BAB X. BUKTI HISTORIS KEBERADAAN MAHDI

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB X

BUKTI HISTORIS

10.1.  KELAHIRAN MAHDI

Bukti Historis mengakui apa yang nyata terlihat mengenai kehidupan Imam Askari, dan riwayat hidupnya, kematiannya dan mempunyai seorang putra. Itu menegaskan: suatu keadaan politik yang tidak mengijinkan Hassan Askari untuk mengumumkan keberadaan seorang putra dari dia, dan ketakutan terhadap otoritas Abbasiah yang lebih awal percaya bahwa ia adalah Mahdi, yang akan merobohkan pemerintahan mereka. Semua ini memaksa Imam untuk merahasiakan isu kelahiran putranya (Mahdi yang ditunggu). Bukti selanjutnya menyebutkan detail dari kelahiran Muhammad bin Hassan Askari dan keadaan yang melingkupi hal itu; demikian juga cerita dari mereka yang menyaksikannya dan berjumpa dengan Mahdi pada tingkatan hidupnya yang berbeda, selama hidup bapaknya dan sepeninggal dia.

10.1.1. IBUNDA MAHDI

Laporan belum memufakati nama dari ibu Mahdi. Ketika syekh Al-Aqdam Ibn Abi al-Thalj al-Baghdadi di dalam ‘Tarikh al-A’imah’, dan Masudi di dalam ‘Ithbat al-Wasiyyah’ dan Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’, dan Majlisi di dalam ‘Bihar al-Anwar’ mengumumkan bahwa namanya adalah ‘Narjis’, namun Muhammad bin Ali Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ berkata bahwa namanya adalah ‘Malikah’, putri Yashu’, bin Qaysar, raja Roma pada waktu itu. Dan dia melihat Imam Hassan Askari di dalam mimpinya dan Malikah mencintai dia dan menikahi dia. Malikah melarikan diri dari bapaknya yang ingin mengawinkan dengan kemenakan laki-lakinya. Dia  ditangkap, dan Imam Hadi mengirim seorang utusan untuk membelinya dari pasar budak di Baghdad. (1) Ikmal Al-Din, hal. 417.

Mas’udi pada sisi lain berkata: Dia adalah seorang budak perempuan yang lahir di rumah salah satu dari saudari Abu Hassan Ali bin Muhammad. Dia membawa budak perempuan tersebut ke rumahnya. Ketika dia tumbuh dewasa dan strukturnya lengkap, Abu Muhammad datang kepadanya dan menghormatinya dan kemudian mencari pamannya untuk memintakan ijin dari bapaknya bahwa dia akan pergi kepadanya, dan budak perempuan itu melakukan. (2) Ithbat al-Wasiyyah, hal. 195.

Saduq berkata di dalam kisah yang lain bahwa: Nama ibu Mahdi adalah Saqil dan dia meninggal pada saat Hassan Askari masih hidup. (3) Ikmal al-Din, hal. 431.

Terdapat beberapa nama lain yang disebutkan oleh Majlisi seperti ‘Susan’ dan ‘Rayhanah’ dan ‘Khamt’. Laporan itu disampaikan oleh Al-Shahid al-Awwal di dalam ‘al-Durus’ bahwa dia adalah seorang perempuan merdeka dan namanya adalah ‘Maryam binti Zayd al-Alawiyyah’. (4) Bihar al-Anwar, vol. 51 hal. 432

10.1.2. TANGGAL KELAHIRANNYA

Semua laporan tidak sepakat mengenai tanggal kelahiran Imam Muhammad bin Hassan Askari. Sebagian dari Syi’ah awal menerima klaim budak perempuan ‘Narjis’ yang hamil setelah kematian Imam Askari. Mereka berkata dia melahirkan Mahdi setelah delapan bulan sejak pengakuannya. (5) Nubakhti: Firaq al-Shiah, hal. 103; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq, hal. 114.

Syekh Mufid berkata di dalam ‘Risalah Maulid al-A’imah’ bahwa ia lahir pada tanggal 8 Dhu al-Qai’dah, 207 atau 208 AH. Ia juga menambahkan: “Ketika  kematian  bapaknya, ia berumur dua tahun empat bulan”. Ia berkata di dalam ‘Al-Fusul al-Mukhtarah’: Ia dilahirkan pada pertengahan Sha’ban, 255 AH (6) Al-Fusul al-Mukhtarah, hal.114. Ia berkata di dalam kisah yang lain: Ia dilahirkan pada tahun 252 AH dan umurnya ketika kematian bapaknya adalah delapan tahun. (7) Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 258.

Syekh Saduq, bagaimanapun, berkata di dalam ‘Ikmal al-Din’: Kelahirannya adalah pada tanggal 8 Sha’ban 256 AH. (8) Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 432.

Syekh Tusi pada bagian ‘Al-Ghaybah’nya berkata bahwa: Ia dilahirkan pada pertengahan Ramadan tanpa menetapkan tahunnya. (9) Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 143. Di dalam laporan yang lain, ia setuju dengan Syekh Mufid bahwa ia dilahirkan pada pertengahan Sha’ban 255 AH. (10) Al-Ghaybah, hal. 141.

Adalah normal jika laporan seperti ini kontradiksi satu sama lain, dalam menetapkan tanggal kelahiran seseorang yang dikatakan telah dilahirkan secara rahasia, dan urusannya dalam keadaan tersembunyi.

10.1.3. CARA KELAHIRANNYA

Saduq, Tusi, Mas’udi dan Khusaibi semuanya melaporkan cerita kelahiran Imam Mahdi yang bergantung pada satu laporan yang diatributkan kepada ‘Hakimah’  bibi dari Imam Askari. Dia berkata di dalam laporan itu: “Abu Muhammad Hassan bin Ali telah mengirim kepada saya sambil berkata: “Wahai bibi ambil iftarmu (buka puasa), karena nanti malam bersama dengan aku, karena saat ini kekuatan pertengahan Sha’ban dan Allah yang Diagungkan akan menjadikan kemunculan buktiNya malam ini.” Aku berkata, aku berkata kepada dia: “Siapa yang akan menjadi ibunya?” Ia berkata kepadaku: “Dari Narjis.” Aku kemudian berkata kepada dia“. Semoga aku menjadi tebusan untuk kamu, tidak ada tanda mengenainya.” Ia kemudian berkata: “Akan menjadi seperti yang aku katakan kepada kamu.”

Dia berkata: Aku kemudian datang kepadanya. Ketika aku menyambut (dia) dan duduk, dia (Narjis) datang memindahkan khuff-ku dan berkata kepadaku: “Wahai nyonya rumahku dan nyonya rumah keluargaku, selamat petang”. Aku berkata kepadanya, “Kamu lebih dari nyonya rumahku dan nyonya rumah keluargaku”. Hakimah berkata: Narjis menolak pernyataanku dan berkata: “Apa ini, wahai bibi?” Aku kemudian berkata kepadanya: “Wahai putriku, Allah akan menganugerahkan kamu pada malam ini seorang putra dan seorang pemimpin (Tuan) di dunia ini dan di alam baka.”

Hakimah berkata bahwa Narjis menjadi malu. Setelah aku menyelesaikan sholat ‘Isha-ku, aku membatalkan puasaku dan kemudian berbaring dan tidur. Pada akhir malam aku bangun untuk sholat… ketika aku menyelesaikan sholatku, dia masih tidur dan tidak ada tanda apapun mengenainya. Aku duduk sambil mengamati. Kemudian aku berbaring. Aku kemudian bangun lagi dan dia masih tertidur. Kemudian dia bangun dan sholat dan kemudian tidur.

Hakimah kemudian menambahkan: Aku kemudian pergi ke luar mencoba untuk memastikan munculnya senjakala dini hari. Aku melihat senjakala yang pertama seperti ekor seekor serigala, dan dia masih tidur. Aku meragukan (urusan tersebut). Kemudian Abu Muhammad (AS) berteriak dari tempat duduknya sambil berkata: “Jangan tergesa-gesa bibi, urusan sudah dekat”.

Hakimah berkata: Ketika aku dalam keadaan seperti itu aku menjadi sadar dengan seketika, dan bangkit mendekati dia, aku berkata: “Semoga nama Allah ada bersama kamu”. Kemudian aku berkata kepadanya: “Apakah kamu merasakan sesuatu?’ Dia berkata: “Ya bibi. Aku kemudian berkata kepadanya: Letakkan dirimu bersama-sama dan pegang jantungmu, seperti yang aku katakan kepada kamu.”

Hakimah kemudian berkata: Dia berpegang padaku beberapa lama; Aku kemudian merasakan tuanku hadir. Aku memindahkan pakaian Alas, Ia (bayi tersebut) lemah ketika memasuki dunia dengan keadaan tidak berdaya. Aku kemudian meletakkan bayi itu dekat dengan diriku, dan aku menemukan dia bersih dan suci. Kemudian Abu Muhammad berteriak kepada saya, “Bawa kepadaku putraku, bibi!” Aku membawa bayi tersebut kepadanya, dan ia (Hasan) memegang pantat dan punggungnya, dan menempelkan kakinya pada dadanya, dan kemudian menempelkan lidahnya di mulutnya. Ia (Hasan) juga mengelapkan tangannya pada matanya, telinganya dan tulang sendinya. Kemudian ia berkata: “Bicaralah, putraku!” Bayi tersebut berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak tuhan kecuali Allah saja tanpa tandingan, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah”, ia kemudian memuji Ali, amir Al-Muminin, dan para Imam hingga ia sampai pada bapaknya kemudian ia berhenti. Kemudian Abu Muhammad berkata: “Wahai bibi bawa dia kepada ibunya, agar ia mengucapkan salam kepadanya, dan kemudian bawa dia kembali kepadaku”. Aku memberikan dia kepada Ibunya dan bayi itu mengucapkan Salam kepadanya, dan ibunya menjawab. Aku kemudian membawa dia ke tempat duduk (Imam). Ia (Imam) kemudian berkata: Wahai bibi, kamu datanglah kepada kami pada hari ketujuh.”

Hakimah berkata: “Hari berikutnya aku datang untuk mengucapkan salam kepada Abu Muhammad, dan aku memindahkan tabir untuk melihat secara dekat kepada tuanku tetapi aku tidak melihat dia. Aku kemudian berkata: “Semoga aku menjadi tebusanmu, apa yang terjadi kepada tuanku?” Ia berkata: “Wahai bibi, kita sudah menyerahkan dia kepada penjagaan dari orang yang ibu Musa memberi penjagaan (putranya)”.

Hakimah berkata: ”Pada hari yang ketujuh aku datang, disambut (orang-orang) dan kemudian duduk. Ia kemudian berkata: “Bawa kepadaku putraku”. Aku kemudian membawa tuanku kepadanya, dalam sepotong kain. Ia (Hasan) melakukan pada bayi itu seperti saat pertama kali, dan ia menempelkan lidahnya pada mulutnya, seolah-olah ia menyediakan bagi bayi itu makanan dari madu atau susu. Kemudian ia berkata: “Bicaralah putraku!”. Bayi itu berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan kemudian mengucapkan sholawat (keselamatan) kepada Muhammad (SAAW), dan kepada amir Al-Muminin dan Imam yang saleh hingga ia berhenti pada (nama) bapaknya. Kemudian ia membacakan ayat berikut: “Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu (QS, 28:6).” (11) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 424.

Hakimah berkata pada laporan yang lain yang disebutkan oleh Saduq: Narjis tidak mempunyai tanda apapun tentang kehamilannya, dan dia tidak peduli akan hal itu. Ketika Hakimah berkata kepadanya bahwa dia akan memberikan kelahiran pada malam yang sama, dia terkejut dan kemudian berkata: “Nyonya rumahku aku tidak melihat apapun (mengenai) hal itu.” (12) Saduq: Ikmal al-Din hal. 428. Hingga pada bagian akhir dari malam, pada saat dinihari, dia bangkit ketakutan dan kemudian berkata: “Urusan telah nampak kepada saya, sudahkah tuanku menceritakan kepada kamu?” Laporan tersebut mengatakan bahwa: Hakimah datang membacakan Al Qur’an kepada Narjis, dan anak dari kandungan merespon pembacaan sebagaimana yang sedang dia baca dan ia mengucapkan salam kepadanya, yang menambah ketakutannya. Laporan tersebut bagaimanapun, berkata bahwa Narjis disembunyikan dari penglihatan Hakimah, seolah-olah suatu selubung ditaruh antara dia dan Narjis. Ini menambah keheranannya. Dia menangis dan berlindung pada Abu Muhammad, yang kemudian berkata kepadanya: “Kembalilah, Bibi, dan kamu akan menemukan dia di tempatnya”.

Hakimah berkata: Aku kemudian kembali. Tidak lama selubung itu dipindahkan, dan dia nampak di depanku. Dia mempunyai sejumlah tanda dari cahaya, yang mana mataku tidak bisa menahan, dan anak di depannya pada wajahnya dengan keadaan tidak berdaya. (13) Saduq: Ikmal al-Din hal. 426.

Laporan ini juga menambahkan isu yang lain yaitu terbangnya sejumlah burung di atas kepala anak tersebut, dan Hassan berbicara dengan salah satu dari mereka sambil berkata: “Ambil dia dan lindungi dia, dan bawa dia kepada kami setelah setiap empat puluh hari”. Ini menjadikan burung tersebut mengambil dia dan terbang dengan dia, meninggalkan ibunya yang menangis karena perpisahan tersebut.

Hakimah berkata: Aku berkata: “Burung apa itu?” Ia menjawab: “Ini adalah Roh Kudus yang melekat pada Imam, membantu mereka mencapai sukses, dan memandu dan mendidik mereka. Setelah empat puluh hari anak tersebut dikembalikan dan ia telah mulai berjalan dengan kakinya, seolah-olah ia sudah berumur dua tahun, yang membuatnya bertanya keheranan. Saudaranya, Hassan berkata: “Anak-anak para nabi (AS), dan pemegang wasiat (para wasi), jika mereka Imam, mereka tumbuh dengan cara yang berbeda dengan cara tumbuh orang lain. Seorang anak di antara kami, jika ia hidup selama satu bulan akan menjadi seolah-olah ia telah hidup selama satu tahun. Seorang anak di antara kami dapat berbicara di dalam kandungan ibunya, dan dapat membacakan Al Qur’an dan memuji Tuhannya, yang Maha Tinggi. Ketika menyusu, para malaikat memberi dia makanan. Mereka turun pagi dan sore hari kepada dia.

Laporan dari Hakimah berlanjut, dengan pernyataannya bahwa dia tidak pernah berhenti mengingat anak itu, tiap empat puluh hari, hingga pada saat ia dewasa dan beberapa hari sebelum meninggalnya Abu Muhammad, tetapi Hakimah tidak mengenali dia. Hakimah berkata kepada kemenakan laki-lakinya: “Siapakah ini yang kamu memerintahkan aku untuk duduk di depan dia?” Ia berkata kepadanya: “Ini adalah putra Narjis, dan dia adalah penggantiku sepeninggalku. Setelah sesaat lagi aku akan pergi, dengarkan dia dan patuhi dia.

Hakimah berkata lebih lanjut : “Setelah beberapa hari, Abu Muhammad meninggal dan orang-orang menjadi terbagi seperti yang anda lihat. Demi Allah aku biasa melihat dia pagi dan sore, dan ia biasa menginformasikan aku apa yang kamu tanya, dan aku kemudian memberitahukan kepada kamu. Demi Allah aku berniat untuk menanyai dia sesuatu, dan ia akan menjawab tentangnya sebelum aku bertanya. Dan suatu urusan bisa datang pada kepala saya, dan sebuah jawaban datang kepada saya dari dia pada saat itu, tanpa aku menanyai dia…” (14) Saduq: Ikmal al-Din hal. 430.

10.1.4. LAPORAN TUSI TENTANG CERITA KELAHIRAN MAHDI

Tusi melaporkan di dalam Al-Ghaybah-nya cerita tentang kelahiran Mahdi, tetapi ia tidak pernah menyebutkan cerita tentang sekelompok burung, Roh Kudus atau pengambilan anak tersebut (Mahdi). Ia hanya berkata bahwa: ‘Hakimah mengucapkan selamat tinggal kepada Abu Muhammad dan pulang ke rumahnya setelah kelahiran Mahdi. Pada saat dia rindu pada dia (Mahdi), setelah tiga hari, dia kembali dan mencari dia di kamarnya, tetapi tidak bisa menemukan jejak apapun dari dia, dan tidak mendengar sebutan apapun dari dia, dia tidak ingin tahu. Dia kemudian pergi kepada Abu Muhammad dan ia berbicara dengannya duluan, “Ia, wahai Bibi, di dalam perlindungan Allah, Dia telah menyembunyikan dia hingga waktu yang Dia inginkan. Ketika Allah akan mengambil aku dan aku mati dan kamu melihat para pengikutku terbagi, ceritakan kepada yang dapat dipercaya diantara mereka. Biarkan dia dilindungi oleh kamu, dan tersembunyi bagi mereka. Sebab kekasih Allah akan dibawa olehNya dari ciptaanNya, dan menyelubungi dia dari para pelayanNya. Tak seorangpun akan melihat dia, hingga waktu ketika Jibril (damai atas dia) akan menghadirkan kepadanya kudanya, ‘di mana Allah memenuhi sesuatu yang telah ditahbiskan”. (15) Tusi: Al-Ghaybah, hal. 141.

Tusi menambahkan pada laporan yang lain, sebuah pernyataan Hassan kepada bibinya: “Kita sudah memberi dia penjagaan dari sesuatu yang ibu Musa telah memberi penjagaan (anaknya)”. Apa yang diminta darinya akan datang pada hari ketujuh, ketika Mahdi akan kembali dan Hakimah akan mampu melihat dia. (16) Tusi: Al-Ghaybah hal. 142.

Ia berkata di dalam laporan ketiga bahwa: Hakimah kembali setelah tiga (3) hari, dan dia melihat Mahdi di dalam ayunan dan sepotong kain hijau ada pada badannya. Ia sedang tidur dengan belakang kepalanya (menghadapi ke langit), tidak ditutupi dan terbuka. Ia membuka matanya dan mulai tertawa kepadanya, dan memanggilnya dengan jarinya. Ia kemudian menghilang setelah itu. (17) Tusi: Al-Ghaybah hal. 143.

Ia berkata di dalam laporan keempat bahwa: Hakimah menemukan tulisan pada lengan tangan Mahdi pada saat kelahirannya “Kebenaran telah datang dan kebohongan telah lenyap, sungguh pasti kebohongan selalu harus lenyap”, sebagaimana dia juga melihat bahwa ia  disunat, dan sejenis selubung ditaruh antara Hakimah dan ayah Mahdi pada satu tangan, dan Mahdi sendiri, dan Hakimah tidak melihat seseorangpun. Hakimah kemudian berkata: “Di mana tuanku?” Hassan menjawabnya: “Yang lebih berhak (tentang dia) dibanding kamu dan kami telah mengambil dia”. Ketika Hakimah kembali setelah empat puluh hari, dia menemukan Mahdi berjalan dengan kakinya di rumah itu. Dia belum pernah melihat wajah yang seindah wajahnya, maupun berbicara sepandai bicaranya. Ketika dia kagum oleh semua itu dan berkata, “Aku melihat urusannya yang aku lihat selagi ia hanya berumur empat puluh hari”. Abu Muhammad tersenyum dan berkata: “Wahai bibiku bukankah kamu mengetahui bahwa kami –para Imam- tumbuh satu hari seperti pertumbuhan orang lain dalam satu tahun.“ Hakimah berdiri dan pergi menjauh, dan dia tidak pernah melihat anak itu setelah itu. (18) Tusi: Al-Ghaybah hal. 145.

Tusi melaporkan dari kedua pembantu rumah tangga Imam Askari (Nasim dan Mariyah), bahwa mereka berkata: “Ketika Sahib Al-Zaman (Mahdi) muncul dari kandungan ibunya, Mahdi merasakan sakit pada lututnya, mengangkat jari keduanya menjadi terang, dan kemudian ia bersin dan berkata. ”Segala pujian karena Allah, Tuhan bagi dunia. Semoga damai dan berkat Allah dilimpahkan kepada Muhammad dan keluarganya? Aku menyerahkan (diriku) kepada Allah, tidak angkuh atau sombong. Ia kemudian menambahkan, ”Si Penindas berfikir bahwa bukti Allah (Hujjah) telah dihapuskan. Jika Ia telah mengijinkan kami untuk berbicara, keraguan akan terusir. (19) Tusi: Al-Ghaybah hal. 145.

Mas’udi seperti halnya Khusaibi menambahkan aspek lainnya pada cerita kelahiran  Mahdi sambil berkata: “Mahdi  dilahirkan dari paha  ibunya”. Dan mereka melaporkan dari Imam Askari, pernyataan Imam kepada bibinya Hakimah: “Imam tidak dibawa di dalam kandungan, tetapi  dibawa di sisi.” (20) Mas’udi: Ithbat al-Wasiyyah, hal.196; Khusaibi: Al-Hidayah al-Kubra.

Mas’udi setuju dengan Saduq dan Tusi bahwa Hakimah tidur pada kejadian itu, selagi duduk dia dikalahkan oleh tidur, dan dibangunkan hanya oleh tangisan anak Narjis, dan suara  bapaknya yang memanggilnya: “Wahai bibiku bawa putraku!” Ia juga berkata: Mahdi pergi bersembunyi pada hari itu, dan kembali setelah seminggu. Hakimah melihat dia kemudian, untuk kali kedua dan kemudian ia pergi bersembunyi, dan Hakimah tidak melihat dia lagi, hingga empat puluh (40) hari ketika dia melihat dia berjalan (dengan kakinya). (21) Mas’udi: Ithbat al-Wasiyyah hal. 197.

Bagaimanapun, Mas’udi tidak setuju dengan Saduq yang menyebutkan di dalam laporannya bahwa: “Imam tumbuh dalam satu bulan seperti pertumbuhan orang lain dalam satu tahun.” Ia juga tidak setuju dengan Tusi yang berkata bahwa, “Imam tumbuh dalam satu hari seperti petumbuhan orang lain dalam satu tahun”. Mas’udi tidak terlalu menghargai para perawi yang (laporannya seperti ini) diatributkan kepadanya. Ia melaporkan pernyataan Askari kepada Hakimah, “Tidakkah kamu mengetahui, wahai Bibi bahwa kami, ahli waris wasiat, tumbuh dalam satu hari seperti pertumbuhan orang lain dalam satu minggu? Dan kami tumbuh dalam satu minggu seperti pertumbuhan orang lain dalam satu tahun?” (22) Mas’udi: Ithbat al-Wasiyyah hal. 197.

Akhirnya Mas’udi juga melaporkan dari Abu Muhammad Askari, yang berkata: “Ketika Sahib (Mahdi) dilahirkan, Allah mengirim dua malaikat yang mengambil dia ke perlindungan di al-Arsh (Tahta), hingga ia berdiri di hadapan Allah dan Allah berkata kepada dia. “Selamat datang, demi kamu aku akan memberi, memaafkan dan menghukum.” (23) Mas’udi: Ithbat al-Wasiyyah hal. 197.

10.1.5. KERAHASIAAN KELAHIRANNYA

Di samping fakta bahwa laporan Hakimah di atas telah menunjukkan bahwa kelahiran tersebut tetap merupakan sesuatu yang tersembunyi dan rahasia, dan bahwa Imam Hassan memintanya untuk menyebutkannya ketika ada perpecahan, dan hanya kepada para pemimpin (yang dapat dipercaya), namun Saduq menyebutkan di dalam ‘Ikmal al-Din’ bahwa Imam Hassan Askari telah memberi tahu tokoh Syi’ah yang terkemuka di Qum, Ahmad bin Ishaq, dan bahwa ia menulis kepadanya: ‘Bahwa seorang anak telah dilahirkan untuk aku, biarkan dia menjadi sebuah rahasia untuk kamu dan tersembunyi bagi orang banyak. Karena kami tidak akan menceritakan kepada orang lain tentang dia, kecuali keluarga yang paling dekat, dan mereka akan memberi kesetiaan mereka kepadanya. Aku telah menginformasikan kamu sehingga kamu akan menjadi terhibur dengan itu, ketika kita disenangkan. Salam’. (24) Saduq: Ikmal al-Din hal. 434.

Pada laporan yang lain Saduq berkata bahwa: Ahmad bin Ishaq pergi menghadap Imam Askari pada suatu hari dan menanyai dia tentang Imam dan Kalifah setelah dia. Ia bangun dengan tergesa-gesa dan masuk ke rumah dan kemudian keluar dengan seorang anak yang berumur 3 tahun di atas bahunya, dan kemudian berkata kepada dia: “Wahai Ahmad, jika bukan karena posisi (kebaikan)mu dengan Allah yang Maha Tinggi dan dengan bukti Allah (Imam), Aku belum akan memperkenalkan putraku ini kepada kamu.” (25) Saduq: Ikmal al-Din hal. 384.

Al-Fadl bin Shadhan berkata di dalam ‘Kashf al-Haq’ bahwa Hassan berkata: “Sahabat Allah dan buktiNya pada ciptaanNya dan penggantiku (kalifah) setelah aku, dilahirkan pada waktu malam pertengahan Sha’ban, dan yang pertama memandikan dia adalah Ridwan, penjaga surga, kemudian Hakimah.”

Saduq berkata bahwa: “Dari mereka yang mengetahui berita kelahiran tersebut adalah Abu al-Fadl Hassan bin Hussain Al-Alawi, yang berkata bahwa ia pergi kepada Abu Muhammad di ‘Surr Man Ra’a’ dan memberi selamat kepada dia tentang kelahiran anaknya. Abu Harun ada bersama mereka juga, dan ia berkata bahwa ia melihat Sahib al-Zaman dan membuka pakaiannya dan ia menemukan dia bersunat. (26) Saduq: Ikmal al-Din hal 435.

Tusi menekankan dua laporan ini di dalam ‘Al-Ghaybah’ hal. 151.

Sheikh Mufid berkata bahwa Hassan Askari memperlihatkan dia (Mahdi) kepada beberapa individu ketika mereka mengunjungi dia seperti Amr al-Ahwazi. (28)

Pada kisah yang lain: Imam Askari mengirimkan uang kepada beberapa Syi’ah dan meng-instruksikan mereka kepada pemotongan Aqiqah untuk putranya. (29) Ikmal al-Din, hal. 432.

10.2. PENAMPAKAN  MAHDI SEMASA HIDUP BAPAKNYA

Bagaimanapun, sejarawan Syi’ah sudah menyampaikan sejumlah cerita tentang penampakan Imam ke-12 -Muhammad bin Hassan Askari- pada masa hidup bapaknya, dan ketika kematiannya. Karena Kulayni, Saduq dan Tusi sudah melaporkan bahwa seorang laki-laki dari Persia yang sedang melayani di rumah Imam Askari menceritakan hal itu, ia suatu hari melihat pembantu rumah tangga yang membawa seorang anak yang putih, dan pernyataan Imam kepadanya, bahwa: “Ini adalah sahabatmu (Imam).” Dan ia tidak pernah melihat dia setelah itu. (30) Al-Kafi, vol. 1 hal. 329; Ikmal al-Din, hal. 435 and Al-Ghaybah, hal.140.

Saduq dan Tusi juga menyampaikan dari sekelompok pengikut Imam Askari, di antara mereka adalah Uthman bin Sa’id al-Umari bahwa ia memperkenalkan kepada mereka putranya dan berkata kepada mereka: “Ini adalah Imammu setelah aku dan penggantiku (kalifah) bagi kamu. Patuhilah dia dan janganlah terbagi setelah aku di dalam agamamu, agar kamu tidak binasa. Bagaimanapun, kamu tidak akan melihat dia setelah hari ini.” Mereka berkata: Kami keluar dari dia, dan setelah beberapa hari, Abu Muhammad (Askari) meninggal. (31) Ikmal al-Din. hal. 435, al-Ghaybah hal. 217

Demikian juga Saduq melaporkan di dalam ‘Ikmal al-Din’ cerita seorang laki-laki yang bernama Yaqub bin Manqush, bahwa suatu hari ia pergi menghadap Imam Askari dan menanyai dia: “Siapakah pemilik urusan ini?” Ia mengangkat tirai rumahnya, dan seorang anak yang berumur lima tahun muncul dan duduk di atas paha Abu Muhammad. Ia berkata kepada Yaqub: “Ini adalah sahabatmu.” Kemudian ia berkata kepada anak tersebut: “Wahai putraku, masuklah hingga waktu yang ditetapkan.” Ia pergi ke dalam rumah dan menyembunyikan dirinya.

Telah dilaporkan oleh Nasim, pembantu (wanita) rumah tangga Imam Askari, bahwa dia pergi ke ‘Pemilik urusan’ (Mahdi) pada suatu malam setelah kelahirannya, dia bersin di depan Mahdi dan ia menjawabnya sambil berkata: “Yarhamuki Allah (Semoga Allah berbelas-kasih kepada kamu).”

Diceriterakan oleh pelayan yang lain yang bernama Tarif Abu Nasr, bahwa ia pergi kepada Sahib al-Zaman, dan ia meminta dia untuk membawakan dia sandal merah, dan kemudian menambahkan: “Aku adalah yang terakhir dari ahli waris wasiat, dan melalui aku Allah akan memukul mundur bencana para pengikut dan keluargaku.”

Dilaporkan oleh seorang Suriah bernama Abdullah, bahwa ia pergi ke kebun Banu Amir, dan ia melihat seorang anak muda yang duduk pada sebuah tikar sembahyang, meletakkan sisi  pakaiannya pada mulutnya. Ia bertanya: “Siapa itu?” Dan itu berkata kepada dia: “(MHMD) putra Hassan”. (32) Ikmal al-Din. hal. 436.

Saduq telah melaporkan sebuah kisah yang panjang dari Sa’ad bin Abdullah al-Qummi: Bahwa ia pergi bersama-sama dengan Ahmad bin Ishaq menghadap Imam Askari dan ia melihat seorang anak di atas pahanya, memegang dan mempermainkan buah delima keemasan. Hassan sedang memegang sebuah pena. Ketika ia ingin menulis dengan itu, anak tersebut biasa memegang tangannya, dan menaruh buah delima tersebut di depan dia. Maka ia mengembalikannya kepadanya, untuk mencegah dia dari menulis apa yang ia inginkan. Ahmad bin Ishaq mempunyai sebuah kantong untuk dia, di dalamnya beberapa pemberian dari Syi’ah dan para pelayan Imam, maka ia menaruhnya di depan dia. Ia berkata kepada anak tersebut: “Buka segel itu.” Ia menolak dan berkata: “Apakah diperbolehkan bagiku untuk mengambil dengan tangan suciku, pemberian dan harta kekayaan yang tidak suci, yang suci telah bercampur dengan yang tidak suci?” Ahmad bin Ishaq mengambil kantong tersebut dan memisahkan menjadi dua. Anak tersebut menerangkan cerita tentang harta kekayaan dan pemberian tersebut satu demi satu…(33) Ikmal al-Din hal. 454 -456.

Pada kisah yang lain dilaporkan juga oleh Saduq dari Ahmad bin Ishaq, ia berkata bahwa ia menanyai Imam tentang pengganti (kalifah) setelah dia, dan ia membawa putranya dan memperkenalkan dia kepadanya. Tetapi ia tidak puas, oleh karena itu ia menanyai dia: “Wahai tuanku adakah tanda yang akan memuaskan hatiku?” Anak tersebut berbicara dengan bahasa yang sangat fasih: “Aku adalah Baqiyyah Allah di bumiNya, satu-satunya untuk membalas dendam musuhnya. Janganlah mencari suatu tanda setelah mata (apa yang kamu sudah melihat).” Imam Askari kemudian berkata, “Ini adalah salah satu dari rahasia Allah. Ambillah apa yang aku berikan kepada kamu, rahasiakan (cerita)nya dan berterimakasihlah”. (34) Ikmal al-Din hal. 384.

Tusi melaporkan di dalamnya ‘Al-Ghaybah’ dari Kamil bin Ibrahim al-Madani, bahwa ia pergi menghadap Imam Askari untuk menanyai dia tentang beberapa isu. Karena ia sedang duduk di dalam rumah, angin menurunkan tirai pintu, dan melihat ada seorang anak muda seterang bulan. Ia berkata kepada Kamil: “Wahai Kamil bin Ibrahim, kamu sudah datang kepada sahabat Allah, buktiNya dan pintuNya, menanyai dia anu dan anu? Ia menjawab: “Ya, demi Allah!”. Kemudian tirai tersebut menggulung ke posisi semula. kamil tidak bisa memindahkannya dan tidak melihat dia setelah itu”. (35) Tusi: Al-Ghaybah hal.148 -149.

Hal itu dilaporkan juga dari Isma’Il bin Ali Nubakhti, bahwa ia pergi kepada Imam Askari satu jam sebelum kematiannya. Imam meminta dari pelayannya ‘Aqid’ masuk ke dalam rumah dan membawa keluar anak tersebut. Abu Muhammad berkata kepada dia: “Bergembiralah putraku, karena kamu adalah ‘Sahib Al-Zaman’ itu, Mahdi, bukti Allah di atas bumiNya. Kamu adalah putraku ahli waris wasiatku, aku melahirkan kamu. Kamu adalah Muhammad bin Hassan. Kamu adalah segel Imam yang suci. Nabi (SAAW) telah meramalkan tentang kamu, dan telah memberitahukan sebelumnya tentang kamu, dan telah memberi julukan sedemikian kepada kamu. Ayahku telah memberi perjanjian ini kepada saya dari nenek moyangmu yang suci. (36) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal.165.

10.3. PENAMPAKAN MAHDI PADA SAAT KEMATIAN BAPAKNYA

Dari semua sejarawan zaman dahulu, hanya Muhammad bin Ali Saduq yang menyebutkan cerita lain seperti cerita Abu al-Adyan al-Basri yang berkata:

‘Aku sedang melayani Hassan bin Ali, membawa suratnya ke kota. Suatu hari aku pergi kepada dia pada saat penyakitnya yang mendorong kematiannya. Ia menulis beberapa surat, dan berkata: “Pergi dengan ini ke kota, karena kamu akan pergi selama lima belas hari dan kamu akan pergi ke Surr Man Ra’a pada hari ke-15. Dan kamu akan mendengar ratapan di rumahku, dan kamu menemukan aku di mana orang-orang memandikan (setelah kematianku).

Aku berkata kepada dia: “Wahai tuan jika itu terjadi, kemudian siapa?”

Ia menjawab: ”Seseorang yang meminta dari kamu jawaban suratku, ia akan menjadi Qa’im setelah aku.”

Aku berkata kepada dia: “Ceritakan lagi !”

Ia berkata: “Seseorang yang berdoa untuk aku, ia akan menjadi Qa’im setelah aku.”

Aku berkata: “Ceritakan lagi !”

Ia berkata: “Seseorang yang menceritakan apa yang ada di dalam ‘al-Hamyan’ (semacam kantong), ia akan menjadi Qa’im setelah aku.”

Aku meninggalkan dia, dengan surat di tanganku, pergi ke kota, dan menerima jawaban dari mereka, dan kemudian aku meneruskan perjalanan ke Surr Man Ra’a pada hari ke-15, sebagaimana yang ia katakan. Lihatlah! Aku mendengar ratapan di dalam rumahnya, dan ia berada di tempat pemadian. Dan melihat Ja’far bin Ali saudaranya, di ambang pintu rumahnya dan Syi’ah mengelilingi dia, mengucapkan pernyataan duka cita mereka dan memberi ucapan selamat kepada dia. Aku berkata kepada diriku sendiri, jika ini akan menjadi Imam, maka Imamah akan menjadi tidak valid, karena aku mengetahui dia minum ‘Nabidh’ (semacam anggur), dan ia berjudi di al-Jawsaq dan ia memainkan Tamborine. Aku maju ke depan, memberi pernyataan duka citaku (kepadanya), yang memberi ucapan selamat (kepadanya) dan kemudian duduk. Ia tidak menanyai aku tentang apapun. Aqid kemudian keluar dan berkata: “Wahai tuan, saudaramu telah dikafani, datang dan sholatlah kepada dia.” Ja’far bin Ali pergi bersama-sama dengan Syi’ah yang mengelilingi dia, dengan Al-Samman (Uthman bin Sa’id al-Umari) terdepan. Ketika kami masuk rumah, melihat Hassan berada di atas pengangkut dengan kain kafannya. Ja’far kemudian maju ke depan untuk men-sholati dia. Ketika ia akan mengucapkan takbir (mulai sholat), seorang anak -dengan wajah kecoklat-coklatan, dengan sedikit ikal rambutnya, dan dengan senyum mainisnya- muncul menarik pakaian Ja’far dan berkata: “Mundurlah pamanku, aku lebih berhak men-sholati bapakku.” Ja’far mundur. Wajahnya menunjukkan tanda kegeraman. Anak tersebut maju ke depan dan men-sholati dia, dan (Hassan) dikuburkan dekat kuburan bapaknya. Ia (anak tersebut) kemudian berkata: “Wahai Basri! Bawalah jawaban surat yang ada bersama kamu.” Aku memberikannya kepadanya. Aku berkata pada diriku: ‘Ini adalah dua bukti, tinggal al-Hamyan yang belum.’ Kemudian aku pergi kepada Ja’far yang sedang menghela nafas. Dan penjaga pintu berkata kepada dia: “Wahai tuan! Siapa anak itu, sehingga kita menetapkan bukti kami terhadap dia.” Ia menjawab: “Demi Allah! Aku belum pernah melihat dia sebelumnya, dan aku tidak mengetahui dia.” Kami sedang duduk ketika sekelompok orang dari Qum tiba, dan bertanya tentang Hassan bin Ali. Mereka diberitahu kematiannya. Mereka kemudian berkata, “Kepada siapa kami sebaiknya memberi pernyataan duka cita?” Beberapa orang menunjuk kepada Ja’far. Mereka mengucapkan salam kepadanya, dan memberikan pernyataan duka cita mereka dan mengucapkan selamat kepadanya. Mereka kemudian berkata: “Kami mempunyai surat dan harta, maukah Engkau menceritakan kepada kami dari siapa surat ini.” Ia berdiri sambil mengebutkan pakaiannya, dan berkata: “Kamu ingin kami mengetahui yang tak terlihat?” Ia berkata: Pelayan tersebut muncul dan berkata: “Padamu surat dari si anu dan anu dan anu dan anu, dan Hamyan tersebut mempunyai 1000 (seribu) dan sepuluh dinar di dalamnya. Mereka kemudian memberi dia surat dan uang. Mereka berkata: “Orang yang menyuruh kamu untuk mengambil itu dari kami, adalah Imam.” (37) Saduq: Ikmal al-Din hal. 475 -476.

Saduq menceriterakan cerita ini dari jalan yang lain dari Sinan al-Mausili. Ia menyatakan bahwa ketika Askari meninggal, delegasi dari pegunungan dan dari Qum datang dengan uang. Mereka tidak peduli dengan kematian Hassan. Mereka bertanya tentang ahli warisnya, dan dikatakan kepada mereka: Saudaranya, Ja’far; ia sudah pergi untuk berhibur dengan penari malam. Mereka ingin kembali tetapi Abu Abbas Muhammad bin Ja’far al-Himyari al-Qummi berkata kepada mereka: “Tinggalah bersama kami hingga lelaki ini datang dan kita akan menguji dia tentang kejujuran klaimnya. Mereka meminta dia untuk menceritakan yang tak terlihat (al-Ghayb) mengenai detail uang dan yang mereka miliki. Ia menolak mempunyai pengetahuan yang tak terlihat.

Pada saat mereka sedang meninggalkan kota ada seorang pelayan datang sambil memanggil: “Wahai anu dan anu, sambutlah tuanmu”. Mereka berkata, kami pergi dengan dia hingga kami masuk rumah tuan kami Hassan bin Ali, dan melihat putranya, Qa’im pemimpin kami, sedang duduk pada sebuah tempat tidur, seperti bulan yang memakai pakaian hijau. Kami mengucapkan ‘‘Salam’ kepadanya dan ia menjawab, dan kemudian ia berkata: “Jumlah semua uang adalah anu dan anu. Sipolan dan polan membawa sejumlah anu, dan anu dan anu membawa sejumlah anu”.

Ia terus menjelaskan hingga ia menguraikan jumlah keseluruhan. Ia juga menguraikan alat transportasi kami, pakaian kami dan binatang kami. Kami jatuh tunduk kepada Allah yang Maha Tinggi, mendesah berterima kasih pada apa yang ia beri tahu kepadaa kami, dan kami menanyai dia apa yang kami maui dan ia menjawab. Kami membawa uang kepadanya. Ia memerintahkan kami untuk tidak membawa uang ke Surr Man Ra’a setelah itu, dan bahwa ia akan menugaskan seorang laki-laki di Baghdad untuk kami, yang akan membawa uang kepadanya, dan mendapatkan tanda tangannya. (38) Saduq: Ikmal al-Din hal. 476 -479.

10.4. USAHA UNTUK MENANGKAP MAHDI

Ada suatu catatan historis yang disampaikan oleh sejumlah penulis tentang seorang polisi bernama Rashiq, yang menjelaskan suatu usaha oleh Abbasiah Al-Mu’tadid untuk menangkap Mahdi. Dan bahwa ia mengirim tiga polisi untuk itu, yang pergi ke rumah Imam Hassan Askari di Samirra’; dan bahwa mereka melihat rumah tersebut berubah menjadi air laut, dan mereka juga melihat seorang lelaki berdiri dan sholat pada sebuah tikar sembahyang, dan yakin akan tenggelam jika mereka mencoba bergerak maju ke arah dia, dan mereka kemudian meminta maaf dan kembali. (39) Tusi: Al-Ghaybah hal. 149; Al-Rawandi: Al-Kharayij wa al-Jarayih, hal. 67; Al-Majlisi: Bihar al-Anwar, vol. 13, hal. 118; Sadr. Muhammad: Al-Ghaybah al-Sughra, hal. 577.

Majlisi dan Sadr melaporkan cerita yang lain yang serupa dengan di atas, tentang persiapan Al-Mu’tadid untuk sebuah peperangan yang lebih luas dan penggerebekan rumah tersebut, dan tentang para tentara yang mendengar pembacaan (Qur’an) dari langit, dan berkumpulnya mereka di pintu masuk sedemikian rupa karena untuk menangkap sipemilik bunyi; dan keluar Mahdi di depan mereka. (40) Sadr: Al-Ghaybah Al-Sughra hal. 560; Al-Majlisi: Bihar al-Anwar, vol.13 , hal. 118.

10.5. KESAKSIAN EMPAT WAKIL

Barangkali bukti historis yang paling utama tentang keberadaan dan kelahiran Imam Muhammad bin Hassan Askari adalah kesaksian empat wakil khusus yang mengklaim mewakili dia, selama periode keghoiban kecil, dari tahun 260 AH hingga tahun 329 AH. Karena empat  wakil ini mengklaim melihat, bertemu dan mengirimkan uang kepadanya, dan juga menerima suratnya dan mendapatkan tandatangannya bagi mereka yang percaya kepada dia.

Generasi pertama dari para wakil atau duta atau utusan ini adalah orang-orang dari pengikut Imam Ali bin Muhammad Hadi dan Hassan bin Ali Askari (AS). Pemimpin mereka adalah Uthman bin Sa’id al-Umari yang menjadi utusan kedua Imam tersebut dalam mengumpulkan dana (khumus) dari Syi’ah dan membawanya kepada mereka selama hidup mereka. Syekh Tusi menguraikan mengenai dia sebagai “Syekh yang terpercaya, dan utusan yang dipuji oleh Imam.” (41) Al-Ghaybah. hal. 209 dan 214.

Dikatakan bahwa ia mempunyai kepercayaan dari kedua Imam. Ia tidak hanya wakil mereka dalam pengumpulan dana, tetapi ia memainkan peran yang lebih penting lagi dalam mengambil surat dari (kedua) Imam kepada masyarakat Syi’ah. Ia menikmati penghormatan yang tinggi di antara mereka. Syekh Tusi melaporkan di dalam ‘al-Ghaybah’, sebuah kisah dari Ahmad bin Ishaq al-Qummi yang berkata: “Aku pergi kepada Abu Hassan Ali bin Muhammad (Imam Hadi) pada suatu hari, dan berkata kepada dia: “Wahai Tuan! Aku biasa tidak hadir dan kemudian hadir dan aku tidak mungkin diubah bilamana aku hadir, untuk menemui kamu, maka pernyataan siapa  yang kami terima, dan instruksi siapa yang kami patuhi?” Ia berkata kepadaku: “Ini adalah Abu Amr yang terpercaya dan handal, apapun yang ia ceritakan kepada kamu, adalah dari aku, dan apa saja yang ia berikan kepada kamu, adalah dari aku.” Ketika Abu Hassan meninggal, suatu hari aku pergi kepada Abu Muhammad Hassan Askari, aku menceritakan kepada dia serupa dengan yang aku ceritakan kepada bapaknya. Ia menjawab, “Ini adalah Abu Amr, yang terpercaya yang jujur, yang dapat dipercaya oleh yang (Imam) dulu dan kepercayaanku dalam hidupku dan kematianku. Apapun yang Ia ceritakan kepada kamu adalah dari aku, dan apapun yang ia berikan kepada kamu, adalah dari aku. “(42) Al-Ghaybah. hal. 215.

Kisah ini menyingkapkan bahwa al-Umari bukanlah satu-satunya wakil dalam pengumpulan dana, tetapi ada juga yang memainkan peran yang lain yang lebih besar dari hal itu dalam mengambil pesan dari kedua Imam -Hadi dan Askari- kepada Syi’ah, dan menikmati penghormatan yang tinggi dari orang-orang.

Tusi juga melaporkan dari Ahmad bin Ali bin Nuh Abu Abbas al-Sirafi yang berkata: “Abu Nasr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad, yang dikenal sebagai Ibn Barniyyah al-Katib menceritakan kepada mereka bahwa: Beberapa sarjana hadith Syi’ah Imamiah yang mulia menceritakan kepada dia bahwa: Abu Muhammad Abbas bin Ahmad al-Sa’igh berkata: “Hussain bin Ahmad al-Khusaibi, berkata: Muhammad bin Ismail dan Ali bin Abdullah al-Husnayan menceritakan kepada aku bahwa: “Kami pergi kepada Abu Muhammad Hassan di ‘Surr Man Ra’a, dan dengan dia sekelompok pendukung dan pengikut setianya. Badr, pelayannya datang dan berkata: “Wahai Tuan, ada beberapa orang di pintu gerbang, mereka orang-rang asing dan para musafir.” Ia berkata kepada mereka: “Ini adalah para pendukung kami di Yemen (sebagai bagian dari tradisi panjang yang dikutip) hingga ia mengakhiri dengan pernyataan Hassan kepada Badr: “Pergi dan bawa kepada kami Uthman bin Sa’id al-Umari.” Tidak lama kemudian ketika Uthman tiba. Abu Muhammad berkata kepada dia: “Pergilah wahai  Uthman, kamu adalah wakil, yang dapat dipercaya dan jujur terhadap dana Allah, dan kumpulkanlah dari orang-orang Yemen, dana yang telah mereka bawa (ia mengutip bagian sisa dari tradisi tersebut) hingga ia berkata, kemudian kami semua berkata: “Wahai tuan! Demi Allah, Uthman adalah yang terbaik di antara para pendukungmu dan kami sudah belajar lebih banyak perihal posisinya dalam pelayananmu. Ia adalah wakilmu dan lelaki yang dapat dipercaya terhadap kekayaan Allah,” Ia berkata: “Ya, bersaksilah bahwa Uthman bin Sa’id al-Umari adalah wakilku. Putranya Muhammad adalah wakil dari putraku, Mahdimu.” (43) Al-Ghaybah. hal. 215-216.

Haruslah dicatat bahwa, sebagai tambahan terhadap kehandalan dan keterwakilan Al-Umari, laporan ini juga menegaskan kehandalan dan keterwakilan putranya.

Tusi melaporkan dari Abu Muhammad Harun bin Musa, yang berkata: Ja’far bin Muhammad bin Malik al-Fazari menceriterakan dari sekelompok Syi’ah, di antara mereka adalah: Ali bin Bilal, Ahmad bin Hilal, Muhammad bin Mu’awiyah bin Hakim dan Hassan bin Ayyub bin Nuh (dalam sebuah tradisi terkenal yang panjang) bahwa mereka semua berkata: “Kami berkumpul di tempat Abu Muhammad Hassan bin Ali, menanyai dia tentang Hujjah setelah dia; Ada 40 (empat puluh) orang dengan dia. Uthman bin Sa’id al-Umari berdiri dan berkata kepada dia. “Wahai putra Rasulullah (SAAW) aku ingin menanyai kamu tentang suatu hal yang kamu mengetahui lebih baik daripada aku.” Ia berkata kepada dia: “Duduklah  Uthman.” Ia berdiri untuk keluar sambil marah. Ia berkata: “Tak seorangpun dari kamu perlu keluar.” Tak seorangpun dari kami ke luar, hingga setelah satu jam. Ia (Imam) berteriak kepada Uthman. Ia berdiri. Ia kemudian berkata: “Perlukah aku menceritakan kepadamu apa yang kamu bawa? Kamu datang dalam rangka menanyai aku tentang Hujjah setelah aku.” Mereka menjwab: “Ya,” Seorang anak yang mirip bulan, lebih dari siapapun, Abu Muhammad berkata, ‘ke sini’. Ia kemudian berkata: “Ini adalah Imammu setelah aku dan penggantiku tentang kamu, urusan akan berada pada dia.” (44) Al-Ghaybah. hal. 217.

Tusi berkata -dari cucu lelaki Al-Umari, Hibat al-Lah: bahwa ketika Hassan bin Ali meninggal, Uthman bin Sa’id menghadiri pemandiannya dan mengawasi pemakamannya seperti menkafani, memberi wangi-wangian kepada dia dan penguburan sebagaimana yang diperintahkan dan didiktekan oleh keadaan….. (dokumen yang berisi) tandatangan Sahib Al-Amr (Mahdi) yang berasal dari Uthman bin Sa’id, dan putranya Abu Ja’far, kepada para pendukungnya dan pengikut bapaknya yang tulus tentang semua larangan dan perintah, dan juga jawaban kepada apa yang Syi’ah tanyakan ketika ada kebutuhan untuk ditanyakan, dan dengan tulisan tangan yang sama dengan sewaktu Hassan. Sehingga Syi’ah tidak pernah berhenti mempercayakan dan meletakkan kepercayaan kepada mereka berdua, hingga kematian Uthman bin Sa’id. (45) Al-Ghaybah. hal. 216.

Dengan cara ini Al-Umari menjadi seorang wakil khusus Imam Mahdi, setelah ia mengklaim keberadaannya dan kelahirannya dan mewakili dia. Ahmad bin Ishaq sekali waktu menanyai dia dan Al Umari berkata kepada dia: “Kamu sekarang seorang yang pernyataan dan kejujurannya tidak diragukan. Aku menanyai kamu, demi Allah, dan demi kebenaran kedua Imam yang bersandar pada kamu, sudahkah kamu melihat putra Abu Muhammad –sang Sahib Al-Zaman? Ia menangis kemudian ia berkata: “Dengan syarat kamu tidak akan menceritakan hal itu kepada seseorang, selama aku hidup.” Ia berkata: “Ya.” Ia kemudian berkata: “Aku sudah melihat dia, dan lehernya seperti ini (yang ia maksudkan, adalah yang terbaik dalam kecantikan dan kesempurnaan)”. Ia berkata: “Apa namanya?” Ia menjawab, “Kamu telah dilarang mengenai hal itu.” (46) Al-Ghaybah. hal. 215.

Uthman bin Sa’id al-Umari meninggal dua tahun setelah kematian Imam Askari, dan putranya, Muhammad menggantikan dia sebagai wakil antara Imam Mahdi dan Syi’ah.

Kulayni dan Tusi telah melaporkan (dokumen dengan) tanda tangan dari Imam dengan pengesahan dan rekomendasinya, dan juga tentang penunjukan sebagai wakil khusus. (47) Al-Ghaybah. hal. 218.

Abdullah bin Ja’far Al-Himyari al-Qummi, pemimpin Syi’ah di Qum, berkata bahwa: “Mahdi telah mengirim kepada Al-Umari yunior suatu (dokumen) yang ditandatangani di mana ia berkata: “Sungguh dari Allah kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali, dalam ketundukan kepada perintahNya dan penerimaan terhadap keputusanNya. Bapakmu telah hidup dalam suatu kehidupan yang bahagia dan meninggal sebagai seorang yang patut dipuji. Semoga Allah mengasihi dia, dan mengumpulkan dia dengan sahabatnya dan orang-orang yang dicintainya. Ia telah bekerja keras secara terus menerus untuk melayani mereka, yang membawa dia semakin dekat kepada Allah. Semoga Allah memaafkan dan mengasihi dia. Tentang kebahagiaan sempurna dan suksesnya, Allah telah menganugerahi dia seorang putra seperti kamu, yang akan menggantikan dia setelah dia, dan pada tempatnya dalam urusannya, yang akan mencari kemurahan hati bagi dia. Aku berkata: Semua pujian adalah kepada Allah, semoga Ia membantu, memperkuat dan memberi tenaga kepada kamu dan memberi kamu kesuksesan. Ia adalah sahabat, pelindung, dan yang mencukupimu.” (48) Al-Ghaybah. hal. 230.

Al-Himyari berkata: “Ketika Abu Amr (Uthman bin Sa’id) meninggal, surat dengan tulisan tangan yang sama sebagaimana yang biasa datang kepada kami, (menginstruksikan) bahwa kami menempatkan Abu Ja’far pada tempatnya. (49) Al-Ghaybah. hal. 230.

Muhammad bin Ibrahim bin Mahziyar al-Ahwazi berkata bahwa yang datang berikutnya kepadanya setelah kematian Abu Amr: “Anak tersebut, semoga Allah melindungi dia, ia tidak pernah berhenti dipercaya oleh kami pada masa hidup bapaknya, semoga Allah meridhoi dia, ia akan bersama kami seperti ayahnya, melakukan apa yang ia lakukan. Anak tersebut akan melaksanakan dan menyelesaikan perintah kami. Semoga Allah bersama dia. Dengarkan dia dan jelaskan perilaku kami ini.” (50) Al-Ghaybah. hal. 230.

Tusi telah melaporkan dari Ishaq bin Yaqub bahwa ia berkata: ‘Aku meminta Muhammad bin Uthman al-Umari untuk membawakan suratku, di dalamnya aku bertanya (kepada Mahdi) tentang beberapa isu yang tidak jelas bagi saya. Ia menandatanganinya dengan tulisan tangan yang sama dengan tuan kami, pemilik rumah’: “Muhammad bin Uthman al-Umari, (semoga Allah meridhoi dia) dan ayahnya sebelum dia. Ia satu-satunya yang saya percayai dan suratnya adalah suratku.“ (51) Al-Ghaybah. hal. 230.

Bilamana Al-Umari ditanya: Sudahkah kamu melihat Mahdi. Ia biasa menjjawab: “Ya, terakhir aku melihat dia di Haram di Makkah, dan ia  berkata: “Wahai Allah, penuhi apa yang sudah engkau janjikan kepadaku.” Dan aku melihat dia berpegang pada tirai Ka’bah di Mustajar, dan ia sedang berkata: “Wahai Allah, balaskan untukku terhadap musuhku.” Demi Allah, pemilik urusan ini menghadiri kesempatan (Hajj) setiap tahun, dan ia akan melihat orang-orang dan mengidentifikasi mereka.” (52) Al-Ghaybah. hal. 222.

Tusi berkata bahwa: “Tanda tangan yang dikeluarkan dari Al-Umari sepanjang hidupnya adalah dengan tulisan tangan yang sama dengan ketika masa ayahnya. Syi’ah tidak mengetahui apapun selain dari ini dalam hal ini.” (53) Al-Ghaybah. hal. 221.

Al-Umari yunior melanjutkan posisi yang sama selama sekitar lima puluh (50) tahun, ketika ia meninggal pada permulaan abad keempat Hijrah (305 AH), ia memberikan wasiatnya kepada Hussain bin Ruh al-Nubakhti, salah satu dari sepuluh wakilnya di Baghdad. Nubakhti, yang meninggal pada tahun 325 AH, memberikan wasiatnya kepada wakil keempat, Ali bin Muhammad Al-Samri (Al-Saimiri) sebagai penggantinya setelah dia, dan sebagai wakil Imam Mahdi, yang ghoib. (54) Saduq: Ikmal al-Din hal. 503.

Di samping empat wakil ini, sekitar dua puluh empat (24) orang lainnya dari sahabat kedua Imam -Hadi dan Askari- atau para pengikut mereka mengklaim menjadi wakil, seperti Hassan Al-Shari’i, Muhammad bin Nasir Al-Namiri, Abu Hashim Dawud bin Qasim, Al-Jafari, Ahmad bin Hilal Al-Ibrata’i, Muhammad bin Ali bin Bilal, Ishaq Al-Ahmar, Hajiz bin Yazid, Muhammad bin Salih Al-Hamdani, Muhammad bin Ja’far bin Aun Al-Asadi Al-Razi, Muhammad bin Ibrahim bin Mahziyar, Hussain bin Mansour Al-Hallaj, Ja’far bin Suhail Al-Saiqil, Muhammad bin Ghalib Al-Isfahani, Ahmad bin Ishaq Ash’ari Al-Qummi, Qasim bin Muhammad bin Ali bin Ibrahim Al-Hamdani, Muhammad bin Salih Al-Qummi, Qasim bin Al-Ala dan putranya Hassan, Muhammad bin Ali Al-Shalmaghani bin Abi Al-Azaqir dan akhirnya Abu Dalf al-Katib.

Banyak dari orang-orang ini mengklaim adanya suatu hubungan yang khusus antara mereka dengan dua Imam -Hadi dan Askari, dan karenanya juga dengan Imam Mahdi. Sebagaimana banyak dari mereka juga mengklaim mampu menghasilkan keajaiban/ mukjizat, dan menguasai pengetahuan tentang yang tak terlihat (Ghayb) dan mereka menyajikan surat-surat rahasia yang mereka klaim datang dari Imam yang ghoib, dan mereka mengumpulkan dana dan hak yang sah dari orang-orang.

Syi’ah Imamiah yang percaya pada keberadaan Imam yang ke dua belas telah berbeda antara diri mereka tentang kebenaran klaim wakil ini, dan validitas klaim seperti ini. Beberapa di antara mereka menerima dan percaya pada klaim empat wakil awal. Kelompok yang lain seperti Nusayriyyah percaya pada klaim Shari’i dan Namiri. Beberapa yang lain percaya pada klaim dari kelompok yang lain.

Bagaimanapun, beberapa orang menghormati keberadaan empat (orang) wakil dan yang lainnya, karena kesaksian historis pada keberadaan seorang putra dari Imam Hassan Askari, yang menjadi Imam Mahdi, sebagai tambahan terhadap kisah historis tersebut yang  membahas kelahirannya, dan dirinya melihat pada masa hidup ayahnya dan pertemuannya dengan dia setelah itu.

Sayed Muhammad Baqir Sadr berkata di dalam bukunya ‘Bahth hawl al-Mahdi,’ “Adalah tidak masuk akal bahwa semua wakil yang pantas, dipercaya dan handal ini akan berbohong dalam klaim mereka tentang menjadi wakil atau tentang keberadaan Imam Mahdi, setelah konsensus Syi’ah tentang kejujuran, kesalehan dan takutnya pada Tuhan dari mereka.

Sebagian sarjana hadith zaman dahulu, seperti Nu’mani Muhammad bin Abi Zaynab menganggap adanya empat wakil khusus ini, pada periode keghoiban kecil dan tidakadanya mereka pada periode keghoiban besar, yang berlanjut dari waktu itu hingga kemunculan Mahdi, dan kesesuaian kedua periode tersebut dengan laporan tentang adanya dua keghoiban kecil dan besar dari Imam Mahdi, sebagai bukti keberadaan Muhammad bin Hassan Askari, dan validitas keghoibannya.

10.6. SURAT DARI MAHDI

Saduq, Tusi, Ibn Shahra’ashub dan Tabrisi telah menyebutkan sejumlah surat yang mereka klaim telah dikirim oleh Imam Muhammad bin Hassan Askari, kepada sejumlah wakilnya pada periode keghoiban kecil. Di antara ini adalah yang dilaporkan Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ dari Ahmad bin Ishaq Ash’ari al-Qummi, yang berkata bahwa ia telah menulis kepada Ibn Hassan sebuah surat tentang klaim Ja’far bin Ali Hadi, karena masyarakat Qum mengikuti dia setelah kematian saudaranya. Ia berkata di dalamnya: ‘Sahib Al-Zaman telah menulis sebuah surat kepadanya, berisi menyalahkannya dan kecurigaannya kepada Ja’far tentang ketidak-tahuan agamanya dan ketidaktaatannya, minum-minuman kerasnya dan penentanganya kepada Allah, dan tidak mempunyai bukti apapun, dan panggilannya untuk menguji dia dan menegaskan tidak diperbolehkannya Imamah pada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain’. (55) Tusi: Al-Ghaybah, hal.174 -176.

Sebagaimana Tusi juga melaporkan sebuah kisah kedua dari Ibn Abi Ghanim Al-Qazwini bahwa ia, dan sekelompok Syi’ah berbeda tentang keberadaan pengganti (Imam Askari) dan mereka bertengkar diantara mereka. Mereka kemudian menulis sebuah surat mengenai hal itu dan mengirimnya kepada Al-Nahiyah, dan memberi tahu dia tentang pertengkaran mereka mengenai hal itu. Tanggapan kepada surat mereka datang dengan tulisan tangan (Mahdi) dan berisi kata-kata kesedihan dan kasihan kepada mereka, dan sebuah ajakan kepada ketundukan dan tidak mencoba untuk membongkar rahasia keghoiban. (56) Tusi: Al-Ghaybah, hal.172 -174.

Terdapat surat ketiga yang dilaporkan oleh Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ dari Ishaq bin Yaqub yang berkata: “Aku meminta Muhammad bin Uthman al-Umari untuk membawakan  sebuah surat untukku (kepada Mahdi) di mana aku menanyakan tentang beberapa isu yang sudah membingungkan aku. Tanggapan datang dalam tulisan tangan tuan kami ‘Sahib Al-Dar’ (Mahdi) dan di dalamnya ada kata-kata berikut: “Perihal peristiwa yang terjadi, mengacu pada perawi tradisi kami mengenai mereka. Mereka adalah buktiku atas kamu dan aku adalah bukti Allah pada mereka.” Surat itu berisi rekomendasi (dari Mahdi) dan kepercayaannya pada Al-Umari, demikian juga pengesahan khums selama keghoiban, dan larangan bertanya tentang penyebab dan alasan keghoiban. (57) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 483; Tusi: Al-Ghaybah, hal.186 -188.

Saduq menyampaikan surat yang lain di dalam ‘Ikmal al-Din’, dari Imam Mahdi kepada wakil yang pertama Uthman bin Sa’id Al-Umari dan putranya, Muhammad – wakil kedua. Ia menyebutkan di dalamnya cerita konflik di antara Syi’ah tentang pengganti, dan perkataan dari beberapa di antara mereka bahwa tidak ada selain Ja’far bin Ali. Ia meminta (di dalamnya) dari Syi’ah untuk tidak mencari apapun yang disembunyikan bagi mereka, sehingga tidak melakukan dosa, dan tidak membongkar apa yang Allah telah sembunyikan agar mereka tidak menyesali hal itu, dan melekatkan hanya kepada penyebutan umum, pernyataan tidak langsung, tanpa penjelasan dan penyingkapan. (58) Saduq: Ikmal al-Din hal. 510.

Ibn Shahra’ashub di dalam ‘Al-Manaqib’ dan Tabrisi di dalam ‘Al-Ihtijaj’ lebih lanjut telah menyebutkan bahwa: Mufid telah membawa keluar atau menerbitkan salinan surat yang dikatakan telah dikirimkan oleh Imam Mahdi kepadanya, melalui sebuah desa Arab, dan dengan tulisan tangan orang lain. Mahdi menyebut Mufid di dalamnya – saudara yang saleh, guru yang dipandu dan juru selamat yang membantu, seseorang yang diilhami kebenaran dan buktinya, pelayan yang baik, penolong kebenaran yang mengajak kepada hal itu dengan kata-kata kebenaran. (59) Lihat juga Al-Nuri al-Tabrisi: Khatimah al-Mustadrak, vol. 3 hal. 518; Al-Jaza’iri: Al-Anwar al-Nu’maniyyah vol. 2 hal.21; Ibn Bitriq al-Hilli: Risalah Nahj al-Ulum; Al-Tankabani: Qasas al-Ulama’, hal. 399.

Itulah cerita yang paling penting yang dilaporkan tentang penampakan Imam Muhammad bin Hassan Askari, pada saat kelahirannya, pada masa hidup ayahnya, dan pada saat kematiannya dan sebelum kematiannya. Ada cerita lain yang diberitakan tentang penampakan dia di Mesjid Agung (Makkah) di dalam ‘Tawaf” atau di suatu lembah kampung Taif, atau di Madinah atau di sini atau di sana, dan ini semua tidak begitu penting dan lebih lemah berkaitan dengan perawi mereka.

Barangkali cerita dari Hakimah dan Abu Al-Adyan al-Basri adalah dua cerita yang paling terkenal yang memberitakan kelahiran dan keberadaan Imam ke-12.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: