BAB XIX. MENGGUGAT KLAIM ADANYA IJMA’ TENTANG ADANYA MAHDI.

1

June 2, 2011 by Islam saja

Sebelum kita mempelajari kasus ini dan klaim adanya ijma’ tentang adanya Imam Muhammad bin Hasan al-Askari, adalah bermanfaat untuk membicarakan secara gamblang tentang legalitas ijma’ dalam pandangan Syiah 12 Imam. Telah diketahui umum bahwa menurut pandangan mereka ijma’ tidak dianggap merupakan bukti yang beridiri sendiri, kecuali jika mengungkapkan pendapat maksumin, dan tidak didasarkan pada dalil Al-Qur’an atau hadits atau akal. Jika ijma’ bersandar pada sebuah ayat Al-Quran, maka ayat tersebut harus diperiksa kembali dan meninjau ulang hasil ijma’ tersebut. Hasil ijtihad (analogi hukum) kita mungkin berbeda dengan ijtihad ulama sebelumnya dimana mereka semua mungkin telah sepakat dalam memahami suatu masalah (mencapai ijma’), berdasar pemahaman mereka sendiri. Sehingga hasil ijtihad dan ijma’ mereka berdasarkan pendapat mereka tidak bisa menjadi bukti yang mengikat kami, karena dalil/ argumentasi itu ada di dalam Al-Quran, dan dalam pandangan kami – sebagai contoh –hasil ijma’ tidak berarti merupakan sesuatu yang harus kami ikuti. Hal yang sama juga berlaku untuk bukti Hadits dan dalil akal.

Satu-satunya kasus dimana ijma’ menjadi sah sebagai bukti hukum dalam pandangan Syi’ah, adalah ketika ada ijma’ pada isu tertentu, dan kami tidak tahu ijma’ tersebut didasarkan atas apa, sehingga kami berasumsi bahwa ijma’ itu didasarkan atas sebuah hadits yang tidak mencapai kami. Konsekuensinya, kami harus yakin dan memastikan bahwa ijma’ tersebut benar-benar menggambarkan pendapat masksumin.

Ijma’ semacam ini tidak pernah dicapai dan terjadi di kalangan Syi’ah, kecuali pada generasi awal yang dekat dengan zaman para imam. Inilah yang dinyatakan sebagai “suara bulat para pendahulu“. Jika tidak ada ijma’ dari “para pendahulu“ tentang suatu masalah, dan ijma’ tentangnya tidak mencapai ulama generasi berikutnya; maka hal itu tidak dianggap sebagai bukti yang legal, karena tidak mencerminkan pendapat maksumin…. dan juga karena ijma’ itu sendiri bukanlah merupakan sebuah bukti tentang kebenaran sesuatu.

Itulah posisi sebenarnya tentang ijma’ (menurut pandangan Syuah) dan alamiahnya.

Ijma’ pada pertanyaan tentang adanya Mahdi bukanlah jenis ijma’ yang ditemukan dalam beberapa masalah (hukum) fiqh sekunder, tetapi hanyalah berdasarkan hipotesa (dugaan) berdasarkan bukti akal, hadits dan sejarah, dan tidak mencerminkan pendapat atau pernyataan yang mencapai kepada kita dari para imam.

Ijma’ yang diklaim oleh Ash`ari Al-Qummi atau Al-Nukhbati atau Saduq sama sekali tidak terjadi dalam kasus tentang keberadaan Imam Muhammad bin Hasan al-Askari. Syiah Imamiyah tidak berbeda dalam masalah ini sebelumnya, sebagaimana mereka berbeda pendapat pada masalah pengganti (setelah dia), sebagaimana mereka menjadi terpecah setelah meninggalnya Imam Hasan al-Askari menjadi empat belas sekte yang berbeda. Beberapa diantaranya percaya pada kemahdian Imam Hassan bin Ali, sementara beberapa yang lain mengatakan bahwa saudaranya, Mohammed adalah Mahdi. Sisanya percaya pada Imamah dan kemahdian dari saudaranya, Ja’far. Beberapa di antaranya percaya pada berhentinya Imamah. Tidak satupun yang percaya pada adanya kelahiran, Imamah dan kemahdian dari Mohammad Bin Hassan, kecuali hanya satu dari empat belas sekte tersebut.

Sekte ini juga berbeda diatara mereka sendiri tentang nama dan identitas Mahdi!

Nukhbati dalam bukunya `Firaq al-Syi’ah’ dan Ash`ari al-Qummi dalam bukunya `Al-Maqalat wa al-Firqa’ dan Mufid dalam bukunya `Al-Fusul al-Mukhtarah min al-Uyun wa al-Mahasin’ dan Tusi dalam bukunya `Al-Ghoybah’ telah menjelaskan secara gamblang jumlah dari sekte-sekte tersebut, beberapa dari mereka menghitung hingga dua puluh sekte. Kami telah menunjukkan pada beberapa halaman dalam buku ini rincian dari sekte-sekte yang berbeda tersebut dan berbagai perbedaan pandangan mereka. Saduq dan Tusi melaporkan terjadinya pertengkaran diantara Syiah dan mereka merujuk kepada Al-Umari tentang isu adanya penerus Imam Hassan?

Semua ini menunjukkan tidakadanya ijma’ mengenai adanya Imam Mahdi pada zaman awal kehidupan Syi’ah. Malahan, terdapat laporan tertulis yang berisi sebaliknya, bahwa Imam Askari telah memberikan wasiatnya kepada ibunya menurut kalangan Syi’ah. Ia tidak memberikan wasiat yang lain kepada siapapun selain kepada ibunya. Jika ia mempunyai seorang anak lelaki, meskipun masih di dalam kandungan ibunya, ia semestinya memberikan wasiatnya kepadanya. Namun hal ini tidak pernah terjadi.

Dari sini kami dapat mengatakan bahwa, jika kita mengecualikan pendapat dari sedikit orang, ijma’ Syi’ah pada abad ketiga dan keempat didasarkan pada tidakpercayanya pada adanya Muhammad bin Hasan al-Askari. Mayoritas sejarawan Syi’ah seperti Nukhbati, Ash’ari, Kulayni, Nu’mani, Saduq, Mufid dan Tusi juga telah menyebut zaman tersebut sebagai zaman kebingungan, semua menyebutnya seperti itu.

One thought on “BAB XIX. MENGGUGAT KLAIM ADANYA IJMA’ TENTANG ADANYA MAHDI.

  1. azmy says:

    1.terus apa masalahnya kalo gak ada ijma?
    2.terus apa masalahnya jika terdapat ijma?
    3.solusi anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: