BAB XVI. KRITIK TERHADAP BUKTI NASS

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB XVI

KRITIK TERHADAP BUKTI NASS

Kita tidak perlu mendiskusikan kutipan Qur’an atau banyak Hadits yang mendiskusikan Mahdi atau Qa’im tanpa menetapkan identitas orang itu. Hal ini karena tujuan dari studi kita bukanlah pengingkaran total terhadap kemunculan Mahdi pada masa yang akan datang. Namun lebih diarahkan pada pernyataan bahwa seorang yang bernama Muhammad bin Hassan Askari belum dilahirkan dan tidak ada. Sebagai konsekwensinya, ayat atau Hadits semestinya tidak menetapkan kelahiran dari orang ini, atau keberadaannya dengan mengesampingkan kemungkinan mendiskusikan makna ayat suci tentang masalah ini.

Tentang kisah-kisah keghoiban (al-Ghaybah) dan tidak terlihat, kisah-kisah tersebut tidak mendiskusikan ghoibnya orang tertentu manapun. Dan kisah-kisah tersebut tidak menyebutkan nama Muhammad bin Hassan Askari, sebagaimana kisah-kisah tersebut tidak menunjukkan keghoiban khusus dari Imam. Maka hal itu tidak bisa berdiri sebagai bukti keghoiban Hujjah (Mahdi), putra Hassan, karena ia belum dilahirkan ataupun memasuki keghoiban. Kisah ini tidak mendiskusikan sesuatu hal yang belum terjadi, sedemikian rupa sehingga dapat dilihat sebagai mukjizat dan bukti tentang kebenaran keghoiban, sebagaimana yang Syekh Saduq telah katakan.

Dalam kisah seperti ini tidak ada sesuatu yang memelihara apa yang ahli ilmu agama klaim. Hal ini karena ia tidak berisi sebutan apapun sebelum hal itu terjadi, sebagaimana yang Syekh Tusi telah nyatakan. Tidak ada sebutan manapun yang ditentukan sebelumnya (tentang ini) dari Yang Maha Mengetahui yang ghoib. Yaitu karena kisah tersebut ada sebelumnya, dan mereka menyebutkan beberapa orang lain yang pada kenyataannya memang ada, dan kemahdian diklaim bagi mereka; mereka menghilang di lembah, di atas pegunungan dan di dalam penjara, seperti Muhammad bin Hanafiyyah, Muhammad bin Abdullah bin Hassan (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah) dan Imam Musa Kadhim (AS). Selalu terjadi bahwa selama ketidakhadiran mereka, para pengikut mereka menjadi terserak, terbagi dan bingung. Para pendukung mereka membuat kisah seperti ini jauh dari kenyataan untuk tujuan tertentu, terutama Syi’ah Waqifiah, mereka yang betul-betul percaya pada kemahdian dari Imam Kadhim. Tetapi ketika Rashid menangkap dia, mereka mengklaim bahwa ia ada dalam keghoiban. Ketika Imam meninggal mereka menolak untuk mengakui kematiannya, tetapi malah mengklaim bahwa ia melarikan diri dari penjara, dan telah pergi kepada keghoiban besar, selama yang ia tidak akan terlihat. Mereka menganggap periode penahanannya, sebagai keghoiban kecil, sedangkan keghoiban utama lebih lama dibanding keghoiban kecil, karena hal itu berlanjut tanpa batas. Waqifiah meminjam tradisi tentang keghoiban dari pergerakan kemahdian sebelum mereka, dan menerapkannya pada Imam Kadhim.

Jika kita berhenti sejenak pada kisah yang disebutkan oleh Nu’mani tentang keghoiban tersebut, di mana ia berkata: “Jika tidak ada tradisi lain yang telah dilaporkan kecuali yang ini, itu sudah mencukupi.” Kita semestinya akan menemukan bahwa laporan itu menyebutkan kematian, pembunuhan dan hilangnya seorang Imam yang ada sebelumnya dan dikenal. Ketika ia (Nu’mani) harus membuktikan keberadaan Imam Muhammad bin Hassan Askari dari serangan, maka ia dengan segera akan mampu mengatributkan tindakan seperti ini kepadanya.

Ahli ilmu agama (Mutakallimun) zaman permulaan (abad ketiga Hijrah), mencoba untuk membuktikan validitas asumsi keberadaan imam ke-12 -Putra Hassan, dan tidak mendiskusikan ‘Mahdi dan Kemahdian’, karena mereka perlu membuktikan dahulu, adanya tahta dan kemudian orang yang mendudukinya. Tetapi krisis yang mereka hadapi setelah klaim mereka tentang keberadaan ‘putra Hassan’ adalah: tidak munculnya Imam untuk mengemban tugas Imamah. Ini mendorong mereka untuk mencari di dalam warisan kaum tua Syi’ah, seperti itu Kissaniah dan Waqifiah, dan juga mencari jalan keluar dari krisis dan kebingungan tersebut. Mereka menemukan tradisi tua tentang Kemahdian, solusi yang terbaik untuk segera keluar  dari krisis tidak munculnya (Mahdi), dan pada saat yang sama juga sebagai bukti baru untuk menegakkan asumsi keberadaan  putra Hassan.

Oleh karena itu teori yang mengutamakan pembuktian keberadaan Imam ke-12 ini berkembang menjadi kepercayaan pada kemahdian. Diskusi tersebut berputar di sekitar keberadaan Imam Mahdi, Hujjah, putra Hassan Askari’, karena adanya kevakuman yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran dan  tidak munculnya (Imam). Kesimpulan dari hal ini adalah bahwa orang yang diasumsikan sebagai Imam yang tidak bisa dilihat, adalah Mahdi tersebut, yang akan memasuki keghoiban, dan penyebab dari tidak munculnya adalah keghoiban!

Sekalipun hal ini adalah sah untuk berargumentasi atas dasar laporan seperti ini bagi kemahdian dari Imam yang lebih awal yang dikenal dengan baik, yaitu mereka yang hilang di dalam penjara atau di lembah atau di bagian lain di dunia, semestinya tidak mungkin berargumentasi atas dasar ini bagi validitas dari asumsi tentang keberadaan putra Hassan. Hal itu karena pengikut Imam Hassan Askari dan mereka yang berbeda banyak terhadap isu tersebut, meragukan keberadaan anak Imam. Proses dalam berargumentasi atas dasar ini bagi ‘kemahdian putra Hassan’, pertama-tama memerlukan penetapan keberadaannya dan membuktikannya, sebelum mengatakan apapun tentang Imamahnya, kemahdiannya, keghoibannya, dan sebagainya.

Argumentasi atas dasar keghoiban dalam rangka membuktikan keberadaan (putra Hassan) tanpa terlebih dahulu membuktikan keberadaannya, adalah seperti berargumentasi untuk membuktikan keberadaan air dalam suatu wadah dengan mengatakan: “Air tidak mempunyai bau dan warna, dan kita tidak bisa membaui apapun maupun melihat warna apapun di dalam wadah tersebut, oleh karena itu, ada air di dalam wadah tersebut.” Jika hal itu tidak mungkin kecuali setelah penetapan adanya suatu jenis cairan di dalam wadah tersebut, maka kita tidak bisa berkata bahwa: ‘Cairan ini tidak mempunyai warna maupun bau, oleh karena itu cairan tersebut adalah air’.

Proses membuktikan keberadaan putra Hassan, dengan cara yang sama, akan memerlukan pertama-tama pembuktian keberadaannya, Imamahnya dan kemahdiannya, kemudian keghoibannya dapat ditetapkan, tidak dengan cara yang lain, yaitu ketika ketidaktahuan, ketidakberadaan dan keghoiban dipakai sebagai bukti untuk membuktikan keberadaan Imamah dan kemahdian dari seseorang yang masih dicari-cari untuk dan sedang didiskusikan (oleh kalangan Syi’ah sejak kematian Imam Askari).

Oleh karena itu, tidak benar, berargumentasi atas dasar tradisi yang lemah dan rancu tentang ’keghoiban’ dalam rangka membuktikan keberadaan Imam Muhammad bin Hassan Askari.

Beberapa ahli teori keghoiban sudah mencoba untuk berargumentasi atas dasar sebuah tradisi tentang dua keghoiban, kecil dan besar, untuk menetapkan validitas ‘teori keberadaan  putra Hassan’. Laporan tentang dua keghoiban itu sendiri, bagaimanapun tidak terbukti secara historis. Tidak ada bukti tentang itu, kecuali permasalahan ‘wakil khusus’, yang diklaim oleh beberapa pribadi. Itu belum ditetapkan dari mereka pada waktu itu. Syi’ah yang memelihara keberadaan putra Hassan berbeda di antara mereka sendiri tentang validitas klaim dari orang ini atau itu, bahwa mereka menjadi wakil khusus Mahdi, yang telah diklaim oleh sekitar duapuluh (20) orang (wakil), yang kebanyakan dari mereka adalah ekstrimis. Dari ini batas yang memisahkan kedua keghoiban, kecil dan besar, adalah batas yang dibuat-buat, yang tidak terbukti secara historis. Perlu diperhatikan bahwa argumentasi atas dasar dua keghoiban,  dimulai oleh Nu’mani pada pertengahan abad keempat Hijrah, setelah habisnya periode ‘Wakil khusus’. Tidak satupun dari penulis sebelumnya tentang ‘keghoiban’ menyebutkan hal itu. Mereka hanya menyebutkan satu keghoiban.

Sayyid Murtada Alam al-Huda dan Syekh Tusi mengakui, ketika mendiskusikan penyebab keghoiban, bahwa adalah perlu menyelidiki keberadaan dan Imamah dari ’putra Hassan Askari’ sebelum mendiskusikan keghoiban dan penyebabnya. (1) Tusi: Talkhis al-Shafi Murtada, jilid 4, hal. 213.

Mereka berkata: “Bagi setiap orang yang meragukan Imamah dari putra Hassan, adalah perlu untuk mendiskusikan dengan dia dalil tentang Imamahnya, dan menggunakan usaha dalam membuktikan hal itu. Tidaklah mungkin mendiskusikan penyebab keghoiban jika terdapat keraguan mengenai hal itu (Imamah). Karena tidak benar mendiskusikan cabang (isu sekunder) sampai setelah membuktikan dengan sempurna prinsip (yang primer).” (2) Tusi: Talkhis al-Shafi Murtada, jilid 4, hal. 214.

16.1  BUKTI DARI SYI’AH 12-IMAM

Bukti yang terakhir ini, ahli ilmu agama mulai memanfaatkannya setelah lebih dari setengah abad kekacauan dan kebingungan, yaitu pada abad ke-4 Hijrah. Tidak ada jejak tentangnya (pembatasan jumlah Imam) pada abad ke-3 di antara Syi’ah Imamiah, karena:

  • Syekh Ali bin Babawaih Saduq (306-381 AH) tidak menyebutkannya di dalam bukunya: ‘Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah’, sama halnya
  • Nubakhti (wafat 310 AH) tidak menyebutkannya di dalam ‘Firaq al-Shi’ah’, maupun
  • Sa’ad bin Abdullah Ash’ari al-Qummi (wafat 301 AH) di dalam ‘al-Maqalat wa al-Firaq’.

Hal itu karena teori 12-Imam masuk ke dalam doktrin Imamiah pada abad ke-4, setelah teori Imamiah diperluas hingga akhir abad ke-4, yang semula tanpa batas jumlah; serupa dengan kasus Isma’iliah dan Zaydiah, karena asal mulanya paralel dengan teori Shura’ dan suatu alternatif terhadap hal itu. Sehingga sepanjang terdapat Muslim yang memerlukan sebuah negara dan seorang Imam, terlarang bagi mereka untuk menempuh jalan Shura’ dan pemilihan sebagaimana yang dianut teori Imamiah. Adalah tidak terelakkan bahwa Allah menugaskan mereka, seorang Imam yang ma’sum melalui tradisi dan dalil. Lalu mengapa jumlahnya dibatasi dua belas saja?

Karena alasan inilah, Syi’ah Imamiah –pada mulanya- tidak menyebutkan jumlah spesifik Imam, dan bahkan mereka yang percaya pada keberadaan Imam Muhammad bin Hassan Askari sekalipun, tidak memelihara pendapat bahwa ia adalah Imam penutup (terakhir). Kita melihat Nubakhti berkata di dalam bukunya ‘Firaq al-Shi’ah’: “Imamah akan berlanjut pada keturunan Imam ke-12 hingga hari Kebangkitan.” (Lihat acuan: Sekte yang percaya pada keberadaan seorang putra dari Askari).

Banyak laporan yang disebutkan oleh Saffar di dalam ‘Basair al-Darajat’, Kulayni di dalam ‘Al-Kafi’, Himyari di dalam ‘Qurb al-Isnad’, Iyashi di dalam tafsirnya, Mufid di dalam ‘Al-Irshad’ dan Hur al-Amili di dalam ‘Ithbat al-Huda’ dan seterusnya dan sebagainya, menunjukkan bahwa, sejak masa Nabi (SAAW), para Imam tidak mengetahui tentang daftar para Imam yang telah ditentukan sebelumnya, ataupun mereka (para Imam) mengetahui Imamah mereka atau Imamah dari Imam yang menggantikan setelah mereka, kecuali tepat sebelum kematian mereka, tidak ada percakapan dari antara Syi’ah atau Syi’ah Imamiah itu sendiri, yang biasa menjadi bingung dan berbeda antara diri mereka setelah kematian setiap Imam. Mereka biasa meminta kepada setiap Imam untuk menugaskan Imam yang menggantikan setelah dia, dan menyebutkan namanya secara jelas, sehingga mereka tidak mati tanpa mengetahui Imam yang baru.

Saffar (wafat 290 AH) melaporkan di dalam ‘Basa’ir al-Darajat’ (hal. 473) pada bab, ‘Para Imam mengetahui Imam yang kepadanya mereka memberikan wasiat mereka (tentang Imamah) sebelum kematian mereka melalui apa yang Allah anugerahkan kepada mereka (pengetahuan)’, sebuah tradisi dari Imam Sadiq di mana ia berkata: “Tidak ada Ulama mati hingga Allah memperlihatkan kepada dia orangnya yang kepadanya ia akan memberikan wasiat”.

Kulayni (wafat 329 AH) di dalam ‘Al-Kafi’ (vol. 1 hal. 227) melaporkan hal itu juga. Ia juga melaporkan dari Imam Sadiq (AS): “Imam tidak akan mati hingga ia mengetahui Imam setelah dia, dan kemudian ia memberikan wasiatnya kepadanya.” Hal ini memperlihatkan bahwa para Imam itu sendiri tidak mengetahui nama-nama dari mereka yang menggantikan dirinya atau keberadaan suatu daftar yang telah ditentukan sebelumnya yang berisi nama-nama mereka. Saffar, Saduq dan Kulayni sudah mengetahui hal ini dan mereka melaporkan dari Abu Abdullah yang berkata: “Imam yang menggantikan mengetahui Imamahnya dan mengambil-alih pada detik terakhir  dari kehidupan Imam yang terakhir.”(5) Al-Basair hal. 478; al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, Bab 19, hal. 84; Al-Kafi, vol.1 hal. 275.

Sebagai hasilnya, banyak pertanyaan yang diangkat mengenai kehidupan Ahl al-Bayt, yakni:

  • ‘Bagaimana cara Imam mengetahui Imamahnya, jika bapaknya meninggal jauh dari dia di kota lain?’
  • ‘Bagaimana ia mengetahui bahwa ia adalah Imam jika ia memberikan wasiatnya kepada sebuah kelompok, atau jika ia sama sekali tidak memberikan sebuah wasiat?’
  • ‘Bagaimana orang-orang mengetahui Imam tersebut, terutama jika saudara laki-laki mengklaim Imamah, dan setiap dari mereka mengklaim menerima wasiat, sebagaimana yang telah terjadi pada sejumlah Imam menurut sejarah?’

Kulayni melaporkan sebuah tradisi dari salah satu Alawiah, yakni ‘Isa bin Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abi Talib, yang berkata: aku berkata kepada Abu Abdullah:

  • “Jika sesuatu (kematian)  – Semoga Allah tidak memperlihatkan hal itu kepada saya – terjadi pada Anda, kepada siapa aku sebaiknya mengikuti?” Ia berkata: Ia menunjuk putranya Musa. Aku berkata:
  • “Jika sesuatu terjadi kepada Musa, kepada siapa aku sebaiknya mengikuti? Ia berkata: “Putranya”. Aku kemudian berkata:
  • “Jika sesuatu terjadi pada putranya, dan meninggalkan seorang kakak laki-laki  dan seorang anak kecil, kepada siapa aku sebaiknya mengikuti?” Ia menjawab:
  • “Putranya’ Ia kemudian menambahkan, “Dengan cara ini secara terus menerus”. Aku berkata:
  • “Jika aku tidak mengetahui dia ataupun aku tidak mengetahui tempatnya?” Ia berkata:
  • “Kamu sebaiknya berkata: ‘Wahai Allah, aku memberikan kesetiaanku kepada siapapun buktiMu (Imam) yang ada dari anak-anak Imam dahulu’, itu akan mencukupi bagi kamu, semoga Allah ridho.” (6) Al-Kafi, vol.1 hal. 309.

Tradisi ini menunjukkan bahwa tidak ada daftar nama Imam manapun yang telah ditentukan sebelumnya (oleh Nabi), dan adanya ketidaktahuan Alawiah dan Syi’ah Imamiah seperti ‘Isa bin Abdullah’ tentang itu (dalil yang berisi daftar nama Imam), dan kemungkinan dirinya dibingungkan dan tidak tahu, yang selanjutnya ia memastikan hal ini (dengan bertanya kepada Imam Sadiq). Jika daftar nama tersebut ada sebelumnya, Imam Sadiq pasti telah menunjuk hal itu (pada jawabannya).

Karena adanya kerancuan tentang identitas Imam berikutnya pada pandangan mayoritas Syi’ah dan Imamah di antara mereka, mereka selalu bertanya kepada Imam tentang langkah-langkah yang perlu diambil ketika salah satu dari Imam meninggal. Kulayni dan Ibn Babawaih dan Iyashi menyampaikan sebuah tradisi dari Yaqub bin Shu’aib dari Abu Abdullah, yang berkata: ‘Aku berkata kepada dia:

  • “Jika sesuatu terjadi pada Imam, apa yang sebaiknya orang-orang lakukan?” Ia berkata:
  • “Mereka akan seperti yang Allah firmankan: “Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS, 9:122). Aku berkata:
  • “Apa posisi mereka?” Ia berkata:
  • “Mereka akan dimaafkan sepanjang mereka sedang mencari. Mereka yang sedang menanti, bagi mereka akan dimaafkan, hingga kembalinya masyarakat mereka.” (7) Al-Imamah wa al-Tabsirah, hal. 77; Al-Kafi, vol.1, hal. 378; Tafsir al-Iyashi, vol. 2 hal. 117-118.

Masih terdapat kisah lain yang serupa dari Zurarah bin A’yun yang mengalami masalah ini, dan ia meninggal tepat sebelum kematian Imam Sadiq, ia tidak mengetahui Imam yang baru. Sehingga ia meletakkaan Qur’an di atas dadanya dan berkata: “Wahai Allah, aku bersaksi bahwa aku mengiakan orang yang Kitab ini menyatakan sebagai Imam”. (8) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 75-76.

Zurarah adalah salah satu dari murid terbesar dari dua Imam -Baqir dan Sadiq, tetapi ia tidak mengetahui Imam yang menggantikan Imam Sadiq. Oleh karena itu ia mengirim putranya ‘Ubaidullah ke Madinah, agar menemukan Imam yang baru. Ia (Zurarah) meninggal sebelum putranya kembali kepadanya, tanpa mengetahui siapa yang menjadi Imam! (9) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 76.

Sejumlah laporan yang disebutkan oleh Kulayni di dalam ‘Al-Kafi’ (vol.1 hal. 326 & 328), Mufid di dalam ‘Al-Irshad’ (hal. 336-337) dan Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal.120 & 122) menyatakan bahwa: “Imam Hadi pada awalnya memberikan wasiatnya kepada putranya Sayyid Muhammad, tetapi ia meninggal pada masa bapaknya. Sehingga Imam memberikan wasiatnya kepada Imam Hassan dan berkata kepada dia: “Allah telah mengubah kehendakNya (bada’) mengenai Muhammad sebagaimana Ia mengubah kehendakNya mengenai Isma’il. Wahai putraku, bersyukurlah kepada Allah karena Ia telah memutuskan pada kamu suatu hal, atau suatu kebaikan.”

Jika laporan tentang suatu daftar yang disiapkan sebelumnya tentang nama dua belas Imam adalah sahih dan ada, mengapa Syi’ah Imamiah, yang berbeda dan bingung dengan kematian Imam Hassan Askari (tanpa suatu isu pengganti), tidak mengetahui hal itu? Ulama hadith dan sejarawan Imamiah juga tidak menyebutkannya pada abad ke-3 Hijrah?

Teori 12-Imam tidak pernah stabil di dalam pemikiran Syi’ah Imamiah hingga pertengahan abad ke-4 Hijrah…. ketika Muhammad Syekh bin Ali Saduq menyatakan keraguannya tentang membatasi Imam hanya dua belas (12). Ia berkata: “Kami hanya membatasi secara relijius dalam mengakui keberadaan dua belas Imam, dan juga mempercayai apa yang Imam ke-12 akan katakan setelah dia.” (13) Ikmal al-Din, hal. 77.

Al-Kaf’ami di dalam ‘Al-Misbah’ telah melaporkan dari Imam Rida (AS) dua (permohonan) tentang Sahib Al-Zaman berikut: “Wahai Allah berkatilah para penguasa dari zamannya dan Imam setelah dia.” (14) Al-Qumi: Mafatih al-Jinan, hal. 542.

Saduq telah melaporkan sejumlah tradisi tentang kemungkinan perluasan Imamah lebih dari dua belas dan tidak membatasinya. Di antar kisah seperti ini adalah sebuah laporan dari Imam Amir Al-Muminin (AS) tentang situasi kebingungan setelah Qa’im dan bahwa Rasulullah (SAAW) telah mengambil sebuah perjanjian dari dia: ‘Jangan ceritakan kepada siapapun tentang itu kecuali Hassan dan Hussain, dan ia berkata: “Jangan menanyai aku apa yang akan terjadi setelah itu, karena kekasihku telah mengambil sebuah perjanjian dari aku, bahwa aku tidak akan menceritakan kepada siapapun kecuali keluargaku.” (15) Ikmal al-Din, hal. 78.

Tusi telah melaporkan di dalam Al-Ghaybah bahwa Rasulullah (SAAW) berkata kepada Ali: “Wahai Ali akan ada dua belas Imam setelah aku, dan setelah mereka, akan ada dua belas Mahdi. Kamu Wahai Ali, adalah yang pertama dari dua belas Imam…. Kemudian akan datang setelah dia, dua belas Mahdi.” (16) Al-Ghaybah hal. 97.

Ketika gagasan membatasi jumlah Imam berkembang, setelah klaim keghoiban dan keberadaan Muhammad bin Hassan Askari, Syi’ah Imamiah berbeda di antara mereka tentang pembatasan jumlah mereka baik dua belas maupun tiga belas, karena beberapa laporan yang muncul pada zaman itu mengatakan: Banyaknya Imam adalah tiga belas. Kulayni telah melaporkannya hal ini di dalam ‘Al-Kafi’ (vol.1 hal. 534). Jika ditemukan di dalam buku yang ada pada zaman itu, yang diatributkan kepada Salim bin Qays al-Hilali. Salah satu dari laporan ini mengatakan bahwa: ‘Nabi telah berkata kepada Amir Al-Muminin (Ali)’: “Kamu dan dua belas anak cucu kamu adalah Imam kebenaran.” Inilah yang menjadikan Hibatullah bin Ahmad bin Muhammad Al-Katib, cucu dari Abu Ja’far Muhammad bin Uthman al-Umari, yang terlibat dalam ilmu agama (Kalam), menulis sebuah buku tentang Imamah, dan menyebutkan di dalamnya bahwa Imam tersebut ada tiga belas, dan menambahkan pada daftar yang terkenal tersebut nama Zayd bin Ali, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Najashi di dalam ‘Rijal’-nya.

Sejarawan Syi’ah, Mas’udi (wafat 345 AH) telah menyebutkan di dalam ‘Al-Tanbih wa al-Ishraf’: “Asal mula pernyataan yang membatasi jumlah Imam menjadi dua belas, adalah apa yang Salim bin Qays al-Hilali menyebutkan di dalam bukunya.” (18) Al-Tanbih wa al-Ishraf hal.198, Al-Amin: Al-Ghadir, vol.1, hal. 195.

Buku Salim telah muncul pada permulaan abad ke-4 Hijrah, dan buku tersebut berisi daftar nama dua belas Imam, yang mana ia berkata: “Telah diketahui sejak masa Rasulullah, dan bahwa ia adalah orang yang mengumumkannya sebelumnya”. Kemunculan buku ini telah mendorong lahirnya sekte 12-Imam pada abad ke-4 Hijrah. Para perawi belakangan mulai membuat laporan sedikit demi sedikit. Kulayni tidak menyebutkan di dalam ‘Al-Kafi’ kecuali 17 laporan. Saduq kemudian datang lima puluh tahun setelah Kulaini, meningkatkannya sedikit di atas 30 (tiga puluh) laporan. Kemudian datang muridnya, Khazzaz membuatnya menjadi 200 (dua ratus) laporan.

16.2 MUFID MENGANGGAP BUKU SALIM LEMAH

Kulayni, Nu’mani dan Saduq bergantung pada buku Salim dalam pernyataan mereka tentang teori 12-Imam, yang diuraikan oleh Nu’mani sebagai salah satu dari sumber penting yang merupakan rujukan dan sandaran bagi Syi’ah 12-Imam. Massa Syi’ah pada umumnya pada zaman itu, bagaimanapun, sedang ragu-ragu terhadap pembuatan dan pemalsuan buku Salim tersebut, dan hal itu karena asal-muasalnya dilaporkan melalui ‘Muhammad bin Ali al-Sirafi Abu Saminah’, yang terkenal pendusta dan ‘Ahmad bin Hilal al-‘Ibrata’i’ seorang ekstrimis terkutuk itu. Abu al-Ghada’iri telah berkata: “Orang-orang kami biasa berkata: ‘Salim adalah seorang yang tidak dikenal, yang tidak disebut-sebut (oleh para Ulama). Buku tersebut palsu, tidak ada keraguan tentang itu, dan di sana ada indikasi untuk memastikan apa yang kami katakan.” (19) Al-Hilli: Al-Khulasah, hal. 83.

Syekh Mufid menganggap buku Salim lemah dan berkata: “Adalah tidak dapat dipercaya, dan bertintak berdasar sebagian besar dari buku itu, tidak diperbolehkan. Buku itu berisi (banyak) kepalsuan dan penipuan. Lebih baik bagi seorang yang beragama untuk menjauhi bertindak berdasar semua yang ada di dalamnya. Kebanyakan darinya tidak dapat dipercaya, dan laporannya seharusnya tidak diikuti. Seseorang perlu pergi kepada para ulama, mengenai tradisi yang ada di dalamnya, agar menjadi jelas tentang yang benar dan yang salah.” (Mufid: ‘Awa’il al-Maqalat’ hal. 247, dan ‘Sharh’ I’tiqadat al-Saduq’). (20)

Mufid mengkritik Saduq karena menyampaikan buku tersebut dan bergantung kepadanya, dan mengatributkan buku itu kepada metoda Saduq dalam pelaporan. Ia berkata tentang Saduq: “Ia sedang menginjak-injak jalan para sarjana hadith, yang bertindak berdasar apa yang nyata dari kata-kata dan menghindarkan pertimbangan lain. Pendapat ini merugikan pemiliknya dalam agamanya, dan berpendirian dengannya mencegah dia dari mempunyai pengetahuan yang mendalam dalam agama.” (21) Mufid: ‘Awa’il al-Maqalat’ hal. 242.

Karenanya Zaydiah menentang Syi’ah Imamiah, sambil berkata: “Laporan yang menunjukkan bahwa para Imam ada dua belas adalah sebuah pernyataan yang diprakarsai oleh Syi’ah Imamiah belakangan, dan mereka memproduksi banyak tradisi palsu mengenai hal itu.” Mereka memperkuat pandangan mereka dengan fakta-fakta berikut:

  • terbaginya Syi’ah, setelah meninggalnya setiap Imam, yang menghasilkan sejumlah sekte;
  • ketidaktahuan mereka dari Imam (berikutnya) setelah Imam (saat itu);
  • kejadian bada’ (perubahan kehendak) pada kasus Isma’il dan Muhammad bin Ali Hadi;
  • klaim Abdullah Aftah pada Imamah dan tanggapan Syi’ah terhadap hal itu;
  • kebingungan mereka berikutnya setelah kesengsaraannya;
  • ketidaktahuan mereka tentang Imamah Kadhim hingga saat ia memanggil mereka kepada dirinya; dan
  • kematian ahli hukum Zurarah bin A’yun tanpa mengetahui Imamnya. (22) Saduq : Ikmal al-Din hal. 75 -76.

Saduq telah menyampaikan pernyataan pembelaan terhadap Shi’ah 12-Imam, dalam menemukan teori 12-Imam yang tebaru. Bagaimanapun, ia tidak mengingkari pernyataan pembelaan tersebut, ataupun menyangkal hal itu. Ia hanya membenarkan hal itu dengan mengatakan: “Syi’ah Imamiah tidak mengatakan bahwa: “Keseluruhan Syi’ah termasuk Zurarah, mengenal dua belas Imam.” Ketika ia sadar terhadap posisi Zurarah dan ketidakmungkinan dia tidak mengetahui setiap tradisi mengenai hal ini, (padahal Zurarah) menjadi murid terbesar dari dua Imam, Baqir dan Sadiq, ia mengubah pendapatnya tentang apa yang ia katakan. Oleh karena itu, ia melihat kemungkinan Zurarah mengetahui tradisi tersebut dan menyembunyikannya, karena taqiyyah. Ia kemudian meninggalkan kemungkinan ini (bahwa Zurarah ber-taqiyyah) dan berkata, ‘Kadhim telah memohon dari Tuhannya agar menganugerahkan dia (pengetahuan) karena ketidak-tahuannya tentang Imam, karena seseorang yang meragukan dia (Imam) tidak termasuk dalam kumpulan agama Allah.” (23) Saduq : Ikmal al-Din hal. 76.

Hal ini kontradiksi dengan klaim Khazzaz di dalam ‘Kifayat al-Athar’ and Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ tentang terkenalnya tradisi mengenai dua belas Imam tersebut, yang dipertalikan melalui Syi’ah, dan menetapkan bahwa tradisi tersebut dengan cara apapun adalah tidak asli pada generasi yang lebih awal, terutama pada zaman Imam dari Ahl al-Bayt (AS), karena tradisi itu tidak mempunyai dampak atau pengaruh apapun. Lebih-lebih lagi, Tusi tidak menyebutkan buku Syi’ah klasik, yang ia mengklaim telah membahas teori ‘dua belas Imam’.

Khazzaz telah mencoba untuk menghindari mendiskusikan tentang dugaan pemalsuan hadist tersebut. Ia mencoba untuk menyangkal dugaan pemalsuan pada pihak para sahabat dan pengikut mereka dan Ahl al-Bayt (24) Kifayat al-Athar hal. 293. Dugaan tersebut tidak dibuat terhadap para sahabat dan Ahl al-bayt, tetapi hanya terhadap beberapa pelapor yang datang kemudian, yang membuat buku Salim pada periode kekacauan dan kebingungan, seperti Abu Saminah, Al-Ibrata’i dan Ali bin Ibrahim al-Qummi.

16.3  DI MANA MASUKNYA (BUKTI TERSEBUT)?

Itulah dia. Mayoritas dari tradisi yang membatasi jumlah Imam kepada dua belas, demikian juga semua tradisi yang dilaporkan dari sumber Sunni secara khusus tidak menyebutkan nama atau Imam atau Khalifah atau raja secara detail. Tradisi Sunni tidak membatasi mereka kepada dua belas, tradisi itu hanya menyebutkan kejadian ‘Haraj’ – pembunuhan setelah Kalifah yang ke-12, sebagaimana yang ada di dalam laporan Tusi dari Jabir bin Samrah.(25) Al-Ghaybah, hal. 88. Tradisi itu juga membahas kemenangan agama atau para pengikut  agama, hingga kedatangan dua belas Kalifah. (26) Al-Ghaybah hal. 89, Ikmal al-Din, hal. 274.

Jika kita menerima teori dari Syi’ah Imamiah Fathiah, yang tidak meletakkan suatu kondisi, warisan vertikal dari Imamah, maka Imam Hassan Askari akan menjadi Imam yang ke-12 setelah mengakui Imamah dari Abdullah Aftah bin Sadiq, dan setelah menerima Imamah Zayd bin Ali yang dipercayai sebagai Imam oleh sebagian Syi’ah Imamiah.

Oleh karena itu berargumentasi atas dasar tradisi dari Syi’ah 12-Imam yang bersifat umum, samar-samar dan lemah, tanpa adanya bukti intelektual apapun tentang kelahiran Muhammad bin Hassan Askari adalah semacam asumsi, dugaan dan terkaan, tanpa argumentasi intelektual yang tepat apapun.

16.4 HARUS ADA SEORANG IMAM YANG HIDUP YANG DIKETAHUI DENGAN BAIK DAN WUJUD!

Perihal bukti tradisional, yang menyatakan perlunya keberadaan Imam pada setiap zaman, dan tidak diperbolehkannya dunia menjadi tanpa bukti (Imam), adalah bukti yang membuat dirinya sendiri tidak valid oleh karena dirinya sendiri (yaitu Imam yang ghoib), bila tidak demikian lalu apa arti dari Imam dan bukti? (Hujjah)? Apa manfaat keduanya? Apakah ini bukan untuk membimbing umat manusia dan untuk mengatur masyarakat dan menerapkan keputusan hukum Shariah? Bagaimana mungkin bagi Imam yang ghoib – yang diasumsikan bahwa ia ada – melaksanakan semua itu?… Jika Imam yang ghoib melaksanakan tugas Imamah dan Hujjah, lalu mengapa para ahli hukum merasakan kebutuhan akan adanya Imam dan Hujjah pada periode keghoiban?

Jika tujuan dari keberadaannya adalah berjalannya urusan alam semesta sebagaimana yang beberapa ekstrimis katakan, Allah mempunyai banyak malaikat untuk melakukan itu.

Imam Ali bin Musa Rida (AS) telah menyangkal Waqifiah, yang percaya pada keghoiban dari bapaknya (Imam Kadhim): ‘Harus ada seorang imam yang hidup dan menjelma, dikenal dengan baik dan dijadikan rujukan oleh masyarakat!’ Ia berkata: “Tidak ada bukti dari Allah akan ditegakkan pada ciptaan, kecuali oleh seorang imam yang hidup dan dikenal.” demikian juga: “Seseorang yang mati tanpa seorang imam, telah mati sebagai mati jahiliah. …. seorang imam yang dikenal hidup”. Rasulullah (SAAW) telah berkata: “Seseorang yang meninggal tanpa (setia kepada seorang) Imam, yang ia mendengarkan dan mematuhi, telah mati dengan kematian Jahiliah.”

Imam Rida berkata kepada salah satu dari Waqifiah: “Seseorang yang mati tanpa seorang Imam yang hidup menjelma, telah meninggal dengan kematian Jahiliah”. Ia menanyai Imam sambil mencari keterangan, dan menekankan pada perkataan ‘seorang Imam yang hidup’. Imam menegaskan kepadanya lagi, ‘seorang Imam yang hidup’.

Asal mula gagasan ini adalah pendapat intelektual yang pertama bagi teori Imamah, masukan tersebut adalah: ‘Perlunya keberadaan seorang Imam dalam pengertian umum (pemimpin) di dunia, dan ketidakmungkinan masyarakat yang ada tanpa suatu pemerintahan, pemerintah apapun dan Imam manapun……Jika hal itu telah berkembang pada perlunya seorang Imam yang ma’sum yang ditunjuk oleh Allah, mendesakkan pada isu tersebut dan menyimpulkan dari itu: ‘Keberadaan Muhammad bin Hassan Askari’ dan keberlanjutan hidup hingga hari ini, hal ini juga merupakan semacam asumsi, dugaan dan terkaan yang lain. Di mana fungsi Imam sebagai guru dan pemandu, yang menerapkan keputusan hukum Allah, yang memelihara Shari’ah terhadap setiap penambahan atau penghapusan atau penyimpangan?

Sekalipun tradisi seperti ini sahih, Imam tersebut bisa saja orang lain….Jika yang   dimaksud adalah pengertian umum dari Imam (pemimpin) atau pengertian umum dari Hujjah (bukti), adalah seseorang yang terpelajar dalam keputusan hukum agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: