Hadits ala Cina/ “Chinese Whispers”

17

March 5, 2011 by Islam saja

Semua dokumentasi hadits yang saat ini hadir, dan yang dipandang sebagai “Sahih”, yaitu otentik, dikumpulkan lebih dari 200 (dua ratus tahun) setelah kematian Nabi Muhammad. Nabi melarang menulis hadits, dan sebagai hasilnya, kesemua empat Khalifah yang menggantikan Nabi juga melarang menulis setiap hadits tentang Nabi. Nabi Muhammad sendiri ketika dia meninggal tidak tahu tentang buku Hadits apapun. Kami memiliki lebih dari satu hadits dimana Nabi memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak menulis sesuatu dari dirinya selain Quran.

Sekarang kembali tentang “hadits ala Cina”

Proses penyimpangan dari setiap bagian informasi melalui transmisi secara lisan (tutur tinular) dari informasi itu melalui sejumlah orang adalah apa yang disebut “tutur tinular ala Cina”.

Berikut ini adalah contohnya:

Dosen dalam suatu kuliah membicarakan tentang perpindahan informasi secara verbal, mendemonstrasikan efek transfer verbal suatu informasi yang tenyata mengubah pesan aslinya.

Ia menyuruh 10 orang dari para pendengarnya untuk maju. Dia kemudian meminta 9 dari mereka untuk meninggalkan aula, dan kemudian memberikan sepotong kecil kertas kepada salah seorang yang ada di dalam aula untuk membacakannya kepada para penonton …..

Pria itu membaca kutipan dari Alkitab berbahasa Inggris berikut:

“After this Jesus went down to Capernaun in company with his mother and followers and his disciples, but they did not stay there long. As it was near the time of the jewish passover, Jesus went up to Jerusalem. There he found in the temple the dealers in cattle, sheep and pigeons, and the money-changers seated at their tables. Jesus made a whip of cords and drove them out of the temple, sheep, cattle, and all.”

(“Sesudah itu Yesus pergi ke Capernaun dalam satu rombongan dengan ibunya dan pengikutnya dan murid-muridnya, tetapi mereka tidak tinggal di sana lama. Karena telah dekat dengan saat Paskah Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem. Di sana ia menemukan di Biara para pedagang sapi, domba dan merpati, dan para penukar uang duduk di meja mereka Yesus membuat sebuah cambuk dari tali dan mengusir mereka keluar dari kuil, domba, sapi, dan semuanya”).

Setelah itu, dosen tersebut mengambil secarik kertas dari orang pertama dan memasukkannya ke dalam saku. Dia kemudian memanggil orang ke-2 masuk, dan meminta orang pertama untuk mengulangi kepada pria ke-2 kata-kata yang baru saja dia baca dari kertas tersebut.

Pria itu (orang ke-1) mengatakan hal berikut:

“After this Jesus went down to Capernaun in company with his mother and his disciples, and they stayed a long time. After that Jesus went back to Jerusalem. Beside the temple he saw people who were buying cattle and pigeons, he also saw money-changers. Jesus kicked them all out.”

(“Sesudah itu Yesus pergi ke Capernaun dalam satu rombongan dengan ibunya dan murid-muridnya, dan mereka tinggal lama. Setelah itu Yesus kembali ke Yerusalem. Disisi Biara ia melihat orang-orang yang membeli sapi dan merpati, ia juga melihat para penukar uang- Yesus menendang mereka semua keluar.”)

Sekarang dosen tersebut meminta orang ketiga untuk datang dan menyuruh orang yang kedua untuk mengulangi apa yang baru saja didengar dari orang ke-1. Pada gilirannya ia (orang ke-2) mengatakan:

After this Jesus went down to Jerusalem with his mother and some of his disciples and stayed for a couple of days …. After that Jesus went back to the temple. Beside the temple he saw people who were buying cattle and pigs, he also saw money-changers. Jesus shouted at them and told them they were wicked.”

(“Sesudah itu Yesus pergi ke Yerusalem dengan ibunya dan beberapa murid-Nya dan tinggal selama beberapa hari …. Setelah itu Yesus kembali ke biara. Di sisi biara ia melihat orang-orang yang membeli sapi dan babi, ia juga melihat para penukar uang. Yesus berteriak pada mereka dan. mengatakan kepada mereka mereka jahat”).

Sekali lagi orang ke-4 masuk, dan pesan tersebut diulang oleh orang ke-3 dan menjadi sebagai berikut:

One day Jesus was in Jerusalem with his mother where he was for many years …. but one day Jesus left Jerusalem and went to a far away. Beside the temple he saw people who were buying horses and pigs, he shouted at them for having so much money and told them that money was wicked.”

(“Suatu hari Yesus berada di Yerusalem dengan ibunya di mana ia selama bertahun-tahun …. tapi satu hari Yesus meninggalkan Yerusalem dan pergi jauh. Di sisi biara ia melihat orang-orang yang sedang membeli kuda dan babi, ia berteriak kepada mereka karena memiliki begitu banyak uang dan mengatakan kepada mereka bahwa uang adalah jahat”).

Kemudian orang ke-4 menceritakan cerita yang sama itu menjadi:

“Jesus was born in Jerusalem and lived with his mother for many years there …. one day Jesus went to the market place in Jerusalem and in the market he saw people who were riding horses and selling pigs, he shouted at them for having so much animals and money asked them to give their money to charity for it is wicked.”

(“Yesus dilahirkan di Yerusalem dan tinggal bersama ibunya selama bertahun-tahun …. suatu hari Yesus pergi ke pasar yang ada di Yerusalem dan di pasar ia melihat orang-orang yang menunggang kuda dan menjual babi, ia berteriak kepada mereka karena mempunyai begitu banyak binatang dan uang menyuruh mereka untuk memberikan uang mereka untuk amal karena itu adalah jahat”).

Pada gilirannya, orang ke-5 mengatakan hal itu menjadi seperti berikut:

“Jesus was born in Jerusalem and lived with his mother all his life …. one day Jesus went to the market place in Jerusalem and in the market he saw people who were riding horses and selling pigs, he shouted at them for their cruelty to the animals and asked them to give up all their money or to make sure their animals are well fed.”

(“Yesus dilahirkan di Yerusalem dan tinggal bersama ibunya sepanjang hidupnya …. suatu hari Yesus pergi ke pasar yang ada di Yerusalem dan di pasar ia melihat orang-orang yang menunggang kuda dan menjual babi, ia berteriak kepada mereka karena kekejaman mereka kepada hewan dan meminta mereka untuk memberikan semua uang mereka atau memastikan hewan mereka mendapat makanan yang baik”).

Pada gilirannya, orang ke-6 mengatakan hal itu menjadi berikut:

“Jesus was born in Jerusalem and lived near a market place where there were lots of people mistreating the poor pigs and whipping their horses ……… one day Jesus went to the market place and saw those wicked people who were only interested in selling their pigs, they were very loud and rude to him, so he did not reply back but cursed their money and left …”

(“Yesus dilahirkan di Yerusalem dan tinggal dekat pasar tempat dimana terdapat banyak orang yang memperlakukan secara salah kepada babi yang lemah dan mencambuk kuda mereka…..suatu hari Yesus pergi ke pasar dan melihat orang-orang jahat yang hanya tertarik pada menjual babi mereka, mereka sangat keras dan kasar kepadanya, sehingga ia tidak membalas tetapi mengutuk uang mereka dan meninggalkan … “.

Para Pembaca sekarang dipersilahkan untuk membaca kembali kisah pertama dari cerita ini yang dikutip dari Alkitab dan kemudian membaca narasi yang terakhir yang baru narasi ke-6!

Yang juga penting untuk dicatat adalah bahwa kejadian ini terjadi dalam jangka waktu sekitar 10 menit dalam sebuah ceramah, yang berarti semua peserta akan memiliki alasan yang baik untuk mengingat isi pesan tersebut. Apa yang akan terjadi pada kasus ribuan hadits, yang kebanyakan darinya terdiri dari banyak halaman yang panjang yang ditrasmisikan (ditutur-tinularkan) melalui banyak orang dan selama 200 tahun?

Kita juga harus mencatat bahwa sepuluh orang di kuliah tersebut semuanya jujur dan mencoba untuk mengulangi cerita tersebut sebaik yang mereka bisa ingat. Kita tidak bisa menuduh salah satu dari mereka sengaja berusaha merusak cerita yang mereka dengar.

Ini menunjukkan bahwa penyimpangan atau perubahan isi suatu informasi yang disampaikan secara transmisi oral (tutur tinular) tidak disebabkan semata-mata karena karakter buruk atau ketidakjujuran si Perawi (penyampai cerita), tetapi juga karena factor-faktor terkaitt dengan keterbatasan manusia seperti daya ingat, ketajaman pendengaran, kemampuan mengungkapkan isi pikiran secara verbal, terikutnya secara tidak sengaja opini pribadi dll yang akhirnya sedikit demi sedikit mengubah fakta-fakta dari yang sesungguhnya. Dengan demikian, darii contoh ini dapat dilihat bahwa potensi perubahan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Hilangnya beberapa kata karena tidak teringat yang bisa mengakibatkan perubahan secara berarti.
  • Perubahan kata-kata karena mirip bunyinya/ pengucapannya yang juga bisa mengubah makna asal.
  • Pendengar biasanya hanya menyimpulkan isi yang ia dengar dari orang sebelumnya dan disampaikan kepada orang berikutnya dengan tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata dari orang yang menceritakan.
  • Masuknya opini pribadi secara tidak disengaja yang bisa mengubah makna informasi secara keseluruhan.
  • dll

Sayangnya, para ulama hadits telah menilai keaslian setiap hadits terutama dari aspek karakter dari setiap penyampai/ perawi! Jika si perawi itu mempunyai karakter yang baik maka mereka akan memberikan label pada suatu hadits sebagai otentik/ sahih!

Sedangkan dari aspek daya ingat, secara alamiah amat sulit untuk meyakini bahwa para perawi yang manusia biasa seperti manusia hari ini mampu mengingat rangkaian kata secara sama persis dengan rangkaian kata aslinya tanpa adanya pengurangan, penambahan dan perubahan sedikitpun.

Sebuah kisah yang diceritakan secara oral menembus waktu 200 tahun yang dilakukan oleh 6 sampai 10 orang yang berbeda dalam rantai periwayatan, tidak mungkin bisa tetap asli dengan cara apapun. Bahkan kisah yang disampaikan dalam rentang waktu 10 menit pun sudah berubah secara siginifikan.

Oleh karena itu seorang mukmin/ muslim semestinya menolak setiap hadits yang ISINYA tidak sejalan atau bertentangan dengan Al-quran. Dan menerima hadits yang sejalan dengan Al-Quran sebagai semata-mata informasi sejarah yang bisa benar dan juga bisa salah karena sekalipun ISINYA sejalan dengan Al-Quran, namun belum tentu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya mengingat masih bisa mengalami distorsi secara tidak disengaja sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Kita tidak perlu heran ketika Allah dengan jelas menyatakan kepada kita dalam Al-Quran untuk tidak mengikuti hadits selain Quran.

” Maka kepada HADITS apakah selain (Al-Qur’an) ini mereka akan beriman?” 77:50

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan HADITS manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.” 45:6

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan HADITS yang tidak berguna (LAHWALHADITS) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. ” 31:6

“Allah telah menurunkan HADITS yang paling baik (AHSANALHADIITS) (yaitu) sebuah Kitab (Al Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya..” 39:23

“Maka hendaklah mereka mendatangkan HADITS yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. ” 52:34

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan HADITS ini (Al Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui” 68:44

Ibn Khaldun wrote: “I do not believe any hadith or report of a companion of the Prophet to be true which differs from the common sense meaning of the Qur’an, no matter how trustworthy the narrators may have been. It is not impossible that a narrator appears to be trustworthy though he may be moved by ulterior motive. If the hadiths were criticized for their textual contents as they were for the narrators who transmitted them a great number would have had to be rejected. It is a recognized principle that a hadith could be declared spurious if it departs from the common sense meaning of the Qur’an from the recognized principles of the Shari’ah [The Law of Islam], the rules of logic, the evidence of sense, or any other self-evident truth.” This criterion, as given by the Prophet as well as ibn Khaldun, perfectly accords with modern scientific criticism.” (http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/MH_LM/preface_to_the_second_edition.htm)

“Saya tidak percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya. Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber-sumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan: bahwa tanda hadis maudzu, (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya.” (dikutip dari link berikut: http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Pengantar7.html)

Artikel terkait:

  1. https://muslimsaja.wordpress.com/2010/09/24/apakah-al-hikmah-itu-sunnah-hadits/
  2. https://muslimsaja.wordpress.com/2010/09/04/jejak-sejarah-larangan-penulisan-hadits/
  3. https://muslimsaja.wordpress.com/2010/09/01/kejahatan-terhadap-islam/
  4. https://muslimsaja.wordpress.com/2010/09/01/mengenal-lebih-jauh-al-zuhri-1/

17 thoughts on “Hadits ala Cina/ “Chinese Whispers”

  1. kangmomod says:

    Bagaimana anda menilai dan membandingkan dengan bukti bahwa Quran telah dihafal selama ribuan tahun?

  2. Hotman says:

    misalnya di sahih bukhari, aisyah megatakan surat al ahzab sama panjangnya dgn surat al baqarah.. tapi karena dimakan unta, maka surat al ahzab hilang sebagian.. !!!

  3. maze says:

    TULISAN ANDA BENAR-BENAR MENDUSTAKAN SYARIAT ISLAM !!!! ,
    Hadist yang diterima qt sekarang adalah sejarah biografi Rasulullah (perkataan perbuatan Rasulullah), adalah sudah melalui proses ilmiah, artinya ada proses tabayyun, croschek, dari sanad sampai pribadi perawi pun di jaga (di urai) kepribadiannya, apakah dia pembohong atau suka pelupa.

    Ada catatan untuk anda,

    Pertama, Derajat hadist itu ada tingkatannya, artinya hadist yang sahih adlah hadist yang benar2 ilmiah, semua sepaham (artinya banyak saksi dan banyak hadist yang sekata (banyak hadist yang menceritakan suatu masalah).

    Kedua, Anda berani2nya merubah2 Alquran.

    tulisan di web itu (“Allah telah menurunkan HADITS yang paling baik (AHSANALHADIITS) (yaitu) sebuah Kitab (Al Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya..” 39:23)

    kalau di telusuri 39:23 adalah ayat Az-zumar surah yang ke 23 bunyinya :
    “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa [mutu ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang [1] gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”

    Ketiga, Baru kali ini Ibnu khaldun bisa berbahasa inggris, artinya anda rujukannya dari qitab orang2 kufar

    Ke empat, di halaman paling atas, Muslim Tanpa embel-embel Suni, Syiah atau lainnya. Islam yang Qurani dan mencerahkan.
    itu tidak sesuai dengan syariat Islam, memang Islam adalah Islam, tapi ingatkah anda bahwa golongan yang selamat adalah ahli sunnah waljamaah (Sunni).

    Kesimpulannya anda adlah INGKAR SUNNAH

    • sasok jarami says:

      inkarussunnah tutur tinular, apa konsekuensinya menurut Alquran, Tuan? Inkarussunnatullah konsekuensinya, sudah jelas : FASIQ…
      Memang pilihan yang sulit, ketika kita diminta memaksakan diri mempercayai hadits yang bahkan telah bertentangan dengan kandungan Alquran sendiri.

      Inilah ujian abadi buat kaum muslim, memilih mana yang terbaik : Alquran atau hadits.
      Salam

    • Quranist Memurnikan Sunnah Rosûl says:

      @maze
      KUTIP TULISAN ANDA..
      “Kedua, Anda berani2nya merubah2 Alquran.

      tulisan di web itu (“Allah telah menurunkan HADITS yang paling baik (AHSANALHADIITS) (yaitu) sebuah Kitab (Al Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya..” 39:23)

      kalau di telusuri 39:23 adalah ayat Az-zumar surah yang ke 23 bunyinya :
      “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa [mutu ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang [1] gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya””

      JAWABAN SAYA..
      sdr. maze, anda sepertinya tidak tahu ataukah bahkan justru pura-pura tidak tahu?!😀
      AHSANALHADIITS itu adalah KATA-KATA ASLI ayat Al-Qur’ân (dalam bahasa Arab), yang memang diterjemahkan menjadi “perkataan yang paling baik” dalam versi terjemahan Dep.Ag.
      Kok bisa-bisanya anda menuduh bahwa penulis telah merubah2 Al-Qur’ân??😀

      Dan memang benar Al-Qur’ân adalah hadîts (perkataan) yang terbaik, oleh sebab itu dalam mempelajari hadîts-hadîts yang ada sekarang ini, hendaknya kita tetap mengujinya dengan Al-Qur’ân, karena secara jujur harus diakui bahwa ada sebagian hadîts yang secara sanad memang shohîh namun bertentangan dgn Al-Qur’ân, bila ditinjau dari segi matan/matn (isi, kandungan) hadîts tsb. Bahkan faktanya sekalipun yang berada di kitab Shohîhain (Bukhôrî & Muslim) sekalipun, didalamnya ada sebagian hadîts-hadîts yang bertentangan dengan Al-Qur’ân.
      Jadi keshohîhan hadîts tsb. jadi gugur dengan sendirinya apabila matn-nya bertentangan dengan Al-Qur’ân, dan harus kita tolak keshohîhannya,…kecuali jika anda memang tetap memilih untuk mengimani hadîts-hadîts yang bertentangan dgn Al-Qur’ân tsb, yang secara otomatis pula anda menjadi INKAR AL-QURÂN..😀
      Dan mengingkari sebagian hadîts yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’ân, bukanlah sikap inkar As-Sunnah; saya memahami sebaliknya, justru sebagai PEMURNIAN terhadap As-Sunnah Nabawiyyah itu sendiri. Sunnah (perkataan, perbuatan, taqrîr/persetujuan, ketetapan) Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’ân.
      Hadîts-hadîts yang matn (isi, kandungan)-nya bertentangan dengan Al-Qur’ân, maka itu BUKANLAH BAGIAN DARI SUNNAH NABI, sekalipun hadîts-hadîts itu telah dijamin shohîh dari sisi sanad.
      Oleh karena itu, sebenarnya apabila anda tetap mengimani hadîts-hadîts yang bertentangan dengan Al-Qur’ân, maka sesungguhnya anda telah menjadi seorang INKAR AL-QUR’ÂN sekaligus menjadi INKAR AS-SUNNAH juga…😀

  4. Salim Aziz says:

    Memang cape menjelaskan kpd org yg akalnya sdh di COR.
    Dalil qur,an ogah,dalil sejarah yg terulis dgn jls pun mboten purun. Pokoknya stempel lgsg INKAR SUNNAH,mmg sulit bicara sm org2 INGKAR QUR,AN.

  5. reda sparrow says:

    jd kesimpulan dr artikel ini apa ya…

  6. Muawiya says:

    Tulisan ini sangat bagus.
    Menjelaskan kelemahan metoda pensahihan sebuah hadits oleh ulama jaman dulu, yang terlalu menekankan ke pribadi seorang perawi.
    Seorang yang shalih dan tsiqah, belum tentu mengatakan yang benar walaupun dia tidak berbohong.
    Lagipula penetapan seseorang perawi itu tsiqah atau tidak, masih menggunakan metoda subjektif

  7. Nick says:

    Tulisan anda ini sangat menarik, tapi biarlah saya akan telaah lebih lanjut untuk dapat memahami sepenuhnya. Termakasih saudaraku, jangan bosan2 menulis karena saya tidak bosan membacanya,

  8. Nick Aslan says:

    Membaca tulisan ini pikiran saya jadi terbuka, mengapa kita percaya dengan penulis hadits yang banyak bertentangan antara satu penulis dengan penulis lainnya.. Allah menjamin hadits (perkataan) Nya serfta sunnah (ketentuan ) Nya lah harus di yakini/imani yang sudah pasti membawa kita kejalan yang benar.

  9. amri sanjaya moehammad says:

    Mohon maaf dengan sangat, untuk contoh2 “tulisan ke 6 orang” perihal Yesus, sepertinya tidak mengena dijadikan acuan “tutur tinular ala cina”
    Sebab cerita-cerita yang bervariasi tsb sangat…sangat mengandung pesan “yang sama”. BILA kita telah MAMPU memahami (Din) apa yang “tersirat” dari kata-kata dalam kalimatnya.

    Untuk paparan perihal “hadist-hadist juga sanadnya” sepertinya kita se”Din”.

    Salam hangat dan sambung kasih

  10. esteh says:

    anak kecil yang belum bisa membaca sudah mampu menghafal alquran apakah belum membuktikan bahwa bukan yang tertulis saja yang bisa dibenarkan, kemudian jika kita belajar dan sering kita ucapkan akan hafal dengan sendirinya, jadi kalau logika cina digunakan untuk menolak hadizt adalah salah, karena metode cina biasa kita sebut gibah, sedangkan hadist adalah dari hasil menghafal

    • Islam saja says:

      Memang hal itu terjadi dan bisa kita lihat di zaman ini. Namun contoh anda beda dengan proses ketika seorang perawi ke-1 (para sahabat Nabi) mendengar apa-apa yang diucapkan Nabi. Amat sangat sedikit atau bahkan mungkin tidak ada di dunia ini orang yang mampu mengulang kata per kata ucapan orang lain yang ia dengar, kecuali ucapan itu didengarnya berulang-ulang, seperti kasus menghafal al-Quran, hadits setelah dibukukan atau menghafal Pancasila dan pemmbukaan UUD 45 yang diulang-ulang. Zaman ini orang2 mampu menghafal Pancasila dan bahkan pembukaan UUD 45 karena dibacakan kepada mereka setiap upacara hari Senin.

      Nah, apakah Nabi ketika berucap atau berdakwah tentang suatu masalah itu sering diulang-ulang dengan menggunakan susunan kalimat yang sama persis? Kalau jawabnnya “ya” tentu akan banyak diingat oleh para sahabat (perawi ke-1).

      Coba anda bayangkan, didoktrinkan kepada kita bahwa konon Nabi melakukan sholat kurang lebih seperti yang dilakukan oleh muslimin zaman kita. Ini berarti Nabi pernah melakukan paling tidak sholat shubuh yang 2 rokaat itu sebanyak 4000 kali lebih yang disaksikan oleh ribuan sahabat Nabi (par perawi hadits pertama). Namun faktanya, TIDAK SATU ORANGPUN sahabat Nabi yg mampu mengingat apa yang mereka saksikan tentang ini, sehingga pada saat ini kita tidak menemukan laporan bagaimana Nabi Sholat shubuh yang hanya 2 rokaat itu sejak dari takbir hingga salam secara lengkap gerakan dan bacaannya. Padahal melaporkan apa yang dilihat itu lebih mudah dari pada melaporkan ulang ucapan orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: