Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (9)

Leave a comment

October 12, 2010 by Islam saja

BAGIAN- 18

PENGUNGKAPAN SELANJUTNYA

Marilah sekarang kita klarifikasi lebih lanjut tentang isu tertentu.

1. Tolong lihat kembali buku harian Hur bin Abdur Rahman pada Bab 11.

Manusia istimewa ini adalah salah seorang gubernur Andalusia (Spanyol) selama pemerintahan Hazrat Umar bin Abdul Aziz (99 – 101 AH). Buku hariannya menceritakan kepada kita bahwa:

Hazraat Ali, Hasan dan Hussain secara berturut-turut adalah para gubernur Iraq. Hazraat Ali dan Hussain mengorbankan hidup mereka di kantor bergengsi tersebut. Integritas, kewaspadaan dan kompetensi mereka telah mengubah Irak yang pada masa kini sedang tidak beruntung menjadi sebuah surga di atas bumi. Ketika Jamshed Khurasani membunuh Hazrat Ali dan Jaban bin Harmuzan membunuh Hazrat Hussain, para komplotan Persia dengan gembira mengira bahwa mereka telah memberikan pukulan fatal kepada Kekhalifahan Islam dan bahwa Iraq akan jatuh ke pangkuan mereka. Namun ternyata sebaliknya, darah Hazraat Ali dan Hussain tidak tumpah dengan sia-sia.

Kemudian, para kurir yang berasal dari Damascus (kota besar Kekhalifahan) menceritakan bahwa pada tahun 100 AH Kufa, Basra dan… (tidak dapat dibaca) di Iraq adalah lebih makmur dibandingkan dengan Syria, Palestine dan Mesir.”

2. Meezanul Faris (Timbangan Persia) karangan Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi.

Kita sudah mencatat pada Bab 13 bahwa Hazrat Uthman menjadi Amirul Mu’mineen (Pemimpin orang-orang beriman) selama 12 tahun setelah kesyahidan Hazrat Umar pada tahun 23 AH. Selama masa pemerintahan Hazrat Usman sebagai Khalifah di Madinah, Hazrat Ali masih tetap sebagai gubernur Iraq yang ditetapkan oleh Kalifah dengan Koofa sebagai ibukota propinsi.

Sebuah buku yang bagus sekali, Meezanul Faris yang diterbitkan di Iran karangan Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi mempunyai dua bab yang terperinci yang menguraikan sebuah gambaran yang indah jaman Hazrat Usman yang dermawan. “Adalah sebuah model Negara dengan keadilan, persamaan hak, kedamaian, tenang, maju dan makmur yang patut dicontoh.” Buku Meezan menggunakan sumber masa lampau tentang sejarah Khilafat-Rashida (Kalifah yang dipandu). Banyak dari sumber ini telah ditemukan baru-baru ini di Istanbul dan Spanyol. Tidak terlalu mengejutkan, bahwa buku tersebut telah dibuang di Iran.

3. Dalaail-an-Nabuwwah Syedina Muhammad (Analisa Logis Kenabian Muhammad, Pemimpin kita) oleh Abdul Jabbar Fatimi

Sekarang kita mengacu kembali pada Bab 9. Hanya satu naskah tulisan tangan dari buku Abdul Jabbar Qaramati yang ada di Musium Istanbul.

Yang terhormat Pimpinan Dewan Konsultatif kita, Allama Zeeshan Qadri Naqshabandi telah mendapatkan kesempatan istimewa untuk melihat naskah buku unik ini. Pengarang dari naskah Arab ini, Abdul Jabbar Qaramati, sepertinya adalah seorang yang beriman dan benar-benar seorang pengagum Nabi yang agung. Meskipun demikian sekte ‘Qaramati” kemungkinan tidak lebih dari hanya sekedar kepercayaan yang diatributkan kepadanya untuk mencemari namanya, Abdul Jabbar nampak seperti orang yang sepenuhnya bebas dari semua sektarianisme.

Karena tinggal lama di Jordan, salah satu dari pembaca, Fouad Hoffmann (tidak ada hubungannya dengan Murad Hoffman), beliau mampu berbicara dan membaca Arab dengan fasih. Terjemahkan berikut ini adalah beberapa kutipan dari buku tersebut yang dicopy oleh Fouad Hoffmann:

“Apa yang bisa dijadikan sebagai sebuah argumentasi yang lebih untuk mendukung kebenaran dari Kenabian Muhammad (S) dibandingkan dengan fakta bahwa 250 tahun setelah Beliau meninggal, Beliau masih sebagai cahaya mercusuar bagi semuanya?”

“Ummah Muslimin mendapatkan hadiah seorang permata langka dalam pribadi yang terhormat Abu Bakr Siddiq. Salam hormat kepada Abu Bakr! Dialah yang menjaga Sistem tetap bersemangat setelah Nabi (S).”

“Salam hormat kepada Hazrat Umar- Ia memelihara Ummah Muslimin terhadap reaksi negatif atas malapetaka hilangnya Nabi dan penggantinya!”

“Salam hormat dalam kaitannya dengan Uthman yang dermawan, Uthman dua cahaya yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh yang terhormat Umar Farooq dari tahun 23 hingga 35 AH sedemikian baiknya sehingga Kekhalifahan tetap aktif bekerja dengan baik.” [Perhatikan hahwa dongeng yang dianggap terjadi tentang adanya pemberontakan sepanjang pemerintahan Hazrat Uthman secara pasti tidak dikemukakan oleh Qaramati. “ Tentang ”Dua cahaya” adalah julukan kepada Hazrat Uthman yang menunjukkan bahwa ia menikahi putri kedua Nabi yang agung setelah yang putri Nabi yang sebelumnya meninggal]

“Salam hormat kami kepada Ali Ibn Abi Talib- Ia masih tetap sebagai gubernur Iraq (13-40 AH), provinsi utama kami, yang dengan penuh kedamaian memimpin Kekhalifahan mulai dari tahun 35 hingga 40 AH.”

“Madinah, sebagai pusat Kekhalifahan, telah menjadi pusat kegiatan dari intrik (tipu daya) kaum Majusi dan Yahudi. Adalah strategi yang berpandangan jauh dari Hazrat Ali sehingga Beliau memindahkan ibukota negara Islam dari Madinah ke Koofa pada saat yang tepat.”

“Bahkan hingga hari ini (sekitar 280 AH) Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan.”

BAGIAN- 19-

PENUTUP

Sebuah Kebaikan- Sebuah Buku- Sebuah Permintaan

1. KEBAIKAN

Para pembacaku yang terhormat masih tetap melakukan suatu kebaikan yang besar dengan cara mengirimi saya buku-buku, tulisan dan artikel yang langka, yang diluar jangkauanku. Atas sikap yang baik ini, saya tetap merasa berhutang kepada mereka.

2. SEBUAH BUKU

Ad-Deen Wad-Daulah (Agama dan Negara)

Karangan Ali bin Sahl Raban, yang dditulis pada tahun 205 AH.

Ketika baris-baris sedang ditulis, saya menerima dari seorang wanita Arab di Madinah, Versi bahasa Inggris sebuah buku Arab yang langka, Ad-Deen Wad-Daulah.

Pengarangnya lahir pada tahun 160 AH yang berarti bahwa ia mendahului sejarawan yang sangat terkenal Tabari yang baru lahir 64 tahun kemudian, yaitu tahun 224 AH. Penyelidikan awal buku tersebut mencerminkan bahwa pengarangnya benar-benar mencintai Nabi yang agung. Ia telah mengumpulkan ramalan dalam Alkitab (Bibel) tentang kedatangan Nabi Muhammad dengan referensi yang banyak dan ketrampilan yang baik sekali. Ali bin Sahl bin Raban adalah seorang sarjana Bibel dan mempunyai minat yang besar dan keahlian berdialog dengan Yahudi dan Kristen.

Pada prakata buku tersebut, Adil Nowaihidh dari Penerbit Darul Afaq dari Beirut berkata bahwa Ali bin Sahl bin Raban telah menyempurnakan dan bekerja dengan penuh keadilan terhadap masalah tersebut.

Bukunya berkata:

“Para Pengikut Nabi dan mereka yang memperkenalkan Islam kepada yang lain adalah orang-orang yang benar-benar sholeh.

Adalah dikarenakan kemuliaan Nabi yang agung sehingga individu-individu dengan status yang tinggi seperti Hazraat Abu Bakr, Umar Ibn Khattab, Uthman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib menjadi bintang-bintang Ummah.

Ummah yang diberkati selanjutnya adalah para laki-laki dan wanita terhormat berikut:
Hasan bin Ali

Hussain bin Ali

Abdullah Bin Zubair

Abdul Malik

Waleed Bin Abdul Malik

Muhammad Bin Hanfia

Abdullah Bin Umar

Abdur Rahman bin Abu Bakr

Khadijah

Ayesha

Fatima

Zainab

Karimah [Isteri Umar bin Abdul Aziz]

Juga dikarenakan adanya pelatihan dari Nabi yang agung sehingga tidak ada perselisihan di antara Ummah Muslimin tersebut. Nama-nama di atas dan yang lainnya menyebar seperti bintang. Mereka semua telah hidup sebagai contoh bahwa, “Semua orang beriman adalah bersaudara satu sama lain” hingga hari ini (205 AH).

Tidak ada kekuasaan di atas bumi yang dapat menghentikan pergerakan cepat Islam. Dengan pesan yang mulia ini, tipu daya apapun yang pernah dicoba, mereka akan mati secara alami.”

PEPERANGAN JAMAL, SAFFAIN, NEHRWAN DAN KARBALA ADALAH FIKSI

Kutipan-kutipan dari Ad-Deen Wad-Daulah di atas dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa laporan-laporan tentang adanya kerusuhan internal di kalangan pemerintahan Muslimin seperti peperangan Jamal, Saffain, Nehrwan, dan Karbala adalah tak lain hanyalah usaha menjijikkan yang bersifat memecah belah dari para sejarawan kita.

1. PERMINTAAN

Ijinkan saya untuk berkata lagi bahwa buku ini telah mengkritik sejarah dan para sejarawan. Saya tetap masih sangat menghormati para sahabat Rasul, dan kepada keluarganya. Keturunan harus dibedakan dengan keluarga. Ketika keluarga secara langsung diurus oleh Nabi yang agung, sedangkan keturunan tidak mempunyai keuntungan itu dan banyak di antara mereka telah menjadi jahat dalam karakter mereka sebagaimana yang diperlihatkan sepanjang sejarah.

Dengan kerendahan hati, saya sampaikan bahwa saya tidak menganggap penemuan atau pemikiran saya untuk dicatat dalam sebuah prasasti, tetapi riset saya ini saya lakukan dengan tulus hati. Dan saya terbuka bagi usul dan kritik. Tentu saja, saya menghormati hak-hak para pembaca untuk berbeda dengan saya. Tolong yakinlah bahwa Shabbir Ahmed tidak ada hubunganya dengan sekte apapaun. Buku saya Islam Kay Mujrim (Para Penjahat Islam) adalah bukti nyata di mana saya dengan kritis menguji kepercayaan yang non-Quranic dari semua sekte. Menurut Al-Quran, memilih sebuah sekte termasuk kategori musyrik (politheisme) dan mereka yang menjadi anggota sebuah sekte akan kehilangan ikatan dengan Nabi yang agung. Akhirnya, marilah kita simpulkan buku ini dengan sebuah perkataan Hazrat Ali:

“Jangan lihat siapa yang berkata, tetapi lihat apa yang dikatakan.”

Dengan hormat,

Shabbir Ahmed, M.D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: