BAB XIII. MEMPERTANYAKAN KEGHOIBAN MAHDI

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB XIII

KEGHOIBAN

13.1. MENGAPA GHOIB ?

Setelah memperkenalkan semua bukti secara rasional, historis dan tradisional tentang keberadaan Muhammad bin Hassan Askari, dan kelahirannya pada pertengahan abad ketiga (3) Hijrah, maka keghoibannya dari penglihatan dan tidak munculnya; dan diambilnya kepemimpinan Islam (karena hanya Mahdi yang berhak memimpin Ummah selama ghoib); dan asumsi posisi Imamah, merupakan tantangan yang terbesar bagi mereka yang percaya pada keberadaannya. Dan karena inilah, mereka harus lebih dulu menjelaskan kebijaksanaan di balik keghoibannya. Mereka menyajikan sejumlah teori dalam menginterpretasikan peristiwa yang membingungkan dari keghoiban tersebut, yaitu sebagai berikut:

13.1.1. Teori Kebijaksanaan Yang Tidak Diketahui.

Syekh Saduq tunduk pada teori ini di dalam ‘Ikmal al-Din’, dan melihat perlunya menemukan kebijaksanaan pada keghoiban Imam, berdasarkan tanda dari kebijaksanaan Allah pada bukti (Imam) sebelumnya. Ia berkata bahwa: ‘Kepercayaan kami pada ‘ismah’ dari Imam Mahdi akan mengharuskan penerimaan kami terhadap adanya kebijaksanaan di balik keghoibannya.’ (1) Ikmal al-Din hal. 21 dan 85.

Sayyid Murtada ‘Alam al-Huda’ telah menolak perlunya mengetahui alasan yang spesifik dari keghoiban tersebut, dan pengetahuan yang umum tentang hal itu adalah cukup, sebagai tambahan terhadap kepercayaan pada  ‘ismah’ dari Imam. Ia menganggap pengetahuan tentang itu serupa dengan pengetahuan tentang ayat ‘Mutashabihah’ (yang tidak jelas) di dalam Al-Quran Yang Agung. (2) Tusi: ‘Talkhis al-Shafi’ dari Murtada, vol. 4 hal. 211.

Demikian juga, Syekh Tusi menyatakan perlunya memperkirakan alasan dari keghoiban Pemilik Al-Zaman dan penyembunyiannya, dan kepercayaan pada keberadaan dari kebijaksanaan yang sesuai dengan masalah itu, sekalipun kami tidak mengetahuinya secara lebih terperinci. Ini hanyalah sama halnya dengan ketika kita memperkirakan adanya kebijaksanaan dan pertimbangan bagi ciptaan Allah seperti binatang dan mahluk yang berbahaya, bentuk yang buruk dan perasaan sakit pada anak-anak, sekalipun kita tidak mengetahui kebijaksanaan di dalamnya secara lebih terperinci. Ia berkata: “Jika kita mengenal Imamahnya melalui bukti, dan mengenal ‘ismah’nya melalui bukti yang lain dan mengetahui bahwa ia telah memasuki keghoiban, kita mengambil keghoibannya dengan cara yang kompatibel dengan ‘ismah’nya. Tidak ada perbedaan antara kedua kasus tersebut? (3) Tusi: Al-Ghaybah hal. 57-58

Syekh Muhammad Hussain Kashif Ghita berkata di dalam ‘Asl al-Shiah wa Usuluha’ hal. 71, “Keberatan terhadap adanya kebijaksanaan (di balik keghoiban) adalah tidak valid, jika bukti  tersebut ditetapkan pada perlunya keberadaan Imam pada setiap zaman. Dunia tidak pernah tanpa bukti (Allah). Keberadaannya adalah kebajikan dan apa yang ia lakukan adalah kebajikan yang lain.” Ia menganggap posisi tersebut lebih sangat teliti dan banyak makna dibanding hal tersebut. Ia juga mengakui ketidak-tahuannya tentang kebijaksanaan, dan tidak datangnya apa yang sebenarnya baik (Maslahah). (4)

13.1.2. Teori Penyaringan.

Terdapat teori lain dalam menginterpretasikan ‘keghoiban Imam’, yaitu teori pembedaan dan membedakan Syi’ah dan menyaring mereka, agar mengetahui kebenaran dari iman mereka kepada Mahdi dan ketabahan mereka terhadap ujian/ cobaan.

Saduq dan Tusi telah menyampaikan sejumlah laporan mengenai hal ini, dari kedua Imam Baqir dan Sadiq (AS). Sebagian dari laporan ini menandai tidak munculnya ‘Pemilik Urusan’ tersebut hingga setelah musnahnya sepertiga populasi (manusia), ketika hanya sangat sedikit orang yang tersisa, dan setelah itu Syi’ah akan menyaring seperti penyaringan gandum dari ayakan. (5) Ikmal al-Din, hal.346, 348; Al-Ghaybah, hal. 204, 203 dan 206.

Salah satu dari laporan itu menyatakan: “Harus ada sebuah keghoiban bagi pemilik urusan ini, hingga mereka mengakui urusan ini dan membatalkan posisi mereka. Ini merupakan suatu ujian dari Allah, yang melaluinya Dia menguji ciptaanNya, pikiranmu tidak bisa menyerap hal ini, dan ambisimu tidak mencukupi mengenai hal itu. Jika kamu hidup (cukup lama) kamu akan merasakan dia.” (6) Ikmal al-Din, hal.360; Al-Ghaybah, hal.104, 204.

Ini menyerupai semua laporan yang lain yang mengatakan: “Keghoiban Mahdi seperti penundaan hukuman yang dicari oleh Nuh (AS) dari lapisan langit, sampai pada tingkat bahwa kelompok-kelompok yang percaya mengenai dia (Mahdi) menjadi orang yang murtad, kelompok demi kelompok—-dengan cara serupa, keghoiban Qa’im akan menjadi lama, sampai pada tingkat bahwa kebenaran akan menjadi jelas dan terang benderang dari setiap keadaan mendung, dengan murtadnya semua Syi’ah yang iman mereka tidak benar, dan dekat dengan kemunafikan (nifaq), ketika Qa’im membuktikan dengan baik dan terdapat kedamaian dan ketenangan (di mana-mana).” (7) Ikmal al-Din, hal. 352, 357; Al-Ghaybah, hal. 104, 108.

Hanya Saduq yang menghibur diri dengan pandangan di atas. Mufid, Murtada dan Tusi, semuanya sudah membuangnya, meskipun; mereka sudah melaporkan beberapa laporan yang berisi hal itu. Tusi telah menafsirkan kisah tentang ujian Syi’ah sepanjang keghoiban itu, bahwa yang mereka maksudkan adalah ujian Syi’ah bersamaan waktu dengan keghoiban, bukan karena ujian bagi Syi’ah adalah penyebab keghoiban. (8) Tusi: Al-Ghaybah, hal. 203.

13.1.3. Teori Kekhawatiran

Ini adalah yang paling kuat dari semua teori dalam menginterpretasikan penyebab keghoiban tersebut. Kulayni telah melaporkan di dalam ‘Al-Kafi’, dan juga Saduq di dalam ‘Ikmal-Al-Din’ sejumlah tradisi dari Imam Sadiq, yang menunjukkan fakta bahwa penyebab keghoiban adalah kekhawatiran tentang kehidupan (dari Imam) dan tindakan berpura-pura (Taqiyyah). (9) Al-Kafi, vol.1 hal.337-338, 340; Ikmal al-Din, hal. 481.

Syekh Mufid di dalam ‘Al-Irshad’ hal. 345 berkata: “Hassan meninggalkan di belakang putranya yang ditunggu karena hukum kebenaran. Ia merahasiakan kelahirannya dan menjaga urusannya sebagai sebuah rahasia, karena keadaan yang sulit pada waktu itu, dan adanya pencarian yang serius terhadap Mahdi oleh otoritas pada zaman itu, dan mereka melakukan semua yang mungkin dalam rangka menemukan dia. Juga karena sekte Syi’ah telah berbeda mengenai dia, dan penantian mereka terhadap kemunculannya. Maka putranya tidak nampak pada masa hidupnya, dan masyarakat pada umumnya tidak mengetahui dia setelah kematian bapaknya.” (10)

Mufid menganggap keadaan yang melingkupi keghoiban Imam Mahdi sebagai lebih sulit dari pada keadaan dari Imam ‘Ahl al-Bayt yang lebih awal, yang tidak menyembunyikan diri mereka dari orang-orang. Mereka melindungi (diri mereka) melalui taqiyyah. Para penguasa waktu itu mengetahui kemunculan Mahdi dengan pertolongan pedang, dan karena mereka ingin sekali mengejar dan menghapuskan dia. Alasan yang mencegah dia dari segera keluar (kepada orang banyak) adalah tidak adanya para pendukung dan penolong.” (11) Mufid: Al-Amali; Al-Fusul al-Mukhtarah, hal. 395.

Sayyid Murtada menekankan di dalam ‘Al-Shafi’ seperti ini: “Penyebab keghoibannya adalah adanya ancaman dari para penguasa yang tidak adil, dan mereka tidak membiarkan dia leluasa untuk melakukan sendiri berbagai hal di bawah kendalinya. Ketika mereka berdiri di hadapan apa yang ia ingin (lakukan), maka tanggung jawab untuk melakukan fungsi dan tugas-tugas Imamah menjadi gugur. Dan jika ia mempunyai kekhawatiran terhadap hidupnya, maka menjadi perlu untuk pergi bersembunyi dan ghoib.” (12) Murtada: Al-Shafi, vol.3 hal.149.

Al-Karajiki berkata di dalam ‘Kanz al-Fawaid’ vol.1 hal. 371: “Alasan keghoiban Imam adalah adanya ancaman dari para penguasa yang tidak adil dan pencarian mereka (terhadap dia) untuk membunuh dia, dan dirinya diberi tahu (oleh Allah) bahwa kapan saja ia membawa dirinya keluar, mereka akan membunuh dia, dan kapan saja mereka bisa mendapatkan dia, mereka akan melenyapkan dia. Hanyalah ketika Ia diperlihatkan dan kuat, maka menjadi wajib bagi dia untuk melaksanakan tugas-tugasnya, yaitu ketika tidak ada rintangan, dan kekhawatiran telah dihilangkan dari hidup dan keberadaannya. Bilamana hal seperti itu tidak mungkin, maka wajib (bagi dia) untuk mempraktekkan taqiyyah dan keghoiban, karena alasan ini wajib. Karena membebaskan dirinya dari kejahatan adalah wajib secara rasional dan secara kebiasaan. (13)

Tusi membatasi penyebab keghoiban pada kekhawatiran. Ia berkata: “Tidak ada penyebab untuk mencegah kemunculannya kecuali kekhawatiran tentang hidupnya, jika bukan karena itu, tidak benar bagi dia bersembunyi. Ia menanggung penderitaan dan kejahatan, karena posisi Imamah, seperti halnya para Nabi (AS), adalah lebih tinggi, karena penderitaan yang besar yang mereka tanggung karena Allah“. (14) Al-Ghaybah, hal. 203.

Bagaimanapun, (orang akan bertanya): mengapa Imam Muhammad bin Hassan khawatir dirinya dibunuh, sedangkan Imam Hussain mengorbankan hidupnya di Karbala?. Sayyid Murtada, Syekh Tusi dan Al-Karajiki menjawab hal itu dengan mengatakan: “Tak satupun dari manusia dapat berdiri pada posisi Mahdi karena ia adalah Imam yang terakhir, dan kesejahteraan dan kebaikan dari semua tanggung jawab dan laki-laki yang telah matang tepat ada pada dia.“ (15) Al-Shafi, vol. 1 hal. 147; Al-Ghaybah, hal. 64; Kanz al-Fawaid, vol. 1 hal. 341

Jawaban itu mensyaratkan sejumlah kondisi, yaitu:

  1. Adanya penetapan Kemahdian Imam ke-12 oleh Imam sebelumnya, dan adanya suatu penunjukkan kepadanya sebelumnya (kemunculannya).
  2. Adanya krisis politis dan permusuhan dan kekhawatiran terhadap otoritas Abbasiah mengenai Mahdi, dan adanya kekhawatiran yang lebih besar dari pihak Imam, yang hidup selama beberapa tahun pada masa Imam sebelumnya di bawah pemerintahan Umyyah dan Abbasiah.
  3. Adanya ketegasan Imamah pada Imam ke-12 dan membatasi Imamah kepadanya.
  4. Larangan taqiyyah bagi pihak Mahdi sebelum kemunculannya.

Jika ternyata tidak demikian, maka:

  • jika kita berkata bahwa para Imam yang lebih awal, sebelumnya tidak menetapkan identitas Mahdi, maka tidak akan ada kebutuhan apapun bagi dia untuk bersembunyi sejak kelahirannya.
  • jika ternyata hubungan antara Ahl al-Bayt’ dan Abbasiah pada masa itu adalah positif dan normal dan bahwa tidak ada tekanan atau ketegangan politis, maka tidak ada kebutuhan untuk ghoib.
  • Jika kita berkata bahwa Imam yang ke-12 adalah salah satu dari para Imam – bukan yang terakhir dari mereka, sebagaimana ketika Syi’ah Imamiah percaya sejak permulaan hingga ujung abad ketiga. Maka tidak akan ada keperluan apapun untuk keghoiban, karena Imam yang lebih awal semuanya adalah target bagi para pembunuh, tetapi mereka tidak pergi ghoib.
  • Dan jika kita berkata bahwa Imam yang ke-12 sekiranya diijinkan untuk menggunakan taqiyyah sebagaimana Imam-imam yang lain, maka dengan kemampuannya untuk menyangkal identitasnya dan kemahdiannya, hingga saat ia muncul (secara terbuka sebagai Mahdi), dan ia tidak perlu harus pergi bersembunyi sejak kelahirannya.

13.2. KEGHOIBAN, DI MANA?

Kebanyakan dari laporan yang menyebutkan Mahdi Muhammad bin Hassan Askari menunjukkan bahwa ia berada di rumah bapaknya di ‘Surr Man Ra’a’ yang kemudian menjadi ibukota pemerintahan Abbasiah, dan bahwa mereka yang menyaksikan dan melihat dia pada masa hidup bapaknya, melihat dia di rumah itu. Sebagian dari kisah tersebut menyatakan bahwa: ‘Ia pergi mensholatkan jenazah bapaknya, yang meninggal dan dikuburkan di Samirra’i. Dan setelah itu ia bertemu dengan sebuah delegasi dari Qum, yang datang mencari Imam yang baru. Bahwa ia tinggal di rumah tersebut selama bertahun-tahun, hingga serangan dari kekuatan Mu’tadid di loteng (Sardab). Khalifah Abbasiah, Nasir bi Allah telah membangun sebuah tenda pada tempat loteng tersebut (Sardab), tempat itu masih ada di sana sampai hari ini. Syi’ah biasa mengunjunginya dari semua tempat. Tempat itu disebut tenda (Qubbah) dari Sardab keghoiban, terletak di samping kuburan Imam Hadi dan Askari di kota Samirra’i, utara Baghdad.

Syekh Mufid mengutip di dalam ‘Al-Irshad’ cerita seorang laki-laki bernama ‘Ali bin Hussain’ yang berkata bahwa: Ia mengunjungi Imam Hadi di rumahnya di Samirra’i dan ia menginap di rumah dia selama tiga hari. Sebagaimana ia juga menyebutkan cerita dari Hassan bin Fadl, yang berkata bahwa ia melewati kemah, yaitu Samirra’i, dan Imam Hadi mengirim kepadanya sebuah kantong dengan dinar di dalamnya. (16) Mufid: Al-Irshad.

Mufid juga menyampaikan dari Hassan bin Abdul Hamid bahwa ia meragukan urusan dari salah satu dari wakil Mahdi yang bernama Hajiz bin Yazid, dan kemudian ia pergi ke kemah itu. Sekeluar darinya datang kepadanya apa yang memastikan kepadanya kebenaran wakil tersebut dan mengakhiri keraguannya. (17) Mufid: Al-Irshad hal. 355.

13.3. ADAKAH BATAS WAKTU DARI KEGHOIBAN TERSEBUT?

Periode keghoiban, pada saat lahirnya doktrin tersebut terjadi pada rentang waktu antara beberapa hari, bulan dan tahun tidak lebih dari 10, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak kisah yang disebutkan oleh Kulayni di dalam ‘Al-Kafi’ dan Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’. (18) Al-Kafi, vol.1, hal. 338; Tusi: Al-Ghaybah, hal.104.

Namun, pada sisi lain, laporan lainnya mengatakan bahwa: ‘Akan terjadi selama sekitar 30 hingga 40 tahun’. (19) Al-Kafi, vol. 1 hal. 340

Beberapa kisah yang lain yang disampaikan oleh Nu’mani di dalam ‘Al-Ghaybah’ hal. 126, membatasi periode keghoiban lebih kepada umur dewasa dari Imam Mahdi pada saat kemunculannya. Nu’mani menafsirkan laporan seperti itu dengan umur mudanya, pada saat Imamah dianugerahkan kepada dia. (20)

Tusi telah melaporkan tradisi yang lain dari Imam Baqir (AS) bahwa: “Pemilik urusan ini (Mahdi) berumur tidak lebih dari 40 tahun”. (21) Al-Ghaybah, hal. 258.

Laporan lain menunjukkan bahwa umurnya mungkin lebih dari 120 tahun. (22) Nu’mani: Al-Ghaybah, hal. 126.

Tusi telah melaporkan di dalam ‘Al-Ghaybah’ dari Abu Abdullah (AS) bahwa ia berkata: “Apakah kamu menyangkal bahwa Allah akan memperpanjang hidup pemilik Urusan (Mahdi) seperti ia memperpanjang hidup Nuh (AS)?”. Ia menjawab kepada mereka yang menemukan cacat pada panjangnya periode keghoiban, dan hal itu menyimpang dari yang normal, bahwa isu tersebut tidaklah seperti yang mereka nyatakan. Sekalipun itu terjadi, adalah mungkin bahwa Allah akan melakukan sesuatu yang luar biasa untuk beberapa jenis kebaikan (maslahah). (23) Al-Ghaybah, hal.76-78.

Saduq dan Tusi mengutip keghoiban Musa bin Imran, Yusuf bin Ya’qub, Yunus bin Matta, penghuni gua, pemilik keledai, Nuh, Salman, orang Persia, Dajjal, Luqman bin Ad, Rabi bin Daba’ dan Ya’rib bin Qahtan, yang dikatakan telah meninggalkan masyarakat mereka selama periode waktu tertentu..

13.4. CARA MENETAPKAN IDENTITAS MAHDI

Bagaimanapun, keghoiban yang panjang telah mendorong dan masih mendorong ke arah suatu masalah, yakni: cara mengenali dan menetapkan identitas Mahdi pada saat kemunculannya. Masalah ini telah dibahas pada zaman permulaan, terutama selama keghoiban kecil, tetapi hal itu memaksakan dirinya dengan perjalanan waktu ….Hal itu menjadi pusat diskusi di antara para pendukung keberadaan Mahdi dan mereka yang menolak hal itu pada zaman itu.

Syekh Saduq menghadapi lawan tentang isu ini, dan ia berkata sebagai jawaban kepada Mu’tazilah dan mereka yang menolak (gagasan tentang Mahdi), mereka yang menemukan kesalahan pada titik ini: “Mungkin melalui penyampaian masalah itu dari seseorang yang laporan darinya bertindak sebagai sebuah bukti, sekalipun dari antara sahabat karibnya. Juga mungkin bahwa sebuah keajaiban mungkin nampak untuk memastikan hal itu. Tanggapan kedua adalah seseorang yang kami bergantung kepadanya, dan kami menggunakannya melawan lawan-lawan kami, sekalipun cara yang pertama juga valid”. (24) Ikmal al-Din, vol.1, hal.61-62.

Mufid dan Tusi, keduanya sudah menunjuk isu ini: ‘Permasalahan dalam mengenali Mahdi dan menetapkan identitasnya pada saat kemunculannya, adalah dengan menyebutkan sejumlah besar keajaiban dan tanda universal yang aneh yang nampak dari Mahdi, sebagai tanda dari waktunya. Sayyid Murtada telah membicarakan masalah tersebut, ketika mendiskusikan kemungkinan suatu kemunculan sementara selama periode keghoiban tersebut. Ia menetapkan sebagai kondisi-kondisi, kemunculan dari tanda-tanda untuk memastikan kebenarannya. (25) Al-Shafi, vol.1 hal.149.

13.5. TANDA KEMUNCULANNYA

Kulayni di dalam ‘Al-Kafi’, Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ dan ‘Uyun Akhbar al-Rida’, Mufid di dalam ‘Al-Irshad’, Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ dan Al-Iyashi di dalam tafsirnya, semua menyebutkan sekelompok kisah yang menghubungkan kemunculan dan kejadian beberapa tanda universal berkaitan dengan:

  • berhentinya gerakan planet dan bintang,
  • pengubahan aturan mereka dan berbagai hal yang serupa dengan itu; atau seperti
  • matahari menjadi pudar sejak tengah hari hingga akhir sore; atau
  • kemunculan dada dan muka seorang laki-laki di bawah cakram sinar matahari; atau
  • seperti kejadian gerhana matahari atau bulan secara abnormal atau
  • seperti gerhana matahari pada pertengahan bulan Ramadhan, dan gerhana bulan pada akhir bulan itu; atau seperti
  • berbicaranya panji dan pedang kepada Imam Mahdi dan ajakannya bahwa tidak diperbolehkan duduk setelah waktu itu. Ia akan keluar dan membunuh musuh Allah di mana saja ia menemukan mereka. Ia akan menegakkan hukum Allah dan menghakimi dengan keputusan hukumNya.

Sebagai tambahan terhadap cerita tersebut adalah:

  • matahari naik dari barat, dan
  • kemunculan sebuah bintang dari timur, cahayanya akan serupa dengan bulan….
  • penentangan para budak kepada tuan-tuan mereka dan pembunuhan mereka ….
  • Perubahan bentuk orang-orang ahli bid’ah menjadi monyet dan babi…
  • para budak mengambil alih tanah dari tuan-tuan mereka….
  • suatu ajakan dari lapisan langit untuk didengar oleh seluruh manusia di bumi, orang-orang dari setiap bahasa dalam bahasa mereka sendiri,
  • kebangkitan orang mati dari kuburan mereka hingga mereka kembali ke dunia, dan
  • pengenalan mereka satu sama lain dan pertukaran kunjungan,

sebagai tambahan terhadap semua ini, Mufid menyebutkan bahwa: ‘Jibril akan turun pada Qa’im (Mahdi) untuk memberi bai’at ketika kemunculannya’. Tusi berkata bahwa: ‘Pengikut Qa’im akan memindahkan tempat Mahdi secara ajaib dalam sekejap mata!

Mufid menyebutkan beberapa tanda universal yang akan terjadi pada saat kemunculan, seperti perpanjangan hari sepuluh kali lipat, menjadi 240 jam!

Ini adalah apa yang Tusi tafsirkan terhadap sebuah tradisi serupa di mana ia berkata: “Ketika Qa’im muncul, Allah akan memerintahkan bintang-bintang dan planet untuk memperlambat pergerakannya, kepada tingkat bahwa hari pada waktu itu seperti sepuluh hari pada waktumu, dan sebulan akan seperti 10 bulan, dan satu tahun seperti 10 tahun waktumu”.

Kulayni melaporkan sebuah tradisi dari Imam Baqir (AS), yang mana ia meramalkan bahwa Syi’ah akan menggunakan hal-hal seperti (telepon, televisi) ketika berkata dengan Qa’im, dan mengamati dia dari jauh, dan dari semua daerah. Hal itu pada saat kemunculannya.

Beberapa kisah menyatakan bahwa pada saat kemunculan Qa’im, bumi akan menjadi terang dengan cahaya dari Tuhannya, dan manusia tidak akan membutuhkan cahaya matahari, dan kegelapan akan dihapuskan. Seorang laki-laki akan hidup lama di daerahnya dan ia akan mempunyai seribu (1000) anak-anak laki-laki, tanpa seorang wanita!

13.6. LAMA PEMERINTAHANNYA

Akhirnya, kisah tentang kemunculan Mahdi mendiskusikan periode dari pemerintahanya. Salah satu dari  kisah seperti itu berkata bahwa: “Ia akan memerintah selama tujuh tahun, yang akan seperti tujuh puluh (70) tahun dari waktu kami”.

Laporan lain berkata bahwa Qa’im akan memerintah selama tiga ratus sembilan (309) tahun, seperti periode waktu yang dihabiskan penghuni gua di dalam gua mereka.

Laporan ketiga berkata ia akan memerintah untuk sembilan belas (19) tahun saja. (26) Kulayni: Al-Kafi, Al-Raudah, hal. 201; Saduq: Ikmal al-Din, hal. 268; Uyun Akhbar al-Rida, vol.1, hal.63; Mufid: Al-Irshad, hal. 355, 359, 362; Tusi: Al-ghaybah, hal. 274, 283-285; Al-Iyashi di dalam tafsirnya, vol.2, hal. 326.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: