XXIII. PERAN GHULAT AL-BATINIYYIN DALAM MENCIPTAKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

6

June 19, 2011 by Islam saja

Setelah membongkar mitos bukti akal, hadits dan sejarah yang disampaikan oleh para pendukung doktrin kemahdian (percaya akan adanya Mahdi Muhammad bin Hasan al-Askari), dan bahwa hal itu hanyalah khayalan yang diciptakan oleh sekelompok orang yang bergerak di bawah tanah secara rahasia. Maka, muncul pertanyaan penting yang paling memalukan:

  • Siapa orang di balik penciptaan doktrin yang aneh ini?
  • Bagaimana mereka mampu menciptakannya?
  • Apa kepentingan mereka dibalik itu?
  • Bagaiman gambaran budaya dan iklim intelektual pada zaman itu?
  • Mengapa mereka lebih memilih opsi untuk mengatakan bahwa ada seorang anak yang lahir dari Imam Hasan, dari pada memilih opsi lain yang ada di kalangan Syiah Imamiah pada zaman kebingungan saat itu?
  • Bagaimana mereka bisa berhasil dalam menyebarkan doktrin tersebut?

Adalah tidak mungkin untuk medapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mencari solusinya yang akurat, kecuali dengan kembali ke belakang dan mempelajari situasi sejarah Syiah secara umum selama tiga abad pertama dari kelahiran doktrin tersebut. Kita harus menelusuri akar dari pergerakan kemahdian sebelumnya dan hubungannya dengan kelompok ghulat al-batiniyyin yang telah berusaha untuk tetap mengaitkan doktrin mereka dengan Nabi, Imam Ali dan beberapa Imam keturunannya.

Hubungan antara Kemahdian dan ghulat yang terjadi pada zaman sebelum Imam al-Askari.

Di bagian 2 kami telah mengungkapkan kisah tentang munculnya sekitar 20 (dua puluh) pergerakan Mahdi, yang sebagian besar darinya diciptakan oleh sekte ghulat. Kita telah melihat bahwa doktrin kemahdian yang pertama dalam sejarah Syiah adalah tentang Amir al-Mukminin Ali bin Abi Tholib (AS) yang telah diciptakan oleh ekstremis al-Sab’iyya yang menganut keyakinan secara ekstrim terhadap pribadi Imam Ali dan mengangkat dia hingga ke status keilahian. (1)

Doktrin kemahdian kedua adalah tentang Muhammad bin Hanafiyyah, yang diciptakan oleh ekstremis sekte Kisaniyyah, yang dipengaruhi oleh faksi Karbiyyah yang merupakan bagian dari ekstrimis Sab’iyya. (2)

Seorang ekstremis sekte Kisaniyyah yang bernama Hamzah bin Ammara al-Barbariyyi telah mengembangkan doktrin kemahdian Ibnu Hanafiyyah dan menyatakan bahwa ia adalah Tuhan dan Karb adalah Nabinya, sementara ia sediri merepresentasikan sebagai seorang imam yang ditunjuk oleh Tuhan. (3)

Setelah itu beberapa sub sekte muncul dari gerakan sekte ghulat. Salah satu darinya dikenal sebagai sekte Bayaniyyah yang dipimpin oleh Bayan al-Nahdi mengumumkan kemahdian dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyyah dan kemudian mengklaim untuk dirinya bahwa ia wakil mahdi dan kenabian dari Abu Hasyim. (4)

Pecahan lain dari sekte ghulat Kisaniyyah yang juga dikenal sebagai al-Janahiyyah juga mengumumkan kemahdian dari Al-Tha’ir al-Talibi (Abdullah bin Muawiyah bin Jaafar Al-Tayyar) (5).

Epidemi paham ghulat ditularkan dari sekte Kisaniyyah kepada sub sekte Zaidiyyah, yang mengumumkan kemahdian dari Dhi al-Nafs al-Zakiyyah (Muhammad ibn Abd Allah ibn al-Hasan ibn al-Hasan), dimana beberapa dari mereka menolak untuk mengakui kematiannya dan berkata bahwa ia telah pergi okultasi (ghoybah). Apa yang terjadi pada gerakan Kisaniyyah juga terjadi pada mereka, ketika seorang yang bernama Mughirah bin Sa’id mengembangkan doktrin kemahdian dan mengklaim Imamah untuk dirinya sendiri dalam kondisi tidak adanya Dhu al-Nafs al-Zakiyya dan kemudian mengembangkan lebih jauh dengan mengklaim bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rosul dan ia mendapat wahyu dari Tuhan melalui Jibril, sebagaimana yang diceritakan oleh Nukhbati dan Ash’ari. (6)

Setelah itu semangat ghulat disebarkan oleh sekte al-Mughiriyyah ke sekte al-Khattabiyyah, yaitu para pengikut Abu al-Khattab Muhammad bin Zaynab Al-Ajda’, yang telah melebih-lebihkan Imam Shadiq (AS) dan mengkultuskan dia. Ia mengumumkan Imamah bagi Ismail bin Jafar as-Sadiq dan menolak untuk mengakui kematiannya pada saat ayahnya masih hidup, dan mereka mengumumkan Ismail sebagai Mahdi dan pergi bersembunyi/ okultasi (ghoybah).

Dekat dengan iklim ekstremisme yang tidak logis itu, sub sekte yang lain dari kelompok Syiah Imamiyah Fat-hiyyah mengumumkan kemahdian dari Muhammad bin Abdullah al-Aftah bin Ja’far al-Shadiq. Dan ini merupakan klaim kemahdian yang plaing aneh pada zaman itu, karena nama Mahdi yang diumumkan adalah orang khayalan yang tidak pernah ada. Klaim ini terjadi setelah meninggalnya Imam Abdullah Al-Aftah yang tanpa meninggalkan seorang putra sebagai penerus keimamahan beliau. Mereka mereka-reka adanya anak dari Imam Abdullah karena keyakinan mereka pada perlunya keberlanjutan Imamah secara turun-temurun hingga hari kiamat, dan tidakdipoerbolehkannya dua orang bersaudara menjadi Imam secara berurutan. Pada mulanya pengumuman tentang adanya Muhammad bin Abdullah al-Aftah adalah semata-mata hipotesa filosofis (bahasa keren dari “khayalan”), tetapi setelah itu mereka membuat sejumlah kisah palsu yang berisi tentang pertemuan dengan Mahdi dan menyaksikan Mahdi di sini dan di sana. Mereka juga mengarang cerita tentang beberapa mu’jizat untuk menunjukkan bahwa Mahdi Muhammad bin Abdullah benar-benar ada. (Note: cara atau jalan inilah yang di kemudian hari ditempuh oleh suatu sekte Syi’ah setelah wafatnya Imam al-Askari yang pada faktanya tidak mempunyai anak. Nama anak “khayalan” tersebut juga Muhammad. Sekte ini pada zaman ini dikenal dengan sebutan Syiah 12 Imam, yang sedang mencoba untuk menyebarkan doktrinnya dengan sebutan yang memikat “mazdab Ahlul Bait”).

Pecahan dari sekte-sekte ini, ada sub sekte Syiah Imamiyah lainnya yang dipengaruhi oleh sekte ghulat yang bernama al-Waqifiyyah, yang mengumumkan kemahdian dari Imam Musa al-Kazim (AS) dan ghoybahnya dan kelangsungan hidupnya hingga waktu yang tidak diketahui. Beberapa diantaranya mengklaim bahwa Imam Kazim telah meninggal dan bangkit dari kematiannya dan pergi bersembunyi di tempat yang dirahasiakan.

Sebagaimana kasus Syiah Kisaniyyah dan Zaidiyyah yang mengeksploitasi beberapa tokoh kunci mereka untuk menyebarkan doktrin kemahdian dan klaim Imamah atau kenabian, satu dari pendukung Waqifiyyah yang bernama Muhammad bin Bashir al-Kufi mengklaim bahwa dirinya khalifah dan sebagai wakil khusus Imam Kazim dan bisa bertemu dengan Imam Kadhim di tempat peresembunyiannya. Ia melakukan hal ini dalam rangka memperoleh manfaat yang besar secara finansial dan politik. Ia kemudian memindahkan jabatannya sebagai wakil Mahdi kepada anaknya, Sami’, dan kepadanya diberikan surat wasiat setelah kematiannya. Dia berkata: Ia adalah Imam yang kepadanya ketaatan adalah wajib bagi semua orang, hingga munculnya Musa (Kadhim). Sehingga khumus yang dikenakan atas kekayaan mereka dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, harus diberikan kepadanya hingga Qa’im muncul. (10) (Note: di kemudian hari, cara ini juga ditempuh oleh pendukung sekte Syi’ah 12 Imam, yaitu yang dilakukan oleh puluhan orang yang mengklaim menjadi wakil khusus Mahdi khayalan Imam ke-12. Namun yang berhasil mengecoh masyarakat Syiah pada zaman itu hanya seorang, yaitu Usman bin Said al-Umari (wakil Mahdi ke-1). Dia juga mewariskan klaimnya sebagai wakil Mahdi kepada anaknya).

Menurut Nukhbati dan Ash’ari: Mohamad bin Bashir adalah ghulat tingkat tinggi dalam mengatakan tentang adanya reinkarnasi, pendelegasian (al-tafwid) dan pembolehan (al-Ibahah) secara mutlak. (11)

Tafsir Batiniyyin

Selain mengumumkan kemahdian dan berlebih-lebihan dalam mengkultuskan Imam, yang mempunyai ciri sebagai bagian dari gerakan Islam Syi’ah secara luas, ada juga paradigma tafsir batiniyyin. Pada kenyataannya kebanyakan dari ajaran/ doktrin palsu tersebut tidak akan tegak dan diterima, kecuali dengan melakukan penafsiran ulang pada setiap peristiwa dan pernyataan dalam ahadits dan menolak mengakui fakta-fakta sejarah yang nyata terlihat dengan indera. Mereka juga mengarang cerita suatu kejadian atau menciptakan tokoh yang tidak pernah ada, seperti menolak untuk mengakui wafatnya Amir Al-Mukminin Ali bin Abi Thalib atau wafatnya Muhammad bin al-Hanafiyyah, atau wafatnya anaknya – Abu Hasyim, atau wafatnya Dhu al-Nafs al-Zakiyyah, atau wafatnya Imam Sadiq, atau wafatnya putranya – Ismail, atau wafatnya Imam al-Kadhim, dan menciptakan adanya anak (khayalan) dari Abdullah al-Aftah yang wafat tanpa meninggalkan anak yang dikenal secara umum, dan mengumumkan bahwa ia mempunyai seorang anak secara rahasia yang ia sembunyikan dalam rangka taqiyyah (khawatir akan dizalimi oleh rezim kejam anti Syiah).

Khattabiyyah, para pengikut Muhammad bin Abi Zainab Al-Ajda’ biasa menganut bentuk yang lebih parah dari pada keyakinan ghulat pada Imam Shadiq dan percaya bahwa ia adalah Tuhan. Dan benar bahwa beberapa anggota dari kelompok ini pergi haji ke Bait Allah di Mekah sambil mengucapkan: “Kami datang – memenuhi panggilanmu – wahai Ja’far (Labbayka yaa Ja’far Labbayk). Imam Shadiq merasa terganggu dengan perilaku mereka, lalu bersujud ke tanah, mencela mereka dengan keras dan kemudian mengutuk Abu Al-Khattab. Beberapa dari pengikut Al-Khattab pergi menghadap kepadanya dan mengatakan kepadanya bahwa Imam Sadiq telah mengutuk dirinya, dan ia menanggapi mereka dengan mengatakan bahwa Imam sebenarnya tidak mengutuk dirinya, tetapi mengutuk orang lain yang namanya sama di Basrah, sementara dirinya tinggal di Kufah. (Note: dengan latar belakang seperti ini, maka bukan merupakan sesuatu yang aneh jika Syiah hari ini masih mewarisi kebiasaan menyeru Imam mereka seperti: ya `Ali, ya Husein dll, walau mereka tidak separah para pendahulunya yang menganggap para Imam sebagai Tuhan).

Para pengikutnya kemudian kembali menemui Imam Shadiq di kota dan menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh Abu al-Khattab; dan Imam kemudian secara terperinci menyebutkan identitasnya dengan menyebut namanya dan nama keluarganya, tempat tinggalnya dan semuanya yang spesifik dari dirinya dan mengulangi kutukannya dan berlepas dari ucapan al-Khattab. Ketika para pengikutnya kembali memberitahu kepadanya tentang jawaban Imam, Abu al-Khattab menolak untuk mencabut ucapannya dan tetap bersikukuh pada pendiriannya. Ia tidak hanya melanjutkan klaimnya berafiliasi dengan Syiah dan mempertalikan keturunanannya dengan Imam Sadiq, namun ia bahkan secara rahasia tetap mengatributkan kata-kata dari dirinya kepada Imam. Menurut dia, Imam secara terbuka telah mengutuknya, sehingga ia harus menjaga doktrin dari Imam seperti yang dilakukan oleh Khidr dengan merusak kapal untuk menyelamatkannya dari dirampas dan disita. Ia kemudian membacakan ayat berikut: “Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera“ al-Kahfi:79. (12) (Note: Syiah hari inipun jika kepada mereka diungkapkan hadits dari salah seorang Imam yang disampaikan kepada umum yang isinya menentang doktrin mereka, maka merekapun akan mengatakan bahwa itu diucapkan oleh Imam dalam keadaan taqiyyah. Demikian juga dalam menafsir al-Quran, mereka menakwil (memesongkan) kata yang sudah jelas maknanya disesuaikan dengan doktrin mereka).

Baatiniyyin biasa mengatributkan banyak ucapan dan pandangan mereka kepada para Imam dari keturunan Ali (AS) secara rahasia yang isinya bertentangan dengan apa yang secara umum dan terbuka diajarkan oleh para Imam kepada orang-orang, yang oleh karenanya bertentangan dengan posisi yang sebenarnya dari para Imam. Ketika para Imam menyangkal ucapan-ucapan yang aneh seperti itu dan mengutuk atau menolaknya, maka Baatiniyyin tetap berpegang teguh pada kata-kata mereka dan menafsirkan penolakan Imam terhadap klaim mereka sebagai taqiyyah dan khawatir akan adanya bahaya ketika mengungkapkan kebenaran atau adanya bahaya ketika membicarakan tentang sesuatu yang tidak diterima masyarakat. Terlepas dari palsunya pernyataan tanpa bukti perihal taqiyyah dan pengatributannya kepada anggota/ Imam keturunan Ali dengan suatu cara yang bertentangan dengan kejujuran dan dalam rangka pelestarian ajaran Aimmah, pada kenyataannya Batiniyyin mengatur permainan dengan peran yang besar dalam sejarah Syiah. Mereka menyesatkan masyarakat dari ajaran yang dianut Imam Ali dan keturunannya, sepanjang zaman hingga era Imam Hasan al-Askari, yang meninggal dunia tanpa meninggalkan seorang anakpun dan ia menyatakan dalam wasiatnya bahwa hartanya diberikan kepada ibunya. Siapa – pada zaman itu – yang mengatakan bahwa dia mempunyai seorang anak?. Kenyataan ini telah diterima oleh seluruh umat Islam pada zaman itu dan sebagian besar masyarakat Syiah, yang kemudian mereka mengumumkan Jafar bin Ali al-Hadi sebagai Imam yang ditunjuk, sementara yang lain menganggap bahwa Imamah telah berhenti dan yang lain tetap berpegang pada prinsip syura’. Namun demikian, kelompok ghullat al-batiniyyin telah menolak kenyataan itu, dan bersikeras menciptakan adanya kisah rahasia dan mengklaim bahwa Imam Hassan al-Askari mempunyai seorang anak tersembunyi yang dirahasiakan karena khawatir dibunuh (oleh musuh) dan juga karena praktek taqiyyah. Pecahan Syiah yang lain mengoreksi keyakinan mereka dan tidak percaya pada Imamah Hasan al-Askari, dan mengumumkan kemahdian dari Muhammad bin Ali al-Hadi yang ternyata meninggal ketika ayahnya masih hidup, dan mereka menolak untuk mengakui kenyataan tersebut, dan bersikeras dengan mengatakan bahwa ia pergi bersembunyi (ghoybah) dan hidupnya akan berlanjut hingga hari yang tepat untuk munculnya Mahdi. Hal ini benar-benar mirip dengan sub sekte Isma’iliyyah yang menolak untuk mengakui wafatnya Ismail bin Ja’far al-Shadiq dan menafsirkan jalannya proses penguburan yang dilakukan oleh Imam Sadiq sebagai drama di depan publik.

Para ulama terdahulu dari sekte syiah 12 Imam seperti Mufid, Murtadha dan Tusi telah menolak pendekatan yang dilakukan oleh Batiniyyin sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syiah sebelumnya yang menolak untuk mengakui wafatnya Imam Ali atau anaknya (Muhammad bin Hanafiyyah) atau anaknya (Abu Hasyim) atau wafatnya Imam Sadiq atau anaknya (Ismail) atau wafatnya Imam Musa al-Kadhim, atau wafatnya al-Askari, atau saudaranya (Mohammad), dengan alasan yang sederhana karena logika batiniyyah mereka melanggar realitas, yang dianggap sebagai bukti oleh orang-orang. Walaupun orang yang mengklaim adanya Imam Muhammad bin Hasan al-Askari sendiri, pada kenyataannya mengikuti logika al-batiniyyin. Karena, mereka tidak mengakui bahwa Imam al-Askari tidak pernah menyebutkan tentang lahirnya Muhammad dan tidak mengakui adanya wasiat yang diberikan kepada ibunya ketika dia meninggal dan menafsirkan kejadian ini sebagai bentuk kekhawatiran terhadap musuh dan taqiyyah. Tanpa mempedulikan apakah klaim ini benar atau tidak dan tanpa memperhatikan kondisi obyektif pada zaman sekitar wafatnya Imam al-Askari, pernyataan bahwa ia mempunyai seorang anak secara rahasia itu sendiri adalah merupakan bentuk klaim al-batiniyyin yang berlawanan dengan realitas yang sebenarnya.

Al-Nushoyriyyah (atau Al-Numayriyyah)

Kami juga telah melihat bahwa sebagian besar dari ahadits yang membicarakan tentang kelahiran Mahdi dan bahwa ia pernah terlihat pada saat ayahnya masih hidup, adalah sebagai hasil keterlibatan ektremis ghullat, demikian juga tentang adanya pengetahuan pada sesuatu yang ghoib pada Imam dan sebagainya, juga merupakan bagian dari ide ghullat yang lain yang dipegang oleh sekte ghullat. Perlu sejenak untuk memperhatikan sub sekte ghullat yang lain yang dikenal sebagai al-Nushoyriyyah atau al-Numayriyyah yang ditegakkan untuk menghormati Imam Ali bin Muhammad al-Hadi, di tangan Muhammad bin Nusair al-Nushoiri (atau Numairi) yang merupakan salah seorang pemimpin Syi’ah di Basra.  Orang ini mengangkat derajat Imam Hadi hingga status keilahian, dan mengklaim untuk dirinya sendiri pangkat kenabian dan kerasulan dari Imam Hadi, dan ia berkhotbah (atau percaya pada) reinkarnasi. (13)

Setelah wafatnya Imam Hadi, ekstrimis Nushoyri ini mengabdikan dirinya kepada anak Imam  Hadi (Imam Hasan al-Askari). Dan setelah Imam al-Askari wafat ia adalah salah seorang yang paling bersemangat dalam mengkampanyekan adanya (lahirnya) secara rahasia anak Imam Askari yang bernama Muhammad bin Hasan al-Askari. Ia tentu saja mengklaim bahwa ia adalah pintu untuk berhubungan dengan Imam yang bersembunyi Muhammad bin Hasan al-Askari dan sebagai wakil khususnya. Di kemudian hari ia mengklaim kenabian yang ia sampaikan kepada sejumlah pengikutnya. (14)

Al-Mukhammisah (yang lima)

Selain Nushoyriyyah, pada zaman itu terdapat ghullat yang berdiri sendiri dan ghullat yang ada di antara Syiah Imamiah, yang merupakan pecahan dari al-Nushoyriyyah. Sub sekte ghullat ini dikenal seabagi al-Mukhammisah yang menurut Sa’ad bin Abdullah Al-Ash`ari al-Qumi dalam al-Maqalat wa al-Firaq, mereka percaya bahwa: “Muhammad adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyatakan dirinya dalam 5 bentuk yang berbeda. Ia nampak dalam wujud Muhammad, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussein. Empat dari lima bentuk ini, katanya, adalah bayangan dan tidak benar-benar nyata, sedangkan bentuk yang kelima adalah Muhammad yang merupakan esensi dan nyata. Ia adalah orang pertama yang akan muncul dan yang pertama yang akan berbicara. Ia akan tetap eksis dalam setiap pribadi di antara ciptaannya, mampu berubah bentuk sesuai keinginanya, baik berwujud lelaki ataupun wanita, sebagai orang tua atau orang dewasa atau anak-anak. Kadang-kadang muncul sebagai ayah dan kadang-kadang sebagai anak dan ia tidak beranak atau diperanakkan. Ia berinkarnasi pada seorang suami atau seorang istri, tetapi ia hanya muncul di dalam diri manusia sedemikian rupa sehingga ciptaannya akan menemukan penghiburan padanya dan tidak akan mampu dibedakan dengan Tuhan mereka. (Note: bisa jadi penempatan posisi Ali, Fatimah, Hasan dan Husein di atas manusia rata-rata diilhami atau berasal dari paham di atas).

Sekte ini juga mengatakan bahwa Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa tidak lain adalah Muhammad yang hadir di Arab maupun non Arab. Dan dia menunjukkan dirinya pada ciptaannya di setiap zaman dan waktu, dan menjadikan dirinya terlihat dengan cahayanya. Ia memanggil mereka untuk mengakui ketunggalannya dan mereka yang menentangnya maka ia akan menjadikan dirinya nampak bagi mereka melalui pintu kenabian tetapi mereka gagal untuk memenuhinya.  Ia kemudian muncul pada mereka melalui pintu Imamah, dan mereka menerima panggilannya. Sehingga secara nampak dari luar Ia adalah Imam dan secara internal ia adalah Tuhan yang esensinya adalah Muhammad yang disadari oleh sedikit orang yang dipilih oleh Muhammad dan cahaya yang diberikan kepada mereka. Dan mereka yang tidak termasuk orang-orang elite berderajat adalah manusia yang terbuat dari darah dan daging. Itulah Imam…(Note: bisa jadi ajaran tentang nur Muhammad diilhami atau merupakan varian dari di atas).

Sekte ini berkata: “Semua tokoh Syiah zaman dahulu seperti Abu Al-Khattab, Bayan, Sa’id, Mughirah, Hamzah, Bazi’, Sirri dan Mohamad bin Bashir adalah para Nabi dari Pintu-pintu melalui perubahan badan dan perubahan nama, dan yang mereka maksudkan sebagai sesuatu yang sama adalah Salman, dimana dia merupakan Pintu, Rosul, tetapi yang dimaksudkan adalah satu dan sama, yang nampak bersama-sama dengan Mohammad dalam setiap bentuk penampakan. Ia adalah Rasul Muhammad yang melekat pada dia, dan Muhammad adalah Tuhan” (15)

Ash’ari Al-Qumi menyatakan bahwa Nusayriyyah telah dilaknat oleh Allah karena mereka meski menyatakan diri sebagai Syiah namun dalam hatinya Majusi, mereka mengklaim bahwa Salman (semoga Allah merahmati dia) adalah Tuhan, dan bahwa Muhammad menyeru orang-orang kepadanya, dan Salman selalu menunjukkan dirinya kepada pemeluk semua agama. Jadi dalam segala hal mereka menganut paham Majusi (penyembah api). (16)

Syiah Karkh pada zaman itu merupakan sub sekte al-Mukhammisah (yang percaya pada reinkarnasi Tuhan kepada yang lima). Menurut Syaikh al-Tusi dalam al-Ghaybah: tidak ada keraguan tentang ini. (17)

Otoritas tertinggi (Syeikh) komunitas Syiah di Karkh pada zaman itu, yaitu: Ahmad bin Hilal Al-Ibrata’i, adalah tokoh ghullat terbesar. Al-Hussein bin Ruh Nukhbati (pengklaim wakil Mahdi ke-3) telah menyampaikan sebuah laporan yang mengutuk secara serius dan menolak mereka yang tidak mengutuk dia. Al-Ibrata’i adalah otak utama dibalik proses penciptaan doktrin bahwa Imam Hasan al-Askari mempunyai seorang anak secara rahasia. Namun Al-Ibrata’i adalah ajudan terdekat Usman bin Said al-Umari (wakil Mahdi ke-1) yang telah banyak mendukung dia dalam hal pengakuannya sebagai wakil Mahdi. Ia kemudian berselisih dengan anaknya – Muhammad (wakil Mahdi ke-2) dan kemudian dia sendiri (Al-Ibrata’i) mengklaim sebagai wakil Mahdi. (Note: Dari informasi ini dapat dilihat dengan jelas adanya kaitan yang erat antara doktrin Syiah 12 Imam dengan doktrin ghulat, yaitu melalui wakil Mahdi ke-1 yang ternyata ia berhubungan dekat dengan tokoh besar ghulat al-Ibrata’i).

Al-Mufawwidah (yang mendelegasikan)

Pada zaman itu terdapat sekte ghulat lainnya di kalangan masyarakat Syiah yang dikenal sebagai al-Mufawwadah, yang merupakan pecahan dari sub sekte ghullat al-Numayriyyah dan al-Mukhammisah. Diantara keyakinan pokok sub sekte al-Mufawwadah adalah bahwa “Allah menunjuk seorang yang sempurna, tidak lebih dan tidak kurang, Ia menugasi dia berjalannya semua urusan dan ciptaan. Orang ini adalah Muhammad, Ali dan Fatima, Hassan dan Hussein dan imam-imam lainnya, dan mereka ini esensinya sebenarnya satu, walaupun mempunyai banyak nama. Orang yang sempurna ini, yaitu Muhammad, menurut mereka – adalah orang yang menciptakan langit dan bumi, gunung-gunung, manusia dan jin dan keseluruhan alam dengan segala isinya. (18)

Setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari, penganut sekte ini telah memaksakan diri menciptakan mitos bahwa Imam mempunyai anak secara rahasia, yaitu dalam rangka melestarikan doktrin satu-satunya yang sempurna (al-Wahid al-Kamil) dimana dia, menurut mereka, harus mengendalikan alam semesta, menciptakan dan menyediakan kebutuhan hidup (makhluqnya).

Namun demikian sub sekte Syi’ah sisanya tidak percaya pada ide-ide (hasil khayalan-khayalan) ghuluw mereka. Tentu saja telah terjadi semacam konflik dan perselisihan di antara kedua kelompok berbeda ini dan mereka meminta penyelesaian kepada Mohammed bin Othman al-Umari dalam kapasitasnya sebagai wakil I dari Tuan zaman (Sahib al-Zaman) pada zaman itu dan memintanya untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, dan terhadap permintaan itu ia mengeluarkan kepada mereka sebuah deklarasi yang berisi penolakan terhadap doktrin “pendelegasian dari satu-satunya yang sempurna”, dan menegaskan adanya keterlibatan para Imam dengan meminta kepada Allah untuk menciptakan maka Dia menciptakan atau menyediakan rizqi maka Dia memberikan rizqi. (19)

Jawaban al-Umari kepada mereka tersebut pada kenyataannya adalah bentuk yang lebih ringan dari doktrin pendelegasian (al-Mufawwidah), sesuatu yang mengindikasikan adanya hubungan dia dengan doktrin tersebut dan hubungan antara kepercayaan akan adanya Muhammad bin Hasan al-Askari dengan sub sekte ghulat tersebut.
Hal ini ditegaskan oleh Al-Hussein bin Ruh Nukhbati dalam tanggapannya tentang perbedaan paham antara Syi’ah pada pada zaman itu perihal pertanyaan tentang doktrin pendelegasian (doktrin satu-satunya yang sempurna), dan perjalanan dia menemui Abu Tahir Ibn Bilal (salah seorang pendukung doktrin Kemahdian) untuk mendiskusikan topic tersebut, dan ia mengeluarkan hadits dari Abu Abdullah (AS) yang mana ia mengatakan bahwa: “Sesungguhnya Allah jika menghendaki suatu urusan, maka Dia akan menghadirkannya kepada Rasulullah, kemudian kepada Amirul Mukminin, kemudian kepada imam-imam yang lain, satu demi satu….hingga hal itu mencapai kepada Tuan dari zaman (Sahib al-Zaman) dan kemudian urusan itu hadir ke dunia. Dan, jika para malaikat ingin mengangkat suatu urusan kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah melalui mereka, urusan itu akan dihadirkan kepada Tuan zaman (Sahib al-Zaman) dan kemudian akan dihadirkan kepada para imam satu demi satu hingga sampai kepada Rasulullah, kemudian urusan itu akan dihadirkan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Jadi, apapun yang turun dari Allah, adalah melalui tangan mereka, dan apapun yang naik kepada Allah adalah melalui tangan mereka, dan semua itu tidak pernah lepas bagi Allah SWT meski hanya sekejap mata. (20)

Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan para imam (karena harus melalui mereka) ketika Allah menjalankan semua urusan di alam semesta, yang merupakan bentuk lain dari sub doktrin pendelegasian.

Muhammad ibn al-Hasan al-Saffar al-Qumi, penulis buku Basa’ir al-Darajat – yang hidup pada zaman kebingungan (Ashr al-Hayra) dan merupakan salah seorang tokoh doktrin Kemahdian dari Syiah Dua Belas Imam, meyakini beberapa jenis pendelegasian para imam dalam perundang-undangan dan pengaturan kehidupan. Ia berkata: “Saya menemukan dalam sebuah buku kuno diantara “Nawadir” dari Muhammad bin Sinan yang mengatakan bahwa: “Abu Abdallah berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak pernah mendelegasikan otoritas-Nya kepada salah satu ciptaan-Nya, selain kepada Rasulullah dan para Imam’. Maka ia berkata: ‘Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) sebuah Kitab (Quran ini) dalam kebenaran, agar kamu memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Allah perlihatkan kepadamu (yaitu: yang diberikan kepadamu melalui wahyu ilahiah), dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat Al-Nisa’:105. Hal ini hanya bisa diterapkan kepada para pemegang perjanjian” (21)

Sangat jelas bahwa teori ini berisi paham ghulat dengan tingkat tertentu, yang tidak mencapai derajat pendelegasian dalam penciptaan dan penyediaan rizqi dan pengelolaan urusan alam semesta. Al-Saffar menganut paham ghulat mengenai para imam, yang bisa dibuktikan melalui bukunya (Basa’ir al-Darajat) yang penuh dengan paham-pahan yang ditolak oleh Syiah hari ini.

Beberapa orang Syi’ah dari Nisyapur adalah ghulat tingkat tinggi karena meyakini tentang pengangkatan (al-Irtifa’) dan pendelegasian (al-Tawfid) berkaitan dengan para Imam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kashi dalam biografi al-Fadl bin Syadhan.

Secara umum, paham dan berbagai madrasah doktrin ghulat telah tersebar di antara masyarakat Syi’ah pada pertengahan abad ketiga Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Hibat al-Din Al-Shahristani, dalam kata pengantarnya pada buku Syaikh Mufid (Awa’il al-Maqalat). (22)

Orang-orang seperti Ja’far bin Muhammad bin Maalik Fazari, Adam al-Balkhi, Ahmed al-Razi dan Al-Hussein Bin Hamdan Al-Khussaiby telah memainkan peran utama dalam penyebaran doktrin keberadaan Imam Mahdi, dan menciptakan ahadits palsu tentang kelahirannya dan pertemuannya dengan Mahdi. Mereka ini bagian dari ghulat tingkat tinggi dimana semua otoritas Syi’ah kontemporer telah menolak ahadits mereka.

Referensi:

  1. Mukhbati: Firaq al-Syi’ah hal. 22 dan Al-Ashari al-Qumi: al-Maqalat wa al-Firaq hal. 20.
  2. Firaq al-Syi’ah hal. 27 dan al-Maqalat hal. 27.
  3. Firaq al-Syi’ah hal. 28 dan al-Maqalat hal. 33.
  4. Firaq al-Syi’ah hal. 29, 31, 34 dan al-Maqalat hal. 34 – 37.
  5. Firaq al-Syi’ah hal. 35 dan al-Maqalat hal. 44.
  6. Firaq al-Syi’ah hal. 63 dan al-Maqalat hal. 77.
  7. Firaq al-Syi’ah hal. 68-69 dan al-Maqalat hal. 81.
  8. Al-Maqalat hal. 88.
  9. Firaq al-Syi’ah hal. 80 dan al-Maqalat hal. 90.
  10. Firaq al-Syi’ah hal. 83-84 dan al-Maqalat hal. 91.
  11. Ibid.
  12. Al-Maqalat hal. 51.
  13. Al-Maqalat hal. 101 dan Al-Hilli: Al-Khulasah al-Fa’idah al-Sadisah hal. 273.
  14. Al-Khulasah hal. 273, Tarikh al-A’immah (oleh Sheikh al-Aqdam ibn Abi al-Thalj Baghdad) hal. 20, al-Ghoybah (oleh Tusi) hal. 244, al-Maqalat hal. 101 dan Bihar al-Anwar (oleh al-Majlisi) vol. 51 hal. 367.
  15. Al-Maqalat hal. 58.
  16. Ibid. hal. 62.
  17. Ibid. hal. 256.
  18. Ibid. hal. 61.
  19. Al-Ghoybah (oleh Tusi) hal. 178.
  20. Ibid. hal. 238.
  21. Basha’ir al-Darajat (oleh al-Saffar) hal. 386.
  22. Ibid. hal. 173.

6 thoughts on “XXIII. PERAN GHULAT AL-BATINIYYIN DALAM MENCIPTAKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

  1. azmy says:

    jika bicara ghulat ya ghulat, jangan melakukan generalisasi. yang saat ini berkembang bukan syiah gjulat, tetapi syiah itsna asyariah.
    syiah ghulat dan syiah imamiah adalah dua hal yang sangat berbeda.

  2. habrizenn says:

    Syiah bukan lahir dari syabiiyah seperti yang ditulis penulis, coba anda lihat tinjauan riwayat atau sejarah, isu sabaiyyah itu muncul pertama kali dalam tarikh tabari, dan sudah terbukti bahwa perawinya dhaif sebagian ada yang kidzb… ini bukan kata syiah saja, maka sebaiknya anda pelajari dulu sejarah….

  3. Suni-syiah says:

    Saya yakin ini produk dari musuh-musuh Syiah, mereka tidak memepelajari syiah dari sumber yang asli, mereka dengki (seperti kedengkian sebagian sahabat Kepada Imam Ali as.) mengambil sebagian riwayat dan memutar balikan fakta sesuai hawa nafsunya, tujuannya untuk mengkafirkan Syiah, memecah belah Suni dan Syiah, dan dibalik semua itu ada donor yang membiayai mereka kalau tidak Amerika, Israel dan negara Arab yang bersimpuh kepada AS

  4. Hotman says:

    semakin mereka menulis, semakin kelihatan bodohnya, kalu malas meneliti ya jadi begini…!

    semoga anda2 bertahan terus dgn keyakinan kalian, jangan sampai kalian menjadi syiah ‘Ali.. terus terang saya sangat senang dgn apa yang kalian lakukan, kalian akan diikuti oleh org2 yang sejenis dgn kalian..!

  5. dodi says:

    kebodohan dan fanatisme yg dunggu mrk berusaha meingkari fakta sejarah, padahal sumbernya dari buku buku syiah, bila mrk bertanya pada diri sendiri dan kpd ulama2 mrk, apakah buku rujukan utama agama mrk (syiah) prnh mereka baca? atau bahkan pernahkah mrk lihat ? slogan manis pengikut ahlul bait tlh membutakan mrk. bantahan yg keluar dari mulut syiah dikarenakan mrk tdk pernah baca buku buku utama mrk. (mengaku berilmu padahal dibego in sama moyang syiah )

  6. dodi says:

    syiah-syiah, sebelum koment di cek dulu kebenaran sumber pustaka dari artikel diatas, sumbernya adalah catatan sejarah yg di catat oleh tokoh-tokoh syiah sendiri, bantahan kalian mencerminkan kedunguan kalian, …mengaku syiah Ali, syiah Ali, sesungguhnya Ali bin Abithalib dan ahlul bait yg mulia tdk ada sangkut paut nya dg kebodohan,takhyul dan kedungu an kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: