BAB III. LAHIRNYA PEMIKIRAN IMAMAH

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB III

LAHIRNYA PEMIKIRAN IMAMAH

Setelah perkembangan Kissaniah yang terjadi di kalangan Syi’ah pada ujung abad pertama Hijrah, yang mengutamakan perhatiannya pada gagasan wasiat dari Nabi yang mulia kepada Imam Ali, yang ia pada gilirannya, memindahkan kepada Hassan dan Hussain pada saat kematiannya; kemudian berpindah kepada Muhammad bin Hanafiyyah, yang ia kemudian menganugerahkannya kepada putranya Abu Hashim Abdullah, perkembangan tersebut selanjutnya mendorong terjadinya faksionisasi pergerakan Syi’ah ke dalam beberapa sekte pada ujung abad pertama Hijrah, ketika berbagai kelompok meng-klaim (mempunyai) suatu wasiat dari Abu Hashim. Hal ini dengan cepat mendorong terjadinya perselisihan internal yang parah di kalangan Ahlul Bait Nabi, menjadi terpecah-belah ke dalam Abbasiah, Alawiyah, Talibiyah, Fatimiyah, Hassaniyah, Hussainiyah, Zaydiyah dan Ja’fariyah.

Setelah perkembangan di atas dan apa yang terjadi pada sekelompok kecil Syi’ah tersebut, perkembangan lainnya terjadi di tengah-tengah mereka pada permulaan abad ke-2 Hijrah, dengan adanya pembatasan Imamah pada Ahlul Bait Hussain, dan menetapkan, dari antara mereka putra tertua (sulung) dari Imam terakhir, dan mengklaim adanya ‘ismah’ (tidak pernah berbuat salah) dan pemilihan para Imam oleh Allah.

3.1. TEORI POLITIK UMAYAH

Bisa jadi klaim adanya ‘ismah’ pada seorang Imam dari Ahlul Bait Nabi merupakan suatu reaksi dari sekelompok Syi’ah, terhadap penetapan para penguasa Umayyah terhadap anak-anak mereka sebagai penggantinya setelah mereka wafat, dengan dalih demi kebaikan umum (maslahah) Ummah, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan ketika ia menetapkan putranya Yazid, sebagai Khalifah setelah dia wafat. Mereka juga meng-klaim adanya ‘ismah’ (tidak pernah berbuat salah) pada diri mereka, demikian juga adanya kekuasaan mutlak, termasuk permintaan mereka kepada muslim agar taat secara mutlak dan tanpa syarat, sekalipun pada diri mereka terdapat tindakan yang durhaka kepada Allah Yang Diagungkan. (1) Tarikh al-Tabari, Vol. 6, hal. 170; Al-Imamah wa al-Siyasah, vol.1, hal. 151.

Telah diketahui umum bahwa bani Umayyah telah mengubah sistem Syura Islam ke dalam suatu sistem politik turun-temurun, berdasar teori politik mereka tentang doktrin ‘Jabr’ (paksaan) dan wasiat ilahiyah, dengan berkata: “Allah telah memilih mereka bagi Khilafah, dan telah memberi mereka kekuasaaan, dan mereka berkuasa dengan kehendak (qudrah) Allah, dan mereka bertindak sejalan dengan kehendak-Nya”. Mereka memperkuat kekuasaan mereka dengan adanya semacam kesucian. Mereka mengagungkan urusan Khilafah dan Khalifah, dan melarang dia dari api neraka… menjelaskan tentang dirinya dengan atribut dan sebutan religius yang mulia… karena mereka (khalifah) mewakili kehendak Allah. (2) Hussain Atwan: Al-Shura Fi al-Asr al-Umawi hal. 30; lihat juga Ansab al-Ashraf, Al-Bidayah wa al-Nihayah fi al Tarikh, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, Al-Iqd al-Farid, Al-Kamil fi al-Tarikh, dan Tarikh al-Khulafa dari Al-Suyuti.

Doktrin ini menjadi begitu jelas dengan adanya pernyataan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ketika ia memasuki Kufah, setelah perjanjiannya dengan Imam Hassan: “Sungguh aku memerangi kamu, sedemikian sehingga aku menjadi seorang penguasa atas kamu, dan Allah telah menganugerahkan hal itu kepadaku, meskipun kamu membenci hal itu. (3) Al-Bidayah wa al-Nihayah, vol. 8 hal.131

Dan pernyataannya kepada seorang utusan dari Iraq yang datang kepadanya di Syria: “Bumi adalah kepunyaan Allah, aku seorang Khalifah, (wakil) dari Allah, apapun yang aku ambil adalah untukku, dan apapun yang aku tinggalkan pada orang-orang, adalah suatu kebaikan dariku… ini adalah kekuasaan yang diberikan kepada kami oleh Allah. (4) Ansab al-Ashraf, vol.4 hal.117.

Ziyad bin Abih, gubernur Mu’awiyah di Iraq, di dalam khotbahnya yang terkenal (Al-Batra) berkata kepada masyarakat Basrah “Wahai orang-orang, kami sudah menjadi pemimpinmu yang mengusir kejahatan dari kamu. Kami memerintah kamu dengan kekuasaan dari Allah yang diberikan kepada kami, dan kami melindungi kamu dari kejahatan atas pertolongan Allah yang kemurahanNya diberikan kepada kami. Kami mempunyai pada kamu (tugas) ketaatan mutlak pada apa yang kami cintai, dan kamu mempunyai pada kami (sebagai hak), perlakuan yang wajar dan adil, pada apa yang dibebankan kepada kami. Jadikanlah kemurahan hati dan keadilan kami sebagai hakmu dengan menasehati kami secara benar. (5) Jahiz: Al-Bayan wa al-Tabyin, Vol. 2 hal. 94; Tarikh al- Rusul wa al-Muluk, vol. 5; Al-Iqd al-Farid vol.4 hal.112; Al-Kamil, Vol. 3 hal. 449; dan komentar Ibn Abi al-Hadid terhadap Nahj al-Balaghah, Vol.16 hal. 202.

Dahhak bin Qays al-Fihri berkata, ketika masyarakat Iraq menentang ajakan Mu’awiyah untuk memberikan perjanjian pada menetapan putranya Yazid sebagai Khalifah (setelah dia wafat) pada tahun 46 AH:  “Apa yang Hussain atau anak-anaknya telah lakukan adalah dengan aturan dari Allah, yang mana Ia telah menjadikan Mu’awiyah wakilnya di atas bumi-Nya? (6) Ibn Qutaybah, Al- Imamah wa al-Siyasah, vol.1 hal.300.

Yazid bin Mu’awiyah berkata kepada bapaknya pada sambutan meriah pemakamannya, “Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seoranag hamba Allah, digembirakan olehNya dengan Khilafah, menganugerahkan kepada dia dan menegakkan (aturan)nya…Allah telah meletakkan pada bahu kami apa yang diberikan kepada dia” (7) Al-Imamah wa al-Siyasah, vol.1 hal. 204.

Rabah bin Zanba’ al-Judhami berkata kepada masyarakat Madinah ketika mereka enggan membay’at kepada Yazid: “Kami tidak memanggil kamu kepada Lakhm atau Judham atau Kalb, tetapi kami sedang memanggil kamu kepada Quraish dan kepada orang yang Allah telah memberikan urusan ini secara khusus yaitu Yazid bin Mu’awiyah. (8) Al-Bayan wa al-Tabyin, Vol.1 hal. 300.

Baladhuri di dalam ‘Ansab al-Ashraf’ berkata: Ketika Abdulmalik bin Marwan ingin memeriksa ke Syria, ia memberikan khotbah kepada orang-orang Kufah, dan menunjukkan kepada mereka status yang tinggi dari penguasa, dan berkata kepada mereka “Ia adalah bayang-bayang Allah di atas bumi“ Ia juga memberikan motivasi kepada mereka perihal ketaatan (kepada penguasa) dan tinggal bersama masyarakat. (9) Baladhuri: Ansab al- Ashraf, Vol. 5 hal. 354.

Hajjaj bin Yusuf juga telah berkata kepada masyarakat Iraq, “Pemimpin orang beriman (Amirul Mukminin) Abdul Malik bin Marwan diberi jabatan dengan otoritas di atas daratannya oleh Allah, dan dia dianugerahi sebagai seorang Imam atas para hambaNya.” (10) Ibn Qutaybah, Al- Imamah wa al-Siyasah, Vol. 2 hal. 32.

Hajjaj adalah orang yang pertama menggunakan kata al-Ma’sum (sempurna/ tidak berbuat salah/ terjaga dari berbuat salah) dalam menggambarkan Abdul Malik bin Marwan, dan hal itu ada di dalam suratnya, di mana ia berkata: ‘Karena hamba Allah, Abdul Malik, Pemimpin orang beriman (Amr Al-Mu’minin) dan Khalifah (wakil) dari Tuhan bagi dunia, didukung dengan otoritas, yang sempurna dari berbuat salah dalam perbuatan atau kata-kata (ma’sum), melalui perlindungan Allah, yang diperlukan oleh mereka yang menguasai urusanNya.” (11). Al-Iqd al-Farid, Vol. 5 hal. 25.

Marwan bin Muhammad telah berkata di dalam suatu surat yang berisi ucapan selamat kepada Walid bin Yazid, pada tahun 125 A.H: “Semoga Allah memberkati Pemimpin orang beriman terhadap apa yang telah datang kepadanya otoritas atas para hambaNya dan pewaris bumi-Nya. Pemimpin orang beriman mempunyai suatu tempat khusus pada pandangan Allah, yang memperkuat dia dengan Negeri terbaik, dan ia melakukan apa yang Allah memperlihatkan kepada dia sebagai kebenaran, dan melakukan secara independen apa yang ia terima tentangnya. Pemerintahannya telah dinyatakan di dalam kitab yang lebih awal, dengan waktu yang telah ditetapkan. Allah telah mengasihi dia dengan hal itu, dari semua makhlukNya, setelah melihat kondisi mereka. Maka Dia meletakkan tanggung jawab hal tersebut pada dia dengan semua kesukarannya dan menjadikan dia yang bertanggung-jawab atas semua urusan.” (12) Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, Vol.7 hal. 216.

Sejarawan menyebutkan sebuah surat panjang untuk Walid bin Yazid tentang bay’ah (pembayaran kesetiaan) kepada kedua putranya sebagai putra mahkota. Ia mengarang di dalamnya teori bani Umayyah mengenai Khalifah. Disebutkan di dalamnya: “Allah telah menetapkan Kekhalifahan untuk dipindah kuasakan dari salah satu ke yang lainnya dengan prinsip kenabian, ketika Ia mengambil roh dari NabiNya (SAAW), sehingga khalifah muncul seorang demi seorang, yang Allah telah memberikannya sebagai warisan kepada mereka tentang urusan para NabiNya (damai atas mereka), dan menjadikan mereka menggantikan para Nabi mengenai hal tersebut. Tak seorangpun menentang mereka, kecuali Allah akan membinasakan dia. Tidak ada yang meninggalkan komunitas mereka kecuali Allah menghancurkan dia. Tidak ada yang meremehkan otoritas mereka dan mempertanyaan takdir Allah terhadap mereka, kecuali Allah memberi mereka kekuasaan atas dia dan memaksakannya pada dia, dan menjadikan dia sebagai contoh dan nasihat bagi orang lain. Demikian juga Allah melakukan bagi mereka yang sudah meninggalkan ketaatan pada apa yang ia telah diperintahkan untuk berpegang kepadanya; untuk lebih menyukainya dari yang lain-lain. Yaitu melalui Khalifah di mana Allah melindungi mereka di atas bumi, dan menjadikan mereka bergantung padanya… seseorang yang menerima sebagian dari hal itu, adalah seorang sahabat Allah, taat kepadaNya dan pada jalan kebenaranNya. Ia akan menerima kebaikan dunia ini dan dunia yang berikutnya. Seseorang yang meninggalkan dan membenci dan menentang Allah mengenai hal ini, ia akan kehilangan bagiannya, menentang Tuhannya dan juga kehilangan dunia ini dan dunia yang berikutnya. Ia akan menjadi mereka yang terkalahkan dengan kesengsaraan dan keadaan yang buruk… Ketaatan adalah fondasi bagi urusan ini dan puncaknya, kendalinya, dasarnya, pemeliharaannya dan dukungannya, setelah kata-kata Ikhlas (La ilah illa Al-Lah)- ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah’, yang mana Allah telah membedakan para hambaNya, dikarenakan meninggalkan ketaatan dan kerugiannya dan berpaling dari hal itu, dan mengubah hal itu. Oleh karena inilah Allah membinasakan seseorang yang tersesat dan suka menentang, melewati batas, dan meninggalkan bimbingan Ilahi tentang hak para sepupu dan semua jalan kesalehan dan lain-lain, maka berpeganglah pada ketaatan kepada Allah berkaitan dengan apa saja yang datang kepada kamu, atau apapun juga yang kamu capai dan apa saja kejadian yang pernah menimpa kamu. Kamu harus mencari keridhoan Allah melalui hal itu, karena kamu sudah melihat bagaimana Allah memberikan status kepada orang-orang yang taat, bagaimana Ia telah mengangkat posisi mereka, alangkah jelasnya Dia menjadikan bukti-bukti bagi mereka, berlaku dan bagaimana Dia menghapuskan kebohongan dari mereka yang menentang dan membenci mereka, yang ingin memadamkan cahaya Allah di dalam kepemilikan mereka”.

Ia kemudian membahas sistem putra mahkota (Wilayah al-Ahd) dan khilafah melalui jalur turun-temurun sambil berkata: “Urusan perjanjian ini menjadi bagian dari kesempurnaan Islam, dan pemenuhan terhadap apa yang Allah telah anugerahkan pada orang-orangNya dalam kaitan dengan kebaikan yang agung. Ini juga merupakan bagian dari apa yang Allah akan memberikan pahala yang besar bagi siapa saja yang melakukan hal itu dan mengucapkannya dengan lidahnya, dan merupakan bagian dari apa yang Allah akan sebabkan mempunyai efek yang besar pada kaum muslimin … Pujian kepada Allah, Rajamu, yang baik kepada kamu, dan satu-satunya yang telah memandu kamu ke dalam urusan ini (putra mahkota), yang mana Allah telah menjadikan suatu sumber kedamaian dan ketenangan sebagai tempat kamu bergantung. Pemimpin orang beriman, sejak kenaikan tahtanya telah memberi arti paling penting dan memperhatian isu ini, karena pengetahuannya tentang status urusan ini dengan Muslimin, dan apa yang Allah telah perlihatkan kepada mereka urusan yang mereka irikan, satu ke arah yang lain, dan dari apa yang ia berikan kepada mereka apa yang Dia telah takdirkan bagi mereka, dan apa yang Dia pilih bagi dia dan mereka, dan apa yang Allah putuskan bagi dia dan mereka mengenai hal itu yang sahabatnya orang yang memerintah (memutuskan). Pemimpin orang beriman menemukan hal itu baik untuk mengambil suatu perjanjian dari kamu yang serupa dengan perjanjian yang kamu sedang penuhi sekarang, dengan istilah yang serupa. Ia mengetahui kedudukan dari urusan itu, yang Allah telah menjadikan suatu sumber imunitas dari kesalahan, suatu kebajikan yang sukses dan suatu kehidupan, pemimpin orang beriman telah menjadikan Al-Hakam bin amir Al-Muminin dan Uthman bin amir Al-Muminin, Khalifah setelah dia. Keduanya adalah mereka yang Pemimpin orang beriman mengharapan Allah telah menciptakan untuk tujuan ini dan telah membentuk dan menyempurnakan mereka dengan semua kebaikan. Mereka yang kepadanya ia akan menugaskan untuk menggantikan dia karena pemahaman baik mereka (tentang urusan), melakukan kebenaran agama, mempunyai integritas dan pengetahuan yang dalam tentang kesejahteraan masyarakat — maka bayarlah kesetiaan kepada Al-Hakam bin amir Al-Mu’minin atas nama Allah, dan berkatNya dan kepada saudaranya setelah dia (wafat) dengan ketaatan total. Ini adalah isu yang kamu cari untuk menunda dan kamu dalam ketergesa-gesaan untuk melihat kamu memuji Allah untuk menjadikan hal itu berlalu dan mentakdirkannya bagi kamu— Kami mencari dan memohon kepada Allah yang tidak ada tuhan kecuali Dia… yang Ia memberkati Pemimpin orang beriman dan kamu pada apa yang ia telah putuskan pada lidahnya tentang urusan itu, dan ia menjadikan apa yang datang darinya, sebuah jalan kemakmuran dan kebahagiaan dan kompetisi (ke arah yang baik). Hal itu terletak padaNya. Tidak ada yang mempunyai kuasa di atasnya kecuali Dia. (13) Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, Vol.7 , hal. 221.

Oleh karena itu, yang dijadikan dasar oleh bani Umayyah dalam memanggil muslimin untuk mematuhi Kekhalifahan mereka dalam pengertian secara mutlak, adalah pernyataan Allah Yang Agung “Patuhi Allah dan patuhi Rasul dan mereka yang mempunyai otoritas di antara kamu”, dan menginterpretasikan ’ketaatan’ dalam pengertian ’ketaatan mutlak’ dalam kebaikan maupun dalam keburukan.

3.2. REAKSI SYIAH

Ini adalah apa yang menyebabkan timbulnya suatu reaksi dari Syi’ah, yang membentuk oposisi yang utama kepada bani Umayyah tersebut. Mereka pertama kali menyatakan adanya hak Ahlul Bait Nabi dalam Kekhalifahan dan pemerintahan, kemudian beberapa di antara mereka menunjukkan adanya penetapan Allah bagi mereka, namun kelompok lain juga mengumumkan adanya ’ismah’ bagi mereka. Semua konsep inilah yang mengkristal pada awal abad ke-2 Hijrah, digabungkan dengan adanya faksionalisasi seperti suatu angin topan dalam pergerakan Syi’ah, dan pergumulan internal memperebutkan kepemimpinan antar sayap-sayap yang berbeda dari anggota Ahlul Bait Nabi. Semua ini mendorong tersusunnya gagasan dari Imamah Ilahiah bagi Ahlul Bait Nabi, berdasar pada prinsip dari (‘ismah’, dalil Ilahiah dan penetapan Ilahiah), khususnya menurut salah satu dari hal itu.

Daftar dari mereka yang mendukung prinsip ini adalah sebagai berikut:

  1. Seorang ahli ilmu agama yang terkenal: Abu Ja’far al-Ahwal Muhammad Bin Ali Nu’man, nama panggilannya ‘Mumin al-Taq’, yang mengarang sejumlah buku tentang topik ini yakni, Kitab al-Imamah, Kitab al-Ma’rifah, dan Kitab al-Radd ala Ahl-Mu’tazilah fi Imamah al-Mafdul.
  2. Ali bin Isma’Il bin Shu’aib bin Maitham Tammar Abu al-Hassan al-Maithami, yang mengenai dia Tusi berkata di dalam ‘Al-Fihrist’“ ia adalah ahli ilmu agama yang pertama yang mendiskusikan doktrin Imamah dan ia menulis sebuah buku tentang hal ini, (al-Imamah). Ia juga menulis ‘Al-Istihqaq’ dan ‘Al-Kamil’ mengenai isu yang sama.
  3. Hisham bin Salim Al-Jawaliqi
  4. Qays Al-Masir
  5. Hamran bin A’yun
  6. Abu Basir, Laith bin Al-Bukhturi al-Muradi al-Asdi
  7. Hisham bin al-Hakam al-Kindi (wafat 279 AH) yang menulis ‘Al-Imamah’, Al-Radd ala Hisham bin Salim al-Jawaliqi, Al-Radd ala Shaitan al-Taq, Kitab al-Tadbir fi al-Imamah, Imamah al-Mafdul, Al-Wasiyyah wa al-Radd ala Munkiriha, Kitab Ikhtilaf al-Nas fi al-Imamah dan ‘Al Majalis fi al-Imamah’. Syekh Tusi berkata mengenai dia di dalam Fihrist: ia adalah salah satu dari mereka yang memulai diskusi secara logis tentang Imamah dan menajamkan sekolah melalui cara yang rasional. Ia adalah seorang ahli (mengenai pelajaran) ilmu agama yang trampil. Allama Hilli berkata tentang dia di dalam ‘Al-Khulasah’-nya. Ia adalah orang pertama yang memulai diskusi tentang (dalil dan wasiat Imamah) dan ia menajamkan sekolah melalui cara yang rasional.
  8. Muhammad bin Khalil yang dikenal sebagai al-Sakkak, sahabat dari Hisham bin al-Hakam adalah juga seorang ahli ilmu agama. Ia berbeda dari Hisham dalam banyak hal, kecuali dalam prinsip Imamah. Ia mempunyai sejumlah buku; beberapa di antaranya adalah Kitab al-Marifah, Kitab al-Istita’ah, Kitab al-Imamah, Kitab al-Radd ala man Aba Wujub al-Imamah bi al-Nass.

Mengenai ajaran ini terdapat pendapat bahwa, “Imamah adalah suatu kewajiban dari Allah. Imamah adalah di antara anggota Ahlul Bait Nabi, dan hal itu turun temurun dari anak-cucu Hussain hingga hari penghakiman. Hal itu ditetapkan melalui suatu dalil (nass) atau wasiat atau keajaiban (mukjizat) dari melihat yang ghoib.

Zayd bin Ali terkejut dengan teori ini, ketika ia pergi ke Kufah dalam mempersiapkan pemberontakannya melawan penguasa bani Umayyah, Hisham bin Al-Hakam pada tahun 122 AH. Yaitu ketika Mumin al-Taq diundang untuk bergabung dengan gerakannya, tetapi ia menolak hal itu karena Zayd bukanlah seorang Imam yang dipilih oleh Allah.

Mu’min al-Taq berkata: “Zayd bin Ali mengirim kepada saya (utusan) sewaktu dalam persembunyian. Maka saya pergi menghadap dia, dan ia (Zayd) berkata kepada saya: “Wahai Abu Ja’far, apa yang kamu katakan jika seorang tamu datang kepada kamu…. Akankah kamu pergi ke luar bersama dia? Mu’min berkata: aku berkata kepada dia (Zayd), “Jika ia bapakmu atau saudaramu, aku akan pergi keluar dengannya” Ia (Mu’min) berkata, “Ia (Zayd) kemudian berkata kepada saya”, Aku (Zayd) akan pergi dan memerangi orang-orang itu, ayo pergi bersama saya.’ Mu’min berkata, saya berkata: Tidak, Aku tidak akan melakukan hal itu, semoga aku menjadi tebusanmu. Mu’min berkata, ‘Ia (Zayd) kemudian berkata kepada saya, “Apakah kamu menyukai jiwamu lebih dari sembilan? Mu’min berkata ‘Aku berkata kepada dia“ Hanya satu jiwa, Jika Allah mempunyai suatu tanda dan bukti (tentang Imam) di atas bumi, maka orang yang meninggalkan kamu terselamatkan, dan siapa saja yang pergi ke luar bersama kamu (dalam pemberontakan) akan dihukum. Jika Allah tidak mempunyai tanda (tentang Imam), maka orang yang meninggalkan kamu dan orang yang mendukung kamu, adalah sama”. Zayd kemudian berkata kepada saya: ”Wahai Abu Ja’far, saya biasa duduk dengan bapakku pada sebuah makan malam bersama, ia biasa memberi saya sepotong yang gemuk, dan ia membuat sepotong yang panas didinginkan untuk saya sebagai suatu tanda rasa kasihnya pada saya. Tetapi ia menunjukkan rasa kasihnya pada saya dari api neraka, sebagaimana ia mengajarkan kamu agama, tetapi ia tidak mengajari saya. Kemudian saya (Mu’min) berkata kepadanya, “Semoga saya menjadi tebusanmu, tentang rasa kasihnya pada Anda dari panas api neraka, ia tidak menceritakan kepada kamu. (karena) Ia takut kamu tidak akan menerimanya dan kamu akan masuk ke neraka, dan ia menceritakan kepada saya, jika kamu menerima, kamu terselamatkan dan jika saya tidak menerima, ia tidak keberatan. Jika saya akan ditempatkan di dalam neraka, maka sama halnya Ya’qub, yang menyembunyikan mimpi (tentang Yusuf) dari anak-anaknya (yang lain).

Kashi melaporkan di dalam “Rijal”-nya suatu kisah yang serupa dengan di atas tetapi ia berkata, “Dialog tersebut terjadi di depan Imam Sadiq, dan Zayd bin Ali yang pertama kali bertanya kepada Mumin al-Taq sebuah pertanyaan: Wahai Muhammad, telah sampai kepada saya bahwa kamu meng-klaim bahwa di antara keluarga Muhammad (SAAW) ada seorang Imam, yang ketaatan kepadanya adalah suatu kewajiban? Ia menjawab dengan tanggapan yang sama tersebut. Ia kemudian berkata kepada Zayd, “Ayahmu tidak ingin menceritakan kepada kamu, agar kamu tidak menyangsikan, dan akan tidak ada perantara (syafaat) bagi kamu.” (14) Hilli: Al-Khulasah, hal. 93 dan hal. 178; Mufid: Al-Irshad, hal. 280; lihat juga Rijal al-Kashi; Al-Najashi dan Al-Fihrist daari Tusi; ‘Ilal al-Shara’i dari Saduq hal. 203.

Barangkali dialog dan debat yang paling awal dan paling kuat secara filosofis yang meningkatkan tentang perlunya ‘ismah’ dari Imam, adalah yang dilakukan oleh Hisham bin al-Hakam, yang dilaporkan oleh Saduq dan Mufid, yaitu sebagai berikut: Mufid berkata di dalam al-Irshad:

Hisham bin Al-Hakam menyelenggarakan suatu debat dengan seorang lelaki dari Syria, di hadapan Imam Sadiq di suatu tepi pegunungan, di sisi Haram. Orang Suriah tersebut berkata kepada Hisham:

“Wahai anak muda, tanyai saya tentang Imamah dari orang ini” yaitu Abu Abdullah– Hisham menjadi marah hingga gemetar, kemudian ia berkata kepada orang Syria itu: “Ceritakan pada saya… Apakah Tuhanmu lebih peduli dengan ciptaanNya dibanding diri mereka atau bukan? Orang Suriah tersebut menjawab, “Tuhanku lebih peduli dengan ciptaanNya.“ Hisham kemudian berkata “Apa yang telah Ia lakukan kepada mereka di dalam agama mereka? Orang tersebut menjawab. “Ia memerintahkan mereka (untuk mematuhiNya) dan menetapkan bukti pada apa yang Ia telah perintahkan dan Ia menghapuskan dengan itu alasan mereka”. Hisham kemudian berkata kepada dia, “Apa bukti yang Ia tetapkan bagi mereka? Orang Suriah tersebut berkata: “Ia adalah Rasulullah”. Kemudian Hisham berkata, “Kemudian setelah Rasulullah siapa?“ Ia menjawab, “Kitab Allah dan Sunnah (tradisi dari Nabi Allah (SAAW)).” Hisham kemudian berkata, “Apakah Kitab dan Sunnah membantu kita hari ini, jika kita berbeda pada beberapa isu, yang perbedaan kita akan diakhiri, dan kita akan setuju di antara kita sendiri? Orang Suriah tersebut berkata, “Ya”. Kemudian Hisham berkata kepada dia, “Kenapa kita berbeda, kami dan kamu, dan kamu datang kepada kami dari Syria, melawan kami, dan kamu meng-klaim bahwa pendapat pribadi adalah jalan untuk menetapkan isu religius, dan kamu mengakui bahwa pendapat tidak akan mendorong kearah satu pernyataan yang diterima oleh pihak lawan.” Orang Suriah tersebut menjadi diam, seperti seseorang yang sedang berpikir.

Kemudian Abu Abdullah berkata kepada dia, “Mengapa kamu tidak berkata? Ia menjawab: “Jika saya berkata ‘kita tidak berbeda’, maka aku sedang sombong, dan jika saya berkata, ‘Kitab dan Sunnah akan memunculkan perbedaan kita’, maka aku telah kalah, karena keduanya dapat ditafsirkan dengan cara yang berbeda. Tetapi saya juga harus bertanya kepada dia.” Abu Abdullah berkata, “Tanyai dia, kamu akan menemukan dia menyelesaikan tugas tersebut.

Orang Suriah tersebut kemudian berkata kepada Hisham: “Siapakah yang peduli dengan ciptaan, Tuhan mereka atau diri mereka?” Hisham menjawab: “Tuhan mereka lebih peduli”. Kemudian Orang Suriah tersebut berkata, “Apakah Ia telah menetapkan bagi mereka, orang yang akan mengatasi perbedaan mereka dan menerangkan kesalahpahaman mereka, dan menjelaskan kepada mereka apa yang benar dan yang salah? Ia menjawab, ‘Ya’, kemudian Orang Suriah tersebut berkata: “Siapakah itu?

Hisham kemudian menjawab: “Pada permulaan shari’ah, adalah Rasulullah, dan setelah Nabi, adalah orang lain”. Orang Suriah tersebut berkata, “Siapakah itu, selain dari Nabi yang akan berdiri pada tempatnya dengan suatu bukti yang serupa?” Hisham berkata: “Pada waktu kita atau sebelumnya?” Ia menjawab, “Tidak, pada waktu kita.”

Hisham berkata: “Lelaki yang duduk ini, (yaitu Abu Abdullah) yang kepadanya orang-orang bepergian (untuk menemui dia). Dan ia menceritakan kepada kita berita dari Surga, sebagai warisan/ pusaka dari nenek moyangnya.”

Orang Suriah tersebut berkata; “Bagaimana saya dapat mengetahui hal itu?” Hisham menjawab: “Tanyai dia apa yang kamu inginkan”. Orang Suriah tersebut kemudian berkata, “Aku mohon maaf tentang diriku, maka tanyalah aku”. Abu Abdullah kemudian berkata kepada dia: “Aku akan ceritakan kepada kamu perjalananmu dan tempat yang kamu lalui– Kamu berangkat pada hari anu-anu — dan rutemu adalah anu dan anu, dan anu dan anu kamu lewati. Orang Suriah tersebut menerima apa saja yang diuraikan bagi dia urusannya sambil berkata. “Demi Allah, kamu telah berbicara kebenaran.” (16) Mufid: Al-Irshad. hal. 279, 278.

Ada kisah yang lain yang disebutkan oleh Saduq dalam suatu debat yang panjang yang terjadi pada pada suatu hari antara Hisham, Dirar dan Abdullah bin Yazid al-Ibadi di dalam ruang sidang seorang wazir bani Abbasiah, Yahya bin Khalid al-Barmaki.

Dirar berkata kepada Hisham, “Bagaimana Imamah ditetapkan dan dikonfirmasikan? Hisham menjawab: “Sebagaimana Allah menetapkan Kenabian.” Dirar kemudian berkata: “Maka ia adalah seorang Nabi? Kemudian Hisham berkata: “Tidak, sebab kenabian ditetapkan oleh kehendak langit, dan Imamah ditetapkan oleh manusia di bumi. Sehingga pengesahan kenabian adalah oleh para malaikat, dan pengesahan Imam adalah oleh Nabi (SAAW). Keduanya ditetapkan oleh kehendak Allah”.

Dirar kemudian berkata: Bukti apa yang kamu punyai untuk itu?

Hisham menjawab: Perlunya tentang isu ini …adalah karena hanya terdapat tiga cara mengenai hal ini. Baik berupa kemungkinan bahwa Allah telah melepaskan (tanggung jawab) (taklif) dari ciptaan sepeninggal Rasulullah (SAAW), bahwa Dia tidak lagi memerintah mereka atau melarang mereka dari melakukan apapun, dan mereka sudah menjadi seperti binatang buas liar dan binatang lainnya, yang tidak bertanggung jawab. Atau sepeninggal Nabi (SAAW), orang-orang itu sudah memperoleh pengetahuan serupa dengan Nabi, pada suatu tingkat bahwa seseorang tidak membutuhkan yang lain, sedemikian sehingga mereka semua akan mencukupi dirinya sendiri, dan mencapai kebenaran tanpa perbedaan di antara mereka. Hanya pilihan ketiga yang tersisa, yaitu bahwa mereka dalam kondisi memerlukan yang lain, sebab harus ada pengetahuan yang ditetapkan oleh Nabi bagi mereka, dengan suatu cara sehingga, ia tidak lupa, ataupun berbuat salah, ataupun menyimpang. Ia akan menjadi sempurna dan terlindungi dari dosa, bebas dari kesalahan, seseorang yang semua orang butuh (kepadanya), tetapi tidak membutuhkan dari orang lain.

Dirar berkata: “Apa bukti untuk itu?

Hisham menjawab “Delapan bukti, empat adalah keistimewaan dari garis keturunannya dan empat adalah keistimewaan pribadinya. Perihal empat keistimewaan dari garis keturunannya, ia akan berasal dari suatu ras yang dikenal dan suatu suku yang terkenal dan seorang dari anggota Ahlul Bait yang dikenal dengan baik, dan bahwa Nabi menunjuk dia. Belum pernah ada suatu ras pada ciptaan ini yang sama terkenalnya seperti Arab, yang darinya ada seorang Nabi (SAAW). Jika diperbolehkan bahwa bukti dari Allah (Imam) bagi ciptaanNya dapat berasal dari ras yang lain yang bukan Arab, dan itu akan telah terjadi bahwa apa yang Allah inginkan menjadi sumber kehendak yang baik – adalah suatu sumber kecurangan. Ini tidak akan sesuai dengan keadilan dan kebijaksanaan Allah, yang Ia bebankan pada umat manusia suatu tugas yang wajib yang tidak ada. Karena hal ini adalah tidak diperbolehkan, maka tidak diperbolehkan itu (Imam) berasal dari ras yang lainnya, karena berkaitan dengan hubungannya dengan Nabi. Juga tidak diperbolehkan bahwa ia berasal dari ras ini, jika ia tidak berasal dari suku ini, yang terkait dengan hubungan dekatnya kepada Nabi (SAAW), yaitu Quraish. Karena itu adalah tidak diperbolehkan bahwa ia akan berasal dari ras ini, kecuali bahwa ia berasal dari suku ini, dengan cara yang sama, tidak akan diperbolehkan bahwa ia (Imam) akan berasal dari suku ini, kecuali ia berasal dari Ahlul Bait, karena hubungan dekatnya dengan Nabi (SAAW). Dan karena anggota Ahlul Bait ini, adalah banyak, dan telah bertengkar mengenai isu Imamah, karena posisi mulianya, di mana masing-masing dari mereka meng-klaimnya untuk dirinya, maka adalah tidak diperbolehkan kecuali Nabi sendiri menunjuk orangnya, dan dengan namanya dan keturunannya, sedemikian sehingga yang lainnya akan dikecualikan dari meng-klaim hal itu.

Perihal empat keistimewaan pribadi (Imam), mereka adalah, ia adalah orang yang paling banyak mengetahui tentang keputusan hukum dan ajaran Allah, sedemikian sehingga tidak ada sesuatupun yang kecil atau besar menjadi gelap baginya; dan bahwa ia harus bebas dari semua dosa (ma’sum); dan ia harus orang yang paling berani, dan yang paling dermawan dari antara mereka.

Abdullah bin Yazid al-Ibadi kemudian berkata: “Kenapa kamu berkata bahwa ia (Imam) akan menjadi orang yang paling berpengetahuan dari antara semua manusia?”

Hisham berkata: “Hal itu karena jika ia tidak mengenal semua keputusan hukum, ajaran dan hukum Allah, kita tidak dijamin aman bahwa ia tidak akan mengubah keputusan hukum Allah, sedemikian sehingga seseorang yang melakukan suatu pelanggaran tidak akan dihukum mengikutinya, jika hal itu melibatkan memotong tangannya, ia tidak akan melaksanakan hal itu: sehingga ia tidak menegakkan batasan Allah pada apa yang Dia telah perintahkan, menempuh cara berlari, yang lebih merupakan sumber kecurangan dari pada suatu perubahan seperti yang Allah kehendaki.

Kemudian ia berkata,“ Bagaimana anda berkata bahwa ia bebas dari dosa?”

Ia menjawab: “Ini adalah karena jika ia tidak bebas dari dosa, ia akan jatuh pada kesalahan, sehingga kita tidak bisa dijamin aman bahwa ia akan merahasiakan apa yang telah ia lakukan, atau merahasiakan sahabatnya atau relasinya: dan Allah tidak akan menetapkan orang ini sebagai buktiNya pada ciptaanNya.”

Ia kemudian bertanya lebih lanjut: ”Kenapa anda berkata bahwa ia (Imam) adalah yang orang paling berani?” Hisham menjawab: “Ini adalah karena kelompok muslim akan memohon pertolongan kepada dia untuk berperang, Allah berfirman: “Dan barang siapa yang memutar punggungnya dari mereka pada hari seperti ini – kecuali merupakan suatu strategi dalam peperangan, atau mundur dari suatu pasukan miliknya, ia tentu saja telah menarik dirinya dalam kemurkaan Allah…. Maka jika ia tidak berani, ia akan menarik dirinya dalam kemurkaan Allah. Adalah tidak diperbolehkan bahwa seseorang yang menarik kemurkaan Allah akan menjadi bukti Allah atas ciptaanNya.”

Abdullah bertanya kepada dia lebih lanjut: ”Mengapa anda berkata bahwa ia adalah orang yang paling dermawan? Ia menjawab: “Sebab ia adalah penjaga Harta benda muslimin. Karena jika ia tidak dermawan, jiwanya akan sangat membutuhkan bagi keluasan mereka dan ia akan mengambilnya, dan hal itu akan merupakan pelanggaran atas kepercayaan, dan tidak diperbolehkan bahwa Allah akan menghadirkan seorang penipu sebagai buktiNya atas ciptaanNya.(17) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 362-368; Al-Majlisi: Bihar al-Anwar, vol.11, hal. 291.

Syekh Saduq melaporkan di dalam ‘Amali’nya, sebuah pidato Hisham bin al-Hakam perihal filosofi ‘ismah’, dari Muhammad bin Abi Umair yang berkata: “Aku belum pernah mendengar maupun pernah memperoleh keuntungan dari Hisham bin Hakam selama persahabatanku yang lama dengan dia, lebih baik dari pada pidato ini perihal keistimewaan ‘ismah’ pada Imam. Suatu hari aku bertanya kepada dia tentang Imam. Adalah ia ma’sum?” Ia menjawab “ya.” Kemudian aku berkata kepada dia. “Apa yang merupakan sifat alami ‘ismah’ pada dia dan dengan apa hal itu dapat diketahui? Ia menjawab:

“Semua dosa hanya mempunyai (empat) penyebab tidak lebih. Yaitu akibat dari ketamakan atau kecemburuan atau kemarahan atau nafsu. Semua ini tidak bisa dihubungkan dengan dia. Adalah tidak diperbolehkan bahwa ia akan menjadi tamak terhadap dunia ini, karena hal itu di bawah kendalinya, karena ia adalah penjaga harta benda muslimin, kemudian mengapa ia mesti tamak terhadap segala sesuatu? Juga tidak diperbolehkan bahwa ia akan menjadi cemburu pada seseorang di atas dia, dan tidak ada yang di atas dia, kemudian bagaimana mungkin ia dapat cemburu terhadap seseorang yang di bawah dia? Juga tidak diperbolehkan bahwa ia akan menjadi marah pada segala sesuatu berkaitan dengan dunia ini, kecuali jika untuk tujuan Allah Yang Diagungkan. Allah telah menjadikan dia diberi kewajiban yang dibebankan pada dia untuk menetapkan batas-batas Allah (hukuman), dan kesalahan orang yang salah tidak akan menghalangi dia dari hal itu, rasa kasihan juga tidak akan menjadikan dia menjauhkan diri dari hukuman yang ditentukan oleh Allah, sampai ia menegakkan hukuman itu. Tidak diperbolehkan bagi dia mengikuti nafsu dan cenderung menyukai dunia ini hingga hari kiamat, karena Allah telah menjadikan dia mencintai alam baka sebagaimana Ia telah menjadikan dia untuk mencintai dunia ini. Pernahkah kamu melihat seseorang yang meninggalkan apa yang lebih baik dari sesuatu yang baik, atau sebuah pakaian yang lembut dan halus dari pakaian yang kasar atau sebuah kebahagiaan yang tiada akhir dari kebahagiaan yang  sementara ? (18) Saduq: Amali, hal. 363-363, Ilal al-Shara’i, hal. 204.

3.3. IMAMAH ILAHIAH

Teori Imamah mengatakan: Imamah adalah suatu urusan Ilahi dan penunjukan seorang Imam baru dibuat melalui intervensi dari Allah, dan tidak ada ruang bagi keinginan (pribadi) dari Imam sebelumnya dalam hal itu.

Amr bin Ash’ath berkata bahwa ia mendengar Imam Sadiq berkata: “Tampaknya kamu berpikir urusan ini adalah di tangan salah satu dari kami, Ia (Allah) menempatkannya di mana Ia kehendaki! Tidak, demi Allah, hal ini merupakan suatu perjanjian dari Rasulullah yang menyebutkan namanya seorang kemudian yang lainnya, hingga menjangkau pemiliknya.” (19) Ali bin Babawaih: Al-Imamiah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 165.

Isma’il bin Ammar berkata bahwa ia suatu ketika bertanya Abu al-Hassan yang pertama (Kadhim), tentang Imamah: “Apakah hal itu sebuah kewajiban dari Allah bahwa Imam harus memberikan sebuah wasiat dan sebuah perjanjian (karena seseorang yang datang selepas dia) sebelum ia meninggalkan dunia ini?” Ia menjawab “Ya” Kemudian ia berkata, Apakah hal itu suatu kewajiban dari Allah?“ Ia menjawab: “Ya”. (20) Ali bin Babawaih: Al-Imamiah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 165.

Yahya bin Malik berkata bahwa ia bertanya kepada Imam Rida tentang firman Allah Yang Diagungkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,..” (QS,4:58). Ia menjawab: Imam tersebut mengembalikannya kepada Imam.” Kemudian ia berkata: “Wahai Yahya, demi Allah hal ini tidak dari dia (Imam), tetapi suatu urusan dari Allah”. (21) Ali bin Babawaih: Al-Imamiah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 166.

Hal ini adalah abstraksi yang paling penting dalam ilmu agama yang telah sampai kepada kita dari generasi Syi’ah Imamiah yang pertama, yang memulai ceramah secara keagamaan tentang Imamah, ‘ismah’, dalil Iilahiah dan wasiat, sebagaimana yang disebutkan oleh ulama yang mempelajari kepribadian ke-12 Imam Syi’ah, seperti: al-Kashi, Najashi, Saduq, Mufid, Tusi dan Hilli. Ahli ilmu agama yang kemudian, seperti al-Fadl bin Shadhan bin Khalil al-Azdi al-Nisapuri (yang meninggal pada pertengahan abad ke-3 Hijrah), ia menulis sejumlah buku yakni, ‘Masa’Il fi al-Imamah’, ‘Kitab al-Imamah al-Kabir’ ‘ Al-Khisal fi al-Imamah’, ‘Fadl al-Muminin’ dan ‘Kitab al-Qa’im’, dan Al-Rawandi pengarang ’Al-Imamah’ dan Thubait bin Muhammad Abu Muhammad Askari, sahabat Abu Isa Al-Warraq, ia adalah orang yang al-Hilli menjelaskan tentang dia, ‘seorang ahli ilmu agama yang cerdas, dan bahwa buku yang dikaitkan dengan Abu Isa al-Warraq ditulis oleh dia,’ Fadl bin Abd Rahman, Abu Sahl Ismail bin Ali Nukhbati (wafat 290 AH), Abu Ja’far Abdul Rahman bin Qubbah (ia meninggal pada pertengahan abad ke-4 Hijrah) penulis ’Al-Insaf wa al-Intisaf fi Al-Imamah’, Sharif Murtada (wafat 441 AH), penulis ’Kitab al-Shafi fi al Imamah’ dan karya lainnya.

3.4. FILOSOFI ‘ISMAH’

Filosofi ‘ismah’ (pada Imam) didasarkan pada konsep ketaatan mutlak terhadap otoritas dalam semua hal, dan hal itu tidak secara relatif, seperti menyangkal kepada apa yang Imam katakan atau penolakan untuk mematuhi dia dalam penentangan (terhadap Allah), dan dalam hal keburukan jika ia memerintahkan hal itu; atau mengoreksi dia ketika penentangannya (fisq) kepada Allah nampak nyata; dan ketika ia menjauhi dari jalan (petunjuk). Ini adalah konsep yang sama di mana para penguasa bani Umayyah sedang sibuk menyebarkannya, sebagaimana mereka sedang meminta muslimin untuk mematuhi mereka dalam terminologi secara mutlak, baik dalam kebaikan atau kejahatan. Dan hal ini adalah apa yang mendorong ahli filsafat dan ahli ilmu agama Syi’ah menjadi tidak konsisten dalam kaitannya dengan perlunya mematuhi Allah, yang memerintahkan orang yang beriman mematuhi mereka yang punya otoritas, seperti yang disebutakn pada ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, patuhi Allah dan patuhi Rasul dan mereka yang punya otoritas di antara kamu…” dan perlunya ketaatan secara mutlak pada para penguasa, sekalipun itu melibatkan keburukan dan sesuatu yang dilarang.

Oleh karena itu, ahli ilmu agama Imamiah ini menyatakan perlunya setiap Imam dijadikan sempurna oleh Allah, sedemikian rupa sehingga ia tidak akan memerintahkan sesuatu yang mendasari penentangan kepada Allah, dan juga tidak menjadikan muslimin bertentangan dalam diri mereka dalam mematuhi dia dalam hal yang melibatkan penentangan kepada Allah, atau menentang Imam dalam kasus itu, disamping perintah Allah agar mematuhi dia.

Syekh Tusi berkata di dalam ‘Talkhis al-Shafi’: “Apa yang menandai perlunya Imam menjadi sempurna (ma’sum) adalah apa yang telah ditetapkan bahwa dirinya adalah merupakan contoh yang diusahakan untuk disamai. Jangan kamu lihat bahwa ia telah dipanggil Imam karena hal itu? Imam adalah seseorang yang diusahakan untuk disamai, karena inilah, dikatakan bahwa Imam di dalam hal ibadah harus dicontoh dan diikuti… Ada juga sebuah kesepakatan di antara muslimin bahwa Imam untuk diikuti dalam semua aspek Shari’ah, sekalipun jika mereka berbeda di dalam cara menetapkan Imam. Jika telah ditetapkan bahwa ia untuk diikuti dalam semua aspek Shari’ah, maka ia perlu sempurna (ma’sum). Karena jika ia tidak sempurna, kita tidak bisa dijamin aman dalam beberapa tindakannya, di mana ia mungkin memerintahkan kita untuk membunuh seseorang; atau untuk mengambil kekayaan seseorang, dan yang semacamnya, yang merupakan kejahatan. Adalah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjetujui dia, dengan berusaha untuk menjadi seperti dia. Adalah tidak diperbolehkan bahwa yang Bijaksana (Allah) akan membuatnya wajib bagi kita untuk mencontoh kejahatan. Jika hal itu tidak diperbolehkan bagiNya untuk melakukan kejahatan, hal itu membuktikan bahwa seseorang yang ketaatan kepadanya telah dibebankan, adalah bebas dari kontrak kejahatan, tak seorangpun seperti itu kecuali yang ma’sum.”

Syekh Tusi menolak konsep ketaatan secara relatif sambil berkata: “Jika hal ini dikatakan: Kenapa anda menyangkal dengan mengatakan bahwa mencontoh Imam adalah wajib dalam hal yang kita ketahui baik, namun dalam ihal yang kita ketahui jahat, atau kita meragukan posisi kebenarannya, dalam kasus seperti itu mencontoh perilakunya tidaklah wajib! Akan dikatakan kepada dia: Ini akan menyangkal arti dari mematuhi secara sepenuh hati, dan akan membalikannya dari tujuannya… (22) Tusi: Talkhis al- Shafi, vol.1, hal. 192.

Syekh Mufid berkata di dalam ‘Al-Nukat al-I’tiqadiyyah’: “Bukti mengenai perlunya Imam menjadi ma’sum adalah: jika diperbolehkan bagi dia melakukan dosa, maka mengoreksi dia menjadi wajib, dan ia kehilangan statusnya di hati, dan ia tidak akan dijadikan ikutan. Tujuan dari penetapan dia adalah sedemikian rupa sehingga ia akan diusahakan untuk dicontoh dan diikuti, sehingga tujuan tersebut akan tercapai. Dan jika tidak wajib untuk mengoreksi dia, maka perlunya melarang keburukan atau kejahatan adalah ditolak. Ini adalah kosong dan hampa. Ia adalah pemelihara hukum, jika ia tidak ma’sum, maka penambahan atau penghapusannya (terhadap hukum) tidak bisa terjamin.” (23) Mufid: Al- Nukat al- Itiqadiyyah, hal. 48.

Syi’ah Imamiah percaya bahwa Imam adalah seperti para Nabi (AS) dalam hal perlunya mereka menjadi ma’sum, terhadap semua sifat buruk dan bermacam-macam penentangan sejak masa kanak-kanak hingga umur tua sampai mati, baik secara sengaja ataupun tidak, karena mereka adalah pemelihara hukum dan menegakkan hal itu, serupa dengan posisi seorang Nabi. Karena kebutuhan pada Imam, sedemikian hingga si tertindas dapat memperoleh haknya dari si penindas, dan juga untuk membasmi kecurangan dan mengakhiri perselisihan (fitnah). Imam bersifat belas kasih, ia mencegah yang kuat dari melewati batas, dan mendorong orang-orang untuk mematuhi perintah Allah, dan berpantang dari laranganNya. Ia menetapkan batasan-batasan Allah dan kewajibanNya. Ia menangkap orang-orang yang durhaka dan memberi koreksi dengan hukuman kepada mereka yang berhak mendapat hal itu. Jika tindakan menentang dimungkinkan dalam kasusnya, dan ia melakukan tindakan seperti itu, semua manfaat ini akan tertolak, dan akan ada kebutuhan bagi Imam yang lain pada ketidakterbatasan.” (24) Hilli: Nahj al-Haq wa Kashf al-Sidq, hal. 164; Hilli: Minhaj al-Karamah fi Ithbat al-Imamah, hal. 51 (edisi lama); Muhammad Sadiq Sadr: Al-Syi’ah Al-Imamiyyah, hal.126.

3.5. PERLUNYA ULAMA ILAHIAH YANG MENAFSIRKAN AL-QUR’AN

Sebagai tambahan terhadap isu ketaatan dan perlunya seorang pemimpin menjadi ma’sum, beberapa ahli ilmu agama melihat filosofi ‘ismah’ dari sudut yang lain, yaitu perlunya kebutuhan akan seorang penafsir Al-Qur’an yang agung, dengan alasan tentang ketidakmampuan muslimin berhadapan dengan Al-Qur’an dan mengambil keuntungkan darinya secara langsung.

Kulayni melaporkan di dalam Al-Kafi (kitab hadist yang paling tua) – dalam kaitannya dengan filosofi ini – dari Mansur bin Hazim yang berkata: “Aku berkata kepada orang-orang: “Apakah kamu mengetahui bahwa Rasulullah (SAAW) adalah bukti Allah kepada ciptaanNya? Mereka berkata: “ya.” Aku berkata setelah itu: ”Setelah kematian Rasulullah (SAAW), siapa yang merupakan bukti ciptaan Allah? Mereka menjawab “Al-Qur’an”. Aku melihat Al-Qur’an dan mengamati bahwa Murji’ah, Qadariah dan pembangkang (Zindiq) semua menghadirkannya sebagai bukti mereka, dengan suatu cara di mana mereka mengalahkan lawan mereka, dan kemudian aku memahami bahwa Al-Qur’an tidak pernah dapat menjadi bukti tanpa seorang penjaga. Apapun yang ia katakan mengenai segala sesuatu tentangnya adalah kebenaran. Aku kemudian berkata kepada mereka: “Siapakah penjaga Al-Qur’an? Mereka menjawab: “Ibn Mas’ud banyak mengetahui, demikian juga Umar dan Hudhayfah”. Aku berkata: “Semuanya?“ Mereka berkata: “Tidak, aku belum pernah menemukan seseorang yang dikatakan mengetahui keseluruhannya kecuali Ali. Beri kesaksian bahwa Ali adalah penjaga Al-Qur’an. (25) Kulayni Al-Kafi, Al-Hujjah, hal. 169.

Setelah itu ahli filsafat dan ahli ilmu agama lain datang dan menambahkan hal itu dan memperluas Hadith dalam bidang ini. Sayyid Murtada berkata di dalam ‘Al-Shafi’: “Imam harus mengetahui semua keputusan hukum Allah tanpa kecuali, selain dari itu, hal itu mengharuskan bahwa ia akan dijadikan sebagai penjaga dari apa yang ia menjadi tidak punya arti, dan hal itu akan bermakna membebankan kepadanya apa yang ia tidak bisa bawa. Bahwa, yang memastikan perlunya Imam mengetahui keseluruhan keputusan hukum, adalah apa yang telah dilaporkan, bahwa Imam adalah pemimpin dalam semua aspek agama, dan pelaksana dari semua pertimbangan hukum, besar atau kecil, jelas atau rancu. Adalah tidak mungkin bahwa dia tidak mengetahui semua aspek agama dan keputusan hukum.” (26) Murtada: al-Shafi, hal. 14 -15.

Syekh Tusi berkata: “Telah ditetapkan bahwa tidak semua yang diperlukan di dalam Shari’ah, didasarkan pada bukti mutlak dari konsensus atau Ijma’ atau yang sejenisnya. Tidak semua bukti dalam banyak kasus dapat dibantah dengan kedua cara… Jika hal itu telah dipastikan dan Shari’ah dan aplikasinya telah dibebankan krpada kita, kemudian harus ada suatu otoritas yang melalui dia kita dapat menjangkau kebenaran, dalam setiap isu di mana terdapat perbedaan pendapat. Itu adalah Imam yang kita sedang dukung.” (27) Tusi: Talkhis al-Shafi, vol. 1, hal. 108

Ia juga berkata: “Telah ditetapkan bahwa Imam adalah pemimpin dalam semua aspek agama, dan seseorang yang melaksanakan semua pertimbangan hukum, penguasa semua hal, yang sulit atau yang jelas atau yang gelap. Tidaklah mungkin bahwa ia tidak akan mengetahui keseluruhan keputusan hukum.” Itu adalah atribut bagi dia, sebab apa yang ditetapkan dalam pandangan mereka yang menguasai akal adalah kejahatan, jika memberikan urusan kepada orang yang tidak mengetahui hal itu, sekalipun mereka yang menunjuk dia mempunyai cara untuk menguasai pengetahuannya mengenai apa yang ia atur. Tidak ada efek terhadap adanya kemungkinan dari pembelajarannya dan aksesnya pada jalan pengetahuan. Hal itu karena, sungguhpun hal itu mungkin, kepemimpinannya tidak bisa dibenarkan, jika ia kekurangan pengetahuan dari apa yang telah diberikan kepadanya.” (28) Tusi: Talkhis al-Shafi, Vol.1, hal. 236.

Syekh Tusi menguraikan mengenai suatu kondisi perlunya seorang Imam mempunyai pengetahuan utama tentang segala sesuatu, karena ia menolak ketergantungan pada Ijtihad mengenai sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang atau ketika ada kebutuhan untuk itu. Ia berkata: “Jika dikatakan, mengapa Imam tersebut tidak seharusnya tidak mengetahui semua keputusan hukum berkaitan dengan kekuasaannya, tetapi cukup hanya dengan menempuh jalan menggunakan analogi berkenaan dengan hukum (Ijtihad) pada saat ia perlu memutuskan suatu pertimbangan hukum, atau ia memilih metoda menggunakan laporan dari perawi tunggal, atau bahkan ia bertanya kepada ulama lain, sebagaimana orang-orang yang juga biasa mengacu pada mereka, atau ia menarik diri dari apa yang ia tidak mempunyai pengetahuan hingga hal itu menjadi nyata dan jelas baginya, atau melalui salah satu dari cara memperoleh pengetahuan. Semua ini mendasari suatu metode yang bisa diterima dalam beribadah kepada Allah.”

Pertanyaan tersebut akan dijawab: “Ini adalah pernyataan orang yang berpikir bahwa kita hanya menunjukkan adanya malapetaka kepemimpinan dari Imam tersebut yang tidak mempunyai pengetahuan yang lengkap terhadap semua keputusan hukum, karena ia tidak punya jalan lain kepada pengetahuan. Kami sudah menjelaskan bahwa adanya jalan seperti itu adalah seperti tidak adanya hal itu, jika pengetahuan yang diatributkan kepada Allah tidak tersedia. Secara pasti kepemimpinan semacam ini adalah malapetaka, dikarenakan tidak adanya pengetahuan tersebut. Tidak perlunya bagi kami untuk mendiskusikan apa yang mereka anggap sebagai jalan untuk memperoleh pengetahuan, yang mana Imam dapat mengambil jalan tersebut. Hal ini karena, sekalipun dipastikan bahwa mereka semua adalah jalan kepada pengetahuan dan pembelajaran, namun keputusan hukum tersebut tidak akan berpengaruh pada apa yang telah kami jamin. Pada kenyataanya, dalam pandangan kami, kebanyakan dari apa yang penanya sebutkan, tidak akan mendorong ke arah pengetahuan yang sebenarnya? Perihal Qiyas (deduksi berdasarkan analogi), khabar dari perawi tunggal dan  Ijtihad, sebagaimana yang diterangkan sebelumnya, dalam pandangan kami hal itu tidak bisa dipakai sebagai sumber pengetahuan, dan hal sedemikian tidak dapat bermakna beribadah kepada Allah. Perihal jalan yang ditempuh oleh orang awam kepada ulama, bagi kami tidaklah mungkin bagi dia untuk mencontoh orang lain, tetapi adalah penting bagi dia untuk mencari pengetahuan dengan jalan yang mendorong kearah pengetahuan yang sebenarnya. Jika hal itu diperbolehkan, maka kasusnya tidak akan seperti Imam tersebut. Diperbolehkannya hal ini hanya karena ia tidak sedang dalam keadaan sebagai seorang penguasa atas dia (atau seseorang mempunyai otoritas di atas dia). Maka adalah perlu bahwa ia mengikuti ulama dan bertindak sesuai dengannya. Kami hanya menunjukkan adanya malapetaka dengan hadirnya seseorang yang tidak berpengetahuan bila dia mempunyai otoritas dalam semua urusan. Kami tidak pernah akan mengijinkan hal itu, karena dia tidak berpengetahuan tentang sebagian dari urusan. Sebagaimana kami tidak sejalan dengan prinsip yang mengijinkan para penguasa memohon pertolongan ulama, kemudian mereka menghakimi didasarkan pada hal itu, sebagamana diperbolehkan oleh lawan kami, dikarenakan alasan tersebut di atas.” (29) Tusi: Talkhis al-Shafi, vol.1, hal. 240

3.6. YANG PALING PANTAS DAN YANG PANTAS

Di samping ‘ismah’ dan pengetahuan Ilahiah yang tampak pada pemikiran Imamiah, seperti perlunya kualitas Imam untuk dijadikan ikutan, juga terdapat kualitas lain bagi Imam tersebut. Yaitu ia harus yang terbaik dari muslimin, karena Imamah dari orang yang pantas tidak diperbolehkan pada saat ada orang yang paling pantas. Ia harus pula yang paling berani dan yang paling dermawan. Syekh Tusi berkata: “Imam harus yang lebih baik dari semua hal, yaitu ia harus unggul dalam penghormatan Allah, dan juga lebih baik dibanding mereka semua dalam semua hal yang ia pimpin.” (30) Tusi: Talkhis al-Shafi, Vol.1, hal. 199-211.

Ia juga berkata: “Adalah perlu bahwa Imam harus lebih berani dibanding semua pengikutnya, dan semua yang mengikuti kualitas itu menegaskan bahwa dia pemimpin mereka, dalam kaitannya untuk memerangi musuh, yang melibatkan keberanian. Ia harus yang paling kuat diantara mereka. Hal ini karena, pemimpin pada umumnya lebih baik dari pada para pengikut yang ia pimpin, sebagaimana kami sudah menunjukkan adanya malapetaka dalam hal lebih menyukai yang baik sementara ada yang terbaik, dalam hal dimana ia lebih baik dibanding dia. Perihal dia adalah yang paling berwenang dan paling kuat, hal ini datang dari hukum itu sendiri, karena nama Imam diberikan hanya kepada seseorang yang di atas dia tidak ada pemimpin atau kepala. Perihal dia adalah yang paling paham dan yang paling rasional, hal ini adalah karena, ia harus mempunyai pendapat yang terbaik dalam isu apapun, dikarenakan yang paling tahu dalam kebijakan dan administrasi.” (31) Tusi: Talkhis al-Shafi, Vol.1, hal. 264.

Sayyid Murtada berkata: “Itulah yang menjadikan perlunya Imam adalah yang terbaik dalam tindakan kesalehan dan berpahala, seperti halnya dalam pengetahuan semua jenis kesalehan agama, pada semua masalah, yaitu dalam kesalehan dimana ia memimpin mereka, adalah apa yang kami dan semua orang yang rasional mengetahui adanya malapetaka dari menjadikan pemimpin dan kepala tertentu dari yang lebih baik dalam kesalehan sementara ada yang terbaik dari semua itu. Imam adalah pemimpin kami dalam semua aspek agama, pengetahuan dan keputusan hukum, sehingga adalah perlu bahwa ia lebih baik dari pada kita dalam semua hal.” (32) Murtada: al-Shafi, vol. 2 hal. 42.

3.7. DARI ‘ISMAH’ MENUJU DALIL ILAHIAH

Setelah menegaskan perlunya penjelasan Imamah, Imam manapun, dalam kaitannya dengan ‘ismah’, dan yang terbaik dalam pengetahuan, keberanian dan kedermawanan, dan tidak diperbolehkannya Imamah dapat berbuat keliru dan bodoh atau yang baik (di hadapan yang terbaik), dan karena tidak ada jalan untuk mengetahui hal ini kecuali melalui bimbingan Ilahi, pemikiran Imamiah bersandar pada prinsip pengabaian ‘Syura’ sebagai alat untuk memilih seorang Imam. Prinsip ini digantikan dengan ide dalil (ilahiah) atau wasiat atau keajaiban (mukjizat/ karomah) terhadap yang tak terlihat (ghoib), yang membedakan Imam yang dipilih oleh Allah dari semua manusia.

Syekh Mufid berkata: “Imam harus yang banyak mengetahui semua keputusan hukum yang diperlukan Ummah, dan yang religius dari semua pengikutnya. Jika hal pokok ini ada, adalah wajib bagi dia untuk mengumumkan sendiri urusannya melalui suatu dalil (pengumumam), dan suatu pengetahuan yang luar biasa dan ajaib. Hal ini karena tidak ada jalan untuk mengetahui seseorang yang memiliki kualitas ini kecuali melalui suatu dalil dari yang benar, yang dia sendiri menerimanya dari Allah atau melalui suatu keajaiban”. (33) Mufid: Al-Thaqalan al-Kitab wa al-Itrah hal. 179.

Sayyid Murtada juga berkata: “Jika hal ini telah ditetapkan bahwa Imam harus yang banyak mengetahui semua keputusan hukum, hal itu menjadi mustahil untuk memilih dia, tetapi harus ada sebuah dalil (Ilahi) bahwa dia itu Imam. Hal ini karena mereka yang akan memilih dia tidaklah banyak mengetahui semua keputusan hukum, maka bagaimana mungkin untuk memilih sesorang dengan kualitas ini ? “

Ia juga berkata: “Jika telah ditetapkan bahwa Imam adalah pemimpin kami dalam semua aspek agama dan pengetahuan dan keputusan hukum, Itu menjadi perlu bahwa ia akan menjadi lebih baik dari pada kita semua dalam semua hal. Dan dalam dirinya yang paling saleh dan religius, muncul perlunya suatu dalil yang jelas tentang dia, karena hal ini tidak bisa dicapai melalui (semata-mata) pemilihan.” (34) Murtada, al-Shafi, Vol.2, hal. 17 dan hal. 42.

Ia juga berkata: “Ketahuilah bahwa kepercayaan kami pada perlunya dalil (ilahi) dan sangat dibutuhkannya Imamah secara alamiah, telah dijelaskan di atas, dan itu cukup untuk menunjukkan bahwa pemilihan itu tidak sah. Hal ini karena apapun yang telah ditetapkan oleh dalil itu sendiri akan melemahkan atau menghapuskan pemilihan. Ketahuilah bahwa kami bergantung pada tidak berlakunya pemilihan Imam, adalah penampilan dari kualitasnya, dimana orang yang mempunyai hak pilih tidak punya bukti tentangnya, dan tidaklah mungkin untuk mengetahui hal itu dengan pemikiran rasional atau ‘Ijtihad’, dan semua ini dibatasi oleh Allah yang mengetahui semua hal, seperti ‘ismah’, keunggulan dalam tindakan kesalehan dan pahala, dan pengetahuannya di atas Ummah. Tidak ada kerancuan bahwa kualitas ini tidak bisa diserap melalui pemilihan, kecuali atas pertolongan dalil (ilahi). Kami menjelaskan juga bahwa tidak mungkin menyatakan keabsahan pemilihan, ketika kita mempertimbangkan kualitas tersebut.

Kami juga berkata: Itu adalah suatu perintah yang tidah sah, atas dasar bahwa seseorang diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang di dalamnya ia tidak mempunyai apapun untuk memandu dia ke arah itu, dan tidak ada otoritas untuk membedakan tindakan yang wajib dari yang tidak wajib.” (35) Murtada, al-Shafi, Vol. 4 hal. 6.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: