XXI. SITUASI POLITIK PADA ZAMAN IMAM AL-ASKARI DAN SESUDAHNYA.

Leave a comment

June 16, 2011 by Islam saja

Bagian I: Rezim Abbasiyah

Abbasiyah kedua berbeda dengan pendahulunya karena didominmasi oleh para bekas budak Turki yang mengendalikan jalannya pemerintahan, dan pengaruh mereka dalam penunjukan Khalifah pengganti dan menghilangkan peran/ kekuasaan bani Abbasiyah, seperti Baqir, seorang Turki yang membunuh Mutawakkil (memerintah 232 – 246 H) sebagai akibat dari konflik internal dalam rumah kekuasaan, dan karena adanya perbedaan antara pilar penguasa dan kekuatan bersenjata. (1)

Putra dari Mutawakil – Muhammad Muntasir – mewarisi ayahnya menduduki tahta kekhalifahan, sementara umurnya baru 25 tahun, tetapi dia hanya memerintah tidak lebih dari dari enam bulan sampai dia meninggal. (2)

Dua pemimpin Turki “Wasif” dan “Bagha” membunuh Baqir, si pembunuh Mutawakkil, dan setelah meninggalnya Muntasir mengangkat Musta’in sebagai khalifah (3). Mereka juga mengendalikan kekhalifahan Musta’in (memerintah 247 – 251 H), yang tidak mempunyai kekuasaan apapun kecuali hanya disebut sebagai khalifah, sampai pada tingkat di mana sebuah puisi mengatakan: “Khalifah dalam kandang antara Wasif dan Bagha, dia mengatakan apa yang mereka katakan kepadanya, seperti burung beo”

Musta’in bergerak ke Baghdad setelah dia menangkap Mu’tazz dan Muayyad. Para bekas budak Turki membebaskan Mu’tazz dan memberikan janji setia (bai’ah) kepada dia dan tunduk pada Kekhalifahannya, dan pada saat yang sama memerangi Musta’in dan pendukungnya Wasif dan Bagha di Baghdad. Mereka memberikan bai’ah pada 11 Muharram 251 AH. Mu’tazz mengajak saudaranya Ahmad dan sejumlah bekas budak untuk memerangi Musta’in di Baghdad. Ketika Muhammad bin Abdullah bin Tahir mengetahui itu, ia menulisa surat kepada Mu’tazz bahwa ia berpihak kepadanya dan condong untuk menghilangkan kekuasaan Musta’in. Musta’in turun tahta atas kemauannya sendiri pada hari Kamis, 3 Muharram 252 H dan memindahkan kekhalifahannya kepada Mu’tazz (5). Mu’tazz mendapatkan bai’ah dari masyarakat. Nama lengkap Mu’taz adalah al-Zubayr ibn Ja’far al-Mutawakkil, waktu itu ia baru berumur 18 tahun. Ia mengangkat Muayyad sebagai pangeran mahkota. Tetapi segera setelah itu ia menahannya karena mendapat informasi bahwa Muayyad telah bersekongkol melawannya. Ia kemudian menghapus Muayyad dari statusnya sebagai putra mahkota (6).

Mu’tazz (memerintah 252 – 255 H) membunuh Wasif dan Bagha dan condong kepada masyarakat Maghribi dan Farghan. Masyarakat Turki menyimpan kebencian kepadanya karena telah membunuhan pemimpin mereka. Mereka melakukan revolusi dan memaksa dia untuk mengundurkan diri pada akhir bulan Rajab 255 AH, setelah memerintah selama hampir empat tahun enam bulan. Muhammad bin Wathiq mencoba melakukan mediasi antara dia dan orang-orang Turki, dan Mu’tazz berkata kepadanya seraya berputus asa: “Suatu urusan yang saya tidak tahan atau melakukannya atau saya tidak cocok untuk itu”. Muhtadi juga mencoba melakukan mediasi dan Mu’tazz berkata kepadanya: “Saya tidak membutuhkan itu dan mereka tidak menerima saya untuk itu”. Ia telah dibunuh di penjara, setelah enam hari pengunduran dirinya. (7)

Setelah pengunduran diri Mu’tazz, orang-orang Turki meletakkan Al-Muhtadi (Muhammad bin Harun) pada tahta kekhalifahan. Pada saat itu ia berumur 37 tahun dan memerintah sekitar satu tahun sejak 29 Rajab 255 AH hingga 16 Rajab 256, pada saat orang-orang Turki membunuhnya.

Musa bin Bagha al-Kabir tidak ada ketika Mu’tazz dibunuh, sementara Salih bin Wasif melakukan hubungan rahasia dengan Muhtadi, Musa bergegas pulang dan memasuki ‘Surr man Ra’a’, tanpa seizin Khalifah Muhtadi dan membunuh Saleh bin Wasif. (8)

Sekitar zaman itu, ‘Musawir al-Shari’ memberontak dan datang bersama pasukannya sangat dekat dengan ‘Samirra’i’ dan membawa banyak melapetaka kepada orang-orang. Sabilah dibantai dan perkampungan Arab muncul. Muhtadi mengirim Musa bin Bagha dan Baykal untuk memerangi Al-Shari. Namun demikian, mereka kembali dan memerangi Khalifah Muhtadi. Perang besar diantara mereka telah menewaskan banyak orang. Baikal menjadi lemah dan Muhtadi bisa mengatasi dia dan membunuh dia. Jebakan yang dibuat oleh Baikal untuk melawan Muhtadi muncul ke permukaan, Fauly dan para sahabatnya memasuki Samarra, mencari pertolongan kepada orang-orang, berteriak minta bantuan di pasar-pasar, tetapi tidak ada yang siap memberikan bantuan. Setelah berputus asa dari kemenangan ia pergi ke rumah Ibnu Khai’unah dan berusaha bersembunyi di sana. Mereka menyerangnya dan membawanya keluar dan menikamnya hingga mati. Itu terjadi pada tanggal 16 Rajab 256 AH. (9)

Setelah kegagalan itu, bay’ah diberikan kepada Mu’tamid – Ahmad bin Ja’far al-Mutawakkil, yang berumur 25 tahun, dan ia memerintah selama 23 tahun hingga wafatnya pada thun 279 AH. Ia adalah orang yang lemah dan menyukai kenikmatan. Ia cenderung pada minuman keras dan mencintai permainan dan lawakan.. Mu’tamid telah memberi bay’ah kepada anaknya, Ja’far yang dijuluki Mufawwid Ilallah, tetapi saudaranya, Abu Ahmed Muwaffaq mendominasi semua urusan dan administrasi Negara, dan ia memerintahkan untuk menahan saudaranya, Mu’tamid. Ia adalah Khalifa pertama yang dikalahkan, dipenjarakan dan direbut kekuasaannya. Ketika Muwaffaq meninggal, anaknya Mu’tadid mengambil kendali semua urusan masyarakat dan menghapus Ja’far dari statusnya sebagai putra mahkota pada tahun 278 AH. Pada pagi hari 19 Rajab 279 AH Mu’tamid tidak sarapan, ia kemudian makan siang yang mengandung racun dan dia meninggal. Ismail bin Hammad Al-Qodi pergi mengunjungi Mu’tadid sambil memakai pakaian hitam dan mengucapan selamat sebagai Khalifah. (10).

Imam Hasan al-Askari meninggal di era pemerintahan Mu’tamid pada tahun 260 AH. Asumsi terjadinya Okultasi Mahdi secara membingungkan dilaporkan terjadi ketika Khalifah Mu’tamid berusia sekitar 30 (tiga puluh) tahun.

Mu’tadid meninggal pada 22 Rabi al-Tsani 289 AH. Anaknya Ali Muktafi Billahi menggantikan dia, dan mendapatkan bay’ah dari orang-orang ketika ia beusia 25 tahun. Sehingga ia masih sebagai seorang pemuda yang lemah. Qosim bin Ubaidullah dan budaknya Fatik mengendalikan dia. Setelah meninggalnya Qasim, Wazir (perdana menteri) dari Mustakifi, Abbas bin al-Hasan dan Fatik mengendalikan pemerintahan. (11).

Setelah itu kekhalifahan Abbasiyah menderita serangkaian konflik internal kekuasaan yang disertai kekerasan berdarah, di antara mereka sendiri pada satu sisi, dengan para bekas budak mereka dan orang-orang Turki pada sisi lain. Muqtadir dibunuh pada tahun 320 AH dalam sebuah insiden antara dirinya dengan budaknya Mu’nis di Baghdad. Qohir Billah mendapatkan bay’ah setelah dia, dan telah kehilangan kekuasaan setelah kurang dari dua tahun. Matanya telah dicungkil pada tanggal 10-5-322 AH. Radhi Billah menjabat Khalifah setelah itu dan memerintah sekitar lima tahun dan meninggal pada tanggal 10-3-329, namun periode pemerintahanya telah benar-benar dikendalikan para bekas budak, Bajkam dan orang-orang Turki, yang mencetak dinar dan dirham dengan menampilkan gambar mereka. Mereka membuat senjata dengan penulisan kalimat padanya, ’Ketahuilah bahwa martabat adalah bagi Raja yang mulia, pemimpin orang-orang Bajkam“ (12).

Setelah dia Muttaqi Billah mendapatkan bay’ah sebagai khalifah pada tanggal 1-3-329 AH. Ia menjadi Khalifah sekitar 4 (empat tahun). Ia disingkirkan dan matanya dicungkil pada tanggal 3-4-333 AH, karena ia bekerjasama Hamdanyah dan menguasai mereka. Hal itu membuat marah orang-orang Turki dan pemimpin mereka “Tozoun“ menguasai Baghdad pada tahun 332 AH. Mereka berbuat makar melawan Muttaqi dan menyingkirkan kekuasaannya. Mereka menghadap Abdullah bin Ali Mustakfi untuk berjanji setia (membay’ah) kepadanya pada tanggal 3-2-333 AH. Namun, bagaimanapun setelah satu tahun, ia disingkirkan dari kekuasaannya dan matanya dicungkil oleh tangan Ahmed bin Buwaih ’Dailami’, yang menuduh dia menulis surat kepada Banu Hamdan dan memberikan informasi rahasia tentang mereka. Muti’ menjadi penguasa setelah dia pada tanggal 23 Shaban 334 AH.

Bagian II: Situasi Oposisi

Sebagaimana yang kita lihat pada uraian di atas, salah satu yang nampak paling menonjol dari pemerintahan Abbasiyah kedua adalah disintegrasi dan dekadensi moral. Hal ini terjadi karena lemahnya kekhalifahan dan tidak benar-benar memegang tampuk kekuasaan secara kokoh.. Kondisi ini mendorong setiap gubernur dari sejumlah besar bagian Negara Islam yang semestinya terikat dan tunduk secara sepenuhnya dengan pusat Negara, tidak lagi mengikatkan diri dengan pusat. Jika ia mau, ia akan tetap loyal, jika ia mau ia bisa memisahkan diri dan mengalami konflik dengan lainnya yang mendorong timbulnya berbagai peperangan yang terjadi antara pemerintahan pusat dengan para gubernur.

Salah satu yang paling jelas dari kejadian ini adalah Andalusia (Muslim Spanyol), yang memisahkan diri dengan sendirinya dan menjadi merdeka pada saat itu di bawah pemerintahan bani Umayyah Abdul Rahman Nasser, dan Afrika Utara yang memisahkan diri sebagian besar wilayahnya di bawah kepemimpinan keluarga Al-Aghlab. Dua bagian negara Persia dan Irak, adalah darerah yang subur bagi tentara Ya’kub bin Laith al-Saffar, dan peperangan terjadi pada tahun 253 AH hingga kematiannya pada tahun 265 AH. Ia digantikan oleh saudaranya, Amir bin Amr al-Laits. Dan pada tahun 261 AH sebagian besar daerah `Ma wara al-Nahr’ memisahkan diri di bawah kepemimpinan Nasr bin Ahmad Samani hingga ia meninggal pada tahun 270 AH. Daerah pinggiran yang lebih dekat dekat dengan ibukota (`Sur Man Ra’a’) tidak lebih baik kondisinya dari daerah yang lebih jauh.. Terdapat berbagai kepentingan yang berbeda dari para pekerja dan para pejabat di sisi lain, dan aktivitas kepentingan Kharijiah dan para budak (hitam) dan juga Al-Qaramitah di sisi lain.

Khalifah Mu’tadid yang menyukai kesenangan nafsu dan hiburan, minuman beralkohol, dan benar-benar lemah hingga pada tingkat tidak ada lagi kekhalifahan pada dirinya kecuali hanya gelar, yang pada kenyataannya tidak mempunyai kekuasaan sama sekali.

Periode ini menyaksikan serangkaian pemberontakan bani Alawi dan Syiah dengan berbagai kelompok yang berbeda, terlepas dari kenyataan bahwa beberapa khalifah Abbasiyah mulai condong pada Syiah, atau bersimpati pada bani Alawi secara sesungguhnya. Sistem pemerintahan retak dan terurai karena ada konflik internal di dalam keluarga Abbasiyah itu sendiri.

Revolusi bani Alawi pada zaman sebelum Okultasi.

Mas’oudi mengatakan dalam Muruj al-Dhahab: “Pada tahun 250 AH, Hassan bin Zaid Alawi muncul di Tabaristan. Ia memegang kendali atasnya, demikian juga Al-Jurjan setelah suatu peperangan yang besar dan memerangi kejahatan. .. Dan tetap di tangannya hingga ia meninggal pada tahun 270 AH. Saudaranya Muhammad bin Zaid menggantikan dia hingga pada suatu ketika Rafi bin Harthamah memerangi dia. Mohammed bin Zaid memasuki Daylam pada tahun 277 AH dan menjadi di bawah kekuasaannya. Setelah itu Rafi bin Harthamah memberikan janji kesetiaan kepadanya dan bergabung dengan barisannya, memenuhi panggilannya dan tunduk kepadanya.

Al-Hasan dan Muhammad menyeru orang-orang dengan slogan “Untuk mendapatkan ridho keluarga Muhammad“, sebagaimana yang sudah muncul di Tabaristan setelah mereka, dengan nama Hassan bin Ali al-Hassani yang dikenal sebagai `Al-Atrush’ dan anaknya al-Hasan bin Al-Qasim. (13)

Pada saat yang sama (tahun 250 AH) Muhammad bin Jaafar muncul di Rayy dan mengajak orang-orang kepada Hassan bin Zaid, penguasa Tabaristan (14), sebagaimana juga Al-Karki yang muncul di Qazwin, sebuah revolusi Alawi lainnya. Ia kemudian bergabung dengan Hasan bin Zaid.

Alawi yang lain muncul setelah dia di Rayy, adalah Ahmad bin Isa, yang mengajak orang-orang dengan slogan “untuk mendapatkan ridho keluarga Muhammad”, dan ia memegang kendali atas Rayy. Setelah hanya setahun kemudian muncul Husain bin Mohammed Al-Alawi di Kufah, ia mengusir gubernur khalifah. Revolusi Alawi lainnya setelah dia dilakukan oleh Ja’far bin Muhammad.

Pada tahun 251 AH, Ali bin Abdullah Al-Thalibi yang juga dikenal sebagai ‘Al-Mar-ishi’, melakukan revolusi di kota ‘Amil’. Demikian juga Hussein bin Ahmed Al-Arqit melakukan revolusi di Qazwin. Ia memegang kendali hingga athun 252 AH, dan ia juga menguasai Rayy.

Semua itu terjadi karena keadaan yang memburuk pada zaman Khalifah Musta’in, yang mengalami konflik internal dengan anggota keluarganya, dan pergi menyelinap ke Baghdad. Para bekas budak melakukan revolusi kepadanya, memerangi dia dan memaksa dia untuk turun tahta. Bay’ah kemudian diberikan kepada Mu’tazz (15) pada tahun 252 AH. Selama kekhalifahan Mu’tazz muda yang umurnya belum melebihi dua puluh tahun, seorang Alawi, Ismail bin Yusuf, muncul melakukan revolusi di kota. Setelah kematiannya, saudaranya Muhammad bin Yusuf menggantikannya. Ia kemudian pergi ke ke Yamamah dan Bahrain, dan menguasainya. Ia menempatkan di sana anaknya yang dikenal sebagai Banu Al-Akhdar (16).

Pada masa Khalifah Muhtadi pada tahun 255 AH, penguasa Al- Zanj muncul di di Basra.

Pada tahun 256 AH, seorang Alawi, Ibrahim bin Mohammad, yang dikenal sebagai Ibnu Al-Sufi muncul di Mesir, demikian juga.

Demikian juga Ali bin Zaid Al-Alwi memberontak di Kufah, dan memerangi Baak Bara, hingga ia terbunuh pada tahun 257 AH.

Pada tahun 257 AH gerakan Al-Qaramitah muncul di Bahrain dan memperluas pengaruh mereka hingga ke Basrah, Irak dan Jazirah.

Di Rayy revolusi Syiah yang lain meledak yang dipimpin oleh Ahmed bin Hassan Al-Madrani yang mendominasi di era Mu’tadi pada tahun 275 AH. Ia menyebarkan paham Syiah dan mendirikan sebuah pemerintahan Syiah. (17)

Revolusi Isma’iliah di Yaman dan Afrika Utara

Sebelum tahun 275 AH dan setelah beberapa tahun wafatnya Imam al-Askari, Al-Hussein Bin Hushab pada tahun 266 AH di Yaman mampu menegakkan gerakan pertama Isma’ili yang sukses. Ia mengumpulkan sejumlah besar orang-orang dari berbagai suku di Yaman, menyebarkan kepada mereka panggilan kepada: “Mahdi Isma’iliah yang tinggal bersembunyi di sebuah kota Silmiyyah di Suriah“. Ia membentuk negara Isma’iliah yang pertama dalam sejarah.

Kemudian Ibnu Hushab mengirim penyerunya Abu Abdullah al-Syi’i, yang telah mengundurkan diri dari sekte yang percaya pada eksistensi Muhammad bin Hassan al-Askari (sekte Syi’ah 12 Imam) dan bergabung dengan Isma’iliah. Ia bekerja sebagai pegawai keuangan di Baghdad. Ia dikirim ke Afrika Utara untuk mengajak orang-orang percaya pada Imam Isma’iliah (Ubaidullah Al-Mahdi) yang bersembunyi (okultasi). Karena lemahnya cengkeraman pemerintahan Abbasiyah, Abu Abdullah mampu mendapatkan dukungan dari suku Kitamah dan memegang kendali atas Maghrib, dan menguasai pengaruh Banu Al-Aghlab dan menghilangkan pemerintahan mereka di Qirawan di Tunisia, yang kemudian hari merupakan ibukota Afrika. Ia mendirikan dinasti Fatimiyah yang setelah itu meluas hingga ke Mesir dan Suriah pada tahun 296 AH pada periode Khalifah Abbasiyah al-Muqtadir, yang dibay’ah pada umur 13 tahun. Imam Mahdi Ismailiyah melancarkan kegiatan oposisinya kepada negara Abbasiyah dalam rangka meruntuhkan rezim Abbasiyah. Setelah keberhasilannya dalam melakukan revolusi di Yaman di tangan penyerunya (Da’i) Ibnu Hushab, ia mampu memicu revolusi di provinsi Wasit di Irak di tangan dari salah satu dari pengikut sekte Ismaili: Hamdan Bin Qirmit, yang menginvasi selatan Irak dan Jazirah Arab dan menyebar hingga ke Suriah.

Simpati khalifah Abbasiyah kepada Alawi

Sebagai hasil dari perkembangan di atas, kebijakan Mu’tadid (memerintah 278 – 289 H) kepada Alawi lebih lunak dibanding kebijakan para khalifah Abbasiyah pendahulunya, meskipun terjadi revolusi dari para penyeru (Da’i) di Tabaristan dan deklarasi otonomi yang mereka lakukan.

Mas’oudi mengatakan: Da’i tersebut mengirim sejumlah uang ke ibukota kekhalifahan yang akan dibagikan kepada keluarga keturunan Abi Thalib yang ada di sana. Khalifah Mu’tadid mengetahui hal ini, tetapi ia tidak mampu atau tidak atau tidak ingin menghentingan hal itu. Ia justru mengirim utusan kepada orang yang diberi tanggung jawab atas pembagian tersebut agar menemuinya, ia menyalahkan dia karena berusaha menyembunyikan hal itu, dan memerintahkan dia untuk melakukannya secara terbuka. Ia bahkan membawa keluarga Abi Thalib lebih dekat kepadanya. Khalifah Mu’tadid menyatakan bahwa ia melihat Imam Ali dalam mimpi sebelum ia menjadi khalifah dan berkata kepadanya: “Urusan ini akan datang kepada kamu, jangan menentang anak cucu saya ataupun menyakiti mereka“. Ia menjawab: “Saya mendengar dan mentaati“. (18)

Majlisi melaporkan dalam `Bihar al-Anwar’ dari Muhammad ibn Jarir al-Tabari bahwa: “Mu’tadid, yang menjadi khalifah setelah Mu’tamid, memutuskan untuk mengutuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan di mimbar-mimbar dan memerintahkan menulis sebuah buku yang akan dibacakan di depan orang-orang (terkait dengan hal itu). (19)

Khalifah Mu’tadid gagal dalam usahanya untuk menumpas gerakan perlawanan Al-Qarmitah. Ia mengirimkan pasukan untuk menekan mereka namun kalah dan komandannya ditangkap. Al-Qarmitah kadang-kadang bergerak ke Basra suatu waktu dan ke Baghdad pada waktu yang lain dan juga ke Hijaz pada waktu yang lain. Pemimpin mereka, Abu Abdullah Muhammad, sang pemilik unta betina (Shahib al-Naqah) yang dipanggil sebagai `Khalifa’, menyebut dirinya `Amir al-mukminin’. Kemudian mereka menyerang Syiria dan berkuasa di sana pada tahun 289 AH. Ancaman mereka terus membahayakan wilayah tersebut sampai pada tingkat bahwa mereka bahkan merampok dan menjarah Ka’bah dan mencuri Hajar Aswad dan menewaskan ribuan peziarah pada tahun 317 AH. Mereka kemudian merampok dan menjarah Basrah dan menduduki Kufah. Khalifah Mu’tadid dipaksa untuk mengadakan gencatan senjata dengan mereka atas dasar bahwa ia harus memberi mereka 120.000 dinar setiap tahun.

Selama masa pemerintahan Khalifah Muqtadir Billah (memerintah 295 – 319 H) yang masih anak-anak, rezim Abbasiyah menjadi sangat lemah secara internal dan eksternal. Kerajaan Romawi menduduki pantai Syiria dan kota Ladhiqiyyah pada tahun 298 AH. Mohsen bin Jaafar bin Ali al-Hadi muncul di Damaskus pada tahun 300 AH, namun kalah dan dibunuh setelah itu.

Sejak saat itu, periode Abbasiyah menyaksikan dominasi Al-Buwaihiyyin (Syi’ah) di kendali pemerintahan di pusat kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, dimana mereka mengukuhkan diri dan mengisolasi khalifah. (20).

Jadi, kondisi sekeliling pada zaman okultasi (al-ghoybah), sebelum dan sesudahnya, sama sekali tidak memperlihatkan adanya alasan/ pembenaran untuk khawatir dan melakukan sikap berpura-pura (taqiyyah), atau Imam Hasan al-Askari harus merahasiakan kelahiran anaknya dan menyembunyikannya. Adalah tidak sulit bagi Muhammad bin Hasan al-Askari (jika dia memang benar-benar ada), untuk menampakkan dirinya di manapun. Bahkan jika ia mau, ia bisa menyatakan dirinya sejak awal bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu. Tidak sulit baginya untuk meminta tolong di daerah pinggiran negara Abbasiyah, bersembunyi di daerah pegunungan dan hutan, dan melawan otoritas Abbasiyah yang pada saat itu sangat lemah dan menegakkan negara yang dijanjikan, dan melakukan tanggung jawabnya memimpin Syiah dan Muslim.

Telah diketahui dengan baik bahwa penguasa Al-Buwayhiyyin (Syi’ah yang percaya kepadanya) telah meminta Syekh Mufid agar Mahdi muncul menampakkan dirinya dan memerintah, daripada diperintah oleh Khalifah Abbasiyah, sebagaimana Mahdi Fatimiyah yang muncul dan memerintah di Afrika Utara, setelah dirahasikan dan bersembunyi. Mufid tidak memberikan jawaban yang berguna terkait dengan ahadits yang isinya tidak konsisten tentang perlunya taqiyyah dan kekhawatiran terhadap kehidupan Imam Mahdi dari usaha pembunuhan.

Referensi:
1. Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 4 hal. 38.
2. Ibid., hal. 52.
3. Ibid., hal. 60.
4. Ibid., vol. 4 hal. 61.
5. Ibid., hal. 92.
6. Ibid., hal. 90.
7. Ibid., hal. 92.
8. Ibid., hal. 98.
9. Ibid., hal. 97 -100.
10. Ibid., hal. 141.
11. Ibid., hal. Vol. 4 hal. 187.
12. Ibid., hal. 245.
13. Ibid., hal. 68.
14. Ibid., hal. 69.
15. Ibid., hal. 68.
16. Ibid., hal. 91.
17. Yaqut: Mu’jam al-Buldan, tahun kejadian 275 AH.
18. Ibid., vol. 4 hal. 279.
19. Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 4 hal. 279.
20. Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: