BAB VIII. BUKTI AKAL KEBERADAAN MAHDI

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB VIII

“BUKTI” KEBERADAAN IMAM MAHDI (MUHAMMAD BIN HASSAN AL-ASKARI)

8.1. BUKTI FILOSOFIS (PERSYARATAN PERTAMA: BUKTI AKAL)

Syi’ah 12-Imam, yang percaya pada keberadaan seorang putra tersembunyi dari Imam Hassan Askari, dan keberlanjutan hidupnya sampai saat ini hingga hari kemunculannya pada masa yang akan datang, menyajikan berbagai bukti tentang masalah ini. Yang paling utama darinya adalah bukti akal atau bukti filosofis.

Bagaimana bukti ini disajikan? Dan atas dasar apa ?

Dikatakan bahwa:

Pertama: Perlunya adanya Imam (pemimpin) di muka bumi, dan ketidakmungkinan dunia berada dalam kebingungan tanpa suatu pemerintahan.

Kedua: Perlunya ‘ismah’ dari Allah pada Imam, dan ketidakmungkinan sebuah pemerintahan oleh para ahli hukum (Fuqaha) atau para penguasa biasa.

Ketiga: Perlunya adanya Imam dan membatasi imamah pada Ahl al-Bayt, dan anak-anak Ali dan Hussain hingga hari Kebangkitan

Keempat: Percaya pada meninggalnya Imam Hassan Askari, dan tidak menerima keghoibannya atau paham kemahdiannya.

Kelima: Memancangkan hukum warisan secara vertikal, dan ketidakmungkinan perpindahan  Imamah kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain.

Ahli ilmu agama yang menulis tentang paham Mahdi Muhammad bin Hassan Askari, dahulu dan sekarang, biasa menyajikan bukti akal sebagai bukti yang paling utama tentang keberadaannya. Mereka menekankan begitu pentingnya bukti akal dalam proses berargumentasi.

Syekh Shoduuq (306-381 AH) telah menyampaikan statemen seorang ahli ilmu agama Syi’ah zaman itu (ulama salaf Syi’ah): Abu Sahl Ismail bin Ali Nubakhti (wafat 310 AH) yang memperlihatkan bahwa bukti tentang adanya Imam Mahdi adalah bukti akal. Ia menyebutkan di dalam bukunya ‘Al-Tanbih’, yang ia tulis tiga puluh (30) tahun setelah keghoiban: “Syi’ah mengetahui keberadaan putra Hassan melalui bukti, karena mereka mengenal Allah dan Nabi (SAAW) dan isu keagamaan yang lain melalui bukti.” (1) Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 92.

Syekh Mufid (338-413 AH) berpendapat bahwa: “bukti akal yang mensyaratkan keberadaan Imam yang ma’shum pada setiap zaman, adalah cukup membuktikan tentang keberadaan putra Hassan (Al-Askari) dan membatasi Imamah pada dia.” Ia juga berkata: ”Ini adalah suatu prinsip yang tidak akan memerlukan kisah apapun dari dalil (hadits), karena hal itu berdiri sendiri terhadap akal, dan kebenarannya melalui bukti.” (2) AL-MufiidL: Al-Irshad hal. 347.

Syekh Al-Karajiki (427 AH) telah menggunakan bukti akal sebagai dasar perlunya Imamah dan perlunya ‘ismah’ pada Imam, proses dalam menetapkan keberadaan seorang putra dari Imam Hassan Askari, dan menetapkan Imamahnya dan kebenaran keghoibannya, yaitu dengan menetapkan ‘ismah’ pada dia dan kemungkinan kekeliruan dari penuntut Imamah lainnya. (3) Al-Karajiki: Kanz al-Fawaid, hal. 345.

Sayyid Murtada Alam al-Huda (355-436 AH) berkata: “Akal mensyaratkan perlunya kepemimpinan sepanjang masa: Pemimpin tersebut harus ma’shum… Jika dua prinsip ini telah ditegakkan, karena atribut yang dipersyaratkan, dan perlunya Imam sebagaimana ditunjukkan, maka harus dikatakan bahwa: Sahib al-Amr (Imam) itu sendiri, tidak ditemukan kecuali pada dia, dan keghoiban akan berlanjut selama diperlukan, tanpa keraguan apapun… dan juga karena, jika Imamah dari seseorang yang Imamahnya telah ditetapkan melalui pemilihan, karena tidak tersedianya atribut yang ditandai oleh akal; dan statemen dari orang yang berbeda (dengan dia), dari ekstrimis Syi’ah, maka tidak ada pilihan lain pada pendirian kami; hal itu harus sah, jika tidak Ummah telah kehilangan kebenaran.” (4) Al-Murtado: Risalah fi al-Ghaybah, hal. 2-3.

Sayyid Murtada menolak perlunya menyaksikan Imam, dalam rangka mempercayai keberadaannya, setelah kemungkinan mengetahui dia melalui argumentasi akal. Ia menyangkal di dalam ‘Al-Shafi’ statemen ulama Mu’tazilah – Qadi Abd al-Jabbar al-Hamadani, di mana di dalam ‘Al-Mughni’ ia menolak keberadaan Imam ke dua belas, dengan berkata: “Kepercayaan Syi’ah tentang ‘ishmah’ telah mendorong mereka untuk menetapkan orang yang sebenarnya tidak ada. Mereka sudah menetapkan pada saat itu seorang Imam yang diberikan ciri dengan garis keturunan dan nama, tanpa seorangpun yang mengetahui tentang dia atau mempunyai gagasan paling sederhana sekalipun tentang orangnya atau tanda-tandanya.” Murtada berkata di dalam Al-Shafi: “Statemennya ini dibangun semata-mata pada klaim dan usulan belaka. Kami sudah menetapkan perlunya Imamah pada setiap zaman, yang tidak bisa diperdebatkan atau disangkal.” (5) Al-Murtado: Al-Syafii, vol. 1 hal. 79-80.

Syekh Thuusii (385-460 AH) berkata: ”Seseorang yang percaya akan perlunya mempertimbangkan bukti akal, maka akan percaya kepada keberadaan Sahib al-zaman (Mahdi) dan Imamahnya.” (6) Talkhis al-Syafi’ hal. 211.

Ia berkata: “Imam hari ini adalah ahli waris, bukti, Qa’im, Mahdi yang ditunggu – Muhammad bin Hassan – Sahib al- zaman…. Mahdi hidup dan ada sejak zaman bapaknya Hassan Askari hingga waktu kita kini dengan bukti berikut: Pada setiap zaman harus mempunyai Imam, yang ma’shum, hal ini menjadi kewajiban Allah sepanjang masa.” (7) Masaa’il Kalamiyyah/ Al-Masa’il al-Asyr’ hal. 99.

Syekh Thuusii mengolongkan bukti tentang kelahiran Sahib al-zaman (Mahdi) ke dalam dua kategori, yakni dalil akal dan dalil textual (tradisi/ hadist). Ia menekankan tentang pentingnya bukti akal secara berdiri sendiri, dengan berkata: “Tentang isu kelahiran Mahdi (Sahib al-Zaman) dan validitasnya, ada bukti akal dan juga bukti hadits. Perihal bukti akal, yaitu: Jika Imamahnya ditetapkan sebagaimana yang sudah kita buktikan (melalui bukti akal) dan semua bagian kecuali bukti akal, yang memastikan Imamahnya tidak valid, kita akan tetap mengetahui dengan bukti akal mengenai validitas kelahirannya, sekalipun sama sekali tidak ada hadits yang telah melaporkan mengenai hal itu.“ (8) Thuusii:Al-Ghaybah hal. 138.

Ia berkata setelah mempresentasikan bukti ‘ismah’, bahwa Imam harus ma’shum dan juga kebenaran selalu ada pada Ummah, ia berkata: “Jika prinsip ini ditegakkan, maka Imamah dari Mahdi (Sahib al-Zaman) akan ditetapkan, karena seseorang yang yakin tentang penetapan ‘ismah’ bagi Imam, juga yakin bahwa ia adalah Imam.” (9) Al-Ghaybah hal. 15.

Thuusii mencoba menyangkal klaim sekte Syi’ah yang berbeda seperti al-Kisaniyyah, al-Nawusiyyah, al-Fathiyyah, al-Waqifiyyah dan lainnya, di antara sekte-sekte yang mengklaim ‘ismah’ pada Imam mereka. Ia mencapai kesimpulan sebagai berikut: ”Perlunya validitas Imamah dari putra Hassan; validitas keghoibannya; adalah dengan keberadaan hal itu (bukti akal)”, ia menolak bukti: ”kebutuhan terhadap statemen yang tersaring dalam menetapkan kelahirannya dan alasan keghoibannya, karena kebenaran tidak akan pernah meninggalkan Ummah.” (10) Al-Ghaybah hal. 3-4.

Al-Fatl al-Nisapuri membuktikan keberadaan Sahib al-Zaman (Mahdi) dan Imamahnya berdasar: “apa yang akal akan mensyaratkan bukti yang valid tentang ketidakmungkinannya dunia tanpa imam yang ma’shum, yang akan menjadi sumber rahmat bagi orang yang beriman yang bertanggung jawab.” (11) al-Nisapuri: Raudah al-Wa’idhin hal. 224.

Dengan cara yang sama Hassan bin Abi Hassan al-Dyalmi menganggap pembatasan ‘ismah’ kepada para Imam dari Ahl al-Bayt merupakan bukti keberadaan Imam yang ke dua belas – putra ‘otoritas’ dari Hassan.” (12) al-Dyalmi: ‘I’lam al-Din fi sifat al-Mu’minin hal. 52.

Abdullah bin Nasr bin Khashshab al-Baghdadi dalam rangka menetapkan keberadaan dan Imamah dari pemilik yang berdiri pada kebenaran, putra Hassan (Mahdi), berargumen menurut otoritas akal dan argumentasi yang valid,… dan perlunya teks/ dalil tentang seseorang dengan kemampuan seperti ini atau penampakan suatu mukjizat (keajaiban) tentang haknya…. Demikian juga tidak adanya atribut tersebut pada seseorang selain dari dia, yang Imamahnya telah ditetapkan oleh para pengikut Hassan bin Ali, yaitu putranya – Mahdi.” Ia berkata: “Ini adalah suatu prinsip dalam penetapan Imamah yang tidak akan mensyaratkan jenis hadits apapun, karena prinsip ini tegak berdiri pada pemiliknya di depan akal dan validitasnya dalam menetapkan bukti.” (13) al-Baghdadi: Tarikh Mawalid al-A’imah wa Wafayati bab Kelahiran Mahdi.

Al-alamah dari Hillah, Hassan bin Yusuf al-Mutahar yang datang belakangan, menetapkan keberadaan Imam Mahdi dengan pertolongan argumentasi akal, yang tersusun dari: perlunya Imamah, dan perlunya Imam yang ma’shum, perlunya suatu teks/ dalil tentang dia atau penampakan suatu keajaiban/ mukjizat di tangannya. Ia kemudian menetapkan Imamah dari Ali dan anak-anaknya melalui suatu hadits yang terkenal dari Nabi (SAAW). Ia berkata: “Imam yang ke-12 ada dan hidup sejak saat kelahirannya pada tahun 256 AH hingga ujung waktu tanggungjawab, hal ini adalah karena harus ada seorang imam yang ma’shum karena semua bukti yang umum: Seseorang selain dari dia tidak akan ma’shum, sehingga ia sendiri yang akan menjadi Imam.” (14) Al-’Alaamah Al-hili, pada bab 11 pasal 6.

Allama Muhammad Baqir Al-Majlisi menyusun proses penetapan keberadaan Imam Mahdi dengan pertolongan prinsip kebaikan akal dan kejahatan. Ia berkata: “Hukum akal menyatakan bahwa kebaikan adalah wajib bagi Allah…. Keberadaan  Imam adalah kebaikan…. Dan ia harus ma’shum, …….dan ‘ismah’ tidak bisa dilihat kecuali di dalam dia sendiri… Terdapat suatu konsensus di antara ulama (Ijma’) tentang kemungkinan berbuat salah pada seseorang selain dari Sahib al-Zaman (Mahdi). Maka hal ini menetapkan keberadaannya alaihissalaam. (15) Al-Majlisi: Bihar al-Anwar Vol. 51.

Sayyid Muhammad Sadiq al-Shadr berkata: “Kamu mengetahui bahwa Ummah berada dalam kebutuhan yang sangat akan seorang imam yang ma’shum… Tidak ada keraguan bahwa kebutuhannya tidak terbatas pada beberapa periode saja…. Maka kebutuhan Imam memaksa kami untuk percaya akan keberadaan Imam Mahdi… Karena tidak ada Imam yang lain yang diklaim ada kecuali dia… Ini adalah sebuah fakta yang nyata.“ (14) al-Shadr: Al-Shi’ah al-Imamiyyah hal. 27.

Beberapa ahli ilmu agama (Mutakallimin) bergantung pada prinsip: “Perlunya  keberadaan seorang putra dari Imam, sedemikian sehingga Imamah akan berlanjut melalui  dia kepada anak-anaknya” untuk membuktikan keberadaan seorang putra dari Imam Hassan Askari. Syaikh Thuusii melaporkan dari Imam Ali bin Musa Ridha ysng mrngatakan: “Sahib al-Amr (Pemilik perintah) tidak pernah akan mati hingga ia melihat putranya setelah dia”, maka dengan statemen itu, ia meniadakan mereka yang berkata: “Tidak ada anak dari Abu Muhammad Al-Askari” (15) At-Thuusii: Al-Ghoibah hal. 133, 135.

8.1. PERSYARATAN KEDUA: TAHAPAN-TAHAPAN HADITS YANG MENDUKUNG AKAL

Harus dinyatakan di sini, bahwa: “Bukti akal tentang keberadaan Imam Muhammad bin Hassan Askari bukanlah semata-mata sebuah argumentasi akal murni, sehingga setiap akal manusia secara otomatis akan bisa menyerapnya. Namun juga bergantung pada beberapa premis dari hadits. Syekh Shoduuq berkata: “Klaim  keghoiban  Sahib al-Zaman berdasar pada fakta dari Imamah nenek moyangnya… Ini adalah sesuatu yang sah.… Yang tidak terbatas hanya pada akal“. (16) as-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 63.

Karena inilah, maka ahli ilmu agama Syi’ah membahas semua bagian dari bukti akal, seperti ‘ismah’ dan perdebatan isu lainnya antara mereka dengan masa muslimin, dan sekte Syi’ah lainnya, terutama Zaydiah dan Waqifiah yang percaya pada teori lain tentang paham Mahdi, yang kemudian menjadi lawan yang paling serius terhadap Syi’ah 12-Imam pada periode kebingungan tersebut.

1. Bukti hadits yang sejalan dengan akal tentang perlunya keberadaan Imam Mahdi.

Oleh karena itu, langkah pertama bukti hadits yang sejalan dengan akal adalah perlunya keberadaan Imam. Ali bin Babawaih al-Qummi (Al-Shoduuq) telah bergantung pada sejumlah besar hadits dalam rangka menetapkan hal ini. Ia melaporkan dari Imam Baqir dan Sadiq, hadits yang menandakan ketidakmungkinan dunia tanpa seorang imam, atau tanpa penguasa yang adil. Orang yang terakhir mati adalah Imam, sedemikian sehingga tidak akan ada yang dapat membantah Allah bahwa Hujjah (Imam) tidak ada. (17) Al-Shoduuq: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal. 157, 160-62.

Seperti diceritakan oleh putranya, Muhammad As-Shoduuq dari Abu Abdullah (AS) bahwa ia berkata: “Maha Suci dan Maha Mulia Allah bahwa Dia akan membiarkan dunia tanpa keadilan (hanyalah dengan Imam)”. (18) As-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 229.

Terhadap masalah ini, ia menambahkan hadits lain tentang perlunya keberadaan seorang ulama yang terkenal di dunia yang hidup, yang kepadanya orang-orang akan merujuk, mengenai semua masalah halal dan haram. Ia melaporkan dari Abu Abdullah statemennya: “Jika dunia tanpa Imam dalam sekejap mata, hal itu akan menenggelamkan manusia di atasnya.” (19) As-Shoduuq: ’Ilal al-Shara’i’ hal. 195 dan 201.

Tobari juga telah melaporkan dari Abu Abdullah yang berkata: “Dunia tidak pernah akan berhenti mempunyai seorang Hujjah (Imam) yang mengetahui berbagai hal yang halal dan haram, dan yang mengajak orang-orang kepada jalan Allah yang Maha Agung.” (20) at-Tobari: Dala’il al-Imamah hal. 230.

2. Menetapkan Imamah pada keturunan Rasulullah (SAAW)

Langkah yang kedua adalah menetapkan Imamah di dalam Ahl al-Bayt (damai atas mereka), yaitu dengan bergantung pada hadits yang bersifat ramalan yang mengatakan: “Aku meninggalkan di belakangku dua hal yang berharga di antara kamu, (yaitu) Kitabullah dan keluargaku. Mereka akan menjadi para pengganti setelah aku. Keduanya tidak akan terpisah hingga mereka datang kepada telagaku bersama-sama.” Karena istilah ‘Al-Itrah’ merupakan istilah yang umum, maka meliputi semua hubungan kekeluargaan dengan Nabi (SAAW). Dalam menafsirkan hadits ini, menurut Shoduuq, masyarakat telah memilih jalan pengetahuan tentang Sirah (riwayat hidup) Nabi, yang mengindikasikan bahwa Nabi (SAAW) merujuk pada para ulama dari keluarganya tidak termasuk yang jahil, tetapi yang saleh dan mereka takut kepada Allah, bukan yang durhaka dan yang tidak adil. (21) Al-Shoduuq: Ikmal al-Din, hal. 120.

Tobari telah melaporkan sebuah hadits yang menafsirkan statemen Allah: “Patuhi Allah dan patuhi Rasul Allah dan mereka yang punya otoritas di antara kamu.” Bahwa itu merujuk pada para Imam dari anak-anak Ali dan Fatimah hingga hari (pengadilan). (22) Tobari: Dala’il al-Imamah hal. 231.

3. Menetapkan Imamah Amir Al-Muminin (AS) dan menyangkal dirinya adalah Mahdi:

Yaitu dengan memastikan teks/ dalil yang menunjuk kekhalifahan dan Imamahnya dari Rasulullah (SAAW), dan menyangkal kepercayaan bahwa dirinya adalah Mahdi dan keghoibannya – sebagaimana yang diklaim Saba’iah – berdasarkan pada kematian yang diketahui dengan jelas dan penolakan terhadap penjelasan yang hanya diketahui kalangan terbatas. (23) Thuusii: al-Ghaybah hal. 118.

4. Menetapkan Imamah pada anak-anak Ali.

5. Menetapkan Imamah Ali bin Hussain, dan menyangkal Imamah Muhammad bin Hanafiyyah dan anggapan bahwa dia adalah Mahdi, dan juga menyangkal Imamah, ke-Mahdian dan keghoiban dari Abu Hisham Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyyah sebagaimana yang diklaim oleh Syi’ah Kissaniah. (24) Shaffar: Basa’ir al-Darajat al-Mukhtasar hal. 14 dan 170; Thuusii: al-Ghaybah hal. 118; Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 36; Ibn Babawaih: al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 193.

6. Menyangkal Imamah dari anak-anak Hassan, yang sebagian dari mereka diklaim sebagai Imam dan Mahdi seperti Muhammad bin Abdullah (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah), dan sebagai gantinya, membatasi Imamah kepada anak-anak Hussain saja. Hal ini dicocok-cocokkan dengan penafsiran firman Allah: “dan hubungan darah antara satu dengan lainnya mempunyai hubungan semakin dekat dalam hukum Allah…“ (25) As-Shoduuq Ibn Babawaih al-Qummi: al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal.179-180.

7. Ketidakmungkinan Imamah berada pada dua saudara laki-laki secara berurutan setelah Hassan dan Hussain, yang dikait-kaitkan dengan penafsiran ayat: “Dan Ia menjadikannya sebuah ’kalimat’, yang kekal di antara keturunannya.” Berdasar penafsiran bahwa ’kalimat’ di sini berarti Imamah, kata ganti yang menghubungan dengan keturunan mengacu pada Hussain bin Ali, dan ketidakmungkinan Imamah kembali kepada saudara (kandung) atau saudara sepupu, tetapi hanya dipindahkan dari bapak kepada anak saja. (26) Ibn Babawaih al-Qummi: al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal.179.

Aturan ini telah diadopsi dalam rangka menyangkal klaim Imamah yang dilakukan oleh Zayd bin Ali dan anak-anaknya, yang juga mengklaim sebagai Mahdi, atau yang diklaim oleh mereka, dan membatasi Imamah pada Imam Muhammad Baqir dan putranya Ja’far Shadiq.

8. Menetapkan Imamah dari Shadiq dan menolak anggapan bahwa dia adalah Mahdi, yang bertentangan dengan kepercayaan Syi’ah Nawussiah, yang menolak kematian Sadiq dan mengklaim bahwa dia adalah Mahdi dan keghoibannya. (27) Ibn Babawaih al-Qummi: al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal. 199; Shoduuq: Ikmal al-Din  hal. 137; Thuusii: Al-Ghaybah, hal.18.

9. Menetapkan Imamah dari Kadhim dan menolak anggapan bahwa dia adalah Mahdi, yang bertentangan dengan :

  • kepercayaan Syi’ah Isma’iliah, yang meneruskan kepercayaan mereka setelah Shadiq, kepada keturunan Isma’il, dan
  • kepercayaan Syi’ah Fathiah, yang percaya pada Imamah dari Abdullah Al-Aftah (putra sulung Imam Ja’far); dan terutama sekte yang percaya pada keberadaan seorang putra yang dirahasiakan dari dia yang bernama Muhammad bin Abdullah Al-Aftah, yang diklaim sebagai Imam dan Mahdi.

Ali bin Babawaih al-Qummi telah melaporkan sejumlah kisah Imamah dari Kadhim, dan teks/ dalil tentang (Imamah) dia dari bapaknya. Ia menolak Imamah Abdullah al-Aftah dan menyangkal klaim Isma’il tentang Imamah, karena ia meninggal pada saat Imam Shadiq masih hidup, dan itu membawa Imamah kepada Kadhim dan menghilangkannya dari anak-anak Isma’il, yang mengklaim menerima warisan Imamah, dan juga mengkliam bahwa kemunculan Mahdi adalah dari golongan mereka. (28) Ibn Babawaih al-Qummi: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al- Hayrah hal. 207.

Putranya – Syekh Shoduuq – juga melaporkan beberapa hadits tentang Imam Ali bin Musa ar-Ridha, yang telah mengkonfirmasikan tentang kematian bapaknya dan menolak dirinya adalah Mahdi, sesuatu yang ditegakkan oleh Waqifiah, yang menolak mengakui bahwa Kadhim telah meninggal. Mereka malahan mengklaim bahwa ia melarikan diri dari penjara ar-Rashid dan juga mengklaim keghoibannya dari penglihatan, sebagai langkah ke arah kemunculan kembali pada masa yang akan datang. (29) as-Shoduuq: Ikmal al-Din, hal. 39.

10. Menetapkan Imamah dari Imam sisanya seperti Ridha, Jawwad, Hadi dan Askari hingga mencapai Imam yang ke dua belas – Muhammad bin Hassan Askari.

11. Menyangkal Imamah dan ke-Mahdi-an dari Muhammad bin Ali Hadi (saudara Imam al-Askari), yang didukung oleh sebagian Syi’ah Imamiah pada waktu itu. Mereka adalah Muhammadiah, yang seperti Isma’iliah, menolak mengakui bahwa ia telah meninggal pada saat bapaknya masih hidup. Mereka meminta dengan tegas bahwa ia masih hidup dan berada dalam keghoiban; dan ia adalah Mahdi; hal ini didasarkan atas wasiat bapaknya untuk dia.

Syekh Thuusii dalam usahanya untuk membuat tidak berlakunya kepercayaan ini bergantung pada fakta kematian dari Sayyid Muhammad dan menganggap penyangkalan mengenai hal itu sebagai penyangkalan pada apa yang tidak perlu diketahui. (30) Thuusii: Al-Ghaybah hal. 120.

12. Menetapkan Imamah dari Hassan al-Askari dan menyangkal dirinya adalah Mahdi, karena sebuah usaha yang penting akan dikemukakan dalam menetapkan Imamah dan paham Mahdi dari putranya Muhammad.

Syekh Thuusii berhenti lama pada titik ini di dalam ’al-Ghaybah”nya. Ia memaparkan sejumlah laporan dari Imam Hadi, yang menetapkan Imamah dan wasiat untuk al-Askari. Ia melaporkan sebuah hadits yang memerlukan kejadian bada’ (perubahan kehendak) dari Allah tentang Imamah dari Muhammad bin Ali, dan yang diberikan kepada saudaranya, Hassan Al-Askari. (31) Al-Ghaybah hal. 121.

Thuusii mengangkat sejumlah keajaiban sebagai proses penetapan Imamah dari Askari. Keajaiban-keajaiban itu disampaikan oleh Abu Hashim al-Ja’fari. Mereka berputar-balik di sekitar pengetahuan Imam pada yang tidak terlihat (al-Ghayb).

Tidak bisa dihindari untuk menetapkan kematian Imam Askari dengan bergantung pada apa yang jelas dan nyata, dan penyangkalan paham Mahdi dan keghoibannya, demikian juga penafsiran hadits yang mengklaim ia akan kembali hidup setelah kematiannya. Hal ini dalam rangka menghalangi mereka yang percaya pada keghoiban Imam Hassan dan paham ke-Mahdi-annya. (32) Al-Ghaybah hal. 122-124.

13. Membuktikan sebaliknya Imamah dari Ja’far bin Ali Hadi.

Proses ini bergantung pada membatalkan Beliau dari Imamah; tidak memperbincangkan kemahdiannya, yaitu dengan mencurigai dia meminum khomar, tidak taat dan berbohong. (33) Shoduuq, Ikmal al-Din hal. 40 dan 133; At-Tuusii: Al-Ghoibah hal 133 dan 136.

Syekh Thuusii, dalam mendiskusikan masalah Syi’ah Imamiah Fathiah, yang percaya pada Imamah Ja’far bin Ali setelah kematian saudaranya Hassan Askari, bergantung pada prinsip warisan vertikal dari Imamah, dan keberlanjutannya pada anak-anak dan cucu hingga hari Kebangkitan. Tidak diperbolehkan memindahkannya kepada saudara laki-laki atau para sepupu. (34) Thuusii: Al-Ghaybah hal.136.

14. Perlunya keberlanjutan Imamah hingga hari Kebangkitan:

Menjadi wajib untuk menetapkan prinsip ini, dalam rangka memelihara keberadaan putra Hassan, sebagai penolakan pada pendirian sekte Imamiah lainnya yang percaya pada berhentinya Imamah setelah kematian Imam Hassan Askari.

Ali bin Babawaih al-Qummi telah menyangkal statemen orang-orang seperti itu dengan cara mengutip sebuah hadits dari Rasulullah (SAAW) di mana ia menyebutkan keberlanjutan Imamah dari anggota keluarganya (Ahl al-Bayt) hingga hari Kebangkitan dan tidak terbatas pada suatu batasan waktu yang spesifik. (36) Ali bin Babawaih al-Qummi: Al-Imamah wa al-Tabsirah, hal. 233.

Syekh Mufid bergantung pada ketidakmungkinannya dunia tanpa seorang otoritas (al-Hujjah), yaitu seorang imam yang ma’shum, dalam proses membuktikan dengan dalil akal perihal keberadaan Imam Sahib al-Zaman – Mahdi yang ditunggu. (37) Mufid: Al-Fusul al- Mukhtarah hal. 402.

Thuusii melaporkan sebuah hadits dari Abu Abdullah (AS): “Jika dunia berada -meskipun selama satu jam – tanpa seorang imam, pasti telah tenggelam (binasa).” (38) Thuusii: Al-Ghaybah hal. 132.

Al-Karajiki berpegang pada perlunya keberlanjutan Imamah dari Ahl al-Bayt dan tidak diperbolehkannya dunia tanpa seorang imam setelah kematian Askari, sebagai cara membuktikan perlu tibanya, pada kesimpulan tentang keberadaan Imam Sahib Al-Zaman, dan pembatalan terhadap setiap orang selain dia bagi status Imamah. (39) Al-Karajiki: Al-Burhan ala Sihhat Tul Umr Sahib al-Zaman hal. 243.

15. Membuktikan sebaliknya dan menyangkal kematian Mahdi.

Langkah yang terakhir dalam proses menetapkan keberadaan Imam Mahdi adalah menyangkal kematiannya, dan menginterpretasikan banyak hadits yang beredar di antara orang-orang pada waktu itu. Mereka juga menafsirkan hadits itu, mendiskusikan kematian Qa’im dan kembalinya hidup setelah mati. Mengangkat doktrin paham Mahdi karena Hassan AL-Askari menerapkan hadits ini pada dia, sementara yang lain memakai hadits tersebut pada putranya. Mereka berkata bahwa ia dilahirkan, kemudian ia meninggal, ia akan hidup lagi dan muncul pada masa yang akan datang.

Sebagian dari hadits ini disebutkan oleh Thuusii di dalam Al-Ghaybah (hal. 260, 261 dan 282)-142, ia tidak menganggap hadits tersebut lemah. Ia malahan menafsirkan kematiannya sebagai kematian (tidak adanya) ingatan dan sebutan terhadap dia. Ia juga menekankan perlunya berhati-hati mengenai mereka, dan berpegang pada yang diketahui umum. (40)

Inilah berbagai aspek bukti akal yang diperkenalkan oleh ahli ilmu agama (Mutakallimin), sebaga bukti yang pertama dan paling utama, tentang keberadaan Muhammad bin Hassan Askari.

Hal ini dapat diringkas sebagai berikut: Doktrin Imamah Ilahiah dari Ahl al-Bayt, berdasar pada kepercayaan ‘ismah’, dalil ilahiah dan pewarisan secara vertikal. Ini adalah dasar yang utama dari prinsip pewarisan secara vertikal dan tidak diperbolehkannya dua saudara laki-laki dalam Imamah, yang bertentangan dengan Syi’ah Imamiah Fathiah, yang tidak percaya pada prinsip ini. Mereka percaya Imamah dari Ja’far bin Ali (saudara Hasan bin Ali Al-Askari), dan tidak setuju dengan Syi’ah 12-Imam dalam mempercayai adanya seorang putra dari Hassan Askari yang bersembunyi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: