Kenapa Seseorang Memeluk atau Pindah Agama?

MINHAJ AL-AQILIN

Ruzbihan Hamazani

Kenapa seseoang memeluk agama tertentu, dan bukan agama lain? Kenapa seseorang menjadi Muslim, yang lain Kristen, yang lain lagi Hindu, yang lainnya lagi Budha, dan seterusnya? Apakah keanggotaan seseoang dalam agama tertentu adalah hasil keputusan yang bersangkutan, atau karena “kebetulan sosial”? Kalau seseorang lahir dalam keluarga Muslim, apakah tidak dengan sendirinya ia akan menjadi Muslim pula? Jika orang yang sama lahir dalam keluarga Kristen, bukankah kemungkinan besar dia akan menjadi Kristen? Jika benar demikian, apakah agama adalah sesuatu yang “diberikan” oleh masyarakat, bukan sesuatu yang kita pilih sendiri secara bebas?

Esei pendek ini akan mencoba menjawab masalah ini. Isu ini sebetulnya telah menjadi bahan studi tersendiri di kalangan sarjana dalam rubrik besar yang disebut dengan “konversi” atau gejala pindah agama. Konversi bukan saja fenomena individual, tetapi juga komunal, sosial, dan bahkan memiliki implikasi lebih luas lagi pada level “pembentukan sebuah peradaban”. Studi-studi mengenai masalah ini bisa dibaca melalui…

View original post 1,708 more words

Apakah Nabi bisa meramal?

Salamun alaikum

Dalam diskusi di FB maupun di tengah-tengah masyarakat seringkali beredar hadits-hadits yang mengesankan bahwa Nabi bisa mengetahui hal-hal yang ghoib. Termasuk hal yang ghoib adalah peristiwa yang akan datang, misalnya tentang kejadian kiyamat, daftar nama 10 shohabat yang akan masuk surga dan nama-nama pengganti beliau dll.

Daftar nama 10 shohabat yang bakal masuk surga ini biasanya digunakan oleh Suni/ non syii sebagai argumen untuk menyangkal argumentasi syiah bahwa semua shohabat itu kafir kecuali 3 orang. Namun di khasanah Ahlussunnah juga terdapat hadits ramalan yang terkesan memperkuat argumen Syiah bahwa mayoritas shohabat Nabi itu bakal menjadi kafir sepeninggal Nabi, hadits ini dikenal dengan hadits al-Haudh.

http://aminbenahmed.blogspot.co.id/2013/10/hadits-tentang-al-haudh-telaga-surga.html

https://secondprince.wordpress.com/2009/07/19/hadis-tentang-adanya-kitab-nama-ahli-surga-dan-kitab-nama-ahli-neraka/

Di sisi lain pihak Syiah 12 Imam mengemukakan hadits ramalan juga bahwa kelak para pengganti Nabi berjumlah 12 orang di suatu riwayat atau berjumlah 13 orang di riwayat yang lain. Bahkan ada daftar nama dari 12 orang aimmah pengganti Nabi yang disebutkan namanya satu per satu oleh Nabi.

http://muhrikaiziblogspotcom.blogspot.co.id/2014/10/hadis-12-khalifahimam-dari-kitab.html

Kalau tidak salah, hadits 12 khalifah juga dipakai sebagai dasar pemilihan khalifah gerakan ISIS.

Nah, berdasarkan penyelidikan ayat-ayat Al-Quran, benarkah Nabi Muhammad itu mengetahui yang ghoib dan bisa meramal?

Ayat-ayat al-Quran berikut sangat jelas sekali memberikan arahan kepada mereka yang mengimani al-Quran bahwa Nabi TIDAK mengetahui yang ghoib atau sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang atau nasib seseorang.

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? (AQ, 6:50)

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (187) Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (AQ, 7:187-188).  

Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dzalim. (AQ, 11:31)

Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?“. (AQ, 21:109)

Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas (nadziirin mubiin)”. (AQ, 46:9)

Sedangkan kejadian masa lalu dan masa datang hanya diketahui oleh Nabi via wahyu dan itu ada di AL-Quran. Ini jelas sekali dengan statement pada ayat 6:50: “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”.

Nah dimanakah yang diwahyukan Nabi itu?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan-nya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”. (6:19)

Pada ayat diatas ada kalimat “Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan-nya” yang menunjukkan bahwa :

  1. Al Quran berisi wahyu Allah.
  2. Nabi memberi peringatah dengan Al-Quran (tidak disebutkan adanya rujukan yang lain).

Jadi hal-hal ghoib yang diketahui Nabi hanyalah yang berasal dari wahyu dan hal itu ada di Al-Quran, sehingga hal-hal ghoib diluar al-Quran yang dilaporkan dan konon katanya diketahui Nabi sangat bisa jadi adalah berita bohong dan palsu karena bertentangan dengan ayat 6:19 yang menyatakan bahwa wahyu yang beliau terima tidak lain adalah Al-Quran.

Dan bahkan kalaulah dianggap Nabi menerima Wahyu selain yang ada di Al-Quran, toh Nabi disuruh memberi peringatan/ berdakwah dengan Kitab Al-Quran:

Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (AQ, 7:2)

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertaqwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (AQ, 19:97).

… Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku. (AQ, 50:45).    

Nah, kalau ada yang keberatan dengan pemahaman saya di atas, silahkan memberikan bantahan dengan argumentasi yang melawan ayat-ayat yang saya sebutkan di atas.

 

 

HADITH DI MATA IMAM ABU HANIFAH

Nama Imam Abu Hanifah (rahmatullah alaih) tidak memerlukan pengenalan lebih jauh dalam lingkaran Jurisprudensi Islam, di mana ia mendapat penghargaan yang tinggi dan dihormati. Pada pendahuluan menulisan ini, dalam konteks dengan Dr. Allama M. Iqbal, kami menyebutkan tentang pandangan Imam Hanifah (R) terhadap ahadith. Pada halaman berikut kita akan mengemukakan kepada anda suatu laporan terperinci tentang topik ini.

 IMAM-AZAM SANGAT SEDIKIT MEMINTA BANTUAN PADA AHADITH:

Dipandang dari sudut aturan Al-Qur-an, menyusun detail tentang ajaran al-quran disebut sebagai Hukum Islam (Fiqh). Sepanjang periode sahabat Rosul, tidak ada spekulasi tentang ajaran ini. Bagaimanapun, usaha yang paling utama dan paling efektif telah dilakukan oleh Imam Abu Hanifah (R) yang dikenal sebagai “Imam-Azam” di kalangan masyarakat Islam. Dan dengan itulah ia berhak/ layak mendapat julukan tersebut. Ia mengkhususkan diri di bidang hukum Islam dan unggul di bidangnya. Hukum-hukum hasil karya Imam masih diterapkan hingga hari ini. Sekarangpun, mayoritas muslimin mengikuti hukum yang diatributkan kepada dia. Hampir semua ulama Islam mengetahui bahwa jurisprudensi Imam Azam adalah dari hasil spekulasi. Spekulasi pada konteks ini berarti bahwa kita membuat hukum fiqh atas usaha kita sendiri, berdasar pada aturan Al-Qur-an suci. Para ulama juga sadar pada fakta ini bahwa ketika membuat suatu hukum fiqh, Imam Azam sangat sedikit bersandar pada ahadith. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bahwa beliau tidak bisa memperoleh ahadith pada zaman itu. Menurut beberapa laporan, beliau itu lahir pada tahun 61 Hijrah, sedangkan yang lain menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 80 Hijrah dan tahun kematiannya adalah 150 H. Adalah akan lebih mudah untuk mengakses hadith tentang apapun pada zaman beliau dibandingkan dengan zaman ketika Imam Bukhari bekerja mengumpulkan hadits (yaitu pada tahun 256 Hijrah). Berkaitan dengan pengakuannya terhadap hadits Rosulullah, Muhammad bin Sum’aa berkata bahwa ia mendengar Imam Yusuf berkata, “Aku tunduk kepada mayoritas ahadith. Faktanya adalah bahwa pandangan Abu Hanifah sangat berbeda dengan saya. (Sejarah oleh Khateeb Baghdadi, halaman 340). Alasannya adalah bahwa beliau tidak menganggap ahadits sebagai wahyu Allah yang tidak dapat dirobah, atau tidak boleh diragukan. Dari awal hingga akhir, Imam Azam membangun struktur Deen-nya berdasar atas keyakinan. Dalam hal ini, Deen yang meyakinkan ini tersembunyi dalam Al-Qur-an.

Karenanya, Ali Ibnul Madani mengutip cerita yang menggambarkan hal ini dari Abdul Razzaq yang berkata, “hukum sedang duduk dengan seorang yang lebih tua ketika Abdullah Ibnul Mubarok datang dan bergabung dengan kami. Kami mendengar orang yang lebih tua berkomentar bahwa ia tidak mengetahui orang yang lebih mengetahui dan merenungkan tentang hukum Islam, dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang mahir menjelaskan kepada orang-orang secara gamblang aliran kemerdekaan hidup dalam hukum Islam dibanding Abu Hanifah (R). Dan siapa yang lebih berhati-hati dibanding Abu Hanifah, yang tidak membawa kecurigaan atau kerancuan apapun dalam Deen Allah. (Khateeb Baghdadi, halaman 339).

Dipandang dari sudut Al-Qur-an, dengan proposal dari penasehatnya dan usaha perenungan pribadinya, ia membuat hukum fiqh. Bilamana seseorang menolak pada putusannya, atas dasar hadith Rosul, beliau akan selalu menyampaikan kepada dia, seperti Hazrat Umar ketika berkata, “Keputusan Rosulullah adalah menurut keadaan zamannya, zaman telah berubah sekarang, karena alasan inilah maka keputusan hukum perlu dikembangkan.” Atau beliau mengikuti kata-kata Hazrat Aisha (R) dan sahabat Rosul yang lain yang berkata, “Siapa yang mengetahui apa yang Rosulullah katakan, atau bagaimana si pendengar memahaminya? Bagaimana mungkin kita, di hadapan Al-Qur-an, membuat kerancuan merupakan bagian dari ad-Deen?” Karena beliau kebanyakan tunduk pada fakta tersebut, bahwa ahadith Rosul Allah tidak bisa dipercaya, atau hadits tidak tanpa perubahan, hal ini menjadikan beliau, pada kondisi diskusi/ debat yang panas terhadap ahadith, dan dengan penuh semangat.

Imam Sufyan bin Ainee menyatakan bahwa aku belum pernah melihat sesiapapun lebih berani dalam bidang Allah dibanding Abu Hanifah (R). Ketika saya sedang mengutip suatu hadith di mana Imam Abu Hanifah (R) datang untuk mengetahuinya. “Sebelum penjual dan pembeli berpisah, transaksi tersebut batal.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Ceritakan kepadaku, jika kedua-duanya sedang bepergian sekapal. Jika kedua-duanya terkunci dalam penjara. Atau jika kedua-duanya bersama-sama dalam suatu perjalanan. Bagaimana mereka akan berpisah, atau bagaimana mereka akan bisa menutup transaksi mereka.”

IMAM AZAM MEMBUANG LEBIH DARI 400 AHADITH:

Abu Saleh Farah menulis bahwa ia mendengar Yusuf bin As-baat berkata, “Abu Hanifah (R) membuang lebih dari 400 ahadith Rosul” Maka saya bertanya kepada Yusuf, “Wahai Abu Muhammad! Apakah kamu ingat ahadith itu?” Ia mengiakan. Aku meminta dia untuk menceritakan sebagian dari ahadith itu.

Yusuf bin As-baat berkata, Rosululla berkata, “Perihal barang-barang rampasan perang, dua bagian kepunyaan kuda dan satu bagian jatuh kepada penunggangnya.”Abu Hanifah (R) berkata bahwa ia tidak bisa membuat satu bagian dari binatang sepadan dengan satu bagian dari mukmin. Mereka berkata bahwa Rasul menandai binatang korban dengan tombaknya. Abu Hanifah (R) berkata, “Menandai binatang berarti mengubah bentuk binatang itu’. Rasul berkata, “Sekali waktu konsumen dan pemilik sudah pergi, kontrak atau transaksi tidak bisa dibatalkan.” Pendapat Abu Hanifah adalah, “Ketika transaksi ditutup, tidak bisa dibatalkan.” Ketika Rasul memutuskan untuk bepergian, beliau akan mengundi untuk memilih salah seorang isterinya untuk menemani beliau. Mereka meyakini, para sahabatnya, melakukan hal yang sama. Tetapi Abu Hanifah (R) berkata mengundi adalah judi.

Abu Saeeb berkata bahwa ia mendengar dari Imam hadith yang terkenal bernama Wakeeh, bahwa Abu Hanifah (R) telah menentang dua ratus ahadith. Abdul Ali bin Hamad ketika mengutip dari bapaknya Hamad bin Salma menceriterakan, ketika Abu Hanifah (R) menemukan ahadith Rasul Allah, ia membuangnya diganti dengan pendapat pribadinya. Imam Ahmad bin Hambal (R) juga telah menulis hadith yang sama dari Hamad dari Muwamal. (Khateeb, halaman 390-91)

Abu Ishaaq Fazari berkata bahwa ia sering pergi menemui Abu Hanifah (R) dan bertanya berbagai hal berkenaan dengan “jihad’. “Suatu hari ia bertanya kepada beliau tentang suatu masalah. Ketika ia mendengar jawabannya, ia berkata bahwa Rasul Allah telah berkata yang berbeda tentang hal ini. Menanggapi ini Abu Hanifah (R) menjawab, “Maafkan saya dari omong kosong ini.” Yang dengan cara yang sama, suatu hari, beliau ditanya lagi tentang suatu masalah yang tentangnya beliau memberi suatu jawaban. Ia mengulangi hal yang sama bahwa Rasul telah berkata sesuatu yang berbeda. Abu Hanifah (R) berkata, “Ambil kertas catatanmu dan usapkan pada seekor babi.” (Khateeb, halaman 387)

Abu Hanifah (R) diberitahu suatu hadith tentang suatu pemberontakan melawan Sultan zamannya. Abu Hanifah (R) menjawab bahwa itu tak lain hanyalah dongengan. Ali Ibnu Asim menulis bahwa ia menceritakan suatu hadith Rasul kepada Abu Hanifah (R). Abu Hanifah (R) menolak untuk menerimanya. Aku menegaskan bahwa itu adalah perkataan dari Nabi yang mulia. Ia menjawab, “Ya! Dan aku keberatan untuk menerima.” (Khateeb, halaman 387)

Bashar bin Mufazal berkata, ia menerangkan kepada Abu Hanifah (R), perkataan Rasul Allah, bahwa Nafy (R) telah mengutip dari Ibn Umar, “Pelanggan dan pemilik tidak bisa melanggar suatu kontrak atau memutus transaksi, ketika mereka sudah berpisah satu sama lain.” Terhadap hal ini Abu Hanifah (R) berkata, itu hanyalah sebuah nyanyian perang.

Aku berkata bahwa Fi’ada mengutip dari Hazrat Anas (R) bahwa seorang Yahudi meremukkan kepala seorang muslimah dengan dua batu. Rasul melakukan yang sama, sebagai balasan/ qishosh kepada Yahudi itu. Abu Hanifah menanggapi bahwa itu semua adalah sampah.

Serupa dengan itu, seseorang mengutip di depan dia, keputusan Hazrat Umar tentang suksesi. Abu Hanifah (R) menjawab, itu adalah cerita palsu dari Setan. (Abdul Warris telah mengutip hal yang sama). (Note: mungkin yang dimaksudkan tentang suksesi ini adalah sejarah versi Majusi Persia bahwa Umar telah merekayasa terpilihnya Usman sebagai penggantinya dalam rangka menyingkirkan Ali).

Yahya Ibnu Adam berkata bahwa suatu hadith dikutip di depan Imam Abu Hanifah (R), tentang Rasul yang menyatakan, “wudhu itu adalah separuh iman!” Abu Hanifah (R) menjawab, “Oleh karena itu, kita harus melaksanakan wudhu dua kali dan lengkaplah iman kita!”

Dengan cara yang sama, Abu Hanifah (R) diberitahu hadits Rasul yang berkata, “berkata aku tidak tahu adalah separuh pengetahuan.” Abu Hanifah (R) menjawab, “Maka kita harus mengulangi, aku tidak mengetahui, dua kali dan lengkaplah pengetahuan kita.”

PERINTAH ADALAH SEJARAH DAN MASA LALU:

Bashr Ibnu Asry menyatakan, “Aku pergi ke Abu Awana dan menceritakan kepadanya bahwa aku datang untuk mengetahui, apakah kamu mempunyai buku Abu Hanifah. Bisakah kamu mendapatkannya untuku, karena aku ingin mempelajarinya. Abu Awana menjawab, “Nak! Aku gembira kamu mengingatkan aku”. Dan ia pergi menuju sebuah peti dan mengambil sebuah buku darinya. Setelah merobek berkeping-keping, ia melemparkannya. Aku terkejut dan berkata, “Hargailah.” Ia berkata, “Suatu hari aku sedang duduk dengan Abu Hanifah (R) ketika pengawal Sultan datang kepadanya dan meminta keterangan tentang hukuman mencuri sebuah sarang lebah. Abu Hanifah (R) tanpa ragu-ragu menjawab, jika harganya sepuluh dirham, maka tangannya harus dipotong. Ketika pengawal sudah pergi, aku berkata kepada Abu Hanifah (R), “Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Aku telah diberitahu oleh Yahya bin Saeed, yang diberitahu oleh Muhammad bin Haban, yang diberitahu oleh Rafay bin Khadeej bahwa Rasul berkata, “Kamu tidak boleh memotong tangan atas pencurian hewan dan tumbuh-tumbuhan.” Kamu harus segera menyelematkan orang tadi, kalau tidak; pegawai Sultan akan memotong tangannya. Lagi Abu Hanifah (R) menjawab tanpa ragu-ragu, “Keputusan telah diambil dan dikerjakan berdasarkan itu.” Dan tangan pencuri tersebut dipotong.

AQQIQAH ADALAH JAHILIYYAH:

Abu Bakr Asrm menyatakan bahwa Abu Abdullah bin Ahmad bin Hambal (R) telah menerangkan, di depan kami, banyak ahadith Rasul, perkataan dari para sahabat dan tabi-in (R) tentang topik aqqiqah (pembagian daging korban binatang pada saat kelahiran seorang anak). Dengan sebuah senyuman dan wajah yang mengagumkan, ia berkata, “Tetapi Abu Hanifah (R) berpikir bahwa ini semua adalah tindakan jahiliyyah.”

Muhammad bin Yusuf Baykundi berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal (R) mengamati seseorang yang menulis tentang Abu Hanifah (R) di mana ia berkata bahwa adalah memungkinkan melakukan perceraian sebelum akad nikah dilakukan. Imam Ahmad melakukan pembelaan, “Tidak mungkin! Kamu pikir Abu Hanifah (R) tidak tinggal di Iraq, atau bahwa ia bukanlah orang yang terpelajar. Terhadap topik ini, Rasul, para sahabatnya, sekitar tiga puluh tabi-in, termasuk Saeed bin Jabeer, Saeed bin Almseeb, Ataa, Tawus, Ikrimah dan yang lain-lainnya sudah setuju dengan suara bulat bahwa perceraian tidak mungkin sebelum akad nikah. Bagaimana mungkin Abu Hanifah (R) berkata seperti itu? (Khateeb, halaman 411)

Sudahkah anda mengamati pendekatan dengan hadith oleh para ahli fiqh Islam yang paling besar? Hukum-hukum yang diundangkan dan dibuat, atau diatributkan kepada beliau diterapkan ke dalam mayoritas masyarakat dunia Islam. Dan tidak ada orang manapun yang menyebut Imam Azam dan Muslim Hanafi sebagai kafir. Padahal, intensitas Imam Abu Hanifah (R) menolak ahadith, akan sulit ditemukan contohnya di kalangan penolak hadith lainnya.

BAHKAN RASUL PUN PASTI AKAN SETUJU, JIKA AKU HIDUP PADA ZAMAN ITU:

Imam Azam telah mendukung pandangannya dengan pertimbangan akal. Menurut dia, Rasul sendiri, ketika membuat hukum, memusyawarahkan berbagai permasalahan dengan para sahabatnya dan memakai pendapat yang ia anggap terbaik. Setelah itu ia berkata, “Jika aku hidup pada zaman Rasul, kemudian aku akan mengambil bagian dalam panitia penasehatnya. Aku yakin bahwa pada berbagai hal Rasul pasti mengambil pendapatku.”

Karenanya:

“Mahmood bin Musa berkata bahwa aku mendengarnya dari Yusuf bin Asbaat, bahwa Imam Abu Hanifah (R) biasa berkata, “Jika Rasul menemukan aku, dan aku berjumpa dengan dia, terhadap mayoritas dari persoalan, Ia pasti akan mengakui pendapatku. Aku mendengar Abu Ishaaq berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) menentang kebanyakan ahadith Rasul. (Khateeb sejarah, halaman 287)”

Kita berpikir tidak ada lagi yang perlu dikatakan tentang isu ini. Singkatnya, ini berarti bahwa otoritas pusat (pimpinan eksekutive Negara yang berdasarkan Al-Qur-an) dalam bermusyawarah dengan para anggota perwakilan masyarakat, mengambil keputusan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari sudut pandang Al-Qur-an yang disebut “Syari’ah Islam.” Dan keputusan ini menyesuaikan diri dengan keadaan zaman yang berubah-ubah. Adalah karena pendekatan yang spesifik inilah maka Imam Abu Hanifah (R) di kemudian hari dikafirkan. Ia dimahkotai dengan berbagai cercaan, keterangan yang menghina dan tuduhan yang tidak masuk akal.

HINAAN DARI PARA PENULIS HADITH:

Imam Malik bin Anas berkata bahwa virus Abu Hanifah (R) tidak lebih mematikan dibandingkan dengan gurita Setan. Dalam doktrinnya, demikian juga dalam pengingkarannya terhadap ahadith. Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak bisa membayangkan, setelah ancaman Da’jall, ancaman apapun terhadap Islam, yang lebih besar dari pada Abu Hanifah (R)….’ (Khateeb, halaman 396)

Sulaiman bin Husain Halbee menulis bahwa Imam Auzai telah sering didengar berkata bahwa Abu Hanifah (R), satu demi satu, telah mengurangi setiap batalyon Islam. Fazari berkata bahwa ia mendengar Auzaee dan Sofyan berkata bahwa tidak ada seorangpun dalam Islam yang lebih bernasib sial dibandingkan dengan Abu Hanifah (R). Imam Sha’afi telah menggunakan kata “yang terburuk.” Telah ditanyai Qais bin Alzabea tentang Abu Hanifah (R). Ia berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang paling bodoh tentang hadits dan ahli hukum masa depan yang paling bijaksana. (Khateeb, halaman 498)

Umrah bin Qais telah berkata bahwa siapapun yang ingin mencari kebenaran, ia harus memperhatikan Abu Hanifah (R) dari Kufa. Setelah itu ia harus menentang perkataan dan ucapannya. Am’aar bin Zar’eeq berkata agar menentang Abu Hanifah (R) dan kamu akan menemukan kebenaran. Bushra berkata agar menentang dia dan kamu akan melihat kebenaran. Dengan kata lain, kita dapat berkata, diberkatilah mereka yang menentang dia. (Khateeb, halaman 408)

ADALAH SEBUAH KEJAHATAN MENYEBUT ABU HANIFAH DI DALAM MESJID:

Abu Ubaid berkata bahwa ia sedang duduk dengan Aswad Ibnu Salim di Mesjid Jamia Raza’fah. Selagi mendiskusikan suatu topik, keluar dari lidahku bahwa pendapat Abu Hanifah seperti ini. Aku segera diperingatkan oleh Aswad mengapa aku menyebut Abu Hanifah (R) di dalam mesjid? Dan karena kesalahan ini ia tidak berbicara denganku hingga kematiannya. (Khateeb, halaman 409)

Safyan mengutip Hishaam bin Marwah, yang mendapat hadith ini dari bapaknya. Yang menyatakan, bahwa berbagai persoalan diantara Bani Israel sangat harmoni, hingga anak-anak, para budak dan pelayan wanita jumlahnya menjadi terlalu banyak, dan sekarang mengganggu sistem. Para budak wanita ini telah berada pada jalur yang rusak, sekarang mereka membawa yang lainnya pada jalan mereka. Setelah itu Safyan menyatakan, di Islam juga berbagai hal publik adalah sangat harmoni. Hingga Abu Hanifah (R) dari Kufa, But’ee dari Basra dan Rabia Ibnu Abdur Rahman datang ke Medina dan mengubah pola teladan itu. (Khateeb, halaman 394)

FIQH HANAFI ADALAH HASIL KARYA DA’JAAL:

Hamduya bin Mukhlid menyatakan bahwa Muhammad bin Maslama Medeeni ditanya mengapa pendapat Abu Hanifah yang sudah menjadi percakapan secara terus menerus dalam semua empat sudut tetapi tidak bisa menyebar ke bagian dalam seluruh Medina. Muhammad bin Maslama menjawab, “Alasannya adalah, Rasul menceritakan kepada kita bahwa seorang malaikat ditempatkan pada tiap-tiap persimpangan di Medina, yang akan menghentikan Da’jal memasuki Medina. Karena literatur ini adalah juga hasil karya Da’jal, maka itu tidak bisa menyebar ke seluruh bagian dalam Medina. (Khateeb, halaman 396)

IMAM ABU HANIFAH (R) ADALAH BISU DAN YATIM DI BIDANG HADITH:

Ibnu Ishaaq Trindi menulis bahwa Abdullah Ibnul Mubarik berkata bahwa Abu Hanifah (R) adalah orang yang buta huruf menyangkut ahadith. Sr’eej bin Yunus dikutip pernah berkata bahwa Abu Katan menulis, walaupun kita menceriterakan hadith dari Abu Hanifah (R), ia adalah bisu di bidang hadith. Ibnu Numr berkata bahwa aku menemukan orang-orang dengan suara bulat mengakui pada fakta, terhadap apa yang harus dikatakan terhadap pendapat dan pandangannya, kami tidak mempercayai hadith Abu Hanifah (R) apapun. Hajjaj bin Artaat menulis, “Siapa Abu Hanifah? Siapa yang mau mendengar Abu Hanifah? Abu Hanifah bukan apa-apa?”

Ali bin Al-Madeeni menyatakan bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Yahya Ibnu Saeed Kat’aan, ketika seseorang sedang bertanya kepada dia tentang salah satu dari hadith Abu Hanifah. Terhadap hal itu Yahya berkata, “Sejak kapan Abu Hanifah mengetahui sesuatu tentang hadith?”

Muhammad bin Hamad Makri menulis bahwa Yahya bin Mueen (R) ditanya tentang Abu Hanifah (R), mengenai itu ia menjawab, “Berapa banyak ahadith yang ia punyai yang kamu bertanya kepadaku mengenai dia?”

Abu Bakr Ibnu Shazaan berkata bahwa ia diberitahu oleh Abu Bakr Ibnu Abi Dawood, kemarin Abu Hanifah (R) mengcopy 150 ahadith, separuh darinya dibuang olehnya karena ada kesalahan.

IMAM ABU HANIFAH TIDAK DIHORMATI:

Mo’el berkata bahwa Abu Hanifah (R) disebut di depan Sofyan as-Sauree. Saur’ee pada waktu itu sedang mengelilingi Ka’bah. Ia mulai mengulangi kata-kata, “Abu Hanifah bukan orang suci dan dipercaya” hingga ia menyelesaikan putaran Ka’bah-nya. (Khateeb, halaman 415).

Berbagai pandangan yang dikutip di atas harus diingat ketika kita menguji tentang siapa yang membentuk opini ini dan siapa yang mereka bicarakan. Masing-masing dari mereka dianggap pilar dari eksistensi hadith. Inilah keputusan dari para pilar Islam terhadap diri Abu Hanifah (R). Mari kita lihat apa yang telah mereka katakan terhadap dua pengikut terkenalnya yaitu Imam Abu Yusuf (R) dan Imam Muhammad (R). Sebelum kita membaca lebih lanjut, harus ditekankan di sini, bahwa dalam keseluruhan madzab Hanafi, tidak satupun buku yang dikarang oleh Abu Hanifah (R) yang mencapai kepda kita. Apapun yang kita ketahui tentang dia telah menjadi kebaikan dari dua orang pengikutnya tersebut di atas.

IMAM YUSUF DI BAWAH PENELITIAN YANG CERMAT OLEH PARA SARJANA IMAM-IMAM:

Abdul Razzaq bin Umar menyatakan bahwa ia sedang duduk dengan Abdullah Ibnul Mubarok, ketika seseorang bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Abdullah mengabulkan dia suatu keputusan. Orang tersebut berkata bahwa ia telah bertanya kepada Abu Yusuf (R) tentang masalah yang sama, tetapi ia tidak memberi keputusan apapun yang bertentangan dengan anda. Abdullah kemudian berkata kepada lelaki tersebut, “Jika kamu melakukan sholatmu, dan imamnya adalah Abu Yusuf (R), manapun yang kamu ingat, maka kamu harus mengulangi sholat-sholatmu. (Khateeb, halaman 257)

Abda bin Abdullah Khorasani berkata bahwa seseorang bertanya kepada Abdullah Ibnul Mubarok tentang siapa yang lebih baik di antara Abu Yusuf dan Muhammad. Abdullah Ibnul Mubarik berkata, “Jangan berkata seperti ini. Kamu seharusnya bertanya: siapa diantara keduanya yang lebih besar dustanya?. “Lalu lelaki itu berkata, “Katakan kepadaku?” Abdullah berkata, “Abu Yusuf!”

Abdullah bin Idrees berkata, “Abu Hanifah adalah kasus yang tidak biasa dan ekstrim yang telah berlalu. Abu Yusuf adalah seekor musang dan seorang penyeberang ganda. (Khateeb)

IMAM ABU YUSUF DITUDUH BERBOHONG OLEH IMAM ABU HANIFAH:

Muhammad bin Ishmael Bukhari telah dikutip bahwa Imam Abu Hanifah (R) berkata, “Mengapa kamu semua tidak terkejut mengenai Ya’coob (Imam Abu Yusuf), ia telah menuduhku menceritakan kebohongan yang belum pernah aku katakan.”

Abu Naeem Fazl bin Waqeen berkata bahwa dia mendengar Abu Hanifah (R) menceritakan tentang Abu Yusuf, “Celaka kamu, kamu sudah terlalu banyak berbicara tentang aku di dalam buku ini yang aku belum pernah mengatakannya.” (Khateeb)

Ibnu abi Sha’ibah dan Ibnu Maghlabi mengutip Yahya bin Mu’een bahwa Abu Yusuf (R) tidak mempunyai persepsi terhadap hadith. Tetapi kami masih mempertimbangkan dia sebagai bisa dipercaya. (Khateeb, halaman 259)

Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa walaupun aku pertama kali mengambil hadith ini dari Abu Yusuf (R), aku tidak akan menceriterakan ahadith ini. Meskipun demikian, ia adalah sangat jujur, orang tidak boleh mengambil hadith apapun dari para pengikut Abu Hanifah (R).

Abul Hassan bertanya tentang Abu Yusuf (R) kepada Imam Daru Kutni, terhadapnya ia menjawab bahwa Abu Yusuf (R) secara komparatif lebih kokoh, meskipun begitu, ia seperti seorang yang timpang di antara yang pincang. Imam Muhammad bin Ishmael Bukhari berkata bahwa Ya’coob bin Ibrahim Abu Yusuf Qazi telah dikeluarkan dari lingkaran para ahli hadith. (Khateeb, halaman 259-60)

Imam Ahmad bin Hambal (R) berkata bahwa Ya’coob Abu Yusuf (R) adalah di antara pengagum hadith, seperti Abu Hanifah (R) dan Muhammad bin AlHassan (R) keduanya adalah menentang hadith Rasul. (Khateeb, halaman 179)

IMAM MUHAMMAD ADALAH PENDUSTA:

Yahya bin Mueen ditanya tentang Muhammad bin AlHassan (R), tentangnya ia menjawab bahwa Muhammad bin AlHassan adalah seorang pendusta. Pada kesempatan lain ia berkata AlHassan itu sudah tua, kadang-kadang ia berkata bahwa tak seorangpun mengambil hadith dari dia, ia tidak ada apa-apanya. (Khateeb, halaman 180)

Abu Dawood memegang pandangan yang sama tentang AlHassan bahwa tidak ada hadith yang diambil dari dia dan bahwa ia tidak berharga.

Imam Abul Hassan Daru Kutni berkata bahwa Muhammad Ibnul Hassan (R) telah disebut sebagai seorang pendusta oleh Yahya bin Mueen (R) dan Imam Ahmad bin Hambal (R). Sejauh yang ia perhatikan, Abul Hassan dapat dimaafkan. (Khateeb, halaman 181)

Bsh’ar bin Al-Waleed mengutip perkataan Abu Yusuf (R), “Tanyalah si pembohong Muhammad bin Al Hassan ini, bahwa apa yang ia tulis tentang aku, ia tidak pernah mendengar kata-kata itu dari aku. (Khateeb, halaman 180)

Yahya bin Mueen berkata bahwa Muhammad bin AlHassan (R) ditanya di depan aku tentang buku yang ia tulis, bahwa ia tidak pernah mendengarnya dari Abu Yusuf (R)? Muhammad bersumpah atas nama Tuhan dan menolak. Meskipun begitu, adalah benar juga bahwa aku mengetahui buku ini lebih baik daripada semua orang, dari Abu Yusuf (R) aku hanya mendengar “jama’ sagheera”. (Khateeb)

 

JURISPRUDENSI HANAFI TIDAK PERMANEN SEPANJANG ZAMAN:

Terkait dengan hadith yang anda telah dibaca perihal gagasan Imam Azam dan para pengikutnya. Setelah melalui ini, terdapat isu lain yang menarik, yaitu, apakah Imam Azam tidak pernah menginginkan untuk memproklamirkan bahwa dirinya menciptakan jurisprudensi yang tetap/ tidak dapat diubah hingga akhir zaman? Sekarang ini nyata sekali, bahwa seorang pemikir yang tidak percaya bahwa keputusan Rasul tak dapat diubah, bagaimana mungkin ia percaya bahwa putusan miliknya dapat tetap permanen? Tentang isu ini, kita memiliki bukti historis, bahwa Abu Hanifah (R) dengan tegas menentang dugaan bahwa usaha rohaninya mempunyai nilai yang tidak tergantung waktu.

Nazar bin Muhammad berkata bahwa kami sering menemui Imam Abu Hanifah (R) dan menemani kami seseorang dari Syria. Ketika Orang Suriah itu sedang berangkat dari tempat nginapnya, ia menemui Abu Hanifah (R) untuk mengucapkan salam perpisahan. Abu Hanifah (R) bertanya, “Wahai Orang Suriah! Apakah kamu akan membawa literatur jurisprudensi ini bersama dengan kamu.” Orang Suriah itu mengiakan. Mengenai ini Imam berkata, “Hati-hatilah, kamu membawa suatu kejahatan yang sangat besar.” (Khateeb, halaman 401)

Mazahm bin Za’farr berkata bahwa dia sendiri bertanya kepada Imam Abu Hanifah (R) tentang apa yang beliau tulis dalam bukunya dan keputusan yang ia berikan, apakah semua kebenaran yang mana tidak ada keraguan atau kerancuan apapun di dalamnya? Imam Abu Hanifah (R) menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu. Sangat mungkin bahwa semua ini adalah palsu dan tidak ada keraguan atau keuntungan yang tertinggal di dalam keputusan yang menjadi palsu.

Imam Ja’far (R) berkata bahwa kami sering mengunjungi Imam Abu Hanifah (R). Apapun keputusan yang ia buat kami menulisnya. Imam Ja’far menulis bahwa suatu hari Imam Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf, “Celaka kamu Ya’coob! Jangan mencatat semua hal dan setiap yang kamu dengar dari aku. Aku bisa membuat suatu pendapat hari ini yang mungkin besok berubah atau dihindari.”

Abu Naeem (R) berkata bahwa ia mendengar Abu Hanifah (R) berkata kepada Abu Yusuf (R), jangan menulis putusanku pada setiap masalah. Demi Allah! Aku sama sekali menganggap apakah aku sudah berbuat salah atau aku seorang pemenang.

Suhail bin Muzahm berkata bahwa ia sering mendengar Abu Hanifah (R) membacakan ayaat ini:

“Wahai Rasul! Tunjukkanlah tanda kepada orang-orang itu, yang mendengarkan dan kemudian bertindak sesuai dengan apa yang nampak baik bagi mereka.” (Khateeb, halaman 352)

Dari ekstraksi singkat catatan sejarah tentang Imam Abu Hanifah (R), bisa ditangkap bahwa ia tidak menganggap Fiqh-nya bebas dari kesalahan. Lalu bagaimana mungkin bagi kita untuk mewarisi hasil kerjanya setingkat dengan wahyu. Dan menganggap mereka sempurna, menerapkan hukum-hukum itu, hingga akhir zaman.

Mari kita ulangi, secara singkat, keistimewaan Imam Abu Hanifah (R):

  1. Satu-satunya yang permanen dalam ad-Deen adalah prinsip dan aturan Al-Qur-an.
  2. Tradisi (hadith/ sunnah) mempunyai nilai historis. Kita dapat mendapatkan bantuan darinya, tetapi tidak harus dianggap permanen dalam ad-Deen kita.
  3. Dipandang dari sudut prinsip Al-Qur-an, kita harus menciptakan jurisprudensi kita sendiri (fiqh) dengan usaha rohani. Hasil usaha ini tidak bernilai secara terus-menerus.

Setelah rekapitulasi ini, kami akan meringkas isu ini yang diambil dari Imam Ahmad bin Hambal (R). Dalam mana ditulis: “Ibraheem Hubee berkata bahwa Imam Abu Hanifah (R) telah membawa begitu banyak hal baru pada pengetahuan kami, yang akan lebih baik dari pada mengunyah air. Suatu hari, aku bertanya kepada Imam Hambal (R) tentang Abu Hanifah (R), ia menjawab dengan ekspresi terkejut dan berkata, “Itu nampak seolah-olah Abu Hanifah sedang menulis sebuah Islam yang baru secara lengkap.” (Khateeb, halaman 413)

Jadi, jika hari ini seseorang mengatakan hadith yang sama yang membicarakan Imam Azam pada zaman itu dan para pengkultus nenek moyang kita men-dogmatisasi bahwa pribadi ini membuat agama baru; hal itu bukan merupakan sesuatu yang baru di atas bumi ini. Hal seperti itu sudah berlangsung sejak zaman dahulu.

Sumber: http://www.toluislam.com/index.pl/mag?func=viewSubmission&sid=77&wid=40

Saat ini artikel di atas sudah tidak ada di situs tsb. Belum ditemukan dipindah kemana. Saya menemukan artikel di situs tsb. pada tahun 2008.

Sikap Umar terhadap Hadith

Umar ibn al-Khattab dan Pertanyaannya terhadap Hadith

Dikarenakan status Umar dalam sejarah dan tradisi Islam, maka rincian keberatan yang dikaitkan kepada Beliau layak untuk dilakukan pemeriksaan yang cermat. ‘Umar ibn al-Khattab adalah di kalangan umat Islam awal yang cukup penting, salah seorang sahabat Muhmmad yang cukup dekat, seorang pemimpin Islam, dan orang kedua orang yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Sebagai khalifah kedua dari empat khalifah yang mendapat petunjuk (al-khulafa ‘al-Rasyidin), reputasi Umar terkait kesalehan dan dedikasinya untuk Islam telah melegenda dan tidak diragukan lagi di kalangan Muslim Sunni sepanjang sejarah.12 Pendapat beliau tentang masalah-masalah keagamaan juga sangat dihormati.

Dalam disertasi Harvardnya tahun 1996, Linda Kern telah memeriksa figur ‘Umar di Hadith al-Bukhari, dan beberapa pengamatannya menarik secara khusus untuk penelitian ini. Pertama, Pengamatan Kern bahwa  “[a] menurut kebijaksanaan umum, kecemburuan ‘Umar dalam melindungi wahyu Ilahiah membuatnya mendapatkan laqab (julukan kehormatan) paling populer al-faruq, atau seseorang yang dengan tekun ‘membedakan’ antara firman Allah dan setiap potensi perubahan terhadapnya.”13  Gambaran ‘Umar ini, yang Kern memberikan gambaran kepada kita dari al-Bukhari yang mengungkapkan mengapa ‘Umar adalah seorang tokoh “batang yang menyinari” dalam kontroversi tentang Hadith.

Tersebar di seluruh berbagai corak literatur Islam dari abad ketiga/ kesembilan dan seterusnya yang melaporkan bahwa tokoh legendaris ini dianggap sebagi sumber yang sangat keberatan terhadap penulisan dan penyebaran Hadith. Setelah dikumpulkan, rincian cerita-cerita ini memberikan sebuah kesan yang kuat dan mempertegas pandangan Kern bahwa dalam cerita ini ‘Umar “secara radikal memisahkan otoritas Rosul dari Risalah-Nya …. [dan] membedakan al-Kitab sebagai suber kebenaran yang independen yang terhadapnya tidak ada aturan yang harus diikuti yang bisa dilakukan.” 14

Ini adalah aspek khusus yang sangat penting dari kontroversi tentang Hadith sebagai sumber otoritas tulisan suci yang bertumpu pada kepercayaan pada otoritas Kenabian dan dualitas wahyu.

‘Umar di al-Tabaqat al-Kubra

Dalam dekade antara meninggalnya al-Shafi’i pada tahun 204/820 dan meninggalnya Ibnu Qutaibah pada tahun 276 AH, koleksi besar pertama Hadith dan karya-karya penting lainnya yang masih digunakan sampai sekarang telah kumpulkan/ ditulis. Salah satu yang terakhir adalah al-Tabaqat al-Kubra (Generasi terbesar) oleh Abu ‘Abd Allah Mumammad bin Sa’d (168 / 784-230 / 845). Sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Sa’d. Ia lahir dan dibesarkan di Basra. Dia pindah ke Baghdad di mana ia menjadi sekretaris sejarawan Abu ‘Abd Allah Mumammad bin ‘Umar al-Waqidi (w. 207/747). Ibnu Sa’d juga dikatakan telah melakukan perjalanan ke Kufah dan Madinah dan telah dikaitkan dengan banyak para ulama yang paling penting pada zamannya.15 Tidak disebutkan bahwa al-Shafi’i adalah di antara ulama yang dengannya Ibn Sa’d yang dikaitkan; Namun, kedunya adalah orang dewasa pada pergantian abad ketiga Hijrah dan keduaya bepergian dalam lingkaran ilmiah di pusat-pusat pembelajaran. Adalah wajar berasumsi bahwa bahkan jika keduanya tidak pernah bertemu, Ibn Sa’d sadar akan adanya kontroversi perihal Hadith dan doktrin dualisme wahyu yang mana al-Shafi’i sedang memperjuangkan pada zaman itu.

Meskipun dia bukan pendiri sebuah sekolah pemikiran atau arsitek doktrin Islam, Ibnu Sa’d memiliki pengaruh besar pada umat Islam melalui karya utamanya. Tabaqat-nya adalah salah satu yang paling awal dan biografi yang paling luas dari generasi pertama umat Islam. Karya ini terdiri dari laporan-laporan yang, seperti Hadith Nabi, terdiri dari sebagian besar isnad dan matn. Karena judulnya mengindikasikan, adalah sebuah catatan kehidupan para anggota dari generasi awal utama, dimulai dari Adam dan Hawa dan bergerak melalui garis keturunan leluhur Mumammad turun hingga zaman Ibn Sa’d sendiri. Ibn Sa’d menceritakan cerita tanpa komentar. Adalah melalui media al-Tabaqat al-Kubra inilah Muslimin dari waktu ke waktu hingga hari ini telah memahami kehidupan Nabi dan generasi awal Muslimin. Penulis biografi belakangan melaporkan bahwa Ibn Sa’d dapat dipercaya (Thiqa) dan benar (Saduq). Karena reputasi yang baik ini, mayoritas Muslim menerima cerita-cerita yang berhubungan dengan gambaran yang akurat dari bagaimana Muslim awal memahami dan mempraktekkan Islam.

Cerita pertama Ibnu Sa’d yang meriwayatkan tentang sikap ‘Umar terhadap pencatatan Hadith terjadi di bab dimana ia menceritakan penunjukannya sebagai Khalifah (Dzikir istikhlaf ‘Umar). Dia mengutip sebuah cerita dari Sufyan bin ‘Uyayna (w. 198 AH), pada otoritas al-Zuhri bahwa “‘Umar ingin (Arada) menulis Tradisi (al-sunan), sehingga ia menghabiskan sebulan sholat mengharapkan petunjuk; dan setelah itu, ia menjadi bertekad untuk menulisnya. Tetapi kemudian dia berkata: “Aku teringat orang yang menulis sebuah buku, maka mereka mengabdikan diri untuk itu (aqbalu ‘alaihi) dan mengabaikan Kitab Allah (wa-Taraku Kitab Allah). ‘ “16

Salah satu argumen yang dapat digunakan untuk melawan penerimaan cerita ini adalah bahwa itu adalah mursal – isnad-nya hilang – sebuah hubungan langsung antara al-Zuhri (b. c. 50/670) dan ‘Umar (w. 22/644) -dan karena itulah harus tidak diperhitungkan. Namun, Ibnu Sa’d belum melihat cocok untuk mengecualikan atas dasar hal itu dan dua tokoh al-Shafi’i dan Ibnu Qutaibah diketahui memiliki laporan mursal yang diterima dari individu yang dipercaya.

Kata-kata dari cerita ini adalah sangat langsung dan tidak meninggalkan keraguan karena apa yang ‘Umar khawatirkan akan terjadi jika ia melakukan penulisan Tradisi (Al-sunan) Nabi: bahwa, seperti orang-orang sebelum mereka, Muslim mungkin mengalihkan perhatian mereka ke buku itu dan mengabaikan Al Qur’an. Siapa orang-orang itu tidak disebutkan dalam cerita ini. Namun, cerita-cerita lain ditemukan di tempat lain di Tabaqat sama-sama jelas dalam kata-kata dan memberikan rincian tambahan.

Cerita berikutnya yang Ibnu Sa’d menceritakan tentang Amirul Mukminin dan sikapnya terhadap Hadith ditemukan dalam volume lima dari Tabaqat. Cerita ini dikaitkan dengan otoritas al-Qasim bin Mumammad bin Abi Bakr al-Siddiq (w. 106 H.) -cucu Abu Bakar, sahabat terdekat Muhammad yang lain dan Khalifah pertama yang mendapat petunjuk yang memimpin komunitas Muslim setelah meninggalnya Nabi. Ketika al-Qasim diminta oleh muridnya ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ (w. 164 AH) untuk mendiktekan Hadith, ia menolak, sambil mengatakan, “Hadith berlipat ganda selama zaman ‘Umar; maka ia memanggil orang-orang untuk membawa hadith-hadith itu kepada dia, dan ketika mereka membawa hadith-hadith kepadanya, ia memerintahkan hadith-hadith itu untuk dibakar. Setelah itu, ia mengatakan, ‘sebuah Mishna seperti Mishna dari Ahli Kitab,’ (mathna’a ka mathna’at ahl al-Kitab).” “Sejak hari itu,” ‘Abd Allah ibn al-‘Ala’ meneruskan, “Al-Qasim melarang saya untuk menulis Hadith.” 17 Sebagaimana dalam cerita pertama, apa yang mengganggu ‘Umar adalah penulisan sebuah buku yang akan menyaingi dengan Kitab Allah. Dia membandingkan Hadith yang ditulis tersebut dengan Mishna milik Ahli Kitab. Dalam paham agama yahudi, Mishna berfungsi sama dengan fungsi Hadith yang telah datang untuk melayani di dalam Islam. Ini adalah kodifikasi yang Hukum Lisan dan berisi aturan yang terkait dengan rincian ritual bersuci, berdoa, pernikahan, perceraian, dan sebagainya. Mishna dan Gemara secara bersama-sama membentuk Talmud, yang merupakan buku paling penting dalam agama Yahudi selain Taurat.18

Namun, ‘Umar diakui dengan keberatannya untuk tidak hanya dalam hal penulisan Hadith, tetapi juga dalam hal penyebarannya. Mungkin kisah yang terkuat dan paling menarik tentang sikap ‘Umar terhadap hadith Nabi saw adalah yang ditemukan dalam volume enam dari Tabaqat. Di sini, Ibn Sa’d mengaitkan cerita tentang instruksi ‘Umar kepada delegasi dari para sahabat bahwa ia akan mengirim untuk wilayah Kufah untuk melayani sebagai administrator. Dia memerintahkan kepada mereka untuk tidak mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an dengan periwayatan Hadith.
Sekali lagi, kata-kata yang dikaitkan kepada ‘Umar adalah signifikan: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum jarridu al-Qur’an wa-aqillu al-Riwayat ‘an Rasul Allah” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka! Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah!).19 Beberapa isu adalah penting tentang cerita khusus ini.

Isu pertama menyangkut kata-kata, dan yang kedua menyangkut seseorang yang menyebarkan cerita. ‘Umar memberikan perintah yang kuat dan langsung dalam cerita ini: “la tasadduhum bil-aHadith fa-tashghalunahum” (Jangan mengalihkan perhatian mereka dengan aHadiths, dan dengan demikian mengikat mereka!). ‘Umar mengikutkan perintah berikut ini dengan yang sama-sama langsung yang layak perhatian: “Jarridu al-Qur’an.” Kata kerja Arab jarrid adalah bersifat perintah bentuk kedua dari j-r-d, yang secara harfiah bermakna menjadikan sesuatu telanjang. Menurut Lisan al-‘Arab, bila digunakan dengan Al Qur’an sebagai objeknya, seperti di cerita ini, itu bermakna tidak memberi pakaian al-Qur’an dengan apa pun. Dalam Lisan, Ibn Mannur seara khusus mengutip Ibn ‘Uyayna (w. 198 AH), yang dari dia Ibn Sa’d mengaitkan cerita ini, yang mengatakan bahwa jarridu al-Qur’an berarti tidak mengenakan pakaian kepada Al-Qur’an dengan aHadiths dari Ahli Kitab.20 Namun, di dalam cerita ini, kata-kata ‘Umar berikutnya menunjukkan bahwa sumber dari cerita (al-aHadith) dimana Al Qur’an tidak dikenakan pakaian adalah-al-Riwayat ‘an Rasul Allah-riwayat dari Rasul Allah. Dalam melaporkan cerita ini dari Ibn Uyayna, Ibnu Sa’d tidak menunjukkan bahwa Ibn ‘Uyayna ditawarkan selain pemahaman literal dari kata-kata ‘Umar ini.

Namun jelas bahwa ‘Umar belum melarang secara kaku dalam riwayat yang seperti ini: “jarridu al-Qur’an wa aqillu al-Riwayat ‘an rasul Allah” (Telanjangi al-Qur’an dan kurangi riwayat dari Rasulullah.). Cerita ini tidak berbicara tentang Rosul atau apa yang Rosul ucapkan yang mengganggu ‘Umar. Apa yang mengganggu dia adalah adanya kemungkinan mengakibatkan sesuatu yang akan menyaingi Kitab Allah. Dalam cerita sebelumnya, kekhawatiran ‘Umar adalah bahwa penulisan ahadith akan berakibat demikian. Dalam cerita ini jelas bahwa dia takut setiap riwayat dari hadith Nabi akan berakibat hal yang sama.

Secara bersamaan, kisah-kisah ini menunjukkan bahwa penulisan dan penyebaran aHadith menjadi praktek umum yang diterima – hanya setelah pertimbangan yang hati-hati bahwa ‘Umar menolak gagasan menempatkan Hadith dalam tulisan, dan kemudian mengambil langkah drastis menyerukan dan menghancurkan apa orang lain telah menulis Hadith. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan ‘Umar ini merepresentasikan sebuah pergeseran radikal dari norma yang berlaku. Dalam kasus ini, ‘Umar, sesuai dengan citranya sebagai pembela Kitab Allah, bertindak dalam menanggapi sesuatu yang menyaingi status dan kewenangan dari Kitab Allah.

Jika cerita ini benar-benar mewakili sikap ‘Umar terhadap penulisan dan penyebaran hadith Nabi, dapat dikatakan bahwa hal itu mewakili pendapat pribadi dan tidak didasarkan pada perintah dari Nabi.21 Namun demikian, ada dua masalah dengan argumen ini. Pertama, mengandaikan penerimaan atas perintah Nabi, di luar al-Qur’an, mengikat, sementara gagasan itu masih merupakan masalah yang diperdebatkan ketika ‘Abd al-Razzaq dan Ibn Sa’d sedang menulis. Kedua, dan ini lebih penting, bahkan jika hal itu hanyalah pendapat Umar secara pribadi, itu masih merupakan dasar dari keberatan terhadap penyebaran dan penulisan Hadith. Menurut cerita ini, ‘Umar sangat menentang baik penulisan maupun penyebaran Hadith – bukan karena ia tidak menyetujui penulisan atau berbagi informasi, tetapi karena ia khawatir bahwa ahadith akan memperoleh status sama atau bahkan lebih tinggi dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan jika cerita ini tidak benar-benar mewakili sikap, perintah dan tindakan ‘Umar, cerita itu mewakilinya sebagai pola dasar pembela Kitab Allah pada suatu zaman ketika beberapa orang melihat hadith Nabi sebagai pesaing status dan otoritas Kitab Allah.

‘Umar di Hadith

The Tabaqat bukanlah satu-satunya sumber abad ketiga yang menggambarkan ‘Umar sebagai keberatan dengan cerita-cerita yang merupakan  ekstra-Qur’an. Beberapa koleksi Hadith, baik , yang kanonik maupun nonkanonik, melaporkan perhatian ‘Umar tentang cerita-cerita extra Qur’anic dari Nabi. Koleksi Hadith yang akhirnya menjadi dikanonisasi bukanlah koleksi Hadith awal yang telah sampai kepada kita. Karya lebih awal yang penting adalah Musannaf dari ‘Abd al-Razzaq al-San’ani (w. 211/827).22 ‘Abd al-Razzaq melaporan baik keputusan ‘Umar untuk tidak melakukan penulisan Sunnah karena takut hal itu akan menyebabkan sebuah buku yang kepadanya orang-orang berpaling dan meninggalkan Kitab Allah23, dan juga cerita dimana ‘Umar memberikan perintah ini kepada orang-orang yang ia kirim untuk memerintah.24 Rincian dari kisah yang pertama hampir identik dengan minor tetapi ada penambahan penting. Namun demikian, rincian kisah yang terakhir berbeda lebih dramatis antara versi yang dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq dan versi yang dilaporkan sekitar dua dekade kemudian oleh Ibn Sa’d. Cerita tentang ‘Umar meninggalkan gagasan untuk melakukan penulisan Sunnah direkam oleh ‘Abd al-Razzaq dengan menambahkan pernyataan bahwa ‘Umar berkonsultasi dengan para sahabat Nabi tentang masalah ini dan bahwa mereka mendorong dia untuk melakukan hal itu. Versi ‘Abd al-Razzaq juga berakhir dengan pernyataan dramatis yang dikaitkan kepada ‘Umar. Setelah mengingatkan orang-orang sebelumnya yang menulis sebuah buku yang mereka membaktikan diri mereka dan untuk itu mereka “meninggalkan Kitab Allah,” ‘Umar dilaporkan sebagai mengatakan, “wa-inni  wallahi la ulabbis Kitab Allah bi-shayy’in abadan” (Demi Allah! Aku tidak akan pernah mengenakan pakaian kepada al-Qur’an dengan apa pun). 25
Melihat kembali dalam Lisan al-‘Arab yang dikemukakan sebelumnya dalam diskusi tentang cerita terkiat dalam Tabaqat, Ibnu Mannur menetapkan bahwa jarridu al-Qur’an bermakna tidak mengenkan pakaian kepadanya dengan apa pun (la tulabbisu bihi shayyan).26 Tambahan ini menunjukkan bahwa Hadith tidak hanya akan menyebabkan orang untuk meninggalkan Al-Qur’an, tetapi mereka mungkin juga entah bagaimana  menyembunyikan al-Quran dari mereka.

Rincian cerita yang berbeda -bahkan lebih, dalam cerita-cerita yang ‘Umar dikutip sebagai memerintahkan gubernur untuk “telanjangi al-Qur’an.” Dalam rangka untuk mengungkapkan perbedaan tersebut, marilah kita bandingkan kedua cerita itu secara keseluruhan:

Pertama, versi Ibn Sa’d:

Kami menuju Kufah dan ‘Umar menemani kami sejauh Sirar. Lalu ia mengambil air wudu, mencuci dua kali, dan berkata: “Kamu tahu mengapa aku telah menemani kamu? ” Kami berkata: “Ya, kita sahabat Rosul Allah (damai dan rahmat atas dia)”. Lalu, ia berkata: “Kamu akan datang kepada orang-orang yang bagi mereka dengungan Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadiths, dan sehingga mengikat mereka. Telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan  riwayat dari Rosul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan aku adalah sekutu kamu.”27

Sekarang, cerita sebagaimana yang  dilaporkan oleh ‘Abd al-Razzaq:

Ketika Umar bin al-Khattab mengirim gubernurpropinsinya, ia menetapkan: “Jangan mengendarai kuda pekerja; jangan makan sumsum; jangan memakai pakaian halus; jangan memaku pintu kamu terhadap kebutuhan orang-orang; dan jika kamu melakukan hal ini, hukuman tanpa diragukan lagi akan menimpa kamu.” Kemudian dia menemani mereka, dan ketika ia bermaksud untuk kembali, dia berkata: “Saya tidak memberi kamu otoritas atas darah Muslimin, atau di atas reputasi mereka, atau lebih dari kepemilikan mereka; tetapi saya telah mengirim kamu untuk menegakkan Salat dengan mereka, dan untuk membagi rampasan perang mereka dan hakimi di antara mereka dengan adil. Kemudian, jika sesuatu tidak jelas bagi mereka, rujuk mereka kepada saya. Sungguh, jangan mengalahkan Arab, sehingga mempermalukan mereka, dan jangan menahan mereka [tentara di baris depan] sehingga menyebabkan mereka berselisih, dan jangan meninggikan diri kamu di atas mereka sehingga mengusir mereka; telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasul Allah (damai dan berkah besertanya)! Pergilah dan akau sekutu kamu.” 28

Cerita sebelumnya yang dikaitkan dengan ‘Abd al-Razzaq agak lebih panjang dari pada cerita yang belakangan, yang berisi berbagai macam perintah. Ini adalah daftar perintah dan larangan termasuk perintah untuk “telanjangi al-Qur’an dan sedikitkan riwayat dari Rasulullah.” Namun, cerita yang belakangan yang direkam oleh Ibn Sa’d tidak berisi salah satu perintah-perintah lain yang ditemukan pada versi awal. Sebaliknya,  berfokus pada urutan tertentu ini dan termasuk rincian penalaran, dalam kata-kata yang puitis, pada bagian ucapan ‘Umar ini: “kamu akan datang kepada orang-orang sebuah kota yang kepada mereka dengungan dari Al-Qur’an adalah seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, jangan alihkan perhatian mereka dengan Hadith. . .”  Perbandingan pembacaan Al-Qur’an dengan dengungan lebah menunjukkan bahwa orang-orang terus-menerus sibuk dengan Al-Qur’an. Hadith digambarkan sebagai sesuatu yang dapat mengambil perhatian mereka jauh dari Al-Qur’an. Gagasan bahwa Hadith akan mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur’an adalah inti dari argumen menentang Hadith yang akan kita lihat nanti di Taqyid al-’Ilm oleh Al-Khatib al-Baghdadi, dan dalam argumen modern.

Meningkatnya detil dan perluasan yang dibuktikan dalam cerita yang melaporkan tentang ‘Umar dari Musannaf ‘Abd al-Razzaq dan Tabaqat Ibn Sa’d pada awal dan pertengahan ketiga abad Hijriah, ke Taqyid al-’Ilm al-Baghdadi pada pertengahan abad ke-lima Hijriah menunjukkan bahwa karena Hadith memperoleh kewenangan dan perhatian yang lebih besar, maka mereka yang menentang otoritas itu mengembangkan dan menyempurnakan argumen mereka sendiri.

‘Umar juga tokoh yangg menonjol dalam cerita yang ditemukan di koleksi dari Hadith kanonik. Cerita itu berhubungan dengan insiden yang terjadi selama Nabi  Mumammad sakit yang terakhir. Beberapa versi dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim, serta di Musnad dari Ahmad. Dalam setiap versi rincian inti ceritanya adalah sama: selama Mumammad sakit yang terakhir, ia meminta bahan untuk menulis  agar ia dapat menulis sesuatu untuk orang-orang untuk memastikan bahwa mereka tidak akan tersesat. Melihat demam yang telah menguasai Nabi, ‘Umar dikutip mengatakan: “Mereka memiliki Al-Qur’an, dan Kitab Allah adalah cukup bagi kami.”29 Cerita-cerita ini memperkuat gagasan bahwa Al Qur’an adalah cukup untuk menjaga orang-orang dari tersesat. Selanjutnya, mereka bergerak kepada ‘Umar melaporkan penentangannya kepada sumber tertulis selain Al-Qur’an-meski dari tangan Nabi sendiri-kembali ke masa Nabi. Menghubungkan keinginan Nabi untuk menulis sesuatu (mungkin selain dari Al-Qur’an) yang akan menjaga orang tidak tersesat kepada keadaan beliau yang sedang dikuasai oleh demam menyiratkan bahwa jika ia telah mengendalikan kemampuannya, dia tidak ingin melakukan hal ini. Seperti cerita-cerita yang dilaporkan oleh Ibnu Sa’d, bisa dikatakan bahwa cerita ini mewakili opini ‘Umar secara pribadi, terutama karena mereka juga menyatakan bahwa ada ketidaksepakatan yang kuat di antara para sahabat yang hadir pada saat itu.30 Namun, di sini juga, bahkan jika ini dipahami sebagai pendapat ‘Umar secara pribadi, perhatian utama yang dikaitkan dengan dia adalah jelas. Ia merasa begitu kuat bahwa al-Qur’an adalah cukup sebagai sumber otoritatif petunjuk dimana ia menolak permintaan Nabi untuk bahan menulis, sambil mengingatkan Nabi bahwa orang-orang telah memiliki Alquran dan bahwa itu adalah cukup.

Sambil menggali cerita respon ‘Umar atas permintaan Nabi, Kern mengatakan:

Dengan deklarasi Umar bahwa Kitab Allah “cukup,” namun, tidak hanya pentingnya Muhammad untuk menafsirkan wahyu berkurang, tetapi gagasan superioritas dia dalam permasalah agama juga dikesampingkan pada saat itu, menurut interpretasi Umar, Kitab Allah sendiri akan sepenuhnya memadai . . . Deklarasi ‘Umar bahwa Kitab Allah sudah cukup mengubah konsepsi apa wahyu itu, namun demikia, hanya sejauh mengubah konsepsi peran Nabi.31

Perubahan yang Kern merujuk adalah pergeseran dari “yang sedang berlangsung, tak terduga,
situasi khusus wahyu” kepada “sebuah totalitas wahyu yang sempurna dan kekal, atau lebih tepatnya, Wahyu.”32 Sekali lagi, Penilaian Kern ini membantu menjelaskan mengapa ‘Umar adalah sosok ideal untuk menemukan di pusat perbedaan pendapat tentang kewenangan Hadith. Sifat alami dari wahyu dan peran Nabi ada pada jantung dari perbedaan tersebut.

Pelarangan yang dilaporkan dari Nabi

Tidak hanya ‘Umar yang dipercayai melarang penulisan bahan ekstra-Qur’an dari Nabi. Selain kisah-kisah keberatan Umar, koleksi Hadith kanonik juga melaporkan perintah langsung dari Nabi yang melarang para pengikutnya dari menulis apapun pada kewenangannya selain Al-Qur’an dan memerintahkan mereka yang telah melakukannya untuk menghapus apa yang telah mereka tulis. Laporan ini diriwayatkan sebanyak tujuh kali dalam tiga koleksi, dengan variasi minor dalam konten tekstualnya, dengan beberapa rantai perawi yang berbeda pada otoritas Abu Sa’id al-Khudri.33 Menurut Azmi, hanya satu rantai perawi yang dianggap sehat (sahih) menurut standar klasik Muslim dalam kritik Hadith.34 Dengan pengecualian pada laporan di sahih Muslim, berbagai versi adalah terpisah secara identik dari perbedaan kata-kata Arab yang bermakna “kecuali.” Karena para pendukung Hadith yang menulis karya-karya klasik yang sampai kepada kita, maka sulit untuk memastikan betapa pentingnya pelarangan yang dilaporkan dari Nabi adalah merupakan argumen dari lawan-lawan mereka. Namun demikian, kontroversi yang dipicu oleh laporan ini telah ditangani dari abad ketiga / kesembilan hingga hari ini di dalam karya-karya dari berbagai ulama. Keberadaan laporan yang sama-sama sahih di mana Nabi mengizinkan menulis adalah dasar dari salah satu tanggapan yang paling sering dikemukakan oleh para pendukung Hadith- dimana larangan penulisan Hadith itu kemudian dibatalkan oleh pernyataan yang mengizinkan untuk melakukannya.35
Bersama-sama dengan laporan yang berkaitan dengan oposisi ‘Umar terhadap penyebaran dan pencatatan Hadith, laporan-laporan dari Nabi ini telah memicu baik diskusi pada zaman klasik maupun modern atas legitimasi Hadis sebagai sumber otoritatif petunjuk agama bagi umat Islam.

REFERENSI KAJIAN:

  1. ‘Abd Allah ibn Mumammad al-Nashi’, Kitab Usul al-Nimal in Frühe Mu’tazilitische Häresiographie: Zwei Werke des Na,i’al-Akbar (Beirut, 1971), 69.
  2. Abu al-Musayn Mumammad ibn Ammad al-Mala’i, Kitab al-Tanbih wal-Radd ‘ala Ahl al-Ahwa’ wal-Bida’ (Istanbul: Matba’at al-Dawla, 1936), 42.
  3. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Al-Risala. Edited by Ammad M. Shakir (Cairo, 1940), 89.
  4. Mumammad b. Idris al-Shafi’i, Kitab Jima’al-’Ilm in Kitab al-Umm, vol. 7. Edited by Mammud Matraji (Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyya, 1996), 460–483.
  5. Al-Shafi’i, al-Risala, 93.
  6. Ibn Qutayba, Ta’wil Mukhtalif al-Hadith (Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi, n.d.).
  7. EI2, vol. 4 (Leiden: Brill, 1978), 468b–471a.
  8. Michael Cook, “Anan and Islam: Origins of Karaite Scripturalism,” Jerusalem Studies in Arabic and Islam 9 (1987), note 33, 167.
  9. Al-Shafi’i, Jima’al-’Ilm, 460.
  10. Ibid., 467.
  11. ibid.
  12. The Shi’as have a more negative view of ‘Umar and other close companions of Mumammad.
  13. Linda Lee Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab in al-Bukhari’s Kitab al-Jami’ al-Sahih (PhD diss., Harvard University, 1996), 19.
  14. Ibid., 93.
  15. Ihsan ‘Abbas, introduction to al-Tabaqat al-Kubra, vol. 1, by Ibn Sa’d (Beirut: Dar Beirut lil-Tiba’a wal-Nashr, 1960), 5–18.
  16. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. III, pt. I. Edited by Eduard Sachau (Leiden: E.J. Brill, 1904), 206.
  17. Ibid., vol. V, 140.
  18. “Mishna,” http://www.encyclopedia.com/articles/08554.html.
  19. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  20. Ibn Mannur, Lisan al-’Arab, vol. 1 (Beirut: Dar Lisan al-’Arab, 1988), 433.
  21. In fact, al-Azmi makes both of these arguments against a similar story recorded by al-Khatib al-Baghdadi more than two centuries after ‘Abd al-Razzaq and Ibn Sa’d.
  22. Harald Motzki, “The Musannaf of ‘Abd al-Razzaq al-Sana’i as a Source of Authentic AHadith of the First Century A.H,” JNES 50 (1991), 1–22.
  23. ‘Abd al-Razzaq ibn Hammam al-Himyari, Kitab al-Musannaf, vol. 11 min manshurat al-Majlis al-’Ilmi; 39. al-Taba’a 2 ( Beirut: al-Maktab al-Islami, 1983), 257.
  24. Ibid., 325.
  25. Ibid., 257–258.
  26. Manzur, Lisan, vol. 1, 433.
  27. Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, vol. VI, 2.
  28. ‘Abd al-Razzaq, Kitab al-Musannaf, vol. 11, 325.
  29. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0. al-Bukhari 4079, 5237; Muslim 3091; Ammad 2835, 2945.
  30. Ibid.
  31. Kern, “The Riddle of ‘Umar ibn al-Khattab,” 61.
  32. Ibid.
  33. Sakhr Software, Al-Hadith al-Sharif, v. 2.0, Muslim 5326; Ammad 10663, 10665, 10731, 10916, 11110; al-Darimi 451.
  34. Mohammad Mustafa Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Beirut: al-Maktab al-Islami), 22.
  35. For a detailed synopsis of classical Muslim explanations of these Hadith, see Azmi, 23–24.

Note:

Artikel di atas dikutip dan diterjemahkan secara bebas dari ebook: Hadith As Scripture – Discussions  on the Authority of Prophetic Traditions in Islam by Aisha Y. Musa

http://meine-islam-reform.de/index.php/component/attachments/download/119.html

Apakah Ibadah itu menyembah?

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata ” “عبد(abdun) sebenarnya bermakna sebuah tanaman beraroma yang menyimpan banyak daya tarik bagi unta-unta. Unta-unta menjadi gemuk jika mereka memakannya dan juga mulai memberikan lebih banyak susu.
Tanaman ini juga menimbulkan rasa haus ketika unta-unta memakannya dan butuh air minum.
Dengan demikian, tanaman ini memiliki tiga karakteristik, yaitu daya tarik, menjadikan haus, yang akhirnya menghasilkan gemuk dan susu yang melimpah. Oleh karena itu konotasi dari kata ini mengandung unsur penderitaan pada awalnya, tetapi akhirnya keberhasilan dan kenyamanan. Dengan cara berbahasa yang sama orang-orang Arab biasa menggosokkan lemak pada perahu-perahu mereka yang menjadikan perahu-perahu tersebut terlihat jelek, tetapi akhirnya perahu-perahu itu tetap terjaga aman dari pengaruh air. Oleh kare itu perahu tersebut disebut “سفينة معبدة” (safiinatoon mu‘abbadatun).
Ibn Faris telah memasukkan dua makna sebagai dasar untuk kata ini, yaitu kelembutan dan ketangguhan. Di sini ia mengacu kepada semacam kelembutan yang kemudian menghasilkan daya tahan.

Menurut makna dasar ini “عبادة” (ibaadat) yang berarti melakukan suatu perbuatan yang cenderung mengandung ketulusan yang mana sebagai hasil akhirnya adalah sangat menguntungkan walapun pada awalnya memerlukan usaha/ kerja.

لايكلف الله نفسا الا وسعها
Allah tidak memberikan beban melebihi kesanggupannya. (2:286).

Dalam mengikuti Al-Quran, seseorang menerima suatu ikatan pada dirinya yang mungkin merepotkan, namun dalam jangka panjang mereka akan memiliki banyak manfaat bagi dirinya dan larangan-larangan tersebut pada kenyataannya menjadikan karakter dirinya lebih kuat.
Al-Quran telah menjadikan makna ini jelas pada tiga ayat berikut di mana pesan tersebut disampaikan:

وذكر فان الذكرى تنفع المؤمنين
Terus perlihatkanlah petunjuk Al-Quran kepada orang-orang karena hal ini akan menguntungkan mereka yang menerimanya. (51:55).

وما خلقت الجن والأنس الا ليعبدون
Kami telah menciptakan manusia, baik yang menetap ataupun yang nomad, untuk mengikuti bimbingan Ilahiah (Ini mungkin tampak sebagai tantangan pada awalnya, tetapi bermanfaat dalam jangka panjang). (51:56).

ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون
(dan ingatlah) Kami tidak ingin ada rezeki atau hadiah dari mereka (karena mengikuti petunjuk Ilahiah tersebut). Kerja keras mereka [dalam mengikuti petunjuk ini] adalah untuk keuntungan mereka sendiri. (51:57).

Dengan kata lain, pada awalnya ada kesulitan karena sistem tersebut didirikan oleh setiap individu yang menerima bimbingan dan kemudian melakukan upaya untuk menciptakan suatu sistem. Ada oposisi yang kuat dari orang-orang yang tidak ingin menyerahkan hak istimewa mereka; namun, jika usaha dilanjutkan terus maka sistem tersebut akan berdiri dan semua manfaat yang dijanjikan tersebut akan diperoleh oleh semua orang.

Dalam rangka memahami makna dari “عبد” (Abbad), kita perlu tetap memegang kedua aspek kesulitan dan manfaat dalam pengertiannya, yang kita hadapi dalam hidup kita. Misalnya istilah “تعبيد ” (ta’beed) yang berarti bahwa kuda tersebut cukup terlatih untuk kita memanfaatkan dia untuk dinaiki. Ini disebut berkuda atau “memecah kuda”. Istilah tersebut juga bermakna menjadikan suatu jalan itu sama tinggi dan halus sehingga orang dapat menggunakannya untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Apa yang perlu dicatat di sini adalah bahwa pada awalnya semua tugas-tugas ini memerlukan kerja keras, tetapi kemudiannya akan menghasilkan banyak manfaat jangka panjang. Penerapan analogi ini pada petunjuk Al-Quran bermakna bahwa nilai-nilai yang dijelaskan dalam kitab tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang kepada siapapun yang mengikutinya dengan menggunakan akal dan penalarannya.

Jadi makna yang sebenarnya dari “عبادة” (ibaadat) mengakui butuh kepada bimbingan/ petunjuk al-Quran melalui kehendak bebas dan kemudian menggunakan akal dan penalaran kita untuk menerimanya dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang teguh pada apa yang dinyatakan di dalam Al-Quran adalah kebenaran dan bahwa apa yang dijanjikan dapat dicapai melalui usaha manusia. Ini kemudian menjadi program yang tepat untuk mendidik dan melatih para relawan dalam bimbingan tersebut dengan maksud untuk bekerja bersama-sama membuat sebuah sistem untuk kebaikan umat manusia (2: 151). Ini membutuhkan waktu, tenaga dan sumber daya dimana para relawan ini memperoleh dan menghabiskan melalui kemauan bebas mereka karena mereka telah mengembangkan keyakinan yang tak terbatas ini bahwa apa yang ada di Al-Quran adalah kebenaran dari Allah – Pencipta alam semesta (9: 111).

Al-Quran menyatakan:
اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Taatlah kepada Allah dan jauhilah kekuatan yang menentang/ pemberontak. (16:36).

Makna dari “طاغوت” (taghuut) adalah semua kekuatan yang bekerja melawan nilai-nilai permanen, misalnya: eksploitasi, perbudakan, konflik, perang, dll. Oleh karena itu ayat ini bermakna bahwa memberdayakan kemampuan anda sendiri dan kekuatan eksternal alam sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan menggunakannya untuk kebaikan umat manusia sedemikian rupa sehingga bagian dari kehidupan ini dan bagian selanjutnya dari kehidupan anda adalah kesuksesan (2: 201).

Di tempat lain dikatakan:
لا تعبد الشيطن
Jangan mematuhi syetan. (19:44)

Makna dari “شيطن ” (syaiton) adalah sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu dorongan mengikuti keinginan/ nafsu manusia dan tidak menerima nilai-nilai permanen Al-Quran.:
إن الشيطان كان للرحمن عصيا
Sungguh, syetan itu adalah tidak taat kepada ar-Rahman (19: 44).

Syetan yang dirujuk di sini adalah keinginan/ nafsu manusia yang tidak pernah dapat membimbing ke jalan yang benar dan membutuhkan bimbingan Al-Quran – atribut Allah yang disebut di sini adalah ar-Rohman. Lihat judul (R-H-M). Juga lihat judul (Sh-Te-N).

Juga lihat ayat-ayat dari Al-Quran di mana ia mengatakan:
أفرأيت من اتخذ إلهه هواه
Apakah kamu tidak memperhatikan ia yang telah menjadikan keinginannya sebagai penopangnya? (45:23)

Sebuah Ayat lengkap dari Surah an-Nahal yang diberikan di atas adalah sebagai berikut:
ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Setiap utusan yang datang dengan pesan dari Allah mendesak orang-orang untuk menerima misi Allah dan menghindari kepalsuan (16:36).

Jadi ini menjadikan makna dari “abad dari Allah” menjadi jelas, karena di tempat lain dikatakan:
ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (4:60).

Mereka masih ingin semua masalah mereka harus diselesaikan melalui cara-cara atau hukum yang tidak baik meskipun mereka telah diperintahkan untuk menghindari hukum durhaka seperti itu (2:257). Dengan demikian jelas bahwa menghindari “طاغوت” (toghuut), atau kedurhakaan, berarti bahwa manusia tidak boleh memecahkan masalah yang dihadapinya sesuai dengan pemikiran dan keinginan pribadinya, maupun melalui cara-cara dan hukum yang tidak baik, tetapi melalui undang-undang yang telah dibuat dan diwahyukan oleh Allah. Inilah yang disebut “اعبدو الله” (a’budullah), yaitu, menerapkan jalan Allah karena ini adalah makna yang benar menurut al-Quran dalam melaksanakan “عبادة” (ibadat) kepada Allah. Al-Quran telah menggunakan istilah “اعبدو الله” (a’budullah) tepatnya sejalan dengan kata “pemerintahan” yang digunakan hari ini.

Surah Al-Kahaf mengatakan di satu tempat:
ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Mereka seharusnya tidak memasukkan orang lain di Abad mereka dari Pemelihara mereka. (18:110).
Di tempat lain dikatakan tentang Allah:
ولا يشرك في حكمه أحا
Dia tidak memasukkan atau membiarkan siapapun berbagi dalam kekuasaannya-Nya. (18:26)

Dengan cara yang sama dikatakan dalam Surah Yusuf bahwa:
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه
tidak ada pemerintahan kecuali dari Allah. Dia telah memerintahkan untuk tidak menerima ketundukkan kepada yang lain. (12:40).

Jadi kita telah melihat bagaimana Al-Quran telah menggunakan kata kewenangan, pemerintahan, kedaulatan dan ibadah.
Kisah tentang utusan Musa – ia mengatakan kepada Firaun bahwa kebaikan dia kepadanya ketika ia masih anak-anak adalah tidak ada konsekuenasinya karena tetap menjadikan Bani Israil di bawah penindasannya. Al-Quran berbicara tentang orang-orang Firaun yang mengatakan:

وقومهما لنا عابدون
(Haruskan kita menerima apa yang dua bersaudara ini beritahu kita yang tidak lain hanyalah manusia seperti kita), dan ketika bahkan kaum mereka adalah budak-budak kita’? (23:47).

Al-Quran menjadikannya sangat jelas bahwa jika kita ingin beruntung dalam hidup sekarang dan di masa datang maka kita hanya memiliki satu pilihan yaitu mengikuti nilai-nilai permanen sebagaimana yang diwahyukan. Allah telah menyatakan bahwa:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
Orang-orang yang tidak melaksanakan urusan mereka sesuai dengan wahyu yang diberikan oleh Allah (sebagaimana tercantum dalam Al-Quran) adalah orang-orang yang menolak bimbingan (karena itu tidak bisa mendapatkan keuntungan dari itu) (05:44)

Itulah mengapa al-Quran telah mengatakan dengan jelas bahwa orang-orang percaya akan diberi kewenangan hanya jika mereka menegakkan Deen (24:55) dan ini meliputi: (1) nilai-nilai permanen diikuti (2) tidak ada hukum lain yang diikuti
Hal ini menunjukkan bahwa “عبادة” (ibadat) tidak bermakna penyembahan sebagaimana yang dipraktikkan di berbagai sekte, karena penyembahan jenis ini bisa dilakukan di bawah bentuk pemerintahan yang tidak ada hubungannya dengan al-Quran.

Latar belakang sejarah dari istilah ini adalah ketika yang tertindas di bawah Pemerintahan yang menindas dan kejam itu tetap tangguh, maka mereka disebut “عبيد” (abiid). “عبيد”(abiid) dan “عباد”(ibaad) adalah jamak dari “عبد” (abdun). Jamak dari “عابد” (aabid) adalah “عابدون” (aabiduun) dan “عبدة”(abadah), tetapi perasaan simpati bagi orang-orang yang rela atau “عبيد” (abiid) tidak berlangsung lama dan orang-orang yang dibebaskan dari rezim yang menindas mulai berubah menjadi budak lagi. Dengan demikian, kata “عبيد”(abiid) mempunyai konotasi diperintah atau bersikap tunduk. Dengan demikian, makna “عبيد” (abiid) di Al-Quran menjadi tunduk atau diperintah(23:27), dan arti “عبد” (Abbad) menjadi “menjadi tunduk”(26:22), dan”عبد” (abad) menjadi berarti budak, atau bawahan (2:178).

Pada kata ini telah diberikan konotasi ketaatan. Dengan demikian, “تعبد” (ta’abbud) dan “تزلل” (tazallul) digunakan dengan arti yang sama, yaitu berserah diri di hadapan hukum Allah. Ini adalah emosi yang melekat dalam pemujaan, dan dengan demikian “عبادة”(ibadah) menjadi bermakna memuja/ menyembah.

Al-Quran mengatakan:
قالوا نعبد أصناما
mereka mengatakan kami menyembah berhala. (26:71)

Berhala-berhala ini adalah manifestasi dari gambaran yang ada dalam benak para penyembah ini sebagai kepercayaan dan akibatnya mereka mengasosiasikan manfaat dan bahaya dengan keyakinan ini. Oleh karena itu berhala-berhala ini disembah juga dengan mengharapkan karunia atau rasa takut. Keyakinan ini menetap dengan kuat dalam batin para pengikut ini dan menjadi begitu mapan selama periode waktu yang memberikan kepuasan emosional dalam suatu kelompok. Karena manfaat kelompok tersebut dikaitkan dengan memiliki keyakinan umum meskipun salah, mayoritas tidak pernah mempertanyakan hal itu dan ini berlanjut dari generasi ke generasi. Al-Qur’an telah menunjukkan keadaan ini di banyak tempat misalnya ayat (53:23) dan (43:23). Ini juga merupakan dasar pelaksanaan setiap ketundukan.
Dengan mengacu pada kerja keras pada awalnya, hal yang sama memunculkan pada kata “عبد يعبد” (Abida ya’budu) yang bermakna mengekspresikan kebencian atau frustrasi. Oleh karena itu Surah Az-Zukhruf mengatakan:

قل إن كان للرحمن ولد فأنا أول العابدين
Katakanlah jika ar-Rohman bisa mempunyai anak, maka akulah yang akan menjadi yang pertama untuk tidak mengakui dia (43:81)

Dengan kata lain, karena tidak ada pertanyaan dari setiap anak yang dilahirkan- kepada Allah, oleh karena itu tidak ada pertanyaan dari setiap penerimaan dari posisi ini. Sekarang jika ” عبدين” (Abideen) adalah dianggap berasal dari “عبد”(Abad), maka ayat ini juga bisa bermakna bahwa jika Allah memiliki anak, maka saya akan menjadi yang pertama untuk mematuhi anak ini, tetapi karena ini belum pernah terjadi, maka saya tidak menerima pemahaman ini. Seluruh argumen ini tidak berdasar, karena diri kita, yang didasarkan pada proses berpikir kita, sebenarnya mendefinisikan kita sebagai manusia, dan hal ini kita tidak bisa meneruskannya kepada keturunan kita yaitu apa yang mendefinisikan diri manusia adalah non-fisik dan tidak diatur oleh hukum-hukum fisik. Al-Quran menekankan secara berulang pada penerimaan wahyu sebagai standar eksternal untuk mengelola urusan manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dan menyatakan bahwa ini adalah dunia manusia dan manusia memiliki kehendak bebas untuk membuat pilihan mereka sendiri. Tidak ada jalan pintas untuk proses ini dan ini hanya mungkin jika kita pertama-tama memahami al-Quran – jalan yang Allah menginginkan kita untuk memahaminya. Hal ini semua dijelaskan dalam Al-Quran dan undangan ini dialamatkan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa.

“العبد” (al-abad) berarti seorang manusia apakah dia merdeka ataupun seorang budak. Belakangan kata ini mulai digunakan dengan arti budak.

Ringkasan dari diskusi terkait dengan istilah ini adalah:

  1. Di manapun ibadat kepada Allah disebutkan, itu bermakna mengikuti al-Quran dengan penerimaan secara penuh dengan penggunaan secara penuh akal dan penalaran manusia. Hal ini akan membawa keyakinan batin dan seseorang akan dapat melihat manfaat terkait dengan mengikuti bimbingan tersebut. Dalam proses menegakkan sebuah sistem, beberapa dalam bentuk mengekspresikan emosi kolektif dalam sebuah jama’ah misalnya katakanlah ritual sholat yang secara fisik menunjukkan keinginan kita untuk mengikuti hukum-hukum Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, beranggapan bahwa itu adalah ujungnya, adalah bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan ketika melihat secara logis tidak akan pernah bisa terjadi, karena pertemuan ritual berjama’ah sebagaimana yang kita lihat ini, tidak memecahkan masalah kemanusiaan yang diperlukan dengan mengikuti nilai-nilai permanen. Untuk detailnya, lihat topik salat pada judul (Sd-LW). Rukuk dan sujud kepada Allah bermakna bahwa kita menyerahkan diri di depan hukum Allah, dan kita menerima dengan sengaja hukum-hukum Allah. Petunjuk Al-Quran adalah berisi tentang memecahkan masalah-masalah manusia berdasarkan nilai-nilai permanen dengan hanya satu otoritas, yaitu Allah – tidak ada model buatan manusia dan ini adalah yang dimaksud dengan kebebasan yang sesungguhnya.
    Surah Al-Baqrah yang menyatakan ” اسلمت” (aslamtu) dan ” نعبد” (na’budu) bermakna hal yang sama. Hal inilah yang disebut sebagai cara hidup(2:131-133) ditambah kata-kata ” مسلمون”(muslimoon), ” عابدون” (abidoon) dan ” مخلسون” (mukhlisoon) juga telah digunakan dengan makna ini (2:136-138).
  2. Di manapun “طاغوت” (toghuut ) atau kepalsuan disebut, itu berarti kesetiaan manusia kepada nafsu sendiri atau mengikuti perintah manusia lain. Kepatuhan ini mencakup kesetiaan kepada pemerintah yang menindas dan juga termasuk pengajaran dari – yang disebut sebagai- para pemimpin agama. Sebaliknya, beribadah kepada Allah akan berarti mengikuti hukum-hukum Allah dan bukan yang lain.
  3. Di manapun ibadat kepada para dewa dan dewi disebutkan, itu berarti pemujaan takhayul kepada berhala-berhala ini. Kesetiaan kepada mereka adalah sama dengan sujud kepada raja dan ratu.
  4. “عبادالرحمن” (ibaadur rahman) berarti orang-orang yang mengikuti hukum-hukum Allah. Ini adalah mereka yang mencurahkan seluruh energi dan kemampuan mereka sebagaimana yang diarahkan oleh al-Quran. Ini menjadikan makna “إياك نعبد” (iyyaka na’budu) menjadi jelas, yaitu “Kami hanya melakukan Abad Engkau”, atau “Kami hanya sujud kepada hukum-hukum Engkau dan mentaatinya, dan mencurahkan semua energi dan kemampuan kami di jalan yang Engkau telah ditetapkan bagi kami”.

Berdiri dan membungkuk secara bersama-sama dalam ritual sholat adalah manifestasi dari emosi untuk setia menghadap Allah, tetapi ibadat kepada Allah adalah tidak terbatas pada bentuk ritual saja. Ibadat kepada Allah berarti mengikuti hukum-hukum-Nya dalam setiap hembusan nafas kehidupan kita dan dalam seluruh aspek kehidupan kita.

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Dan aku telah menciptakan Jin dan Ins agar mereka hanya tunduk kepadaku. (51:56)

Hal ini juga harus digarisbawahi di sini bahwa dengan mengikuti atau mematuhi hukum-hukum Allah, manusia akan dapat menikmati kebahagiaan surgawi di dunia ini dan itu menjadikannya mampu naik menuju ke level yang lebih tinggi kepada evolusi di dunia selanjutnya. Jadi ‘Tata Kelola’ atau ‘ketaatan’ memungkinkan manusia untuk memaksakan diri pada nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi atas diri manusia. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, ini adalah pembatasan yang dikenakan pada diri sendiri dan tidak dipaksakan oleh faktor eksternal. Dan juga bahwa ibadat disini bukan bermakna sejenis ibadah ritual (atau sesajen) sebagaimana yang dilakukan manusia prasejarah/ primitif, yang takut kepada kekuatan alam, dipaksakan pada dirinya dalam rangka menyenangkan kekuatan-kekuatan tersebut.

Sumber: http://www.qes.no/Lughat/LughatVolum-III.pdf