BAB VII. SYI’AH BINGUNG SETELAH IMAM ASKARI WAFAT

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB VII

PERIODE KEBINGUNGAN DAN KEKACAUAN

7.1. KEMATIAN IMAM ASKARI

Kematian Imam Hassan Askari (AS) di Samirra’i pada tahun 260 A.H. tanpa mengumumkan seorang pengganti, dan WASIAT YANG IA BERIKAN KEPADA IBUNYA YANG BERNAMA ‘HADITH’, mendorong ledakan krisis yang serius di kalangan Syi’ah Imamiah Musawiah, yang percaya akan perlunya kesinambungan Imamah Ilahiah hingga hari Kebangkitan, dan muncul keraguan, kebingungan dan kerancuan, seperti adanya pertanyaan tentang nasib Imamah setelah Askari. Dalam merespon pertanyaan-pertanyaan ini, Syi’ah Imamiah terbagi menjadi EMPAT BELAS (14) sekte. Hal ini dinyatakan oleh Nubakhti di dalam ‘Firaq al-Shiah’, Said bin Abdullah Ash’ari al-Qummi di dalam ‘Al-Maqalat wa al-firaq’, Ibn Abi Zaynab al-Nu’mani di dalam ‘Al-Ghaybah’, Shoduuq di dalam ‘Ikmal al-Din’, Mufid di dalam ‘Al-Irshad’, dan Thuusii di dalam ‘Al-Ghaybah’ dan seterusnya dan sebagainya.

Sejarawan Syi’ah berkata bahwa: ‘JA’FAR BIN ALI HADI, saudara Hassan, mencoba untuk membawa semua warisan dari Imam ke dalam kepemilikannya. Ketika berita kematian Hasan sampai kepada ibunya, selagi Ibunya berada di Madinah, Ibunya memulai perjalanan hingga mencapai ’Surr Man Ra’a’, dan kemudian (Ibunya) mengklaim memiliki sebuah wasiat, dan hal itu ditegaskan oleh pengadilan.” (1) At-Thuusi: Al-Ghoibah hal. 132; Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 44; Al-Al-Mufiid:AL-Irsyad hal. 341; at-Thobari: Dala’il al-Imaamah, hal. 224; as-Shodr: Al-Ghoibah Shughro hal 315.

Sejarawan Syi’ah juga menyebutkan bahwa budak perempuan dari Imam Askari yang bernama Saqil meng-klaim bahwa dia hamil dengan Hasan, yang mengakibatkan PEMBAGIAN WARISANNYA DITUNDA. Khalifah Mu’tamid membawa budak perempuan tersebut ke istananya dan ia mengarahkan isteri, pelayan wanitanya, isteri dari al-Wathiq dan isteri dari kepala hakim -Ibn Abi al-Shawarib untuk menjaga dengan baik budak perempuan milik Imam tersebut dan memastikan klaim kehamilannya atau sebaliknya… Mereka diberi tugas mengamatinya dengan seksama, hingga menjadi JELAS BAGI MEREKA KEPALSUAN KLAIM KEHAMILANNYA: akhirnya WARISAN HASSAN KEMUDIAN DIBAGI-BAGIKAN DI ANTARA IBUNYA DAN SAUDARA, JA’FAR. (2) as-Shoduq: Ikmal al-Din, hal. 44; at-Thobari: Dala’il al-Imaamah hal. 224.

7.2. KLAIM JA’FAR BIN ALI TENTANG IMAMAH

Karena Imamah pada umumnya ditetapkan melalui sebuah wasiat dari Imam sebelumnya kepada orang yang menggantikan, saudara dari Imam Askari, Ja’far bin Ali Hadi, yang biasa bersaing jabatan Imamah dengan saudaranya ketika ia masih hidup, memanfaatkan kekosongan tidak adanya anak dari saudaranya, dan tidak adanya wasiat bagi dia atau indikasi apapun kepada seseorang, ia memanfaatkan situasi tersebut dengan mengklaim bahwa dia adalah Imam. Ia berkata kepada Syi’ah: “Saudaraku telah meninggal tanpa meninggalkan pengganti baik pria maupun wanita. Aku adalah orangnya yang kepadaku ia memberikan wasiatnya”. Ia juga menulis kepada sebagian dari pendukungnya di Qum – yang merupakan pusat Syi’ah yang penting di kemudian hari, memanggil mereka kepadanya, memberitahu kepada mereka bahwa ia adalah pemimpin setelah saudaranya, mengklaim bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang halal dan haram yang akan membuat orang lain memerlukan dia dan beberapa macam pelajaran yang lain. (3) at-Thobrisi: Al-Ihtijaj, vol. 2 hal. 279; Al-Shodr: Al-Ghaybah al-Sughra, hal. 307; Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 475; Al-Khushoibi: Al-Hidaayah al-Kubra, hal. 391;

Al-Shoduuq menyampaikan di dalam: ‘Ikmal al-Din’ halaman 475, sebuah hadits dari Abu al-Adyan al-Bashri – yang ia jelaskan sebagai seorang pelayan Imam Askari dan pesuruhnya kepada Syi’ah dari kota-kota yang berbeda -mengatakan bahwa, populasi Syi’ah pada umumnya menyampaikan pernyataan duka cita mereka kepada Ja’far, dan juga memberikan ucapan selamat kepada dia, di antara mereka adalah ‘AL-NA’IB AL-AWWAL (WAKIL MAHDI PERTAMA), UTHMAN BIN SAID AL-UMARI.

Nubakhti, Ash’ari al-Qummi dan Mufid menyebutkan bahwa sebagian dari Syi’ah (para pendukung) Imam Askari, mengakui kenyataan tidak adanya seorang anakpun dari Askari, dan percaya kepada Imamah dari saudaranya, Ja’far, dan menerima apa yang Al-Fathiyyah terima – mereka yang percaya kepada Imamah dari Abdullah dan Musa dua putra dari Ja’far Sadiq, tidak mejadikan kondisi ‘warisan vertikal’ terhadap Imamah.

Pemimpin dari orang-orang itu dan pendukung utama dari mereka adalah seorang dari Kufah yang bernama Ali bin al-Thohi al-Khazzaz, dan para ulama dari Bani Fidlal, dan saudara perempuan dari al-Faris bin Haatim bin Maahawaih al-Qazwini. (4) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 98-99; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 110; Mufiid: Al-Fushul al-Mukhtaarah hal. 259.

Masyarakat Qum hampir merespon Ja’far, karena mereka tidak mengetahui seseorang selain dia. Mereka berkumpul di sekeliling pemimpin mereka, Ahmad bin Ishaq dan menulis surat kepada Ja’far untuk merespon isu tersebut, menuntut dari dia untuk menjawab atas sejumlah isu, mereka berkata: “Pendahulu kami bertanya kepada nenek moyangmu tentang isu ini dan mereka menjawab isu-isu tersebut, dan kami tergantung pada jawaban-jawabannya dan mengambil bimbingan darinya, maka jawablah kami serupa dengan cara nenek moyangmu yang telah tiada menjawab sedemikian sehingga kami melakukan tugas yang kamu bebankan pada kami sebagaimana kami biasa melakukan bagi mereka”. Mereka mengirim sebuah delegasi kepada Ja’far untuk berbicara dengan dia. Surat diterima, dan mereka pertama kali bertanya kepada dia tentang cara pemindahan Imamah kepadanya, di hadapan sebuah hadits yang mengatakan tidak diperbolehkannya Imamah dipindahkan kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Ja’far mengambil jalan pada klaim ’bada’ (perubahan kehendak) dari Allah, karena tidak adanya isu dari saudaranya Hassan. (5) Al-Khushoibi: Al-Hidaayah al-Kubra, hal. 383-391.

Khusaibi berkata (yang merupakan salah satu pilar imamah pada zaman itu): “Utusan tersebut tetap berada pada dia beberapa lama, yang meminta dari dia jawaban dari isu yang diangkat, tetapi ia tidak menanggapi atau menjawab surat itu sama sekali.” (6) Al-Khusaibi: Al-Hidayah al-Kubra, hal. 383-391.

Bagaimanapun, Shoduuq, Thuusii dan Muhammad Al-Shodr tidak mendiskusikan masalah sederhana ini, yang tidak akan sulit bagi setiap orang yang mengklaim Imamah seperti Ja’far, mereka hanya berkata: “Delegasi tersebut bertanya kepada Ja’far tentang sesuatu yang tidak terlihat (al-Ghoyb), dan menuntut dia untuk menceritakan kepada mereka jumlah uang yang sedang mereka bawa dari Qum dan apa yang mereka miliki. Ia malah bertanya: ”Hassan biasa menceritakan hal itu?”, ia tidak berbicara tentang al-Ghayb, dan menolak pengatributan hal seperti itu kepada saudaranya. (7) Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 476; Thuusii: Al-Ghaybah; Al-Shodr: Al-Ghoybah al-Sughra hal. 316.

Khusaibi berkata: ”Beberapa orang dari Qum, yang bernama, Abu al-Hassan bin Thawabah dan Abu Abdullah al-Jamal, dan Abu Ali al-Sa’igh dan Al-Qazwini, biasa memungut uang (khumus) dari Syi’ah atas nama Ja’far untuk menggunakannya sendiri dan tidak mengirimkan kepada Ja’far dan mereka menuduh dia berbohong. Hal ini memperlihatkan bahwa pada kenyataannya sejumlah Syi’ah dari Qum tetap percaya pada Imamah dari Ja’far, dan mengirimkan uang (khumus) kepadanya.” (8) Khusaibi: Al-Hidayah al-Kubra hal. 392.

7.3. MEREKA YANG PERCAYA PADA BERHENTINYA IMAMAH

Sebagaimana yang Nubakhti, Ash’ari al-Qummi, Kulayni, Mufid, Thuusii, Shoduuq dan Al-Hurr al-Amili katakan: ”Sebagian dari Syi’ah Imamiah menerima doktrin bahwa Imamah telah berakhir, dan telah berhenti dan percaya adanya WAKTU JEDA (FATRAH), SERUPA DENGAN PERIODE ANTARA SEORANG NABI DENGAN NABI LAINNYA. Mengenai hal ini mereka bergantung kepada beberapa hadits dari dua Imam -Imam Baqir dan Sadiq, tentang kemungkinan mempunyai banyak Imam atau berhentinya Imamah, khususnya ketika kehendak Allah merasa tidak senang dengan ciptaanNya. Mereka percaya bahwa saat itu adalah waktunya. (9) AL-Kulayni: Al-Kafi vol. I hal. 343; Al-Hur Al-‘Aamili: Ithbat al-Hudah vol. 3 hal. 477; Al-Thuusi: Al-Ghaybah hal. 244; As-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 230; An-Nuubakhti: Firaq al-Syi’ah. hal.105; Al-‘Asy’ari: Al-Maqalat hal.115; Al-Mufiid: Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 260.

7.4. MEREKA YANG BERFIKIR ULANG

Dua Sejarawan Syi’ah awal yang hidup pada periode itu, yaitu Nubakhti dan Ash’ari al-Qummi berkata: ”Kematian Imam Hassan Askari tanpa isu yang jelas, kepada siapa Imamah akan berlanjut, mendorong beberapa Syi’ah memikirkan kembali pendirian mereka atas Imamah dari Askari itu sendirinya, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa Syi’ah Musawiah 100 (seratus) tahun sebelumnya mengenai kepercayaan kepada Imamah dari Abdullah al-Aftah bin Ja’far Sadiq, yang menjadi Imam setelah ayahnya, tetapi tidak meninggalkan sebuah isu yang bisa dipercaya tentang kepada siapa Imamah berlanjut. Mereka percaya bahwa: ‘…klaim Imamah dari Hassan adalah sebuah kesalahan dan kekeliruan, dan menjadi kewajiban kami untuk memikirkan kembali pendirian kami mengenai hal itu, dan untuk menerima Imamah dari Ja’far. Karena Hassan meninggal tanpa suatu isu yang membersihkan namanya bahwa ia membuat sebuah klaim palsu tentang Imamah. Hal ini karena menurut konsensus kami, Imam tidak akan mati, sampai ia meninggalkan suatu isu yang nyata yang menggantikan dia, seseorang yang dikenal dengan baik, yang kepadanya ia akan memberikan wasiatnya, dan menugaskan dia sebagai Imam. Imamah tidak akan pernah berlanjut pada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Sehingga, tanpa diragukan lagi, yang menjadi Imam adalah Ja’far melalui wasiat ayahnya kepadanya’. (10) Al-‘Asy’ari: Al-Maqaalat wal Firaq hal.11; An-Nuubakhti: Firaq al-Syi’ah hal.114.

Alasan dari perubahan pendapat berkaitan dengan Imamah dari Askari ini, adalah kepercayaan mereka pada hukum warisan vertikal, dan tidak diperbolehkannya perpindahan Imamah kepada seorang saudara, keponakan, paman atau saudara sepupu.

7.5. MUHAMMADIAH DAN NAFISIAH

Sebagian dari mereka yang berfikir ulang terhadap Imamah dari Askari, karena tidak adanya isu (pengganti) dari dia, percaya pada Imamah dari saudaranya -Muhammad, yang meninggal 7 (tujuh) tahun sebelum kematian ayahnya Hadi. Mereka menolak kematian Muhammad, dan mengklaim bahwa ayahnya menunjuk dia dan menetapkan dia sebagai Imam, dan telah menyebutkan dia dengan namanya dan orangnya – hal inilah yang disetujui oleh semuanya. Tidaklah mungkin bagi Imam menunjuk melalui wasiat kepada seseorang yang bukan Imam. Oleh karena itu ia tidak mati pada kenyataannya, sebagaimana yang nampak. Ayahnya lebih baik menyembunyikan dia karena mengelabui (taqiyyah) sebagaimana Imam Sadiq menyembunyikan putranya Ismail – menurut Isma’iliah, maka ia adalah Mahdi yang ditunggu. Sekte ini dikenal sebagai Muhammadiah. (11) An-Nuubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 101.

Sekelompok sekte ini berkata di kemudian hari bahwa, Muhammad bin Ali mati, dan bahwa ia memberikan wasiatnya kepada seorang pelayan ayahnya yang bernama ‘Nafis’. Ia menyerahkan kepadanya buku-buku, berbagai macam pengetahuan dan pedang dan apapun yang dibutuhkan Ummah, dan ia menasehati dia: “Jika aku meninggal, berikan itu kepada Ja’far”. (12) An-Nuubakhti: Firaq al-Syi’ah hal.107-108; Al-Mufiid: Al-Fusul hal. 260.

Sekte ini mengambil posisi yang sangat kejam terhadap Imam Hassan Askari. Mereka menganggap Beliau orang yang tidak beriman, demikian juga mereka yang percaya pada Imamahnya. Mereka melewati batas dalam kasus Ja’far dan mengklaim bahwa ia adalah Qa’im. Sekte Ekstrimis ini dikenal sebagai Nafisiah. (13) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 108.

7.6. MEREKA YANG  PERCAYA BAHWA ASKARI MENJADI MAHDI

Kelompok Syi’ah lain menolak kematian Imam Askari dan mengklaim bahwa ia adalah Mahdi, yang sedang memasuki keghoiban, berdasarkan pada kepercayaan bahwa tidak diperbolehkan bagi Imam mati tanpa suatu isu yang diketahui dan nyata, sebab dunia tidak pernah tanpa seorang Imam. Mereka menganggap bersembunyinya Imam, sebagai bentuk keghoiban bagi mereka. (14) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 98; Ash’ari: Al-Maqalat wal-Firaq, hal. 106.

Beberapa di antara mereka mengakui kematiannya, tetapi mengklaim bahwa ia kembali hidup lagi. Hal itu didasarkan pada sebuah hadits tentang arti dari Qa’im: ”ia kembali (hidup) setelah kematiannya”. Ia akan hidup tanpa suatu isu. Jika ia mempunyai seorang putra, lalu siapa yang memastikan kematiannya dan tidak kembalinya, sebab Imamah akan ditetapkan bagi penggantinya dan ia tidak akan memberikan wasiat (tentang Imamah) kepada siapapun… Tidak ada keraguan bahwa ia adalah Qa’im…..Hassan bin Ali tidak diragukan lagi telah meninggal tanpa suatu isu ataupun pengganti; ia tidak memberikan wasiat (kepada seseorang), karena ia tidak mempunyai wasiat apapun atau seseorang yang menerima wasiat (dari dia)… Tidak ada keraguan bahwa ia adalah Qaim, dan bahwa ia hidup setelah kematiannya. Mereka melaporkan: dia hidup setelah mati – ketika berita kembaliannya kepada kehidupan sampai pada orang-orang – mereka akan berkata: ”Bagaimana mungkin terjadi demikian – dan – demikian pada Imam setelah tulangnya menjadi debu? Hari ini ia hidup dalam keghoiban. Ia akan muncul dan menginstruksikan orang-orang, mengisi dunia dengan keadilan, karena ia diisi dengan ketidakadilan.” (15) Ash’ari: Al-Maqalat hal. 107; Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 96-98.

Beberapa dari mereka ada yang berkata: ”Ia tidak dipanggil Qa’im, kecuali ia kembali hidup setelah kematian”. Orang-orang ini sudah membuat atau mendatangkan banyak hadits dalam konteks ini dari beberapa orang anggota pergerakan Syi’ah Waqifiah zaman dulu. (16) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 96-98; Ash’ari: Al-Maqalat wal-Firaq  hal. 108.

Shoduuq berkata: ”Orang-orang itu disebut Waqifiah pada Hassan. Mereka mengklaim bahwa keghoiban terjadi padanya, karena menurut pandangan mereka keghoiban tersebut valid namun mereka tidak tahu tempatnya“ (17) Shoduuq: Ikmal al-Din, hal. 40.

7.7. YANG KEBINGUNGAN

Kematian Imam Askari tanpa isu (pengganti) yang nyata mendorong sebuah krisis, yang pada gilirannya mendorong Syi’ah Imamiah – yang percaya akan keberlanjutan Imamah hingga hari Kebangkitan – untuk mencari dan meng-eksplorasi seorang putra dari Imam Askari yang tersembunyi karena suatu alasan atau hal lainnya, seperti ketakutan ia akan diserang musuh, sebagai contoh.

Beberapa di antara mereka menahan diri dari statemen apapun, menantikan akhir dari krisis tersebut. Mereka tidak mengakui atau percaya pada Imamah dari Ja’far, sebagaimana mereka juga tidak percaya pada berakhirnya Imamah, mereka juga tidak mengakui bahwa Hassan Askari adalah Mahdi. Melainkan mereka berkata: ”Kami tidak tahu apa yang harus dikatakan tentang semua ini…. kami  bingung. Kami tidak mengetahui bahwa Hassan bin Ali mempunyai seorang putra atau tidak, atau Imamah itu sah bagi Ja’far atau Muhammad. Terdapat banyak pendapat yang saling berlawanan. Kami hanya berkata: Hassan bin Ali adalah seorang Imam yang ketaatannya diwajibkan bagi semuanya. Imamahnya telah ditetapkan, tetapi ia telah meninggal, dan kami meyakini (hal) itu. Dunia tidak pernah tanpa seorang otoritas (Imam). Kemudian kami berhenti di sini dan tidak akan mengklaim Imamah bagi siapapun setelah dia… karena kami tidak percaya bahwa ia meninggalkan seorang pengganti, yang mana pemilik urusan tidaklah jelas bagi kami. Kami tidak bisa meyakini Imamah dari anak-anak dari yang lain, sebagaimana terdapat suatu konsensus di antara Syi’ah bahwa Imamah dari seorang Imam tidak bisa ditetapkan, kecuali melalui sebuah wasiat yang jelas dari ayahnya.” (18) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 108; Ash’ari: Al-Maqalat hal.115; Al-Mufiid: Al-Fusul hal.260.

7.8. JENINIAH

Di tengah-tengah atmosfir keraguan dan kebingungan, kontroversi dan mencari-cari kebenaran, beberapa Syi’ah Imamiah bergantung pada klaim seorang budak perempuan, ‘Saqil’ atau ‘Narjis’ bahwa dia telah hamil dari Hassan pada saat kematiannya. Mereka mengklaim bahwa dia melahirkan seorang anak bagi dia delapan bulan setelah kematiannya. Anak tersebut bagaimanapun, disembunyikan; tidak seorangpun mengetahui namanya, atau tempat persembunyiannya. Mereka bergantung pada sebuah hadits mengenai hal ini, yang mereka laporkan dari Imam Ridho di mana ia berkata: “Kamu akan dicoba dengan seorang embrio di dalam kandungan ibunya, dan seorang anak yang masih menyusu.” (19) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal.103; Ash’ari: Al-Maqalat hal. 114; Al-Mufiid: Al-Fusul hal. 260.

Sebagian dari mereka yang menerima adanya kehamilan pada saat kematian Imam, juga mengklaim bahwa kehamilan tersebut berlanjut di dalam kandungan budak perempuan selama periode waktu yang tidak pasti dan ajaib. Mereka percaya akan pentingnya memperhatikan kelahiran seorang anak laki-laki dari budak perempuan tersebut, yang kepadanya Imamah akan berlanjut, dan kemudian pada anak-anaknya hingga hari Kebangkitan. Dan memprotes berita yang diriwayatkan dari Imam Shadiq: (Sesunggunya Qooim akan tersembunyi dari manusia pada saat kehamilannya dan kelahirannya). (20) Firaq al-Syi’ah hal. 104; Al-Maqalat, hal. 115; al-Fushul: hal. 260.

Kelahiran setelah kematian adalah tidak normal dan tidak mungkin. Klaim tentang berlanjutnya kehamilan di dalam rahin selama periode yang tidak-pasti, tidaklah layak untuk diterima. Hal seperti itu sesungguhnya lebih baik ditolak, tambahan lagi budak perempuan Saqil atau Nargis tersebut menghilang pada saat panasnya peristiwa, atau dia meninggal. Tidak seorangpun yang bisa mengamatinya atau melihat hasil kehamilannya setelah itu.

Kejadian itu tidak jauh dari atmospir ekstrimis, yang jauh sekali dari akal sehat dan pengetahuan pada umumnya, bahwa semua kelompok dapat mengklaim apa yang mereka inginkan, dalam kaitannya dengan klaim atau statemen, imajinasi dan teori yang palsu.

7.9. MEREKA YANG MENGAKUI ADANYA ANAK – YANG TELAH DITENTUKAN SEBELUMNYA OLEH RASULULLAH (SYI’AH 12-IMAM)

Di samping fakta bahwa Syi’ah yang mencari-cari seorang putra dari Askari tidak mampu mencapai hasil apapun, dan kebingungan sedang menelan Syi’ah Imamiah pada umumnya, demikian juga kerancuan yang melingkupi isu pergantian, dan pandangan yang saling berlawanan membelah orang-orang menjadi bagian-bagian yang terpisah, di samping semua ini, sebagian dari sahabat Imam Hassan Askari berbicara di kalangan terbatas secara rahasia, bahwa Imam Hasan Askari mempunyai seorang putra yang lahir dua atau tiga atau lima atau tujuh atau delapan tahun sebelum kematiannya. Mereka mengklaim melihat dia semasa hidup ayahnya, dan bahwa mereka pernah berhubungan dengan anak tersebut. Mereka menuntut massa Syi’ah umumnya untuk menghentikan pencarian mereka tentang dia atau mengumumkan namanya yang mereka larang. Mereka menafsirkan klaim budak perempuan Saqil tentang kehamilannya pada saat kematian (Imam), sebagai suatu usaha dari dia menyembunyikan keberadaan anak tersebut secara rahasia.

Di antara mereka adalah: ‘Ustsman Bin Saeed Al-‘Amri, Wakil Imam Askari di bidang harta, Muhammad bin Nasir Nimeiri, dan Abu al-Qasim al-Jaafari dan Ahmad Bin Hilal Alabrataii Al-Karkhi, dan Ahmad bin Ishaq Al-Qumii. Dan lain-lain. Kita sudah mengetahui orang-orang yang mengatakan telah lahir seorang anak dari Imam Al-Askari,  setelah sekitar seratus tahun, yang dikenal sebagai SYIAH 12-IMAM. (21) Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 483; Al-Thuusii: Al-Ghoib hal. 186; Al-Nuubakhtii: Firaq al-Syi’ah hal. 102; Al-‘Ash’ari: Al-Maqalat hal. 114; Al-Mufiid: al-Fushul: hal. 260.

7.10. ZAMAN KEBINGUNGAN (KEKACAUAN)

Kepercayaan bahwa Imam Hassan Askari mempunyai seorang putra adalah sebuah statemen yang hanya diketahui oleh beberapa orang tertentu saja dan suatu rahasia dari sebagian pengikutnya setelah kematiannya. Masalah tersebut tidak pernah disetujui atau didasarkan pada pengetahuan umum yang jelas di kalangan Syi’ah pada zaman itu. Itulah mengapa terdapat atmosfir kebingungan mengenai siapa yang akan menggantikan Imam tersebut. Situasi tersebut sangat tegang.

Banyak ulama zaman itu menulis karya yang mendiskusikan kebingungan yang telah menggenggam Syi’ah, sebagai jalan mendinginkan masalah itu. Di antara ulama ini adalah Syekh Ali bin Babawaih Shoduuq yang menulis sebuah buku yang berjudul: “Imamah dan Penerangan dari Kebingungan” (Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah).

Situasi kebingungan ini berlanjut hingga pertengahan abad ke-4 Hijrah, sebagaimana syekh Muhammad bin Ali Shoduuq menyebutkan dalam pendahuluan dari karyanya ‘Ikmal al-Din’, keadaan kebingungan tersebut telah melanda Syi’ah. Ia berkata: ”Aku menemukan bahwa mayoritas Syi’ah yang datang kepada saya telah dibingungkan oleh keghoiban, dan sebuah kerancuan telah tumbuh pada mereka tentang urusan Qa’im”. Orang itu berbicara kepada saya di kota Islam (Baghdad), ia berkata kepadaku: sesungguhnya al-ghoibah telah lama, dan kebingungan telah meningkat, dan banyak yang kembali mengatakan bahwa Imamah untuk jangka panjang”. (22) Al-Shoduuq: Ikmal al-Din hal. 2 dan 16.

Kulayni, Nu’mani dan Shoduuq melaporkan sejumlah besar hadits, yang menekankan kejadian kebingungan tersebut setelah keghoiban dari yang berwenang (Imam), dan perbedaan di antara Syi’ah, dan pada zaman itu mereka menjadi terserak. Demikian juga tuduhan dari sebagian orang melawan yang lain, dalam hal kebohongan, kekafiran, meludahi wajah mereka dan mengutuk mereka dan mereka seperti kapal terbalik, akibat adanya ombak yang kuat dari laut, atau seperti pecahan gelas atau pecah belah. (23) Kulayni: Al-Kafi Vol.1, hal. 366, 388 dan 340; Nu’mani: Al-Ghaybah hal. 89, 206 dan 208, Al-Shoduuq: Uyuun Akhabar al-Ridho hal. 168; Ikmal al-Din, hal. 408.

Muhammad bin Abi Zaynab Nu’mani berkata di dalam ‘Al-Ghaybah’ (hal. 113), ketika menjelaskan keadaan kebingungan yang telah menelan Syi’ah waktu itu, menyatakan bahwa: ”Mayoritas dari mereka berkata (di dalam hati kecilnya): Di mana dia? Bagaimana mungkin ini terjadi? Untuk berapa lama dia akan tidak tampil? Berapa lama dia akan hidup? Ia sekarang telah lebih dari delapan tahun. Di antara mereka percaya ia sudah mati; di antara mereka menolak kelahirannya dan menolak keberadaannya sejak pertama kali dan mengejek mereka yang mempercayainya; di antara mereka percaya periode (keghoiban) tersebut akan lama.”

Nu’mani berkata: ”Kondisi kebingungannya pada tingkat yang lebih parah dari pada yang ada saat ini, yang mempengaruhi sejumlah besar manusia, membawa mereka menjauhi urusan ini (Imamah)? Mereka yang tersisa sangat sedikit karena adanya keraguan orang-orang. (24) Al-Nu’maanii: Al-Ghaybah hal. 113, 186.

Hal ini memperlihatkan bahwa isu keberadaan seorang putra dari Imam Askari bukanlah sesuatu yang disepakati oleh Syi’ah Imamiah pada zaman itu. Dan klaim adanya konsensus (ijma’) dan sudah menjadi pengetahuan umum, yang dibuat oleh sebagian orang yang merujuk hadits tentang keberadaan, kelahiran dan paham Mahdi dari Imam ke-12 (Muhammad bin Hassan Askari), adalah tidak ada (tidak benar) pada zaman itu.

Oleh karena itu kita harus menaruh suatu tanda tanya yang besar, terhadap klaim di kemudian hari yang berlawanan dengan hal itu, yang katanya terdapat konsensus (ijma’) dan persetujuan, yang kontradiksi dengan fakta historis. Lebih dari itu, klaim tentang adanya konsensus dan persetujuan tidak menghalangi adanya pemikiran, kritik dan riset alternatif, sebagai tambahan terhadap fakta, bahwa dalam pandangan Syiah 12 Imam, konsensus (ijma) bukan merupakan suatu bukti alternatif kepada bukti ilmiah…. Menurut yang Ahli hukum katakan: ”Ijma’ akan diambil dalam hal tidak adanya bukti yang sah. Dan jika kita mengetahui bahwa klaim tertentu bergantung pada bukti hadist atau akal, kita harus meninjau ulang bukti itu dan tidak berpegang kepada Ijma’.

Telah diketahui dengan baik bahwa klaim kelahiran Imam ke-12 -Muhammad bin Hassan Askari, akan menghadirkan bukti secara historis, dilahirkan (terungkap) dan bukti akal. Sehingga perlu sekali bagi kita meninjau ulang dan memastikan sendiri bukti ini, dan kita tidak tunduk dan mengikuti ahli ilmu agama (Mutakallimin) atau menerima klaim, teori dan analogi hukum mereka tanpa menelitinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: