BAB XVII. KRITIK TERHADAP BUKTI HISTORIS

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB XVII

KRITIK TERHADAP BUKTI HISTORIS

Aku yakin bahwa pembaca yang awam tidak perlu menderita kesulitan dalam mempelajari ilmu penyampaian Hadith dan dalilnya dalam rangka menilai laporan ‘historis’ yang menyampaikan kelahiran Imam Muhammad bin Hassan Askari’, atau perlu menjadi seorang spesialis bidang sejarah. Karena pengarang yang melaporkan tradisi itu dalam karya mereka, telah mencoba menyelamatkan diri mereka dari dugaan ketika bergantung pada laporan yang lemah seperti itu. Mereka berkata pada awalnya: Kami akan membuktikan keberadaan Imam ke-12 berdasar pada alat yang dapat diterima secara teori, filosofis dan rasional. Kami tidak memerlukan laporan historis, kami sekedar menyebutkannya saja untuk mendukung dan memperkuatnya. Mereka juga merendahkan bahu mereka karena adanya beban ketika dilakukan diskusi intelektual perihal laporan itu, untuk memastikan rantai kisah (sanad) mereka dan menyelidiki dalil mereka.

Aku juga yakin bahwa ketika mereka mengutip (tradisi seperti itu) seperti kasus orang yang tenggelam, yang mencoba untuk berpegang pada sesuatu (untuk menyelamatkan dirinya), sebaliknya, mereka sebenarnya tahu lebih dari siapapun, tentang kelemahan dan kekurangan laporan seperti itu. Bila terdapat sekte lain mengutip laporan seperti itu tentang keberadaan Imam mereka atau orang lain, mereka pasti telah memukul dan meremehkan dan merendahkan akal mereka dan kemudian pasti telah menuduh tidak rasional dan jelas tidak logis. Seperti ahli ilmu agama Sekte 12-Imam telah melakukan penyangkalan kepada kelompok Syi’ah Imamiah Fathiah yang mengklaim keberadaan seorang putra secara rahasia dari Imam Abdullah Aftah bin Ja’far Sadiq. Mereka juga berkata bahwa namanya adalah Muhammad, dan ia adalah Mahdi yang ditunggu. Mereka juga mengklaim bahwa ia dilahirkan secara diam-diam dan disembunyikan di Yemen. Hal itu berdasar pada prinsip perlunya mengabadikan Imamah pada anak-anak dan cucu, dan tidak diperbolehkannya Imamah dipindahkan kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Syi’ah 12-Imam mengatakan tentang sekte itu (Syi’ah Fathiah): ‘Mereka telah memalsukan keberadaan seorang putra yang dibuat-buat, yang tidak ada, yaitu Mahdi, Imam Muhammad bin Abdullah Aftah sebagai hasil dari suatu jalan buntu yang mereka capai’.

Siapapun yang mempelajari warisan intelektual Syi’ah yang luas di bidang ilmu hadith (baik rantai kisah [sanad) maupun kandungan dalil [matan]), akan melihat adanya perhatian para ulama – sejak abad pertama – mengenai para perawi dan studi hadith dan usahanya dalam menyaring dan meneliti dengan cermat dan membedakannya (hadiths) yang sahih dari yang lemah. Ia juga akan mengakui tingkat arti pentingnya di mana ulama Syi’ah telah membangun pendapat yang sah berdasar pada fondasi intelektual yang sahih, dan mereka tidak menerima membangun berbagai hal yang menyangkut agama berdasar pada ilusi, dugaan, kabar angin dan dongeng.

Peneliti yang netral, bagaimanapun, dipikat oleh pengabaian para ulama sepanjang sejarah studi kisah historis mengenai penetapan kelahiran dan keberadaan Imam ke-12 Muhammad bin Hassan Askari, kebergantungan mereka pada hal itu, berdasar pada aturan yang tidak ada otoritas dari Allah, yang mengatakan: “tradisi yang lemah diperkuat oleh tradisi (lemah) yang lain” dan mereka menganggap isu keberadaan dan kelahiran tersebut, sebagai telah diterima secara final oleh semua orang, dan tidak perlu ditinjau ulang dan didiskusikan. Inilah yang mendorong mereka untuk mengulangi laporan itu tanpa pemikiran dan intelektual, persis seperti yang dilakukan oleh perawi ekstrimis.

Telah diketahui dengan baik bahwa perawi hadith zaman dahulu biasa membuat laporan tanpa penyelidikan atau kritik. Mereka kemudian mengembangkan dan mulai membedakan semua laporan tersebut. Pergerakan usuli datang kemudian dalam kelahirannya, dan menggolongkan hadiths ke dalam Sahih (sehat), Hassan (baik), Qawiy (kuat) dan Da’if (lemah). Kecuali, perkembangan ini tidak mencakup kisah historis tentang kelahiran Imam ke-12, sebagaimana yang kita lihat, Syekh Tusi yang menulis ‘Al-Fihrist’ dan ‘Al-Rijal’ -ilmu tentang perawi, menceriterakan laporan seperti itu dari orang-orang yang ia sendiri menganggap lemah di dalam bukunya. Hal itu karena kebutuhan akan kisah seperti itu dalam membangun teori agama tertentu.

Seorang ulama besar seperti Sayyid Murtada Askari yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dari hidupnya, dalam rangka menetapkan, di dalam dua atau tiga volume, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah mitos yang dibuat-buat yang dipalsukan oleh beberapa sejarawan dalam rangka untuk menuduh bahwa Syi’ah mengambil teori Wasiyyah di dalam Imamah dari bangsa Israel. Sayyid Askari bekerja keras menggunakan banyak usaha dan ia meneliti puluhan buku sejarah, dalam rangka menyangkal cerita keberadaan Abdullah bin Saba’ dan perannya di dalam pemikiran Syi’ah. Ia bagaimanapun, tidak melakukan satu persen atau bahkan satu permil (per seribu) usaha dalam rangka menyelidiki kebenaran keberadaan Imam ke-12, atau mempelajari laporan seperti itu yang mendiskusikan kelahirannya. Ia berhenti pada masalah itu dalam setiap bukunya. Ia adalah orang yang menemukan keberadaan 150 (seratus lima puluh) perawi sahabat yang memalsukan hadits.

Betapapun, adalah mungkin bagi saya untuk mengatakan bahwa tidak ada isu yang begitu diabaikan dan dikalahkan dalam warisan Syi’ah sebagaimana isu tentang ‘keberadaan Imam Mahdi’ dan kelahirannya. Tidak ada isu di luar penelitian dan ijtihad, kecuali isu tersebut. Ketika aku mulai mempelajarinya secara kebetulan, atau agaknya dengan kehendak Allah (Tawfiq), dan aku memperkenalkan hasil penelitianku kepada para Ulama, ahli hukum dan pemikir selama lebih dari lima tahun, aku menemukan bahwa kebanyakan di antara mereka menggunakan taktik melarikan diri, bukannya membaca hasil penelitianku, dan jengkel semata-mata oleh adanya penyelidikan tentang hal itu, seolah-olah penelitian itu merupakan usaha untuk mencegah dia dari mimpi indah yang mengasyikkan. Aku telah menegaskan keberadaan sebuah situasi doctrinal dan psikologis yang mencegah memperluas penelitian akademis dan kritik secara historis terhadap laporan seperti itu.

Sebagian dari elit di antara masyarakat pada umumnya berminat dalam hal menyerang  doktrin dari sekte lain, dan juga meremehkan lemahnya dan pemalsuannya dan laporan mereka yang tidak logis. Tetapi ketika masalah tersebut dikaitkan dengan aspek dari sektenya sendiri, ia akan menutup matanya dan akan mengklaim ketidak-tahuan dan ketidak-ahlian, dan ia akan menolak menggunakan sedikit akalnya, dan akan lebih menyukai melanjutkan apa yang telah ia warisi, tentang takhyul dan dongengan.

17.1  KONSISTENSI LAPORAN

Sebelum kita mendiskusikan laporan historis seperti itu baik dari segi rantai riwayat (sanad) dan dalil, adalah perlu sekali untuk menunjukkan bahwa laporan ini tidak dikenal pada periode yang disebut ‘keghoiban kecil’, karena para penulis yang percaya akan keberadaan Imam ke-12 tidak menyampaikannya. Mereka menulis tentang itu pada paruh kedua abad ketiga Hijrah, seperti Nubakhti di dalam ‘Firaq al-Shiah’, Sa’ad bin Abdullah Ash’ari al-Qummi di dalam ‘Al-Maqalat wa al-Firaq’, Ali bin Babawaih Saduq di dalam ‘Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah’, Muhammad bin Abi Zaynab Nu’mani di dalam ‘Al-Ghaybah’ dan bahkan Syekh Kulayni, yang mencoba mengumpulkan setiap cerita atau laporan pada masalah ini. Ia menyebutkan cerita tentang lelaki India ‘Sa’id bin Abi Ghanim’ yang menempuh perjalanan dari Kashmir untuk mencari Imam Mahdi. Tetapi ia tidak disebutkan di dalam kebanyakan cerita yang direkam setelah dia, seperti oleh Muhammad Syekh bin Ali Saduq di dalam, ‘Ikmal al-Din’, atau Syekh Mufid di dalam ‘Al-Irshad’ dan ‘Al-Fusul’ atau Syekh Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’.

Telah diketahui bahwa Syekh Saduq Yunior datang sekitar seratus (100) tahun setelah kematian Imam Askari. Syekh Tusi meninggal dua abad setelah itu. Di samping itu, mereka berdua terus merekam cerita apapun baik yang ‘mursal’ maupun kabar angin yang mereka dengar berhubungan dengan kelahiran ‘Muhammad bin Hassan Askari’, atau menyampaikan dari sejumlah ekstrimis, perawi lemah, orang-orang yang tidak dikenal dan para pemalsu.

Sebagaimana yang telah kita lihat, ‘bukti historis yang sangat tidak konsisten di dalam dirinya itu, dimulai dengan identitas dari ibu (yang diangggap ada) dari ‘Muhammad bin Hassan’, kemudian tanggal kelahirannya dan akhirnya detail menitnya. Karena terdapat perbedaan mengenai nama dari ibunya, apakah dia adalah budak perempuan, Narjis atau Susan atau Saqil atau Khamt atau Raihanah atau Mahksh atau dia adalah seorang perempuan merdeka yang bernama Maryam putri Zayd Al-Alawiyyah. Atau dia adalah seorang budak perempuan yang melahirkan di rumah tersebut dari salah satu dari saudara perempuan Imam Hadi. Atau dia dibeli dari pasar budak di Baghdad.

Laporan-laporan itu juga berbeda mengenai tanggal kelahiran Mahdi, tentang hari, bulan dan tahun. Mereka berbeda, pada gilirannya, tentang umurnya pada saat ayahnya meninggal, antara 2 (dua) hingga 8 (delapan) tahun.

Laporan-laporan tersebut juga berbeda perihal cara kehamilannya, apakah di dalam kandungan atau di sisi, dan mengenai kelahiran apakah melalui liang peranakan (vagina) atau paha!

Laporan-laporan tersebut juga berbeda perihal kulitnya antara putih atau kecoklat-coklatan. Laporan-laporan tersebut juga tidak konsisten mengenai cara pertumbuhannya, antara secara normal sebagaimana yang dikenal umum, dan klaim bahwa pada saat ayahnya meninggal ia masih seorang anak kecil, atau secara tidak normal. Mengenai ini, beberapa berkata pertumbuhannya cepat, tumbuh dalam sehari seperti pertumbuhan dalam setahun; atau bahwa pertumbuhannya dalam sehari seperti pertumbuhan mingguan dan pertumbuhannya dalam seminggu seperti pertumbuhan sebulan, dan pertumbuhannya dalam sebulan seperti pertumbuhan selama satu tahun. Berdasarkan ini kemudian ia seperti seorang dewasa sekitar tujuh puluh (70) tahun, sedemikian sehingga bibinya Hakimah tidak bisa mengenali dia dan terkejut oleh instruksi Imam Hassan kepadanya agar duduk di depan dia.

Laporan-laporan tersebut juga tidak konsisten mengenai penyembunyian urusannya. Sebuah laporan mengatakan bahwa Hakimah mengucapkan selamat tinggal kepada Imam Hassan, setelah kelahiran putranya dan kembali ke rumahnya. Tetapi ketika dia ingin menjenguk dia setelah tiga (3) hari, dia kembali dan mencari-cari dia di dalam kamarnya, tetapi tidak menemukan jejak apapun dari dia, atau mendengar berita apapun tentang dia. Dia tidak ingin bertanya dan pergi kepada Abu Muhammad. Ia memulai dengan mengatakan kepadanya: “Ia, wahai bibi, di loteng Allah, Ia memelihara dan menyembunyikan dia, hingga waktu yang Ia kehendaki. Ketika Allah membuat aku pergi dan mengambil ruhku, dan kamu melihat para pendukungku berpencar, kamu perlu menceritakan kepada yang dapat dipercaya di antara mereka. Biarkan dia (Mahdi) merupakan sebuah rahasia bagi kamu, tetapi tersembunyi bagi mereka, karena Allah menyebabkan yang Dia cintai menghilang dari ciptaanNya dan menyelubungi dia dari para hambaNya, sedemikian hingga tidak seorangpun melihat dia hingga Jibril (AS) menghadiahi (Mahdi) kudanya.” Tetapi, laporan lain berkata bahwa Hakimah menjenguk putra Hassan setiap empat puluh (40) hari. Dia tidak pernah berhenti menjenguk dia hingga ketika ia menjadi orang dewasa.

Beberapa laporan berkata bahwa: ‘Imam Hassan Askari mengumumkan kelahiran dari putranya dan mengirim kepada sebagian pengikutnya seekor domba jantan untuk disembelih (untuk upacara akekah); dan ia memperkenalkan (putranya) kepada sejumlah pengikutnya; bahwa ia menulis kepada Ahmad bin Ishaq al-Qummi tentang itu …bahwa ia membawa keluar putranya dan memperkenalkan dia kepada al-Qummi, ketika ia mengunjungi Imam di ‘Surr Man Ra’a’; bahwa sejumlah budak dan para pelayan juga melihat Mahdi secara kebetulan atau dengan sengaja, sedang duduk di dalam kamarnya atau sedang berjalan di rumah tersebut’.

Laporan tersebut tidak konsisten sebagaimana yang mereka katakan bahwa ia khawatir ditangkap oleh penguasa; laporan tersebut juga mengatakan bahwa ia telah mencapai kebijaksanaan yang sempurna sampai pada tingkat mensholatkan jenazah ayahnya, dan menerima delegasi di rumah ayahnya.

Laporan tersebut juga berbeda tentang pengetahuan dari para sahabat dan para pelayan tentang keberadaan putra Imam Hassan Askari. Beberapa di antara mereka berkata bahwa: Para pelayan dan sahabat dekatnya mengetahui keberadaannya dan pernah melihat dia. Beberapa di antara mereka berkata bahwa ‘mereka sangat terkejut ketika ia muncul untuk mensholati jenazah ayahnya, dan ia tidak dikenali kecuali dengan bantuan sejumlah tanda.

Laporan tersebut juga berbeda tentang kedewasaan intelektualnya. Beberapa di antara mereka berkata: ‘Ia tidak berdaya pada saat kelahirannya dan ia mengucapkan dua syahadat dan ia juga memohon berkah dan kedamaian Allah bagi nenek moyangnya, satu persatu, dan ia juga membaca beberapa ayat Quran yang agung. Beberapa di antara mereka berkata bahwa ia adalah seorang anak kecil yang bermain dengan delima keemasan dan mencegah ayahnya dari menulis apa yang ia ingin tulis.

17.1.1  LAPORAN DARI HAKIMAH

Kisah dari Saduq dari Hakimah mengatakan bahwa: Narjis tidak mempunyai tanda kehamilan pada dirinya dan dia pun tidak mengetahui tentang kehamilannya. Dia terkejut ketika Hakimah memberitahu dia bahwa: Dia akan melahirkan pada malam itu. Narjis berkata, “Wahai nyonya rumahku, aku tidak melihat tanda apapun! Hakimah sendiri terkejut ketika Imam Hassan memberitahu dia kelahiran anak tersebut bagi dia pada malam 15 bulan Sha’aban dan dia terus bertanya pada diri sendiri: ‘Siapa yang akan menjadi ibunya? Dan ketika Imam berkata kepadanya: ‘Narjis’, Hakimah berkata: ‘Semoga aku menjadi tebusanmu, tidak ada tanda apapun padanya, ‘ketika hal itu mendekati sore dan tidak ada tanda apapun yang nampak pada Narjis, keraguan mulai merayap ke dalam hati Hakimah.

Laporan tersebut mengatakan bahwa Hakimah mulai membacakan Quran kepada Narjis, dan embrio di dalam Narjis menjawab, membaca apa yang Hakimah sedang baca. Ia juga mengucapkan Salam kepada Hakimah, yang menakutkan Hakimah. Di samping itu, laporan tersebut mengatakan bahwa hal itu memerlukan Hakimah lama sebelum menyaksikan kelahiran tersebut. Pada kisah yang lain Narjis dibawa menjauhi Hakimah dan Hakimah tidak melihat Narjis, seolah-olah sebuah selubung ditempatkan di antara mereka. Ini mengejutkan Hakimah dan menyebabkan Hakimah berteriak dan memohon pertolongan Abu Muhammad.

Laporan Saduq tidak menyebutkan apa yang Tusi katakan di dalam salah satu dari kisahnya, bahwa Hakimah menemukan tulisan pada lengan anak tersebut ayat: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sungguh, kebatilan selamanya harus lenyap.” Mengesampingkan fakta bahwa Saduq datang lama sebelum Tusi, namun hanya Saduq yang menyebutkan adanya burung-burung yang berputar-putar mengelilingi kepala bayi tersebut, dan juga pernyataan Hassan kepada salah satu dari burung-burung itu: ‘Ambil dia dan lindungi dia, dan kembalikan dia kepada kami setelah tiap empat puluh hari.’

Saduq dan Tusi sepakat pada ucapan anak tersebut dan ia mengucapkan dua syahadat, dan pencarian berkah kepada Nabi dan Imam sebelumnya, dan juga Salam kepada ibu dan ayahnya. Mereka sepakat juga bahwa anak tersebut menghilang dan menyembunyikan dirinya setelah itu, dan bahwa bibinya tidak bisa menemukan jejak apapun dari dia, ataupun mendengar berita apapun dari dia.

Semua berita ini adalah aneh dan tidak diketahui dari Rasulullah (SAAW) atau dari Imam yang lebih awal (AS). Mereka merupakan bagian dari pernyataan ekstrimis dan dongengan mereka. Cerita itu tidak mempunyai hubungan dengan Syi’ah Ja’fariah atau Imamiah, yang percaya pada dalil sebagai alat untuk mengenali seorang Imam baru. Mereka tidak menyebutkan berbagai hal yang aneh dan luar biasa seperti itu.

Allah yang Maha Agung telah menyebutkan cerita ucapan Nabi Isa (AS) di dalam ayunan, di depan orang-orang secara ajaib, untuk menghilangkan dugaan perzinahan terhadap ibunya, dan untuk menetapkan kelahiran ajaibnya. Tidak ada kebutuhan apapun untuk menampilkan suatu keajaiban dan berbagai hal yang aneh mengiringi kelahiran ‘Imam ke-12’.

Jika mukjizat tidak bisa dielakkan, itu harus berlangsung di depan orang-orang, agar mengetahuinya dan mepercayai pesan di dalamnya. Tidak mungkin bahwa hal itu berlangsung secara rahasia di mana tidak seorangpun dapat mengetahui hal itu. Lalu apa manfaatnya?

Yang paling utama adalah, keraguan terungkap mengenai kelahiran seorang putra dari Hassan Askari. Jika terdapat kebutuhan untuk terjadinya suatu mukjizat atau sesuatu yang aneh, pasti telah terjadi dalam rangka menetapkan kelahiran itu sendiri…atau sebagai contoh, dalam rangka melindungi anak tersebut dari setiap kejahatan. Hal ini ternyata tidak terjadi.

Haruslah diperhatikan bahwa semua laporan tersebut, yang menyebutkan kelahirannya secara rahasia dan lenyapnya pada sayap burung-burung yang terbang yaitu para malaikat, tidak menunjukkan adanya ketakutan dari penguasa, atau bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu. Jika ia benar-benar dilahirkan, akan lebih baik jika Imam Askari mengumumkan kelahirannya, dengan cara yang ia akan dilihat oleh semua orang dan mereka akan memastikan keberadaan dan pergantian dari ayahnya. Jika otoritas Abbasiah mencoba menangkap dia atau membunuh dia, ia akan bersembunyi dengan kekuatan Allah dan secara ajaib.

Laporan yang diatributkan kepada Hakimah mengatakan bahwa ‘Imam Hassan Askari  diberitahu secara ajaib jenis kelamin anak tersebut, dan ia akan seorang lelaki. Sebagaimana laporan itu mengatakan: Ia sadar secara ajaib dari apa yang saudarinya Hakimah sedang pikirkan ketika dia meragukan pernyataannya. Ia berkata kepadanya: “Jangan tergesa-gesa, wahai bibiku.’ Itu juga menunjukkan pengetahuan Imam Hassan tentang dekatnya pada kematiannya, dan ia berkata kepada saudarinya: “Sangat segera kamu tidak akan menemui aku.” Demikian juga pengetahuan Imam Mahdi tentang yang ghoib dan ia menjawab pertanyaan Hakimah sebelum dia bertanya adalah juga menandai hal ini. Semua ini  kontradiksi dengan doktrin Syi’ah Ja’fariah dan Imamiah dan sesuai dengan kepercayaan ekstrimis dan mereka yang menyimpang dari Ahl al-Bayt (AS), karena terdapat sebuah tradisi populer Syi’ah dari Imam-Imam mereka yang memerintahkan membuang semua laporan yang kontradiksi dengan Qur’an.

Oleh karena itu, semua pertanyaan ini, kerancuan dan kekurangan memperlemah kisah yang diatributkan kepada Hakimah, dan itu membuat tidak validnya status dari bukti dan kehandalannya, dan itu membawanya semakin dekat menjadi dongeng yang dilaporkan oleh para ekstrimis dan fanatik.

17.1.2  LAPORAN DARI ABU AL-ADYAN AL-BASRI

Ini adalah laporan yang diceriterakan secara eksklusif oleh Saduq di dalam ‘Ikma al-Din’ dari seorang yang dikenal sebagai pemalsu hadist, seorang laki-laki yang diada-adakan yang ia tidak menyebutkan namanya, ayahnya atau kaumnya: ‘Abu al-Adyan al-Basri’. Saduq berkata bahwa ia adalah salah satu dari para pelayan Imam, pengantar pesannya, utusannya ke kota dan kolektor khumus Imam. Di samping semua itu, tidak seorangpun yang mengetahui Al-Basri, dan tidak ada sejarawan lain yang menunjuk keberadaannya.

Di samping status yang tinggi yang diberikan kepadanya oleh Saduq, perawi tersebut -Abu al-Adyan- mengakui bahwa Imam Askari tidak menginformasikan kepada dia tentang identitas Imam setelah dia. Ia juga mengakui ketidak-tahuannya tentang keberadaan seorang putra dari Imam Askari. Ia juga mengatakan bahwa kebanyakan dari Syi’ah termasuk Aqid dan Al-Samman (Uthman bin Sa’id) dan Al-Basri sendiri menyatakan duka cita mereka kepada Ja’far bin Ali dan memberi selamat kepada dia, selagi tidak mengetahui siapa Imam setelah Askari. Mereka ingin sholat  (jenazah) di belakang Ja’far.

Laporan tersebut secara jujur bersandar pada satu unsur, yaitu: pengetahuan Imam pada yang ghoib, sebagaimana yang perawi katakan pada permulaan: ‘Imam Hassan telah berkata kepada dia: Pergilah ke kota, karena kamu akan pergi selama lima belas (15) hari, dan kamu akan memasuki ‘Surr Man Ra’a’ pada tanggal 15. Kamu akan mendengar ratapan di dalam rumahku dan kamu akan menemukan aku di tempat kelahiranku.” Semua ini adalah dari pengetahuan pada yang ghoib, yang tidak seorangpun menguasai kecuali Allah, yang mengatakan di dalam Quran yang agung: “Tidak ada orang yang mengetahui apa yang ia akan dapati besok, dan tidak ada orang yang mengetahui tempat ia akan mati.“

Laporan tersebut mengatakan bahwa: ‘Imam yang akan datang dan tidak dikenal tersebut akan mencari dari Al-Basri jawaban surat dari Imam Askari, tanpa pengetahuan apapun dari Al-Basri sebelumnya, sebagaimana laporan tersebut mengatakan bahwa: Ia akan menyebutkan apa yang ada di dalam Hamyan (semacam kantong). Bahwa seorang anak muncul setelah mengkafani Askari dan mendorong Ja’far (ke samping) dan ia kemudian mensholati ayahnya: Kemudian ia berkata kepada al-Basri: “Bawa (kemari) jawaban surat tersebut yang ada pada kamu”. Al-Basri kemudian menyampaikan surat-surat itu kepada anak tersebut. Pada saat itu, sebuah delegasi Syi’ah dari Qum dan pegunungan datang dan menanyakan tentang Imam Askari, dan mereka  diberitahu tentang kematiannya. Mereka kemudian berkata: “Kepada siapa kami memberikan pernyataan duka cita kami?” Orang-orang menunjuk Ja’far bin Ali. Mereka menyampaikan Salam mereka kepadanya, memberikan pernyataan duka cita mereka dan memberi selamat kepada dia.’

Al-Basri tidak menjelaskan mengapa ia tidak memandu mereka kepada Imam yang baru? Mengapa para pemimpin Syi’ah yang sholat – melalui khaylan – di belakang seorang anak, tidak menunjuk dia, jika hal itu benar-benar telah terjadi?

Bagaimanapun, perawi ‘Abu al-Adyan al-Basri’ mengatakan bahwa: “Delegasi dari Qum tidak menentang penunjukan Ja’far, sebagai Imam setelah saudaranya. Mereka tidak berargumentasi tentang perlunya warisan vertikal. Mereka hanya berkata bahwa mereka mempunyaii uang dan surat, dan mereka meminta kepada Ja’far untuk menginformasikan mengenai hal itu, dari mana asal-usal surat dan uang itu. Ja’far berdiri dan mengebutkan pakaiannya sambil berkata: “Kamu ingin kami mengetahui yang ghoib?” Pelayan tersebut pergi ke luar. Dan ia (Qa’im) berkata: “Kamu mempunyai surat dari si polan, si polan, dan di dalam Hamyan ada seribu dan sepuluh dinar. Mereka memberikan kepada dia surat dan uang tersebut dan berkata: “Seseorang yang menyuruh kamu untuk mengambil ini, adalah Imam”.

Saduq dalam kisah ini tidak mengatakan bahwa delegasi dari Qum mengenal identitas Imam tersebut, atau mereka melihat dan berjumpa dengan dia. Apa yang ia katakan pada kisah yang lain, bagaimanapun, adalah: ‘anggota delegasi tersebut masuk ke dalam dengan pelayan Imam Qa’im yang duduk pada sebuah tempat tidur, seolah-olah ia seperti bulan. Ia  sedang memakai pakaian berwarna hijau. Delegasi tersebut mengucapkan ‘Salam’ kepadanya, dan Qaim menjawab, kemudian Qo’im berkata: “Jumlah total uang tersebut adalah anu dan anu, anu dan anu dibawa oleh si anu dan anu, dan seterusnya. Ia menjelaskan semuanya. Ia kemudian menjelaskan anggota  delegasi, pakaian dan binatang mereka kepada mereka.’

Sekalipun persoalan tersebut tidak terlalu sulit, karena ada kemungkinan bagi siapapun untuk duduk di depan delegasi tersebut dan mengetahui situasi mereka, atau ia setuju dengan pemimpin delegasi tersebut, dan ia menceritakan secara detail kepada seluruh anggota yang ada… Laporan dari Abu al-Adyan al-Basri tersebut menganggap bahwa ucapan lelaki itu merupakan pengetahuan pada yang ghoib, dan sebagai bukti Imamah dari lelaki (atau anak tersebut), yang sedang duduk di atas tempat tidur tersebut, tanpa memberitahu kita bagaimana delegasi tersebut mengenali identitas lelaki tersebut. Apakah ia telah memberitahu mereka bahwa ia adalah putra Imam Askari atau bukan?

Sebagaimana nampak jelas, laporan ini tidak menyebutkan apapun mengenai ketakutan atau ketidak amanan yang melingkupi Syi’ah dan Imam yang baru. Laporan itu hanya berkata bahwa Khalifah Abbasiah Al-Mu’tamid berdiri di samping delegasi tersebut ketika perdebatan antara mereka dengan Jafar. Ia mengirimkan pengawal untuk melindungi mereka. Laporan tersebut juga melupakan laporan lain yang mengatakan bahwa otoritas Abbasiah mengambil alih rumah Imam Askari, dan mencari untuk menemukan apakah ia mempunyai seorang putra.

Jika Imam benar-benar takut dan berusaha menyembunyikan diri, mengapa ia keluar dan men-sholati jenazah ayahnya? Mengapa ia duduk di rumahnya, menerima delegasi selagi ada mata-mata Abbasiah?

Apa yang diketahui dan dibuktikan menurut sejarah adalah Abu ‘Isa al-Mutawakkil adalah termasuk salah seorang yang men-sholati jenazah Imam Askari dan masyarakat ibukota  kekhalifahan tersebut, ‘Surr Man Ra’a’, melakukan pemakaman Beliau, karena gerbang kota seluruhnya tertutup. Ada banyak ratapan dan teriakan.

Tampaknya laporan ini dimulai di Qum, yang merupakan langkah belakangan, sebagai upaya untuk membuktikan keberadaan seorang pengganti Imam Askari. Yang terjadi sebelum berkembang dan menjadi fondasi bagi teori kemahdian dari Imam pengganti tersebut. Hal ini karena isu penetapan seorang pengganti berbeda dari dan terjadi sebelum isu yang menetapkan atribut kemahdian kepada Imam pengganti. Orang-orang pada awalnya peduli dengan penegakan isu yang pertama (adanya pengganti bagi Askari). Isu yang kedua  (tentang kemahdian) tidak berkembang kecuali setelah bertahun-tahun setelah itu. Yang didasarkan pada situasi keghoiban dan tidak adanya Imam tersebut. Beberapa di antara mereka menganggap hal itu sebagai salah satu dari tanda Mahdi tersebut. Oleh karena itu mereka berkata ia adalah Mahdi yang ditunggu.

Dari sini, para pemalsu hadists tidak memperhitungkan kekhawatiran terhadap penguasa dan polisi yang mencari-cari Imam. Itulah mengapa mereka menyebutkan munculnya anak tersebut untuk men-sholati ayahnya, dan Imam menerima delegasi di dalam rumahnya.

Kita telah menyebutkan selain laporan itu, dua kisah lainnya, yakni, bahwa Isma’il bin Ali Nubakhti mengatakan bahwa: ‘Ia mengunjungi Imam Askari sebelum kematiannya. Imam meminta pelayannya (Aqid) untuk membawa putranya. Ketika Aqid membawa putranya kepadanya, Imam Askari berkata kepadanya: “Berita gembira bagi putraku bahwa kamu adalah ‘Sahib Al-Zaman’ (Mahdi)”. Kisah yang lain dari sekelompok sahabat yang berkata bahwa Imam Askari menunjukkan kepada mereka putranya dan berkata kepada mereka: “Ini adalah Imammu setelah aku dan penggantiku bagi kamu …kecuali kamu tidak akan melihat dia setelah hari ini.”

Laporan yang pertama kontradiksi dengan laporan Abu al-Adyan al-Basri, di mana ia mengatakan bahwa: ‘Aqid tidak tahu tentang keberadaan seorang putra Imam Askari dan karenanya ia meminta saudaranya Ja’far untuk men-sholati jenazah Askari, sedangkan laporan yang pertama mengatakan bahwa Aqid membawa anak tersebut kepada ayahnya di depan Isma’il bin Ali Nubakhti.

Itu adalah catatn berharga, bahwa Nubakhti sendiri tidak menunjuk adanya cerita ini. Ia mengatakan bahwa: Ia mengetahui  keberadaan seorang putra Hassan melalui argumentasi rasional, sebagaimana Saduq menceriterakan dari dia di dalam bukunya (‘Ikmal al-Din hal. 92) dari buku Nubakhti – ‘Al-Tanbih’.

Laporan kedua juga kontradiksi dengan laporan Abu al-Adyan al-Basri, yang menyangkal pengikut utama yang mengetahui keberadaan seorang putra dari Hassan Askari, seperti Al-Samman (Uthman bin Sa’id al-Umari) dan Hajiz al-Wisha’, yang bertanya kepada Jafar: “Siapa anak tersebut, sehingga kami dapat menetapkan bukti tentang dia?’ Ia berkata: “Demi Allah aku belum pernah melihat anak itu dan aku tidak mengetahui anak itu!”

Telah diketahui dengan baik bahwa Al-Samman al-Umari dan Hajiz al-Wisha’ mengklaim menjadi wakil khusus dari Hujjah, putra dari Hassan setelah itu. Maka kapan mereka melihat dia? Kapan ia menugaskan mereka sebagai wakilnya?

Namun ada hal lain lagi: yaitu kisah kedua yang mengatakan bahwa: ‘Imam Askari berkata kepada pengikutnya setelah ia menunjukkan kepada mereka putranya: “Kamu tidak akan melihat dia lagi setelah hari ini”. Lalu bagaimana ia muncul lagi setelah itu untuk men-sholati jasat ayahnya dan untuk menerima delegasi?

Semua laporan tersebut kontradiksi dengan kisah yang pertama, yang dilaporkan dari Hakimah di mana Imam Askari berkata bahwa: ‘Dia (Hakimah) tidak akan melihat dia (anak itu) setelah hari kelahirannya,’ Dengan demikian tiap-tiap laporan kontradiksi dengan laporan sebelumnya.

Ini memperlihatkan bahwa kelompok tersebut menemukan gagasan tentang keberadaan seorang putra dari Imam Askari yang bertentangan dengan kenyataan, dan berdasar pada pernyataan filosofis yang lemah, seperti tidak mungkinnya Imamah bergeser kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain, dan perlunya keberlanjutan Imamah pada anak-anak dan cucu (dari Imam). Kelompok ini terus membuat cerita, laporan dan dongeng tentang kelahiran seorang putra dari Imam Hassan dan pertemuannya dengan dia (menyaksikan dia) pada masa hidup ayahnya dan ia bisa dilihat, pada saat kematian ayahnya.

Karena semua laporan tersebut tidak konsisten, dan tidak menyatakan kebenaran, dan  dipalsukan oleh orang yang berbeda, maka laporan-laporan itu nampak berlawanan dan berbeda di dalam detailnya, sedemikian rupa sehingga setiap laporan kembali kepada gagasan pribadi dari pemalsu hadists tersebut. Demikian juga semua laporan ini memasukkan adanya keajaiban dan berbagai hal yang aneh, berdasar dugaan palsu bahwa Imam mengetahui yang ghoib. Klaim ini dengan jelas kontradiksi dengan Quran yang agung, yang menyatakan: ”Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.” (QS: 3:179). Laporan ini juga mencoba menafsirkan keghoiban yang membingungkan, yang kontradiksi dengan teori Imamah Ilahiah dan kebajikan Ilahiah.

Kisah historis yang nyata mengatakan bahwa: Imam Hassan Askari belum pernah menunjuk keberadaan seorang putra dari dia. Dan ketika ia merasakan dekat pada kematian, ia memanggil Qadi Ibn Abi al-Shawarib, dan ia menyampaikan wasiatnya mengenai kekayaannya dan barang kepemilikan lainnya kepada ibunya (Hadith), di depan Qadi itu. Pembantu rumah tangganya yang bernama Narjis meng-klaim bahwa dia hamil dari Imam, dengan harapan dirinya akan bebas, karena dia akan menjadi ‘Umm Walad’ dan dia akan dibebaskan dari bagian putranya… Mungkin saja periode bulanannya tertunda sedikit, dan dia pikir bahwa dia hamil. Saksi (Qadi) tersebut menunda pembagian warisan tersebut, dan menjaga dengan seksama pelayan wanita tersebut, memindahkan dia kepada isteri Khalifah Mu’tamid dan memerintahkan mereka untuk mengamati Narjis untuk memastikan klaim kehamilannya. Tetapi kemudian tidak ada tanda apapun darinya.

Sebagian Syi’ah Imamiah yang tidak percaya pada Imamah Ja’far bin Ali berhadapan dengan suatu krisis gagasan dan kebingungan. Oleh karena itu beberapa di antara mereka berpegang pada ‘tipuan’ dari Narjis dan berkata bahwa: ‘Dia melahirkan setelah itu’. Beberapa di antara mereka berkata bahwa: ‘Dia tidak melahirkan, dan tidak seorangpun melihat hal itu.… Tetapi dia akan melahirkan ketika Allah menghendaki dan mengijinkan, dan bahwa embrio tersebut tinggal secara ajaib dalam jangka waktu yang panjang di dalam rahim’…Beberapa di antara mereka berkata bahwa: ‘Dia mengklaim hamil, untuk merahasiakan putranya, yang dia lahirkan sebelumnya’ …yang lain mengklaim berbagai hal serupa.

Mereka yang mengklaim keberadaan putra, sebelum menyebarkan desas-desus dan dongeng secara diam-diam, adalah untuk menyesatkan mereka yang awam dan untuk memperoleh keuntungan finansial dari berita itu. Ulama yang lebih awal tidak percaya desas-desus seperti itu.

Syekh Saduq kemudian datang setelah seratus tahun, dan Syekh Tusi setelah dua ratus tahun, dan merekam cerita dan dongengan seperti itu tanpa memastikan rantai dan sumber kisah mereka, dan tanpa bersandar pada mereka sama sekali. Mereka menyadari kelemahan mereka dan mengatakan pada permulaannya bahwa: Kami bergantung pada bukti filosofis yang rasional dalam rangka membuktikan keberadaan putra Hassan. Kami membawa cerita itu dalam rangka memperkuat (bukti rasional) saja…. Beberapa sejarawan kisah mengikuti mereka, dan mereka menyampaikan cerita dongengan seperti itu, sebagai fakta historis yang tidak dapat dibantah.

Meskipun demikian Allah yang Maha Agung menyruh kami untuk menerima kisah yang jelas, dan menyangkal keberadaan seorang putra dari Imam Hassan Askari, dan Allah tidak akan memperhitungkan, ataupun menanyai kami untuk menerima laporan rahasia yang hanya diketahui kalangan terbatas, yang berlawanan dan diselimuti oleh takhyul dan dongeng…

Setelah ini dan setelah penemuan adanya kelemahan yang serius, kami tidak perlu mempelajari rantai dari kisah (sanad), atau para perawi yang menyampaikan laporan seperti itu. Oleh karena itu, di samping hal di atas, kami akan memusatkan perhatian pada rantai kisah semua laporan itu dalam rangka melihat dari mana para sejarawan itu mendapat semua laporan itu, sehingga meningkatkan pengetahuan dan kepastian tentang kelemahan dari semua laporan ini, yang telah memainkan peran yang besar dalam konstruksi pemikiran politik Syi’ah sepanjang sejarah.

17.2  MENGEVALUASI RANTAI TRANSMISI TERHADAP LAPORAN HISTORIS.

Sebelum kita memasuki studi rantai (kisah) dari kisah historis seperti itu, adalah perlu untuk menunjukkan bahwa, beberapa Ulama yang menulis mengenai Imam Mahdi, telah melalaikan semua laporan seperti itu, dan tidak bergantung pada semua laporan itu, sebagaimana yang Shahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr lakukan di ‘Bahth Haula al-Mahdi’, tetapi ia agaknya bersandar pada klaim dari empat wakil, yang mengklaim sebagai utusan dan wakil khusus dari ‘Imam Mahdi’. Ia mengesampingkan kemungkinan bahwa orang-orang itu berbohong mengenai klaim mereka bertemu dengan Imam. Sadr membangun atas dasar hal itu, dalam menetapkan validitas keberadaan Imam Mahdi. Setelah itu, selanjutnya ia menafsirkan filosofi  keghoiban, dan membuktikan kemungkinan terjadinya hidup lama (umur panjang)!

erdapat mereka yang bersandar pada Ulama besar yang melaporkan kisah itu, seperti Syekh Kulayni, Saduq, Tusi dan Mufid, dan kemudian mengesampingkan kemungkinan mereka bersandar atau bergantung pada para perawi dan laporan yang lemah.

Di samping keberadaan kasus penipuan dan manipulasi di dalam karya masa lampau dan modern, aku tidak menemukan seorangpun yang mempelajari buku-buku itu dan memastikan kesahihan dan kebenarannya.

Aku secara umum percaya bahwa: Adalah perlu untuk mengkonfirmasikan hal-hal berikut secara penelitian akademis:

  1. Keaslian dari keterkaitan buku yang historis yang terkenal seperti ‘Al-Ghaybah’, ‘Ikmal al-Din’, ‘Al-Irshad’, dan ‘Al-Fusul’ kepada pengarang yang sesungguhnya dari buku-buku tersebut, dan juga memastikan tidak ada penambahan, penghapusan atau interpolasi yang telah terjadi pada buku-buku tersebut. Ini benar-benar sangat sulit dan mustahil karena tidak ada buku yang asli. Pengatributan kepada pengarang-pengarang yang sesungguhnya terhadap keseluruhan warisan Syi’ah, kecuali empat buku hadith ‘Al-Kafi’, ‘Manla Yahduruhu al-Faqih’, ‘Al-Tahdhib’ dan ‘Al-Istibsar’, diceriterakan oleh Ulama yang satu dari yang lainnya.
  2. Harus ada sebuah penyelidikan terhadap para pengarang, termasuk tingkat ketelitian dan kecermatan mereka. Ini sesuatu yang mungkin dan tidak sulit.
  3. Sangat mendesak untuk mempelajari rantai perawi dari siapa mereka menyampaikan, dan memastikan keberadaan mereka, kejujurannya dan ketelitiannya. Karena beberapa perawi tidak pernah ada yaitu mereka adalah pemalsu hadists yang diada-adakan, sementara beberapa di antara mereka memalsukan dan bersandar kepada para ekstrimis. Mereka itu menurut para ulama Syi’ah 12-Imam adalah seperti Tusi, Najashi, Kashi, Ibn al-Ghada’iri dan lain-lain.

Ada perawi lain yang diterima oleh semua ulama Hadith di antara Syi’ah 12-Imam atas dasar kehandalan mereka, kejujurannya dan melaporkan dari mereka… tetapi Syi’ah Imamiah lainnya dan sekte Islam yang lain tidak menerima (hadith) dari mereka dan mereka meragukan kejujuran mereka, seperti empat wakil khusus dan orang yang mengklaim melihat ‘Imam Mahdi’ dan telah bertemu dengan dia dan telah ditunjuk sebagai wakil oleh Imam.

Setiap penelitian terhadap rantai dari laporan historis ini, yang menetapkan keberadaan dan kelahiran Imam Mahdi, semestinya meneliti tujuan yang melatarbelakangi para ’wakil’ ini, dan meninjau ulang pendiriannya perihal kehandalan dan kejujuran mereka…seperti ketika Syi’ah meninjau pendirian mereka terhadap banyak pengikut Imam Kadhim (AS), yang menghentikan dan mengakhiri (Imamah) pada Imam Kadhim, yang mengklaim bahwa ia memasuki keghoiban dan ia adalah ‘Mahdi’, di samping kehandalan dan kejujuran mereka. Mereka berhenti sedikitnya, sesaat menerima laporan-laporan mereka dalam hal mereka mendiskusikan kelanjutan hidup Imam Kadhim… khususnya setelah mereka (para wakil Imam Kadhim) telah dituduh mengambil keuntungan secara finansial dengan adanya klaim kemahdian Imam Kadhim, keghoiban dan pertemuannya dengan dia.

Sejarawan dan para penulis lainnya tentang Imam Mahdi biasa membenarkan kehandalan ‘empat wakil’ dan percaya serta menerima laporan mereka tentang melihat Imam Mahdi dan menerima tanda tangan dari dia…. Ini adalah semacam kerja sama secara diam-diam atau kehendak hati yang telah ditentukan sebelumnya, penerimaan buta dan pemikiran sederhana terhadap orang-orang yang dituduh membuat cerita sejak awal, dan tentang pemanfaatan klaim tersebut demi mencapai keuntungan material secara pribadi. Mereka diragukan dalam hal kehidupan dan integritas mereka, karena Syi’ah meragukan kebenaran dari klaim ’perwakilan’ mereka dan juga mempertanyakan nasib kekayaan yang mereka kumpulkan atas nama ‘Imam Mahdi’, dan beberapa pengklaim perwakilan menuduh yang lainnya pembohong. Setiap kelompok menuduh yang lainnya sebagai kejahatan dan penipuan.

Tidak ada sesuatupun untuk memastikan kebenaran klaim dari ‘empat wakil’, di luar dari lebih dari dua puluh orang yang mengklaim sebagai ‘wakil khusus’ pada zaman itu, kecuali sejumlah kabar angin bahwa utusan/ wakil (dari ‘Mahdi’) telah melakukan beberapa keajaiban dan mempunyai pengetahuan tentang yang ghoib. Sejarawan seperti ‘Kulayni’, ‘Saduq’, ‘Tusi’ dan ‘Mufid’ di dalam karya mereka, menyebutkan berbagai hal tersebut dan mereka mempercayai hal itu telah terjadi pada sebagian ‘wakil’, tetapi menolak hal itu untuk yang lainnya.

Jika kita menolak cerita tentang keajaiban dan pengetahuan tentang yang ghoib yang diklaim oleh ‘empat wakil’ atau yang disebarkan oleh para pendukung mereka, maka akan tidak ada sesuatupun untuk menyajikan bukti tentang kebenaran mereka yang membedakan mereka dari pengklaim palsu lainnya, karena semua telah dituduh mengambil keuntungan secara pribadi.

Karena inilah kita akan mempelajari secara obyektif klaim para perawi cerita historis ini yang menyebutkan kelahiran, keberadaan dan penampakan Imam Mahdi Muhammad bin Hassan Askari, dan kita akan semata-mata bersandar pada pertimbangan kelemahan (atau kesahihan) dari Ulama hadith Syi’ah 12-Imam. Jika kita mempunyai pendapat pribadi tentang orang tertentu, kita akan menghadirkan bukti tertentu mengenai dia.

17.2.1  LAPORAN HAKIMAH

Saduq melaporkan di dalam ‘Ikmal al-Din’ hal. 424, cerita kelahiran Sahib Al-Zaman’ dari Muhammad bin Hassan bin Walid. Ia berkata: ‘Muhammad bin Yahya al-Attar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar dari Abu Abdullah Hussain bin Rizqullah, yang berkata bahwa Musa bin Muhammad Qasim menceritakan kepada dia bahwa Hakimah menceritakan kepada dia bahwa…

Hussain bin Rizqullah adalah seorang yang tidak dikenal atau seorang pemalsu hadist, dengan tidak ada sebutan tentang dia di dalam karya/ buku riwayat hidup perawi hadith, sedangkan Musa bin Muhammad tidak diambil riwayatnya secara serius.

Dalam beberapa salinan kita menemukan ‘Hussain bin Ubaidullah’ sebagai ganti ‘Abu Abdullah Hussain’. Najashi menuduh Hussain sebagai ekstrimis.

Di dalam kisah yang lain, Saduq menyampaikan cerita tersebut dari Hussain bin Ahmad bin Idris, yang berkata, bapakku menceritakan kepadaku bahwa Muhammad bin Isma’il menceritakan kepada dia bahwa Muhammad Ibrahim al-Kufi berkata bahwa Muhammad bin Abdullah al-Tahwi melaporkan dari Hakimah…

Salinan ’Ikmal al-Din’ berbeda tentang nama al-Tahwi. Dalam beberapa riwayat ia adalah al-Zahri, namun riwayat yang lain sebagai al-Zuhri. Dalam salinan yang lain namanya adalah al-Mutahhari dan di tempat lain sebagai al-Tuhri. Tidak ada penjelasan tentang orang ini di dalam buku-buku tentang perawi, yang menjadikan kita menduga sepertinya beberapa perawi menciptakan tokoh ini. Bagaimanapun, ia tidak dikenal.

Perihal Syekh Tusi, ia melaporkan cerita di dalam ‘al-Ghaybah’ (hal.138 -146) dari bibi Imam Askari. Ia memberi nama Khadijah sebagai ganti Hakimah.

Ia menyampaikan lagi cerita tersebut melalui Ibn Abi Jayyid dari Muhammad bin Hassan bin Walid dari Saffar Muhammad bin Hassan al-Qummi dari Abu Abdullah al-Mutahhari dari Hakimah, yang menyebutkan bahwa nama ibu dari putra Hassan adalah ‘Susan’ dan bukannya ‘Narjis’ seperti yang disebutkan di dalam laporan Saduq.

Ia menceriterakan kisah tersebut di dalam laporan ke tiga dari Ibn Jayyid dari Muhammad bin Hassan bin Walid dari Muhammad bin Yahya al-Attar dari Muhammad bin Hamuwaih al-Razi dari Hussain bin Rizqullah dari Musa bin Muhammad….

Di dalam laporan keempat yang disampaikan oleh Tusi dari Ahmad bin Ali al-Razi dari Muhammad bin Ali dari Ali bin Sami’ bin Banan dari Muhammad bin Ali bin Abi al-Dari dari Ahmad bin Muhammad dari Ahmad bin Abdullah dari Ahmad Ruh al-Ahwazi dari Muhammad bin Ibrahim dari Hakimah…., serupa dengan Hadith yang pertama, kecuali ia berkata di sini: ‘Dia berkata: Abu Muhammad (Askari) mengirimkan kepada saya pada tanggal 15 malam bulan Ramadhan, bukan Sha’aban.

Di dalam laporan ke lima yang disampaikan oleh Tusi dari Ahmad bin Ali al-Razi dari Muhammad bin Ali dari Hanzalah bin Zakariyya yang berkata bahwa sumber yang dapat dipercaya menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Bilal dari Hakimah….

Di dalam kisah keenam yang disampaikan oleh Tusi dari sekelompok ulama dari Hakimah….

Di dalam laporan terakhir ini Tusi tidak menyebutkan satupun nama dari para ulama yang melaporkan (secara tidak langsung) dari Hakimah, tanpa penyebutan rantai kisah apapun. Ini menjadikannya tidak valid untuk dianggap sebagai bukti.

Di dalam laporan sebelum yang terakhir (ke lima), Hanzalah bin Zakariya (dianggap lemah oleh Najashi) tidak mengatakan siapa sumber yang dapat dipercaya yang menceritakan kepada dia? Perihal Muhammad bin Ali bin Bilal, ia adalah salah seorang dari para pengklaim menjadi wakil (dari Mahdi), ia telah berbeda pendapat dengan Muhammad bin Uthman al-Umari. Perihal Ahmad bin Ali al-Razi, Tusi sendiri menempatkan dia di antara perawi yang lemah. Najashi juga menganggap dia lemah, demikian juga Ibn al-Ghada’iri. Mereka juga menuduh ekstrimis.

Kondisi dari kisah yang keempat yang disampaikan oleh Tusi dari Ahmad bin Ali al-Razi (ekstrimis yang lemah), yang menceriterakan kisah tersebut dari seseorang yang tidak dikenal, yaitu ‘Ahmad al-Ahwazi’, menjadi jelas.’

Pada laporan yang ketiga, kita menemukan di dalamnya nama Muhammad bin Hamuwaih al-Razi’ yang juga tidak dikenal, demikian juga ‘Hussain bin Rizqullah’ adalah orang yang tidak dikenal.

Di dalam laporan yang kedua, nama Muhammad bin Abdullah al-Tahwi’ diganti dengan nama Abu Abdullah al-Mutahhari…seorang yang tidak dikenal di dalam kedua kasus.

Perihal laporan yang pertama, bibi Imam mengatakan di dalam laporan tersebut bahwa dia tidak menyaksikan kelahiran putra Hassan tersebut, dia hanya mendengar tentang kelahiran tersebut sebagai berita yang ditulis oleh Abu Muhammad kepada ibunya di Madinah.

Oleh karena itu, ekstrimis yang kemudian melaporkan laporan dari Hakimah tersebut, tentang kelahiran putra Hassan, dari perawi yang lemah dari para pribadi yang tidak dikenal dari para pemalsu hadists…. Sama sekali tidak mungkin bergantung pada riwayat tersebut.

17.2.2  SEORANG LELAKI DARI PERSIA

Kulayni menyampaikan di dalam ‘Al-Kafi’ (Vol.1 hal. 329), demikian juga Saduq di dalam ‘Ikaml al-Din’ (hal. 435), Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 140) dan al-Sadr di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 285) cerita dari ‘seorang laki-laki dari Persia’ yang pergi ke ‘Surr Man Ra’a dan tinggal di rumah Abu Muhammad Hassan Askari bekerja dengan para pelayan….. Suatu hari ia melihat seorang anak berkulit putih, dan Imam Hassan berkata kepada dia, “Ini adalah sahabatmu (Imam)”.

Ini sebuah laporan yang sangat lemah. Tidak perlu jeda membahas laporan ini, karena tidak ada yang menyebutkan nama perawi itu. Hanya dikatakan ia adalah seorang laki-laki dari persia! Ini tidak pernah dapat diterima di dalam hadith.

17.2.3  YA’QUB BIN MANQUSH

Perihal laporan dari Ya’qub bin Manqush, di mana ia mengatakan bahwa pada suatu hari ia bertanya kepada Imam Askari: “Siapakah pemilik urusan ini?” Imam berkata kepada dia, “Naikkan tirai pintu rumah tersebut”. Seorang anak berumur lima tahun muncul darinya. Imam kemudian berkata, “Ini adalah sahabatmu”. Laporan yang disampaikan oleh Saduq dari Abu Talib al-Muzaffar bin Ja’far bin al-Muzaffar al-Alawi al-Samarqandi, dari Ja’far bin Muhammad bin Masud dari ayahnya, Muhammad bin Mas’ud al-Iyashi dari Adam al-Balkhi dari Ali bin Hassan bin Harun al-Daqqaq dari Ja’far bin Muhammad bin Abdullah bin Qasim dari Ya’qub bin Manqush. Laporan ini sangat lemah:

  1. Karena tidak adanya orang yang bernama Al-Muzaffar al-Samarqandi di dalam riwayat hidup para perawi.
  2. Karena Al-Iyashi biasa melaporkan dari banyak perawi yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Najashi: Ia secara jelas percaya pada adanya sisipan (tahrif) pada Quran di dalam Tafsirnya.
  3. Karena kepercayaan Adam al-Balkhi terhadap ‘Tafwid’ (kepercayaan bahwa Allah memberi kepada Muhammad penciptaan dunia). Ia adalah salah seorang dari ekstrimis yang percaya bahwa Allah menciptakan Muhammad, dan memberi dia kekuatan menciptakan dunia. Ia adalah pencipta di dalamnya. Ia (Muhammad) kemudian memberi kekuatan (untuk menciptakan) itu  kepada Ali (lihat riwayat hidup Najashi).
  4. Juga karena pengabaiannya tentang Al-Daqqaq dan perbedaan nama ayahnya, apakah Hassan dan Hussain
  5. Karena Ja’far bin Muhammad bin Abdullah adalah orang yang tidak dikenal.
  6. Karena Ya’qub bin Manqush adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan permasalahan nama ayahnya antara Manqush, Manfush dan Manfus.

17.2.4  UTHMAN BIN SA’ID AL-UMARI

Perihal laporan yang disampaikan oleh Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ (hal. 435), dan Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 217) dari sekelompok orang termasuk di dalamnya Uthman bin Sa’id al-Umari, Muawiyah bin Hakim dan Muhammad bin Ayyub, dan pernyataan Imam kepada mereka: “Ini adalah Imam kamu setelah saya…”.

Saduq dan Tusi, keduanya melaporkannya dari Ja’far bin Muhammad bin Malik al-Fazari, seorang pendusta terkenal, dan pemalsu hadist. Ibn Al-Ghada’iri mengatakan tentang dia: “Seorang pendusta yang hadithnya dibuang semuanya, dari perawi yang lemah dan tidak dikenal. Semua cacat dari lemahnya ditemukan pada dirinya. Ia melaporkan banyak hal yang aneh mengenai kelahiran Qa’im tersebut. Najashi mengatakan tentang dia: “Ia adalah seorang perawi yang lemah yang hadith Ahmad bin Hussain berkata bahwa, ia biasa secara serius memalsukan hadith, melaporkan dari orang-orang yang tidak dikenal. Aku mendengar seseorang berkata bahwa: ‘Ia tersesat di dalam pandangannya dan laporan hadithnya’. Aku tidak tahu bagaimana Syekh kami yang mulia dan dapat dipercaya Abu Ali bin Hammam dan Syekh kami yang besar dan dapat dipercaya Abu Ghalib al-Razi melaporkan dari dia.”

Pada laporan ’Nasim’ dan ‘Tarif Abu Nasr’ -dua pelayan dari Imam Askari, kedua laporan tersebut disampaikan oleh Saduq dari Al-Muzaffar al-Samarqandi (yang ditinggalkan) dari ‘Iyashi (yang lemah) dari Adam al-Balkhi (ekstrimis yang percaya pada ‘tafwid’) (lihat di atas).

Perihal laporan Isma’il Nubakhti dari Tusi dari Ahmad bin Ali al-Razi, adalah sangat lemah, karena Tusi sendiri tidak mengangap al-Razi sebagai orang yang dapat dipercaya, dan menuduh dia lemah dan berpendirian radikal, sebagai tambahan terhadap tuduhan dari Ibn al-Ghada’iri dan Najashi kepada dia mengenai hal tersebut.

Tusi melaporkan kisah yang lain dari Jafar bin Muhammad bin Malik al-Fazari, dan dari Ahmad bin Ali al-Razi dari Kamil bin Ibrahim al-Madani yang mengatakan bahwa: ‘Ia pergi kepada Imam Askari, dan ketika angin bertiup ia menyibak tirai pada pintu (ke sisi), ia melihat seorang pemuda di balik (pintu). Anak tersebut mengenali dia dan memanggil dia dengan namanya. Kemudian tirai yang tersibak kembali ke posisi semula, dan ia tidak bisa memindahkannya. Laporan ini sebagaimana begitu jelas, sangat lemah terutama karena dilaporkan oleh Al-Fazari, Al-Razi, dua ekstrimis yang lemah.

17.2.5  ABU AL-ADYAN AL-BASRI

Perihal laporan dari ’Abu Al-Adyan al-Basri’ yang hanya Saduq yang telah melaporkan, dan ia menyebutkannya tanpa rantai kisah sebagaimana mestinya, ketika ia mengatakan, Abu Al-Adyan bahwa…. Di samping fakta, ada masa sekitar seratus tahun antara keduanya, dan tidak seorangpun tahu seseorang dengan nama tersebut, yang lebih lanjut menekankan pemalsuannya dari beberapa ekstrimis.

Pada penyelesaian cerita tersebut – yaitu kedatangan delegasi dari Qum dan  pegunungan ke ‘Surr Man Raa’ – yang disampaikan oleh Saduq…, kita menemukan di dalam  rantai kisahnya Ahmad bin Hussain Al-Abi al-Arudi dan (Abu) Hussain (Ibn) Zayd bin Abdullah al-Baghdadi dari Sinan al-Mawsili dari ayahnya. Semua perawi tersebut adalah orang yang tidak dikenal, yang tidak ada sebutan di dalam buku riwayat hidup (perawi) sebagai tambahan terhadap adanya pertentangan tentang nama al-Baghdadi.

17.2.6  SA’AD BIN ABDULLAH AL-QUMMI

Mengenai laporan Sa’ad bin Abdullah al-Qummi di mana ia mengatakan bahwa ia pergi kepada Imam Askari bersama-sama dengan Ahmad bin Ishaq. Ia melihat pada pangkuan  Imam ada seorang anak yang sedang bermain dengan buah delima keemasan. Laporan ini disampaikan oleh Saduq dari Al-Nawfali al-Karmani dari Ahmad bin ‘Isa al-Washsha’ al-Baghdadi dari Ahmad bin Tahir al-Qummi…

Di dalam rantai laporan ini ada empat orang yang tidak dikenal dan ditinggalkan. Perihal perawi yang kelima – Al-Shaibani’, ia adalah salah satu dari perawi yang lemah dan ekstrimis yang percaya pada tafwid (percaya bahwa urusan dunia diberikan kepada Muhammad kemudian kepada Ali), sebagaimana disebutkan oleh Kashi, Ibn al-Ghada’iri, Tusi dan Najashi.

Allama al-Hilli di dalam ‘Al-Khulasah’ menarik kembali kepercayaan dari Sa’ad bin Abdullah al-Qummi setelah laporan ini. Shahid al-Thani berkata: “Tanda pemalsuan di dalam (laporan) ini adalah jelas, yaitu karena di dalam laporan tersebut terdapat, bahwa Mahdi  sedang bermain buah delima keemasan!”

Oleh karena itu, kelemahan utama di dalam rantai dari setiap laporan, menjadikan semua laporan itu tidak valid untuk dijadikan bukti atau bersandar kepadanya…. ketika kita mendapati lemahnya rantai cerita (sanad) bersamaan dengan lemahnya isi dalil (matan)…. dan pertentangan di dalam laporan itu sendiri… dan laporan-laporan tersebut kontradiksi dengan laporan Zahiriah… Maka, akan semata-mata menjadi ilusi dan kabar burung dan dongeng … yang tidak bisa membuktikan kelahiran dari orang biasa….

Lalu bagaimana mungkin kita bergantung pada semua laporan seperti itu dalam menetapkan kelahiran salah satu dari Imam dan membangun suatu keyakinan keagamaan atas dasar itu?

Tentang cerita adanya suatu usaha untuk menangkap Mahdi sebagaimana yang dilaporkan oleh Tusi, Majlisi dan Sadr, laporan itu tidak bersambung (mursal) kepada ‘Rashiq’ polisi yang tidak dikenal, yang integritasnya diragukan. Laporan itu lemah karena tidak menyebutkan identitas orang lelaki yang sholat di atas sebuah karpet, dan laporan tersebut berisi hal-hal yang aneh, seperti: ‘Mahdi’ tinggal di dalam rumah ayahnya dan di Samirra’i sepanjang periode keghoiban tersebut. Ini jauh dari kebenaran. Adalah mungkin bagi dia berpindah di atas daratan dan bersembunyi di lain tempat. Tentang (berbagai hal yang aneh) ini, adalah bahwa laporan tersebut terdiri atas adanya keajaiban yang aneh di mana tidak ada kebutuhan untuk itu, dan hal itu sesuai dengan laporan dari ekstrimis dan dongengan mereka.

Khalifah Abbasiah Al-Mu’tadid, adalah dikenal kecendurangannya kepada paham Shi’ah, dan ia mendesak mengutuk Mu’awiyah di mimbar, dan memerintahkan penulisan sebuah buku untuk dibaca oleh orang-orang mengenai hak ini, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ibn Al-Athir di dalam ‘‘Al-Kamil fi al-Tarikh’ (vol. 6 hal. 85). Hal ini menjadikan laporan tersebut jauh dari sahih, karena laporan itu mengklaim bahwa ia mencoba untuk menangkap Imam Mahdi. Itu lebih mungkin bahwa laporan itu dipalsukan karena cerita Mahdi yang bersembunyi di loteng rumah.

17.3  MENILAI KESAKSIAN EMPAT WAKIL

Pelaporan historis yang jelas dari hadith tersebut setelah kematian Imam Hassan Askari mengatakan bahwa: ‘Imam sama sekali tidak meninggalkan di belakangnya keturunan, baik pria atau wanita, dan ia memberikan kekayaannya di dalam sebuah wasiat, kepada ibunya: (Hadith), karena inilah saudaranya Ja’far mengklaim Imamah dan sekelompok Syi’ah mengikuti dia (tentang Imamah itu)’.

Perihal laporan dari para wakil yang mengatakan bahwa: ‘ada seorang putra tersembunyi dari Imam Askari dan mereka mengklaim menjadi utusan dan wakilnya. Mempercayai mereka akan mendorong mempercayai keberadaan ‘Hujjah bin Hassan‘ (Mahdi), tetapi meragukan klaim mereka tidak akan membuktikan apapun terhadap laporan rahasia tentang keberadaan seorang putra dari Imam Askari:

  • Apakah mereka benar-benar jujur?
  • Apakah Syi’ah telah bermufakat tentang kehandalan mereka?
  • Bagaimana mereka mempercayai para wakil tersebut?
  • Apa bukti kebenaran dari pernyataan mereka?
  • Adakah di sana sesuatu yang dapat mejadikan kita sangsi dan ragu, terhadap klaim mereka menjadi wakil Imam Mahdi dan meragukan keberadaannya?

Sebelum kita menilai semua laporan itu yang datang memuji-muji mereka dan mengklaim kehandalan mereka, kami harus menunjukkan bahwa PHENOMENA MENGKLAIM MENJADI WAKIL IMAM MAHDI TERSEBUT BUKANLAH PHENOMENA YANG PERTAMA DI DALAM SEJARAH SYI’AH, KARENA BANYAK PHEMOMENA SEPERTI INI MUNCUL SEBELUM ITU. Dan sebelum empat wakil tersebut, banyak orang yang telah mengklaim menjadi utusan dan wakil Imam yang lebih awal, mereka yang mengklaim bagi mereka kemahdian (yaitu menjadi Mahdi), seperti Imam Musa Kadhim (AS) yang hidupnya dipercaya telah berlanjut setelah kematiannya, karena mereka percaya pada keghoibannya juga. Di antara mereka adalah Muhammad bin Bashir yang mengklaim menjadi wakil Imam Mahdi (Musa Kadhim). Ia kemudian mewariskan perwakilannya kepada putranya dan cucu lelakinya.

Lebih dari dua puluh orang telah mengklaim menjadi wakil ‘Imam Muhammad bin Hassan Askari’, di antar mereka adalah: Al-Shari’i, Al-Namiri, Al-Ibrata’i al-Hallaj, dan seterusnya. Hal itu karena klaim menjadi wakil membawa serta di dalamnya banyak keuntungan material, demikian juga status sosial pilitis bagi para pengklaim tersebut. Lebih dari itu pada pengklaim tersebut biasa bekerja di bawah tanah dan secara rahasia, dan sambil menyelidiki kalau-kalau klaimnya tidak diperbolehkan. Ia memanfaatkan hubungan dengan Imam yang sebelumnya, dan demikian ia mengklaim hidup Imam yang berkelanjutan atau keberadaannya, dan dirinya menjadi wakilnya…. Klaimnya biasanya diterima oleh masyarakat awam, dan ditolak oleh orang-orang bijaksana yang tercerahkan.

Syi’ah Imamiah telah menolak klaim lebih dari dua puluh (20) pengklaim yang mengklaim menjadi wakil ‘Imam Mahdi bin Hassan Askari’. Mereka menuduh mereka berbohong dan menipu, karena mereka meragukan validitas klaim dari empat wakil. Mereka berbeda tentang urusan mereka. Tidak ada satupun bukti intelektual yang kuat di dalam laporan yang diceriterakan oleh sejarawan tentnag kejujuran mereka dan kebenaran klaim mereka. Hal in menjadikan orang-orang ini bagian dari pengklaim palsu yang berdagang dengan isu Imam Mahdi!

Syekh Tusi bergantung pada kehandalan Uthman bin Sa’id al-Umari pada sejumlah laporan. Beberapa di antara laporan tersebut seperti laporan Ahmad bin Ishaq al-Qummi, yang menyatakan andalan dan kepercayaan dari Imam Hadi dan Askari selama hidup dan setelah kematiannya. Dan bahwa ia adalah wakil dan orang kepercayaan dan yang diandalkan berkaitan kekayaan Allah. Tidak ada sesuatupun di dalamnya yang menetapkan perwakilan Al-Umari dari Imam Mahdi.

Tetapi beberapa laporan menyatakan dengan jelas bahwa Imam Askari mengumumkan perwakilan al-Umari dari Imam Mahdi, namun rantai dari kisah ini sangat lemah, karena laporan itu melibatkan Ja’far bin Muhammad bin Malik al-Fazari, yang terhadap dia menurut Najashi dan Ibn Al-Ghada’iri telah menyatakan: “Ia adalah seorang pendusta yang hadithnya ditolak, dan ia adalah ekstrimis dalam beberapa pandangannya. Ia melaporkan dari perawi yang lemah dan  tidak dikenal. Semua kesalahan dari perawi yang lemah tersebut ditemukan pada dirinya. Ia telah memberitakan tentang kelahiran Qa’im berbagai hal yang aneh. Ia biasa secara jelas memalsukan Hadith. Ia telah menyimpang dari alur dan laporannya tidak sahih”.

Perihal laporan sebelumnya yang menyebutkan kehandalan al-Umari dan kejujurannya, dan dirinya adalah wakil (Imam), hal itu tidak dikenal. Dalam rantai riwayatnya ada seorang ekstrimis ‘Al-Khusaibi’. Laporan itu terdiri dari klaim terhadap pengetahuan Imam Askari tentang yang ghoib, dan pengetahuannya tentang delegasi dari Yemen sebelum ia melihat hal itu (Tusi: Al-Ghaybah hal. 215-216). Klaim ini menjadi bagian dari konsep ekstrimis itu. Laporan pertama mengatakan bahwa Askari telah menyebutkan ketulusan al-Umari pada masa yang akan datang setelah kematiannya. Yang hanya Allah yang mengetahui hal ini, laporan seperti itu menjadi bagian dari pengetahuan pada yang ghoib juga.

Dari sini dan setelah tidak validnya laporan-laporan ini karena lemahnya laporan tersebut baik dari sisi matan maupun sanad, kita nampaknya menjangkau sebuah kesimpulan, yaitu, Al-Umari yang dahulu merupakan wakil dari dua Imam Hadi dan Askari dalam pengumpulan khumus, ingin melanjutkan dalam menikmati posisi itu dan mengklaim keberadaan seorang putra dari Imam Askari, sehingga mengklaim menjadi wakilnya tanpa memberikan sebuah bukti yang pasti dan jelas mengenai apa yang ia katakan. Karena inilah sejarawan yakin, dan tidak memastikan perwakilannya dari Mahdi. Al-Tabrisi, yang dahulu begitu menggemari untuk merekam apapun yang datang kepadanya, tidak menyatakan di dalam bukunya: ‘Al-Ihtijaj’ lebih dari (kata-kata ini): “Al-Umari melakukan urusan dari ‘Sahib Al-Zaman’ tersebut berdasar tanda tangannya dan me-respon isu yang semua datang dari dia.” (10) Majlisi: Bihar al-Anwar Vol. 51, hal. 362.

Sejarawan Syi’ah tidak menyebutkan keajaiban apapun yang mengkonfirmasikan klaimnya menjadi wakil, di samping pernyataan Sayyid Abdullah Shibr di dalam ‘Haq al-Yaqin’ (hal. 229) bahwa; Syi’ah tidak akan menerima pernyataan para wakil tersebut sampai setelah penampakan tentang segala keajaiban pada setiap wakil dari Sahib Al-Zaman tersebut, yang menunjukkan kebenaran dari pernyataan mereka dan kebenaran dari niat mereka.

Perihal wakil yang kedua; Muhammad bin Uthman bin Sa’id al-Umari, Sejarawan Syi’ah tidak menyebutkan dalil apapun mengenai dia dari Mahdi, yang menunjuk dia sebagai wakilnya. Tusi berkata: “Ia menggantikan ayahnya melalui sebuah dalil dari Abu Muhammad ‘Hassan Askari’, dan dalil dari ayahnya Uthman dengan perintah Qa’im.” (Al-Ghaybah hal. 218)

Tusi telah menyebutkan sebuah laporan dari Abdullah bin Ja’far al-Himyari al-Qummi yang berkata bahwa: ‘Mahdi menigirimi Al-Umari sebuah catatan yang menyampaikan pernyataan duka citanya kepadanya atas kematian ayahnya, Uthman bin Sa’id. Ia memuji Allah yang telah menempatkan dia sebagai pengganti ayahnya dan berdoa untuk kesuksesannya. Surat tersebut datang kepada kami dengan tulisan tangan yang sama seperti ketika dikomunikasikan kepada kami dengan menempatkan Abu Ja’far pada posisi tersebut dari ayahnya.

Tusi juga melaporkan tradisi yang lain dari Muhammad bin Ibrahim bin Mahziyar al-Ahwazi, dan yang lain lagi dari Ishaq bin Yaqub dari Imam Mahdi, yang bersaksi tentang kehandalannya dan penerimaannya terhadap dia. Semua laporan ini disampaikan melalui Al-Umari sendiri, yang menjadikannya lemah.

Tidak ada cara apapun untuk memastikan klaim Uthman bin Sa’id Al-Umari yang telah menyatakan bahwa putranya Muhammad akan menjadi wakil, melalui instruksi dari Qa’im. Hal itu tampaknya hanya dugaan dari Tusi. Karena sama sekali tidak ada bukti untuk menetapkan dalil dari bapak kepada putra tersebut, kecuali melalui warisan dan klaim.

Masalah yang terbesar ditemukan dalam hal sulitnya menetapkan validitas tanda tangan  yang dibawa oleh al-Umari dan yang ia atributkan kepada Imam Mahdi, terutama tanda tangan yang dilaporkan oleh Al-Himyari al-Qummi, karena ia tidak menyebutkan rantai transmisinya (sanad hadist) sampai kepada Imam yang ghoib, yang membuatnya semakin mungkin bahwa tulisan itu adalah dari Al-Umari yang menulisnya dengan tangannya sendiri, dan diatributkan kepada Mahdi. Lebih dari itu ia sedang memuji diri, di mana masalah tanda tangan itu diselimuti kabut kerancuan, kalaulah Imam hadir, namun tanpa berbicara tentang kapan ia absen? Sama sekali tidak ada perawi lain mengenai isu tanda tangan tersebut kecuali Al-Umari sendiri. Al-Himyari tidak mengatakan bagaimana ia dengan segera mempercayai tanda tangan tersebut sementara pada saat itu sedang ada kontroversi di antara kaum Syi’ah tentang kebenaran klaim Al-Umari menjadi wakil? Ada kemungkinan bahwa Al-Himyari al-Qummi mungkin telah memalsukan sendiri tanda tangan tersebut dan ia mengatributkannya kepada Mahdi.

Tentang laporan Muhammad bin Ibrahim bin Mahziyar al-Ahwazi, laporan itu lemah, karena ia mengakui bahwa pada permulaannya ia meragukan keberadaan Mahdi, dan ia mengklaim menjadi wakil setelah itu, dan setelah pertemuannya dengan Al-Umari di Baghdad, karena inilah ia adalah seorang yang ragu-ragu di dalam urusannya. Ia tidak mengatakan bagaimana tanda tangan tersebut sampai kepada dia secara langsung atau melalui al-Umari? Jika ia mengklaim bahwa tanda tangan tersebut sampai kepada dia secara langsung, tetapi bagaimana caranya? Apakah dirinya telah melihat Mahdi? Ia tidak mengklaim hal itu! Atau tanda tangan itu datang kepadanya melalui Al-Umari? Ini juga akan meningkatkan keraguan.

Perihal laporan yang ketiga (laporan Ishaq bin Ya’qub), dengan jelas diterangkan bahwa laporan itu dari Al-Umari. Laporan tersebut lemah karena adanya keraguan bahwa Al-Umari mungkin telah memalsukannya. Demikian juga karena para perawi yang tidak dikenal; dan lemahnya (tidak handalnya) Ishaq bin Ya’qub, dan ia tidak melaporkan bagaimana ia mengenal tulisan tangan dari Mahdi. Mengetahui hal itu, Tusi berkata bahwa: ‘Tulisan tangan di dalam catatan (tanda tangan) tersebut adalah sama dengan yang ditulis pada masa Askari.’ (13) Al-Ghaybah hal. 216.

Akhirnya, cerita tentang Muhammad bin Uthman Al-Umari yang melihat Mahdi selama Hajji, lebih berupa klaim tanpa bukti. Ia tidak menyatakan bagaimana ia mengenal Mahdi tersebut yang mana ia belum pernah melihat sebelumnya? Mungkin saja seseorang yang menyerupai dia.

Karena inilah, Ahmad bin Hilal al-Ibrata’i (pemimpin Syi’ah di Baghdad) yang darinya Al-Fazari melaporkan bahwa ia mengklaim telah menyaksikan kesempatan ketika Askari memperkenalkan Mahdi, dan Al-Umari ditunjuk sebagai penggantinya (Khalifah) – Al-Ibrata’i meragukan kebenaran klaim Al-Umari bahwa putranya adalah seorang wakil khusus Mahdi. Ia menolak telah mendengar Imam Askari menyatakan bahwa ia adalah wakilnya. Ia menolak dan tidak mengakui bahwa anak Al-Umari adalah wakil dari ‘Sahib Al-Zaman’. (14) Al-Khu’i: Mu’jam al-Rijal vol.2 hal. 521; Tabrisi: Khatimah Mustadrak Wasail al-Shi’ah hal. 556, Al-Najashi: Al-Rijal.

Al-Ibrata’i telah memainkan peran yang besar dalam mendukung klaim Uthman bin Sa’id al-Umari menjadi wakil. Ia berharap bahwa ia akan menerima wasiat (tentang yang dipilih untuk menjadi wakil) setelah dia. Ketika Al-Umari memberikan wasiat kepada putranya Muhammad, ia menolak hal itu dan mengklaim dirinya sebagai wakil. Hal ini memperlihatkan adanya kerjasama secara rahasia dan kepentingan pribadi dalam berbagai klaim menjadi wakil khusus.

Sebagai hasil dari tidak adanya hadist yang pasti dan otentik tentang keterwakilan Muhammad bin Uthman Al-Umari, kaum Syi’ah meragukan klaimnya. Al-Majlisi melaporkan di dalam ‘Bihar al-Anwar’ (vol. 51) bahwa: “Kaum Syi’ah dalam keadaan kebingungan, dan tidak bersandar kepada banyak klaim menjadi ‘wakil’”. Ia berkata bahwa Abu al-Abbas Ahmad Al-Siraj al-Dainuri bertanya kepada al-Umari mengenai bukti yang mengkonfirmasikan kebenaran klaimnya, dan ia tidak akan mempercayai dia, kecuali jika orang lain menceritakan kepada dia hal itu dari (pengetahuan) tentang yang ghoib, dan menampilkan kepadanya keajaiban’. (15)

Tradisi dari Ahl al-Bayt (AS) yang menyatakan bahwa ‘Para pelayan kami dan penjaga kami adalah yang terburuk dari ciptaan Allah’ adalah sangat populer di antara Syi’ah pada zaman itu, yang menjadikan mereka meragukan kebenaran klaim menjadi ‘wakil’. Syekh Tusi telah menegasakan validitas tradisi itu, tetapi ia berkata: “Secara umum tidak demikian, tetapi mereka hanya berkata bahwa, karena di antara mereka adalah mereka yang mengubah dan menyimpang dan curang.” (16) Al-Ghaybah hal. 244.

Beberapa Syi’ah memperlihatkan penyesalan mereka telah memberikan kekayaan mereka kepada Al-Umari, karena mereka meragukan keberadaan Mahdi dan tanda tangan (catatan) tersebut yang dibawa oleh al-Umari dan diatributkan kepada dia. Di antara meraka adalah sebagian dari Ahl al-Bayt (AS). Hal inilah yang menjadikan Al-Umari mengeluarkan sebuah surat sebagai asli dari Mahdi, yang mengutuk mereka yang ragu dan menolak  keberadaan  Mahdi.

Sebagaimana kelompok lain dari mereka yang meragukan validitas Nubakhti menjadi seorang wakil, dan selalu menanyai dia mengenai nasib harta kekayaan yang ia biasa terima atas nama Imam Mahdi, ia berkata bahwa: ‘Kekayaan ini pergi ke tempat yang tidak semestinya (tidak dibelanjakan secara sah)’. Saduq dan Tusi berkata bahwa, ‘Nubakhti mampu meyakinkan mereka dengan pertolongan keajaiban dan pengetahuan pada yang ghoib, seperti penetapan waktu kematian beberapa orang sebelum waktu kejadiannya, dan pengambilannya dari jauh beberapa dirham dari sebuah kantong milik seseorang. (17) Tusi: Al-Ghaybah. hal. 192; Saduq: Ikmal al- Din, hal. 516 -517.

Sesungguhnya, Sejarawan Syi’ah biasa menyebutkan sejumlah cerita tentang keraguan orang-orang mengenai pengklaim pada posisi ‘wakil’, dengan beberapa di antara mereka, menuduh yang lainnya berbohong. Masyarakat pada umumnya dari Syi’ah 12-Imam membedakan ‘empat wakil’ dari pengklaim tertuduh lainnya, atas dasar kemampuan mereka mengeluarkan keajaiban dan memiliki pengetahuan tentang yang ghoib.

Kulayni, Mufid dan Tusi telah menyebutkan sepuluh cerita yang memperlihatkan bahwa ‘empat wakil’ tersebut telah melakukan berbagai hal yang aneh dari alam keajaiban dan memberitahu sesuatu yang akan datang. Tusi telah menceriterakan dari ‘Hibatullah’ cucu lelaki al-Umari yang berkata: “Mukjizat dari Imam nampak pada dia dan ia biasa menceritkan yang ghoib”. (18) Al-Ghaybah hal. 236.

Tusi juga telah menyebutkan sebuah cerita dari Ali bin Ahmad al-Dallal, yang berkata bahwa: ‘Al-Umari menceritakan kepada dia waktu kematiannya, hari, bulan dan tahun. Dan ia meninggal pada hari, bulan dan tahun sebagaimana yang ia ramalkan, yaitu pada akhir Jumada al-Ula, 305 AH.’ (19) Al-Ghaybah hal. 221.

Tetapi pernyataan ini kontradiksi dengan prinsip paham Syi’ah dan tradisi dari anggota keluarga nabi (AS), yang biasa menyangkal pengetahuan tentang yang ghoib (al-Ghayb) manapun, atau memanfaatkan mengetahui yang ghoib dan keajaiban untuk menetapkan Imamah mereka. Syekh Saduq berkata di dalam ‘Ikmal al-Din’: “Imam tidak mengetahui yang ghoib, ia hanyalah seorang hamba yang saleh yang mengajarkan Quran dan Sunnah. Seseorang yang menganggap pengetahuan pada yang ghoib berasal dari Imam telah kafir (Kufr) kepada Allah, dan telah keluar dari kelompok Islam dalam pandangan kami. Yang ghoib hanya diketahui oleh Allah, tidak seorangpun mengaklaim hal itu bagi seorang manusia kecuali mereka yang men-sekutukan sesuatu kepada Allah dan orang yang tidak beriman.” (20) Ikmal al-Din hal. 106, 109 dan 116.

Imam Sadiq berkata: “Alangkah mengejutkan bagi sebagian orang yang mengklaim bahwa kami mengetahui yang ghoib (al-ghayb)! Demi Allah aku ingin memukul pembantu rumah tanggaku, si anu dan anu, tetapi dia melarikan diri menjauh dari aku. Aku tidak tahu di rumah yang mana dia sekarang” (21) Al-Hurr al-Amili: Li thabat al-Huda vol. 3 hal. 748.

Abu Bashir suatu hari datang kepada Imam Sadiq dan berkata kepada dia: “Mereka  sedang berkata bahwa kamu mengetahui jumlah tetesan air hujan dan banyaknya bintang, dan banyaknya daun-daun dari pohon, dan berat dari apa yang ada di laut dan banyaknya partikel  dari bumi. Ia berkata; Kemuliaan bagi Allah! Kemuliaan bagi Allah! Tidak, demi Allah tidak seorangpun mengetahui hal itu kecuali Allah.” (22) Al-Hurr al-Amili: Li thabat al-Huda vol. 3 hal. 772.

Yahya bin Abdullah bertanya kepada Imam Musa Kadhim (AS): “Semoga aku menjadi tebusanmu, mereka mengklaim bahwa kamu mengetahui yang ghoib?” Ia menjawab: “Kemuliaan bagi Allah! Taruh tanganmu pada kepalaku, demi Allah tidak ada rambut di atasnya dan pada badanku kecuali telah dibangunkan. Tidak demi Allah, tidak ada sesuatupun selain dari warisan Rasulullah (SAAW)”. (23) Al-Hurr al-Amili: Li thabat al-Huda vol. 3 hal. 767; Mufid: ‘Al-Amali’ hal. 23.

Dalam kisah yang lain yang disampaikan oleh Al-Hurr al-Amili, Imam mengatakan di dalamnya: ‘Syi’ah yang bodoh dan tidak bijak telah merugikan kami, dan mereka yang timbangan agamanya kurang dari sayap seekor nyamuk…. Saya berlepas dari mereka yang mengatakan bahwa kami mengetahui yang ghoib, di depan Allah dan PesuruhNya (SAAW).” (24) Al-Hurr al-Amili: Li thabat al-Huda vol. 3 hal. 764.

Oleh karena itu kita tidak bisa mempercayai klaim semua ‘wakil’ itu bahwa mereka menjadi wakil Imam Mahdi, dan kita (tidak bisa) menganggap pernyataan mereka merupakan bukti keberadaan Imam, dengan bergantung pada klaim keajaiban dan pengetahuan yang ghoib. Kita tidak bisa membedakan klaim mereka, dari mereka yang pengklaim palsu tentang sebagai wakil Mahdi, yang jumlahnya lebih dari 24 (dua puluh empat) pengklaim.

Jika kita menuduh pengklaim palsu ini ini mencoba memanfaatkan (klaim mereka), dan mencintai kekayaan dan mempunyai hubungan dengan Otoritas Abbasiah pada zaman itu, maka tuduhan yang sama harus diarahkan kepada ‘empat wakil’, yang tidak menjauhkan diri dari mereka.

Muhammad bin Ali al-Shalmaghani, yang dulunya menjadi wakil Hussain bin Ruh al-Nubakhti di Banu Bistam, ia kemudian memisahkan diri dari mereka dan mengklaim dirinya menjadi wakil dan berkata: “Kami tidak mengikuti Abu Qasim Hussain bin Ruh dalam urusan ini, kecuali bahwa kami mengetahui mengapa kami mengikutinya. Kami sedang berebut urusan ini sebagaimana anjing berebut bangkai.“ (25) Al-Ghaybah hal. 241.

Jika kita tidak bisa menetapkan klaim dari ‘empat wakil’ dan kita meragukan kebenaran dari pernyataan mereka, bagaimana mungkin kita menetapkan keberadaan Imam Muhammad bin Hassan Askari, berdasar pada kesaksian mereka yang menemuai dia dan menjadi wakilnya?

Sebagai tambahan terhadap keraguan ini, ada bukti lain tentang kebohongan pengklaim menjadi wakil, yaitu mereka tidak memainkan peran apapun secara budaya, intelektual dan politis dalam melayani Syi’ah dan muslim, kecuali mengumpulkan khumus dan klaim memberikan khumus tersebut kepada Imam Mahdi.

Semestinya para ‘wakil’ tersebut yang mengklaim adanya suatu hubungan khusus antara mereka dan ‘Imam Mahdi’, akan memecahkan semua permasalahan sekte, dan telah menyampaikan instruksi dan bimbingan dari Imam kepada Ummah. Sebaliknya kita melihat pada ‘wakil ketiga’, Hussain bin Ruh Nubakhti sebagai contoh, malah menempuh jalan kepada para Ulama dari Qum, agar memecahkan permasalahan bagi dia tentang Shalmaghani yang telah memberontak melawan dia. Ia mengirim hasil karya Shalmaghani ‘Al-Ta’dib’ ke Qum, mencari pertolongan dari kota Ulama tersebut untuk memilah dan memilih yang sahih dan yang lemah di dalam buku tersebut, sebagaimana yang dilaporkan oleh Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 240).

Dari laporan di atas terdapat indikasi tidak adanya kontak apapun antara dia dan Mahdi. Jika tidak demikian, ia pasti telah menaruh buku tersebut di depan Mahdi dan bertanya kepadanya tentang kesahihannya.

Apa yang lebih lanjut memperkuat keraguan tentang tidak adanya Mahdi Muhammad bin Hassan Askari, adalah ketidak-mampuan mereka yang mengklaim menjadi wakil untuk mengisi kevakuman di bidang fiqh, dan menyingkapkan berbagai hal yang rancu pada zaman itu yang perlu dijelaskan. Telah diketahui dengan baik bahwa Kulayni menulis buku ’Al-Kafi’ selama hidup Nubakhti (wakil ke-3), dan ia telah mengisinya dengan tradisi yang lemah dan palsu, yang mendiskusikan adanya sisipan (tahrif) di dalam Quran dan berbagai hal yang tidak valid lainnya. Tetapi baik Nubakhti maupun Al-Samri (wakil ke-4) tidak memberi komentar terhadap tradisi yang palsu tersebut, ataupun mengoreksi buku tersebut yang menyebabkan kerugian Syi’ah sepanjang zaman tersebut, dan menempatkan mereka dalam keadaan kesulitan, dengan tidak adanya identifikasi tradisi yang sahih dari yang palsu.

Sayyid Murtadha menemukan teori Lutf’ (kasihan dan pengampunan) di mana ia berkata: ‘Imam Mahdi harus turut campur untuk mengoreksi ‘Ijtihad’ dari Fuqaha, selama keghoibannya, agar menghentikan persetujuan mereka pada sesuatu yang tidak valid dan salah’. Berdasarkan hal ini, hak tersebut, akan lebih baik dan lebih sederhana bagi ‘Imam Mahdi’ untuk mengoreksi buku Kulayni, jika ia pernah ada, atau ia meninggalkan di belakang dia sebuah karya yang mencukupi semuanya, selama periode keghoiban utama, sebagai acuan bagi Syi’ah. Hal ini tidak terjadi. Pengklaim ‘Niyaba’ (perwakilan) tidak menghasilkan sesuatupun mengenai hal ini. Hal inilah yang menjadikan kita meragukan kebenaran mereka dan klaim mereka tentang keberadaan seorang ‘Imam ghoib’ yang kepadanya mereka bergantung.

Syekh Hassan al-Farid (seorang kolega Imam Khomeini) di dalam bukunya ‘Risalah fi al-Khums’ (hal. 87) terkejut dan heran dan juga bingung ketika ia mempertanyakan rahasia di balik mengapa Kulayni tidak bertanya kepada ‘Sahib Al-Zaman’ (Mahdi) melalui wakilnya Nubakhti tentang isu Khums (seperlimaan) selama ‘periode keghoiban’. (27)

17.4  MENILAI SURAT-SURAT ’MAHDI’

Para pendukung teori keberadaan Imam Mahdi mempunyai beberapa surat, yang mereka percayai Imam telah mengirimkan kepada sejumlah orang, dan mereka menjadikannya sebagai bukti tambahan atas kebenaran teori mereka tentang keberadaan ’Imam Muhammad bin Hassan Askari’. Setelah kita mempelajari laporan ini dan meneliti rantai kisahnya (sanad),  bagaimanapun kelemahan laporan-laporan ini menjadi sangat jelas. Ini tidak lain hanyalah kabar angin yang disebarkan oleh mereka yang mengklaim menjadi ‘wakil’.

17.4.1 VALIDITAS LAPORAN

Laporan yang pertama oleh Tusi datang dari sekelompok orang, yang ia tidak mengidentifikasi, dari Abu Muhammad Al-Tal’akbari dari Ahmad bin Ali al-Razi, yang tentangnya para Ulama perawi (Rijal) Syi’ah mengatakan bahwa, ia adalah seorang (perawi) yang lemah dan ekstrimis. Sebagai tambahan terhadap hal itu, Ahmad bin Ishaq al-Qummi tidak menyebutkan cara surat-menyurat dengan ‘Sahib Al-Zaman’, atau indikasi orang yang mengambil isu (Surat) tersebut kepadanya. Oleh karena itu hal ini sepertinya ia memalsukan surat itu sendiri.

Perihal surat yang kedua, Tusi juga melaporkannya melalui Ahmad bin Ali al-Razi (ekstrimis yang lemah) dari sejumlah orang yang tidak dikenal. Sebagai tambahan, hal itu berisi sesuatu yang tidak logis, yaitu mencari keputusan hukum dari orang yang tidak dikenal, yang keberadaannya kontroversial, untuk menetapkan keberadaannya yang sesungguhnya! Adalah mungkin bahwa, salah satu dari wakil tersebut menulis jawaban surat tersebut. Mengetahui secara penuh hal yang meragukan mengenai keberadaan putra Hassan, memerlukan keraguan terhadap kebenaran para ‘wakil’ tersebut, bagaimana mungkin kita kemudian mengembalikan kepada salah satu dari mereka dan bersandar kepada Mahdi, sebelum menetapkan kejujuran para wakil, atau mempercayai dokumen yang ia sajikan, yang mereka klaim berasal dari Mahdi?

Perihal laporan dari Saduq yang dikenal sebagai ‘Al-Tawqi’, itu adalah lemah karena status Ishaq bin Ya’qub sebagai perawi yang lemah, dan dirinya tidak dikenal; demikian juga tidak disebutkan oleh Ulama yang lebih awal seperti Kulayni; dan karena laporan tersebut berisi sejumlah isu yang salah seperti:

  • Yang pertama, pujian pembawa surat tersebut yakni ‘wakil’ yang kedua, Muhammad bin Uthman al-Umari’, pada dirinya dan ayahnya. Ini mendukung kemungkinan surat tersebut dipalsukan oleh pemiliknya sendiri.
  • Yang kedua, legalitas Khums (seperlimaan) selama periode keghoiban hingga penampakan (Mahdi), hal ini kontradiksi dengan keberlanjutan hukum Islam sepanjang zaman. Ulama Syi’ah baru-baru ini telah menahan diri dari mempercaya legalitas hal ini, karena kontradiksi dengan prinsip Islam (yang lain).
  • Yang ke tiga, permintaan agar menahan diri dari menanyakan penyebab keghoiban, di samping filosofi keghoiban itu sendiri adalah salah satu dari berbagai hal yang perlu secara religius, yang harus diketahui sebagai jalan mempercayai Mahdi. Karenanya laporan tersebut- surat tersebut, adalah sangat lemah dan tidak terjamin.

Demikian juga kasus laporan Saduq yang kedua dari Al-Umari, yang ia sampaikan dari Abu Abdullah Ja’far, yang mengatakan bahwa ia telah menemukan laporan tersebut yang dipastikan dari Sa’ad bin Abdullah, yaitu ia tidak melaporkannya secara langsung, ia hanya menemukannya di dalam sebuah buku. Telah diketahui bahwa di dalam ilmu hadist, menemukan sebuah laporan di dalam sebuah buku (dan melaporkan hal itu) adalah format yang paling lemah dari sebuah kisah/ laporan. Tambahan lagi, Sa’ad tidak menyebutkan bagaimana ia mendatangkan surat tersebut? Atau siapa yang memberi tahu dia tentang surat itu? Ia tidak melaporkan surat itu dari kedua al-Umari (bapak dan anak), yang tidak menyebutkan surat ini secara jelas. Ia hanya melaporkan bahwa surat itu dari orang lain, tanpa menetapkan namanya, tetapi ia mengira bahwa ia adalah Mahdi. Jika laporan dari kedua al-Umari sahih, itu bisa jadi tulisan mereka sendiri, untuk mendukung teori mereka berdasar pada keberadaan Mahdi, dan sebagai dukungan terhadap klaim mereka menjadi ‘wakil’ Mahdi, Karenanya laporan ini bukanlah merupakan sebuah bukti.

Mengenai surat-surat dari Sheikh Mufid, yang disebutkan oleh Tabrisi dan Ibn Shahra’ashub di dalam karya mereka, Mufid sendiri tidak menyebutkan sura-surat tersebut di dalam setiap bukunya. Sekalipun jika anggapan surat-surat tersebut berasal dari dia dapat dipastikan, itu bukan merupakan bukti apapun. Karena Mufid mengatakan bahwa, ia menerimanya dari seorang lelaki Arab kampung yang tidak mengenal dia, dan tulisan tangan di dalamnya bukanlah dari Mahdi, tetapi dari orang lain, yang kepadanya Mahdi mendikte isinya. Mufid telah menolak untuk menyajikan surat-surat dari lelaki Arab kampung itu kepada setiap pengikutnya. Ia mengklaim hal itu karena perintah dari Mahdi. Ia tidak menghadirkan kepada orang-orang kecuali surat-sarat yang ditulis dengan tangan miliknya. Ia berkata bahwa Mahdi telah meminta dia untuk melakukan hal itu.

Jika hal ini valid… Kita pada kenyataannya menyaksikan surat dengan tulisan tangan Syekh Mufid sendiri, sambil mengatakan bahwa surat-surat itu adalah salinan dari surat lelaki Arab kampung yang menyerahkan kepadanya setelah menerimanya dari lelaki yang tidak dikenal yang lain, yang menjadi penulis surat-surat itu. Lelaki yang tidak dikenal itu berkata bahwa Imam Mahdi telah mendiktekan surat-surat itu kepadanya. Dengan kata lain kita berhadapan dengan sebuah tradisi yang dilaporkan oleh perawi tunggal, yang dilaporkan oleh Mufid dari seorang lelaki arab yang tidak dikenal dari seorang lelaki lain yang tidak dikenal juga dari Mahdi.

Hal ini memunculkan sejumlah kemungkinan: seperti, kemungkinan yang berasal dari Mufid, lebih-lebih lagi, hal itu membawa banyak pujian dan penghargaan kepada dia. Dalam beberapa suratnya, Mahdi menyebutkan nama (sebutan) Mufid di depan nama yang sesungguhnya. Kemungkinan yang lain berasal dari lelaki Arab kampung tersebut, atau dari lelaki ketiga yang berbohong kepada si penulis, dan mengklaim sebagai Mahdi. Dengan cara yang sama, laporan tersebut di bidang ilmu hadith, tidak berhak mendapat bahkan perhatian yang paling sedikit sekalipun atau bahkan jeda waktu yang singkat atau panjang.

17.4.2  PERMASALAHAN DALAM MENGENALI TULISAN TANGAN

Aku bermaksud menarik perhatian pembaca kepada sebuah masalah penting, yaitu isu tulisan tangan Imam Mahdi di dalam surat-surat dan catatan-catatan yang diatributkan kepadanya. Orang yang percaya pada Mahdi, terutama hari ini, akan rindu sekali melihat tulisan tangannya, bila ia tidak cukup beruntung melihat orangnya. Ia akan berharap sejarah telah memelihara sekalipun hanya satu salinan surat dan catatan tersebut. Ia juga akan berharap bahwa Syi’ah pada zaman itu telah mengenal arti penting mengenai hal itu dan telah memelihara surat Imam sebagai harta benda historis mereka. Karena dokumen semacam itu merupakan benda yang paling penting untuk studi pada periode itu, dan untuk memastikan kebenaran ‘Imam Mahdi’, dan kondisi lingkungan yang mendorong keghoiban tersebut.

Berdasarkan hal tersebut aku telah mencoba untuk memeriksa semua indikasi ’Imam Mahdi’ dengan tulisan tangan di dalam suratnya, dan mencari salinan surat manapun, dan mengikutinya (Tawaqi). Aku berfikir pada permulaannya, atau aku mengira bahwa Syi’ah zaman itu, terutama empat wakilnya atau para Fuqaha (Ahli hukum) atau para Ulama Hadith, mungkin telah memberikan banyak perhatian terhadap arti penting pemeliharaan surat-surat tersebut. Aku tidak menemukan jejak apapun mengenai hal itu. Sebagai gantinya aku menemukan keraguan yang melingkupi isu ini. Aku juga menemukan di dalam catatan (‘al–Tawqi’) yang dilaporkan oleh Tabrisi di dalam ‘al-‘Ihtijaj’ dari Ishaq bin Ya’qub dari al-Umari, suatu dalil yang berkata: “…Jangan menunjukkan tulisan tangan kami, yang ditulis oleh kami kepada seseorang.” Hal ini memperlihatkan kontroversi dari apa yang diharapkan, karena arti penting dan perhatian terhadap mengenali tulisan tangan dan dalam memelihara surat Mahdi, demikian juga tidak adanya tulisan tangan tertentu yang diketahui sebagai dari Mahdi, yang selalu dijadikan acuan untuk membandingkan surat yang lainnya dengan surat dari Mahdi, dalam rangka memastikan keasliannya.

Aku juga menemukan bahwa Syekh Tusi  mendiskusikan ‘Tulisan tangan Mahdi’ secara ragu-ragu, ketika ia berkata: ‘Abu Nasr Hibatullah telah berkata: “Aku menemukan pada tulisan tangan Abu Ghalib al-Razi: ‘Al-Umari bertanggung jawab terhadap masalah ini – (perwakilan), selama sekitar lima puluh tahun. Orang-orang membawa kepadanya kekayaan mereka dan ia akan memperoleh dari itu ‘Catatan-catatan’ dengan tulisan tangan yang sama seperti pada masa Hassan (AS), menjelaskan beberapa urusan duniawi dan keagamaan, dan apa yang  mereka selalu tanyakan kepada dia, ia menjawab dengan cara yang aneh.” (28) Tusi: Al-Ghaybah hal. 223.

Ia tidak mengaitkan mengapa Al-Umari melakukan hal itu? Dan mengapa ia tidak memperlihatkan catatan dengan tulisan tangan Mahdi? Telah diketahui dengan baik bahwa mengenali tulisan tangan Imam Hassan sendiri merupakan sebuah masalah selama masa hidup Beliau, karena sebagian dari mereka yang mengklaim menjadi wakilnya di antara ekstrimis, menempuh jalan memalsukan tulisan tangan Beliau. Karena itulah Syi’ah menghadapi masalah dalam mengenali dan memastikan tulisan tangan Imam Askari tersebut, selama masa hidup Beliau. Bagaimana mungkin tulisan tangan ’Imam Mahdi’ yang dahulunya tidak bisa dilihat oleh seseorang bisa dikenali? Tulisan tangan yang tidak pernah dilihat tersebut atau tidak ada, tidak pernah dipastikan. Masyarakat pada umumnya tidak memiliki maksud apapun untuk memastikannya?

Dengan adanya masalah utama ini, al-Umari tidak menyerahkan tulisan tangan atau catatan apapun kepada seseorang. Ia malahan, hanya memperlihatkannya kepada mereka atau menyalinnya dengan tulisan tangan miliknya. Syekh Mufid telah menempuh jalan – menurut suatu laporan – yang serupa juga. Ia memperkenalkan salinan dengan tulisan tangannya, dan mengatakan bahwa catatan-catatan itu dikutip dari ‘Surat Mahdi’, yang sama sekali tidak ditulis dengan tulisan tangan Imam, tetapi berupa dikte dari Imam kepada seorang penulis yang tidak dikenal.

Jika kita telah memperoleh salinan dari tulisan tangan Imam Mahdi’ tersebut, hal itu akan dalam kemampuan kita untuk mrmbandingkan catatan-catatan tersebut dan memastikan dikaitkannya kepada Mahdi, atau membedakan antara yang asli dari yang dipalsukan di antara tulisan-tulisan tersebut. Tidak ada satupun dari itu yang telah terjadi.

Karena inilah, mungkin bagi kita mengenai rahasia yang melingkupi tulisan tangan dan ’penyembunyian tulisan tersebut’ merupakan suatu bukti tambahan terhadap tidak adanya ’Muhammad bin Hassan Askari’, yang, jika ia telah benar-benar ada dan sedang besembunyi dan dalam keghoiban karena pertimbangan keamanan, pasti telah memilih untuk, tanpa diragukan lagi, menetapkan keberadaannya dan pribadinya di hadapan masyarakat Syi’ah, dan pasti telah memimpin mereka melalui surat yang ditandatangani oleh dia, dengan suatu cara yang pasti telah tidak meninggalkan keraguan atau kontroversi apapun. Hal itu semestinya memungkinkan untuk mengenali dan membedakan tulisan-tulisan tersebut dengan mengenali tulisan tangannya dan dengan membandingkan tulisan-tulisan tersebut, sebagai salah satu dari beberapa cara yang dengannya ia membuktikan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: