JEJAK SEJARAH LARANGAN PENULISAN HADITS

74

September 4, 2010 by Islam saja

Nabi Muhammad melarang menulis hadits-nya

Masalah ini telah didokumentasikan dalam Kitab Muslim, Ahmed dan sumber-sumber Kitab Hadis lain bahwa Nabi Muhammad telah melarang penulisan hadits-nya. Bukti historis mendukung fakta ini, karena kata-kata dan tindakan (Hadis & Sunnah) dinisbahkan pada Nabi belum muncul hingga abad kedua setelah kematiannya.

Al-Quran telah meramalkan kemungkinan terjadinya pemalsuan/ penciptaan Hadits dan Sunah oleh musuh-musuh Nabi:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan..” 6:112

Mengambil Ibroh dari ayat di atas, maka Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa hal itu adalah kehendak Allah sehingga memungkinkan adanya penciptaan Hadits dan Sunnah yang akan berguna sebagai kriteria untuk mengungkapkan orang-orang yang hanya percaya di ucapan mereka, bukan isi hati mereka. Mereka yang tertarik pada Hadits dan Sunnah membuktikan ketidakbenaran iman mereka:

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan..” 6:113

Segera setelah kata-kata Al-Quran ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Al-Quran SAJA, yang Allah gambarkan sebagai “sepenuhnya rinci” sebagai SATU-SATUNYA sumber hukum:

“Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? …..” 6:114

Kitab Hadis melaporkan bahwa Nabi memerintahkan untuk TIDAK menulis apa pun darinya kecuali Al-Quran!

(1) Ditunjukkan di bawah ini hadits yang diambil dari sumber hadits yang paling dapat diandalkan, yaitu Sahih Muslim dan Is-haah Ahmad Ibn Hanbal. Hadis ini menyatakan bahwa Nabi mempertahankan larangannya hingga beliau meninggal:

Ibn Saeed Al-Khudry melaporkan bahwa Rasul Allah telah berkata,

“Jangan menulis apapun dariku KECUALI QURAN. Siapa saja yang menulis sesuatu selain Al-Quran harus menghapusnya.” [Ahmad, Vol. 1, halaman 171, dan Sahih Muslim, Zuhd, Buku ke-42, No. 7147]

(2) Buku terkenal, “Ulum Al-Hadits” karangan Ibn al-Salah, melaporkan sebuah hadis dari Abu Hurairah di mana Abu Hurairah mengatakan bahwa Utusan Allah datang kepada kami ketika kami menulis hadis-hadisnya dan berkata; “Apa yang kamu tulis? ” Kami berkata, “Hadis yang kami dengar dari Anda, wahai Utusan Allah.” Dia berkata, “Sebuah kitab selain Kitab Allah?!” Kami berkata, “Haruskah kami menceritakan tentang Anda?” Dia berkata, Ceritakanlah tentang aku, hal itu mungkin akan merupakan kebaikan, tetapi orang-orang yang berbohong akan pergi ke neraka. Abu Hurairah berkata, kami kumpulkan apa yang kami tulis tentang Hadis dan membakarnya kedalam api.

(3) Dalam buku yang terkenal, “Taq-yeed Al-Ilm oleh Al-Khateeb Al-Baghdady“, Abu Hurairah berkata, utusan Allah diberitahu bahwa ada orang yang menulis hadits. Dia menuju mimbar masjid dan berkata, “Apa ini buku yang saya dengar kamu tulis? Saya hanya seorang manusia. Siapapun yang memiliki tulisan-tulisan ini pun harus dibawa kemari. Abu Hurairah berkata bahwa kami mengumpulkan semua ini dan dibakar dalam api.

(4) Ibn Hanbal dalam kitab Musnad, meriwayatkan sebuah hadis di mana Abdullah bin Umar berkata, “Utusan Allah suatu hari datang kepada kami seolah-olah ia akan segera meninggalkan kami dan berkata,” Ketika saya pergi meninggalkan kamu (mati), berpeganglah pada Kitab Allah, haramkan apa yang diharamkan dan halalkan apa yang halal”

Beliau tidak pernah menyebutkan tentang Sunnah dalam hadis-hadis di atas..

(5) Sekali lagi, dalam buku “Taq-yeed Al-Ilm”, Abu Saeed Al-Khudry berkata, “Aku meminta ijin kepada Utusan Allah untuk menulis hadits-hadits, tetapi ia menolak untuk memberikan izin.”

(6) Haji perpisahan Nabi Muhammad adalah tonggak dalam sejarah Islam. Khotbah terakhir yang diberikan oleh Nabi selama haji ini disaksikan oleh ribuan umat Islam. Namun ada TIGA versi khotbah dalam kitab-kitab Hadits. Ini dengan sendirinya mencerminkan tingkat kecurangan dari kitab-kitab Hadits ini padahal adalah banyak yang menyaksikan pidato dari Nabi Muhammad:

1. Versi pertama, “saya meninggalkan kepada kamu semua, apa yang jika kamu pegang teguh, kamu tidak akan sesat, (yaitu) Kitab Allah dan Keluargaku. (Muslim 44 / 4, No. 2408; Ibn Hanbal 4 / 366; Darimi 23 / 1, no. 3319.

Hadits di atas adalah versi yang sering diungkapkan oleh Muslim Syiah.

2. Versi kedua, “Aku meninggalkan kepada kamu semua, apa yang jika kamu pegang teguh, kamu tidak akan sesat, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnahku”. (Muwaththa, 46 / 3 )

Redaksi di atas adalah versi yang sering diungkapkan oleh Muslim Sunni.

3. Versi ketiga, ” Aku meninggalkan kepada kamu semua, apa yang jika kamu pegang teguh, kamu tidak akan sesat, (yaitu) KITAB ALLAH.” (Muslim 15/19, No. 1218; Ibnu Majah 25/84, No. 3074; Abu Dawud 11/56 No.1905).

HANYA kitab Allah. Versi yang ini jarang dikutip oleh Muslim Sunni dan Syiah. HANYA versi inilah yang sesuai dengan pernyataan berulang-ulang dalam Al-Qur’an bahwa ajaran Muhammad HANYA AL-QURAN. Banyak Muslim Sunni dan Muslim Syiah yang tidak tahu bahwa versi ini ada di khotbah tersebut. Pada kenyataannya, mereka tidak ingin tahu, kebenaran memang menyakitkan, tetapi ketahuilah bahwa api neraka jauh lebih menyakitkan.

Argumen dari ahlul hadits

Para ulama ahlul hadits menyatakan bahwa Nabi telah mengubah larangan tersebut dan di kemudian hari membolehkannya. Namun demikian, laporan sejarah yang terjadi sekitar 30 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah membatalkan perintah untuk tidak menulis dari mulut beliau SELAIN Quran.

Dari Ibnu Hanbal;

Zaid bin Tsabit (penulis wahyu yang paling dekat dengan Nabi) mengunjungi Khalifa Mu’aawiyah (lebih dari 30 tahun setelah wafatnya Nabi), dan menceritakan sebuah kisah tentang Nabi. Mu’aawiyah menyukai cerita tersebut dan memerintahkan seseorang untuk menuliskannya. Tapi kata Zaid. “Rosul Allah memerintahkan kita untuk tidak pernah menulis apapun dari hadis-nya,”

Para pembaca hadits semestinya tahu, bahwa kejadian berikut terjadi sekitar 30 tahun setelah Nabi wafat, yang dengan sendirinya akan menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad sebenarnya tidak pernah memberikan otorisasi penulisan hadits sejak beliau mengatakan kepada para pengikutnya untuk tidak menulis selain Al-Quran, dan Zaid masih mentaati larangan tersebut.

Dengan demikian hadits-hadits yang mencoba untuk menunjukkan bahwa Muhammad telah mengubah larangannya tentang menulis hadits dalam kitab-kitab hadits merupakan hadits-hadits palsu, karena tidak mungkin menerima hadits (laporan sejarah) yang isinya saling bertentangan.

Sejarah pendokumentasian hadits

Penulisan dan dokumentasi Sunah merupakan sesuatu yang menarik dan merupakan bagian penting dari sejarah Islam kita. Dalam semua rinciannya, pembaca sejarah dapat menemukan semua indikasi bahwa Allah mengizinkan terjadinya pemalsuan dari apa yang disebut Hadits dan Sunnah Nabi Muhammad sebagaimana Dia mengatakan kepada kita pada ayat 6:112-113.

Allah berulang kali mengatakan dalam al-Quran bahwa Kitab-Nya, adalah lengkap, sempurna dan sepenuhnya terperinci, lihat 6:19, 38, 114, 115; 50:45, 12:111, dan jika Dia menghendaki tentu Dia dapat memberi kita ratusan Kitab, bukan hanya satu Al-QURAN, lihat ayat 18: 109 dan 31:27. Allah tahu bahwa Al-Quran sudah cukup, dan bahwa mereka yang tidak merasa cukup dengan AL-Quran akan melakukan “mem-berhalakan“ orang-orang seperti Bukhari, Muslim, Ahmed dan lain-lain sebagai pesaing Allah dalam menetapkan hukum-hukum untuk adDiin yang besar dan sempurna ini, lihat ayat 9:36,12:40, 30:43.

Hadis dan Khalifah Rashidiin

Ditemukan laporan bahwa Khalifah Rashidiin yang pernah memerintah Muslimin setelah wafatnya Nabi Muhammad, tetap menghormati perintah Nabi dan melarang menulis dan mengkoleksi hadits-hadits. Mereka percaya kepada Allah dalam Kitab-Nya dan menerima perintah Nabi.

Abu Bakr pada suatu ketika tidak begitu yakin apakah tetap menjaga apa yang ia ketahui dari hadits-hadits atau tidak. Dia telah mengumpulkan 500 Hadits selama persahabatan yang sangat panjang dengan Nabi Muhammad, tetapi dia tidak bisa tidur sampai akhirnya beliau membakar hadits-hadits tersebut. (Tazkarah-tul-Haffaaz oleh Imam Zahabi)

Umar Ibn Al-Khattab bersikeras untuk memusnahkan Hadits yang dikumpulkan oleh putranya Abdullah. Sejarah Islam menyebutkan kisah Umar Ibn Al-Khattab yang menahan empat dari sahabat Nabi karena desakan mereka untuk menceritakan Hadits, mereka ini adalah Ibnu Mas’oud, Abu al-Dardaa, Abu Mas’oud Al-Anssary dan Abu Dzarr Al-Ghaffary. (Tazkarah Haffaz vol 1, hal. 7). Umar menyebut Abu Hurairah sebagai pembohong dan mengancam untuk mengirimnya kembali ke Yaman jika dia tidak berhenti mengatakan semua kebohongan tentang Nabi Muhammad. Dia lalu berhenti hingga Umar meninggal, kemudian mulai lagi menceritakan hadits.

Umar Ibn Al-Khattab pernah memerintahkan para Sahabat untuk pulang dan datang kembali dengan membawa koleksi hadits mereka. Kemudian seluruh tumpukan tersebut dibakar. (Tabaqat Ibnu Sa’ad vol 5 hal. 140)

Umar Ibn Al-Khattab dilaporkan pernah mengatakan, “Ada masyarakat sebelum kamu yang menulis buku berisi ucapan Nabi. Tetapi kemudian, mereka meninggalkan Wahyu Ilahi dan mentaati buku-buku buatan manusia. Demi Allah! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi pada Kitabullah (Al-Quran).” (Jameel ‘Bayan’ Ilm oleh Hafiz Ibn Abdul Birr)

Abu Hurairah biasa mengatakan, “Saya telah menyampaikan banyak hadits tersebut kepada kamu semua dimana ketika Hazrat Umar masih hidup dia akan memukul saya dengan cambuk. “(Tazkirah-til-Haffaz hal. 8)

Ali bin Abu Thalib, Khalifa keempat, dalam salah satu pidatonya berkata, “Saya mendesak semua orang yang telah menulis sesuatu yang diambil dari Utusan Allah untuk pulang dan menghapusnya. Orang-orang sebelum kamu dihancurkkan karena mereka mengikuti Hadits dari ulama mereka dan meninggalkan Kitabullah mereka. ” (Mukhtasar Jaame’ Bayan-il-‘Ilm hal. 33)

Khalifa Umar bin Abdul Aziz, yang mengawali

Abu Hurairah meriwayatkan hadits lebih dari pada orang lain termasuk Abu Bakr, Umar, Ali, dan Aysha yang tinggal bersama Nabi sepanjang hidup mereka. Dalam waktu kurang dari dua tahun bersama Nabi, Abu Hurairah mampu meriwayatkan Hadits lebih dari pada semua sahabat Nabi bila dikumpulkan. Dia meriwayatkan hadits sebanyak 5.374. Ibn Hanbal mencatat 3.848 Hadits darinya di dalam bukunya.

Khalifah Terpimpin, Al-Khulafaa Al-Rashedun, yang memerintah Ummah Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad tetap menghormati keinginan Nabi untuk tidak menulis apa pun KECUALI Al-Quran dan mencela setiap upaya penulisan Hadits dan Sunnah. Komitmen mereka diikuti selama dua abad pertama setelah wafatnya Nabi.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebohongan-kebohongan tentang Nabi Muhammad tersebar luas dan orang-orang meninggalkan/ mengabaikan Al-Quran dan mencari Hadits, yaitu ketika Khalifa Umar bin Abdul-Aziz mengeluarkan perintah untuk mengizinkan penulisan Hadits dan Sunnah dengan berpikir bahwa hal tersebut akan dapat mengakhiri kebohongan tentang Nabi Muhammad.

Namun demikian, pelan-pelan namun pasti, sejak saat itulah Islam bergeser dari Diin Allah, Al-Quran, kepada Diin Hadits dan Sunnah yang awalnya dilarang oleh Allah dan Nabi-Nya. Segala puji bagi Allah, Dia tetap menjaga dan melindungi agama-Nya SEMPURNA, Islam dalam kitab-Nya bahwa Dia sebut debagai Hadits TERBAIK (Ahsanal Hadits).

Apa yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khotob dan Ali bin Abi Tholib telah terjadi hingga hari ini.

MENGAPA MEREKA MELAKUKAN INI?

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (AQ, 6: 112)

31: 6 Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan HADITS yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.

Waktu sudah dekat ketika orang-orang akan menempatkan kepercayaan mereka lebih kepada hadis dibanding kepada Al Qur’an. (Abu Khalid Al-Ahmar, Mukhtasar Jaame ‘Bayan-il-‘Ilm hal. 180)

Saya terjebak dalam jurang kemerosotan Hadits selama 60 tahun. Sekarang aku berharap aku bisa keluar dari itu dengan tidak ada keuntungan dan tidak ada kerugian. (Safiyan Sauri, Mukhtasar Jaame ‘Bayan-il-‘Ilm hal. 181)

Saya belum melihat makhluk yang lebih tercela daripada ahlul-Hadis. (Hazrat Umar, Jaame ‘Bayanil’ Ilm hal. 181)

Ahadits menghentikan kamu dari mengingat Allah yang benar. Maka spakah kamu tidak berhenti (Imam Sha’bah, Jaame’ hal. 182)

Demi Allah, saya bukan sebagai penjahat yang menakutkan sebagaimana ahlul- Hadits. (Mughirah Al ‘Anabi, Jaame’ hal. 183)

Para sufi dan orang-orang berdoa secara tertutup adalah pembohong terbesar tentang Hadits. (Allama Shabbir Ahmad Utsmani, Fathul Mulhim, Mujtabai, vol 1 hal. 132)

“Tiga jenis buku yang benar-benar tidak berdasar, Maghazi, Malahem dan Tafsir” (pertempuran agung Nabi, mimpi-mimpi nubuat, dan tafsir Al-Qur’an). Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)

Tapi teman Hanbal, Abu Zar’ah mengingat 140.000 hadits tentang Tafsir saja.
(Taujeeh-il-Ayyam hal. 11)

Dikisahkan oleh Hazrat Anas bin Malik: Di masa kecilnya Nabi sedang bermain dengan anak-anak. Malaikat Jibril datang, menangkapnya dan melemparkannya ke tanah. Gabriel kemudian memotong terbuka dada Nabi daan  mengambil jantungnya. Kemudian ia memotong jantung tsb. dan berkata, “Ini potongan dari Setan. “Dia mencuci potongan tersebut di piring emas dengan air Zam Zam dan menyatukan kembali ke bagian yang lain dan menempatkan kembali jantung tsb. ke dalam dada. Bekas luka di dada tsb. tetap ada sampai Nabi (S) menghembuskan nafas terakhir. (Shahih Muslim ma ‘Fathil Mulhim, hal. 323)

Bagaimana bisa Hazrat Anas menjelaskan suatu peristiwa yang diduga terjadi 36 tahun sebelum ia lahir, dan tidak ada orang lain yang melaporhan hal itu? Apakah jantung  benar-benar tempat kecerdasan manusia, atau otak? Operasi yang salah! Dan jika Nabi dibersihkan dari dosa melalui operasi bedah, ia tidak akan bisa menjadi panutan bagi kita.

Selain itu, apa yang  Zam Zam dan piring emas lakukan di sana? Apakah ada yang pernah melihat bekas luka itu? Sejarah tetap diam! Apakah seluruh cerita yang seadikit masuk akal? Anda bisa menjadikannya hakim.

Ketika para Sahabat terkemuka telah membakar koleksi Hadits mereka, dan menyuruh sahabat lainnya memusnahkannya, bagaimana Muhadditheen bisa menemukan jutaan ahadits? Bukhari menemukan 600.000 lebih. Rantai narasinya berisi 5-6 orang perawi. Bagaimana ia bisa menyelidiki 3,5 juta perawi yang 99,999% dari mereka telah mati dan dikubur? Dan Yahya bin Moin memiliki 1,4 juta Ahadith! Dengan fakta ini, siapa pun dapat mengukur seberapa besar kekacauan, pemalsuan dan penipuan yang telah terjadi.

Referensi:

  1. http://www.quran-islam.org/articles/part_1/history_hadith_1_%28P1148%29.html
  2. http://www.quran-islam.org/articles/part_1/history_hadith_2_%28P1308%29.html
  3. http://drshabbir.com/library/dualislam.pdf

 

INFO TAMBAHAN

1. Larangan menulis hadits oleh Nabi:

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami [Haddab bin Khalid Al Azdi] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Zaid bin Aslam] dari [Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku -Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka.” [Muslim no 5326]

حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ قَالَ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا فَلْيَمْحُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Syu’aib bin Harb] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Hammam] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku, maka barangsiapa menulis sesuatu dariku hendaknya ia menghapusnya.” [Musnad Ahmad no 10665]

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Yazid] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Hammam bin Yahya] dari [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatupun dariku kecuali Al Qu`ran, barangsiapa menulis dariku sesuatu selain Al Qur`an maka hendaknya ia menghapusnya.” [Musnad Ahmad no 10731]

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا فَلْيَمْحُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ubaidah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammam bin Yahya] dari [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id] Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatupun dariku kecuali Al Qur`an, maka barangsiapa menulis sesuatu dariku hendaklah ia menghapusnya.” [Musnad Ahmad no 10916]

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Telah menceritakan kepada kami [‘Affan] berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammam] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatupun dariku selain Al Qur`an, maka barangsiapa menulis sesuatu dariku selain Al Qur`an hendaknya ia hapus.” [Musnad Ahmad no 11110]

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ وَمَنْ كَتَبَ شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Hammam bin Yahya] dari [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku sesuatu selain al qu`ran, maka barangsiapa menulis sesuatu selain al qu`ran hendaklah ia menghapusnya.” [Ahmad no 10663]

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Telah mengabarkan kepada kami [Yazid bin Harun] telah mengabarkan kepada kami [Hammam] dari [Zaid bin `Aslam] dari [‘Atha` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri]: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatu apapun dariku kecuali Al Qur`an, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Qur`an, hendaklah ia menghapusnya”. [Sunan Darimi no 451]

2. Ada indikasi Shohabat tetap mentaati larangan tersebut:

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ قَالَ بَلَغَ ابْنَ مَسْعُودٍ أَنَّ عِنْدَ نَاسٍ كِتَابًا يُعْجَبُونَ بِهِ فَلَمْ يَزَلْ بِهِمْ حَتَّى أَتَوْهُ بِهِ فَمَحَاهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا هَلَكَ أَهْلُ الْكِتَابِ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ أَقْبَلُوا عَلَى كُتُبِ عُلَمَائِهِمْ وَتَرَكُوا كِتَابَ رَبِّهِمْ

Telah mengabarkan kepada kami [Yazid] telah mengabarkan kepada kami [Al ‘Awwam] dari [Ibrahim At Taimi] ia berkata: ” [Telah sampai kabar] kepada [Ibnu Mas’ud] sebagian orang mengagumi sebuah kitab, kondisinya tetap demikian hingga Ibnu Mas’ud mendapati kitab tersebut dan menghapusnya, kemudian ia berkata: ‘Rusaknya Ahlul Kitab (orang-orang Yahudi dan Nashrani) sebelum kalian adalah karena mereka mengagumi kitab-kitab ulama mereka dan mereka tinggalkan kitab Tuhan mereka’ “. [Sunan Darimi no 469]

3.  Hingga zaman Mu’awiyah ada indikasi shohabat masih mentaati larangan tersebut

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

دَخَلَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَحَدَّثَهُ حَدِيثًا فَأَمَرَ إِنْسَانًا أَنْ يَكْتُبَ فَقَالَ زَيْدٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ نَكْتُبَ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ فَمَحَاهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Katsir bin Zaid] dari [Abdul Muthalib bin Abdullah] berkata, ” [Zaid bin Tsabit] menemui Mu’awiyah dan membacakan sebuah hadits, sementara Mu’awiyah menyuruh manusia untuk menuliskannya. Zaid berkata, ‘Sungguh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang kami untuk menulis haditsnya’, lalu ia pun menghapus tulisan tersebut.” [Musnad Ahmad no 20597]

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

دَخَلَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَحَدَّثَهُ حَدِيثًا فَأَمَرَ إِنْسَانًا أَنْ يَكْتُبَ فَقَالَ زَيْدٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ نَكْتُبَ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ فَمَحَاهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Katsir bin Zaid] dari [Abdul Muthalib bin Abdullah] berkata, ” [Zaid bin Tsabit] menemui Mu’awiyah dan membacakan sebuah hadits, sementara Mu’awiyah menyuruh manusia untuk menuliskannya. Zaid berkata, ‘Sungguh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang kami untuk menulis haditsnya’, lalu ia pun menghapus tulisan tersebut.” [Ahmad no 20597]

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ قَالَ

دَخَلَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَسَأَلَهُ عَنْ حَدِيثٍ فَأَمَرَ إِنْسَانًا يَكْتُبُهُ فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا أَنْ لَا نَكْتُبَ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ فَمَحَاهُ

Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali] telah mengabarkan kepada kami [Abu Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Katsir bin Zaid] dari [Al Muththalib bin Abdullah bin Hanthab] ia berkata, ” [Zaid bin Tsabit] datang menemui Mu’awiyah dan bertanya kepadanya tentang suatu hadits, dan ia memerintahkan seseorang agar menulisnya. Zaid lalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar tidak menulis apapun dari hadits beliau.” Maka Mu’awiyah pun menghapusnya kembali.” [Abu daud no 3162]

KESIMPULAN:

  1. Kalau laporan di atas benar, maka penulisan hadits didalam kitab-kitab hadits oleh para pengumpul hadits termasuk salah satu BID’AH yang paling besar sepanjang sejarah Islam.
  2. Namun dari kitab-kitab bid’ah itu justru kita tahu bahwa menulis hadits sudah dilarang sejak zaman Nabi yang diikuti oleh para shohabat utama dan generasi awal muslimin.

Sila baca juga link terkait berikut:

https://muslimsaja.wordpress.com/2016/04/16/sikap-umar-terhadap-hadith/

74 thoughts on “JEJAK SEJARAH LARANGAN PENULISAN HADITS

  1. kusnanto says:

    yang nulis artikel ini adalah orang yang ingkar sunnah…karena tidak percaya hadist dan ingin membuang jauh2 hadist…
    padahal hadist adalah penjelas al-Qur’an walaupun al_Qur’an sudah lengkap tetapi di jelaskan secara rinci di dalam hadist seperti contohnya sholat, di al Qur’an di perintahkan Sholat tetapi tata cara pelaksanaannya tidak di jelaskan dalam al_Qur’an tetapi adanya di hadist…
    semoga bermanfaat.

    • eko mukti jaya says:

      Sinau AL QUR’AN DULU bung kusnanto, biar tahu ntar omonganmu dipertanggungjawabkan lho, coba “kamu mau apa saja AL QURAN ada, sekarang ini orang cendrung melihat tafsir dari pada ayatnya mka jadilah seperti kamu, jadi gak tahu al qur’an

    • udilahyaw says:

      “Syahru ramadhan alladzi unzila fihi al quran hudan lin naas wa bayyinatin minal huda wal furqan …” QS Al Baqarah : 185
      Penjelas Al-Qur’an ya Al-Qur’an sendiri,,, itu Allah yang mengatakan bukan aku yah,,,
      Kalau pengen tata cara sholat versi al-Qur’an, please kirim e-mail ke alamat:
      setiadi.ihsan@gmailcom
      Itu juga kalau emang tidak berhasil menemukan sendiri dalam Al-Qur’an

  2. prita raihanita says:

    Hadits muslim di atas itu lengkapnya:

    Telah menceritakan kepada kami [Haddab bin Khalid Al Azdi] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Zaid bin Aslam] dari [Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku -Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka.”

    (Shahih Muslim, bab.hukum menulis hadits no.5326 & Musnad Ahmad bab. musnad abu said alkhudri no.10731)

    Hadits ini bukan pelarangan periwayatan hadits, tetapi larangan menulis sesuatu dari nabi, khusus bagi Abu sa’id al-Khudri, dan semua riwayat mengenai ini berasal dari Abu sa’id al-khudri.

    Bagi nabi banyak pencatat ucapannya, diantaranya menulis surat2 dan perjanjian2 dari beliau saw.

  3. prita raihanita says:

    Informasi hadits pada tulisan di atas ini tidak seimbang, karena ada juga hadits2 yg meriwayatkan bahwa Nabi saw tidak melarang penulisan hadits.

    Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Abdul Malik bin Waqid Al Harrani] berkata; telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Salamah] dari [Muhammad bin Ishaq] dari [‘Amru bin Syu’aib] dari [Mujahid] dan [Al Mughirah bin Hakim] dari [Abu Hurairah], mereka berkata; kami mendengarnya berkata; “Tidak seorangpun yang lebih tahu dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain aku, kecuali Abdullah bin ‘Amru, karena sesungguhnya ia menulis dengan tangan dan meresapinya dengan hati, sedangkan aku hanya meresapi dengan hati dan tidak menulis dengan tangan, dan dia juga meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis dalam bukunya dan Rasulullah mengizinkannya.”

    (Musnad Ahmad bab.musnad abu hurairah no.8863)

    Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ahmad] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [‘Amr] dari [Wahab bin Munabbih] dari [saudaranya]: Ia pernah mendengar [Abu Hurairah] berkata: “Tidak ada seorang pun dari para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak meriwayatkan hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan diriku kecuali yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, itu karena dahulu menulis sedang aku tidak menulis (hadits-hadits tersebut) “.

    (Sunan Darimi bab.memberi rukhshoh pendokumentasian kekayaan ilmu no.483)

    Telah mengabarkan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ubaidullah bin Al Akhnas] ia berkata: telah menceritakan kepadaku [Al Walid bin Abdullah] dari [Yusuf bin Mahak] dari [Abdullah bin ‘Amr] ia berkata: “Dahulu aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, aku hendak menghafalkannya tetapi masyarakat Quraisy melarangku, mereka berkata: ‘Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, bukankah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga manusia ia berbicara pada saat sedang marah dan senang? ‘, kemudian aku berhenti dari menulis, kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya seraya berkata: ‘Tulislah, Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya, tidaklah yang keluar dari (utusan Allah subhanallahu wa ta’ala) selain kebenaran semata’ “.

    (Sunan Darimi bab.memberi rukhshoh pendokumentasian kekayaan ilmu no.484)

  4. prita raihanita says:

    HADITS2 YG MEMBOLEHKAN PENULISAN HADITS DAPAT DI LIHAT DI BAWAH INI.

    Telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Shalih] ia berkata: telah menceritakan kepadaku [Al Laits] telah menceritakan kepadaku [Khalid bin Yazid] dari [Sa’id bin Abu Hilal] dari [Abdul Wahid bin Qais] ia berkata: telah mengabarkan kepadaku [seorang pembawa kabar] dari [Abdullah bin ‘Amr]: “Ia mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ingin meriwayatkan hadits darimu, dan aku ingin membantu hatiku (hafalan) dengan tulisan tanganku jika baginda mengijinkannya’, kemudian Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jika memang haditsku, kamu bisa membantu (hafalan) mu dengan tulisan tanganmu’ “.

    (Sunan Darimi bab.memberi rukhshoh pendokumentasian kekayaan ilmu no.485)

  5. prita raihanita says:

    Jika anda sekalian membaca hadits2 secara utuh dan menyeluruh maka anda sekalian akan memahami bahwa pelarangan penulisan hadits hanya bagi sekelompok orang saja.

    Dan perilaku tidak mau menuliskan hadits adalah perilaku tertentu dari masing2 shahabat saja. Bahkan pembakaran hadits pun adalah perilaku dari shahabat2 tertentu saja.

    • Muslim saja says:

      Kalau memang tidak ada larangan penulisan hadits, tentu pada hari ini muslimin mewarisi banyak kitab hadits yang ditulis oleh para sahabat, tabi-in dan tabi-ittabiin.

  6. Rendy says:

    Saya mendukung penuh “Muslim saja” penulis artikel ini khusus dalam hal “pelarangan penulisan hadis”
    Konsep Dienul Islam SUDAH SEMPURNA
    Ummat sepeninggal Nabi harus berpegang pada Wasiyat Nabi sedang Kitab Hadis bukan WasiyatNnya.

  7. andi anwar says:

    muslim saja: apakah anda mau mengingkari hadits????

    • Muslim saja says:

      Menyikapi hadits itu, kira2 seperti Bukhori ketika menyikapi informasi yang masuk.
      Konon, dia menerima informasi/ hadits sekitar 600000, dan hanya sekitar 4000-an yang dia terima, atau sekitar 0,6 % saja. Artinya Bukhori menolak sekitar 99,4 % informasi yang disebut hadits.
      Hadits, BUKAN kitab suci, tetapi hanyalah kitab sejarah yang bisa berguna tergantung keotentikan informasinya.

  8. prita raihanita : salamun’ailakum
    kelihatannya anda sangat berilmu pengetahuan tentang Hadist, Bolehkah saya bertanya kepada anda?
    1. Apa arti sejati dari Hadist?
    karena di Al-Qur’an 45 : 6, 56 : 81, 77 : 50. Hadist diartikan AL_QUR’AN (perkataan/ keterangan dari ALLAH)

    Mengapa Nabi Muhammad melarang Menulisnya
    (Nabi berkata, “Jangan menulis apapun dariku kecuali Al Qur’an.” [Ahmad, Vol. 1, halaman 171, dan Sahih Muslim]

    Karena itu Nabi Muhammad hanyalah mengikuti Apa yang diwahyukan kepadanya, yaitu Al-Qur’an (bahkan ada sebutan bahwa Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an Berjalan).

    “Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?”
    QS. 6:50

    Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
    QS. 7:203

    Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.
    QS.10:15

    Karena Nabi tidak akan melenceng dari Al-Qur’an Karena NAbi Telah diancam Oleh Allah, di surat 69 ayat 40-47
    “Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,
    dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
    Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.
    Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
    Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.
    Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
    Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.”

  9. Kusnanto : salamun’ailakum
    Kenapa tata cara sholat tidak ada di dalam Al-Quran? Karena Nabi sendiri tidak pernah mengajarkan tata cara Sholat (ritual), Kepada sahabatnya, Nabi Hanya Berkata “Kutiba” Ikutilah.
    Tradisi sholat (ritual) sudah ada pada jaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Mendapatkan Wahyu agar mengikuti Agama Nabi Ibrahim
    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
    QS. 16 : 123

    Dan Bagi Nabi2 tertentu ada Syariatnya sendiri
    “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”

    Sholat yang diajarkan Nabi Muhammad Kepada Sahabatnya Adalah Sholat HAKEKAT yaitu Bersedekah/ berbuat baik

  10. mehr says:

    kembali pada pemaknaan dari hadits itu sendiri yang berarti jalan,yang diambil dari perkataaan Nabi serta sahabat dan pengikutnya ,,,,,quran merupakan kitab yang umum sehingga Qur’an berlaku pada setiap zaman dan kontemporer yang tidak menjelaskan secara terinci tentang syariat islam seperti bilangan shalat dan kita sebagai pengikut kitab Allah serta nabi-Nya harus mengikuti apa yang telah dan pernah diperntahkan oleh Nabi sebegai seorang utusan, karena dalam Al-Qur’an sendiri sudah menjamin akan apa saja yang dibawa dan diucapkan oleh beliau adalah wahyu, sehingga jika kita tidak mengakui hadits sebagai penjelas Qur’an maka secara tidak langsung kita mengikari Nabi sebagai utusan-Nya….

  11. salam…
    Mas/mbak mehr benar, tapi jangan hanya terjebak di masalah syariat aja. Sesungguhnya nabi Muhammad di utus Allah bukan untuk syariat, jika nabi diutus oleh Allah untuk masalah syariat pastilah dijelaskan secara terperinci di al-qur’an. Karena Al-Qur’an bukanlah global/ tidak lengkap.

    Al-qur’an sudah lengkap (menjelaskan segala sesuatu)
    “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.12:111)

    dan disusun terperinci dan rapi, dan yang nyusun adalah ALlah bukan manusia.
    “Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu”
    (QS.11:1)

    Jangan membandingkan Al-Qur’an dengan Kitab2 bikinan Manusia. bahkan jika anda jeli, arti Hadist di dalam Al-Qur’an adalah pekataan Allah… Bukan perkataan Manusia

    Hadist riwayat2 yang ditulis oleh orang, setelah 200 tahun nabi muhammad wafat HARUS di check kebenarannya dengan Al-Qur’an, sejarah yang selama 65 tahun kita yakinin benar, ternyata sekarang diragukan kebenarannya, apalagi 200 tahun setelah nabi meninggal

    Sekarang anda tinggal pilih ingkar Hadits Riwayat Ato Ingkar Al-Qur’an…?

  12. ian says:

    mantappppppppp……
    Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (Qs.6:114)
    Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Qs.53:1-4)
    ucapan nabi ialah wahyu = Al Qur’an
    Maka kepada perkataan(hadist) apakah sesudah Al Qur’an ini mereka akan beriman? (Qs.77:50)

  13. GHOZAL says:

    SUDAH BANYAK YG TAHU BAHWA HADIS2 YG ANDA BAWAKAN MENGENAI PELARANGAN PENULISAN HADIS ADALAH PALSU DAN BERTENTANGAN DENGAN SEJARAH, SILAHKAN CARI TAHU SENDIRI

    DAN MENGENAI HADIS PENINGGALAN NABI… HMM TERNYATA PENGETAHUAN ANDA BEGITU DANGKAL DAN PENJELASAN ANDA MENGENAINYA SANGAT SEENAK PERUT ANDA SENDIRI (SAYA SARANKAN ANDA HARUS BANYAK MEMBACA LAGI HADIS2)

    ORANG ARAB SAJA YG AHLI BAHASA ARAB TIDAK MAMPU MENAFSIRKAN AL-QURAN KECUALI NABI MUHAMMAD SAW, APALAGI KITA2 INI YG NON ARAB!!! HANYA ORANG2 BODOH DAN SOMBONG SAJA YG MENAFSIRKAN AL-QURAN MENURUT HAWA NAFSU PRIBADI SAJA TANPA ADANYA KETERANGAN2 DAN UCAPAN2 (TAFSIRAN) SERTA PERILAKU DARI DAN DICONTOHKAN NABI SAW.

    KENAPA NABI SAW SAJA YG MAMPU MENAFSIRKAN ALQURAN? AGAR KEONTENTIKAN DAN KEMURNIAN ALQURAN TERJAGA DAN AGAR JANGAN ADA ORANG2 SEPERTI ANDA DAN MUSUH2 ISLAM YG SEENAK PERUTNYA SAJA MENAFSIRKANNYA SEHINGGA LARI DARI ARTI YG SEBENARNYA!!!

    SEMISAL SHOLAT, BAGAMANA BERDIRI YG BENAR, BGMN TAKBIR YG BENAR LALU BACAAN APA SAJA YG DIBACA, ITU SEMUA TIDAK DIJELASKAN DI AL-QURAN KECUALI MELALUI AJARAN DAN CONTOH DARI NABI, MEMANG SHOLAT UDAH ADA DARI DULU, TETAPI MENGENAI CARANYA KITA KAN TIDAK PERNAH TAHU?

    LALU TENTANG PERKATAAN ‘AL-QURBA, AHLULBAIT APA MAKSUD AYAT TERSEBUT, DAN MASIH BANYAK CONTOH2 YG LAIN YG TAK PERLU DISEBUTKAN!!!

    JADI PADA INTINYA TAFSIR ALQURAN ADALAH HADITS ITU SENDIRI!

    DAN SEBAGAI WAWASAN, SAYA ADALAH ORANG YG PERNAH MENGINGKARI HADIS KARENA SAYA ANGGAP HADIS ADALAH PENYEBAB PERPECAHAN UMMAT ISLAM, TERNYATA SIKAP SAYA ADALAH SALAH BESAAR!!!

    SALAM DAMAI

    • ardiansyah says:

      Saya sangat setuju pendapat ghozal…itulah indahnya Islam…Alquran di turunkan dan diperjelas dg sikap dan tindakan yang di contohkan Nabi Muhammad SAW. Dan sikap nabi sangat mencerminkan isi Al Quran. Semoga yg membuat tulisan ini mendapat petunjuka dari Allah SWT. anda benar tetapi tidak tepat…yg benar apa yg anda sebutkan tentang Al Quran tp salah tentang pemahaman. Mari kita sama2 belajar Insya Allah akan d beri petunjuk. Amin

      • Islam saja says:

        Karena ilmu Allah itu sangat luas, maka pemahaman bisa beragam dan belum tentu paham yang berbeda itu salah semua.
        Bagi saya paham yang salah adalah paham yang tidak sejalan dengan isi keseluruhan ajaran al-Quran dan yang tidak bermuara kepada “rahmatan lil ‘alamiin”
        (AQ, 21:107)

  14. rj45 says:

    Ibn Saeed Al-Khudry melaporkan bahwa Rasul Allah telah berkata,
    “Jangan menulis apapun dariku KECUALI QURAN. Siapa saja yang menulis sesuatu selain Al-Quran harus menghapusnya.”

    Jika Rasul Allah melarangnya dan menyuruh menghapusnya, mengapa Hadits diatas yg diriwayatkan Ibn Saeed Al-Khudry ini masih ada?????

  15. Saifullah says:

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan’, mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami’. (Apakah mereka masih mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170). Gambaran tentang agama sejati yang benar tidak mungkin hadir jika Alquran diabaikan. Oleh karena itu, kita harus membuat perbedaan yang jelas antara agama dari Alquran dengan agama yang berasal dari tradisi-tradisi yang secara salah kaprah telah dianggap sebagai bagian dari agama sejati.Konsep agama membutuhkan perhatian khusus. Agama, yaitu Islam, adalah murni merupakan implementasi Alquran. Sementara itu, “agama” yang tidak lain dari rangkaian tradisi turun-temurun dari nenek moyang sama sekali bukan Islam.

  16. saifullah says:

    supaya mereka yang ‘berakal’ mengambil pelajaran. bukan jadi seperti baqarah.

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. 6:116)”

    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” ~ 7 : 179.

  17. Arman Syah says:

    Pake Logika sajalah . Allah menurunkan hadis ato Al-quran ?? percaya hadis ato Al-quran ..??

    Lebih Percaya Allah ato Nabi Muhammad .? ”bukannya saya tidak percaya Rasul. hadis saja ada 30 tahun setelah Muhammad meninggal .
    apa mungkin bisa di percaya itu ???

    ilmu itu seperti main bisik2kan , penangkapan yang di bisikan ke anak 1 belum tentu sama penangkapan dgn yang di bisikan ke anak ke 9 . informasi pertama bilang ABC pembagian informasi nya bilang ABZ ,, entah sengaja atau tidak sengaja .

    jaman Nabi orang berpedoman sama Al-quran , jaman kita orang berpedoman sama Al-quran plus Hadis . lah ??????? . kalau masalah Al-quran sulit untuk di mengerti. itu sebenarnya kan kurang kemauan saja’ . orang arab belum tentu lebih mengerti Al-quran di banding kita orang indonesia. Karena ajaran Al-quran itu merata . tidak berubah-ubah . biasa dalam kehidupan kan ?? kita yang lebih tua lebih duluan lahir , eh taunya anak2 kita yang lebih tau tentang tehnologi. jangan anggap orang arab tuh selalu jadi patokan . orang arab gak tahu masa kita juga gak mau tahu .kan gitu aja sebenarnya . “bukan.nya saya megampangkan” .

    hadis masih banyak menyimpan ajaran2 yang bertentagan dengan Al-quran
    Contoh paling sederhana saja .
    kata Al-quran “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al A’raaf 31]

    Kata Hadis tiba-tiba : Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw, “Bahwasanya beliau melarang memakai cincin dari emas,” (HR BUkhari [5864] dan Muslim [2089]).

    nah loh ??

    coba bayangkan si A yg hanya memakai cincin emas dan pakaian seadanya .

    dengan si B yang tidak memakai cincin emas mengenakan kalung (bukan emas) kacamata style (bukan emas) celana jeans , robek2 bak anak abg, sepatu tinggi bak anak punk , baju lengan potong . pakai jaket levis (di pasangin embelm sebanyak2nya) . rambut mohawk .

    berlebihan mana .??
    klo hadis mmng sabda rasul dan tidak usah di ragukan lagi .
    kenapa masih ada yang seperti ini …

  18. Arman Syah says:

    jangan langsung percaya dengan ulama .
    langsung percaya dengan. penafsir.
    langsung percaya dengan nama2 besar
    meskipun itu hidup di jaman Nabi Muhammad SAW .
    Karena Bukan Nabi yang menulis itu
    melainkan SAHABAT NABI buka NABI.nya

    Nabi saja tidak menulis hal hal yang tidak mungkin dia tuliskan.
    (Nabi tidak tahu baca tulis ?) memang, seandainya Nabi Mau menuliskan itu .Demi Pengikutnya , kenapa di tidak belajar Baca tulis.

    semua bisa saja salah . semua bisa saja omong kosong .
    kecuali ”rukun iman” . kalau menurut saya .
    saya hanya akan berpegang pada Al-quran dan saya Menentang keras Selain daripada itu . pilih lah ikut Al-quran yang di ciptakan oleh Allah SWT ato ikut Hadis yang di ciptakan manusia . orang cerdas . akan berfikir lurus dan mengikuti yang sudah pasti.

  19. Arman Syah says:

    Menganggap saya kafir .??
    SILAHKAN . . .

  20. Tejo prayogi says:

    Kebenaran itu datangnya dari Allah, dan jangan sekali kali engkau tergolong orang yang ragu (Alquran).
    Saya tidak berusaha untuk menyalahkan orang yg menulis hadist karena bagi saya itu adalah pelajaran, menurut saya yg lahir sekarang ini artinya hadist sudah ada jadi menyikapinya hadis itu benar tapi jangan membenarkan hadist kalau kebetulan mendengar, membaca dstnya kembalikan kepada Kitab Suci kita satu2nya yaitu Alquran. kitab yg bercahaya, kitab yg diridhoi, kitab suci : yg bisa melihat dikegelapan : kalau tidak sesuai ya tinggalkan kalau sesui Alquran ya dimaklumkan, karena memang untuk belajar Alquran apa adanya itu tidak mudah sebetulnya syaratnya sederhana tinggalkan urusan dunia, karena alquran itu urusan Rohani, jadi kalau condong kepada dunia, napsu dstnya alquran tidak akan tesentuh, makanya namanya Siraman Rohani, masa siraman rohani minta bayaran, bahkan ada yg pakai tarif dstnya itu bukan siraman rohani namanya siraman jasmani,
    jadi tidak perlu diperselisihkan, yg penting buat kita yg iman pada Alquran teruskan mudah2an ditambah petunjuknya, karena didalam ayat alquran dikatakan: Kalau engk au mengikuti petunjuKu(Alquran) maka akan aku tambahkan petunjuk kepadamu, orang yg mendapatkan petunjuk itu bukan orang yg tau petunjuk tapi orang yang tau perintah, disuruh sholat, sholat, disuruh Zakat, azkat, disuruh buat kebaikan, buat kebaikan,tidak disuruh korupsi, jinah, menjual ayat ya jangan jalankan mudah2an kita terobati alias sehat rohani dan jasmani, karena alquran adalah penawar dan obat jadi jelas kalau kita tidak ragu mudah2 mudah2an sehat walafiat, jangan disdihkan oleh mereka biarkan mereka baginya amalanya, bagi kita amalan kita, kita iklaskan saja pada Allah caranya : ikuti terus perintahnya, jangan terbawa oleh mereka,
    mudah mudahan…….!

  21. Tejo prayogi says:

    Ralat: Orang yg mendapatkan petunjuk itu bukan orang yang tau petunjuk atau perintah tapi orang yg menjalankan perintah atau petunjuk itu sendiri , makanya Nabi Muhammad dikatakan Petunjuk Berjalan(Alquran berjalan) karena menjalankan alquran, makanya orang yang menikuti Rosulullah menjalankan Alquran tidak khawatir, dan bersedih hati. Hidup didunia kok masih disedihkan oleh urusan dunia, asal taat dunia diberikan (teko dewe) syaratnya taat, apakah kita sudah taat, ya belum makanya kita sama2 belajar taat, bagaimana mau taat wong sama kitabnya saja tidak yakin,
    Dan kita sebagai umat islam tidak perlu berkecil hati, karena yg dinilai oleh Allah itu bukan pinternya, bukan jabatanya tapi Amaliahnya….., mari sama2 kita belajar menjalankan Alquran hasilnya sesuai dengan usahanya tapi jangan condong kedunia, paling tidak diberikan ketenangan dulu oleh Allah, yg namanya tenang harganya mahal mas..! maaf tulisanya tidak beraturan…

  22. kurosudiro says:

    Berani gak labelin ingkar sunnah sama Imam Malik?

    Kitab Al-Muwaththa

    Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan berbagai problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan membahas serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000 hadits yang dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. Menurut sebuah riwayat, Imam Malik,

    // hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran.//

    BERANI?

    • Islam saja says:

      Anda pernah membaca Al-Muwata?

      Kebetulan saya punya terjemahannya. Dan tidak benar bahwa di dalamnya sudah disaring dengan al-Quran.

      Buktikan sendiri ya.

      • kurosudiro says:

        Wih muslim aja maksud na apaan? Masih banyak yg lolos? Kasi buktilah kang muslim aja. Btw mau donk ebook nya atau join aja di di fb karena trit nt yg ini cukup lumayan bikin kebakaran jenggot banyak orang

        Wassalam

      • kurosudiro says:

        Islam aja: komen saya mengenai imam untuk mendukung artikel antum, mungkin sisa2 syiah masi nempel, dgr imam malik yg sunni langsung hantem aja.mungkin loh yah

  23. susuhunan says:

    Inilah yang benar, Kata Umar: “Sesungguhnya saya pernah berkeinginan untuk menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw, tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis beberapa kitab lalu mereka menyibukkan diri dengan kitab-kitab itu dan meninggalkan kitab Allah. Demi Allah saya tidak akan mencampuradukkan kitab Allah dengan sesuatu apapun buat selama-lamanya”

    ENTE BETUL2 AHLI FITNAH !!

  24. Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
    (QS. 40 : 56)

    Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.
    (QS.16:82)

    Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
    (QS. 28:56)

    Cukup lah… Perdebatan ini

    Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (QS. 22:69)

  25. ninazz says:

    @muslim saja : ingkar hadist, tapi yang anda post itu, sumbernya dari hadist semua, ente yakin sumber yang ente ambil itu benar dan bukan berita bohong..?? kalo mau ingkar hadist, jangan tanggung2….

  26. kokoandiko says:

    Subhannallah. say sepakat 100%. Dan kebenaran hanyalah atas Alquran. Adapun litab-kitab karangan sejarahwan; Imam Bukhory dan imam muhadistin lainnya. Adalh InsyaALLAH SWT cukup membantu untuk mempermudah kita memVerifikasi kebenarannya. Saya amat meyakini bahwa Imam penulis hadist pun MENGHARAPKAN agar hasil penyelidikan,penelitiannya yang tertuang dalam kitab SHAHIHnya agar diverifikasi kebenarannya yang mungkin khilaf beliau-beliau. Mereka adalah mata rantai yang mempermudah, BUKAN pribadi-pribadi yang menentukan MANA YANG BENAR dan MANA yang SALAH.

  27. Mualaf says:

    Terima kasih atas masukannya. memang sejak lama sebelum saya masuk Islam -saat baru mulai mempelajari- saya memang telah menyangsikan kevalidan kitab-2 hadist tersebut. Terutama karena adanya hal-hal aneh berikut ini di dalam hadist:
    1. musik dibilang haram
    2. patung, lukisan dibilang haram
    3. setan diikat pada sebuah tiang (!!!)
    4. matahari timbul diantara dua tanduk setan (!!!)
    5. lalat konon mempunyai racun di sayap kiri, dan penawar/obat di sayap kanan. (?!)
    6. semua anjing diperintahkan utk dibunuh (!) padahal, kita semua tahu, bahwa al-Qur’an mengkisahkan bahwa ashhabul kahfi memiliki anjing (QS. 18:18)
    7. konon, Ibrohim disunat dgn menggunakan kapak (!!)

    9. potong kumis
    10. dll, masih sangat banyak lagi hadist-2 seperti itu…
    Nah, ajaran-2 yang terkesan aneh bin konyol inilah, yang dimaanfaat

  28. Mualaf says:

    Terima kasih atas pencerahannya. Sebenarnya saya juga menyimpan keragu-2an atas kitab-2 hadist, terutama setelah melihat bahwa ada bagian-2 tertentu dari hadist tsb. yang aneh, yakni:
    1. Musik dibilang haram, begitu pula dgn lukisan, dan patung.
    2. matahari terbit diantara kedua tanduk setan.
    3. setan diikat pada tiang.
    4. lalat mempunyai racun pada sayap kirinya, dan obat/penawar pada sayap kanannya.
    5. ibrohim (as) disunat dgn menggunakan kapak (!!)
    6. dll, masih sangat banyak lagi hadist-2 aneh dan konyol semacam ini

  29. Mualaf says:

    maaf, tadi komentar saya terpotong… dan sebagian ternyata sempat terhapus..
    dan tadi saya sempat meringkas comment saya ini…
    baiklah saya lanjutkan:
    “..nah, ajaran yang terkesan aneh bin konyol inilah, yang sering digunakan oleh kaum kristen dan non muslim lainnya, untuk menjelek-2kan islam, mereka lebih senang menggunakan dalil dari hadist, sebab mereka merasa kesulitan dalam menyerang dgn dalil al-Qur’an, sebab akan mudah dipatahkan argumentasinya oleh kaum muslim. sebaliknya, dgn menggunakan dalil hadist, mereka seakan mendapatkan ‘pembenaran’, karena isi dari hadist-2 tsb, utk mencela dan memfitnah islam. tapi, anehnya, meskipun demikian banyak orang -yang mengaku muslim- namun ternyata justru menduakan Al-qur’an dan lebih condong kpd kitab-2 hadist tsb.”
    tadi ada kesalahan teknis pd hp saya. maafkan saya, bila para pembaca jadi kurang nyaman membaca komentar-2 saya tadi…

    wassalamu’alaykum.

  30. amin says:

    Siapakah nabi terakhir ?

    Benar sekali, nabi-nabi setelah Muhammad adalah Bukhari, Muslim, dan yang semisal.

    Diin ini tidak akan sempurna tanpa mengambil referensi dari kitab-kitab mereka yang suci dan sempurna. Kitab-kitab mereka adalah penjelas bagi Kitabullah yang begitu suram.

    Apa jadinya diin islam ini tanpa kitab-kitab mereka ??? Tentunya kita tidak akan mengetahui bagaimana Rasulullah shalat, zakat, shaum dst …

    Mereka adalah para penyempurna. Muhammad boleh salah ketika berbuat sesuatu, tetapi mereka dan perawi hadits yang tercatat dalam kitab-kitabnya tidak boleh dan tidak mungkin salah.

    Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam bagi nabi-nabi terakhir terakhir.
    Amin.

    • QOLAQOLA says:

      أَخْبَرَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ قَالَ بَلَغَ ابْنَ مَسْعُودٍ أَنَّ عِنْدَ نَاسٍ كِتَابًا يُعْجَبُونَ بِهِ فَلَمْ يَزَلْ بِهِمْ حَتَّى أَتَوْهُ بِهِ فَمَحَاهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا هَلَكَ أَهْلُ الْكِتَابِ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ أَقْبَلُوا عَلَى كُتُبِ عُلَمَائِهِمْ وَتَرَكُوا كِتَابَ رَبِّهِمْ

      Telah mengabarkan kepada kami [Yazid] telah mengabarkan kepada kami [Al ‘Awwam] dari [Ibrahim At Taimi] ia berkata: ” [Telah sampai kabar] kepada [Ibnu Mas’ud] sebagian orang mengagumi sebuah kitab, kondisinya tetap demikian hingga Ibnu Mas’ud mendapati kitab tersebut dan menghapusnya, kemudian ia berkata: ‘Rusaknya Ahlul Kitab (orang-orang Yahudi dan Nashrani) sebelum kalian adalah karena mereka mengagumi kitab-kitab ulama mereka dan mereka tinggalkan kitab Tuhan mereka’ “.

      [Sunan Darimi no 469]

    • Dhoif says:

      Ibn Hanbal dalam kitab Musnad, meriwayatkan sebuah hadis di mana Abdullah bin Umar berkata :

      “Utusan Allah suatu hari datang kepada kami seolah-olah ia akan segera meninggalkan kami dan berkata : Ketika saya pergi meninggalkan kamu (mati), berpeganglah pada Kitab Allah, haramkan apa yang diharamkan dan halalkan apa yang halal”.

  31. eko bodho says:

    He..he..he.
    Setelah membacab artikel ini saya kok jadi binggung ya. Penulis menolak/tidak percaya hadits tetapi kok mencantumkan hadits yang melarang menulis hadits.

    Tidak percaya kok menggunakan hadits… Mestinya hadits yg ditampilkan tidak ada krn menurut penulis tidak percaya hadits. jadi hadits itu tidak ada.

    Jadi larangan menulis hadits jadi tidak ada karena mmg tidak ada hadits.. hehehe.

    Ato karena kebodohan saya ndak paham jalan pikiran penulis ini.

    • Islam saja says:

      Dari pelanggaran terhadap larangan tersebut, kalau info tersebut benar, kita jadi tahu bahwa ternyata ada larangan penulisan hadits.

      Info di dalam hadits, bagi saya sama dengan info sejarah lainnya, yaitu sama-sama mempunyai nilai informasi yang bisa benar dan bisa salah. Bukan kitab yang HARUS diimani seperti mengimani al-Quran dan Kitabullah lainnya (kalau masih ada yg asli).

      Tingkat kepercayaan saya terhadap informasi masa lalu tergantung sejauh mana akurasinya, bukti-bukti pendukungnya dan sifat historisnya (konsisten secara historis, harmoni dengan informasi lainnya yang relevan, atau bisa dikonfrimasi dengan info lainnya sebelum, yg sezamn dan setelahnya)

  32. abdul karim says:

    Mungkin ada yang tidak setuju dengan apa yang akan saya tuliskan disini namun saya harap ini merupakan satu diskusi umum yang membawa kepada kebaikan, yang mahu percaya hadis tetap saudara saya dan yang menolaknya juga saudara saya, sehingga di hari penghakiman Agung nanti kita akan tahu kebenarannya, Yang penting kita sama-sama masih beriman pada shadah kita.
    Seandainya di akhir zaman ini setelah lebih 1500 tahun Nabi wafat adakah kita masih mahu berbalah sama ada hadis itu betul atau tidak boleh diterima atau tidak, kerana penulis hadis ini lah yang menyebabkan kita berpecah belah. Jika ada keraguan kembalilah kepada Al Quran

    • Islam saja says:

      Sebenarnya titik permasalahannya adalah bukan percaya atau menolak, tetapi bahwa hadits itu informasi sejarah yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Dia BUKAN kitab suci dan para penulis hadits BUKAN Nabi.

  33. omar says:

    Muantabh….!
    Bacalah qur’an. Itu perintah pertama dr Alloh.
    D sana ada penyelesaian segala sesuatu, ketahuilah bhw hy ada 2 hal jk tdk mndapatknx,
    1. Tdk mndapatkn penyelesaian krn tdk memahami isinya,
    2. Tdk mnmuknx krn kita mnolak atau enggan mngikuti petunjuknya.

    Contohnya spr hr ini, kebanyakn dr qt memandang banyak pmasahan yg sepertinya tdk bs d selesaikn oleh qur’an dan Islam ini, padahal perkara2 itu tdk ada kl saja petunjuk qur’an d jalankn, bgmn qt mngharap solusi dr qur’an smntara petunjuknya qt abaikn?
    Bgmn jg kita berharap Islam ini mnjadi Rahmatan lil’alamin smntara sistemnya tdk qt jalankn?
    Sayyib quthb mngatakn:
    Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapat mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Ia diminta untuk mengeluarkan pendapat tentang masalah yang tidak ditimbulkannya. Heran sekali kenapa Islam diminta pendapatnya, dalam suatu negara di mana sistem Islam itu tidak dilaksanakan, mengenai masalah-masalah seperti Wanita dan Parlemen, Wanita dan Kerja, Wanita dan Pergaulan Bebas, Masalah Seks Para Pemuda dan lain-lain sebagainya. Orang-orang yang minta agar Islam mengeluarkan pendapatnya dalam masalah ini adalah orang-orang yang tidak suka kalau Islam itu memerintah, malah mereka takut sekali untuk membayangkan saat kalau-kalau pemerintah Islam itu berdiri. Dan yang lebih aneh lagi daripada pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban-jawaban yang diberikan para ulama Islam, dan kesediaan mereka untuk ikut serta dengan para penanya itu dalam perdebatan tentang pendapat Islam dan hukum Islam, dalam perincian-perincian masalah seperti itu, dalam membahas persoalan-persoalan seperti itu, dalam suatu negara yang tidak diperintah oleh Islam dan sistem Islam tidak dilaksanakan.

  34. Annie says:

    – Hadis-hadis yang mendukung Qur’an, sila pakai,
    – Hadis-hadis yang tak ada kaitannya dengan yang ada di Qur’an, coba check context hidup si penulis hadis. Gunakan akal sehat, pasti ketemu, atau minimal kebayang kenapa dia nulis itu
    – Hadis-hadis yang bertentangan dengan Qur’an, buang saja!

  35. Nick says:

    SAYA SANGAT SEPENDAPAT DENGAN PENULIS, KARENA YANG SAYA YAKINI SESUAI DENGAN PERINTAH ALLAH DAN RASULNYA YAITU AL-QURAN. MENGENAI KUMPULAN HADITS YANG DITULIS OLEH PENULISNYA ADALAH SUKA-SUKANYA PENULIS SAJA, YANG TIDAK PERNAH DAPAT KONFIRMASI DARI RASUL SAW. SO BAGI SAYA HADITS-HADITS ITU ADALAH SEMACAM BACAAN SEJARAH SAJA YG TIDAK BISA SAYA YAKINI KEBENARANNYA APALAGI AKAN SAYA JADIKAN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM.
    AGAMA ADALAH PILIHAN…..

  36. scurity says:

    assalamuallaikum
    jangan diteruskan lagi perdebatan yang tiada akhirnya,yang saya baca diatas adalah ego2 semata untuk membenarkan diri sendiri,segeralah minta lindungan ALLAH SWT
    cukup hanya ALLAH SWT yang mengetahui dan menghendakinya
    karena semua hal itu tidak bisa hanya dipikir dengan logika semata
    semua muslim pasti percaya dengan keaslian al-qur’an yang menjadi petunjuk kita untuk menjalani hidup supaya diakhirat kita diberikan balasan yang baik

    • Islam saja says:

      Justru riset keislaman harus digalakkan dan hasilnya diadu (diperdebatkan), mudah-mudahan dari sana, kalau niatnya tulus akan diperoleh pendapat yang terbaik.

      Menurut saya pendapat yang terbaik adalah yang tidak bertentangan dengan ayat al-Quran dan kalau dipraktekkan hasilnya maksimal.

  37. Reza Imanuel says:

    h….h….h…… INGAT….pesan Nabi dalam khutbah Haji Wada’nya…beliau bersabda…” Kutinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya , selama kalian berpegang pada keduanya yaitu KITABULLAH ( Al Qur’an ) dan As Sunnah ( Hadist ) Rasul ” ……………………….LARANGAN menulis hadist pada masa dimana ayat-ayat Al Qur’an sedang diturunkan AGAR tidak bercampur baur antara ayat-ayat Al Qur’an ( Wahyu Allah ) dengan perkataan Nabi yang datang dari dirinya…….karena itu pada saat itu yang BOLEH ditulis hanyalah Wahyu-wahyu Allah……..Setelah rampung ayat Al Qur’an Turun…. yaitu dengan Turunnya ayat 3 surat Al Maidah….” Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku cukupkan bagimu nikmatKu dan telah Ku ridhoi isam menjadi agama bagimu ” …….. dengan turunnya ayat tersebut maka selesailah Wahyu Allah diturunkan….. yang kemudian Nabi menunaikan Haji Wada’ yang kemudian beliau khutbah sebagai mana penjelasan di atas………. Jadi Larangan menulis hadist hanya pada waktu masa ayat-ayat diturunkan…agar benar-benar bahwa yang tertulis dalam catatan para penulis terutatam Zaid ( sekertaris Nabi / pencatat wahyu ) karena itu bahwa apa yang ditulis itu banar-benar Wahyu Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad………… BILA ada orang yang tidak menjadikan Hadist sebagai rujukan dalam memahami Al Qur’an….PASTI akan tersesat……. sebab jelas sekali apa yang ditegaskan dalam hadist di atas…..!!! =D

  38. harun syabab says:

    Penulis yang tidak menggunakan as sunnah atau al haditz ini menurut saya tidak konsisten terhadap keyakinannya yang tidak percaya as sunnah atau al haditz, karena:
    1. Argumen yang digunakan justru berasal dari as sunnah atau al haditz yaitu tentang larangan menulis as sunnah atau al haditz. Mengapa penulis menggunakannya padahal dia tidak percaya???
    2. Dari mana penulis tahu bahwa yang meriwayatkan haditz itu sahabat dan imam yang disebutkan tersebut??? sumber informasinya dari mana??
    3. Kalo saya bertanya siapa nama Khalifah pertama, siapa nama istri nabi yang pertama? Kira2 penulis menjawabnya siapa?? Klo penulis menjawab khalifah pertama bernama abu bakar ra, dan istri nabi yang pertama bernama khadijah, maka pertanyaan saya dari mana penulis mendapatkan informasi tersebut?? apakah di dalam al quran?? atau lewat mimpi?? klo penulis tidak percaya as sunnah atau al haditz….

    • awam says:

      Kalau anda jeli justru akan terbuka mata anda bukan antara hadist tersebut saling kontradiksi?
      Penulis menggunakan hadits justru untuk tujuan itu.
      Sedangkan alasan utama penulis menulis ini adalah logika sejarah:
      1. BANYAKKAH KITAB2 HADITS DITULIS DI MASA 100 TAHUN AWAL ISLAM? TUNJUKKAN BUKTI OTENTIKNYA!!!
      2. BANYAKNYA UMAT ISLAM YANG SALING MENGKAFIRKAN SATU SAMA LAIN DENGAN BERPEGANG PADA KITAB2 HADITS TERSEBUT.
      Tolong buktikan kalo saya salah!!!!

    • Islam saja says:

      Saya percaya bahwa di dalam kitab2 hadits ada informasi sejarah. So bisa benar dan juga bisa salah.

  39. Saeful Rohman says:

    Apa arti hadits menurut anda,. wahai saudaraku ? Silahkan anda simak tentang bantahan Al-Quran tentang hadits ; – Apa tidakah mereka menaruh perhatian pada kerajaan planet-planet dan bumi ini dan apa-apa yang Allah ciptakan dari sesuatunya ? Dan barangkali telah mendekat ajal mereka,maka pada hadits yang lagi sesudah itu mereka beriman ? 7/185 – Allah menurunkan hadits yang lebih baik selaku kitab mengandung ayat mutasyabihat berulang-ulang yang menegakan bulu roma pada kulit orang-orang yang takut pada Tuhannya,kemudian kulit mereka jadi lembut begitupun hati mereka pada memikirkan Allah.Itulah petunjuk Allah .Dia berikan petunjuk denganya orang yang Dia kehendaki,dan siapa yang Allah sesatkan maka tidaklah baginya pemberi petunjuk. 39/23 – Maka hendaklah mereka mendatangkan hadits seumpanya (Al-Quran itu) jika mereka orang-orang yang benar. 52/34 – Maka pada hadits yang mana lagi sesudahnya(Al-Quran itu) kamu akan beriman ? 77/50
    http://www.google.com/m/search?client=ms-samsung&channel=mm

  40. allfarezy says:

    Assalammualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh….

    Dari Miqdam bin Ma’dikariba Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Hampir tiba suatu zaman di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas kursi kemegahannya, lalu disampaikan orang kepadanya sebuah hadits dari haditsku maka ia berkata: “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitabullah (Al-Qur’an) saja. Apa yang dihalalkan oleh Al-Qur’an kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan”. (Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya): “Padahal apa yang diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan Allah Subhanhu wa Ta’ala “. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

    Keterangan Laki-laki yang dimaksudkan di dalam Hadits ini ialah seorang yang mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber hukum yang kedua setelah Al-Qur’an. Ia hanya percaya kepada Al-Qur’an saja. Baginya, Hadits bukan menjadi sumber hukum dan tempat rujukan. Golongan ini dianggap telah keluar dari ikatan Agama Islam. Karena ia tidak akan dapat memahami Al-Qur’an jika tidak kembali kepada Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Qur’an banyak menyebutkan garis-garis besar ajaran Islam dan dalam bentuk global, maka Haditslah yang berfungsi untuk merinci isi dan kandungan ayat-ayatnya serta menerangkan yang sulit-sulit. Oleh karena itu, syariat tidak akan sempurna kalau hanya dengan Al- Qur’an saja, tetapi ia mesti disertai dengan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam..

  41. hamba allah says:

    Allah menurunkan kitab yaitu alquran.
    Mengapa hadist ittu di larang.
    Karna sudah jelas di ayat ayat alquran.

    allah menurunkan kitab alquran tidak dengan hadist agar kemurnian al quran tetap terjaga.

    dalam kutipan ayat “Jika Allah menghedaki meraka, maka akan aku jadikan mereka satu umat saja supaya siapa yang benar benar beriman kepadaku”

    nah apa patut al quran itu di samakan dengan kitab2 yg lain , al quran itu dah komplit tapi bagi orang orang yg mengetahui dan tafakkarun . Al quran itu meliputi segala sesuatu.

    dan mukjizat terbesar adl al quran ,al quran adl pelengkap kitab2 yang sebelum.nya.

  42. hamba allah says:

    mengenai masalaq salat. Solat yg sesungguhnya bukan salat ritual. Akan tetapi salat yg SESUNGGUHNYA shalat hakekat . Bagi yg bisa mencapai tingkatan hakekat maka ialah mengetahui AGAMA YANG SESUNGGUHNYA AGAMA ALLAH AGAMA TAUHID , BUKAN AGAMA MANUSIA.

  43. Ramadhan Dedet says:

    Salaamun ‘alaykum

    Dalam beberapa riwayat/hadist yang dikumpulkan oleh para Imam Hadist, ada yang berbunyi : “ bahwa Rasul/Muhammad pernah berkata, “ Jika aku telah wafat, kamu akan berselisih tentang aku. Untuk mengetahui apakah hal itu benar dari aku, maka cocokkan dengan Alqur’an. Bila cocok itulah aku. “ Dari riwayat ini kami melihat dengan seksama Al Islam yang diamalkan oleh umat Islam, maka nampaklah jelas berapa banyak penyimpangan dari Alqur’an itu sendiri.

    ~ Dari penjelasan diatas kami mengamati Alqur’an sesuai firman Allah

    (QS.16:89)
    (dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

    (QS.41:3)
    Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,

    (QS.25:33)
    Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

    Dan kita tahu jelas bahwa

    ~ HUKUM ALLAH ADALAH ALQUR’AN

    (QS.4:105)
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,

    (QS.6:57)
    Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”.

    ~ Dan HUKUM ALLAH tak boleh disyarikatkan

    (QS.18:26)
    Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan Alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.

    (QS.5:44-47)
    44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

    45. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

    46. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

    47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

    ~ Hadist-hadist yang ditulis para imam hadist, pada umumnya umat Islam dipandang/dinamai sebagai sumber hukum kedua dari Alqur’an sebagaimana dijelaskan firman Allah

    (QS.38:29)
    29. ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

    (QS.47:24)
    24. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

    ~ Maka hadist-hadist yang dikumpulkan para imam hadist itu sulit kiranya untuk dijadikan sebagai sumber hukum dalam melaksanakan ibadah dihadapan Allah, khususnya yang bersifat vertikal (shalat, shaum, zakat, haji). Karena hadist itu mengandung unsur dhanni. Dan semua yang bersifat dhanni tidak dapat dijadikan sumber hukum

    (QS.49:12).
    12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

    ~ Sebagaimana kejelasan Alqur’an yang dimaksud HADIST ialah ALQUR’AN itu sendiri sesuai dengan firman Allah

    (QS.39:23)
    23. Allah telah menurunkan Perkataan (hadist) yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.

    (QS.56:77-81)
    77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
    78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
    79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
    80. diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
    81. Maka Apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran (hadist) ini?

    (QS.53:59-61)
    59. Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan (hadist) ini?
    60. dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?
    61. sedang kamu melengahkan(nya)?

    (QS.45:6)
    6. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan (hadist) manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.

    (QS.52:34)
    34. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran (hadist) itu jika mereka orang-orang yang benar.

    (QS.77:50)
    50. Maka kepada Perkataan (hadist) Apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?

    • Islam saja says:

      Memang kebanyakan muslim zaman sekarang tidak nyadar kalau al-Quran itu ternyata Hadits. Di bukunya Imam Syafi’i ar-Risalah, beliau menyebuk akhbar untuk laporan yang diatributkan kepada Nabi.

  44. MUSTHOFA says:

    Assalamu’alikum
    Saya husnudhon saja karena saya yakin menurut penulis blog ini hanya menyuguhkan data ilmiah berdasarkan fakta yg tertulis, juga mungkin bermaksud menunjukkan bahwa islam itu harus menyesuaikan perkembangan zaman. Juga mungkin bermaksud menunjukkan bahwa bid’ah hasanah itu adalah sebuah kebutuhan yang memang harus dilakukan dalam kondisi-konndisi tertentu.

    Para penulis hadits seperti Imam Bukhari, Imam Muslim dll bukannya tidak paham tentang hadits itu dan bukan bermaksud menentang Rosulullah SAW melainkan dengan alasan:
    1.Bahwa penulisan hadits itu sangat diperlukan karena banyak munculnya hadits-hadits palsu, sehingga hanya keontetikan data dan para perawinya itulah sang bisa membedakan mana hadits yg shahih dan mana yang asli.
    2.Dengan alasan tidak semua orang mampu menghafal hadits yang jumlahnya ratusan ribu dan demi untuk mempermudah syiar Islam itulah diperlukan penulisan hadits.

    Begitu pula dengan pembukuan Al-Qur’an dalam musaf seperti sekarang ini (ingat pembukuan bukan penulisan). Walaupun Rosul tdk pernah mencontohkan maupun memerintahkan pembukuan Al-Qur’an karena dengan alasan:
    1. Bahwa semakin sedikitnya orang-orang yg hafal Al-Qur’an karena banyak yang terbunuh.
    2, Timbulnya kekhawatiran dari para shahabat bahwa ajaran Islam itu tidak akan bisa berkembang, maka para shahabat berijtihad dengan segenap fikirannya yang hasilnya bahwa mereka sepakat akan pembukuan Al-Qur’an tersebut.

    Tentang hadits-hadits shahih tersebut yg mengindikasikan tidak bolehnya (diharamkannya) penulisan hadits maka saya berpendapat:

    Hukum Islam itu walaupun sudah sempurna akan tetapi tidak mutlak atau kaku dalam pelaksanaanya. Dalam situasi dan kondisi tertentu dan dalam keadaan yang sangat mendesak (dengan alasan yang benar) maka sesuatu yang jelas-jelas dilarang boleh dilakukan.

    Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. MAKA BARANG SIAPA TERPAKSA KELAPARAN TANPA SENGAJA BEBUAT DOSA , SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG”.

    Sudah sangat jelas ayat itu tidak perlu saya kutipkan dari berbagai tafsir bahwa Allah membolehkan manusia melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rosulnya jika keadaan sangat terpaksa atau mendesak.

    Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits yang yang menjelaskan dilarang berbuat sombong bahkan Allah mengancam akan memasukkan kedalam neraka jahanam. Namun sombong dengan alasan yang benar masih diperbolehkan sepert firman Allah berikut:
    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku..(QS.Al-A’raaf 146)

    KESIMPULAN
    1. Tidak ada hukum Islam itu berlaku mutlak pasti ada pengecualian.
    2. Para Imam penulis Hadits pasti punya alasan yang benar kenapa mereka menuliskan hadits padahal mereka tau Nabi SAW melarangnya.
    3. Seandainya mereka dengan tujuan sengaja menentang Nabi SAW tentunya mereka tidak akan mencantumkan hadits tersebut.

    SEMOGA BERMANFA’AT

  45. ali says:

    salam : Anda yang hanya berpegang pada Al-Qur’an saja dan tidak mau berpegang pada hadis dengan alasan dilarang menulis dari nabi selain al-qur’an, Sebaiknya anda jangan membawa dalil dari semua ahli hadits yang menulis tentang hadits karena akan lucu sekali karena sesuatu yang anda ingkari kebenarannya anda jadikan dasar untuk membenarkan pemahaman anda dengan cara menyebutkan hadits yang ditulis ulama’ ahli hadits……

    • Islam saja says:

      Anda salah, saya menganggap kitab2 hadits adalah sama dengan kitab sejarah lainnya (bisa salah dan bisa juga benar)

  46. Ahmad says:

    Kehancuran umat-umat terdahulu karena mereka sangat mengagungkan kitab-kitab para ahli kitab dan meninggalkan kitab yang diturunkan Allah.
    Dan kefasikan sebahagian besar dari kita yang tidak bercermin pada orang-orang terdahulu.
    Yaitu Lima pilar islam semua berdasarkan atas kitab-kitab buatan para ulama dan tak satupun berdasarkan dari kitab yang diturunkan oleh Allah.
    Sungguh, kita hanya mengikuti kitab para ulama dan meninggalkan kitab Allah.

    “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab yang kamu mempelajarinya
    bahwa di dalamnya kamu boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.
    (68:37-38)

  47. Saya dari Malaysia…saya suka hujah2 penuh ilmiah seperti ini…soal hadith dan Al-Quran…kedua2nya saya ikuti…sebelum kita membahasakan tentang isu ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui APA ITU MAKSUD HADITH…dan KENAPA IMAM2 BESAR selepas kewafatan Rasulullah tetap menulis HADITH, walhal terdapat LARANGAN yg juga berdasarkan dari sebuah HADITH. PERTAMA- Teliti benar2 maksud sebenar kenapa Nabi MELARANG. KEDUA-Lihat waktu bila larangan itu dibuat. KETIGA- Kenapa perlu adanya hadith waima AlQuran itu dibilang sudah lengkap dari sudut apa?. KEEMPAT-Bagaimana cara kita meyakini hadith itu benar2 pernyataan dari Nabi. KELIMA- Apakah tanpa hadith kita mampu dengan jelas utk memahami tafsiran AlQuran? In Shaa Allah pasti kita semua akan mendapat JAWAPAN. Wallahua’lam’. -Amirul Penembak Tepat KL @ Aktivis Aman Islam.

  48. SURAT AL-BAQARAH AYAT 2 (HUJAH PALING LENGKAP).

    ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
    Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS.Al-Baqarah : 2)
    Kata ذَلِكَ (itu) adalah kata penunjuk jauh (اِسْمُ الْإِشَارَةِ لِلْبَعِيْدِ), menurut Ibnu Abbas memiliki arti هذا (ini), yaitu kata penunjuk dekat (اِسْمُ الْإِشَارَةِ لِلْقَرِيْبِ), sehingga kalimat ذَلِكَ الْكِتَاب (kitab itu), maknanya adalah هذا الكتاب(kitab ini). Demikian pula menurut Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Zaid bin Aslam, dan Ibnu Juraij, bahwa kata ذلك (itu) mempunyai arti هذا (ini).[1] Kenapa memakai kata penunjuk jauh (ذَلِكَ : itu)? Menurut imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam tafsir Jalalain, bahwa kata penunjuk jauh dalam kalimat ذَلِكَ الْكِتَابُ (kitab itu) adalah digunakan untuk mengagungkan Al-Qur’an, للتعظيم (Lit-Ta’dhim).[2]
    Kata الْكِتَابُ “Al-Kitab” di sini, maksudnya adalah “Al-Qur’an”. Demikianlah menurut Ma’mar dalam kitab shahih Bukhari.[3] Disebut “Al-Kitab” sebagai isyarat bahwa Al-Qur’an harus ditulis. Oleh karena itu, tiap-tiap diturunkan ayat-ayat Al-Qur’an, Nabi Muhammad saw, menyuruh para sahabatnya menghafalnya dan menulisnya di batu, kulit binatang, pelepah korma dan apa saja yang dapat ditulis. Nabi yang menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Dan beliau melarang mereka menulis selain Al-Qur’an, agar Al-Qur’an terpelihara, jangan bercampur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi .[4] Dalam sebuah hadits disebutkan :
    حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ. (رواه مسلم : 5326 – صحيح مسلم – المكتبة الشاملة – باب التثبت فى الحديث وحكم كتابة العلم– الجزء : 14– صفحة : 291)
    Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Zaid bin Aslam, dari Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah saw, bersabda : “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain Al-Qur’an, maka hendaknya ia menghapusnya.” (HR.Muslim : 5326, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Attatsabbut fil Hadits wa hukmu kitaabatil ‘ilmi, juz : 14, hal. 291)
    حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ. (رواه احمد : 10731 – مسند احمد – المكتبة الشاملة – باب مسند ابي سعيد الخدري رضي الله عنه – الجزء : 22 – صفحة : 276)
    Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Hammam bin Yahya, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : “Janganlah kalian menulis sesuatupun dariku kecuali Al-Qu`ran, barangsiapa menulis dariku sesuatu selain Al-Qur`an, maka hendaknya ia menghapusnya.” (HR.Ahmad : 10731, Munad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab musnad Abi Sa’id Al-Khudri ra, juz : 22, hal. 276)
    Imam Nawawi dalam kitab Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim menjelaskan, bahwa larangan menulis sesuatu selain Al-Qur’an karena dikhawatirkan tulisan itu bercampur aduk dengan Al-Qur’an. Bahkan dikatakan, agar tidak bercampur aduk antara Al-Qur’an dan hdits, maka penulisan hadits-pun dilarang ditulis satu halaman bersama ayat-ayat Al-Qur’an.[5]
    Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan memerintahkan kepada penulis Al-Qur’an untuk menyalin Al-Qur`an ke dalam Mushaf. Dan apabila terjadi perbedaan pendapat dalam masalah bahasa Arab Al-Qur`an, supaya ditulis berdasarkan lisannya bangsa Quraisy, karena Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam kitab hadits Shahih Bukhari :
    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَأَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ : فَأَمَرَ عُثْمَانُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ وَسَعِيدَ بْنَ الْعَاصِ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ أَنْ يَنْسَخُوهَا فِي الْمَصَاحِفِ وَقَالَ لَهُمْ إِذَا اخْتَلَفْتُمْ أَنْتُمْ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ فِي عَرَبِيَّةٍ مِنْ عَرَبِيَّةِ الْقُرْآنِ فَاكْتُبُوهَا بِلِسَانِ قُرَيْشٍ فَإِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ بِلِسَانِهِمْ فَفَعَلُوا. (رواه البخاري : 4601 – صحيح البخاري– المكتبة الشاملة – باب نزل القرآن بلسان قريش والعرب– الجزء : 15 – صفحة : 382)
    Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri. Dan telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik, ia berkata : ‘Utsman memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Al-‘Ash, Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam untuk menyalin Al-Qur`an ke dalam Mushaf (pembukuan Al-Qur’an). Dan Utsman berkata pada mereka, “Jika kalian berselisih dengan Zaid dalam masalah bahasa Arab Al-Qur`an, maka tulislah berdasarkan lisannya bangsa Quraisy, sebab Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka.” Maka mereka pun melakukannya. (HR.Bukhari : 4601, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab nuzilzl qur’an bilisaani quraisyi wal’arabi, juz : 15, hal. 382)
    Ayat 2 surat Al-Baqarah ini menerangkan bahwa kitab suci Al-Qur’an tidak ada keraguan padanya, ia adalah betul-betul wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan malaikat Jibril as. Hal ini dipertegas melalui firman Allah surat As-Sajadah ayat 2 berikut :
    تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Turunnya Al-Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya (adalah) dari Tuhan semesta alam. (QS. As-Sajadah : 2)
    Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan agar jangan ragu-ragu terhadap Al-Qur’an, ia bukan buatan Nabi Muhammad saw, akan tetapi semata-mata wahyu dari Allah swt. Firman Allah :
    …..فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
    Janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS.Huud : 17)
    Al-Qur’an adalah petunjuk atau bimbingan bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga mereka dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat nanti. Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang memelihara dan menjaga dirinya dari azab Allah dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
    Seseorang yang sungguh-sungguh ingin mendapatkan derajat orang yang bertakwa akan selalu berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata, sehingga tidak mudah jatuh kepada hal-hal yang terlarang. Hadits Nabi :
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ الثَّقَفِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَقِيلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ وَعَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَطِيَّةَ السَّعْدِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ.(رواه الترمذي : 2375 – سنن الترمذي – المكتبة الشاملة – باب ما جاء في صفة اواني الحوض – الجزء : 8 – صفحة :490)
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu An Nadlar, telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadlar, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aqil Ats Tsaqafi Abdullah bin ‘Aqil, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Rabi’ah bin Yazid dan ‘Athiyyah bin Qais, dari ‘Athiyyah As-Sa’di, dia adalah termasuk sahabat Nabi saw, dia berkata : Rasulullah saw, bersabda : “Seorang hamba tidak akan sampai pada derajat orang orang yang bertakwa sehingga dia meninggalkan sesuatu yang boleh (mubah) karena berhati-hati dari hal-hal yang dilarang.” (HR.Tirmidzi : 2375, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a fi shifati awaanil hawdli, juz : 8, hal. 490)
    Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali ‘Imran ayat 133 :
    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS.Ali ‘Imran : 133).
    Rasulullah saw, menegaskan bahwa derajat takwa dan akhlak yang baik adalah sarana untuk masuk ke dalam surga. Hadits Nabi :
    حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ. (رواه الترمذي : 1927 – سنن الترمذي – المكتبة الشاملة – باب ما جاء في حسن الخلق– الجزء : 7- صفحة : 286)
    Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala`, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, telah menceritakan kepadaku bapakku, dari kakekku, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw, pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab : “Mulut dan kemaluan.” (HR.Tirmidzi : 1927, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a fi husnil khuluqi, juz : 7, hal. 286)

  49. 20 Hujah Asas Golongan Anti Hadis dan Jawapannya.

    Berikut disenaraikan 20 hujah asas (Primary Argument) yang dikemukakan oleh Golongan Anti Hadis untuk menolak hadis-hadis Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam dari sisi syari’at Islam. Sekalipun kelihatan dalam laman-laman web mereka, terutamanya http://www.ropelist.com dan http://www.submission.org seolah-olah mereka memiliki banyak hujah dan alasan untuk menolak hadis, namun kesemua hujah-hujah tersebut hanyalah merupakan terbitan dari 20 kelompok hujah asas ini. Dengan terjawabnya atau lebih tepat tertolaknya 20 hujah asas ini maka tertolak juga puluhan hujah-hujah mereka yang lain.

    Hujah Pertama:

    Al-Qur’an adalah lengkap, terperinci lagi sempurna, maka kenapakah perlu dirujuk kepada hadis-hadis Nabi sallallahu-alaihi-wasallam ? Bukankah Allah Subhanahu waTa’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an:

    Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab (Al-Quran) ini. [al-An’aam 6 :38]

    (Katakanlah) : Patutkah aku hendak mencari hakim selain dari Allah, padahal Dia lah yang menurunkan kepada kamu kitab Al-Quran yang jelas nyata kandungannya satu persatu ? [al-An’aam 6 :114]

    Dan sesungguhnya Kami telah datangkan kepada mereka, sebuah Kitab (Al-Quran) yang Kami telah menjelaskannya satu persatu berdasarkan pengetahuan (Kami yang meliputi segala-galanya), untuk menjadi hidayah petunjuk dan rahmat, bagi orang-orang yang (mahu) beriman. [al-‘Araaf 7 :52]

    Alif, Laam, Raa’. Al-Quran sebuah Kitab yang tersusun ayat-ayatnya dengan tetap teguh, kemudian dijelaskan pula kandungannya SATU-PERSATU. (Susunan dan penjelasan itu) adalah dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mendalam pengetahuan-Nya. [Hud 11:01]

    Jawapan:

    Ketahuilah bahawa yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala apabila Dia menyatakan kesempurnaan, kelengkapan dan perincian kitab suci-Nya al-Qur’anul Karim, adalah merujuk kepada peranan yang dimiliki oleh al-Qur’an sebagai “kitab induk” yang telah mengusulkan pelbagai kaedah dan cara bagi umat manusia menerima dan mempraktikkan risalah Allah dalam kehidupan harian mereka sehingga ke Hari Akhirat.[1] Al-Qur’an adalah lengkap dan sempurna dalam konteks ia meletakkan asas-asas mentauhidkan Allah dan kaedah-kaedah menjanakan syari’at-Nya. Demikian juga, apabila dikatakan bahawa kitab al-Qur’an tidak meninggalkan atau terlupa apa-apa, ia bererti bahawa al-Qur’an tidak leka atau lengah dari menggariskan pelbagai kaedah serta prinsip penukilan hukum dan ajaran yang diperlukan umat untuk melaksanakan syari’at Allah yang indah ini dalam semua suasana dan keadaan.

    Dalam suasana kelengkapan dan keterperincian inilah al-Qur’an meletakkan dasar serta prinsip yang jitu bahawa hadis serta sunnah Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam wajib dijadikan salah satu dari sumber syari’at yang ditaati, dirujuki dan dipegangi. Apabila hadis dan sunnah Rasulullah disisihkan, maka ia bererti menyisih sebahagian dari dasar dan prinsip penting yang digariskan oleh al-Qur’an; dan apabila hadis dan sunnah Rasulullah ditentang, ia bererti menentang sebahagian dari ajaran al-Qur’an itu sendiri.[2]

    Adalah merupakan tindakan yang amat jahil apabila seseorang itu memahami ayat-ayat di atas secara zahir (face value) sehingga mereka berkata segala apa yang berkaitan dengan agama dan kehidupan di dunia ini telah diperincikan satu-persatu di dalam al-Qur’an. Jika inilah kefahaman mereka, maka penulis bertanya – jika pagi tadi kita bersarapan Mee Goreng dan ingin mengetahui hukumnya, bolehkah kita mencarinya di dalam al-Qur’an ? Pastinya kita tidak akan menemui keterangan tentang Mee Goreng. Maka apakah dengan itu Mee Goreng tersebut menjadi sesuatu yang halal, atau haram, atau sesuatu yang dilupai oleh al-Qur’an ?

    Sebaliknya jika difahami ayat-ayat di atas sebagai yang menerangkan peranan al-Qur’an dalam meletakkan dasar serta prinsip syari’at dan kehidupan, pasti kita akan ketahui bahawa Mee Goreng tersebut adalah halal dan baik untuk dimakan, kerana al-Qur’an sedia menggariskan beberapa prinsip asas pemakanan, antaranya semua yang ada di mukabumi ini adalah halal untuk dimakan (Yunus 10:59) asalkan disembelih atas nama Allah (al-An’aam 6:121) atau dari sembelihan Ahli Kitab (al-Maidah 5:05) dan ia bukan bangkai atau daging khinzir (al-Maidah 5:03); dan bahawa umat Islam sangat dianjur makan (al-An’aam 6:142) asalkan mereka tidak berlebih-lebihan (al-A’raaf 7:31).[3] Inilah maksud dan cara sebenar mengguna-pakai ayat-ayat di atas yang menjadi asas perbincangan.

  50. uwais al-qarni says:

    yang mmbuat sy bingung dr pembuat blog ini adl,dia menolak periwayatan hadits/sunnah nabi sbgai bagian dr sumber hukum islam tp dgn mnggunakan dalil sunnah yaitu hadits nabi.anda melarang mencatut hadits,tdk sadarkah anda tlah mencatutnya!!!inkonsistensi…

    • Islam saja says:

      Jangan bingung mbak, saya memposisikan laporan dalam buku2 hadist sebagai informasi sejarah, bukan sebagai sumber hukum Islam.

  51. Akhi says:

    Ada yg Tau Perbedaan Hadits Dan Sunnah ? Hadits Catatan Manusia Yg Bisa Saja Bohong Dan Di Manipulasi Untuk Kepentinggan Trtenntu, Sunnah Adalah Sgala Perkataan,Sikap,Hukum Yg Rasulullah Praktekan Karena Itu Brsumber Dari Alquran.
    Bukanlah Sebaik2 Manusia Yg Tau Agama Allah Ini Adalah RasulNYA
    Mengapa Rasulullah Melarang Menulis Hadits? Karena Bisa saja di Palsukan Oleh Musuh2 Islam ,Makanya Beliau Sllu Menyuruh Brpegang Pada Alquran dan Sunnahku
    Makanya adanya Hadits Shahih,Dhaif dan Palsu ,tp Percayalah Kalo Sunnah Adalah Benar Karena Itu Datang Dari sisi Rasulullah Sebagai Sebaik2nya Praktek Alquran
    Bagaimma Kita Tau Sipat2 Ahlaq Beliau,Praktek Ilmu tatanan kehidupan beliau dalam Beribadah Kepada Allah Yg Di Wajibkan Dalam Alqur’an,Sejarah Lahirnya Agama Mulia Ini Klo Kita Menolak Mentah2 Smua Catatan Hadits Itu ??
    r penulis jga inkonsisten knapa Mengambil Catatan Dari Hadits Klo dia sendiri Tidak Percaya ?? LOGIKA??
    Salah Satu saja Kita Bahas Perintah Dalam Alquran ‘Shalat’ ,Apa Kita Tau Shalat Itu Yg Bagaimana Yg Harus Di Lakukan?? Saya Percaya Sunnah nabi dan ada Hadits yg Mengatakan ‘Shalatlah Kalian Seperti Kalian Melihat Aku Shalat’ ,apa Yg Tidak Percaya Hadits Bisa Jelaskan Ini ??? Itu baru Satu Saja,Bagaimana Dngan Permasalahan yg lainnya ??
    Bagaimana Kita Tau Sejarah Indahnya Agama Islam Ini Di Turunkan?Siapa Khalifah Pertama,Nubuat2 Masa Depan Kehidupan Ini??penghukuman Perkara Yg Akan Trjadi di Masa depa?? Bukannya Jelas Setiap Perkataan dan Sikap Rasulullah Adalan Sllu Di Bimbing Wahyu ?
    Awas paham2 yg Menjauhkan Kita Jauh Dari Iman Dan Taqwa Adalah Berbahaya
    Bahaya Paham Isa Bugis !!!

  52. hexair says:

    “Bisa benar bisa juga salah”…lha kalau ada dua kemungkinan tersebut lantas bagaimana jika hadits yang anda gunakan sebagai hujjah ini juga salah? Anggap saja terjadi kesalahan teknis saat mengklarifikasinya dan bukan karena niat si perekamnya, bukankah dengan demikian anda sedang “membakar kayu basah”?. Kemungkinan ini mesti anda pikirkan juga mengingat peluangnya ada, apalagi resiko yang akan anda terima secara pribadi sangat besar.

    Kedua, mestinya anda menambahi premis anda dengan metodologi yang menguatkan. Misal premis anda bahwa Alqur’an tidak saja bersifat mujmal/global tapi juga dapat merinci semua teknis syariat, maka sangat menarik jika anda bisa membuktikannya. Contoh kasus perintah sholat, barangkali ada metodologi linguistik atau ekstraksi coding/sandi pada huruf, ayat atau tanda ‘ain pada ayat yang terkait atau suatu metodologi rahasia yang dengannya SOP (standart operating procedure) sholat bisa diketahui. Wow, jika begitu pasti hipotesa anda bisa naik kelas menjadi sebuah rumus atau hukum dan anda adalah seorang revolusioner di dunia Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: