BAB XIV: IMAM MAHDI: FACT OR FICTION?

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB XIV

IMAM MUHAMMAD BIN HASSAN ASKARI

SUATU KENYATAAN HISTORIS ATAU SUATU ASUMSI FILOSOFIS ?

Teori kemahdian Imam ke dua belas adalah sebuah teori yang rumit berisikan kepercayaan pada  keberadaan Imam ke dua belas: ‘Muhammad bin Hassan Askari’ dan dirinya adalah Mahdi yang ditunggu. Teori itu mengakui bahwa Imam Hassan Askari tidak secara terbuka mengumumkan bahwa ia mempunyai seorang putra. Teori tersebut hanyalah, mengklaim bahwa, ia menyembunyikan putranya secara rahasia karena khawatir akan Otoritas Abbasiah, bahwa Mahdi akan merobohkan tahta mereka, dan karena itulah, mereka mencari-cari Mahdi untuk membunuhnya, ketika masih di ayunan.

Riset akademis yang serius pada awal mula lahirnya teori ini bagaimanapun, mengungkapkan keberadaan interval waktu yang lama antara kedua bagian teori tersebut. Karena pada mulanya, terpusat di sekitar keberadaan seorang putra bagi Imam Askari, yang menerima warisan Imamah dari dia. Tetapi teori itu kemudian berubah pada kepercayaan bahwa dirinya adalah Mahdi ghoib dan yang ditunggu-tunggu. Teori tersebut ditemukan pada ‘Keghoiban Mahdi’, sebuah penafsiran tentang tidak diumukannya kelahiran Mahdi oleh bapaknya, dan tidak nampaknya setelah itu.

Dalam rangka memastikan kebenaran teori ini yang memainkan suatu peran yang sangat besar pada sejarah Islam, dan dalam membentuk pemikiran politis Syi’ah 12-Imam, diperlukan membedah komponen yang berbeda dari  teori ini, dan mempelajari masing-masing teori secara mendalam dan obyektif. Kita pasti pertama-tama menemukan: Apakah teori kemahdian Syi’ah sebelum pertengahan abad ketiga (3) Hijrah, dengan jelas mengenal dan membatasi kepada seorang Imam yang ke dua belas- Muhammad bin Hassan Askari, atau teori itu kacau balau dan sebuah gagasan abstrak yang bersifat umum.

14.1. KERANCUAN MELINGKUPI IDENTITAS MAHDI DARI AHL AL-BAYT

Sejarah tentang Imam dari keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) (SAAW), dan tradisi mereka yang dipelihara oleh warisan Syi’ah Imamiah, memastikan kekacaubalauan yang melingkupi identitas Imam Mahdi dan tidak diumumkannya namanya atau waktu kemunculannya. Ini bukanlah karena khawatir pada otoritas zaman itu, tetapi karena identitas Mahdi tidak dispesifikasikan sebelumnya. Hal ini karena kemahdian pada awalnya hanyalah semata-mata gagasan dan harapan, melayang-layang di atas kepala setiap orang dari mereka. Harapan ini datang ke depan ketika Imam Ali menjadi Khalifah, dan menjadi lebih kuat setelah pembunuhan Imam Hussain bin Ali di Karbala. Itulah saatnya ketika banyak orang Syi’ah yang mulai mempersiapkan balas dendam, dan merobohkan rejim Umayyah melalui revolusi bersenjata. Orang-orang berkumpul di sekitar ini atau Imam yang lain dari Ahl al-Bayt, dengan kemahdian diatributkan kepada Imam. Ia akan memproklamirkan kemahdian dan berhasil atau mati karena proklamasinya dan kemunculannya. Beberapa dari mereka waktu itu dikatakan, ia telah pergi bersembunyi dan ghoib, dan ia akan muncul kembali pada masa yang akan datang.

Jika identitas Mahdi telah diuraikan/ dirinci sebelumnya, sejak masa Rasulullah (SAAW) dan Syi’ah sudah mencapai konsensus mengenai hal itu, mereka tidak akan pergi ke kiri dan ke kanan, dan mereka tidak akan dibingungkan, bertanya kepada para Imam tentang identitas Mahdi tersebut.

Imam Muhammad bin Ali Baqir ditujukan kepada Syi’ah berkata: “Kamu tidak pernah berhenti menghadap ke arah salah satu dari kami, sambil berkata: “Ia orangnya!” kemudian ia kembali kepada Tuhannya, hingga saatnya ketika Allah akan membangkitkan untuk urusan ini, seorang yang tentangnya kamu tidak mengetahui apakah ia telah dilahirkan atau belum, apakah ia telah diciptakan atau belum!” (1) Saduq: Ikmal al-Din hal. 183.

Kulayni berkata: Hakam bin Abi Na’im sekali waktu datang kepada Imam Baqir di Madinah dan berkata kepada dia: “Aku sudah bersumpah antara Rukn dan Maqam (dua tempat bagian dari Ka’bah yang paling suci di Makkah), jika aku bertemu dengan kamu, aku tidak akan meninggalkan Madinah sampai aku mengetahui apakah kamu Qa’im dari keluarga Nabi atau bukan.“

Imam Baqir berkata kepada dia: “Wahai Hakam, kami semua siap dengan perintah Allah”

Hakam bagaimanapun, tidak puas dengan jawaban yang bersifat umum ini, sehingga ia bertanya kepadanya secara spesifik: “Apakah engkau Mahdi?”

Baqir menjawab lagi dengan pengertian yang umum: “Semua dari kami memandu kepada Allah”. Maka Hakam bertanya secara lebih spesifik dan jelas: “Apakah engkau pemilik pedang dan orang yang menerima warisan itu?”

Untuk yang ketiga kalinya Imam menjawab samar-samar: “Kami semua adalah pemilik pedang,  yang menerima warisannya.”

Hakam kemudian meminta (menuntut) lebih kejelasan: “Apakah kamu orang yang membunuh musuh Allah?”

Imam Baqir menjawab: “Wahai Hakam! Bagaimana mungkin aku orangnya, sementara aku berumur 45 tahun? Sedang pemilik urusan ini lebih dekat kepada saatnya disusui (lebih muda) dibanding aku, dan lebih ringan ketika ia menunggangi punggung seekor binatang.” (2) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 536.

Kulayni dan Nu’mani keduanya berkata: “Bahwa Imam Sadiq tidak suka mengidentifikasi pribadi Mahdi tersebut. Abu Hamzah salah satu dari pengikutnya sekali waktu bertanya kepada dia: “Apakah engkau pemilik urusan ini?”. Ia menjawab: “Tidak”. Ia kemudian berkata: “Bagaimana dengan putramu?“. Ia berkata: “Tidak”. Ia juga berkata: “Apakah cucumu orangnya?”. Ia menjawab, “Tidak”. Kemudian ia berkata: “Apakah ia cicitmu?”. Ia menjawab: ”Tidak”. Ia (Hakam) berkata pada akhirnya “Lalu siapa dia?”. Ia menjawab: “Dia yang akan mengisi dunia dengan keadilan karena ia diisi dengan ketidakadilan dan penindasan, setelah jeda waktu para Imam, sebagaimana Rasul Allah (SAAW) dibangkitkan setelah jeda waktu para Nabi (AS).” (3) Kulayni: Al-Kafi  Vol. 1 hal. 341; Numani: Al-Ghaybah hal. 187.

Mendukung hal ini adalah fakta bahwa ketika Imam Sadiq meyakinkan penyair Sayyid al-Himyari,  yang percaya pada Muhammad bin Hanafiyyah menjadi Mahdi, ketika Imam Sadiq meyakinkan dia tentang kematiannya, Imam Sadiq tidak menspesifikasikan bagi dia siapa Mahdi tersebut. Al-Himyari mengucapkan beberapa sajak puitis yang merekam perubahan sikapnya dari kepercayaan terhadap kemahdian Ibn Hanafiyyah. Tetapi ia tidak menyebutkan identitas Mahdi tesebut: Arti dari puisi tersebut adalah sebagai berikut:

“Pernyataanku yang panjang terhadap putra Khaulah bukanlah sebagai oposisi, dari sisiku, kepada garis keturunan yang suci. Tetapi apa yang dilaporkan dari ahli waris Muhammad (SAAW), dan apa yang ia katakan tidak dapat dipalsukan. Bahwa pemilik urusan akan menjadi hilang, tidak sedang dilihat dan disembunyikan, seperti orang yang takut, menyaksikan (pergerakan masyarakat). Kekayaan dari yang hilang akan dibagi-bagikan, seolah-olah hilangnya di kuburan. Ketika dilaporkan bahwa putra Khaulah hilang (di dalam keghoiban), kami menerimanya dan terus membicarakan hal itu. Kami berkata ia adalah Mahdi dan Qa’im, yang dengan keadilannya semua akan hidup. Jika kamu mengatakan tidak, pernyataanmu adalah kebenaran, dan apa yang aku telah perintahkan tidak dapat dielakkan, tanpa prasangka apapun. Aku membuktikan kepada Tuhanku, bahwa pernyataanmu adalah bukti bagi semua orang, yang taat dan yang durhaka. Pemilik urusan dan Qa’im, yang aku rindukan dengan penuh kegembiraan, akan memasuki keghoiban yang tidak bisa dielakkan, semoga Allah memberkati dia ketika sedang dalam keghoiban. Ia tinggal (dalam keghoiban) selama beberapa waktu dan kemudian muncul pada waktu yang lain dan ia akan memerintah di Timur dan di Barat. Inilah agamaku yang percaya secara rahasia dan terbuka, aku tidak akan keberatan sekalipun aku disalahkan tentang hal itu.”

Walaupun Imam Sadiq, di dalam sebuah laporan dari zaman yang lebih awal tidak menyangkal kemungkinan dirinya sebagai Qa’im karena ia tidak menekankan hal itu, namun Saduq melaporkan dari Ibn Abi Ja’far bahwa ia mendengar Sadiq berkata: “Celakalah raja lalim Arab tentang suatu hal yang telah menarik semakin dekat.” Saduq juga melaporkan dari Sadir, dan ia dari Abu Abdullah bahwa ia berkata: “Wahai Sadir, tinggallah di rumahmu, jangan meninggalkannya dan tinggallah siang dan malam. Ketika menjangkau kamu bahwa Sufyan telah bangkit, datanglah kepada kami, sekalipun dengan berjalan kaki.” (4) Saduq: Ikamal al-Din, hal. 35. Laporan ini mengungkapkan bahwa Imam Sadiq sedang memberitahu pengikutnya tentang segera terjadi kemunculannya.

Muhammad bin Hassan Saffar bagaimanapun, melaporkan di dalam ‘Basair al-Darajat’ (hal. 189) dari Abu Basir bahwa ia suatu hari datang kepada Abu Abdullah dan berkata kepada dia:

“Semoga aku menjadi tebusanmu, aku ingin menyentuh dadamu.” (Abu Basir adalah seorang yang buta). Ia menjawab dia: “Lakukanlah”. Ia berkata: Aku menyentuh dadanya dan bahunya. Imam berkata, “Mengapa ini, wahai Abu Muhammad?” Abu Basir berkata: “Semoga aku menjadi tebusanmu…Aku mendengar bapakmu berkata bahwa bahu dari Qa’im sedikit pendek, luas dan lebar antara keduanya.” Imam Sadiq kemudian berkata: “Wahai Abu Muhammad, Bapakku mengenakan perisai Rasulullah (SAAW) dan perisai itu tidak cocok bagi dia…. Aku juga mengenakannya dan begini dan begitu…. Perisai itu akan dipakai oleh Qa’im, dan akan menjadi sebagaimana pada Rasulullah yang ketat dan pas….. Pemilik urusan ini bukanlah orang yang umurnya di atas empat puluh (40) tahun. (5)

Tusi melaporkan di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 263) suatu dialog yang dilakukan antara Imam Sadiq dan Abu Basir, yang bertanya kepada dia: “Apakah urusan ini suatu periode yang lama (sebelum terpenuhi) sehingga kita bersantai-santai dengan diri kita hingga urusan itu datang?” Imam berkata kepada dia: “Ya, tetapi kamu mengungkapkan rahasia dan menyebarkanya, maka Allah menambah (periode tersebut). ”Ia melaporkan tradisi yang lain, dengan lebih berkaitan langsung dan jelas, di mana Imam Sadiq berkata: “Urusan ini ada padaku, tetapi Allah menunda hal itu, dan Ia akan melakukan apa yang ia inginkan pada keturunanku setelah itu.” (6)

Hal ini memperlihatkan bahwa harapan terhadap kemahdian pada masa itu ada pada Imam Sadiq. Karena inilah, ketika ia meninggal dan keadaan tidak siap (untuk sebuah revolusi) bagi dia untuk mencapai harapan (ambisi) yang diinginkannya, seorang yang tidak bisa dipisahkan di hati Syi’ah, maka sebagian dari pengikutnya, beberapa dari mereka yang sangat dekat dengan Imam, menyangkal dan menolak berita kematiannya, bersikeras bahwa ia memasuki keghoiban, dan bahwa ia akan muncul dengan segera. Mereka berkata: Ia adalah Mahdi yang ditunggu. Pemimpin dari orang-orang seperti ini adalah pemimpin Syi’ah di Basrah: Abdullah bin Nawus.

14.1.1. HARAPAN KADHIM MENJADI MAHDI

Dengan intensitas tentang tekanan politis Abbasiah pada Imam Musa bin Ja’far Kadhim, harapan Syi’ah yang percaya pada Imamahnya, meningkat karena deklarasi dan revolusinya yang mendorong ke arah suatu pemberontakan melawan pemerintahan Abbasiah. Kebanyakan dari Syi’ah percaya secara serius bahwa Musa adalah Qa’im dan Mahdi. Mereka melaporkan banyak tradisi dari Baqir dan Sadiq dalam mengidentifikasi orangnya. Mereka mungkin telah menambahkan pada laporan itu berbagai hal dengan pandangan dari sisi mereka, berdasar pada hasrat, cinta dan penderitaan mereka.

Ketika Imam Kadhim meninggal setelah tiga puluh lima (35) tahun penantian dan harapan, massa Syi’ah Musawiah pada umumnya tidak percaya berita kematiannya. Mereka bersikeras percaya akan keghoibannya, dan dirinya hidup dan memastikan bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu, yang akan muncul dan mengisi bumi dengan hukum dan keadilan sebagaimana ia telah diisi dengan ketidakadilan dan kekejaman.

14.1.2. RIDA MENYANGKAL KEMUNGKINAN DIRINYA MAHDI

Harapan itu (Mahdi) kembali kepada Syi’ah setelah sekitar dua puluh (20) tahun. Hal itu terjadi ketika Khalifah Abbasiah Ma’mun memanggil Imam Ali bin Musa Rida, pada tahun 200 AH. ke Khurasan, dan ia menetapkan Imam sebagai Putra Mahkota pada tahun 201 AH. Hal ini menghidupkan kembali harapan dalam pemikiran Syi’ah dan mendorong mereka kepada kepercayaan pada kemungkinan Rida menjadi Mahdi yang ditunggu.

Kulayni melaporkan di dalam ‘Al-Kafi’ bahwa Ayub bin Nuh pergi kepada Imam Rida dan berkata kepada dia. “Aku berharap kamu akan menjadi pemilik urusan ini, dan Allah membawanya kepada kamu tanpa menggunakan pedang. Kamu telah menerima sumpah kesetiaan, dan uang telah dicetak dengan namamu (pada uang itu).” Imam Rida bagaimanapun menghancurkan harapannya dan menolak disebut Mahdi. (7) Al-Kafi. Vol. 1 hal. 341; Saduq: Ikmal al-Din, hal. 370.

Ketika penyair Da’bal al-Khuza’i datang kepada Imam Rida dan mengutip sebuah syair yang terkenal: “Sekolah dari sajak tidak dikutip, dan rumah turunnya wahyu tanpa dasar pemikiran”, ia menunjuk Mahdi dengan suatu cara yang rancu. Ia berkata: “Imam telah muncul. Adalah penting bagi dia untuk muncul, berdasar pada nama Allah dan berkatNya. Ia membedakan bagi kami antara yang benar dan salah. Ia menghadiahi kebaikan dan bencana.” Ia tidak menyebutkan Mahdi dengan nama.

Pengidentifikasian Imam Mahdi dengan Imam yang ke dua belas dari Ahl al-Bayt, sebagaimana yang dikenal oleh Syi’ah 12 Imam hari ini, terjadi lama setelah kematian Imam Hassan Askari, dan klaim bahwa ia mempunyai seorang putra rahasia, terjadi kira-kira pada permulaan abad keempat Hijrah. Ini terjadi setelah pengembangan teori Imamah ‘ilahiah’ dan perubahan bentuknya dalam jumlah tanpa batas untuk membatasi mereka hanya dua belas (12), sedemikian sehingga sekte tersebut menjadi (sekte) Imam dua belas.

Syekh Saduq telah menyebutkan di dalam ‘Ikmal al-Din’, bahwa ia menulis pada pertengahan abad ke-4 Hijrah, sejumlah besar tradisi dari Nabi (SAAW) yang mulia, dan dari Imam Ahl al-Bayt (AS). Beberapa di antara hadist tersenut menunjuk Qa’im atau Mahdi tanpa menetapkan namanya dan nama dari bapaknya. Beberapa di antara hadist itu menekankan dan menentukan posisinya, sebagai (Imam) yang ke dua belas, dan bahwa ia adalah putra Hassan Askari. Sebagaimana yang datang laporan yang lain yang berkata bahwa: Imam Rida bertanya penyair ‘Da’bal Al-Khuza’I’, setelah ia mengutip syairnya di mana ia menunjuk Mahdi secara rancu. Imam berkata kepada dia: “Kamu tahu siapa yang akan  menjadi Imam tersebut? Dan kapan ia akan muncul?” Ia menjawab: “Tidak, Tuanku, kecuali bahwa aku mendengar kemunculan seorang Imam di antara kamu (Ahl al-Bayt) yang akan memurnikan dunia dari kejahatan dan kecurangan, dan mengisinya dengan keadilan karena ia diisi dengan ketidakadilan.” Imam berkata kepada dia: “Wahai Da’bal, Imam setelah aku adalah Muhammad, setelah Muhammad putranya Ali, setelah Ali putranya Hassan, dan setelah Hassan putranya, Bukti, Qa’im yang ditunggu” dalam keghoibannya yang ketaatan kepadanya adalah wajib pada saat kemunculannya.” (8) Saduq: Ikmal al-Din hal. 373.

Laporan ini adalah tradisi yang lemah baik dalam rantai transmisinya maupun kandungannya, karena tradisi tersebut tidak bisa bertahan terhadap penyelidikan akademis. Kita akan mendiskusikannya pada bab tentang kritik terhadap bukti (khusus) tradisional, dan tidak sahih-nya; akan dibuktikan kemudian.

14.2  FENOMENA KEMAHDIAN DALAM SEJARAH ISLAM

Beberapa dan seringnya klaim menjadi Mahdi, berkembang hingga sepuluh klaim seperti itu disana-sini, yang lebih lanjut memastikan kerancuan berkaitan dengan identitas Mahdi di antara anggota keluarga Nabi. Hal ini bahkan mendorong masing-masing sekte atau kelompok mempunyai lebih dari satu Mahdi. Fenomena ini menunjukkan bahwa istilah ‘Mahdi’ sinonim dengan revolusi, kebebasan dan keadilan dan hal itu muncul lagi melawan lingkungan yang jahat memperlihatkan bahwa dunia Islam sedang merosot, hari demi hari.

Kebanyakan dari cerita kemahdian yang pada generasi awal Islam dikaitkan dengan pergerakan politis yang revolusioner menghadapi ketidakadilan dan penyiksaan dan berkumpul di sekitar seorang pemimpin, yang kebanyakan salah satu dari Imam Ahl al-Bayt (AS). Ketika gerakan seperti ini gagal dan Imam mati sebelum ia muncul (sebagai pemimpin politis), atau dibunuh dalam konfrontasi, atau bersembunyi di dalam keadaan untuk mengaburkan, para pengikutnya biasa berbeda. Di antara mereka adalah mereka yang menyerah dan menerima kenyataan, dan mulai mencari Imam baru yang lain dan kesempatan baru untuk revolusi. Beberapa dari mereka tidak menyerah pada kenyataan dan tidak menerima kekalahan, dan cepat percaya pada kabar angin, bahwa Imam yang memberontak telah melarikan diri dan telah menyembunyikan dirinya dan telah memasuki keghoiban. Biasanya orang-orang awam yang menetapkan harapan mereka pada seseorang, melebih-lebihkan atributnya. Sehingga hal itu menjadi sangat sulit bagi mereka untuk mengubah pemikiran mereka, karena itu akan berarti sebuah kegagalan dan kehancuran total.

14.2.1  KEMAHDIAN IMAM ALI

Para pendukung Imam Ali bin Abi Talib (AS) yang melakukan revolusi melawan pemerintahan Umayyah, dan berperang pada Pertempuran Unta dan berperang melawan Muawiyah pada Pertempuran Siffin, dan juga menghadapi Kharijiah di Nahrawan, menggantungkan harapan mereka pada pemerintahan Imam, selama yang mereka akan menikmati keadilan dan persamaan hak. Harapan mereka pada Imam sangat tinggi. Itulah mengapa beberapa di antara mereka dikejutkan oleh berita pembantaiannya. Mereka tidak bisa percaya berita kematian Imam (yang terlalu cepat).

Sejarawan Syi’ah seperti Nubakhti, Ash’ari al-Qummi, Al-Kashi berkata bahwa: ‘Sekelompok Syi’ah tidak menerima kematian Imam dan mereka mengklaim bahwa: ‘Ali tidak dibunuh ataupun ia mati, dan bahwa ia tidak pernah akan dibunuh, maupun akan mati, sehingga ia memburu Arab dengan tongkatnya dan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan hak, sebagaimana bumi telah diisi dengan ketidakadilan dan kekejaman.’ (9) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah p. 22; Saad bin Abdullah al-Ashari al-Qummi: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 20; Al-Kashi: Marifah al-Naqilin an al-A’imah al-Sadiqin hal.101.

Kita dapat menafsirkan pernyataan tentang kemahdian Imam Ali dan Keghoibannya, disebabkan oleh goncangan terhadap kematian tersebut, kematian alami yang mendadak, dan juga karena adanya harapan yang sangat tinggi …Hal ini karena orang-orang itu,  hidup sangat jauh dari Kufah tidak mampu memikul berita tentang kesyahidan Imam, setelah harapan mereka pada dia untuk menegakkan keadilan yang universal di bumi. Ini mendorong penerimaan terhadap gagasan yang bertentangan dengan kenyataan.

14.2.2  KEMAHDIAN IBN HANAFIYYAH

Setelah pembantaian Karbala, Syi’ah mengamuk berkumpul dengan kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyyah, saudara Imam Hussain, untuk kepentingan pembalasan dendam bagi syuhada Karbala… Ketika Muhammad bin Hanafiyyah meninggal dalam keadaan yang tidak jelas pada tahun 81 AH, sekelompok para pendukungnya – Kissaniah berkata bahwa: ‘Ia tidak mati dan ia sedang tinggal di pegunungan Ridwi antara Makkah dan Madinah. Mereka percaya bahwa ia adalah Imam, Mahdi yang ditunggu yang diramalkan oleh Nabi (SAAW), yang akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan. (10). Nubakhti: Firaq al- Shiah hal. 34; al-Ashari: Al-Maqalat hal. 27.

Sayyid Murtada Alam al-Huda menafsirkan klaim Kissaniah tentang kemahdian Ibn Hanafiyyah karena kebingungan, yang menjadikan mereka menempuh jalan kepada hal tersebut. (11) Al-Shafi, hal. 184.

Barangkali kebingungan dan kekacauan adalah nasib mereka, karena mereka sudah menggantungkan harapan mereka kepada Ibn Hanafiyyah untuk merebut dengan kekuatan dari tangan Umayyah. Mereka kecewa ketika tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Para pengikut Imam dari Syi’ah Kissaniah terpaksa menciptakan suatu doktrin tentang kemahdiannya, dan pengabadian hidupnya dan keghoibannya dalam usaha mereka untuk memelihara harapan yang menyala di hati mereka. Lebih dari itu, Syi’ah pada zaman itu menyadari adanya pribadi tertentu yang telah ditentukan sebelumnya sebagai ‘Mahdi yang ditunggu’.

14.2.3  KEMAHDIAN ABU HASHIM

Dukungan kepercayaan pada kemahdian Ibn Hanafiyyah merosot dengan kemunculan Abu Hashim Abdullah bin Muhammad bin Hannafiyyah, sebagai pemimpin baru bagi Syi’ah menjelang mendekati abad pertama Hijrah. Harapan yang besar digantungkan kepada dia untuk mencapai apa yang bapaknya tidak mampu mencapai… Krisis terulang ketika Abu Hashim meninggal tanpa bangkit (sebagai Mahdi)… Ini mendorong kepercayaan beberapa Syi’ah bahwa Imam bersembunyi dan ghoib dan mengatakan bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu, dan ia masih hidup dan belum meninggal. (12) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 34; al-Ashari: Al-Maqalat.

Bagi mereka yang mengakui kematian Abu Hashim, mereka memelihara harapan mereka dalam hati mereka, dengan menantikan kemunculan salah satu dari anak-cucu Muhammad bin Hanafiyyah pada masa yang akan datang. Mereka tidak menetapkan orang tertentu siapapun. (13)

14.2.4  KEMAHDIAN AL-TAYYAR

Syi’ah yang membentuk kelompok oposisi yang utama kepada pemerintahan Umayyah, dengan seketika berkumpul dengan seorang pemimpin baru dari Ahl al-Bayt, yaitu Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Jafar Al-Tayyar, yang berhasil mendirikan suatu pemerintahan Syi’ah di Isfahan pada ujung pemerintahan Umayyah. Ia, bagaimanapun kemudian dikalahkan, dan dibunuh dalam keadaan yang tidak jelas. Sebagian dari Syi’ah tidak bisa menerima berita tentang robohnya pemerintahan Syi’ah tersebut. Mereka mengklaim Al-Tayyar itu hidup dan belum meninggal, dan bahwa ia sedang tinggal di pegunungan Isfahan, bahwa ia tidak akan pernah mati hingga ia menyerahkan kendali urusan kepada seorang laki-laki dari Banu Hashim, dari anak-anak Ali dan Fatimah. (14) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 35; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 35.

14.2.5  MEMBATASI KEMAHDIAN KEPADA KELUARGA FATIMIAH

Teori kemahdian Syi’ah tidaklah terbatas pada keluarga Fatimiah pada awalnya, sebagaimana Kissaniah mewakili sebuah langkah pengembangan pembatasan paham Shi’ah kepada keluarga Ali (Alawiah), melihat kemungkinan pada Muhammad bin Hanafiyyah dan anak-anaknya: atau mereka membatasi Imamah kepada mereka, tetapi memperluas kepada yang lain di luar kelompok mereka, seperti Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far al-Tayyar. Hal itu kemudian berkembang dan menjadi terbatas hanya pada keluarga Fatimiah, pada anak-anak Hassan dan Hussain. Pada zaman itu tidaklah terbatas pada seorangpun dari kedua keluarga tersebut. Karena inilah sekelompok Syi’ah percaya pada kemahdian Zayd bin Ali. Dan kelompok yang lain percaya pada kemahdian Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah).

Karena Zayd dibunuh tidak lama setelah itu, para pengikutnya pergi kepada Dhu al-Nafs al-Zakiyyah, Abdullah bin Hassan, bapaknya telah menamai dia Muhammad dan meramalkan pada saat kelahirannya bahwa ia akan menjadi Mahdi yang dijanjikan, yang dahulu diramalkan oleh Nabi (SAAW) dan telah mengatakan kepada dia (Abdullah bin Hasan) tentang dia (Muhammad bin Abdullah), “Namanya seperti namaku, dan nama dari bapaknya seperti nama dari bapakku”, sebagaimana yang diketahui secara populer pada periode zaman itu.

14.2.6  KEMAHDIAN DHU AL-NAFS AL-ZAKIYYAH

Dhu al-Nafs Al-Zakiyyah mengharapkan untuk memberontak melawan Pemerintahan Umayyah, ketika anak-anak Hashim membayar kesetiaan mereka kepadanya di Abwa. Di antara mereka adalah Ibrahim al-Imam, Saffah dan Mansur. Tetapi tidak mengambil waktu lama pemerintahan Abbasiah didirikan, maka mereka yang membayar kesetiaan kepadanya meninggalkan dia, dan kelompok Syi’ah yang lain mengerumuni dia. Ia meninggalkan Madinah pada tahun 145 AH dan mengambil alih Makkah dan Yemen, tetapi ia dibunuh beberapa bulan setelah itu. Karena inilah sebagian para pengikutnya terkejut dan tidak bisa menerima berita kekalahan tersebut, dan tidak percaya pada pembunuhan Mahdi tersebut, yang kemunculannya sedang mereka tunggu sejak waktu yang sangat lama. Mereka berkata bahwa: ‘Ia hidup dan tidak mati, maupun ia dibunuh, tetapi  sedang tinggal di Gunung ’Ilmiyyah’ – antara Makkah dan Najd – hingga saatnya ia akan muncul kembali. Mereka berpegang kepada hadith Nabi (SAAW), yang mengatakan: “Nama Qa’im (Mahdi) seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku” (15) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 62; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 76.

Karena hadith tersebut tidak eksplisit/ tegas, spesifik dan dikenal dengan baik, yang menjelaskan identitas Mahdi, para pengikut Dhu al-Nafs al-Zakiyyah menjelaskan hadith kemahdian sebagai merujuk pada dia, dan menafsirkan hadiths tersebut berkaitan dengan (Mahdi) yang juga merujuk pada dia. Mereka mungkin bahkan telah membuat beberapa laporan dan mengatributkannya kepada Nabi (SAAW), dalam rangka menguatkan teori mereka dan untuk mendukung Pemimpin yang ditunggu oleh mereka.

14.2.7  KEMAHDIAN BAQIR

Beberapa laporan menyatakan bahwa: ‘Sebagian Syi’ah yang percaya pada kemahdian Imam Muhammad bin Ali Baqir (AS) bergantung pada sebuah laporan yang berkata bahwa: ‘Nabi (SAAW) berkata kepada Jabir bin Abdullah al-Ansari: “Kamu akan berjumpa dengan dia, sampaikanlah ‘Salam’ku kepadanya.” (16) Al-Isfirayini: Al-Farq bain al-Firaq hal. 60.

Kulayni berkata di dalam ‘Al-Kafi’: ‘Imam Baqir biasa membatasi kepada pengikutnya bahwa kebangkitan (Mahdi) dan kemunculannya segera terjadi, dan ia menasehati mereka untuk memeliharanya sebagai sebuah rahasia. Beberapa di antara mereka meninggalkan mereka semua yang sedang menantikan saatnya meniup (sirine)’. (17) Kulayni: Raudah Al-Kafi hal. 245.

14.2.8  KEMAHDIAN SADIQ

Setelah kematian Imam Baqir dan kekalahan Muhammad bin Abdullah Dhu al-Nafs al-Zakiyyah, dan kemenangan Abbasiah, dan ketenaran Imam Jafar bin Muhammad Sadiq (AS), laporan menjadi tersebar luas tentang kemahdiannya. (18) Kulayni: Al-Kafi: Al-Raudah hal. 290.

Nubakhti melaporkan bahwa: ‘Beberapa Syi’ah sudah melaporkan dari Imam Sadiq bahwa ia berkata: “Jika kamu melihat kepalaku menggelinding kepadamu dari gunung, kamu mestinya tidak mempercayai hal itu, karena aku adalah ‘Sahib (Mahdi) mu.” Dan ia juga berkata: “Jika seseorang menginformasikan kamu bahwa ia merawat aku, memandikan badanku (setelah kematian) dan mengkafani aku, jangan mempercayai dia, aku adalah sahabatmu (Sahib) dan sahabat pedang.” (19) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 67

Karenanya sebagian para pendukung Imam Sadiq menolak mengakui bahwa ia meninggal. Mereka juga berkata bahwa: “Ia adalah Mahdi yang ditunggu dan ia hidup dan tidak mati.” Kelompok ini dikenal sebagai ‘Tawussiah’ – yang dihubungkan dengan Ajlan bin Tawus. (20) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 67; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 79.

Di antara kelompok ini adalah Aban bin Uthman Al-Ahmar yang dianggap oleh al-Kashi sebagai salah satu dari menof konsensus (Ijma’), yaitu salah satu dari orang terdekat dengan Imam Sadiq. (21) Al-Kashi: Ikhtiyar Ma’rifah al-Rijal.

14.2.9  KEMAHDIAN ISMA’IL

Dari keterangan di atas, kelihatan bahwa berbagai teori kemahdian lahir pada waktu dan keadaan yang berbeda. Teori-teori tersebut lebih berupa harapan dari pada bergantung pada hadiths yang jelas dan sahih. Kepercayaan pada keghoiban berkembang ketika seorang Imam mati sebelum kebangkitannya (sebagai Mahdi). Syi’ah belum pernah bermufakat pada kemahdian Imam tertentu sebelumnya, dan hal itu telah terjadi sejak awal.

Pada saat ketika beberapa di antara mereka percaya pada kemahdian Imam Sadiq, beberapa di antara mereka menetapkan harapan mereka pada kemahdian dari putranya Isma’il. Ketika Isma’il meninggal pada masa hidup bapaknya – Imam Sadiq, para pendukungnya menolak kematiannya, dan menciptakan doktrin keghoibannya. Mereka menafsirkan penguburan dan pemakaman Isma’il oleh Imam Sadiq yang dilakukan secara terbuka, sebagai drama yang diarahkan pada penyembunyian fakta bahwa Isma’il telah melarikan diri dan menyembunyikan dirinya, sebagai persiapan untuk kemunculan kembalinya pada masa yang akan datang! (22) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 68; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 80.

Telah diketahui dengan baik bahwa setelah kematian Imam Sadiq, Syi’ah terpecah menjadi dalam enam (6) sekte yang berbeda. Isma’iliah percaya pada hidupnya Isma’il, demikian juga Imamahnya, kemahdian dan keghoibannya. Beberapa di antara mereka setelah keputus-asaan mereka terhadap kemahdiannya berbalik menerima kemahdian dari  putranya- Muhammad. Mereka kemudian memidahkan kemahdian kepada anak-anak Isma’il hingga kemunculan yang terakhir dari mereka, mendekati abad ketiga ketika ia mendirikan pemerintahan Fatimiah di Afrika Utara.

14.2.10  KEMAHDIAN DIBAJ

Muhammad bin Jafar Sadiq (Al-Dibaj) yang muncul di Makkah pada tahun 200 AH, diklaim bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu. Ia mengumumkan dirinya sebagai Khalifah muslimin dan mengambil sumpah kesetiaan dari mereka, dan disebut Amr al-mukminin (pemimpin orang beriman). (23) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 68; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 80.

Oleh karena itu, kita dapat berkata bahwa teori kemahdian berarti: kebangkitan, revolusi,… dan  tidak pernah spesifik pada pribadi tertentu. Teori keghoiban tersebut biasa berkembang ketika setiap Imam yang ditunggu gagal atau mati tanpa mencapai keberhasilan tujuannya.

14.2.11  KEMAHDIAN MUHAMMAD BIN ABDULLAH AL-AFTAH

Satu-satunya kasus pengecualian, yang bertentangan/ berbeda dengan kasus di atas – pola yang disebutkan pada zaman itu, adalah teori tentang kemahdian Muhammad bin Abdullah bin Jafar Sadiq. Orang ini tidak pernah dilahirkan sama sekali dan tidak ada. Sebagian dari Syi’ah Fathiah membuat-buat cerita tentang keberadaannya secara rahasia, setelah kematian bapaknya Abdullah Aftah,  yang dipercaya oleh Syi’ah sebagai Imam setelah bapaknya- Sadiq. Syi’ahnya dikejutkan ketika Aftah meninggal tanpa suatu isu yang menggantikan dia dalam Imamah. Mereka percaya akan perlunya keberlanjutan Imamah pada anak-cucu (Imam), yaitu menerima warisan secara vertikal. Karena inilah mereka tidak bisa menggeser kepada kepercayaan Imamah dari saudara Abdullah, Musa bin Jafar. Oleh karena itu mereka menciptakan gagasan keberadaan seorang putra dari dia secara rahasia: Mereka berkata bahwa: “Namanya sesuai dengan hadith yang bersifat ramalan yang terkenal: Namanya adalah namaku, nama bapaknya adalah nama bapakku.” (24) Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 88.

Tidak bisa dikesampingkan bahwa sebagian orang yang berkepentingan dan orang munafik di antara pengikut Imam mungkin telah membuat cerita yang menyesatkan ini tentang dongeng Mahdi yang ditunggu -Muhammad bin Abdullah bin Sadiq, supaya memperoleh manfaat dari hal itu secara keuangan, dan klaim menjadi wakilnya dan menerima uang atas nama Imam. Cerita tentang keberadaan Mahdi yang menyesatkan itu tersebar luas di Yemen. Dan bahwa ia akan muncul, dan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan hak setelah diisi dengan ketidakadilan dan kekejaman.

14.2.12  KEMAHDIAN KADHIM

Dengan revolusi Abbasiah dan penyimpangannya dari  tujuannya untuk reformasi dan penyebaran korupsi dalam aturan mereka, secara alami lawan mereka berkumpul di sekitar pribadi besar dari Ahl al-Bayt, yaitu Imam Musa bin Ja’far Kadhim (AS)  yang menjadi simbol kealiman, pengetahuan dan ketaatan. Harapan kebangkitan dan kemunculannya (sebagai Mahdi) tumbuh. Dengan cara ini terdapat banyak laporan tentang kemahdian Imam Kadhim, dan kepercayaan bahwa ia adalah Qa’im dari keluarga Muhammad (SAAW). Sebagian dari Syi’ah terus melaporkan beberapa kisah dari Sadiq bahwa:

  • “Adalah tidak bisa dielakkan bahwa putraku adalah Qa’im (Mahdi) ummah ini, dan Pemilik pedang”.
  • “Musa adalah Qa’im, dan ini tidak bisa dielakkan dari Allah”.
  • “Sekalipun kepalanya akan menggelinding kepada kamu dari pegunungan, kamu mestinya tidak percaya, karena ia adalah Qa’im”
  • “Nama Qa’im adalah besi (pisau) dari tukang cukur.”
  • “Seolah-olah aku sedang melihat panji yang hitam dengan suatu warna hijau pada bagian bawahnya di atas kepala orang yang sedang duduk ini”

dan masih ada laporan seperti itu yang menunjukkan tidak adanya konsensus!

Ketika Rashid menahan Imam Kadhim, banyak Syi’ah yang menganggap sebagai keghoiban kecil yang pertama. Ketika Rashid membunuh Imam dan melemparkan tubuhnya yang suci di jembatan di Baghdad, mereka menolak menerima kenyataan itu atau mempercayainya, dan mereka berkata, ‘Itu sebuah drama dari Abbasiah’ dan mereka juga berkata bahwa: ‘Imam Kadhim telah memasuki keghoibannya yang kedua, dan ia melarikan diri dari penjara dan ia tetap hidup dan tidak mati dan tidak akan mati hingga ia mengendalikan dunia timur dan barat, dan mengisi keseluruhannya dengan keadilan karena ia diisi dengan ketidakadilan, dan ia adalah Qa’im dan Mahdi.” (25) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 80; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 89.

Kebanyakan anak-anak Imam mengklaim hal yang sama, demikian juga kebanyakan dari sahabat dekatnya seperti Al-Mufaddal bin Umar, Dawud al-Ruqa, Daris al-Kinani, Abu Basir, A’yun bin Abdul Rahman bin A’yun, Hadid al-Sabati dan Hassan bin Qiyyama al-Sirafi. Ali bin Abi Hamiza menulis sebuah buku tentang keghoiban tersebut. Dengan cara yang sama Ali bin Umar al-A’raj menulis buku yang lain tentang hal itu.

Kelompok Syi’ah di atas dikenal sebagai Waqifiah yaitu mereka yang menerima Imamah Imam Kadhim, dan menolak mempercayai Ali bin Musa Rida.

Dawud al-Ruqa meragukan untuk mengakui Imamah Rida, berdasar pada laporan yang mereka setujui, yang membatasi kemahdian pada Kadhim dan berkata bahwa: “Yang ketujuh dari kami, adalah Qa’im kami.” Imam Rida berkata kepada dia, “Harapan kebangkitan (kemunculan) dari Kadhim tergantung pada kehendak Allah dan tidak terelakkan.” (26) Al-Nuri al-Tabrisi Khatimah Mustadrak Wasait al-Shiah vol. 3  hal. 595.

Waqifiah melanjutkan kepercayaan mereka pada kemahdian dan keghoiban Imam Kadhim dalam jangka waktu yang lama. Tetapi jumlah mereka berkurang seiring dengan perjalanan waktu, hingga kematian teori tersebut dan punahnya mereka yang mempercayainya, terutama ketika Imam Rida menegaskan kematian bapaknya dan berkata kepada mereka: “Bukti Allah pada ciptaanNya hanyalah melalui Imam yang masih hidup, dan dikenal dengan baik. Kemuliaan bagi Allah. Rasulullah meninggal dan Musa bin Ja’far tidak mati? Ya, demi Allah ia telah meninggal, dan kekayaannya telah dibagi-bagikan dan buda-budak perempuannya telah dinikahkan.” Ia mencurigai mereka yang mengkliam bahwa ia tidak mati, sebagai pembohong dan berkata: “Mereka kafir pada Allah yang Maha Agung yang telah menurunkan wahyu kepada Muhammad (SAAW). Jika Allah yang Maha Agung memperlama kehidupan seseorang karena kebutuhan dari ciptaan kepadanya, Ia pasti akan memperlama kehidupan Rasulullah (AS).” (27) Al-Kashi: Ma’rifat al-Rijal hal. 379.

14.2.13  KEMAHDIAN MUHAMMAD BIN QASIM

Pada permulaan abad ke-3 Hijrah, pada tahun 219 AH dan sepanjang masa Kekhalifahan Mu’tasim, sebuah pemberontakan Alawiah mengambil tempat di ‘Taliqan’ di bawah kepemimpinan Muhammad bin Qasim. Mu’tasim bagaimanapun mengalahkan dan menangkap dia dan membawa dia ke Baghdad, menahan dia di rumahnya. Ia bisa melarikan diri dan lenyap. Orang-orang berbeda tentang urusannya. Beberapa di antara mereka berkata bahwa: ‘Ia telah meninggal atau melarikan diri’. Sebagian dari Syi’ah berkata bahwa: ‘Ia hidup dan ia akan muncul kembali dan ia adalah Mahdi Ummah ini’. (28) Al-Isfahani: Maqatil al-Talibiyyin hal. 577; Al-Isfirayini: Al-Farq bayn al-Firaq hal. 31.

14.2.14  KEMAHDIAN YAHYA BIN UMAR

Imam Alawiah yang lain, yang bernama, Yahya bin Umar berbaris di luar Kufah pada hari Musta’in. Ia mengarahkan Hussain bin Isma’il kepadanya, dan ia membunuhnya. Tetapi beberapa pengikutnya tidak menerima berita bahwa ia dikalahkan, dan mengatakan bahwa: ‘Ia tidak dibunuh, ia hanya menyembunyikan diri, dan memasuki keghoiban, dan ia adalah Mahdi dan Qa’im, yang akan muncul kembali pada waktu yang lain’. (29) Al-Kamil dari Ibn Al-Athir vol. 7 hal. 43; Muruj al-Dhahab dari Mas’udi vol. 4 hal.147.

14.2.15  KEMAHDIAN MUHAMMAD BIN ALI HADI DAN ASKARI

Pada pertengahan abad ketiga Hijrah Syi’ah Imamiah berbeda di antara diri mereka tentang identitas Imam yang ditunggu – Mahdi. Sebagian dari mereka berkata bahwa: Ia adalah Muhammad bin Ali Hadi,  yang meninggal secara tiba-tiba di Dajil. Mereka percaya pada keghoibannya, seperti halnya Isma’il bin Ja’far. Mereka tidak percaya kematiannya. Sebagian yang lain dari mereka mengklaim bahwa Imam Hassan Askari adalah Mahdi. Sekte ketiga dari mereka percaya pada keberadaan dan kemahdian seorang putra rahasia dari dia (Askari), yakni, Imam Muhammad bin Hassan Askari. Namun yang lain berkata bahwa: ‘Ia (Mahdi) tidak ditentukan (orangnya), dan ia adalah salah seorang dari anggota Ahl al-Bayt, tidak melalui penunjukkan, dan ia akan dilahirkan dan akan muncul pada masa yang akan datang.” (30). Lihat Nubakhti: Firaq al-Shi’ah hal. 93, 96, 98 dan 105; Al-Ashari al-Qummi: Al-Maqalat wa al-Firaq hal.101, 106, 107, 108.

14.2.16  KEMAHDIAN DARI SEORANG QA’IM YANG TIDAK DIKENAL

Pada akhirnya, dua sejarawan Syi’ah yang sezaman dengan akhir hayat Imam Askari menyebutkan bahwa: ‘Sebuah sekte dari para pengikut Imam berkata: “Hassan bin Ali telah meninggal, suatu kematian yang telah pasti, dan Imamah telah berhenti hingga saatnya ketika Allah akan membangkitkan seorang Qa’im dari keluarga Muhammad (SAAW) yang sudah meninggal. Jika Ia berkehendak, Ia akan membangkitkan orang lain selain dia, tetapi dari nenek moyangnya. Hal itu karena kebangkitan Qa’im dan kemunculan Mahdi tidak bisa dielakkan. Kemunculan Mahdi adalah hak Allah.

Laporan tersebut datang atas dasar hal itu, demikian juga kisah yang sahih dan sebuah konsensus Ummah. Tidaklah mungkin untuk membuat tidak berlakunya hal itu. Ini adalah karena fakta bahwa, kematian Hassan bin Ali telah pasti, sebagaimana Imam tidak meninggalkan suatu isu juga telah pasti. Sehingga Imamah telah berhenti, karena ia tidak mempunyai isu. Karena Iamamh tidak mungkin kecuali pada anak-anak (dari Imam). Imamah tidak bisa pergi kepada paman atau saudara sepupu atau saudara kandung setelah Hassan dan Hussain. Dengan begitu Imamah telah berhenti hingga kebangkitan Qa’im dari antara mereka. Jika ia muncul dan bangkit (sebagai Mahdi) (urusannya) akan berlanjut hingga hari penghakiman. (31) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 105; Al-Ashari: Al-Maqalat hal. 108.

Semua klaim pergerakan kemahdian yang berlawanan ini menyatakan dan memperlihatkan kekacaubalauan dan ketidakjelasan konsep Imam Mahdi, dan kemungkinan dirinya seorang Imam dari Ahl al-Bayt. Dialah orang yang akan muncul dengan pedang, dan menegakkan negara dan peraturan kebenaran. Semua sekte Syi’ah percaya bahwa ia adalah dari keluarga Hashimiah, atau rumah dari Alawiah atau Fatimiah atau Hassaniah atau Hussainiah atau rumah Musawiah dan bahwa ia adalah orang ini atau itu. Jika identitas Mahdi telah ditentukan sebelumnya (oleh Nabi), sejak masa Rasulullah (SAAW) atau masa sebelas Imam sebelumnya, Muslimin semestinya tidak akan berbeda (pendapat), juga Syi’ah, juga Syi’ah Imamiah, juga para pendukung Imam Hassan Askari, dalam menentukan identitas Mahdi. Beberapa di antara mereka semestinya tidak akan percaya bahwa ‘Imam Hassan Askari’ sendiri sebagai Mahdi.

Kami menyimpulkan dari semua ini bahwa: Identitas Mahdi adalah samar-samar dan tidak spesifik atau ditentukan pada masa Ahl al-Bayt. Kepercayaan bahwa Mahdi adalah putra Hassan Askari berkembang setelah pengandaian keberadaannya secara rahasia, dan usaha untuk menjelaskan tidakadanya dari penglihatan, dan bukan pengumuman dari kelahirannya oleh bapaknya, berdasarkan pada anggapan keghoiban sebagai atribut (yang penting) bagi Mahdi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: