HADITH DI MATA IMAM ABU HANIFAH

Nama Imam Abu Hanifah (rahmatullah alaih) tidak memerlukan pengenalan lebih jauh dalam lingkaran Jurisprudensi Islam, di mana ia mendapat penghargaan yang tinggi dan dihormati. Pada pendahuluan menulisan ini, dalam konteks dengan Dr. Allama M. Iqbal, kami menyebutkan tentang pandangan Imam Hanifah (R) terhadap ahadith. Pada halaman berikut kita akan mengemukakan kepada anda suatu laporan terperinci tentang topik ini.

 IMAM-AZAM SANGAT SEDIKIT MEMINTA BANTUAN PADA AHADITH:

Dipandang dari sudut aturan Al-Qur-an, menyusun detail tentang ajaran al-quran disebut sebagai Hukum Islam (Fiqh). Sepanjang periode sahabat Rosul, tidak ada spekulasi tentang ajaran ini. Bagaimanapun, usaha yang paling utama dan paling efektif telah dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (R) yang dikenal sebagai “Imam-Azam” di kalangan masyarakat Islam. Dan dengan itulah ia berhak/ layak mendapat julukan tersebut. Ia mengkhususkan diri di bidang hukum Islam dan unggul di bidangnya. Hukum-hukum hasil karya Imam masih diterapkan hingga hari ini. Sekarangpun, mayoritas muslimin mengikuti hukum yang diatributkan kepada dia. Hampir semua ulama Islam mengetahui bahwa jurisprudensi Imam Azam adalah dari hasil spekulasi. Spekulasi pada konteks ini berarti bahwa kita membuat hukum fiqh atas usaha kita sendiri, berdasar pada aturan Al-Qur-an suci. Para ulama juga sadar pada fakta ini bahwa ketika membuat suatu hukum fiqh, Imam Azam sangat sedikit bersandar pada ahadith. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bahwa beliau tidak bisa memperoleh ahadith pada zaman itu. Menurut beberapa laporan, beliau itu lahir pada tahun 61 Hijrah, sedangkan yang lain menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 80 Hijrah dan tahun kematiannya adalah 150 H. Adalah akan lebih mudah untuk mengakses hadith tentang apapun pada zaman beliau dibandingkan dengan zaman ketika Imam Bukhari bekerja mengumpulkan hadits (yaitu pada tahun 256 Hijrah). Berkaitan dengan pengakuannya terhadap hadits Rosulullah, Muhammad bin Sum’aa berkata bahwa ia mendengar Imam Yusuf berkata, “Aku tunduk kepada mayoritas ahadith. Faktanya adalah bahwa pandangan Abu Hanifah sangat berbeda dengan saya. (Sejarah oleh Khateeb Baghdadi, halaman 340). Alasannya adalah bahwa beliau tidak menganggap ahadits sebagai wahyu Allah yang tidak dapat dirobah, atau tidak boleh diragukan. Dari awal hingga akhir, Imam Azam membangun struktur Deen-nya berdasar atas keyakinan. Dalam hal ini, Deen yang meyakinkan ini tersembunyi dalam Al-Qur-an.

Karenanya, Ali Ibnul Madani mengutip cerita yang menggambarkan hal ini dari Abdul Razzaq yang berkata, “hukum sedang duduk dengan seorang yang lebih tua ketika Abdullah Ibnul Mubarok datang dan bergabung dengan kami. Kami mendengar orang yang lebih tua berkomentar bahwa ia tidak mengetahui orang yang lebih mengetahui dan merenungkan tentang hukum Islam, dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang mahir menjelaskan kepada orang-orang secara gamblang aliran kemerdekaan hidup dalam hukum Islam dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang lebih berhati-hati dibanding Abu Hanifah, yang tidak membawa kecurigaan atau kerancuan apapun dalam Deen Allah. (Khateeb Baghdadi, halaman 339).

Dipandang dari sudut Al-Qur-an, dengan proposal dari penasehatnya dan usaha perenungan pribadinya, ia membuat hukum fiqh. Bilamana seseorang menolak pada putusannya, atas dasar hadith Rosul, beliau akan selalu menyampaikan kepada dia, seperti Hazrat Umar ketika berkata, “Keputusan Rosulullah adalah menurut keadaan zamannya, zaman telah berubah sekarang, karena alasan inilah maka keputusan hukum perlu dikembangkan.” Atau beliau mengikuti kata-kata Hazrat Aisha (R) dan sahabat Rosul yang lain yang berkata, “Siapa yang mengetahui apa yang Rosulullah katakan, atau bagaimana si pendengar memahaminya? Bagaimana mungkin kita, di hadapan Al-Qur-an, membuat kerancuan merupakan bagian dari ad-Deen?” Karena beliau kebanyakan tunduk pada fakta tersebut, bahwa ahadith Rosul Allah tidak bisa dipercaya, atau hadits tidak tanpa perubahan, hal ini menjadikan beliau, pada kondisi diskusi/ debat yang panas terhadap ahadith, dan dengan penuh semangat.

Imam Sufyan bin Ainee menyatakan bahwa aku belum pernah melihat sesiapapun lebih berani dalam bidang Allah dibanding Abu Hanifah (R). Ketika saya sedang mengutip suatu hadith di mana Imam Abu Hanifah (R) datang untuk mengetahuinya. “Sebelum penjual dan pembeli berpisah, transaksi tersebut batal.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Ceritakan kepadaku, jika kedua-duanya sedang bepergian sekapal. Jika kedua-duanya terkunci dalam penjara. Atau jika kedua-duanya bersama-sama dalam suatu perjalanan. Bagaimana mereka akan berpisah, atau bagaimana mereka akan bisa menutup transaksi mereka.”

IMAM AZAM MEMBUANG LEBIH DARI 400 AHADITH:

Abu Saleh Farah menulis bahwa ia mendengar Yusuf bin As-baat berkata, “Abu Hanifah (R) membuang lebih dari 400 ahadith Rosul” Maka saya bertanya kepada Yusuf, “Wahai Abu Muhammad! Apakah kamu ingat ahadith itu?” Ia mengiakan. Aku meminta dia untuk menceritakan sebagian dari ahadith itu.

Yusuf bin As-baat berkata, Rosululla berkata, “Perihal barang-barang rampasan perang, dua bagian kepunyaan kuda dan satu bagian jatuh kepada penunggangnya.”Abu Hanifah (R) berkata bahwa ia tidak bisa membuat satu bagian dari binatang sepadan dengan satu bagian dari mukmin. Mereka berkata bahwa Rasul menandai binatang korban dengan tombaknya. Abu Hanifah (R) berkata, “Menandai binatang berarti mengubah bentuk binatang itu’. Rasul berkata, “Sekali waktu konsumen dan pemilik sudah pergi, kontrak atau transaksi tidak bisa dibatalkan.” Pendapat Abu Hanifah adalah, “Ketika transaksi ditutup, tidak bisa dibatalkan.” Ketika Rasul memutuskan untuk bepergian, beliau akan mengundi untuk memilih salah seorang isterinya untuk menemani beliau. Mereka meyakini, para sahabatnya, melakukan hal yang sama. Tetapi Abu Hanifah (R) berkata mengundi adalah judi.

Abu Saeeb berkata bahwa ia mendengar dari Imam hadith yang terkenal bernama Wakeeh, bahwa Abu Hanifah (R) telah menentang dua ratus ahadith. Abdul Ali bin Hamad ketika mengutip dari bapaknya Hamad bin Salma menceriterakan, ketika Abu Hanifah (R) menemukan ahadith Rasul Allah, ia membuangnya diganti dengan pendapat pribadinya. Imam Ahmad bin Hambal (R) juga telah menulis hadith yang sama dari Hamad dari Muwamal. (Khateeb, halaman 390-91)

Abu Ishaaq Fazari berkata bahwa ia sering pergi menemui Abu Hanifah (R) dan bertanya berbagai hal berkenaan dengan “jihad’. “Suatu hari ia bertanya kepada beliau tentang suatu masalah. Ketika ia mendengar jawabannya, ia berkata bahwa Rasul Allah telah berkata yang berbeda tentang hal ini. Menanggapi ini Abu Hanifah (R) menjawab, “Maafkan saya dari omong kosong ini.” Yang dengan cara yang sama, suatu hari, beliau ditanya lagi tentang suatu masalah yang tentangnya beliau memberi suatu jawaban. Ia mengulangi hal yang sama bahwa Rasul telah berkata sesuatu yang berbeda. Abu Hanifah (R) berkata, “Ambil kertas catatanmu dan usapkan pada seekor babi.” (Khateeb, halaman 387)

Abu Hanifah (R) diberitahu suatu hadith tentang suatu pemberontakan melawan Sultan zamannya. Abu Hanifah (R) menjawab bahwa itu tak lain hanyalah dongengan. Ali Ibnu Asim menulis bahwa ia menceritakan suatu hadith Rasul kepada Abu Hanifah (R). Abu Hanifah (R) menolak untuk menerimanya. Aku menegaskan bahwa itu adalah perkataan dari Nabi yang mulia. Ia menjawab, “Ya! Dan aku keberatan untuk menerima.” (Khateeb, halaman 387)

Bashar bin Mufazal berkata, ia menerangkan kepada Abu Hanifah (R), perkataan Rasul Allah, bahwa Nafy (R) telah mengutip dari Ibn Umar, “Pelanggan dan pemilik tidak bisa melanggar suatu kontrak atau memutus transaksi, ketika mereka sudah berpisah satu sama lain.” Terhadap hal ini Abu Hanifah (R) berkata, itu hanyalah sebuah nyanyian perang.

Aku berkata bahwa Fi’ada mengutip dari Hazrat Anas (R) bahwa seorang Yahudi meremukkan kepala seorang muslimah dengan dua batu. Rasul melakukan yang sama, sebagai balasan/ qishosh kepada Yahudi itu. Abu Hanifah menanggapi bahwa itu semua adalah sampah.

Serupa dengan itu, seseorang mengutip di depan dia, keputusan Hazrat Umar tentang suksesi. Abu Hanifah (R) menjawab, itu adalah cerita palsu dari Setan. (Abdul Warris telah mengutip hal yang sama). (Note: mungkin yang dimaksudkan tentang suksesi ini adalah sejarah versi Majusi Persia bahwa Umar telah merekayasa terpilihnya Usman sebagai penggantinya dalam rangka menyingkirkan Ali).

Yahya Ibnu Adam berkata bahwa suatu hadith dikutip di depan Imam Abu Hanifah (R), tentang Rasul yang menyatakan, “wudhu itu adalah separuh iman!” Abu Hanifah (R) menjawab, “Oleh karena itu, kita harus melaksanakan wudhu dua kali dan lengkaplah iman kita!”

Dengan cara yang sama, Abu Hanifah (R) diberitahu hadits Rasul yang berkata, “berkata aku tidak tahu adalah separuh pengetahuan.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Maka kita harus mengulangi, aku tidak mengetahui, dua kali dan lengkaplah pengetahuan kita.”

PERINTAH ADALAH SEJARAH DAN MASA LALU:

Bashr Ibnu Asry menyatakan, “Aku pergi ke Abu Awana dan menceritakan kepadanya bahwa aku datang untuk mengetahui, apakah kamu mempunyai buku Abu Hanifah. Bisakah kamu mendapatkannya untuku, karena aku ingin mempelajarinya. Abu Awana menjawab, “Nak! Aku gembira kamu mengingatkan aku”. Dan ia pergi menuju sebuah peti dan mengambil sebuah buku darinya. Setelah merobek berkeping-keping, ia melemparkannya. Aku terkejut dan berkata, “Hargailah.” Ia berkata, “Suatu hari aku sedang duduk dengan Abu Hanifah (R) ketika pengawal Sultan datang kepadanya dan meminta keterangan tentang hukuman mencuri sebuah sarang lebah. Abu Hanifah (R) tanpa ragu-ragu menjawab, jika harganya sepuluh dirham, maka tangannya harus dipotong. Ketika pengawal sudah pergi, aku berkata kepada Abu Hanifah (R), “Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Aku telah diberitahu oleh Yahya bin Saeed, yang diberitahu oleh Muhammad bin Haban, yang diberitahu oleh Rafay bin Khadeej bahwa Rasul berkata, “Kamu tidak boleh memotong tangan atas pencurian hewan dan tumbuh-tumbuhan.” Kamu harus segera menyelematkan orang tadi, kalau tidak; pegawai Sultan akan memotong tangannya. Lagi Abu Hanifah (R) menjawab tanpa ragu-ragu, “Keputusan telah diambil dan dikerjakan berdasarkan itu.” Dan tangan pencuri tersebut dipotong.

AQQIQAH ADALAH JAHILIYYAH:

Abu Bakr Asrm menyatakan bahwa Abu Abdullah bin Ahmad bin Hambal (R) telah menerangkan, di depan kami, banyak ahadith Rasul, perkataan dari para sahabat dan tabi-in (R) tentang topik aqqiqah (pembagian daging korban binatang pada saat kelahiran seorang anak). Dengan sebuah senyuman dan wajah yang mengagumkan, ia berkata, “Tetapi Abu Hanifah (R) berpikir bahwa ini semua adalah tindakan jahiliyyah.”

Muhammad bin Yusuf Baykundi berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal (R) mengamati seseorang yang menulis tentang Abu Hanifah (R) di mana ia berkata bahwa adalah memungkinkan melakukan perceraian sebelum akad nikah dilakukan. Imam Ahmad melakukan pembelaan, “Tidak mungkin! Kamu pikir Abu Hanifah (R) tidak tinggal di Iraq, atau bahwa ia bukanlah orang yang terpelajar. Terhadap topik ini, Rasul, para sahabatnya, sekitar tiga puluh tabi-in, termasuk Saeed bin Jabeer, Saeed bin Almseeb, Ataa, Tawus, Ikrimah dan yang lain-lainnya sudah setuju dengan suara bulat bahwa perceraian tidak mungkin sebelum akad nikah. Bagaimana mungkin Abu Hanifah (R) berkata seperti itu? (Khateeb, halaman 411)

Sudahkah anda mengamati pendekatan dengan hadith oleh para ahli fiqh Islam yang paling besar? Hukum-hukum yang diundangkan dan dibuat, atau diatributkan kepada beliau diterapkan ke dalam mayoritas masyarakat dunia Islam. Dan tidak ada orang manapun yang menyebut Imam Azam dan Muslim Hanafi sebagai kafir. Padahal, intensitas Imam Abu Hanifah (R) menolak ahadith, akan sulit ditemukan contohnya di kalangan penolak hadith lainnya.

BAHKAN RASUL PUN PASTI AKAN SETUJU, JIKA AKU HIDUP PADA ZAMAN ITU:

Imam Azam telah mendukung pandangannya dengan pertimbangan akal. Menurut dia, Rasul sendiri, ketika membuat hukum, memusyawarahkan berbagai permasalahan dengan para sahabatnya dan memakai pendapat yang ia anggap terbaik. Setelah itu ia berkata, “Jika aku hidup pada zaman Rasul, kemudian aku akan mengambil bagian dalam panitia penasehatnya. Aku yakin bahwa pada berbagai hal Rasul pasti mengambil pendapatku.”

Karenanya:

“Mahmood bin Musa berkata bahwa aku mendengarnya dari Yusuf bin Asbaat, bahwa Imam Abu Hanifah (R) biasa berkata, “Jika Rasul menemukan aku, dan aku berjumpa dengan dia, terhadap mayoritas dari persoalan, Ia pasti akan mengakui pendapatku. Aku mendengar Abu Ishaaq berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) menentang kebanyakan ahadith Rasul. (Khateeb sejarah, halaman 287)”

Kita berpikir tidak ada lagi yang perlu dikatakan tentang isu ini. Singkatnya, ini berarti bahwa otoritas pusat (pimpinan eksekutive Negara yang berdasarkan Al-Qur-an) dalam bermusyawarah dengan para anggota perwakilan masyarakat, mengambil keputusan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari sudut pandang Al-Qur-an yang disebut “Syari’ah Islam.” Dan keputusan ini menyesuaikan diri dengan keadaan zaman yang berubah-ubah. Adalah karena pendekatan yang spesifik inilah maka Imam Abu Hanifah (R) di kemudian hari dikafirkan. Ia dimahkotai dengan berbagai cercaan, keterangan yang menghina dan tuduhan yang tidak masuk akal.

HINAAN DARI PARA PENULIS HADITH:

Imam Malik bin Anas berkata bahwa virus Abu Hanifah (R) tidak lebih mematikan dibandingkan dengan gurita Setan. Dalam doktrinnya, demikian juga dalam pengingkarannya terhadap ahadith. Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak bisa membayangkan, setelah ancaman Da’jall, ancaman apapun terhadap Islam, yang lebih besar dari pada Abu Hanifah (R)….’ (Khateeb, halaman 396)

Sulaiman bin Husain Halbee menulis bahwa Imam Auzai telah sering didengar berkata bahwa Abu Hanifah (R), satu demi satu, telah mengurangi setiap batalyon Islam. Fazari berkata bahwa ia mendengar Auzaee dan Sofyan berkata bahwa tidak ada seorangpun dalam Islam yang lebih bernasib sial dibandingkan dengan Abu Hanifah (R). Imam Sha’afi telah menggunakan kata “yang terburuk.” Telah ditanyai Qais bin Alzabea tentang Abu Hanifah (R). Ia berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang paling bodoh tentang hadits dan ahli hukum masa depan yang paling bijaksana. (Khateeb, halaman 498)

Umrah bin Qais telah berkata bahwa siapapun yang ingin mencari kebenaran, ia harus memperhatikan Abu Hanifah (R) dari Kufa. Setelah itu ia harus menentang perkataan dan ucapannya. Am’aar bin Zar’eeq berkata agar menentang Abu Hanifah (R) dan kamu akan menemukan kebenaran. Bushra berkata agar menentang dia dan kamu akan melihat kebenaran. Dengan kata lain, kita dapat berkata, diberkatilah mereka yang menentang dia. (Khateeb, halaman 408)

ADALAH SEBUAH KEJAHATAN MENYEBUT ABU HANIFAH DI DALAM MESJID:

Abu Ubaid berkata bahwa ia sedang duduk dengan Aswad Ibnu Salim di Mesjid Jamia Raza’fah. Selagi mendiskusikan suatu topik, keluar dari lidahku bahwa pendapat Abu Hanifah seperti ini. Aku segera diperingatkan oleh Aswad mengapa aku menyebut Abu Hanifah (R) di dalam mesjid? Dan karena kesalahan ini ia tidak berbicara denganku hingga kematiannya. (Khateeb, halaman 409)

Safyan mengutip Hishaam bin Marwah, yang mendapat hadith ini dari bapaknya. Yang menyatakan, bahwa berbagai persoalan diantara Bani Israel sangat harmoni, hingga anak-anak, para budak dan pelayan wanita jumlahnya menjadi terlalu banyak, dan sekarang mengganggu sistem. Para budak wanita ini telah berada pada jalur yang rusak, sekarang mereka membawa yang lainnya pada jalan mereka. Setelah itu Safyan menyatakan, di Islam juga berbagai hal publik adalah sangat harmoni. Hingga Abu Hanifah (R) dari Kufa, But’ee dari Basra dan Rabia Ibnu Abdur Rahman datang ke Medina dan mengubah pola teladan itu. (Khateeb, halaman 394)

FIQH HANAFI ADALAH HASIL KARYA DA’JAAL:

Hamduya bin Mukhlid menyatakan bahwa Muhammad bin Maslama Medeeni ditanya mengapa pendapat Abu Hanifah yang sudah menjadi percakapan secara terus menerus dalam semua empat sudut tetapi tidak bisa menyebar ke bagian dalam seluruh Medina. Muhammad bin Maslama menjawab, “Alasannya adalah, Rasul menceritakan kepada kita bahwa seorang malaikat ditempatkan pada tiap-tiap persimpangan di Medina, yang akan menghentikan Da’jal memasuki Medina. Karena literatur ini adalah juga hasil karya Da’jal, maka itu tidak bisa menyebar ke seluruh bagian dalam Medina. (Khateeb, halaman 396)

IMAM ABU HANIFAH (R) ADALAH BISU DAN YATIM DI BIDANG HADITH:

Ibnu Ishaaq Trindi menulis bahwa Abdullah Ibnul Mubarik berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang buta huruf menyangkut ahadith. Sr’eej bin Yunus dikutip pernah berkata bahwa Abu Katan menulis, walaupun kita menceriterakan hadith dari Abu Hanifah (R), ia adalah bisu di bidang hadith. Ibnu Numr berkata bahwa aku menemukan orang-orang dengan suara bulat mengakui pada fakta, terhadap apa yang harus dikatakan terhadap pendapat dan pandangannya, kami tidak mempercayai hadith Abu Hanifah (R) apapun. Hajjaj bin Artaat menulis, “Siapa Abu Hanifah? Siapa yang mau mendengar Abu Hanifah? Abu Hanifah bukan apa-apa?”

Ali bin Al-Madeeni menyatakan bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Yahya Ibnu Saeed Kat’aan, ketika seseorang sedang bertanya kepada dia tentang salah satu dari hadith Abu Hanifah. Terhadap hal itu Yahya berkata, “Sejak kapan Abu Hanifah mengetahui sesuatu tentang hadith?”

Muhammad bin Hamad Makri menulis bahwa Yahya bin Mueen (R) ditanya tentang Abu Hanifah (R), mengenai itu ia menjawab, “Berapa banyak ahadith yang ia punyai yang kamu bertanya kepadaku mengenai dia?”

Abu Bakr Ibnu Shazaan berkata bahwa ia diberitahu oleh Abu Bakr Ibnu Abi Dawood, kemarin Abu Hanifah (R) mengcopy 150 ahadith, separuh darinya dibuang olehnya karena ada kesalahan.

IMAM ABU HANIFAH TIDAK DIHORMATI:

Mo’el berkata bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Sofyan as-Sauree. Saur’ee pada waktu itu sedang mengelilingi Ka’bah. Ia mulai mengulangi kata-kata, “Abu Hanifah bukan orang suci dan dipercaya” hingga ia menyelesaikan putaran Ka’bah-nya. (Khateeb, halaman 415).

Berbagai pandangan yang dikutip di atas harus diingat ketika kita menguji tentang siapa yang membentuk opini ini dan siapa yang mereka bicarakan. Masing-masing dari mereka dianggap pilar dari eksistensi hadith. Inilah keputusan dari para pilar Islam terhadap diri Abu Hanifah (R). Mari kita lihat apa yang telah mereka katakan terhadap dua pengikut terkenalnya yaitu Imam Abu Yusuf (R) dan Imam Muhammad (R). Sebelum kita membaca lebih lanjut, harus ditekankan di sini, bahwa dalam keseluruhan madzab Hanafi, tidak satupun buku yang dikarang oleh Abu Hanifah (R) yang mencapai kepda kita. Apapun yang kita ketahui tentang dia telah menjadi kebaikan dari dua orang pengikutnya tersebut di atas.

IMAM YUSUF DI BAWAH PENELITIAN YANG CERMAT OLEH PARA SARJANA IMAM-IMAM:

Abdul Razzaq bin Umar menyatakan bahwa ia sedang duduk dengan Abdullah Ibnul Mubarok, ketika seseorang bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Abdullah mengabulkan dia suatu keputusan. Orang tersebut berkata bahwa ia telah bertanya kepada Abu Yusuf (R) tentang masalah yang sama, tetapi ia tidak memberi keputusan apapun yang bertentangan dengan anda. Abdullah kemudian berkata kepada lelaki tersebut, “Jika kamu melakukan sholatmu, dan imamnya adalah Abu Yusuf (R), manapun yang kamu ingat, maka kamu harus mengulangi sholat-sholatmu. (Khateeb, halaman 257)

Abda bin Abdullah Khorasani berkata bahwa seseorang bertanya kepada Abdullah Ibnul Mubarok tentang siapa yang lebih baik di antara Abu Yusuf dan Muhammad. Abdullah Ibnul Mubarik berkata, “Jangan berkata seperti ini. Kamu seharusnya bertanya: siapa diantara keduanya yang lebih besar dustanya?. “Lalu lelaki itu berkata, “Katakan kepadaku?” Abdullah berkata, “Abu Yusuf!”

Abdullah bin Idrees berkata, “Abu Hanifah adalah kasus yang tidak biasa dan ekstrim yang telah berlalu. Abu Yusuf adalah seekor musang dan seorang penyeberang ganda. (Khateeb)

IMAM ABU YUSUF DITUDUH BERBOHONG OLEH IMAM ABU HANIFAH:

Muhammad bin Ishmael Bukhari telah dikutip bahwa Imam Abu Hanifah (R) berkata, “Mengapa kamu semua tidak terkejut mengenai Ya’coob (Imam Abu Yusuf), ia telah menuduhku menceritakan kebohongan yang belum pernah aku katakan.”

Abu Naeem Fazl bin Waqeen berkata bahwa dia mendengar Abu Hanifah (R) menceritakan tentang Abu Yusuf, “Celaka kamu, kamu sudah terlalu banyak berbicara tentang aku di dalam buku ini yang aku belum pernah mengatakannya.” (Khateeb)

Ibnu abi Sha’ibah dan Ibnu Maghlabi mengutip Yahya bin Mu’een bahwa Abu Yusuf (R) tidak mempunyai persepsi terhadap hadith. Tetapi kami masih mempertimbangkan dia sebagai bisa dipercaya. (Khateeb, halaman 259)

Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa walaupun aku pertama kali mengambil hadith ini dari Abu Yusuf (R), aku tidak akan menceriterakan ahadith ini. Meskipun demikian, ia adalah sangat jujur, orang tidak boleh mengambil hadith apapun dari para pengikut Abu Hanifah (R).

Abul Hassan bertanya tentang Abu Yusuf (R) kepada Imam Daru Kutni, terhadapnya ia menjawab bahwa Abu Yusuf (R) secara komparatif lebih kokoh, meskipun begitu, ia seperti seorang yang timpang di antara yang pincang. Imam Muhammad bin Ishmael Bukhari berkata bahwa Ya’coob bin Ibrahim Abu Yusuf Qazi telah dikeluarkan dari lingkaran para ahli hadith. (Khateeb, halaman 259-60)

Imam Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa Ya’coob Abu Yusuf (R) adalah di antara pengagum hadith, seperti Abu Hanifah (R) dan Muhammad bin AlHassan (R) keduanya adalah menentang hadith Rasul. (Khateeb, halaman 179)

IMAM MUHAMMAD ADALAH PENDUSTA:

Yahya bin Mueen ditanya tentang Muhammad bin AlHassan (R), tentangnya ia menjawab bahwa Muhammad bin AlHassan adalah seorang pendusta. Pada kesempatan lain ia berkata AlHassan itu sudah tua, kadang-kadang ia berkata bahwa tak seorangpun mengambil hadith dari dia, ia tidak ada apa-apanya. (Khateeb, halaman 180)

Abu Dawood memegang pandangan yang sama tentang AlHassan bahwa tidak ada hadith yang diambil dari dia dan bahwa ia tidak berharga.

Imam Abul Hassan Daru Kutni berkata bahwa Muhammad Ibnul Hassan (R) telah disebut sebagai seorang pendusta oleh Yahya bin Mueen (R) dan Imam Ahmad bin Hambal (R). Sejauh yang ia perhatikan, Abul Hassan dapat dimaafkan. (Khateeb, halaman 181)

Bsh’ar bin Al-Waleed mengutip perkataan Abu Yusuf (R), “Tanyalah si pembohong Muhammad bin Al Hassan ini, bahwa apa yang ia tulis tentang aku, ia tidak pernah mendengar kata-kata itu dari aku. (Khateeb, halaman 180)

Yahya bin Mueen berkata bahwa Muhammad bin AlHassan (R) ditanya di depan aku tentang buku yang ia tulis, bahwa ia tidak pernah mendengarnya dari Abu Yusuf (R)? Muhammad bersumpah atas nama Tuhan dan menolak. Meskipun begitu, adalah benar juga bahwa aku mengetahui buku ini lebih baik daripada semua orang, dari Abu Yusuf (R) aku hanya mendengar “jama’ sagheera”. (Khateeb)

 

JURISPRUDENSI HANAFI TIDAK PERMANEN SEPANJANG ZAMAN:

Terkait dengan hadith yang anda telah dibaca perihal gagasan Imam Azam dan para pengikutnya. Setelah melalui ini, terdapat isu lain yang menarik, yaitu, apakah Imam Azam tidak pernah menginginkan untuk memproklamirkan bahwa dirinya menciptakan jurisprudensi yang tetap/ tidak dapat diubah hingga akhir zaman? Sekarang ini nyata sekali, bahwa seorang pemikir yang tidak percaya bahwa keputusan Rasul tak dapat diubah, bagaimana mungkin ia percaya bahwa putusan miliknya dapat tetap permanen? Tentang isu ini, kita memiliki bukti historis, bahwa Abu Hanifah (R) dengan tegas menentang dugaan bahwa usaha rohaninya mempunyai nilai yang tidak tergantung waktu.

Nazar bin Muhammad berkata bahwa kami sering menemui Imam Abu Hanifah (R) dan menemani kami seseorang dari Syria. Ketika Orang Suriah itu sedang berangkat dari tempat nginapnya, ia menemui Abu Hanifah (R) untuk mengucapkan salam perpisahan. Abu Hanifah (R) bertanya, “Wahai Orang Suriah! Apakah kamu akan membawa literatur jurisprudensi ini bersama dengan kamu.” Orang Suriah itu mengiakan. Mengenai ini Imam berkata, “Hati-hatilah, kamu membawa suatu kejahatan yang sangat besar.” (Khateeb, halaman 401)

Mazahm bin Za’farr berkata bahwa dia sendiri bertanya kepada Imam Abu Hanifah (R) tentang apa yang beliau tulis dalam bukunya dan keputusan yang ia berikan, apakah semua kebenaran yang mana tidak ada keraguan atau kerancuan apapun di dalamnya? Imam Abu Hanifah (R) menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu. Sangat mungkin bahwa semua ini adalah palsu dan tidak ada keraguan atau keuntungan yang tertinggal di dalam keputusan yang menjadi palsu.

Imam Ja’far (R) berkata bahwa kami sering mengunjungi Imam Abu Hanifah (R). Apapun keputusan yang ia buat kami menulisnya. Imam Ja’far menulis bahwa suatu hari Imam Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf, “Celaka kamu Ya’coob! Jangan mencatat semua hal dan setiap yang kamu dengar dari aku. Aku bisa membuat suatu pendapat hari ini yang mungkin besok berubah atau dihindari.”

Abu Naeem (R) berkata bahwa ia mendengar Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf (R), jangan menulis putusanku pada setiap masalah. Demi Allah! Aku sama sekali menganggap apakah aku sudah berbuat salah atau aku seorang pemenang.

Suhail bin Muzahm berkata bahwa ia sering mendengar Abu Hanifah (R) membacakan ayaat ini:

“Wahai Rasul! Tunjukkanlah tanda kepada orang-orang itu, yang mendengarkan dan kemudian bertindak sesuai dengan apa yang nampak baik bagi mereka.” (Khateeb, halaman 352)

Dari ekstraksi singkat catatan sejarah tentang Imam Abu Hanifah (R), bisa ditangkap bahwa ia tidak menganggap Fiqh-nya bebas dari kesalahan. Lalu bagaimana mungkin bagi kita untuk mewarisi hasil kerjanya setingkat dengan wahyu. Dan menganggap mereka sempurna, menerapkan hukum-hukum itu, hingga akhir zaman.

Mari kita ulangi, secara singkat, keistimewaan Imam Abu Hanifah (R):

  1. Satu-satunya yang permanen dalam ad-Deen adalah prinsip dan aturan Al-Qur-an.
  2. Tradisi (hadith/ sunnah) mempunyai nilai historis. Kita dapat mendapatkan bantuan darinya, tetapi tidak harus dianggap permanen dalam ad-Deen kita.
  3. Dipandang dari sudut prinsip Al-Qur-an, kita harus menciptakan jurisprudensi kita sendiri (fiqh) dengan usaha rohani. Hasil usaha ini tidak bernilai secara terus-menerus.

Setelah rekapitulasi ini, kami akan meringkas isu ini yang diambil dari Imam Ahmad bin Hambal (R). Dalam mana ditulis: “Ibraheem Hubee berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) telah membawa begitu banyak hal baru pada pengetahuan kami, yang akan lebih baik dari pada mengunyah air. Suatu hari, aku bertanya kepada Imam Hambal (R) tentang Abu Hanifah (R), ia menjawab dengan ekspresi terkejut dan berkata, “Itu nampak seolah-olah Abu Hanifah sedang menulis sebuah Islam yang baru secara lengkap.” (Khateeb, halaman 413)

Jadi, jika hari ini seseorang mengatakan hadith yang sama yang membicarakan Imam Azam pada zaman itu dan para pengkultus nenek moyang kita men-dogmatisasi bahwa pribadi ini membuat agama baru; hal itu bukan merupakan sesuatu yang baru di atas bumi ini. Hal seperti itu sudah berlangsung sejak zaman dahulu.

Sumber: http://www.toluislam.com/index.pl/mag?func=viewSubmission&sid=77&wid=40

Saat ini artikel di atas sudah tidak ada di situs tsb. Belum ditemukan dipindah kemana. Saya menemukan artikel di situs tsb. pada tahun 2008.

Sikap Umar terhadap Hadith

Umar ibn al-Khattab dan Pertanyaannya terhadap Hadith

Dikarenakan status Umar dalam sejarah dan tradisi Islam, maka rincian keberatan yang dikaitkan kepada Beliau layak untuk dilakukan pemeriksaan yang cermat. ‘Umar ibn al-Khattab adalah di kalangan umat Islam awal yang cukup penting, salah seorang sahabat Muhmmad yang cukup dekat, seorang pemimpin Islam, dan orang kedua orang yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Sebagai khalifah kedua dari empat khalifah yang mendapat petunjuk (al-khulafa ‘al-Rasyidin), reputasi Umar terkait kesalehan dan dedikasinya untuk Islam telah melegenda dan tidak diragukan lagi di kalangan Muslim Sunni sepanjang sejarah.12 Pendapat beliau tentang masalah-masalah keagamaan juga sangat dihormati.

Dalam disertasi Harvardnya tahun 1996, Linda Kern telah memeriksa figur ‘Umar di Hadith al-Bukhari, dan beberapa pengamatannya menarik secara khusus untuk penelitian ini. Pertama, Pengamatan Kern bahwa  “[a] menurut kebijaksanaan umum, kecemburuan ‘Umar dalam melindungi wahyu Ilahiah membuatnya mendapatkan laqab (julukan kehormatan) paling populer al-faruq, atau seseorang yang dengan tekun ‘membedakan’ antara firman Allah dan setiap potensi perubahan terhadapnya.”13  Gambaran ‘Umar ini, yang Kern memberikan gambaran kepada kita dari al-Bukhari yang mengungkapkan mengapa ‘Umar adalah seorang tokoh “batang yang menyinari” dalam kontroversi tentang Hadith.

Tersebar di seluruh berbagai corak literatur Islam dari abad ketiga/ kesembilan dan seterusnya yang melaporkan bahwa tokoh legendaris ini dianggap sebagi sumber yang sangat keberatan terhadap penulisan dan penyebaran Hadith. Setelah dikumpulkan, rincian cerita-cerita ini memberikan sebuah kesan yang kuat dan mempertegas pandangan Kern bahwa dalam cerita ini ‘Umar “secara radikal memisahkan otoritas Rosul dari Risalah-Nya …. [dan] membedakan al-Kitab sebagai suber kebenaran yang independen yang terhadapnya tidak ada aturan yang harus diikuti yang bisa dilakukan.” 14

Ini adalah aspek khusus yang sangat penting dari kontroversi tentang Hadith sebagai sumber otoritas tulisan suci yang bertumpu pada kepercayaan pada otoritas Kenabian dan dualitas wahyu.

‘Umar di al-Tabaqat al-Kubra

Dalam dekade antara meninggalnya al-Shafi’i pada tahun 204/820 dan meninggalnya Ibnu Qutaibah pada tahun 276 AH, koleksi besar pertama Hadith dan karya-karya penting lainnya yang masih digunakan sampai sekarang telah kumpulkan/ ditulis. Salah satu yang terakhir adalah al-Tabaqat al-Kubra (Generasi terbesar) oleh Abu ‘Abd Allah Mumammad bin Sa’d (168 / 784-230 / 845). Sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Sa’d. Ia lahir dan dibesarkan di Basra. Dia pindah ke Baghdad di mana ia menjadi sekretaris sejarawan Abu ‘Abd Allah Mumammad bin ‘Umar al-Waqidi (w. 207/747). Ibnu Sa’d juga dikatakan telah melakukan perjalanan ke Kufah dan Madinah dan telah dikaitkan dengan banyak para ulama yang paling penting pada zamannya.15 Tidak disebutkan bahwa al-Shafi’i adalah di antara ulama yang dengannya Ibn Sa’d yang dikaitkan; Namun, kedunya adalah orang dewasa pada pergantian abad ketiga Hijrah dan keduaya bepergian dalam lingkaran ilmiah di pusat-pusat pembelajaran. Adalah wajar berasumsi bahwa bahkan jika keduanya tidak pernah bertemu, Ibn Sa’d sadar akan adanya kontroversi perihal Hadith dan doktrin dualisme wahyu yang mana al-Shafi’i sedang memperjuangkan pada zaman itu.

Meskipun dia bukan pendiri sebuah sekolah pemikiran atau arsitek doktrin Islam, Ibnu Sa’d memiliki pengaruh besar pada umat Islam melalui karya utamanya. Tabaqat-nya adalah salah satu yang paling awal dan biografi yang paling luas dari generasi pertama umat Islam. Karya ini terdiri dari laporan-laporan yang, seperti Hadith Nabi, terdiri dari sebagian besar isnad dan matn. Karena judulnya mengindikasikan, adalah sebuah catatan kehidupan para anggota dari generasi awal utama, dimulai dari Adam dan Hawa dan bergerak melalui garis keturunan leluhur Mumammad turun hingga zaman Ibn Sa’d sendiri. Ibn Sa’d menceritakan cerita tanpa komentar. Adalah melalui media al-Tabaqat al-Kubra inilah Muslimin dari waktu ke waktu hingga hari ini telah memahami kehidupan Nabi dan generasi awal Muslimin. Penulis biografi belakangan melaporkan bahwa Ibn Sa’d dapat dipercaya (Thiqa) dan benar (Saduq). Karena reputasi yang baik ini, mayoritas Muslim menerima cerita-cerita yang berhubungan dengan gambaran yang akurat dari bagaimana Muslim awal memahami dan mempraktekkan Islam.

Cerita pertama Ibnu Sa’d yang meriwayatkan tentang sikap ‘Umar terhadap pencatatan Hadith terjadi di bab dimana ia menceritakan penunjukannya sebagai Khalifah (Dzikir istikhlaf ‘Umar). Dia mengutip sebuah cerita dari Sufyan bin ‘Uyayna (w. 198 AH), pada otoritas al-Zuhri bahwa “‘Umar ingin (Arada) menulis Tradisi (al-sunan), sehingga ia menghabiskan sebulan sholat mengharapkan petunjuk; dan setelah itu, ia menjadi bertekad untuk menulisnya. Tetapi kemudian dia berkata: “Aku teringat orang yang menulis sebuah buku, maka mereka mengabdikan diri untuk itu (aqbalu ‘alaihi) dan mengabaikan Kitab Allah (wa-Taraku Kitab Allah). ‘ “16

Salah satu argumen yang dapat digunakan untuk melawan penerimaan cerita ini adalah bahwa itu adalah mursal – isnad-nya hilang – sebuah hubungan langsung antara al-Zuhri (b. c. 50/670) dan ‘Umar (w. 22/644) -dan karena itulah harus tidak diperhitungkan. Namun, Ibnu Sa’d belum melihat cocok untuk mengecualikan atas dasar hal itu dan dua tokoh al-Shafi’i dan Ibnu Qutaibah diketahui memiliki laporan mursal yang diterima dari individu yang dipercaya.

Kata-kata dari cerita ini adalah sangat langsung dan tidak meninggalkan keraguan karena apa yang ‘Umar khawatirkan akan terjadi jika ia melakukan penulisan Tradisi (Al-sunan) Nabi: bahwa, seperti orang-orang sebelum mereka, Muslim mungkin mengalihkan perhatian mereka ke buku itu dan mengabaikan Al Qur’an. Siapa orang-orang itu tidak disebutkan dalam cerita ini. Namun, cerita-cerita lain ditemukan di tempat lain di Tabaqat sama-sama jelas dalam kata-kata dan memberikan rincian tambahan.

Cerita berikutnya yang Ibnu Sa’d menceritakan tentang Amirul Mukminin dan sikapnya terhadap Hadith ditemukan dalam volume lima dari Tabaqat. Cerita ini dikaitkan dengan otoritas al-Qasim bin Mumammad bin Abi Bakr al-Siddiq (w. 106 H.) -cucu Abu Bakar, sahabat terdekat Muhammad yang lain dan Khalifah pertama yang mendapat petunjuk yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi. Ketika al-Qasim diminta oleh muridnya ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ (w. 164 AH) untuk mendiktekan Hadith, ia menolak, sambil mengatakan, “Hadith berlipat ganda selama zaman ‘Umar; maka ia memanggil orang-orang untuk membawa hadith-hadith itu kepada dia, dan ketika mereka membawa hadith-hadith kepadanya, ia memerintahkan hadith-hadith itu untuk dibakar. Setelah itu, ia mengatakan, ‘sebuah Mishna seperti Mishna dari Ahli Kitab,’ (mathna’a ka mathna’at ahl al-Kitab).” “Sejak hari itu,” ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ meneruskan, “Al-Qasim melarang saya untuk menulis Hadith.” 17 Sebagaimana dalam cerita pertama, apa yang mengganggu ‘Umar adalah penulisan sebuah buku yang akan menyaingi dengan Kitab Allah. Dia membandingkan Hadith yang ditulis tersebut dengan Mishna milik Ahli Kitab. Dalam paham agama yahudi, Mishna berfungsi sama dengan fungsi Hadith yang telah datang untuk melayani di dalam Islam. Ini adalah kodifikasi yang Hukum Lisan dan berisi aturan yang terkait dengan rincian ritual bersuci, berdoa, pernikahan, perceraian, dan sebagainya. Mishna dan Gemara secara bersama-sama membentuk Talmud, yang merupakan buku paling penting dalam agama Yahudi selain Taurat.18

Namun, ‘Umar diakui dengan keberatannya untuk tidak hanya dalam hal penulisan Hadith, tetapi juga dalam hal penyebarannya. Mungkin kisah yang terkuat dan paling menarik tentang sikap ‘Umar terhadap hadith Nabi saw adalah yang ditemukan dalam volume enam dari Tabaqat. Di sini, Ibn Sa’d mengaitkan cerita tentang instruksi ‘Umar kepada delegasi dari para sahabat bahwa ia akan mengirim untuk wilayah Kufah untuk melayani sebagai administrator. Dia memerintahkan kepada mereka untuk tidak mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an dengan periwayatan Hadith.
Sekali lagi, kata-kata yang dikaitkan kepada ‘Umar adalah signifikan: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum jarridu al-Qur’an wa-aqillu al-Riwayat ‘an Rasul Allah” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka! Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah!).19 Beberapa isu adalah penting tentang cerita khusus ini.

Isu pertama menyangkut kata-kata, dan yang kedua menyangkut seseorang yang menyebarkan cerita. ‘Umar memberikan perintah yang kuat dan langsung dalam cerita ini: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka!). ‘Umar mengikutkan perintah berikut ini dengan yang sama-sama langsung yang layak perhatian: “Jarridu al-Qur’an.” Kata kerja Arab jarrid adalah bersifat perintah bentuk kedua dari j-r-d, yang secara harfiah bermakna menjadikan sesuatu telanjang. Menurut Lisan al-‘Arab, bila digunakan dengan Al Qur’an sebagai objeknya, seperti di cerita ini, itu bermakna tidak memberi pakaian al-Qur’an dengan apa pun. Dalam Lisan, Ibn Mannur seara khusus mengutip Ibn ‘Uyayna (w. 198 AH), yang dari dia Ibn Sa’d mengaitkan cerita ini, yang mengatakan bahwa jarridu al-Qur’an berarti tidak mengenakan pakaian kepada Al-Qur’an dengan aHadiths dari Ahli Kitab.20 Namun, di dalam cerita ini, kata-kata ‘Umar berikutnya menunjukkan bahwa sumber dari cerita (al-aHadith) dimana Al Qur’an tidak dikenakan pakaian adalah-al-Riwayat ‘an Rasul Allah-riwayat dari Rasul Allah. Dalam melaporkan cerita ini dari Ibn Uyayna, Ibnu Sa’d tidak menunjukkan bahwa Ibn ‘Uyayna ditawarkan selain pemahaman literal dari kata-kata ‘Umar ini.

Namun jelas bahwa ‘Umar belum melarang secara kaku dalam riwayat yang seperti ini: “jarridu al-Qur’an wa aqillu al-Riwayat ‘an rasul Allah” (Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah.). Cerita ini tidak berbicara tentang Rosul atau apa yang Rosul ucapkan yang mengganggu ‘Umar. Apa yang mengganggu dia adalah adanya kemungkinan mengakibatkan sesuatu yang akan menyaingi Kitab Allah. Dalam cerita sebelumnya, kekhawatiran ‘Umar adalah bahwa penulisan ahadith akan berakibat demikian. Dalam cerita ini jelas bahwa dia takut setiap riwayat dari hadith Nabi akan berakibat hal yang sama.

Secara bersamaan, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa penulisan dan penyebaran aHadith menjadi praktek umum yang diterima – hanya setelah pertimbangan yang hati-hati bahwa ‘Umar menolak gagasan menempatkan Hadith dalam tulisan, dan kemudian mengambil langkah drastis menyerukan dan menghancurkan apa orang lain telah menulis Hadith. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan ‘Umar ini merepresentasikan sebuah pergeseran radikal dari norma yang berlaku. Dalam kasus ini, ‘Umar, sesuai dengan citranya sebagai pembela Kitab Allah, bertindak dalam menanggapi sesuatu yang menyaingi status dan kewenangan dari Kitab Allah.

Jika cerita ini benar-benar mewakili sikap ‘Umar terhadap penulisan dan penyebaran hadith Nabi, dapat dikatakan bahwa hal itu mewakili pendapat pribadi dan tidak didasarkan pada perintah dari Nabi.21 Namun demikian, ada dua masalah dengan argumen ini. Pertama, mengandaikan penerimaan atas perintah Nabi, di luar al-Qur’an, mengikat, sementara gagasan itu masih merupakan masalah yang diperdebatkan ketika ‘Abd al-Razzaq dan Ibn Sa’d sedang menulis. Kedua, dan ini lebih penting, bahkan jika hal itu hanyalah pendapat Umar secara pribadi, itu masih merupakan dasar dari keberatan terhadap penyebaran dan penulisan Hadith. Menurut cerita ini, ‘Umar sangat menentang baik penulisan maupun penyebaran Hadith – bukan karena ia tidak menyetujui penulisan atau berbagi informasi, tetapi karena ia khawatir bahwa ahadith akan memperoleh status sama atau bahkan lebih tinggi dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan jika cerita ini tidak benar-benar mewakili sikap, perintah dan tindakan ‘Umar, cerita itu mewakilinya sebagai pola dasar pembela Kitab Allah pada suatu zaman ketika beberapa orang melihat hadith Nabi sebagai pesaing status dan otoritas Kitab Allah.

‘Umar di Hadith

The Tabaqat bukanlah satu-satunya sumber abad ketiga yang menggambarkan ‘Umar sebagai keberatan dengan cerita-cerita yang merupakan  ekstra-Qur’an. Beberapa koleksi Hadith, baik , yang kanonik maupun nonkanonik, melaporkan perhatian ‘Umar tentang cerita-cerita extra Qur’anic dari Nabi. Koleksi Hadith yang akhirnya menjadi dikanonisasi bukanlah koleksi Hadith awal yang telah sampai kepada kita. Karya lebih awal yang penting adalah Musannaf dari ‘Abd al-Razzaq al-San’ani (w. 211/827).22 ‘Abd al-Razzaq melaporan baik keputusan ‘Umar untuk tidak melakukan penulisan Sunnah karena takut hal itu akan menyebabkan sebuah buku yang kepadanya orang-orang berpaling dan meninggalkan Kitab Allah23, dan juga cerita dimana ‘Umar memberikan perintah ini kepada orang-orang yang ia kirim untuk memerintah.24 Rincian dari kisah yang pertama hampir identik dengan minor tetapi ada penambahan penting. Namun demikian, rincian kisah yang terakhir berbeda lebih dramatis antara versi yang dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq dan versi yang dilaporkan sekitar dua dekade kemudian oleh Ibn Sa’d. Cerita tentang ‘Umar meninggalkan gagasan untuk melakukan penulisan Sunnah direkam oleh ‘Abd al-Razzaq dengan menambahkan pernyataan bahwa ‘Umar berkonsultasi dengan para sahabat Nabi tentang masalah ini dan bahwa mereka mendorong dia untuk melakukan hal itu. Versi ‘Abd al-Razzaq juga berakhir dengan pernyataan dramatis yang dikaitkan kepada ‘Umar. Setelah mengingatkan orang-orang sebelumnya yang menulis sebuah buku yang mereka membaktikan diri mereka dan untuk itu mereka “meninggalkan Kitab Allah,” ‘Umar dilaporkan sebagai mengatakan, “wa-inni  wallahi la ulabbis Kitab Allah bi-shayy’in abadan” (Demi Allah! Aku tidak akan pernah mengenakan pakaian kepada al-Qur’an dengan apa pun). 25
Melihat kembali dalam Lisan al-‘Arab yang dikemukakan sebelumnya dalam diskusi tentang cerita terkiat dalam Tabaqat, Ibnu Mannur menetapkan bahwa jarridu al-Qur’an bermakna tidak mengenkan pakaian kepadanya dengan apa pun (la tulabbisu bihi shayyan).26 Tambahan ini menunjukkan bahwa Hadith tidak hanya akan menyebabkan orang untuk meninggalkan Al-Qur’an, tetapi mereka mungkin juga entah bagaimana  menyembunyikan al-Quran dari mereka.

Rincian cerita yang berbeda -bahkan lebih, dalam cerita-cerita yang ‘Umar dikutip sebagai memerintahkan gubernur untuk “telanjangi al-Qur’an.” Dalam rangka untuk mengungkapkan perbedaan tersebut, marilah kita bandingkan kedua cerita itu secara keseluruhan:

Pertama, versi Ibn Sa’d:

Kami menuju Kufah dan ‘Umar menemani kami sejauh Sirar. Lalu ia mengambil air wudu, mencuci dua kali, dan berkata: “Kamu tahu mengapa aku telah menemani kamu? ” Kami berkata: “Ya, kita sahabat Rosul Allah (damai dan rahmat atas dia)”. Lalu, ia berkata: “Kamu akan datang kepada orang-orang yang bagi mereka dengungan Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadiths, dan sehingga mengikat mereka. Telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan  riwayat dari Rosul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan aku adalah sekutu kamu.”27

Sekarang, cerita sebagaimana yang  dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq:

Ketika Umar bin al-Khattab mengirim gubernurpropinsinya, ia menetapkan: “Jangan mengendarai kuda pekerja; jangan makan sumsum; jangan memakai pakaian halus; jangan memaku pintu kamu terhadap kebutuhan orang-orang; dan jika kamu melakukan hal ini, hukuman tanpa diragukan lagi akan menimpa kamu.” Kemudian dia menemani mereka, dan ketika ia bermaksud untuk kembali, dia berkata: “Saya tidak memberi kamu otoritas atas darah Muslimin, atau di atas reputasi mereka, atau lebih dari kepemilikan mereka; tetapi saya telah mengirim kamu untuk menegakkan Salat dengan mereka, dan untuk membagi rampasan perang mereka dan hakimi di antara mereka dengan adil. Kemudian, jika sesuatu tidak jelas bagi mereka, rujuk mereka kepada saya. Sungguh, jangan mengalahkan Arab, sehingga mempermalukan mereka, dan jangan menahan mereka [tentara di baris depan] sehingga menyebabkan mereka berselisih, dan jangan meninggikan diri kamu di atas mereka sehingga mengusir mereka; telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan akau sekutu kamu.” 28

Cerita sebelumnya yang dikaitkan dengan ‘Abd al-Razzaq agak lebih panjang dari pada cerita yang belakangan, yang berisi berbagai macam perintah. Ini adalah daftar perintah dan larangan termasuk perintah untuk “telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasulullah.” Namun, cerita yang belakangan yang direkam oleh Ibn Sa’d tidak berisi salah satu perintah-perintah lain yang ditemukan pada versi awal. Sebaliknya,  berfokus pada urutan tertentu ini dan termasuk rincian penalaran, dalam kata-kata yang puitis, pada bagian ucapan ‘Umar ini: “kamu akan datang kepada orang-orang sebuah kota yang kepada mereka dengungan dari Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadith. . .”  Perbandingan pembacaan Al-Qur’an dengan dengungan lebah menunjukkan bahwa orang-orang terus-menerus sibuk dengan Al-Qur’an. Hadith digambarkan sebagai sesuatu yang dapat mengambil perhatian mereka jauh dari Al-Qur’an. Gagasan bahwa Hadith akan mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an adalah inti dari argumen menentang Hadith yang akan kita lihat nanti di Taqyid al-’Ilm oleh Al-Khatib al-Baghdadi, dan dalam argumen modern.

Meningkatnya detil dan perluasan yang dibuktikan dalam cerita yang melaporkan tentang ‘Umar dari Musannaf ‘Abd al-Razzaq dan Tabaqat Ibn Sa’d pada awal dan pertengahan ketiga abad Hijriah, ke Taqyid al-’Ilm al-Baghdadi pada pertengahan abad ke-lima Hijriah menunjukkan bahwa karena Hadith memperoleh kewenangan dan perhatian yang lebih besar, maka mereka yang menentang otoritas itu mengembangkan dan menyempurnakan argumen mereka sendiri.

‘Umar juga tokoh yangg menonjol dalam cerita yang ditemukan di koleksi dari Hadith kanonik. Cerita itu berhubungan dengan insiden yang terjadi selama Nabi  Mumammad sakit yang terakhir. Beberapa versi dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim, serta di Musnad dari Ahmad. Dalam setiap versi rincian inti ceritanya adalah sama: selama Mumammad sakit yang terakhir, ia meminta bahan untuk menulis  agar ia dapat menulis sesuatu untuk orang-orang untuk memastikan bahwa mereka tidak akan tersesat. Melihat demam yang telah menguasai Nabi, ‘Umar dikutip mengatakan: “Mereka memiliki Al-Qur’an, dan Kitab Allah adalah cukup bagi kami.”29 Cerita-cerita ini memperkuat gagasan bahwa Al Qur’an adalah cukup untuk menjaga orang-orang dari tersesat. Selanjutnya, mereka bergerak kepada ‘Umar melaporkan penentangannya kepada sumber tertulis selain Al-Qur’an-meski dari tangan Nabi sendiri-kembali ke masa Nabi. Menghubungkan keinginan Nabi untuk menulis sesuatu (mungkin selain dari Al-Qur’an) yang akan menjaga orang tidak tersesat kepada keadaan beliau yang sedang dikuasai oleh demam menyiratkan bahwa jika ia telah mengendalikan kemampuannya, dia tidak ingin melakukan hal ini. Seperti cerita-cerita yang dilaporkan oleh Ibnu Sa’d, bisa dikatakan bahwa cerita ini mewakili opini ‘Umar secara pribadi, terutama karena mereka juga menyatakan bahwa ada ketidaksepakatan yang kuat di antara para sahabat yang hadir pada saat itu.30 Namun, di sini juga, bahkan jika ini dipahami sebagai pendapat ‘Umar secara pribadi, perhatian utama yang dikaitkan dengan dia adalah jelas. Ia merasa begitu kuat bahwa al-Qur’an adalah cukup sebagai sumber otoritatif petunjuk dimana ia menolak permintaan Nabi untuk bahan menulis, sambil mengingatkan Nabi bahwa orang-orang telah memiliki Alquran dan bahwa itu adalah cukup.

Sambil menggali cerita respon ‘Umar atas permintaan Nabi, Kern mengatakan:

Dengan deklarasi Umar bahwa Kitab Allah “cukup,” namun, tidak hanya pentingnya Muhammad untuk menafsirkan wahyu berkurang, tetapi gagasan superioritas dia dalam permasalah agama juga dikesampingkan pada saat itu, menurut interpretasi Umar, Kitab Allah sendiri akan sepenuhnya memadai . . . Deklarasi ‘Umar bahwa Kitab Allah sudah cukup mengubah konsepsi apa wahyu itu, namun demikia, hanya sejauh mengubah konsepsi peran Nabi.31

Perubahan yang Kern merujuk adalah pergeseran dari “yang sedang berlangsung, tak terduga,
situasi khusus wahyu” kepada “sebuah totalitas wahyu yang sempurna dan kekal, atau lebih tepatnya, Wahyu.”32 Sekali lagi, Penilaian Kern ini membantu menjelaskan mengapa ‘Umar adalah sosok ideal untuk menemukan di pusat perbedaan pendapat tentang kewenangan Hadith. Sifat alami dari wahyu dan peran Nabi ada pada jantung dari perbedaan tersebut.

Pelarangan yang dilaporkan dari Nabi

Tidak hanya ‘Umar yang dipercayai melarang penulisan bahan ekstra-Qur’an dari Nabi. Selain kisah-kisah keberatan Umar, koleksi Hadith kanonik juga melaporkan perintah langsung dari Nabi yang melarang para pengikutnya dari menulis apapun pada kewenangannya selain Al-Qur’an dan memerintahkan mereka yang telah melakukannya untuk menghapus apa yang telah mereka tulis. Laporan ini diriwayatkan sebanyak tujuh kali dalam tiga koleksi, dengan variasi minor dalam konten tekstualnya, dengan beberapa rantai perawi yang berbeda pada otoritas Abu Sa’id al-Khudri.33 Menurut Azmi, hanya satu rantai perawi yang dianggap sehat (sahih) menurut standar klasik Muslim dalam kritik Hadith.34 Dengan pengecualian pada laporan di sahih Muslim, berbagai versi adalah terpisah secara identik dari perbedaan kata-kata Arab yang bermakna “kecuali.” Karena para pendukung Hadith yang menulis karya-karya klasik yang sampai kepada kita, maka sulit untuk memastikan betapa pentingnya pelarangan yang dilaporkan dari Nabi adalah merupakan argumen dari lawan-lawan mereka. Namun demikian, kontroversi yang dipicu oleh laporan ini telah ditangani dari abad ketiga / kesembilan hingga hari ini di dalam karya-karya dari berbagai ulama. Keberadaan laporan yang sama-sama sahih di mana Nabi mengizinkan menulis adalah dasar dari salah satu tanggapan yang paling sering dikemukakan oleh para pendukung Hadith- dimana larangan penulisan Hadith itu kemudian dibatalkan oleh pernyataan yang mengizinkan untuk melakukannya.35
Bersama-sama dengan laporan yang berkaitan dengan oposisi ‘Umar terhadap penyebaran dan pencatatan Hadith, laporan-laporan dari Nabi ini telah memicu baik diskusi pada zaman klasik maupun modern atas legitimasi Hadis sebagai sumber otoritatif petunjuk agama bagi umat Islam.

REFERENSI KAJIAN:

  1. ‘Abd Allah ibn Mumammad al-Nashi’, Kitab Usul al-Nimal in Frühe Mu’tazilitische Häresiographie: Zwei Werke des Na,i’al-Akbar (Beirut, 1971), 69.
  2. Abu al-Musayn Mumammad ibn Ammad al-Mala’i, Kitab al-Tanbih wal-Radd ‘ala Ahl al-Ahwa’ wal-Bida’ (Istanbul: Matba’at al-Dawla, 1936), 42.
  3. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Al-Risala. Edited by Ammad M. Shakir (Cairo, 1940), 89.
  4. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Kitab Jima’al-’Ilm in Kitab al-Umm, vol. 7. Edited by Mammud Matraji (Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyya, 1996), 460–483.
  5. Al-Shafi’i, al-Risala, 93.
  6. Ibn Qutayba, Ta’wil Mukhtalif al-Hadith (Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi, n.d.).
  7. EI2, vol. 4 (Leiden: Brill, 1978), 468b–471a.
  8. Michael Cook, “Anan and Islam: Origins of Karaite Scripturalism,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 9 (1987), note 33, 167.
  9. Al-Shafi’i, Jima’al-’Ilm, 460.
  10. Ibid., 467.
  11. ibid.
  12. The Shi’as have a more negative view of ‘Umar and other close companions of Mumammad.
  13. Linda Lee Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab in al-Bukhari’s Kitab al-Jami’ al-Sahih (PhD diss., Harvard University, 1996), 19.
  14. Ibid., 93.
  15. Ihsan ‘Abbas, introduction to al-Tabaqat al-Kubra, vol. 1, by Ibn Sa’d (Beirut: Dar Beirut lil-Tiba’a wal-Nashr, 1960), 5–18.
  16. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. III, pt. I. Edited by Eduard Sachau (Leiden: E.J. Brill, 1904), 206.
  17. Ibid., vol. V, 140.
  18. “Mishna,” http://www.encyclopedia.com/articles/08554.html.
  19. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  20. Ibn Mannur, Lisan al-’Arab, vol. 1 (Beirut: Dar Lisan al-’Arab, 1988), 433.
  21. In fact, al-Azmi makes both of these arguments against a similar story recorded by al-Khatib al-Baghdadi more than two centuries after ‘Abd al-Razzaq and Ibn Sa’d.
  22. Harald Motzki, “The Musannaf of ‘Abd al-Razzaq al-Sana’i as a Source of Authentic AHadith of the First Century A.H,” JNES 50 (1991), 1–22.
  23. ‘Abd al-Razzaq ibn Hammam al-Himyari, Kitab al-Musannaf, vol. 11 min manshurat al-Majlis al-’Ilmi; 39. al-Taba’a 2 ( Beirut: al-Maktab al-Islami, 1983), 257.
  24. Ibid., 325.
  25. Ibid., 257–258.
  26. Manzur, Lisan, vol. 1, 433.
  27. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  28. ‘Abd al-Razzaq, Kitab al-Musannaf, vol. 11, 325.
  29. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0. al-Bukhari 4079, 5237; Muslim 3091; Ammad 2835, 2945.
  30. Ibid.
  31. Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab,” 61.
  32. Ibid.
  33. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0, Muslim 5326; Ammad 10663, 10665, 10731, 10916, 11110; al-Darimi 451.
  34. Mohammad Mustafa Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Beirut: al-Maktab al-Islami), 22.
  35. For a detailed synopsis of classical Muslim explanations of these Hadith, see Azmi, 23–24.

Note:

Artikel di atas dikutip dan diterjemahkan secara bebas dari ebook: Hadith As Scripture – Discussions  on the Authority of Prophetic Traditions in Islam by Aisha Y. Musa

http://meine-islam-reform.de/index.php/component/attachments/download/119.html

Apakah Ibadah itu menyembah?

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata ” “عبد(abdun) sebenarnya bermakna sebuah tanaman beraroma yang menyimpan banyak daya tarik bagi unta-unta. Unta-unta menjadi gemuk jika mereka memakannya dan juga mulai memberikan lebih banyak susu.
Tanaman ini juga menimbulkan rasa haus ketika unta-unta memakannya dan butuh air minum.
Dengan demikian, tanaman ini memiliki tiga karakteristik, yaitu daya tarik, menjadikan haus, yang akhirnya menghasilkan gemuk dan susu yang melimpah. Oleh karena itu konotasi dari kata ini mengandung unsur penderitaan pada awalnya, tetapi akhirnya keberhasilan dan kenyamanan. Dengan cara berbahasa yang sama orang-orang Arab biasa menggosokkan lemak pada perahu-perahu mereka yang menjadikan perahu-perahu tersebut terlihat jelek, tetapi akhirnya perahu-perahu itu tetap terjaga aman dari pengaruh air. Oleh kare itu perahu tersebut disebut “سفينة معبدة” (safiinatoon mu‘abbadatun).
Ibn Faris telah memasukkan dua makna sebagai dasar untuk kata ini, yaitu kelembutan dan ketangguhan. Di sini ia mengacu kepada semacam kelembutan yang kemudian menghasilkan daya tahan.

Menurut makna dasar ini “عبادة” (ibaadat) yang berarti melakukan suatu perbuatan yang cenderung mengandung ketulusan yang mana sebagai hasil akhirnya adalah sangat menguntungkan walapun pada awalnya memerlukan usaha/ kerja.

لايكلف الله نفسا الا وسعها
Allah tidak memberikan beban melebihi kesanggupannya. (2:286).

Dalam mengikuti Al-Quran, seseorang menerima suatu ikatan pada dirinya yang mungkin merepotkan, namun dalam jangka panjang mereka akan memiliki banyak manfaat bagi dirinya dan larangan-larangan tersebut pada kenyataannya menjadikan karakter dirinya lebih kuat.
Al-Quran telah menjadikan makna ini jelas pada tiga ayat berikut di mana pesan tersebut disampaikan:

وذكر فان الذكرى تنفع المؤمنين
Terus perlihatkanlah petunjuk Al-Quran kepada orang-orang karena hal ini akan menguntungkan mereka yang menerimanya. (51:55).

وما خلقت الجن والأنس الا ليعبدون
Kami telah menciptakan manusia, baik yang menetap ataupun yang nomad, untuk mengikuti bimbingan Ilahiah (Ini mungkin tampak sebagai tantangan pada awalnya, tetapi bermanfaat dalam jangka panjang). (51:56).

ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون
(dan ingatlah) Kami tidak ingin ada rezeki atau hadiah dari mereka (karena mengikuti petunjuk Ilahiah tersebut). Kerja keras mereka [dalam mengikuti petunjuk ini] adalah untuk keuntungan mereka sendiri. (51:57).

Dengan kata lain, pada awalnya ada kesulitan karena sistem tersebut didirikan oleh setiap individu yang menerima bimbingan dan kemudian melakukan upaya untuk menciptakan suatu sistem. Ada oposisi yang kuat dari orang-orang yang tidak ingin menyerahkan hak istimewa mereka; namun, jika usaha dilanjutkan terus maka sistem tersebut akan berdiri dan semua manfaat yang dijanjikan tersebut akan diperoleh oleh semua orang.

Dalam rangka memahami makna dari “عبد” (Abbad), kita perlu tetap memegang kedua aspek kesulitan dan manfaat dalam pengertiannya, yang kita hadapi dalam hidup kita. Misalnya istilah “تعبيد ” (ta’beed) yang berarti bahwa kuda tersebut cukup terlatih untuk kita memanfaatkan dia untuk dinaiki. Ini disebut berkuda atau “memecah kuda”. Istilah tersebut juga bermakna menjadikan suatu jalan itu sama tinggi dan halus sehingga orang dapat menggunakannya untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Apa yang perlu dicatat di sini adalah bahwa pada awalnya semua tugas-tugas ini memerlukan kerja keras, tetapi kemudiannya akan menghasilkan banyak manfaat jangka panjang. Penerapan analogi ini pada petunjuk Al-Quran bermakna bahwa nilai-nilai yang dijelaskan dalam kitab tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang kepada siapapun yang mengikutinya dengan menggunakan akal dan penalarannya.

Jadi makna yang sebenarnya dari “عبادة” (ibaadat) mengakui butuh kepada bimbingan/ petunjuk al-Quran melalui kehendak bebas dan kemudian menggunakan akal dan penalaran kita untuk menerimanya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang teguh pada apa yang dinyatakan di dalam Al-Quran adalah kebenaran dan bahwa apa yang dijanjikan dapat dicapai melalui usaha manusia. Ini kemudian menjadi program yang tepat untuk mendidik dan melatih para relawan dalam bimbingan tersebut dengan maksud untuk bekerja bersama-sama membuat sebuah sistem untuk kebaikan umat manusia (2: 151). Ini membutuhkan waktu, tenaga dan sumber daya dimana para relawan ini memperoleh dan menghabiskan melalui kemauan bebas mereka karena mereka telah mengembangkan keyakinan yang tak terbatas ini bahwa apa yang ada di Al-Quran adalah kebenaran dari Allah – Pencipta alam semesta (9: 111).

Al-Quran menyatakan:
اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Taatlah kepada Allah dan jauhilah kekuatan yang menentang/ pemberontak. (16:36).

Makna dari “طاغوت” (taghuut) adalah semua kekuatan yang bekerja melawan nilai-nilai permanen, misalnya: eksploitasi, perbudakan, konflik, perang, dll. Oleh karena itu ayat ini bermakna bahwa memberdayakan kemampuan anda sendiri dan kekuatan eksternal alam sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan menggunakannya untuk kebaikan umat manusia sedemikian rupa sehingga bagian dari kehidupan ini dan bagian selanjutnya dari kehidupan anda adalah kesuksesan (2: 201).

Di tempat lain dikatakan:
لا تعبد الشيطن
Jangan mematuhi syetan. (19:44)

Makna dari “شيطن ” (syaiton) adalah sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu dorongan mengikuti keinginan/ nafsu manusia dan tidak menerima nilai-nilai permanen Al-Quran.:
إن الشيطان كان للرحمن عصيا
Sungguh, syetan itu adalah tidak taat kepada ar-Rahman (19: 44).

Syetan yang dirujuk di sini adalah keinginan/ nafsu manusia yang tidak pernah dapat membimbing ke jalan yang benar dan membutuhkan bimbingan Al-Quran – atribut Allah yang disebut di sini adalah ar-Rohman. Lihat judul (R-H-M). Juga lihat judul (Sh-Te-N).

Juga lihat ayat-ayat dari Al-Quran di mana ia mengatakan:
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه
Apakah kamu tidak memperhatikan ia yang telah menjadikan keinginannya sebagai penopangnya? (45:23)

Sebuah Ayat lengkap dari Surah an-Nahal yang diberikan di atas adalah sebagai berikut:
ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Setiap utusan yang datang dengan pesan dari Allah mendesak orang-orang untuk menerima misi Allah dan menghindari kepalsuan (16:36).

Jadi ini menjadikan makna dari “abad dari Allah” menjadi jelas, karena di tempat lain dikatakan:
ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (4:60).

Mereka masih ingin semua masalah mereka harus diselesaikan melalui cara-cara atau hukum yang tidak baik meskipun mereka telah diperintahkan untuk menghindari hukum durhaka seperti itu (2:257). Dengan demikian jelas bahwa menghindari “طاغوت” (toghuut), atau kedurhakaan, berarti bahwa manusia tidak boleh memecahkan masalah yang dihadapinya sesuai dengan pemikiran dan keinginan pribadinya, maupun melalui cara-cara dan hukum yang tidak baik, tetapi melalui undang-undang yang telah dibuat dan diwahyukan oleh Allah. Inilah yang disebut “اعبدو الله” (a’budullah), yaitu, menerapkan jalan Allah karena ini adalah makna yang benar menurut al-Quran dalam melaksanakan “عبادة” (ibadat) kepada Allah. Al-Quran telah menggunakan istilah “اعبدو الله” (a’budullah) tepatnya sejalan dengan kata “pemerintahan” yang digunakan hari ini.

Surah Al-Kahaf mengatakan di satu tempat:
ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Mereka seharusnya tidak memasukkan orang lain di Abad mereka dari Pemelihara mereka. (18:110).
Di tempat lain dikatakan tentang Allah:
ولا يشرك في حكمه أحا
Dia tidak memasukkan atau membiarkan siapapun berbagi dalam kekuasaannya-Nya. (18:26)

Dengan cara yang sama dikatakan dalam Surah Yusuf bahwa:
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه
tidak ada pemerintahan kecuali dari Allah. Dia telah memerintahkan untuk tidak menerima ketundukkan kepada yang lain. (12:40).

Jadi kita telah melihat bagaimana Al-Quran telah menggunakan kata kewenangan, pemerintahan, kedaulatan dan ibadah.
Kisah tentang utusan Musa – ia mengatakan kepada Firaun bahwa kebaikan dia kepadanya ketika ia masih anak-anak adalah tidak ada konsekuenasinya karena tetap menjadikan Bani Israil di bawah penindasannya. Al-Quran berbicara tentang orang-orang Firaun yang mengatakan:

وقومهما لنا عابدون
(Haruskan kita menerima apa yang dua bersaudara ini beritahu kita yang tidak lain hanyalah manusia seperti kita), dan ketika bahkan kaum mereka adalah budak-budak kita’? (23:47).

Al-Quran menjadikannya sangat jelas bahwa jika kita ingin beruntung dalam hidup sekarang dan di masa datang maka kita hanya memiliki satu pilihan yaitu mengikuti nilai-nilai permanen sebagaimana yang diwahyukan. Allah telah menyatakan bahwa:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
Orang-orang yang tidak melaksanakan urusan mereka sesuai dengan wahyu yang diberikan oleh Allah (sebagaimana tercantum dalam Al-Quran) adalah orang-orang yang menolak bimbingan (karena itu tidak bisa mendapatkan keuntungan dari itu) (05:44)

Itulah mengapa al-Quran telah mengatakan dengan jelas bahwa orang-orang percaya akan diberi kewenangan hanya jika mereka menegakkan Deen (24:55) dan ini meliputi: (1) nilai-nilai permanen diikuti (2) tidak ada hukum lain yang diikuti
Hal ini menunjukkan bahwa “عبادة” (ibadat) tidak bermakna penyembahan sebagaimana yang dipraktikkan di berbagai sekte, karena penyembahan jenis ini bisa dilakukan di bawah bentuk pemerintahan yang tidak ada hubungannya dengan al-Quran.

Latar belakang sejarah dari istilah ini adalah ketika yang tertindas di bawah Pemerintahan yang menindas dan kejam itu tetap tangguh, maka mereka disebut “عبيد” (abiid). “عبيد”(abiid) dan “عباد”(ibaad) adalah jamak dari “عبد” (abdun). Jamak dari “عابد” (aabid) adalah “عابدون” (aabiduun) dan “عبدة”(abadah), tetapi perasaan simpati bagi orang-orang yang rela atau “عبيد” (abiid) tidak berlangsung lama dan orang-orang yang dibebaskan dari rezim yang menindas mulai berubah menjadi budak lagi. Dengan demikian, kata “عبيد”(abiid) mempunyai konotasi diperintah atau bersikap tunduk. Dengan demikian, makna “عبيد” (abiid) di Al-Quran menjadi tunduk atau diperintah(23:27), dan arti “عبد” (Abbad) menjadi “menjadi tunduk”(26:22), dan”عبد” (abad) menjadi berarti budak, atau bawahan (2:178).

Pada kata ini telah diberikan konotasi ketaatan. Dengan demikian, “تعبد” (ta’abbud) dan “تزلل” (tazallul) digunakan dengan arti yang sama, yaitu berserah diri di hadapan hukum Allah. Ini adalah emosi yang melekat dalam pemujaan, dan dengan demikian “عبادة”(ibadah) menjadi bermakna memuja/ menyembah.

Al-Quran mengatakan:
قالوا نعبد أصناما
mereka mengatakan kami menyembah berhala. (26:71)

Berhala-berhala ini adalah manifestasi dari gambaran yang ada dalam benak para penyembah ini sebagai kepercayaan dan akibatnya mereka mengasosiasikan manfaat dan bahaya dengan keyakinan ini. Oleh karena itu berhala-berhala ini disembah juga dengan mengharapkan karunia atau rasa takut. Keyakinan ini menetap dengan kuat dalam batin para pengikut ini dan menjadi begitu mapan selama periode waktu yang memberikan kepuasan emosional dalam suatu kelompok. Karena manfaat kelompok tersebut dikaitkan dengan memiliki keyakinan umum meskipun salah, mayoritas tidak pernah mempertanyakan hal itu dan ini berlanjut dari generasi ke generasi. Al-Qur’an telah menunjukkan keadaan ini di banyak tempat misalnya ayat (53:23) dan (43:23). Ini juga merupakan dasar pelaksanaan setiap ketundukan.
Dengan mengacu pada kerja keras pada awalnya, hal yang sama memunculkan pada kata “عبد يعبد” (Abida ya’budu) yang bermakna mengekspresikan kebencian atau frustrasi. Oleh karena itu Surah Az-Zukhruf mengatakan:

قل إن كان للرحمن ولد فأنا أول العابدين
Katakanlah jika ar-Rohman bisa mempunyai anak, maka akulah yang akan menjadi yang pertama untuk tidak mengakui dia (43:81)

Dengan kata lain, karena tidak ada pertanyaan dari setiap anak yang dilahirkan- kepada Allah, oleh karena itu tidak ada pertanyaan dari setiap penerimaan dari posisi ini. Sekarang jika ” عبدين” (Abideen) adalah dianggap berasal dari “عبد”(Abad), maka ayat ini juga bisa bermakna bahwa jika Allah memiliki anak, maka saya akan menjadi yang pertama untuk mematuhi anak ini, tetapi karena ini belum pernah terjadi, maka saya tidak menerima pemahaman ini. Seluruh argumen ini tidak berdasar, karena diri kita, yang didasarkan pada proses berpikir kita, sebenarnya mendefinisikan kita sebagai manusia, dan hal ini kita tidak bisa meneruskannya kepada keturunan kita yaitu apa yang mendefinisikan diri manusia adalah non-fisik dan tidak diatur oleh hukum-hukum fisik. Al-Quran menekankan secara berulang pada penerimaan wahyu sebagai standar eksternal untuk mengelola urusan manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dan menyatakan bahwa ini adalah dunia manusia dan manusia memiliki kehendak bebas untuk membuat pilihan mereka sendiri. Tidak ada jalan pintas untuk proses ini dan ini hanya mungkin jika kita pertama-tama memahami al-Quran – jalan yang Allah menginginkan kita untuk memahaminya. Hal ini semua dijelaskan dalam Al-Quran dan undangan ini dialamatkan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa.

“العبد” (al-abad) berarti seorang manusia apakah dia merdeka ataupun seorang budak. Belakangan kata ini mulai digunakan dengan arti budak.

Ringkasan dari diskusi terkait dengan istilah ini adalah:

  1. Di manapun ibadat kepada Allah disebutkan, itu bermakna mengikuti al-Quran dengan penerimaan secara penuh dengan penggunaan secara penuh akal dan penalaran manusia. Hal ini akan membawa keyakinan batin dan seseorang akan dapat melihat manfaat terkait dengan mengikuti bimbingan tersebut. Dalam proses menegakkan sebuah sistem, beberapa dalam bentuk mengekspresikan emosi kolektif dalam sebuah jama’ah misalnya katakanlah ritual sholat yang secara fisik menunjukkan keinginan kita untuk mengikuti hukum-hukum Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, beranggapan bahwa itu adalah ujungnya, adalah bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan ketika melihat secara logis tidak akan pernah bisa terjadi, karena pertemuan ritual berjama’ah sebagaimana yang kita lihat ini, tidak memecahkan masalah kemanusiaan yang diperlukan dengan mengikuti nilai-nilai permanen. Untuk detailnya, lihat topik salat pada judul (Sd-LW). Rukuk dan sujud kepada Allah bermakna bahwa kita menyerahkan diri di depan hukum Allah, dan kita menerima dengan sengaja hukum-hukum Allah. Petunjuk Al-Quran adalah berisi tentang memecahkan masalah-masalah manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dengan hanya satu otoritas, yaitu Allah – tidak ada model buatan manusia dan ini adalah yang dimaksud dengan kebebasan yang sesungguhnya.
    Surah Al-Baqrah yang menyatakan ” اسلمت” (aslamtu) dan ” نعبد” (na’budu) bermakna hal yang sama. Hal inilah yang disebut sebagai cara hidup(2:131-133) ditambah kata-kata ” مسلمون”(muslimoon), ” عابدون” (abidoon) dan ” مخلسون” (mukhlisoon) juga telah digunakan dengan makna ini (2:136-138).
  2. Di manapun “طاغوت” (toghuut ) atau kepalsuan disebut, itu berarti kesetiaan manusia kepada nafsu sendiri atau mengikuti perintah manusia lain. Kepatuhan ini mencakup kesetiaan kepada pemerintah yang menindas dan juga termasuk pengajaran dari – yang disebut sebagai- para pemimpin agama. Sebaliknya, beribadah kepada Allah akan berarti mengikuti hukum-hukum Allah dan bukan yang lain.
  3. Di manapun ibadat kepada para dewa dan dewi disebutkan, itu berarti pemujaan takhayul kepada berhala-berhala ini. Kesetiaan kepada mereka adalah sama dengan sujud kepada raja dan ratu.
  4. “عبادالرحمن” (ibaadur rahman) berarti orang-orang yang mengikuti hukum-hukum Allah. Ini adalah mereka yang mencurahkan seluruh energi dan kemampuan mereka sebagaimana yang diarahkan oleh al-Quran. Ini menjadikan makna “إياك نعبد” (iyyaka na’budu) menjadi jelas, yaitu “Kami hanya melakukan Abad Engkau”, atau “Kami hanya sujud kepada hukum-hukum Engkau dan mentaatinya, dan mencurahkan semua energi dan kemampuan kami di jalan yang Engkau telah ditetapkan bagi kami”.

Berdiri dan membungkuk secara bersama-sama dalam ritual sholat adalah manifestasi dari emosi untuk setia menghadap Allah, tetapi ibadat kepada Allah adalah tidak terbatas pada bentuk ritual saja. Ibadat kepada Allah berarti mengikuti hukum-hukum-Nya dalam setiap hembusan nafas kehidupan kita dan dalam seluruh aspek kehidupan kita.

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Dan aku telah menciptakan Jin dan Ins agar mereka hanya tunduk kepadaku. (51:56)

Hal ini juga harus digarisbawahi di sini bahwa dengan mengikuti atau mematuhi hukum-hukum Allah, manusia akan dapat menikmati kebahagiaan surgawi di dunia ini dan itu menjadikannya mampu naik menuju ke level yang lebih tinggi kepada evolusi di dunia selanjutnya. Jadi ‘Tata Kelola’ atau ‘ketaatan’ memungkinkan manusia untuk memaksakan diri pada nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi atas diri manusia. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, ini adalah pembatasan yang dikenakan pada diri sendiri dan tidak dipaksakan oleh faktor eksternal. Dan juga bahwa ibadat disini bukan bermakna sejenis ibadah ritual (atau sesajen) sebagaimana yang dilakukan manusia prasejarah/ primitif, yang takut kepada kekuatan alam, dipaksakan pada dirinya dalam rangka menyenangkan kekuatan-kekuatan tersebut.

Sumber: http://www.qes.no/Lughat/LughatVolum-III.pdf

BENARKAH VIRUS INKARUSSUNNAH DARI AHMAD HARIADI?

Kalau kata “As-Sunnah” di situ maksudnya adalah “hadis Nabi saw. yang menceritakan perilaku Nabi saw. di dalam mengamalkan ajaran Alquran, maka amat keliru sekali jika saudaraku dari PERSIS itu menyimpulkan bahwa, “Ahmad Hariadi menolak sunnah Nabi saw. dan sudah tertular virus inkarussunnah”. Tetapi sebaliknya, jika ada suatu hadis-hadisan (hadis palsu) yang menceritakan perilaku Nabi saw. padahal yang sebenarnya bukan perilaku/sunnah Nabi saw. karena memang bertentangan dengan Alquran, maka benarlah kalau Ahmad Hariadi disimpulkan “sebagai seseorang yang menolak hadis-hadisan yang seperti itu atau inkarussunnah”. Walaupun hadis-hadis itu dimuat di dalam berbagai kitab hadis yang masyhur/kutubus-sittah, seperti kitab hadis sahih Buchori, sahih Muslim, dan lain-lain.
Kalau seseorang mengingkari atau menolak satu dua hadis yang ada dalam berbagai kitab hadis yang masyhur itu disimpulkan, “sebagai inkarussunnah”, maka berapa banyak seseorang atau ulama Muslim yang mendapat julukan seperti itu, baik ulama tersebut dari kalangan Sunni atau syi`i/syiah. Padahal ulama tersebut setelah menyelidiki hadis-hadis itu berkesimpulan bahwa, hadis-hadis tersebut “bukan hadis Nabi” alias “bukan perbuatan/qoul Nabi, bukan ketetapan/taqrir Nabi, atau bukan sunnah/perilaku Nabi”. Karena memang menurut mereka hadis-hadis yang ditolaknya itu bertentangan dengan Alquran, bertentangan dengan akal yang sehat, atau bertentangan dengan fakta sejarah yang qot`i/pasti.
Dan akhirnya A. Hassan (rahimahullah) selaku pendiri PERSIS juga akan digolongkan “sebagai inkarusunnah” karena beliau yang sangat kami hormati itu juga mengatakan, “di dalam kitab Sahih Bukhori dan Sahih Muslim itu masih ada terdapat hadis-hadis yang bertentangan dengan Alquran. Baiklah di sini dicantumkan secara lengkap ketetapan A. Hassan itu di dalam soal jawab tentang kedudukan hadis-hadis Sahih Bukhori Muslim:
SOAL     : Apa sebab Hadiets yang diriwayatkan oleh Bukharie dan Muslim  itu shahieh ?
JAWAB :
Karena Bukharie dan Muslim terlalu cermat tentang menerima Hadiets dari seseorang, ya’ni tiap-tiap seorang rawinya hingga sampai kepada Nabi s.a.w. itu orang-orang yang sudah terpilih betul tentang kebenarannya, amanatnya, ibadatnya, akhlaqnya, dan lain-lainnya.
    Bacalah permulaan,,Muqaddimah-Fathul-Baari” dan permulaan,,Syarah-Muslim-Lin Nawawie”. Pendeknya tidak ada seorang ahli Hadietspun yang cermat dan hati-hati untuk menerima Hadiets dengan memperhatikan rawi-rawinya, lebih daripada imam Bukharie. Yang kedua dari Bukharie, ialah muridnya, yaitu imam Muslim. Sungguhpun begitu, tetapi masih ada juga di dalam kedua-dua kitab yang tersebut, beberapa Hadiets yang lemah atau ada ikhtilaafnya tentang shahnya dan ada pula beberapa Hadiets yang berlawanan dengan Qur’an (ditulis lengkap sesuai dengan aslinya – pen.)

Hal tersebut dapat dilihat dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 2 bab “HADIETS RIWAYAT BUKHARI DAN MUSLIM” halaman 695, penerbit C.V. DIPONEGORO, BANDUNG.
   
Tentang hadis-hadis Sahih Bukhori dan Sahih Muslim yang ditolak A. Hassan itu banyak sekali. Hal ini bisa dilihat di dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 4 bab “Sedaqoh Anak Untuk Orangtua” halaman 1499 s/d. 1501.
    Terhadap hadis-hadis itu, A. Hassan mengatakan, Hadits-hadits yang tersebut tadi, sungguhpun shahih menurut riwayat, tetapi lantaran perlawanan dengan beberapa ayat Qur’an yang dikuatkan oleh beberapa hadits, perkataan shahabat, dan perkataan iman-iman, dan berlawanan pula dengan maksud agama, dan berlawanan juga dengan fikiran yang waras seperti yang tersebut di bawah ini satu per satunya, maka tak dapatlah dikatakan hadits-hadits itu shahih isinya.
    Menurut qa’idah ilmu hadits, bahwa Hadits yang boleh dikatakan shahih dan boleh diamalkan itu, ialah Hadits-hadits yang shahih menurut riwayat dan shahih pada maknanya, yaitu tidak berlawanan dengan ayat Qur’an dan tidak juga berlawanan dengan Hadits yang lebih kuat dari padanya.
   
Di halaman selanjutnya itu, A. Hassan menerangkan alasan-alasannya…. Mohon diteliti sendiri!
    Oleh karena itu kalau Ahmad Hariadi mengatakan bahwa “hadis-hadis akan turunnya Isa di akhir zaman yang ada di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih  Muslim itu bukan sabda Nabi alias hadis-hadisan, maka saudaraku tercinta dari PERSIS itu mestinya yang harus dia lakukan adalah menanggapi “alasan-alasan yang saya kemukakan di Daurah Du’at PP PERSIS” itu. Yang mana alasan-alasan atau hujjah-hujjah saya itu juga ada di dalam Makalah yang diberikan kepada setiap peserta Daurah.
    Karena hal itu tidak dilakukan oleh saudaraku tercinta yang penuh semangat itu, maka di dalam menjawab tulisan dia yang ada di majalah Risalah edisi Nopember 2008 yang berjudul “Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi” itu, maka saya merasa perlu di sini mengemukakan pendapat-pendapat dari pendiri PERSIS itu sendiri dengan harapan, mudah-mudahan menjadi bahan masukan bagi saudaraku khususnya dan umumnya bagi para pembaca majalah Risalah. Sehingga dengan perantaraannya, seseorang tidak mudah menuduh orang lain sebagai “inkarussunnah”. Amin!
Di samping itu, untuk melengkapi hujjah-hujjah saya di dalam soal penolakan saya terhadap hadis-hadisan akan turunnya Isa as. yang ada dalam kitab hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim itu, maka di sini perlu saya kemukakan qoul jadid A. Hassan, di mana dia yang sangat saya hormati itu mengatakan:
… tetapi ada satu jalan buat orang yang tidak mau percaya hal turunya Nabi ‘Iesaa, yaitu menolak sekalian Hadiets-hadiets yang mengatakan ‘Iesaa akan turun dengan alasan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal :
ثَلاَثُةُ كُتُبٍ لَيْسَ لَهَا اَصْلٌ : الْمَغَازِيْ وَ الْمَلاَحِمُ وَالتَّفْسِيْرُ.
                (اسنى المطالب وتذكرة الموضوعات )
Artinya : Tiga kitab tidak ada asal baginya : Dari hal perang-perang, dan kejadian-kejadian yang akan datang, dan tafsir.
    Ya’ni tidak ada kitab hadiets yang shahieh tentang cerita-cerita peperangan dan tentang kejadian-kejadian yang di tunggu-tunggu dan tentang tafsir.
    Siapa yang berani berpegang dengan perkataan Imam Ahmad yang sudah memeriksa hadiest-hadiest itu, tentulah bisa ia tolak sekalian hadiest-hadiest turunnya ‘Iesaa.
    Kalau sudah ia tolak berarti tidak ada lagi ‘Iesaa yang akan datang, maupun ‘Iesaa betul-betul atau ‘Iesaa-‘Iesaaan dan diwaktu itu, bolehlah ia ta’wiel ayat yang mengatakan Allah telah angkat ‘Iesaa ke HadiratNya, dan dengan jalan itu, dapatlah ia berkata : Nabi ‘Iesaa sudah mati dan tidak seorangpun Nabi yang sedang hidup sekarang, (kitab Soal-Jawab A. Hassan jilid 3 halaman 1162, ditulis sesuai aslinya).   
Di dalam tulisan saudaraku itu, dia telah menanggapi Keterangan no.170 dari tafsir Alquran (Yassarnal-Qur’an) yang saya tulis yang ada di halaman 115 s/d. 116 yang secara utuhnya berbunyi:
Keterangan No. 170:   
Dalam surat 3 ayat 32 ini, kita disuruh mematuhi Allah dan mematuhi Rasul-Nya, maksudnya adalah “mematuhi terhadap ketetapan-ketetapan Allah yang ada dalam Alquran dan mematuhi terhadap jejak-jejak Rasulullah saw. di dalam mengamalkan risalah Alquran.” Kalau mengenai ketetapan-ketetapan yang ada dalam Alquran itu sudah jelas ayat-ayatnya berasal dari Allah. Tetapi walaupun begitu, maksud ayat-ayat tersebut masih bisa disalah-pahami oleh masing-masing orang karena latar belakang ini dan itu. Dan untuk mengatasi hal tersebut dalam rangka mencari pemahaman yang benar, masing-masing dari Kaum Muslimin harus berlapang dada dan berkewajiban untuk menyampaikan argumen-argumennya secara santun lagi qur’ani yang dapat mendukung terhadap pemahaman masing-masing yang dianggap dan diyakininya sebagai “pemahaman yang benar’.
    Sedangkan mengenai jejak-jejak Rasulullah saw., apakah dia berbentuk ucapannya, perbuatannya, ataupun ketetapannya, maka hal itu akan lebih sulit lagi untuk dapat mendeteksinya, apakah benar hal yang dibilangkan berasal dari Rasulullah saw. itu benar-benar ucapannya, benar-benar perbuatannya dan benar-benar ketetapannya? Karena ketiga hal tersebut kebanyakannya tidak ditulis atau tidak dicatat di zaman Rasulullah saw. atau dengan kata lain ketiga hal tersebut ditulis dan dicatat sekitar dua abad, bahkan ada yang tiga abad, bahkan lagi ada yang lebih dari tiga abad setelah Rasulullah saw. wafat. Hal itu berdasarkan laporan dari si A, dan si A dapat dari si B, dan si B dapat dari si C, dan si C dapat dari si D, dan si D dapat dari si E, dan si E dapat dari sahabat, kemudian dari Rasulullah saw. yang kemudian lagi dikatakan, Rasulullah saw. mengatakan ini dan itu, berbuat ini dan itu dan menetapkan ini dan itu.
Jadi, ketiga hal tersebut yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunah Rasul itu didapat melalui laporan dari seseorang ke seseorang di dalam masa sekitar lima generasi. Oleh karena itu, amat sulitlah untuk dapat mendeteksi bahwa ketiga hal tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah saw..
Tetapi walaupun begitu, ada cara yang sangat mudah untuk dapat mendeteksinya, yakni dengan memakai alat Alquran yang di dalam surat Yasin ayat 2, dikatakan, Alquran itu sebagai “sesuatu yang dapat memutuskan/menghakimi,” yakni memutuskan apa saja secara benar, termasuk memutuskan “apakah benar yang dikatakan hadis ini dan hadis itu, itu adalah benar-benar ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah saw.?”
Kalau memang hal itu benar-benar berasal dari Rasulullah saw., maka kita pun wajib mengikutinya, karena pada waktu itu berarti kita mengikuti Alquran. Karena bagaimanapun ucapan, perbuatan dan ketetapan-ketetapan Rasulullah saw. itu adalah merupakan manifestasi dari pengamalan Alquran itu sendiri, sehingga karenanya telah disebutkan bahwa “akhlak-akhlak/jejak-jejak Rasulullah saw. itu adalah Alquran.”
Jadi, kalau ada sesuatu yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunah Rasul, tetapi isi dan jiwanya bertentangan dengan isi dan jiwa Alquran, maka hal tersebut jelas bukan hadis atau sunah Rasul atau dengan kata lain hadis dan sunah Rasul yang sengaja dibikin-bikin/ hadis Maudhuu`.
Sehingga amat bijaksanalah para ahli ilmu hadis yang mengatakan, “syarat pokok hadis shoheh itu adalah isi dan jiwanya tidak boleh bertentangan dengan Alquran.”
Oleh karena itu, masing-masing kita dari Kaum Muslimin hendaklah sangat berhati-hati terhadap hadis-hadis yang ada dalam berbagai kitab hadis, hendaklah kita menggunakan Alquran sebagai alat untuk dapat menyeleksi, mana hadis-hadis yang benar dari Rasulullah saw. dan mana-mana yang bukan.
Untuk mengetahui hal itu, janganlah kita hanya menggunakan alat-alat yang dibikin oleh manusia yang pengetahuannya sangat relatif dan tidak mengetahui yang gaib itu, yakni dengan jalan menggunakan alat yang dengan alat mana konon dapat diketahui bahwa si A, si B, si C, dan seterusnya yang meriwayatkan hadis-hadis itu adalah orang-orang yang terpercaya, orang-orang yang takwa, orang-orang yang kuat hafalannya, dan lain-lain. Sehingga dengan perantaraannya, hadis-hadis yang konon diriwayatkan oleh mereka-mereka itu dianggap dan diyakini sebagai “hadis saheh”. Padahal untuk mengetahui orang-orang tersebut yang hidupnya jauh ratusan tahun bahkan seribu tahun sebelum kita, apakah orang-orang itu bertakwa atau tidak, terpercaya atau tidak? Semuanya itu bukan urusan dan tanggung jawab kita, karena masalah itu adalah masalah hati seseorang dan hanya Allah yang dapat mengetahuinya.
Di samping itu, bahwa orang yang sejujur apa pun, pasti akan pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, sehingga ada doa “Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan yang tidak disengaja.”
   
Dan di samping itu juga, bahwa orang-orang yang konon meriwayatkan hadis-hadis itu, baik si A, si B, si C, dan seterusnya itu, dapat saja terjadi bahwa bukan mereka yang meriwayatkannya, tetapi orang lain yang sengaja mengada-adakan riwayat hadis dengan dikatakan, yang meriwayatkannya itu adalah mereka, karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Hal yang seperti ini sangat mungkin terjadi sebagaimana sangat mungkin terjadinya hal tersebut dengan mengatasnamakan pada diri Rasulullah saw.
Sehingga beliau bersabda, “Barang siapa yang mengada-adakan dusta atas namaku, maka hendaklah dia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari api/akan sengsara” (hadis Mutaawatir).
Maksudnya adalah akan banyak orang yang memakai nama beliau, sehingga beliau dikatakan mengatakan dan berbuat ini dan itu, padahal beliau saw. tidak pernah mengatakan dan memperbuatnya. Bagi mereka yang melakukan kedustaan seperti ini diancam oleh Rasulullah saw. dengan ancaman yang sangat keras.
Jadi, sekali lagi, hati-hatilah terhadap hadis-hadis palsu/Maudhuu’ yang ada dalam berbagai kitab hadis, karena dia adalah merupakan berhala yang apabila kita ikuti/sembah, dia dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk yang akan menimpa umat Islam ini. “dampak-dampak buruk yang ditimbulkan oleh hadis-hadis palsu” itu dipakai judul oleh Muhammad Naashiruddiin al Albanii di dalam kitabnya yang berjudul lengkap;
سِلْسِــلَةُ الْأَحَادِيْــثِ الضَّــعِيْفَةِ وَالْمَوْضُــوْعَةِ وَأَثَرُهَــا السَّــيِّئُ فِـي الْأُمَّــةِ
Di dalam menanggapi tulisan saya yang ada dalam Keterangan no.170 itu, saudaraku yang tercinta dari PERSIS yang berinisial NS itu menanggapinya dengan tanggapan yang tidak proporsional dan jauh dari inti masalah. Dikatakan demikian karena dia tidak menanggapi berbagai inti masalah yang ada dalam tulisan saya itu. Padahal seharusnya menurut Alquran, dia harus menanggapinya satu-per satu masalah yang dianggap keliru olehnya yang ada dalam tulisan saya itu dengan mengemukakan hujjah-hujjah naqli dan aqli, sehingga dengan perantaraannya, hal-hal yang keliru yang ada dalam tulisan saya itu dapat terdeteksi kekeliruannya. Cara yang ditunjukkan oleh Alquran dalam surat 17 ayat 81 itu tujuannya adalah “untuk mencerdaskan kedua belah pihak, karena memang kedua belah pihak itu masing-masingnya saling mau memberi dan saling menerima”. Untuk lebih jelasnya hal tersebut, dapat dilihat dalam tafsir “Yassarnal-Qur`an”, surat 17 ayat 81 dengan Keterangan no.593.
Di dalam menanggapi tulisan saya itu, saudaraku tercinta dari PERSIS yang berinisial NS itu tidak melakukan hal mulia yang dianjurkan oleh Allah dalam Kitab Suci-Nya, malahan dia menanggapi dan mengatakan sebagai berikut:
  1. Ahmad Hariadi menolak ilmu hadis dan tidak mempercayai hadis-hadis shahih.
  2. Pernyataan yang ada dalam tulisan Ahmad Hariadi itu penuh dengan kesalahan yang fatal.
  3. Hadis-hadis yang diamalkan oleh Ahmad Hariadi hanyalah hadis-hadis yang sesuai dengan Alquran menurut akalnya sendiri walaupun hadis-hadis itu dhaif.
  4. Hadis-hadis sahih, kalau kenyataanya menurut akalnya Ahmad Hariadi bertentangan dengan Alquran, maka  dia tidak mau menggunakannya.
  5. Ahmad Hariadi meragukan kedudukan hadis-hadis shahih disebabkan berkeyakinan bahwa hadis ditulis beberapa abad dan beberapa generasi sesudah Nabi saw wafat.
  6. Ahmad Hariadi belum tuntas belajar hadis dan ilmu hadis.Oleh karenanya akan lebih bijaksana kalau Ahmad Hariadi memperdalam kembali ilmu hadisnya.
  7. Ahmad Hariadi harus menghilangkan terlebih dahulu praduga-praduga yang tidak berdasar. Karena praduga itu tidak bisa disejajarkan dengan ilmu yang sudah teruji berabad-abad lamanya.
  8. Meyakini bahwa hadits baru ditulis satu abad sesudah Nabi saw meninggal dunia, adalah sebuah kesalahan fatal. Jika yang dimaksud adalah kodifikasi hadits dalam kitab semisal Shahih al-Bukhari, Musnad Ahmad, dan sebagainya, maka itu bisa dibenarkan. Tapi jauh sebelum itu, hadits juga sudah di-tadwin (dihimpun dalam satu tulisan) oleh para shahabat dan tabi’in.
  9. Berkaitan dengan kritik rawi, tentunya tidak seperti yang digambarkan Ahmad Hariadi di atas. Di mana menurutnya selang waktu seratus sampai seribu tahun menyebabkannya berasumsi tidak mungkin identitas seorang perawi diketahui. Karena pada faktanya, kritik rawi dan periwayatan – atau dikenal dengan system isnad/sanad – sudah dilakukan dari sejak zaman awal Islam.
  10. Dalam jalur lain Ibn al-Mubarak mengatakan: Isnad itu termasuk agama, karena kalau tidak ada isnad pastilah orang-orang akan berkata seenaknya saja. (Shahih Muslim no.32)
  11. Dalam kajiannya terkait sistem isnad, al-A’zhami memberikan beberapa kesimpulan, di antaranya:
(8) Tidak ada alasan yang dapat diterima untuk menolak sanad. Justru penelitian menegaskan bahwa metode sanad itu mengandung unsur-unsur keaslian dan keotentikan (otentisitas), di mana secara umum sanad harus diterima. (9) Ahli-ahli hadits telah melakukan upaya maksimal untuk mengoreksi dan mengritik matan dan sanad hadits. Mereka melakukannya dengan penuh keberanian dan keikhlasan. (10) Kitab-kitab hadits sampai sekarang ini juga selalu siap untuk diperiksa, diteliti dan dikoreksi, sepanjang hal itu memenuhi kriteria-kriteria ilmiah dan objektifitas, bukan atas dasar ketidaktahuan dan kebencian. (Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm.583).
  1. Dari profil karya terjemahan al-Qur’an Ahmad Hariadi tersebut, kejanggalan sudah dapat ditemukan, yakni: Terjemahan Perkata dengan Nahwu-Sorof dan Tafsir Bebas Kontemporer Lintas Asbaabul-Nuzuul. Profil dari karya tersebut menyisakan sebuah pertanyaan serius, apa yang dimaksud dengan “Tafsir Bebas Kontemporer” dan apa yang dimaksuddengan “Lintas Asbaabul-Nuzuul”?
  2. Bukankah karya tafsir Ahmad Hariadi itu menunjukkan bahwa dia tidak memahami metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah sehingga memerlukan adanya tafsir yang bebas dan lepas dari metodologi yang sudah ada? Dan memangnya apa itu asbabun-nuzul, sehingga perlu mengembel-embelinya dengan kata “lintas”? Memang benar terdapat riwayat asbabun-nuzul yang berbeda-beda untuk satu ayat, akan tetapi itu tidak berlaku untuk semua ayat. Dan hal tersebut tidak serta merta menjadikan penafsiran “warna-warni” sebagaimana sering dikampanyekan oleh kalangan Liberal dewasa ini.
  3. Mengenai profil “Terjemahan Perkata dengan Nahwu-Sorof”, para peserta Daurah Du’at sempat terperanjat ketika Ahmad Hariadi  kebingungan dalam menashrifkan kata du’at, sampai harus meminta jawaban dari Ustadz Aceng Zakaria dan para peserta. Tentu ini menjadi sebuah kejanggalan, karena bagaimana mungkin ia berani menerjemahkan al-Qur`an dengan nahwu-sharaf, sementara untuk menashrifkan kata du’at saja cukup kebingungan.
  4. Kejanggalan lainnya, Ahmad Hariadi menerjemahkan ayat berikut dengan cukup aneh:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (   )
    Hendaklah Engkau menunjuki (pada) kami (kepada) tuntunan yang minta pengukuhan/kukuh.
Di catatan kaki, Ahmad Hariadi menuliskan:
    Kata al-mustaqim berasal dari kata qama-yaqumu, dia dari aslinya mendapat tambahan alif, sin, dan ta (di teks asli, kata yang bergaris miring ditulis dengan huruf Arab – red), oleh karena itu dia diartikan dengan, “minta pengukuhan/kukuh.” Dan yang dimaksud dengan “tuntunan yang minta pengukuhan/kukuh” adalah “Alquran itu sendiri”. Hal ini dijelaskan di dalam surat 6 ayat 153. Jadi Alquran adalah minta pengukuhan dari kita/manusia, supaya kita mengukuhkannya sebagai “satu-satunya tuntunan hidup”. Dalam doa tersebut, kita minta ditunjuki oleh Allah agar di dalam menghadapi setiap persoalan apa pun bentuknya, kita dapat bersikap dan berbuat sesuai dengan petunjuk Allah yang ada dalam Alquran (Yassarnal-Qur`an, hlm.2).
    Penerjemahan dan penafsiran di atas tentu janggal. Dalam bahasa Arab, tidak semua kata yang diberi imbuhan alif, sin, ta, bermakna “minta”. Termasuk kata istiqamah/mustaqim di atas. Apakah seseorang yang istiqamah akan dimaknakan “minta pengukuhan”? Kalau begitu orang tersebut belum istiqamah/teguh pendirian….
  1. Karya Ahmad Hariadi, Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an itu modelnya mirip dengan Alquran terjemahan karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah.
  2. Terlebih seperti dikemukakan oleh M. Amin Djamaluddin dalam forum Daurah Du’at PP. Persis, Ahmad Hariadi dalam menulis karya Yassarnal-Qur`an tersebut secara terang-terangan bergandengan tangan dengan Lukman Saad, seorang tokoh Inkarussunnah, Dirut PT. Ghalia Indonesia. Apakah memang Ahmad Hariadi tidak tahu? Ataukah sudah tahu dan memang sependapat dengan paham Inkarussunnah? Buktinya ia bisa menjelaskan profil Lukman Saad sampai dua halaman dalam pendahuluan Yassarnal-Qur’an?
Komentar saya/Ahmad Hariadi terhadap tanggapan-tanggapan itu sesuai dengan nomor-nomor tersebut:
  1. Hal yang dikatakannya yang ada di no.1 itu tidak benar. Penjelasannya secara gamblang dapat dilihat di bagian awal dalam tulisan ini.
  2. Mohon ditunjukkan mana-mana saja kesalahan yang fatal itu! Dan setelah itu, mohon masing-masingnya ditunjukkan di mana letak kesalahannya itu dengan mengemukakan dalil-dalil naqli dan aqli, dan kemudian mohon ditunjukkan bagaimana benarnya.
  3. Di dalam Alquran berulang-ulang Allah memerintahkan agar kita di dalam mempelajari agama ini selalu menggunakan akal sehat kita dan banyak mendengar pendapat orang lain, karena dengan perantaraannya, seseorang akan ditunjuki oleh Allah kepada hal-hal yang benar, (Surat 2 ayat 242, Surat 39 ayat 18, dll.). Bahkan di dalam Surat 67 ayat 10 dikatakan, “Orang yang tidak mau menggunakan akal sehatnya dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dengan baik akan menjadi penghuni Neraka Sair”.
  4. Komentar saya terhadap tanggapan dari saudaraku yang no.4 itu sama dengan komentar saya yang ada di no.3.
  5. Hal yang dikatakannya yang ada di no.5 itu tidak benar. Penjelasannya secara gamblang dapat dilihat di bagian awal dalam tulisan ini.
  6. Hal itu benar adanya, karena tidak ada penuntut ilmu yang sudah tuntas di dalam mempelajari ilmu-ilmu tertentu, dan masing-masingnya harus memperdalam ilmu-ilmu itu. Kalimat tanggapan dari saudaraku yang di no.6 itu sangat tidak ilmiah dan tidak etis untuk ditujukan kepada seseorang tertentu. Karena ucapan yang seperti itu bisa saja diucapkan oleh siapa pun, termasuk oleh orang yang tidak berpendidikan lagi tidak santun di dalam arena debat kusir.
  7. Tolong sebutkan praduga-praduga saya yang tidak berdasar itu. Di dalam tulisan saya itu, praduga-praduga saya selalu didasarkan pada dasar/dalil naqli dan aqli. Dalil-dalil saya itulah yang harus ditanggapi oleh saudaraku dengan dalil-dalil naqli dan aqli pula!
  8. Tanggapan dari saudaraku yang no.8 ini, saya jawab dengan ucapan A. Hassan selaku pendiri PERSIS yang berbunyi: “Kita mesti ingat, bahwa Qur’an itu pokok yang utama bagi kita, dan sampainya kepada kita dengan mutawatir atas jalan hafalan dan tulisan. Adapun Hadits-hadits Nabi itu, umumnya ditulis orang sesudah lebih dari satu abad atau hampir dua abad Hijriyah. Sebelum itu, semuanya disimpan dalam hafalan orang sahaja, dan juga Hadits-hadits hadiah pahala itu (yang ada dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim – pen.), sampainya kepada kita tidak mutawatir, maupun dengan hafalan atau dengan tulisan, hanya yang demikian itu riwayat aahaad, ya’ni riwayat satu-satu orang yang tidak patut kita terima dan kita ubah arti ayat Qur’an yang dengan terang-terang menolak adanya hadits pahala dari seorang kepada seorang, maupun di waktu masih hidupnya atau sesudah matinya”, (buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 4 hlm. 1506).
Mohon pernyataan A. Hassan, orang nomor satu di PERSIS itu dijadikan bahan masukan bagi saudaraku yang tercinta, mudah-mudahan untuk selanjutnya dapat dijadikan pertimbangan di dalam hendak memutuskan sesuatu. Amin!
  1. Dalam tanggapannya di no.9, saudaraku tercinta mengatakan, “Karena pada faktanya, kritik rawi dan periwayatan – atau dikenal dengan system isnad/sanad – sudah dilakukan dari sejak zaman awal Islam”. Pernyataan saudaraku ini mohon diperjelas awal Islam itu kapan mulainya? Dan mohon dibandingkan dengan ucapan pendiri PERSIS yang ada di no.8 di atas!
  2. Di dalam tanggapannya no.10, saudaraku itu membawa perkataan Ibnu Mubarak yang mengatakan, “Isnad itu termasuk agama, karena kalau tidak ada isnad pastilah orang-orang akan berkata seenaknya saja. (Shahih Muslim no.32)”.
Kalimat itu bukan hadis Nabi saw. Pernyataan Ibnu Mubarak inilah yang sering dipakai oleh orang-orang LDII/ISLAM JAMAAH untuk menetapkan bahwa “mengaji Quran dan hadis itu harus melalui manqul (melalui sanad-sanad atau rawi-rawi yang ada pada Islam Jamaah melalui pendirinya, Haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis)”. Sehingga para pengikut Islam Jamaah kalau mengaji hadis, mereka akan mengatakan dengan kalimat:
حَدَّثَنَآ اِمَامْ حَاجِ نُورْ حَسَنْ\اَلْعُبَيْدَهْ لُوبِيْس عَنِ الشَّيْخِ عُمَرَحَمْدَانَ
الْمَكِّى …
Yang artinya: Imam haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis telah menceritakan hadis kepadaku, di mana dia mendapatkan hadis itu dari Syeikh Umar Hamdan Al-Makki … dan seterusnya … dan seterusnya sampai ada rawi atau sanad yang berjumlah 15 orang sampai kepada Imam Nasa’i kalau yang dikaji itu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, dan akan sampai kepada Bukhari dan Muslim kalau yang dikaji itu hadis yang diriwayatkan oleh keduanya … dan begitulah seterusnya.
Jadi dari situ kita dapat mengambil pelajaran bahwa “rawi-rawi yang meriwayatkan hadis itu bisa saja diada-adakan untuk kepentingan tertentu, padahal yang sebenarnya rawi-rawi tadi tidak meriwayatkannya atau nama rawi-rawi tadi dimanfaatkan bahwa para perawi itu menyampaikan hadis ini dan hadis itu, padahal yang sebenarnya mereka tidak pernah meriwayatkan atau menyampaikan hadis-hadis itu. Dan hal ini sangat mungkin terjadi, baik oleh para perawi sebelum hadis dibukukan ataupun sesudah hadis dibukukan (yang terakhir ini contohnya para perawi yang dimiliki oleh Islam Jamaah di atas). Dan hal yang seperti itulah ujung-ujungnya nama Rasulullah saw. dicatut dengan dusta dengan mengatakan, “Rasulullah saw. mengatakan ini dan itu, melakukan ini dan itu, dan menetapkan ini dan itu”. Terhadap orang yang melakukan dusta atas nama Rasulullah saw. seperti itu akan diancam dengan ancaman yang sangat keras sebagaimana sabda beliau saw. yang berbunyi, “Barang siapa yang mengada-adakan dusta atas namaku (membikin-bikin hadis diatasnamakan Rasulullah saw. – pen), maka hendaklah dia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari api/akan sengsara” (hadis Mutaawatir Lafdhi).
11. Marilah kita uji apa-apa yang dikemukakan oleh saudaraku tercinta dalam tanggapannya di no.11:
Contoh rangkaian isnad/rawi-rawi yang ada dalam hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:
Nabi Muhammad
  1. Khudaifah bin Al-Yaman
  2. Abu Idris Al-Khoulani
  3. Busr bin Ubaidillah Al-Hadlromi
  4. Ibnu Jabir
  5. Al-Walid bin Muslim
  6. Muhammad bin Al-Mutsanna
  7. Bukhari 

        
    Nabi Muhammad
  1. Abdullah
  2. Masruq
  3. Abdullah bin Murroh
  4. Al-A’masy
  5. Hafsh bin Ghiyab dan …
  6. Abu Bakar bin Abi Syaibah
  7. Muslim
Rangkaian isnad/rawi-rawi itu diadakan oleh Bukhari dan Muslim sekitar 200 tahun setelah Nabi saw. wafat, karena Imam Bukhari wafat tahun 256 H./870 M. dan Imam Muslim wafat tahun 261 H./875 M. Oleh karena itu, apakah yang menjadi bukti kongkret dalam rangkaian rawi-rawi itu, bahwa: rawi yang no.1 itu menjadi sumber berita pertama dari rawi yang no.2 s/d. no.7, yang lantas sumber berita yang pertama itu menceritakan hadis Nabi saw. Jadi di situ bukti kongkret tidak ada, paling banter orang yang mempertahankan hadis yang diberitakannya itu  mengatakan, “Sumber berita yang pertama itu kan ada nama sahabat Nabisaw, dan ucapan-ucapan lain yang diada-adakan dan dipaksa-paksakan ”. Padahal di dalam rangkaian rawi-rawi itu bisa saja terjadi salah satu orang rawi atau dua tiga orang rawi tidak pernah menceritakan hadis tersebut kepada rawi yang lain, hanya nama-nama mereka saja yang dipakai atau dicatut dengan dusta oleh rawi yang lain demi untuk mendapatkan jastifikasi/pembenaran melalui nama-nama mereka yang sudah terkenal di waktu itu… dan lain-lain. Pengatasnamaan dusta yang seperti itu sangat mungkin bisa terjadi sebagaimana sangat mungkin bisa terjadinya terhadap nama Rasulullah saw.(sebagaimana yang ada dalam Hadis Mutawatir lafdhi tersebut di atas).
Adapun matan/isi dari hadis yang konon disabdakan oleh Nabi saw. yang ada dalam hadis Sahih Bukhari tersebut di atas sangat panjang sekali, yang intinya: … kalau dalam suatu masyarakat sudah terjadi krisis moral dan krisis sosial, sedangkan di dalam masyarakat itu tidak ada Jamaah dan tidak ada Imam kaum Muslimin, maka kaum Muslimin diminta dengan sangat untuk memisahkan diri dari masyarakat yang ada walaupun mereka harus bersusah payah sampai harus makan akar-akar pepohonan (pergi ke hutan – pen).
Kalau mereka menganggap hadis tersebut benar-benar sabda Nabi saw., tolong dong amalkan hadis tersebut! Sedangkan saya/Ahmad Hariadi berkeyakinan hadis tersebut adalah “hadis-hadisan alias bukan sabda Nabi saw.” karena memang bertentangan dengan puluhan ayat-ayat Alquran, yang di antaranya Alquran menyuruh kaum Muslimin agar senantiasa amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat, mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan cara yang bijaksana, berusaha dengan sungguh-sungguh alias berjihad menyampaikan visi dan misi Alquran ke tengah-tengah masyarakat, dan selalu menyampaikan peringatan Tuhan kepada manusia sehingga tidak ada satu orang pun yang terjerumus karena tingkah lakunya yang menyimpang, dan lain-lain.
Sedangkan matan/isi dari hadis yang konon disabdakan oleh Nabi saw. yang ada dalam hadis Sahih Muslim tersebut di atas, intinya sebagai berikut: seseorang Muslim yang beristeri/bersuami yang melakukan perzinaan itu halal darahnya (boleh dibunuh), begitu juga halal darahnya seseorang Muslim yang murtad (meninggalkan agama Islam) ….
Hadis tersebut juga bukan sabda Nabi saw. alias hadis-hadisan, karena memang bertentangan dengan Alquran dalam surat 24 ayat 2, surat 5 ayat 54, dan lain-lain. Adapun hadis tentang hukum rajam sampai mati terhadap seseorang yang beristeri/bersuami yang berzina itu juga hadis-hadisan. Hukum rajam tersebut diadopsi dari hukum yang ada pada kitab Tauroh, dan hukum rajam itu sudah dimansukh oleh hukum Alquran yang ada di surat 24 ayat 2.   
12.    Terhadap pertanyaan dari saudaraku yang ada dalam tanggapannya di no.12 itu, jawabannya sebenarnya sudah ada di Pendahuluan dari Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an. Mohon dilihat kembali di halaman xii s/d. xxi!
13.    Komentar saya terhadap tanggapan saudaraku yang ada di no.13 itu adalah: mohon ditunjukkan oleh saudaraku poin-poin penafsiran mana dari tafsir saya itu yang keliru atau salah karena tidak menggunakan metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah itu. Kemudian setelahnya itu, saudaraku hendaklah membantahnya dengan menggunakan metodologi penafsiran yang dianggap oleh saudaraku sudah mapan itu. Menurut saudaraku dengan menggunakan metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah itu akan terwujud tafsir yang satu macam/satu corak saja alias tidak warna-warni. Dalam hal tersebut, hendaklah saudaraku memahami bahwa tafsir Alquran yang sudah dihasilkan dan beredar di tengah-tengah masyarakat itu memang berwarna-warni coraknya, dan berbeda-beda. Hal itu suatu keniscayaan karena memang latar belakang dalam berbagai hal dari para penulis tafsir itu berbeda-beda. Tetapi perbedaan-perbedaan itu saling melengkapi satu sama lain karena memang Allah Yang Maha Rahman itu adalah “Robbul-‘aalamiin/ Robbnya berbagai dunia pemikiran, pemahaman, penafsiran, dan lain-lain.” Baiklah sebagai contoh, di sini disebutkan berbagai kitab tafsir Alquran dengan berbagai macam coraknya yang sudah dihasilkan dan beredar di tengah-tengah masyarakat:
1.     Ada kitab Tafsir bil-ma`tsuur, seperti kitab Tafsir Al-Qur`anul ‘Adhiim karangan Ibnu Katsir, kitab Tafsir Ad-durru al-mantsuur fit-tafsiiri bil-ma`tsuur karangan Jalaluddin As-Suyuti, Kitab Tafsir ma’aalimut-tanziil karangan Al-Baghowi, dan lain-lain.
2.    Kitab Tafsir bir-Ro`yi, seperti kitab Tafsir Mafaatihul-Ghaib karangan Muhammad bin Umar Al-Husain Ar-Rozii, kitab Tafsir Anwaarut-tanziil wa Asroorut-ta`wiil karangan Abdulah bin Umar Al-Baidhowi, kitab Tafsir Al-Bakhrul Muhiith karangan Muhammad bin Yusuf bin Hayan Al-Andalusi, dan lain-lain.
3.    Kitab Tafsir yang bercorak modern, seperti kitab Tafsir Al-Qur`anil-Hakiim/Tafsir Al-Manaar karangan Muhammad Rasyid Ridha, kitab Tafsir Al-Maroghi karangan Ahmad Musthofa Al-Maroghi, kitab Tafsir fii dhilaalil-Qur`an karangan Syayid Qutub, kitab Tafsir Adlwaa`ul Bayaan (Tafsir modern bercorak tafsir ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain) karangan Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar An Syanqithi, dan lain-lain.
Di samping itu ada kitab-kitab tafsir yang coraknya hanya memuat berbagai hukum/ahkam, dan ada juga banyak kitab tafsir yang coraknya tidak seperti yang tersebut di atas, belum lagi kitab-kitab tafsir dari kalangan Mu’tazilah dan Syi’ah.
Dari berbagai macam corak kitab tafsir tersebut di atas, banyak penafsiran yang berbeda-beda terhadap sesuatu ayat tertentu walaupun di dalam kitab-kitab tafsir yang coraknya sama, apalagi yang coraknya berbeda. Tetapi perbedaan-perbedaan  itu masih dalam rangka saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain, yang hal mana menunjukkan betapa luasnya penafsiran ayat-ayat Alquran itu, (surat 18 ayat 109).
Dari semuanya itu, kalau saudaraku yang tercinta itu mengharapkan hanya adanya satu corak tafsir alias tidak warna-warni, maka hal itu sesuatu yang tidak mungkin/mustahil, karena akhirnya akan menjadikan Allah Yang Maha Rahman itu bukan Robbul-‘aalamiin/Robbnya berbagai alam, tetapi sebagai “Robbul-‘aalam/Robbnya satu alam saja” (na’uudzu billaahi-min dzaalik).
14.    Pernyataan dari saudaraku yang ada di No. 14 itu sungguh menjadikan saya tertawa dan keheran-heranan, karena saudaraku itu menyimpulkan dengan kesimpulan yang salah terhadap apa-apa yang saya sampaikan dalam soal kata Du’at kepada para peserta Daurah. Padahal saya menyampaikan hal itu bersifat melemparkan masalah atau bertanya, seperti seorang guru bertanya kepada murid. Di situ bukan berarti saya tidak bisa menashrif kata jamak Du’at itu berasal dari kata tunggal apa, di situ saya hanya ingin agar para peserta Daurah itu dapat memahami dengan baik, bahwa kata jamak Du’at itu bisa berasal dari kata tunggal daa’in yang berbentuk isim fa’il yang artinya orang yang berdakwah, dan bisa juga bahkan yang lebih tepat kata Du’at itu berasal dari Shighoh Mubaalaghoh daa’iyatun yang artinya jurudakwah/pendakwah. Dan kata daa’iyatun yang bershighoh Mubaalaghoh itu bisa untuk laki-laki dan perempuan, karena memang di situ para peserta Daurahnya terdiri dari juru dakwah laki-laki dan perempuan.
        Jadi kejadian yang seperti itu, yakni menyimpulkan ucapan seseorang dengan kesimpulan yang salah itu dapat terjadi pada siapa pun, baik orang itu orang yang jujur, ataupun yang kurang jujur, ataupun lagi yang selalu tidak mau jujur. Dari kejadian itu, kita dapat mengambil pelajaran penting, bahwa masing-masing perawi hadis yang ada dalam rangkaian sanad hadis itu juga bisa menyimpulkan ucapan rawi yang lain dengan kesimpulan yang salah dan bisa juga salah dengar. Maka dari itu Siti Aisyah pernah mengatakan, bahwa pendengaran seseorang itu bisa melakukan kesalahan walaupun dia seorang sahabat Nabi saw, seperti Umar dan Abdullah bin Umar, (lihat buku Soal-Jawab A. Hassan, jilid 4 hlm. 1504).
  1. Dalam bahasa Arab, kata kerja atau fi’il yang mendapat tambahan huruf alif, sin, dan ta` itu asal-asalnya artinya mendapat tambahan kata “minta”. Karena ingin praktis dan mudah, maka kata “minta” itu sering dibuang. Padahal yang sebenarnya di situ ada falsafahnya atau ulasannya yang lebih dalam, contoh: Banyak orang mengaku Islam dan sering mengatakan, bahwa Kitab Sucinya adalah Alquran, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pola pikir dan tingkah lakunya banyak yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan Alquran. Hal itu terjadi karena mereka secara hakiki tidak mengukuhkan Alquran sebagai satu-satunya petunjuk hidupnya. Padahal pengukuhan itulah yang sering-sering diminta oleh Alquran. Jika pengukuhan secara hakiki terhadap Alquran itu ada, maka pada waktu itu seseorang akan rela untuk dibimbing oleh Alquran di dalam menjalani kehidupannya. Dengan ulasan yang sangat sederhana itu, mudah-mudahan saudaraku yang tercinta dari PERSIS itu dapat memahami dengan baik sehingga tidak mudah menyalahkan sesuatu hal sebelum merenungkannya lebih dahulu. Kalau toh umpamanya saudaraku itu masih tetap tidak mau menerima kata “Al-mustaqiim” itu diterjemahkan dengan “minta pengukuhan”, maka mohon ditunjukkan oleh saudaraku dua kata “minta pengukuhan” itu bahasa Arabnya apa? Dan lagi orang yang istiqomah itu baru bisa istiqomah secara benar dan berkelanjutan apabila dia di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup itu senantiasa minta kepada dirinya agar senantiasa pola pikir dan tingkah lakunya tetap kukuh di atas ketetapan-ketetapan Ilahi.
         Baiklah di sini ditambahkan satu contoh lagi untuk membantu memudahkan pemahaman, yakni kata “mustasyfaa”, kata ini artinya adalah “tempat yang dimintai kesembuhan” karena dia berasal dari kata kerja/fi’il “syafaa-yasyfii-syifaa`an” yang ditambah di depannya huruf alif, sin, dan ta`. Dan kata “mustasyfaa” itu adalah “kata benda yang menunjuk pada makna tempat/isim makan” berasal dari kata kerja/fi’il “istasyfaa-yastasyfii-istisyfaa`an”. Kata “mustasyfaa” itu biasa disebut “rumah sakit”. Karena kata rumah sakit itu bahasa Arabnya adalah “mustasyfaa”, maka falsafahnya atau ulasannya adalah: yang namanya rumah sakit/mustasyfaa itu mempunyai fungsi utama untuk menyembuhkan orang yang sakit, dari situ jelaslah yang namanya rumah sakit/mustasyfaa itu dituntut agar  berkualitas, lengkap fasilitas, tenaga medis yang berkapasitas dengan dilengkapi obat-obatan yang lengkap lagi siap, dan lain-lain. Yang dengan itu semua, fungsi utama rumah sakit/mustasyfaa dapat dilaksanakan sesuai dengan asal namanya, yakni “tempat yang dimintai kesembuhan”. Ini hanyalah sekedar contoh untuk memudahkan memahami dan mengulas kata-kata Arab yang ada dalam Alquran yang mendapat tambahan huruf alif, sin, dan ta`.   
  1. Saudaraku dari PERSIS itu mengatakan, Karya Ahmad Hariadi, Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an itu modelnya mirip dengan Alquran terjemahan karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah.
Pernyataan saudaraku itu sungguh tidak benar, karena dua terjemahan Aquran itu sungguh sangat jauh berbeda karena berbedanya berbagai latar belakang penulisnya. Nampaknya saudaraku belum pernah membaca terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah itu. Dia mengatakan begitu karena adanya kabar burung yang mengatakan seperti itu. Dan dalam Islam dibenci dan dilarang menerima kabar burung (qiila wa qoola) tanpa mengecek lebih dahulu.
Oleh karena itu, saya memohon kepada saudaraku yang tercinta agar mau mengecek lebih dahulu terhadap terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu itu, dan setelahnya itu membandingkannya dengan Terje-mahan/Tafsir Yassarnal-Quran yang saya tulis. Dan setelahnya itu, saudaraku baru dapat menyimpulkan dengan kesimpulan yang benar, (amin!) Kalau saudaraku tidak punya terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu itu, silahkan datang ke Ahmad Hariadi untuk mengcopinya.      
  1. Untuk menjawab pernyataan dan pertanyaan dari saudaraku yang ada di no. 17 itu sebenarnya jawabannya sudah ada di riwayat hidup Lukman Saad yang ada di halaman ix, (nampaknya saudaraku kurang teliti di dalam membacanya).
    Alangkah baiknya kalau saudaraku itu memahami karakter Ahmad Hariadi di dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan masyarakat yang berbeda-beda, terutama kalangan masyarakat muslim. Ahmad Hariadi mempunyai prinsip seperti yang dianjurkan oleh Alquran, bebas bergaul dengan siapa saja dalam rangka mencari ilmu dan menyampaikan kebenaran. Karena dengan perantaraan itulah seseorang akan menemukan kebenaran/alhak dan menemukan kesalahan/albatil yang ada di kalangan masyarakat, baik dari kelompok masyarakat yang radikal, ekstrem, moderat, liberal, dan lain-lain. Baru setelahnya itu, sesuatu yang benar/alhak menurut Alquran wajib diambil dan diikuti, dan sesuatu yang salah/albatil menurut Alquran wajib dibuang dan dijauhi. Karena kebenaran/alhak itu ada di mana-mana, begitu pula kesalahan/albatil, tidak ada seorang pun dan kelompok mana pun yang mutlak benar dan mutlak salah pendapat-pendapatnya. Dan kebenaran/alhak itu pasti dapat menga-lahkan dan mengusir kesalahan/albatil yang ada dalam benak seseorang, asalkan seseorang tersebut bersikap jujur, (surat 17 ayat 81, surat 21 ayat 18, surat 36 ayat 7 s/d. ayat 11, dan lain-lain).
    Jadi jangan heran kalau Ahmad Hariadi bergaul sangat mesra dengan berbagai kalangan masyarakat muslim dan non muslim yang berbeda-beda itu, alias Ahmad Hariadi ada di mana-mana kelompok masyarakat dan juga tidak ada di mana-mana kelompok masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam biografi dan pengembaraan Ahmad Hariadi dalam kitab terjemah/tafsir Yassarnal-Qur`an!
    Mudah-mudahan saling menanggapi terhadap sesuatu tulisan seperti itu dapat berlanjut dan membudaya di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat muslim! Karena dengan perantaraanya, ilmu seseorang akan bertambah, dan akhirnya akan bertambah pula kebenaran dan kesalahan yang dapat diketahuinya, dan akhir bin akhirnya “yang benar/alhak diambil dan diikuti, dan yang salah/albatil dibuang dan dijauhi”. Marilah kita sama-sama berdoa:
Alloohumma arinal-haqqo haqqon warzuqnaa ittibaa’ahu, wa arinal-baathila baathilan warzuqnaa ijtinaabahu … robbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan wa qinaa adzaaban-naar. Amin!
NB:    Tanggapan saya itu agak sedikit terlambat karena memang saya tidak dikirimi majalah Risalah yang memuat hal tersebut, (semestinya majalah Risalah itu dikirimkan kepada saya, karena saya punya hak jawab/tang-gapan/menjelaskan). Setelah saya tahu dari teman di Bandung tentang majalah Risalah yang memuat hal tersebut, baru saya mencarinya di pesantren-pesantren PERSIS, termasuk pesantren PERSIS yang ada di Bentar-Garut. Di pesantren PERSIS Bentar ini pun, saya tidak mendapatkannya, mereka mengatakan, “pesantren PERSIS Bentar sudah tidak berlangganan lagi karena masalah keuangannya tidak lancar”. Setelah cari sana cari sini, akhirnya saya mendapatkan majalah Risalah itu dari seseorang PERSIS yang mengajar di pesantren Rancabogo-Garut. Setelah saya baca dengan teliti, baru pada tanggal 16 Desember 2008, saya mendatangi teman tercinta, yakni Ustadz Aceng Zakaria di pesantren PERSIS Rancabango-Garut, yang mana beliau itu sebagai anggota Dewan Redaksi dari majalah Risalah tersebut. Dan pada waktu itu beliau mengatakan ke saya, bahwa beliau belum tahu tentang judul Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi yang ada di majalah tersebut. Sehingga pada waktu itu saya pun bertanya kepada beliau, bukankah Ustadz Aceng terdaftar di majalah tersebut sebagai anggota Dewan Redaksi dan Redaktur Kehormatan dari majalah Risalah itu? Kemudian saya tanyakan lagi kepada beliau, “apakah setiap judul yang akan dimuat dalam majalah Risalah itu tidak dirapatkan/dimusyawarahkan lebih dahulu oleh Dewan Redaksi?” Beliau pada waktu itu menjawab, “saya tidak tahu tentang judul yang menyangkut nama Ustadz Ahmad Hariadi, dan setiap judul yang akan dimuatnya itu juga tidak dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh Dewan Redaksi”. Hal itu sangat disayangkan, apalagi majalah tersebut adalah merupakan corong dari suara PERSIS.
Dan setelahnya itu, baru saya menanggapinya dengan cukup hati-hati agar tidak menyinggung perasaan teman-teman tercinta di PERSIS. Dan tanggapan-tanggapan saya itu selesai saya tulis pada akhir Desember 2008, dan akhirnya pada awal Januari 2009 setelah liburan panjang, saya kirimkan tanggapan saya yang agak panjang itu ke Redaksi majalah Risalah melalui Ustadz Aceng Zakaria selaku anggota Dewan Redaksi dan Redaktur Kehormatan dari Majalah tersebut. Pengiriman melalui beliau itu dengan harapan “agar dapat dimuat, sehingga dapat seimbang/balans antara dua tulisan, dan yang akan menjadi hakimnya adalah para pembaca itu sendiri, karena memang para pembaca yang merdeka lagi adil itulah yang akan dapat menghakiminya dengan adil”. Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatannya itu, keterlambatan yang tidak disengaja.
AHMAD HARIADI
HP. 081 281 256 950877 437 586 36
E-mail: ahmadhariadi1951@yahoo.com

YANG PERLU DIUNGKAP TERKAIT KONTRAK SEX MUT-‘AH

Oleh: Abid Bata

Penerjemah: Islam saja

PENDAHULUAN

Sementara BBC mengungkapkan pelecehan seks pada anak, blog Iran mengklaim mengekspos skandal seks lain yang memalukan: Bahwa seorang lelaki yang mengoperasikan klub seks Mut’ah dari lantai atas flatnya. Blog mengklaim bahwa ia mengajak beberapa perempuan jalanan dari suatu jalan ke flatnya dan membayar mereka untuk seks. Awalnya teman-temannya bercanda pada kecanduannya untuk seks, tetapi bercanda mereka berhenti ketika ditemukan bahwa dalam petualangan seksnya dia bahkan berhasil tidur dengan beberapa perempuan yang ada hubungan keluarga termasuk ibu-ibu dan putri-putri mereka terpaksa menjajakan diri di jalanan karena kemiskinan.

Saat ditangkap si germo berpendapat bahwa kesalahan tidak ada pada dirinya tetapi pada izin keagamaan dari Mut’ah. Dia berargumen bahwa mengingat sifat alami Mut’ah maka akan tak terelakkan bahwa para lelaki yang hobi berpetualang seks akhirnya akan tidur dengan para wanita yang menjajakan  diri mereka di lingkaran Mut’ah. Dia mengatakan bahwa karena tidak ada yang tahu siapa sedang melakukan Mut’ah dengan siapa, yang bisa jadi wanita-wanita yang sama bisa suatu saat tidur dengan anak laki-lakinya dan ayahnya, yang telah terjadi – karena suatu kesalahan – tidur dengan ibu-ibunya dan anak-anak perempuannya.

Efek pertama dari cerita ini kotor ini pada diri saya hanya terkejut. Saya hanya berlindung pada penyangkalan karena saya tidak memiliki dalam diriku untuk mempertanyakan kekurangan dalam sistem Syiah kita. Bagaimana mungkin sistem ilahi dari Mut’ah begitu rusak yang dapat berakhir hingga orang melakukan incest (hubungan sex dengan orang yang masih ada hubungan keluarga dekat)? Ini semestinya membuktikan bahwa Mut’ah adalah gagal sebagai solusi sosial bagi masalah seks. Ini akan membuktikan bahwa semua alasan untuk Mut’ah adalah salah, dan makanya saya menolak cerita dan klaim dan oleh karena itu Mut’ah adalah tidak baik.

Saya terus membiarkan diriku dalam penyangkalan sampai saya mendengar cerita baru tentang bagaimana para anggota parlemen Iran telah menyusun undang-undang ‘agama’ baru yang mengizinkan membuka ‘Rumah-rumah Seks. “Di rumah-rumah ini wanita-wanita Iran yang menjual seks di jalanan akan secara resmi mendaftarkan diri mereka sebagai ‘wanita-wanita Mut’ah’ dan menjual ‘seks yang aman dan bermoral’ di bawah perlindungan hukum. Koran-koran Barat menjuluki rumah-rumah ini sebagai “SHIA BORDIL” tetapi pertanyaan kemarahan di kepala saya adalah: “Mengapa rumah-rumah seks ini diperkenalkan kepada masyarakat Iran oleh orang-orang yang tidak ma’shum? “. Bagi saya titik tolak menjadi Syiah adalah percaya bahwa hanya seorang yang ma’shum yang boleh merancang undang-undang dan sistem, dan, karenanya, melindungi Islam dari bid’ah dan turunannya yang rusak. Lalu mengapa laki-laki yang tidak mashum menciptakan hukum bagi kita yang kita harus menganggap sebagai perintah ilahi? Mengapa platform Islam Syiah yang digunakan untuk melegalkan rumah seks dalam budaya Islam?

Berbagai kelompok perempuan di Iran mengatakan bahwa hukum dibuat atau diturunkan oleh orang yang diberi label SHIA hanya untuk menjadikan kita begitu saja menerima mereka. Banyak pejabat tinggi di pemerintah Iran juga telah jujur ​​dalam keprihatinan mereka tentang bagaimana Mut’ah telah memberikan celah ideal untuk kejahatan seks. Pada suatu kasus khusus pemerkosaan dalam keluarga – “Yang Mulia, saya tidak memperkosa sepupu saya yang sudah saya cerai ketika dia sendirian: saya Mut’ah dengan dia!” Dan karena dalam sistem kita dibutuhkan dua perempuan untuk melawan bukti satu orang, maka si pemerkosa tidak pernah dikenakan hukuman.

Laporan yang disampaikan oleh satu kelompok wanita di Iran mengatakan bahwa gadis-gadis pelarian sering dijemput dan dipaksa untuk Mut’ah atau diperkosa oleh tuan-tanah di Teheran yang menginginkan seks sebagai uang muka untuk sewa. Ketika gadis-gadis tersebut pergi ke polisi tuan-tanah tersebut mengaku melakukan mut-‘ah yang ‘islami’ dengan mereka. Beberapa dari gadis-gadis ini akhirnya hamil dan bunuh diri. Beberapa menjadi pelacur Mut’ah dan melayani seks oral karena hal ini tidak memerlukan masa tunggu iddah. Banyak dari mereka berlari pada obat-obatan dan telah kehilangan harga diri mereka dan kepercayaan mereka di dalam masyarakat dan dalam sistem yang diberi label ‘Islam’. Dari sinilah para misionaris Kristen melompat dan mencoba untuk mengubah agama gadis-gadis tersebut. Bahkan, misi Kristen beroperasi di berbagai tempat secara rahasia di Iran dan melihat sejumlah besar perempuan berpindah agama sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa gadis-gadis tersebut kehilangan haknya setelah digunakan dan disalahgunakan di bawah sistem yang diberi label Islam.

Jika Anda melihat secara lebih luas, Anda akan menyadari bahwa banyak dampak dari sistem Mut’ah yang bersifat global. Mut’ah dikenal untuk menjadi alat bagi lelaki untuk memeras pekerja wanita di tempat-tempat seperti Pakistan di mana para bos mengancam untuk memecat karyawan perempuan yang miskin dari pekerjaan mereka jika mereka tidak melakukan itu dengan mereka atau mitra bisnis mereka. Para tuan tanah kaya akan membayar para ayah yang miskin untuk meyakinkan anak-anak perempuan mereka untuk memberikan kepada mereka seks sebelum mereka menikah.

BBC World Service menyebarkan cerita tentang bejatnya mullah ‘Syiah’ yang dipukuli oleh perempuan ‘Sunni’ di India ketika mereka mencoba untuk meyakinkan mereka untuk melakukan Mut’ah dan menarik pakaian mereka.

Di Iran seorang pembaca berita wanita terkenal ditangkap membuat video porno dengan lelaki yang ia lakukan secara Mut’ah. Wanita lain Iran melakukan Mut’ah dengan pemain sepakbola keren dan kemudian istrinya cemburu dan dibunuhnya. Pesepakbola tersebut berdiri di dekatnya tampak gembira ketika isterinya sedang digantung.

Di Tanzania Mut’ah telah membawa VD dan HIV di dalam komunitas Khoja.

Di Inggris juga kisah Mut’ah memberikan banyak bukti dampak buruknya pada orang-orang kita dan khususnya pada keluarga kita. Dan semua ini terjadi atas nama sistem yang berlabel Islam Syiah.

Jadi mungkinkah sesuatu yang terbukti sangat destruktif itu Islami? Bukankah Imam Ali (as) memberitahu kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu Halal atau Haram adalah dengan melihat dampaknya? Jika kita mengikuti prinsip yang Imam Ali ajarkan kepada kita maka pasti Mut’ah tidak bisa diterima karena akan membawa begitu banyak kehancuran di dalam kehidupan kita.

Bayangkan berapa banyak lelaki Syiah di Inggris berselingkuh secara Mut’ah dengan segala jenis wanita sementara para istri mereka merana di rumah. Hal ini telah menciptakan masalah kepercayaan dan menggerogoti nilai-nilai sebuah lembaga perkawinan. Anak-anak perempuan melihat ibu-ibu mereka marah sementara para ayah memuaskan kebiasaan rendah mereka dengan melakukan Mut’ah. Bagaimana anak-anak perempuan ini bereaksi adalah sesuatu yang perlu direnungkan, karena tidak ada gadis yang melihat ibunya marah dan frustrasi akan bersedia menikah dalam suatu sistem di mana para lelaki bebas selingkuh sementara para istri mereka merana di rumah dengan berjilbab. Standar ganda adalah sesuatu yang pada akhirnya akan menggerogoti keluarga kita dan iman kita.

Memang, Mut’ah mungkin memiliki beberapa pembenaran tetapi seperti khomar yang mungkin juga memiliki beberapa manfaat disamping fakta bahwa hal itu akan mengikat orang dan menghancurkan kehidupan. Selanjutnya, pembenaran Mut’ah sangat rumit dalam agama kita karena sebagian darinya didasarkan pada pemerasan terbuka. Misalnya dalam salah satu kitab-kitab awal para Imam kita telah dituduh mengatakan bahwa orang yang tidak menerima Mut’ah akan masuk neraka (1). Sehingga Anda bahkan tidak bisa berbeda atau menentangnya tanpa ancaman neraka kepada Anda!

Dan jika Anda membaca kitab-kitab tersebut lebih  lanjut, Anda akan menyimpulkan bahwa Mut’ah itu begitu sangat dihormati di kitab-kitab kita yang bahkan dapat diekstrapolasikan kedalam Kalimah Shahadah kita (“Mut’ah Halal Ullah!”). Berikut adalah contohnya:

Tertulis dalam kitab-kitab kita bahwa para imam kita mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah maka air najis dari Ghusal Janabat dirinya akan menjadi begitu suci dimana setiap tetesnya akan dihitung di surga sebagai sawab (2). Tingkat peringkat ini bahkan tidak diberikan kepada air suci Zamzam. Bayangkan: Kitab-kitab kita memberikan  derajat lebih kepada air ghusal najis dari mereka yang melakukan Mut’ah daripada air Zamzam!

Suatu ketika saya bertanya kepada seseorang yang tinggi dalam pembentukan Syiah kita mengapa nama-nama para imam kita disalahgunakan untuk membenarkan dan memuliakan Mut’ah dalam kitab-kitab kita, ia menjawab bahwa Mut’ah adalah sebuah ‘karunia & hak’ istimewa bagi Syiah karena kita percaya kepada wilayah Imam Ali! Lagi-lagi nama Imam digunakan untuk membenarkan sesuatu yang membawa begitu banyak kehancuran bagi kehidupan masyarakat.

Lelaki itu juga mengatakan kepada saya bahwa kita sebagai Syiah diberi hak istimewa ini karena kita adalah para penghuni surga yang mendapatkan tunjangan khusus. Dia menyarankan kepada saya untuk mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah karena mereka semua adalah pemalsuan melawan ‘Imam Zaman.” Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang pertama yang Imam Zaman akan bunuh adalah orang-orang yang menolak Mut’ah. Sekali lagi ancaman kematian dan neraka diletakkan kepada siapa saja yang mempertanyakan hal-hal dan mulai berpikir secara mandiri.

Saya sangat gelisah dengan logika bahwa saya harus mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah. Saya menganggap itu sebagai ‘hak asasi manusia’ dan ‘hak Islam’ untuk bertanya, mengeksplorasi dan berfikir untuk diri sendiri. Saya mulai melihat Islam sebagai pedoman yang membuka pintu pikiran, bukan malah menutupnya! Justru terbalik ketika seorang Muslim mengatakan kepada Muslim lainnya untuk menutup pikirannya karena seruan al-Quran kepada manusia agar berpikir mandiri.

Saya tidak bisa menerima menjadi digembok kepala saya seolah-olah saya sedang hidup di jaringan dari era abad pertengahan takhayul dan kebohongan yang dibingkai dalam konteks agama. Oleh karena itulah, saya telah menulis artikel singkat ini. Saya tidak hanya mempertanyakan Mut’ah tetapi saya juga mempertanyakan pola pikir kita dan doktrin-doktrin kita. Saya tahu saya akan melawan zona kenyamanan kebanyakan orang. Saya tahu bahwa kemapanan kita akan sangat tidak senang dengan saya, tetapi apa yang harus saya katakan akan menjadi jalan alternatif untuk berpikir bagi banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir di luar yang biasanya.

Saya berdoa agar artikel ini adalah nutrisi berpikir bagi Anda. Jika Anda pikir saya salah maka silakan beritahu saya. Tetapi tolong jangan membuat kesalahan dengan mengabaikan bukti konkret dan substansial yang melawan Mut’ah hanya karena tidak pas dengan kepribadian yang Anda ikuti atau dengan cara berpikir yang telah lama diajarkan. Mempelajari berarti mempertanyakan diri sendiri, melihat bukti alternatif, menerima fakta dan kemudian melanjutkan. Ini adalah seperti orang-orang yang membawa dinamika hidup dan bergerak lebih dekat kepada Allah.

BUKTI 1 – NILAI-NILAI ISLAM

Sebagai bukti pertama melawan Mut’ah adalah mempertimbangkan nilai-nilai moral Islam dan betapa Mut’ah mengolok-olok nilai-nilai itu. Salah satu tampilan khas simbolik yang mewakili nilai-nilai Islam adalah jilbab. Kenapa Hijab datang kepada Islam? Mengapa seorang wanita Muslim menutupi tubuhnya bahkan ketika berdoa ketika Tuhan menciptakan dia dan memberinya semua pesona seksual? Apa yang kita secara tradisional telah diajarkan tentang Hijab? Apakah Hijab hanya formalitas fikih yang dapat dihapus dengan kontrak sex atau apakah hijab memiliki nilai sosial, moral dan pribadi lebih dalam yang tidak dapat diperdagangkan atau dikompromikan pada kontrak sex?

Quran secara eksplisit menyatakan bahwa penutup luar (Hijab) adalah tidak hanya sekedar sebuah isu, tetapi merupakan nilai-nilai yang dimaksudkan untuk ditanamkan. Tetapi karena kita diajarkan untuk menjadi begitu terpaku pada aturan fikih, akhirnya menempatkannya dengan lebih menekankan pada Hijab luar daripada keseluruhan tujuan Hijab. Sehingga kita marah jika seorang wanita tidak mengenakan jilbab, tetapi kita menganggap merupakan suatu berkah bagi diri wanita jika dia setuju untuk membuka bajunya dalam kontrak sex Mut’ah. Kita perlu menyetel ulang cara berpikir kita dan menerima bahwa fungsi utama Hijab, sebagaimana al-Quran nyatakan, adalah untuk mengembangkan keunggulan moral pada diri wanita sehingga ia ‘mengenal’ dirinya, dan meningkatkan diri dari ego dasar dan tidak berkompromi menyangkut kehormatan dirinya.

Jadi akankah seorang wanita dengan kelembutan dan keunggulan moral yang tinggi akan menurunkan nilai dari hal-hal penting dalam hidupnya seperti hubungan sex dan cinta? Akankah seorang wanita seperti ini akan mejadikan Jilbab hanya sekedar formalitas fikih seolah-olah itu tidak bernilai baginya sehingga boleh dilepas untuk suatu kontrak sex?

Dan bagaimana dengan ikon dibalik Hijab seperti Syeda Fatimah (as)? Apakah ikon ini memiliki makna nyata dalam kehidupan kita? Apakah kita mengikuti teladan mereka? Ingat, mereka tidak pernah melepas Jilbab pada kontrak sex, dan mereka juga tidak pernah melakukan Mut’ah – meskipun dengan calon suami mereka sendiri!

Kesalahannya adalah bahwa kita telah mencampurkan sesuatu dan menjadi bingung tentang apa Islam itu sebenarnya. Kita tidak bisa melihat perbedaan antara bimbingan moral Islam dan apa yang diturunkan untuk kita oleh ekstrapolasi dan interpretasi. Kita tidak menyadari bahwa kita telah melanggar nilai-nilai moral Islam yang tinggi karena kita asyik dengan formalitas fikih. Ketika kita dihadapkan dengan fakta bahwa baik Syeda Fatima maupun ikon Islam lainnya tidak melakukan Mut’ah, maka kita membuat-buat alasannya. Kitaa membuat pembenaran sesuatu berdasarkan keinginan kita. Kita seperti orang yang minum alkohol dan selalu menemukan alasannya. Kita mengabaikan fakta bahwa jika Syeda Fatima bahkan tidak melakukan Mut’ah dengan calon suaminya maka itu berarti bahwa tidak ada ruang untuk Mut’ah dalam hidupnya.

Satu hal yang kita tidak pernah diberitahu kenapa pernikahan Syeda Fatimah ditahbiskan di surga adalah karena sebuah pernikahan di Islam adalah perintah ilahiah. Hal ini karena hubungan yang diikat oleh pernikahan memiliki tangan Tuhan di dalamnya. al-Quran mengatakan bahwa suami dan istri adalah kenyamanan dan kedamaian satu sama lain. Mereka yang membangun cinta sejati dan abadi juga akan disatukan di surga. Hubungan mereka dihargai begitu tinggi oleh Islam.

Quran tidak mendefinisikan pernikahan sebagai urusan kontrak seks sementara dalam periode waktu pendek. Menurut al-Quran, jika Anda menikahi seorang budak wanita sekalipun maka tidak bisa bersifat sementara tetapi Anda harus menghormatinya sebagai pasangan hidup. Mereka yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah Islami telah membawa kebingungan ke dalam Islam tentang nilai-nilai moral Islam dan tentang apa arti hubungan pernikahan di dalam Islam. Islam seperti ini bukanlah Islam dari Nabi yang menghabiskan sepuluh tahun pertama dari hidupnya di Mekkah jahiliyah untuk mendefinisikan Islam sebagai kekuatan moral bagi dunia dan dia tidak pernah melakukan Mut’ah meski dalam masyarakat jahiliyah.

Hampir kita umat Islam saat ini selalu melupakan bahwa kehidupan Nabi di Mekah adalah akar Islam yang mendorong keadaan moral di Madinah. Kita tahu begitu sedikit tentang Islam sebagai kekuatan moral dan namun kita memiliki mereka yang mendominasi orang-orang yang berpikir bahwa hanya karena mereka telah membaca beberapa kitab fikih, dan telah hafal sejarah dari sudut politik dan sektarian, lalu mereka telah menguasai Islam dari dalam dan dari luar. Ini adalah orang-orang yang telah me-redefinisi Islam sebagai agama tanpa jiwa yang mendorong kita untuk fokus pada aturan fikih luar sambil benar-benar mengabaikan nilai-nilai yang lebih dalam dari Islam. Dan karena alasan inilah kita telah merendahkan nilai moral institusi perkawinan dan dibawa ke dalam ranah kontrak sex. Kita telah melakukan hal yang sama terhadap jilbab dan dengan demikian kita memiliki para wanita yang akan melepas jilbabnya demi kontrak sex dan tidak menyadari kontradiksi yang mereka lakukan dengan nilai-nilai di balik pemakaian jilbab yang dimaksudkan untuk ditanamkan.

BUKTI 2 – ‘TARK E AULA’

Berikut ini adalah isu lain melawan Mut’ah. Ini dilakukan dengan apa yang disebut Tark E Aula. Ini berarti bahwa jika seorang ma’shum tidak melakukan suatu mustahabat maka sesuatu itu berarti salah. Ketika Nabi Adam melakukan Tark E Aula maka ia harus bertobat selama beberapa tahun dan tetap dipisah dari istri tercintanya sebagai hukuman. (Menariknya, Allah tidak menyediakan bagi dia dengan seseorang untuk melakukan Mut’ah ketika ia dipisah dari istrinya. Alangkah malangnya Adam!).

Jadi tanyakan pada diri anda bahwa jika Mut’ah begitu baik maka mengapa wanita yang ma’shum seperti Syeda Fatimah, Bibi Mariam, Syeda Asiah, Syeda Khadijah atau Syeda Zainab tidak pernah melakukannya, karena kalau tidak demikian mut’ah akan menjadi Tark E Aula.

Bahkan Nabi Muhammad pun tidak pernah melakukan mut’ah. Dan tidak ada laporan yang teruji bahwa setiap Imam melakukannya karena tidak ada yang menyebutkan bahwa salah satu dari mereka dilahirkan dari mut’ah ataupun memiliki anak dari mut’ah. Ada empat belas ma’shumeens dan tidak satupun dari mereka lahir dari mut’ah ataupun memiliki seorang anak dari mut’ah. Sungguh aneh bahwa tidak seorang pun Imam yang lahir dari Mut’ah meskipun fikih kita mengklaim mut’ah itu adalah ‘tsawab’ (karunia) untuk melakukannya. Tentunya jika Mut’ah begitu baik maka semestinya para imam kita harus memberikan contoh dan setidaknya menghasilkan seorang anak dari hasil mut’ah. Fakta ini saja sudah cukup untuk mendiskreditkan Mut’ah dan melepaskannya dari Islam Syiah.

Suatu kali saya menyajikan uji ilmiah ini bahwa tidak seorang pun ma’shum melakukan Mut’ah, maka seorang Mullah mengatakan kepada saya bahwa Ibn Zubair lahir dari hasil Mut’ah. Tetapi Ibnu Zubair tidak lahir dari orang yang ma’shum. Bahkan ia adalah musuh Ahlul Baith. Jadi kenapa kita diberikan contoh praktek-praktek jahiliyah yang ada di dalam Islam ketika isu Tark e Aula relevan dengan seorang ma’shum yang seharusnya tidak pernah melupakan perbuatan baik? Contoh Ibnu Zubair tidak relevan dengan diskusi tentang Tark E Aula yang berarti bahwa seorang ma’shum tidak bisa melupakan tindakan baik sementara kita tahu bahwa tidak seorang pun ma’shum yang tercatat pernah melakukan Mut’ah.

 

BUKTI 3 – ASAL USUL MUT’AH

Hal lain yang tidak ditekankan kepada kita adalah kenyataan bahwa Mut’ah adalah suatu bid’ah Jahiliyah. Lelaki Arab sebelum Islam menciptakan Mut’ah untuk menggunakan perempuan dan kemudian membuangnya seolah-olah mereka telah menyewa seekor keledai untuk dinaiki selama beberapa hari atau beberapa jam atau beberapa menit. Begitulah Mut’ah di antara orang-orang Arab dimana para janda yang terhormat dibawa kepada sex mut’ah oleh para kreditur untuk melunasi hutang suami mereka yang meninggal. Orang-orang Arab ini memperlakukan para wanita seperti objek dan oleh karenanya adalah wajar bagi mereka untuk menciptakan Mut’ah. Bukti bahwa kaum jahiliyah mengambil janda untuk Mut’ah adalah berikut:

“Diriwayatkan bahwa Zubair biasa melakukan banyak mut’ah sebelum ia menjadi Muslim dan setelah pindah agama ia pernah mengatakan bahwa bila Nabi meninggal maka dia akan mengambil para jandanya untuk di-mut’ah dalam rangka berhubungan seks dengan mereka. Setelah itu, sebuah ayat diturunkan melarang istri-istri Nabi diambil dalam pernikahan dan menyatakan bahwa mereka sebagai ibu bagi orang-orang yang beriman. ”

Riwayat ini membutuhkan analisa yang baik tetapi hal itu menambah bukti bahwa orang-orang Islam yang masih memiliki mentalitas jahiliyah yang biasa menunggu seorang lelaki mati sehingga mereka bisa melakukan Mut’ah dengan jandanya. Dalam kasus ini Zubair sedang menunggu Nabi meninggal! Betapa menyedihkan bahwa para mullah kita memberi contoh kepada kita untuk mengikuti Zubair sambil menyatakan bahwa mereka menginginkan kita untuk mengikuti jejak dari Ahlul Baith!

Jika Islam memang mengizinkan Mut’ah, maka akan tak terelakkan untuk para lelaki SEPERTI Zubair di komunitas kita menunggu lelaki lain mati sehingga jandanya menjadi komoditas sex yang siap pakai! Bagaimana bangkrutnya etika Islam jika Mut’ah telah diterima secara luas dalam budaya Islam dan jiwa para lelaki kita?

Namun hari ini kita memiliki para ‘intelektual’ yang telah menggunakan busana keagamaan dan mencoba untuk membenarkan Mut’ah dengan mengatakan bahwa Islam meminjam beberapa budaya jahiliyah agar menjadikannya lengkap. Mereka sengaja kehilangan hal penting bahwa alasan orang-orang jahilyah melakukan Mut’ah adalah karena mereka menganggap perempuan sebagai komoditas. Dalam Islam memperlakukan perempuan sebagai komoditas adalah dosa dan penghinaan. Perempuan, menurut al-Quran, adalah pasangan jiwa lelaki dan sehingga menghina atau merendahkan mereka adalah merendahkan laki-laki juga. Lebih dari itu, Islam tidak menjadi lengkap dengan meminjam kebiasaan jahiliyah. Gagasan bahwa kebiasaan jahiliyah seperti menyewa perempuan dalam bentuk Mut’ah dapat menjadi bagian dari Islam, membuktikan bahwa para ulama zaman dahulu menciptakan sesuatu dengan mencampur Islam dengan kebiasaan jahiliyah zaman dahulu. Akibatnya Islam menjadi diikat dengan kotoran nilai-nilai jahiliyah. Inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak kontradiksi dalam Islam yang ditulis setelah Nabi. Sunni dan Syiah telah menderita karena hal ini meskipun kedua sekte tersebut menolak untuk mengakuinya.

Untuk lebih membuktikan bahwa Islam telah dicampur dengan ide-ide jahiliyah, perhatikanlah masalah perbudakan. Ini adalah suatu kejahatan dimana al-Quran mencoba untuk mengekangnya. Satu-satunya alasan Nabi masih memberikan toleransi adalah karena perbudakan itu sistemik dan tidak realistis untuk benar-benar melarangnya (pada zaman itu). Dan hanya karena Nabi pada zaman itu belum bisa melarangnya, maka tidak berarti bahwa perbudakan itu disahkan oleh beliau. Nabi sendiri tidak pernah memelihara budak meskipun adalah fakta bahwa perbudakan merajalela pada zaman itu. Beliau mengatakan kepada para sahabatnya untuk membebaskan budak sebanyak yang mereka bisa. Beliau mendefinisikan hak-hak budak yang belum dibebaskan. Dia bahkan mengangkat mereka ke status Muztad’afeens (tertindas). Namun para pedagang budak Arab yang datang setelah Nabi telah berhasil mempertahankan perbudakan booming di masyarakat muslim selama berabad-abad. Cara mereka mengatur kelestarian perbudakan adalah mengikat Islam dengan jahiliyah yang telah menciptakan perbudakan di tempat pertama.

Dan realitas yang menyedihkan adalah bahwa sementara seluruh dunia bergerak untuk menghapuskan perbudakan, justru para pedagang dan penguasa Muslim yang menolak untuk melarangnya. Bahkan ketika perusahaan India Inggris Timur mengambil alih India, raja-raja dan putri-putri Mugal menggunakan Islam untuk tetap menghidupkan budaya perbudakan dan harem. Mereka datang dengan ungkapan-ungkapan seperti: ‘Tidak ada yang bisa menjadikan Harram pada apa yang Halal E Muhammadi.” Dengan ide-ide seperti ini masyarakat Muslim kita tidak melarang perbudakan hingga tahun 1962 ketika Inggris memaksa suatu larangan kepada kita – sekitar dua abad setelah penghapusan yang terjadi di Eropa Kristen.

Betapa buruknya hal di atas, ketika Nabi Muhammad mencapai begitu banyak dalam membebaskan budak, justru ironinya butuh komitmen Eropa Kristen untuk mendorong perbudakan berakhir pada dunia Muslim. Mungkin kita akan terus membenarkan Mut’ah dengan cara yang sama hingga orang lain mengajari kita betapa salahnya mut’ah itu. Kita akan melakukan ini meskipun tahu bahwa Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah sebagaimana beliau tidak pernah mempertahankan perbudakan bahkan dalam sebuah masyarakat dimana perbudakan dan Mut’ah sudah sistemik.

BUKTI 4 – SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI SIAPA?

Kita semua tahu bahwa Islam mengatakan bahwa para wanita harus meningkatkan keunggulan moral mereka ke tingkat di mana surga terletak di bawah telapak kaki mereka. Tetapi jenis keunggulan moral apa yang ada pada wanita yang secara bodoh setuju pada mengontrakkan tubuh mereka untuk kontrak seks?

Jenis perempuan yang melakukan kontrak Mut’ah adalah orang-orang yang Anda bisa melihat telanjang satu menit dan kemudian ketika Mut’ah selesai mereka memakai pakaian mereka tak ubahnya seperti penari telanjang murahan yang melepas celana dalamnya menit demi menit atas dasar kontrak, yang merupakan campuran antara nilai-nilai tinggi Islam dan nilai-nilai pelacuran perempuan rendahan, yang menjadikan jilbab mereka sebuah kontrak dengan para lelaki daripada sebagai pelindung untuk mengendalikan ego dan untuk pertumbuhan rohani dan jiwa, yang berpikir tidak mengapa tidur dengan suami orang lain dengan kontrak sex dan tidak mempunyai hati nurani atau rasa bersalah pada diri sendiri dalam melakukan hal itu – tetapi siapa yang tidak menyukainya ketika beberapa perempuan lain tidur dengan suami mereka, siapakah yang telah belajar untuk menghidupkan atau mematikan cinta mereka, siapakah yang digunakan, kehilangan dan murahan, dan siapakah yang telah mengumpulkan begitu banyak kotoran dalam kehidupan mereka yang bahkan seratus Ghusal dari Mut’ah tidak akan membersihkan mereka.

Rajutan moral apa yang para wanita tersesat bisa berikan kepada masyarakat Islam ketika mereka telah mengizinkan kehidupan mereka sendiri untuk diisi dengan kotoran, kebingungan, kerangka dan kontradiksi! Dan dalam kelompok perempuan Mut’ah murahan ini selalu ada orang-orang yang telah melakukan aborsi sebagai akibat langsung dari budaya kontrak sex Mut’ah cepat. Tetapi mengapa ulama kita mengabaikan semua ini? Mengapa mereka menggunakan nama Ahlul Bait untuk mengakomodasi hal-hal seperti itu ketika Imam Ali mengatakan kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu merupakan kejahatan hanya dengan melihat akibat langsungnya?

Tetapi masih ada cahaya! Satu hal yang menakjubkan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa Allah menjadikan sinar terang-Nya di daerah dan periode sejarah yang paling gelap. Maka Dia mengangkat seorang lelaki di tempat yang paling tidak terduga untuk membuka mata kita terhadap standar masyarakat  yang munafik dan membingungkan. Dia adalah Malcom X. Dia menarik diri dari masyarakat yang rusak dimana sex dikemas seperti sebuah prestasi, permainan, kontrak atau hanya dilampiaskan secara singkat. Dia mengatakan kepada Amerika untuk mengubah dirinya dengan belajar dari Islam Nabi Muhammad. Secara khusus, ia mengatakan kepada para wanita hitam yang tertipu dan kehilangan moralnya untuk beralih ke Islam untuk mendapatkan bimbingan bagi anak-anak perempuan mereka dan mendapatkan kembali harga diri mereka sendiri. Dia mengatakan bahwa kegagalan masyarakat Amerika Hitam itu sebagian besar disebabkan oleh pencemaran moral pada para wanitanya oleh para lelaki hitam yang telah kehilangan arah moral mereka. Dia mengatakan kepada para lelaki untuk menghargai cinta yang diberikan para wanita dan tidak merendahkan nilainya menjadi kontrak sex singkat. Dia memahami kekuatan cinta sejati dalam kehidupan pria dan wanita. Dia tahu bahwa kekuatan masyarakat akan didapat dari membangun keunggulan moral. Dia adalah salah seorang yang berhasil berbicara lantang tentang hubungan keluarga yang langgeng, stabilitas hati dan penanaman cinta sejati dan abadi antara pria dan wanita. Dia mencoba membangun abad ke-20 Amerika menuju era baru bimbingan moral – Tepat seperti apa yang Nabi Muhammad (as) capai di Medina pada abad ke-6.

Saat ini Islam kita tidak seperti Islam dari Nabi. Kita tidak mempunyai apa-apa untuk dunia modern karena standar kita sendiri membingungkan. Kita hanya melegalkan hal-hal yang kita inginkan dan berpura-pura bahwa tidak ada implikasi moral pada kita. Sering non-Muslim seperti Hindu dan Sikh memiliki nilai lebih kuat daripada yang kita lakukan. Sikap mereka terhadap perempuan dan terhadap seks adalah sesuatu yang jauh lebih sehat daripada kita. Dan bagian dari kesalahan tersebut adalah bahwa kita secara sistemik diajarkan untuk mengikuti ‘turunan’ Islam, seperti burung beo. Jika kita terus mengikuti Islam seperti ini maka, saya pikir, kita akan akhirnya kehilangan Islam sama sekali dan kita akan mati sebagai penurut dan orang yang berpikiran tertutup seperti ketika kita masih hidup.

 

BUKTI 5 – WANITA MEMILIKI KECERDASAN YANG RENDAH

Sekarang di sini adalah salah satu paradoks terburuk dalam versi Syiah kita. Dalam semua kitab-kitab kita ada tertulis bahwa perempuan adalah ‘Nakis E Akal’ atau rendah akal. Hal ini ditulis dalam kitab terkemuka dan dibuktikan oleh ilmu agama ‘Elm ul Rijal’ bahwa Imam Ali mengatakan bahwa perempuan itu ular dan kalajengking. Karena ini adalah mutawatir (terpercaya) dan Rijali (rantai sanadnya terbukti), maka ulama kita zaman dahulu belum menolaknya meskipun ulama zamansekarang malu dengan hadits itu dan mencoba untuk meng-kontekstualisasi dalam rangka menjadikan riwayat itu tetap terhormat. Bahkan,  generasi para ulama zaman dahulu telah menggunakan hadits ini untuk mengatakan bahwa seorang wanita tidak bisa menjadi hakim dalam masyarakat Islam karena dia akhirnya akan membuat keputusan yang ’emosional’. Kaum Sunni telah selangkah lebih jauh dalam merendahkan perempuan dengan mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka yang masuk neraka adalah perempuan.

Jadi sejak hal itu terukir di kitab-kitab Syiah dan Sunni kita,  bahwa perempuan itu rendah/kurang akalnya dan tidak dapat dipercaya dalam membuat keputusan yang tepat, lalu mengapa para pembuat fikih kita membolehkan kontrak seks rahasia dengan mereka ketika kerendahan akal mereka akan menjadikan rentan terhadap kekeliruan dan kesalahan dalam mengambil keputusan ? Tentunya, orang yang rendah/ kurang akal – seperti para wanita – tidak bisa memutuskan sendiri untuk melakukan Mut’ah tanpa risiko dirayu, dimanfaatkan dan dieksploitasi. Oleh karena itu, tidakkah terlalu nyaman bagi spesies laki-laki ‘cerdas’ yang tanpa saksi yang dipersyarat untuk menyetujui berhubungan seks dengan spesies yang kurang berakal, yaitu perempuan!

Lebih dari itu, hukum-hukum fikih kita yang asli/ awal juga mengatakan bahwa jika seorang wanita menjadi hamil akibat Mut’ah maka hanya ucapan si lelaki yang akan diterima untuk menyatakan bahwa anak itu adalah anaknya atau tidak. Wanita yang sedang hamil oleh Mut’ah tidak memiliki hak suara setelah si lelakinya menolak anak tersebut adalah anaknya.

Ketika saya menulis ke kantor seorang ulama untuk bertanya mengapa kata akhir dari lelaki untuk menerima atau menolak bahwa anak Mut’ah adalah anaknya atau bukan, maka kantor tersebut akhirnya menjawab kepada saya bahwa hal itu untuk mencegah para lelaki dari diperas. Di sini, sekali lagi, apa yang disebut sebagai hukum Islam kita di zaman dahulu terbukti ditulis untuk kenyamanan para lelaki dan dengan cara mengorbankan perempuan yang lemah. Tak perlu dikatakan bahwa hukum yang tidak adil ini telah tersingkir oleh ilmu sidik jari genetik modern!

Sekali lagi hukum kita seperti ini terbukti lebih jahiliyah dibanding Islam. Pada kenyataannya, bahkan ketika Anda menganalisis gagasan bahwa Allah menciptakan wanita itu memang ‘Nakis’ kemudian Anda menyadari bahwa itu benar-benar bertentangan dengan keadilan Allah, yang berarti bahwa di satu sisi kita mengaku percaya bahwa Allah itu adil (bagian dari Usool e Din), sementara di sisi lain kita menjadikan Allah itu tidak adil dengan mengatakan bahwa ia menjadikan wanita sebagai Nakis! Kita harus cukup hanya dengan melihat kontradiksi antara Usool dan fikih bagi kita untuk melihat betapa banyak yang salah dalam definisi kita tentang Islam.

 

BUKTI 6 – RIWAYAT MUT’AH DI KITAB SUNNI

Alih-alih menerima bukti yang melawan Mut’ah, ulama Syiah kita justru telah menggali parit lebih dalam untuk membenarkan Mut’ah. Salah satu buktinya mereka sering mengutip – untuk ‘membuktikan’ Mut’ah – dari kitab-kitab Sunni yang disebut Sahih Bukhari. Volume kitab ini yang ditulis sekitar 150 tahun setelah Nabi wafat dan salah satu narasi ‘sahih’ di dalamnya mengatakan bahwa dua orang lelaki Muslim sangat ingin berhubungan seks ketika bepergian melalui padang pasir bersama Nabi. Mereka datang menangis menghadap Nabi untuk meminta izin mengebiri diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa berhubungan seks selama lebih dari enam hari! Cerita tersebut mengatakan bahwa Nabi menertawakan mereka dan mengatakan kepada mereka agar melakukan Mut’ah.

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa kedua lelaki tersebut bergegas mengarungi padang pasir dan  menemukan seorang wanita sendirian. Mereka menggambarkan dia sebagai ‘wanita cantik yang langsing’. Jadi setelah ‘memeriksa si wanita tersebut’ kedua lelaki tersebut menawari kepadanya selimutnya masing-masing demi hubungan seks. Wanita itu menerima lelaki yang lebih muda dan melakukan hubungan seks dengan endusan nafas penuh dengan si wanita. Orang tua yang malang tersebut berdiri menunggu tetapi tidak mendapatkan apa-apa!

Tak perlu dikatakan lagi, ulama Syiah kita menerima cerita Sunni ini pada nilai permukaannya karena ia bekerja secara nyaman untuk membenarkan Mut’ah. Mereka setuju dengan cerita tersebut karena rijalinya dan cocok dengan apa yang kitab Syi’ah katakan. Tetapi marilah kita melakukan beberapa pengujian ilmiah terhadapnya untuk melihat seberapa validkah kisah tersebut.

Pertama, kita harus menerima bahwa seorang wanita kebetulan duduk sendirian di padang pasir yang luas dan siap untuk Mut’ah. Seberapa besar kemungkinan ini? Jelas, cerita ini mulai berantakan pada rintangan pertama!

Tetapi bahkan jika tidak secara kebetulan memang ada seorang wanita sedang duduk sendirian di suatu tempat di padang pasir yang luas, maka bagaimana mungkin untuk menemukan dirinya karena padang pasir tidak memiliki papan tanda yang menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk sendirian yang siap untuk hubungan seks! O maaf, mungkin dua lelaki tersebut memiliki sebuah sistem pelacakan GPS Mut’ah (Miss Tom Tom!) untuk menemukan wanita sendirian di padang pasir yang siap dimut’ah!

Lalu, apakah dia memberikan seks hanya karena ia takut dari dua orang karena dia sendirian? Mungkin para ulama kita dapat menurunkan hukum bahwa jika sekelompok lelaki Syiah yang melihat ‘wanita langsing cantik’ duduk sendirian di kursi taman maka itu boleh saja ia mencoba meyakinkannya untuk berhubungan seks (suatu bentuk pemaksaan atau pelecehan seksual?) dan berjanji untuk memberikan kepada si wanita tersebut sebuah selimut setelah nafsunya terlampiaskan.

(Yang menjadikan hal seperti itu adalah prostitusi, tidak peduli betapa banyak para ulama mengingkarinya!).

Lalu, apakah mereka bertanya kepada si wanita itu apakah ia sudah menikah? Lalu apakah dia hamil? Lalu apakah si lelaki memeriksa apakah ibunya juga menjual seks, siapa tahu ayah-ayah mereka telah melakukan hubungan sex dengan dia yang berarti si wanita itu ternyata kakak mereka? ….

Lalu bagaimana dengan nasib si lelaki yang lebih tua: Bagaimana dia bisa melampiaskan nafsunya ketika ia siap untuk mengebiri dirinya sendiri? Apakah tidak ada solusi yang lebih mudah baginya daripada menghabiskan waktunya berjalan berkeliling di gurun pasir dalam keadaan frustrasi! Karena Islam adalah agama yang universal, apa ada solusi untuk dia? Mengapa kisah itu tidak memikirkan nasib hasrat seksualnya yang sudah memuncak? (Note: Apakah sebagai solusi akhirnya dia mengebiri dirinya sendiri?)

Jelas kisah tersebut terlalu kosong untuk harus dianggap serius. Kisah-kisah palsu dan dibuat-buat seringkali tidak lengkap dan isinya karut seperti di atas.

Dan ada cacat utama dalam cerita ini. Cacat tersebut jelas sekali ketika Anda mempertimbangkan kenyataan bahwa kedua lelaki tersebut membawa dirinya ke titik puncak hasrat sexual. Mereka bahkan siap untuk mengebiri diri mereka sendiri. Jadi mengapa mereka telah membawa diri mereka pada kondisi ini jika Mut’ah tidak pernah dilarang? Pertanyaan utamanya adalah: “Mengapa mereka berpikir mut’ah dilarang?”

Dan karena mereka membawa diri mereka kepada puncak nafsu, maka itu akan berarti bahwa Nabi telah gagal dalam tugasnya untuk menjelaskan kepada para sahabat yang kesepian di padang gurun bahwa Mut’ah itu halal. Biasanya, seorang pemimpin yang baik yang memimpin anak buahnya ke padang pasir akan memberitahu mereka bagaimana untuk menghindari puncak nafsu untuk apa pun. Cerita tersebut menjadi lebih meragukan lagi ketika Anda lebih lanjut mempertimbangkan fakta bahwa kedua lelaki tersebut adalah di antara sahabat paling dekat dari Nabi yang seharusnya sudah tahu apa yang dilarang dan apa yang tidak.

Cerita dengan begitu banyak celah kekurangan, hanya melayani tujuan untuk memalsukan bukti bahwa Nabi memperbolehkan Mut’ah. Tetapi terdapat sebuah pembuka mata utama bagi kita, karena kisah tersebut memberitahu kita tentang telah rusaknya pola pikir kita. Berikut adalah penjelasannya:

Kisah dua lelaki yang tidak mampu menahan birahi, lalu memberikan selimut untuk membayar seksnya adalah di dalam Sahih Bukhari yang merupakan kitab Sunni. Oleh karena itu aneh bahwa kita Syiah awalnya mengejek kitab ini karena hanya memiliki beberapa hadits dari ma’shumeen, namun kemudian kita melakukan hal yang sebaliknya, yaitu menggunakan kitab tersebut untuk membenarkan hal yang meragukan seperti Mut’ah?

Hal ini seperti sebuah sekte Protestan yang awalnya mengejek buku-buku Katolik, namun kemudian menggunakan buku tersebut untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah? Saya secara pribadi tidak menganggap dua kesalahan dalam membuat sebuah kebenaran dan sehingga tidak masalah jika riwayat-riwayat tentang Mut’ah ada di kitab-kitab Syi’ah dan Sunni. Kekurangan-kekurangan yang konsisten di dalam kitab-kitab Sunni dan Syiah hanya membuktikan bahwa keduanya memiliki sejarah pemalsuan yang sama. Cara berfikir kita, karena itu adalah salah, jika kita mengatakan bahwa jika kedua kitab Sunni dan Syi’ah memiliki pemalsuan yang sama maka kita harus menerima mereka sebagai mutawatir (terpercaya) dan menerimanya sebagai kebenaran!

Apa yang saya perhatikan adalah bahwa semua kekurangan di narasi Mut’ah ini memberikan dampak kecil kepada orang-orang yang bersikeras membela Mut’ah. Mereka berpikir bahwa jika kita mempertanyakan Mut’ah maka itu melanggar agama. Oleh karena itu mereka akan mempertahankan Mut’ah dengan argumen dihasilkan secara buatan karena keseluruhan iman kita tergantung pada mempertahankan argument seperti itu. Mereka mengabaikan bukti-bukti tersebut dan mencoba untuk berargumen dengan cara yang sama dengan kaum Sunni ketika berargumen tentang hukum ‘talak tiga’ mereka. Sesungguhnya, waktu untuk membuka kunci pikiran baik di Sunni maupun Syiah harus tiba. Mungkin tugas pertama dari Syiah 12 Imam akan membawa Sunni dan Syiah kepada kepekaan mereka dan membuat mereka melihat betapa banyak mereka telah menyimpang dari Islam dari Nabi yang sebenarnya.

Satu hal yang menarik adalah bahwa para marjah kita tidak pernah mengatakan kepada kita untuk mengikuti mereka secara membabi buta atau menjadi seperti budak mental. Para Marjah kita hanya memberikan informasi pendapat-pendapat yang dapat berubah jika argumen yang lebih baik datang di depan mereka. Inilah apa yang menjadikan Syiah dinamis dan berbeda. Sebagai contoh beberapa Marjah akhir-akhir ini melarang kita untuk makan dari tangan Ismailies tetapi kemudian mengubah fatwa mereka ketika dikemukakan dengan argumen dan bukti-bukti yang lebih baik. Bahkan untuk menyatukan Syiah pada Asyura mendorong ulama tersebut untuk menggeser dari fatwa asli mereka mengikuti cakrawala terpisah. Selama bertahun-tahun Ashura diperingati pada hari-hari terpisah sampai berubah karena fatwa. Ada banyak contoh seperti itu bagaimana para ulama tetap dinamis dan bergerak maju. Ini adalah kita, orang-orang, yang ingin mengikuti mereka secara membabi buta ketika mereka tidak meminta kita untuk mengikuti mereka dengan cara seperti zombie.

Kenyataannya sejarah mengatakan bahwa Imam Ali tidak pernah ingin Syiahnya menjadi seperti budak. Adalah Muawiya yang mengembangkan masyarakatnya agar mengikuti dia seperti zombie yang otaknya mati. Suatu hari ia didorong bahwa para pengikutnya begitu setia kepadanya bahwa jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu unta betina maka para pengikutnya yang ‘setia’ akan menerimanya. Terhadap hal seperti ini Syiah E Ali mengatakan bahwa ini bukan loyalitas: Pada kenyataannya, itu adalah ketaatan buta dan kebodohan belaka!

BUKTI 7 – ALTERNATIF YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QURAN

Kisah dua orang lelaki yang sedang memuncak birahinya dan Nabi membolehkan mereka untuk melakukan Mut’ah sebenarnya bertentangan dengan al-Quran. Marilah kita lihat apa yang al-Quran nyatakan:

Dalam ayat 4:25 lelaki yang sudah butuh sex diberitahu untuk menikahi seorang gadis budak dengan cara nikkah (aqad) ataupun belajar melakukan pengendalian diri? Ayat ini tidak memberikan Mut’ah sebagai alternatif pilihan. Tetapi seorang ulama mengatakan kepada saya bahwa bahkan jika Mut’ah tidak disebutkan dalam ayat 4:25, tetapi disebutkan dalam ayat 4:24. Namun, hal ini tidak benar karena kata ‘Mut’ah’ pun bahkan tidak ada dalam ayat 4:24.

Ulama lain mengatakan kepada saya bahwa tidak mengapa Mut’ah tidak disebutkan sebagai kata-kata asli dari al-Quran karena kata-kata yang telah dihapus dan hilang adalah: “Jika kamu mengambil perempuan untuk kesenangan selama waktu yang terbatas, maka berilah mereka pembayaran yang telah disepakati …. ”

Ini adalah sesuatu yang memalukan bahwa beberapa ‘ulama’ melakukan apa saja untuk membenarkan Mut’ah, bahkan jika mereka harus menggunakan narasi dari Elm ul Rijal yang membuktikan bahwa al-Quran telah diubah seperti di atas. Saya menemukan ini merupakan jenis argument yang menjijikkan dan tidak berguna. Ketika seseorang mengatakan bahwa al-Quran itu sudah diubah, maka orang tersebut telah berhenti menjadi seorang ulama di mata saya!

Jadi pertanyaannya yang masih ada adalah: Jika Mut’ah diterima di dalam al-Quran maka mengapa mut’ah bahkan tidak disebutkan di mana pun di dalamnya? Kenyataannya adalah bahwa bahkan memakan daging babi saja disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan, tetapi Mut’ah bahkan tidak disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan sexual. Apakah ini bukan bukti bahwa mut’ah itu benar-benar tidak diterima di dalam al-Quran?

BUKTI 8 – KATA-KATA ASLI DALAM AL-QURAN

Apa yang telah saya temukan tentang metode penurunan hukum dari kitab-kitab – baik dari merek Sunni maupun Syiah – adalah bahwa penurunan hukum dilakukan pertama-tama dari kitab-kitab dan kemudian al-Quran digunakan setelah itu sebagai alat untuk membenarkan apa yang telah diturunkan dari kitab-kitab tersebut. Dan oleh karena itu ayat-ayat dipotong dan disisipkan dan dikeluarkan dari al-Quran sesuai dengan hasil penurunan hukum.

Hukum Sunni yang menyatakan talak tiga juga dilakukan seperti ini. Pembenaran para Wahabi untuk memukul istri Anda adalah metode penurunan yang sama dan kemudian dicocokkan dengan kata-kata di dalam al-Quran yang dikutip di luar konteks. Untuk melegalkan perbudakan juga dilakukan seperti ini selama berabad-abad oleh kaum Sunni dan Syiah. Untuk menjadikan anak-anak yang tidak sah sebagai warga kelas dua juga dengan metode seperti ini di kedua sekte tersebut. Dan hukum Mut’ah juga diturunkan dengan metode yang sama dalam hukum Syiah. Bahkan untuk mengungkapkan bahwa Mut’ah itu berasal dari al-Quran dilakukan dengan cara kata-kata asli dari al-Quran pasti telah diubah di dalam Tafsir Al-Quran dan kata-kata baru yang ditambahkan di tempat itu. Mari saya buktikan masalah ini:

Untuk membenarkan Mut’ah, para ulama zaman dahulu pertama-tama akan memilih sendiri cerita dari kitab-kitab yang membenarkan Mut’ah. Mereka mengabaikan semua riwayat dan cerita yang melawan Mut’ah. Kemudian mereka beralih ke al-Quran untuk melihat mana ayat yang menyebutkan Mut’ah. Mereka tidak menemukan apa-apa! Makanya mereka mengubah kata-kata tersebut dalam tafsir mereka. Inilah yang terjadi pada 4:24 ayat. Berikut adalah buktinya:

Dalam ayat 4:24 Al-Quran tertulis bahwa ketika wanita yang Anda nikahi ISTAMTA’TUM (memenuhi) kaulnya maka si suami harus memberikan AJAR (pemberian)nya. Tetapi Tafsir Syiah telah mengubah kata Al-Quran ISTAMTA’TUM menjadi Mut’ah dan kata AJAR menjadi Mahar. Jadi tafsir tersebut akan mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah (kontrak sex sementara) maka berikan Mahar (Pembayaran)nya.

Bahkan, beberapa kata tambahan seperti ‘hingga waktu yang terbatas’ atau ‘berusaha untuk melakukan Mut’ah’ atau ‘dengan orang yang kamu melakukan Mut’ah’ sering ditambahkan pada ayat tersebut dalam rangka untuk menipu kita, meskipun kata-kata tersebut sama sekali tidak ada di dalam Al-Quran. Bahkan diklaim dalam beberapa riwayat bahwa kata-kata asli tersebut telah dihapus di kemudian hari oleh orang-orang yang menentang Mut’ah seperti khalifah kedua – Umar.

Untuk membenarkan diri mereka para ulama zaman dahulu mengatakan dalam tafsir-tafsir mereka bahwa tidak apa-apa jika kata Mut’ah tidak ada dalam al-Quran karena mereka mengatakan bahwa kita dapat menggunakan Elm Ul Rijal untuk menukar kata-kata Al-Qur’an dengan kata-kata yang ditemukan di dalam kitab-kitab. Elm Ul Rijal berarti pengetahuan tentang rantai riwayat. Mereka mengatakan bahwa menurut Elm ini kata Istamta’tum dalam ayat 4:24 al-Quran dapat ditukar dengan kata Mut’ah karena Elm tersebut mengatakan bahwa Imam telah ‘berkata’ demikian. Sekali lagi nama para Imam sedang disalahgunakan untuk membenarkan mengubah kata-kata Al-Quran agar cocok dengan tafsir tersebut. Para ulama zaman dahulu bahkan mengatakan bahwa tafsir asli yang ditulis oleh Imam Ali memiliki kata Mut’ah dan bukan kata Istimtatum. Mereka mengatakan bahwa ketika Imam ke-12 muncul, maka al-Quran yang asli atau Tafsir yang asli akan menunjukkan bahwa kata tersebut adalah Mut’ah dan bukan Istamta’tum!

Tetapi tanyakan pada diri Anda sendiri mampukah seorang Imam yang ma’shum seperti Imam Ali pernah mengubah kata-kata al-Quran dalam tafsirnya!. Selain itu, jika Allah bermaksud Mut’ah lalu mengapa Dia tidak menggunakannya dalam ayat tersebut? Mengapa Dia menggunakan kata ISTAMTA’TUM?

Sebagai Syiah E Ali kita diberitahu oleh Imam Ali untuk percaya bahwa al-Quran itu sempurna dalam setiap kata-katanya, lalu mengapa ulama kita menukar kata-kata Al-Qur’an dalam tafsir mereka dan kemudian menyalahkan hal itu kepada Imam Ali? Mengapa mereka mengatakan bahwa beberapa kata seperti ‘untuk waktu yang terbatas,’ telah hilang? Dan salah satu tata bahasa Arab ulama Syi’ah modern bahkan mencoba untuk membenarkan kesalahan zaman dahulu dengan menyatakan bahwa kata ‘istamta’tum’ yang digunakan pada ayat 4:24 adalah sama dengan kata ‘Mut’ah’ kecuali bahwa kata Mut’ah lebih baik karena itu adalah akar kata yang ke-12 dari kata Istamta’tum. Tetapi mengenai ini ada beberapa argumen mengapa ia benar-benar salah:

  1. Istamta’tum secara harfiah bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ tetapi secara konvensional, Mut’ah (menurut Elm Ul Rijal) berarti sekedar ‘menyewa vagina’ atau ‘kawin kontrak’. Jadi kedua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda. Mereka tidak sinonim. Jadi bagaimana mereka dapat dipertukarkan?
  2. Jika Anda menafsirkan Mut’ah juga bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ maka itu akan berarti bahwa Mut’ah tidak bermakna ‘pernikahan sementara.’ Oleh karena itu apa gunanya menukar kata tersebut?
  3. Istamta’tum adalah kata kerja, sedangkan Mut’ah secara konvensional digunakan sebagai kata benda. Oleh karena itu dua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan jika Anda ingin menggunakan Mut’ah dalam makna konvensional.
  4. Jika Anda mengikuti konteks ayat tersebut, maka Anda akan melihat bahwa isi ayat itu adalah mempertentangkan antara nikah dengan sekedar pelampiasan nafsu. Mut’ah adalah tentang nafsu. Jadi konteks Mut’ah benar-benar berlawanan dengan isi ayat tersebut.
  5. Jika Istamta’tum bermakna ‘pernikahan sementara’ maka akan menjadikan beberapa ayat di al-Quran tidak bermakna karena kata Istamta’tum juga digunakan pada ayat-ayat lain di mana Mut’ah bahkan tidak disinggung.
  6. Kata pernikahan dalam al-Quran adalah aqad. Jika al-Quran membolehkan pernikahan sementara maka akan menggunakan turunan dari kata aqad tersebut dan bukan akar ke-12 dari istamta’tum!
  7. Pasti ada alasan yang baik mengapa Allah tidak memasukkan kata Mut’ah pada keseluruhan al-Quran. Karena Allah telah mengeluarkan kata mut’ah dari al-Quran, maka itu berarti bahwa Mut’ah, apa pun arti yang Anda ingin ambil, tidak ada dalam al-Quran.

BUKTI 9 – MENJADI SYI’AH

Baru-baru ini, ketika saya bertanya kepada seorang ulama TV terkenal mengenai bukti yang melawan Mut’ah, saya menemukan diri saya berdebat melawan suatu kontradiksi ganda. Ketika saya berkata kepadanya bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran, dia bereaksi dengan mengatakan bahwa bahkan NIKKAH juga tidak disebutkan dalam al-Quran. Lalu saya katakan kepadanya bahwa sinonim dari Nikkah adalah AQAD yang digunakan berkali-kali dalam al-Quran. Saya katakan kepadanya hukum-hukum Nikkah juga ada di dalam al-Quran. Saya juga mengatakan kepadanya bahwa Imam Ali (as) mengatakan bahwa untuk memahami al-Quran kita harus mengkolaborasi satu ayat dengan ayat lainnya, tetapi tidak ada ayat kolaboratif dalam al-Quran untuk Mut’ah. Selain itu, tidak ada sinonim dari Mut’ah dalam al-Quran. Dan tidak ada satu pun hukum-hukum yang mengatur Mut’ah dalam al-Quran. Lalu segera, ulama tersebut membuat tuduhan kepada saya dan saya dicap sebagai non-Syiah. Ia mengatakan bahwa karena saya tidak menerima tanpa bertanya apa yang Marjas katakana, maka saya bukan Syiah!

Lalu saya mencoba menanggapi lagi. Saya katakan saya tidak bisa menerima Mut’ah karena tak seorang pun imam melakukannya. Lalu dia terganggu dengan kata-kata saya dan menjadi terganggu. Tetapi saya masih mengatakan kepadanya bahwa identitas pertama seorang ulama adalah bahwa dia rendah hati dan bersedia mengakui jika ia salah dalam pemikirannya.

Tetapi ulama ini mengatakan kepada saya bahwa seorang marja tidak pernah salah dan harus diikuti tanpa bertanya. Dia mengatakan kepada saya bahwa Imam Zaman pertama kali akan membunuh mereka yang tidak secara taqlid mengikuti seorang Marja karena tidak satupun shalat dan roza mereka akan diterima oleh Allah. Saya membantah bahwa kondisi seperti itu tidak ada dalam al-Quran. Lalu dia menjadi lebih gelisah dan membalas dengan kata-kata berikut:

“Memang Mut’ah tidak dalam al-Quran tetapi al-Quran tidak cukup. Mereka yang mengatakan bahwa al-Quran adalah cukup adalah seperti Umar yang mengubah banyak hal di dalam Islam. Dia adalah orang yang melarang Mut’ah dan membawa Tarawee ke dalam Islam. Hal ini dibuktikan dengan ratusan riwayat Rijali di kitab-kitab Sunni dan Syiah. ”

Yang jelas, argumen Mut’ah tersebut, sekarang sedang berpaling ke isu sektarian dalam rangka mengaburkan bukti yang menentangnya. Pertama saya dicap sebagai non Syi’ah dan sekarang al-Quran dicap sebagai ‘tidak cukup.” Dan ketika semua argumen gagal, maka semua menjadi kesalahan Umar yang mampu menghapus Mut’ah dalam satu gebrakan, sedangkan Nabi tidak pernah bisa bahkan menghapus atau melarang perbudakan setelah keseluruhan misi Islam.

Tetapi berurusan dengan lelaki yang mengaku sebagai seorang ulama, maka saya harus mengangkat satu masalah pada saat yang sama. Maka pertama saya bertanya kepadanya bahwa jika al-Quran tidak cukup, bukankah itu artinya al-Quran ‘tidak memadai!”

Itulah, lalu ia bangkit dan pergi! Dia tidak berbicara kepada saya sejak itu. Dia menghindar dari saya yang membuktikan bahwa bukan al-Quran yang tidak memadai tetapi dia dan ilmunya dan ide-idenya. Jika al-Quran tidak cukup maka apa yang terjadi pada petunjuk Imam Ja’far Sadik (as) kepada Syiah asli di mana ia secara jelas menjadikan al-Quran satu-satunya tolok ukur untuk memutuskan apakah riwayat-riwayat dan kisah-kisah itu bisa diterima atau harus dibuang. Dia berkata: “Jika sesuatu bertentangan dengan al-Quran, membuanglah ia jauh-jauh meskipun jika mereka diklaim datang dari Ahlul Baith”. Jelas sekali, bahwa al-Quran adalah ‘cukup’ bagi Imam sebagai tolok ukur/ patokan. Lalu mengapa ini orang yang disebut ulama mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup? Tidak cukup untuk apa, dan untuk siapa?

Apa yang saya sadari adalah bahwa jenis ulama yang khas seperti ini akan mengatakan dua hal yang berlawanan kepada kita tergantung kepada apa yang cocok bagi mereka. Mereka pertama-tama akan mengatakan bahwa kita Syiah tidak menerima apa-apa yang melawan al-Quran. Tetapi ketika tidak cocok dengan mereka maka mereka akan mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup.

Banyak yang disebut ulama juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang siap pakai seperti ‘al-Quran ini tidak cukup’, hanya karena penurunan hokum mereka tidak diterima oleh al-Quran. Oleh karena itu dengan menggunakan kata-kata ini mereka mencoba untuk mengabaikan al-Quran dari diskusi-diskusi. Hal ini seperti menghilangkan bukti forensik utama dari suatu kasus pengadilan hanya karena tidak sesuai dengan pelaku kejahatan!

Dan jenis ulama seperti ini akan mengabaikan para imam kita hanya seperti mereka dengan cepat mengabaikan al-Quran. Anda perlu mengalami ini untuk diri anda sendiri. Berikut adalah apa yang Anda perlu lakukan:

Tanyalah seorang ulama yang membela Mut’ah, mengapa Imam Ali Reza (as) menolak pengikutnya untuk melakukan Mut’ah dengan mengatakan: “Ini adalah bagi para pelacur dan Anda tidak perlu itu …” Saya menjamin Anda bahwa seorang ulama yang membela Mut’ah akan membuat sebuat plintiran dalam rangka mengabaikan apa yang dikatakan Imam.

Sekarang, berikut adalah situasi lain yang telah saya alami. Suatu kali saya mencoba meyakinkan seorang teman untuk tidak melakukan Mut’ah ketika istrinya tercinta pergi mengunjungi ibunya di Dar, dia tertawa dan berkata: “Kamu tidak usah melakukannya jika kamu tidak ingin”. Lalu saya mengatakan kepadanya bahwa bahkan Jimmy Salive bisa bersembunyi di balik pernyataan konyol seperti: “Kamu tidak usah melakukan kekerasan pada anak jika kamu tidak ingin.”

Lalu dia sangat marah dan mulai berdebat bahwa jika Mut’ah itu salah maka dia tidak akan disalahkan karena para marja yang akan disalahkan. Ini adalah hal yang baru bagi saya! Saya sekarang diberitahu bahwa para marja akan memikul tanggung jawab perbuatan para lelaki yang menikmati seks dengan gadis-gadis ‘kulit putih’ seksi. Jadi para lelaki itu mendapat kenikmatan, sementara para marja mendapatkan disalahkan. Alangkah nyamannya! Dan betapa tidak adilnya!

Dan melemparkan kesalahan kepada para marja benar-benar bertentangan dengan al-Quran yang memperingatkan kita bahwa kitalah yang akan disalahkan terhadap tindakan yang kita ambil. Dan lebih dari itu, bahkan otak beku teroris Al Qaeda pun bisa membantah: “Kami akan masuk ke surga, meski jika kami melakukan bom bunuh diri, karena mufti kami yang akan disalahkan!” Ini jelas merupakan sikap jenis Zombie karena kita umat Islam telah belajar sebagai bagian dari mentalitas keagamaan kita. Bukankah sudah waktunya untuk bertanya pada diri kita sendiri dan mentalitas dan pembenaran diri kita yang rusak? Tantangan kita di dunia modern adalah mengambil mentalitas Zombies dan Bombies ini dan mencabutnya keluar dari Islam.

Sebenarnya, ketika Anda mempelajari Islam Syiah dengan benar, Anda akan melihat bahwa tidak seorangpun Marja yang ingin Anda mengikuti mereka secara membabi buta. Ada banyak contoh dalam sejarah dimana marja telah mengubah peraturan mereka karena mereka menemukan kesalahan. Menjadi seorang marja, Anda perlu menyempurnakan seperti ini. Adalah kita yang bersikeras dalam menjadikan mereka setengah dewa. Bahkan Imam Khomeni tidak membolehkan mengikuti secara membabi buta. Sebenarnya siapapun yang meminta diikuti secara membabi buta adalah seorang penindas karena ia menghentikan Anda berpikir untuk diri sendiri. Ikut secara membabi buta diajarkan oleh Muawiyah yang bangga bahwa para pengikutnya akan mempercayai dia bahkan jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu adalah unta betina.

Apa yang telah saya temukan adalah bahwa ada kelompok fanatik ‘agama’ dalam setiap masyarakat yang akan mengabaikan semua bukti dan argumen yang jelas karena mereka pikir agama adalah monopoli mereka. Mereka ingin Islam terikat dengan keinginan dan ide-ide yang salah dan emosional mereka. Mereka berpikir bahwa hubungan mereka dengan Allah begitu dekat, sehingga mereka dapat mengaitkan ide-ide palsu mereka kepada-Nya. Jadi mereka memaksakan ide-ide mereka sendiri kepada kita, bahkan ketika ide-ide mereka terbukti melawan al-Quran dan melawan ma’shumeen. Mereka hanya menyalahgunakan nama al-Quran dan ma’shumeen sebagaimana Kristen menyalahgunakan nama Alkitab dan Kristus. Orang-orang jenis ini akan ada di setiap masyarakat. Mereka ingin mendominasi, menyalahkan dan merumitkan persoalan ketika mereka tidak memiliki jawaban. Dan ketika mereka gagal, mereka akan menyerang pribadi. Mereka akan melakukan segala sesuatu kecuali mengubah pola pikir mereka dan belajar untuk menerima bahwa mereka punya salah.

Kebenaran terbuka adalah bahwa untuk menjadi seorang Syiah Ali adalah bukan tentang mengikuti para marja secara membabi buta, tetapi tentang mengikuti para marja dalam semua hal kecuali untuk hal-hal yang telah terbukti salah. Syiah Imam Ali tidak tertutup pikirannya tetapi orang-orang yang berprinsip tinggi, berpengetahuan dan tajam dalam pemikiran mereka. Marilah kita setidaknya mengakui bahwa kita masih jauh dari menjadi orang seperti itu karena definisi keseluruhan kita menjadi Syiah adalah mengikuti seorang marja meski ketika ia terbukti telah melakukan kekeliruan.

RINGKASAN BUKTI TAMBAHAN

Berikut adalah beberapa fakta ringkasan tambahan yang melawan Mut’ah:

FAKTA 1:

Sebuah hadits yang paling sering dikutip dan diterima berdasar Elm Ul Rijal adalah bahwa jika Mut’ah diizinkan maka yang paling celakalah yang akan berzinah. Imam Ali-lah yang sedang didakwa mengatakan ini! Tetapi hadits ini mengabaikan bahwa Mut’ah telah menyebabkan banyak kejahatan seperti pemerkosaan. Ambil contoh: Katakanlah seorang bos memperkosa sekretarisnya dan kemudian mengklaim dia melakuan Mut’ah. Apakah Mut’ah, karena itu, bukan merupakan celah bagi pemerkosa seperti dia?

Jadi, jika sebuah hadis mengatakan bahwa jika Mut’ah diizinkan maka hanya yang celakalah yang akan berzinah, lalu bagaimana tentang semua hal celaka yang disebabkan oleh Mut’ah? Dapatkah sebuah hadis yang benar menjadi begitu picik dalam mendukung si pemerkosa dan merugikan korbannya? Dan bagaimana tentang semua kejahatan lain akibat dari Mut’ah seperti peningkatan aborsi, mengarahkan perempuan kepada prostitusi, penurunan standard dalam hubungan keluarga, menjadikan hijab tak ubahnya seperti pakaian dari seorang penari telanjang yang dilepas pada saat kontrak sex dll? Selain itu, jika seorang lelaki melakukan Mut’ah ketika istrinya sedang diam di rumah, maka apakah ini tidak akan mendorong para perempuan untuk mulai melakukan perzinahan hanya karena dendam?

FAKTA 2:

Hal lain yang benar-benar lucu dalam kitab-kitab kita untuk membenarkan Mut’ah adalah ini: Allah memberikan kepada kita lembaga suci Mut’ah karena Dia melarang bagi kita kenikmatan alkohol! Ya, narasi ini ada di kitab-kitab tersebut dan jelas sebuah upaya paksa untuk membenarkan Mut’ah. Bahkan para ulama yang memalsukan ini ke dalam kitab-kitab tersebut pasti para ulama berkaliber rendah karena mereka tidak tahu bahwa hal-hal yang diharamkan di dalam Islam adalah untuk tujuan yang baik dan bukan karena sebagai pengganti hal-hal lain yang diharamkan.

Hukum Islam tidak seperti jungkat-jungkit di mana jika satu hal dilarang maka hal lain diperbolehkan. Jadi jenis mullah seperti apa yang menulis ini di dalam kitab-kitab kita? Dan mengapa kita harus mengikuti ide-ide konyol mereka tentang bagaimana hukum dibuat di dalam Islam?

FAKTA 3:

Sebuah cerita dalam kitab-kitab kita mengatakan bahwa jika Anda melakukan satu Mut’ah Anda akan mati seperti matinya Imam Husain dan jika Anda melakukan empat Mut’ah Anda akan diangkat ke derajat Nabi.

Ya hal-hal sejenis ini yang dengan sengaja ditulis untuk mempromosikan Mut’ah tetapi bukankah hal-hal sejenis ini merupakan penghinaan terhadap perjuangan dan pengorbanan Ma’shumeen kita? Jika kitab Sunni memiliki hal-hal seperti ini, maka saluran TV Syi’ah kita akan secara bombastis membuktikan bahwa kaum Sunni menghina para imam kita. Tetapi kita tidak mengatakan apa-apa ketika kitab kita sendiri melakukan hal ini. Satu aturan bagi mereka dan aturan yang lain bagi kita, eh!

FAKTA 4:

Al-Qur’an memberitahu kita untuk mengikuti contoh dari Nabi, bahkan Imam Ali pun mengikuti contoh dari Nabi tersebut. Namun Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah. Sekarang juga sedang diterima bahwa tidak ada bukti yang kuat bahwa para Imam pernah melakukan Mut’ah. Jika salah seorang imam telah melakukan Mut’ah maka setidaknya seorang Imam akan lahir dari hasil mut’ah atau akan memiliki anak dari mut’ah. Mengapa tidak ada hal seperti itu di forensik sejarah jika memang Mut’ah diterima oleh mereka? Mengatakan bahwa ‘mungkin mereka melakukan’ bukanlah sebuah argumen tetapi dugaan. Kita tidak dapat mendasarkan argumen pada dugaan!

Bahkan, terbukti bahwa ada hadits di mana Imam Ali, Imam Jaffer E Sadik dan Imam Ali Reza menolak pengikut mereka untuk melakukan Mut’ah. Hadits seperti itu tidak pernah diungkapkan, sehingga kita tidak menyadari bahwa ada alternatif cara berpikir yang lebih logis dan lebih sesuai dengan al-Quran dan praktek ma’shumeen tersebut.

 

BUKTI PUNCAK:  FAKTA TENTANG MUT’AH PADA ZAMAN UMAR

Seluruh kontroversi Mut’ah dimulai dengan seorang lelaki bernama Amr bin Harits. Dia membuat hamil seorang wanita budak muda dan kemudian menyangkalnya. Insiden itu terjadi pada masa khalifah kedua, Umar bin Khattab.

Cerita ini ada di kitab-kitab Sunni dan Syiah. Jika cerita ini benar berarti bahwa Amr bin Harits telah terus menyangkal bahwa ia telah membuat si wanita hamil sampai cerita tentang wanita tersebut mencapai Umar. Umar tadinya tidak tahu hal itu! Cerita tersebut mengatakan bahwa Umar segera menangkap lelaki tua tersebut yang sedang mencoba untuk melarikan diri dari Madinah.

Ketika Amr melihat Umar, dia memutuskan untuk menerima apa yang telah dilakukannya, tetapi beralih menyalahkan. Dia menyalahkan perbuatannya kepada Nabi dengan mengatakan bahwa Nabi (dan Abu Bakar) telah membolehkan dia untuk melakukan Mut’ah dengan banyak gadis dan wanita sebanyak yang ia inginkan. Dia juga mengatakan bahwa ketika gadis-gadis menjadi hamil maka lelakilah yang memiliki kata Pamungkas dalam menerima dia untuk menjadi ayah atau tidak! Lalu Umar berkata: “Jika kamu begitu yakin bahwa Nabi membolehkan bagi kamu, maka mengapa kamu berbohong tentang apa yang kamu lakukan?” Tidak ada jawaban dari Amr bin Harrith.

Menjadi seorang Sahabat, Amr bin Harits seharusnya menampilkan keunggulan moral yang tinggi dan setidaknya tidak seharusnya berbohong. Tetapi Umar memiliki pertanyaan lagi. Dia bertanya: “Mengapa tidak ada kejadian seperti itu yang terjadi di masa Nabi atau Abu Bakar di mana gadis-gadis hamil akan datang kepada mereka dan mengklaim bahwa para lelakinya menyangkal sebagai ayah?” Sekali lagi Amr bin Harits tidak punya jawaban.

Umar kemudian menyeret Amr ke masjid untuk melihat apakah ada yang bisa memverifikasi klaim tersebut bahwa Nabi telah membolehkan orang-orang seperti dia untuk melakukan Mut’ah. Banyak sahabat terkenal berpendapat bahwa jika Mut’ah diizinkan oleh Nabi dan Abu Bakar maka semestinya sudah ada sejumlah besar anak yang lahir di Madinah yang jalur keturunannya diragukan. Para sahabat lebih jauh berpendapat bahwa tidak ada pezina yang akan dicambuk pada masa mereka karena mereka semua akan menyatakan telah melakukan Mut’ah. Kemudian Umar berkata: “Saya telah bersama Nabi sejak di Mekah tetapi saya tidak tahu adanya kasus tersebut.”

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa ketika Amr Harits tidak punya jawaban dan dalam aturan Umar yang keras dari keadilan yang tegas, ia dicambuk. Tetapi Amr adalah lelaki yang sudah tua dan banyak memohon Umar untuk tidak mencambuk dia. Kemudian setelah ragu-ragu lama, Abdullah bin Abbas berbicara mendukung Amr. Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa ketika Abduallah ibn Abbas ditantang oleh para sahabat lain, ia dengan cepat mengubah pendapatnya dan mengatakan bahwa Mut’ah hanya diizinkan oleh Nabi dalam beberapa pertempuran dengan orang-orang kafir seperti di Hunain ketika mereka mewarisi para wanita dari pertempuran.

Dan dalam satu riwayat dalam kitab Syi’ah kita juga secara jelas menyatakan bahwa untuk memastikan apakah Mut’ah itu diperbolehkan, Umar juga pergi ke Imam Ali (as). Hal ini ditulis dalam kitab-kitab Syiah kita (4) bahwa Imam Ali mengatakan bahwa Mut’ah dilarang secara total. Tetapi untuk menjelaskan hal ini ulama Syiah kita telah menulis bahwa Imam Ali mengatakan ‘kebohongan’ kepada Umar karena ia ber-taqiyyah, atau mereka mengabaikan cerita tersebut dan mengatakan cerita itu tidak ‘mutawatir.’

Dalam setiap aspek, Umar mempunyai cukup bukti bahwa Mut’ah tidak diperbolehkan dan, oleh karena itu, Amr harus dicambuk. Tetapi Amr adalah seorang lelaki tua yang teman-teman dan kerabat dekat dia tahu bahwa dia akan mati jika dicambuk. Lalu mereka bersikeras bahwa Umar harus membiarkan dia pergi dengan menerima bahwa Amr benar-benar berpikir bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Amr sendiri terus berkata bahwa dia yakin bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Jadi akhirnya, memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut, Umar menggunakan kata-kata: “Nabi membolehkan kamu Mut’ah tetapi saya melarangnya untuk kamu dari sekarang!” Ia kemudian mengancam merajam kepada siapa saja yang melakukan Mut’ah, meskipun jika mereka mengklaim bahwa Nabi telah membolehkannya.

Jadi, apakah Umar benar ketika mengucapkan kata-kata di atas? Apakah dia menggunakan kata-kata tersebut karena dia melawan Nabi atau apakah dia menggunakan kata-kata tersebut dalam konteks bukti yang dimilikinya. Marilah kita, oleh karena itu, melihat bukti-bukti yang ada di depan Umar.

  1. Pertama, Umar telah menyaksikan bahwa Amr bin Harits telah berbohong tentang menjadi ayah dari janin tersebut yang berarti ia tidak bisa dipercaya dalam apa yang dia katakan dan hanya mengatakan hal-hal yang menguntungkan baginya.
  2. Umar juga melihat bagaimana Amr tua ini mencoba untuk melarikan diri dari Madinah dan tidak mengambil tanggung jawab terhadap anak dan ibunya.
  3. Lalu Amr tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan penting tentang apa yang Nabi dan Abu Bakar telah izinkan.
  4. Lalu Abdullah bin Abbas mengubah ceritanya
  5. Selanjutnya, Umar tahu bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran.
  6. Dia juga tahu bahwa model peran Islam yaitu Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah.
  7. Dia juga mendengar dari Imam Ali yang mengatakan mut’ah itu dilarang (meskipun ulama Syiah mengabaikan riwayat ini, padahal ditemukan di kitab-kitab Syiah).
  8. Dan terakhir, ia menyaksikan penderitaan dari budak wanita muda lemah yang dihamili. Islam bukanlah agama jahiliyah di mana laki-laki mengeksploitasi wanita lemah dengan mengambil keuntungan dari kelemahan mereka!

Jadi jelas bahwa Umar memiliki semua bukti melawan Mut’ah dan kata-katanya, karena itu, hanya akan memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut untuk menghindari dia dari dicambuk. Jadi, Umar hanya mengucapkan kata-kata dalam konteks semua bukti di atas yang dia dapatkan melawan Mut’ah.

Saat ini ada banyak ulama yang secara sengaja menggunakan kata-kata Umar untuk menyerang dan mengklaim bahwa kata-kata Umar yang diucapkan dalam istilah yang umum adalah membuktikan bahwa dia adalah seorang munafik dan telah berbalik melawan Nabi. Mereka lupa bahwa Amr bin Harith-lah yang telah berbohong. Adalah Amr yang menyatakan bahwa Nabi membolehkan laki-laki untuk membuat gadis hamil dan kemudian menolak sebagai ayah dari bayinya.

Hari ini, fikih kita tentang Mut’ah menerima semua klaim Amr bin Harits dan sahabat-sahabatnya. Kita bahkan menerima bahwa lelakilah yang mempunyai kata pemutus dalam menerima anak hasil Mut’ah itu miliknya atau bukan. Kita dengan sengaja mengabaikan semua bukti yang ada di depan Umar.

Sebaliknya kita mengambil kata-kata Umar (“Saya melarangmu apa yang Nabi mengizinkan kamu!”) dan menjadikannya “di dalam daun ara” untuk menyembunyikan agenda politik kita melawan dia. Kita menolak untuk menerima bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan kata-kata ini secara terang-terangan karena itu akan berarti bunuh diri politik baginya. Sebaliknya, orang seperti Amr bin Harith, ia sudah berkata bohong. Dia juga akan mengubah ceritanya seperti Abdullah bin Abbas. Dia juga akan melakukan TAKKIYA! Kita tampaknya mengabaikan fakta bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan jenis kata-kata ini di depan umum. Sebaliknya ia akan bersikeras bahwa bukti yang melawan Mut’ah menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah mengizinkan mut’ah. Kita tampaknya mengabaikan bahwa Umar hanya menggunakan kata-kata ini dalam konteks bukti yang melawan dia dan hanya setelah memberikan Amr Harits manfaat dari keragu-raguan sehingga ia dapat diselamatkan dari hokum cambuk.

KONTRAK SEX MUT’AH PADA MASA KEKHALIFAHAN IMAM ALI

Sebuah fakta sejarah yang melawan Mut’ah adalah bahwa ketika Imam Ali (as) resmi menjadi Khalifah ke-4 dia tidak pernah melegalkan Mut’ah. Dalam rangka untuk menjelaskan mengapa Imam Ali (as) tidak pernah melegalkan Mut’ah selama pemerintahannya sebagai Khalifah ke-4, ulama Syiah kita memberi alasan bahwa masyarakat belum siap untuk itu. Mereka berpendapat bahwa meskipun Mut’ah tetap ilegal di pemerintahan Imam Ali (as) kita harus menganggapnya sebagai hukum dalam Islam Syiah yang didasarkan pada nama Imam Ali. Dengan kata lain, kita harus melawan “pengharraman resmi” Imam Ali dan masih menyebut diri kita Syiah Ali!

Berbagai dalih diberikan untuk menjelaskan mengapa Imam Ali tidak melegalkan Mut’ah:

  • Salah satunya adalah bahwa orang akan berbalik melawan dia, sehingga ia tidak mau mengambil risiko itu.
  • Yang kedua adalah bahwa ia sangat banyak terlibat dalam peperangan sehingga ia tidak punya waktu untuk melegalkannya.
  • Yang ketiga adalah bahwa dia hanya memperbolehkan ‘Syiah’nya untuk melakukannya secara pribadi tetapi tetap ilegal bagi orang lain.

Semua alasan yang dibuat-buat ini tidak masuk akal karena pada kenyataannya Mut’ah tetap ilegal pada zaman Imam Ali (as). Jadi, jika dia tetap menjaga secara resmi ilegal, lalu para mullah yang datang pada abad-abad kemudian tidak dapat menjadikannya hukum resmi, ini adalah karena akan melawan terhadap pemerintahannya. Membuat alasan untuk melegalkan Mut’ah adalah berbalik melawan pemerintahan Imam Ali.

Terdapat juga kontradiksi pada klaim bahwa masyarakat tidak siap jika Mut’ah harus dilegalisir oleh Imam Ali. Hal ini karena teks Syiah kita memberitahu kita bahwa salah seorang lelaki Syiah Ali biasa melakukan begitu banyak mut’ah secara diam-diam dimana dia akan memberikan nama baru kepada setiap wanita pasangan mut’ahnya dan memberitahu anak-anaknya untuk tidak melakukan Mut’ah dengan wanita dengan nama-nama tersebut karena mereka menjadi ‘ ibu sementara” dari anak-anak lelakinya. Jadi jika jenis cerita itu benar maka itu akan berarti bahwa pada masa Imam Ali ada banyak lelaki yang melakukan Mut’ah yang berarti bertentangan dengan klaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah. Sehingga kita tidak dapat menerima keduanya karena pertama-tama mengklaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah dan kemudian ada cerita dalam kitab-kitab kita yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah praktik yang umum di masa pemerintahan Imam Ali.

Selain itu, klaim bahwa masyarakat akan berbalik melawan Imam Ali jika dia melegalkan Mut’ah, bisa disimpulkan bahwa ketika Umar dianggap mampu mengubah masyarakat dengan pelarangan mut’ah, namun Imam Ali tidak mampu mengembalikan itu, yang berarti ia tidak memiliki ketegasan atau keberanian seperti Umar. Itu berarti menganggap Imam Ali adalah pemimpin yang lemah dan ini, oleh karenanya, merupakan penghinaan kepada Imam kita. Selain itu, memberikan argument bahwa Imam Ali terlibat dalam banyak peperangan adalah tidak relevan, karena Umar juga terlibat dalam peperang yang jauh lebih besar di mana kerajaan besar seperti Bizantium dan Persia yang dikalahkan.

Dan mengatakan bahwa Imam Ali terlalu sibuk (dalam hal-hal seperti peperangan) dan karena itu dia tidak melegalkan mut’ah, ini berarti bahwa dia lebih seperti seorang pemimpin militer daripada seorang pemimpin politik. Ini benar-benar salah karena dia melakukan banyak banyak untuk mendefinisikan pemerintahan Islam. Keajaiban dia adalah bahwa sementara ia terlibat dalam banyak peperangan, namun dia mampu membentuk pemerintah keduanya dalam sejarah. Inilah sebabnya mengapa, bahkan musuh-musuhnya, akan merujuk pada keunggulan administrasinya. Keadilannya, ajarannya, kesejahteraannya dll yang semua brilian. Jadi mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk melarang Mut’ah benar-benar konyol dan merupakan usaha yang lemah untuk memberikan argument kenapa Mut’ah tidak dilegalkan pada masa pemerintahan Imam Ali.

Artikel di atas diterjemahkan secara bebas dari artikel yang ada di: http://mullaandmutah.weebly.com/chapter-1-on-the-hidden-truths.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers