Mengenal lebih jauh AL-ZUHRI [1]

Leave a comment

September 1, 2010 by Islam saja

Peneliti: Sayid Hayatul Haq Muhammad Mohi-ud-Din (Tamanna Imadi) [1888-1972]

Penerjemah: Islam saja

Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Muslim Ibn ‘Abdullah Ibn Shihab Zuhri (w:124 AH). Ketika ia telah biasa dihormati sebagai pribadi yang dapat dipercaya oleh para ulama Ilmu’L-Rijal, namun ternyata ditemukan bukti sebaliknya yang menentang penghormatan tersebut. Sesungguhnya, bukti ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa ia tidak boleh diabaikan ditemukan dalam rantai pembawa cerita (salah seorang perawi) dari banyak hadith yang meremehkan status Al-Qur’an, juga terhadap dua khalifah pertama dan terhadap A’ishah (rta) – isteri Nabi (saw)[2] yang terkasih, yang dapat menimbulkan awan keraguan yang tebal terhadap kepribadian merka.

Bukti yang berlawanan ini menunjukkan bahwa Zuhri bersalah karena hal-hal berikut:

1. Idraj

2. Tadlis

3. Irsal

1. Idraj:

Dalam teks sebuah Hadith, idraj bermakna penyisipan sesuatu di dalam teks hadits (matan) yang sebenarnya tidak ada di dalamnya tanpa memberi indikasi adanya penyisipan ini. (Mahmud Tahhan, Taysir Mustalih al-Hadith, [Karachi: Qadimi Kutub Khanah], hal. 102)

Idraj dilarang oleh semua otoritas:

Idraj yang secara bebas dilakukan oleh seorang perawi secara total dilarang dalam semua bentuknya. Ada suatu konsensus di antara ulama Fiqh, Hadith dan Usul mengenai hal ini bahwa idraj merupakan sebuah bentuk penyamaran dan penipuan dan suatu penyandaran sesuatu kepada seseorang yang tidak pernah mengatakan/ melaporkan hal itu. Ibn Sam‘ani dan yang lainnya berkata: ‘Ia yang dengan bebas melakukan Idraj menjadi tidak dapat dipercaya, dan seseorang yang mengubah sebuah teks dari suatu perkataan/ laporan bagaimanapun juga adalah seorang pendusta’. (Ahmad Muhammad Shakir, Al-Ba‘is Al-Hathith Sharah Ikhtisar al- ‘Ulum al-Hadith (Ibn Kathir) 3rd ed., [Cairo: Dar al-Turath, 1979], hal. 64)

Telah diketahui bahwa Zuhri adalah seorang Mudrij (orang yang mengerjakan Idraj):

Zuhri biasa menjelaskan berbagai hadith yang banyak dan berkali-kali ia tidak menyebutkan butir-butir [dari ucapannya] yang darinya akan diketahui apakah kata-kata tersebut dari Nabi (sws) atau dari Zuhri. Maka sebagian dari orang pada jamannya akan selalu meminta dia untuk memisahkan kata-kata dia dari kata-kata Nabi (sws). (Sakhawi, Fat-hu’l-Mughis, jilid 1, [Beirut: Dar al Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996], hal. 267-8)

Rabi‘ah berkata kepada Ibn Shihab: Situasiku secara total berbeda dengan kamu. Apapun yang aku katakan, aku mengatakannya dari diri saya sendiri dan kamu menyatakannya atas otoritas Nabi (sws) dan dengan demikian kamu harus berhati-hati, dan tidaklah sesuai bagi seseorang untuk menyiakan dirinya [seperti ini]. (Bukhari, Tarikh al-Kabir, jilid 3, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], hal. 286-7)

Rabi‘ah berkata kepada Ibn Shihab: Ketika kamu menceriterakan sesuatu menurut pendapat pribadimu, selalulah memberitahu orang-orang bahwa itu adalah pendapat pribadimu. Dan ketika kamu menceriterakan sesuatu dari Nabi (sws), selalulah memberitahu mereka bahwa hal itu adalah dari Nabi (sws) sedemikian sehingga mereka tidak menganggapnya sebagai pendapat pribadimu. (Khatib Baghdadi, Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, jilid 1, [Lahore: Dar al-Ahya al-Sunnah], hal. 148)

Ibn Rajab mencatat pendapat berikut dari Imam Bukhari:

Zuhri akan menceriterakan hadith dan pada banyak kesempatan akan menyisipkan kalimat miliknya sendiri. Sebagian dari ini akan Mursal dan beberapa darinya merupakan miliknya. (Ibn Rajab, Fathu ’l-Bari, edisi I, jilid 5, [Jaddah: Dar Ibn al-Jawzi, 1996], hal. 286).

2. Tadlis:

Di dalam Isnad, bermakna narasi tersebut dari seseorang, yang dengannya seorang perawi telah bertemu dan melaporkan tentang sesuatu yang mana sebenarnya tidak didengar dari dia, namun disampaikan dengan cara memberi kesan bahwa hal itu telah benar-benar didengar dari dia. (Ibn Salah, Muqaddamah, edisi ke-4, [Multan, Faruqi Kutub Khanah, 157 AH], hal. 34)

Imam Shu‘bah mengomentari Tadlis sebagai berikut:

Adalah saudara dari kebohongan. (Khatib Baghdadi, Al-Kifayah, ed. I, [Hyderabad: Da’irat al-Ma‘Arif, 1357 AH), hal. 355)

Adalah lebih buruk dibanding dengan yang melakukan perzinahan. (Khatib Baghdadi, Al-Kifayah, ed. I, [Hyderabad: Da’irat al-Ma‘Arif, 1357 AH], hal. 356)

Ibn Mubarak berkata:

Bahwa kita jatuh dari langit adalah lebih aku sukai dari pada kita melakukan Tadlis dalam sebuah Hadith. (Khatib Baghdadi, Al-Kifayah, ed. I, [Hyderabad: Da’irat al-Ma‘Arif, 1357 AH], hal. 356)

Imam Shaf’i berkata:

Kami tidak akan menerima narasi dari seorang Muddalis kecuali jika ia berkata Haddathani [telah diceriterakan kepada saya] atau Sami‘tu [Aku telah mendengar]. (Shaf’i, Al-Risalah, [ Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], hal. 380)

Tadlis Zuhri direkam dalam kata-kata berikut:

Imam Shaf’i, Daru Qutani dan banyak orang lainnya telah mengaitkan Tadlis kepada Zuhri. (Ibn Hajar, Tabaqat al-Mudallisin, [Kairo: Maktabah Kulliyyat al-Azhar], hal. 32-3).

3. Irsal:

Irsal berarti bahwa seorang perawi  sebelum seorang Tabi’i pada awal sanad tidak disebutkan. (Mahmud Tahhan, Taysir Mustalih al-Hadith, [Karachi: Qadimi Kutub Khanah], hal. 70)

Tentang status Mursal Ahadith (Ahadith yang menderita Irsal), para otoritas berkata:

Pada kenyataannya, Mursal Ahadith adalah lemah dan pantas untuk ditinggalkan karena ahadith tersebut tidak memenuhi satu kondisi Maqbul Ahadith [Ahadith yang bisa diterima], yaitu yang Ittisal [berkesinambungan dalam rantai perawi], dan disebabkan status dari orang yang tidak disebutkan adalah tidak dikenal yang ada kemungkinannya bahwa ia mungkin bukanlah seorang Sahabi [pengikut Nabi]. (Mahmud Tahhan, Taysir Mustalih al-Hadith, [ Karachi: Qadimi Kutub Khanah], hal. 71)

Imam Abu Da’ud berkata:

Lebih dari duapuluh dua ratus Ahadith yang diceriterakan oleh Zuhri hanya separuhnya yang Musnad[3] [sisanya adalah Mursal]. (Dhahabi, Tadhkirat al-Huffaz, jilid 1, [ Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], hal. 109]

Ibn Hajar mencatat kata-kata berikut tentang Zuhri mengenai hal ini:

Yahya Ibn Sa‘id Qattan berpendapat bahwa Mursalat dari Zuhri tidak ada dasarnya. (Ibn Hajar, Tahdhib al-Tahdhib, edisi I, jilid 5, [ Beirut: Dar al-Ma‘Rifah, 1996], hal. 269)

Imam Dhahabi telah melaporkan kata-kata berikut dari Yahya Ibn Sa‘id Qattan:

Mursalat dari Zuhri adalah yang terburuk dari semuanya sejak ia menjadi seorang Hafiz. Kapan saja, ia mau ia dapat mengungkapkan nama seseorang, dan kapan saja ia mau ia dapat merahasiakan namanya. (Dhahabi, Sayar A‘lam al-Nubala, edisi ke-8, jilid 5, [ Beirut: Mu’aSsasah al-Risalah, 1992], hal. 338)

Imam Shaf’i berkata:

Mursalat dari Zuhri adalah tidak ada dasarnya karena ia bahkan tetap menceriterakan dari [seseorang yang  tidak dapat dipercaya seperti ] Sulayman Ibn Arqam. (Dhahabi, Sayar A‘lam al-Nubala, edisi ke-8, jilid 5, [Beirut: Mu’aSsasah al-Risalah, 1992], hal. 339)

Di samping tiga  aspek utama ini, tampaknya Zuhri juga bersalah dikarenakan adanya cacat yang lain:

Kadang-Kadang, sekelompok orang menyajikan sebuah Hadith kepadanya untuk menguatkan sesuatu. Sehingga, kadang-kadang, ia akan menceriterakan dari seluruh anggota kelompok tersebut dan kadang-kadang dari satu eorang dari kelompok itu. Hal ini mungkin akan mengikuti jalan/ cara yang ia rasakan selama pengisahan itu. Kadang-kadang, ia akan menyisipkan Hadith yang diceriterakan oleh seseorang ke dalam yang diceriterakan oleh orang lain sebagaimana yang ia telah lakukan seperti ini pada Hadith Ifk di samping yang lainnya. Ketika ia merasa malas, ia akan menceriterakan Mursal Ahadith, dan ketika ia merasa bersemangat, ia akan menceriterakan Muttasil Ahadith. Adalah dikarenakan hal inilah maka para sahabatnya berbeda banyak tentang dia. (Zarqani, Sharah Muwatta, jilid 3, [ Beirut, Dar al-Fikr], hal. 377)

Dalam sebuah surat kepada Imam Malik, Imam Layth Ibn Sa‘ad menulis:

Ketika kami bertemu Ibn Shihab, akan dikemukakan sebuah perbedaan pendapat dalam banyak isu. Ketika masing-masing dari kami bertanya kepada dia secara tertulis tentang beberapa isu, ia, kendati begitu terpelajar, akan memberikan tiga jawaban yang sangat berbeda, dan ia bahkan tidak akan menyadari apa yang telah ia katakan. Adalah karena inilah aku meninggalkan dia–  sesuatu yang tidak kamu sukai. (Ibn Qayyim, I’Lam al-Muwaqqi‘in, jilid 3, [ Beirut: Dar al-Jayl], hal. 85)

Dipandang dari sudut bukti ini, maka setiap laporan naratif yang salah satu penyampai teksnya adalah Zuhri dalam rantai perawinya menjadi mencurigakan.

Tambahan penerjemah:

Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh az-Zuhri:

  1. Malik: 269 ahadits
  2. Bukhori: 1181 ahadits
  3. Muslim: 606 ahadits
  4. Ahmad: 1721 ahadits

Sumber:  http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/


[1] Untuk lebih detil lihatlah Tamanna ‘Imadi. Imam Zuhri dan Imam Tabari, Ar-Rahman Publishing Trust, Karachi, 1994.

[2] Lihatlah Khalid Mas‘Ud, Muhammad Ibn Shihab Zuhri, Tadabbur, Tidak (ada). 21 ( Mei 1987), 7-9).

[3] Ahadith di mana tidak ada cacat dalam rantai pembawa cerita dan mereka berlanjut kepada Nabi ( sws). ( Lihat: Mahmud Tahhan, Taysir Mustalih al-Hadith, [ Karachi: Qadimi Kutub Khanah], hal. 134)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: