BAB XX. KONTRADIKSI OKULTASI (GHOIBAH) DENGAN FILOSOFI IMAMAH

5

June 5, 2011 by Islam saja

Dalam rangka memahami isu tentang Okultasi (ghoybah) secara benar, kita pertama kali harus memahami teori Imamah, sebagaimana yang dipahami oleh Theolog Syi’ah Imamiah zaman dahulu, yang menemukannya dan menjelaskannya. Teori Imamah Ilahiyah menyatakan bahwa: “Tidak diperbolehkan dunia tanpa seorang Imam (yaitu, sebuah Pemerintahan dan Negara). Imam (atau Presiden atau khalifah atau pemimpin tertinggi), harus “tidak bersalah“ dan ditunjuk oleh Allah, dan bahwa Syura dan pemilihan seorang pemimpin oleh ummah tidak sah. Teori/ doktrin Syi’ah Musawiyah adalah mengenai berhentinya Imamah yang bertentangan dengan teori Syi’ah Fath-hiyah yang menyatakan bahwa: Imamah harus berlanjut secara turun-temurun melalui keturunan Ali dan Hussein secara vertikal hingga hari kiamat.

Dari sinilah Theolog Syi’ah Imamaiyah berasumsi adanya dan lahirnya seorang anak dari Imam Hasan Askari, dengan mengabaikan tidakadanya bukti-bukti sejarah mengenai hal itu.

Beberapa dari mereka menolak untuk mempercayai Imamah dari Ja’far bin Ali al-Hadi, karena “tidak diperbolehkannya adanya dua orang yang bersaudara sebagai Imam setelah Hassan dan Hussein“. Mereka berkata: “Imam (Hujjah) anak dari Hassan Askari harus telah dilahirkan, tetapi ayahnya telah menyembunyikannya dari mata orang-orang“.

Beberapa pertanyaan penting yang muncul dengan sendirinya adalah:

  • jika Imamah dibatasi pada orang-orang ini, tidak diperbolehkan bagi orang biasa lainnya yang tidak tak bersalah dan tidak diangkat oleh Allah, lalu mengapa ia menghilang dan bersembunyi dan tidak muncul untuk memimpin Syiah dan Muslim dan mendirikan pemerintahan Islam, yang tidak bisa dihindarkan?
  • Seberapa lama dunia ini tanpa seorang Imam, dan Imam yang bersembunyi tidak dapat melakukan tugasnya sebagai Imam dan pemimpin masyarakat, lalu apa rahasia di balik bersembunyi tersebut?
  • Sampai berapa lama Imam bersembunyi?
  • Lalu apa tugas Syi’ah selama Imam masih bersembunyi?

Secara alami dan sewajarnya dari doktrin “ghoibah“ adalah menunggu dan pelarangan setiap kegiatan politik pada periode Mahdi bersembunyi. Ini adalah teori yang mendominasi pemikiran politik Syiah yang telah dianut selama berabad-abad, dan beberapa dampaknya masih bertahan hingga hari ini, meskipun mereka menggunakan doktrin baru perwakilan masyarakat dan wilayat al-faqih. Hasil akhir dari idealisme para theolog ini menggiring Syi’ah kepada tidak adanya aktifitas politik kemasyarakatan dan mereka kehilangan Imamah, karena tidak tampilnya Imam yang makshum di dunia nyata. Keadaan ini sangat kontras dengan filosofi yang mengatakan bahwa Imamah harus ada si atas bumi dan keharusan Imam tidak berbuat salah dan perlunya Imam ditunjuk oleh Allah di setiap zaman dan tempat, dalam rangka melaksanakan syariat Islam dan memimpin Muslim dan membeerikan kepada umat keputusan hukum dan juga memecahkan permasalah hukum mereka.

Syiah Imamiah Musawiyah telah mendapat pengalaman pahit dengan “gerakan Waqifiyah“, yang mengklaim terjadinya “ghoibah” Imam Musa al-Kazim (AS). Mereka menolaknyua karena kontradiksi dengan doktrin “ghoibah“ dan filosofi Imamah. Oleh karena itu, Imam Ali bin Musa Ridha (AS) berkata kepada mereka:

“Maha suci Allah, Rasul Allah meninggal dan Musa tidak mati! Demi Allah dia telah pergi kepada kemuliaannya sebagaimana Rasulullah (SAW) telah pergi“ (1)

Ia menuduh Waqifiyyah (yang mengklaim bahwa ayahnya tidak mati) telah berbohong dan kafir pada apa yang Allah SWT telah wahyukan kepada Muhammad (saw). Ia berkata:

Jika Allah memperpanjang masa kehidupan salah seorang dari bani Adam karena adanya kebutuhan pada ciptaan tersebut bagi Dia, maka Dia akan memperpanjang umur Rasulullah (saw). (2)

Imam Rida sering beradu argumentasi dengan Waqifiyah tentang arti penting dari “Imam” dan keutamaan kepercayaan mereka kepada Imamah, jika mereka berkomitmen kepada Imam yang bersembunyi, yang tidak ada dalam kehidupan nyata. Imam Rida menarik perhatian mereka tentang perlunya berinteraksi dengan Imam yang ada yang hidup di dunia nyata. Ia menceritakan dari nenek moyangnya yang berkata:

“Bukti Allah pada ciptaan-Nya tidak akan tegak kecuali melalui seorang Imam yang hidup dan dikenal. Barangsiapa mati tanpa (membaiat) seorang Imam, (maka ia) mati jahiliyah…Ia (Imam tersebur) harus hidup dan Imam yang berilmu”…. Rasul Allah (saw) telah berkata: Barangsiapa mati tanpa Imam yang maujud dan hidup (maka ia) mati jahiliyah…seorang Imam yang hidup. (3)

Hal ini mengungkapkan penolakan Imam Reda (AS) pada teori “ghoibah” pada zaman Imam, dan karena tidakadanya bukti pada masyarakat tentang kejadian “ghoibah”, dan perlunya kehadiran (dalam kehidupan nyata) seorang Imam didepan mereka dan pengetahuan mereka tentang dia, melakukan perintahnya, mendengarkan dan mematuhi dia dan berinteraksi dengan dia, jika diperlukan menurut Allah untuk mengangkat seorang Imam.

Jadi, doktrin “ghoibah” menimbulkan konsekuensi hukum yang kontradiksi secara menyolok dengan kebutuhan akan adanya “Imam”, yang seharusnya memegang kepemimpinan Muslim. Tidak diperbolehkan Imam menghilang dari arena. Jika kita mengatakan sebagai contoh misalnya, bahwa negara harus menunjuk seorang petugas lalu lintas di sebuah persimpangan jalan, lalu kita melihat dia tidak ada di jalan ketika lalu lintas macet, ruwet dan anarki, maka ketidakhadiran petugas tersebut di jalan raya karena dia ada di balik layar karena ghoib, menjadi tidak bermanfaat karena lalu lintas telah menjadi macet, ruwet dan kacau. Hal ini sangat jelas menurut akal sehat, yang tidak bisa diabaikan, atau dibenarkan dengan hadits yang lemah.

Namun demikian unsur-unsur teori okultasi telah menolak penggunaan akal sehat untuk kasus ini, meskipun menggunakannya untuk menegakkan premis awal seperti: keharusan adanya seorang Imam, keharusan ia “tidak berbuat salah” dan perlunya ia ditunjuk oleh Allah. Ahmed bin Ishaq Al-Qummi salah satu dari tokoh doktrin okultasi, melaporkan sebuah surat dari “Imam (Hujjah) puntra Hassan” yang menyatakan: ia mengirim surat kepadanya sebagai jawaban atas sebuah surat yang telah dikirim kepadanya yang menanyakan apa alasan ketidakhadirannya (okultasi/ ghoibah). Dikatakan dalam surat itu: “Jangan bertanya tentang hal-hal yang jika menjadikan kamu paham, mungkin akan menimbulkan masalah!“. Berdasarkan ini Syeikh Saduq berkata: Allah “tidak bisa dipertanyakan apa yang Ia perbuat, ketika mereka akan ditanya“. Tidak bisa dikatakan kepadanya: “Kenapa?” atau “Bagaimana?“…Hal sama dengan kasus menuculnya Imam, orang yang Allah telah menjadikannya “tidak hadir”, maka Dia akan mengijinkan muncul kembali kapan saja Dia berkehendak. (4)

Dia juga mengatakan: Iman seorang hamba tidak sah hingga ia dalam pikirannya menyandarkan tidak menentang terhadap apa yang telah diperintahkan, dan ia menyerahkan semua urusan secara total, menerimanya tanpa dicampuri dengan keraguan dan kecurigaan. Islam adalah penyerahan dan ketaatan (pada kehendak Allah). Dan barangsiapa mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya, dan di hari akhirat ia akan menjadi orang yang merugi. (5)

Al-Saduq telah melaporkan hadits dari Imam Shadiq (as) yang mencoba membebaskan dia dari menjelaskan atas hikmah dibalik “okultasi [sang pemilik urusan], Imam Mahdi”. Bahwa karena suatu masalah, ia tidak diijinkan tampil di depan orang-orang. Ia berkata: “Hikmah di balik itu tidak akan terungkap hingga setelah kemunculannya … Ini adalah salah satu dari urusan Allah, sebuah rahasia dari rahasia Allah, “Ghoibah” adalah dari Allah. (6)

Sheikh Saduq telah menolak pijakan atas jalan akal dan perenungan dalam menyelidi penyebab adanya okultasi, dan berkata: “Kebaikan umum (maslahah) hanya diketahui oleh yang Maha Mengetahui semua yang ghoib, yang mengetahui apa yang ada di pikiran dan semua konsekuensi, yang baginya rahasia tidak tersembunyi …. (7).

Karajiki telah meminta Syi’ah untuk berhenti memikirkan masalah ini, setelah percaya kepada adanya Imam dan ketidakbersalahannya, dan bahwa dia tidak melakukan apapun kecuali sesuai kehendak Allah, dan menyerhkan setiap langkah atau tindakan atau posisi yang diambil (oleh Imam yang tidak berbuat salah), meski dengan tidak tahu alasan dan tujuannya, dan ia berkata: “Tidak mengikat bagi kami untuk mengetahui penyebabnya, dan bukan kewajiban kami untuk mengungkapkannya, dan ketidaktahuan kami bukan hal yang buruk”. (8). Sheikh Tusi membantah perlunya membicarakan penyebab okultasi Imam setelah menetapkan keberadaannya. (9)

Setelah pengakuan dari pilar teori okultasi bahwa tidak ada penjelasan yang masuk akal dan pasti tentang okultasi, maka menjadi tidak perlu membahas berbagai laporan dan teori yang telah mereka buat untuk menjustifikasi adanya okultasi seperti: ”hikmah yang tidak diketahui”,  karena untuk “menyaring/ menyisihkan Syiah (yang asli dan benar)”, atau kekhawatiran Shohib Al-Zaman (Imam Mahdi) dari pembunuhan. Para perawi dari laporan seperti ini adalah para ekstrimis (ghuluw) dan lemah (dho’if), dan kandungannya (sanadnya) tidak berhubungan dengan Mahdi (Muhammad ibn Hasan al-Askari).

Sebagian besar pengarang yang menulis tentang ghoibah seperti Mufid, Murtada dan Tusi telah menghindar dari memakai teori “penyaringan” (ujian), kecuali Syekh Saduq yang dalam beberapa hal masih menekankan pentingnya hal itu, bahkan ia menganut teori sepenuhnya, terutama setelah punahnya generasi Syiah pertama, yang telah mengalami ujian dan penyaringan hingga pada suatu tingkat tidak seorangpun yang tersisa.

Saya berfikir kita perlu berhenti hanya pada teori “kekhawatiran” yang mana oleh beberapa theolog yang menjelaskan okultasi, seperti Sayyid Murtada, Syeikh Tusi dan Karajiki (Bihar). Para pendukung teori “kekhawatiran” mendasarkan pendapatnya pada sekumpulan laporan yang lemah dari sisi sanad dan matannya, dan bersifat umum yang tidak menentukan nama Qoim (Imam Mahdi). Semua laporan tersebut ditransmisikan dari Zurarah dari Imam Shadiq (as) lebih dari seratus tahun sebelum meninggalnya Imam Hasan al-Askari.

Adalah tidak mungkin menggunakan teori kekhawatiran dalam menafsirkan okultasi kecuali setelah menerima sejumlah asumsi khayalan seperti terlebih dahulu menentukan identitas Imam Mahdi dimana hal ini telah dibuktikan pada Bagian 2 sebagai tidak valid. Demikian juga menganggap adanya ketegangan politik antara bani Alawi dengan dan penguasa bani Abbasiyah. Hal ini akan dibantah pada bab lain. Dan juga mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah penutup dari imam dua belas, dan teori ini pada awalnya belum ada, dan muncul pada abad keempat AH. Demikian juga pernyataan tentang pelarangan Imam Mahdi dalam menggunakan “kepura-pura” (taqiyyah) dan penyembunyian identitasnya hingga hari kemunculannya, maka hal ini bertentangan dengan kebijakan Imam-imam sebelumnya, yang tidak ada justifikasinya sama sekali.

Dari semua itu, teori kekhawatiran terlalu jauh dari etika dan perilaku Ahl al-Bayt (AS), dimana mereka mencintai mati syahid karena Allah. Teori tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang rahasia di balik Allah yang Penyayang tidak menjaga Mahdi, jika diasumsikan dia memang ada, sebagaimana Allah melindungi Nabi Musa dan menyelamatkan dia dari Firaun, dan sebagaimana juga Allah menjaga Rasul Muhammad (SAW) yang telah dinubuwwatkan sebelumnya.

Disamping fakta bahwa para Imam dari Ahl al-Bayt (AS) sebelumnya tidak menentukan identitas Mahdi, dengan menerima argumen ini, masih tetap akan menimbulkan pertanyaan kontroversial tentang rahasia di balik pengumuman nama Ahlul Bait yang akan menjadi Qoim yang dilakukan sebelum kelahirannya, jika mereka tahu bahwa ia akan mengalami tekanan? Mengapa mereka tidak membiarkan agar tetap merupakan rahasia hingga waktu kemunculannya, sedemikian rupa sehingga aakan menyelamatkan Mahdi dari kejaran musuh sejak lahir dan masa kanak-kanak?

Jika teori kekhawatiran terhadap musuh itu valid, lalu mengapa Mahdi tetap menyembunyikan dirimya dari sekutu-sekutunya? Ratusan juta Syi’ah sepanjang sejarah selalu menunggu (Imam Mahdi) dan menyatakan kesiapan untuk mendukung dia, bahwa beberapa Negara telah berdiri berdasarkan keyakinan tentang dia, namun kenapa dia tidak muncul, padahal tidak ada keadaan yang perlu ditakutkan pada zaman itu?
Ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa kepala negara Syiah Buwaihiyah yang telah tegak pada abad keempat AH, sebelum Syekh Mufid, menuntut jawaban. Namun Mufid mengalihkan jawaban kepada Tuhan dan berkata: “Rahasia dibalik okultasi hanya diketahui oleh Allah”. Saya mengenal sejumlah besar Syiah di bawah Negara Buwaiyah, tetapi mempertanyakan ketulusan, keberanian dan kesalehan mereka. (10)

Dan sekarang …. Setelah lebih dari seribu tahun sejak lahirnya teori kekhawatiran untuk membenarkan doktrin okultasi – dan setelah jatuhnya puluhan negara dan beridirnya Negara baru lainnya, doktrin tersebut nampak sangat jauh dari realitas dan tidak mempunyai kredibilitas apapun, dan tidak lebih dari sekedar hipotesis dan ilusi untuk membenarkan hipotesis tentang keberadaan Imam (Muhammad bin Hasan al-Askari) dan fenomena bersembunyinya Imam Mahdi bertentangan dengan tanggung jawabnya sebagai Imamah yang dibebankan oleh Allah.

Hal ini membuktikan ketidakabsahan hipotesis kelahiran dan keberadaan “Imam Hujjah putra Hassan, dan jika ia benar-benar ada, maka wajib bagi dia untuk muncul dan melakukan tugas kepemimpinannya pada kesempatan pertama yang memungkinkan dia untuk melakukannya, dan tidak diperbolehkan meninggalkan umat tanpa kepemimpinan yang sah.

Para pendukung teori kekhawatiran telah meminta kepada kaum Syiah untuk tidak mempertanyakan alasan mengapa Imam Mahdi pergi okultasi (ghoibah), yaitu dengan cara menegakkan keberadaanya, mempersiapkan untuk mendukung dia, atau membantu, memperkuat dan berkorban untuk dia dan menerimanya dan berhenti mendukung si penindas, dan memanggil kemunculannya. Sayyid Murtada telah berkata di dalam ‘Al-Syafi’: “Mukallifin (mereka yang dianggap bertanggung jawab secara legal) dapat melakukan sesuatu yang dapat mendorong lenyapnya taqiyyah Imam, kekhawatirannya yang akan mewajibkan dia untuk muncul/ tampil. .. Kami telah menjelaskan bahwa alasan okultasi Imam adalah tindakan yang tidak adil dari para penguasa dan kegagalan mereka dalam melakukan aktifitas mereka yang diperlukan untuk menegakkan kekuasaan Imam dan menjadikan Imam bebas dan memberikan dia kekuasaan penuh atas mereka. Kami juga telah menjelaskan bahwa alasan positif perlunya okultasi adalah agar mereka (orang-orang beriman yang mendapat tanggung jawab) dapat mencapai tujuan mereka dengan cara menghilangkan keadaan yang menjadi penyebab okultasi, sedemikian rupa sehingga Imam akan muncul dan mereka akan mendapatkan manfaat dari administrasi pemerintahan dan kebijakan Imam. (11)

Pada hari ini sudah tidak ada kekhawatiran tersebut, dan Syii telah menghapus alasan yang mendorong Imam untuk ghoibah, dan mereka telah siap untuk mendukung Imam dan telah bertekad untuk memperkuat dan menyerahkan diri mereka kepad Imam. Mereka juga telah berhenti mendukung penguasa yang tidak adil, dan telah selalu memanggilnya agar keluar (dari tempat persembunyiannya), tetapi tidak keluar-keluar! Meskipun Sayid Murtada menyatakan bahwa adalah wajib bagi dia keluar/ muncul, namun Imam (kalau memang benar-benar ada) tidak melakukannya.

Syekh Saduq di dalam Ikmal al-Din telah menyangkal untuk menerima keyakinan Waqifiyyah tentang adanya okultasi (ghoibah) Imam Musa al-Kadhim dan bahwa ia adalah Mahdi, karena umur dia yang telah melampaui umur alamiah manusia normal. Nmun di sisi lain ia dan Tusi telah melaporakan hadits yang menyatakan bahwa umur al-Mahdi dapat selama umur Nuh (AS), dan adanya kemungkinan Allah menunda pemerintahannya karena beberapa alasan demi kebaikan. (12)

Referensi:

  1. Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 380.
  2. Al-Kashi: Al-Rijal, hal. 379.
  3. Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 177, Al-Himyari: Qurb al-Isnad, hal. 203.
  4. Ikmal al-Din, hal. 88.
  5. Ibid, hal. 531.
  6. Saduq: Ilal al-Shara’i, hal. 246, Al-Amali, hal. 426.
  7. Al-Fusul al-Mukhtarah Masalah fi al-Ghoybah, hal. 266 dan 269.
  8. Al-Karajiki: Kanz al-Fawaid, vol. 1 hal. 371.
  9. Tusi: Al-Ghaoybah, hal. 3 – 4.
  10. Mufid: Al-Amali, hal. 390.
  11. Al-Shafi, vol. 1 hal. 147.
  12. Tusi: Al-Ghaoybah, hal.76 dan 78.

5 thoughts on “BAB XX. KONTRADIKSI OKULTASI (GHOIBAH) DENGAN FILOSOFI IMAMAH

  1. Rakiyan says:

    Mazhab baru namanya muslim saja, apakah terpengaruh oleh a. hasan bandung pendiri organisasi persis, yang mengharamkan mazhab tapi bermazhab persis…!

  2. alwi says:

    Okultasi bukan wilayah manusia,tp wilayah Allah. Salah satu hikmahnya,Allah hendak menjaga ImamNya dari tangan kotor yg pasti membunuhnya spt Imam2 sblmnya. Kehadiran selalu tak menjamin keberhasilan da,wah. Nilai keberhasilan ada pd cara yg tlh digariskan Allah kepadanaya. Musa As,saat meninggalkn umatnya slm 40 hr,beliau tdk ditegur oleh Allah bahkn krn ia mematuhi Allah,meski ia mendapati umatnya semakin menyimpang dari kebenaran sepulangnya dari okultasi kecil.

  3. Puru says:

    Sejak kapan ada namanya syi’ah muawiyah pak…
    Lucu juga… Islam ente ikut DEPAG RI apa DEPAG Iran ???

    Jangan terlalu banyak mengarang…
    Kalau Imam Hasan ra menyerahkan jabatannya ke Muawiyah ra.. apakah berarti Imam Hasan juga Syi’ah Muawiyah dong ???

    Makanya mikir… xixixixi…

  4. wisnu says:

    ini situs syiah keliatan betul dari penjelasan-penjelasannya,….

    • Islam saja says:

      Mungkin anda baru baca sebagian. Coba dibaca secara kesluruhan.
      Kalau info yang didapat tidak utuh, besar kemungkinan akan salah dalam mengambil kesimpulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: