakinya, maka ia didenda dan wanita yang telah bertunangan terebut mengambil mas kawinnya dan kembali ke keluarganya, dengan diberi kebebasan untuk menikah sebagaimana yang ia pilih.

Untuk menetapkan tuduhan perzinahan tidak diputuskan dengan bukti-bukti hukum, kode Hammurabi memberikan hukum: “Jika tuduhan dialamatkan kepada istri dari seorang warga negara dikarenakan lelaki lain, tetapi dia tidak tertangkap basah sedang berbaring dengan pria lain, maka demi suaminya – ia harus melemparkan dirinya ke dalam sungai”. Jika sungai menghanyutkan dia maka dia ditetapkan bersalah, jika dia tetap tenang dan tidak terluka di dalam air, maka dia terbukti tidak bersalah [1].

Kode Hammurabi tidak menyebut hukuman untuk sodomi, seks lesbian, ataupun seks dengan binatang.

 

Hukum Mesir

Di Mesir kuno, menurut sejarawan Sisilia Diodorus Siculus (sekitar 90-21 SM), siapapun yang memperkosa seorang wanita merdeka adalah dikebiri. Dalam kasus si wanita itu membiarkan dirinya terbujuk melakukan perzinahan, maka lelaki itu menerima seribu luka bergaris dan hidung si wanita diputus [2].

Penahanan mungkin juga merupakan hukuman untuk beberapa pelanggaran seksual. Menurut Gen 39:14, 19-20 yang dikonfirmasi oleh Al-Quran (Surah Yusuf, 12:23-35), ketika istri seorang pejabat Mesir yang memiliki Yusuf menuduh Yusuf mencoba tidur dengan dia, maka Yusuf dipenjara.

 

Hukum Hindu

Salah satu perhatian utama dari hukum Hindu adalah untuk menjaga kemurnian kasta [3]. Dalam Bhagavad Gita dan Wisnu Purana perzinahan dikutuk atas dasar bahwa hal  itu menghancurkan tingkatan status keluarga dan masyarakat menjadi kasta campuran. Dalam tulisan ini, tidak ada menyebut tentang sanksi hukum, hanya hukuman ilahiah dalam bentuk pemendekan umur kehidupannya di dunia ini, dijatuhkan ke dalam neraka setelah mati, lahir kembali sebagai serangga merayap, dijatuhkan ke dalam neraka oleh para nenek moyangnya yang sduah mati dikarenakan kekurangan dari air dan makanan ritual.

Tetapi Dharma Shastra dari Manu (Manusmriti) – sumber utama hukum Hindu (bertahun dari abad ke-2 SM sampai abad pertama, tetapi diklaim sebagai abad sebelumnya) – tidak memberikan aturan rinci hukuman untuk perbuatan seksual yang salah termasuk, tentu saja, perzinahan (8:353 -385). Hukuman ini tergantung pada tingkat keintiman, status perkawinan si wanita, keinginannya atau jika tidak, tergantung pada kastanya (varna) – kasta ini penting karena “pencampuran” kasta “menghancurkan segalanya.”

Dalam kasus wanita yang tidak menikah, tidak ada hukuman mati. Jika si wanita yang belum menikah tersebut diperkosa, maka si lelaki kehilangan dua jarinya dan membayar denda enam ratus panas. Jika si wanita bersedia dan dari kasta yang sama dengan di lelaki, maka ia akan membayar denda sebesar 200 panas “untuk mencegah dia dari mengulangi kejahatan tersebut” dan juga “membayar biaya perkawinan, jika ayahnya menginginkannya”. Jika si wanita bersedia, dan kastanya lebih tinggi, maka si lelaki akan menderita suatu hukuman badan. Seorang wanita yang belum menikah yang menawarkan dirinya kepada lelaki dengan kasta yang lebih tinggi tidak akan dihukum denda tetapi akan dikurung paksa di rumahnya.

Dalam kasus wanita yang sudah menikah, pelanggaran yang bisa dihukum diuraikan sebagai berikut:

“Seorang pria yang lebih dulu dituduh melakukan kejahatan (seksual), yaitu secara diam-diam berbicara dengan istri dari lelaki lain, harus membayar denda terendah. Tetapi seorang lelaki, yang sebelumnya tidak dituduh, yang berbicara karena beberapa sebab, tidak akan dikenakan kesalahan apapun, karena pada dia tidak ada pelanggaran.”

“Para pengemis, penyanyi, lelaki yang telah melakukan upacara peresmian pengorbanan Veda, dan para pengrajin tidak dilarang berbicara dengan wanita yang sudah menikah.“

“Jangan ada lelaki yang berbicara dengan istri orang lain setelah ia dilarang, tetapi lelaki yang berbicara (dengan mereka), karena sudah ada larangan, harus didenda satu suvarna.“

Aturan ini tidak berlaku bagi para istri aktor dan penyanyi, atau (para isteri dari) orang-orang yang tinggal di (persekongkolan dari) (istri) mereka sendiri; bagi pria seperti itu yang mengirimkan istri-istri mereka (kepada orang lain), atau menyembunyikan diri mereka sendiri, memungkinkan mereka untuk terus melakukan hubungan kriminal seksual. Namun lelaki, yang secara diam-diam berbicara dengan wanita seperti itu, atau dengan budak wanita yang dipelihara oleh seseorang (tuan), dan dengan pertapa wanita, harus dipaksa untuk membayar denda yang rendah.

Rupanya, jika pertemuan tersebut melibatkan lebih dari sekedar berbicara, hal itu masuk kategori tindakan perzinaan (samgrahana):

“Lelaki yang mendatangi istri dari lelaki lain di sebuah Tirtha, di luar desa, di hutan, atau pada pertemuan sungai, mengalami (konsekuensi) perbuatan berzina.

“Memberikan hadiah, bercengkerama, menyentuh perhiasan dan pakaiannya, duduk dengan dia di atas tempat tidur, semuanya dianggap tindakan perzinahan.

“Jika seseorang menyentuh seorang wanita di suatu tempat yang tidak (untuk disentuh) atau mengijinkan (dirinya untuk disentuh), semua (tindakan seperti itu) dengan persetujuan bersama dinyatakan (merupakan) perzinahan.”

Untuk perzinahan hukuman yang ditentukan dalam beberapa kasus adalah meletakkan si lelaki di atas tempat tidur besi panas dan kemudian menyalakan api di sekitarnya dan mencabik-cabik si wanita dengan anjing.

“Jika seorang istri, bangga dengan kebesaran kerabatnya atau keunggulan (dirinya sendiri), melanggar tugas yang mana ia berutang kepada tuannya, raja harus membiarkan ia dicabik-cabik oleh anjing di tempat yang sering dikunjungi oleh banyak orang. Ia menyuruh si pelaku laki-laki dibakar di tempat tidur besi panas memerah, mereka meletakkan kayu di bawahnya, (hingga) orang berdosa tersebut terbakar (hingga mati) “[4].

Salah satu kasus ketika hukuman di atas tidak berlaku adalah ketika lelaki itu seorang Brahamana, dalam hal ini ia tidak menerima hukuman:

Biarkan (raja) tidak membunuh seorang Brahmana, meskipun ia telah melakukan semua jenis kejahatan; biarkan dia mengusir pelaku seperti itu, meninggalkan semua hartanya dan menjaga dia tidak terluka. Tidak ada kejahatan yang lebih besar yang dikenal di bumi daripada membunuh seorang Brahmana; raja, oleh karena itu, tidak boleh meski hanya dalam pikiran untuk membunuh seorang Brahmana [5].

Manusmitri juga mengatur hukuman untuk seks lesbian:

Seorang gadis yang belum menikah yang mencemari gadis lain yang belum menikah harus didenda dua ratus (panas), membayar dua kali lipat dari biaya (perkawinan)nya, dan menerima cambuk sepuluh kali dengan tongkat. Tetapi wanita (yang sudah menikah) yang mencemari seorang gadis yang belum menikah harus segera dicukur kepalanya atau dipotong dua jarinya, dan disuruh untuk naik keledai.

Jika si istri dicurigai melakukan perzinahan tetapi tidak ada bukti yang kuat, maka mungkin ia menjadi sasaran salah satu dari tiga jenis penderitaan berikut ini:

  1. Tersangka diberi tiga genggam air dengan kutukan diucapkan di atasnya dan sebuah gambar suci dicelupkan di dalamnya, jika tersangka tidak bersalah maka tidak akan terjadi apa-apa dan jika bersalah ia akan sakit atau mengalami bencana lain akan akan terjadi dalam beberapa minggu. Seperti yang akan kita lihat, penderitaan yang serupa akan ditemukan dalam hukum Yahudi.
  2. Tersangka disuruh untuk melewati api atau memegang besi panas membara sambil berjalan pada jarak tertentu; jika tersangka tidak bersalah maka tidak akan terjadi sesuatu, tetapi jika bersalah maka dia akan mengalami luka bakar bakar. Ujian dengan memegang besi panas membara ini juga dikenal di kalangan orang Yunani.
  3. Tersangka diikat dan dibuang ke dalam air. Jika tersangka tidak bersalah, dia akan tenggelam dan akan muncul ke permukaan sebelum terjadi kematian; jika tidak terjadi demikian maka air akan melemparkan dia ke atas dan dia akan dihukum. Prosedur ini digunakan secara luas di Eropa untuk “menguji” wanita yang dicurigai sebagai penyihir.

Melewati api tersebut dijelaskan dalam kode Hindu seperti yang ada di Yajnavalkya dan digunakan dalam Ramayana oleh Sita untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah kepada suaminya Rama yang cemburu. Dalam Manusmriti dikatakan: “Lelaki yang kepadanya api tidak membakar atau yang air tidak melemparkan ke atas, atau yang tidak ada bahaya yangg segera menimpa, harus dianggap sebagai jujur ​​dalam sumpahnya” (8:115)

 

Praktek di Cina

Di China hukuman bagi perzinahan tampaknya telah lebih sekuler daripada religius. Dengan berbagai bentuk, termasuk yang berikut:

  1. Denda, dengan pelaku laki-laki membayar lebih besar. Denda yang dikenakan pada si wanita dibayarkan kepada suaminya, sedangkan denda dari si lelaki diberikan kepada pihak berwenang.
  2. Pengebirian, yang kadang-kadang juga merupakan hukuman bagi kasus penculikan, perampokan bersenjata, dan pengkhianatan.
  3. Dijadikan budak. Seorang wanita yang berzinah menjadi budak suaminya dan tidak dapat ditebus (untuk dibebaskkan).
  4. Seorang suami mendapat otorisasi untuk memotong rambut istrinya, dan memimpin dia dalam keadaan tersebut di depan mandarin, yang menyebabkan dia dibuang ke gajah terlatih sebagai algojo publik. Kematian juga merupakan hukuman bagi perzinahan sesama orang Mongol.

Dalam kasus perzinahan, suami diizinkan untuk menceraikan istri mereka. Tetapi, jika mereka melakukan, mereka tidak dapat mengambil mereka kembali selama beberapa tahun.

Hukum di China kuno sepertinya tidak memiliki perhatian yang terlalu banyak untuk dengan hukuman bagi kasus melakukan hubungan seksual dengan wanita yang belum menikah.

 

Hukum Yahudi

Jika kita memperhatikan cerita dalam Alkitab, bahkan sebelum masa Ibrahim perzinahan di Palestina dianggap sebagai sebuah kejahatan yang mana kematian merupakan hukuman ilahiah yang pas, atau paling tidak dianggap sebagai hukuman yang sah. Abimelekh, raja Filistin Gerar mengakui bahwa berhubungan seks dengan wanita yang sudah menikah adalah kejahatan dimana Tuham menghukum dengan kematian. Ketika ia “mengambil” Sarah (istri Ibrahim), Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan berkata “…, Tahan dulu, kamu akan mati, karena wanita yang telah engkau ambil adalah wanita yang sudah menikah.” (Kej 20:3) [6]. Karena raja tersebut tidak tahu bahwa Sarah sudah menikah, maka ia diselamatkan dengan syarat bahwa ia mengembalikannya kepada Ibrahim.

Dengan demikian tidak mengherankan bahwa di kemudian hari Taurat Yahudi mengatur hukuman mati bagi kasus perzinahan. Taurat, meskipun konon ditulis oleh Musa, tidak berbentuk sesuatu seperti bentuk yang sekarang sampai sekitar delapan abad setelah Nabi yang mulia. Terdapat kasus yang membuktikan bahwa hukuman mati karena kasus perzinahan tidak menjadi hukuman yang sah hingga berabad-abad setelah Musa. Jadi, dalam 2 Sam 11:1-12:25 kita diberitahu bahwa pada suatu sore Raja Daud melihat dari atap rumahnya seorang wanita yang cantik, bernama Batsyeba, sedang mandi. Ia berzinah dengan dia, karena suaminya telah terbunuh dan menikahinya, di kemudian hari memperoleh Sulaiman melalui Batsyeba. Meski dikutuk oleh Tuhan melalui Nabi Nathan untuk tindakan ini, hukum Taurat sama sekali tidak disebutkan. Karena Batsyeba sudah menikah, baik ia maupun Raja Daud semestinya diancam dengan hukuman mati. Namun hukuman ini sama sekali tidak dipertimbangkan. Hal ini mungkin berarti bahwa kematian menjadi hukuman yang legal terjadi setelah zaman Raja Daud, yaitu, berabad-abad setelah Musa, yang kepadanya jenis hukuman itu dikaitkan.

Taurat dalam bentuk yang sekarang mengatur hukuman yang cukup rinci untuk berbagai kasus perzinahan. Dalam kasus zina dengan seorang perawan, Taurat telah mengatakan berikut ini:

Ketika seorang pria merayu seorang perawan yang tidak dimaksudkan untuk dinikahi, dan tidur dengan dia, ia harus memberikan mahar untuk si wanita dan menjadikan dia sebagai istrinya. Tetapi jika ayahnya menolak memberikan anaknya kepadanya, ia harus membayar sejumlah yang sama dengan mahar untuk si wanita. (Keluaran 22:16-17)

Jika seorang pria bertemu seorang perawan yang belum bertunangan, dan merebut dia dan tidur dengan dia, dan mereka tertangkap basah, maka lelaki yang tidur dengan dia harus memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah si gadis tersebut, dan ia akan menjadi istrinya. Karena ia melanggar pada si wanita maka dia tidak akan diizinkan untuk menceraikannya selama hidupnya. (Ul 22:28-29)

Berikut memperlihatkan bahwa seorang perawan tidak akan dihukum, mungkin karena dia dirayu atau dipaksa. Tetapi perawan yang melakukan perzinahan yang diketahui setelah menikah, maka ia harus dirajam sampai mati:

Misalkan seorang laki-laki menikahi seorang wanita, tetapi setelah berkeluarga dengannya, ia tidak menyukainya dan membuat dakwaan terhadap dirinya, memfitnah dia dengan mengatakan, “Saya menikah wanita ini, tetapi ketika saya tidur dengan dia, aku tidak menemukan bukti keperawanannya “… [Jika tuduhan itu terbukti tidak benar] Para tetua di kota itu harus mengambil laki-laki itu dan menghukum dia; mereka harus mendenda seratus syikal perak (yang harus mereka berikan kepada ayah si wanita muda itu) karena ia telah memfitnah seorang perawan Israel. Dia akan tetap menjadi istrinya, ia tidak akan diizinkan untuk menceraikannya selama hidupnya. Namun, jika tuduhan ini benar, bahwa bukti keperawanan dari si wanita muda itu tidak ditemukan, maka mereka harus membawa si wanita muda keluar dari pintu rumah ayahnya dan orang-orang lelaki di kota itu harus melemparinya dengan batu sampai mati, karena ia melakukan perbuatan tercela di Israel dengan cara melacurkan diri di rumah ayahnya. Jadi, kamu harus membersihkan yang jahat itu dari tengah-tengah kamu. (Ul 22:13-14, 18-21)

Jadi seorang perawan yang telah melakukan perzinahan memiliki empat cara terbuka bagi dia:

a)      dia menikah untuk hidup dengan pria yang memperkosa dia;

b)      dia tetap tidak menikah;

c)      dia menikah dengan orang lain yang mau menerima hilangnya keperawanannya

d)     ia dilempari batu sampai mati.

Seorang pria yang melakukan hubungan seksual dengan wanita yang sudah menikah atau bertunangan harus dihukum mati bersama dengan si wanita, kecuali wanita itu menangis meminta tolong:

Jika seorang pria tertangkap tidur dengan istri orang lain, keduanya harus mati, baik lelaki yang tidur dengan si wanita maupun si wanita itu. Jadi, kamu harus membersihkan yang jahat dari Israel. Jika ada seorang wanita muda, seorang perawan yang sudah bertunangan dan akan menikah, dan seorang pria menemuinya di kota dan tidur dengan dia, kamu harus membawa keduanya ke pintu gerbang kota dan merajam mereka sampai mati, si wanita muda dikarenakan ia tidak berteriak meminta tolong di dalam kota dan si lelaki karena ia mengganggu isteri tetanggnya. Jadi, kamu harus membersihkan yang jahat itu dari tengah-tengah kamu. Tetapi jika si lelaki menemui si wanita yang sudah bertunangan tersebut di luar kota, dan si lelaki itu memaksa dan tidur dengan dia, maka hanya si lelaki yang tidur dengan dia yang harus mati. Kamu tidak boleh melakukan apapun kepada si wanita muda, si wanita muda tidak melakukan suatu kejahatan yang layak dijatuhi hukuman mati, karena kasus ini adalah seperti seseorang yang menyerang dan membunuh seorang tetangga. Karena ia menemukan si wanita di luar kota, si wanita yang bertunangan mungkin berteriak minta tolong, tetapi tidak ada seorangpun yang menyelamatkannya. (Ul 22:22-27)

Jika seorang pria berzinah dengan istri tetangganya, baik pezina lelaki dan pezinah wanita harus dihukum mati. (Lev 20:10)

Sama seperti dalam hukum Hindu, dimana hukuman dan keseriusan dari kejahatan itu ditentukan oleh kasta dari individu-individu, begitu juga dalam hukum Yahudi, setidaknya dalam interpretasi para rabbi, hukuman ditentukan oleh ras/ agama dari individu-individu, yang berarti dengan cara apakah mereka Yahudi atau non-Yahudi. Kutipan dari Talmud dan menafsirkan Lev 20:10 sebagai berikut:

“Rabbi kami mengajarkan: [Dan lelaki yang berbuat zinah dengan istri orang lain, lebih-lebih ia melakukan perzinahan dengan istri tetangganya, maka pezina lelaki dan pezina wanita harus dihukum mati]. ‘Lelaki‘ tidak termasuk yang belum dewasa; ‘yang berbuat zinah dengan istri orang lain‘ tidak termasuk istri di bawah umur, ‘lebih-lebih dia melakukan perzinahan dengan istri tetangganyatidak termasuk istri kafir; ‘harus dihukum mati‘, dengan pencekikan. (Sanhedrin 52b).

Artinya, lelaki Yahudi tidak dihukum jika dia melakukan perzinahan dengan seorang wanita menikah non Yahudi. Tetapi si wanita non Yahudi dihukum mati. Ensiklopedi Talmud menguraikan masalah itu sebagai berikut:

“Lelaki yang memiliki pengetahuan duniawi dari istri seorang non Yahudi tidak dikenakan hukuman mati, sebab yang tertulis: ‘istri sesama kamu’ bukannya “istri orang lain“ … dan meskipun seorang wanita non Yahudi yang sudah menikah adalah dilarang bagi bangsa non Yahudi, dalam setiap kasus seorang Yahudi dibebaskan.”

“Jika seorang Yahudi melakukan hubungan seks dengan seorang wanita non Yahudi, baik si wanita masih seorang anak-anak berumur tiga tahun atau orang dewasa, baik dia sudah menikah atau belum menikah, dan bahkan jika si lelaki masih berusia di bawah sembilan tahun lebih sehari – karena si lelaki telah melakukan hubungan seks secara disengaja dengan dia, maka si wanita harus dibunuh, seperti halnya kasus dengan seekor binatang buas, karena melalui dirinya seorang Yahudi mendapat masalah”. (Referensi tentang binatang buas, lihatlah Lev 20:15-16 yang akan dikutip lebih lanjut di bawah)

Percabulan dengan budak wanita milik laki-laki lain tidak dihukum berat:

Jika seorang lelaki melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita dimana ia seorang budak, yang ditujukan untuk lelaki lain tetapi tidak ditebus atau diberikan kepadanya kebebasan, suatu penyelidikan harus dilakukan. Mereka tidak akan dihukum mati, karena si budak wanita belum dibebaskan, tetapi si lelaki harus membawa korban penebusan kesalahan bagi dirinya kepada TUHAN, di depan pintu Kemah Pertemuan, seekor domba jantan sebagai korban penebus kesalahan. Dan imam harus mengadakan pendamaian baginya dengan domba jantan korban penebus kesalahan di hadapan TUHAN karena dosa yang ia dilakukan; dan dosa yang ia berkomitmen harus diampuni. (Lev 19:20-22)

Taurat mengatur hokum mati dengan cara membakar dalam kasus seorang putri pendeta yang melakukan percabulan atau perzinahan:

Dan anak perempuan seorang imam, jika ia melanggar kesucian dirinya dengan bermain lacur, ia melanggar kekudusan ayahnya: ia harus dibakar dengan api. (Lev 21:9)

Kemudian para rabi mencoba membuat hukum menjadi lebih ramah: Jadi, dalam Mishnah seorang rabi dikutip mengatakan: “Sebuah insiden pernah terjadi dengan anak perempuan seorang imam yang melakukan perzinahan. Mereka mengelilinginya dengan ikatan ranting dan membakarnya”. Para rabi lainnya menanggapi dia,”Itu dilakukan karena pengadilan yang melakukan eksekusi ini tidak berpengetahuan”. Sebuah komentar dalam Talmud menjelaskan bahwa pembakaran itu dilakukan oleh pengadilan Saduki (sekelompok Yahudi yang tidak percaya pada tradisi lisan dan dalam hal ini berlawanan dengan orang-orang Farisi, para pendahulu dari para rabbi kemudian).

Taurat juga mengatur hukuman mati untuk beberapa kasus hubungan sedarah dan beberapa hukuman yang tidak ditentukan untuk hubungan seks dengan wanita yang sedang menstruasi:

Orang yang bersetubuh dengan isteri ayahnya telah menyingkap ketelanjangan ayahnya; keduanya harus dihukum mati, darah mereka adalah atas mereka. Jika seorang pria bersetubuh dengan menantunya, keduanya harus dihukum mati, mereka telah melakukan penyimpangan, darah mereka adalah atas mereka. … Jika seorang pria mengambil istri dan ibu mertuanya juga, itu adalah kebejatan, mereka akan dibakar sampai mati, baik si lelaki dan mereka, sehingga tidak ada kebejatan di antara kamu. … Jika seorang pria mengambil saudara perempuannya, anak wanita dari ayahnya atau anak wanita dari ibunya, dan melihat ketelanjangan dia dan si wanita melihat ketelanjangan dia, hal itu memalukan, dan mereka harus dipotong di mata orang-orang mereka; ia telah membuka ketelanjangan saudara perempuannya, ia harus dikenakan hukuman. Jika seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita yang sedang mengalami menstruasi dan membuka ketelanjangannya, maka ia telah bersetubuh secara telanjang dengan menstruasi dia dan dia telah bersetubuh secara telanjang dengan aliran darah dia, keduanya harus dilenyapkan dari antara orang-orang mereka. Kamu tidak boleh membuka aurat saudara wanita ibumu atau saudara wanita ayahmu, karena hal itu adalah bersetubuh secara telanjang dengan daging milik sendiri, mereka harus dikenakan hukuman. Jika seorang pria bersetubuh dengan istri pamannya, ia telah membuka ketelanjangan pamannya; mereka harus dikenakan hukuman, mereka harus mati dikebiri. Jika seorang pria mengambil isteri saudaranya, itu adalah kekejian, ia telah membuka ketelanjangan saudaranya, mereka harus dikebiri. (Lev 20:11-12, 14, 17-21)

Kematian juga merupakan hukuman untuk sodomi dan seks dengan binatang:

Jika seorang pria bersetubuh dengan laki-laki sebagaimana dengan seorang wanita, keduanya telah melakukan suatu kekejian; mereka harus dihukum mati: darah mereka ada di atas mereka. (Lev 20:13)

Siapapun yang bersetubuh dengan binatang harus dihukum mati. (Kel 22:19)

Jika seorang pria memiliki hubungan seksual dengan binatang, ia harus dihukum mati, dan kamu harus membunuh binatang itu. Jika seorang wanita mendekati binatang apapun dan melakukan hubungan seksual dengan binatang itu, kamu harus membunuh wanita dan binatang itu, mereka harus dihukum mati, darah mereka ada di atas mereka. (Lev 20:15-16)

Sangat menarik untuk dicatat bahwa Perjanjian Lama tidak menyinggung homoseksualitas di kalangan wanita, meskipun di bagian atas seks dengan binatang disebutkan untuk laki-laki dan wanita. Hal ini menunjukkan bahwa homoseksualitas di kalangan wanita relatif tidak dikenal di zaman kuno sementara hubungan sex dengan binatang adalah dikenal secara umum di kalangan wanita dan di antara lelaki.

Dalam hukum Yahudi, perzinahan dibuktikan oleh saksi, namum meski tanpa adanya bukti seperti itu, semata-mata kecurigaan suami bisa memulai proses pembuktian untuk melawan istri. Dalam Num 5 kami menemukan sebuah ritual (Sotah) dimana wanita itu dikenakan dalam kasus suaminya mendapat suatu “roh kecemburuan” dan “menjadi mencurigai kesetiaannya” tanpa adanya bukti yang kuat. Ritual ini mensyaratkan si lelaki untuk membawa si istri kepada imam bersama dengan sejumlah tepung gandum. Imam membawa si istri di depan altar bersama dengan tepung tersebut. Dia juga telah menyediakan “air suci dalam bejana gerabah” yang dicampur dengan debu yang telah diletakkan di atas lantai kemah. Dia kemudian melemparkan rambut wanita itu dan mengucapkan beberapa kutukan pada si wanita jika dia bersalah. Sumpah kutukan ditulis dan dicelupkan ke dalam air. Imam kemudian menyuruh wanita itu minum air tersebut, yang terasa pahit menyakitkan. Adapun tepung gandum, dikibas-kibaskan di udara dan sebagian dari itu diasapkan di atas mezbah sebagai persembahan kepada Tuhan. Jika wanita itu bersalah, “perutnya akan membengkak, pahanya akan menyusut, dan dia akan menjadi menjijikkan antara orang-orangnya,” yang ditafsirkan untuk menyiratkan bahwa dia akan mati. Jika dia tidak bersalah, dia akan kebal terhadap efek ini dan akan dapat melahirkan anak.

Para rabi untuk berbagai tingkatan telah menetralisir atau melunakkan banyak dari hukum dan praktek Perjanjian Lama dan ritual ini adalah salah satunya. Dalam Talmud Babilonia dikatakan: “Ketika para pezina meningkat, maka ritual Sotah dihapuskan” (Sotah 47a).

Akhirnya, kita perlu menyebutkan hukum berikut:

Jika dua lelaki berkelahi dan istri dari salah satu dari mereka datang untuk menyelamatkan suaminya dari penyerangnya, dan si isteri meraih dan merenggut si lelaki bagian-bagian pribadinya, kamu harus memotong tangannya. Jangan tunjukkan belas kasihan kepadanya. (Ul 25:11-12)

Sekilas hukum ini mungkin aneh, tetapi dalam Perjanjian Lama mengajarkan bahwa itu cukup masuk akal. Mungkin diasumsikan di sini bahwa bagian pribadi si pria yang di rusak oleh si wanita secara cukup serius, yang akan melarang si lelaki itu dari “jemaat Yahweh” (Ul. 23:1). Bagian di atas adalah menerapkan hukum pembalasan – mata dengan mata, gigi dengan gigi … (Ul 19:21). Karena si wanita tidak memiliki apa yang telah dirusak dalam diri si lelaki, maka ia kehilangan tangan yang menyebabkan kerusakan tersebut.

 

Hukum Yunani, Persia dan Romawi

Orang-orang Atena kuno menghukum perzinahan dengan kematian. Di bagian dari Crete, seorang pezinah ditutupi dengan sebuah mahkota dari wol untuk mengejek tentang kelembutan alamiahnya, kemudian di depan umum harus membayar denda berat, dan dilarang memegang jabatan pemerintahan.

Sedangkan di Persia, kebiasaan mereka adalah menerjunkan dengan cepat si pezina ke dalam sumur agar mati.

Konsul Dio, Raja Roma yang pertama, menetapkan hukum bahwa seorang wanita yang ditemukan berzinah harus dihukum mati oleh suaminya atau saudaranya dengan apa yang mereka pikir cocok. Di kemudian hari, Cato memperbolehkan suami untuk menghukum mati istrinya jika dia menemukan bukti bahwa ia bersalah, tanpa putusan pengadilan.

Pada abad ke-1 SM, Augustus mengundangkan bahwa lelaki diasingkan setelah menyita setengah aset dia dan juga wanita diasingkan setelah membatalkan separuh dari mas kawinnya dan menyita 1/3 dari hartanya. Tetapi tampak bahwa hukuman mati untuk perzinahan dipraktekkan oleh beberapa kaisar, karena Tacitus pada abad pertama Masehi mengatakan dia menemukan dalam catatan publik nama tiga ribu orang yang telah dihukum mati karena perzinahan.

Homoseksualitas agak umum di kalangan Graeco-Romawi pagan. Ada kuil prostitusi homoseksual, yang bahkan beberapa kaisar seperti Heliogabalus menggunakannya. Beberapa kaisar berusaha menghentikan praktek tersebut, tetapi hanya dengan hukuman seperti pengasingan dan peningkatan pajak kepada para pelacur homoseksual

 

Adat Arab pra-Islam

Kami tidak memiliki informasi yang pasti tentang tradisi Arab pra-Islam berkaitan dengan hukuman bagi zina`. Tetapi dengan mempertimbangkan bahwa budaya dan tradisi di sekitar Arab dan tradisi Yahudi di dalamnya menentukan adanya hukuman mati paling tidak dalam beberapa kasus zina`, maka sangat diharapkan bahwa kebiasaan Arab juga mempertimbangkan beberapa kasus zina dihukum mati.

Beberapa indikasi adat Arab disediakan oleh “ayat” rajam dimana beberapa hadits di kemudian hari menyatakan pernah menjadi bagian dari Al-Quran (lihat Bab 3). “Ayat” ini dikatakan untuk dibaca:

al-Syaikh wa al-shaykhah idha zaniya fa arjimuhuma al-battatah

Orang tua (al-Syaikh) dan wanita tua (al-shaykhah), ketika mereka melakukan zina rajam mereka sampai mati sekaligus.

Sebagaimana dicatat pada Bab 3, ayat ini sangat berbeda dari apa yang kita temukan di dalam Al-Quran atau bahkan pemahaman fuqaha, yang tidak membuat perbedaan atas dasar usia. Hal ini juga sangat berbeda dari hukuman yang ditetapkan dalam tradisi dan budaya lain di sekitarnya. Jadi, adalah wajar untuk menduga bahwa hal itu mencerminkan pemahaman Arab pra-Islam. Idenya adalah bahwa dalam kasus orang-orang yang masih muda, yang di satu sisi memiliki gairah seksual yang kuat dan di sisi lain belum memiliki kedewasaan dan kebijaksanaan untuk mengendalikan diri mereka, maka zina mungkin diperlakukan agak ringan. Tetapi ketika orang tersebut sudah tua, kejahatan tersebut menjadi jauh lebih serius dan layak dihukum mati.

 

Sudut pandang Kristen

Yesus tidak bangkit sebagai pemberi-hukum baru melainkan menerima hukum-hukum Perjanjian Lama, meskipun ia menafsirkan beberapa dari mereka lebih liberal. Ini berarti bahwa ia dan para saksi mata murid-murid Yahudinya mungkin menerima begitu saja kode pidana Perjanjian Lama untuk percabulan dan perzinahan, yang mungkin dipahami secara liberal. Tetapi Paulus, pendiri sesungguhnya dari kekristenan seperti yang kita kenal sekarang, menolak otoritas hukum agama Yahudi. Dia rupanya mengajarkan pengikutnya bahwa sebagai gantinya mereka harus mengikuti hukum negara di mana mereka tinggal. Jadi dia mengatakan kepada para pengikutnya di Roma bahwa itu adalah kewajiban agama mereka untuk menyerahkan pada kekuasaan dan kewenangan Romawi:

Biarkan setiap orang tunduk kepada pemerintah, karena tidak ada otoritas kecuali dari Tuhan, dan semua otoritas yang ada telah dilembagakan oleh Tuhan. Oleh karena itu barangsiapa menolak otoritas berarti menolak apa yang Tuhan telah tunjuk, dan mereka yang menolak akan dikenakan hukuman. Karena para penguasa bukan membuat takut kepada perbuatan yang baik, tetapi kepada yang buruk. Apakah kamu ingin tidak merasa takut kepada otoritas? Maka lakukan apa yang baik, dan kamu akan menerima persetujuan mereka; karena ia adalah hamba Tuhan untuk kebaikan kamu. Tetapi jika kamu melakukan sesuatu yang salah, maka kamu harus takut, karena otoritas tidak menanggung pedang secara sia-sia! Ini adalah hamba Tuhan untuk melaksanakan kemurkaan kepada pelaku kesalahan. Oleh karena itu seseorang harus tunduk, bukan hanya karena kemurkaan tetapi juga karena hati nurani. Untuk alasan yang sama kamu juga membayar pajak, sebab para pemerintah adalah hamba Tuhan, sibuk dengan hal yang sangat penting. (Roma 13:1-6)

Ini berarti bahwa Paulus menerima apapun hukuman orang-orang Romawi yang dianggap cocok untuk perzinahan. Jika kita menggunakan apa yang Lukas mengatributkan kepadanya dalam bagian Kisah Para Rasul berikut, maka tampak bahwa pada prinsipnya Paulus tidak kesulitan dengan hukuman mati dan oleh karena itu hukuman mati bagi perzinahan akan diterima kepadanya dalam kasus “otoritas” memutuskan hal itu.

Sekarang jika saya yang salah dan telah melakukan sesuatu yang saya layak untuk mati, aku tidak berusaha untuk menghindari kematian; tetapi jika tidak ada tuduhan mereka terhadap saya, maka tidak seorangpun yang bisa mengubah saya kepada mereka. Saya naik banding kepada kaisar. (Kis 25:11)

Adapun orang-orang Kristen yang datang setelah Paulus, karena fakta bahwa Yesus tidak membawa sistem hukum baru dan Paulus membatalkan hukum agama Yahudi, maka mereka mengembangkan sikap yang agak fleksibel terhadap hukuman mati bagi perzinahan dalam Perjanjian Lama. Tetapi pada saat yang sama mereka mengembangkan lebih ketat, etika seksual yang hampir represif.

Fleksibilitas tersebut tercermin dalam cerita dalam Injil Yohanes dimana eorang wanita tertangkap dalam perzinahan, sebuah cerita yang ahistoris tidak hanya dalam arti bahwa hal itu tidak pernah terjadi tetapi juga dalam arti bahwa penulis asli dari Yohanes tidak pernah menulis cerita itu, yang ditambahkan pada Injil tersebut beberapa abad setelah dia. [7] Kisahnya tidak langsung menolak hukuman rajam tetapi juga tidak sepenuhnya menerima hukuman itu.

Setelah Kekaisaran Romawi menjadi Kristen dengan “konversi” Konstantin, hukum sipil menjadi lebih diterima oleh orang-orang Kristen dan dalam beberapa hal mencerminkan posisi agama Kristen. Constantine (306-337 M) sendiri memerintahkan hukuman mati karena perzinahan. Kaisar Markianus (450-457) dan Leo (457-474) mengubah hal ini menjadi penjara seumur hidup. Pada masa Justinian hukuman ini dimodifikasi menjadi mencambuk wanita tersebut dan menempatkan dia di sebuah biara, dengan suami memiliki hak baik untuk mengeluarkan dia setelah dua tahun atau membiarkan dia tinggal di sana selama sisa hidupnya.

Bagi beberapa pemikir Kristen yang penting dari masa lalu hukuman mati karena perzinahan juga diterima. Thomas Aquinas dalam karyanya Summa Theologia membahas tentang seorang suami yang dengan otoritasnya sendiri ditanya untuk membunuh istrinya karena perzinahan. Jawaban dia adalah bahwa dia tidak bisa. Namun dalam diskusinya, ia mengambil hukuman itu begitu saja bahwa perzinahan merupakan pelanggaran yang paling serius.

Hukum sekuler di tanah Kristen, yang diterima oleh gereja-gereja dengan semangat Roma 13:1-6 dan Kisah Para Rasul 25:11, telah sering menganggap bahwa perzinahan sebagai pelanggaran yang layak dihukum, dengan hukuman mulai dari denda atau penjara atau kematian. Bahkan pada saat ini di sekitar setengah negara bagian di Amerika Serikat perzinahan adalah ilegal. Beberapa anggota Kongres AS telah meminta pemerintah federal untuk menjadikan perzinahan sebagai pelanggaran federal yang layak dihukum atas dasar bahwa itu adalah pelanggaran kontrak perkawinan dan memiliki dampak sosial yang negatif.

Ketatnya etika seksual tercermin dalam pemahaman Agustinus (354-430 M), yang merupakan pembentuk utama teologi Kristen. Agustinus mengajarkan bahwa seks adalah berdosa, bahkan dalam pernikahan, jika hal itu dilakukan sekedar untuk kesenangan nafsu dan bukan untuk kehamilan. Akibatnya, orang yang beriman, jika mereka menikmati seks perkawinan untuk kesenangan nafsu, mereka harus mengakui “dosa” ini di depan imam gereja dan membayar sumbangan.

Dalam sudut pandang pemahaman Kristen pada hubungan heteroseksual normal, tidak mengherankan bahwa agama Kristen juga sangat mengutuk seks yang tidak wajar. Yesus dan murid-murid Yahudi saksi matanya hanya diharapkan untuk menerima pemahaman Perjanjian Lama perihal homoseksualitas. Tetapi bahkan Paulus dan rekan-rekannya – yang telah “membebaskan” diri mereka dari hukum Yahudi- mempunyai pandangan serupa. Dalam Roma dan 1 Korintus, keduanya diterima secara luas sebagai surat otentik dari Paulus di mana kami membaca:

Untuk alasan inilah Tuhan membiarkan mereka pada hawa nafsu yang rendah. Para wanita mereka menukar hubungan sex yang alami dengan yang tidak alami, dan dengan cara yang sama para pria juga mengabaikan hubungan sex alami dengan para wanita, melakukan dengan gairah nafsu satu sama lain. Para pria melakukan perbuatan tanpa rasa malu dengan para pria dan menerima sebagai milik perorangan mereka, penyebab hukuman karena kesalahan mereka. (Rom 1:26-27)

Apakah kamu tidak tahu bahwa yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Tuhan? Jangan tertipu! Pencabul, penyembah berhala, pezina, pelacur laki-laki, sodomi …, tidak ada yang akan mewarisi kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9-10).

Dalam 1 Timotius – yang diatributkan kepada Paulus oleh tradisi tetapi sebenarnya ditulis setelah kematian Paulus oleh salah satu murid-muridnya – sodomi termasuk di antara ” tidak berhukum dan ketidaktaatan “, “yang kafir dan berdosa”, “yang tidak suci dan keji” (1:10). Jude, surat pendek yang konon ditulis oleh seseorang bernama Yudas saudara Yakobus, mengingatkan bidah dengan hukuman ilahiah yang mengunjungi orang-orang Sodom dan Gomora karena keabadian seksual dan mengejar “daging lainnya” (nafsu yang tidak alami) (ayat 7) . Dengan kemungkinan pengecualian dari Rom 1:26, semua referensi ini adalah untuk homoseksualitas di antara manusia.

Seks yang tidak alami tersebut mendorong pada hukuman ilahiah tetapi karena Kristen awal tidak memiliki sistem hukum sendiri, maka hukuman ini bukan hukuman dalam aturan hukum. Kemudian, ketika Kekaisaran Romawi menjadi Kristen dengan konversi Constantine, ada juga sanksi hukum bagi homoseksualitas, yang menjadi semakin bertambah menyakitkan.

Pada tahun 305-6 CE Dewan Elvira melarang pemberian upacara terakhir kepada homoseksual yang melakukan hubungan seks dengan anak laki-laki. Pada tahun 314 CE Dewan Ankara di Asia Kecil dikecualikan semua homoseksual dari menerima sakramen. Pada tahun 390 CE Gregory dari Nyssa mensyaratkan bahwa homoseksual melalui penyiksaan diri selama 15 tahun sebagai penyesalan. Pada tahun yang sama, hukum perdata yang diterbitkan oleh Valetinian, Arcadius dan Theodosius menentukan hukuman mati dengan cara dibakar bagi pelacur homoseksual. Hukuman ini telah diperluas bagi semua [8] homoseksual pasif pada tahun 438 Masehi oleh Theodosius II. Pada tahun 506 CE Roma berada di bawah kekuasaan barbar ketika Alaric II, Raja dari Visigoth memperluas hukuman mati dengan cara membakar homoseksual aktif.

Pada tahun 528 CE di bawah kekaisaran Bizantium Justinianus, uskup Rhodes bernama Isaiah dan uskup Diospolis bernama Alexander “diperiksa dan dikutuk oleh Victor kota sempurna” karena praktek homoseksual. Dia “menyiksa Isaiah secara kejam dan mengasingkan dia dan dia mengamputasi alat kelamin Alexander dan mengarak dia berkeliling.” Justinian “segera memutuskan bahwa mereka yang terdeteksi melakukan homoseksualitas harus diamputasi alat kelamin mereka”. Pada tahun 538 CE Justinian menyatakan homoseksualitas merupakan sebuah kejahatan bid’ah terhadap Allah serta melawan hukum masyarakat, sambil mengutip kisah Sodom untuk dukungan Alkitabiah. Pada tahun 559 ia juga menggunakan surat-surat Paulus sebagai dukungannya dan pada kali ini tampaknya menetapkan pengebirian yang diikuti dengan hukuman mati dengan cara dibakar.

 

Prostitusi sakral

Meskipun perzinahan dianggap sebagai kejahatan pidana pada banyak tradisi pra-Islam, beberapa tradisi yang sama tapa ragu-ragu mendorong seks di luar nikah di kuil-kuil. Sejarawan kuno Herodotus (abad ke-5, mungkin antara 485-420 SM) dan Thucydides (460-395 SM) menyebutkan sebuah praktek prostitusi yang dikuduskan bila dilakukan dalam kuil pemujaan. Herodotus mengatakan: “Ada satu kebiasaan di antara orang-orang ini [Babelonia] dan sepenuhnya memalukan: setiap wanita penduduk asli dari negara tersebut, sekali dalam hidupnya harus pergi dan duduk di kuil Aphrodite [Militta] dan disana memberikan dirinya kepada seorang pria yang aneh.”

Ada juga pelacur sakral laki-laki yang tersedia untuk hubungan homoseksual. Mereka disebut anjing karena pengabdian mereka kepada dewi kuil.

Meskipun Herodotus menggambarkan praktek tersebut sebagai memalukan, budaya Yunani-nya sendiri juga mempraktekkannya. Pada abad sebelum Herodotus, pelacuran didirikan di Athena, pendapatan darinya digunakan untuk membangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Aphrodites Pandemo. Kemudian, di kuil di Korintus, Yunani, ada lebih dari ribuan pelacur, menurut Strabo (64 SM – 24 M).

Prostitusi sakral juga dipraktekkan dalam banyak budaya Fenisia, biasanya untuk menghormati dewi Astarte atau Ishtar. Hal itu juga dipraktekkan di Israel dan, seperti yang kita pelajari dari kisah Alkitab berikut, Yehuda, nenek moyang orang-orang Yahudi juga berpartisipasi di dalamnya, meskipun, kemudian dilarang oleh Taurat dan dikutuk oleh para Nabi seperti Hosea dan Ezekiel.

Yehuda memiliki tiga orang anak bernama Er, Onan dan Selah. Er, anak Yehuda yang pertama lahir, menikah dengan Tamar, tetapi dia jahat dan “Tuhan membunuh dia.” Menurut adat kebiasaan, jika seorang saudara lelaki meninggal dan tidak meninggalkan anak, maka adik lelakinya harus menikahi istri almarhum dan mengabadikan namanya. Jadi Yehuda mengatakan kepada anak lelaki keduanya Onan untuk melakukan tugas ini. Tetapi Onan menjadi cemburu dan berpikir bahwa keturunannya tidak boleh digunakan untuk mengabadikan nama orang lain “dia menumpahkannya di atas tanah” pada saat kritis. Akibatnya Tuhan “membunuh dia juga “… Yehuda mengembalikan Tamar kepada ayahnya sambil mengatakan kepadanya untuk menunggu sebagai janda sampai Selah, putra lelaki yang ketiga, menjadi dewasa dan melakukan tugasnya. Tetapi dalam hatinya dia tidak pernah bermaksud untuk menikahkan Selah kepada Tamar “barangkali supaya ia jangan mati juga, sebagaimana yang dialami saudara-saudaranya”. Pada saat Selah telah dewasa, Yehuda tidak menikahkan dia dengan Tamar, sehinggaTamar memutuskan untuk membalas dendam kepada ayah mertuanya. Kesempatan bagi Tamar datang ketika ia mengetahui bahwa Yehuda datang ke desanya untuk memotong bulu domba-dombanya. Dalam keadaan tertutup dalam kerudung ia duduk di jalan di pintu masuk desa bernama Enaim, dan ketika Yehuda, dimana sekarang dirinya telah menjadi duda, melihat dia, “dia mengajaknya untuk menjadi seorang pelacur”. Dia datang menghampiri Tamar dan dia tidak mengenalnya, dan mengusulkan:. “Ayo, biarkan aku datang kepadamu.” Tamar menanyakan suatu harga dan Yehuda berjanji akan mengirimi Tamar seekor anak kambing. Sebagai jaminan dia menerima”tanda tangannya, gelang, dan tongkat”. Kemudian orang tua itu “mendatanginya, dan ia hamil karena Yehuda”. Yehuda mengirim seorang teman untuk menyampaikan kepadanya anak kambing dan mendapatkan kembali barang-barangnya. Si teman tersebut bertanya di desa tersebut “Dimana qedsha yang ada di Enaim di pinggir jalan?”. (Kata qedsha di sini dengan akar q-d-sh, mengandung pengertian kekudusan yang berarti pelacur suci atau, sebagaimana diterjemahkan oleh NRSV, pelacur kuil). Teman Yehuda tidak menemukan jejak Tamar dan kembali kepada Yehuda. Tiga bulan kemudian Yehuda mendengar kabar bahwa putri menantunya sedang “mengandung anak dengan bersundal”. Geram dengan berita itu, Yehuda berteriak:” Bawalah dia keluar dan biarkan dia dibakar”. Wanita muda yang sedang balas dendam tersebut hanya mengirimi dia kembali meterainya, gelang, dan tongkat. Karena mengenali barang-barang tersebut sebagai miliknya, Yehuda mengakui kesalahannya, karena tidak menikahkan anaknya yang masih hidup dengan Tamar (Kej 38:1-26).

Ada juga pelacur laki-laki (qedeshim) di Palestina, seperti yang kita lihat di Ul 23:17-19, yang melarang anak-anak wanita dan anak-anak lelaki Israel dari menjadi pelacur kuil dan melarang menggunakan setiap perolehan dari pelacuran seperti itu untuk membiayai kuil, termasuk mahir kelev, “bayaran dari seekor anjing”, yang mengacu pada bayaran kepada pelacur pria.

Di Romawi kuno, para pendeta dari dewi Vesta memprakarsai para lelaki muda untuk melakukan hubungan seks ketika mereka mencukur kepala mereka ketika memasuki kependetaan. Mereka juga tetap menyalakan api di kuil. Penggunaan api yang selalu menyala telah tercatat di banyak kuil-kuil pantai, dan mungkin dimaksudkan untuk memandu para pelaut ke kuil dalam kasus ketika mereka ingin menggunakan jasa para pelacur kuil tersebut.

Sampai tahun 1988, di India selatan masih ada praktek yang disebut devadasi. Ini melibatkan menikahkan para gadis remaja kepada seorang dewa atau sebuah kuil dan menjadikan mereka mempraktekkan prostitusi ketika mereka mencapai pubertas. Hanya anggota kasta golongan atas yang dapat menggunakan layanan ini.

 

Cahaya Al-Quran

Jika sekarang kita membandingkan hukuman bagi pezina di Al-Quran dan dalam tradisi sebelum Islam, maka menjadi jelas bahwa Al-Quran memiliki kesinambungan dengan tradisi-tradisi sebelumnya dan pada saat yang sama membuat lompatan besar dengan mereformasi tradisi-tradisi tersebut, sehingga mewujudkan cinta dan kebijaksanaan ilahi yang merupakan sumbernya.

Kontinuitas tersebut tercermin pada fakta bahwa hampir semua tradisi pra-Islam secara universal mengakui bahwa beberapa bentuk hubungan seks seperti perzinahan, hubungan sedarah, homoseksualitas, dan hubungan dengan binantang harus dikutuk dan dalam beberapa kasus dihukum melalui pengadilan. Al-Quran menegaskan kebijaksanaan universal dari masa pra-Islam ini.

Lompatan besar ke depan tercermin dalam reformasi berikut:

  1. Tidak seperti Kristen Katolik, Al-Quran tidak menganggap kenikmatan seksual sebagai dosa. Menurut sudut pandang Al-Quran  kenikmatan seksual menjadi dosa jika dicari diluar  pernikahan, yaitu diluar dari sebuah hubungan serius yang dikenal publik yang dapat menjamin kesejahteraan anak-anak.
  2. Tidak seperti beberapa budaya pagan, tidak ada tempat di Al-Quran bagi “prostitusi suci” yang didasarkan pada gagasan seks untuk menyenangkan seorang dewi seks – Astate atau Ishtar atau Aphrodite.
  3. Tidak seperti hampir semua tradisi pra-Islam, Al-Quran tidak membuat perbedaan antara laki-laki dan wanita yang melakukan pelanggaran heteroseksual, baik dalam tingkat dosa maupun dalam hukuman.
  4. Hampir semua tradisi pra-Islam cukup toleran kepada kaum pria, baik yang sudah menikah ataupun yang belum menikah, yang melakukan hubungan seksual dengan wanita yang belum menikah. Al-Quran sangat menekankan kesucian pernikahan dengan menjadikan semua hubungan heteroseksual di luar nikah dihukum yang sama.
  5. Tidak seperti beberapa tradisi pra-Islam seperti Yudaisme dan Hindu, di Al-Quran atau pemahaman fuqaha hukuman seorang muslim tidak bergantung pada kasta atau ras atau agama atau status sosial orang tersebut dengan siapa zina dilakukan. Dalam Al-Quran, hukuman seorang Muslim hanya bergantung pada apakah si lelaki atau si wanita itu seorang yang merdeka atau budak dan hukuman bagi seorang budak, tidak seperti hukuman untuk orang berkasta rendah dalam Hindu atau seorang kafir dalam Yudaisme tidak bertambah berat tetapi justru lebih ringan. Dalam pandangan kebanyakan fuqaha hukuman tersebut juga tergantung pada status perkawinan dari muslim yang melakukan zina. Adapun bagi seorang non-Muslim, Al-Quran tidak memberikan panduan yang eksplisit [9]. Fuqaha memberikan ketentuan bagi pezina lelaki dan wanita dengan hukuman yang sama sebagai seorang Muslim atau hukuman yang lebih ringan ecil atau hukuman yang ditentukan di tradisi hukum milik mereka sendiri [10].
  6. Tidak seperti kebanyakan tradisi pra-Islam, dalam Al-Quran suami tidak memiliki wewenang untuk melaksanakan hukuman bagi zina atas dasar penilaiannya sendiri. Jika ia mencurigai bersalah pada pihak isteri, dia bisa menuduh isterinya dengan sumpah yang telah ditentukan. Tetapi si istri bisa mencegah adanya hukuman dengan menolak tuduhan tersebut dengan sumpah serupa. Dia tidak akan mengalami cobaan yang menyakitkan dan memalukan, sebagaimana cobaan air pada hukum Babilonia, melewati api dalam agama Hindu atau cobaan  Sotah dalam Yudaisme. Perkataan si isteri adalah sebaik perkataan si suami.
  7. Hukuman Al-Quran berupa 100 cambukan sudah cukup menyakitkan dan efektif. Tetapi tidak mengarah kepada amputasi atau hilangnya nyawa, seperti yang terjadi dalam kebanyakan tradisi pra-Islam [11].
  8. Untuk hubungan seks yang tidak normal Al-Quran menekankan adanya reformasi dengan hukuman seperti penjara rumah untuk wanita dan beberapa bentuk hukuman lain – diserahkan kepada pihak berwenang untuk menentukannya – untuk pria (lihat Bab 5). Seperti disebutkan sebelumnya, penjara juga merupakan hukuman bagi perzinahan dalam kode dari kaisar Kristen Justinianus. Tetapi di penjara kode Justinianus adalah untuk seumur hidup kecuali si suami mengambil kembali si wanita dalam waktu dua tahun. Sebaliknya, di Al-Quran penahanan dapat berakhir kapan saja dan bukan hanya jika si suami memutuskan untuk mengambil dia kembali, tetapi setiap keadaan baru dengan janji rehabilitasi yang wajar dari si wanita dapat menjamin pembebasannya.

Sayangnya, bahkan beberapa Muslim zaman dahulu tidak sepenuhnya menghargai cahaya dan kebijaksanaan dalam Al-Quran, sebagaimana yang akan ditunjukkan di akhir buku ini. Sementara Al-Quran membuat kemajuan yang luar biasa maju atas berbagai tradisi dan budaya pra-Islam, Muslim tersebut justru bergerak mundur, bahkan mencoba menarik Islam menjadi serendah tradisi mereka dengan cara mendistorsi dan memalsukan tentang  “ayat” rajam, hukuman mati untuk seks yang tidak normal, dan cerita tentang perajaman pezina lelaki dan pezina wanita yang konon katanya dilakukan oleh Nabi. Yang lebih disayangkan adalah bahwa mereka berhasil mengedarkan begitu banyak ahadits palsu sehingga pada generasi berikutnya Muslimin kebanyakan tidak dapat membebaskan diri dari ahadits tersebut.

[1] Winkler, “Die Hammurabis Gesetze”, Leipzig, 1902, 10.

[2] Menariknya, hal ini mendorong ahli bedah Mesir untuk mengembangkan operasi plastik.

[3] Kata Sanskerta untuk kasta adalah varna yang juga berarti warna. Ini mendukung pandangan bahwa sistem kasta pada awalnya dikembangkan untuk melestarikan kemurnian rasial para penjajah Arya yang mempunyai warna kulit yang cerah wajar yang tinggal menetap di antara Dravidians yang mempunyai warna kulit yang lebih gelap.

[4] Tidak jelas bagaimana aturan tersebut disajikan sejauh ini jika dikaitkan dengan aturan berikut:

“Mengenai seorang Sudra yang melakukan hubungan sex dengan seorang wanita yang berasal dari seorang kasta dua kali lahir (yaitu tiga kasta lain yang lebih tinggi), yang dijaga atau tidak dijaga: jika si wanita tidak dijaga, maka ia kehilangan bagian (yang melakukan pelanggaran) dan semua harta miliknya, jika ia dijaga, kehilangan segalanya (termasuk hidupnya). Untuk hubungan sex dengan seorang Brahmana yang dijaga, seorang Vaisya harus kehilangan semua hartanya setelah dipenjara selama satu tahun, seorang Ksatria harus didenda seribu (pana) dan dicukur dengan air kencing (dari seekor keledai). Jika seorang Vaisya atau seorang Ksatria melakukan hubungan sex dengan Brahmana yang tidak dijaga, biarkan dia mendenda Vaisya tersebut lima ratus (pana) dan Kesatria seribu. Tetapi meski kedua ini, jika mereka melakukan pelanggaran dengan seorang Brahmani (tidak hanya) yang dijaga (tetapi juga istri dari seorang yang terkemuka), maka harus dihukum seperti seorang Sudra atau dibakar dengan api dari rumput kering. ”

“Jika seorang Vaisya mendekati wanita yang dijaga dari kasta ksatria, atau seorang Ksatria  atau seorang Vaisya wanita (yang dijaga), mereka berdua layak menerima hukuman yang sama seperti dalam kasus seorang wanita Brahmana yang tidak dijaga. Seorang Brahmana harus dipaksa untuk membayar denda seribu (pana) jika ia melakukan hubungan sexual dengan (wanita yang) dijaga dari kedua (kasta), karena (melakukan pelanggaran dengan) seorang wanita Sudra (yang dijaga) denda seribu (pana harus dijatuhkan) kepada seorang Kesatria atau seorang Vaisya. ”

“Untuk (hubungan seksual dengan) seorang Ksatria yang tidak dijaga, denda lima ratus (pana harus dijatuhkan) kepada seorang Vaisya; tetapi (untuk pelanggaran yang sama) seorang Ksatria harus dicukur dengan air kencing (keledai) atau (membayar) denda yang sama . ”

[5] Hukuman bagi seorang Brahamana tertulis sebagai berikut:

“Seorang Brahmana yang secara nafsu jasmani mengetahui seorang Brahmani yang dijaga tentang keinginan dirinya, harus didenda seribu (pana), tetapi ia harus membayar lima ratus, jika ia melakuakan hubungan sex dengan seseorang yang bersedia. Mencukur kepala adalah ditahbiskan bagi seorang Brahmana (sebagai ganti) hukuman mati, tetapi kasta lainnya akan menderita hukuman mati”.

“Seorang Brahmana yang mendekati wanita Ksatria atau Vaisya yang tidak dijaga, atau seorang wanita Sudra, harus didenda lima ratus (pana); tetapi (jika bersetubuh dengan) seorang wanita (dari) (kasta) terendah, didenda seribu.”

[6] Lihat juga Yeremia 29:21-23 dan Kejadian 38:24. Pada bagian pertama dari bagian ini, Yeremia bernubuwat bahwa Allah akan memberikan Zedekia tertentu, anak dari Maaseya, dan Ahad, anak Kolaya, kepada Raja Babilonia yang akan memanggang mereka hingga mati karena mereka nabi-nabi palsu dan melakukan perzinahan dengan tetangga istri mereka. Pada bagian kedua, Yehuda belajar bahwa menantunya sedang hamil dari persundalan dan ia mengatakan: “bawa dia keluar dan biarkan dia dibakar”.

[7] Hal ini sekarang diakui oleh hampir semua terjemahan dari Perjanjian Baru.

[8] Alasan kenapa hukum pada awalnya jauh lebih keras bagi homoseksual pasif nampaknya bahwa ia benar-benar muncul dari sifat laki-lakinya. Para homoseksual aktif mempertahankan sesuatu dari kelelakian normal, karena dia melakukan fungsi khusus laki-laki berupa penetrasi. Juga, homoseksual pasif kebanyakan bekerja sebagai pelacur dan ada anggapan bahwa jika prostitusi homoseksual dihentikan, maka akan mengurangi homoseksualitas. Hukuman yang keras telah ditingkatkan di kemudian hari kepada homoseksualitas aktif mungkin karena hukuman yang kejam kepada kaum homoseksual pasif tidak menghentikan homoseksualitas dan juga karena setelah Kristen Agustinus cenderung untuk melihat semua hubungan seksual dengan sudut pandang terburuk yang mungkin.

[9] Dalam 4:15-15 hukuman dianjurkan bagi pelanggaran seksual bagi “para wanita [Muslim] kamu” dan bagi para laki-laki “di antara kamu”. Hal ini menunjukkan bahwa hukuman tersebut adalah sebagai sebuah aturan yangg dimaksudkan bagi mereka yang menerima Islam. Dalam pemahaman ini dan semangat Al-Quran secara umum, seorang non-Muslim harus dihukum sesuai dengan tradisi hukum mereka sendiri. Di masa modern ketika beberapa sistem hukum yang ada tidak memberi hukuman bagi kasus zina, maka hal itu akan diperlukan bagi sebuah masyarakat muslim untuk melindungi nilai-nilainya dengan beberapa hukuman bagi non-muslim yang mungkin sama seperti umat Islam.

[10] Menurut kebanyakan fuqaha penduduk non-Muslim di negeri Muslim dihukum seperti seorang Muslim, sehingga ia tidak harus diperlakukan lebih kasar dari pada seorang Muslim. Menurut Imam Malik, hukuman yang ditetapkan untuk zina dimaksudkan hanya untuk umat Islam, sehingga untuk penduduk non-muslim hukum mereka sendiri akan berlaku. Menurut pandangan yang dikaitkan dengan Imam Abu Hanifah, seorang non-Muslim tidak pernah menjadi Muhsin, karena untuk ihsan perlu menjadi seorang Muslim. Akibatnya, kematian dengan rajam tidak berlaku bagi seorang non-Muslim.

Sedangkan bagi non-Muslim yang sedang berkunjung di negeri Muslim, menurut beberapa fuqaha ia dikenakan hukuman Islami, tetapi menurut yang lain ia dikenai hukum menurut negara dia.

[11] Untuk mencuri ada pemotongan tangan, tetapi mencuri itu bukan sebagai sebuah dorongan yang sealami dorongan seksual, kecuali dalam kasus kemiskinan yang serius, yang dalam hal ini aturan keharusan Al-Quran dan beberapa hadits mensyaratkan tidak boleh ada pemotongan tangan.

2 thoughts on “HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (4)

  1. hasbi says:

    vidio rajam di arab

  2. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحمَّد

    HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (4) | ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: