Siapakah “maa malakat aimanukum” itu?

12

August 31, 2010 by Islam saja

Maa malakat aimaanukum

“Maa Malakat Aimaanukum” adalah salah satu idiom yang paling disalahpahami, salah penggunaan dan menyalah-gunakan istilah yang dipakai oleh Al-Quran. Pada umumnya dipakai dengan arti “budak wanita”.

Sebelum membahas arti yang benar dari istilah ini, harus diingat terlebih dahulu bahwa ada kata spesifik di dalam bahasa Arab untuk menyebut budak wanita dan kata ini telah digunakan sedikitnya dua kali di dalam Al-Quran, sekali sebagai bentuk tunggal “amatun” yang telah digunakan oleh ayat 2:221 dan yang kedua dalam bentuk jamaknya “imaaun”,  yang telah digunakan oleh ayat 24:32.

“Maa Malakat Aimaanukum” secara harafiah mempunyai arti yang berikut:

–       Apa yang tangan kananmu menguasai

–       Apa yang kamu punyai dengan hak sepenuhnya

–       Apa yang telah kamu punyai

–       Apa yang menjadi hak milikmu

Sekarang apa saja yang dimaksud dengan ”apa yang tangan kananmu menguasai”, ”apa yang kamu punyai dengan hak sepenuhnya”, ”apa yang telah kamu punyai” dan ”apa yang menjadi hak milikmu” ? Hal itu bisa menyangkut:

–       Isterimu

–       Pasanganmu

–       Pelayanmu

–       Kepemilikanmu

–       Budakmu, baik wanita atau pria sebab “Maa Malakat Aimaanukum” mengacu pada jenis kelamin netral, sehingga dapat digunakan untuk wanita atau pria.

–       Tawanan perangmu

Sekarang mari kita selidiki setiap kata kunci dalam istilah “Maa Malakat Aimaanukum”, sedikit lebih lanjut.

Kata “Malakat” itu mempunyai akar mim-lam-kaf  (M-L-K). Pengertian utamanya adalah:

–       menguasai atau memiliki sesuatu atau seseorang, terutama sekali dengan kemampuan untuk memilikinya bagi dirinya sendiri secara eksklusif

Pengertian lainnya meliputi:

–       mempunyai kekuasaan untuk memerintah atau menerapkan otoritas

–       memperoleh

–       mengambil alih

–       menikahi

Sebagaimana yang dapat dilihat bahwa salah satu artinya adalah “menikahi”. Ini adalah menurut salah satu dari kamus bahasa Arab yang dianggap otentik, Lisan-Ul-Arab oleh Ibn-Manzoor Vol. 13, halaman 184. Kamus otentik Arab Modern lainnya juga menguraikan arti ini,  Kamus modern bahasa Arab Hans weir, halaman 1081.

Menurut Lisan-Ul-Arab, al-milaak berarti

–       Perkawinan  pernikahan

–       Ikatan pernikahan yang suci

Menurut kamus yang sama, milaakun juga berarti

– Isteri

Kata “milkun” yang jamaknya “amlaak” berarti:

–       Kepemilikan

–       Tanah

–       Keuntungan

–       Kekayaan

–       Real estate

–       Properti

Kata “mulkun” berarti:

–       Kedaulatan

–       Kerajaan

–       Kepemilikan

–       Hak kepemilikan  (apa yang menjadi hak milikmu)

Dalam istilah “Maa Malakat Aimaanukum”, kata MALAKAT adalah dengan pola masa lalu (madhi), yang mengandung pengertian “Apa yang TELAH kamu PUNYAI”, atau “apa yang TELAH kamu kuasai” atau “YANG TELAH menjadi milikmu”. Secara gramatikal, tidak bisa dipakai dengan pengertian “apa yang AKAN kamu kuasai” atau “apa yang AKAN kamu punyai”. Bentuk masa yang akan datang atau waktu sekarang (mudori’) kata ini sama sekali berbeda dan telah digunakan dalam berbagai ayat Al-Quran  5:17, 5:76, 10:31, 13:16, 16:76, 17:56, 19:87, 20:89, 25:3, 29:7, 34:22, 34:42, 35:13, 39:43, 43:86, 82:19

Sekarang mari kita lihat kata “Aimaanukum”.

Kata “Aimaanun” adalah jamak dari ”Yaminun” dan bermakna “tangan kanan”. Akar dari kata ini adalah ya-mim-nunn Y-M-N.

Kata “Yaminun” juga berarti:

–       Sebuah perjanjian

–       Sebuah sumpah

Kata “Yumnun”, mempunyai akar yang sama dan bermakna:

–       Kemakmuran

–       Kesuksesan

–       Keberuntungan

–       Pertanda baik

–       Kesempatan yang menguntungkan

Sekarang mari kita renungkan tentang “pernikahan” yang juga merupakan sebuah perjanjian  sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Quran pada ayat 4:21 dan juga merupakan sebuah peristiwa yang menguntungkan, kemudian terlihat adanya kecocokan dengan penggunaan kata “Aimaanun” dalam konteks pernikahan.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa “Maa Malakat Aimaanukum”, tidak hanya mengacu pada “budak” yang bisa berjenis kelamin wanita atau pria tetapi juga untuk:

–       Para pasangan

–       Para isteri

–       Para pelayan

–       Para tawanan perang

–       Para bawahan

–       Segala hal yang menjadi hak milikmu

Selanjutnya, ada kata penting lain yang telah digunakan sebagai kata penghubung yang harus pula dipahami maknanya. Kata tersebut adalah “AW”, yang telah digunakan pada ungkapan “aw maa malakat aymanukum”. “AW” pada umumnya diterjemahkan sebagai “ATAU”. Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa “ATAU” adalah salah satu dari arti “AW”, tetapi pada kenyataannya, kata ini digunakan tidak kurang dari 12 makna yang berbeda yang juga diterangkan dalam kamus Arabic-English Lane.  Salah satu dari penggunaan kata ini adalah TAFSEEL, yaitu bersifat menguraikan atau menjelaskan. Dengan kata lain, “aw” juga digunakan untuk menambahkan beberapa maksud arti kepada kata yang sebelumnya atau untuk menjelaskan kata sebelumnya atau untuk memberi beberapa atribut atau karakter kata sebelumnya.

Tolong perhatikan ayat 17:110. Pada ayat ini, ada suatu ungkapan “Ud ‘u Allaha AW ud ‘u arrahmana”. Perhatikan secara hati-hati bagaimana kata “Allah” dan “Rahman” dipisahkan oleh kata “aw”. Di sini kata “aw” tidak menyiratkan bahwa “Allah” dan “Rahman” adalah dua eksistensi yang berbeda. Tidak perlu diragukan lagi, bahwa “Allah” dan “Rahman” adalah sama. “Rahman” adalah salah satu atribut Allah”.

Sekarang kita perhatikan ayat 23:6 dan 70:30.

  • 23:6. Illa ’Ala azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fainnahum ghayru maluumiina
  • 70:30. Illa ’Ala azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fainnahum ghayru maluumiina

Pada kedua ayat di atas, “azwaajihim” dan “maa malakat aymaanuhum” dipisahkan oleh “aw”. Di sini tidaklah berarti bahwa “azwaajihim” dan “maa malakat aymaanuhum” itu adalah dua obyek yang berbeda. Sebenarnya, keduanya mengacu pada obyek sama. “azwajihim” YAITU “maa malakat aymanuhum” yaitu “pasangan mereka” yaitu “siapa (orang) yang  mereka kuasai dengan hak sepenuhnya”.

Pada ayat 4:24, istilah “maa malakat aymaanukum” mengacu pada wanita-wanita yang telah menikah, yaitu para isteri kafiriin sebagaimana yang diterangkan oleh ayat 60:10. Ayat 4:24 menjadikan tidak-syahnya menikahi semua wanita yang telah bersuami kecuali para wanita tersebut adalah isteri orang-orang kafir yang menjadi tawanan perang ataupun isteri orang-orang kafir yang hijrah ke komunitas muslimin meninggalkan suaminya yang kafir. Setelah menjadi wanita-wanita beriman, Al-Quran memandang bahwa perkawinan mereka sebelumnya merupakan ikatan tak beriman, alias tidak sah  batal.

Pada ayat 4:3, istilah “maa malakat aymaanukum” bermakna “apa yang telah menjadi hak kuasamu” atau “apa yang telah kamu miliki”.

Pasa ayat 33:52, Nabi dilarang untuk menikahi wanita-wanita lainnya kendati mereka cantik, kecuali MENIKAHI ”ma malakat yamiinuka” (para wanita baik dari kelompok budak wanita yang telah dimiliki Nabi jika ada, pada wanita tawanan perang, para wanita isteri kafiriin yang hijrah (60:10), untuk menjadikan mereka bagian dari keluarga dan mengangkat status mereka (dari pada status mereka sebelumnya yang menjadi budak atau tawanan perang atau janda).

1. Bagaimana caranya berhubungan sex dengan Maa Malakat Aymanukum?.

Karena Al-Quran sudah menggunakan kata AMATUN/ IMAAUN (2:221, 24:32) untuk menyebut budak wanita dan kata ASROO (2:85, 33:26, 76:8) untuk menyebut tawanan perang, maka siapa sebenarnya ’maa malakat aimanukum’ itu ?

Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, maka (ia boleh mengawini) wanita muda yang beriman dari ’maa malakat aimanukum’. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Quran 4:25)

Apakah ayat di atas tidak cukup jelas bahwa Allah sedang menceritakan kepada kita bahwa jika ingin berhubungan sex dengan wanita ini (Maa Malakat Aymanukum) maka HARUS menikahi mereka!.

Pada kenyataannya Al-Quran membeberkan aturan sebuah perkawinan sebagai berikut:

1. Meminta ijin ahlinya/ penanggungjawabnya.

2. Memberikan mas kawin kepada mereka.

Jadi sama sekali tidak ada kesan langsung bisa melampiaskan nafsunya kepada ’maa malakat aimanukum’ ini sebagaimana yang terkesan pada ajaran para Mulah.

Ayat tersebut sedang membicarakan tentang PERKAWINAN dengan peraturannya.

2. Lantas siapakah ’maa malakat aimanukum’ ini ?

Sekarang kita akan membahas inti tentang: ‘Siapakah orang-orang ini’?.

Petunjuk 1: Orang ini dapat TINGGAL di rumah kita!.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah MALAKAT AIMANUKUM, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat al-fajr, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (24:58)

Petunjuk 2: Orang ini TERGANTUNG secara finansial kepada kita !.

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara ‘maa malakat aimanuku’ sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. (30:28)- Juga 4:36

Petunjuk 3: Mereka adalah suatu ‘pengecualian’ terhadap perkawinan pada umumnya.

“dan (diharamkan juga menikahi) wanita-wanita yang telah dinikahi, kecuali ’maa malakat aimanukum’. Allah telah menetapkan bagi kamu …” (4:24)

Ayat ini menunjukkan bahwa ‘maa malakat aimanukum’ adalah kelompok wanita yang bersuami namun boleh dinikahi.

Ringkasan:

  1. Wanita yang bisa dijadikan pilihan untuk dinikahi (4:3, 25, 23:5-6, 33:50, 52, 70:29-30)
  2. Adalah merupakan pengecualian dari kelompok wanita bersuami yang boleh dinikahi (4:24), misalnya isteri-isteri orang-orang kafir yang meninggalkan suami mereka dan meminta perlindungan kepada kita (60:10).
  3. Atau wanita yang mempunyai wali atau penanggungjawab (4:25), karenanya harus meminta ijin Ahlinya jika ingin menikahi mereka;
  4. Lelaki atau wanita yang tergantung secara finansial kepada kita (4:36, 16:71, 30:28);
  5. Lelaki atau wanita yang tinggal serumah dengan kita (24:31, 58, 33:55);
  6. Lelaki atau wanita yang terikat perjanjian (24:33)

Jadi ‘Maa Malakat Aymanukum’ itu bisa juga para janda yang mungkin hidup seatap dengan kita dan tergantung secara finansial dengan kita.

Perkawinan kepada para wanita ini diijinkan oleh Allah dengan tatacara yang sedikit berbeda dibandingkan dengan wanita lainnya.

12 thoughts on “Siapakah “maa malakat aimanukum” itu?

  1. Amy says:

    Bagaimana anda mengambil pengertian ayat (23:5-6) disitu sama sekali tidak disebut pernikahan. atau terjemahkan ulang sesuai pemahaman anda.

    [i](23:5-6) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau maa malakat aimanukum; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.[/i]

    kalau harus dinikahi dulu maka seharusnya akan berbunyi
    “kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau isteri-isteri mereka”

    • Muslim saja says:

      Penggunaan kata “AW” telah diuraikan.

      Kalau di tempat lain Allah mengharuskan nikah, lalu pada ayat 23:5-6 dipahami tanpa nikah, maka ayat yang satu akan bertentangan dengan ayat yang lain dan anda akan terbentur kepada banyak pertanyaan berklaitan dengan halalnya menyetebuhi “maa malakat aimanukum/ yaminuka” (MMA/Y) ini. Pertanyaan tersebut misalnya: bolehkah anaknya ikut sama2 menyetubuhi MMA/Y ? Bolehkah MMA/Y diwarisi anaknya ? Bolehkah MMA/Y setelah disetubuhi bapaknya diberikan ke anaknya dan disetubuhi juga oleh anaknya? Bukankah dia statusnya bukan isteri bapaknya?

      • kangmomod says:

        Bagaimana menurut akang keyword [23:5]… لفروجهم.. “Li-FuRuuJi-Him” saya ikut arti “Pada-Kemaluan-kemaluan-Mereka” /”their private parts”, jadi bukan masalah menggauli. kalau diartikan boleh menggauli padahal MMA termasuk didalamnya budak laki-perempuan.

        Jadi ayat 23:5-6 bukan dalil untuk kebolehan menggauli MMA atau budak sekalipun, tapi lebih ke arah perhiasan yang nampak. Kalau dipaksakan juga padahal pada [2:187] dibolehkan mencampuri “nisaa-ikum” tetapi sama sekali tidak disebut budak juga boleh dicampuri.

        Dengan demikian kata “AW” pada [23:6] tidak masalah jika diartikan “atau”

  2. Muslim saja says:

    Kalau menurut saya, namanya menjaga kemaluan/ farji dalam konteks rangkaian ayat itu ya menikah.

    Jadi bisa saja AW tetap diterjemahkan sebagai ATAU, sehingga AZWAAJ dan MMA itu menjadi halal dalam konteks dinikah, karena ayat ini kan tidak bisa dipisahkan dengan ayat-ayat lain tentang nikah dan zina.

    Sehingga terjemahannya menjadi:

    kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau “wanita-wanita beriman yang bersuamikan lelaki kafir”; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

    Penambahan kata MMA setelah AZWAAJ mungkin dimaksudkan untuk menekankan bahwa tidak semua wanita yg berstatus suami orang itu haram dinikah (ref. 4:24): “… dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali MMA….

    Selain dari itu, dalam kata “menjaga kemaluan” menurut saya sudah terkandung pengertian “menggunakan kemaluan dalam konteks terhadap pasangan Nikah”, sehingga kata AZWAAJ (pasangan2) di situ adalah “pasangan NIKAH”.

  3. Anarchy says:

    Bos, anda mengatakan bahwa Allah dan Ar-Rahman adalah dua MAKHLUK yang berbeda… Perhatikan diksi anda baik-baik sebelum menulis perumpamaan.. Allah bukan makhluk demikian pula firmanNYA.

  4. saro says:

    Jika arti ‘maa malakat aimanukum’ adalah kelompok wanita yang bersuami namun boleh dinikahi, dan juga berarti di bawah ini:
    Wanita yang bisa dijadikan pilihan untuk dinikahi (4:3, 25, 23:5-6, 33:50, 52, 70:29-30)
    Adalah merupakan pengecualian dari kelompok wanita bersuami yang boleh dinikahi (4:24), misalnya isteri-isteri orang-orang kafir yang meninggalkan suami mereka dan meminta perlindungan kepada kita (60:10).
    Atau wanita yang mempunyai wali atau penanggungjawab (4:25), karenanya harus meminta ijin Ahlinya jika ingin menikahi mereka;
    Lelaki atau wanita yang tergantung secara finansial kepada kita (4:36, 16:71, 30:28);
    (Yang mana istilah lain dari keterangan di atas adalah juga BUDAK WANITA),
    lalu apa bedanya maa malakat aimanukum dengan amatun … ?
    Mohon pencerahannya.

  5. Amjr says:

    Assalamualaikum. Saya setuju kita harus mengembalikan arti yg sebenar dari MMA . Sy menilai bagus dan terima kasih atas pencarian bapak. Qs 23:5-6 adalah merupakan pernyataan pengulangan dari Qs. 70: 29-30. Karena ayat ini turun lebih dulu. Lalu apa Arti kalimat : ” BOLEH TIDAK MEMELIHARA KEMALUANNYA” kita jangan gegabah memberikan arti dugaan spekulasi yg belum tentu benar. Sy tdk setuju harus mesti diartikan : mensetubuhi. Bagaimana tika maksud Tuhan tdk begitu ? Alangkah lancangnya, alangkah ngawornya kita. Kita harus benar2 kembali apa itu arti MMA . Kita perhatikan kembali lagi : maa makakat = apa yg dikuasai .
    Aimaanuhum = tangan kanan mereka atau perjanjian mereka. Jadi = apa yg dikuasai oleh perjanjian mereka. MMA Tdk hrs selalu diartikan BUDAK. Yaitu bisa: pembantu. Org yg hidup se atap dll. Tergantung penggunaan kalimatnya. Pada terjemahan Alquran pd umumnya Mma selalu diartikan Budak. Ini menyesatkan umat islam. Contoh pd kalimat Qs 33:50 di situ MMA diartikan budak. Yang benar adalah = bisa pembantu atau org yg hidup se atas di nabi . Karena Nabi tdk alam menciptakan perbudakan atau menciptakan budak baru dlm rumah tangganya meskipun diperoleh dr peperangan. Karena perbudakan sendiri diperintahkan supaya dihapus. Jauh sebelumya dlm Qs 90: 1-13. Jadi ini berpengertian pula org yg tlh beriman tidak mungkin mengadakan perbudakan kembali. Dg begitu MMA pd ayat yg lain tdk harus diasumsikan sebagai budak. * Lalu bagaimana terjemahan dari Qs . 23 : 5-6 “dan org2 yg menjaga kemaluannya . Kecuali thd istri2 mereka ATAU APA YG DIKUASAI OLEH PERJANJIAN MEREKA. Maka sesungguhnya dlm hal ini mrk tiada tercela.” jika mm AW tdk diartakan ‘alias’ lalu pada siapa org ber iman boleh tdk menjaga kemaluannya ? Jawabanya ada di dalam hukum Allah Swt. ‘tdk menjaga’ di sini bukan berarti hrs diartikan mensetubuhi . Bisa juga diartikan ‘memperlihatkan’ krn itu juga termasuk berpengertian tdk menjaga .

  6. Amjr says:

    Lanjutan dr yg td = lalu siapa org yg tlh dikuasai dengan perjanjian kita untuk boleh melihat kemaluan selain istri kita? Jawabnya ada menurut hukum Allah Swt. Salah satu contoh Dokter atau tabib. Lalu apakah kita bertanya : apa mungkin jaman dulu sudah ada penyakit kelamin ? Sangat di mungkinkan ada. : Raja singa , raja hutan, raja rimba, singa padang pasir-dll emang gue pikirin. Terus lagi yg tak bisa dipungkiri = bahwa orang yg baru beriman dan masuk Islam maka selanjutnya akan menjalani SUNATAN. Maka itu harus memperlihatkan kemaluannya dong.. Pd tabib. Nah kira2 sependapat ndak pak ? Saya lebih membenarkan diartikan ‘memperlihatkan’ itu lebih tepat dari pd ‘mensetubuhi’ karena MMA bisa laki2 atau perempuan. Dalam Alquran kata mensetubuhi itu menggunakan kata “tamassyu” . dlm qs 33:49. Tdk menggunakan kalimat spt pd qs 23:5 * yg dikuasai oleh perjanjian mereka bisa jg di artikan ‘yg dikuasakan oleh perjanjian mrk ‘. Karena orang yg dikuasai perjanjian adl berhak melakukan tindakan yg sesuai dg perjanjian tersebut. Atau kontrak tsb. Jika MMA ini pembantu . Maka dia berhak membantu, makan, minum, tidur , dapat gaji , tdk melakukan pornografi dll sesuai dg perjanjian tsb yg sejalan dg Agama. Pd Qs 23:6 sebagai contoh berarti sang dokter atau tabib dipersilahkan untuk melihat kemaluan untuk melakukan tugas yg sesuai di perjanjian. Tentunya dg etika yg telah dicontohkan Rosulullah. Demikian moga ini menjadi pencerahan atas keblingeran selama ini, maaf atas kesalahan. NB : bapak salah tulis : Allah itu bukan mahluk Allah Swt itu kholik sang pencipta.

  7. anisa says:

    jadi.. para wanita boleh melakukan polyandri ya?? mengingat pngrtia. yg diatas? mohon penjelasannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Bahasan

File

%d bloggers like this: