Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (1)

8

October 12, 2010 by Islam saja

BAGIAN-9

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

BEBERAPA TOKOH TERKEMUA

Sekarang mari kita lihat fakta tersebut. Malangnya, dogma apapun yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak, menjadi bagian yang melekat pada diri kita. Tentu saja, dogma-dogma tersebut terjalin secara emosional dengan kita. Itulah mengapa orang-orang pada umumnya cenderung untuk menghalangi pikiran mereka terhadap informasi baru dan bahkan menjadi tersinggung. Seorang Mullah akan dengan senang hati memberikan putusan hukum kafir. Sebuah syair mengatakan:

Aduhai, ratusan ribu macam persoalan semestinya dikatakan

Tetap tidak jadi dikatakan karena takut terhadap huru-hara massa

Bagaimanapun, menurut Al-Quran, merahasiakan kebenaran adalah suatu kesalahan besar (2:42, 140). Untuk memulainya, berikut adalah tahun kematian beberapa orang terkemuka:

Tahun Kelahiran dan Kematian Tokoh Sejarah

Semua penanggalan yang diberikan di bawah hanyalah pendekatan dan dapat mengandung kesalahan dikarenakan adanya perbedaan dalam sejarah yang berbeda. Sebuah ringkasan kronologi meskipun bersifat kasar, bagaimanapun, penting bagi kita untuk kembali sebentar melihat ke belakang.

Masa Hidup:

No. Nama Masa hidup
1. Prophet Muhammad (S) 52 sebelum Hijrah – 10 AH 570-632 CE
2. Hazrat Abu-Bakr Siddiq 49 sebelum Hijrah -12 AH 573-634 CE
3. Hazrat Umar Farooq 39 sebelum Hijrah – 23 AH 583-644 CE
4. Hazrat Uthman 39 sebelum Hijrah – 35 AH 583-656 CE
5. Hazrat Ali ibn Abi-Talib 22 sebelum Hijrah – 40 AH 600-661 CE
6. Hazrat Mu’awiya 19 sebelum Hijrah – 60 AH 600-680 CE
7. Yazeed bin Mu’awiya 26 – 64 AH 645-683 CE

PARA IMAM SHI’AH (Tahun kematian diberikan dengan AH saja)

No. Nama Tahun Kematian Periode
01. Ali ibn Abi Talib 40 AH 600-661 CE
02. Hasan bin Ali 49 621-670
03. Husain bin of Ali 61 623-680
04. Zainul Abedin bin Husain 95 658-712
05. Muhammad Baqir bin Zain 117 677-731
06. Ja’far Sadiq bin Baqir 148 699-765
07. Musa Kazim bin Ja’far 182 745-799
08. Ali Raza bin Musa Kazim 200 770-818
09. Muhammad Jawad Taqi bin Raza 220 809-834
10. Ali Hadi Naqi bin Taqi 254 829-868
11. Hasan Askari bin Naqi 260 846-874
12. Abul Qasim Muhammad Al-Muntazar Imam-uz-Zaman Al-Mahdi (jika memang pernah lahir) – tahun kelahirannya tidak diketahui secara tepat. Yaitu tahun 254 atau 255 AH. Dia menghilang pada umur 4 atau 5 tahun di Gua Samera di Iraq. 260 AH. 878 CE

Sekarang mari kita lihat kronologi para sejarawan yang pada awalnya menulis sejarah kita, termasuk peristiwa Karbala. Walaupun para sejarawam menangani disiplin informasi yang berbeda dengan Muhadhithin (para penulis Hadith), namun kedua kelompok tersebut melanggar batasan-batasan mereka kapan saja mereka inginkan. Oleh karena itu, kita menemukan sejarah bercampur dengan Hadith demikian juga sebaliknya. Volume yang luar biasa banyak ini dipenuhi dengan sejumlah pertentangan yang tiada akhir dalam diri mereka dan bertentangan satu dengan lainnya, karena buku-buku ini didasarkan pada informasi lisan. “Ia mendengar dari si-A yang mendengar dari si-B, dan dia mendengar dari si polan yang pada gilirannya mendengarnya dari ini dan itu dst”. Kemudian terdapat penjelasan dan analisa kredibilitas dan karakter orang-orang dalam ‘rantai periwayatan’ (sanad). Hal yang lucu adalah bahwa seorang pembawa cerita [perawi] yang dipercayai oleh sepuluh “ulama”, ternyata adalah seorang pendusta bagi sepuluh “ulama” yang lain.

SEJARAWAN & MUHADHITHIN YANG PALING TERKEMUKA

Para Pengarang dan Tahun Kematiannya:

  • Imam Ibn Jareer Tabari 310 AH (923 CE) – penafsir Al-Quran dan sejarawan yang pertama.

Imam Fiqh (Ahli hukum- tahun kematian AH):

  1. Imam Abu Hanifa                       150 AH
  2. Imam Malik Bin Anas                 179 AH
  3. Imam Shafi’i                              204 AH
  4. Imam Ahmad Bin Hanbal            241 AH

Imam Hadith Sunni:

  1. Imam Muhammad Ismail Bukhari             256 AH (870 CE)
  2. Imam Muslim Bin Hajjaj Al-Qasheeri        261 AH (875 CE)
  3. Abu Abdullah Ibn Yazeed Ibn Majah       273 AH (886 CE)
  4. Suleman Abu Dawood                           275 AH (888 CE)
  5. Imam Abu Musa Tirmizi                          279 AH (883 CE)
  6. Imam Abdur Rahman Nisai                     303 AH (915 CE)

Imam Hadith Shi’ah:

  1. Syaikh Muhammad Bin Yaqoob Bin Ishaq Al-Kulaini         329 AH (941 CE)
  2. Syaikh Saduq Abu Ja’far Ibn Ali Ibn Babwayhi Al-Qummi  381 AH (993 CE)
  3. Syekh Abu Ja’far Muhammad Ibn-Hasan Al-Toosi             460 AH (1071 CE)

Mullah yang dihormati Jalaluddin Rumi menulis tentang para Imam Fiqh:

Mereka memahat empat sekte keluar dari Deen (Agama) yang benar

Dan menciptakan sebuah celah di dalam Deen Nabi yang agung

Tetapi, berlawanan dengan Al-Qur-an, Rumi yang sama berkata:

Para sahabat begitu mencintai dunia ini yang

Mereka meninggalkan Mustafa (Nabi) tanpa peti mayat

“ILMU PENGETAHUAN” TENTANG ASMA-UR-RIJAAL

Ini adalah nama guru dari sejarah dan hadits kita. Hal ini penting diperhatikan bahwa sejarah Islam yang pertama ditulis oleh Tabari, sekitar 270 tahun setelah Nabi yang agung dan 230 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi.

Dan ia tidak mempunyai apapun di tangannya yang dapat digunakan sebagai rujukan karangannya. Pada kenyataannya, ia mengakui pada pembukaan bukunya yang berjudul “Induk dari semua Sejarah” bahwa ia hanya menulis berdasarkan apa yang diceriterakan oleh orang lain. Oleh karena itu, para pembawa ceritalah yang harus bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yang ada.

Dari sudut pandang Shi’ah, sejarah dicatat pertama kali oleh Imam Kulaini yang lebih kemudian dibanding Tabari, dimulai pada abad keempat AH atau sekitar 240 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi. Tabari dan Kulaini membangun khayalan mereka atas dasar desas-desus/ kabar burung. “Ia mendengar dari si polan yang mendengar dari si polan, dan seterusnya.”

Di samping menjadi mudah tertipu, kita – Muslimin mempunyai karakter yang aneh. Karena menjadi “Ummah yang aneh”, kita malah bangga terhadap sesuatu yang kita seharusnya malu! Perbuatan memalukan tersebut adalah apa yang disebut “Ilmu pengetahuan” tentang nama-nama manusia (asma-Ur-Rijaal). Para Mullah menepuk dada mereka mengklaim bahwa Muslimin telah memelihara nama-nama dari sekitar 500,000 orang yang memproklamirkan dirinya sebagai perawi/ ulama. Dr. James Gibbs dari Britania Raya telah dengan tepat menyerang Muslimin atas kenyataan ini, “Muslimin mempunyai sebuah Buku yang hidup, tetapi sambil duduk di mesjid-mesjid, madrasah-madrasah dan biara-biara mereka, mereka terus bermain dengan catatan sejarah yang usang. Lima ratus ribu pemain hantu ini bertanggung jawab terhadap perpecahan di antara Muslimin.”

TAMBAHAN INFO TENTANG PARA SEJARAWAN KITA

Adalah penting untuk diketahui bahwa sejarawan kita ‘yang terkenal, berjumlah ratusan, hidup pada zaman setelah Tabari/ Kulaini (310/ 329 AH). Tidak ada yang sebelumnya! Apa yang terjadi pada catatan periode keemasan sejarah muslimin? Pada masa pemerintahan Khalifa Abbasiah Haroon ar-Rasheed (memerintah tahun 169-192 AH), ketika Khalifa Haroon ar-Rasheed meminta kepada Imam Ahmad bin Hambal (164-241AH) bukti yang mendukung salah satu dari teorinya, ia secuilpun tidak bisa mengemukakan penjelasan dengan bukti tertulis! Imam Hambal menurut laporan dicambuk oleh Mamoon ar-Rashid (memerintah tahun 197-217 AH) atas perdebatan yang tanpa makna tersebut, yaitu apakah Al-Quran itu makhluq (yang diciptakan) atau bukan. Tetapi tak satupun dari para “Imam” ini mengucapkan bahwa sistem kerajaan adalah tidak Islami. Maka, pemerintahan yang sewenang-wenang tetap berlanjut semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.

DUA TABARI ?

Seperti halnya Imam Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifa, yang pernah menjadi ahli hukum (Faqeeh) kerajaan dinasti Ummayah, maka dengan cara yang sama Tabari telah menapakkan kakinya di  lingkungan kerajaan Khalifah Mo’tamid (memerintah tahun 255-278 AH) pada tahun 270 AH. Imam Ibn Jareer bin Yazeed Tabari (222-310 AH), (nama yang dia pakai) dengan penuh keindahan disampaikan kepada Khalifa Al-Muqtadar Billah (memerintah tahun 294-319 AH). Pada banyak catatan nama sebenarnya yang dimiliki “Imam” ini adalah Ibn Jareer bin Rustam Ibn Tabari yang menyingkapkan bahwa dia adalah seorang Parsi. (Sebagai contoh, lihat Kitabul Istaqama, hal.137).

Hari ini terdapat laporan yang membingungkan tentang dia, apakah ia seorang Syiahh atau Sunni, Khariji atau Rafidzi atau Majusi – pengikut Zoroaster (Muajjamil Adaba oleh Yaqoot Hamdi, 302 AH). Legenda juga menceritakan bahwa Imam Tabari bin Yazeed dan Imam Tabari bin Rustam adalah dua orang yang berbeda, meskipun keduanya lahir pada hari yang sama, keduanya adalah sejarawan, tinggal di kota yang sama, dan meninggal pada hari yang sama. Mereka berdua nampaknya sama dan berpakaian yang sama. [Mustahil merupakan sesuatu yang kebetulan]

PERSEKUTUAN ANTARA PARA MULLAH DAN RAJA

Singkatnya, selama masa pemerintahan Khalifah Muqtadir Billah (memerintah tahun 294-319 AH), delegasi kerajaan diberangkatkan ke Makkah, Madinah, Damascus, Qadisia, Koofa dan pusat provinsi lain. Isi perpustakaan mereka dimusnahkan dan diganti dengan buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang pada kenyataannya adalah para penjahat terhadap Islam. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Tabari dan “sarjana” lain yang seperti dia memperoleh kekuasaan sebesar ini.

SEMBILAN MUHADDITHIN ADALAH ORANG-ORANG PERSIA

Baiklah, adalah mengagumkan jika mengetahui bahwa semua dari enam orang yang disebut Muhadditheen Sunni dari Sahah Sitta (Sahih yang Enam – enam buku ‘resmi’ Hadith): Bukhari (w.256 AH), Muslim (w.261 AH), Ibn-Maja (w.273 AH), Abu Dawood (w.275 AH), Tirmizi (w.279 AH) dan Nasai (w.303 AH) datang dari Kerajaan Persia yang dikalahkan. Demikian juga, ketiga Muhadditheen Syiah: al-Kulaini (w. 329 AH), Syekh Saddooq (w. 381 AH), Syekh Al-Toosi (w. 460 AH) dan Abu Ali Tabrasi (486/1093 – 548/1154) (para penulis empat buku ‘resmi’ Hadith Syiah) berasal dari Persia. Tak satupun dari sembilan orang ini yang orang Arab.

ABU MUSLIM KHURASANI (80-137 AH/ 700-755 CE):

Para pengikut Majusi dari Persia telah menjadi sangat berpengaruh pada pemerintahan Abbasiah sejak dari awal. Pada kenyataannya, pendiri dinasti Abbasiah, Abu Muslim Khurasani adalah seorang yang bersemangat Majusi. Pada tahun 129 AH, dikarenakan tidak berkompetennya para penguasa Banu Umayyah yang terakhir dan adanya propaganda orang-orang Ajami (orang-orang Persia), kerusuhan telah terjadi diantara masyarakat Khorasan. Banyak dari massa yang menginginkan agar Muhammad Bin Ali bin Abdullah bin Abbas sebagai Khalifah.

Sebagaimana Imam Zainul Abedin, putranya – Imam Baqir – dan setelah dia putranya – Imam Ja’far Sadiq, semuanya telah sama sekali berhenti/ meninggalkan gelanggang politik. Sungguh menguntungkan bagi Abu Muslim Khorasani, karena Marwan II (memerintah tahun 125-132 AH), putra dari Marwan bin Hakam ternyata adalah seorang penguasa yang sangat tidak cakap. Abu Muslim menemukan pijakan yang kuat bagi dirinya. Imam Muhammad bin Ali meninggal pada tahun 126 AH dan para pengikutnya mengumumkan putranya Ibrahim sebagai Imam. Abu Muslim Khorasani berbicara kepada Imam Ibrahim untuk membunuh semua orang Arab di Khorasan, sebuah provinsi yang didominasi oleh orang-orang Persia. Tetapi, komplotan tersebut terungkap. Marwan II memenjarakan Imam Ibrahim dan kemudian membunuh dia. Saudaranya menggantikan Imam Ibrahim sebagai Imam, yaitu Imam Abul Abbas. Misi Abu Muslim adalah mencegah terjadinya konsolidasi pada pusat kekuasaan di antara para penguasa Arab, tentu saja di antara Muslimin secara keseluruhan. Akhirnya, pada tahun 132 AH gabungan angkatan perang Abu Muslim dan Imam Abul Abbas berhasil membinasakan rejim Ummayah. Marwan II dibunuh. Semua keturunan Banu Umayyah – kecuali wanita-wanita dan anak-anak – dilenyapkan. Hanya seorang pangeran yang bernama Abdur Rahman berhasil melarikan diri ke Andalusia (Spanyol). Dengan sebuah populasi muslim yang penting di Spanyol sejak penaklukannya oleh Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziyad tahun 91 H/ 711 M, Pangeran Abdur Rahman mengatur dinasti Ummayah di Spanyol pada tahun 138–171 H/ 756-788 M.

Karena khawatir Abu Muslim bangkit untuk berkuasa, maka Abul Abbas membunuh dia. Meski demikian, orang-orang Persia masih tetap sangat kuat pada awal pemerintahan Abbasiah tersebut. Sesungguhnya, dari tahun 129 hingga 132 AH orang-orang Persia secara langsung menguasai Kerajaan Muslimin. (Tareekhul Islam oleh Dr. Hameeduddin)

HAROON AR-RASHEED DAN BARAMIKAH

Naiknya orang-orang Majusi (Zoroaster) ini bertahan sekitar 200 (dua ratus) tahun. Pengaruh mereka, sekalipun secara sembunyi-sembunyi, menjadi sangat kuat sedemikian rupa sehingga seorang raja yang kuat seperti Haroon Ar-Rasheed (berkuasa sekitar tahun 169-193 AH) pada saat itu mendapati dirinya tanpa daya melawan mereka. Ini merupakan sebuah fakta yang sedikit diketahui bahwa Haroonur Rasheed sendiri adalah putra seorang perempuan Persia yang bernama Khaizran.

Keluarga Persia Baramika telah menaiki kekuasaan yang tak terukur dalam Kekhalifahan sebagai para pejabat tinggi Haroon. Kebanyakan sejarawan mengakui bahwa pada tahun 187 AH, Haroon sebenarnya mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menaklukkan dengan mudah daerah yang pada saat ini disebut Cyprus dan Turki, termasuk Constantinople (Istanbul), pintu gerbang menuju Eropa. Seandainya dia melakukan hal itu, boleh jadi akan mencegah terjadinya Perang Salib yang mengerikan yang telah terjadi di kemudian hari. Bagaimanapun, orang-orang Majusi Baramika menjaga dia agar tetap sibuk dengan cerita Seribu Satu Malam dan bersenang-senang.

Menteri/ para pembantu Haroon seperti Khalid, Yahya, Fazal dan Jafar semuanya adalah orang-orang Baramika. Mereka mengganti bahasa Arab dengan bahasa Persia sebagai bahasa kerajaan. Perlu dicatat bahwa pada masa pemerintahan Harunlah perayaan festival agama Majusi yang bernama Nawroze diadakan dengan semangat besar menggantikan perayaan Eid Muslimin.

Bagaimanakah orang-orang seperti Al-Zuhri (w. 124AH), Ibnu Ishaq (85-143AH), Al-Waqidi (130-207AH), Ibnu Sa’ad (168-230AH), Tirmizi (209-279AH), Tabari (224-310AH), Kulaini (w. 329AH), Saddooq (301-381AH) dan lainnya memperoleh kekuasaan yang banyak?

Mereka tidak hanya menikmati kebebaskan istimewa dari para penguasa, tetapi mereka juga mempunyai monopoli di bidang tulis-menulis. Sebagai balasannya mereka dahulu memproklamirkan bahwa raja adalah bayang-bayang Tuhan yang ada di bumi dan memalsukan sejarah, Hadith dan penafsiran Quran yang akan mengesahkan raja yang sewenang-wenang, istana-istananya, para harem dan bermacam-macam kenikmatan kerajaan.

SEBUAH CONTOH:

Shah Abdul Aziz Dehli, (meninggal 1229 AH) memberikan sebuah contoh kekacauan ini di jurnalnya. Suatu hari Khalifa Mahdi Abbassi sedang melepaskan merpati untuk terbang. Muhaddith Ghias bin Mamoon melihat ini dan mengucapkan, “Rasool (S) telah berkata bahwa seni memanah, adu kecepatan kuda dan menerbangkan merpati adalah kemuliaan mukminiin.” Hadith yang dilaporkan tersebut menyebutkan adu kecepatan unta, bukannya menerbangkan merpati.

Khalifa Haroon Rasheed mempunyai kerajaan yang paling baik dan mempunyai angkatan perang yang paling kuat pada zamannya. Jika mau, ia bisa dengan mudah menundukkan Byzantium, berikut keseluruhan Kerajaan Romawi. Seandainya Ia melakukan tugas tersebut, maka tidak akan ada Perang salib di kemudian hari dan Islam bisa sudah merengkuh keseluruhan Eropa dengan kekuatan dan kemuliannya.

PENIPU LAIN: IBNU SHAHAB AL-ZUHRI

Sekarang mari kita mempelajari “Imam” Ibnu Shahab Al-Zuhri (w. 124 H/ 742 CE) (lahir 50 H ?).

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Musvi, pengarang Mizanul Faris menyatakan bahwa nama yang sebenarnya dari Zuhri adalah Ibnu Shahab Toosi. Ia adalah salah satu dari ratusan ribu migran yang, setelah Arab menaklukkan Persia, telah menetap di kota-kota besar Iraqi seperti Koofa, Basra dan Baghdad. Beberapa buku sejarah telah menjuluki dia sebagai pendiri kedua theologi Syiah. (pendiri pertamanya adalah Yahudi Abdullah bin Saba)

Di  buku “Imam Zuhri dan Imam Tabari, Gambaran Sisi lain “, Allama Tamanna Imadi menyatakan bahwa peran Zuhri menonjol secara menyolok pada semua perbedaan antara sekte Syiah dan Sunni hingga hari ini.

Ia biasa memalsukan sebuah Hadith dan kemudian disebarkannya kepada pusat-pusat propaganda yang dari merekalah berita bohong tersebut menyebar ke keseluruhan dunia Islam. Beberapa ulama Syiah mengakui bahwa dia adalah pengikut Syiah, sementara yang lain berpendapat bahwa dia seorang Sunni (Syaikh Muhammad Tahir Al-Makki). Bagaimanapun, Ibn Shahab Zuhri (Tusi) adalah keturunan dari kerajaan Persia Sassanid dan berpaham Zoroastrian. Allama Imadi, Maulana Dost Muhammad Qureshi, Syaikh Muhammad Tahir Al-Makki (417-460 AH, dihukum bakar hingga meninggal) dan Allama Mujeebi, semuanya dengan suara bulat menyatakan bahwa akal bulus Zoroastrian ini menampilkan dirinya seperti “Imam” yang dipercayai banyak orang hingga hari ini. Dialah orangnya yang:

  • Mengarang cerita untuk menimbulkan keraguan tentang pengumpulan dan keaslian AL-Quran.
  • Yang memulai pembicaraan bahwa beberapa ayat Al-Quran membatalkan yang lain (konsep nasikh-mansukh).
  • Memalsukan dugaan yang bodoh bahwa Al-Quran diwahyukan dengan tujuh versi “bacaan”.
  • Dialah orangnya yang menyebutkan Hazrat Ayesha pada konteks Surah An-Noor. Hal ini telah menyediakan kesempatan terbuka bagi “Imam” Bukhari untuk memfitnah Ummul Mu’miniin (Ibu orang-orang beriman). Quran tidak pernah menyebut nama siapapun pada Surah tersebut.
  • Dialah orang yang mengarang cerita perselisihan antar Sahabah Karam mengenai suksesi Nabi yang mulia di Saqeefa Bani Saa’idah.
  • Cerita palsu tentang perdebatan antara Hazraat Ali, Abu Bakar dan Umar.
  • Cerita yang disisipkan tentang penyiksaan terhadap Fatima binti Muhammad, perselisihan tentang Kebun Fadak, dan penganiayaan putri Nabi oleh Hazraat Abu Bakr dan Umar.
  • Puncak dari semuanya adalah cerita dusta tentang pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha, Pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan Pertempuran Nahrawan antara Hazrat Ali dan Khawarij adalah ciptaan pikiran Zuhri. Sesungguhnya, Pertempuran Jamal, Saffain, Nahrawan dan Karbala tidak pernah terjadi!

Zuhri sebenarnya bukan hanya menyebarkan cerita menghebohkan tersebut di atas. Ia juga mempunyai dukungan penuh dari para pengikutnya yang Zoroastrian. Motiv utama mereka yang tersembunyi adalah untuk memecah-belah muslimin menjadi beberapa sekte, sehingga mendorong mereka untuk berselisih satu sama lain dan menjadikannya meninggalkan Al-Quran.

Komplotan lain dari urusan yang jahat ini adalah orang-orang Yahudi yang diusir dari jazirah Arab pada zaman Nabi. Banyak di antara mereka memakai nama dan berkedok muslim dan menetap di pusat-pusat peradaban Islam untuk turut menikmati pemerintahan muslim yang makmur.

Kekuatan ke-3 yang aktif dalam usaha makar ini adalah Kekaisaran Byzantium (Romawi timur) yang telah ditaklukkan oleh muslimin pada masa pemerintahan Hazrat Umar. Syria, Mesir, Jerusalem, Alexandria dll telah jatuh ke tangan muslimin. Orang-orang Romawi juga memesongkan umat Islam karena ingin membalas dendam atas kekalahan mereka dari muslimin.

KEMAH-KEMAH MUSUH:

Yaitu pusat-pusat pergerakan pemikiran Zoroastrian, Yahudi dan Nasrani membentuk suatu koalisi melawan muslimin. Suatu penderitaan akan membangkitkan rasa senasib seperjuangan. Tiga perencana makar tersebut, yaitu dari unsur-unsur yang terkalahkan, mengadakan suatu rangkaian pertemuan rahasia di  Koofa, Syria, Yemen dan Constantinople. (Lisanul Meezan)

Perlu diingat bahwa muslimin tidak menjajah kekaisaran Persia dan Romawi terhadap milik penduduk atau merampas tanah mereka. Di  kedua adikuasa zaman itu, segelintir elit yang berkuasa menekan dan memperbudak masyarakan secara fisik, mental dan ekonomi. Laporan tentang kekejaman tersebut dan teriakan masyarakat meminta tolong mencapai ibukota adikuasa yang baru di  Madinah. Nabi yang mulia telah memperingatkan kaisar yang lalim tersebut, bahwa jika mereka gagal mengubah dan mengembalikan hak-hak masyarakat, maka saatnya sudah dekat bahwa elit kekuasaan akan menghadapi kesulitan berhadapan dengan masyarakat. Hazraat Abu Bakr dan Umar hanyalah menegaskan kembali peringatan tersebut.

Perlu diingat kembali bahwa Al-Quran menjelaskan jihad dalam pengertian perang hanya dalam keadaan/ kondisi berikut:

  • Ketika musuh secara phisik menyerang Muslimin.
  • Ketika musuh mengusir Muslimin dari rumah dan negeri mereka.
  • Ketika orang-orang yang tidak bersalah mendapatkan tekanan dan berteriak meminta tolong.

Dalam hati mereka, masyarakat Parsi dan Kristen bergembira sekali atas munculnya Islam sebab pertama kali bagi mereka menyaksikan indahnya kebebasan. Namun demikian, bagi mantan elit istana/ penguasa kondisi tersebut merupakan bencana.

Orang-orang Yahudi tidak pernah melupakan luka akibat pengusiran yang mereka alami pada masa lalu. Dalam hati mereka, unsur-unsur yang terkalahkan ini berkesimpulan bahwa tidaklah mungkin melawan muslimin di medan pertempuran. Oleh karena itu, mereka memecahkan persoalan tersebut dengan cara menabur benih perselisihan dan perpecahan antar muslimin. Cara yang terbaik untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah menjadikan muslimin meninggalkan Al-Quran secara tanpa mereka sadari.. Selanjutnya, bentuk peperangan mereka adalah secara filosofis dan intelektual di mana orang-orang Arab yang lugu merasa tidak sedang berhadapan dengan musuh. Mereka adalah manusia yang suka bertindak, bukan tukang gosip.

HORMUZAN, PERANCANG MAKAR PERTAMA DALAM SEJARAH KITA:

Si Majusi Hormuzan pernah menjadi komandan militer Persia terakhir di bawah kekaisaran Yazdgard dan juga sebagai gubernur provinsi sebelah timur. Dialah aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar Farooq. Sejarawan kita hanya meninggalkan kepada kita sekelumit komentar ringkas dalam memandang tragedi kejam ini, yaitu bahwa seorang budak Persia non-Muslim yang bernama Feroz Abululu yang menyerang Hazrat Umar dengan sebuah pisau sewaktu sholat fajar karena adanya masalah pribadi! (Tarikh Tabari)“

  • Feroz membunuh yang “kedua” (Hazrat Umar) karena yang belakangan ini biasa menganiayanya.” (Malhoof yang merujuk pada Tawus)
  • Versi yang ketiga menyatakan bahwa Feroz Abululu biasa bekerja pada rumah Hazrat Mugheera. Ia adalah seorang pande besi dan tukang kayu. Pada suatu hari ia membawa keluhan di hadapan Hazrat Umar bahwa Hazrat Mugheera tidak membayar gaji dia secara mencukupi. Hazrat Umar mempelajari keluhannya dan memutuskan bahwa gaji dia sudah cukup, dan Abululu membunuh Hazrat Umar karena hal itu.

Bukankah hal itu terdengar terlalu sepele sebagai alasan untuk membunuh seorang Khalifah? Ini bukanlah sekedar pembunuhan kepada orang biasa, tetapi seorang Umar bin Khattab. Pembunuhan terhadap Umar Farooq adalah sesuatu hal yang besar! Pasti ada makar yang besar di belakang kejadian ini yang perlu diselidiki.

Abdullah bin Saba’ (yang juga disebut As-Saudah) adalah sebuah karakter yang misterius. Dengan Raa’in bin Saba’ sebagai nama aslinya, ia adalah seorang aktor intelektual Yahudi dengan rancangan jahat mengganggu otoritas pusat kekhalifahan. Pada masa Hazrat Uthman ia tampil ke kancah politik di Iraq dengan menyamar sebagai seprang muslim. Ia menciptakan dasar-dasar ajaran Syiah seperti:

  • Tiap-tiap Nabi mempunyai seorang ahli waris yang ditetapkan (‘Wasi’) dan Hazrat Ali adalah ahli waris Nabi Muhammad (S) yang menerima warisan suksesi kepemimpinan, pengetahuan dan kebijaksanaan dan segala sesuatu yang Nabi tinggalkan.
  • Kekhalifahan adalah hak Ilahiah Hazrat Ali dan Kalifah yang lain adalah perampas kuasa dan zalim. Dengan bekerjasama dengan orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi, Abdullah bin Saba’ berhasil dalam rancangan jahatnya.
  • Tokoh lainnya adalah seorang Kristen yang bernama Jafeena dari Hirah. Tadinya ia adalah pejabat keamanan kerajaan Romawi. Secara lahiriah ia memeluk Islam tetapi ia ditugaskan untuk menyewa pembunuh dan sebagai perancang pembunuhan Kalifah.
  • Shahrbano putri Yazdgard: Seorang puteri raja Persia, ditangkap dan dibawa ke Madinah pada tahun 20 AH. Hazrat Hussain menikahinya dengan persetujuannya pada tahun 25 AH. (Usool Al-Kafi).

Ada laporan lain bahwa nama yang sebenarnya dari puteri Yazdgard yang menarik ini adalah Jehan Shah dan Hazrat Umar mengusulkan dua nama yang bagus untuknya, Salameh dan Shahrbano. (Kitab Ash-Shafi).

Riset kami menemukan bahwa nama asli dari puteri ini adalah Shahrzadi dan dia adalah anak perempuan dari Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Tanpa memperhatikan bahwa perkawinan ini disetujui oleh para pemuka muslimin. Mereka mengharapkan bahwa perkawinan ini akan menciptakan niat yang baik antara bangsa Arab dan Ajami (non Arab). Bagaimanapun, sisa-sisa  pejabat kerajaan Persia menganggap peristiwa ini sebagai suatu hinaan. Akumulasi api kebencian membara di hati mereka hingga akhirnya mereka berhasil membunuh Imam Hussain.

SEBUAH PENGAKUAN MENGEJUTKAN- HUSSEIN KAZIMZADA

Ini adalah sebuah gambaran yang jelas beberapa karakter buruk dari sejarah kita. Sekarang marilah kita lihat apa yang ditulis oleh seorang sejarawan Iran terkenal abad 20 di dalam bukunya yang berbahasa Persia dengan judul Tajalliat-E-Rooh-E-Iran dar Adwar-E-Tareekhi (Kemuliaan Semangat Iran di dalam   Catatan Kejadian Sejarah):

“Sejak zaman Sa’ad bin Abi Waqas menaklukkan Persia (20 AH) atas perintah Khalifah kedua (Hazrat Umar), orang-orang Persia tetap memelihara semangat balas dendam di hati mereka. Mereka tidak pernah dapat melupakan bahwa segelintir orang-orang Arab telah mengakibatkan kerajaan mereka yang perkasa hancur dengan tiba-tiba. Nenek moyang kita menempuh satu-satunya jalan yang masih terbuka bagi mereka. Pertama-tama, mereka menghasut Abbasiah dari Banu Hashim untuk menghapuskan Dinasti Bani Umaiyyah yang telah berkuasa dari tahun 40 H/ 661 CE hingga 132 H/ 750 CE. Dengan tetap melakukan tujuan jangka panjang mereka dan tetap tekun dengan rencana mereka selama berabad-abad, pada saat yang paling tepat, akhirnya mereka mengundang Hulagu Khan dari Mongolia pada tahun 655 H/ 1258 CE dan menghancurkan kerajaan Arab Abbasiah. Dengan cara ini nenek moyang kita membalas dendam kekalahan mereka yang hina dan hilangnya kerajaan mereka di Qadisiyah pada tahun 16 H/ 637 CE di tangan orang-orang Arab.”

Ini adalah pembalasan dendam yang mereka lakukan kepada muslimin. Kami telah menyebutkan di atas karakter dasar dari drama yang mengerikan yang dirancang oleh mereka. Untuk membalas terhadap Islam sendiri, tokoh-tokoh ini mengganti Islam yang murni ajaran Nabi yang agung Muhammad dengan Islam Ajami. Fondasinya diletakkan selama masa pemerintahan Khalifa Haroon Ar-Rashid. Islam Ajami ini merajalela menjadi apa yang disebut dunia Islam hingga hari ini. Haroon lahir pada tahun 148 H/ 766 CE, dan memerintah selama perioda tahun 169-193AH (786-809 CE).

Ini adalah Islam yang sama, yang oleh Hussain Kazimzada dan Allama Iqbal disebut Islam Ajami. Tuan Syed Ahmad Khan menamainya Agama ciptaan, Allama Inayatullah Khan Al-Mashriqi menamainya Agama yang salah dari Maulvi. Saya menyebutnya N2I, Islam Nomor Dua seperti obat palsu yang dikenal sebagai obat no. 2 di anak benua Indo-Pakistan.

RAHASIA LAIN YANG TERUNGKAP: ABDUL JABBAR QARAMATI

Sebuah buku (dokumen tunggal tulisan tangan) yang ditulis oleh Abdul Jabbar Qaramati tertanggal 280 AH (sekitar zaman Kalifah Abbasiah Mo’tazid) tersimpan di musium Istanbul. Judulnya adalah Kitab-Al-Dalail Al-Nabawwut Syedna Muhammad. Buku ini menceritakan kepada kita bahwa:

« Meskipun hingga dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Nabi kita, Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan. Orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi (Zoroastrian) tetap berusaha menabur benih perselisihan pada kelompok Muslimin. Strategi pemimpin mereka adalah serupa dengan Abdullah bin Saba dan Abu Muslim Khorasani, yang menghidupkan kembali perbedaan etnis antara Arab dan non Arab, yang semua ini telah dihapuskan oleh Al-Quran. »

Mereka menyebarkan kepercayaan bahwa Kalifah seharusnya dari keturunan Hazrat Ali. Pada sisi lain, para konspirator mendapat dukungan kekhalifahan dari keluarga Hazrat Ali dan pada saat yang sama, mereka membunuh para Imam secara berurutan, sedemikian rupa sehingga kaum muslimin juga tidak akan bisa bersatu di bawah keturunan Hazrat Ali juga. Rangkaian pembunuhan ini dilakukan oleh orang-orang dari aktor utama di belakangnya. Pembunuh Hazrat Ali, Jamshed Khurasani, adalah orang suruhan. Perlu dicatat bahwa Jamshed Khorasani adalah seorang Parsi tetapi buku sejarah kita (yang sebenarnya sejarawan Persia) menyebut dia sebagai Abdul Rahman Ibn Muljam Khariji.

Abdul Jabbar Qaramati menulis dalam buku ini bahwa pada saat kesyahidannya, Hazrat Ali adalah seorang Gubernur Iraq yang ditugaskan oleh Hazrat Uthman, sebagaimana ia telah ditugaskan oleh Hazrat Umar sebelumnya. Sebelum membunuh Hazrat Ali, Abdullah bin Saba telah membunuh Hazrat Uthman secara mendadak pada suatu malam di rumah pemerintahan.

Apa yang disebutkan oleh buku tulisan tangan Abdul Jabbar Qaramati ini telah pula dibuat oleh Dr. Hameeduddin, seorang sejarawan terkenal anak benua (Ph.D. dari Harvard) dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam (Terbitan Madinah) pada  halaman 486. Perlu diperhatikan bahwa Qaramati tidak menyebutkan adanya huru-hara ribuan pemberontak yang masuk ke Madinah, ataupun adanya pengepungan rumah Khalifah Uthman. Hazrat Uthman sahid pada tahun 35 AH.

Hazrat Ali, hingga kesyahidannya pada tahun 40 AH/ 660 CE, sebelumnya adalah sebagai Gubernur Iraq yang diangkat oleh khalifah Umar dan Usman dan akhirnya sebagai Khalifah yang baru, Amirul mu’miniin.

Jadi, bagaimanakah perihal adanya pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha atau pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan yang terakhir pertempuran Nahrwan antara Hazrat Ali dan Khawarij, semua cerita ini adalah pemalsuan yang luar biasa dari hasil karya pemikir yang briliant.

Sekarang mari kita perhatikan apa yang dinyatakan oleh Hujjatallah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi dalam bukunya Meezanul Faris dan oleh Hur bin Abdul Rahman, Gubernur Andulusia (Spanyol), di buku hariannya, Muzakkrah Hur bin Abdul Rahman.

8 thoughts on “Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (1)

  1. andi anwar says:

    saya ingin bertanya ma anda, apakah kitab ath thabari
    itu layak dipakai atau kagak???

  2. rahmat says:

    Setelah saya baca beberapa artikel yang ada disini, sy menangkap tujuan dari tulisan2 di sini adalah agar umat Islam meninggalkan hadits, sunnah, atsar shahabat dll. menurut tulisan ini cukup al-quran saja.

    tulisan2 yang ada disini, bukan tulisan yang ditulis oleh pemilik blog.

    Jadi tidak perlu ditanggapi / dicomentari, krn pemilik blog sndiri sbtlnya tidak memahami ttg tema2 dlm tulisan2 tsb.

  3. Anwar says:

    Tulisan di atas terlalu jauh bersifat hipotetis, & tanpa pembuktian hipotesa2 yg diajukan. Sekiranya Anda menolak segenap periwayatan & sumber2nya, lalu bagaimana mungkin Anda bisa menarik kesimpulan yg benar dgn mengandalkan sumber periwayatan yg hidupnya lebih jauh jaraknya dari masa peristiwa sejarah yg dikaji?
    Dengan teknik berpikir gaya Anda, mestinya Anda juga menyangkal adanya Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Tabuk. Peristiwa2 tsb juga diriwayatkan oleh penulis2 sejarah yg Anda gugat kredibilitasnya.
    Sekiranya Perang Jamal, Shiffin, & Nahrawan tidak pernah terjadi, adalah wajar bhw tulisan2 yg memuat 3 perang tsb akan memunculkan banyak pihak yg mengingkarinya tidak jauh setelah tulisan2 tsb diterbitkan pada masanya. Nah, manakah pihak2 yg mengingkari materi tulisan2 tentang 3 perang tsb yg hidup tidak jauh dari penulis2 sejarah yg Anda gugat?

    • Muslim saja says:

      Memang perlu diteliti lebih jauh, apakah peperanga yang terjadi pada zaman Nabi hanya Tabari yang menulis dan sumbernya apakah hanya dari Abu Mikhnaf.

      Berbeda dengan peperangan antar sahabat (kalau diasumsikan benar-benar terjadi), kebetulan peperangan pada zaman Nabi beberapa diantaranya diabadikan informasinya di dalam Al-Quran.

      Perang badar dan uhur misalnya disinggung pada ayat 3:123 dan 140, perang hunain di ayat 9:25. So katakanlah tidak ada buku sejarah yang nulis, maka info dari Al-Quran saja sudah sangat mencukupi.

      Anyway, apa masalahnya sih bagi kita muslimin zaman sekarang ini kalau kita tidak pernah tahu secara pasti bahwa para sahabat itu pernah berperang atau tidak?

      Apakah bila kita tahu secara pasti tentang peperangan tersebut akan menambah kesholehan kita?

  4. Hotman says:

    nulis kok kayak gini, ngawur mas…! bagaimana kerjasama harun al rasid dgn karel agung raja prancis yg kristen dalam menaklukan spanyol yg dikuasai abdurrahman si rajawali…?

    sejarah khilafah adalah sejarah raja2 lalim dalam sejarah islam…!

  5. Hotman says:

    ya walaupun sahabat nabi juga, banyak yang jalim dan tolol.. supaya kita mengambil pelajaran dari sejrah.. baca surat at taubah:106 (?) bahwa org ‘arob sungguh keterlaluan dalam kemunafikannya, ini ayat turun menjelang akhir kenabian. toh hadis juga mengatakan, bahwa tidak ada jaminan apa yang akan dilakukan para sahabat nabi tsb, kenapa heran, banyak kisah2 org2 jalim disekitar para nabi dan rasull…!

    bodoh ya jangan kelewatan dong…! bagaimana dgn hadis2 yang meriwayatkan tentang ayat2 quran yang telah hilang dan kurang, anda ragu juga..

    coba anda baca riwayat hidup abdullah bin umar, sbg cikal bakal kaum murjiah.. khawarijd, dia dikenal sejarawan sbg plin-plan.. bagemana..?

    seperti tdk bermazhab, tapi mazhabnya ya mazhab plin-plan, kayak mazhab persis yang mengharamkan mazhab…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: