BAB XXIV. PERAN MEDIA PROPAGANDA DALAM MENEGAKKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

1

June 25, 2011 by Islam saja

Sekarang setelah menjadi jelas bahwa doktrin kemahdian (percaya kepada adanya Muhammad bin Hasan al-Askari) diciptakan oleh beberapa ghulat dan mutakalimin, dan orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi, yang setelah itu mengklaim untuk diri merka bahwa mereka wakil Imam yang sedang ghoyb. Adalah jelas juga bahwa doctrin tersebut pada kenyataannya tidak valid dan hanya sekedar hipotesis akal yang dikemukakan pada zaman kebingungan setelah wafatnya Imam al-Askari yang tidak meninggalkan seorang anakpun yang akan mewarisi Imamahnya. Setelah semua penjelasan ini, pertanyaan yang sewajarnya akan muncul adalah:

  • Bagaimana kemudian sebuah hipotesa akal dan doktrin seperti ini menemukan jalannya sehingga merasuki akal pikiran dan hati jutaan umat Islam Syiah 12 Imam dan lain-lainnya sepanjang sejarah?
  • Dan bagaimana doktrin tersebut menjadi mapan dan kuat?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kami harus mengatakan:

Bahwa Syi’ah awal pada zaman para Imam dari Ahl al-Bayt (AS) sama sekali tidak mengenal doktrin ini, dan bahkan Syiah pada periode yang masih dekat dengan zaman setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari sama sekali juga tidak mengenal doktrin ini. Adalah benar bahwa Syiah Imamiah pada zaman itu terjun ke dalam lembah kebingungan ketika mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada pewaris Imamah yang nampak yang menggantikan Imam mereka saat itu (Hasan al-Askari). Identitas Mahdi secara utuh tidak dikenal oleh mereka dan merupakan salah satu persoalan yang mengenainya tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Orangnya tidak spesifik dengan nama tertentu untuk posisi tersebut. Nyatanya, hanya salah satu dari 14 (empat belas) faksi yang mengemukakan tentang adanya seorang putra dari Imam Hasan al-Askari. Hal ini berarti bahwa pada periode dekat sebelum ghoybah tidak terdapat suara bulat diantara Syiah mengenai masalah ini (bahwa Imam Hasan mempunyai seorang putra). Beberapa Syiah mungkin telah cenderung mengangkat doktrin ini.

Kemudian setelah selama hampir lima puluh tahun, Syi’ah pada umumnya meninggalkan ide tersebut dan menarik diri dari ide itu. Kulayni (dalalam al-Kafi) dan Khussaibi (dalam al-Hidayatul Kubra) telah mendokumentasikan fenomena pembatalan opini yang mengatakan bahwa seorang anak pernah ada bersama teman-temannya sesama murid di suatu kota. (1)

Murid Kulayni, Muhammad bin Abi Zainab al-Numani (wafat 340 H) menyatakan dalam bukunya (al-Ghoybah): “Saya melihat sekelompok orang penganut Sekte Syi’ah dan percaya pada Imamah terpecah dalam tindakan dan kata-kata mereka. Semua orang, kecuali sedikit cenderung untuk bertanya tentang eksistensi Imam pada zaman mereka, pelindung mereka, hujjah dari Tuhan mereka. Keragu-raguan dan kecurigaan terus mengahantui pikiran mereka… Dan sebagai hasilnya, mereka mengalami kebingungan, kebutaan dan kehilangan yang mendalam. Hanya sedikit kebaikan yang masih ada pada mereka. (2)

Pada bagian lain dalam bukunya, ia menyatakan: “Kebingungan tersebut lebih besar daripada sekedar bingung yang telah menimpa sekelompok besar masyarakat. Karena permasalahan inilah banyak orang yang telah meninggalkan paham Syi’ah hingga hanya tersisa sedikit, yaitu mereka yang menganut sekte ini, semua ini karena ketidakpastian yang dihadapi oleh orang-orang“ (3).

Al-Numani meriwayatkan sejumlah ahadits yang berbicara tentang terjadinya kebingungan setelah ghoybah. Ia menggambarkan keadaan kebingungan yang melanda komunitas Syiah pada zaman itu, sambil berkata: “Kebanyakan dari mereka berkata di balik tirai:

  •  Ok, dimana dia dan dimana ia bisa ditemukan?
  • Sampai kapan ia tetap bersembunyi dan hingga umur berapa, sementara saat ini dia telah berumur lebih dari 80 (delapan puluh) tahun?“.

Beberapa dari mereka tetap berpendapat bahwa ia sudah wafat, dan beberapa dari mereka menolak kelahirannya dan kemudian menyangkal angan-angan keberadaannya, dan mereka mengolok-olok kepada mereka yang menganut kepercayaan tersebut. Beberapa dari mereka melihat bahwa periode menunggu terlalu panjang dan melampau batas waktunya. Dia berkata: “Kebanyakan Syiah pada zaman itu telah meninggalkan (paham Syiah) dan terombang-ambing ke kanan dan ke kiri…Generasi yang lebih belakangan percaya kepadanya setelah kehilangan harapan. Mereka mengolok-olok kepada mereka yang percaya pada doktrin Imamah; dan menggambarkan mereka sebagai kelompok yang tidak punya harapan. Ia menggambarkan mereka yang percaya kepada adanya Imam ke-12 sebagai sekelompok kecil orang dari sejumlah besar Syi’ah yang terpisah karena semangat dan percaya pada adanya Imam ke-12, meskipun orang dan ghoybah-nya yang lama sebenarnya tidak ada dan tidak terjadi. (4)

Sheikh Mohammed bin Ali bin Babawayh Saduq (wafat 381 H) pada pendahuluan bukunya (Ikmal al-Din Wa Itmam al-Ni’mah) mengemukakan tentang keadaan kebingungan yang melanda Syiah, sambil berkata: “Saya menemukan kebanyakan Syi’ah yang datang kepada saya untuk mendapatkan nasehat dalam keadaan kebingungan tentang ghoybah. Diantara mereka, beberapa adalah mereka yang diombang-ambingkan tentang urusan Qoim (satu-satunya yang bangkit) yang mencurigakan dan merevisi penggunaan pandangan dan metodologi tersebut. Seorang syekh yang dihormati diantara orang-orang yang diberi kebijaksanaan, kehormatan dan kecerdasan datang kepada kami di Qum dari Bukhara, ketika ia berbicara kepada saya suatu hari, ia bercerita tentang seorang pria yang telah ia temui di Bukhara, seorang filsuf terbesar dan ahli mantiq mengatakan tentang Qoim dalam kondisi kebingungan dan ragu-ragu tentang urusannya. (5)

Kulayni dan Numani dan Saduq telah melaporkan sejumlah ahadits yang mengkonfirmasi terjadinya kebingungan setelah Ghoybah Sahib al-Zaman dan keretakan telah terjadi diantara komunitas Syiah, demikian juga disintegrasi mereka selama periode itu dan saling tuduh satu sama lain, menuduh mereka murtad, saling menghina dan bahkan yang satu mengutuk yang lain. Ia menceritakan kepada kami bagaimana Syi’ah terombing-ambing seperti sebuah perahu dalam arus air yang kuat dan bagaimana mereka pecah seperti kaca atau keramik. Ia juga menyebutkan perkataan mereka bahwa Shahib al-Amr telah wafat dan bagaimana umumnya mereka menjadi bimbang dan tidak lagi mantap pada keyakinan mereka, kecuali sedikit dari mereka.(6). (Note: rupanya mengutuk dan mencaci merupakan budaya Syiah Parsi sejak zaman dahulu, bahkan sesama mereka sendiri)

Terlepas dari berbagai ahadits yang dibuat atau diambil dari gerakan kemahdian zaman dahulu, namun fakta bahwa Kulayni, Nu’mani, Khussaiby dan al-Saduq dan lainnya yang juga mengutip dan menggunakan ahadits ini pada Syi’ah pada abad keempat, mengungkapkan permulaan kebiasaan Syi’ah pada umumnya dalam mengotbahkan doktrin tentang adanya Muhammad bin Hasan al-Askari pada zaman itu, setelah menyokong doktrin itu pada suatu zaman sebelumnya. Jika suatu zaman di kemudian hari doktrin tersebut telah menjadi mapan yang tidak bisa dipertanyakan dan tidak bisa diubah pada sebagian Syi’ah, yang dijuluki Syian 12 Imam, maka hal ini bisa terjadi karena proses propaganda masal yang dilakukan oleh para pengklaim wakil Mahdi yang lihai dan kaki tangannya, dan dampaknya telah berkembang jauh hingga hari ini. Proses propaganda tersebut terdiri dari, antara lain adalah:

1.  Sirkulasi berbagai hadits palsu

Ahadits tersebut berisi kisah bohong tentang adanya pembatasan jumlah Imam yang hanya 12 orang dan tentang adanya Mahdi, Imam ke-12. Hal ini telah diuraikan dan dikritik pada bab-bab terdahulu dan pada bab kritik terhadap bukti keberadaan Mahdi (bab XVI – XVIII).

2. Media propaganda.

Para pemilik teori ini, selain itu, telah melakukan serangkaian propaganda yang menuduh mereka yang tidak percaya tentang adanya Mahdi (Muhammad bin Hasan al-Askari) sebagai kafir, murtad, perbuatan maksiat dan sesat. Dan dikhotbahkan bahwa penolakan terhadap adanya Imam Mahdi sama dengan penolakan terhadap adanya Nabi (Muhamad SAW), sebagai pembohong dan menolak Nubuwwah. (7)

Mereka menggunakan sarana informasi publik untuk mengkhotbahkan beberapa ahadits kuno tentang: “barang siapa mati dengan tidak mengetahui Imam pada waktu itu (Imam al-Zaman) dianggap mati jahiliyyah“. Mereka menafsirkan hadits tersebut sebagai “mengetahui Tuan Zaman (Shohib al-Zaman) dan Pemimpin pada zaman ini (Shohib al-Amr) adalah Pembimbing yang ditunggu (Al-Mahdi Al-Muntadhor)“ dan menganggap setiap orang yang tidak mengetahui dan tidak percaya tentang hal ini ia akan mati sebagai mati jahiliyyah, meskipun tidak ada infromasi tentang cara untuk mengenal kehadiran Mahdi dan bagaimana cara berkumpul di sekitar Mahdi dan bagaimana cara mendukung dia dan mengikuti dia. (8)

Muhammad bin Uthman Al-Umari (Wakil Mahdi ke-2 yang diakui oleh Syiah 12-Imam) mengatakan bahwa dia mendengar Hasan al-Askari mengatakan: “Barangsiapa mati tanpa mengetahui anak saya telah mati jahiliyyah“.

Al-Umari telah berbuat terlalu jauh dalam kampanyenya yang sangat ofensif dimana ia menuduh mereka yang merasa skeptis tentang adanya Mahdi sebagai orang yang memisahkan diri dari al-Diin (murtad), orang yang ragu-ragu dan keras kepala terhadap al-Haq. Ia membuat dekrit atas nama Mahdi yang isinya mencela orang-orang yang tidak percaya kepadanya dan mengancam dengan azab yang berat. Tentu saja Sheikh Abu Abdullah Ja’far al-Humairi al-Qummi dan Saad bin Abdullah Al Asy `ari Qummi (keduanya dari Qum), telah sangat membantu menyebarkan dekrit tersebut di kalangan Syiah pada zamannya.

3. Doa dan kunjungan ritual.

Doa-doa dan kunjungan ritual memainkan peranan yang paling penting sebagai media yang sangat memberikan kontribusi dalam proses penegakan doktrin kemahdian (Mahdi Muhammad bin al-Hasan) di antara Syiah, karena doa-doa dan kunjungan ritual mempunyai peranan penting yang berpengaruh secara internal dalam kehidupan orang-orang. Syiah terus menerus membaca doa-doa segera setelah setiap sholat dan setelah upacara-upacara keagamaan. Mereka juga rajin mengunjungi makam Imam yang sudah wafat setiap hari Jum’at.

Doa-doa dan kunjungan yang secara umum dilakukan oleh Syi’ah dibagi menjadi dua bagian:

A. Doa-doa yang bersifat umum

Doa-doa tersebut sebenarnya bersifat umum dan tidak spesifik ditujukan kepada Muhammad bin Hasan al-Askari, tetapi berkisar sekitar Qoim (Satu-satunya yang akan bangkit) atau bersifat umum. Contoh dari ini adalah doa untuk Tuan komando (Du’a Shohib al-Amr), merupakan do’a selama periode okultasi Imam, yang ditrasmisikan dari Imam-imam sebelumnya seperti Imam Baqir, Imam Sadiq, Imam Kadhim dam Imam Ridha. Do’a ini cocok bagi kondisi ketidakpastian terkait dengan permasalahan Mahdi itu sendiri dan tidakadanya identifikasi tentang dia pada zaman ketika para Imam masih hidup. Kita telah mendiskusikan hal ini pada bab-bab sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kata-kata dalam do’a kunjungan ritual ditransmisikan dari warisan Syiah zaman sebelumnya, misalnya dari beberapa sub sekte Syi’ah seperti al-Waqifiyyah yang percaya bahwa Imam Kadhim adalah Mahdi. Generasi Syi’ah belakangan telah menerapkan doa-doa dan kunjungan ritual tersebut kepada Muhammad ibn al-Hasan, seorang Mahdi yang dianggap wujud sesuai asumsi awal mereka. Sehingga suatu saat tercipta kondisi zaman di mana nama Mahdi kehilangan makna umumnya, dan menjadi bermakna lain, yaitu hanya Imam Muhamad bin Hassan al-Askari. Tidak lagi ada yang mempertimbangkan hal yang meragukan dari ahadits tersebut dan tidakadanya identifikasi yang jelas siapa sebenarnya Madi yang dimaksudkan oleh hadits tersebut.

B. Do’a-do’a yang bersifat khusus.

Terdapat doa-doa yang didalamnya nama Muhammad bin Hasan al-Askari disebutkan, sebagai contoh: doa pada bulan Ramadan dan doa pada saat mengawali dan mengakhiri pembacaan al-Quran. Contoh lainnya adalah doa pada hari ke-13 bulan Ramadan, doa-doa Perjanjian dan al-Nadbah. Sebagai tambahan dari itu, mereka melakukan kunjungan ritual ke makam para Imam mereka dan mengunjungi ruang bawah tanah tempat dimana Mahdi dahulunya dianggap bersembunyi di Samirra’i (Surr man Ra’a) yang dikenal sebagai Bab al-Ghoybah. Doa-doa dan kunjungan ritual ini disusun secara terpisah ataupun disertkan dalam kumpulan ahadits. Mereka juga melakukkan doa-doa umum yang nama Mahdi ditambahkan ke dalamnya.

Yang berbeda dari doa-doa dan kunjungan ritual ini adalah ketika nama Mahdi disebutkan secara khusus setelah daftar nama-nama imam satu per satu secara berurutan, mereka mengabaikan rantai transmisi (asanid) ahadits dan bergantung pada perawi yang tidak dikenal. Perlu digarisbawahi di sini bahwa do’a-do’a tersebut asalnya dari Utsman bin Saeed Al-Umari (Pengklaim Mahdi I) atau Muhammad bin Utsman al-Umari (Pengklaim mahdi II) atau Al-Hussein bin Roh Nukhbati (Pengklaim Mahdi III) atau Muhammad bin Ja’far al-Himyari – salah seorang kaki tangan al-Umari di kota Qom.

Diriwayatkan oleh Sayyid Ibnu Tawus (di Muhj al-Da’wat) sebuah do’a di mana ia melihat cocok untuk diucapkan pada hari ghoybah, dan ia mengatakan bahwa ia melihat seseorang di dalam mimpi yang memberitahu tahu dia do’a itu! (11).

Al-Majlisi meriwayatkan sebuah hadits melalui otoritas Ali bin Mohammad bin Abdul Rahman al-Bashari yang berkata: “Suatu kali saya memasuki masjid Sa’sa’ah (di Kufa). Di sana saya melihat seorang pria dengan pakaian Hijaz dan memakai sebuah turban seperti orang-orang Hijaz, mengucapkan do’a ini yang dimulai dengan kalimat: “Ya Rob-ku yang kebaikannya berlimpah ruah…”. Dan kemudian ia membungkuk untuk sujud yang panjang, setelah itu ia bangun dan duduk diatas punggung unta dan pergi. Sahabat saya kemudian berkata kepada saya: “Demi Allah, itu adalah Sahib al-Zaman” (12).

4. Ritual-ritual dan cerita-cerita yang terkait dengan melihat Mahdi di dalam mimpi.

Sebagai tambahan terhadap adanya do’a dan kunjungan ritual yang dilaporkan terkait Mahdi, ada beberapa ritual yang memainkan peranan yang penting dalam mengokohkan doktrin tentang adanya Mahdi, yang mengubah sebuah khayalan menjadi menjadi sebuah realitas di benak kaum Syiah 12-Imam. Sebagai contoh, membungkuk ketika mereka mendengar nama al-Qoim dan bangun berdiri untuk menghormati dia. Inilah yang dilakukan komunitas religius Syiah pada umumnya hari ini dan sudah dilakukan sejak zaman dahulu (sejak dipropagandakan). Dan hal ini mengakibatkan adanya rasa hormat, kagum, memuliakan dan kesadaran akan kehadiran Mahdi dan memperlakukannya seperti terhadap manusia yang hidup yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

Terdapat banyak cerita yang beredar di kalangan elit dan komunitas utama Syiah tentang melihat Mahdi dan bercakap-cakap dengannya yang dialami oleh masyarakat biasa maupun para ulama. Al-Majlisi telah meriwayatkan sejumlah besar cerita seperti ini dalam koleksinya yang berjudul Bihar al-Anwar, vol 51. Semua ini memainkan peranan penting dalam mempromosikan doktrin kemahdian dan mengubah sebuah khayalan menjadi cerita yang lebih mendekati kenyataan, terutama karena ia telah meriwayatkan kisah-kisah itu yang diatributkan kepada sekelompok orang-orang sholeh dan ulama yang zuhud dan terkemuka.

Di Kufah, di Irak terdapat sebuah masjid yang disebut masjid al-Shala yang dikenal sebagai masjid Imam Mahdi. Dikatakan bahwa barang siapa yang tekun/ khusus’ melakukan sholat di masjid itu selama empat puluh hari Rabu malam, akan bisa melihat Imam Mahdi. Terdapat beberapa masjid di sana-sini di Irak, yang dikenal sebagai Maqomat atau tempat suci Imam Mahdi. Telah didesas-desuskan bahwa Imam Mahdi pernah terlihat sholat di tempat-tempat itu dan oleh karena itu masjid-masjid dibangun tempat itu. Masjid-masjid atau tempat-tempat suci itu juga memainkan peran penting dalam mempromosikan keimanan pada doktrin kemahdian yang dikemukakan oleh Syiah 12-Imam, yang mengubah suatu dugaan/ khayalan menjadi realitas fisik yang dialami oleh orang-orang dan melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.

Dengan cara inilah, propaganda penyebaran kemahdian dengan berbagai aspeknya telah memainkan peranan yang besar dalam menyebarkan doktrin adanya Imam Mahdi dan menetapkannya dalam pikiran komunitas Syiah kebanyakan. Semua ini juga mengubahnya dari alam mitos, dugaan, khayalan menjadi fakta yang sudah jelas kebenarannya yang tidak perlu dipertanyakan, (Note: seperti kasus Yesus adalah Tuhan).

Referensi:

1. Al-Kafi vol. 1 hal. 518 dan Al-Nihayah hal. 360.

2. Al-Nu’mani: al-Ghoybah hal. 20.

3. Ibid. hal. 186.

4. Ibid. hal. 157.

5. Ibid. hal. 3.

6. Al-Kafi vol. 1 hal. 336, 340; al-Ghoybah hal. 89, 206, 208; Ikmal al-Din hal. 408; Uyun al-Akbar oleh al-Riada hal. 68.

7. Saduq: Ikmal al-Din hal. 338, 361, 409, 410, 412, 413.

8. Ibid. hal. 412, 113

9. Ibid. hal. 409.

10. Al-Sahifah al-Mahdiyyah oleh Ibrahim bin al-Muhsin al-Kashani hal. 97; Mafatih Jinan oleh Sheikh Abbas al-Qumi hal. 588; al-Syi’ah wa al-Raj’ah oleh Sheikh al-Tusi hal. 202; Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi vol. 18 hal 439.

11. Mikyal al-Makarim fi Fawa’id al-Du’a Li al-Qa’im oleh Muhammad Taqiyyu al-Musawi al-Isfahani hal. 101.

12. Al-Sahifah al-Mahdiyyah oleh al-Kashani hal. 138.

One thought on “BAB XXIV. PERAN MEDIA PROPAGANDA DALAM MENEGAKKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

  1. guest says:

    Anda perlu menyimak propaganda baru untuk kembali kepada hukum al-Qur’an

    http://myquran.com/forum/showthread.php/26953-1400-tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: