Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (4)

Leave a comment

October 12, 2010 by Islam saja

BAGIAN- 13

PEMBUNUHAN PARA KHALIFAH ISLAM

HAZRAT UMAR FAROOQ (23 H/ 644 CE):

Setelah kekalahan Persia di pertempuran Qadisia, Harmuzan, gubernur Tastar, dibawa ke Madinah sebagai narapidana (14 AH/ 635 CE). Tastar adalah provinsi Iran yang paling penting dan menjadi rumah angkatan perangnya yang paling besar. Ia diperkenalkan kepada Hazrat Umar, kemudian Khalifah Islam bertanya kepadanya, “Harmuzan! Kami orang Arab adalah penghuni padang pasir yang kamu menganggap terlalu rendah meski hanya dalam perkelahian. Kami dahulu biasa menjilat sebagian kecil dari pasukanmu. Sekarang kamu dapat melihat mahkota dan tahta Rajamu bersandar pada kaki kami sedangkan pemiliknya sedang melarikan diri mencari tempat untuk menyelamatkan jiwanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Harmuzan menjawab, “Tuan, sudah biasa terjadi suatu peperangan antara orang-orang Persia dengan orang-orang Arab. Namun sekarang Anda mempunyai Tuhan yang bersama Anda.”

Oleh karena kejahatan peperangannya, Harmuzan dihukum mati. Bagaimanapun, ia dapat menyelamatkan hidupnya melalui suatu tipu muslihat yang licik. Selama percakapan, ia meminta air minum. Ia diberikan air dalam sebuag gelas berbentuk piala dari emas yang didatangkan dari Tastar. Harmuzan meminta Hazrat Umar untuk menangguhkan hukuman untuk menjalani hidupnya sampai ia menghabiskan air minumannya. Permintaannya dikabulkan.

Bagai Sebuah Dongeng !

Terdengar seperti sebuah dongeng, begitu ia siap pada tempatnya untuk dieksekusi, Harmuzan menumpahkan air tersebut ke tanah. Ia belum minum dan oleh karena itu Pemerintah menangguhkan hukuman tanpa batas akhir. Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais yang hadir pada peristiwa itu, memastikan dengan bertanya; “Wahai Pemimpin orang beriman! Anda sudah tentu menangguhkan hukuman Harmuzan.” Atas kejadian ini, Hazrat Umar berkata kepada Harmuzan, “Harmuzan! Aku adalah seorang tawanan kepada kedermawanan dari muslimin ini.” Harmuzan akhirnya dibebaskan. Secara yang terlihat ia memeluk Islam dan berdiam di  Madinah.

Sekarang kita akan melihat bahwa pembunuhan Hazrat Umar bukanlah tindakan perorangan Feroze Abululu, tetapi ia hanyalah bagian dari suatu komplotan “lima belas permata’.

Feroz Abululu oleh sejarah telah dijelaskan secara membingungkan, ada yang menyebutnya seorang Kristen dan ada yang menyebutnya sebagai seorang Majusi. Sebenarnya ia adalah seorang Majusi. Siapapun Feroz, ia hanyalah bertindak sebagai alat. Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang memanfaatkan alat itu. Pemimpin dari pion-pion ‘Permata’ Cisra di  Madinah tidak lain adalah Harmuzan. Di Madinah, sahabat tetapnya adalah Jafeena Al-Khalil. Jafeena adalah seorang yang berpendirian Kristen dan seorang ahli Alkitab (Bible), bahasa Ibrani dan Arab. Ia adalah pion politis dari Kekaisaran Roma dan telah bertindak sebagai seorang pejabat di Damascus, Palestine dan Heerah. Sahabat ketiganya adalah seorang Yahudi bernama Saba bin Sham’oon. Ia adalah orang yang mempunyai anak bernama Abdullah Ibn Saba,  yang akan segera muncul di kemudian hari dengan karakter buruknya di panggung sejarah. Ketiganya tinggal di Madinah sebagai muslimin. Ketiganya adalah dedengkotnya konsprirator dan pengatur makar yang pintar.

MERPATI POS

Kardinal Roma, Thomas Melon, pada abad ke-11 menulis bahwa pada puncak Kerajaan Islam, orang-orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah tidak mempunyai pusat kekuasaan yang kuat, tetapi mereka menghasilkan banyak kuasa melalui rencana rahasia mereka. Mereka telah mempunyai sebuah sistem komunikasi yang canggih. Orang-orang Nasrani dan Majusi mengambil keuntungan yang besar dari sistem komunikasi ini. Merpati yang terlatih akan terbang setiap hari antara Madinah, Koofa dan Samarqand. Aktivitas kurir merpati ini menghasilkan peristiwa yang mengerikan. Beberapa dari kejadian tersebut adalah:

Suatu hari Feroz Abululu kebetulan bertemu dengan Hazrat Umar. Ia berkata kepada Feroze, “Aku mendengar bahwa kamu dapat membuat alat penggilingan”. Feroz menjawab dengan pedas, “Wahai Pemimpin orang beriman! Aku akan membuat sebuah penggilingan yang mengesankan di  Madinah yang akan tetap berputar selamanya.”

Sementara itu, Heraclius yang baru, Raja Byzantium, melarikan diri dari kekuatan Islam, bergabung dengan para pengungsi orang-orang istana Persia di Samarqand. Merpati pos dijaga tetap terbang antara Madinah dan Samarqand.

Ada seorang yang bernama Ka’ab Ahbar. Hingga hari ini tidaklah jelas apakah ia memeluk Islam atau tidak. Ia adalah seorang sarjana besar Taurat. Ketika Hazrat Umar tiba di Jerusalem pada penaklukannya (16 AH/ 635 CE), Kardinal dan Sri Paus Severinus mengundang dia untuk sholat pada Makam yang suci. Hazrat Umar dengan sopan menolak tawaran tersebut dengan berkata, “Aku khawatir nantinya Muslimin akan mulai mengubah gereja menjadi masjid.” Kemudian, ia melakukan sholatnya di  atas tanah terbuka dekat reruntuhan Kuil Sulaeman. Ia tetap melakukan hal itu hingga ia tinggal di Jerusalem. Ka’ab Ahbar melepas sepatunya ketika mendekati Batu Jacob. Ka’ab menyarankan kepada Hazrat Umar untuk melakukan sholat pada tempat itu. Terhadap hal ini, Hazrat Umar berkata, “Apakah kamu masih mempunyai sisa-sisa Keyahudian dalam dirimu?”

Abdul Malik bin Marwan telah membangun sebuah kubah di atas Batu Jacob pada sekitar tahun 60 AH ketika membangun Masjidil Aqsa. Sekarang dikenal sebagai Kubah Batu (Qubbah-Tas-Sakhra).

Suatu ketika, Hazrat Abuzar Ghaffari dan Hazrat Umar sedang mendiskusikan tentang topik Zakat. Ka’ab Ahbar berkata sesuatu. Abuzar menegur dia, “Wahai Yahudi! Akankah kamu mengajar kami Islam?”

Berkata Abdur Rahman bin Abu Bakr, “Aku melihat Harmuzan yang Majusi, Jafeena yang Kristen, dan Feroz Abululu berbisik-bisi, pada hari sebelum Hazrat Umar dibunuh. Mereka mempunyai golok bermata ganda yang sama dengan yang kemudian ditemukan di dekat mayat Abululu.”

Tiga hari sebelum pembunuhan tersebut, Ka’ab Ahbar berkata kepada Amirul Muminin – Hazrat Umar, bahwa ia akan mati dalam tiga hari. Abbas Mahmud Alakkad, seorang Sejarawan Mesir telah menulis bahwa Ka’ab Ahbar adalah seorang yang berpaham Yahudi dan ia adalah kaki tangan utama bersama-sama dengan Harmuzan dan Jafeenatil Khaleel berkomplot melakukan pembunhan tersebut. Pada malam sebelum pembunuhan Hazrat Umar Farooq, Ka’ab Ahbar berkata kepada Hazrat Umar, “Waktu telah berlalu bagi kamu.”

Abdul Qadir Ali Moosvi menulis, “Pada saat bencana ini, kekuasaan Islam dengan aman berdiri tegak dan mental yang terpelihara pada masyarakat dipastikan benar-benar damai dan bebas dari gangguan secara menyeluruh. Sekumpulan orang-orang yang bergabung dalam Iman Tuhan. Tak seorangpun akan membayangkan kemungkinan adanya komplotan yang mengerikan seperti itu. Jika memang pernah terjadi perselisihan antar kelompok Muslimin atau pernah terjadi pertumbahan berdarah selama lima puluh hingga seratus tahun pertama Negara Islam, pasti Muslimin tidak akan bisa membanjiri daerah seluas dua pertiga dunia. Mereka kepunyaan jaman Islam yang benar-benar diberkati. Al-Qur’an memberikan kesaksikan bahwa mereka yang benar-benar beriman akan berkasih-sayang satu sama lain. Allah ridho dengan mereka dan mereka ridho kepada-Nya, demikian pernyataan Al-Qur’an. Pada zaman kedamaian ini kelihatannya tidak ada peluang untuk melakukan gerakan makar di bawah tanah.”

TRAGEDI 23 H/ 644 CE

Dengan adanya panggilan untuk sholat fajar pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 AH, para sahabat Nabi yang agung berkumpul di Masjid Nabawi. Harat Umar tiba untuk memimpin sholat tersebut. Tidak lama setelah ia bertakbeer kemudian seseorang tiba-tiba mendekati dia dari depan dan melukai dia dengan goloknya pada beberapa tempat. Orang-orang yang berkumpul tersebut mengejar dan menangkap Feroz Abululu. Bagaimanapun, si penyerang membunuh dirinya sendiri dengan golok miliknya. Bukti yang paling kuat yang berhubungan dengan kejahatanan tersebut telah hilang untuk selamanya. Jafeena dan Harmuzan dibunuh oleh amukan masa setelah itu. Yahudi Saba bin Shamoon melarikan diri dan bergabung dengan kelompok persekongkolannya di Samarqand. Ka’ab Ahbar tidak ditangkap karena ia dianggap sebagai muslim yang tidak bersalah. Ironisnya, orang ini selalu berkata bahwa ia tidak akan memeluk Islam hingga ia secara penuh yakin dengan melihat berkah yang banyak dari jalan hidup Islam.

Dengan pembunuhan terhadap Hazrat Umar, makar orang-orang Persia semakin meningkatkan usahanya untuk mengasingkan Muslimin dari Tuhan mereka yaitu dengan menjauhkan Muslimin dari Al-Quran. Umar Farooq adalah rintangan yang paling besar bagi usaha mereka. Ketika berita pembunuhan khalifah sampai ke Samarqand, orang-orang istana Persia menyalakan langit dengan sorak kegirangan dengan petasan luncur.

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi menulis di dalam bukunya Meezanul Faris bahwa mekanisme syura kekhalifahan demikian sangat berkompeten, sehingga tanpa memboroskan waktu kesyahidan tersebut, Hazrat Usman terpilih sebagai Khalifah yang baru melalui musyawaroh antar sahabat yang diberkati.

PEMBUNUHAN HAZRAT UTHMAN 35 H/ 656 CE

Kita telah melihat modus operandi Majusi, Yahudi, dan Nasrani di  jaman Hazrat Umar.

Potongan-potongan yang terserak: Muzakkarah Hur bin Abdul Rahman (100-101H), Meezanul Faris, Fitnatul Kubra oleh Taha Hussain, Ajaibit Tareekh oleh Yaqoot Hamdi, Kitab Dalail-e-Nabawwut Syedna Muhammad oleh Abdul Jabbar Qaramati (280H), Tasweer Ka Doosra Rukh dan Intizar-E- Mahdi-O-Maseeh keduanya oleh Muhaddithul Asr Allama Tamanna Imadi. Mazhabi Dastanain Aur Unki Haqeeqat, oleh Allama Habibur Rahman Kandhalvi, Shahkar-e- Risalat oleh Allama Ghulam Ahmad Parvez, Tarikh-E-Islam oleh Dr. Oleh Dr. Hameeduddin, Profesor dari Harvard Universitas, dan banyak buku lainnya menyoroti sejarah abad pertama Islam mengukir guratan emas. Tetapi hal tersebut terserak seperti potongan teka-teki puzzle. Menggabungkan potongan-potongan informasi ini secara bersama-sama, gambaran yang muncul benar-benar mengagumkan walaupun disertai dengan tetesan darah yang suci.

Sebagaimana disebutkan di atas, setelah penaklukan Persia, ribuan orang yang berkedok muslimin menetap di luar, terutama di Iraq karena dekatnya Iraq dengan Persia. Mereka lebih mungkin ditemukan dan ditawan di ibukota kekhalifahan sehingga jumlah orang-orang Persia seperti ini lebih sedikit di Hejaz. Hazrat Umar tidak begitu sadar pada situasi ini. Maka, pada tahun 18 AH ia meminta bantuan dan menugaskan Hazrat Ali sebagai gubernur Iraq untuk pengawasan dan pendidikan unsur-unsur Persia ini.

Bertentangan dengan pernyataan sejarawan seperti Tabari, Ibn Hisham, dan Kulaini, semua dalam kedamaian dan ketenangan pada jaman Hazrat Uthman. Pasang naik Islam yang diberkati memberikan pengaruh pada semua aspek kehidupan yang menyertainya: di daratan, masyarakat dan hati. Hazrat Uthman mengendalikan dengan penuh kewaspadaan atas ibukota Madinah dan Hazrat Ali mengendalikan provinsi Iraq. Hazrat Muawiya di  Syria dan Hazrat Umro bin Al-’Aas di  Mesir, semuanya  terbukti sebagai gubernur yang handal. Tim kerja mereka dan para sahabat yang lain dengan karakter mereka yang patut dicontoh menambah semangat untuk bekerja keras karena Allah, sedang membawa Islam dari hari ke hari dari satu puncak kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Semboyan yang menyebar di seluruh kawasan adalah, “Kesucian adalah kenangan Anda!”. Pemimpin-pemimpin atau panutan-panutan Islam yang besar sangat mengetahui dengan baik bahwa penegakan perintah Al-Qur’an adalah prioritas utama Pemerintahan. Nabi yang agung telah melatih sendiri orang-orang istimewa ini dan mereka sangat berkasih sayang satu sama lain dan untuk kemanusiaan.

Mereka begitu berminat dan bersemangat untuk menyebarkan pesan-pesan Islam kepada seluruh penjuru dunia yang penguasa mereka tidak begitu peduli terhadap harkat dan martabat pribadi dari masyarakatnya. Keabadian dari Al-Quran memberikan kepada mereka kepercayaan diri secara ekstrim. Satu hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa pada waktu itu jika orang-orang diajak kepada Islam, mereka tidak menolak seperti pada hari ini. Tidak ada tuduhan murtad dan pengucilan (Takfeer) terhadap masyarakat. Jadi, pada negara Islam setiap orang yang menyatakan Islam diterima sebagai seorang Muslim. Tak seorangpun ‘yang dibedah dadanya’ untuk melihat apakah seseorang itu munafik, Majusi, Yahudi atau Kristen dalam hati mereka. Para Sahabat Nabi yang agung, memperlihatkan watak yang membuat kagum seluruh dunia, tidak menempatkan para penjaga di pintu-pintu masuk/ keluar mereka.

Mengambil keuntungan dari situasi seperti ini, tetua Yahudi, Saba bin Shamoon yang mempunyai nama Islam Saba Assalameh, dan anaknya Abdullah bin Saba masuk ibukota Madinah dalam kegelapan dari jam-jam akhir malam dan membunuh Hazrat Uthman dengan pedang mereka ketika Beliau sedang membaca Al-Quran. Kedua pembunuh tersebut menghilang dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak. (35 AH)

PEMBUNUHAN HAZRAT ALI 661 CE

Ketika Hazrat Usman sahid, Hazrat Ali sedang menjabat gubernur Iraq.

Para wakil Hazrat Uthman dengan segera menerapkan perintah Al-Qur’an untuk bermusyawarah untuk menetapkan pemimpin baru. Sebuah pertemuan para Sahabah yang mulia dilaksanakan di Masjid Nabawi, Madinah. Dua resolusi telah dihasilkan- pertama, bahwa Khalifah berikutnya adalah Hazrat Ali – kedua, bahwa ibukota negara akan dipindahkan ke tempat di mana Hazrat Ali menjabat sebagai gubernur Iraq. Dalam pertemuan ini juga terlewatkan perihal perlunya keamanan pribadi untuk Khalifah Islam, hal ini dikarenakan para sahabat membenci, dalam keadaan apapun, ada jarak antara diri mereka dengan masyarakatnya. Bagi mereka menempatkan para penjaga/ pengawal di pintu gerbang adalah sesuatu kebiasaan yang aneh.

Bagaimanapun, kapal negara Islam tetap berlayar dengan baik walaupun di tengah gelombang kecil intrik dan konspirasi. Tetapi pada tanggal 18 Ramadhan 40 AH (661 CE) tangan-tangan dari orang-orang istana Persia menyerang lagi. Pada waktu fajar menyingsing, ketika Hazrat Ali sedang memimpin sholat di Koofa, seorang Majusi bernama Jamshed Khorasani, yang mempunyai nama Islam, menyerang secara tiba-tiba dari persembunyiannya dan menikam Beliau dengan senjata tajamnya – pisau bermata dua – beberapa kali. Pada hari ketiga setelah serangan ini, yaitu pada 20 Ramadhan, Khalifah yang keempat akhirnya gagal untuk bertahan terhadap luka yang dideritanya. Dalam buku sejarah konvensional kita, Jamshed Khorasani ini dikenal sebagai Abdur Rahman Ibnu Maljam Al-Khariji. Jamshed dengan cepat segera ditangkap oleh jamaah. Ia diadili dalam sidang pengadilan dan menerima hukuman mati.

HAZRAT HASAN, SEORANG GUBERNUR

Sekarang karena Koofa adalah ibukota negara, para anggota dewan Syura bertemu di sana. Hanya ada dua nama yang muncul pada pemilihan Khalifah tersebut, yaitu Hazrat Hasan bin Ali dan Amir Muawiya, gubernur Syria. Hazrat Hasan menolak untuk menerima menjadi Kalifah. Oleh karena itu, Hazrat Mu’awiya menduduki jabatan sebagai Khalifah yang baru. Ia telah mempunyai cukup modal yang besar seperti sejarah yang baik di bidang administrasi, ketajaman politis dan popularitas di tengah masyarakat. Namun demikian ia harus memenuhi persyaratan konstitusional berupa kesetiaan masyarakat.

Sekarang ibukota negara dipindah ke Damascus. Beberapa orang Suriah mulai berdiri sebagai pengawal dengan pakaian sipil tanpa sepengetahuan Khalifah. Ketika pada bulan Ramadhan 40 AH seseorang menyerang Hazrat Mu’awiya, seorang penjaga menebas kepala penyerbu di sana. Hazrat Muawiya hanya menderita luka-luka kecil.

Unsur-unsur yang membahayakan kepada Islam menjadi paham bahwa disain mereka tidak mungkin berhasil di Damascus yang sekarang sebagai ibukota negara. Maka, mereka mengalihkan perhatian mereka kembali lagi ke Iraq di mana Hazrat Hasan telah ditetapkan sebagai gubernur oleh Hazrat Mu’awiya. Karena penuh dengan rasa kasih dan kedermawanan, Hazrat Hasan menjadikan provinsinya bagaikan sebuah surga di atas bumi. Setelah menegakkan administrasi di Iraq pada setiap lapisan pemerintahan, ia berhenti dari jabatannya pada tahun 48 AH karena penyakit dan mengambil tempat kediaman di Madinah.

Imam Ghazali melaporkan bahwa Imam Hasan mempunyai dua ratus isteri. Pada beberapa referensi lain, termasuk dalam tulisan-tulisan Ghazali, dinyatakan bahwa ia biasa menikahi empat wanita baru dan menceraikan empat isterinya setiap minggu!  Hanyalah orang-orang dengan tujuan untuk menghina Beliaulah yang tanpa merasa bersalah melempar tuduhan seperti itu pada Imam yang diakui oleh masyarakatnya.

Ada sebuah laporan yang diulang-ulang oleh Haq Ali Haq, seorang Presiden Jami’a Al-Azhar masa lalu, bahwa salah seorang isterinya, Ja’da, tidak setia dan Imam Hasan ingin menceraikannya. Bagaimanapun, sebelum ia melakukannya, istrinya meracuni dia dan ia langsung meninggal. Hal ini terjadi di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Penelitian Mahmood Ali Abbasi menyimpulkan bahwa Hazrat Hasan meninggal akibat TBC paru-paru di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: