BAB V. TEORI IMAMAH MENGHADAPI TANTANGAN

1

May 25, 2011 by Islam saja

BAB V

TEORI IMAMAH MENGHADAPI TANTANGAN

5.1. KRITIK TERHADAP FILOSOFI ‘ISMAH’

Begitu teori Imamah ilahiah lahir, ia menghadapi suatu rangkaian tantangan, yang meminta untuk diuji. Tantangan tersebut menetapkan ketidakmungkinan doktrin tersebut. Pada satu sisi, doktrin ‘ismah’, yang mendasari doktrin lainnya, adalah sebuah teori baru, dan ditolak oleh semua anggota keluarga Nabi dan Syi’ah pada umumnya.

Hal itu dikarenakan filosofi ‘ismah’ didasarkan pada prinsip ketaatan mutlak kepada semua yang mempunyai otoritas, dengan sedikit atau tidak ada ruang untuk relatifitas dalam hal ketaatan, seperti menyangkal suatu pernyataan Imam atau mengingkari dia dalam keburukan dan dalam perkara yang tidak diperbolehkan, sepanjang ia memerintahkan demikian, atau tidak memasukkan dia (sebagai imam) ketika ketidaktaatannya (fisq) jelas terlihat.

Ini adalah prinsip yang sama yang diperjuangkan oleh para penguasa yang tidak beriman dari bani Umayyah, yang menekan Muslimin atas dasar doktrin itu, untuk mematuhi mereka secara mutlak dalam kebaikan dan kejahatan. Inilah yang mendorong ahli filsafat Syi’ah Imamiah kepada pendirian yang tidak tetap dan kontradiksi, antara perlunya mematuhi Allah, yang Maha Agung, yang juga memerintahkan kita untuk mematuhi mereka yang mempunyai otoritas, pada ayat yang agung “Wahai orang yang beriman! Patuhilah Allah dan patuhilah Rasulullah dan mereka yang mempunyai otoritas di antara kamu…” dan perlunya mematuhi para penguasa secara mutlak, bahkan pada keburukan dan hal yang dilarang. (1) Al-Karajike: Kanz al-Irfan hal. 449; Tusi: Talkhis al- Shafi, Vol-1 hal.192; Al-Hilli: Minhaj al-Karamah fi Ithbat al-Imamah, hal. 51 dan Nahj al-Haq, hal.164.

Telah mapan bahwa ayat tersebut harus dipahami dalam terminologi ketaatan mutlak, dan juga ketaatan relatif. Pada kenyataannya, pendapat yang kedua ini adalah apa yang dapat diserap dan dibentuk berdasarkan kebiasaan, akal dan ayat Al-Qur’an yang lain, yang menekankan prinsip “tidak ada ketaatan kepada makhluq pada apa yang melibatkan penentangan kepada pencipta.”

Meskipun ayat ‘mereka yang punya otoritas’ berlaku bagi para penguasa yang sedang ditugaskan oleh Nabi (SAAW) semasa hidupnya, Muslimin awal, tidak mempunyai kepercayaan bahwa itu berarti taat secara mutlak, termasuk ketaatan yang melibatkan kejahatan dan pembangkangan. Sekelompok Muslimin berkeberatan mematuhi seorang laki-laki yang ditunjuk oleh Nabi (SAAW) untuk memimpin suatu ekspedisi, ketika ia memerintah kelompok tersebut memasuki api yang telah ia nyalakan, dan menuntut kepada mereka untuk mematuhi dia. Dan mereka berkata kepada pemimpin tersebut, ‘kita telah lepas dari api, bagaimana mungkin kita memasukinya lagi?’. Mereka memahami ketaatan dalam batas-batas kebiasaan umum, akal sehat dan hukum, dan tidak di luar dari itu. Mereka kembali dan menceriterakan apa yang terjadi kepada Nabi (SAAW) dan ia membenarkan mereka tentang pendirian mereka yang rasional. Ia memperingatkan mereka sambil berkata: “Jika kamu telah memasukinya, kamu pasti telah tinggal di dalamnya (selamanya).”

Hal ini lebih lanjut mendukungan kemungkinan pemahaman ayat Al-Qur’an dalam istilah  yang relatif, dalam batas yang masuk akal, apa yang dikenal dari riwayat hidup Nabi (SAAW) dan hukum, dan tidak boleh selalu memahaminya dalam terminologi mutlak, bahkan dalam kasus dimana terjadi kontradiksi dengan keputusan hukum yang lain, akal sehat ataupun hukum.

Jika taat secara mutlak tersebut tidak diwajibkan dan ditetapkan adanya relatifitas pada saat mematuhi ‘mereka yang punya otoritas’, maka tidak akan diperlukan adanya suatu kondisi ‘ismah’ pada Imam. Akan menjadi sesuatu yang mungkin bagi Muslimin untuk memilih pemimpin mereka, atas dasar keadilan yang nyata terlihat, kealiman dan kemampuan untuk menerapkan agama terhadap mereka, dan untuk memerintahkan yang benar dan melarang yang salah. Jika pemimpin ini menyimpang, maka mereka berhak untuk menentang dia, dan menolak perintahnya, dan bahkan mengeluarkan dia dari posiai Imamah. Allah tidak akan memaksakan ketaatan kepada mereka.

Bagaimanapun, ahli ilmu agama Syi’ah Imamiah telah secara total menolak teori relatifitas, dan mereka meminta dengan tegas tentang gagasan taat secara mutlak pada ayat tersebut di atas. Karena hal inilah, mereka membangun gagasan ‘ismah’ mereka dengan pondasi ini. Mereka kemudian menetapkan semua doktrin mereka yang lain berdasarkan doktrin ‘ismah’. (2) Saduq: Ikmal al-Din, hal.362-368; Majlisi: Bihar al-Anwar, Vol.11 hal. 291; Al-Hilli: Kashf al-Murad, hal.365; Mufid: Sharh Aqaid al-Saduq, hal.106; Mufid: Al-Nukat al-Itiqadiyyah hal. 48-49.

5.2. POSISI ANGGOTA AHL AL BAYT TERHADAP DOKTRIN ‘ISMAH’

Masalah yang terbesar yang dihadapi oleh ahli filsafat Imamiah pada saat proses membangun doktrin Imamah Ilahiah, dari Imam ‘Ahl al-Bayt’, dengan bersandar pada posisi anggota Keluarga Nabi sendiri pada doktrin ‘ismah’, adalah karena mereka sepenuhnya menolak doktrin itu. Dan mereka biasa mengumumkan di depan orang banyak bahwa mereka adalah manusia biasa seperti pada umumnya, yang dapat melakukan kesalahan, sebagaimana mereka dapat juga berbuat benar. Mereka menuntut orang-orang untuk mengkritik mereka dan memandu mereka, dan berdiri sebagai oposisi bilamana mereka melakukan kesalahan atau memerintahkan kejahatan – yang Allah larang.

Ini adalah posisi Pemimpin orang beriman Ali bin Abi Talib ketika ia berdiri di dalam mesjid Kufah, dan ditujukan kepada kerumunan orang dengan berkata hal ini: “Sesungguhnya hak seseorang yang bersaksi tentang kebesaran Allah di dalam hatinya, dan mengagungkan posisiNya di dalam pikirannya, menganggap kecil dan memandang rendah semua benda dan mahluk. Yang terbaik dari mereka adalah yang demikian: seseorang yang kepadanya kemurahan Allah telah diperbanyak, demikian juga kebajikanNya. Karena kurnia Allah kepada seseorang belum pernah berlimpah-limpah, kecuali hak Allah kepada dia menjadi besar. Salah satu kondisi yang paling hina dari para pemimpin dalam pandangan orang-orang yang baik, adalah ketika hal itu dipikirkan oleh mereka sebagai pencinta kebanggaan, dan urusan mereka didasarkan pada keangkuhan. Aku membenci hal itu yang mungkin ada pada pikiranmu, bahwa aku mencintai kata-kata sanjungan dan angin pujian. Aku tidaklah seperti itu. Sekalipun jika aku mencintai hal itu, aku pasti telah meninggalkannya dalam ketundukan kepada Allah Yang Agung, ketimbang menikmati apa yang paling layak bagi Allah, tentang keagungan dan kebesaran. Orang-orang boleh melihat pujian sebagai pemanis setelah ujian, tetapi pujilah aku dengan istilah yang ringan, karena aku telah memberikan diriku mengakui hak yang aku belum berikan kepada (pemiliknya) dan karena tugas-tugas yang harus aku laksanakan. ….. Jangan berinteraksi dengan aku secara bermuka dua, dan jangan berpikir bahwa aku akan menjadi lesu untuk suatu kebenaran yang dikatakan menjadi milikku, karena aku tidak menyombongkan diriku sesuatu yang tidak benar untuk aku, karena seseorang yang mengambil kebenaran sebagai beban berat, atau keadilan yang telah ditempatkan di depan dia, ia akan menemukan bahwa hal itu sangat sulit untuk bertindak sesuai dengannya. Kamu seharusnya tidak pernah berhenti berkata kebenaran dan menasihati keadilan, SEBAB AKU TIDAKLAH TERHINDAR DARI MELAKUKAN KEKELIRUAN, DAN AKU TIDAK MERASA DIJAMIN AMAN DARI HAL ITU DALAM TINDAKANKU, KECUALI JIKA ALLAH MENCUKUPI AKU DALAM HAL YANG IA MEMPUNYAI KUASA YANG DI ATASNYA AKU TIDAK MEMPUNYAI KUASA. Kamu dan aku adalah para budak yang dimiliki oleh Tuhan di sampingNya tidak ada Tuhan. Ia mempunyai kuasa mengenai diri kita pada apa yang kita tidak punya kuasa. Ia adalah satu-satunya yang membawa kita kepada apa yang kita sekarang menjadi apa yang baik bagi kita. Ia mengganti kesesatan, dengan bimbingan dan memberkati kita dengan pengertian yang mendalam setelah kebutaan.” (3) Raudah al-Kafi, hal. 292-293; Majlisi: Fi Bihar al-Anwar, Vol. 74, hal. 309; Nahj al-Balaghah, khotbah ke 215.

Pada khotbah yang lain,  pemimpin orang beriman, Imam Ali menyebutkan Kharijiah, Al-Kharit bin Najiyah dan usaha awal dari dia yang menghasut Imam untuk membunuh dan menangkap sejumlah tokoh oposisi terkemuka, dan pernyataan Imam kepadanya, dan kepada masyarakat umum, bahwa tugas mereka adalah berdiri di pihaknya, dan mencegah dia, bahkan jika ia ingin melakukan hal itu sendiri, dan perkataannya kepada dia “Takutlah Allah!”

Imam Ali tidak berkata hal itu kepada dia, jika memang terdapat tradisi tentang ‘ismah’ diantara Imam dan Syi’ah dan Muslimin (yang lain). Yaitu karena, kemuliaan dari ‘ismah’ menjadikan perlunya seorang Imam menjadi bebas dari segala macam kritik, dan ia akan terhindar dari segala bentuk oposisi, atau usaha apapun dari seseorang untuk menasehati dan membimbing dia. Imam Ali belum pernah melakukan hal itu, ia melukiskan contoh terbaik dari kerendahan hati dan persamaan … Ia tidak meminta para sahabatnya untuk melaksanakan aturan politis mereka untuk mengecek dan mengoreksi Imam (jika ‘ismah’ merupakan norma).

Ia (Ali) berkata dalam do’a-nya: “Wahai Allah maafkan aku apa yang engkau ketahui tentang aku, jika aku kembali ke hal itu lagi, maafkan aku lagi. Wahai Allah! Maafkan aku apa yang aku simpan dalam pikiranku, tetapi Engkau tidak memenuhi untuk aku! Wahai Allah! Maafkan aku apa yang aku berkata dengan lidahku dalam ketaatan kepada kamu, tetapi hatiku plin-plan dengan itu! Wahai Allah memaafkan aku pandangan sekilas mata, kesalahan dalam ucapan, keinginan hati dan terplesetnya untuk lidah.” (4) Imam Ali: Nahj al-Balaghah hal.104.

Pada tempat yang lain, Imam Ali menyebutkan kualitas penguasa dan pesyaratan dasar yang harus ada pada dia, tanpa menjelaskan adanya ‘‘ismah’’ sebagai salah satu dari syarat tersebut. Ia berkata: “…Tidaklah sesuai bagi seorang pemimpin masyarakat, dalam pribadi mereka, darah, barang rampasan, dan Imam Muslimin (tidaklah sesuai jika): seorang yang kikir sedemikian sehingga ia akan menemukan nafsunya di dalam kekayaan mereka; ataupun seorang yang bodoh, agar ia tidak membiarkan mereka tersesat dengan ketidak-tahuannya. Ataupun berperilaku kasar, agar ia tidak berubah menjadi kelompok yang berbeda melalui kekasarannya; ataupun seorang yang tidak adil terhadap masyarakat dengan menerima sebagian dan menolak yang lain, ataupun seseorang yang mengambil uang suap dalam memutuskan hukum, yang ia menyangkal masyarakat tentang hak mereka; ataupun orang yang mengabaikan tradisi (sunnah), agar Ummah tidak dibinasakan.” (5) Imam Ali: Nahj al-Balaghah hal.189, Khutbah No.131.

Ia juga berkata dalam khotbah yang lain: “Wahai orang-orang, sungguh pasti orang yang paling pantas dan layak untuk masalah ini adalah yang paling kuat dari mereka dalam masalah itu, dan yang paling banyak mengetahui instruksi Allah mengenai masalah itu.” (6) Imam Ali: Nahj al-Balaghah, Khutbah No.173 hal. 247

Saduq menceriterakan di dalam Amali cerita tentang Fatimah al-Zahra (SAAW), yang isi dari cerita itu tidak sesuai dengan teori ‘ismah’, seperti yang dinyatakan oleh ahli ilmu agama tersebut. Ia melaporkan bahwa: Sekali waktu Imam Ali bin Abi Talib membelanjakan kekayaan dari sebuah ladang (pertanian) yang ia jual, hingga ia tidak menyisakan bahkan suatu sen pun. Fatimah memprotes dan memegang pakaiannya. Jibril turun dan memberi tahu Nabi (SAAW), yang kemudian pergi kepadanya dan berkata: “Tidak diperbolehkan bagi kamu memegang pakaiannya, atau memukul tangannya.” Dia berkata: “Aku memohon pengampunan Allah dan aku tidak akan mengulanginya lagi.” (7) Amali al-Saduq, hal. 470.

Sebagaimana Sharif al-Rida yang juga menyebutkan di dalam ‘Khasa’is al-A’imah’, bahwa Imam Hussain sekali waktu meminjam sebuah kain beludru dari perbendaharaan masyarakat yang membangkitkan amarah Imam Ali sambil berkata kepada dia: “Wahai ayah Muhammad (waspadalah terhadap) api!… Wahai ayah Muhammad (waspadalah terhadap) api…. Hingga ia pergi keluar dengan itu.” (8) Sharif al-Rida: Khasais al-Aimah, hal.28.

Demikian juga Imam Hussain (SAAW) tidak menunjuk masalah ‘ismah’ di dalam suratnya kepada masyarakat Kufah, yang dikirimkan melalui utusannya Muslimin bin Aqeel, ia hanya menyinggung masalah perlunya keberadaan kualitas tertentu pada seorang penguasa, seperti taqwa (takut kepada Allah), dan melaksanakan apa yang didiktekan oleh Al-Qur’an dan agama. Ia berkata: “Demi (Allah yang memegang) masa hidupku…Imam bukanlah seseorang selain dari yang bertindak sesuai dengan ajaran Kitab, yang membatasi dirinya dengan kehendak Allah, yang adil dan mengikuti agama Allah.” (9) Mufid al-Irshad ,hal.204

Imam Baqir melaporkan sebuah Hadith dari Rasulullah tentang kualitas penguasa, tetapi ia tidak memasukkan syarat ‘‘ismah’’. Ia berkata: “Rasulullah (SAAW) berkata: “Kepemimpinan dari Ummahku akan benar hanya bagi mereka yang menguasai tiga kualitas, yakni: takut pada Tuhan yang menghalangi dia dari menentang Allah, dan kesabaran yang dengannya ia mengendalikan kemarahannya dan kepemimpinan yang baik kepada semua yang ia pimpin, hingga ia menjadi kepada mereka seperti seorang ayah yang bermurah hati.” Pada narasi yang lain- “Hingga ia menjadi subyek seperti seorang ayah yang bermurah hati.” Hal ini menandai bahwa  Imamah dapat dari antara masyarakat umum dengan kualitas di atas. (10) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1, hal. 407.

Imam Sadiq (SAAW) telah berkata: “Demi Allah, kami tidak lain adalah hamba … kami tidak bisa menimbulkan kerugian atau manfaat (bagi seseorang). Jika kami menemukan kemurahan hati; adalah karena Dia, dan jika kami dihukum, adalah karena dosa kami. Demi Allah, kami tidak punya alasan di depan Allah, ataupun kami mengklaim tidak bersalah di depan Dia. Pasti kami akan mati, dan akan diletakkan di dalam kubur, dan akan dihidupkan kembali dan ditanyai. Aku bersaksi di depan kamu bahwa aku adalah seorang laki-laki yang dilahirkan oleh Rasulullah tanpa mengklaim tidak bersalah dari Allah. Jika aku mematuhiNya, Ia akan mencurahkan kemurahanNya padaku, dan jika aku menentangNya, Ia akan menghukum aku dengan keras.” (11) Kulayni: Al-Kafi, Al-Raudah, hal. 212; Al-Har al-Amili: Ithbat al-Hudah, hal.770.

Ada dua kisah lainya yang disebutkan oleh Saduq di dalam bukunya, ‘Uyun Akhbar al-Rida’ tentang ‘ismah’ para Nabi. Ia berkata: “Imam Rida mendiskusikan masalah itu (dua kisah) dengan Ali bin Muhammad bin Al-Jahm, pelayan Ma’mun dan ia menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas tentang kekeliruan (dosa) dari para Nabi dan membersihkan mereka dari dosa-dosa tersebut. Pembawa cerita tidak menyebutkan Hadith manapun dari Imam Rida mengenai ‘ismah’ Imam, yang memperlihatkan tidak adanya penggunaan doktrin ‘ismah’ dari seluruh anggota keluarga Nabi, dan tidak adanya atau munculnya Hadiths seperti itu pada zaman itu, kecuali pada Syi’ah Imamiah dan Syi’ah ekstrim, dan hal itupun terjadi secara rahasia. Jika Hadith tentang ‘ismah’ mempunyai landasan dalam pandangan anggota Ahl al-Bayt, semestinya Imam Rida telah mendiskusikannya. Karena ia, sebagaimana sedang dikatakan, biasa mendiskusikan Imamah secara terbuka dan terus terang, sebab ia tidak takut kepada Khalifah Abbasiah, Ma’mun, karena ia menjadi putra mahkota … Maka mengapa Imam Rida hanya menyebutkan ‘ismah’ para Nabi (AS), tetapi tidak berbicara tentang ‘ismah’  Imam.” (12) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal.153-155.

Di samping terdapat pendirian yang jelas dari Ahl al-Bayt terhadap klaim ‘ismah’, dan penekanan mereka bahwa mereka manusia normal biasa, dan pencarian mereka pada pengampunan Allah pada apa yang mereka lakukan, tetapi paham Syi’ah Imamiah telah mencoba melekatkan hal itu, dengan menginterpretasikan kisah yang otentik tersebut, yang menyangkal ‘ismah’, dengan mengatakan bahwa hadist-hadist tersebut datang dari Imam pada saat mengajar di muka masyarakat umum, atau mereka mengeluarkan pernyataan tersebut secara Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan). Mereka menceriterakan berdampingan dengan laporan ini, bahwa sekelompok kisah lainnya mengakui adanya ‘ismah’ dalam istilah yang jelas, dan merupakan suatu kondisi pada diri Imam atau Imam-imam dari Ahl al-Bayt. Kisah-kisah tersebut lemah,  rancu dan tidak spesifik.

Terdapat sebuah Hadith Mursal (di mana seorang sahabat tidak ada) dari Imam Zayn Al-Abidin, bahwa ia berkata: “Imam di antara kami harus sempurna. ‘Ismah’ bukanlah suatu penampilan jasmani yang dapat dilihat dan dikenali oleh rakyat, tetapi hal itu adalah berpegang pada tali Allah. Dan tali Allah adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an memandu kepada Imam.” (13) Hashim Maruf al-Hassani: Bayn al-Tasawwuf wa al-Tashayyu, hal.116.

Sekalipun jika kita melewatkan untuk meneliti dengan cermat tradisi ini yang tidak mempunyai rantai penyampai, yang hanya diatributkan kepada Imam Zayn al-Abidin, adalah jelas bahwa tradisi itu menginterpretasikan ‘ismah’ dengan perpegang pada tali Allah, yaitu Al-Qur’an. Ia tidak menyebutkan segala bentuk perbuatan yang dibebankan oleh Allah di sekitar Imam, yang mencegah dia dari melakukan dosa, sebagaimana ahli ilmu agama katakan.

Ada tradisi yang lain dari Imam Sadiq (SAAW) di mana ia menginterpretasikan ‘ismah’ (ma’sum), sebagai seseorang yang menjauhkan diri karena Allah, dari semua yang Allah telah larang. Allah yang Maha Tinggi telah berkata: “…. Dan siapapun yang berpegang dengan kuat kepada Allah, maka ia sungguh telah dipandu pada jalan yang lurus.’ Hal ini juga menekankan pada makna yang sama sebagaimana yang diberikan oleh Imam Sajjad. (14) Majlisi: Bihar al-Anwar, Vol.25, hal.194.

Saduq juga telah melaporkan di dalam Ikmal al-Din dari Salim bin Qays dari Pemimpin  orang beriman (Ali) bahwa ia berkata: “Allah sungguh telah membersihkan kami dan melindungi kami dan telah membuat kami berada di rombongan Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an bersama kami, kami tidak pernah akan terpisah dengannya, sebagaimana ia tidak akan pernah berpisah dari kami.”

Ia juga telah melaporkan di dalam ‘Uyun Akhbar al-Rida’, dari Abdullah bin Abbas yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah (SAAW) berkata: “Diriku dan Ali dan Hassan dan Hussain dan sembilan anak-anak Hussain dibersihkan dan tidak berbuat salah. Al-Majlisi melaporkan di dalam ‘Bihar al-Anwar’ sejumlah tradisi yang ia berkata diatributkan kepada Salim bin Qays al-Hilali, tetapi tradisi tersebut tidak ditemukan di dalam buku Sulaim. Ia menyebutkan sebagian dari hadist-hadist tersebut, sebuah tradisi yang mengatakan: “Ketaatan tentu saja kepada Allah, yang Maha Agung dan kepada PesuruhNya dan kepada mereka yang mempunyai otoritas. Allah telah memerintahkan ketaatan dari semua yang mempunyai otoritas karena mereka tidak berbuat salah dan disucikan, dan mereka tidak memerintahkan sesuatu keburukan.” (15) Majlisi: Bihar al-Anwar, vol.7, Bab tentang perlunya Ismah pada Imam.

Tradisi-tradisi tersebut ini tidak mempunyai nilai intelektual, karena mereka tidak mempunyai rantai periwayatan, ataupun otentik.

Terdapat kisah panjang lainnya yang hanya ditemukan oleh Saduq, dari Imam Rida, yang berbicara secara terbuka dan di depan Khalifah Abbasiah, Ma’mun, tentang ‘ismah’ Ahl al-Bayt, ciri dan karakteristik kebaikan mereka. (16) Saduq: Uyun akhbar al-Rida, hal. 179-188.

Tetapi laporan itu mempunyai rantai transmisi lemah, hal itu karena Saduq melaporkan hadist itu dari Ali bin Hussain bin Shadhiwaih Al-Mu’addab (pelapor yang ditinggalkan) dan Jafar bin Muhammad bin Masrur (juga ditinggalkan), dan Al-Rayyan bin al-Salt (pelapor yang lemah), yang dulunya salah satu dari para pendukung Fadl bin Sahl, tanpa mengaitkan pernyataannya kepada seseorang, maupun mengakui telah hadir dan mendengar sendiri tradisi tersebut. Itulah mengapa tak seorangpun melaporkan hadist itu di depan Saduq, yang hidup pada pertengahan abad ke-4 Hijrah. Sebagai tambahan terhadap hadist itu, mencakup sebuah pernyataan tentang tahrif Al-Qur’an, di mana menambahkan ‘Wa rahtuka, al-Mukhlisin’ pada “Dan peringatkan keluarga dekatmu”, yang mengkalim bahwa ayat itu dihapus dari Al-Qur’an. Hal inilah apa yang sekte ekstrimis biasa berkata dan mengatributkannya kepada Imam. Para Imam telah selalu memungkiri pernyataan seperti itu dan menolaknya. Kisah tersebut juga bergantung pada sebuah pendekatan hermeneutical dan penafsiran yang sewenang-wenang pada waktu yang lain. Sungguhpun kisah tersebut mencoba untuk menetapkan tidak berbuat salahnya dan kesucian anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt), dan ketidakmungkinan pengingkaran mereka terhadap agama dan tidak pernah berbalik kepada kesesatan, ia tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan siapa yang dimaksud ‘Ahl al-Bayt; setelah membatasi mereka kepada anak-anak Nabi dan Imam Ali bin Abi Talib, tanpa bukti yang kuat dan jelas ….

Di samping adanya perbedaan di antara mereka pada isu ini, anak-anak dari Imam yang berbeda tetap dalam kondisi konflik antar mereka sendiri, dan masing-masing dari mereka mengklaim bahwa ia adalah Imam dan paling layak setelah ayahnya. Ia akan menuduh yang lain berbohong dan munafik, dan menyimpang jauh dari kebenaran. Kisah tersebut juga membongkar usaha ahli filsafat yang menafsirkan Al-Qur’an sejalan dengan teori baru mereka tentang ‘ismah’ Imam.

5.3. PENDIRIAN IMAM SADIQ TENTANG IMAMAH

Bagian dari apa yang menegaskan pendirian negatif dari Imam Sadiq terhadap ahli ilmu agama Imamiah, dan doktrin rahasia mereka dimana mereka mengembangkan sendiri dan jauh dari Ahl al-Bayt, dengan banyak Hadiths yang diatributkan keapda Imam. Warisan Imamiah penuh dengan hadist-hadist seperti itu, melalui penafsiran mereka atas nama Taqiyyah (penyembunyian keyakinan).

Suatu ketika delegasi Syi’ah dari Kufah, datang kepadanya dan bertanya kepada dia: “Wahai Abu Abdullah, sebagian orang datang kepada kami mengklaim bahwa di antara engkau Ahl al-Bayt ada Imam yang ketaatan kepadanya adalah wajib?” Imam berkata kepada mereka: “Tidak (ada), saya tidak mengetahui hal itu dalam anggota keluarga kami.” Mereka berkata: “Wahai Abu Abdullah, mereka adalah orang-orang yang amalnya kuat, mengasingkan diri dan alim, dan mereka mengklaim bahwa engkau adalah orangnya.” Ia kemudian berkata: “mereka lebih mengetahui apa yang mereka katakan, aku tidak memerintahkan mereka untuk melakukannya.” (17) Saffar: Basair al-Darajat, hal. 174-176; Mufid: Al-Irshad, hal. 275.

Al-Kashi menyampaikan dari Hisham bin Salim Al-Jawaliqi bahwa ia berbicara dengan seorang laki-laki di Madinah dari Bani Makhzoum tentang Imamah, orang tersebut berkata kepada dia: “Siapakah Imam hari ini?” Ia berkata kepada dia. “Jafar bin Muhammad.’ Orang tersebut heran dan berkata: “Demi Allah aku akan menceritakan kepada dia tentang hal itu.” Hal itu menyedihkan Hisham secara serius dan khawatir jika Imam Jafar Sadiq akan menyalahkan atau memungkiri dia. (18) Al-Kashi: Al-Rijal, riwayat hidup Hisham bin Salim.

Mufid menyatakan di dalam ‘Al-Irshad’ bahwa: Imam Sadiq berkata kepada Hisham bin Salim al-Tawaliqi: “Kamu ingin menceriterakan hadist tetapi kamu tidak mengetahui (hal itu).” Ia juga berkata kepada Qays al-Masir: “Kamu berbicara sesuatu yang paling jauh dari kebenaran dan pernyataan Rasulullah (SAAW), kamu adalah dari itu. Kamu mencampurkan kebenaran dengan kebohongan, sedikit kebenaran sudah cukup (dan lebih baik).” (19) Mufid: Al- Irshad, hal.280.

Al-Kashi berkata: “Imam Sadiq mencegah Mumin al-Taq saat berbicara, dan ia berkata kepada dia setelah sebuah perdebatan antara dia dan seorang laki-laki dari ‘Al-Sharah’: “Kamu menyudutkan dia, demi Allah, kamu tidak berkata sekalipun satu kata kebenaran.” Ia berkata: “Bagaimana bisa? Ia menjawab: “Sebab kamu mengatakan tentang Qiyas (deduksi berdasarkan analogi) dan Qiyas bukanlah bagian dari agamaku.” (20) Al-Kashi: Al-Rijal, riwayat hidup Mumin al-Taq.

Imam Sadiq mengirim kepada dia Mufaddal bin Umar untuk menghentikan dia (Mu’min al-Taq) dari berbicara. Ketika ia datang dekat rumahnya, ia berkata kepada dia: “Abu Abdullah menyuruh kamu untuk berhenti berbicara.” Ia menjawab: “Aku takut aku mungkin tidak mampu istiqomah.” (21) Al- Kashi: Al-Rijal, riwayat hidup Mumin al-Taq.

Imam Sadiq juga bertanya Fudail bin Uthman tentang dia (Mumin al-Taq): “Apa yang terjadi pada pemilik Taq (lengkungan), telah datang kepada saya bahwa ia kontroversial dan bahwa ia berbicara kepada ‘Taym Badr.” Ia menjawab, “Ya, ia kontroversial.” Imam kemudian berkata: “Pasti jika salah satu dari lawan cerdasnya ingin mengalahkan dia, ia dapat melakukan itu. Ia akan berkata! Ceritakan pada saya ajaranmu, dari perkataan Imammu. Jika ia berkata, Ya, ia akan berdusta terhadap kami. Dan jika ia berkata, tidak, ia akan berkata kepadanya: “Bagaimana anda berbicara tentang berbagai hal yang tidak dikatakan oleh Imam kamu?” Kemudian Imam Sadiq berkata: “Kamu mengatakan berbagai hal yang jika aku mengiakan dan menerimanya, aku berdiri dalam kesalahan, dan jika aku memungkirinya, kamu terpisah dari aku…“. Fudail bin Uthman kemudian berkata: “Perlukah aku menyampaikan pesanmu kepadanya?” Ia menjawab: “Demi Allah mereka telah pergi ke dalam sesuatu, yang tidak ada sesuatupun yang akan mencegah mereka dari meninggalkan hal itu, kecuali pengikut setia (ku).” Fudail kemudian berkata, “Aku memberi tahu Abu Ja’far Al-Ahwal mengenai hal itu, dan ia berkata: “Ia sungguh telah berbicara benar, semoga ibu dan ayahku menjadi tebusan bagi dia, tidak ada sesuatupun yang dapat mencegah kami dari meninggalkan hal itu, kecuali pengikut yang setia.” (22) Al- Kashi: Al-Rijal, Riwayat hidup Mu’min al-Taq.

Al-Kashi juga berkata: Imam Sadiq menolak untuk menerima Abu Basir, dan ia berkata kepada dia: “Orang-orang ahli Kalam (ilmu agama) akan binasa dan Muslimin akan diselamatkan. Muslimin adalah yang terpilih.” Ia juga berkata: “Aku biasa menceriterakan Hadith kepada seseorang, dan menghentikan dia dari perdebatan dan perbantahan tentang agama Allah, dan aku mencegah dia dari menggunakan ‘Qiyas’ (analogi), kemudian ketika ia meninggalkan aku ia akan menyimpangkan pernyataanku dengan suatu cara yang tidak dikatakan oleh aku. Aku telah memerintahkan sebagian orang untuk menjelaskan ajaran tersebut dan telah mencegah yang lain. Seseorang yang menyimpangkan pesanku, ia melakukan hal itu melawan dirinya sendiri, ia jatuh masuk kepada ketidakpatuhan kepada Allah dan Pesuruh Nya.” (23) Al-Kashi: Al-Rijal, Riwayat hidup Abu Basir; Al-Amili: Al-Fusul al-Muhimmah hal.28.

KOMENTAR: QIAS ADALAH DEDUKSI TERHADAP SUATU MASALAH BERDASAR ANALOGI TERHADAP MASALAH YANG LAIN. MUNGKIN YANG DIMAKSUDKAN OLEH IMAM DI SINI ADALAH BAHWA SEBAGIAN PENGIKUTNYA (YANG TIDAK SETIA) TELAH MENGGUNAKAN QIAS, MISALNYA MEREKA MENG-QIASKAN IMAMAH DENGAN KENABIAN, SEHINGGA FUNGSI/ POSISI IMAMAH ANALOG DENGAN KENABIAN. SEHINGGA KARENA NABI MA’SUM MAKA IMAM JUGA HARUS MA’SUM.

5.4. KRISIS AL- BADA’ (PERUBAHAN KEHENDAK ALLAH)

Pada sisi yang lain, doktrin Imamiah yang mulai lahir, menderita suatu kemunduran secara serius dengan peristiwa kematian Ismail bin Ja’far Sadiq. Syi’ah Imamiah di Kufah telah berkumpul di sekeliling dia, dan mengklaim bahwa mereka menyampaikan (suatu hadist) dari ayahnya, bahwa Ismail adalah khalifahnya (pengganti) setelah dia. Ketika ia meninggal pada saat ayahnya masih hidup, kejadian tersebut menjadikan semakin jelas bahwa penunjukan Imamahnya bukanlah dari Allah, karena jika hal itu benar, ia tidak akan mati sebelum ayahnya, atau Imam menunjuk orang yang ia mengetahui (dari Allah) bahwa ia (Imam pengganti) akan tetap hidup sepeninggal dia.

Karena inilah, Sulaiman bin Jarir dan sekelompok Syi’ah meninggalkan doktrin Imamiah setelah mereka mempercayainya dalam jangka waktu yang lama. Mereka kembali menganggap Imam Sadiq sebagai seorang FIGUR ULAMA BIASA, atau menganggap Imamah sebagai suatu urusan manusia kebanyakan, dengan tidak menghubungkannya kepada Allah (bahwa Imamah ditentukan oleh Allah). (24) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 55, 64, 66; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq, hal.97.

Tetapi sebuah faksi Syi’ah Imamiah yang dipengaruhi oleh pergerakan esoteric (yang hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja), yaitu Khattabiyyah, menolak untuk mempercayai Imam Sadiq dan untuk mengakui kebenaran yang jelas, tetapi malah bersikeras menyangkal kematian Ismail, mengklaim bahwa hal itu adalah sebuah drama yang dipentaskan oleh Imam, dan yang benar-benar terjadi (menurut mereka) adalah bahwa Ismail diselundupkan ke luar dari Madinah, untuk melindungi dia dari bahaya yang mengelilingi dia, “sebab tidaklah mungkin bagi Imam untuk menugaskan orang lain, yang akan meninggal semasa hidupnya.” Hal ini mengabaikan apa yang diperlihatkan oleh Imam Sadiq mengenai mayat putranya Ismail beberapa kali dan permintaan beliau kepada mereka untuk menghadiri pemakaman dan untuk melihat wajahnya untuk memastikan kematiannya. Khattabiyyah tetap menjaga Imamah pada garis keturunan anak-anak Ismail, membentuk sekte Ismailiah, yang mendirikan Kerajaan Fatimiah. (25) Nubakhti, Firaq al-Syi’ah, hal. 56; Ashari, Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 81; Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah hal. 248, 251; Irshad hal. 287.

Perihal mereka yang mengakui kematian Isma’il, mereka menyembunyikan permasalahan ini, yang menetapkan tidak adanya suatu dalil dari Allah (mengenai Imamhnya), dengan memilih untuk percaya kepada adanya ‘bada’ atau percaya bahwa Allah mengubah kehendakNya mengenai Ismail sepeninggal Imam Sadiq (atau Imamah dari Ismail tidak tercapai karena kematiannya), yang -menurut pernyataan mereka- Imam Sadiq telah menunjuk Ismail dan menjadikan dia Imam sepeninggal Imam Sadiq.

Namun faksi Syi’ah Imamiah yang lain menemukan kesulitan untuk menerima doktrin ’bada’ dan berkata bahwa mustahil bagi Allah mengubah kehendakNya. Mereka menafsirkan ‘bada’ sebagai manifestasi dari Allah, atau mereka menyangkal bahwa Imam Sadiq melakukan penunjukan putranya Ismail atau orang lain yang akan menjadi Imam sepeninggal dia. Mereka berkata bahwa, ia menolak untuk menugaskan seseorang secara pribadi. Dan kemudian ia menghubungkan dengan isu untuk mengenali seorang Imam setelah kematian Imam sebelumnya, dengan sejumlah tanda, seperti: yang paling tua (putra sulung), adanya klaim Imamah, adanya wasiat, dan mengambil tempat duduk ayahnya.

Beberapa laporan yang disampaikan oleh Saffar dan Saduq menunjukkan bahwa Muhammad bin Muslimin, Yaqub bin Shu’aib dan Abd al-A’ala tidak peduli terhadap Imam setelah Sadiq, dan ia menolak untuk menjawab pertanyaan mereka tentang menetapkan nama Imam yang menggantikan dia. Ia bagaimanapun, setelah kematian Imam Sadiq, mencari dari mereka (Ahlul Bait) dan pergi ke Madinah untuk meminta keterangan tentang Imam yang baru. (26) Saffar: Basair al-Darajat hal. 236; Saduq, Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 226.

Sebagai hasil dari ketidakjelasan yang mengelilingi identitas dari Imam yang baru, para pengikut Imam Sadiq, di antara Syi’ah Imamiah menjadi terbagi ke dalam beberapa sekte:

  1. Sekelompok dari mereka berkata bahwa Imam Sadiq tidak mati, dan ia adalah Mahdi yang ditunggu. Sekte ini disebut Nawussiah.
  2. Kelompok kedua percaya pada Imamah Isma’il, atau putranya Muhammad, dan memindahkan Imamah kepada keturunannya. Kelompok ini disebut Ismailiah. (27) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal.68; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 81. (Note: Kelompok ini masih exist hingga hari gini dan tersebar di India, Afrika, Iran, Amerika, Inggris dll).
  3. Para Syi’ah sisanya mematuhi instruksi Imam Sadiq, yang meminta mereka untuk pindah setelah kematiannya. Mereka pergi ke Madinah di mana mereka menemukan anak laki-laki tertuanya, Abdullah al-Aftah, menduduki tempat duduk ayahnya. Ia mengklaim memiliki  wasiat dari ayahnya, dan menjadi Imam sepeninggal Sadiq. Ulama dan orang terdahulu di antara Syi’ah bermufakat terhadap Imamahnya, kecuali mereka yang mengklaim Imamah Ismail.
  4. Sebagian dari Syi’ah Imamiah melaporkan dari Imam Sadiq bahwa ia meminta dari putranya,  Musa, untuk menyerahkan kepada saudaranya Abdullah, dan untuk tidak memperdebatkan dia dalam masalah ini. (28) Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 88; Jami al-Ruwah Vol. 2 hal. 546.

Pada periode ini, ZURARAH BIN A’YUN (salah seorang pengikut dua orang Imam yang terkemuka Imam Baqir dan Sadiq) meninggal, TANPA MEENGETAHUI IDENTITAS IMAM YANG BARU. Ia mengirimkan putranya, Ubaidullah dari Kufah ke Madinah, untuk menanyakan siapa Imam yang baru, tetapi keburu disusul oleh kematian. Pada saat kematiannya, ia meletakkan Al-Qur’an di atas dadanya dan berkata: “WAHAI ALLAH, AKU MEMBERIKAN KESAKSIAN UNTUK MENGIKUTI SESEORANG IMAM YANG DITETAPKAN OLEH KITAB INI.” (29) Saduq: Ikmal al-Din hal. 75-76.

Saffar, Kulayni, Mufid dan Kashi semuanya menegaskan bahwa tokoh-tokoh doktrin Imamiah seperti Hisham bin Salim al-Jawaliqi dan Muhammad bin Nu’man al-Ahwal PADA MULANYA PERGI KEPADA ABDULLAH AL-AFTAH “yang kepadanya orang-orang telah sepakat, bahwa urusan tersebut telah kembali kepada dia setelah ayahnya.” Hal itu karena apa yang orang-orang ceriterakan dari Abu Abdullah (Sadiq): “URUSAN AKAN BERADA PADA ANAK SULUNG, ASALKAN IA TIDAK PUNYA CACAT” dan desakan tegas Ammar al-Sabati (salah seorang dari sahabat keduanya, Imam Baqir dan Sadiq) terhadap Imamahnya hingga kematiannya. (30) Kulayni: Al-Kafi, vol.1 hal. 351-352; Mufid: al-Irshad, hal. 291; Saffar: Basair al-Darajat hal. 250-252; Al-Kashi: Al-Rijal, Riwayat hidup Hisham b. Salim.

Dengan cara ini, Abdullah al-Aftah menduduki posisi Imamah melalui wasiat dan karena menjadi anak sulung, dan menduduki tempat duduk ayahnya. Ia hampir menikmati konsensus dari kaum Syi’ah atas Imamahnya, tanpa keberadaan satupun dalil yang jelas tentang dia dari ayahnya, Imam Sadiq. (31) Ashari Al-Maqalat wa al-Firaq. hal. 87.

Hisham bin Salim al-Jawaliqi berkata bahwa ia sekali waktu pergi kepada Abdullah al-Aftah bersama-sama dengan sekelompok Syi’ah, dan bertanya kepadanya perihal masalah fiqh, tetapi ia tidak memberi jawaban kepada mereka dengan tepat, dan hal itu menjadikan mereka ragu pada Imamahnya dan mereka meninggalkan dia – BINGUNG dan tersesat… sehingga kami duduk di suatu sudut Kufah sambil menangis dan bingung tidak mengetahui kemana untuk kembali atau pergi. Kami berkata: Kepada Murji’ah? Kepada Zaydiah? Kepada Mutaziliah? Kepada Kharijiah? Kami berada pada kondisi itu hingga ketika aku melihat orang tua yang aku tidak mengenalnya, membuat suatu isyarat dengan tangannya. Ia berkata kepadaku: “Semoga Allah berbelas-kasih kepada kamu. Maka saya masuk ke sana dan aku menemukan Abu al-Hassan Musa. Ia berkata lebih dahulu kepadaku. “Tidak kepada Murjiiah, maupun kepada Qadariah, maupun kepada Zaydiah, maupun kepada Mu’taziliah, maupun kepada Kharijiah…. Tetapi kepada saya, kepada saya! Aku berkata kepada dia: Semoga aku menjadi tebusanmu, apa ayahmu sudah meninggal?. Ia menjawab: ’Ya’…. Saya bertanya: Kemudian siapa yang bertanggung-jawab atas masyarakat setelah dia?. Ia menjawab: “Jika Allah berkehendak membimbing kamu, Ia akan membimbing kamu.”….. Aku berkata: Semoga aku menjadi tebusanmu, apakah Anda orangnya? Ia berkata: “Tidak, aku tidak mengatakan hal itu.” Aku kemudian berkata kepada diriku: Aku tidak bertanya secara benar. Aku kemudian berkata: “Adakah Imam di atas kamu.” Ia berkata: “Tidak”. Kemudian sesuatu dari rasa hormatnya dan perasaan kagum yang hanya Allah yang mengetahui, memasuki diriku. Kemudian aku berkata: “Haruskah aku bertanya kepada Anda sebagaimana ketika aku bertanya kepada ayahmu?” Ia berkata: “Bertanyalah…. Dan kamu akan diberitahu, tetapi jangan sebarkan (fakta ini), dan jika kamu melakukannya, kamu akan dibantai.” Kemudian aku bertanya kepada dia dan menemukan dia, sebagai lautan (ilmu) yang tidak bisa dihabiskan. Aku berkata: Semoga aku menjadi tebusanmu…..para pendukung (Syi’ah) ayahmu telah tersesat (tanpa seorang pemimpin). Bolehkah aku menyatakan hal ini kepada mereka dan mengajak mereka mengikuti dirimu? Karena Engkau telah mendapatkan (suatu janji) yang bersifat rahasia dari aku.” Ia berkata: “Seseorang yang kamu temukan untuk dibimbing, kamu dapat menyatakannya di depan dia, dan membebani suatu rahasia pada dia, jika ia menyebarkan hal itu, ia akan dibantai” -dan ia memperlihatkan dengan meletakkan tangannya pada kerongkongannya. Kemudian aku pergi ke luar dari tempatnya dan menjumpai Abu Ja’far al-Ahwal, dan ia berkata kepadaku: “Apa yang terjadi padamu?“ Aku berkata: ’Bimbingan’ dan aku menerangkan kepadanya cerita tersebut. Kami kemudian menemui Fudail dan Abu Basir, mereka pergi kepada Imam, mendengarkan pernyataannya, bertanya kepada dia dan kemudian setuju untuk mengikuti dia.” (32) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 351; Mufid: Al-Irshad, hal. 291; Saffar: Basair al-Darajat hal. 250-252; Al-Kashi: Al-Rijal, riwayat hidup Hisham bin Salim.

Hisham berkata dalam kisah ini: “Orang-orang telah setuju – paling tidak pada mulanya – pada Imamah Abdullah al-Aftah, dan para pemimpin Syi’ah Imamiah tidak mengetahui apapun tentang dalil mengenai Imamah dari Kadhim, di mana Beliau menolak untuk mengakui Imamah bagi dirinya. Penetapan Imamahnya, menurut Hisham, adalah karena pengetahuannya yang luas, dan tidak siapnya Imam Kadhim untuk mengumumkan Imamahnya di depan orang banyak.

Apakah benar bahwa Hisham dan sahabatnya telah membatalkan posisi mereka mengenai Imamah Abdullah al-Aftah pada masa hidupnya atau bukan, karena Al-Aftah meninggal setelah sekitar 70 hari dari kematian ayahnya, tanpa meninggalkan suatu isu, pada jalur siapa Imamah berlanjut. Ini telah menciptakan suatu krisis baru pada golongan Syi’ah Imamiah, yang percaya bahwa Imamah adalah dari Allah, dan hal itu harus berlanjut pada keturunan dan keturunan dari keturunan hingga hari Kebangkitan. Mereka menjadi terpecah membentuk tiga sekte. Salah satu dari mereka -Musawiah- membatalkan doktrin Imamahnya dan menghapus namanya dari daftar Imam. Sebagian dari mereka yang hidup setelah dia (Abdullah) menuduh dia sebagai pembangkang (fisq), bodoh, dan menyimpang, dan hal itu disampaikan dengan tujuan untuk menjelaskan tidak sahnya Imamah Al-Aftah dari awal. (33) Mufid: Al-Fusul, hal.253; Saduq: Ikmal al-Din hal. 205.

Beberapa di antara mereka bergeser kepada gagasan Imamah saudaranya, Musa setelah Al-Aftah, seperti Abdullah bin Bukair dan Ammar bin Musa al-Sabati. Orang-orang ini dikenal sebagai Fathiah (Al-Fathiyyah), yang sebelumnya menjadi sahabat besar dari Imam Sadiq dan Imam sebelumnya. (34) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 77-78; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq, hal.87; Mufid: Al-Irshad hal. 285 dan 291.

Fathiah mengembangkan isu mengenai keturunan vertikal (perihal Imamah), dan percaya bahwa diperbolehkan dua saudara laki-laki menjadi Imam, jika orang yang lebih awal tidak punya isu.

Bagaimanapun, kelompok yang ketiga meminta dengan tegas terhadap klaim adanya seorang putra dari Abdullah al-Aftah, secara rahasia (tersembunyi), dan bahwa Al-Aftah telah menyembunyikan anak tersebut sebagai bentuk Taqiyyah: Mereka berkata bahwa namanya adalah Muhammad bin Abdullah: dan ia adalah Mahdi yang ditunggu, yang sedang dalam persembunyiannya/ ghoib di Yemen. (Komentar: cara ini barangkali yang kelak ditempuh oleh Syi’ah 12-Imam yang mengandaikan adanya seorang anak secara rahasia dari Imam Askari).

Krisis ini telah membongkar kerancuan dan kerapuhan doktrin adanya suatu dalil tentang Imamah, dan kesulitan Syi’ah Imamiah dalam menetapkan dan mengenali Imam (yang disebutkan melalui dalil dari Allah), dan konsensus mereka mengenai mereka, dan ketidakmungkinan dari mempercayai seorang Imam yang belum memenuhi syarat Imamah, dan kemudian menarik dari posisi itu di kemudian hari.

5.5. IMAMAH DARI MUSA KADHIM

Imam Musa Kadhim menjadi pemimpin yang tertinggi Syi’ah setelah kematian saudaranya Abdullah, karena pengetahuannya, kealimannya, ketaatan beragama dan karakter yang baik. Kualitas yang tinggi ini cukup untuk menaikkan pemiliknya kepada ranking Imamah (kepemimpinan) pada masyarakat Islam. Untuk mencapai kualitas tersebut, Ia tidak memerlukan penetapan ‘ismah’nya, atau suatu dalil Ilahiah mengenai dia, sebagaimana doktrin Syi’ah Imamiah, yang tidak menetapkan apapun selain dari ini, Syekh Saduq ketika memperkenalkan bukti terhadap Imamah Kadhim, berkata: “Jika Imam menyatakan dirinya, dan para pengikutnya berbeda pendapat mengenai dia, maka pengetahuannya nampak, dan kesalehan dirinya jelas bagi masyarakat umum maupun orang-orang terdekatnya, membuktikan dirinya Imam. Ini adalah tanda-tanda Imamah. Ketika kita menemukan hal itu pada Musa dan tidak ada pada orang lain, maka kita mengetahui bahwa ia adalah Imam setelah ayahnya bukan saudaranya”. (35) Saduq: Ikmal al-Din hal. 104; Tusi: Talkhis al-Shafi, Vol.4 , hal.203.

Tetapi di samping ada kerancuan yang mengelilingi isu pengganti setelah Imam Sadiq, dan kematian Zurarah yang belum sempat mengetahui Imamnya yang baru, dan penerimaan terhadap poros teori Imamah dari Imam Abdullah al-Aftah, Syi’ah Imamiah, terutama Mufaddal bin Umar, Abu Basir dan Yaqub al-Siraj, telah mencoba untuk membawakan dalil yang menetapkan wasiat dari Imam Sadiq kepada putranya Kadhim. Kulayni telah menyebutkan di dalam ‘al-Kafi,’ demikian juga Saffar di dalam ‘Basa’ir al-Darajat’ dan Saduq di dalam ‘Uyun Akhabar al-Rida’, seperti halnya Mufid di dalam ‘Al-Irshad’ – sekitar (16) enam belas dalil, yang merupakan petunjuk mulai dari yang samar-samar hingga merupakan konfirmasi yang jelas mengenai hal ini. (36) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 307; Mufid: Al-Irshad hal. 289-290; Saffar: Basair al-Darajat, hal. 440-442.

Itu hanyalah dalil-dalil yang tidak membuktikan secara menentukan dalam pergumulan Imamah, atau malahan dalil-dalil tersebut pada mulanya tidak ada. Saduq telah mengakui bahwa Imam Kadhim mengasingkan diri dari arena politik, dan menjaga secara rahasia urusannya. Syi’ah tidak memperdebatkan tentang dia. Sebuah tradisi yang aneh dilaporkan dari dia, di mana ia meng-instruksikan Syi’ah untuk mematuhi para penguasa pada setiap keadaan. Jika para penguasa tersebut adil, mereka sebaiknya berdoa kepada Allah untuk memelihara aturan mereka. Jika para penguasa tidak adil, mereka sebaiknya berdoa kepada Allah agar memandu dan menjadikan mereka lebih baik.” (37) Saduq: Ikmal al-Din hal. 361; Al-Amali hal. 338.

Karena ketidakpastian itulah maka masyarakat umum Syi’ah pada masa Imam Kadhim telah berubah arah kepada ISA BIN ZAYD BIN ALI (123-168 AH), dan membay’at dia secara diam-diam sebagai Imam pada tahun 156 AH. ketika ia sedang berada di Iraq. Orang-orang dari Ahwaz, Wasit, Makkah, Madinah dan Tihamah datang untuk membay’at dia. Ia menugaskan orang-orang untuk megajak kepadanya dan mereka mencapai Mesir dan Syria. Ia sepakat bersama-sama para pengikutnya untuk mengumumkan suatu pemberontakan setelah kematian Mansur al-Dawaniqi. Ia meninggal karena racun di bagian pinggir kota Kufah pada sisi Basrah pada tahun 168 AH. (38) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin, hal. 270.

Syi’ah juga menjawab ajakan HUSSAIN ‘SHAHID FAKH’ dan mereka datang membay’at kepadanya atas dasar Kitab Allah dan Sunnah Nabi (SAAW), agar diterima (ridha) oleh keluarga Muhammad (SAAW). Hussain mengumumkan: “Aku mengambil sumpah kesetiaanmu atas dasar Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, dan atas dasar mematuhi Allah dan Ia tidak akan ditentang, dan aku memanggil kamu untuk menerima ridha dari keluarga Muhammad (SAAW). Bahwa kami akan menerapkan pada kamu Kitab Allah dan Sunnah dari NabiNya, kami juga akan memelihara keadilan di antara berbagai permasalahan, seperti halnya distribusi yang adil (terhadap kekayaan), dengan dasar bahwa kamu mematuhi kami, dan memerangi musuh kami. Jika kami memenuhi ini untuk kamu, maka kamu memenuhi apa yang ada pada kamu untuk kami, tetapi jika kami tidak memenuhi janji kami, maka tidak ada kesetiaan apapun bagi kami pada kamu.” (39) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin, hal. 450.

5.6. BUKTI KEAJAIBAN (MU’JIZAT)

Ketika Imam Musa Kadhim tidak memanggil orang-orang untuk menerima dia (sebagai Imam), dan tidak ada dalil khusus apapun tentang dia dari Allah atau dari ayahnya, Syi’ah Imamiah memilih pada adanya keajaiban dan pengetahuan mengenai yang ghoib sebagai senjata, dalam rangka menetapkan keberadaan suatu mata rantai Ilahiah yang khusus antara Imam Kadhim dan Allah. Dan bahwa ia sendiri adalah satu-satunya ahli waris Imam Sadiq yang sah.

Abu Basir berkata bahwa, ia sekali waktu pergi kepada Imam Kadhim dan bertanya: “Semoga aku menjadi tebusanmu, bagaimana kami dapat mengetahui Imam? Ia menjawab: “Dengan beberapa kualitas: Yang pertama darinya adalah sesuatu (dokumen) pemberian dari ayahnya dan ia menunjukannya sebagai bukti, dan ketika ia ditanya pertanyaan, ia akan menceritakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dan ia akan berbicara kepada orang-orang dalam bahasa berbeda.“ Kemudian ia berkata: Wahai Abu Muhammad, karena Imam berucap yang tidak sesuatupun meskipun kicauan burung-burung, maupun ucapan dari setiap yang mempunyai ruh dapat tersembunyi dari dia. Setiap orang yang tidak mempunyai kualitas seperti  itu, ia bukanlah Imam.” (40) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 285; Mufid: Al-Irshad hal.307.

Kulayni menyatakan bahwa: “Imam Kadhim mengetahui ketika seseorang akan mati, dan ia biasa menceritakan kepada sahabatnya tentang hal itu, sebagaimana ia biasa menceritakan kepada mereka nasib mereka di masa datang.” (41) Kulayni, Al-Kafi.vol.1 hal. 484.

Dengan cara inilah, ulama hadith menceriterakan proses menetapkan Imamah Kadhim, berupa koleksi tentang keajaiban luar biasa, seperti lolosnya dari penangkapan di Baghdad, dan pematahan belenggunya dan penembusannya pada dinding, dan perginya ke Madinah dan kembalinya pada malam yang sama. Demikian juga peletakkan tandanya pada sebuat batu kecil; dan pidatonya dalam bahasa asing tanpa mempelajarinya; dan bahwa api tidak membakar dia dan perkatannya pada seekor sapi yang sudah mati yang kemudian hidup kembali. (42). Saduq: Uyun Akhbar al-Rida, hal. 104; Kulayni: Al-Kafi vol. 1 hal. 356; Saffar: Basair al-Darajat hal. 255; Mufid: al-Irshad, hal. 293; Al-Qutab al-Rawandi: Al-Kharayij wa al-Jarayih; Al-Nuri al-Tabrisi: Khatimah al-Mustadrak, hal. 565.

Hanya itulah, ‘bukti’ yang tidak mampu menegakkan (Imamah) tanpa berbagai kesulitan yang serius, terutama karena Imam Kadhim sendiri menyangkal hal itu, sebagaimana ia juga menyangkal mempunyai pengetahuan tentang yang tak terlihat (al-Ghayb).

5.7. WAQIFIYYAH

Karena doktrin Imamah sedang megap-megap setelah krisis wasiat kepada Isma’il dan ‘bada’ (perubahan kehendak), dan krisis tentang Abdullah al-Aftah dan kematiannya yang tanpa suatu isu, kemudian krisis penetapan Imamah Kadhim… doktrin tersebut menghadapi krisis yang lain yaitu kematian Imam Musa Kadhim di penjara Harun Rashid di Baghdad pada tahun 183 AH. yang terjadi secara misterius. Masyarakat Syi’ah (Musawiah) meng-klaim bahwa ia melarikan diri dari penjara dan pergi menyepi, dan menolak kematiannya.

Kematian Kadhim adalah suatu misteri yang nyata, sampai pada suatu tingkat sehingga kebanyakan dari anak-anaknya, para muridnya dan sahabatnya bingung, demikian juga beberapa perawi yang punya otoritas dan dapat dipercaya seperti Ali bin Abi Hamzah, Ali bin Al-Khattab, Ghalib bin Uthman, Muhammad bin Ishaq bin Ammar al-Taghlibi al-Sirafi, Ishaq bin Jarir, Musa bin Bakr, Wuhaib bin Hafs al-Jariri, Yahya bin Hussain bin Zayd bin Ali bin Hussain, Yahya bin Al-Qasim al-Hadha Abu Basir, Abdul Rahman bin Hajjaj, Rifa’ah bin Musa, Yunus bin Ya’qub, Jamil bin Daraj, Hammad bin Isa, Muhammad bin Ahmed bin Abi Nasr, dan keluarga Mahran dan sahabat lainnya yang dapat dipercaya. (43) Tusi: Al-Ghaybah, hal. 47; Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 34; Saduq: Uyun Akhbar al-Rida, hal. 39.

Alasan utama dari doktrin berhentinya Imamah pada Imam Kadhim yang dipercayai oleh Musawiah, dan mereka tidak menerima Imamah putranya Rida, adalah berbagai kisah tentang kemahdian Kadhim dan sifat yang tidak bisa dielakkan perihal kembalinya hidup setelah kematiannya. (44) Tusi: Al-Ghaybah hal. 29-40.

Hassan bin Qiyama al-Sirafi telah melakukan Hajji pada tahun 193 AH. yaitu setelah 10 tahun sejak kematian Kadhim, dan ia bertanya kepada Rida tentang ayahnya. Ia menjawab: “Ia telah pergi seperti nenek moyangnya.” Ia kemudian berkata: “Tetapi apa yang bisa aku lakukan terhadap hadist yang Yaqub bin Shuaib telah ceriterakan kepada saya dari ABU BASIR, bahwa ayah dari Abdullah berkata: “Jika seseorang datang kepada kamu menceritakan kepadamu bahwa putraku ini telah meninggal dan dikafani dan kemudian dikuburkan, dan bahwa mereka menaburi tangan mereka dari tanah kuburannya, kamu semestinya tidak usah percaya kepadanya.” Ia (Rida) berkata:” ABU BASIR SEDANG BERBOHONG, ia (Imam Kadhim) tidak menceritakan kepada dia demikian, ia hanya berkata: “Jika hal itu datang kepada kamu dari pemilik urusan ini.” (45) Al- Kashi: Al-Rijal, Riwayat hidup Al-Siraf.

Kulayni juga telah melaporkan dari Ali bin Asbat yang berkata: Aku berkata kepada Rida: Seorang laki-laki datang kepada saudaramu Ibrahim dan menceritakan kepadanya bahwa ayahmu hidup dan kamu mengetahui hal itu ketika sendirian.” Ia menjawab: “Maha suci Allah! Rasulullah meninggal dan Musa tidak akan mati?” Ia kemudian menekankan ucapanya itu: “Demi Allah ia telah pergi sebagaimana Rasulullah telah pergi.” (46) Kulayni: Al-Kafi, vol.1 hal. 39.

Sebuah tradisi yang terkenal di antara Syi’ah Imamiah Musawiah “bahwa hanya Imam yang akan memandikan mayat Imam (sebelumnya),” telah meningkatkan keraguan mereka, mengenai Imam Rida, ketika mereka berkata: “Bagaimana mungkin terjadi, Ali Rida memandikan ayahnya yang meninggal di Baghdad ketika ia sedang berada di Madinah?” (47) Kulayni: Al-Kafi, vol.1 hal. 39.

Banyak di antara mereka yang tetap mempertanyakan bagaimana Imam Rida tahu  kematian dari ayahnya dan kapan ia mengetahui hal itu. Dan kapan ia mengetahui bahwa ia telah menjadi Imam yang menggantikan ayahnya? Adakah interval waktu antara kematian Kadhim dan pengetahuan dari putranya -Rida, dan ia menjadi Imam berikutnya, sepeninggal Kadhim? (48) Kulayni: Al-Kafi, vol.1 hal. 381.

Bagian dari peningkatan keraguan pada pikiran Syi’ah Waqifiah mengenai Imamah Rida adalah, karena Ia tidak meninggalkan seorang keturunan hingga akhir masa hidupnya; dan adanya keraguan dari anggota keluarga Imam Rida dalam mempertalikan putranya Muhammad Jawwad, yang telah dipertalikan dengan orang lain, karena gelap warna kulitnya, dan usaha pencarian mereka kepada tenaga ahli untuk penentuan yang final mengenai isu tersebut. (49) Kulayni: Al-Kafi, vol.1, hal. 22.

Sebagai tambahan terhadap kerancuan dari dalil tentang Imam Ali bin Musa Rida, adalah tidak adanya pengakuan sebagai Imam oleh mayoritas Syi’ah, dan bahkan oleh anak-anak Imam Kadhim, dan bahkan oleh isteri dari Imam yang dipuja-puja tersebut, Ummu Ahmad (50) Kulayni: Al-Kafi, vol.1, hal. 381-382.

Sebuah laporan mengatakan bahwa Syi’ah di Madinah, belajar dari kematian Imam Kadhim, mereka berkumpul di ambang pintu Ummu Ahmad, dan membay’at kepada Ahmad, putra Imam Kadhim, sebagai Imam, dan ia mengambil sumpah kesetiaan dari mereka. (51) Baqir Sharif al-Qurashi: Hayat al-Imam Musa bin Ja’far, hal. 410-411, Dikutip dari Tuhfah al-Alam oleh Sayyid Ja’far al Bahr al-Ulum, vol.2 hal. 87.

Syi’ah Imamiah berpegang pada wasiat Imam Kadhim untuk putranya, dalam menetapkan Imamah dari Rida. Muhammad bin Zayd bin Ali menganggap wasiat tersebut sebagai pengganti dalam memastikan Imamahnya, meskipun wasiat tersebut rancu dan tidak secara tegas mengenai Imamah. Bahkan Kadhim memasukkan anak-anaknya yang lain disamping putranya Ali di dalamnya. Wasiat tersebut mengenai harta kekayaan, sumbangan (awqafs), derma, wanita-wanita dan anak-anak kecil, karenanya hal itu dibuat secara rahasia dan Imam Kadhim menolak mengungkapkan kepada setiap orang selain anggota keluarganya. (52) Kulayni: Al-Kafi, vol, hal.313; Saduq: Uyun Akhbar al-Rida, vol. 1 hal. 27-29.

5.8. POSISI SYI’AH TERHADAP IMAMAH RIDA

Sebagai hasil adanya kerancuan berkaitan dengan dalil tentang Imam Rida, dan tidak adanya penyebaran doktrin Imamah ilahiah di antara Syi’ah pada zaman itu, sejumlah pemimpin Alawiah yang lain tampil di depan umum sebagai pemimpin-pemimpin oposisi terhadap pergerakan Syi’ah, yaitu seperti Ali bin Ubaidullah bin Hassan bin Ali bin Hussain bin Ali bin Abi Talib, Abdullah bin Musa, Muhammad bin Ibrahim (Ibn Tabataba) bin Hassan bin Hassan bin Ali bin Abi Talib.

Isfahani menyatakan bahwa: “Seorang laki-laki di antara Syi’ah dari Semenanjung (Jazirah) yang bernama Nasr bin Shabib datang ke Hijaz pada permulaan zaman Ma’mun pada tahun 198 AH. Ia pergi ke Madinah dan bertanya kepada anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) yang tersisa dan kepada tokoh manapun yang terkenal di antara mereka. Ketiga nama dari anggota Alawiah tersebut disebutkan kepadanya. Ia menjumpai salah satu dari mereka, yakni Muhammad bin Ibrahim dan ia mengingatkan kepada dia apa yang terjadi pada keluarga Ali, tentang penyiksaan dan penahanan sebagai akibat dari direnggutnya hak Khalifah dari Alawiah oleh Abbasiah. Kemudian Nasr berkata kepada Muhammad: “Berapa lama Anda akan diinjak-injak, dan para pendukungmu mengijinkan hal itu, dan Anda tetap diam terhadap hak Anda? Nasr mengajak dia ke Jazirah untuk mengumumkan suatu pemberontakan melawan pemerintah Abbasiah yang lemah. Tetapi Nasr tidak mampu memenuhi janjinya karena konflik di antara kaumnya dan tidak tersedianya sarana. Maka ia meminta maaf kepada Muhammad yang kembali dikecewakan- dan pergi ke Hijaz. Dalam perjalanan pulangnya ia berjumpa Abu al-Suraya (Al-Sirri bin Mansur), yang telah memberontak melawan otoritas Abbasiah. Ia menawarkan kepada Muhammad bin Ibrahim untuk memberi dia apa yang Nasr tidak mampu sediakan. Ia berjanji kepadanya untuk membantu dan mendukung dia. Dan ia meminta dia untuk tidak kembali ke Madinah, tetapi sebagai gantinya memutar ke Kufah. (53) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin, hal. 519-521.

Dengan cara inilah, Ibn Tabataba dengan dukungan Abu Suraya mengumumkan suatu pemberontakan di Kufah pada tahun 199 A.H. Ia memanggil merekai dalam khotbahnya, untuk memberikan sumpah kesetiaan mereka demi “Ridha (penerimaan) anggota keluarga Muhammad (SAAW)”, dan memerintahkan apa yang benar dan melarang yang salah. Masyarakat Kufah membay’at dia berdasarkan hal itu. (54) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin hal.532.

Tidak lama setelah itu Ibn Tabataba jatuh sakit dan meninggal, kemudian ia menawarkan wasiatnya kepada Abu Suraya (sambil mengatakan kepada dia): Agar takut kepada Allah dan berdiri sebagai penjaga agama, dan mendukung ‘Ahl al-Bayt’, dan menetapkan dari orang-orang siapa yang akan mengambil posisinya dari antara Alawiah. Jika mereka berbeda, maka urusan sebaiknya pergi kepada Ali bin Ubaidullah. (55) Tabari: vol. 7 hal. 120.

Ibn Tabataba tidak menetapkan orang tertentu dari keluarga Abu Talib, baik di dalam khotbahnya pada saat pembaiatannya maupun dalam wasiatnya. Ia hanya memanggil demi ”Ridha (penerimaan) dari keluarga Muhammad (SAAW)”. Syi’ah di Kufah pada zaman itu tidak mempunyai gambaran tertentu mengenai orang yang berasal dari anggota ‘Ahl al-Bayt’, ataupun mereka mempercayai doktrin spesifik tertentu seperti Imamah Ilahiah, maupun kecenderungan mereka ke arah Imamah Ali bin Musa Rida, yang mereka puja-puja sebagai salah seorang dari para pemimpin keluarga Alawiah.

Pada hari kedua kematian Ibn Tabataba, Abu Suraya mengumpulkan Syi’ah untuk ikut berdukacita terhadap kematian Muhammad bin Ibrahim. Ia menceritakan kepada mereka wasiatnya, dan bahwa ia telah memberikannya kepada Ali bin Ubaidullah. Kemudian ia berkata: “Jika kamu setuju dan menerima dia, dialah yang diterima (ridha), jika tidak, maka kamu pilih untuk dirimu sendiri“. Tetapi Ali melepaskan janjinya, dan merekomendasikan seorang Alawiah muda yang ridak berjenggot, yakni Muhammad bin Muhammad bin Zayd, sedemikian sehingga Syi’ah memberikan bay’ah (ikrar) mereka kepadanya. Abu Suraya menyetujui hal itu, dan Syi’ah berjanji mematuhinya. Muhammad bin Muhammad menetapkan sebagai wakilnya:

  • Ibrahim bin Musa bin Ja’far di Yemen,
  • Zahid bin Musa bin Jafar di Ahwaz,
  • Abbas bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Jafar bin Abi Talib di Basrah;
  • Muhammad bin Sulaiman bin Dawud bin Hassan bin Hassan bin Ali di Madinah;
  • Hussain bin Ibrahim bin Hassan bin Ali di Wasit dan yang terakhir,
  • Hussain bin Hassan di Makkah. (56) Tabari: vol. 7 hal. 120.

Pengaruh Alawiah dengan pemimpin yang masih muda Muhammad bin Muhammad dalam waktu yang singkat mampu mengendalikan banyak kota besar yaitu: Iraq, Hijaz dan Yemen. Surat datang dari berbagai penjuru, demikian juga berita penaklukannya di banyak daerah. Masyarakat Syria dan Jazirah menulis kepadanya, berkata bahwa mereka sedang menantikan seorang utusan agar mematuhi dan mengikuti. (57) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin hal.534.

Tetapi dengan lahirnya tahun baru 200 AH. pada bulan pertama, pergerakan Syi’ah ini roboh. Angkatan perang khalifah Abbasiah Ma’mun dapat kembali mengendalikan kota besar yang berbeda, dan memburu kekuatan pergerakan tersebut. Mereka juga membunuh pemimpin pergerakan tersebut, Abu Suraya dan menangkap Muhammad bin Muhammad, setelah periode hanya 10 bulan sejak kelahirannya. (58) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin. hal. 549; Tabari vol. 7 hal.13.

Tidak lama setelah pemberontakan Abu Suraya yang telah ditundukkan dan dihancurkan, Muhammad Al-Dibaj putra Imam Sadiq mengumumkan dirinya sebagai Pemimpin orang beriman (Amir Al-Muminin) di Hijaz. Ia menerima bay’at setelah Sholat Jumat pada tanggal 6 Rabi al-Akhir 200 AH, dan diharapkan sebagai Mahdi, pemilik  urusan. Tetapi ia dengan segera gagal dan turun-tahta dari Khalifah dan membay’at kepada Ma’mun. Di samping itu kekuatan Abbasiah mengawal dia dengan keamanan yang ketat ke Khurasan. (59) Ibn al-Athir: Al-Kamil, vol.6, hal.121; Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin hal. 353; Tarikh al-Tabari, vol.3 hal. 989.

Apa yang lebih penting bagi kita dari pada kasus Muhammad Al-Dibaj, adalah pendirian dari Talibiah dan Syi’ah pada umumnya pada pergerakannya, dan berkumpulnya orang-orang untuk berbay’at kepadanya. Hal ini menandai adanya sejumlah dukungan yang ia nikmati dibandingkan dengan kemenakan laki-lakinya Rida, demikian juga ketidak-tahuan masyarakat umum Syi’ah mengenai Imamah Ilahiah berdasarkan pada ‘ismah’ dan dalil (dari Nabi) yang didukung oleh sekelompok ahli ilmu agama di Kufah.

5.9. PENDIRIAN MA’MUN TERHADAP RIDA

Pada saat Khalifah Abbasiah menawarkan kekhalifahan kepada Imam Ali bin Musa Rida pada tahun 201 AH, ia tidak menawarkan jabatan kepadanya dalam kapasitasnya sebagai Imam kedelapan dalam rangkaian 12 Imam, tetapi ia melakukan itu berdasar pada kebaikannya dan mengagungkan posisinya. Ma’mun telah berjanji kepada Allah selama kekuasaannya bergumul dengan saudaranya -Amin, untuk memindahkan jabatan khalifah kepada yang terbaik dari anggota keluarga Abu Talib. Ia kemudian mengumumkan: “Ali Rida adalah yang terbaik dari Alawiah.” (60) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin hal.563.

Ma’mun telah menyebabkan suatu puntiran yang serius terhadap ideologi politik Abbasiah, yang dibangun oleh Abbasiah Mahdi, dan ia menetapkan hal itu atas dasar hak Abbas pada jabatan Khalifah, dan didasarkan, pada gilirannya, pada hak dari kakek mereka Abbas untuk menerima warisan Nabi (SAAW). Ia mengeluarkan suatu maklumat politik mengenai hal itu, bertentangan dengan apa yang Abbasiah anut dari pemikiran kaum tua Syi’ah (Kisanite), sebelum mereka mengalahkan dan mengakhiri pemerintahan Umayyah pada tahun 132 AH, karena kepercayaan mereka tentang legalitas Imamah dari Imam Ali bin Abi Talib. Mereka bergantung – sebagai legalitas mereka – pada Abu Hashim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyyah, yang dilaporkan memberikan wasiatnya kepada kakek mereka perihal Imamah, pada saat kematiannya yang terlalu cepat di Al-Hamimah.

Ma’mun membalikkan pemikiran politik Abbasiah ke arah sayap Alawiah-Fatimiah, dan ia mengumumkan bahwa hak-hak fundamental untuk memerintah ada pada Alawiah, berdasarkan pada hak Imam Ali untuk menggantikan Rasulullah (SAAW). Itulah mengapa ia meminta Rida untuk mengambil hak Khalifah dari dia. Tetapi ketika Imam Rida menolak, ia menawarkan dia posisi sebagai pangeran mahkota, yang ia terima. Pada hari bay’ah (ikrar kesetiaan), Imam Rida memberi suatu khotbah di mana ia berkata: “Pemimpin orang beriman (Amir Al-Muminin) – semoga Allah memperkuat dan memandu dia kepada yang benar – telah mengakui hak kami, yang tidak diakui oleh (orang) lain. Ia menjaga hubungan kekeluargaan yang diputus, dan membawa kedamaian kepada orang-orang yang ketakutan. Tidak, ia mempercepat waktu setelah mereka dibinasakan, dan membawa kepuasan hati kepada mereka setelah mereka kehilangan hal itu, mencari-cari dengan itu keridhoan Tuhan bagi dunia, mencari pahala tidak selain dariNya. Ia memberi kepadaku janjinya (menjadi putra mahkota) jika aku hidup sepeninggal dia. Seseorang yang kendur dan melanggar apa yang Allah telah perintahkan untuk memelihara, dan memotong tali yang Allah cintai untuk tetap tidak diputus, telah menjual haremnya dan telah membuat sah apa yang Allah telah buat tidak sah. Ia karena itu telah meremehkan Imam dan pelanggaran terhadap Islam yang tidak boleh diganggu-gugat. Ini adalah jalan para pendahulu (Salaf). Ini adalah suatu kesempatan yang seharusnya kamu tangkap dan suatu kejutan yang seharusnya tidak hilang. Aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi kepada kamu dan aku. Pertimbangan terletak di tangan Allah sendiri. Ia memutuskan kebenaran; Ia adalah Hakim yang terbaik. (61) Saduq: Uyun Akhbar al-Rida hal. 246.

Apapun perbedaan antar Sejarawan dalam meneliti posisi Ma’mun yang berjanji kepada Imam Rida dan penerimaan terhadap janji tersebut untuk menjadi putra mahkota, menunjukkan suatu posisi ideologis yang jelas terhadap legalitas Khalifah Ma’mun, dan realitas dari Imamah Rida, jauh dari doktrin Imamah Ilahiah, yang eksklusif bagi anak-anak Ali dan Hussain. Persekutuan yang dibentuk antara kedua keluarga Hashimiah: Abbasiah dan Alawiah adalah corak yang utama tahap kedua dan doktrin resmi pemerintahan Abbasiah selama dekade yang pendek. Hal ini merupakan bentuk pendirian positif Khalifah Abbasiah kepada anak-anak Rida, seperti Muhammad Jawwad, Ali Hadi dan Hassan Askari dengan mengakui mereka sebagai lambang legalitas konstitutional. Mereka dipuja-puja dan dihormati sebagaimana seharusnya….

5.10. REVOLUSI IBRAHIM BIN MUSA KADHIM DI YEMEN

Pada saat Imam Rida sedang dalam perjalanannya ke arah Khurasan, sebagai respons atas undangan Khalifah Abbasiah Ma’mun, untuk suatu gencatan senjata dan rekonsiliasi, yang mendorong diterimanya menjadi putra mahkota dan pemberian janji kesetiaannya pada bulan puasa tahun 201 AH, pada saat itu, saudaranya, Ibrahim bin Musa, yang mengambil bagian dalam pemberontakan Ibn Tabataba di Kufah, telah pergi ke Yemen sebagai gubernur. Ia menolak untuk menerima penghancuran terhadap pemberontakan pada tahun 200 AH. dan mendesak untuk mengendalikan Yemen atas namanya. Ibrahim yang telah menguasai daerah tersebut selama beberapa lama setelah Khalifah Ma’mun, dipaksa mengakui dia dan memindahkan gubernurnya, Muhammad bin Ali bin Isa bin Mahan. (62) Tabari: Tarikh vol.7, hal.117; Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin hal. 525.

5.11.  REVOLUSI ALI BIN MUHAMMAD BIN SADIQ DAN ABDULLAH, SAUDARA ABU SURAYA DI KUFAH

Revolusi ini mengambil tempat di Kufah, pusat masyarakat Syi’ah, pada tahun 202 AH, yaitu setelah kurang dari dua tahun kegagalan revolusi dari ayah Ali bin Muhammad dan saudara dari Abdullah. Pemberontakan yang baru dan gabungan ini mengambil tempat, dalam suatu keadaan baru, yaitu rekonsiliasi antara Ma’mun dan salah satu dari pilar yang terbesar dari keluarga Alawiah, dan melawan gubernur Alawiah, Abbas bin Musa, saudara Imam Rida, yang dulu memanggil mereka untuk memberikan janji kesetiaan mereka kepada Khalifah Abbasiah – Ma’mun, dan Putra Mahkotanya – Rida.

Pemberontakan tersebut secara spesifik diarahkan kepada Khalifah Abbasiah, dan melawan terhadap pemberian sumpah kesetiaan kepadanya. Karena ia suatu revolusi Syi’ah, pendirian mereka kepada Imam Rida tidak negatif. Masyarakat Kufah menyatakan posisi mereka dalam kata-kata mereka kepada Abbas bin Musa: “Jika engkau memanggil kami kepada Ma’mun, kemudian setelah dia kepada saudaramu, kami tidak sedang membutuhkan panggilanmu, tetapi jika engkau memanggil kepada saudaramu, atau beberapa orang di antara ‘Ahl al-Bayt’ atau kepada dirimu sendiri, kami akan menerima dan mengikuti engkau.” (63) Tabari, Tarikh Vol. 7, hal.144.

Keadaan ini mengungkapkan kepada kita semua tentang tidak adanya kepercayaan terhadap doktrin Imamah Ilahiah pada masyarakat Kufah, demikian juga mereka tidak membeda-bedakan antara Imam Rida atau saudaranya, Abbas atau siapapun dari ‘Ahl al-Bayt’, ketika datang suatu masa siapa yang sebaiknya memimpin mereka, dan menjadi Imam mereka. Ini berarti bahwa MAKNA KATA ‘AHL AL-BAYT’ DALAM PANDANGAN ORANG-ORANG KUFAH PADA ZAMAN ITU ADALAH ANAK-ANAK DARI KELUARGA ALAWIAH SECARA MENYELURUH DAN INKLUSIF. Tidak dibatasi pada orang tertentu, sebagaimana yang terjadi pada masa bani Umayyah, yaitu: KESELURUHAN KELUARGA HASHIMIAH TERMASUK ANAK-ANAK ABBAS, DI MANA MEREKA BERAKSI DI BAWAH SLOGAN “AGAR DITERIMA (RIDHA) OLEH KELUARGA MUHAMMAD (SAAW)”.

5.12. QAT’IYYAH

Dalam penjajaran terhadap pandangan Syi’ah yang terbuka ini, seperti halnya Waqifiyyah yang menghentikan Imamah pada pribadi Kadhim, terdapat juga mereka yang secara alami percaya pada Imamah Ali bin Musa – Rida, dan mengakhiri imamah pada dia. Kelompok ini disebut Qat’iyyah. Mereka telah melaporkan sejumlah dalil dari Kadhim, tentang penetapan Imamah putranya Rida sebagai penggantinya (Imam) sepeninggal dia.

Hadith berikut mungkin merupakan salah satu dari kisah yang mencolok mata tentang hal ini: Yazid bin Salit berkata: “Aku berjumpa Abu Ibrahim (Kadhim) pada perjalanan kami melaksanakan Umrah. Dalam perjalanan, ia berkata kepada aku: “Aku telah meninggalkan rumahku dan meninggalkan wasiatku pada putraku, anu dan anu. Aku menyebutkan anak-anakku yang lain bersamaan dengan dia secara nyata tetapi telah memberi dia wasiatku secara implisit. Aku menyebutkan dia secara eksklusif. Jika masalah tersebut diputuskan oleh aku, aku pasti telah memberikan hal itu kepada putraku Qasim, karena kasih sayang dan simpatiku kepada dia, tetapi wasiat ini adalah dari Allah, Ia menempatkannya di mana yang Ia kehendaki. Nabi Allah (SAAW) telah datang kepadaku mengenai urusan dia, dan telah memperlihatkan dia kepada saya demikian juga mereka yang akan bersama dia. Dengan cara yang sama, tak seorangpun dari kami memberikan wasiat kepada orang lain, sampai Rasulullah (SAAW) dan kakekku Ali memastikan urusan mereka. Kemudian ia berkata kepadaku: “Urusan tersebut telah meninggalkan kamu kepada seseorang selain dari kamu”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, perlihatkan dia kepada saya, siapa di antara mereka? Rasulullah berkata: ”Aku belum melihat seorang Imam yang lebih merasa cemas karena kehilangan hal ini, dibanding kamu. Jika Imamah didasarkan atas cinta, Isma’il lebih sayang kepada ayahmu dibandingkan kamu, tetapi (urusan) ini dari Allah yang Maha Agung….” Dan aku melihat semua anak-anakku, yang mati dan yang hidup. Pemimpin orang beriman berkata kepadaku: “Ini adalah pemimpin mereka” dan ia menunjuk putraku Ali – Ia dari aku dan aku adalah dari dia, dan Allah bersama mereka yang berbuat baik.

Abu Ibrahim kemudian berkata: Wahai Yazid, ini merupakan sebuah kepercayaan bagi kamu, dan jangan ceritakan kepada seseorang mengenai hal itu, kecuali orang yang berakal, atau seorang hamba (Allah) yang kamu tahu kejujurannya. Jika kamu diperlukan untuk bertindak sebagai saksi, kamu dapat bersaksi dengan itu..” Abu Ibrahim juga berkata: “Aku menengok kepada Rasulullah, dan berkata: “Kamu telah mengumpulkan mereka karena aku, semoga ayah dan ibuku berkorban untuk kamu, siapa orangnya di antara mereka?“ Ia berkata: “Ia adalah seseorang yang melihat dengan cahaya Allah yang Maha Agung, dan seseorang yang mendengar dengan pemahamanNya, dan seseorang yang berbicara dengan keputusan hukumNya.” Ia kemudian mengambil daratan dari putraku Ali dan berkata: “Tinggalnya kamu dengan dia tidak akan lama, maka bilamana kamu kembali dari perjalananmu, tulis wasiatmu dan organisir urusanmu. Dan selesaikan apa yang kamu inginkan, karena anda akan segera meninggalkan mereka dan menjadi rombongan yang lain. Jika kamu ingin, aku akan memaanggil Ali untuk memandikan dan mengkafani kamu, itu adalah pensucian untuk kamu, dan tidak ada sesuatupun selain dari yang akan menjadikannya benar dan lurus. Itulah jalan yang telah berlalu. Perintahkan dia dan ia akan mengucapkan sembilan takbir pada kamu (sholat pemakaman), karena wasiatnya berdiri tegak, demikian juga penggantimu selagi kamu masih dalam keadaan hidup.”

Kemudian Abu Ibrahim berkata: “Ruhku akan diambil tahun ini, dan urusan tersebut akan berada pada putraku Ali. Ia mestinya tidak berbicara hingga setelah empat tahun sejak kematian Harun.” (64) Kulayni: Al-Al-Kafi, vol. 1, hal. 313-316.

Kisah terakhir berikut adalah kisah yang paling banyak dikutip perihal Imamah dari Rida, dalam terminologi yang tegas/ eksplisit dan jelas. Yang berkata: ‘Imam Kadhim tidak peduli perihal Imam yang menggantikan dia, dan ia lebih menyukai Qasim, hingga saat wahyu (mimpi) dan penunjukan Imam yang berikutnya melalui perantaraan mimpi. Wasiat yang nyata tersebut bersifat umum, karena tidak menetapkan bukti khusus perihal Imamah. Kisah ini juga mengklaim adanya wasiat rahasia lainnya. Dan Imam Kadhim memberikan wasiat tersebut kepada putranya Ali secara rahasiadiam, sesuatu yang mendorong anak-anak Imam Kadhim dan saudara laki-lakinya mengklaim tidak adanya pengetahuan dan ketidaktahuannya tentang wasiat itu.

Ada kemungkinan bahwa Yazid bin Salit atau orang lain memalsukan hadist itu di kemudian hari, dalam rangka mendukung Imamah dari Imam Rida. Hal itu karena perawi mengklaim bahwa Imam Kadhim telah menuntut dari dia untuk menyimpan hal tersebut secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, dan tidak boleh mengungkapkannya kecuali kepada para hamba (Allah) yang cerdas dan sebenarnya, dan bahwa Imam tidak mengumumkan hal itu dengan tegas bahkan kepada anak-anaknya. Hal inilah yang membuat orang meragukan kisah (rahasia) ini.

5.13. KEAJAIBAN DAN PENGETAHUAN TERHADAP SESUATU YANG GHOIB.

Dalam ketidakhadiran dalil yang terang dan tidak membingungkan, baik yang bersifat umum ataupun langsung tentang Imamah dari Rida, maka tak bisa diacuhkan bagi Syi’ah Imamiah untuk mencari bantuan, atau bergantung pada senjata keajaiban dan klaim bahwa Imam Rida mempunyai pengetahuan tentang yang tak terlihat (al-Ghayb).

Ahmad bin Muhammad bin Amr bin Abi Nasr al-Bizanti al-Sukuni al-Kufi, yang dianggap sebagai salah satu dari para pendukung ‘Ijma’ (konsensus), pada mulanya adalah seorang ‘Waqifiah’. Ia menolak untuk menerima Imamah dari Rida, karena -sebagaimana yang ia katakan- ia merespon beberapa isu fiqhi (yang berkenaan dengan hukum) yang bertentangan dengan apa yang datang dari nenek moyangnya dan hubungan kekeluargaannya (dari Ahl al-Bayt). Tetapi kemudian Al-Bizanti menerima Imamahnya setelah dia diundang oleh Ma’mun. Ia berkata, ia merasakan bahwa Imam Rida mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang tak terlihat, dan pengetahuan dari apa yang ada di dalam ruhnya. Ia mengambil itu sebagai bukti yang bersifat keajaiban terhadap Imamah dari Rida. Ia menjadi salah satu dari sahabat terdekatnya, dan mempunyai posisi yang tinggi di depan Imam. Ia menceriterakan sebuah buku dari dia. (65) Al-Fihrist of Tusi dan Al-Rijal of Al-Kashi, dan al-Najashi dan Tusi: Al-Ghaybah hal.47; Saduq: Uyun Akhbar al-Rida hal. 213-221; Al-Himyar: Qurb al-Isnad, hal.152.

Dawud bin Kathir al-Ruqi (dianggap) oleh Al-Kashi sebagai salah satu dari perawi yang dapat dipercaya dan orang yang melaporkan dari Imam Sadiq bahwa Imam berkata mengenai dia: Bahwa ia terhadap Imam seperti posisi Miqdad kepada Rasulullah, dan bahwa ia adalah salah satu dari sahabat Pemilik urusan yang telah meragukan Imamah dari Rida, dan menghentikan memperhitungkan dia sebagai salah satu dari Imam. Hal itu dikarenakan apa yang ia laporkan dari Kadhim, bahwa ia adalah Qa’im. Ia kemudian kembali menerima Imamah dari Rida. (66) Al- Nuri al-Tabrisi: Khatimah al-Mustadrak vol.3 hal. 595.

Sama halnya Abdullah bin Mughirah yang percaya akan berhentinya Imamah pada Kadhim (Waqifiah), tetapi kemudian bergeser kepada menerima Imamah dari Rida, namun tidak berdasarkan pada suatu hadist (Imamah Ilahiah) yang ia temukan sesudah itu, melainkan berdasarkan bukti tentang yang tak terlihat, keajaiban dan pengetahuan terhadap al-Ghayb, yang ia temukan pada Imam Rida… Ia berkata: Aku dihadapan Waqifiah dan berdebat dengan dia pada posisi itu, tetapi ketika aku pergi ke Makkah, aku merasakan sesuatu di dalam hatiku, maka saya berpegang pada Multazam (bagian dari Ka’bah) kemudian berkata: “Wahai Allah! Engkau mengetahui permintaan dan harapanku, bimbinglah aku kepada yang terbaik dari agama. Aku merasakan di dalam pikiranku, untuk pergi kepada Rida. Aku pergi ke Madinah dan berdiri di depan pintunya. Aku berkata kepada pelayannya: “Beritahu tuanmu bahwa seorang laki-laki dari Iraq sedang menunggu dia.” Ia berkata: Aku kemudian mendengar dia memanggil aku, sambil berkata masuklah Wahai Abdullah bin Mughirah…masuklah wahai Abdullah bin Mughirah. Aku kemudian masuk. Ketika ia melihat aku ia berkata kepadaku: “Allah telah mengabulkan do’amu dan telah membimbing kamu kepada agamaNya.” Aku berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah bukti Allah dan salah satu yang dipercayai atas ciptaanNya.” (67) Kulayni: Al-Kafi, vol.1, hal. 355.

Ada kisah yang lain, yang lebih eksplisit, dan yang mendasari Imamah Rida, yaitu adanya pengetahuan tentang yang ghoib. Kisah ini datang dari seorang perawi yang berbeda yang dahulunya juga seorang Waqifiah selama sekitar 10 tahun, hingga saat perjalanan Imam ke Khurasan. Pelapor tersebut adalah Al-Wassha, yang mengklaim bahwa ia datang ke Khurasan, dan Imam Rida mengirim pelayannya kepadanya, untuk membeli beberapa pakaian untuknya. Perawi tersebut tidak ingat di mana ia meletakkan pakaian tersebut, tetapi Imam tahu tempatnya. Ia juga menceritakan kepada dia isu yang ia ingin tanyakan kepada dia. (68) Kulayni: Al-Kafi, vol.1 hal. 355; Tusi: Al-Ghaybah hal. 48; Saduq: Uyun Akhbar al-Rida, hal. 221.

Al-Wassha kemudian memutuskan berdasar keajaiban ini, untuk mengubah pikirannya dan menerima Imamah dari Rida, di mana selama masa lebih dari 10 tahun, ia tidak menerima Imamahnya.

Tusi di dalam ‘Al-Ghaybah’ melaporkan beberapa tradisi tentang pengetahuan Imam Rida mengenai yang ghoib, sebagai bukti bagi Imamahnya. Di antaranya adalah yang berikut: pemberitahuannya kepada Ma’mun tentang tempat kematian Rida dan apa yang dimiliki (Ma’mun); ceriteranya kepada Ma’mun tentang seorang anak yang akan dilahirkan bagi dia dengan otot tambahan. Dengan cara yang sama Kulayni juga melaporkan banyak cerita ajaib seperti: Imam Rida memberi tahu seorang laki-laki jumlah hutangnya, dan memberi dia kekayaan sesuai kebutuhannya. Saduq juga melaporkan sejumlah besar bukti yang mengkonfirmasikan Imamah dari Rida. Semuanya tentang pengetahuannya pada yang tak terlihat (al-Ghayb), dan pengetahuan tentang kematian dan bencana lainnya. Ia menyebutkan di dalam ’Uyun Akhbar al-Rida,’ mukjizat kematian dari Rida di tangan orangnya Ma’mun dan dia akan hidup lagi. Saffar juga menyebutkan pengetahuan Imam tentang kicauan burung sebagai bukti atas validitas Imamahnya. Dalam sebuah laporan yang disebutkan oleh Al Har al-Amili dari Imam Rida: “Bukti Imamahnya adalah pada penerimaan do’a, pengetahuan tentang yang ghoib, dan apa yang ada di dalam hati orang-orang. (69) Tusi: Al-Ghaybah hal. 47-49; Kulani: Al-Kafi vol.1 hal. 488; Saduq: Uyun Akhbar al-Rida Vol. 1, hal. 204-225 dan vol. 2 hal.171; Saffar: Basair al-Darajat hal. 349; Al-Hur al-Amili: Ithbat al-Hudat, vol. 3 hal. 717.

Tetapi semua cerita tersebut tidak bisa ditegakkan dan kontradiksi dengan Al-Qur’an yang agung dan riwayat hidup anggota Keluarga Nabi. Ekstrimis telah membuat tradisi ini, dan ini dikarenakan mereka tidak mendapatkan bukti yang meyakinkan tentang Imamah dari Imam Rida.

Mengabaikan kisah-kisah buatan di atas dan kisah yang disebutkan oleh Syi’ah Imamiah tentang perlunya suatu dalil, kita perlu mengamati apa yang Imam Rida (AS) katakan ketika mendiskusikan doktrin Shura dalam terminologi yang tegas. Ia melaporkan sebuah Hadith dari nenek moyangnya, dari Rasulullah (SAAW) bahwa ia berkata: “SESEORANG YANG INGIN MEMECAH-BELAH MASYARAKAT, DAN MEREBUT HAK UMMAH, DAN MEMBUAT SESEORANG MENJADI PEMIMPIN TIDAK MELALUI KONSULTASI, BUNUH DIA, KARENA ALLAH TELAH MEMBOLEHKAN HAL ITU”. (70) Saduq: Uyun Akhbar al-Rida. Vol. 2 hal. 62.

Laporan ini mengungkapkan teori politik Imam Rida yang sebenarnya, yang sejalan dengan kecenderungan umum Ahl al-Bayt. Teori ini menekankan hak Ummah dalam konsultasi (Shura), dan tentang cara memilih para pemimpin mereka. Juga menyuruh membunuh siapapun yang merebut haknya dan yang mengendalikan urusan tanpa persetujuan shura.

5.14. KRISIS UMUR ANAK-ANAK

Ketika Syi’ah Imamiah sedang mencoba untuk menetapkan Imamah dari Ridho melalui dalil dan keajaiban, Imam Ridho meninggal di Khurasan, pada tahun 203 AH., ketika putranya Jawwad baru berumur tujuh (7) tahun. Ini mendorong krisis serius lainya pada golongan Syi’ah Imamiah, dan berhadapan dengan teori Imamah yang mulai lahir tersebut. Karena tidak akan pernah masuk akal, bahwa Allah menugaskan kepemimpinan Muslimin, kepada seorang anak kecil yang masih dilayani, seorang yang bahkan tidak bisa menggunakan kekayaan pribadinya sebagaimana yang ia inginkan, yang belum bertanggung jawab secara agama menurut hukum Islam, seseorang yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar apapun dari ayahnya, yang meninggalkan dia di Madinah, ketika ia baru berumur empat (4) tahun. (71) Nubakhti: Firaq al-Shiah, hal. 88; al-Ashari al-Qummi: al-Maqalat wa al-Firaq, hal. 96-98.

Kondisi ini mendorong ke arah perpecahan golongan Syi’ah Imamiah ke dalam beberapa sekte:

  1. Sekelompok Syi’ah yang kembali kepada WAQF (PENGHENTIAN) Imamah pada Musa Kadhim, dan meninggalkan kepercayaannya tentang Imamah dari Ridha, dan juga menolak Imamah dari Jawwad. Mereka berkata: Karena setiap orang yang mempunyai umur sebagaimana yang kami jelaskan, adalah orang yang belum mencapai umur dewasa, dan bahkan mendekati dewasapun tidak, Allah berkata: “Dan ujilah anak-anak yatim (terhadap akal mereka) hingga mereka mencapai dewasa, jika kemudian kamu menemukan kemampuan memutuskan hukum pada mereka, lepaskan properti mereka kepada mereka…(QS, 4:6)” Jika Allah yang Maha Tinggi, telah menjadikan hal itu wajib untuk tidak memberikan kekayaan anak yatim pada kondisi seperti itu, sebagaimana Ia menjadikan hal itu wajib pada semua yatim piatu, maka hal itu menjadikan dia tidak sah untuk menjadi Imam, karena Imam adalah pemimpin semua ciptaan dalam semua masalah keagamaan atau keduniaan. Adalah tidak benar bagi dia untuk mengendalikan semua kekayaan Allah yang Maha Agung, mencakup derma, khums… Karena ia belum bisa dipercaya dalam berbagai masalah hukum dan keputusannya, dan sebagai pemimpin para ahli hukum (fuqoha), hakim, pengatur, dll. dan seseorang yang mengendalikan kekayaan milik masyarakat yang berakal dalam banyak sektor – seseorang yang tidak mempunyai hak bahkan satu senpun dari kekayaan pribadinya, seseorang yang tidak dipercayai dalam hal yang ia boleh memilih untuk dirinya; seseorang yang kekayaannya dikendalikan oleh orang lain karena umur mudanya, dan keterbatasan akalnya, karena kontradiksi dan ketidakmungkinan dari hal itu.” (72) Ashari: al-Maqalat wa al-Firaq hal. 96; Mufid: al-Fusul al-Mukhtarah, hal.112-113.
  2. Kelompok yang lain pergi kepada saudara Imam Ridha – AHMAD BIN MUSA, yang menerima pandangan Zaydiah, dan bergabung dengan Abu al-Suraya di Kufah, dan dicintai dan dihormati oleh saudaranya Ridha. Ia alim dan saleh sebagaimana diuraikan oleh Mufid di dalam al-Irshad: (73) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal.88; Ash’ari: al-Maqalat wa al-Firaq hal. 97. Orang-Orang ini mengklaim bahwa Ridha memberikan wasiatnya kepadanya dan menyatakan bahwa ia akan menjadi Imam (sepeninggal dia). (74) Mufid: op.cit. hal. 256. Kelompok ini telah mengambil cara yang sama seperti Fatihiah yang percaya pada Imamah dari Musa Kadhim setelah kematian Abdullah bin Ja’far tanpa suatu isu. Dan dengan demikian mereka tidak berpegang secara ketat pada hukum warisan vertikal. Mereka menganggap Jawwad,  yang masih seorang anak kecil seolah-olah ia tidak ada.
  3. Namun kelompok Syi’ah lainnya berkumpul pada IMAM MUHAMMAD BIN QASIM BIN UMAR BIN ALI BIN HUSSAIN BIN ALI BIN ABI TALIB, yang tinggal di Kufah. Ia benar-benar terkenal ketaatannya, kealimannya, zuhud, berilmu dan faqih. Ia memimpin suatu pemberontakan melawan khalifah Mu’tasim di Talqan pada tahun 218 AH. (75) Isfahani: Muqatil al-Talibiyyin, hal. 57; Tabari, vol. 7 hal. 223.
  4. Kelompok yang lain masih ada yang menerima Imamah dari Jawwad, tetapi hal itu menjadi sangat menggelisahkan mereka dalam merespon permasalahan umurnya dan ilmu pengetahuannya. Beberapa di antara mereka berkata: “Tidaklah mungkin bahwa ilmu pengetahuannya diperoleh dari ayahnya, sebab ayahnya meninggalkan Khurasan ketika Abu Ja’far baru berumur empat (4) tahun lebih beberapa bulan. Seseorang dengan umur tersebut belum bisa menerima ilmu agama yang pelik dan sulit. Kecuali, jika ia dianugerahi pengetahuan oleh Allah setelah mencapai umur dewasa melalui berbagai cara. Hal itu menjelasakan secara terperinci berbagai jalan dalam mencapai keberhasilan pengetahuan dari Imam, seperti inspirasi, gagasan yang masuk ke dalam hati, bisikan ke telinga, mimpi ilahiah, dan malaikat yang berbicara dengan dia, berbagai jalan lainnya berupa mengangkat menara, tiang-tiang, lampu, dan pertunjukan berbagai tindakan. (76) Nubakhti: Firaq al-Shiah, hal. 86-90; Ashari op.cit. hal. 99. Karena Syi’ah Imamiah menganggap Imamah analog dengan Kenabian, dan hal itu datang dari Allah, adalah tidak aneh bagi mereka untuk menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an seperti: ‘Dan kami menganugerahkan dia hikmah ketika masih seorang anak-anak…(QS, 19:12). Mereka berkata: Sebagaimana Allah telah memberikan kenabian kepada Yahya ketika masih seorang anak kecil, dan sebagaimana Ia juga memberikannya kepada Isa ketika masih seorang anak kecil, dengan cara yang sama kami akan bertanya, mengapa hal itu tidak diperbolehkan bahwa Ia memberikan Imamah kepada Muhammad Jawwad ketika ia masih berumur tujuh (7) tahun?. Mereka menceriterakan suatu pernyataan dari Jawwad perihal keraguan yang muncul berkaitan dengan umur Imam: “Allah telah mengirim wahyu kepada Dawud untuk menugaskan penggantinya Sulaiman, yang masih seorang anak kecil yang kemudian menggembala domba.” (77) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1, hal. 494, 382-384.
  5. Yang lain juga percaya pada Imamah dari Jawwad tanpa menerima pandangan di atas, dan berkata: “Jawwad sebelum mencapai masa dewasa adalah seorang Imam, yang berarti bahwa urusan ada di tangannya sendiri hingga saat kedewasaannya. Setelah dewasa, ia tidak memperoleh pengetahuan baik melalui inspirasi, maupun melalui indikasi atau cara lainnya seperti yang disebutkan oleh sekte yang lebih awal, karena wahyu berhenti setelah Nabi (SAAW) menurut konsensus Ummah. Mereka menolak gagasan pemberian pengetahuan melalui inspirasi dan berkata (tentang hal ini): “Tidaklah masuk akal bahwa ia akan mengetahui hal itu, kecuali melalui usaha pribadi atau pencarian pengetahuan, tidak melalui intervensi Ketuhanan dari anugrah pengetahuan. Kami agaknya percaya bahwa ia memperoleh pengetahuan itu pada saat dewasa, dari kitab ayahnya dan dari pengetahuan yang ia warisi di dalamnya, dan apa yang ia rancang bagi dia di dalamnya tentang masalah yang fundamental dan yang tidak fundamental. Sekelompok orang-orang ini menerima diperbolehkannya qiyas (deduksi secara analogi) dan juga ’Ijtihad’ (analogi berkenaan dengan hukum) dalam keputusan hukum dan ajaran agama, tetapi hanya bagi Imam. Hal itu akan didasarkan pada pokok-pokok atau prinsip-prinsipnya, karena ia adalah ma’sum dari kekeliruan dan kesalahan. Ia tidak akan melakukan kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan qiyas. (78) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 90. Pendapat ini mengharuskan suatu tinjauan ulang terhadap teori Imamah, dan sebuah pertanyaan yang segera muncul adalah: Lalu siapa Imam pada saat Jawwad masih kecil? Siapa yang diberi wasiat (wasiyyah)?

Di samping fakta bahwa tidak ada dalil yang jelas perihal Imamah Jawwad dari Rida, atau wasiat apapun, dan di samping ketiadaan klaim apapun tentang Imamah dari Jawwad sendiri, Syi’ah Imamiah dipaksa percaya terhadap Imamahnya, untuk menyelamatkan doktrin mereka dari keruntuhannya yang cepat. Mereka harus membangun doktrin mereka dengan kisah keajaiban, pengetahuan (yang luar biasa) tentang yang ghoib, seperti pengetahuan Jawwad tentang kematian ayahnya di Khurasan sedangkan ia pada saat yang sama sedang berada di Madinah. Demikian juga perginya ke sana dalam sekedipan mata untuk memandikan dia dan meng-kafaninya, dan kembalinya dia ke Madinah pada malam yang sama. Suara tongkat yang ada pada tangannya, yang bersaksi atas Imamahnya, dan jawabannya terhadap 30.000 pertanyaan dari sekelompok Syi’ah pada satu pertemuan. (79) Ibn Babawaih: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 222; Kulayni: Al-Kafi, vol. 1  hal. 353 dan 496.

Masalah yang sama berkaitan dengan umur yang masih muda yang dialami oleh Imamah Jawwad diulangi lagi pada kasus putranya, Ali Hadi, ketika Jawwad meninggal sedangkan Ali masih anak-anak dan Jawad berumur 25 tahun. Dua putranya, Ali dan Musa, masih anak-anak kecil; yang tertua dari keduanya belum berumur 7 tahun.

KARENA HADI MASIH SANGAT KECIL KETIKA JAWWAD MENINGGAL, IA MENINGGALKAN KEKAYAANNYA, KEBUN DAN PEMBELANJAAN LAINNYA PADA TANGAN ABDULLAH BIN AL-MUSAWIR, DAN MENYURUH DIA UNTUK MENYERAHKAN KEPADA HADI PADA SAAT IA DEWASA. AHMAD BIN ABI KHALID PELAYAN ABU JA’FAR TELAH DIJADIKAN SAKSI MENGENAI HAL ITU. (80) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1, hal. 325.

Hal inilah yang menjadikan beberapa orang Syi’ah bertanya: Jika Hadi tidak mampu mengatur kekayaannya, pembelanjaan dan kebunnya karena umurnya yang masih muda, menurut pandangan dari ayahnya, lalu siapa Imam pada waktu itu? Bagaimana mungkin seorang anak kecil menjadi Imam? Terdapat pertanyaan yang sama yang diangkat oleh beberapa orang ketika kematian Rida pada usia muda, ketika Jawwad masih seorang anak kecil. Kerancuan mengenai Ali dan Musa meningkatkan kebingungan Syi’ah tentang siapa di antara keduanya yang menjadi Imam?

Kulayni dan Mufid menceriterakan kebingungan dan kerancuan Syi’ah Imamiah perihal Imamah setelah Jawwad dan tidak adanya pengetahuan dari Syi’ah tentang identitas dari Imam yang baru. Mereka bertemu di rumah Muhammad bin Al-Faraj untuk mendiskusikan isu ini. Kemudian seorang laki-laki datang kepada mereka untuk menginformasikan kepada mereka bahwa Imam Jawwad telah menceritakan kepada dia secara rahasia, bahwa Imamah akan berada pada putranya, Ali. (81) Kulayni: Al-Kafi vol. 1 hal. 324; Mufid: Al-Irshad, hal.328.

Kebingungan dan kerancuan tentang isu siapa yang akan menjadi Imam, telah mendorong perpecahan di antara para pengikut Jawwad menjadi dua kelompok: Satu kelompok percaya akan Imamah dari Hadi, dan yang lain percaya bahwa MUSA MUBARQA’ yang menjadi Imam. (82) Nubakhti: Firaq al-Shiah hal. 91.

Syekh Mufid bagaimanapun, tidak menyebutkan perpecahan ini tetapi malah melalaikannya. Ia agaknya meng-klaim bahwa semua Syi’ah telah bermufakat pada Imamah dari Hadi. Ia bahkan berkata bahwa konsensus tersebut mendasari suatu bukti mengenai Imamahnya, dari pada mengutip dalil secara detail. (83) Mufid: Al-Irshad, hal.328.

Bagaimanapun, hal itu tidak benar-benar mendasari bukti yang cukup pada penetapan Imamah dari Hadi. Hal ini, sebagaimana biasanya mendorong Syi’ah Imamiah kepada usaha dalam menetapkan Imamahnya atas pertolongan keajaiban, dan klaim tentang pengetahuan terhadap yang tak terlihat (al-Ghayb). Mereka membuat kemajuan dengan mengklaim: pengetahuannya secara ajaib tentang penyakit dari salah satu para kemenakannya; pengetahuannya tentang pembunuhan Khalifah Abbasiah, Wathiq, dan pengambilalihan Mutawakkil; pembunuhan terhadap Ibn al-Zayyat ketika ia berada di Madinah dan sebelum enam hari dari perjalanan pertamanya dari Iraq; transportasi salah satu muridnya (oleh Imam)  dari ‘Surra man Raa’ ke Baghdad dalam satu kedipan mata; berubahnya sebuah toko milik orang miskin menjadi taman yang indah dan menyenangkan, dan di dalamnya terdapat semua berkah dari gadis cantik dan pemuda seperti mutiara yang terpelihara, dan burung-burung, khomr dan sungai yang memancar. (84) Saffar: Basair al-Darajat, hal. 467; Kulayni al-Kafi, vol. 1 hal. 502, dan 498-499.

5.15. MENINJAU KEMBALI PERMASALAHAN ‘AL-BADA’ (PERUBAHAN KEHENDAK)

Doktrin Imamah sebagaimana yang dipercayai oleh anggota keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) dan massa Syi’ah pada umumnya adalah berbeda dengan Syi’ah Imamiah. Karena kelompok yang pertama, mereka mempercayainya sebagai Imamah (kepemimpinan) biasa, sedangkan kelompok yang belakangan, mereka memahaminya sebagai Imamah Ilahiah. Karena inilah, maka masing-masing Imam dari Ahl al-Bayt mengharapkan salah satu dari anak-anak mereka menggantikan dia membimbing orang-orang. Jika putranya meninggal pada masa hidup mereka, mereka akan menunjuk putranya yang lain. Mereka tidak melihat adanya masalah dalam hal itu.

Tetapi kematian salah satu dari anak-anak Imam yang dicalonkan untuk menjadi Imam, biasanya menciptakan suatu krisis serius bagi golongan Syi’ah Imamiah, yang percaya bahwa penunjukan Imam datang dari Allah yang Maha Agung (Imamah Ilahiyah). Sangat aneh dalam penglihatan mereka, ketika menyaksikan kematian dari Imam yang ditunjuk dan dicalonkan pada masa hidup ayahnya. Mereka memandang hal itu sebagai perubahan kehendak Allah, yang mereka sebut sebagai ‘bada’, sekalipun mereka menemukan di dalamnya kesulitan, karena Allah mengubah kehendakNya dalam suatu persoalan penting seperti Imamah tersebut. Hal ini adalah karena kegelisahan dan keraguan yang boleh jadi diciptakan menggunakan kredibilitas Imam, dan mungkin mendorong ke arah meninggalkan klaim tentang adanya suatu dalil ilahiah pada masalah itu.

Syi’ah Imamiah telah menafsirkan kematian Isma’il bin Ja’far Sadiq, yang telah dicalonkan untuk menggantikan ayahnya, sebagai ‘bada’. Beberapa di antara mereka menolak gagasan tentang pencalonannya dari awal. Sedangkan kelompok sisanya menolak fakta bahwa ia meninggal, dan meminta dengan tegas untuk meyakini bahwa Isma’iI menyembunyikan dirinya dari orang-orang (ghoybah). Kematian Isma’il telah menyebabkan suatu pergolakan serius dalam pemikiran Imamiah, yang mendorong penolakan dari banyak Syi’ah Imamiah terhadap kepercayaan bahwa Allah telah menunjuk Imam.

Kejadian yang sama terulang lagi setelah sekitar 100 tahun, ketika IMAM HADI MENGUMUMKAN PENCALONAN PUTRANYA SAYYID MUHAMMAD SEBAGAI PENGGANTINYA, TETAPI IA MENINGGAL PADA MASA HIDUPNYA. IA KEMUDIAN MEMBERI WASIAT (TENTANG IMAMAH) KEPADA SAUDARANYA, YAITU HASSAN al-ASKARI (232-260 AH). Ia berkata kepada dia: “Wahai putraku berterimakasihlah kepada Allah karena Ia telah memiilih kamu untuk suatu urusan.” (85) Kulayni: al-Kafi Vol. 1 hal. 326-327; Saffar: Basair al-Darajat hal. 473; Mufid: Al-Irshad hal. 337; Tusi: Al-Ghaybah hal.122.

Kulayni, Mufid, Tusi, semuanya telah melaporkan dari Abu Hashim Dawud bin Qasim Al-Ja’fri yang berkata: “Aku sedang bersama Abu Hassan al-Askari pada saat ayahnya (Abu Ja’far) meninggal,  yang menunjuk dia dan mengusulkan dia (sebagai Imam).” Aku tidak berpikir tentang diriku, dan aku berkata bahwa hal ini serupa dengan kisah Ibrahim dan Isma’il.” Abu al-Hassan kemudian memandang ke arahku dan berkata: ’Ya, wahai Abu Hashim, Allah mengubah kehendakNya (bada’) mengenai Abu Ja’far, dan Dia meletakkan pada tempatnya, Abu Muhammad, karena ia mengubah kehendakNya mengenai Isma’il setelah ia dicalonkan (untuk Imamah), diganti dengan Abu Abdullah. Hal itu sebagaimana dirimu berbisik kepada kamu, tetapi penyesatan menolak dia…Abu Muhammad adalah penggantiku sepeninggal aku. Ia menguasai semua yang kamu perlukan. Ia mempunyai di dalam dirinya perlengkapan dan lambang Imamah. Semua pujian adalah karena Allah.” (86) Kulayni: al-Kafi Vol. hal. 328; Tusi: Al-Ghaybah hal. 55-130; Mufid: Al-Irshad  hal. 317; Majlisi: Al-Bihar, vol. 50 hal. 241.

Sebagaimana yang terjadi pada Isma’iliah, yang menolak kematian Ismail bin Ja’far, beberapa pengikut Imam Hadi juga menolak kematian putranya, Muhammad, dan mendesakkan klaim bahwa Muhammad masih hidup dan menyembunyikan dirinya. Mereka menafsirkan pengumuman tentang kematian Muhammad oleh Hadi sebagai bentuk taqiyyah dan penyembunyian fakta.

Orang-orang ini percaya pada Imamah dari Muhammad setelah ayahnya dan mengumumkan hal itu: bahwa ayahnya telah mencalonkan dia untuk Imamah, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad akan menggantikan dia. Tidaklah diperbolehkan bagi Imam untuk berbohong, maupun merubah kehendak Tuhan. Sungguhpun nampak nyata bahwa ia meninggal. Ia tidak mati pada kenyataannya. Satu-satunya hal yang ditakutkan ayahnya adalah sesuatu yang mungkin terjadi kepadanya, sehingga ia menyembunyikan dia. Ia adalah satu-satunya pemegang urusan, Mahdi. Mereka percaya pada dia serupa dengan apa yang sahabat Isma’il bin Ja’far klaim mengenai guru mereka. (87) Nubakhti: Firaq al-Shiah, hal. 94.

Setelah kematian Imam Hadi, suatu pergumulan kekuasaan terjadi antara Ja’far bin Ali dan saudaranya, Hassan al-Askari, pada suatu tingkat sehingga Askari berkata: “Tidak satupun dari nenek moyangku menghadapi situasi yang serupa dengan apa yang sedang aku hadapi berkaitan dengan keraguan dari kelompok ini, mengenai (Imamahku). (88) Saduq: Ikmal al-Din wa itman al-Nimah, hal. 22.

Cerita yang sama dengan kasus kematian Abdullah al-Aftah yang tidak mempunyai anak, terulang lagi pada kasus Hassan al-Askari, yang meninggal tanpa mengindikasikan adanya seorang putra dari dia, ataupun ia memberikan wasiatnya kepada seseorang, mengenai Imam setelah dia, yang mendorong krisis dan kebingungan yang luar biasa pada golongan Syi’ah Imamiah, dan membagi mereka ke dalam 14 sekte. Setiap dari mereka mempunyai doktrin sendiri-sendiri. Beberapa di antara mereka percaya pada Imamah dari saudaranya, Ja’far; beberapa bergabung dengan Muhammadiah yang percaya bahwa Muhammad bin Ali menyembunyikan dirinya dan menolak kematiannya; kelompok yang lain percaya bahwa Imamah telah berhenti; beberapa menolak kematian Hassan; beberapa percaya bahwa ia akan kembali hidup lagi; kelompok yang lain percaya bahwa ia mempunyai seorang putra rahasia, yang dulu dilahirkan pada saat hidupnya atau setelah kematiannya dan bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu.

One thought on “BAB V. TEORI IMAMAH MENGHADAPI TANTANGAN

  1. prince iwano says:

    Mengapa Konsep Imamah?

    Atas dalil apa kita harus meyakini terhadap wujudnya para imam?

    Nampaknya yang Anda maksudkan dari pertanyan tentang bagaimana kita dapat meyakini dan memahami pribadi imam. Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan Anda seyogyanya kami terlebih dahulu menjawab pertanyaan mengapa kita harus meyakini masalah imâmah?

    Imâmah dalam Islam memiliki nilai penting dan merupakan tingkatan terakhir dalam perjalanan manusia menuju kesempurnaan.

    Makam ini terkadang bergabung dengan makam kenabian dan risalah; misalnya bergabungnya makam imâmah ini pada sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Saw. Dan terkadang terpisah dari makam kenabian dan risalah seperti imâmah pada para Imam Maksum As.

    Terkait dengan keharusan adanya imam di masyarakat harus dikatakan bahwa sebagaimana keharusan diutusnya para nabi yang bertujuan untuk kematangan dan kesempurnaan manusia maka keberadaan imam adalah untuk menjaga agama dan melanjutkan tongkat estafet agenda dan program nabi. Kelanjutan agenda dan program nabi ini merupakan suatu hal yang mesti dan niscaya.

    Karena statusnya adalah melanjutkan agenda dan program nabi maka hanya Tuhanlah yang memberikan kedudukan dan pos imâmah kepada seorang imam. Dan hanya Dialah yang melantik dan mengangkat imam.

    Syiah dalam menetapkan imâmah para Imam Maksum As bersandar pada dalil pasti akal dan juga nash (ayat dan riwayat) yang tegas (nash sharih).

    Ayat-ayat seperti, “wa likkuli qaum hadin,” “Kunu ma’a al-shadiqin” dan “ulil amr dan hadis-hadis seperti hadis tsaqalain, safinah, itsna ‘asyar khalifah adalah ayat-ayat dan riwayat yang dijadikan sebagai sandaran dan referensi oleh mazhab Syiah. Dalam nash-nash ini (ayat dan riwayat) dijelaskan bahwa mengapa kita harus beriman dan meyakini para Imam Maksum? Kemudian siapa saja para imam tersebut yang harus diyakini dan dikuti?

    Nampaknya yang Anda maksudkan dari pertanyan tentang bagaimana kita dapat meyakini dan memahami pribadi imam. Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan Anda seyogyanya kami terlebih dahulu menjawab pertanyaan mengapa kita harus meyakini masalah imâmah?

    Signifikannya masalah Imâmah

    Imâmah memiliki nilai yang sangat signifikan dalam Islam. Menurut perspektif al-Qur’an imâmah merupakan tingkatan terakhir dalam perjalanan manusia menuju kesempurnaan yang hanya dapat dicapai oleh para nabi ulul azmi. Terkait Nabi Ibrahim As, al-Qur’an menyatakan: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah [2]:124) (dan hanya sekelompok dari keturunanmu yang suci yang laik menjabat makam penting ini).

    Dalam ayat ini disebutkan bahwa makam (imâmah) sedemikian tingginya sehingga Nabi Ibrahim, setelah menerima jabatan kenabian dan risalah pada akhir hidupnya dan setelah melintasi pelbagai ujian dan tantangan berat, beliau ingin mendapatkan kehormatan dengan memangku jabatan ini.

    Kedudukan imâmah pada sebagian urusan dapat dikumpulkan dengan makam kenabian. Seperti pada nabi ulul azmi yaitu Nabi Ibrahim al-Khalil As yang di samping mencapai makam kenabian dan risalah juga sampai pada makam imâmah. Dan yang lebih benderang lagi adalah terkumpulnya makam kenabian, risalah dan imâmah pada diri Nabi Muhammad Saw. Boleh jadi pada hal-hal tertentu makam imâmah ini berpisah dari makam risalah dan kenabian; seperti pada para imam Maksum yang hanya memikul jabatan imâmah tanpa adanya wahyu yang diturunkan kepada mereka.

    Keharusan Adanya Imam

    Keharusan adanya imam adalah sama berbanding lurus dengan keharusan diutusnya para nabi.

    Allamah Hilli, dalam menjelaskan ucapan Khaja Nasiruddin Thusi yang menyebutkan sebagian keharusan adanya imam, berkata:

    1. Adanya Nabi merupakan suatu hal yang harus dan mesti sehingga pengenalan rasional (aqli) manusia dikuatkan dengan perantara pengenalan referensial (naqli). Karena meski manusia dapat memahami dan mencerap hakikat prinsip dan cabang agama dengan wahana fakultas akalnya akan tetapi pada kedalaman diri manusia terpendam sifat was-was dan goncangan-goncangan yang akan menjadi penghalang bersandarnya manusia kepada prinsip-prinsip dan cabang agama berikut pengamalannya. Namun tatkala hukum-hukum rasional (akal) dikuatkan dengan penjelasan para pemimpin Ilahi maka segala jenis goncangan dan was-was akan tersingkirkan dan manusia dengan fakultas hatinya akan seiring-sejalan dengan pelbagai temuan akal.

    2. Banyak perkara dimana akal tidak mampu mencerap sisi baik dan buruknya sesuatu sehingga harus berlabuh pada pangkuan para pemimpin Ilahi sehingga manusia dapat mengenal kebaikan dan keburukan pelbagai perkara tersebut.

    3. Banyak hal yang bermanfaat dan sebagian lainnya adalah merugikan. Manusia dengan semata-mata dengan mengandalkan pikirannya tidak dapat mencerap untung dan ruginya perkara tersebut. Di sinilah ia merasa memerlukan pemimpin Ilahi yang menjelaskan baik dan buruknya pelbagai hal. Di sinilah tugas para pemimpin Ilahi yang berhubungan dengan sumber wahyu.

    4. Manusia adalah entitas dan makhluk sosial. Menjadi makhluk sosial tanpa adanya aturan-aturan yang menjaga hak-hak setiap invididu dalam masyarakat dan mengantarkan manusia pada jalan yang benar maka hal ini sekali-kali tidak akan terimplementasikan dan dapat mengantarkan manusia mencapai kesempurnaan yang diidamkan. Menentukan dan mengidentifikasi aturan-aturan ini secara benar berikut operasionalnya tidak akan tercapai kecuali dengan perantara para pemimpin Ilahi yang alim, suci dan maksum.

    5. Manusia dalam mencerap, memahami kesempurnaan, menuntut pengetahuan dan maarif serta mencapai pelbagai keutamaan, sebagian dari mereka memiliki kemampuan untuk melangkah di jalan ini dan sebagian lainnya tidak mampu. Para pemimpin Ilahi menguatkan kelompok pertama dan menolong kelompok bagian kedua. Sehingga kedua kelompok ini sampai pada kesempurnaan.

    6. Dengan memperhatikan tingkatan-tingkatan akhlak pada diri manusia, satu-satunya jalan untuk membiakkan pelbagai keutamaan ini adalah melalui para pemimpin Ilahi yang suci dan maksum.

    7. Para pemimpin Ilahi mengetahui seutuhnya pelbagai ganjaran, hajaran, pahala dan hukuman Ilahi sebagai imbalan atas ketaatan dan perbuatan dosa. Tatkala memberitahu kepada orang lain seluruh masalah ini maka akan menimbulkan motivasi tinggi untuk mengerjakan segala yang menjadi tugas dan kewajibannya.[1]

    Dengan memperhatikan bahwa imâmah bukanlah sesuatu yang lain kecuali tongkat estafet dan kelanjutan dari kenabian, maka ghalibnya pelbagai filsafat terkait dengan para imam maksum juga dapat ditetapkan. Dengan kata lain, Tuhan yang menciptakan manusia untuk melintasi jalan kesempurnaan dan kebahagiaan adalah Tuhan yang mengutus para nabi untuk membimbing dan memberikan petunjuk kepada manusia. Lantaran manusia harus bersandar pada kekuatan wahyu dan memiliki derajat kemaksuman maka keniscayaannya adalah bahwa untuk melanjutkan jalan ini, setelah wafatnya Rasulullah Saw, Allah Swt mengangkat para khalifah yang maksum yang akan membantu umat manusia untuk sampai kepada tujuan utamanya sedemikian sehingga tanpa pos imâmah ini tujuan ini tidak akan tercapai.

    Karena Pertama, semata-mata bersandar pada akal manusia tentu tidak memadai untuk mengidentifikasi seluruh faktor dan sebab kemajuan dan kesempurnaan manusia. Dan terkadang bahkan sepersepuluhnya saja manusia tidak kuasa mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.

    Kedua, ajaran para nabi setelah wafatnya boleh jadi mengalami penyimpangan dan distorsi. Untuk mencegah pelbagai distorsi maka sudah seharusnya ada seorang maksum dan Ilahi yang menjaga dan mengawal ajaran tersebut. Benar bahwa Allah Swt berfirman terkait al-Qur’an: Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa nahnu ‘alaih lahafizun,” (Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (al-Qur’an) dan Kami yang menjaganya, al-Hijr [15]:9) namun untuk menjaga agama Allah Swt mengangkat para maksum yang merupakan sebab dan faktor bagi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan.

    Kesemua ini disebutkan pada penjelasan Imam Shadiq As yang bersabda: “Di antara kami Ahlulbait pada setiap generasi terdapat orang-orang adil yang menjaga agama dari penyimpangan orang-orang ghulat, memangkas tangan-tangan ahli bid’ah, para pencipta agama dan ahli batil. Serta memelihara dari pelbagai takwil keliru orang-orang jahil.”[2]

    Imam Ali As bersabda: “Sekali-kali bumi tidak akan kosong dari hujjah, lahir atau tersembunyi sehingga dalil-dalil Ilahi dan tanda-tanda-Nya tidak kabur.”[3]

    Ketiga, Membentuk pemerintahan Ilahi dan menegakan keadilan serta menyampaikan manusia kepada tujuan-tujuan yang menjadi maksud penciptaannya tidak dapat terlaksana kecuali melalui hadirnya para maksum. Karena pelbagai pemerintahan manusia sesuai dengan bukti-bukti sejarah senantiasa untuk semata-mata mengeruk keuntungan material orang-orang atau kelompok tertentu dan seluruh usaha mereka adalah untuk maksud ini. Sebagaimana berulang kali kita menyaksikan pelbagai wacana seperti demokrasi, pemerintahan rakyat atau hak-hak asasi manusia dan semisalnya adalah sekedar kedok untuk mencapai tujuan-tujuan setan pelbagai kekuasaan. Dan mereka dengan memanfaatkan media-media ini dalam bentuk lahir lalu ditimpakan kepada masyarakat untuk meraih tujuan-tujuan duniawinya. Imam Ali As dalam ucapan singkat mencirikan ruh imâmah sebagai berikut: “Kedudukan seorang imam yang memerintah urusan kaum Muslimin adalah laksana kedudukan benang bagi manik-manik, karena ia menghubungkan dan mengumpulkan mereka. Apabila benang putus, mereka akan terserak dan hilang dan tak akan berkumpul lagi.” [4]

    Keempat, kelanjutan perintah-perintah agama yang harus diterapkan pada masyarakat memerlukan adanya para imam yang mengetahui segala sesuatu dan seluruh masalah agama sehingga tidak secuil pun keburaman dan keraguan tersisa bagi setiap orang.

    Dari apa yang kami sebutkan menjadi jelas masalah keharusan dan falsafah keberadaan para Imam Maksum.

    Hal-hal yang disebutkan ini merupakan dalil-dalil yang menjelaskan keyakinan kita terkait masalah imâmah dan para imam. Dan sebagai kesimpulannya adalah bahwa apabila kita meyakini bahwa Islam sebagai agama pamungkas maka konsekuensi logisnya adalah kita harus meyakini masalah imâmah.

    Sebagian orang berkata bahwa pengangkatan imam dan urusan kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah Saw diserahkan kepada umat untuk memilih sendiri pemimpin mereka. Mereka beranggapan bahwa mengangkat seorang imam suatu hal yang tidak perlu dilakukan.

    Dalam menjawab anggapan ini cukup kita bersandar pada poin ini bahwa apabila seseorang membangun sebuah pabrik penting yang bertujuan untuk memproduksi berlian yang paling mahal dan keberlanjutan produksi ini menjadi fokus perhatiannya, hadir dan absennya dan bahkan setelah wafatnnya, pabrik ini tidak boleh berhenti memproduksi. Dalam pabrik ini terdapat alat-alat yang canggih yang penggunaannya hanya diketahui oleh segelintir orang saja, kecuali para ahli dan penemu yang mengajarkan kepada orang-orang cara pakai alat-alat tersebut, apakah masuk akal dan dapat diterima bahwa penemu mesin-mesin canggih ini mengumumkan bahwa ia akan mati tidak lama lagi, namun ia tidak menentukan (atau melatih) seorang yang pandai dan mahir terhadap peralatan untuk mengatur alur produksi pabrik? Tentu saja akal sehat tidak akan pernah menerima hal ini.

    Apakah pelbagai kerumitan dan ketelitian ilmu-ilmu al-Qur’an, sunnah, hukum-hukum Ilahi, ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dan sebagainya yang semuanya disiapkan untuk mengatur kehidupan manusia pada seluruh bidang dan strata lebih sederhana dari mesin-mesin canggih di pabrik ini? Tentu saja tidak demikian.

    Dan apakah hasil dan buah agama yang membina berlian dan kesempurnaan manusia (sampai kepada makrifatullah dan ibadah kepada-Nya) dan mengubah syahwat manusia menjadi iffah (mengenal kemuliaan), amarahnya menjadi keberanian, dan menegakkan madinah fadhilah (masyarakat madani) berdasarkan petunjuk dan hidayah Ilahi kurang dari hasil dan produksi pabrik berlian tersebut? Sama sekali tidak.

    Lalu bagaimana mungkin kita dapat percaya bahwa agama yang programnya berlanjut hingga hari terakhir kehidupan manusia (baca Kiamat) dan untuk memberikan petunjuk kepada manusia, tidak membina dan menentukan orang-orang yang cakap dan laik setelah nabinya sehingga ia memikul tugas dan tanggung jawab (selain kenabian) untuk membimbing umat dan mengawalnya untuk sampai pada kesempurnaan?

    Dalil Imâmah para Imam Maksum

    Karena masalah imâmah dan pengangkatan Imam harus bersumber dari sisi Allah Swt, maka untuk mengenal imam kita memerlukan nash (ayat dan riwayat) yang definitif dan dalil-dalil rasional yang menetapkan bahwa orang-orang ini adalah para imam yang disangkat oleh Allah Swt. Misalnya akal manusia tatkala menemukan pelbagai tipologi imâmah seperti ilmu, keadilan, keberanian, kemaksuman pada diri seseorang secara sempurna dan orang lain tidak memiliki tipologi-tipologi ini maka dia akan menghukumi bahwa siapa yang seharusnya menjadi imam. Atau dengan perantara ayat-ayat al-Qur’an atau riwayat-riwayat yang bersifat definitif baik dari sisi keluarannya (qath’i al-shudur) atau dari sisi petunjuknya (qath’i al-dhalalah) yang menetapkan siapa yang laik menjadi imam.

    Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa ayat dan riwayat yang tafsirannya mengangkat masalah ini:

    1. “Innama anta mundzir wa likulli qaumin hâdin.” (Sesungguhnya engkau [hanyalah] adalah seorang pemberi peringatan dan pada setiap kaum terdapat seorang yang memberikan petunjuk, Qs. Al-Ra’ad [13]:7)

    Para penafsir Syiah dan sebagan penafsir Ahlusunnah di antaranya Imam Fakhurrazi seorang mufassir kawakan Ahlusunnah berkata: Pemberi peringatan adalah Nabi Saw dan pemberi petunjuk (hâdi) adalah Ali As. Lantaran Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw meletakkan tangannya yang mulia di dadanya dan berkata: “AKu adalah pemberi peringatan (Ana al-Mundzir). Dan kemudian menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib As dan bersabda: “Dan engkau adalah pemberi petunjuk (Hâdi) wahai Ali! Bika yahtadi al-muhtadun min ba’di.” (Melaluimu orang-orang yang mencari petunjuk mendapatkan petunjuk).[5]

    Tafsir al-Durr al-Mantsur yang merupakan tafsir yang popular di kalangan Ahlusunnah menukil banyak riwayat dari Nabi Saw terkait dengan penafsiran ayat ini: “Nabi Saw tatkala ayat ini diturunkan beliau meletakkan tangannya yang penuh berkah di dadanya dan bersabda: “Aku adalah pemberi peringatan. Dan kemudian menunjukkan kepada Ali bin Abi Thalib As dan bersabda: Engkau adalah pemberi petunjuk wahai Ali…”[6]

    Riwayat-riwayat yang lain dinukil dengan kandungan yang sama dari sekelompok ulama terkemuka Ahlusunnah seperti Hakim Naisyabur dalam Mustadrak, Dzhabi dalam Talkhis, Fakhrurazi dan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir-nya, Ibnu Sabbagh Maliki dalam al-Fushul al-Muhimmah, Ganji Syafi’I dalam Kifâyat al-Thâlib, Thabari dalam Tafsir-nya, Ibnu Hayyan Andalusi dalam Bahr al-Muhith, Naisyaburi dalam Tafsir-nya, Hamuni dalam Farâidh al-Simthaîn dan kelompok lainnya dalam kitab-kitab tafsir mereka. Untuk mengetahui sumber-sumber hadis ini dan referensinya Anda dapat merujuk pada kitab Ihqâq al-Haq, jil. 3, hal. 88-92.

    2. “Yâ Ayyuhalladzina Amanu Ittaqullâh wa Kunû ma’a al-Shâdiqîn.” (Wahai orang-orang beriman bertakwalah dan hendaklah kalian bersama orang-orang benar, Qs. Al-Taubah [9]:119)

    Imam Fakhrurazi dalam menafsirkan redaksi “al-Shadiqin” berkata bahwa yang dimaksud dengan shâdiqin adalah para maksum. Akan tetapi ia menambahkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang maksum adalah seluruh umat.[7] Sementara tiada seorang Arab pun yang memahami ayat ini sebagai seluruh umat tatkala ayat ini diturunkan lantas bagaimana ayat ini dapat dipahami sebagai seluruh umat? Karena itu harus kita terima bahwa pada setiap masa dan zaman terdapat seorang shâdiq yang tidak memiliki kesalahan dalam ucapannya sehingga ia harus kita ikuti!

    Di samping itu, banyak mufassir dan muhaddis Ahlusunnah seperti Ibnu Abbas menukil bahwa ayat di atas adalah berkaitan dengan Baginda Ali bin Abi Thalib As. Allamah Tsa’labi dalam Tafsir-nya, Ganji dalam Kifâyat al-Thâlib, Allamah Sibth al-Jauzi dalam Tadzkirah adalah sekelompok ulama yang menukil demikian bahwa: Para ulama Sirah (sejarah Nabi) berkata bahwa makna ayat ini adalah bahwa kalian harus bersama Ali dan keluarganya. Ibnu Abbas berkata: “Ali As adalah tuan dan penghulu para shadiqin.”[8]

    Terdapat anyak riwayat yang sampai kepada kita melalui Ahlulbait yang menegaskan makna ini.[9]

    3. “Athi’ûLlâh wa Athi’ûrrasul wa Ulilamri minkum.” (Taatilah Allah dan taati Rasuluulullah dan Ulil Amri di antara kalian., Qs. Al-Taubah [9]:)

    Para penafsir Syiah semuanya sepakat bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri pada ayat ini adalah para Imam Maksum As.

    Di samping itu, Syaikh Sulaiman Qunduzi Hanafi dalam kitabnya Yanâbi’ al-Mawaddah yang menukil dari Tafsir Mujahid bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib As. Pada waktu itu, yaitu pada perang Tabuk, Rasulullah Saw menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifahnya (man in charge) di Madinah. Dan juga diriwayatkan dari Ali As; Dalam sebuah percakapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar berargumen dengan mereka tentang ayat ini namun kaum Muhajirin dan Anshar tidak membantahnya.[10]

    Dalam Syawâhid al-Tanzil, Hakim Huskani, seorang ulama Ahlisunnah, menukil sebuah riwayat terkait dengan ayat ini bahwa Baginda Ali As berkata bahwa Aku bertanya kepada Nabi Saw tentang siapa gerangan “Ulil Amri” itu? Nabi Saw bersabda: “Engkau adalah orang yang pertama (dari Ulil Amri itu).”[11]

    Imâmah dalam Riwayat

    Masalah imâmah adalah sebuah masalah yang banyak diangkat dalam riwayat yang bersumber dari Nabi Saw dimana pada kesempatan ini kami akan menyebutkan beberapa di antara riwayat tersebut sebagai contoh:

    1. Hadis Tsaqalain:

    Hadis yang dinukil dari Rasulullah Saw ini banyak disebutkan pada kitab-kitab utama Syiah dan Ahlusunnah (sumber-sumber kelas satu) sedemikian sehingga tiada keraguan bahwa hadis tersebut disampaikan oleh Nabi Saw. Dari kumpulan hadis ini menjadi jelas bahwa Nabi Saw menjelaskan hadis ini pada pelbagai kesempatan yang menandaskan pentingnya hadis ini. Dalam kitab Shahih Muslim salah satu kitab ternama dan sumber utama Ahlusunnah dan tergolong sebagai kitab paling penting di antara enam kitab sahih Ahlusunnah (Sihah al-Sittah). Shahih Muslim menukil dari Zaid bin Arqam yang menyebutkan bahwa: “Rasulullah Saw berdiri di hadapan kami dan meyampaikan khutbah pada sebuah telaga yang disebut sebagai Khum (Ghadir Khum) yang terletak antara kota Mekah dan Madinah. Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt (tahmid) beliau bersabda: Amma ba’du, Ayyuhannas! Aku adalah seorang manusia dan sudah dekat malaikat Tuhanku datang menjemputku dan aku akan menjawab panggilan itu. Dan aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka (tsaqalain) yang pertama adalah Kitabullah yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Karena itu ambillah Kitabullah itu dan berpegang teguhlah kepadanya – di sini Rasulullah Saw banyak memotivasi tentang al-Qur’an – lalu bersabda: Dan aku wasiatkan Ahlulbaitku janganlah kalian lupa Ahlulbaitku (Rasulullah Saw mengulang kalimat ini sebanyak tiga kali).[12] Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh melupakan tanggung jawab Ilahi ini terkait dengan Ahlulbait As.

    Menyandingkan Ahlulbait di samping al-Qur’an, sebagai dua pusaka berharga dan sebanyak tiga kali ditegaskan dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa perkara ini bertautan secara berkelindan dengan suratan nasib kaum Muslimin, pemanduan mereka, penjagaan asas dan fondasi Islam. Apabila tidak demikian maka keduanya tidak akan bersanding.

    Hadis tsaqalain dinukil secara luas dalam kitab-kitab terkemuka Ahlusunnah, Sunan Tirmidzi,[13] Sunan Darami,[14] Musnad Imam Ahmad (yang merupakan salah satu imam dari empat imam mazhab Ahlusunnah),[15] Sunan Nasai,[16] Mustadrak al-Shahihain,[17] Shawaiq al-Muhriqah,[18] Usud al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah, karya Ibnu Atsir[19] dan Jalaluddin Suyuthi dalam kitab Ihya al-Mayyit,[20] Sunan Baihaqi,[21] al-Mu’jam al-Kabir[22] karya Hafizh Thabarani dan pada kitab-kitab standar Ahlusunnah.

    Mir Hamid Husain Hindi dalam kitab Khulâsha ‘Abâqat al-Anwâr menyebutkan 126 kitab terkemuka dan menukil redaksi yang sama masing-masing lengkap dengan alamat jilid dan halaman kitab-kitab tersebut.[23]

    Hal ini merupakan tinjauan sanad hadis tsaqalain. Akan tetapi dari sisi makna dan kandungan hadis nabawi ini terdapat poin-poin yang sangat akurat di antaranya:

    A. Al-Qur’an dan Ahlulbait senantiasa bersama dan tidak akan pernah terpisahkan. Bagi mereka yang mencari hakikat dan kebenaran maka ia harus mencarinya pada Ahlulbait As.

    B. Sebagaimana wajib bagi kaum Muslimin untuk mengikuti al-Qur’an tanpa reserved maka mengikuti Ahlubait tanpa reserved adalah wajib juga bagi kaum Muslimin.

    C. Tidak terpisahkannya Al-Qur’an dan Ahlulbait As dan kewajiban mentaati keduanya tanpa tedeng aling-aling merupakan bukti nyata atas kemaksuman keduanya dari segala kesalahan, dosa dan kekeliruan.

    D. Nabi Saw bersabda bahwa dua pusaka ini (al-Qur’an dan Itrah) senantiasa bersanding hingga kaum Muslimin menghadap Rasulullah Saw kelak di samping Telaga Kautsar dan hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa pada sepanjang sejarah Islam terdapat seorang dari Ahlulbait yang menjabat sebagai pemimpin (imam) maksum dan sebagiamana al-Qur’an senantiasa merupakan pelita hidayah maka para Imam Maksum ini juga adalah pelita hidayah. Karena itu kita harus senantiasa berupaya untuk menemukan mereka pada setiap zaman.

    E. Dari hadis tsaqalain dapat dipahami bahwa berpisah atau mendahului Ahlulbait adalah sebab kesesatan dan penyimpangan.

    F. Para Imam Ahlulbait adalah orang-orang yang lebih utama, lebih pandai dan lebih unggul dari semuanya.

    Yang menarik bahwa Samhudi Syafi’i salah seorang ulama terkemuka Ahlusunnah pada abad kesembilan dan kesepuluh Hijriah dalam sebuah tulisannya bernama “Jawâhir al-‘Aqdain” yang ditulis berkenaan dengan hadis tsaqalain. Ia menulis, “Hadis ini memahamkan (kepada kita) bahwa pada setiap zaman hingga hari kiamat terdapat seseorang dari kalangan Ahlulbait As yang memiliki kelayakan untuk diikuti dan dijadikan sebagai sandaran. Sebagaimana al-Qur’an demikian adanya.” [24]

    2. Hadis Safinah:

    Hadis ini merupakan salah satu hadis terkenal tentang Ahlulbait As dan para Imam Maksum As. Hadis safinah ini dinukil secara luas dalam kitab-kitab ternama Syiah dan Ahlusunnah.

    Hadis ini dinukil dari minimal 8 orang sahabat Nabi Saw, Abu Dzar, Abu Said Khudri, Ibnu Abbas, Anas, Abdullah bin Zubair, ‘Amir bin Watsilah, Salmah bin Al-Akwa’ dan Ali bin Abi Thalib As. Hadis ini disebutkan pada puluhan kitab-kitab utama Ahlusunnah.

    Demikian Abu Dzar menukil hadis ini: “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Matsalu Ahlubaiti kamatsali Safinat Nuh fi Qaumin Nuh. Man Rakibahâ najah wa man Takhallafa ‘anha halaka.”[25] (Perumpamaan Ahlubaitku bagi kalian laksana bahtera Nuh. Barang siapa yang menaikinya akan selamat dan barang siapa yang terpisah darinya akan binasa).”

    Penyusun kitab Abaqat al-Anwar menukil hadis ini dari 92 kitab melalui 92 orang ulama terkemuka Ahlusunnah (berikut seluruh rinciannya).[26]

    1. Pasca Rasululllah Saw angin puting beliung kesesatan dan penyimpangan akan menghantam seluruh umat Islam dan alangkah banyaknya orang yang akan binasa.

    2. Untuk selamat dari cengkraman bahaya ini hanya satu harapan yang tersisa yaitu pada bahtera keselamatan Ahlulbait As yang akan menyebabkan kecelakaan dan kebinasaan jika berpisah atau meninggalkannya.

    3. Apa yang menjadi sebab keselamatan tidak semata mencinta atau menghormati mereka sebagaimana yang dikemukakan sebagian ulama Islam. Mereka berkata bahwa barang siapa yang mencintai Ahlulbait maka dia tergolong sebagai orang yang selamat. Tentu tidak demikian. Sebab keselamatan ini menuntut kita untuk mengikuti mereka sebagai titik seberang dengan “takhalluf” meninggalkan dari mereka sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat.

    4. Adanya bahtera Ahlulbait hingga akhir kehidupan dunia adalah bersifat mesti dan harus karena hingga akhir kehidupan bahaya topan dan kesesatan penyimpangan senantiasa mengintai dan mengancam.

    5. Berpegang teguh tanpa reserved kepada Ahlulbait sebagai lawan dari takhalluf (meninggalkan) mereka dapat menjadi bukti nyata akan adanya seorang Imam Maksum pada setiap zaman dari kalangan Ahlulbait As dimana dengan mengikuti mereka adalah penyebab keselamatan dan meninggalkan mereka adalah biang kebinasaan.

    3. Hadis 12 Imam:

    Hadis dua belas imam juga merupakan salah satu hadis yang masyhur dan terkenal. Hadis ini banyak dinukil pada kebanyakan kitab-kitab sahih Ahlusunah.

    Dalam Sahih Muslim yang menukil dari Jabir bin Samrah dimana ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: La Yazalu al-Islam ‘azizan ilaa itsna ‘asyara khalifah- Tsumma qala kalimatun lam afham! Faqultu li abi ma qala? Faqala: Kulluhum min Quraisy!” Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Islam akan senantiasa mulia selama 12 khalifah memerintah kaum Muslimin. Setelah itu beliau berkata-kata sesuatu yang aku tidak pahami. Karena itu aku bertanya kepada ayahku (yang hadir dan lebih dekat kepada Nabi ketika itu). Aku berkata: Apa yang disabdakan Nabi Saw? Ayahku berkata: Rasulullah Saw bersabda: Seluruhnya dari Quraisy.”[27]

    Hadis ini juga disebutkan dalam Shahih Bukhari dengan redaksi yang serupa.[28] Dan juga pada Shahih Tirmidzi,[29] Shahih Abi Daud[30] dan pada Musnad Ahmad bin Hanbal disebutkan berapa kali[31] dan sebagianya.

    Adapun dari sisi kandungan hadis redaksi-redaksi yang disebutkan dalam riwayat ini berbeda-beda. Pada sebagian riwayat disebutkan dengan redaksi “Itsna ‘Asyara Khalifah” (Dua Belas Khalifah) dan pada sebagian riwayat disebutkan dengan redaksi “Itsna ‘Asyara Amiran” (Dua Belas Amir) dan pada sebagian lainnya disebutkan wilayah dan pemerintahan dua belas orang. Tapi yang pasti dan jelas bahwa kesemua ini berkaitan dengan masalah wilâyah dan khilâfah.

    Dari sisi lain, secara umum riwayat ini dinukil melalui ragam jalan dimana disebutkan misalnya “Kulluhum min Quraisy” (Seluruhnya dari Quraisy) dan sebagian riwayat disebutkan “Kulluhum min Bani Hasyim.” (Semuanya dari Bani Hasyim).[32]

    Pada ghalibnya hadis-hadis ini disebutkan bahwa suara Nabi Saw pelan tatkala sampai pada akhir sabdanya dan kalimat di atas disampaikan secara perlahan. Hal ini menunjukkan bahwa ada orang-orang yang menentang terhadap adanya dua belas khalifah Nabi Saw dari kalangan Quraisy atau dari kalangan Bani Hasyim.

    Bagaimanapun penafsiran hadis mulia ini yang disebutkan pada sumber-sumber utama dan seluruh ulama Islam mengakuinya adalah hal yang jelas bagi para pengikut Ahlulbait. Mereka memandang bahwa maksud dari dua belas khalifah tersebut tidak lain kecuali dua belas imam maksum. Akan tetapi pengikut mazhab lain tidak mampu menjelaskan secara jelas tentang dua belas khalifah ini. Jelas bahwa mereka tidak mampu menjelaskan dengan baik ihwal dua belas khalifah ini karena para khalifah pertama jumlahnya ada empat dan para khalifah Bani Umayyah sejumlah 14 orang dan khalifah Bani Abbasiyah sampai pada 37 orang. Tidak satu pun dari khalifah ini sesuai dan cocok dengan dua belas khalifah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis. Dengan menggabung atau membagi jumlahnya masalah tidak akan tuntas kecuali mengapus sebagian dari mereka dan sebagian lainnya kita terima. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima secara logis dan rasional.

    Di samping itu, kita memiliki riwayat yang dinukil baik melalui Ahlusunnah juga melalui Syiah. Dan sebagian dari riwayat tersebut disebutkan nama dua belas imam – sebagaimana yang diyakini oleh pengikut mazhab Ahlulbait – dan sebagian lainnya nama Imam Pertama “Ali bin Abi Thalib” dan Imam Terakhir “Imam Mahdi Ajf” , pada sebagian riwayat lainnya disebutkan nama Imam Ketiga “Imam Husain.” Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw menunjuk kepada Imam Husain As dan bersabda: “Putraku ini adalah imam, putra imam, saudara imam dan ayah Sembilan imam.” [33]

    Kendati kita banyak memiliki riwayat yang muktabar terkait dengan masalah imâmah para imam maksum namun begitu kita mencukupkannya dengan menukil beberapa riwayat yang disebutkan di atas.[34][]

    Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat beberapa indeks di bawah ini:

    · Keharusan Kemaksuman dan Jalan-jalan untuk mengidentifikasinya pada Imam As, no. 258 (Site: 2088)

    · Kemaksuman para Nabi dalam Perspektif al-Qur’an, indeks no. 112 (Site:998) dan 129 (Site:1069)

    · Kemaksuman Manusia-manusia Biasa, no. 104 (Site: 861)

    · Pembatasan Para Maksum pada Empat Belas Orang, no. 178 (Site: 1395)

    [1]. Silahkan lihat, Syarh Tajrid, hal. 271 (dengan adaptasi dan ringkasan), sesuai nukilan dari Payam-e Qur’an, jil. 9, hal. 37-38.

    [2]. Ushul Kâfi, jil. 1, hal. 32, bab Sifat al-‘Ilm, hadis 2.

    [3]. Nahj al-Balâgha, Hikmah no. 147

    [4]. Nahj al-Balâgha, Khutbah no. 146.

    [5]. Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir, jil. 19, hal. 14.

    [6]. Jalaluddin Suyuti, al-Durr al-Mantsur, jil. 4, hal. 45.

    [7] . Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir, jil. 16, hal. 221.

    [8]. Ihqâq al-Haq, jil. 3, hal. 297.

    [9]. Tafsir Nur al-Tsaqalaîn, jil. 2, hal. 280, hadis 392-393.

    [10]. Yanâbi’ al-Mawaddah, hal. 114-116.

    [11]. Syawâhid al-Tanzil, jil. 1, hal. 148, cetakan Beirut.

    [12]. Shahih Muslim, jil. 4, hal. 1873.

    [13]. Sunan Tirmidzi, jil. 5, hal. 662, hadis 3786.

    [14]. Sunan Darami, jil. 2, hal. 432, Cetakan Dar al-Fikr, Beirut.

    [15]. Musnad Ahmad, jil. 5, hal. 182, cetakan Dar al-Shadir, Beirut.

    [16]. Khasâis Nasâi, hal. 2.

    [17]. Mustadrak al-Shahihaîn, jil. 3, hal. 109.

    [18]. Shawâiq al-Muhriqah, hal. 226, cetakan ‘Abdullatif, Mesir.

    [19]. Usud al-Ghâbah fi Ma’rifati al-Shahâba, jil. 3, hal. 47, cetakan Mesir.

    [20]. Ihyâ al-Mayyit, yang dicetak sebagai catatan pinggir al-Itthaf, hal. 116.

    [21]. Sunan Baihaqî, jil. 10, hal. 114.

    [22]. Al-Mu’jam al-Kabir, hal. 137.

    [23]. Khulâsah ‘Abaqât al-Anwâr, jil. 2, hal. 105.

    [24]. Khulâsah ‘Abaqât al-Anwâr, jil. 2, hal. 285.

    [25]. Al-Mu’jam al-Kabir wa al-Mu’jam al-Shagir, hal. 78, cetakan Dehli. ‘Uyûn al-Akhbâr Dainawâri, jil. 1, hal. 212, cetakan Mesir. Mustadrak al-Shahihaîn, jil. 3, hal. 150. Mizân al-I’tidâl, jil. 1, hal. 224. Târikh al-Khulâfah, Suyuthi, hal 573.

    [26]. Khulâsah ‘Abaqât al-Anwâr, jil. 2, hal. 126-195

    [27]. Shahih Muslim, jil. 3, hal. 1453, cetakan Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi.

    [28]. Shahih Bukhâri, jil. 3, juz 9, hal. 101.

    [29]. Shahih Tirmidzi, jil. 4, hal. 501, cetakan Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi.

    [30]. Shahih Abi Daud, jil. 4.

    [31]. Silahkan lihat, Muntakhâb al-A^tsâr, hal. 12 dan Ihqâq al-Haq, jil. 13

    [32]. Yanâbi’ al-Mawaddah, hal. 445, bab 77.

    [33]. Kasyf al-Murâd, hal. 314, cetakan Mustafawi Qum.

    [34]. Jawaban ini disuguhkan dengan menukil dari Tafsir Payâm-e Nur, jil. 9, (Imâmah wa Wilâyat dar Qurân Majid).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: