BAB VI. MUNCULNYA PAHAM SYI’AH 12 IMAM

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB VI

MUNCULNYA PAHAM SYI’AH 12 IMAM

Jika kita melihat dengan dekat Sejarah Paham Syi’ah pada abad ke-2 dan ke-3, dan simpati serta tanggapan Syi’ah kepada berbagai revolusi yang dipimpin oleh para pemimpin dari Ahl al-Bayt, seperti revolusi Imam Zayd dan putranya, Yahya dan putranya, Isa, demikian juga revolusi Muhammad bin Abdullah (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah) dan saudaranya Ibrahim, demikian juga revolusi Hussain Shahid Fakh dan Muhammad bin Qasim serta yang lainnya, kita akan menemukan bahwa pada zaman itu massa Syi’ah pada umumnya berkumpul di sekitar anggota Ahl al-Bayt tanpa membatasi kepemimpinan (Imamah) kepada satu garis keturunan tertentu, atau percaya pada suatu dalil Ilahi pada seseorang dari mereka, yang menyatakan membatasinya pada anak-anak Hassan atau Hussain atau kepada suatu format yang turun-temurun secara vertikal hingga hari Kebangkitan. Kita juga akan menemukan bahwa pada zaman itu Syi’ah secara umum tidak menganut teori Imamah Ilahiah, yang dipercayai oleh beberapa ahli ilmu agama (Kufah) secara rahasia, dan diatributkan kepada anggota Ahl al-Bayt yang secara konstan pada kenyataannya dan secara terbuka memisahkan diri mereka dari dogma itu.

Jika kita juga akan memusatkan perhatian kita pada warisan Imamah selama dua abad (ke 2-3), kita akan menemukan bahwa pada zaman itu teori Imamah bersifat terbuka dan sampai hari Kebangkitan, dan hal itu tidak terbatas pada suatu jumlah khusus dari Imam atau terbatas pada suatu periode waktu tertentu. Namun demikian Imamah mencapai suatu jalan buntu pada saat kematian Imam Hassan Askari, pada tahun 260 AH, dengan tidak ada isu untuk menggantikan dia, dan tanpa menunjuk seseorang sebagai Imam sepeninggal dia. Mereka yang percaya tentang adanya seorang putra tersembunyi dari dia, pada permulaannya percaya bahwa Imamah akan berlanjut pada anak-anak dari putra tersembunyi tersebut hingga hari Penghakiman. Mereka pada permulaannya tidak percaya bahwa ia adalah Imam yang terakhir, atau Imam hanya dua belas jumlahnya.

Kita sudah mengutip pada bab sebelumnya, berbagai tradisi yang menunjuk tentang kesinambungan Imamah pada anak-anak dan cucu, hingga hari Kebangkitan. Ada di dalam sepuluh warisan Syi’ah, tidak beratus-ratus kisah seperti itu yang menekankan dan mengkonfirmasikan kesinambungan Imamah hingga hari Kebangkitan. Hal ini mendukung fakta bahwa teori Imamah tidak pernah dibatasi pada orang tertentu selama abad ke-2 dan ke-3 Hijrah.

Seseorang yang mengamati kisah populer yang menekankan berlakunya Imamah hingga hari penghakiman, akan menemukan bahwa kisah-kisah tersebut absolut, umum dan dimaksudkan untuk demikian, yaitu tidak ada pembatasan kepada mereka. Mereka menyatakan teori Imamah Ilahiah, yang paralel dengan teori Shura, yang juga berlaku meluas hingga hari Kebangkitan. Itulah situasi pada fase pertama kelahirannya, sebelum mencapai suatu jalan buntu.

Berdasarkan fakta bahwa teori Imamah pada awalnya, memberlakukan prinsip Imamah hingga hari Kebangkitan, dan tidak terbatas pada jumlah tertentu, doktrin tersebut mengklaim bahwa: dalil diberikan hanya pada hak Imam Ali, dan bahwa dalil untuk Imam berikutnya yang dikeluarkan oleh Imam, hanyalah oleh Imam yang baru yang sebelumnya, hingga hari Kebangkitan. (1) Al-Hur al-Amili: Ithbat al-Hudah, vol. 2 hal.717.

Teori tersebut juga mengakui tidak adanya dalil yang jelas dari beberapa Imam kepada para Imam penggantinya setelah mereka. Teori itu berpegang kepada wasiat yang bersifat biasa dan menganggapnya sebagai bukti Imamah (yang bersangkutan). Ketika tidak ada sekalipun wasiat biasa bagi beberapa Imam dari ayah mereka, seperti Imam Sajjad, atau wasiat itu dikombinasikan bagi sejumlah saudara laki-laki, maka akan diklaim bahwa bukti Imamah (pada kasus seperti itu) adalah berupa keajaiban, dan pengetahuan tentang yang ghoib; atau yang lebih lebih tua atau yang lebih banyak ilmunya; atau kepemilikan pedang Pesuruh Allah (SAAW).

Sesungguhnya beberapa kisah menunjuk pada fakta bahwa: para Imam itu sendiri tidak mengetahui bahwa diri mereka adalah Imam, atau orang yang menggantikan para Imam sebelumnya, hingga beberapa saat sebelum kematian para Imam sebelumnya, tidak adanya perbincangan oleh (massa) Syi’ah Imamiah, yang malahan biasa kebingungan dan kacau atau berbeda antara mereka sendiri setelah kematian dari setiap Imam. Mereka biasa memohon kepada setiap Imam pada zaman itu untuk menunjuk Imam yang menggantikan mereka, dan untuk menyebutkan nama mereka dengan jelas sehingga mereka tidak akan mati tanpa mengetahuai Imam yang baru. Mereka beberapa kali menjadi kebingungan dan kacau. (2) Lihat: Kitab Basair al-Darajat, hal. 473; Kulayni: Al-Kafi, Vol.1, hal. 277 dan 309; Irshad dari Mufid; Qurb al-Isnad dari Al-Himyari, dan Tafsir dari Al-Iyashi.

Terdapat banyak tradisi yang lain, disebutkan oleh Al-Hur al-Amili, Kulayni dan Saffar, yang membahas isu tentang mengidentifikasi Imam yang baru, dengan pertolongan sejumlah tampilan, seperti lebih tua, atau kesucian kelahirannya, asuhan yang baik, atau selama masa muda tidak hidup dengan banyak main-main dan pemboros, atau karena wasiat yang jelas atau kesalehan atau pengetahuan pada yang ghoib, atau ketenangan, kedamaian dan kesucian (3). Al-Amili: Ithbat al-Hudah vol. 2 hal. 714-715; Saffar: Basair al-Darajat, hal. 489.

Semua ini menekankan adanya keyakinan kesinambungan Imamah hingga hari Kebangkitan PADA FASE AWALNYA, dan tidak terikat pada jumlah tertentu.

6.1. LAHIRNYA TEORI 12-IMAM

Mengingat bahwa teori Imamah yang menemui suatu jalan buntu setelah meninggalnya Imam Hassan Askari tanpa suatu isu yang nyata, dan klaim bahwa ia mempunyai seorang putra yang tersembunyi, dan ia tidak muncul selama periode waktu sangat panjang,…. abad ke-4 Hijrah menyaksikan suatu perkembangan baru dari teori Imamah yaitu munculnya teori 12-Imam (Ithna Ashriyyah). Adalah suatu teori yang muncul terutama di antara Musawiah dan sayap ekstrimis yang betul-betul percaya pada hukum keturunan secara vertikal, dan betul-betul tidak menerima apapun selain dari itu. Sayap itu percaya akan adanya suatu daftar yang telah ditentukan sebelumnya dari nama para Imam dari Nabi Allah (SAAW) berisikan dua belas (12) nama yaitu: Ali, Hassan, Hussain, Ali bin Hussain, Muhammad bin Ali, Jafar bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Muhammad dan Hassan bin Ali dan yang terakhir dari mereka, Muhammad bin Hassan Askari. Hal ini diarahkan pada menetapkan keberadaan Imam yang ke-12 -Muhammad bin Hassan Askari- yang keberadaannya diragukan oleh dan dibahas secara serius di dalam golongan Syi’ah Imamiah.

Teori 12-Imam mencari dukungan dari Hadiths Sunni yang dilaporkan oleh Bukhari dan Muslim pada kejadian Haraj’ (pembunuhan) dan kejahatan setelah Kalifah atau Imam yang ke dua belas. Dan supaya banyaknya Imam yang sebelumnya cocok dengan kisah ini, Syi’ah 12-Imam juga memilih untuk menghapus nama Imam Zayd, Imam Abdullah Al-Aftah dan Imam Ahmad bin Musa, yang Imamahnya dipercayai oleh banyak Syi’ah Imamiah (Fathiah). Karena mereka juga menolak Imamah dari Ja’far bin Ali Hadi, maka mereka menambahkan -sebagai gantinya- nama Imam Muhammad bin Hassan Askari. Mereka menyiapkan suatu daftar baru dari sembilan (9) nama dari anak-anak Hussain, satu demi satu; berturut-turut. Mereka berkata: ‘Semua Imam ini secara pasti disebutkan oleh Nabi (SAAW) dan Imam yang terdahulu’.

Pada permulaan abad ke-4 Hijrah Kulayni telah melaporkan dalam hasil kerjanya Al-Kafi, sebanyak tujuh belas (17) hadits berbeda tentang 12-Imam, sedangkan Syekh Muhammad bin Ali Saduq, yang datang separuh abad kemudian, melaporkan tiga puluh lima (35) tradisi tentang isu ini, di dalam bukunya ‘Ikmal al-Din’. Hal ini dilengkapi oleh ulama lain -Muhammad bin Ali Al-Khazzaz pada ujung abad ke-4, di dalam hasil kerjanya ‘Kifayat al-Athar fi al-Nass ala al-A’imah al-Ithna Ashar, dengan menceritakan dua ratus (200) tradisi.

Asal dari teori ini, menurut sejarawan Syi’ah Mas’udi di dalam ‘Al-Tanbih wa al-Ishraf’- adalah buku yang ditulis oleh Salim bin Qays al-Hilali, yang muncul pada abad ke-4, dengan seorang pengarang yang dikatakan sebagai salah satu dari sahabat Imam Ali bin Abi Talib (AS). Terdapat sejumlah Hadiths di dalamnya yang dianggap berasal dari Rasul Allah (SAAW) dan Imam dari Ahl al-Bayt, yang menandai adanya nama dua belas Imam. (4) Al-Masudi, Al-Tanbih wa al-Ishraf, hal. 198.

Teori ini dipaksa untuk membuang sejarah Syi’ah dan sejarah Imamah (bahwa Imam dari Ahlul Bayt pada kenyataannya lebih dari 12 orang), dan adanya isu kerancuan mengenai dalil, dan wasiat, demikian juga kekacauan dan kebingungan Syi’ah Imamiah dalam mengidentifikasi Imam yang baru. Juga harus mengabaikan kasus ‘bada’ (perubahan pendapat atau kehendak), yang muncul dua kali pada masa Imam Sadiq dan Imam Askari.

Klaim bahwa gagasan ini ada sejak zaman Rasul Allah (SAWW), adalah mengesampingkan pengakuan umum mengenai lahirnya teori Imamah pada permulaan abad ke-2 Hijrah dari tangan Hisham bin Al-Hakam, Mumin al-Taq dan Hisham bin Salim al-Jawaliqi.

Saduq melaporkan keberatan Syi’ah Zaydiah mengenai 12 Imam, dan statemen mereka bahwa: ‘Kisah yang menunjukkan bahwa Imam hanya ada dua belas adalah suatu statemen yang dibuat oleh paham Syi’ah Imamiah pada zaman belakangan, dan mereka memproduksi banyak hadiths palsu mengenai hal itu. Mereka (Zaidiah) menunjang posisi mereka dengan menunjukkan fakta bahwa Syi’ah biasa terbagi menjadi beberapa sekte setelah meninggalnya setiap Imam dan tidak tahu siapa yang menjadi Imam berikutnya. Sebagaimana mereka juga menekankan gagasan ‘bada’ (perubahan kehendak) mengenai Isma’il (saudara Imam Ja’far) dan Muhammad bin Ali (sudara Imam Askari), yang kontradiksi dengan klaim adanya daftar yang telah ditentukan sebelumnya tentang nama-nama Imam.

Kematian Zurarah tanpa mengetahui siapa Imam setelah Sadiq adalah bukti yang lain. Saduq menjawab Zaydiah dengan berkata: “Syi’ah Imamiah tidak berkata bahwa seluruh Syi’ah mengenal dua belas Imam. Ia tidak menyangkal bahwa Zurarah tidak mengetahui hadith itu. Tetapi ia kemudian mempertimbangkan status Zurarah yang menjadi murid Imam Sadiq yang terbesar, dan ketidakmungkinan dirinya yang secara alamiah tidak mengetahui apapun tentang hadith ini. Oleh karena itu ia mengubah (pikirannya) dan berkata: “Zurarah mungkin telah menyembunyikan hal itu, sebagai bentuk taqiyyah (berpura-pura). Ia kemudian meninggalkan pandangannya lagi setelah waktu yang pendek, dan berkata: ‘Kadhim telah mewajibkan bagi dia untuk memberikan dirinya kepada Allah, karena ketidaktahuannya tentang Imam, karena seseorang yang meragukan dia telah meninggalkan agama Allah.” (5) Saduq: Ikmal al-Din. hal. 75-76.

6.2. MENCOBA MEMECAHKAN MASALAH ANAK KECIL

Doktrin 12-Imam dibangun dengan prinsip yang sangat ketat dan tanpa kompromi, yang menjadikan suatu kondisi bahwa warisan Imamah harus vertikal, sekalipun jika Imam harus seorang anak yang masih kecil. Prinsip tersebut mengesampingkan doktrin Imamah yang moderat (Al-Fathiyyah), yang memperbolehkan Imamah dari dua saudara laki-laki, jika Imam yang pertama mandul atau anaknya masih kecil (pada saat kematiannya). Hal inilah boleh jadi yang mengharuskan lahirnya teori 12-Imam beberapa puluh tahun setelah periode para pemimpin Ahl al-Bayt. Pada saat itu tidak pernah muncul Imam.

Para pemimpin doktrin 12-Imam menemukan diri mereka menghadapi Al-Qur’an, yang menasehati agar mengendalikan dan menjaga anak yatim hingga ia mencapai umur dewasa, di mana dikatakan: “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS, 4:6)

Sebagai pemecahan terhadap masalah ini, mereka menerima Imam tersebut dari makna yang bersifat umum dari ayat tersebut. Syekh Mufid berkata: ‘Jika seseorang berkata: “Wahai kaum Syi’ah Imamiah, kenapa kamu berkata bahwa kamu percaya pada dua belas Imam – dan kamu mengetahui bahwa di antara mereka (para Imam) terdapat salah seorang yang ditinggalkan ayahnya selagi ia masih seorang anak kecil, yang belum mencapai umur dewasa, dan bahkan belum mendekati umur tersebut, seperti Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Musa, yang ayahnya meninggal selagi ia hanya berusia tujuh tahun. Demikian juga yang kamu sebut Qa’im, yang ketika ayahnya meninggal, menurut banyak orang, hanya berumur lima tahun. Kita sudah mengenal melalui praktek yang umum sepanjang zaman bahwa seseorang yang berumur seperti itu belum akan mencapai dewasa, maupun mendekati itu. Allah, Yang Maha Agung telah berkata: “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS, 4:6).” Jika Allah yang Maha tinggi telah menjadikannya wajib untuk mengasuh kekayaan dua jiwa ini (Imam yang masih kecil), karena melaksanakan keputusan hukum terhadap semua anak yatim, hal itu menjadikan tidak valid bagi mereka untuk menjadi Imam. Ini dikarenakan Imam bertanggung jawab untuk ciptaan dalam semua urusan, secara duniawi dan ukhrawi. Adalah tidak sah bahwa penjaga kekayaan Allah dari derma Khums (seperlimaan), seseorang yang dipercayai dengan Shariah dan semua keputusan hukum, seseorang yang menjadi Imam (pemimpin) fuqaha (ahli hukum), hakim, dan para penguasa, seseorang yang mempedulikan sejumlah besar orang-orang yang cerdas di dalam sektor yang berbeda, adalah seorang  yang tidak punya kendali sekalipun hanya satu sen dari kekayaan pribadinya, seseorang yang tidak dipercaya sekalipun berpikir untuk dirinya, seseorang yang sedang diasuh karena umur mudanya, seseorang dengan kecerdasan yang lebih rendah, karena ketidaksesuaian, kontradiksi dan kemungkinan dari itu. Bukti ini menunjukkan tidak berlakunya khususnya sekolah Imamah’. Maka sebagai tanggapannya adalah… Allah Yang Maha Agung telah menolak alasan apapun dengan kesempurnaan dari seseorang yang padanya Ia (Allah) telah membebankan Imamah dan telah memperlihatkan ‘ismah’ dari seseorang yang ditetapkan sebagai seorang pemimpin. Ia telah menerangkan melalui bukti wahyu dan analogi, Imamah dari dua Imam ini. Hal itu mengharuskan mereka mengecualikan anak yatim pada umumnya, kepada orang yang pernyataan tersebut diarahkan.

Ia juga menambahkan, ”Paham Syi’ah Imamiah tidak mempunyai penyesalan apapun karena doktrinnya, terutama ayat tentang pengendalian (kekayaan anak yatim), karena bukti rasional, menjadi diterima dengan suara bulat sebagaimana yang akan aku sebutkan… yaitu, tidak ada perbedaan pada Ummah bahwa pemakaian ayat ini terbatas bagi mereka yang mempunyai kecerdasan lebih rendah, tanpa adanya kesempurnaan….. Ini juga menjadi tidak valid bagi seseorang yang memiliki kecerdasan yang mereka capai pada usia dewasa, maka hal tersebut adalah tidak valid untuk menerapkannya kepada Imam.”

Mufid mencoba untuk menyangkal bukti dari sifat umumnya, dan sifat umum dari ayat pengendalian (kekayaan dari anak yatim yang belum dewasa), dalam rangka membebaskan dia dari setiap disalahkan, sehingga ia mempelopori suatu kecenderungan baru dalam riset berkenaan dengan hukum. Ia berkata: “Pembatasan dapat terjadi pada suatu statemen, tetapi tidak bisa terjadi pada pemikiran yang umum…. Akal mengharuskan kesempurnaan dan ‘ismah’ pada keadaan umum dari Imam. Jika bukti telah menandai Imamah dari dua jiwa ini, maka ayat ini harus dibatasi untuk selain dari mereka tanpa diragukan lagi… Meskipun generalisasi tidak mempunyai bentuk dalam pandangan kami, maka menjadi perlu untuk mencakup jenis dengan istilah yang sama. Hal itu akan mengharuskan adanya bukti yang menemani hal itu. Maka setiap saat menjadi tanpa bukti, hal itu menjadi penting sekali untuk menjauhkan diri (dari setiap pertimbangan apapun)… Tidak terdapat bukti yang menunjukkan generalisasi ayat ini.” (6) Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah, hal.112-115.

Di samping klaim dari Mufid bahwa ada perbedaan (antar ulama) mengenai atribut Imam yang masih kecil sebagai suatu tuntutan dengan kesusahan… dan ia berbeda secara lebih parah dengan mereka, di antara Syi’ah Imamiah, ia mencoba untuk membawa sesuatu yang sama sekali baru, dan belum pernah ditetapkan… yaitu dengan mencoba untuk menetapkan pengecualian alamiah bagi Imam yang masih kecil berdasarkan pada isu ‘ismah’ dan imamah, yang belum ditetapkan (terhadap mereka). INI TIDAK BERARTI APAPUN SELAIN DARI MEMBATASI KEPUTUSAN HUKUM AL-QUR’AN DENGAN ALAT DUGAAN… Adalah jelas bahwa Syekh Mufid memberikan dugaannya yang diperoleh dari filosofi, dengan istilah akal: Ia juga mengklaim adanya suatu dalil tentang Imamah Jawwad berdasarkan pada hadits dari perawi tunggal, sebagaimana ia juga mengklaim adanya suatu konsensus, yang tidak mempunyai pengaruh, baik di kalangan Syi’ah, maupun muslimin pada umumnya terhadap Imamah dari Jawwad, Hadi dan Imam sisanya. Ia kemudian membatasi generalisasi dari Al-Qur’an… Karena hal itu tidak cukup, ia menolak makna yang umum ayat pengendalian kekayaan anak yatim, dengan mengecualikan anak-anak Imam.

Meskipun bukti filosofis yang bersifat dugaan dan lemah berlawanan dengan tradisi perawi tunggal, tidak akan bisa membuktikan sebaliknya dari generalisasi Al-Qur’an, ataupun membatasi hal itu, atau membatasi keputusan hukum yang bersifat umum, karena kenyataan historis menyangkal adanya kasus khusus apapun, di mana kasus khusus tersebut adalah Imam yang masih seorang anak kecil. Sejarah paham Syi’ah menunjukkan bahwa: IMAM JAWWAD SEBAGAI CONTOH, MEMBERIKAN WASIATNYA KEPADA PUTRANYA ALI HADI, MELALUI ABDULLAH BIN MUSAWIR, DAN MENJADIKAN SEORANG PENGAWAS ATAS WARISANNYA, TERMASUK KEBUN, PEMBELANJAAN KEKAYAAN, PARA BUDAK DSB, HINGGA WAKTUNYA KETIKA ALI BIN MUHAMMAD MENJADI DEWASA. IA MENULIS WASIAT TERSEBUT DAN MENJADIKAN AHMAD BIN KHALID SEBAGAI SEORANG SAKSI PERISTIWA ITU, DAN HAL ITU TERJADI PADA HARI MINGGU 3 DHUL HIJJAH 220 AH. (7) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1 hal. 325.

Mufid bagaimanapun, ingin sekali untuk melanjutkan debat yang bersifat intelektual secara serius setelah lebih dari 100 tahun sejak lahirnya doktrin tersebut, dan tanpa menyaksikan seorang Imampun selama masa kecilnya, sedemikian sehingga ia menetapkan sesuatu pada situasi pribadi mereka, dan seolah-olah ia mengetahui bahwa mereka memiliki kualifikasi pengecualian yang tidak alamiah? Syekh Mufid tidak akan mengacu pada sejarah untuk menetapkan doktrinnya atas dasar kenyataan… Ia merasa cukup puas dengan teori filsafat yang abstrak dan baru, setelah periode 100 tahun… Ia mengikuti sesuatu metoda yang tidak ilmiah untuk mencapai kebenaran.

6.3. BERLEBIH-LEBIHAN DALAM PERMASALAHAN ‘BADA’

Jika proses pembuatan suatu kisah bukanlah merupakan seuatu yang sulit atau suatu tindakan yang mustahil, maka melebih-lebihkan permasalahan ‘bada’ (perubahan kehendak) adalah sebuah tugas yang sangat sulit. Poros Syi’ah 12-Imam yang mengklaim adanya suatu daftar nama yang ditentukan sebelumnya sebanyak dua belas Imam, yang disiapkan lama sebelum itu, mencoba untuk menginterpretasikan berdasarkan ‘bada’ (perubahan kehendak) dari Allah, dan mengklaim hilangnya urusan perintah mengenai Imamah dari Kadhim dan Askari dan kemunculannya kembali setelah meninggalnya Ismail, dan Sayyid Muhammad Syekh Saduq bagaimanapun, dengan penuh semangat telah menolak untuk mengakui keberadaan hadith ‘bada’ dan berkata, sambil ditujukan kepada paham Zaydiah: “Kenapa kamu berkata bahwa Ja’far bin Muhammad telah menetapkan (dengan dalil) bahwa Ismail sebagai Imam? Apa cerita tentang hal itu? Dan siapa di belakang cerita tersebut? Bagaimana hal itu bisa diterima? Ini hanyalah suatu kisah yang dilahirkan oleh sebagian orang yang percaya akan Imamah dari Ismail. Cerita itu tidak punya dasar dalam pernyataanya:”

“Tidak ada sesuatupun yang menjadikan Allah (merubah kehendakNya) seperti kasus putraku Ismail. Ia berkata: Tidak ada sesuatupun yang telah nampak bagi Allah sebagaimana yang nampak pada Ismail putraku, karena Ia menerima dia pada masa hidupku untuk memperlihatkan bahwa ia bukanlah Imam setelah aku. ‘Bada’ yang sedang diatributkan kepada Syi’ah Imamah tersebut berarti penampakan urusanNya. (8) Saduq: Ikmal al-Din. hal. 69.

Bagaimanapun Saffar, Kulayni, Mufid dan Tusi, semuanya telah melaporkan dari Abu Hisham Dawud bin Qasim Al-Ja’fari, sebuah Hadith yang menetapkan kejadian ‘bada’ mengenai Isma’il dan Sayyid Muhammad. Mengenai hal itu datang dengan jelas: “Sadiq menunjuk Ismail dan Hadi menunjuk Muhammad tetapi kemudian mengubah dengan Musa dan Abu Muhammad (Askari).” (9) Kulayni: Al-Kafi vol.1, hal. 328; Tusi: Al-Ghaybah hal. 55 dan 130; Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 317; Al-Majlisi: Al-Bihar, vol. 50 hal. 241.

Saffar, Kulayni, Mufid dan Tusi menceriterakan sebuah hadits dari Imam Hadi yang berkata kepada putranya Hassan: “Wahai putraku, bangkitkan mereka untuk berterimakasih kepada Allah karena Ia telah membangkitkan suatu urusan baru mengenai kamu.” (10) Kulayni: Al-Kafi vol.1 hal. 326-328; Saffar: Basair al-Darajat hal. 473; Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah hal.337; Tusi: Al-Ghaybah hal. 122.

Saduq telah melewatkan hadits-hadits seperti itu dan telah membebaskan dirinya dari tugas memperdebatkan dan menyangkal hal itu dan telah dengan sepenuhnya mengabaikan hal itu, sekalipun, hadits itu telah disetujui oleh sarjana hadith yang lebih awal dan belakangan.

Di samping sifat alamiah yang terus terang pada tradisi seperti ini perihal isu ‘bada’ mengenai Imamah, Syekh Mufid mencoba untuk menafsir ulang arti dari ‘bada’ atas dasar perubahan pengetahuan Allah atau kehendakNya, yang nampak pada kata yang menghasilkan arti yang lain dari kata ‘penampakan’. Ia berkata: arti dari statemen Syi’ah Imamiah: bahwa Allah telah mengubah kehendakNya pada anu dan anu, ini berarti: Nampak kepada Dia pada anu dan anu, dan arti dari ‘nampak pada Dia’ adalah nampak dari Dia. Sehingga apa yang kami percayai mengenai arti dari ‘bada’: adalah penampaan, yang terbatas pada apa yang nampak dari tindakan yang terjadi pada manusia di luar pengamatan/ pandangan manusia. (11) Mufid: Sharh Aqa’id al- Saduq hal. 24.

Dengan cara yang sama Syekh Tusi mencoba menafsir ulang kata ‘bada’ dengan mengatakan: ‘yang datang pada hadits dari statemennya ‘Allah mempunyai kehendak yang lain pada masalah itu’ bermakna: ‘hal itu nampak dari Allah bahwa”, orang-orang berpikir bahwa Ismail bin Ja’far adalah Imam setelah ayahnya, tetapi ketika ia meninggal, mereka mengetahui tidak berlakunya hal itu, dan mereka menjadi pasti terhadap Imamah dari Musa. Dengan cara yang sama, mereka berpikir tentang Imamah Muhammad bin Ali setelah ayahnya, tetapi ketika ia meninggal semasa hidup ayahnya, mereka mengetahui kesia-siaan apa yang mereka pikirkan. Ia berkata: “Ketika Muhammad meninggal, urusan Allah mengenai dia nampak, dan bahwa ia tidak ditetapkan sebagai Imam, sebagaimana itu nampak pada (kasus) Ismail dengan cara yang serupa. Tidak terdapat suatu dalil mengenai dia, dan nampak pada dia di kemudian hari bagi orang lain, karena tidak diperbolehkan dalam pandangan Allah, yang mengetahui segalanya dan semua konsekwensi. (12) Tusi: Al-Ghaybah hal. 56 dan 121.

Syekh Tusi menekankan pada kali yang kedua tentang, isu Imamah tidak akan menerima ‘bada’ karena akan mendorong ke arah kehilangan kepercayaan terhadap sesuatu apapun dari Allah. (13) Tusi: Al-Ghaybah hal. 264.

Syekh Ali bin Babawaih Saduq telah menolak untuk menerima ‘bada’ dalam menamai Imam dan menganggap hal demikian seperti sholat, dan puasa, yang tidak pernah dibatalkan. Ia berkata: Tidak akan ada pada Allah untuk mengubah (kehendakNya) mengenai Imam, dalam penamaan dia atau penampakannya. Apa perbedaannya, jika aku berkata: ‘Imamah adalah salah satu dari lima hukum (Shariah), terhadap orang yang menerima ‘bada’ dalam sholat dan puasa dan empat hukum sisanya, karena otoritas untuk yang empat adalah satu, yaitu Imamah. Jika memungkinkan bagi Allah membatalkan sumber hukum, maka memungkinkan juga untuk membatalkan cabangnya. Aku mencari tempat perlindungan kepada Allah dari mendukung pembatalan Shariah dan mengubah agama, setelah Allah menjadikan Muhammad (SAAW) Nabi yang terakhir bagi para nabi dan Shariahnya, yang terakhir dari semua hukum, dan telah menjadikan mempertahankan agamanya dan Shariah hingga hari penghakiman dan kebangkitan. (14) Saduq: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal. 148.

Ibn Babawaih juga mencoba untuk menginterpretasikan hadits yang menceriterakan tentang ‘bada’ setelah mengingatkan ketidakmungkinannya sebuah daftar yang ditentukan sebelumnya dari nama-nama Imam (bila percaya pada adanya ‘bada’). Ia berkata: “Imamah tidak bisa diubah….. yang dimuliakan adalah Allah, bahwa ia menempatkan sebagai para pemimpin dari para pelayannya, mereka yang bertentangan dengan perintahNya dan mengubah jalan mereka; atau bahwa kebijaksanaanNya akan mengusulkan seorang manusia untuk perlindungan Islam dan bahwa Ia akan menyimpang dari haluan lalu diayunkan menjauh dari hal itu, akan menempatkannya (Imamah) dalam sesuatu yang akan dipengaruhi secara mental karena umur tua dan hidup yang lama, yang diagungkan adalah Allah yang Maha Tinggi di atas semua yang mereka katakan.” (15) Saduq: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah hal.149-150.

Pada kenyataannya, jika Imamah adalah dari Allah, akan menjadi mustahil untuk melihat ‘bada’ (tidak terpenuhinya) Imamah, dan akan menjadi sulit untuk menafsirkan ‘bada’ sekalipun penampakan, karena hal itu akan menciptakan semacam kebingungan pada lingkaran Syi’ah, dan mereka akan kehilangan kepercayaan terhadap ucapan-ucapan dari Imam mereka, sebagaimana yang terjadi di dalam sejarah.

Tetapi sebagai gantinya, ahli ilmu agama yang mempelajari tradisi Ahl al-Bayt dan fakta historis yang menekankan bahwa beberapa Imam menunjuk para putra mereka menjadi Imam, tetapi kemudian mereka meninggal semasa hidup mereka, dan kemudian mereka menunjuk yang lain. Mereka menyimpulkan hal itu, bahwa Imamah tidaklah dari Allah, sebagaimana yang para pemimpin Ahl al-Bayt katakan. Sebagai ganti hal ini, ahli ilmu agama (Mutakallimun) dari Syi’ah 12-Imam mencoba penginterpretasian ‘bada’ dalam suatu cara yang dipaksakan agar sesuai dengan teori Imamah. Mereka, bagaimanapun, memaksakan untuk mengakui kerancuan di dalam dalil mengenai Imam-Imam, dan juga ketiadaan pengetahuan Syi’ah dan sebagian dari para pemimpin mereka (Imam) tentang daftar yang telah ditentukan sebelumnya dari nama-nama mereka.

Syekh Baqir Sharif Al-Qurashi berkata dalam bukunya ‘Hayat al-Imam Hassan al-Askari’.…Bagaimanapun juga, kisah-kisah ini tidak berkaitan dengan ‘bada’, kisah-kisah tersebut hanya mengindikasikan bahwa Allah telah membawa kepada terbuka dari Imamah Hassan Askari yang tersembunyi di depan Syi’ah.” (16) Al-Qurashi: Hayat al-Imam al Hassan hal. 72.

Sebagai tambahan terhadap isu ‘bada’ yang dengan jelas kontradiksi dengan daftar nama dua belas Imam yang telah ditentukan sebelumnya, TERDAPAT JUGA BEBERAPA HADITS DI DALAM BUKU SALIM BIN QAYS AL-HILALI DAN ‘AL-KAFI’ DARI KULAYNI, YANG MENYEBUTKAN BAHWA BANYAKNYA IMAM ADALAH TIGA BELAS (13). ATAS DASAR ITU SUATU SEKTE TELAH MUNCUL YANG DISEBUT SYI’AH ‘13-IMAM’ DI BAWAH KEPEMIMPINAN CUCU DARI UTHMAN BIN SAID AL-UMARI, YAITU AHMAD BIN HIBAT AL-LAH AL-KATIB.

Karena inilah doktrin ’12-Imam’ pada awalnya tidak diterima tanpa kesulitan di antara Syi’ah Imamiah. Saduq telah secara blak-blakan berkata: “Kita tidak menerima hal itu (dari sisi yang bersifat kebaktian), kecuali dengan mengakui keberadaan keduabelas Imam tersebut, dan percaya pada apa yang Imam ke-12 sebutkan setelah dia.”

Saduq juga melaporkan sejumlah hadits tentang kemungkinan perpanjangan Imamah setelah Mahdi, dan tidak terkurung atau terbatas pada dia. Ia melaporkan dari Imam Ali sebuah tradisi tentang kerancuan situasi setelah pemimpin (Qaim), dan bahwa Pesuruh Allah (SAAW) telah mengambil suatu perjanjian dari dia, untuk tidak menceritakan tentang itu kepada seseorangpun kecuali Hassan dan Hussain. Ia juga berkata: “Jangan bertanya apa yang akan terjadi setelah itu, sebab kekasihku telah mengambil suatu perjanjian dariku untuk tidak menceritakan kepada orang lain untuk menyelamatkan anggota keluargaku.” (17) Saduq: Ikmal al-Din hal. 77-78.

Bagaimanapun teori 12-Imam berbeda dari doktrin Imamiah dalam arti bahwa doktrin Imamiah berputar di sekitar Imam dari Ahl al-Bayt, yang mereka hidup dalam realitas, dan mengklaim bahwa mereka lebih layak sebagai penguasa dan Khalifah dibanding para penguasa Umayyah dan Abbasiah. Mereka juga percaya bahwa Allah menetapkan para Imam tersebut. Pada sisi yang lain, doktrin 12-Imam berputar di sekitar Imam yang ghoib, tanpa jejak dalam kehidupan, yaitu Imam yang ke-12, Muhammad bin Hassan Askari, yang diklaim telah dilahirkan dalam keadaan misterius, dan pergi bersembunyi, dan akan muncul kembali pada masa depan.

KEPERCAYAAN PADA ADANYA IMAM YANG KE-12, KEGHOIBANNYA DAN PENANTIAN DIA, MENDORONG HILANGNYA ARTI POLITIK DARI DOKTRIN 12-IMAM, YANG PADA GILIRANNYA MENDORONG PENARIKAN PENGIKUT PAHAM SYI’AH 12-IMAM DARI AKTIFITAS YANG BERSIFAT POLITIS DAN PUNAHNYA PERAN MEREKA PADA ABAD KE-4 HIJRAH, DAN MEMBERIKAN JALAN KEPADA SEKTE SYI’AH YANG LAIN SEPERTI ZAYDIAH DAN ISMA’ILIAH UNTUK MENDUDUKI KANCAH POLITIK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: