BAB II. DARI SHURA KE ATURAN TURUN TEMURUN

Leave a comment

May 25, 2011 by Islam saja

BAB II

DARI SHURA KE ATURAN TURUN TEMURUN

Sejarawan Syi’ah Imamiah zaman dahulu (Nukhbati, Ashari al-Qummi dan al- Kashi) merekam perkembangan yang pertama yang muncul pada barisan/ golongan Syi’ah pada zaman Amir Al-Muminin Imam Ali bin Abi Tholib (AS) di bawah pimpinan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi, yang kemudian menerima Islam.

Nukhbati berkata tentang Abdullah bin Saba’ bahwa ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan klaim bahwa Ali adalah pemimpin (Imam) yang benar. Ia dahulu biasa berkata bahwa di agama Yahudi yang dulu dipeluknya, Yusha bin Nun adalah Wasiy Musa (seseorang yang memimpin setelah Musa, melalui wasiat Musa). Gagasan yang sama dengan ini ia sebarkan di dalam Islam, berkaitan dengan Ali dalam hubungannya dengan Rasulullah (SAAW). Ia memperlihatkan dibebaskan dirinya terhadap rasa tidak bersalahnya dari lawan-lawannya, dan memperlihatkan permusuhan secara terbuka kepada lawan-lawannya. Ia merendahkan dan menyerang Abu Bakr, Umar dan Uthman dan sahabat-sahabatnya. (1) Nubakhti: Firaq al-Syi’ah hal. 22; Ash’ari al-Qummi: Al-Maqalat wa al-Firaq, hal. 19; Al Kashi: Al Rijal; dan Muhammad Hassan Al-Zayn: Al Syi’ah Fi al -Tarikh, hal. 172.

Tidak jadi masalah adanya klaim bahwa Abdullah bin Saba’ adalah seorang tokoh/ figur dongengan/ fiktif atau nyata, karena pada kenyataannya sejarawan Syi’ah merekam kemunculan pertamanya pada perkembangan awal pemikiran politik Syi’ah, yang didasarkan pada gagasan adanya “wasiat” (wasiyyah) yang bersifat pribadi dan keagamaan dari Nabi yang mulia kepada Imam Ali. Demikian juga mengaitkan adanya maksud/ arti politik dari wasiat tersebut, didasarkan pada analogi (qiyas) “wasiat” dari Nabi Musa (AS) kepada Yusha’ bin Nun, dan secara alamiah dan turun temurun kependetaan ada pada keturunan Yusha.

Sekalipun pernyataan ini lemah dan terbatas pada sedikit di antara orang-orang Syi’ah pada zaman Imam Ali, dan juga Imam Ali sendiri telah menolaknya dengan ucapannya yang sangat tegas, dan memberi peringatan kepada pembuat pernyataan itu, namun mereka cenderung menemukan suatu landasan yang subur untuk menyebarkan gagasan tersebut pada saat Muawiyah menetapkan putranya, Yazid, untuk memimpin Ummah setelah dia wafat.

Masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat terhadap kecenderungan ini adalah tidak adanya dukungan dari Imam Hassan dan Imam Hussain atau mereka menolak secara tulus terhadap klaim mereka, dan adanya fakta pengasingan politik yang ditempuh oleh Imam Ali bin Hussain. Hal ini mengakibatkan para penganjur doktrin ini berkumpul di sekitar Imam Muhammad bin Hanafiyyah bin Ali bin Abu Tholib, dan menganggap dia sebagai wasiy Imam Ali, terutama ketika ia menerima kepemimpinan Syi’ah setelah pembunuhan Imam Hassan. Saba’iyyah menyusup ke dalam golongan pergerakan Kisanniyyah, yang ingin membalas dendam terhadap pembunuhan Imam Hussain di bawah kepemimpinan Mukhtar bin Ubaidah al-Thaqafi.

Mukhtar, yang memimpin Syi’ah Kufah, mengklaim bahwa Muhammad bin Hanafiyyah telah memerintah dia untuk melakukan pembalasan atas pembunuhan (Imam Hussain) dengan membunuh para pembunuh Hussain, dan bahwa ia adalah Imam setelah ayahnya. Mukhtar tidak menganggap kekhalifahan sebelum Ali, seperti Abu Bakar, Umar dan Uthman sebagai orang-orang kafir. Tetapi ia menganggap mereka yang melawan Imam Ali pada pertempuran Siffin dan Unta sebagai orang kafir/ tidak beriman. (2) Ash’ari al-Qummi: Al Maqalat wa al-Firaq hal. 21-22.

Ash’ari al-Qummi menyebutkan bahwa: Pengawal Mukhtar (Kisan), yang mempengaruhi dia ke arah tuntutan terhadap darah Hussain, dan yang menunjuki dia para pembunuhnya, menjadi ketua intelijen Muhktar dan pelaksana komplotannya, dan bersemangat dalam ucapan, tindakan dan pembunuhan. Ia biasa berkata bahwa, Mukhtar adalah pilihan Muhammad bin Hanafiyyah (melalui wasiatnya) dan wakilnya. Ia biasa menganggap semua pemimpin sebelum Ali sebagai orang kafir, demikian juga mereka yang mengambil bagian dalam pertempuran Siffin dan Unta. (3) Ash’ari al -Qummi: Al Maqalat wa al-Firaq hal. 21-22.

Walaupun kerajaan yang dikendalikan oleh Mukhtar hanya bertahan selama periode waktu yang singkat, namun pergerakan Kisaniyyah yang berkumpul di sekitar pemimpin rohaninya, Muhammad bin Hanafiyyah, mulai mengumumkan bahwa “Imam haruslah Ibn Hanafiyyah dan keturunannya”. (4) Al–Mufid: Al-Fusul al-Mukhtarah, hal. 240.

Di atas ranjang kematiannya, Muhammad bin Hanafiyyah, menetapkan putranya Abdullah (Abu Hashim) sebagai pemimpin setelah dia. Abu Hasim diarahkan untuk menuntut kekhalifahan, sejauh yang ia bisa. Ia memberi tahu Syi’ah agar menjadikan Abu Hashim menjadi pemimpin mereka. Maka Abdullah bin Muhammad bin Hanafiah (Abu Hasim) menjadi pemimpin Syi’ah. (5) Ibn Qutaybah: Al-Imamah wa al-Siyasah, Vol. 2, hal. 130.

Pada akhir abad pertama Hijrah, Abu Hashim menjadi pemimpin Syi’ah yang tidak dapat dibantah dalam kondisi ketidakhadiran penantang yang hebat. Setelah beliau wafat, pergerakan Kisaniyyah terpecah-pecah ke dalam beberapa sekte di mana setiap pemimpin sekte mengklaim bahwa Abu Hasim memilih dia dan memberikan wasiatnya kepada dia. Abbasiah juga mengklaim bahwa Abu Hashim memilih Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dan bahwa ia berkata kepadanya bahwa “’urusan’ dan tuntutan kekhalifahan setelah aku adalah di tanganmu’. Sehingga Abu Hasim menetapkan dia dan memanggil para pemimpin Syi’ah sebagai saksi, kemudian beliau wafat. Dengan demikian, Muhammad bin Ali menjadi pemimpin Syi’ah, dan penyokong kekhalifahan hingga kematiannya. Ketika ia akan meninggal, ia menetapkan putranya, Ibrahim sebagai pemimpin. Setelah ayahnya, Ia hidup sebagai pemimpin Syi’ah dan penyokong kekhalifahan. (6) Ibn Qutaybah: Al-Imamah wa al-Siyasah,  vol. 2, hal. 131-132; Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq. hal. 65; Tarikh al-Ya’qubi, Vol, hal. 40; Al-Isfahani: Muqatil Al-Tholibiyyin, hal.126; Al-Mas’udi: Al-Tanbih wa al-Ishraf, hal. 292; Kulayni: Al-Kafi, vol. 1, hal. 372.

Janahiyyun (Janahiah) mengklaim bahwa ia (Ibrahim) memilih Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Tholib, yang muncul di Kufah pada tahun 128 AH, sebagai pemimpin. Ia mendirikan sebuah kerajaan yang meluas sampai ke Persia pada tahun-tahun terakhir pemerintahan bani Umayyah.

Hassaniyyun juga mengklaim bahwa ia memilih Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Ali bin Abu Tholib (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah) sebagai pemimpin setelah dia.

Bagaimanapun, isu tentang Wasiyyah telah berkembang dari wasiat kepada Imam Ali dari Nabi (SAAW) yang bersifat normal dan pribadi kepada isu wasiat yang bersifat politik dari (Ali) kepada putranya Muhammad bin Hanafiyyah, dan setelah dia meninggal, kepada putranya Abu Hashim. Hal ini adalah kejadian yang mendorong konflik di antara sekte Syi’ah yang berbeda, dan adanya klaim dari setiap sekte bahwa ia adalah satu-satunya yang sah secara hukum.

2.1. TEORI POLITIK IMAM BAQIR

Ketika gerakan Syi’ah yang berbeda-beda sedang bersiap-siap menghadapi sebuah bentrokan melawan pemerintahan Umayyah dan sedang mengajak untuk membalas pembunuhan Hussain, dan sedang dilanda cacat internal, Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir pada tahun 94 AH, setelah kematian ayahnya, Imam Sajjad, memasuki pergumulan politik dan intelektual. Ia berjuang secara serius memperebutkan kepemimpinan Syi’ah dari sepupunya Abu Hashim dan para pengikutnya, untuk menggabungkan kepemimpinannya pada garis keturunan Fatimah dan rumah Hussain. Ia mempertimbangkan setiap klaim mengenai perahu Imamahnya tanpa menggunakan hak yang legal (dalil Imamah Ilahiah), ataupun menciptakan kebohongan melawan Allah, sekalipun pengklaim tersebut adalah salah seorang dari putra Ali bin Abi Tholib. (7) Ali bin Babawaih Al-Saduq: Al-Imamah wa al-Tabsirah min al-Hayrah, hal. 18.

Dalam mengklaim perahu Imamahnya dan dalam melihat dirinya sebagai yang paling layak menduduki posisi itu, Imam Baqir dalam mencapai tujuan tersebut bergantung pada ajakan untuk membalas melawan pembunuh kakeknya yang agung, Imam Hussain, dan hak kepemimpinan pada urutan yang berikutnya dari Syi’ah. Ia biasa berkata: “Dan siapapun yang dibunuh secara dholim, Kita sudah memberi ahli warisnya wewenang untuk menuntut Qisas”. Ia juga berkata bahwa ayat yang menyatakan: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri,  dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak di dalam Kitab Allah…” (QS, 33:6) diungkapkan dalam penggunaan (konteks) kepemimpinan, dan bahwa hal itu berada di sekitar keturunan Hussain setelah kematiannya. “Sehingga kami lebih berhak dalam urusan (muslimin) dan lebih berhak dalam kaitannya dengan Nabi (SAAW) dibandingkan mukminin lainnya dan Muhajirin. Anak-anak Ja’far dan Abbas tidak punya saham berkaitan dengan urusan tersebut, demikian juga setiap garis keturunan Abd al-Mutallib, atau bahkan keturunan Hassan bin Ali. tidak seorangpun pengikut Muhammad mempunyai saham kecuali kami”. (8) Al-Iyashi: Al-Tafsir Vol. 2 hal. 291.

Ia juga berkata, mengenai hal ini: “Semoga Allah memberkati pamanku Hassan! Hassan berlindung dengan 40000 pedang setelah kematian Amir Al-Muminin, dan menyerahkan mereka kepada Mu’awiyah. Muhammad bin Ali berperisai 70000 pedang terhunus, jika suatu bencana menimpa mereka, mereka semua akan mati. Sedangkan Hussain muncul dan memberikan hidupnya di depan Allah bersama-sama dengan 70000 manusia. Siapa yang lebih berhak untuk menuntut balas dibanding kami? Demi Allah, kamilah pemilik yang sah urusan (muslimin); di antara kami Saffah dan Mansur. Allah berfirman “Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya (untuk menuntut Qisas)…(QS: 17:33). Kami adalah pewaris Hussain bin Ali dan terhadap agamanya. (9) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 291.

Abdullah bin Hassan bagaimanapun, menolak gagasan untuk membatasi Imamah pada keluarga Hussain. Ia secara meremehkan berkata: “Bagaimana mungkin Imamah menjadi terbatas pada anak-anak Hussain dan bukan Hassan, sedang keduanya adalah para pemimpin pemuda di surga? Mereka sama dalam kebaikan, dengan pengecualian Hassan mempunyai kebaikan lain di atas Hussain, yaitu lebih tua. Hal itu menjadikan wajib bahwa kepemimpinan (Imamah) itu harus berada pada orang yang lebih dalam kebaikan”. (10) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 210.

Usaha Imam Baqir untuk menunjukkan adanya kelebihan dalam perbedaan ini dan mengakhirinya secara jelas, dan untuk meningkatkan legalitas tuntutannya memimpin Syi’ah, sebagai justifikasi tambahan terhadap tuntutan dengan hubungan darah, Beliau bergantung pada isu “mempunyai/ mempusakai senjata Nabi Allah“ dan menerima warisan dari kakek dan neneknya, sebagaiman ia biasa berkata: “Posisi senjata tersebut pada kami adalah sama dengan perahu anak-anak Israel, Di mana saja itu ditemukan, di situlah kepemimpinan nantinya. Maka di mana saja senjata tersebut ditemukan, di situlah pengetahuan berada”. (11) Saffar: Basair al-Darajat, hal. 176.

Ia bertanya sewaktu menyangkal Kisaniyyah: “Bisakah mereka berkata, berada pada siapa senjata Nabi Allah?… Tanda yang ada pada pedangnya, juga ada pada kedua sisinya, jika mereka tahu.” (12) Saffar: Basair al-Darajat hal. 178.

Muhammad bin Hassan al-Saffar salah satu dari poros Syi’ah Imamiyyah pada abad ke-3 Hijrah, biasa berkata: “Ali bin Hussain lebih menyukai putranya -Muhammad Baqir- pada saat kematiannya dengan menguasakan perisai yang berisi senjata Rasulullah. Saudaranya menantang dia pada masalah itu, dan Imam Baqir berkata kepada mereka: ‘Demi Allah, kamu tidak mempunyai hak pada masalah itu, jika kamu mempunyai hak pada masalah itu, ia (Imam Sajjad) tidak akan memberikannya kepada saya.” (13) Saffar: Basair al-Darajat, hal. 180.

Saffar biasa berkata, Imam Baqir biasa menunjuk hak Imam untuk kekhalifahan berdasar pada bukti bahwa ia menerima warisan senjata Rasulullah, dan bahwa ia menyebutkan itu sebagai sebuah bukti di depan masyarakat Shura. (14) Saffar: Basair al-Darajat, hal.181

Imam Baqir juga bergantung pada warisan dari ayahnya yang berupa kitab untuk mencari hak  Imamah. Kulayni berkata, Ia menggunakan bukti “pengetahuan” pada saat melawan saudaranya Zayd bin Ali, yang sedang bersiap-siap melakukan revolusi, dan sedang berusaha untuk menganggap dirinya sebagai pemimpin Syi’ah. Ia bertanya kepada dia apakah ia mengetahui yang halal dan haram, dan menasehati dia untuk tidak beranggapan atau mencari kepemimpinan sebelum pembacaan yang cukup (terhadap kitab tersebut perihal) yang halal dan haram.

Suatu hari saudara Baqir, Zayd, datang kepadanya, dengan surat dari masyarakat Kufah, dalam surat itu mereka memanggil dia untuk pergi kepada mereka, dan menceritakan kepada dia tentang pertemuan mereka, dan menginstruksikan dia untuk memberontak. Abu Jafar berkata kepada dia: “Apakah surat ini atas prakarsa mereka sendiri, atau merupakan jawaban dari apa yang sudah kamu tulis kepada mereka dan apa yang kamu panggil bagi mereka? “ Ia berkata: Tidak, itu adalah prakarsa orang-orang, karena pengetahuan mereka tentang hak kita dan hubungan dekat kita dengan Rasulullah, dan juga dalam kaitannya dengan apa yang mereka temukan di dalam Kitab Allah Yang Agung, dan kewajiban ketaatan dan mencintai kita; dan dalam kaitan dengan kesukaran dan kekerasan situasi kita. Abu Ja’far kemudian berkata kepada dia: “Ketaatan adalah suatu kewajiban dari Allah yang Agung dan suatu tradisi yang ia tetapkan pada orang-orang yang lebih awal, dan dengan cara yang sama Ia akan memeliharanya pada orang-orang yang kemudian. Ketaatan adalah bagi salah satu dari kita, sedangkan cinta bagi kita semua. Perintah Allah datang kepada para kekasih-Nya (Awliya) melalui suatu keputusan hukum yang disampaikan, tujuan yang jelas dan peretimbangan yang telah dipastikan dan pada waktu yang ditetapkan, jangan biarkan mereka yang tidak punya kepastian iman mengecilkan hatimu, mereka tidak berfaedah bagimu terhadap Allah, jangan tergesa-gesa. Karena Allah pasti tidak membawa berbagai hal sebelum ketetapan waktu mereka, karena ketergesa-gesaan orang-orang, kamu semestinya tidak pergi sebelum Allah, dan bencana akan menjadikan kamu tidak mampu dan menundukkan kamu.”

Zayd menjadi bangkit amarahnya pada saat yang genting ini dan kemudian berkata: “IMAM DI ANTARA KITA BUKANLAH ORANG YANG DUDUK DI RUMAHNYA DAN MENURUNKAN TIRAINYA DAN ORANG YANG TAKUT MELAKSANAKAN JIHAD, TETAPI IA ADALAH ORANG YANG MELINDUNGI APA YANG JADI MILIKNYA, DAN BERJUANG KARENA ALLAH MELALUI JIHAD YANG SEBENARNYA, DAN ORANG YANG MEMPERTAHANKAN PARA PENGIKUTNYA DAN MELINDUNGI HAREMNYA”,

Abu Jafar (Imam Baqir) kemudian berkata, “Apakah kamu mengetahui, wahai saudaraku, apapun hak bagi dirimu, mengenai apa yang kamu kaitkan dengannya yang mana kamu bertopang dengan sebuah ayat dari Kitab Allah atau suatu bukti dari Rasulullah atau kamu memberi sesuatu yang serupa dengannya? Karena pasti Allah telah membuat sesuatu hal halal, sedangkan yang lain haram, dan Ia telah memastikan berbagai hal yang wajib dan memberikan ibarat dan contoh dan menetapkan jalannya. Ia tidak menjadikan Imam tersebut, orang yang sedang memelihara urusannya di depan suatu kerancuan, pergi di depan dia dengan sebuah urusan sebelum waktunya, atau ia berjuang sebelum waktu yang tepat, karena Allah yang Agung telah berkata mengenai perburuan… Dia telah mengatur waktu yang ditetapkan bagi semua kejadian. Karena tiap-tiap hal ada suatu keputusan, Jika kamu cukup yakin mengenai urusanmu, dan kamu yakin mengenai masalahmu, kamu dapat meneruskan: jika tidak, kamu mestinya tidak menaikkan suatu urusan di mana kamu dalam keragu-raguan dan kerancuan. Jangan mencoba sesuatu yang mengakibatkan akhir dari suatu aturan, di mana buah-buahan belum masak, dan belum datang suatu akhir dan keputusan belum dipenuhi. Kamu sudah melihat disintegrasi, dan penghinaan dari yang diikuti dan para pengikut. Aku mencari tempat perlindungan kepada Allah dari Imam yang telah kehilangan waktunya dan di mana pengikut menjadi lebih tahu dari pada yang diikuti. Apakah kamu ingin, wahai saudaraku, hidup kembali pada jalan orang-orang yang menyangsikan tanda-tanda Allah dan menentang Pesuruhnya, aku mencari tempat perlindungan kepada Allah, wahai saudaraku, bahwa mungkin kamu disalib besok, (kemudian air mata jatuh dari matanya dan mengalir). Ia kemudian berkata, Allah ada di antara kita dan mereka yang membuka rahasia kita dan menyangkali kita akan hak kita, yang rahasia dan orang yang mengatributkan kita kepada selain dari kakek kita, dan mereka yang berkata mengenai kita, apa yang kita tidak mengatakan tentang diri kita. (15) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1, hal. 305, Vol. 1 hal. 257.

Kulayni melaporkan dialog ini di dalam al-Kafi pada abad keempat Hijrah…. Ada kemungkinan bahwa Syi’ah Imamiah memalsukannya di kemudian hari untuk melawan Syi’ah Zaydiyyah, tetapi paling tidak hal itu secara jelas mengungkapkan bukti Imam Baqir melawan saudaranya berdasar pada “pengetahuan”, sebelum lahirnya teori adanya “dalil” (penetapan dari Allah) atau ‘wasiat’ sebagaimana yang dipersyaratkan bagi Imamah.

Perihal Zayd bin Ali, ia biasa berkata, “Imam di antara kita bukanlah orang yang duduk di rumahnya dan menurunkan tirainya (yaitu menutup pintunya) dan takut Jihad, tetapi Imam di antara kita adalah orang yang melindungi apa yang ada di kepemilikan dan daerahnya dan berjuang karena Allah melalui Jihad yang sebenarnya, dan orang yang mempertahankan para pengikutnya dan melindungi haremnya.” (16) Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 257. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Imam Zaid tidak mengenal adanya dalil dari Rasulullah yang berisi daftar nama para Imam penggantinya yang jumlahnya 12 orang itu.

Dengan demikian teori politik Imam Baqir pada dasarnya bersandar pada tiang pengetahuan, dan kepemilikan senjata Rasulullah (SAAW) dan hak untuk menjadi ahli waris si tertindas (Imam Hussain), dan tidak bergantung pada sebuah dalil yang pasti/ jelas (seperti hadist penunjukan oleh Nabi), atau sebuah wasiat yang diumumkan, karena teori Imamah Ilahiah (adanya penunjukan dari Nabi tentang para Imam pengganti setelah Nabi) belum mengkristal di kalalangan Syi’ah pada permulaan abad ke-2 Hijrah, hingga pada waktu dan keadaan ketika isu dalil (Imamah Ilahiah) dan wasiat menjadi sentral. Populasi yang umum dari kaum Syi’ah pada zaman itu tidak mengetahui hak Imamah Imam Baqir, dan mereka tidak bisa membedakan Beliau dari pusat Ahlul Bai’t yang lain dari Hassan, Hussain, Ali dan Hashim, yang sedang menyokong bagi kepemimpinan Syi’ah, dan sekaligus sedang bersaing memperebutkan kepemimpinan Syi’ah.

Imam Baqir telah berhasil membentuk sebuah kelompok khusus Syi’ah yang setia kepadanya, meskipun segera setelah itu menjadi faksi-faksi, dengan seketika setelah kematiannya pada tahun 114 AH.

  1. Salah satu dari fraksi ini mengikuti saudaranya Imam Zayd bin Ali, yang mengumumkan pemberontakan terhadap Kalifah bani Umayyah Hisham bin Abd al-Malik pada tahun 122 A.H, ditarik dari teori “hubungan kekerabatan” Ia berkata “Hubungan kekerabatan dengan Rasulullah (SAAW) mempunyai hak yang lebih untuk memimpin dan memerintah. Ia menuntut dukungan masyarakat kepada Ahl al-Bayt Nabi dengan pengertian yang umum. Ia berkata, “Kami memanggil kepada Kitab Allah dan tradisi dari Nabi-Nya (SAAW) memerangi raja yang lalim, membela yang tertindas dan memberi kepada yang ditolak; dan distribusi dari barang rampasan ini (Fay) di antara pemiliknya yang syah dengan cara yang adil, dan mengembalikan apa yang diambil secara salah kepada pemiliknya. Demikian juga penutup perapian, dan bantuan kami bagi anggota keluarga Nabi melawan setiap orang yang melemparkan tendanya melawan kami, dan menyangkal kami akan hak kami.” (17) Tafsir Furat Ibn Ibrahim al-Kufi, hal. 49; Tabari: Vol. 3 hal. 267.
  2. Fraksi yang lain di bawah kepemimpinan Mughirah bin Sa’id, mengumumkan Imamah dari Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan (Dhu al-Nafs al- Zakiyyah), yang menyiapkan revolusi melawan pendurhaka pemerintahan Umayyah.
  3. Fraksi yang ketiga bagaimanapun, mengikuti Imam Ja’far bin Muhammad Al-Sadiq. (18) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah. Faksi yang ini merupakan cikal bakal Syi’ah 12-Imam.

2.2. TEORI POLITIK IMAM SADIQ.

Imam Sadiq (AS) mampu menyatakan dan menegakkan kepemimpinannya terhadap Syi’ah dan membuktikan kemampuannya, pengetahuan luasnya dan bimbingan baiknya. Ia tidak secara mengerikan memerlukan adanya wasiat, atau suatu indikasi tentangnya, guna menduduki posisi yang mulia itu, yang sedang ia duduki dalam masyarakat dan sejarah. Kamu tidak akan menemukan banyak tradisi dari warisan Syi’ah tentang topik ini berupa dalil atau suatu wasiat dari ayahnya mengenai Imamahnya, kecuali sebuah kisah yang menjelaskan sebuah wasiat yang bersifat sangat umum yang dilaporkan oleh Imam Sadiq sendiri, ketika ia berkata, “Ayahku telah memberiku kepercayaan tentang apa yang ada di sana”. Ketika ia hampir meninggal, ia berkata, “Panggil untukku para saksi.” Aku memanggil empat orang saksi untuk itu termasuk seorang Nafi, budak Abdullah bin Umar yang telah dimerdekakan. Kemudian Beliau berkata, “Tulislah; Ini adalah apa yang Yaqub telah perintahkan kepada para putranya. Wahai putra-putraku, Allah telah memilihkan bagimu agama (yang benar), kemudian tidak mati kecuali dalam iman Islam (sebagai muslim). Muhammad bin Ali telah memerintahkan kepada Ja’far bin Muhammad, meng-instruksikan dia untuk meng-kafani dia dengan pakaiannya, yang biasa ia pakai untuk solat Jumat; dan ia harus memakaikan dia serban dengan serban miliknya; dan ia harus membuat kuburannya berbentuk segi empat; dan harus meninggikannya setinggi empat jari; dan bahwa ia harus menguraikan tali simpul ketika menempatkan dia di dalam kuburan, kemudian ia berkata kepada para saksi. “Kamu boleh pergi, semoga Allah berbelas-kasih kepada kamu. Kemudian aku berkata kepada dia, “Wahai ayah, tidak ada hal penting dalam wasiat ini yang memerlukan para saksi. Ia kemudian berkata, “Wahai putraku, aku khawatir bahwa kamu akan dikalahkan, dan bahwa akan dikatakan, Ia (Baqir) tidak meninggalkan wasiat apapun untuk dia (Ja’far), maka saya ingin kamu mempunyai bukti. (19) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1, hal. 307; Mufid: Al-Irshad hal. 272.

Beberapa kisah telah disampaikan oleh Al-Saffar, Kulayni dan Mufid dari Imam Sadiq yang berkata bahwa ia sedang memperebutkan Imamah melawan penantangnya: pamannya -Zayd dan sepupunya -Al-Nafs al-Zakiyyah, atas dasar wasiat dari ayahnya ini, sebagai tambahan terhadap isu tentang kepemilikannya senjata Rasulullah, demikian juga cincin, perisai dan benderanya. Bagaimanapun masalahnya, Muhammad bin Abdullah (sepupunya) juga mengklaim memiliki senjata Rasulullah. Hal inilah yang membuat Imam Sadiq dengan penuh semangat menyangsikan dia dan menyatakan: “Demi Allah, pasti ia berbohong. Demi Allah, ia tidak mempunyainya padanya, ia belum pernah melihatnya, dengan salah satu dari kedua matanya. Ia tidak melihatnya saat berada pada ayahnya, kecuali jika ia melihatnya saat berada pada Ali bin Hussain. (20) Saffar: Basa’ir al-Darajat, hal. 17.

Pada kisah yang lain yang dilaporkan oleh Kulayni di dalam Al-Kafi, Imam Sadiq menegaskan: “Aku mempunyai pedang merah dan putih yang disarungi sarung pedang di mana senjata dijaga, dan akan dibuka untuk menumpahkan darah. Pemilik yang syah pedang tersebut akan membawanya keluar untuk berperang. Keturunan Hassan mengetahui hal ini sebagaimana mereka mengetahui bahwa malam adalah malam dan siang adalah siang. Itu hanyalah rasa iri dan mencari-cari kehidupan dunia yang  membuat mereka menyangkal hal itu. Jika mereka mencari hak mereka dengan kebenaran, itu akan lebih baik bagi mereka. (21) Kulayni: Al-Kafi, Vol. 1 hal. 240.

Pada kisah lainnya Ia juga berkata, “Mereka telah berbohong di hadapan Allah. Rasulullah mempunyai dua pedang, dengan salah satu darinya ada tandanya pada sisi kanannya. Mereka harus memberitahu dua tanda dan dua nama pedang tersebut jika mereka jujur. Tetapi aku tidak meremehkan sepupuku, nama yang pertama adalah Al-Rusum dan yang lainnya adalah Al-Mukhaddham. (22) Saffar: Basa’ir al-Darajat, hal. 148.

Persoalan yang sedang dihadapi Imam Sadiq adalah ketidakmampuannya untuk membawa senjata tersebut di depan kalayak ramai karena khawatir dengan para penguasa. Karena inilah ia memperkenalkan bukti yang lain sebagai gantinya, yaitu wasiat, di mana ia berkata kepada salah satu dari sahabatnya Abd-Al-A’la yang bertanya kepadanya atas masalah ini. Itu tidak akan dirahasiakan kecuali jika ia (Imam) mempunyai bukti-bukti yang lain. “Ia menunjukkan wasiat yang disebutkan di atas sebagai bukti yang melengkapi (bukti lainnya) bagi Imam. (23) Kulayni: Al-Kafi vol. 1 hal. 278 dan 289.

Nampak dari sebagian kisah yang disebutkan oleh Saffar dan Mufid: bahwa pada saat itu secara pasti isu tentang senjata merupakan faktor pemutus yang paling utama dalam pergumulan perebutan Imamah antara Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan dan Imam Sadiq. Imam Sadiq biasa berkata persamaan senjata bagi kami seperti persamaan Perahu (Tabut) bagi anak-anak Israel. Kepada anak-anak Israel, jika mereka menemukan Perahu tersebut pada pintu salah satu keluarganya, maka Nubuat akan diberikan kepada keluarga itu. Kepada siapapun senjata berada di antara kami, akan diberikan Imamah tersebut. Ayahku mengenakan perisai Rasulullah (SAAW), dan bumi memperlihatkan beberapa tanda pada dia. Aku memakainya dan barang itu (masih ada padaku). Ketika pemimpin kami (Qa’im) memakainya ia akan mengisinya yaitu bumi, (dengan keadilan) atas kehendak Allah.” (24) Saffar: Basa’ir al-Darajat hal. 174-176; Mufid: Al-Irshad  hal. 274-275.

Kisah lainnya sebagai tambahan terhadap senjata, menekankan peran pengetahuan yang menentukan kepribadian Imam. Imam Sadiq berbicara tentang hal ini, mengarahkan pernyataannya kepada Syi’ah: “Jika kamu mau, ketika mereka (keturunan Hassan) menanyai kamu, dan kamu menjawab, kemudian ketika mereka menyajikan suatu bukti tentang isu tersebut (senjata), adalah lebih lebih baik berkata kepada mereka: “Kami belum mencapai seperti kamu. Tetapi kami mencari pengetahuan ini dari para ulama dan yang terpelajar. Senjata ini ada bersama dia yang akan memilikinya. Jika ada bersama kamu, kami akan membay’ah kepada kamu, dan jika ada pada orang lain, kami akan mencarinya, hingga kami mengetahui (di mana keberadaanya).” (24) Saffar: Basa’ir al-Darajat hal. 174-176; Mufid: Al-Irshad hal. 274-275.

Dari kisah ini dapat dipahami, bahwa anak-anak Hassan mengklaim berpengetahuan dan memiliki senjata, sebagaimana mereka juga mengklaim memiliki Mushaf (salinan Quran yang agung) Fatimah, semua  ini  sebagai bukti bahwa mereka adalah orang yang sah dan layak untuk jabatan Imamah tersebut. Dengan kerancuan mengenai kandungan Mushaf Fatimah, Imam Sadiq menyangkal keberadaannya pada anak-cucu Hassan, dan ia biasa berkata: “Pada penjelasan mereka menyangkut senjata, kebohongan ada pada mereka, karena mereka tidak berkata jujur… Kebenaran ada di dalamnya. Silahkan mereka menaruh di depan kami urusan Ali dan warisannya jika mereka memang benar. Tanyai mereka tentang bibi dari pihak ayah dan dari pihak ibu. Silahkan mereka menghadirkan Mushaf Fatimah, karena di dalamnya ada wasiat Fatimah, dan dengannya senjata Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berkata “Bawa sebuah Kitab (yang diturunkan sebelum ini) atau beberapa jejak pengetahuan (untuk mendukung klaimmu) jika kamu benar.” (QS, 37:157) (25) Saffar: Basa’ir al-Darajat hal. 158.

Imam Sadiq ketika menilai kemampuan yang mengkualifikasi dia untuk menjadi Imam, berkata, “Sesungguhnya kami mempunyai apa yang akan membuat kami tidak bergantung pada orang lain, tetapi orang-orang akan membutuhkan kami. Kami memiliki Sahifah (Gulungan) (yang panjangnya) 70 lengan tangan, dengan tulisan tangan Ali, berdasar dikte dari Rasulullah. Di dalamnya semua isu yang legal (halal) maupun tidak legal (haram) telah diterangkan. (26) Kulayni: Al-Kafi  Vol.1 , hal. 241.

Imam Sadiq juga menjelaskan pengetahuan yang ia punyai, sambil berkata. “Ini adalah warisan dari Rasulullah, dan dari Ali bin Abi Tholib, pengetahuan tidak memerlukan orang-orang tetapi orang-orang memerlukannya.” (27) Saffar: Basa’ir al-Darajat hal.142.

Dalam pergumulan antara Imam Sadiq, paman dan sepupunya mengenai kepemimpinan Syi’ah, isu tentang wasiat maupun isu senjata atau pengetahuan bukanlah merupakan suatu bukti yang bersifat menentukan, karena mereka juga mengklaim memiliki pengetahuan dan senjata. Ia tidak percaya bahwa hal itu merupakan bukti legal yang cukup (untuk pengakuannya) tetapi hanya sebagai pendukung bagi pengakuannya tentang Imamah. Hal ini benar karena Imam Sadiq sedang memperkenalkan dirinya sebagai seorang Imam di mana ketaatannya telah dibebankan oleh Allah, tetapi sebagai salah satu dari pemimpin Ahlul Biat Nabi. Karena inilah ia menyangkal dan menolak terhadap pernyataan sebagian Syi’ah di Kufah:

“Ia adalah seorang Imam yang ketaatannya telah dibebankan oleh Allah. Ini adalah kisah sebelumnya dari lidah Sa’id al-Samman dan Sulaiman bin Khalid yang telah menyebutkan: Imam Sadiq suatu hari sedang duduk di Thaqifahnya (tempat berteduh), ketika sebagian orang Kufah meminta ijin untuk bertemu dengan dia. Ia mengijinkan mereka masuk. Setelah masuk mereka berkata kepada dia, “Wahai bapak dari Abdullah, sebagian orang datang kepada kami, mengklaim bahwa di antara kamu ahlul bait Nabi adalah Imam yang ketaatannya telah dibebankan sebagai tugas dari Allah.” Ia menjawab: “Tidak, aku tidak tahu bahwa hal itu di dalam keluarga kami.” Mereka kemudian berkata, “Wahai bapak dari Abdullah, mereka adalah orang-orang pekerja berat (dalam beribadah) berkhalwat dan takut pada Tuhan, dan mereka mengklaim bahwa engkau adalah orang tersebut. Ia menjawab, “Mereka mengetahui apa yang mereka katakan lebih baik (dibanding aku). Aku tidak memerintahkan mereka untuk mengatakan demikian”. (28) Saffar: Basa’ir al-Darajat  hal. 326.

Sebagai konsekwensi dari tidak adanya ketentuan khusus (dalil ilahiah) apapun pada pihak Imam Sadiq, dan tidak adanya pengetahuan dalil (Imamah Ilahiah) apapun bagi Imamah Imam Sadiq, dalam pandangan Syi’ah zaman itu, maka muncullah pergerakan Zaydiah, di bawah kepemimpinan pamannya Zayd bin Ali, yang memulai revolusi di Kufah pada tahun 122 A.H. Setelah kematian Beliau, Syi’ah berkumpul di sekitar putranya Yahya bin Zayd, yang memimpin revolusi lainnya melawan rejim pendurhaka Umayyah pada tahun 125 A.H. Setelah tiga tahun mengalami kegagalan dari dua revolusi ini, Syi’ah melakukan pemberontakan lainnya yang tersebar dan luas yang meletus pada tahun 128 A.H, di bawah kepemimpinan salah seorang Tholibiah, yaitu Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far Tayyar. Itu adalah pemberontakan yang benar-benar mengguncangkan masyarakat Syi’ah di berbagai kota besar di Iraq, yang juga menyebar ke Al-Mahin dan Hamadhan Qumas, Isfahan, Rayy dan Faris. Semboyan pemberontakan tersebut adalah “demi RIDHA KELUARGA (AHLUL BAY’IT) MUHAMMAD”. Adalah semboyan massa Syi’ah pada umumnya pada zaman itu.

Abdullah bin Mu’awiyah menjadikan Isfahan sebagai pusat pergerakan dan panggilannya, dan juga daerah pengaruhnya. Ia meminta Hashimiah, Alawiah dan Abbasiah lainnya, untuk datang kepadanya dan menyokong untuk memerintah daerah di bawah kendalinya. Sejumlah besar dari mereka ikut kepadanya. (29) Kulayni, Al-Kafi  Vol. 1 hal. 241.

Setelah kegagalan yang berikutnya dari revolusi ini, Syi’ah mulai mengklaim Imamah Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah), yang menganggap dirinya sebagai Mahdi yang ditunggu. Mayoritas Syi’ah membay’ah kepadanya termasuk Abbasiah Al-Saffah dan Mansur. (30) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah hal. 62; Mufid: Al-Irshad hal. 268; Isfahani: Muqatil Al-Tholibiyyin hal. 167, Tabari vol. 9, hal. 49.

2.3. TEORI POLITIK BANI ABASIAH

Bani Abbasiah yang menjadi pemenang pada tahun 132 A.H menemukan diri mereka dalam gangguan yang besar. Mereka memisahkan diri mereka dari gagasan kaum tua Syi’ah, dan mengubah teori politik mereka, yaitu dengan cara merancang kembali sumber legalitas rejim mereka yang mulai lahir, yaitu bergantung pada hak kakek mereka Abbas bin Abdul Mutallib untuk menerima warisan Nabi (SAAW) lebih dari sepupunya, Ali bin Abi Tholib.

Dalam khotbah Abu Abbas al-Saffah, salah seorang yang menjadi khalifah Abbasiah yang pertama yang menerima bai’at di Kufah pada tanggal 12 Rabi Awwal 132 A.H, ia menjelaskan bahwa anak-anak Abbas adalah pembela dan pelindung Islam dan muslimin yang sebenarnya, dan benteng Islam yang menjaga Islam dan penolongnya yang nyata. Kemudian ia menunjuk hubungan kekeluargaan mereka dengan Nabi; dan bahwa Allah telah mengasihi mereka dengan kedekatannya dengan Nabi dan sanak keluarganya. Ia kemudian mengutip beberapa ayat Quran, yaitu,

“SESUNGGUHNYA ALLAH BERMAKSUD HENDAK MENGHILANGKAN DOSA DARI KAMU, HAI AHLUL BAIT DAN MEMBERSIHKAN KAMU SEBERSIH-BERSIHNYA” (QS, 33:33)

Katakan (wahai Muhammad), “AKU TIDAK MEMINTA KEPADAMU SESUATU UPAHPUN  ATAS  SERUANKU  KECUALI  KASIH  SAYANG DALAM  KEKELUARGAAN” (QS, 42:23)

“Dan peringatkan suku bangsamu (wahai Muhammad), tentang keluarga dekatnya”.

“Apa yang Allah berikan sebagai barang rampasan (Fay) kepada PesuruhNya yang berasal dari penduduk suatu kota, itu adalah untuk Allah, PesuruhNya, keluarga Nabi (SAAW)….“ (QS, 59:7)

“Dan ketahuilah bahwa apapun harta rampasan perang yang kamu peroleh, sesungguhnya seperlima darinya diperuntukkan bagi Allah, dan Rasul dan keluarga dekat Rasul (SAAW)…..” (QS, 8:41).

Ia kemudian mengkritik pandangan kaum Saba’iyyah (para pengikut Abdullah bin Saba’) yang condong pada pandangan kaum Kisaniyyah, sambil berkata, “Saba’iyyah mengklaim secara keliru bahwa beberapa orang selain dari kami mempunyai hak lebih terhadap perahu kekuasaan dan Khalifah dibanding kami, kejahatan ada pada wajah mereka.”

Dawud bin Ali, paman dari Khalifah Abu Abbas, pada pidato bay’ah kemenakan laki-lakinya, telah menekankan sumber legalitas yang baru bagi pemerintahan Abbasiah, yaitu sebagai warisan dari Abbas. Ia berkata, “Muslim saat ini dalam perjanjian dengan Allah, PesuruhNya dan Abbas.”

Mas’udi menyebutkan di dalam ‘Muruj al-Dhahab’: “Rawandiah, yang merupakan Syi’ah Abbas dari Khurasan dan dari tempat lainnya biasa berkata: ’Rasulullah (SAAW) telah meninggal, orang yang paling layak menerima Imamah setelah dia adalah Abbas bin Abd al-Mutallib, karena ia adalah pamannya, ahli warisnya, dan yang paling dekat hubungan kekeluargaannya. Allah telah berkata: “Dan hubungan darah antara satu dengan lainnya mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat dalam hukum Allah….” (QS, 33:6). Dan orang-orang sudah merebut haknya dari dia, dan sudah melakukan ketidakadilan kepadanya, hingga waktunya ketika Allah mengembalikannya kepada mereka, di samping fakta bahwa ia tidak pernah menyerahkan Khalifah. Mereka memisahkan diri dari Abu Bakr dan Umar. Mereka mengesahkan sumpah kesetiaannya kepada Ali bin Abi Tholib, dikarenalan legitimasi yang dilakukan oleh Abbas, yaitu dalam pernyataannya: “Wahai kemenakanku! Datanglah kepadaku, aku akan membay’ah kepadamu, sehingga tidak ada orang yang akan menentang kamu”. Serupa dengan pernyataan Dawud bin Ali di atas mimbar di Kufah pada hari pembai’atan Abu Abbas, “Wahai orang-orang Kufah, tidak ada Imam yang muncul di antara kamu setelah, Rasulullah, kecuali Ali bin Abi Tholib, dan pemimpin kamu sekarang yaitu Abu Abbas Al-Saffah.” (33) Mas’udi: Muruj al-Dhahab vol. 3 hal. 252.

Khalifah Abbasiah Mahdi Muhammad bin Abi Ja’far Mansur menegaskan pergeseran teori ini, ketika ia menetapkan Imamah Abbas bin Abd al-Mutallib setelah Rasulullah, dan memanggil Rawandiah untuk itu, dan untuk membay’ah kepadanya. Ia berkata, “Abbas adalah pamannya, ahli warisnya dan orang yang terdekat kepadanya. Pasti Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali, mereka semua yang menjadi Khalifah dan mengklaim Imamah setelah Rasulullah, adalah perampas kekuasaan yang mengambil apa yang mereka tidak mempunyai hak atasnya.” (34) Tarikh al-Tabari, Vol. 6 hal. 43 & 83; Ibn Al-Athir: Al-Kamil, Vol. 5 hal. 315.

Mahdi menetapkan Imamah dan Khilafah Abbas bin Abd al-Mutallib setelah Nabi (SAAW), karena sahabatnya, sekutunya, demikian juga masyarakat Islam (Ummah). Ia kemudian menetapkan Imamah bagi Abdullah bin Abbas, setelah kematian Abbas. Setelah Abdullah ia menetapkan untuk Ali bin Abdullah yang dikenal sebagai as Sajjad, dan setelah dia kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah, dan kemudian kepada Ibrahim bin Muhammad, yang dikenal sebagai Imam, dan setelah dia kepada saudaranya Abdullah bin Muhammad Al-Saffah, kemudian kepada saudaranya Abdullah Mansur, bapak dari Mahdi.

Rawandiah berdasar pada hal di atas berkata, “Rasulullah, Yang Agung, telah menerima (demi Allah), orang yang paling layak untuk Imamah setelah dia yaitu Abbas bin Abd al-Mutallib, sebab ia adalah pamannya, ahli warisnya dan keluarga terdekatnya, Allah telah berkata, “Dan hubungan darah antara satu dengan lainnya mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat.” (QS, 33:6). Orang-orang telah merebut hak kekuasaannya dan melakukan ketidakadilan kepadanya hingga waktunya Allah mengembalikan haknya kepada mereka. Tidak ada Imamah di antara wanita. Fatimah tidak punya warisan mengenai Imamah tersebut. Saudara sepupu dan cucu tidak bisa menerima warisan apapun dengan adanya paman. Sehingga Ali dan anak-anak Fatimah tidak bisa mewarisi Imamah, dengan adanya Abbas. Karena inilah, maka Abbas dan anak-anaknya menjadi yang paling layak dari semua orang. (35) Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 252. (Komentar: kalau imamah merupakan warisan seperti halnya harta, maka teori ini benar adanya).

Dengan cara ini, Rawandiah telah mengembangkan sebuah teori politik berdasar pada warisan dan hak hubungan darah dan meninggalkan Shura, ketika mereka berkata: “pemilihan Imam oleh Ummah adalah tidak berlaku dan suatu kekeliruan. Hal itu hanya valid melalui penetapan Imamahnya dan suatu perjanjian pada masa sebelumnya oleh orang yang menerima dan menunjuk dia untuk menggantikan dia setelah dia.” Jahiz telah menulis, sebuah buku tentang isu ini berjudul, “Buku Imamah Anak-cucu Abbas”, yang berargumentasi menyetujui pendapat ini. (36) Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 67.

2.4. OPOSISI OLEH PENDUKUNG HASAN

Secara alami, Muhammad bin Abdullah (Dhu al-Nafs al-Zakiyyah), seorang pemimpin terbesar Syi’ah pada zaman itu, menolak teori baru Abbasiah tersebut, karenanya ia menolak membay’ah kepada Saffah dan Mansur. Ia menulis sebuah surat yang panjang yang di dalamnya menyebutkan, “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah hak kami, kamu mengklaim urusan ini memanfaatkan kami, dan memperjuangkan kepemimpinan itu dengan para pengikut dan pendukung kami, dan menganjurkan orang-orang (untuk berjuang) melalui kebaikan kami. Sesungguhnya bapak kami, Ali adalah pemilik wasiat, dan ia adalah Imam. Bagaimana kamu mewarisi haknya, ketika anak-anaknya dalam keadaan hidup? “Mansur menulis sebuah jawaban yang panjang terhadap suratnya, yang mengatakan di dalamnya, “Perihal pernyataanmu bahwa kamu adalah anak-anak Rasulullah (SAAW), Allah Yang Agung telah berfirman di dalam KitabNya, “Muhammad (SAAW) itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu,….” (QS, 33:40), tetapi kamu adalah anak-anak dari putrinya, ini merupakan suatu hubungan yang sangat dekat, tetapi tidak bisa mewarisi, tidak bisa mewarisi kepemimpinan. (37) Tabari Vol. 6 hal.198; Ibn al-Athir: Al-Kamil Vol. 5 hal. 255.

Dhu al-Nafs al-Zakiyyah kemudian muncul di Madinah, pada permulaan bulan Rajab tahun 145 AH dan mengumumkan bahwa ia adalah yang paling layak sebagai Khalifah di antara anak-anak Muhajirin. Ia menunjukkan bahwa semua pusat Dunia Islam yang utama sudah membay’ah kepadanya. Ia menganjurkan orang-orang untuk membay’ah kepadanya karena kesetiaan terhadap kemulian di antara anak-anak Hashim diberikan kepada dia. (38) Tabari: Vol. 6 hal. 188-190; Ibn al-Athir, Al-Kamil vol. 5 hal. 255.

Isfahani di dalam “Maqatil al-Tholibiyyin” melaporkan bahwa Sadiq mengijinkan kedua putranya Musa dan Abdullah untuk bergabung pada revolusi Muhammad Bin Abdullah di Madinah. Muhammad ingin membebaskan mereka dari berpartisipasi dalam revolusi tersebut, tetapi Ja’far meminta dengan tegas mengenai hal itu, sebagai suatu ungkapan dari dukungannya terhadap pergerakan Dhu al-Nafs al-Zakiyyah.

2.5. TEORI SYIAH SECARA UMUM

Isu memberontak melawan bani Umayyah bertindak sebagai kekuatan pemersatu dari berbagai fraksi pergerakan Syi’ah yang berbeda-beda pada permulaan abad ke-2 Hijrah. Massa Syi’ah pada umumnya tidak membeda-bedakan para Imam yang berasal dari Ahlul Bait Nabi. Karena inilah mereka biasa bergabung dengan setiap pergerakan yang dipimpin oleh salah seorang dari mereka. (komentar: ahlul bai’t dalam pengertian syi’ah zaman itu tidak terbatas pada anak-cucu husein saja).

Salim bin Abi Hafs, orang yang pertama mengajak orang-orang kepada Imamah dari Imam Sadiq setelah kematian ayahnya, kemudian bergabung dengan pergerakan Imam Zayd, bersama-sama dengan sebagian dari sahabatnya, yakni, Kathir al-Nawa, Abu Isma’il atau Kathir bin Isma’il bin Nafi al-Nawa, Hakam bin Uyaynah, Salmah bin Kahil dan Abu al-Miqdam Thabit al-Haddad. (39) Al-Isfahani: Muqatil Al-Tholibiyyin, hal. 277.

Sulaiman bin Jarir biasa berkata, “Siapapun yang mencabut pedangnya dari antara anak-anak Hassan dan Hussain, dan ia seorang yang zuhud dan berilmu dan berani, ia adalah Imam, Ali adalah manusia yang terbaik setelah Nabi dan paling patut sebagai Imam, tetapi ia dengan sepenuh hati menyerahkan urusannya kepada tiga orang Khalifah pertama yang dipandu kebenaran, dan meninggalkan haknya dengan sepenuh hati, kita menerima apa yang ia terima, kita menyerahkan apa yang ia serahkan. Ia telah menetapkan Imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar, oleh karena mereka yang telah dipilih oleh Ummah melalui Ijtihad (analogi). Ia juga biasa berkata: Imamah (kepemimpinan) dibentuk melalui konsultasi (syura) seluruh Ummah. Namun demikian Ummah telah berbuat salah dalam pembay’atan kepada keduanya di hadapan Ali, tetapi kesalahan itu belum mencapai suatu kefasiqan (fisq), tetapi suatu kesalahan dalam ijtihad. Bagaimanapun, ia (Sulaiman) telah menyalahkan Uthman dalam kaitannya dengan berbagai hal yang baru (bid’ah) yang mulai ia lakukan. Ia menganggapnya sebagai orang yang tidak beriman berkaitan dengan hal tersebut. Demikian juga ia menganggap ‘A’ishah, Zubair dan Talhah sebagai orang yang tidak beriman karena peperangan mereka melawan Ali… (40) Muhammad bin Ali al-Ardabili al-Ha’iri: Jami’ al-Ruwat, Vol.2 hal. 544; Al-Shahristani: Al-Milal wa al-Nihal, Vol. 1 hal.160.

Abu al-Jarud Ziyad bin Abi Ziyad al-Hamadhani al-Kufi pada awalnya mendukung Imam Baqir, dan kemudian ia bergeser kepada partai saudaranya, Zayd bin Ali, bersama-sama dengan sejumlah anggota yang besar dari para sahabatnya. Di samping fakta bahwa ia adalah seorang pengikut yang ekstrimis, karena ia menyalahkan mereka yang tidak mengakui Imam Ali dan memilih dia, namun ia menyangkal keberadaan dalil yang jelas tentang Imamah Ali. Ia berkata tentangnya dengan ilustrasi, tidak dengan nama. Karena hal inilah, Jarudiah mendasarkan teori Imamah mereka berdasar perlawanan dan pemberontakan (revolusi), bukan atas dasar suatu dalil. Mereka percaya bahwa Imamah mencakup anak-anak Hassan dan Hussain, dan menolak untuk membatasi hak ini hanya pada anak-cucu Hussain saja, seperti halnya penolakan mereka tentang adanya dalil (Imamah Ilahiah) mengenai hal ini. (41) Mufid: Al Masa’il al-Jarudiyyah fi Ta’yin al-Khilafah wa al-Imamah fi Walad al-Hussain bin Ali, hal.2; Mufid: Al-Thaqalan, hal.10.

Sebagai hasilnya mereka berkata: “Imamah Ali bin Abi Tholib ditetapkan pada saat ia memanggil orang-orang, dan menjadikan urusannya menjadi nyata” Hussain kemudian menjadi Imam pada saat ia melakukan revolusi; kemudian Zayd bin Ali… kemudian siapapun yang mengajak kepada ketaatan kepada Allah dari keluarga Muhammad, adalah Imam. (42) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah, hal. 54.

Jarudiah dan Zaydiah biasanya menolak pembatasan Imamah pada anak-cucu Hussain, dan menganggap siapapun yang mengatakan hal itu, sebagai mengajak keluar dari kelompok Islam. Mereka berkata: “Telah diputuskan dengan musyawarah di antara keseluruhan anak-anak dari keduanya. Dan Imamah setelah Hussain telah terjadi dengan pemilihan dan konsensus Ahlul Bait Nabi pada salah seorang di antara mereka, dan penerimaan mereka terhadap dia, dan pengangkatan senjatanya setelah itu. (43) Ash’ari: Al-Maqalat wa al-Firaq, hal.19.

Mereka menjadi ekstrim terhadap para Imam dari garis keturunan Hussain, dan menuduh bahwa seorang dari mereka yang mengklaim Imamah, namun duduk di dalam rumahnya dan menurunkan tirainya, adalah orang yang tidak beriman dan seorang musyrik, demikian juga setiap orang yang mengikuti dia pada masalah itu atau orang yang menerima Imamahnya. (44) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah, hal. 48-49; Ash’ari al Qummi: Al-Maqalat wa al-Firaq hal.19.

Meskipun Jarudiah merupakan sekte yang paling ekstrim terhadap isu adanya dalil (Imamah Ilahiah) pada permulaan abad ke-2 Hijrah, namun mereka tidak pernah berkata bahwa Imamah hanya ditetapkan melalui suatu dalil hingga Hari Kebangkitan. Mereka bagaimanapun, membatasi dalil tersebut pada Imam Ali, Hassan dan Hussain, yang hanya berkata: “Imamah setelah itu adalah melalui Shura (konsultasi) pada keturunan Imam Ali sampai Hari Kebangkitan. Siapapun di antara mereka yang muncul dan berkualifikasi dan layak, ia adalah Imam”. (45) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah hal. 48-49; Ash’ari al Qummi: Al-Maqalat wa al-Firaq hal.19.

Pernyataan lain dari sekelompok Syi’ah pada zaman itu yang mengatakan bahwa Imamah telah berhenti setelah Hussain, mendukung pendirian di atas. Jadi para Imam tersebut hanya tiga orang, yaitu yang nama mereka dan penunjukkan mereka dilakukan oleh Rasulullah (SAAW) melalui wasiatnya, dan Rasul menjadikan mereka bukti bagi masyarakat, dan para pemimpin setelah Rasul, satu demi satu secara berturut-turut, dan mencakup penolakan Imamah dari setiap orang setelah mereka (Ali, Hassan dan Hussein). (46) Nubakhti: Firaq al-Shi’ah hal. 54.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: