Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (8)

Leave a comment

October 12, 2010 by Islam saja

BAGIAN- 17

REAKSI TERHADAP CETAKAN PERTAMA

Cetakan pertama dari buku ini telah diterbitkan pada bulan Agustus 2000. Lebih dari sepuluh ribu buku dari edisi ini telah terjual dan dibagi-bagikan secara cuma-cuma selama akhir delapan bulan. Berikut adalah ringkasan komentar terhadap versi bahasa Urdu dari Karbala: Fakta atau Fiksi?

Telah disebutkan oleh Al-Quran bahwa sektarianisme adalah serupa dengan Syirik (Politheisme). Seseorang yang mengidentifikasi dirinya dengan sebuah sekte maka putus semua ikatannya dengan Nabi yang agung. Meskipun demikian, kami telah mengamati sepenuhnya perbedaan reaksi pada buku kami dari kaum yang disebut Sunni dan Shi’ah.

Sunni secara berkelimpahan menerima buku tersebut. Mereka berkomentar sebagai berikut:

* Setelah membaca buku ini kita merasakan bahwa kami telah dibangunkan dari tidur.
* Ini merupakan sebuah pembebasan yang menyenangkan dari penipuan besar yang diputar oleh para sejarawan dan perawi terkemuka kita.
* Kita pernah mendengar cerita Karbala sejak masa kanak-kanak. Tetapi dogma, cerita dan praktek tertentu tidak dengan tiba-tiba menjadikannya jelas.
* Kita pernah membaca dan mendengarkan cerita aneh seperti itu yang nampak menghina akal sehat. Barangkali kita terlalu mudah tertipu.
* Dalam mengemukakan cerita Karbala, Imam Tabari telah dengan sungguh-sungguh mencaci para Sahabat dan menghina Nabi yang agung.
* Beberapa pembaca merasa seharusnya telah ada uraian yang lebih detail perihal Hazrat Hussain sebagai gubernur dan pembunuhannya oleh Jaban.
* Beberapa pembaca yang lain berkomentar bahwa buku ini nampak berakhir secara tiba-tiba.

Komentar ini akan dimuat kedalam edisi berikutnya, In-sha-Allah.

Untuk menangkap kembali beberapa poin, adalah sangat sulit untuk memaafkan kepercayaan masa lampau kita. Dalam konteks ini adalah penting untuk menyebutkan bahwa tidak lain hanyalah Tabari bin Rustam yang menyusun cerita Karbala 240 tahun setelah pembunuhan Gubernur Imam Hussain. Dan ia menyandarkan dugaan kejadian Karbala kepada Abu Mukhnif yang meninggal 50-100 tahun sebelum Tabari dilahirkan. “Abu Mukhnif berkata ini dan menulis itu.” Tetapi ia telah meninggalkan tak satupun sisa catatan ! Dongeng yang kita dengar sejak masa kanak-kanak menjadi berurat berakar dalam kepribadian kita. Karenanya, kebanyakan orang tidak akan mendengarkan penjelasan apapun terhadap apa yang telah mereka sanjung.

Aku dapat mengatakan berdasarkan pengalaman pribadi bahwa hanya sekitar sepuluh persen dari muslimin yang mempunyai fleksibilitas cukup untuk terpikat dengan gagasan baru di luar arus mayoritas. Cara berfikir yang revolusioner adalah terlalu besar untuk sukses. Secara kebetulan, selalu sebuah minoritas yang diperlukan untuk memecah berhala dari pola yang sudah terbentuk. Mayoritas tersebut kemudian akan mengikutinya.

Sepuluh persen dari pembaca Shii kita yang patut dimuliakan, baik lelaki maupun perempuan, telah berkata bahwa kebenaran telah terbit pada jiwa mereka. Maka, mulai sekarang mereka tidak akan melakukan Maatam (Memukul dada) pada bulan Muharram.

Duapuluh persen dari para pembaca Shii berseru bahwa studi ini nampak berdasarkan pada fakta, tetapi jalan apa yang sebaiknya ditempuh sekarang?! Aku telah menceritakan kepada mereka bahwa masalah ini adalah sederhana. Mereka semestinya merengkuh kembali Kitab Allah. Tidak ada penafsiran yang dibuat-buat dalam Kitab tersebut. Olok-olok terhadap Al-Quran yang disebut ‘maksud/ makna yang tersembunyi’ harus dibuang. Para Mullah baik masa kini atau zaman dulu dan bagaimanapun besarnya nama mereka semestinya tidak diikuti tanpa suatu pemeriksaan. Keyakinan yang buta merupakan bagian dari kekafiran. AL-Quran harus ditafsirkan dengan al-Quran sendiri dan bukan oleh sejarah, tradisi/ hadits dan dugaan dari Shan-An-Nuzool (keadaan seputar turunnya wahyu). Beberapa prinsip berikut adalah sangat jelas:

1. Keturunan tidak akan menganugerahkan martabat pada siapapun. Di hadapan Allah terdapat satu-satunya kriteria untuk keunggulan, yaitu karakter. Apakah itu Umayyah atau Banu Hashim, jika kekhalifahan dengan cara pewarisan dari bapak kepada anak lalu kepada cucu, maka sistem seperti itu adalah kerajaan yang bertentangan dengan AL-Kitab.
2. Menurut AL-Quran, semua persoalan Muslimin termasuk kekhalifahan semestinya ditetapkan melalui konsultasi timbal balik (musyawarah).
3. Menjadi seorang penguasa pada Sistem yang ditetapkan secara Ilahiah adalah sebuah tanggung jawab yang luar biasa. Orang yang benar-benar beriman seperti para Sahabat tidak akan mendambakan kekuasaan maupun menuruti kesenangan diri dengan mengadakan peperangan untuk mendapatkan kekuasaan seperti halnya kebiasaan politisi masa kini. Dahulu mereka menganggap bahwa kekhalifahan adalah sebuah beban. Hazrat Ali dan keluarganya tidak akan mengharap-harapkan kekuasaan. Dalam penggambaran mereka yang tamak dan dahaga akan kekuasaan, berarti para sejarawan telah bersalah karena secara tidak langsung telah menghina mereka.
4. Karena bagi seorang yang beriman, harta dan kekayaan adalah tak lain hanyalah hiburan yang cepat berlalu. Mereka tidak akan merasa kehilangan atas sebidang tanah atau properti demikian juga mereka tidak akan mempedulikan kekuasaan.
5. Selama masa kehadirannya, Nabi yang agung menghapuskan „thaar“, rantai balas dendam atas pembunuhan, generasi demi generasi. Al-Quran dengan kuat mengumumkan bahwa tidak ada seorangpun yang akan membawa beban orang lain dan semua orang akan bertanggung jawab atas tindakan dirinya sendiri. Sehingga anjuran untuk pembalasan dendam akan menghasilkan tidak lain hanyalah kedengkian dan rasa dendam. Di AL-Quran, prinsip Qisas (Hukum balas) secara spesifik diterapkan terhadap pelanggar melalui suatu pengadilan, bukan terhadap anak-anak pelanggar atau cucunya.
6. Al-Quran menceritakan kepada kita untuk tidak mengikuti dugaan karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban (17:36). Nabi yang agung berkata, “Adalah cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang pendusta ketika seseorang menyampaikan kepada orang lain apa yang telah ia dengar.” Cerita Karbala mengandung kabar burung dari Tabari yang hanya berdasarkan pada “Abu Mukhnif berkata ini, Abu Mukhnif berkata itu.” Dengan penyebaran yang intensif ini, ia mempromosikan persekongkolan musuh-musuh Islam. Apakah Karbala bukan sebuah cerita yang hanya berdasarkan pada kabar burung?
7. Allah memerintahkan kepada mukminiin untuk tidak bersedih pada apa yang hilang (3:153). Sekarang, bukankah mempraktekkan upacara perkabungan, ratapan dan pemukulan dada secara nyata bertentangan dengan Al-Quran? Apakah Hazrat Hussain dan keluarganya memperkenalkan penggambaran duka cita dan ratapan seperti itu? Tidak, berdasarkan pada otoritas Al-Quran, para Sahabat sebagai mukminin adalah orang yang tidak takut atau berduka berlama-lama..
8. Al-Quran berkata lebih dari sekali, “Kamu tidak akan pernah melihat Hukum Allah berubah”. Oleh karena itu, mukjizat pada para Imam tidak lebih dari sekedar dongeng belaka. Hukum sebab-akibat adalah salah satu dari hukum Ketuhanan yang tidak dapat diubah di alam semesta sebagaimana berulang-kali dinyatakan oleh AL-Quran.
9. Menurut al-Quran, hakim yang paling akhir adalah Allah. Tidak seorangpun akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh generasi sebelumnya. ‘Mengkapling” surga dan neraka kepada para sahabat Nabi, mengutuk orang-orang zaman dahulu; dan pendewaan kepada sebagian dari mereka, akan dapat menciptakan perpecahan dan kebencian. “Mereka yang tinggal di masa lalu akan kehilangan masa depan,” kata Cisero.
10. Al-Quran tidak memerintahkan kita untuk merahasiakan kebenaran. Oleh karena itu, prinsip palsu Taqiyyah (merahasiakan kebenaran dan memperlihatkan kebohongan) harus dibuang.

Beberapa ulama Shii mempertahankan pendapatnya bahwa kepala Hussain yang dipenggal membaca al-Quran dan hal itu merupakan mukjizat. Lebih lanjut, beberapa ulama lainnya menyatakan, “Kami menerima bahwa Imam (Mahdi) dilahirkan dari paha ibu mereka, atau kepala yang dipenggal membaca Al-Quran adalah hal yang tidak logis. Namun demikian, mempercayai hal itu memperkuat Iman.” Apakah hal itu benar-benar terjadi? Itu tidak lebih dari membuka sebuah kaleng cacing yang utuh dan secara intelektual kaum muda memperolok-olok dogma-dogma seperti ini sebagai lelucon.

Di tengah-tengah kegundahan para Mullah pada cetakan pertama, saya diingatkan oleh penyair terkemuka, Syekh S’adi, “Diam adalah bantahan yang terbaik kepada yang bodoh.”

Karya ini didasarkan pada menjadikan Kitab Allah sebagai ukuran, dan tulisan dari para alim ulama telah diteliti dengan Cahaya Al-Quran. Sekarang para pembaca dapat membentuk pendapat mereka sendiri.

Ketika baris-baris ini sedang ditulis, seorang yang lebih tua dari Texas telah mengomentari bahwa sebuah suara yang terasing dari suatu kebenaran akan dengan mudah ditenggelamkan dalam kegaduhan mesin propaganda yang hebat dari para alim ulama. Saya setuju bahwa para alim ulama kita selalu merupakan rintangan yang paling besar dalam perubahan. “Ulema” masa lampau adalah sumber mata pencaharian bagi para alim ulama masa kini. Namun demikian, hal ini dengan cepat akan berubah. Terutama sejak munculnya internet, Muslimin pada khususnya menemukan apa yang selama ini dirahasiakan dalam volume buku yang sangat besar atas nama Islam. Saya berkata dirahasiakan karena masyarakat awam jarang memperoleh buku yang sangat besar ini dan hanya para alim ulama kita yang mempunyai waktu dan akses untuk membacanya.

Kurang dari satu tahun, ratusan ribu individu di seluruh dunia telah setuju dengan riset saya yang sederhana tentang ”Karbala: Fakta atau Fiksi” dan juga buku ”Para Penjahat Islam”. Orang-orang ini datang dari berbagai sekte Islam. Sekarang mereka tidak lagi bertahan pada sekte apapun tetapi menyatakan diri mereka secara sederhana sebagai Muslimin. Yang menggembirakan adalah bahwa diantara mereka adalah para pengikut Syiahh yang telah terbebaskan dari meratap dan memukul dada secara terus menerus.

Para pembaca yth.! Perlu ditegaskan kembali bahwa saya benar-benar menghormati Ahlul Bait (keluarga Nabi yang agung) lebih dari yang para sejarawan masa lalu yang secara de facto telah menghina mereka dengan berkedok penghormatan seperti yang sudah anda lihat.

Setiap langkah aku menyalakan sebuah lilin dengan darah jantungku

Seseorang boleh jadi mengikuti jalan kecil yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: