Imam Mahdi: Fact or Fiction?

4

May 17, 2011 by Islam saja

Dongeng Mahdi Shi‘ah

 oleh

 Abu Muhammad Al-Afriqi

Tanggal 15 Sha‘baan adalah sebuah tanggal yang sangat penting, bagi Ahl as-Sunnah dan Syi’ah. Syi’ah, bagaimanapun, mempunyai alasan mereka sendiri untuk menganggap arti penting malam tersebut. Bagi mereka, malam tersebut berkaitan dengan kelahiran Imam mereka yang ke-12, Mahdi yang tersembunyi.

Siapakah Mahdi ini yang kembalinya ke dunia ini sangat ditunggu-tunggu oleh Syi’ah, dan percaya pada keberadaannya dalam keghoiban merupakan aspek yang integral dalam jiwa Syi‘ah? Sebelum pertanyaan ini dijawab, mungkin terlebih dahulu perlu memahami aspek tertentu mengenai doktrin Syi‘ah tentang Imamah.

Latar belakang

Sudut pandang iman Syi’ah adalah kepercayaan bahwa kepemimpinan spiritual yang sementara bagi Ummah ini setelah kematian Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam adalah hak bagi para Imam, yang ditetapkan oleh Nabi sallallahu ‘alayhi wasallam sendiri, oleh Allah, dan yang menikmati semua pembedaan dan perlakuan khusus dari Nabi sallallahu ‘alayhi wasallam.

Bagaimanapun, mereka percaya bahwa Imamah, tidak seperti Nubuwwah, tidak pernah akan berakhir. Mengenai ini ada suatu hadith terkenal Syi’ah yang mengatakan bahwa “dunia tidak bisa ada tanpa seorang Imam”, dan hadits yang lain bahwa “jika bumi tanpa seorang Imam selama satu hari, maka akan tenggelam.”

Jadi, ketika terjadi bahwa yang pertama dari semua yang mereka hormati sebagai Imam mereka – yaitu Sayyiduna Ali radiyallahu ‘anhu- meninggalkan dunia ini, maka suatu masalah akan muncul. Sebagian dari mereka yang menghormati diri mereka sebagai pengikutnya mengklaim bahwa ia sesungguhnya tidak mati, tetapi ia akan kembali lagi menegakkan keadilan. Yang lainnya berkata bahwa ia digantikan oleh putranya Hasan sebagai Imam, yang pada gilirannya digantikan oleh saudaranya Husayn.

Ketika Husayn meninggal ada beberapa yang mengklaim untuk mengikuti saudara mereka yang lain, yaitu Muhammad (yang dikenal sebagai Ibn al-Hanafiyyah) sebagai Imam mereka. Ketika ia meninggal, para pengikutnya mengklaim bahwa ia pada kenyataannya dalam keadaan hidup, dan bahwa ia akan kembali lagi tepat pada waktunya nanti. Yang lain di antara Syi’ah menjadikan Sayyiduna putra Husayn, Ali, yang dijuluki Zayn al-‘Abidin, sebagai Imam mereka, dan ketika Ali bin Husein meninggal, mereka memindahkan kesetiaan mereka kepada putranya, Muhammad Al-Baqir.

Ketika al-Baqir, meninggal ada sekali lagi unsur-unsur di antara Syi’ah yang menolak kematiannya dan mengklaim bahwa ia akan kembali lagi pada suatu hari, sedangkan yang lain menjadikan putranya Ja‘far as-Sadiq sebagai Imam mereka .

Ketika Ja’far meninggal ada kebingungan massaal di antara Syi’ah: masing-masing dari para putranya: Isma‘il, Abdullah, Muhammad, Zakariyya, Ishaq dan Musa diklaim oleh berbagai kelompok di antara Syi’ah sebagai Imam mereka. Sebagai tambahan terhadapnya ada sekelompok yang percaya bahwa Ja‘far tidak benar-benar mati, dan bahwa ia akan kembali lagi pada suatu hari.

Kurang lebih hal yang sama terjadi pada saat kematian putranya Musa. Sebagian dari Syi’ah menolak kematiannya, percaya bahwa ia akan kembali lagi, dan yang lain memutuskan untuk menjadikan salah satu dari para putranya sebagai Imam baru mereka. Sebagian darinya memilih putranya Ahmad, sedangkan yang lain memilih putra lainnya, yaitu Ali ar-Rida.

Setelah dia, mereka menjadikan putranya – Muhammad Al-Jawwad  (atau at-Taqi) – sebagai  Imam mereka, dan setelah dia, putranya Ali al-Hadi (atau an-Naqi). Pada saat Ali al-Hadi meninggal mereka memperhatikan putranya Hasan al-Askari sebagai  Imam ke-11 mereka yang baru.

Meninggalnya Hasan al-Askari

Uraian di atas adalah sebuah ringkasan sejarah huru-hara dan kebingungan massa Syiah pada zaman dahulu – suatu sejarah yang dipersembahkan oleh seorang peneliti yang mungkin mengungkapkan fakta tentang perkembangan paham Syi’ah.

Bagaimanapun, itu bukan perhatian kita pada saat ini. Kita sekarang sudah tiba pada tahun 254 AH, suatu saat ketika bagian yang utama dari Syi’ah menerima sebagai Imam mereka, Hasan yang berumur 22 tahun, putra Ali al-Hadi, dan keturunan langsung ke-10 Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah radiyallahu ‘anhuma. Enam tahun kemudian, pada tahun 260 AH, Hasan al-Askari, pada umur yang sangat muda, 28 tahun, sedang berbaring di ranjang kematiannya, tetapi tidak sama dengan nenek moyangnya, karena ia tidak meninggalkan keturunan, sehingga tak seorangpun ada anak yang kepadanya massa Syi’ah akan menjadikannya sebagai Imam mereka yang baru.

Syi’ah yang tadinya menghormati Hasan al-Askari sebagai Imam mereka, dilemparkan ke dalam kekacauan massal. Apakah ini berarti akhir dari Imamah? Akhir Imamah akan berarti akhir dari paham Syi’ah. Apakah mereka mempersiapkan hal itu?

Kebingungan yang melanda di antara massa Syi’ah setelah kematian Hasan al-Askari dicerminkan oleh penulis Syi’ah Hasan ibn Musa an-Nawbakhti, yang menghitung kemunculan 14 sekte di antara para pengikut Hasan al-Askari, masing-masing dengan suatu pandangan yang berbeda mengenai masa depan Imamah dan identitas Imam yang berikutnya. Harus dicatat bahwa an-Nawbakhti hidup pada zaman ketika semua ini terjadi (alias saksi mata). Penulis Syi’ah yang lain, Sa‘d ibn Abdullah al-Qummi, yang juga hidup pada zaman yang sama, menghitung 15 sekte, dan satu abad kemudian sejarawan al-Mas‘udi menyebut satu persatu, semuanya ada 20 sekte terpisah.

Kecenderungan

Ada empat kecenderungan utama di antara berbagai sekte ini:

  1. Mereka yang menerima kematian Hasan al-Askari sebagai fakta, dan menerima juga fakta bahwa ia tidak meninggalkan keturunan. Bagi mereka, Imamah telah berakhir, seperti halnya Nubuwwah berakhir dengan kematian Rasulullah. Bagaimanapun, ada beberapa di antara mereka yang tetap menjaga keyakinan dan mengharapkan kedatangan seorang Imam yang baru.
  2. Kecenderungan kedua adalah salah satu dari murid sejarah ”rangkaian pergantian Imamah”. Ini adalah kecenderungan untuk menyangkal kematian Hasan al-Askari, dan mengklaim bahwa ia akan kembali pada masa yang akan datang untuk menetapkan keadilan di atas bumi. Kita sudah melihat kecenderungan ini muncul di antara Syi’ah zaman sebelumnya lebih dari satu kali titik kritis dalam sejarah Imamah Syi’ah; maka adalah logis untuk mengharapkan hal itu pada kejadian yang sama kritisnya seperti kematian Hasan al-Askari.
  3. Kecenderungan yang ketiga adalah memindahkan rantai Imamah kepada saudara Hasan, yaitu Ja‘far.
  4. Kecenderungan yang keempat adalah klaim bahwa Hasan al-Askari sesungguhnya mempunyai seorang putra. Adalah kecenderungan yang keempat yang akhirnya menjadi pandangan kelompok yang dominan di kalangan paham Syi’ah yang masih eksis hingga hari ini.

Putra yang hilang

Kecenderungan ini dipelopori oleh orang-orang yang telah menetapkan diri mereka sebagai wakil Imam, dan yang bertanggung jawab atas suatu jaringan yang mencakup berbagai bagian dari Kerajaan Islam -suatu jaringan bagi kepentingan pengumpulan uang (khumus) atas nama Imam Ahl al-Bayt.

Para pengikut Imam berkewajiban membayar seperlima pendapatan mereka kepada wakil Imam. (Ini adalah praktek yang berlanjut hingga hari ini). Kepala dari jaringan ini adalah seorang laki-laki yang bernama Uthman ibn Sa‘id al-‘Amri. Caranya adalah dengan memecahkan keadaan sulit: Hasan al-Askari sudah mati, ia mengakui, tetapi ia tidak tak berketurunan. Ia mempunyai seorang putra berumur 4 tahun, bernama Muhammad, tak seorangpun kecuali dia – yaitu Uthman ibn Sa‘id – yang bisa berhubungan (mempunyai kontak langsung). Dan dari titik itu ia maju bertindak sebagai wakil Imam yang tersembunyi dan mengumpulkan uang atas namanya.

Terhadap fakta bahwa keluarga Hasan al-Askari dengan sepenuhnya tidak mengetahui tentang keberadaan anak darinya, dan bahwa tanah warisannya telah dibagikan kepada saudaranya Ja‘far dan ibunya, namun Uthman ibn Sa‘id dan orang-orang semacamnya menjawab dengan mengumumkan bahwa Ja‘far adalah al-Kadhdhab (Pendusta).

Tepat pada waktunya suatu cerita ajaib diedarkan kepada masyarakat tentang adanya penyatuan antara Hasan al-Askari dengan seorang budak wanita Roma, yang dengan berbagai cara dinamai sebagai Narjis, Sawsan atau Mulaykah. Dia disebutkan sebagai putri dari Yusha‘ (Joshua), kaisar Roma, yang merupakan keturunan langsung dari rasul Simon Petrus. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa tidak pernah ada kekaisaran Roma dengan nama itu. Kaisar Roma pada waktu itu adalah Basil-I, dan ia maupun kaisar yang lainnya tidak dikenal sebagai keturunan Petrus. Konon khabarnya putri tersebut ditangkap oleh tentara muslim, dia secepatnya dijual kepada Hasan al-Askari, dan tentang kehamilan ajaibnya dan kelahiran rahasia putra yang tak seorangpun – terkecuali Uthman ibn Sa‘id dan komplotannya – yang mengetahui. Segala hal tentang anak tersebut diselimuti oleh suatu awan misteri tebal yang tidak dapat ditembus.

Empat wakil

Uthman ibn Sa‘id menjadi “wakil Imam yang bersembunyi” selama beberapa tahun. Selama itu ia adalah satu-satunya mata rantai Syi’ah dengan Imam mereka. Selama waktu itu ia menyediakan masyarakat Syi’ah dengan tawqi‘at, atau komunikasi tertulis, yang ia klaim ditulis kepada mereka oleh Imam yang tersembunyi tersebut. Banyak dari komunikasi ini, masih terpelihara di dalam buku seperti Kitab al-Ghaybah dari Tusi, yang terlebih dulu harus mencela para pengklaim posisi wakil Imam yang lainnya, yang telah muncul karena menyadari secara pasti bagaimana menguntungkannya posisi Uthman ibn Sa‘id yang telah menciptakan untuk dirinya sendiri kekayaan dari hasil mengumpulkan khumus. Literatur Syi’ah yang berkaitan dengan masa jabatan Uthman ibn Sa‘id sebagai wakil Imam adalah penuh dengan keterangan mengumpulkan uang dari masyarakat awam Syi’ah.

Ketika Uthman ibn Sa‘id meninggal, putranya Abu Ja‘far Muhammad membuat suatu komunikasi tertulis dari Imam yang tersembunyi di mana dia sendiri ditetapkan sebagai wakil yang kedua, suatu posisi yang  ia pegang selama sekitar 50 tahun. Sebagaimana bapaknya, ia juga harus terlebih dahulu berhadapan dengan beberapa saingan pengklaim terhadap posisinya sebagai wakil Imam yang bersembunyi, tetapi tawqi‘at yang secara teratur ia produksi untuk mencela mereka (pengklaim lainnya) dan menguatkan posisi miliknya memastikan pemusnahan rintangan seperti ini dan berlanjutnya dukungan dari masyarakat awam Syi’ah yang mudah percaya (mudah ditipu?).

Dalam posisi ini ia diikuti oleh Abul Qasim ibn Rawh an-Nawbakhti, seorang keturunan keluarga Nawbakhti dari Baghdad yang berpengaruh dan kuat. Sebelum menggantikan Muhammad Ibn Uthman, Abul Qasim an-Nawbakhti adalah ajudannya dalam mengumpulkan khumus dari masa Syi’ah. Seperti kedua pendahulunya, ia harus lebih dulu berhadapan dengan para pengklaim saingan, salah satu darinya adalah Muhammad Ibn Ali ash-Shalmaghani yang semula adalah salah seorang kaki tangan darinya. Ia dilaporkan di dalam Kitab Abu Ja‘far at-Tusi – al-Ghaybah yang menyatakan: “Kami tahu secara pasti bagaimana kami dengan Abul Qasim ibn Rawh. Kami dahulu berebut seperti anjing dalam hal ini (tentang menjadi wakil).”

Ketika Abul Qasim an-Nawbakhti meninggal pada tahun 326 AH, ia mewariskan posisi wakil Imam kepada Abul Hasan as-Samarri. Di mana jika tiga wakil yang pertama adalah manipulator yang pintar, Abul Hasan as-Samarri membuktikan dirinya menjadi orang yang lebih berhati-hati. Selama tiga tahun ia sebagai wakil Imam, secara mendadak terjadi berhentinya tawqi‘at. Ketika di ranjang kematiannya ia ditanya siapa yang akan penggantinya, ia menjawab bahwa Allah sendiri yang akan memenuhi hal itu. Hal ini barangkali bisa dilihat sebagai adanya suatu penolakan pada bagian dari dirinya untuk mengabadikan cerita bohong yang telah terjadi dalam kurun waktu yang lama? Ia juga memproduksi suatu tawqi‘at di mana Imam mengumumkan bahwa mulai hari itu hingga hari kemunculannya kembali ia tidak pernah akan bisa dilihat lagi, dan bahwa seseorang yang mengklaim melihat dia selama waktu itu adalah seorang pendusta.

Jadi, setelah kurang lebih 70 tahun, “pintu kontak” terakhir dengan Imam yang tersembunyi tertutup. Syi’ah memasukkan periode ini, di mana ada kontak dengan Imam yang tersembunyi mereka melalui para wakil pengumpul khumus, sebagai keghoiban kecil (al-Ghaybah as-Sughra), dan periode sejak matinya wakil yang terakhir disebut keghoiban besar (al-Ghaybah al-Kubar). Keghoiban besar telah berlanjut selama lebih dari seribu tahun.

Aktivitas para wakil

Ketika seseorang membaca literatur klasik mengenai Syi’ah, di mana aktivitas keempat wakil diuraikan, salah satu yang diserang secara konstan dan terulang adalah tema uang. Mereka hampir selalu disebutkan dalam kaitannya dengan menerima dan mengumpulkan ”uang Imam” dari para pengikut setia Syi’ah-nya. Ada suatu kejutan berupa tidakadanya aktivitas rohani atau akademis apapun. Tidak satupun dari keempatnya dihargai karena telah menyusun sebuah Kitab, di samping fakta bahwa mereka adalah komunitas eksklusif yang terakhir bagi Imam, satu-satunya tempat penyimpanan warisan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam.

Ketika kita melihat pada sumber utama di mana aspek keimanan Syi’ah dibangun, kita menemukan bahwa kebanyakan sumber tersebut ditulis setelah zaman keghoiban besar. Hasil karya, seperti al-Kafi, yang ditulis sepanjang dekade yang belakangan dari keghoiban kecil, jarang berisi suatu acuan kepada masing-masing dari empat wakil sebagai perawi dari Imam yang tersembunyi itu. Sebagai gantinya, laporan itu diisi dengan beribu-ribu laporan melalui saluran lain yang menuju kepada Imam yang keenam dan kelima (Imam Ja’far dan Imam Baqir). Hal itu tentu saja aneh, mempertimbangkan fakta bahwa orang seperti Uthman ibn Sa‘id al-‘Amri diklaim telah berhubungan dekat dengan Imam ke-10, ke-11, sebagaimana halnya dengan Imam ke-12 yang menyembunyikan diri, dan juga fakta bahwa putranya tinggal bersama komunitas Syi’ah yang berhubungan secara terpencil dengan Imam tersebut selama setengah abad. Bukankah akan lebih baik dan lebih meyakinkan bagi seorang pengarang seperti al-Kulayni untuk melaporkan hadith dari para Imamnya melalui Imam yang tersembunyi via wakilnya yang hidup di Baghdad pada zaman yang sama dengannya, dibandingkan dengan jika ia melacak balik laporan itu kepada Imam yang keenam dan kelima melalui banyak sekali saluran yang meragukan?

Tetapi sudah jelas, bahwa ia tidak melakukan hal itu, karena aktivitas dari semua wakil itu tidak secara sungguh-sungguh melakukan pememeliharaan warisan dari Ahl al-Bayt, sebesar semangatnya mengumpulkan kekayaan (khumus) atas nama Imam.

Untuk memecahkan fakta bahwa Syi’ah menjelaskan perlunya Imamah dalam kaitannya dengan kebutuhan akan seorang pemandu yang ma’sum yang bertindak sebagai tempat menyimpan warisan Ahl al-Bayt, namun hal itu nampak sangat ganjil ketika pemandu tertentu ini telah tidak meninggalkan jenis warisan milik Ahl al-Bayt yang dengan jalan tersebut warisan Ahl al-Bayt dapat dikenal. Dengan menganggap bahwa seorang pemandu yang ma’sum itu benar-benar ada, adalah aneh jika pada kenyataannya tetap bersandar pada orang yang dapat berbuat salah seperti Muhammad Ibn Ya‘qub al-Kulayni yang mana Syi’ah harus bergantung pada warisan itu (yaitu Kitab Al-Kafi).

Satu-satunya sedikit informasi yang telah sampai kepada kita mengenai Imam yang tersembunyi adalah pengesahannya terhadap hadith warisan Syi’ah sebagaimana yang direkam oleh Aqa Muhammad Baqir Khwansari di dalam bukunya Rawdat al-Jannat. Ia menulis bahwa Kitab al-Kulayni telah diperkenalkan kepada Imam yang tersembunyi yang melihatnya dan mengumumkan, “Hadha Kaafin li-Shi‘atina” (Ini mencukupi bagi Syi’ah kami). Hal ini adalah secara kebetulan bagaimana Kitab tersebut menerima namanya.

Sebuah laporan seperti ini menciptakan suatu masalah yang sangat besar. Karena laporan itu nampak sebagai suatu pengesahan terhadap isi dari Kitab al-Kafi oleh Imam yang ma’sum (Imam Mahdi). Namun, 9 abad kemudian, muhaddith Syi’ah, Mulla Muhammad Baqir Majlisi, mengumumkan di dalam komentarnya terhadap al-Kafi, yang berjudul Mir’at al-‘Uqul, bahwa 9,485 dari 16,121 kisah dalam al-Kafi tidak dapat dipercaya. Apa yang telah Majlisi ketahui menunjukkan bahwa Imam yang ma’sum sangat tidak peduli terhadap Kitab yang ia telah membuktikan keasliannya, ternyata 60% isinya, di kemudian hari ditemukan bersifat tidak dapat dipercaya?

Evaluasi

Ulama Syi’ah Iraq, Muhammad Baqir as-Sadr, menemukan bukti keberadaan Mahdi yang tersembunyi di dalam apa yang ia sebut sebagai “pengalaman suatu masyarakat”.  Ia berdalil: Keberadaan Imam yang tersembunyi dialami oleh masyarakat Syi’ah secara keseluruhan dengan komunikasi tertulis yang para wakil biasa memberikan kepada mereka.

Hal yang sangat penting dari argumentasi ini adalah pada fakta bahwa pengalaman perorangan boleh jadi diragukan, tetapi tidak pernah bahwa pengalaman tersebut dari keseluruhan masyarakat. Bagaimanapun, kekurangan yang membelalakkan mata pada garis pemikiran ini adalah dengan sengaja melewatkan bagian dari karakter para wakil tersebut sebagai perawi tunggal.

Masyarakat tidak pernah mengalami perlakuan khusus dengan melihat atau bertemu orang yang mereka percayai sebagai pengarang tawqi‘at itu. Pengalaman mereka terbatas pada menerima apa yang para wakil memproduksinya. Bahkan isi dari suatu tulisan tangan yang konsisten pada berbagai macam tawqi‘at yang paling baik adalah berisi tentang kesedihan. Tidak ada jalan bagi seseorang dapat lolos dari fakta bahwa keberadaan Imam yang tersembunyi tidak bersandar pada sesuatupun selain dari penerimaan terhadap kata-kata dari para wakil tersebut.

Aktivitas dari semua wakil lagipula jauh dari menunjukkan bahwa mereka adalah banyak beraktifitas kesalehan. Merka lebih diilhami oleh keinginan untuk memiliki harta dibandingkan dengan perasaan saleh terhadap segala hal.

Maka ketika Syi’ah memperingati kelahiran Imam yang ke-12 mereka pada malam ke-15 Sha‘ban, atau ketika mereka menggunakan hadith dari sumber Sunni yang berbicara tentang 12 (dua belas) khalifah/ amir kepada 12 Imam mereka, maka mari kita bertanya kepada mereka, atas dasar apa mereka menerima keberadaan Imam yang ke-12 ?

Sejarah menyaksikan keberadaan sebelas orang dalam garis keturunan yang spesifik, tetapi ketika kita sampai pada Imam yang ke-12, semua yang kita punyai adalah klaim yang dibuat oleh orang-orang (wakil) yang beraktivitas atas nama Imam tersembunyi mereka, yang memberikan kepada kita semua alasan di dunia untuk mencurigai integritas dan kejujuran mereka.

DALAM ISLAM,  ISU PENTING SEPERTI IMAN TIDAK PERNAH DAPAT DIDASARKAN PADA BUKTI YANG SANGAT MERAGUKAN SEPERTI URAIAN DI ATAS.

4 thoughts on “Imam Mahdi: Fact or Fiction?

  1. dildaar80 says:

    salam kenal..good article..

  2. rayi says:

    wah anda pembrnci Syiah secara halus, tlngg banyak belajar juga

    • Islam saja says:

      Ya mas, saya mengenal dan mulai mempelajari syiah sejak tahun 80-an, anda sejak kapan kenal syiah dan sudah brp lama mempelajarinya?

  3. Ali bin Umar says:

    rayi : Inilah anda sebagai Syi’ah tulen disaat orng berani mengungkapkan fakta2 sesuai petunjuk Al-Quran dan Assunnah yang pada akhirnya fakta yg terungkap bhw pemahaman aqidah syi’ah bertolak belakang dgn Al-Quran dan Assunnah, anda tinggal mencap sebagai pembenci syi’ah…… :v…….. :v haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: