BAB IV. DASAR TEORI IMAMAH

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB IV

DASAR TEORI IMAMAH

Pemikiran Imamah telah berkembang dari statemen Syi’ah Imamiah tentang perlunya kesempurnaan (ismah) pada bagian dari pribadi seorang Imam, setiap Imam, menuju ke pemikiran perlunya adanya sebuah dalil (Ilahiah) berkaitan dengan Imam tersebut sebagai satu-satunya cara untuk mengidentifikasi Imam. Hal ini membuat sistem Shura (konsultasi) dan pemilihan (Imam) menjadi tidak valid. Selanjutnya membatasi Imamah kepada mereka yang memiliki ‘ismah’ dari anggota Ahl al-Bayt, mulai dari Imam Ali bin Abi Talib, Hassan dan Hussain, dan kemudian Imam dari jalur keturunan Hussain saja, yang Allah tetapkan sebagai para pemimpin bagi seluruh makhluk hingga hari kebangkitan.

Sebagai bukti adanya ‘ismah’ dari anggota ahlul bait Nabi, pemikiran sekolah Imamiah menyatakan ayat Quran berikut: “Allah hanya berkehendak untuk menghapuskan perbuatan jahat dan dosa kamu, wahai anggota keluarga (Nabi).” (Al-Ahzab:33), yaitu dengan menafsirkan ’kehendak (iradah)’ yang berarti kehendak yang diciptakan bukan kehendak yang bersifat ketetapan hukum, karena tidaklah mungkin bahwa kehendak Ilahiah akan jatuh untuk menghapuskan perbuatan jahat dari mereka. Allah yang Maha Kuasa telah berfirman: “Sungguh, PerintahNya, ketika Dia berniat sesuatu adalah hanya dengan Ia berkata tentang hal itu, ‘Jadilah’ dan terjadilah”. Pemikiran tersebut juga mengecualikan isteri-isteri Nabi dari barisan anggota keluarga Nabi (Ahl al-Bait) dan membatasi (penghormatan itu) kepada Imam Ali, Fatimah dan anak-anak mereka. (1) Baqir Sharif al-Qurashi: Hayat al-Imam Musa bin Ja’far’ vol.1 hal. 111; Sadr: Al-Syi’ah al- Imamiyyah, hal. 126.

Sejarawan Imamiah Sa’id bin Abdullah Al-Qummi al-Ashari telah melaporkan kepada kita, format yang tepat pemikiran ini dalam hasil kerjanya, ‘Al-Maqalat wa al-firaq’, di mana ia berkata: Imam Ali bin Abi Talib adalah Imam yang ketaatan kepadanya telah dibebankan oleh Allah dan Rasulullah (SAAW) sebagai tugas kewajiban bagi umat manusia, untuk menerima dia dan menerima (instruksi) dari dia. Seseorang selain dia bukanlah pemimpin mereka yang sah. Siapapun yang mematuhi dia, adalah mematuhi Allah, dan siapapun yang menentang dia, adalah menentang Allah, karena tanda dari Rasulullah telah menetapkan bagi mereka dan pembebanan Imamah dan kepemimpinannya dan hak untuk melayaninya lebih dari jiwa mereka sendiri. Nabi juga telah memberkati dia (Ali) dengan pengetahuan yang akan diperlukan oleh kemanusiaan dalam beragama, yang diperbolehkan dan yang dilarang dan semua yang bermanfaat bagi mereka dalam kehidupan beragama dan duniawi, demikian juga apapun yang merugikan mereka, dan semua jenis pengetahuan, kecil atau besar, ia meninggalkan hal itu sebagai sebuah kepercayaan kepadanya, demikian juga menjadi penjaga/ walinya.

“Dan bahwa ia berhak mendapat Imamah dan posisi seperti Nabi, karena kesempurnaannya dan kemurnian kelahirannya, menjadi di antara para pelopor (dalam menerima Islam), pengetahuannya, keberaniannya, jihadnya, kedermawanannya, kezuhudannya dan keadilannya diantara para pengikutnya. Nabi (SAAW) telah menyebutkan melalui suatu dalil: namanya, garis keturunannya dan orangnya. Ia menyerahkan kepada Ali Imamah Ummah tersebut, pada banyak kesempatan, Nabi menetapkan Ali sebagai tanda, dan menjadikan dia sebagai penolong wasiatnya dan wakilnya, juga wazir-nya. Nabi (SAAW) memberitahu mereka bahwa posisi Ali terhadap Nabi seperti posisi Harun terhadap Musa, kecuali tidak ada Nabi setelah Beliau. Karena Nabi menjadikan Ali padanan Nabi dalam hidupnya, kemudian Ali adalah yang paling layak di antara mereka setelah kematiannya, karena Ali adalah yang lebih layak dari mereka dibanding diri mereka sendiri, ketika Nabi menjadikan Ali serupa dengan dirinya dalam mubahalah (permohonan kutukan Allah agar diturnkan kepada siapa yang tidak benar), dalam firman Allah…“Diri kami dan diri kalian…” dan juga dalam statemen Rasulullah (SAAW) kepada anak-anak Wali’ah: “Kalau tidak, aku akan mengirim kepada kamu seorang laki-laki seperti diriku.” Posisi Nabi tersebut tidak akan dialami seseorang setelah dia kecuali oleh orang yang seperti dia. Imamah adalah suatu urusan yang paling diagungkan setelah kenabian, karena hal itu adalah salah satu dari tugas-tugas yang diwajibkan oleh Allah yang paling diperhatikan. Jika tugas-tugas yang wajib tidak bisa ditetapkan, maupun diterima, kecuali dengan keberadaan Imam yang adil dan karena perlunya akan hal itu, Imamah itu harus berlanjut selalu pada keturunan Ali hingga hari kebangkitan, pada anak-anak lelaki Ali dari Fatimah, putri Rasulullah, dan kemudian cucu-cucu lelaki dari dia (Fatimah), seorang laki-laki dari mereka akan selalu mengambil posisinya untuk selamanya. Ia akan menjadi sempurna dari dosa, disucikan dari semua cacat, saleh, murni, dan bebas dari semua penyakit agama, penyakit jalur keturunan dan penyakit kelahiran. Orang yang tidak bisa berbuat salah dengan sengaja atau tanpa disengaja, secara tegas disebutkan oleh dalil dari Imam sebelum dia, yang ditunjuk dengan namanya dan pribadinya… dan bahwa Imamah akan berlanjut pada keturunannya dengan cara ini, sepanjang umat manusia mengikuti perintah Allah.” (2) Ashari: Al Maqalat wa al-firaq, hal.17.

Sarjana Imamiah yang tumbuh pada permulaan abad ke-2 Hijrah sudah mencoba untuk menarik balik teori mereka, dan membaca sejarah politis Syi’ah sekali lagi, dipandang dari sudut teori mereka berdasar pada (gagasan adanya) suatu dalil (nass), dan mengabaikan pemikiran politis Syi’ah yang sebelumnya yang didasarkan pada (gagasan) Shura (konsultasi).

Mereka secara alami mengaitkan pemikiran mereka kepada anggota keluarga Nabi (AS) -Ahl al-Bayt- dan mengklaim mengambil hal tersebut dari mereka. Inilah alasannya kenapa Syekh Mufid berkata berikut: “Syi’ah Alawiah sudah menyetujui bahwa Imamah pada saat kematian Nabi (SAAW) adalah bagi pemimpin orang beriman Ali bin Abi Talib, dan Imamah itu adalah bagi Husain bin Ali setelah saudaranya. Dan setelah Hussain akan diperuntukkan bagi anak-anak Fatimah (AS) yang tidak meninggalkannya kepada orang lain. Tidak selain dari mereka yang patut menerima Imamah. Mereka adalah orang-orang yang tepat untuk itu, hingga hari akhir. Imamah adalah hak yang eksklusif bagi anak-anak Hussain, hal itu tidak akan diserahkan kepada orang lain hingga hari (pengadilan)”. (3) Mufid: Al-Masail al-Jaroudiyyah/ Sejumlah surat hal. 166.

4.1. DALIL SEBAGAI PENGGANTI WASIAT

Berlawanan dengan pemikiran Kisaniah yang bergantung pada wasiat Nabi bagi Imam Ali, pemikiran Imamiah sebagian besar telah bergantung kepada persoalan ‘Ghadir’ dan menemukan di dalamnya suatu bukti yang kuat dengan arti politis, dan suatu dalil bagi Khilafah. Syekh Mufid berkata di dalam ‘Al-Ifsah fi Imamah ‘Ali bin Abi Talib: “Nabi (SAAW) telah menganugerahkan kepada Imam Ali kepemimpinan yang sesuai di Ghadir (sungai kecil) dari ‘Khoum’, dan mengungkapkan betapa Ali menyerupai Nabi dalam perlunya mematuhi Ali, demikian juga perintahnya, larangannya dan pengorganisasian urusan mereka dan kepemimpinannya bagi mereka… Ia menetapkan keunggulan Ali di atas yang lainnya di masyarakat, seperti halnya dukungannya dan kewaziran dan Khalifah di dalam hidupnya dan setelah kematiannya (Nabi). (4) Mufid: Al-Masail al-Jaroudiyyah/ Sejumlah surat hal.6.

Sebagai tambahan terhadap hal di atas, mereka bergantung pada beberapa bukti dalil perihal kebaikan Imam Ali bin Abi Talib, dan Imam lainnya, yang dengan jelas menegaskan kepemimpinan dan Imamahnya. Tetapi semua ini adalah dari pelapor Syi’ah. Hal ini telah selalu dicurigai sebagai hal yang dibuat atau memberi penekanan atau pemaksaan arti yang bertentangan dengan yang tampak, yaitu penafsiran arti politis dalam hadist tersebut.

Sayyid Murtada telah mengakui di dalam hasil kerjanya ‘Al-Shafi fi al-Imamah’, bahwa tradisi Nabi yang paling penting mengenai Imamiah, adalah hadits ‘Ghadir Khoum’ dan dalil ini merupakan sesuatu yang samar bukan suatu dalil yang jelas, jika kita mengeluarkan penambahan yang terjadi pada dalil itu. (5) Al-Shafi, vol.2 , hal.128.

Disamping penolakan ahli ilmu agama Imamiah perihal Imamah yang diklaim bagi diri mereka seperti Muhammad bin Hanafiyyah dan Abdullah Al-Aftah, karena tidak adanya dalil yang jelas pada masalah itu, dan disamping statemen Syekh Mufid tentang tidak bolehnya penetapan Imamah kepada siapapun yang tidak ada dalil atau bukti yang menegaskan Imamahnya, karena ‘ismah’ hanya dapat diketahui melalui suatu dalil – sebagaimana yang Syekh Mufid dan Tusi telah katakan (6) Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah, hal. 262; Tusi: Al-Ghaybah, hal.16, Talkis al-Shafi, vol.4, hal.192.

Disamping semua ini, sejarawan Imamiah tidak mampu menetapkan dalil (bukti) apapun atas Imamah dari Imam yang lain, terutama Imamah Imam Ali bin Hussain, yang bertindak sebagai suatu mata rantai antara Imam Hussain dan Imam yang lainnya hingga hari penghakiman. Hal ini telah mendorong munculnya penggagas-penggagas teori Imamiah Ilahiah dengan bergantung pada arti yang lain terlepas dari dalil dalam penetapan Imamah dari Imam sisanya, seperti wasiat, akal, keajaiban (mukjizat) dan sebagainya. (7) Mufid: Al-Irshad, hal. 278-279; Al- Hilli: Nahj al-Haqq hal.168.

4.2. AKAL SEBAGAI PENGGANTI DALIL

Karena lemahnya dalil yang dilaporkan oleh Syi’ah Imamiah mengenai Kekhalifahan anggota keluarga Nabi, ahli ilmu agama yang lebih awal pada tempat yang pertama sudah bergantung pada akal (aql) dalam penetapan teori mereka.

Syekh Mufid berkata: “Jika salah satu dari lawan berkata bahwa dalil yang dilaporkan oleh Syi’ah imamiah adalah dipalsukan dan tradisi tersebut dilaporkan oleh pelapor tunggal, sebaliknya biarkan mereka menyebutkan rantai pembawa khabar tradisi mereka dan menyatakan keaslian tradisi mereka dengan suatu cara yang tidak akan meninggalkan keraguan apapun. Akan dikatakan kepadanya: “Adalah tidak ada efeknya kepada Syi’ah Imamiah dalam kepercayaan mereka yang telah diterangkan di atas, tidak adanya konsensus mengenai dalil tentang Imam tersebut. Tradisi yang dilaporkan oleh pelapor tunggal tidak mendiskualifikasi kepercayaan tersebut untuk menjadi bukti bagi mereka (para Imam), karena yang menemaninya adalah bukti akal, kami sudah menyebutkan dan menerangkan tentang perlunya Imamah dan atribut Imam. Hal ini karena jika bukti akal tidak valid seperti yang dibayangkan oleh lawan, bukti akal yang menetapkan perlunya dalil untuk memperkuat Imam akan juga menjadi tidak valid, sebagaimana yang telah kami terangkan.” (8) Mufid: Al-Rasa’il al-Ashr hal.169; Al-Thaqaan/ Sejumlah surat, hal.180.

Sayyid Murtada berkata di dalam Al-Shafi: “Kami mempunyai dua cara untuk menetapkan Imamah dari Imam setelahnya. Yang pertama dengan mengacu pada laporan yang jelas dari Syi’ah, yang mendasari bukti dalil dari Nabi secara keseluruhan atau sebagian, dan apa yang telah dilaporkan dari pemimpin orang beriman dan dalil dari setiap salah satu dari mereka pada salah seorang yang menggantikan dia. Yang kedua dengan bergantung pada argumentasi akal berdasar pada prinsip logis dalam penetapan Imamah seseorang dari mereka, tanpa bantuan suatu tradisi/ hadits.” (9) Murtada: Al-Shafi, Vol.3, hal.146.

Hal yang sama dikatakan oleh Abu Al-Fath Muhammad bin Ali Al-Jarajiki di dalam bukunya, ‘Al-Istinsar fi al-Nass Ala Aimah al-Athar’: “Ketahuilah bahwa, semoga Allah membantu kamu, bahwa Allah Yang Diagungkan telah mempermudah bagi ulama Syi’ah untuk membedakan bukti akal dan bukti tradisi atas kebenaran mengenai Imamah anggota Keluarga Nabi, sedemikian rupa sehingga dapat menetapkan bukti terhadap lawan mereka. Argumentasi akal menetapkan prinsip perlunya kebutuhan akan Imam pada setiap zaman, dan atribut mereka yang sudah dikenal seperti ‘ismah’, yang membedakan dia dari keseluruhan anggota Ummah, atribut seperti itu tidak tersedia pada selain dari seseorang yang ditunjuk (oleh Allah). Sebagai bukti tradisi, kami mempunyai Al-Qur’an yang menunjuk secara umum kepada kepemimpinan dan keunggulan mereka di atas mahluk lainnya.” (10) Al-Karajiki: Al-Istinsar, hal. 3 , Dicetak oleh Penerbit Alawiyah di Najaf al-Ashraf, 1346 A.H, dari sebuah salinan manuskrip yang ada sejak 7 abad yang lalu di Perpustakaan Mirza Muhammad Hassan al-Shirazi, di Samirra’i. Salinan itu dilampirkan pada buku lainnya pada topik yang sama dengan nama: ‘Muqtadab al-Athar Fi al-Nass ala al-A’imah al-Ithna’ Ashar’ oleh Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin ‘Iyash bin Ibrahim bin Ayyub, Abu Abdullah al-Jauhari, wafat 401 AH.

4.3. KEAJAIBAN (MUKJIZAT) SEBAGAI PENGGANTI AKAL

Jika teori Imamiah mengemukakan adanya beberapa dalil/ nas mengenai Imam Ali bin Abi Talib (AS), hal itu berarti mengakui tidak adanya dalil mengenai Imam-imam yang lain. Dan untuk alasan inilah mereka sekali waktu bergantung pada wasiat biasa, dan mengambilnya sebagai bukti sebagai ganti dalil/ nas. Mereka sekali waktu kekurangan bukti sekalipun wasiat biasa, dan karena itulah beberapa dari mereka memberikan alasan dengan adanya keajaiban, sebagai pengganti  dalil/nas.

Hisham bin al-Hakam menetapkan statemennya atas Imamah dari Imam Sadiq, dengan mengklaim adanya pengetahuan Imam mengenai hal yang tak terlihat (ghayb). Ia berkata kepada orang Suriah yang sedang berdebat dengan dia perihal Imamah di Muna, “Keajaiban adalah cara untuk mengidentifikasi Imam, dan menetapkan kebenaran dari klaimnya.” Ia sama sekali tidak pernah menyebutkan isu tentang adanya dalil (dari Nabi). Jika dalil (penunjukan dari Nabi) adalah suatu persyaratan yang esensial, tentu ahli ilmu agama Imamiah yang lebih awal sudah bergantung pada dalil tersebut, dan Hisham pasti telah mengemukakannya sebagai bukti atas Imamah dari Imam Sadiq, atau paling tidak menyinggung dalil (hadist dari Rasul) tersebut. Bagaimanapun Ia tidak mengatakan apapun perihal adanya dalil tersebut, selain bukti berupa keajaiban dan pengetahuan Imam pada hal-hal yang ghoib.

Tentang kutipan dari ulama yang dikutip di atas, terdapat suatu petunjuk terhadap bukti menyangkut sesuatu yang ajaib tersebut. Syekh Mufid telah berkata di dalam ‘Al-Thaqalan’ setelah mendiskusikan tentang kondisi ‘ismah’ seorang Imam: “Jika semua prinsip ini telah ditegakkan, maka menjadi penting bagi Imam untuk mengumumkan kepada orang-orang melalui suatu dalil tentang Imamahnya, dan melalui pengetahuan ajaib, karena tidak ada cara untuk mengetahui seseorang yang menguasai semua kualitas ini kecuali melalui suatu dalil yang benar dari Allah, yang Mahakuasa atau suatu keajaiban.”  (11) Mufid: Al-Thaqalan, hal.10.

Sayyid Murtada juga telah berkata di dalam ‘Al-Shafi’ setelah mendiskusikan tentang ‘ismah’: “Jika hal itu telah ditegakkan, maka menjadi perlu untuk mengumumkan Imamahnya, baik melalui suatu dalil atau suatu keajaiban.”

Syekh Tusi telah berkata di dalam ‘Talkhis Al-Shafi’: “Ketetapan tentang dalil mengenai Imam atau sesuatu yang bisa mewakilinya berupa keajaiban yang memastikan Imamahnya… Adalah perlu mempunyai suatu dalil bagi Imam secara perorangan atau penampakan suatu keajaiban pada tempatnya, di samping validitas statemen di atas.”

Allamah Hilli juga berkata di dalam ‘Nahj al-Haq’: “Jalan untuk penunjukan Imam ada dua: Baik melalui suatu dalil dari Allah Yang Diagungkan atau dari NabiNya (SAAW) atau dari seorang Imam, yang Imamahnya telah ditegakkan melalui suatu dalil, atau melalui penampakan keajaiban dari dia.”

Sebenarnya, teori Imamiah sebagian besarnya memerlukan pokok pembahasan tentang adanya keajaiban, pada saat proses menetapkan Imamah dari Ali bin Hussain Al-Sajjad, yang tidak mempunyai dalil atau wasiat dari bapaknya, karena Imam Hussain dibunuh di Karbala tanpa meninggalkan suatu dalil bagi Imamahnya. Imam Hussain hanya meninggalkan sebuah wasiat untuk saudarinya Zaynab, atau putrinya Fatimah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Baqir dan Sadiq. Sementara Muhammad bin Hanafiyyah mengklaim kepemilikan sebuah wasiat dari bapaknya -Imam Ali, dan ia memimpin Syi’ah berdasarkan wasiat tersebut setelah penarikan Imam Sajjad dari arena politik.

Teori Imamiah juga memerlukan penetapan Imamah dari Imam Sajjad, untuk memelihara Imamah pada anak-cucu Hussain saja. Jika tidak demikian, klaim Imamiah akan menjadi patah, dan argumentasi Kisaniah dan Hassaniah, yang secara langsung mereka memimpin Syi’ah, akan menjadi lebih kuat dari pada klaim Syi’ah Imamiah.

Mengenai hal ini, Syi’ah Imamiah biasa melaporkan konflik antar Imam Sajjad dan pamannya -Muhammad bin Hanafiyyah- yang menolak keberadaan semua wasiat atau dalil bagi pamannya, dan permintaan dari Sajjad agar mengikuti dia. Sajjad kemudian mencari dia bahwa keduanya harus pergi ke Al-Hajar al-Aswad (Batu hitam) untuk berbicara secara ajaib dan dengan bahasa Arab yang sangat fasih, sebagai penetapan Imamah dari Imam Sajjad yang menuntut kepada Ibn Hanafiyyah untuk tunduk kepada dia. Sebagaimana biasa, Syi’ah Imamiah terutama Abu Basir, biasa menyebutkan cerita yang ajaib tentang Imamah dari Muhammad Baqir, Jafar Sadiq dan Kadhim, demikian juga Imam-imam yang lain, agar menutupi tidak adanya dalil atas Imamah mereka, atau sebagai pendukung terhadap wasiat biasa, yang tidak menunjuk isu tentang Imamah dan Khalifah.

Keajaiban hampir menjadi bukti utama yang diperkenalkan oleh Syi’ah Imamiah untuk menetapkan Imamah sejumlah besar Imam yang ma’sum yang ditugaskan oleh Allah Yang Maha Tinggi.

4.4. MEMBATASI IMAMAH PADA ANAK-CUCU HUSSAIN

Setelah menetapkan Imamah dari Hassan dan Hussain, Syi’ah Imamiah berusaha untuk memecahkan isu pembatasan Imamah hanya pada keturunan Hussain. Hal ini tidak lebih karena mereka berdua adalah dari rumah tangga Nabi (AS), dan kedua-duanya adalah anak-anak Fatimah dan Ali, namun anak-anak Hassan juga telah mengklaim Imamah bagi diri mereka. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa Mahdi yang ditunggu akan datang dari antara mereka. Beberapa di antara mereka bahkan percaya bahwa anak-cucu Hassan lebih utama dari pada anak-cucu Hussain, khususnya terhadap Hadiths yang dipakai oleh Syi’ah Imamiah sebagai bukti untuk membatasi Imamah secara eksklusif pada anggota keluarga Nabi, seperti Hadith Thaqalain, yang ternyata memasukkan kedua keluarga tersebut (Hasan dan Husein). Jarudiyah mendasarkan doktrin mereka dengan Hadith tersebut tentang kemungkinan seorang Imam berasal dari anak-anak Hassan dan Hussain.

Suatu berita dari Khazzaz al-Qummi di dalam ‘Kifayah al-Athar’ dari Jabir bin Yazid al-Ja’fi menyatakan penolakan dari salah satu sekte Syi’ah awal terhadap gagasan yang membatasi Imamah pada anak-anak Hussain tersebut. Jabir berkata kepada Imam Baqir: “Sebagian orang berkata bahwa Allah telah menempatkan Imamah pada keturunan Hassan atau keturunan Hussain”. Ia menjawab: “Demi Allah, mereka telah berbohong, apakah mereka tidak mendengar bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah berfirman: “Dan ia menjadikannya sebuah perkataan yang kekal diantara keturunannya.” Apakah Ia kemudian menempatkannya hanya pada jalur keturunan Hussain?” (12) Khazzaz: Kifayah al-Athar, hal. 246; Saduq: Ikmal al-Din hal. 416.

Hisham bin Salim Al-Jawaliqi telah mengklaim bahwa ia sekali waktu bertanya kepada Imam Sadiq: “Bagaimana bisa terjadi sehingga Imamah menjadi hanya dari jalur keturunan Hussain dan tidak termasuk anak-cucu Hassan? Ia dijawab: “Allah berkehendak menjadikan tradisi Musa dan Harun berlanjut pada Hassan dan Hussain. Apakah kamu tidak pernah melihat bahwa yang terdahulu kedua-duanya adalah para Nabi, sama halnya (yang belakangan) kedua-duanya adalah bersahabat, di dalam Imamah.” (12)

Haran bin A’yun telah melaporkan dari Imam Baqir sebuat tradisi, di mana ia berkata, “Hassan kembali melakukan pembalasan dengan 40,000 pedang untuk perlindungan mereka, ketika Pemimpin orang beriman tersebut diserang, dan menyerahkan mereka kepada Mu’awiyah… dan Hussain pergi ke luar dan memberikan dirinya karena Allah, bersama-sama dengan 70 (tujuh puluh) manusia …Siapa yang lebih berhak terhadap darahnya, dibanding kami? (13) ‘Iyashi. Al-Tafsir, Vol. 2 hal. 291.

Ada laporan lain dari Abu Amr al-Zubairi yang mana ia berkata bahwa, ia bertanya kepada Imam Sadiq tentang rahasia di balik Imamah yang meninggalkan anak-anak Hassan dan membatasi pada anak-anak Hussain. Bagaimana menjadi seperti itu? Apa bukti untuk itu? Imam menjawab Abu Amr: “Ketika Hussain menghadapi keputusan Allah, adalah tidak diperbolehkan untuk mengembalikannya kepada putra dari saudaranya, ataupun menjadikan sebuah wasiat bagi mereka pada masalah itu, Allah berfirman: “Dan hubungan darah antara satu dengan yang lain mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat di dalam Keputusan Allah…” Maka anak-anak Husein adalah lebih dekat kepada dia dibanding anak-anak saudaranya. Ini bermakna mereka lebih berhak untuk jabatan Imamah. Ayat ini telah mengeluarkan anak-anak Hassan dari hak Imamah, sehingga Imamah menjadi untuk Hussain, melalui masukan ayat tersebut. Sehingga menjadi diantara mereka hingga hari kebangkitan.” (14) ‘Iyashi. Al-Tafsir, Vol. 2 hal. 72.

Justifikasi ini nampak tidak meyakinkan dan juga tidak kuat, karena Syi’ah melanjutkan pencarian rahasia di balik pembatasan Imamah pada keturunan Hussain, di samping kepemimpinan anak-cucu Hassan dari paham Syi’ah pada tempat yang berbeda. Saduq berkata: Muhammad bin Abi Yaqub al-Balkhi bertanya kepada Imam Rida: “Apa penyebabnya, sehingga Imamah hanya berada pada anak-cucu Hussain, tidak termasuk anak-cucuk Hassan? Ia menjawab al-Balkhi dengan berkata: “Karena Allah telah menjadikan Imamah pada keturunan Hussain, dan bukan keturunan Hassan, Allah tidak akan ditanyai tentang apa yang Ia lakukan.” (15) Saduq: Uyun Akhbar al-Rida, Vol.2 , hal. 82

Ini adalah bukti bahwa jawaban ini datang sebelum kristalisasi teori Imamiah pada abad-abad berikutnya, dan ketergantungan yang selanjutnya pada Hadith yang diduga dari Rasulullah (SAAW), yang menyebutkan nama-nama Imam berturut-turut satu demi satu. Walupun terdapat fakta bahwa Syekh Saduq telah melaporkan khabar ini, hal ini nampaknya hanyalah karena ia tidak percaya kisah ini yang diklaim telah datang dari Imam Rida, dan itulah mengapa ia mempunyai pandangan lain menyangkut hal tersebut.

Ia berkata di dalam Ikmal al-Din: “Ketahuilah bahwa ketika Nabi (SAAW) menasehati (muslimin) untuk berpegang teguh pada keluarga (Nabi), akal, pengetahuan umum dan sejarah hidup Nabi (SAAW), semua ini menegaskan bahwa yang ia maksudkan adalah  ulama-ulama di antara mereka, bukan yang bodoh, tetapi yang saleh di antara mereka dan bukan sebaliknya. Apa yang menjadi kewajiban bagi kita, adalah untuk mencari seseorang diantara mereka, yang mempunyai kombinasi pengetahuan keagamaan, dengan akal, kebaikan, kesabaran, kezuhudan, dan merdeka dalam semua urusan, kemudian kita mengikuti dia. Jika kualitas ini ditemukan pada dua orang, kita membedakan di antara mereka atas dasar bukti yang jelas; baik berupa sebuah dalil dari Imam sebelumnya, atau bukti berupa pengetahuannya, atau ajaran salah satu dari mereka akan dikenal, yang mendiskualifikasi dia untuk dijadikan ikutan, seperti pendapat Zaydiah tentang Ijtihad dan Qiyas (deduksi berdasarkan analogi) dalam masalah tugas-tugas yang wajib dan keputusan hukum. Akan dikenali dengan itu, bahwa mereka bukanlah Imam.”(16) Saduq: Ikmal al-Din hal.120.

4.5. WARISAN VERTIKAL

Syi’ah imamiah percaya bahwa Imamah diberikan hanya kepada keturunan Hussain dari anak tertua secara berterusan, sebagaimana mereka juga percaya pada ketidakmungkinan pemindahan Imamah kepada saudara laki-laki atau kemenakan laki laki atau paman atau saudara sepupu. (17) Ali bin Babawaih Saduq: Al-Imamah wa al-Tabsirah Min al-Hayrah, hal.177.

Mengenai hal ini, mereka bergantung pada ayat: “Dan hubungan darah antara satu dengan yang lain mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat di dalam Keputusan Allah” yang didasarkan pada ayat yang sama dengan mereka yang juga bergantung ayat ini bagi Imamah dari anak-cucu saudaranya, Hassan atau bagi siapapun dari saudara laki-laki atau saudara sepupunya atau orang lain. Imamah adalah hak anak-cucu Hussain saja dan tidak yang lain. Imamah tidak akan pernah meninggalkan mereka kepada selain dari mereka hingga hari (pengadilan). (18) Mufid: Al-Rasail al-Ashr, disarikan dari pernyataannya terhadap Zaydiah, hal.157.

Kulayni demikian juga Saduq, Mufid dan Tusi, telah melaporkan tradisi dari Imam Sadiq, yang menunjuk hukum tentang warisan vertikal dan kelanjutan Imamiah hingga hari kebangkitan. Ia berkata: “Imamah tidak akan berada pada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Tetapi akan berada pada keturunan dan keturunan dari keturunan, dan seperti itu hingga hari kebangkitan.” (19) Kulayni: Al- Kafi, Vol.1 hal. 286; Mufid: Al-Irshad, hal. 289; Saduq: Ikmal al-Din, hal. 414; Tusi: Al-Ghaybah’ hal.118.

4.6. KEBERLANJUTAN IMAMAH HINGGA HARI KEBANGKITAN

Dengan penolakan terhadap teori Shura (konsultasi) – oleh sebagian ahli filsafat penganut teori Imamah Ilahiah sebagai cara memilih Imam, maka perlu untuk memperluas teori ini (tentang Imamah) sejak kematian Nabi (SAAW) hingga hari Kebangkitan. Hal ini tidak akan terbatas pada suatu periode waktu yang spesifik. Karenanya kita mendapatkan Hisham bin Hakam dalam debatnya dengan Dirar berkata: “Adalah perlu bahwa pada setiap periode harus ada orang yang mempunyai atribut ‘ismah’ hingga hari (pengadilan)”. (20) Saduq: Ilal al-Shara i.e. hal. 203, Bab 155.

Abu Basir telah melaporkan dari Abu Jafar (Al-Baqir), bahwa ia berkata selagi menafsirkan ayat berikut: “Wahai orang-orang yang beriman, patuhi Allah dan patuhi Pesuruh-Nya dan mereka yang mempunyai otoritas terhadap kamu…” mereka adalah Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari Kiamat.” (21) Saduq: Ikmal al-Din hal. 222.

Ishaq bin Ghalib telah melaporkan dari Abu Abdullah (Sadiq) di dalam khotbahnya di mana ia menyebutkan kualitas Imam dan atribut mereka: “Allah telah memilih mereka bagi ciptaanNya dari anak-cucu Hussain, dari keturunan dari Imam (sebelumnya), Ia memilih mereka dan dianugrahi dengan Imamah…. Sedemikian rupa sehingga kapan saja seorang Imam meninggal, Ia menugaskan bagi ciptaanNya dari keturunannya seorang Imam.” (22) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1 hal. 204.

Syekh Saduq juga telah berkata di dalam pengenalan hasil kerjanya ‘Ikmal al-Din’: “Tujuan pengutipan ucapan Nabi (SAAW): “Keduanya (Kitab dan Keluarga) tidak akan pernah berpisah hingga mereka datang bersama-sama ke telaga (milik Nabi)” adalah untuk menetapkan bukti Allah hingga hari kebangkitan, karena statemennya tentang tidak berpisahnya keduanya hingga mereka datang ke telaga, serupa dengan pernyatan Beliau: ‘Ibarat mereka seperti layaknya bintang-bintang, kapan saja seorang lenyap, yang lain muncul hingga hari kebangkitan”, ini adalah suatu penegasan tentang statemen kami bahwa bumi tidak pernah tanpa bukti  Allah (Hujjah) bagi ciptaanNya.” (23) Saduq: Ikmal al-Din hal. 204.

Juga dilaporkan dari Rida bahwa ia berkata: “Yang pertama dari mereka yang belajar pelajaran tentang tanda dari Allah (al-Mutawassimin) adalah Rasulullah, kemudian Pemimpin orang beriman (Ali) setelah dia, diikuti dengan Hassan, kemudian Hussain dan kemudian Imam dari anak-anak Hussain hingga hari kebangkitan.” (24) Saduq: Ikmal al-Din hal. 245.

Juga telah dilaporkan dari dia, “Imam adalah dari anak-anak Ali dan Fatimah hingga ke penghujung waktu” (25) Saduq: Uyun al-Akhbar, vol.2 , hal. 131; Ataridi: Musnad al-Rida, hal. 108.

Imamah (kepemimpinan) yang dipunyai Rasulullah (SAAW), di mana Nabi telah menyerahkannya kepada Ali, dengan perintah Allah, adalah dalam suatu pola yang dinobatkan oleh Allah. Maka Imamah berada pada keturunannya yang terpilih, yang dianugerahi pengetahuan dan iman …. Sehingga Imamah akan berada pada anak-cucu Ali secara eksklusif, hingga hari penghakiman.” (26) Saduq: Uyun al-Akhbar vol. 1 hal. 261.

Berdasarkan informasi di atas, tidak ada daftar nama Imam berikutnya yang telah ditentukan sebelumnya. Hal itu dibiarkan pada pergantian waktu untuk menentukan. Terdapat sejumlah Hadiths yang memperlihatkan bahwa Imam tidak mengetahui Imam yang menggantikan Imam sebelumnya, tetapi mereka hanya mengetahui Imam pada saat terakhir dari hidup mereka. Mengenai ini Saffar melaporkan dari Imam Sadiq bahwa ia sekali waktu berkata: “Imam yang sebelumnya tidak akan mati hingga Allah memperkenalkan kepadanya kepada siapa ia akan memberikan wasiat (tentang Imamah)…” Dan Imam pengganti akan mengetahui Imamahnya pada saat-saat terakhir dari kehidupan Imam sebelumnya.” (27) Saffar: Basair al-Darajat, hal. 473-474 dan 477-478

Mengingat tidak adanya sebuah daftar nama Imam yang telah ditentukan sebelumnya, maka Syi’ah imamiah mempertimbangkan isu untuk mengidentifikasi Imam sebagai hal yang penting sekali. Saffar berkata: “Harath bin Mughirah sekali waktu bertanya kepada Imam Sadiq: “Dengan apa kami mengetahui pemilik urusan (Imam)?” Ia menjawab, “Dengan kedamaian, kerendahan hati, pengetahuan dan wasiat.” (28) Saffar: Basair al-Darajat, vol-1 hal. 489; Ibn Babawaih: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 226.

Kulayni berkata: “Ahmad bin Muhammad bin Abi Nasr sekali waktu bertanya kepada Imam Rida, “Jika Imam mati, dengan apa kami mengetahui orang yang menggantikan dia? Ia menjawab: “Imam mempunyai tanda, diantaranya adalah: anak sulung, yang memiliki wasiat, dan pergi di depan orang-orang dan bertanya, yang kepadanya mempunyai anu dan anu yang diberikan sebagai wasiat? Akan dikatakan kepada anu dan anu. Dan senjata bagi kami seperti perahu bagi anak-anak Israel, Imamah akan berada di mana saja senjata berada. (29) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1 hal. 284; Saduq:  Al-Khisal, hal.116.

Jadi Syi’ah imamiah biasa bertanya kepada Imam sebelumnya tentang identitas Imam pengganti dan biasa meminta dengan tegas tentang hal itu. Berkali-kali, Imam menolak mereka mengetahui hal itu. (30) Saffar: Basair al-Darajat hal. 236 & 239.

4.7. APA YANG SEBAIKNYA SYI’AH LAKUKAN KETIKA TIDAK TAHU IMAMNYA (PADA SAAT ITU)?

Terdapat tradisi yang dapat dikategorikan mengumumkan kemungkinan Syi’ah tidak mengetahui Imam tersebut, dan mengarahkan mereka harus berbuat apa dalam keadaan sedemikian.

Kulayni melaporkan bahwa seorang laki-laki sekali waktu bertanya kepada Abu Abdullah  dengan berkata: “Jika terjadi bahwa aku tidak menemukan Imam untuk diikuti, apa yang seharusnya aku lakukan?“ Ia menjawab, “Cintailah orang yang kamu cintai dan bencilah orang yang kamu benci, hingga Allah menyebabkan dia muncul.” (31) Kulayni, Al-Kafi Vol.1, hal. 342.

Demikian juga Saduq telah melaporkan dari Imam Sadiq bahwa ia berkata: “Apa yang akan kamu lakukan bilamana kamu tinggal untuk suatu periode waktu dari hidupmu, dengan tidak mengetahui Imammu?”  Dikatakan: “Jika itu terjadi apa yang harus kami lakukan?“ Ia menjawab, “Berpeganglah kepada orang pertama hingga ia muncul.” (32) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 348, 350, 351.

Kulayni, Saduq dan Mufid, semuanya telah melaporkan sebuah tradisi dari Isa bin Abdullah Al-Alawi dari Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad (AS), ia berkata: “Aku berkata kepada dia: “Semoga aku menjadi tebusanmu. Jika kamu meninggal -semoga Allah tidak memperlihatkan kepadaku hari tersebut- Siapa yang seharusnya aku ikuti sebagai Imam)? Ia menunjuk Musa. Aku kemudian berkata: “Jika Musa meninggal, siapa yang seharusnya aku ikuti? Ia berkata: ‘Putranya’. Aku berkata, “Jika putranya meninggal dan meninggalkan seorang kakak dan seorang putra yang masih kecil, siapa yang seharusnya aku ikuti ?” Ia menjawab “Ikuti putranya, dan dengan cara seperti ini, selamanya.” Aku berkata kepada dia: “Jika aku tidak mengetahui dia ataupun tempatnya, apa yang seharusnya aku lakukan? “ Ia berkata: “Kamu sebaiknya berkata: Wahai Allah aku mengikuti siapapun yang ada dari buktiMu (Imam) dari anak-anak Imam yang telah pergi, itu akan mencukupi kamu.” (33) Kulayni: Al-Kafi vol. 1 hal. 86; Saduq: Ikmal al-Din hal. 350; Mufid: Al- Irshad, hal. 289.

Terdapat satu kisah yang lain dari Zurrarah bin A’yun, Ya’qub bin Shu’aib dan Abd al-A’la, bahwa suatu ketika mereka bertanya kepada Imam Sadiq: “Jika sesuatu terjadi pada Imam, apa yang sebaiknya orang-orang lakukan?” Ia menjawab: “Mereka harus sebagaimana Allah telah berfirman: “Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS, 9:122). Aku berkata, “Bagaimana kondisi mereka.” Ia menjawab, “Mereka dimaafkan.” Aku kemudian berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu, bagaimana kondisi mereka yang menunggu hingga kembalinya yang terpelajar? Ia berkata, “Semoga Allah berbelas-kasih kepada kamu, apa kamu tidak mennyadari bahwa terdapat rentang waktu 250 tahun antara Muhammad dan Isa (AS), sebagian orang meninggal selagi mengakui agama Isa (AS) dan menantikan agama Muhammad, dengan demikian Allah memberi kepada mereka pahala ganda.” Aku berkata, “Kami telah mulai berangkat pada suatu perjalanan dan sebagian dari orang-orang kami mati di perjalanan.” Ia menjawab, “Dan barang siapa yang meninggalkan rumahnya sebagai seorang yang hijrah kepada Allah dan Pesuruh Nya dan kematian menjemput dia, pahalanya sungguh pasti diwajibkan oleh Allah…” Aku kemudian berkata, “Kami kemudian mencapai suatu kota dan kami menemukan pemilik urusan (Imam) telah menutup pintunya sendiri dan telah menurunkan tirainya…” Ia kemudian berkata: “Urusan ini hanya melalui suatu bukti yang jelas, yaitu ketika kamu memasuki suatu kota, kamu harus berkata: “Kepada siapa anu dan anu memberikan wasiatnya (tentang Imamah)? Mereka akan menjawab: “Kepada anu and anu.” (34) Iyashi: Al-Tafsir, vol. 2 hal. 117-118: Ali bin Babawih: Al- Imamah wa al- Tabsirah min al-Hayrah, hal. 226; Saduq: Ikmal al-Din hal. 75.

4.8. SIFAT RAHASIA DARI TEORI IMAMIAH

Kita telah melihat pada bab sebelumnya bahwa teori Imamah Ilahiah yang berdasar pada ‘ismah’ dan  dalil, tidaklah tersebar luas dan tidak dikenal di tengah-tengah Syi’ah dan anggota rumah tangga Nabi itu sendiri, pada abad pertama Hijrah. Tidak terdapat tanda tentang itu di Madinah. Hal itu, pada kenyataannya dimulai secara bawah tanah dari Kufah pada permulaan abad ke-2 Hijrah. Ulama yang memulai hal itu dengan menyembunyikan ajaran Nabi dengan doktrin ‘kepura-puraan (taqiyyah) dan ‘tidak mengungkapkan’ (Kitman)… Abu Jafar al-Ahwal nama dari Mumin al-Taq, seorang ulama terkenal, dan dianggap sebagai seorang pelopor pilar teori tersebut, mengakui bahwa doktrin itu terjaga secara rahasia, dan bahkan Zayd bin Ali tidak menyadari akan adanya teori itu. Teori itu mengherankan dan juga mengejutkan Zayd, karena Imam Sajjad menginformasikan ‘Mumin al-Taq’ tentang teori itu, tetapi tidak menginformasikan kepadanya (teori itu). (35) Kulayni: Al-Kafi vol. 1 hal. 174; Al-Tibrisi: Al-Ihtijaj, Vol. 2 hal. 141.

Disamping klaim Mumin al-Taq, tentang teori tersebut yang diatributkan dan dikaitkan kepada anggota keluarga Nabi, namun statemennya mengungkapkan adanya sifat rahasia yang melingkupi teori tersebut pada saat kelahirannya di Kufah, kepada suatu tingkat di mana Zayd bin Ali bin Hussain tidak menyadari hal itu, selagi ia berada di Madinah dan di pangkuan bapaknya, dan walalupun ia menikmati kealiman, pengetahuan, kezuhudan dan semangat Jihad, bahkan pada tingkat menimbulkan kekagumannya ketika ia mendengar statemen Mumin al-Taq.

Kita telah melihat pada bab sebelumnya, pengingkaran yang jelas dari Imam Sadiq terhadap statemen bahwa Imamah dipaksakan oleh Allah, seperti yang dilaporkan oleh Kulayni di dalam ‘Al-Kafi. Karenanya, Syi’ah Imamiah biasa menyembunyikan dan menutupi statemen mereka, yang mereka atributkan kepada para Imam secara terselimuti kerahasiaan, taqiyyah dan penyembunyian. Mereka mengklaim bahwa para Imam tidak mengungkapkan pendapat ini kepada masyarakat umum. Mereka hanya menyebutkan hal ini secara sendirian, dan mereka menasehatkan bahwa hal itu harus dijaga dalam bentuk penyembunyian. Mereka menganggap tradisi ini sulit, dan tidak bisa dilahirkan kecuali oleh orang beriman yang benar dan dapat dipercaya. Dan bahwa hukuman bagi seseorang yang menyebarkannya kepada masyarakat umum adalah kematian dengan pedang.” (36) Kulayni: Raudah al-Kafi, hal.10.

Muhammad bin Hassan Saffar telah melaporkan di dalam bukunya, ‘Basa’ir al-Darajat’, bahwa sejumlah kisah/ hadist menjadi yang tersebar diantara Syi’ah Imamiah dan ekstrimis, tentang perlunya perahasiaan dan penyembunyian ajaran itu, dan bahaya dari menyatakan dan mengumumkannya (rahasia tersebut).

Ia menulis banyak bab mengenai urusan itu, dan ia menceriterakan dari Imam Baqir sebuah statemen kepada sahabatnya: “Jika lidahmu mempunyai pita (yang diikatkan pada lidahmu), Aku pasti telah menceritakan kepada setiap orang apa yang ia punyai (tentang kebaikan atau kejahatan)” (37) Saffar: Basair al Darajat hal. 422.

Ia (Saffar) juga melaporkan dari Jabir bin Yazid Al-Ja’fari dari Abu Abdullah yang berkata: “Urusan kami adalah rahasia di dalam rahasia, dan suatu rahasia tersembunyi di dalam suatu rahasia tersembunyi, suatu rahasia yang harus tetap menjadi suatu rahasia, suatu rahasia di atas suatu rahasia, dan suatu rahasia yang terselimuti oleh suatu rahasia.” (38) Saffar: Basair al Darajat hal. 28.

Juga telah dilaporkan dari Imam Sadiq perkataannya: “Bapakku adalah seorang bapak yang sangat unggul. Ia biasa berkata: “Jika aku dapat menjumpai tiga orang, yang kepadanya aku akan menganugerahkan pengetahuan sebagai sebuah kepercayaan, dan mereka mempunyai kualifikasi untuk itu dan layak menerima hal itu. Aku akan menyebutkan apa kebutuhan yang tidak perlu diteliti mengenai masalah yang hal legal atau tidak legal, dan apa yang akan terjadi padanya hingga hari Kebangkitan…. Hadist kami sangat sulit, tak seorangpun percaya mengenai hal itu, selamatkanlah hati yang telah diuji dalam keimanan.” (39) Saffar: Basair al Darajat hal. 478.

Ia juga berkata: “Jika bukan karena khawatir, hal itu akan menjangkau sebagian orang selain dari kamu, karena sebagian darinya telah mencapai mereka, aku telah memberi kamu sebuah Kitab, sedemikian sehingga kamu tidak akan memerlukan seseorang hingga penjaga/ wali itu (qaim) muncul.” Dan ia juga berkata: “Aku tidak menemukan seorangpun untuk diajak bicara …. Jika tidak karena itu, aku akan mendiskusikan sesuatu dengan seseorang di antara kamu, orang yang tidak akan meninggalkan Madinah, kecuali kedua matanya akan dibawa (ia akan dibunuh), untuk itu aku akan berkata: “Aku tidak akan mengatakan hal itu.”(40) Saffar: Basair al Darajat hal. 479.

Saffar juga melaporkan sebuah kisah dari Abu Basir, yang mengatakan di dalamnya, bahwa ia pergi kepada Imam Abu Abdullah untuk bertanya kepadanya tentang pengetahuan. Ia berkata: ‘aku memulai dengan mengatakan: “Semoga aku menjadi tebusanmu, aku bertanya tentang sebuah isu, tidak ada seorangpun di sini yang mendengar statemenku.”? Ia berkata bahwa Abu Abdullah mengangkat tabir antara dirinya dan rumah lainnya; ia melihat ke dalamnya dan kemudian berkata, “Tanyalah apa yang kamu ingin.” Hal ini memperlihatkan betapa seriusnya kerahasiaan dari tradisi tersebut. (41) Saffar: Basair al Darajat hal. 152.

Teori Imamah pada awalnya berdasar pada pengetahuan dari Imam mengenai sesuatu yang tak terlihat (Al-Ghayb), sebagai suatu cara untuk menetapkan hubungan antara Imam dan Allah. Kita telah melihat bahwa pada perdebatan antara Hisham bin Hakam dan Orang Suriah bahwa Hisham mengklaim bahwa Imam Sadiq memberitahu dia semua yang terjadi pada perjalanannya dari Syria ke Muna. Tetapi Imam Sadiq telah selalu menolak mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu yang ghoib. Ia berkata dengan istilah yang sangat jelas: “Alangkah mengherankan, karena sebagian orang mengklaim bahwa kami mengetahui yang ghoib. Tak seorangpun mengetahui ‘al-Ghayb’ kecuali Allah. Aku telah berniat untuk memukul pembantu rumah tanggaku anu dan anu, tetapi dia meninggalkan aku, aku tidak mengetahui sekarang di mana rumah yang mana dia. Kisah ini disampaikan oleh Sadir, Abu Basir Maisir, Yahya al-Bazzaz dan Dawud al-Ruqiy, yang berkata bahwa Imam Sadiq datang kepada mereka sambil marah, dan kemudian ia menolak mengetahui tentang yang ghoib tersebut. Sadir telah menambahkan pada kisah ini bahwa, ia pergi kepada Imam yang berada dalam rombongan Abu Basir dan Maisir, setelah ia telah meninggalkan tempat duduknya dan telah pergi ke dalam rumahnya. Mereka berkata kepada dia dengan diam-diam, “Semoga kami menjadi tebusanmu, kami mendengar Anda berkata anu dan anu terhadap pembantu rumah tanggamu, dan kami mengetahui bahwa kamu mempunyai pengetahuan yang luas.” Ia berkata kepada mereka bahwa, ia mempunyai pengetahuan dari sebuah Kitab. Bahwa pengetahuan orang ini dalam hubungan dengan pengetahuan Imam adalah seperti tetesan air hujan dibandingkan dengan samudra yang luas.” (42) Saffar: Basair al Darajat hal. 213.

Kita dapat juga membedakan kerahasiaan atau penyembunyian (taqiyyah) pada kisah yang lain yang disampaikan oleh Saif al-Tammar, di mana ia berkata: “Kami suatu hari bersama dengan Abu Abdullah dalam sebuah kelompok Syi’ah dari ‘al-Hijr’, dan ia berkata: “Adakah mata-mata diantara kita?” Kami kemudian menengok ke kanan dan ke kiri tetapi tidak melihat seorangpun. Kami kemudian berkata kepada dia. “Tidak ada mata-mata diantara kita.” Kemudian ia melanjutkan: “Demi Tuhan Ka’bah dan Tuhan bagi Rumah tersebut (tiga kali), jika aku ada di antara Musa dan Khidr, aku pasti telah menceritakan kepada mereka aku lebih banyak mengetahui dibanding mereka, dan pasti telah menceritakan kepada mereka apa yang  tidak ada dalam kepemilikan mereka. Hal ini karena Musa dan Khidr diberi pengetahuan tersebut tentang apa yang telah terjadi, tetapi tidak diberi pengetahuan tentang apa yang akan terjadi hingga hari penghakiman. Sedangkan Rasulullah diberi pengetahuan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi hingga hari Kebangkitan, dan kami menerima warisan hal itu dari Rasulullah sebagai sebuah warisan. (43) Saffar: Basair al Darajat hal.129.

Meskipun terdapat inkonsistensi yang jelas pada tradisi ini, yang mengatributkan pengetahuan pada sesuatu yang tak terlihat kepada Imam Sadiq, dan perkataanya pada saat yang sama bahwa ia pada awalnya bertanya mengenai kehadiran mata-mata di sekitar mereka, di samping semua ini, hal itu membawa di dalamnya arti dari kerahasiaan yang bertentangan dengan apa yang biasa Imam umumkan.

Syi’ah Imamiah memasukkan tindakan semacam ini sebagai ‘Taqiyyah’, sebagai cara menafsirkan peristiwa yang bertentangan dan inkonsistensi diantara statemen Imam dari keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) dan perilaku terbuka mereka sehari-hari, yang didasarkan pada Shura dan pengetahuan yang alamiah, dan antara klaim Imamah Ilahiah, berdasar pada sebuah dalil, penunjukan dan peramalan pengetahuan yang ghoib, yang mana Syi’ah Imamiah secara diam-diam mengatributkan kepada anggota keluarga Nabi. Karena anggota keluarga Nabi dengan penuh semangat menolak statemen seperti itu yang diatributkan kepada mereka, maka Syi’ah imamiah dan sekte esoteris (Batini) biasanya menafsirkan statemen mereka, dan berpegang pada klaim mereka yang bertentangan dengan pengingkaran ini dengan alasan Taqiyyah.’

Telah diketahui dengan baik bahwa Imam Sadiq mengutuk salah satu dari ekstrimis, yang mengklaim adanya alam Ilahiah bagi dia. Imam memisahkan dirinya dari ektrimis tersebut. Nama orang itu adalah Abu al-Khattab, pemimpin kelompok Khattabiyyah. Ketika Syi’ah menceritakan kepada Imam tentang posisi Imam sesuai kepercayaannya, ia menafsirkan statemen tersebut dengan mengatakan bahwa ia hanya mengacu kepada orang lain di Basrah yang bernama Qatadah al-Basri dengan julukan Abu al-Khattab. Ketika Imam mengungkapkan siapa orang itu, ia menjelaskan sambil berkata: “Demi Allah, yang aku maksudkan tidak lain adalah Muhammad bin Miqlas bin Abi Zaynab, penderita kusta pelayan Banu Asad”, Abu al- Khattab berkata: “Sungguh Abu Abdullah bermaksud mengutuk kami secara terbuka, mengutuk lawan kami, secara rahasia.” Ia menafsirkan statemen Allah: “Perihal kapal tersebut, itu kepunyaan orang-orang lemah/ miskin yang bekerja di laut. Maka saya ingin membuat suatu kerusakan cacat di dalamnya, karena ada seorang raja di belakang mereka yang menangkap setiap kapal dengan kekerasan.” Kahf, yang artinya kapal mewakili Abu al-Khattab dan orang-orang yang lemah/ miskin yang menjadi sahabatnya, dan raja di belakang mereka berarti juga Isa bin Musa Abbasiah.” (44) Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 55.

Karena hal di ataslah, maka menjadi wajib untuk memelihara ‘Taqiyyah’ sebagai sebuah fondasi untuk keberlanjutan teori Imamiah dan untuk menghubungkannya dengan anggota keluarga Nabi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: