Category Archives: Sejarah Syiah

BAB XXIV. PERAN MEDIA PROPAGANDA DALAM MENEGAKKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

Sekarang setelah menjadi jelas bahwa doktrin kemahdian (percaya kepada adanya Muhammad bin Hasan al-Askari) diciptakan oleh beberapa ghulat dan mutakalimin, dan orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi, yang setelah itu mengklaim untuk diri merka bahwa mereka wakil Imam yang sedang ghoyb. Adalah jelas juga bahwa doctrin tersebut pada kenyataannya tidak valid dan hanya sekedar hipotesis akal yang dikemukakan pada zaman kebingungan setelah wafatnya Imam al-Askari yang tidak meninggalkan seorang anakpun yang akan mewarisi Imamahnya. Setelah semua penjelasan ini, pertanyaan yang sewajarnya akan muncul adalah:

  • Bagaimana kemudian sebuah hipotesa akal dan doktrin seperti ini menemukan jalannya sehingga merasuki akal pikiran dan hati jutaan umat Islam Syiah 12 Imam dan lain-lainnya sepanjang sejarah?
  • Dan bagaimana doktrin tersebut menjadi mapan dan kuat?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kami harus mengatakan:

Bahwa Syi’ah awal pada zaman para Imam dari Ahl al-Bayt (AS) sama sekali tidak mengenal doktrin ini, dan bahkan Syiah pada periode yang masih dekat dengan zaman setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari sama sekali juga tidak mengenal doktrin ini. Adalah benar bahwa Syiah Imamiah pada zaman itu terjun ke dalam lembah kebingungan ketika mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada pewaris Imamah yang nampak yang menggantikan Imam mereka saat itu (Hasan al-Askari). Identitas Mahdi secara utuh tidak dikenal oleh mereka dan merupakan salah satu persoalan yang mengenainya tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Orangnya tidak spesifik dengan nama tertentu untuk posisi tersebut. Nyatanya, hanya salah satu dari 14 (empat belas) faksi yang mengemukakan tentang adanya seorang putra dari Imam Hasan al-Askari. Hal ini berarti bahwa pada periode dekat sebelum ghoybah tidak terdapat suara bulat diantara Syiah mengenai masalah ini (bahwa Imam Hasan mempunyai seorang putra). Beberapa Syiah mungkin telah cenderung mengangkat doktrin ini.

Kemudian setelah selama hampir lima puluh tahun, Syi’ah pada umumnya meninggalkan ide tersebut dan menarik diri dari ide itu. Kulayni (dalalam al-Kafi) dan Khussaibi (dalam al-Hidayatul Kubra) telah mendokumentasikan fenomena pembatalan opini yang mengatakan bahwa seorang anak pernah ada bersama teman-temannya sesama murid di suatu kota. (1)

Murid Kulayni, Muhammad bin Abi Zainab al-Numani (wafat 340 H) menyatakan dalam bukunya (al-Ghoybah): “Saya melihat sekelompok orang penganut Sekte Syi’ah dan percaya pada Imamah terpecah dalam tindakan dan kata-kata mereka. Semua orang, kecuali sedikit cenderung untuk bertanya tentang eksistensi Imam pada zaman mereka, pelindung mereka, hujjah dari Tuhan mereka. Keragu-raguan dan kecurigaan terus mengahantui pikiran mereka… Dan sebagai hasilnya, mereka mengalami kebingungan, kebutaan dan kehilangan yang mendalam. Hanya sedikit kebaikan yang masih ada pada mereka. (2)

Pada bagian lain dalam bukunya, ia menyatakan: “Kebingungan tersebut lebih besar daripada sekedar bingung yang telah menimpa sekelompok besar masyarakat. Karena permasalahan inilah banyak orang yang telah meninggalkan paham Syi’ah hingga hanya tersisa sedikit, yaitu mereka yang menganut sekte ini, semua ini karena ketidakpastian yang dihadapi oleh orang-orang“ (3).

Al-Numani meriwayatkan sejumlah ahadits yang berbicara tentang terjadinya kebingungan setelah ghoybah. Ia menggambarkan keadaan kebingungan yang melanda komunitas Syiah pada zaman itu, sambil berkata: “Kebanyakan dari mereka berkata di balik tirai:

  •  Ok, dimana dia dan dimana ia bisa ditemukan?
  • Sampai kapan ia tetap bersembunyi dan hingga umur berapa, sementara saat ini dia telah berumur lebih dari 80 (delapan puluh) tahun?“.

Beberapa dari mereka tetap berpendapat bahwa ia sudah wafat, dan beberapa dari mereka menolak kelahirannya dan kemudian menyangkal angan-angan keberadaannya, dan mereka mengolok-olok kepada mereka yang menganut kepercayaan tersebut. Beberapa dari mereka melihat bahwa periode menunggu terlalu panjang dan melampau batas waktunya. Dia berkata: “Kebanyakan Syiah pada zaman itu telah meninggalkan (paham Syiah) dan terombang-ambing ke kanan dan ke kiri…Generasi yang lebih belakangan percaya kepadanya setelah kehilangan harapan. Mereka mengolok-olok kepada mereka yang percaya pada doktrin Imamah; dan menggambarkan mereka sebagai kelompok yang tidak punya harapan. Ia menggambarkan mereka yang percaya kepada adanya Imam ke-12 sebagai sekelompok kecil orang dari sejumlah besar Syi’ah yang terpisah karena semangat dan percaya pada adanya Imam ke-12, meskipun orang dan ghoybah-nya yang lama sebenarnya tidak ada dan tidak terjadi. (4)

Sheikh Mohammed bin Ali bin Babawayh Saduq (wafat 381 H) pada pendahuluan bukunya (Ikmal al-Din Wa Itmam al-Ni’mah) mengemukakan tentang keadaan kebingungan yang melanda Syiah, sambil berkata: “Saya menemukan kebanyakan Syi’ah yang datang kepada saya untuk mendapatkan nasehat dalam keadaan kebingungan tentang ghoybah. Diantara mereka, beberapa adalah mereka yang diombang-ambingkan tentang urusan Qoim (satu-satunya yang bangkit) yang mencurigakan dan merevisi penggunaan pandangan dan metodologi tersebut. Seorang syekh yang dihormati diantara orang-orang yang diberi kebijaksanaan, kehormatan dan kecerdasan datang kepada kami di Qum dari Bukhara, ketika ia berbicara kepada saya suatu hari, ia bercerita tentang seorang pria yang telah ia temui di Bukhara, seorang filsuf terbesar dan ahli mantiq mengatakan tentang Qoim dalam kondisi kebingungan dan ragu-ragu tentang urusannya. (5)

Kulayni dan Numani dan Saduq telah melaporkan sejumlah ahadits yang mengkonfirmasi terjadinya kebingungan setelah Ghoybah Sahib al-Zaman dan keretakan telah terjadi diantara komunitas Syiah, demikian juga disintegrasi mereka selama periode itu dan saling tuduh satu sama lain, menuduh mereka murtad, saling menghina dan bahkan yang satu mengutuk yang lain. Ia menceritakan kepada kami bagaimana Syi’ah terombing-ambing seperti sebuah perahu dalam arus air yang kuat dan bagaimana mereka pecah seperti kaca atau keramik. Ia juga menyebutkan perkataan mereka bahwa Shahib al-Amr telah wafat dan bagaimana umumnya mereka menjadi bimbang dan tidak lagi mantap pada keyakinan mereka, kecuali sedikit dari mereka.(6). (Note: rupanya mengutuk dan mencaci merupakan budaya Syiah Parsi sejak zaman dahulu, bahkan sesama mereka sendiri)

Terlepas dari berbagai ahadits yang dibuat atau diambil dari gerakan kemahdian zaman dahulu, namun fakta bahwa Kulayni, Nu’mani, Khussaiby dan al-Saduq dan lainnya yang juga mengutip dan menggunakan ahadits ini pada Syi’ah pada abad keempat, mengungkapkan permulaan kebiasaan Syi’ah pada umumnya dalam mengotbahkan doktrin tentang adanya Muhammad bin Hasan al-Askari pada zaman itu, setelah menyokong doktrin itu pada suatu zaman sebelumnya. Jika suatu zaman di kemudian hari doktrin tersebut telah menjadi mapan yang tidak bisa dipertanyakan dan tidak bisa diubah pada sebagian Syi’ah, yang dijuluki Syian 12 Imam, maka hal ini bisa terjadi karena proses propaganda masal yang dilakukan oleh para pengklaim wakil Mahdi yang lihai dan kaki tangannya, dan dampaknya telah berkembang jauh hingga hari ini. Proses propaganda tersebut terdiri dari, antara lain adalah:

1.  Sirkulasi berbagai hadits palsu

Ahadits tersebut berisi kisah bohong tentang adanya pembatasan jumlah Imam yang hanya 12 orang dan tentang adanya Mahdi, Imam ke-12. Hal ini telah diuraikan dan dikritik pada bab-bab terdahulu dan pada bab kritik terhadap bukti keberadaan Mahdi (bab XVI – XVIII).

2. Media propaganda.

Para pemilik teori ini, selain itu, telah melakukan serangkaian propaganda yang menuduh mereka yang tidak percaya tentang adanya Mahdi (Muhammad bin Hasan al-Askari) sebagai kafir, murtad, perbuatan maksiat dan sesat. Dan dikhotbahkan bahwa penolakan terhadap adanya Imam Mahdi sama dengan penolakan terhadap adanya Nabi (Muhamad SAW), sebagai pembohong dan menolak Nubuwwah. (7)

Mereka menggunakan sarana informasi publik untuk mengkhotbahkan beberapa ahadits kuno tentang: “barang siapa mati dengan tidak mengetahui Imam pada waktu itu (Imam al-Zaman) dianggap mati jahiliyyah“. Mereka menafsirkan hadits tersebut sebagai “mengetahui Tuan Zaman (Shohib al-Zaman) dan Pemimpin pada zaman ini (Shohib al-Amr) adalah Pembimbing yang ditunggu (Al-Mahdi Al-Muntadhor)“ dan menganggap setiap orang yang tidak mengetahui dan tidak percaya tentang hal ini ia akan mati sebagai mati jahiliyyah, meskipun tidak ada infromasi tentang cara untuk mengenal kehadiran Mahdi dan bagaimana cara berkumpul di sekitar Mahdi dan bagaimana cara mendukung dia dan mengikuti dia. (8)

Muhammad bin Uthman Al-Umari (Wakil Mahdi ke-2 yang diakui oleh Syiah 12-Imam) mengatakan bahwa dia mendengar Hasan al-Askari mengatakan: “Barangsiapa mati tanpa mengetahui anak saya telah mati jahiliyyah“.

Al-Umari telah berbuat terlalu jauh dalam kampanyenya yang sangat ofensif dimana ia menuduh mereka yang merasa skeptis tentang adanya Mahdi sebagai orang yang memisahkan diri dari al-Diin (murtad), orang yang ragu-ragu dan keras kepala terhadap al-Haq. Ia membuat dekrit atas nama Mahdi yang isinya mencela orang-orang yang tidak percaya kepadanya dan mengancam dengan azab yang berat. Tentu saja Sheikh Abu Abdullah Ja’far al-Humairi al-Qummi dan Saad bin Abdullah Al Asy `ari Qummi (keduanya dari Qum), telah sangat membantu menyebarkan dekrit tersebut di kalangan Syiah pada zamannya.

3. Doa dan kunjungan ritual.

Doa-doa dan kunjungan ritual memainkan peranan yang paling penting sebagai media yang sangat memberikan kontribusi dalam proses penegakan doktrin kemahdian (Mahdi Muhammad bin al-Hasan) di antara Syiah, karena doa-doa dan kunjungan ritual mempunyai peranan penting yang berpengaruh secara internal dalam kehidupan orang-orang. Syiah terus menerus membaca doa-doa segera setelah setiap sholat dan setelah upacara-upacara keagamaan. Mereka juga rajin mengunjungi makam Imam yang sudah wafat setiap hari Jum’at.

Doa-doa dan kunjungan yang secara umum dilakukan oleh Syi’ah dibagi menjadi dua bagian:

A. Doa-doa yang bersifat umum

Doa-doa tersebut sebenarnya bersifat umum dan tidak spesifik ditujukan kepada Muhammad bin Hasan al-Askari, tetapi berkisar sekitar Qoim (Satu-satunya yang akan bangkit) atau bersifat umum. Contoh dari ini adalah doa untuk Tuan komando (Du’a Shohib al-Amr), merupakan do’a selama periode okultasi Imam, yang ditrasmisikan dari Imam-imam sebelumnya seperti Imam Baqir, Imam Sadiq, Imam Kadhim dam Imam Ridha. Do’a ini cocok bagi kondisi ketidakpastian terkait dengan permasalahan Mahdi itu sendiri dan tidakadanya identifikasi tentang dia pada zaman ketika para Imam masih hidup. Kita telah mendiskusikan hal ini pada bab-bab sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kata-kata dalam do’a kunjungan ritual ditransmisikan dari warisan Syiah zaman sebelumnya, misalnya dari beberapa sub sekte Syi’ah seperti al-Waqifiyyah yang percaya bahwa Imam Kadhim adalah Mahdi. Generasi Syi’ah belakangan telah menerapkan doa-doa dan kunjungan ritual tersebut kepada Muhammad ibn al-Hasan, seorang Mahdi yang dianggap wujud sesuai asumsi awal mereka. Sehingga suatu saat tercipta kondisi zaman di mana nama Mahdi kehilangan makna umumnya, dan menjadi bermakna lain, yaitu hanya Imam Muhamad bin Hassan al-Askari. Tidak lagi ada yang mempertimbangkan hal yang meragukan dari ahadits tersebut dan tidakadanya identifikasi yang jelas siapa sebenarnya Madi yang dimaksudkan oleh hadits tersebut.

B. Do’a-do’a yang bersifat khusus.

Terdapat doa-doa yang didalamnya nama Muhammad bin Hasan al-Askari disebutkan, sebagai contoh: doa pada bulan Ramadan dan doa pada saat mengawali dan mengakhiri pembacaan al-Quran. Contoh lainnya adalah doa pada hari ke-13 bulan Ramadan, doa-doa Perjanjian dan al-Nadbah. Sebagai tambahan dari itu, mereka melakukan kunjungan ritual ke makam para Imam mereka dan mengunjungi ruang bawah tanah tempat dimana Mahdi dahulunya dianggap bersembunyi di Samirra’i (Surr man Ra’a) yang dikenal sebagai Bab al-Ghoybah. Doa-doa dan kunjungan ritual ini disusun secara terpisah ataupun disertkan dalam kumpulan ahadits. Mereka juga melakukkan doa-doa umum yang nama Mahdi ditambahkan ke dalamnya.

Yang berbeda dari doa-doa dan kunjungan ritual ini adalah ketika nama Mahdi disebutkan secara khusus setelah daftar nama-nama imam satu per satu secara berurutan, mereka mengabaikan rantai transmisi (asanid) ahadits dan bergantung pada perawi yang tidak dikenal. Perlu digarisbawahi di sini bahwa do’a-do’a tersebut asalnya dari Utsman bin Saeed Al-Umari (Pengklaim Mahdi I) atau Muhammad bin Utsman al-Umari (Pengklaim mahdi II) atau Al-Hussein bin Roh Nukhbati (Pengklaim Mahdi III) atau Muhammad bin Ja’far al-Himyari – salah seorang kaki tangan al-Umari di kota Qom.

Diriwayatkan oleh Sayyid Ibnu Tawus (di Muhj al-Da’wat) sebuah do’a di mana ia melihat cocok untuk diucapkan pada hari ghoybah, dan ia mengatakan bahwa ia melihat seseorang di dalam mimpi yang memberitahu tahu dia do’a itu! (11).

Al-Majlisi meriwayatkan sebuah hadits melalui otoritas Ali bin Mohammad bin Abdul Rahman al-Bashari yang berkata: “Suatu kali saya memasuki masjid Sa’sa’ah (di Kufa). Di sana saya melihat seorang pria dengan pakaian Hijaz dan memakai sebuah turban seperti orang-orang Hijaz, mengucapkan do’a ini yang dimulai dengan kalimat: “Ya Rob-ku yang kebaikannya berlimpah ruah…”. Dan kemudian ia membungkuk untuk sujud yang panjang, setelah itu ia bangun dan duduk diatas punggung unta dan pergi. Sahabat saya kemudian berkata kepada saya: “Demi Allah, itu adalah Sahib al-Zaman” (12).

4. Ritual-ritual dan cerita-cerita yang terkait dengan melihat Mahdi di dalam mimpi.

Sebagai tambahan terhadap adanya do’a dan kunjungan ritual yang dilaporkan terkait Mahdi, ada beberapa ritual yang memainkan peranan yang penting dalam mengokohkan doktrin tentang adanya Mahdi, yang mengubah sebuah khayalan menjadi menjadi sebuah realitas di benak kaum Syiah 12-Imam. Sebagai contoh, membungkuk ketika mereka mendengar nama al-Qoim dan bangun berdiri untuk menghormati dia. Inilah yang dilakukan komunitas religius Syiah pada umumnya hari ini dan sudah dilakukan sejak zaman dahulu (sejak dipropagandakan). Dan hal ini mengakibatkan adanya rasa hormat, kagum, memuliakan dan kesadaran akan kehadiran Mahdi dan memperlakukannya seperti terhadap manusia yang hidup yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

Terdapat banyak cerita yang beredar di kalangan elit dan komunitas utama Syiah tentang melihat Mahdi dan bercakap-cakap dengannya yang dialami oleh masyarakat biasa maupun para ulama. Al-Majlisi telah meriwayatkan sejumlah besar cerita seperti ini dalam koleksinya yang berjudul Bihar al-Anwar, vol 51. Semua ini memainkan peranan penting dalam mempromosikan doktrin kemahdian dan mengubah sebuah khayalan menjadi cerita yang lebih mendekati kenyataan, terutama karena ia telah meriwayatkan kisah-kisah itu yang diatributkan kepada sekelompok orang-orang sholeh dan ulama yang zuhud dan terkemuka.

Di Kufah, di Irak terdapat sebuah masjid yang disebut masjid al-Shala yang dikenal sebagai masjid Imam Mahdi. Dikatakan bahwa barang siapa yang tekun/ khusus’ melakukan sholat di masjid itu selama empat puluh hari Rabu malam, akan bisa melihat Imam Mahdi. Terdapat beberapa masjid di sana-sini di Irak, yang dikenal sebagai Maqomat atau tempat suci Imam Mahdi. Telah didesas-desuskan bahwa Imam Mahdi pernah terlihat sholat di tempat-tempat itu dan oleh karena itu masjid-masjid dibangun tempat itu. Masjid-masjid atau tempat-tempat suci itu juga memainkan peran penting dalam mempromosikan keimanan pada doktrin kemahdian yang dikemukakan oleh Syiah 12-Imam, yang mengubah suatu dugaan/ khayalan menjadi realitas fisik yang dialami oleh orang-orang dan melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.

Dengan cara inilah, propaganda penyebaran kemahdian dengan berbagai aspeknya telah memainkan peranan yang besar dalam menyebarkan doktrin adanya Imam Mahdi dan menetapkannya dalam pikiran komunitas Syiah kebanyakan. Semua ini juga mengubahnya dari alam mitos, dugaan, khayalan menjadi fakta yang sudah jelas kebenarannya yang tidak perlu dipertanyakan, (Note: seperti kasus Yesus adalah Tuhan).

Referensi:

1. Al-Kafi vol. 1 hal. 518 dan Al-Nihayah hal. 360.

2. Al-Nu’mani: al-Ghoybah hal. 20.

3. Ibid. hal. 186.

4. Ibid. hal. 157.

5. Ibid. hal. 3.

6. Al-Kafi vol. 1 hal. 336, 340; al-Ghoybah hal. 89, 206, 208; Ikmal al-Din hal. 408; Uyun al-Akbar oleh al-Riada hal. 68.

7. Saduq: Ikmal al-Din hal. 338, 361, 409, 410, 412, 413.

8. Ibid. hal. 412, 113

9. Ibid. hal. 409.

10. Al-Sahifah al-Mahdiyyah oleh Ibrahim bin al-Muhsin al-Kashani hal. 97; Mafatih Jinan oleh Sheikh Abbas al-Qumi hal. 588; al-Syi’ah wa al-Raj’ah oleh Sheikh al-Tusi hal. 202; Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi vol. 18 hal 439.

11. Mikyal al-Makarim fi Fawa’id al-Du’a Li al-Qa’im oleh Muhammad Taqiyyu al-Musawi al-Isfahani hal. 101.

12. Al-Sahifah al-Mahdiyyah oleh al-Kashani hal. 138.

XXIII. PERAN GHULAT AL-BATINIYYIN DALAM MENCIPTAKAN DOKTRIN KEMAHDIAN

Setelah membongkar mitos bukti akal, hadits dan sejarah yang disampaikan oleh para pendukung doktrin kemahdian (percaya akan adanya Mahdi Muhammad bin Hasan al-Askari), dan bahwa hal itu hanyalah khayalan yang diciptakan oleh sekelompok orang yang bergerak di bawah tanah secara rahasia. Maka, muncul pertanyaan penting yang paling memalukan:

  • Siapa orang di balik penciptaan doktrin yang aneh ini?
  • Bagaimana mereka mampu menciptakannya?
  • Apa kepentingan mereka dibalik itu?
  • Bagaiman gambaran budaya dan iklim intelektual pada zaman itu?
  • Mengapa mereka lebih memilih opsi untuk mengatakan bahwa ada seorang anak yang lahir dari Imam Hasan, dari pada memilih opsi lain yang ada di kalangan Syiah Imamiah pada zaman kebingungan saat itu?
  • Bagaimana mereka bisa berhasil dalam menyebarkan doktrin tersebut?

Adalah tidak mungkin untuk medapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mencari solusinya yang akurat, kecuali dengan kembali ke belakang dan mempelajari situasi sejarah Syiah secara umum selama tiga abad pertama dari kelahiran doktrin tersebut. Kita harus menelusuri akar dari pergerakan kemahdian sebelumnya dan hubungannya dengan kelompok ghulat al-batiniyyin yang telah berusaha untuk tetap mengaitkan doktrin mereka dengan Nabi, Imam Ali dan beberapa Imam keturunannya.

Hubungan antara Kemahdian dan ghulat yang terjadi pada zaman sebelum Imam al-Askari.

Di bagian 2 kami telah mengungkapkan kisah tentang munculnya sekitar 20 (dua puluh) pergerakan Mahdi, yang sebagian besar darinya diciptakan oleh sekte ghulat. Kita telah melihat bahwa doktrin kemahdian yang pertama dalam sejarah Syiah adalah tentang Amir al-Mukminin Ali bin Abi Tholib (AS) yang telah diciptakan oleh ekstremis al-Sab’iyya yang menganut keyakinan secara ekstrim terhadap pribadi Imam Ali dan mengangkat dia hingga ke status keilahian. (1)

Doktrin kemahdian kedua adalah tentang Muhammad bin Hanafiyyah, yang diciptakan oleh ekstremis sekte Kisaniyyah, yang dipengaruhi oleh faksi Karbiyyah yang merupakan bagian dari ekstrimis Sab’iyya. (2)

Seorang ekstremis sekte Kisaniyyah yang bernama Hamzah bin Ammara al-Barbariyyi telah mengembangkan doktrin kemahdian Ibnu Hanafiyyah dan menyatakan bahwa ia adalah Tuhan dan Karb adalah Nabinya, sementara ia sediri merepresentasikan sebagai seorang imam yang ditunjuk oleh Tuhan. (3)

Setelah itu beberapa sub sekte muncul dari gerakan sekte ghulat. Salah satu darinya dikenal sebagai sekte Bayaniyyah yang dipimpin oleh Bayan al-Nahdi mengumumkan kemahdian dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyyah dan kemudian mengklaim untuk dirinya bahwa ia wakil mahdi dan kenabian dari Abu Hasyim. (4)

Pecahan lain dari sekte ghulat Kisaniyyah yang juga dikenal sebagai al-Janahiyyah juga mengumumkan kemahdian dari Al-Tha’ir al-Talibi (Abdullah bin Muawiyah bin Jaafar Al-Tayyar) (5).

Epidemi paham ghulat ditularkan dari sekte Kisaniyyah kepada sub sekte Zaidiyyah, yang mengumumkan kemahdian dari Dhi al-Nafs al-Zakiyyah (Muhammad ibn Abd Allah ibn al-Hasan ibn al-Hasan), dimana beberapa dari mereka menolak untuk mengakui kematiannya dan berkata bahwa ia telah pergi okultasi (ghoybah). Apa yang terjadi pada gerakan Kisaniyyah juga terjadi pada mereka, ketika seorang yang bernama Mughirah bin Sa’id mengembangkan doktrin kemahdian dan mengklaim Imamah untuk dirinya sendiri dalam kondisi tidak adanya Dhu al-Nafs al-Zakiyya dan kemudian mengembangkan lebih jauh dengan mengklaim bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rosul dan ia mendapat wahyu dari Tuhan melalui Jibril, sebagaimana yang diceritakan oleh Nukhbati dan Ash’ari. (6)

Setelah itu semangat ghulat disebarkan oleh sekte al-Mughiriyyah ke sekte al-Khattabiyyah, yaitu para pengikut Abu al-Khattab Muhammad bin Zaynab Al-Ajda’, yang telah melebih-lebihkan Imam Shadiq (AS) dan mengkultuskan dia. Ia mengumumkan Imamah bagi Ismail bin Jafar as-Sadiq dan menolak untuk mengakui kematiannya pada saat ayahnya masih hidup, dan mereka mengumumkan Ismail sebagai Mahdi dan pergi bersembunyi/ okultasi (ghoybah).

Dekat dengan iklim ekstremisme yang tidak logis itu, sub sekte yang lain dari kelompok Syiah Imamiyah Fat-hiyyah mengumumkan kemahdian dari Muhammad bin Abdullah al-Aftah bin Ja’far al-Shadiq. Dan ini merupakan klaim kemahdian yang plaing aneh pada zaman itu, karena nama Mahdi yang diumumkan adalah orang khayalan yang tidak pernah ada. Klaim ini terjadi setelah meninggalnya Imam Abdullah Al-Aftah yang tanpa meninggalkan seorang putra sebagai penerus keimamahan beliau. Mereka mereka-reka adanya anak dari Imam Abdullah karena keyakinan mereka pada perlunya keberlanjutan Imamah secara turun-temurun hingga hari kiamat, dan tidakdipoerbolehkannya dua orang bersaudara menjadi Imam secara berurutan. Pada mulanya pengumuman tentang adanya Muhammad bin Abdullah al-Aftah adalah semata-mata hipotesa filosofis (bahasa keren dari “khayalan”), tetapi setelah itu mereka membuat sejumlah kisah palsu yang berisi tentang pertemuan dengan Mahdi dan menyaksikan Mahdi di sini dan di sana. Mereka juga mengarang cerita tentang beberapa mu’jizat untuk menunjukkan bahwa Mahdi Muhammad bin Abdullah benar-benar ada. (Note: cara atau jalan inilah yang di kemudian hari ditempuh oleh suatu sekte Syi’ah setelah wafatnya Imam al-Askari yang pada faktanya tidak mempunyai anak. Nama anak “khayalan” tersebut juga Muhammad. Sekte ini pada zaman ini dikenal dengan sebutan Syiah 12 Imam, yang sedang mencoba untuk menyebarkan doktrinnya dengan sebutan yang memikat “mazdab Ahlul Bait”).

Pecahan dari sekte-sekte ini, ada sub sekte Syiah Imamiyah lainnya yang dipengaruhi oleh sekte ghulat yang bernama al-Waqifiyyah, yang mengumumkan kemahdian dari Imam Musa al-Kazim (AS) dan ghoybahnya dan kelangsungan hidupnya hingga waktu yang tidak diketahui. Beberapa diantaranya mengklaim bahwa Imam Kazim telah meninggal dan bangkit dari kematiannya dan pergi bersembunyi di tempat yang dirahasiakan.

Sebagaimana kasus Syiah Kisaniyyah dan Zaidiyyah yang mengeksploitasi beberapa tokoh kunci mereka untuk menyebarkan doktrin kemahdian dan klaim Imamah atau kenabian, satu dari pendukung Waqifiyyah yang bernama Muhammad bin Bashir al-Kufi mengklaim bahwa dirinya khalifah dan sebagai wakil khusus Imam Kazim dan bisa bertemu dengan Imam Kadhim di tempat peresembunyiannya. Ia melakukan hal ini dalam rangka memperoleh manfaat yang besar secara finansial dan politik. Ia kemudian memindahkan jabatannya sebagai wakil Mahdi kepada anaknya, Sami’, dan kepadanya diberikan surat wasiat setelah kematiannya. Dia berkata: Ia adalah Imam yang kepadanya ketaatan adalah wajib bagi semua orang, hingga munculnya Musa (Kadhim). Sehingga khumus yang dikenakan atas kekayaan mereka dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, harus diberikan kepadanya hingga Qa’im muncul. (10) (Note: di kemudian hari, cara ini juga ditempuh oleh pendukung sekte Syi’ah 12 Imam, yaitu yang dilakukan oleh puluhan orang yang mengklaim menjadi wakil khusus Mahdi khayalan Imam ke-12. Namun yang berhasil mengecoh masyarakat Syiah pada zaman itu hanya seorang, yaitu Usman bin Said al-Umari (wakil Mahdi ke-1). Dia juga mewariskan klaimnya sebagai wakil Mahdi kepada anaknya).

Menurut Nukhbati dan Ash’ari: Mohamad bin Bashir adalah ghulat tingkat tinggi dalam mengatakan tentang adanya reinkarnasi, pendelegasian (al-tafwid) dan pembolehan (al-Ibahah) secara mutlak. (11)

Tafsir Batiniyyin

Selain mengumumkan kemahdian dan berlebih-lebihan dalam mengkultuskan Imam, yang mempunyai ciri sebagai bagian dari gerakan Islam Syi’ah secara luas, ada juga paradigma tafsir batiniyyin. Pada kenyataannya kebanyakan dari ajaran/ doktrin palsu tersebut tidak akan tegak dan diterima, kecuali dengan melakukan penafsiran ulang pada setiap peristiwa dan pernyataan dalam ahadits dan menolak mengakui fakta-fakta sejarah yang nyata terlihat dengan indera. Mereka juga mengarang cerita suatu kejadian atau menciptakan tokoh yang tidak pernah ada, seperti menolak untuk mengakui wafatnya Amir Al-Mukminin Ali bin Abi Thalib atau wafatnya Muhammad bin al-Hanafiyyah, atau wafatnya anaknya – Abu Hasyim, atau wafatnya Dhu al-Nafs al-Zakiyyah, atau wafatnya Imam Sadiq, atau wafatnya putranya – Ismail, atau wafatnya Imam al-Kadhim, dan menciptakan adanya anak (khayalan) dari Abdullah al-Aftah yang wafat tanpa meninggalkan anak yang dikenal secara umum, dan mengumumkan bahwa ia mempunyai seorang anak secara rahasia yang ia sembunyikan dalam rangka taqiyyah (khawatir akan dizalimi oleh rezim kejam anti Syiah).

Khattabiyyah, para pengikut Muhammad bin Abi Zainab Al-Ajda’ biasa menganut bentuk yang lebih parah dari pada keyakinan ghulat pada Imam Shadiq dan percaya bahwa ia adalah Tuhan. Dan benar bahwa beberapa anggota dari kelompok ini pergi haji ke Bait Allah di Mekah sambil mengucapkan: “Kami datang – memenuhi panggilanmu – wahai Ja’far (Labbayka yaa Ja’far Labbayk). Imam Shadiq merasa terganggu dengan perilaku mereka, lalu bersujud ke tanah, mencela mereka dengan keras dan kemudian mengutuk Abu Al-Khattab. Beberapa dari pengikut Al-Khattab pergi menghadap kepadanya dan mengatakan kepadanya bahwa Imam Sadiq telah mengutuk dirinya, dan ia menanggapi mereka dengan mengatakan bahwa Imam sebenarnya tidak mengutuk dirinya, tetapi mengutuk orang lain yang namanya sama di Basrah, sementara dirinya tinggal di Kufah. (Note: dengan latar belakang seperti ini, maka bukan merupakan sesuatu yang aneh jika Syiah hari ini masih mewarisi kebiasaan menyeru Imam mereka seperti: ya `Ali, ya Husein dll, walau mereka tidak separah para pendahulunya yang menganggap para Imam sebagai Tuhan).

Para pengikutnya kemudian kembali menemui Imam Shadiq di kota dan menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh Abu al-Khattab; dan Imam kemudian secara terperinci menyebutkan identitasnya dengan menyebut namanya dan nama keluarganya, tempat tinggalnya dan semuanya yang spesifik dari dirinya dan mengulangi kutukannya dan berlepas dari ucapan al-Khattab. Ketika para pengikutnya kembali memberitahu kepadanya tentang jawaban Imam, Abu al-Khattab menolak untuk mencabut ucapannya dan tetap bersikukuh pada pendiriannya. Ia tidak hanya melanjutkan klaimnya berafiliasi dengan Syiah dan mempertalikan keturunanannya dengan Imam Sadiq, namun ia bahkan secara rahasia tetap mengatributkan kata-kata dari dirinya kepada Imam. Menurut dia, Imam secara terbuka telah mengutuknya, sehingga ia harus menjaga doktrin dari Imam seperti yang dilakukan oleh Khidr dengan merusak kapal untuk menyelamatkannya dari dirampas dan disita. Ia kemudian membacakan ayat berikut: “Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera“ al-Kahfi:79. (12) (Note: Syiah hari inipun jika kepada mereka diungkapkan hadits dari salah seorang Imam yang disampaikan kepada umum yang isinya menentang doktrin mereka, maka merekapun akan mengatakan bahwa itu diucapkan oleh Imam dalam keadaan taqiyyah. Demikian juga dalam menafsir al-Quran, mereka menakwil (memesongkan) kata yang sudah jelas maknanya disesuaikan dengan doktrin mereka).

Baatiniyyin biasa mengatributkan banyak ucapan dan pandangan mereka kepada para Imam dari keturunan Ali (AS) secara rahasia yang isinya bertentangan dengan apa yang secara umum dan terbuka diajarkan oleh para Imam kepada orang-orang, yang oleh karenanya bertentangan dengan posisi yang sebenarnya dari para Imam. Ketika para Imam menyangkal ucapan-ucapan yang aneh seperti itu dan mengutuk atau menolaknya, maka Baatiniyyin tetap berpegang teguh pada kata-kata mereka dan menafsirkan penolakan Imam terhadap klaim mereka sebagai taqiyyah dan khawatir akan adanya bahaya ketika mengungkapkan kebenaran atau adanya bahaya ketika membicarakan tentang sesuatu yang tidak diterima masyarakat. Terlepas dari palsunya pernyataan tanpa bukti perihal taqiyyah dan pengatributannya kepada anggota/ Imam keturunan Ali dengan suatu cara yang bertentangan dengan kejujuran dan dalam rangka pelestarian ajaran Aimmah, pada kenyataannya Batiniyyin mengatur permainan dengan peran yang besar dalam sejarah Syiah. Mereka menyesatkan masyarakat dari ajaran yang dianut Imam Ali dan keturunannya, sepanjang zaman hingga era Imam Hasan al-Askari, yang meninggal dunia tanpa meninggalkan seorang anakpun dan ia menyatakan dalam wasiatnya bahwa hartanya diberikan kepada ibunya. Siapa – pada zaman itu – yang mengatakan bahwa dia mempunyai seorang anak?. Kenyataan ini telah diterima oleh seluruh umat Islam pada zaman itu dan sebagian besar masyarakat Syiah, yang kemudian mereka mengumumkan Jafar bin Ali al-Hadi sebagai Imam yang ditunjuk, sementara yang lain menganggap bahwa Imamah telah berhenti dan yang lain tetap berpegang pada prinsip syura’. Namun demikian, kelompok ghullat al-batiniyyin telah menolak kenyataan itu, dan bersikeras menciptakan adanya kisah rahasia dan mengklaim bahwa Imam Hassan al-Askari mempunyai seorang anak tersembunyi yang dirahasiakan karena khawatir dibunuh (oleh musuh) dan juga karena praktek taqiyyah. Pecahan Syiah yang lain mengoreksi keyakinan mereka dan tidak percaya pada Imamah Hasan al-Askari, dan mengumumkan kemahdian dari Muhammad bin Ali al-Hadi yang ternyata meninggal ketika ayahnya masih hidup, dan mereka menolak untuk mengakui kenyataan tersebut, dan bersikeras dengan mengatakan bahwa ia pergi bersembunyi (ghoybah) dan hidupnya akan berlanjut hingga hari yang tepat untuk munculnya Mahdi. Hal ini benar-benar mirip dengan sub sekte Isma’iliyyah yang menolak untuk mengakui wafatnya Ismail bin Ja’far al-Shadiq dan menafsirkan jalannya proses penguburan yang dilakukan oleh Imam Sadiq sebagai drama di depan publik.

Para ulama terdahulu dari sekte syiah 12 Imam seperti Mufid, Murtadha dan Tusi telah menolak pendekatan yang dilakukan oleh Batiniyyin sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syiah sebelumnya yang menolak untuk mengakui wafatnya Imam Ali atau anaknya (Muhammad bin Hanafiyyah) atau anaknya (Abu Hasyim) atau wafatnya Imam Sadiq atau anaknya (Ismail) atau wafatnya Imam Musa al-Kadhim, atau wafatnya al-Askari, atau saudaranya (Mohammad), dengan alasan yang sederhana karena logika batiniyyah mereka melanggar realitas, yang dianggap sebagai bukti oleh orang-orang. Walaupun orang yang mengklaim adanya Imam Muhammad bin Hasan al-Askari sendiri, pada kenyataannya mengikuti logika al-batiniyyin. Karena, mereka tidak mengakui bahwa Imam al-Askari tidak pernah menyebutkan tentang lahirnya Muhammad dan tidak mengakui adanya wasiat yang diberikan kepada ibunya ketika dia meninggal dan menafsirkan kejadian ini sebagai bentuk kekhawatiran terhadap musuh dan taqiyyah. Tanpa mempedulikan apakah klaim ini benar atau tidak dan tanpa memperhatikan kondisi obyektif pada zaman sekitar wafatnya Imam al-Askari, pernyataan bahwa ia mempunyai seorang anak secara rahasia itu sendiri adalah merupakan bentuk klaim al-batiniyyin yang berlawanan dengan realitas yang sebenarnya.

Al-Nushoyriyyah (atau Al-Numayriyyah)

Kami juga telah melihat bahwa sebagian besar dari ahadits yang membicarakan tentang kelahiran Mahdi dan bahwa ia pernah terlihat pada saat ayahnya masih hidup, adalah sebagai hasil keterlibatan ektremis ghullat, demikian juga tentang adanya pengetahuan pada sesuatu yang ghoib pada Imam dan sebagainya, juga merupakan bagian dari ide ghullat yang lain yang dipegang oleh sekte ghullat. Perlu sejenak untuk memperhatikan sub sekte ghullat yang lain yang dikenal sebagai al-Nushoyriyyah atau al-Numayriyyah yang ditegakkan untuk menghormati Imam Ali bin Muhammad al-Hadi, di tangan Muhammad bin Nusair al-Nushoiri (atau Numairi) yang merupakan salah seorang pemimpin Syi’ah di Basra.  Orang ini mengangkat derajat Imam Hadi hingga status keilahian, dan mengklaim untuk dirinya sendiri pangkat kenabian dan kerasulan dari Imam Hadi, dan ia berkhotbah (atau percaya pada) reinkarnasi. (13)

Setelah wafatnya Imam Hadi, ekstrimis Nushoyri ini mengabdikan dirinya kepada anak Imam  Hadi (Imam Hasan al-Askari). Dan setelah Imam al-Askari wafat ia adalah salah seorang yang paling bersemangat dalam mengkampanyekan adanya (lahirnya) secara rahasia anak Imam Askari yang bernama Muhammad bin Hasan al-Askari. Ia tentu saja mengklaim bahwa ia adalah pintu untuk berhubungan dengan Imam yang bersembunyi Muhammad bin Hasan al-Askari dan sebagai wakil khususnya. Di kemudian hari ia mengklaim kenabian yang ia sampaikan kepada sejumlah pengikutnya. (14)

Al-Mukhammisah (yang lima)

Selain Nushoyriyyah, pada zaman itu terdapat ghullat yang berdiri sendiri dan ghullat yang ada di antara Syiah Imamiah, yang merupakan pecahan dari al-Nushoyriyyah. Sub sekte ghullat ini dikenal seabagi al-Mukhammisah yang menurut Sa’ad bin Abdullah Al-Ash`ari al-Qumi dalam al-Maqalat wa al-Firaq, mereka percaya bahwa: “Muhammad adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyatakan dirinya dalam 5 bentuk yang berbeda. Ia nampak dalam wujud Muhammad, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussein. Empat dari lima bentuk ini, katanya, adalah bayangan dan tidak benar-benar nyata, sedangkan bentuk yang kelima adalah Muhammad yang merupakan esensi dan nyata. Ia adalah orang pertama yang akan muncul dan yang pertama yang akan berbicara. Ia akan tetap eksis dalam setiap pribadi di antara ciptaannya, mampu berubah bentuk sesuai keinginanya, baik berwujud lelaki ataupun wanita, sebagai orang tua atau orang dewasa atau anak-anak. Kadang-kadang muncul sebagai ayah dan kadang-kadang sebagai anak dan ia tidak beranak atau diperanakkan. Ia berinkarnasi pada seorang suami atau seorang istri, tetapi ia hanya muncul di dalam diri manusia sedemikian rupa sehingga ciptaannya akan menemukan penghiburan padanya dan tidak akan mampu dibedakan dengan Tuhan mereka. (Note: bisa jadi penempatan posisi Ali, Fatimah, Hasan dan Husein di atas manusia rata-rata diilhami atau berasal dari paham di atas).

Sekte ini juga mengatakan bahwa Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa tidak lain adalah Muhammad yang hadir di Arab maupun non Arab. Dan dia menunjukkan dirinya pada ciptaannya di setiap zaman dan waktu, dan menjadikan dirinya terlihat dengan cahayanya. Ia memanggil mereka untuk mengakui ketunggalannya dan mereka yang menentangnya maka ia akan menjadikan dirinya nampak bagi mereka melalui pintu kenabian tetapi mereka gagal untuk memenuhinya.  Ia kemudian muncul pada mereka melalui pintu Imamah, dan mereka menerima panggilannya. Sehingga secara nampak dari luar Ia adalah Imam dan secara internal ia adalah Tuhan yang esensinya adalah Muhammad yang disadari oleh sedikit orang yang dipilih oleh Muhammad dan cahaya yang diberikan kepada mereka. Dan mereka yang tidak termasuk orang-orang elite berderajat adalah manusia yang terbuat dari darah dan daging. Itulah Imam…(Note: bisa jadi ajaran tentang nur Muhammad diilhami atau merupakan varian dari di atas).

Sekte ini berkata: “Semua tokoh Syiah zaman dahulu seperti Abu Al-Khattab, Bayan, Sa’id, Mughirah, Hamzah, Bazi’, Sirri dan Mohamad bin Bashir adalah para Nabi dari Pintu-pintu melalui perubahan badan dan perubahan nama, dan yang mereka maksudkan sebagai sesuatu yang sama adalah Salman, dimana dia merupakan Pintu, Rosul, tetapi yang dimaksudkan adalah satu dan sama, yang nampak bersama-sama dengan Mohammad dalam setiap bentuk penampakan. Ia adalah Rasul Muhammad yang melekat pada dia, dan Muhammad adalah Tuhan” (15)

Ash’ari Al-Qumi menyatakan bahwa Nusayriyyah telah dilaknat oleh Allah karena mereka meski menyatakan diri sebagai Syiah namun dalam hatinya Majusi, mereka mengklaim bahwa Salman (semoga Allah merahmati dia) adalah Tuhan, dan bahwa Muhammad menyeru orang-orang kepadanya, dan Salman selalu menunjukkan dirinya kepada pemeluk semua agama. Jadi dalam segala hal mereka menganut paham Majusi (penyembah api). (16)

Syiah Karkh pada zaman itu merupakan sub sekte al-Mukhammisah (yang percaya pada reinkarnasi Tuhan kepada yang lima). Menurut Syaikh al-Tusi dalam al-Ghaybah: tidak ada keraguan tentang ini. (17)

Otoritas tertinggi (Syeikh) komunitas Syiah di Karkh pada zaman itu, yaitu: Ahmad bin Hilal Al-Ibrata’i, adalah tokoh ghullat terbesar. Al-Hussein bin Ruh Nukhbati (pengklaim wakil Mahdi ke-3) telah menyampaikan sebuah laporan yang mengutuk secara serius dan menolak mereka yang tidak mengutuk dia. Al-Ibrata’i adalah otak utama dibalik proses penciptaan doktrin bahwa Imam Hasan al-Askari mempunyai seorang anak secara rahasia. Namun Al-Ibrata’i adalah ajudan terdekat Usman bin Said al-Umari (wakil Mahdi ke-1) yang telah banyak mendukung dia dalam hal pengakuannya sebagai wakil Mahdi. Ia kemudian berselisih dengan anaknya – Muhammad (wakil Mahdi ke-2) dan kemudian dia sendiri (Al-Ibrata’i) mengklaim sebagai wakil Mahdi. (Note: Dari informasi ini dapat dilihat dengan jelas adanya kaitan yang erat antara doktrin Syiah 12 Imam dengan doktrin ghulat, yaitu melalui wakil Mahdi ke-1 yang ternyata ia berhubungan dekat dengan tokoh besar ghulat al-Ibrata’i).

Al-Mufawwidah (yang mendelegasikan)

Pada zaman itu terdapat sekte ghulat lainnya di kalangan masyarakat Syiah yang dikenal sebagai al-Mufawwadah, yang merupakan pecahan dari sub sekte ghullat al-Numayriyyah dan al-Mukhammisah. Diantara keyakinan pokok sub sekte al-Mufawwadah adalah bahwa “Allah menunjuk seorang yang sempurna, tidak lebih dan tidak kurang, Ia menugasi dia berjalannya semua urusan dan ciptaan. Orang ini adalah Muhammad, Ali dan Fatima, Hassan dan Hussein dan imam-imam lainnya, dan mereka ini esensinya sebenarnya satu, walaupun mempunyai banyak nama. Orang yang sempurna ini, yaitu Muhammad, menurut mereka – adalah orang yang menciptakan langit dan bumi, gunung-gunung, manusia dan jin dan keseluruhan alam dengan segala isinya. (18)

Setelah wafatnya Imam Hasan al-Askari, penganut sekte ini telah memaksakan diri menciptakan mitos bahwa Imam mempunyai anak secara rahasia, yaitu dalam rangka melestarikan doktrin satu-satunya yang sempurna (al-Wahid al-Kamil) dimana dia, menurut mereka, harus mengendalikan alam semesta, menciptakan dan menyediakan kebutuhan hidup (makhluqnya).

Namun demikian sub sekte Syi’ah sisanya tidak percaya pada ide-ide (hasil khayalan-khayalan) ghuluw mereka. Tentu saja telah terjadi semacam konflik dan perselisihan di antara kedua kelompok berbeda ini dan mereka meminta penyelesaian kepada Mohammed bin Othman al-Umari dalam kapasitasnya sebagai wakil I dari Tuan zaman (Sahib al-Zaman) pada zaman itu dan memintanya untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, dan terhadap permintaan itu ia mengeluarkan kepada mereka sebuah deklarasi yang berisi penolakan terhadap doktrin “pendelegasian dari satu-satunya yang sempurna”, dan menegaskan adanya keterlibatan para Imam dengan meminta kepada Allah untuk menciptakan maka Dia menciptakan atau menyediakan rizqi maka Dia memberikan rizqi. (19)

Jawaban al-Umari kepada mereka tersebut pada kenyataannya adalah bentuk yang lebih ringan dari doktrin pendelegasian (al-Mufawwidah), sesuatu yang mengindikasikan adanya hubungan dia dengan doktrin tersebut dan hubungan antara kepercayaan akan adanya Muhammad bin Hasan al-Askari dengan sub sekte ghulat tersebut.
Hal ini ditegaskan oleh Al-Hussein bin Ruh Nukhbati dalam tanggapannya tentang perbedaan paham antara Syi’ah pada pada zaman itu perihal pertanyaan tentang doktrin pendelegasian (doktrin satu-satunya yang sempurna), dan perjalanan dia menemui Abu Tahir Ibn Bilal (salah seorang pendukung doktrin Kemahdian) untuk mendiskusikan topic tersebut, dan ia mengeluarkan hadits dari Abu Abdullah (AS) yang mana ia mengatakan bahwa: “Sesungguhnya Allah jika menghendaki suatu urusan, maka Dia akan menghadirkannya kepada Rasulullah, kemudian kepada Amirul Mukminin, kemudian kepada imam-imam yang lain, satu demi satu….hingga hal itu mencapai kepada Tuan dari zaman (Sahib al-Zaman) dan kemudian urusan itu hadir ke dunia. Dan, jika para malaikat ingin mengangkat suatu urusan kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah melalui mereka, urusan itu akan dihadirkan kepada Tuan zaman (Sahib al-Zaman) dan kemudian akan dihadirkan kepada para imam satu demi satu hingga sampai kepada Rasulullah, kemudian urusan itu akan dihadirkan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Jadi, apapun yang turun dari Allah, adalah melalui tangan mereka, dan apapun yang naik kepada Allah adalah melalui tangan mereka, dan semua itu tidak pernah lepas bagi Allah SWT meski hanya sekejap mata. (20)

Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan para imam (karena harus melalui mereka) ketika Allah menjalankan semua urusan di alam semesta, yang merupakan bentuk lain dari sub doktrin pendelegasian.

Muhammad ibn al-Hasan al-Saffar al-Qumi, penulis buku Basa’ir al-Darajat – yang hidup pada zaman kebingungan (Ashr al-Hayra) dan merupakan salah seorang tokoh doktrin Kemahdian dari Syiah Dua Belas Imam, meyakini beberapa jenis pendelegasian para imam dalam perundang-undangan dan pengaturan kehidupan. Ia berkata: “Saya menemukan dalam sebuah buku kuno diantara “Nawadir” dari Muhammad bin Sinan yang mengatakan bahwa: “Abu Abdallah berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak pernah mendelegasikan otoritas-Nya kepada salah satu ciptaan-Nya, selain kepada Rasulullah dan para Imam’. Maka ia berkata: ‘Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) sebuah Kitab (Quran ini) dalam kebenaran, agar kamu memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Allah perlihatkan kepadamu (yaitu: yang diberikan kepadamu melalui wahyu ilahiah), dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat Al-Nisa’:105. Hal ini hanya bisa diterapkan kepada para pemegang perjanjian” (21)

Sangat jelas bahwa teori ini berisi paham ghulat dengan tingkat tertentu, yang tidak mencapai derajat pendelegasian dalam penciptaan dan penyediaan rizqi dan pengelolaan urusan alam semesta. Al-Saffar menganut paham ghulat mengenai para imam, yang bisa dibuktikan melalui bukunya (Basa’ir al-Darajat) yang penuh dengan paham-pahan yang ditolak oleh Syiah hari ini.

Beberapa orang Syi’ah dari Nisyapur adalah ghulat tingkat tinggi karena meyakini tentang pengangkatan (al-Irtifa’) dan pendelegasian (al-Tawfid) berkaitan dengan para Imam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kashi dalam biografi al-Fadl bin Syadhan.

Secara umum, paham dan berbagai madrasah doktrin ghulat telah tersebar di antara masyarakat Syi’ah pada pertengahan abad ketiga Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Hibat al-Din Al-Shahristani, dalam kata pengantarnya pada buku Syaikh Mufid (Awa’il al-Maqalat). (22)

Orang-orang seperti Ja’far bin Muhammad bin Maalik Fazari, Adam al-Balkhi, Ahmed al-Razi dan Al-Hussein Bin Hamdan Al-Khussaiby telah memainkan peran utama dalam penyebaran doktrin keberadaan Imam Mahdi, dan menciptakan ahadits palsu tentang kelahirannya dan pertemuannya dengan Mahdi. Mereka ini bagian dari ghulat tingkat tinggi dimana semua otoritas Syi’ah kontemporer telah menolak ahadits mereka.

Referensi:

  1. Mukhbati: Firaq al-Syi’ah hal. 22 dan Al-Ashari al-Qumi: al-Maqalat wa al-Firaq hal. 20.
  2. Firaq al-Syi’ah hal. 27 dan al-Maqalat hal. 27.
  3. Firaq al-Syi’ah hal. 28 dan al-Maqalat hal. 33.
  4. Firaq al-Syi’ah hal. 29, 31, 34 dan al-Maqalat hal. 34 – 37.
  5. Firaq al-Syi’ah hal. 35 dan al-Maqalat hal. 44.
  6. Firaq al-Syi’ah hal. 63 dan al-Maqalat hal. 77.
  7. Firaq al-Syi’ah hal. 68-69 dan al-Maqalat hal. 81.
  8. Al-Maqalat hal. 88.
  9. Firaq al-Syi’ah hal. 80 dan al-Maqalat hal. 90.
  10. Firaq al-Syi’ah hal. 83-84 dan al-Maqalat hal. 91.
  11. Ibid.
  12. Al-Maqalat hal. 51.
  13. Al-Maqalat hal. 101 dan Al-Hilli: Al-Khulasah al-Fa’idah al-Sadisah hal. 273.
  14. Al-Khulasah hal. 273, Tarikh al-A’immah (oleh Sheikh al-Aqdam ibn Abi al-Thalj Baghdad) hal. 20, al-Ghoybah (oleh Tusi) hal. 244, al-Maqalat hal. 101 dan Bihar al-Anwar (oleh al-Majlisi) vol. 51 hal. 367.
  15. Al-Maqalat hal. 58.
  16. Ibid. hal. 62.
  17. Ibid. hal. 256.
  18. Ibid. hal. 61.
  19. Al-Ghoybah (oleh Tusi) hal. 178.
  20. Ibid. hal. 238.
  21. Basha’ir al-Darajat (oleh al-Saffar) hal. 386.
  22. Ibid. hal. 173.

XXII. KRITIK TERHADAP TANDA-TANDA MUNCULNYA MAHDI

Meski kurangnya justifikasi yang nyata tentang doktrin okultasi, para pendukungnya menjelaskannya dengan cara mengungkapkan tentang upaya otoritas Abbasiyah yang menyelidiki dan mencari Imam Mahdi untuk menahannya. Namun, pada saat yang sama mereka menyampaikan bahwa Imam Mahdi bersembunyi di rumah ayahnya di pusat kota kekhalifahan Abbasiah (Samirra’i) untuk waktu yang lama, yang mana hal ini bertentangan dengan filsafat kebijaksanaan di balik ghoibah (kalau memang benar-benar terjadi), yaitu kekhawatiran dan berpura-pura (taqiyyah). Karena, jika keberadaan mahdi memang nyata, maka dia seharusnya pindah pergi menjauh dari cengkraman kekuasaan Abbasiah dan bersembunyi di daerah terpencil di negeri tersebut.

Karena doktrin okultasi (ghoybah), khususnya yang terlalu lama, bertentangan dengan filosofi Imamah, yang pada awalnya diyakini sekitar enam hari atau enam bulan atau enam tahun, maka setelah itu mereka mengubahnya menjadi menjadi tiga puluh tahun atau empat puluh tahun atau seratus dua puluh tahun, menurut berbagai hadits yang dikutip oleh al-Tusi dalam Al-Ghoybah hal. 76-78.

Periode okultasi tidak pernah bisa dibayangkan melebihi jangka waktu kehidupan manusia normal. Itulah mengapa Syekh Saduq (dalam Ikmal al-Din) telah menolak klaim Al-Waqifiyyah yang mengatakan terjadinya ghoybah Imam Musa al-Kadhim, karena pada abad keempat AH masa hidup Imam Musa telah melebihi kehidupan alamiah manusia normal, yaitu usia beliau pada saat itu (jika hidup dalam persembunyiannya) telah mencapai sekitar 200 (dua ratus) tahun.

Bagaimanapun, hadits-hadits yang berbicara tentang tanda-tanda kemunculannya, merupakan bukti lebih lanjut untuk menilai sejauh mana validitas dari doktrin kemahdian Imam Muhammad bin Hasan al-Askari), karena pada zaman itu mereka menyebutkan bahwa Mahdi akan muncul setelah jatuhnya dinasti Umayyah, dan membalas dendam kekejaman Bani Umayyah. Mereka juga menyebutkan bahwa Mahdi akan muncul di era Abbasiyah, atau pada atau akhir dari era tersebut, karena adanya konflik internal Abbasiah di antara mereka sendiri. Dan menurut hadits-hadits lain yang disebutkan oleh al-Tusi dan Numani dan Kulayni, Mahdi akan muncul setelah terbunuhnya Dhu al-Nafs al-Zakiyya (Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Ali bin Abu Tholib).

Beberapa hadits mengungkapkan bahwa Mahdi harus menaklukkan Konstantinopel, yang telah lolos dari kendali umat Islam selama berabad-abad, dan akan menaklukkan Daylam, Sindh dan India, Kabul dan Al-Khizr. Semua peristiwa penting ini telah terjadi tetapi pada kenyataannya Mahdi yang dijanjikan itu tidak pernah muncul. Jadi, semua ini menunjukkan dhaifnya ahadits tersebut atau berkaitan dengan lemahnya kredibilitas orang yang melaporkan.

Beberapa hadits juga melaporkan hal-hal yang aneh yang tidak akan mungkin terjadi hingga hari kiamat atau setelah kehancurannya. Ahadits itu berisi tentang hilangnya cahaya matahari dan terbitnya dari arah barat, lama sehari hingga 240 jam dan bangkinya orang mati dari kuburan mereka, yang benar-benar tidak mungkin terjadi pada saat munculnya Mahdi, yang mana hal itu mungkin terjadi pada hari kiamat.

Beberapa ahadits berbicara tentang keajaiban teknologi seperti berbicara dengan Al-Qo’im (yang akan muncul) dan melihatnya dari jauh (layaknya perangkat siaran langsung televisi melalui satelit) yang justru perangkat seperti ini telah terjadi pada zaman ini dan sudah terlanjur tidak di tangan Qaim, yang mencegah kita untuk menganggapnya sebagai mukjizat mukjizat (Mahdi).

Sementara yang lain menyebutkan tentang kejadian di luar kejadian normal yang tidak sesuai dengan hukum alam (sunnatullah), seperti lelaki yang melahirkan anak bukannya wanita, setiap darinya melahirkan ribuan anak, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mufid.

Patut disebutkan bahwa semua ahadits berkaitan dengan hal ini adalah ahadits yang sanadnya terputus atau ditrasmisikan oleh orang yang tidak dikenal, ghullat dan para pemalsu hadits. Mereka juga tidak pernah menyebutkan identitas Mahdi secara khusus, tetapi menyebutkannya secara umum. Hal ini memberikan kesan bahwa ahadits tersebut mungkin telah dikembangkan atau diciptakan oleh gerakan Mahdiism sebelumnya pada abad pertama Hijriah, yang oleh karena itu merupakan bukti tambahan bahwa doktrin kemahdian telah berevolusi seiring dengan berjalannya waktu, yang kemudian dipakai oleh para pendukung doktri kemahdian dari Muhammad bin Hasan al-Askari dengan menerapkan/ menggunakan ahadits palsu zaman dahulu ketika membicarakan Muhammad bin Hasan al-Askari.

XXI. SITUASI POLITIK PADA ZAMAN IMAM AL-ASKARI DAN SESUDAHNYA.

Bagian I: Rezim Abbasiyah

Abbasiyah kedua berbeda dengan pendahulunya karena didominmasi oleh para bekas budak Turki yang mengendalikan jalannya pemerintahan, dan pengaruh mereka dalam penunjukan Khalifah pengganti dan menghilangkan peran/ kekuasaan bani Abbasiyah, seperti Baqir, seorang Turki yang membunuh Mutawakkil (memerintah 232 – 246 H) sebagai akibat dari konflik internal dalam rumah kekuasaan, dan karena adanya perbedaan antara pilar penguasa dan kekuatan bersenjata. (1)

Putra dari Mutawakil – Muhammad Muntasir – mewarisi ayahnya menduduki tahta kekhalifahan, sementara umurnya baru 25 tahun, tetapi dia hanya memerintah tidak lebih dari dari enam bulan sampai dia meninggal. (2)

Dua pemimpin Turki “Wasif” dan “Bagha” membunuh Baqir, si pembunuh Mutawakkil, dan setelah meninggalnya Muntasir mengangkat Musta’in sebagai khalifah (3). Mereka juga mengendalikan kekhalifahan Musta’in (memerintah 247 – 251 H), yang tidak mempunyai kekuasaan apapun kecuali hanya disebut sebagai khalifah, sampai pada tingkat di mana sebuah puisi mengatakan: “Khalifah dalam kandang antara Wasif dan Bagha, dia mengatakan apa yang mereka katakan kepadanya, seperti burung beo”

Musta’in bergerak ke Baghdad setelah dia menangkap Mu’tazz dan Muayyad. Para bekas budak Turki membebaskan Mu’tazz dan memberikan janji setia (bai’ah) kepada dia dan tunduk pada Kekhalifahannya, dan pada saat yang sama memerangi Musta’in dan pendukungnya Wasif dan Bagha di Baghdad. Mereka memberikan bai’ah pada 11 Muharram 251 AH. Mu’tazz mengajak saudaranya Ahmad dan sejumlah bekas budak untuk memerangi Musta’in di Baghdad. Ketika Muhammad bin Abdullah bin Tahir mengetahui itu, ia menulisa surat kepada Mu’tazz bahwa ia berpihak kepadanya dan condong untuk menghilangkan kekuasaan Musta’in. Musta’in turun tahta atas kemauannya sendiri pada hari Kamis, 3 Muharram 252 H dan memindahkan kekhalifahannya kepada Mu’tazz (5). Mu’tazz mendapatkan bai’ah dari masyarakat. Nama lengkap Mu’taz adalah al-Zubayr ibn Ja’far al-Mutawakkil, waktu itu ia baru berumur 18 tahun. Ia mengangkat Muayyad sebagai pangeran mahkota. Tetapi segera setelah itu ia menahannya karena mendapat informasi bahwa Muayyad telah bersekongkol melawannya. Ia kemudian menghapus Muayyad dari statusnya sebagai putra mahkota (6).

Mu’tazz (memerintah 252 – 255 H) membunuh Wasif dan Bagha dan condong kepada masyarakat Maghribi dan Farghan. Masyarakat Turki menyimpan kebencian kepadanya karena telah membunuhan pemimpin mereka. Mereka melakukan revolusi dan memaksa dia untuk mengundurkan diri pada akhir bulan Rajab 255 AH, setelah memerintah selama hampir empat tahun enam bulan. Muhammad bin Wathiq mencoba melakukan mediasi antara dia dan orang-orang Turki, dan Mu’tazz berkata kepadanya seraya berputus asa: “Suatu urusan yang saya tidak tahan atau melakukannya atau saya tidak cocok untuk itu”. Muhtadi juga mencoba melakukan mediasi dan Mu’tazz berkata kepadanya: “Saya tidak membutuhkan itu dan mereka tidak menerima saya untuk itu”. Ia telah dibunuh di penjara, setelah enam hari pengunduran dirinya. (7)

Setelah pengunduran diri Mu’tazz, orang-orang Turki meletakkan Al-Muhtadi (Muhammad bin Harun) pada tahta kekhalifahan. Pada saat itu ia berumur 37 tahun dan memerintah sekitar satu tahun sejak 29 Rajab 255 AH hingga 16 Rajab 256, pada saat orang-orang Turki membunuhnya.

Musa bin Bagha al-Kabir tidak ada ketika Mu’tazz dibunuh, sementara Salih bin Wasif melakukan hubungan rahasia dengan Muhtadi, Musa bergegas pulang dan memasuki ‘Surr man Ra’a’, tanpa seizin Khalifah Muhtadi dan membunuh Saleh bin Wasif. (8)

Sekitar zaman itu, ‘Musawir al-Shari’ memberontak dan datang bersama pasukannya sangat dekat dengan ‘Samirra’i’ dan membawa banyak melapetaka kepada orang-orang. Sabilah dibantai dan perkampungan Arab muncul. Muhtadi mengirim Musa bin Bagha dan Baykal untuk memerangi Al-Shari. Namun demikian, mereka kembali dan memerangi Khalifah Muhtadi. Perang besar diantara mereka telah menewaskan banyak orang. Baikal menjadi lemah dan Muhtadi bisa mengatasi dia dan membunuh dia. Jebakan yang dibuat oleh Baikal untuk melawan Muhtadi muncul ke permukaan, Fauly dan para sahabatnya memasuki Samarra, mencari pertolongan kepada orang-orang, berteriak minta bantuan di pasar-pasar, tetapi tidak ada yang siap memberikan bantuan. Setelah berputus asa dari kemenangan ia pergi ke rumah Ibnu Khai’unah dan berusaha bersembunyi di sana. Mereka menyerangnya dan membawanya keluar dan menikamnya hingga mati. Itu terjadi pada tanggal 16 Rajab 256 AH. (9)

Setelah kegagalan itu, bay’ah diberikan kepada Mu’tamid – Ahmad bin Ja’far al-Mutawakkil, yang berumur 25 tahun, dan ia memerintah selama 23 tahun hingga wafatnya pada thun 279 AH. Ia adalah orang yang lemah dan menyukai kenikmatan. Ia cenderung pada minuman keras dan mencintai permainan dan lawakan.. Mu’tamid telah memberi bay’ah kepada anaknya, Ja’far yang dijuluki Mufawwid Ilallah, tetapi saudaranya, Abu Ahmed Muwaffaq mendominasi semua urusan dan administrasi Negara, dan ia memerintahkan untuk menahan saudaranya, Mu’tamid. Ia adalah Khalifa pertama yang dikalahkan, dipenjarakan dan direbut kekuasaannya. Ketika Muwaffaq meninggal, anaknya Mu’tadid mengambil kendali semua urusan masyarakat dan menghapus Ja’far dari statusnya sebagai putra mahkota pada tahun 278 AH. Pada pagi hari 19 Rajab 279 AH Mu’tamid tidak sarapan, ia kemudian makan siang yang mengandung racun dan dia meninggal. Ismail bin Hammad Al-Qodi pergi mengunjungi Mu’tadid sambil memakai pakaian hitam dan mengucapan selamat sebagai Khalifah. (10).

Imam Hasan al-Askari meninggal di era pemerintahan Mu’tamid pada tahun 260 AH. Asumsi terjadinya Okultasi Mahdi secara membingungkan dilaporkan terjadi ketika Khalifah Mu’tamid berusia sekitar 30 (tiga puluh) tahun.

Mu’tadid meninggal pada 22 Rabi al-Tsani 289 AH. Anaknya Ali Muktafi Billahi menggantikan dia, dan mendapatkan bay’ah dari orang-orang ketika ia beusia 25 tahun. Sehingga ia masih sebagai seorang pemuda yang lemah. Qosim bin Ubaidullah dan budaknya Fatik mengendalikan dia. Setelah meninggalnya Qasim, Wazir (perdana menteri) dari Mustakifi, Abbas bin al-Hasan dan Fatik mengendalikan pemerintahan. (11).

Setelah itu kekhalifahan Abbasiyah menderita serangkaian konflik internal kekuasaan yang disertai kekerasan berdarah, di antara mereka sendiri pada satu sisi, dengan para bekas budak mereka dan orang-orang Turki pada sisi lain. Muqtadir dibunuh pada tahun 320 AH dalam sebuah insiden antara dirinya dengan budaknya Mu’nis di Baghdad. Qohir Billah mendapatkan bay’ah setelah dia, dan telah kehilangan kekuasaan setelah kurang dari dua tahun. Matanya telah dicungkil pada tanggal 10-5-322 AH. Radhi Billah menjabat Khalifah setelah itu dan memerintah sekitar lima tahun dan meninggal pada tanggal 10-3-329, namun periode pemerintahanya telah benar-benar dikendalikan para bekas budak, Bajkam dan orang-orang Turki, yang mencetak dinar dan dirham dengan menampilkan gambar mereka. Mereka membuat senjata dengan penulisan kalimat padanya, ’Ketahuilah bahwa martabat adalah bagi Raja yang mulia, pemimpin orang-orang Bajkam“ (12).

Setelah dia Muttaqi Billah mendapatkan bay’ah sebagai khalifah pada tanggal 1-3-329 AH. Ia menjadi Khalifah sekitar 4 (empat tahun). Ia disingkirkan dan matanya dicungkil pada tanggal 3-4-333 AH, karena ia bekerjasama Hamdanyah dan menguasai mereka. Hal itu membuat marah orang-orang Turki dan pemimpin mereka “Tozoun“ menguasai Baghdad pada tahun 332 AH. Mereka berbuat makar melawan Muttaqi dan menyingkirkan kekuasaannya. Mereka menghadap Abdullah bin Ali Mustakfi untuk berjanji setia (membay’ah) kepadanya pada tanggal 3-2-333 AH. Namun, bagaimanapun setelah satu tahun, ia disingkirkan dari kekuasaannya dan matanya dicungkil oleh tangan Ahmed bin Buwaih ’Dailami’, yang menuduh dia menulis surat kepada Banu Hamdan dan memberikan informasi rahasia tentang mereka. Muti’ menjadi penguasa setelah dia pada tanggal 23 Shaban 334 AH.

Bagian II: Situasi Oposisi

Sebagaimana yang kita lihat pada uraian di atas, salah satu yang nampak paling menonjol dari pemerintahan Abbasiyah kedua adalah disintegrasi dan dekadensi moral. Hal ini terjadi karena lemahnya kekhalifahan dan tidak benar-benar memegang tampuk kekuasaan secara kokoh.. Kondisi ini mendorong setiap gubernur dari sejumlah besar bagian Negara Islam yang semestinya terikat dan tunduk secara sepenuhnya dengan pusat Negara, tidak lagi mengikatkan diri dengan pusat. Jika ia mau, ia akan tetap loyal, jika ia mau ia bisa memisahkan diri dan mengalami konflik dengan lainnya yang mendorong timbulnya berbagai peperangan yang terjadi antara pemerintahan pusat dengan para gubernur.

Salah satu yang paling jelas dari kejadian ini adalah Andalusia (Muslim Spanyol), yang memisahkan diri dengan sendirinya dan menjadi merdeka pada saat itu di bawah pemerintahan bani Umayyah Abdul Rahman Nasser, dan Afrika Utara yang memisahkan diri sebagian besar wilayahnya di bawah kepemimpinan keluarga Al-Aghlab. Dua bagian negara Persia dan Irak, adalah darerah yang subur bagi tentara Ya’kub bin Laith al-Saffar, dan peperangan terjadi pada tahun 253 AH hingga kematiannya pada tahun 265 AH. Ia digantikan oleh saudaranya, Amir bin Amr al-Laits. Dan pada tahun 261 AH sebagian besar daerah `Ma wara al-Nahr’ memisahkan diri di bawah kepemimpinan Nasr bin Ahmad Samani hingga ia meninggal pada tahun 270 AH. Daerah pinggiran yang lebih dekat dekat dengan ibukota (`Sur Man Ra’a’) tidak lebih baik kondisinya dari daerah yang lebih jauh.. Terdapat berbagai kepentingan yang berbeda dari para pekerja dan para pejabat di sisi lain, dan aktivitas kepentingan Kharijiah dan para budak (hitam) dan juga Al-Qaramitah di sisi lain.

Khalifah Mu’tadid yang menyukai kesenangan nafsu dan hiburan, minuman beralkohol, dan benar-benar lemah hingga pada tingkat tidak ada lagi kekhalifahan pada dirinya kecuali hanya gelar, yang pada kenyataannya tidak mempunyai kekuasaan sama sekali.

Periode ini menyaksikan serangkaian pemberontakan bani Alawi dan Syiah dengan berbagai kelompok yang berbeda, terlepas dari kenyataan bahwa beberapa khalifah Abbasiyah mulai condong pada Syiah, atau bersimpati pada bani Alawi secara sesungguhnya. Sistem pemerintahan retak dan terurai karena ada konflik internal di dalam keluarga Abbasiyah itu sendiri.

Revolusi bani Alawi pada zaman sebelum Okultasi.

Mas’oudi mengatakan dalam Muruj al-Dhahab: “Pada tahun 250 AH, Hassan bin Zaid Alawi muncul di Tabaristan. Ia memegang kendali atasnya, demikian juga Al-Jurjan setelah suatu peperangan yang besar dan memerangi kejahatan. .. Dan tetap di tangannya hingga ia meninggal pada tahun 270 AH. Saudaranya Muhammad bin Zaid menggantikan dia hingga pada suatu ketika Rafi bin Harthamah memerangi dia. Mohammed bin Zaid memasuki Daylam pada tahun 277 AH dan menjadi di bawah kekuasaannya. Setelah itu Rafi bin Harthamah memberikan janji kesetiaan kepadanya dan bergabung dengan barisannya, memenuhi panggilannya dan tunduk kepadanya.

Al-Hasan dan Muhammad menyeru orang-orang dengan slogan “Untuk mendapatkan ridho keluarga Muhammad“, sebagaimana yang sudah muncul di Tabaristan setelah mereka, dengan nama Hassan bin Ali al-Hassani yang dikenal sebagai `Al-Atrush’ dan anaknya al-Hasan bin Al-Qasim. (13)

Pada saat yang sama (tahun 250 AH) Muhammad bin Jaafar muncul di Rayy dan mengajak orang-orang kepada Hassan bin Zaid, penguasa Tabaristan (14), sebagaimana juga Al-Karki yang muncul di Qazwin, sebuah revolusi Alawi lainnya. Ia kemudian bergabung dengan Hasan bin Zaid.

Alawi yang lain muncul setelah dia di Rayy, adalah Ahmad bin Isa, yang mengajak orang-orang dengan slogan “untuk mendapatkan ridho keluarga Muhammad”, dan ia memegang kendali atas Rayy. Setelah hanya setahun kemudian muncul Husain bin Mohammed Al-Alawi di Kufah, ia mengusir gubernur khalifah. Revolusi Alawi lainnya setelah dia dilakukan oleh Ja’far bin Muhammad.

Pada tahun 251 AH, Ali bin Abdullah Al-Thalibi yang juga dikenal sebagai ‘Al-Mar-ishi’, melakukan revolusi di kota ‘Amil’. Demikian juga Hussein bin Ahmed Al-Arqit melakukan revolusi di Qazwin. Ia memegang kendali hingga athun 252 AH, dan ia juga menguasai Rayy.

Semua itu terjadi karena keadaan yang memburuk pada zaman Khalifah Musta’in, yang mengalami konflik internal dengan anggota keluarganya, dan pergi menyelinap ke Baghdad. Para bekas budak melakukan revolusi kepadanya, memerangi dia dan memaksa dia untuk turun tahta. Bay’ah kemudian diberikan kepada Mu’tazz (15) pada tahun 252 AH. Selama kekhalifahan Mu’tazz muda yang umurnya belum melebihi dua puluh tahun, seorang Alawi, Ismail bin Yusuf, muncul melakukan revolusi di kota. Setelah kematiannya, saudaranya Muhammad bin Yusuf menggantikannya. Ia kemudian pergi ke ke Yamamah dan Bahrain, dan menguasainya. Ia menempatkan di sana anaknya yang dikenal sebagai Banu Al-Akhdar (16).

Pada masa Khalifah Muhtadi pada tahun 255 AH, penguasa Al- Zanj muncul di di Basra.

Pada tahun 256 AH, seorang Alawi, Ibrahim bin Mohammad, yang dikenal sebagai Ibnu Al-Sufi muncul di Mesir, demikian juga.

Demikian juga Ali bin Zaid Al-Alwi memberontak di Kufah, dan memerangi Baak Bara, hingga ia terbunuh pada tahun 257 AH.

Pada tahun 257 AH gerakan Al-Qaramitah muncul di Bahrain dan memperluas pengaruh mereka hingga ke Basrah, Irak dan Jazirah.

Di Rayy revolusi Syiah yang lain meledak yang dipimpin oleh Ahmed bin Hassan Al-Madrani yang mendominasi di era Mu’tadi pada tahun 275 AH. Ia menyebarkan paham Syiah dan mendirikan sebuah pemerintahan Syiah. (17)

Revolusi Isma’iliah di Yaman dan Afrika Utara

Sebelum tahun 275 AH dan setelah beberapa tahun wafatnya Imam al-Askari, Al-Hussein Bin Hushab pada tahun 266 AH di Yaman mampu menegakkan gerakan pertama Isma’ili yang sukses. Ia mengumpulkan sejumlah besar orang-orang dari berbagai suku di Yaman, menyebarkan kepada mereka panggilan kepada: “Mahdi Isma’iliah yang tinggal bersembunyi di sebuah kota Silmiyyah di Suriah“. Ia membentuk negara Isma’iliah yang pertama dalam sejarah.

Kemudian Ibnu Hushab mengirim penyerunya Abu Abdullah al-Syi’i, yang telah mengundurkan diri dari sekte yang percaya pada eksistensi Muhammad bin Hassan al-Askari (sekte Syi’ah 12 Imam) dan bergabung dengan Isma’iliah. Ia bekerja sebagai pegawai keuangan di Baghdad. Ia dikirim ke Afrika Utara untuk mengajak orang-orang percaya pada Imam Isma’iliah (Ubaidullah Al-Mahdi) yang bersembunyi (okultasi). Karena lemahnya cengkeraman pemerintahan Abbasiyah, Abu Abdullah mampu mendapatkan dukungan dari suku Kitamah dan memegang kendali atas Maghrib, dan menguasai pengaruh Banu Al-Aghlab dan menghilangkan pemerintahan mereka di Qirawan di Tunisia, yang kemudian hari merupakan ibukota Afrika. Ia mendirikan dinasti Fatimiyah yang setelah itu meluas hingga ke Mesir dan Suriah pada tahun 296 AH pada periode Khalifah Abbasiyah al-Muqtadir, yang dibay’ah pada umur 13 tahun. Imam Mahdi Ismailiyah melancarkan kegiatan oposisinya kepada negara Abbasiyah dalam rangka meruntuhkan rezim Abbasiyah. Setelah keberhasilannya dalam melakukan revolusi di Yaman di tangan penyerunya (Da’i) Ibnu Hushab, ia mampu memicu revolusi di provinsi Wasit di Irak di tangan dari salah satu dari pengikut sekte Ismaili: Hamdan Bin Qirmit, yang menginvasi selatan Irak dan Jazirah Arab dan menyebar hingga ke Suriah.

Simpati khalifah Abbasiyah kepada Alawi

Sebagai hasil dari perkembangan di atas, kebijakan Mu’tadid (memerintah 278 – 289 H) kepada Alawi lebih lunak dibanding kebijakan para khalifah Abbasiyah pendahulunya, meskipun terjadi revolusi dari para penyeru (Da’i) di Tabaristan dan deklarasi otonomi yang mereka lakukan.

Mas’oudi mengatakan: Da’i tersebut mengirim sejumlah uang ke ibukota kekhalifahan yang akan dibagikan kepada keluarga keturunan Abi Thalib yang ada di sana. Khalifah Mu’tadid mengetahui hal ini, tetapi ia tidak mampu atau tidak atau tidak ingin menghentingan hal itu. Ia justru mengirim utusan kepada orang yang diberi tanggung jawab atas pembagian tersebut agar menemuinya, ia menyalahkan dia karena berusaha menyembunyikan hal itu, dan memerintahkan dia untuk melakukannya secara terbuka. Ia bahkan membawa keluarga Abi Thalib lebih dekat kepadanya. Khalifah Mu’tadid menyatakan bahwa ia melihat Imam Ali dalam mimpi sebelum ia menjadi khalifah dan berkata kepadanya: “Urusan ini akan datang kepada kamu, jangan menentang anak cucu saya ataupun menyakiti mereka“. Ia menjawab: “Saya mendengar dan mentaati“. (18)

Majlisi melaporkan dalam `Bihar al-Anwar’ dari Muhammad ibn Jarir al-Tabari bahwa: “Mu’tadid, yang menjadi khalifah setelah Mu’tamid, memutuskan untuk mengutuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan di mimbar-mimbar dan memerintahkan menulis sebuah buku yang akan dibacakan di depan orang-orang (terkait dengan hal itu). (19)

Khalifah Mu’tadid gagal dalam usahanya untuk menumpas gerakan perlawanan Al-Qarmitah. Ia mengirimkan pasukan untuk menekan mereka namun kalah dan komandannya ditangkap. Al-Qarmitah kadang-kadang bergerak ke Basra suatu waktu dan ke Baghdad pada waktu yang lain dan juga ke Hijaz pada waktu yang lain. Pemimpin mereka, Abu Abdullah Muhammad, sang pemilik unta betina (Shahib al-Naqah) yang dipanggil sebagai `Khalifa’, menyebut dirinya `Amir al-mukminin’. Kemudian mereka menyerang Syiria dan berkuasa di sana pada tahun 289 AH. Ancaman mereka terus membahayakan wilayah tersebut sampai pada tingkat bahwa mereka bahkan merampok dan menjarah Ka’bah dan mencuri Hajar Aswad dan menewaskan ribuan peziarah pada tahun 317 AH. Mereka kemudian merampok dan menjarah Basrah dan menduduki Kufah. Khalifah Mu’tadid dipaksa untuk mengadakan gencatan senjata dengan mereka atas dasar bahwa ia harus memberi mereka 120.000 dinar setiap tahun.

Selama masa pemerintahan Khalifah Muqtadir Billah (memerintah 295 – 319 H) yang masih anak-anak, rezim Abbasiyah menjadi sangat lemah secara internal dan eksternal. Kerajaan Romawi menduduki pantai Syiria dan kota Ladhiqiyyah pada tahun 298 AH. Mohsen bin Jaafar bin Ali al-Hadi muncul di Damaskus pada tahun 300 AH, namun kalah dan dibunuh setelah itu.

Sejak saat itu, periode Abbasiyah menyaksikan dominasi Al-Buwaihiyyin (Syi’ah) di kendali pemerintahan di pusat kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, dimana mereka mengukuhkan diri dan mengisolasi khalifah. (20).

Jadi, kondisi sekeliling pada zaman okultasi (al-ghoybah), sebelum dan sesudahnya, sama sekali tidak memperlihatkan adanya alasan/ pembenaran untuk khawatir dan melakukan sikap berpura-pura (taqiyyah), atau Imam Hasan al-Askari harus merahasiakan kelahiran anaknya dan menyembunyikannya. Adalah tidak sulit bagi Muhammad bin Hasan al-Askari (jika dia memang benar-benar ada), untuk menampakkan dirinya di manapun. Bahkan jika ia mau, ia bisa menyatakan dirinya sejak awal bahwa ia adalah Mahdi yang ditunggu. Tidak sulit baginya untuk meminta tolong di daerah pinggiran negara Abbasiyah, bersembunyi di daerah pegunungan dan hutan, dan melawan otoritas Abbasiyah yang pada saat itu sangat lemah dan menegakkan negara yang dijanjikan, dan melakukan tanggung jawabnya memimpin Syiah dan Muslim.

Telah diketahui dengan baik bahwa penguasa Al-Buwayhiyyin (Syi’ah yang percaya kepadanya) telah meminta Syekh Mufid agar Mahdi muncul menampakkan dirinya dan memerintah, daripada diperintah oleh Khalifah Abbasiyah, sebagaimana Mahdi Fatimiyah yang muncul dan memerintah di Afrika Utara, setelah dirahasikan dan bersembunyi. Mufid tidak memberikan jawaban yang berguna terkait dengan ahadits yang isinya tidak konsisten tentang perlunya taqiyyah dan kekhawatiran terhadap kehidupan Imam Mahdi dari usaha pembunuhan.

Referensi:
1. Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 4 hal. 38.
2. Ibid., hal. 52.
3. Ibid., hal. 60.
4. Ibid., vol. 4 hal. 61.
5. Ibid., hal. 92.
6. Ibid., hal. 90.
7. Ibid., hal. 92.
8. Ibid., hal. 98.
9. Ibid., hal. 97 -100.
10. Ibid., hal. 141.
11. Ibid., hal. Vol. 4 hal. 187.
12. Ibid., hal. 245.
13. Ibid., hal. 68.
14. Ibid., hal. 69.
15. Ibid., hal. 68.
16. Ibid., hal. 91.
17. Yaqut: Mu’jam al-Buldan, tahun kejadian 275 AH.
18. Ibid., vol. 4 hal. 279.
19. Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 4 hal. 279.
20. Ibid.

BAB XX. KONTRADIKSI OKULTASI (GHOIBAH) DENGAN FILOSOFI IMAMAH

Dalam rangka memahami isu tentang Okultasi (ghoybah) secara benar, kita pertama kali harus memahami teori Imamah, sebagaimana yang dipahami oleh Theolog Syi’ah Imamiah zaman dahulu, yang menemukannya dan menjelaskannya. Teori Imamah Ilahiyah menyatakan bahwa: “Tidak diperbolehkan dunia tanpa seorang Imam (yaitu, sebuah Pemerintahan dan Negara). Imam (atau Presiden atau khalifah atau pemimpin tertinggi), harus “tidak bersalah“ dan ditunjuk oleh Allah, dan bahwa Syura dan pemilihan seorang pemimpin oleh ummah tidak sah. Teori/ doktrin Syi’ah Musawiyah adalah mengenai berhentinya Imamah yang bertentangan dengan teori Syi’ah Fath-hiyah yang menyatakan bahwa: Imamah harus berlanjut secara turun-temurun melalui keturunan Ali dan Hussein secara vertikal hingga hari kiamat.

Dari sinilah Theolog Syi’ah Imamaiyah berasumsi adanya dan lahirnya seorang anak dari Imam Hasan Askari, dengan mengabaikan tidakadanya bukti-bukti sejarah mengenai hal itu.

Beberapa dari mereka menolak untuk mempercayai Imamah dari Ja’far bin Ali al-Hadi, karena “tidak diperbolehkannya adanya dua orang yang bersaudara sebagai Imam setelah Hassan dan Hussein“. Mereka berkata: “Imam (Hujjah) anak dari Hassan Askari harus telah dilahirkan, tetapi ayahnya telah menyembunyikannya dari mata orang-orang“.

Beberapa pertanyaan penting yang muncul dengan sendirinya adalah:

  • jika Imamah dibatasi pada orang-orang ini, tidak diperbolehkan bagi orang biasa lainnya yang tidak tak bersalah dan tidak diangkat oleh Allah, lalu mengapa ia menghilang dan bersembunyi dan tidak muncul untuk memimpin Syiah dan Muslim dan mendirikan pemerintahan Islam, yang tidak bisa dihindarkan?
  • Seberapa lama dunia ini tanpa seorang Imam, dan Imam yang bersembunyi tidak dapat melakukan tugasnya sebagai Imam dan pemimpin masyarakat, lalu apa rahasia di balik bersembunyi tersebut?
  • Sampai berapa lama Imam bersembunyi?
  • Lalu apa tugas Syi’ah selama Imam masih bersembunyi?

Secara alami dan sewajarnya dari doktrin “ghoibah“ adalah menunggu dan pelarangan setiap kegiatan politik pada periode Mahdi bersembunyi. Ini adalah teori yang mendominasi pemikiran politik Syiah yang telah dianut selama berabad-abad, dan beberapa dampaknya masih bertahan hingga hari ini, meskipun mereka menggunakan doktrin baru perwakilan masyarakat dan wilayat al-faqih. Hasil akhir dari idealisme para theolog ini menggiring Syi’ah kepada tidak adanya aktifitas politik kemasyarakatan dan mereka kehilangan Imamah, karena tidak tampilnya Imam yang makshum di dunia nyata. Keadaan ini sangat kontras dengan filosofi yang mengatakan bahwa Imamah harus ada si atas bumi dan keharusan Imam tidak berbuat salah dan perlunya Imam ditunjuk oleh Allah di setiap zaman dan tempat, dalam rangka melaksanakan syariat Islam dan memimpin Muslim dan membeerikan kepada umat keputusan hukum dan juga memecahkan permasalah hukum mereka.

Syiah Imamiah Musawiyah telah mendapat pengalaman pahit dengan “gerakan Waqifiyah“, yang mengklaim terjadinya “ghoibah” Imam Musa al-Kazim (AS). Mereka menolaknyua karena kontradiksi dengan doktrin “ghoibah“ dan filosofi Imamah. Oleh karena itu, Imam Ali bin Musa Ridha (AS) berkata kepada mereka:

“Maha suci Allah, Rasul Allah meninggal dan Musa tidak mati! Demi Allah dia telah pergi kepada kemuliaannya sebagaimana Rasulullah (SAW) telah pergi“ (1)

Ia menuduh Waqifiyyah (yang mengklaim bahwa ayahnya tidak mati) telah berbohong dan kafir pada apa yang Allah SWT telah wahyukan kepada Muhammad (saw). Ia berkata:

Jika Allah memperpanjang masa kehidupan salah seorang dari bani Adam karena adanya kebutuhan pada ciptaan tersebut bagi Dia, maka Dia akan memperpanjang umur Rasulullah (saw). (2)

Imam Rida sering beradu argumentasi dengan Waqifiyah tentang arti penting dari “Imam” dan keutamaan kepercayaan mereka kepada Imamah, jika mereka berkomitmen kepada Imam yang bersembunyi, yang tidak ada dalam kehidupan nyata. Imam Rida menarik perhatian mereka tentang perlunya berinteraksi dengan Imam yang ada yang hidup di dunia nyata. Ia menceritakan dari nenek moyangnya yang berkata:

“Bukti Allah pada ciptaan-Nya tidak akan tegak kecuali melalui seorang Imam yang hidup dan dikenal. Barangsiapa mati tanpa (membaiat) seorang Imam, (maka ia) mati jahiliyah…Ia (Imam tersebur) harus hidup dan Imam yang berilmu”…. Rasul Allah (saw) telah berkata: Barangsiapa mati tanpa Imam yang maujud dan hidup (maka ia) mati jahiliyah…seorang Imam yang hidup. (3)

Hal ini mengungkapkan penolakan Imam Reda (AS) pada teori “ghoibah” pada zaman Imam, dan karena tidakadanya bukti pada masyarakat tentang kejadian “ghoibah”, dan perlunya kehadiran (dalam kehidupan nyata) seorang Imam didepan mereka dan pengetahuan mereka tentang dia, melakukan perintahnya, mendengarkan dan mematuhi dia dan berinteraksi dengan dia, jika diperlukan menurut Allah untuk mengangkat seorang Imam.

Jadi, doktrin “ghoibah” menimbulkan konsekuensi hukum yang kontradiksi secara menyolok dengan kebutuhan akan adanya “Imam”, yang seharusnya memegang kepemimpinan Muslim. Tidak diperbolehkan Imam menghilang dari arena. Jika kita mengatakan sebagai contoh misalnya, bahwa negara harus menunjuk seorang petugas lalu lintas di sebuah persimpangan jalan, lalu kita melihat dia tidak ada di jalan ketika lalu lintas macet, ruwet dan anarki, maka ketidakhadiran petugas tersebut di jalan raya karena dia ada di balik layar karena ghoib, menjadi tidak bermanfaat karena lalu lintas telah menjadi macet, ruwet dan kacau. Hal ini sangat jelas menurut akal sehat, yang tidak bisa diabaikan, atau dibenarkan dengan hadits yang lemah.

Namun demikian unsur-unsur teori okultasi telah menolak penggunaan akal sehat untuk kasus ini, meskipun menggunakannya untuk menegakkan premis awal seperti: keharusan adanya seorang Imam, keharusan ia “tidak berbuat salah” dan perlunya ia ditunjuk oleh Allah. Ahmed bin Ishaq Al-Qummi salah satu dari tokoh doktrin okultasi, melaporkan sebuah surat dari “Imam (Hujjah) puntra Hassan” yang menyatakan: ia mengirim surat kepadanya sebagai jawaban atas sebuah surat yang telah dikirim kepadanya yang menanyakan apa alasan ketidakhadirannya (okultasi/ ghoibah). Dikatakan dalam surat itu: “Jangan bertanya tentang hal-hal yang jika menjadikan kamu paham, mungkin akan menimbulkan masalah!“. Berdasarkan ini Syeikh Saduq berkata: Allah “tidak bisa dipertanyakan apa yang Ia perbuat, ketika mereka akan ditanya“. Tidak bisa dikatakan kepadanya: “Kenapa?” atau “Bagaimana?“…Hal sama dengan kasus menuculnya Imam, orang yang Allah telah menjadikannya “tidak hadir”, maka Dia akan mengijinkan muncul kembali kapan saja Dia berkehendak. (4)

Dia juga mengatakan: Iman seorang hamba tidak sah hingga ia dalam pikirannya menyandarkan tidak menentang terhadap apa yang telah diperintahkan, dan ia menyerahkan semua urusan secara total, menerimanya tanpa dicampuri dengan keraguan dan kecurigaan. Islam adalah penyerahan dan ketaatan (pada kehendak Allah). Dan barangsiapa mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya, dan di hari akhirat ia akan menjadi orang yang merugi. (5)

Al-Saduq telah melaporkan hadits dari Imam Shadiq (as) yang mencoba membebaskan dia dari menjelaskan atas hikmah dibalik “okultasi [sang pemilik urusan], Imam Mahdi”. Bahwa karena suatu masalah, ia tidak diijinkan tampil di depan orang-orang. Ia berkata: “Hikmah di balik itu tidak akan terungkap hingga setelah kemunculannya … Ini adalah salah satu dari urusan Allah, sebuah rahasia dari rahasia Allah, “Ghoibah” adalah dari Allah. (6)

Sheikh Saduq telah menolak pijakan atas jalan akal dan perenungan dalam menyelidi penyebab adanya okultasi, dan berkata: “Kebaikan umum (maslahah) hanya diketahui oleh yang Maha Mengetahui semua yang ghoib, yang mengetahui apa yang ada di pikiran dan semua konsekuensi, yang baginya rahasia tidak tersembunyi …. (7).

Karajiki telah meminta Syi’ah untuk berhenti memikirkan masalah ini, setelah percaya kepada adanya Imam dan ketidakbersalahannya, dan bahwa dia tidak melakukan apapun kecuali sesuai kehendak Allah, dan menyerhkan setiap langkah atau tindakan atau posisi yang diambil (oleh Imam yang tidak berbuat salah), meski dengan tidak tahu alasan dan tujuannya, dan ia berkata: “Tidak mengikat bagi kami untuk mengetahui penyebabnya, dan bukan kewajiban kami untuk mengungkapkannya, dan ketidaktahuan kami bukan hal yang buruk”. (8). Sheikh Tusi membantah perlunya membicarakan penyebab okultasi Imam setelah menetapkan keberadaannya. (9)

Setelah pengakuan dari pilar teori okultasi bahwa tidak ada penjelasan yang masuk akal dan pasti tentang okultasi, maka menjadi tidak perlu membahas berbagai laporan dan teori yang telah mereka buat untuk menjustifikasi adanya okultasi seperti: ”hikmah yang tidak diketahui”,  karena untuk “menyaring/ menyisihkan Syiah (yang asli dan benar)”, atau kekhawatiran Shohib Al-Zaman (Imam Mahdi) dari pembunuhan. Para perawi dari laporan seperti ini adalah para ekstrimis (ghuluw) dan lemah (dho’if), dan kandungannya (sanadnya) tidak berhubungan dengan Mahdi (Muhammad ibn Hasan al-Askari).

Sebagian besar pengarang yang menulis tentang ghoibah seperti Mufid, Murtada dan Tusi telah menghindar dari memakai teori “penyaringan” (ujian), kecuali Syekh Saduq yang dalam beberapa hal masih menekankan pentingnya hal itu, bahkan ia menganut teori sepenuhnya, terutama setelah punahnya generasi Syiah pertama, yang telah mengalami ujian dan penyaringan hingga pada suatu tingkat tidak seorangpun yang tersisa.

Saya berfikir kita perlu berhenti hanya pada teori “kekhawatiran” yang mana oleh beberapa theolog yang menjelaskan okultasi, seperti Sayyid Murtada, Syeikh Tusi dan Karajiki (Bihar). Para pendukung teori “kekhawatiran” mendasarkan pendapatnya pada sekumpulan laporan yang lemah dari sisi sanad dan matannya, dan bersifat umum yang tidak menentukan nama Qoim (Imam Mahdi). Semua laporan tersebut ditransmisikan dari Zurarah dari Imam Shadiq (as) lebih dari seratus tahun sebelum meninggalnya Imam Hasan al-Askari.

Adalah tidak mungkin menggunakan teori kekhawatiran dalam menafsirkan okultasi kecuali setelah menerima sejumlah asumsi khayalan seperti terlebih dahulu menentukan identitas Imam Mahdi dimana hal ini telah dibuktikan pada Bagian 2 sebagai tidak valid. Demikian juga menganggap adanya ketegangan politik antara bani Alawi dengan dan penguasa bani Abbasiyah. Hal ini akan dibantah pada bab lain. Dan juga mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah penutup dari imam dua belas, dan teori ini pada awalnya belum ada, dan muncul pada abad keempat AH. Demikian juga pernyataan tentang pelarangan Imam Mahdi dalam menggunakan “kepura-pura” (taqiyyah) dan penyembunyian identitasnya hingga hari kemunculannya, maka hal ini bertentangan dengan kebijakan Imam-imam sebelumnya, yang tidak ada justifikasinya sama sekali.

Dari semua itu, teori kekhawatiran terlalu jauh dari etika dan perilaku Ahl al-Bayt (AS), dimana mereka mencintai mati syahid karena Allah. Teori tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang rahasia di balik Allah yang Penyayang tidak menjaga Mahdi, jika diasumsikan dia memang ada, sebagaimana Allah melindungi Nabi Musa dan menyelamatkan dia dari Firaun, dan sebagaimana juga Allah menjaga Rasul Muhammad (SAW) yang telah dinubuwwatkan sebelumnya.

Disamping fakta bahwa para Imam dari Ahl al-Bayt (AS) sebelumnya tidak menentukan identitas Mahdi, dengan menerima argumen ini, masih tetap akan menimbulkan pertanyaan kontroversial tentang rahasia di balik pengumuman nama Ahlul Bait yang akan menjadi Qoim yang dilakukan sebelum kelahirannya, jika mereka tahu bahwa ia akan mengalami tekanan? Mengapa mereka tidak membiarkan agar tetap merupakan rahasia hingga waktu kemunculannya, sedemikian rupa sehingga aakan menyelamatkan Mahdi dari kejaran musuh sejak lahir dan masa kanak-kanak?

Jika teori kekhawatiran terhadap musuh itu valid, lalu mengapa Mahdi tetap menyembunyikan dirimya dari sekutu-sekutunya? Ratusan juta Syi’ah sepanjang sejarah selalu menunggu (Imam Mahdi) dan menyatakan kesiapan untuk mendukung dia, bahwa beberapa Negara telah berdiri berdasarkan keyakinan tentang dia, namun kenapa dia tidak muncul, padahal tidak ada keadaan yang perlu ditakutkan pada zaman itu?
Ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa kepala negara Syiah Buwaihiyah yang telah tegak pada abad keempat AH, sebelum Syekh Mufid, menuntut jawaban. Namun Mufid mengalihkan jawaban kepada Tuhan dan berkata: “Rahasia dibalik okultasi hanya diketahui oleh Allah”. Saya mengenal sejumlah besar Syiah di bawah Negara Buwaiyah, tetapi mempertanyakan ketulusan, keberanian dan kesalehan mereka. (10)

Dan sekarang …. Setelah lebih dari seribu tahun sejak lahirnya teori kekhawatiran untuk membenarkan doktrin okultasi – dan setelah jatuhnya puluhan negara dan beridirnya Negara baru lainnya, doktrin tersebut nampak sangat jauh dari realitas dan tidak mempunyai kredibilitas apapun, dan tidak lebih dari sekedar hipotesis dan ilusi untuk membenarkan hipotesis tentang keberadaan Imam (Muhammad bin Hasan al-Askari) dan fenomena bersembunyinya Imam Mahdi bertentangan dengan tanggung jawabnya sebagai Imamah yang dibebankan oleh Allah.

Hal ini membuktikan ketidakabsahan hipotesis kelahiran dan keberadaan “Imam Hujjah putra Hassan, dan jika ia benar-benar ada, maka wajib bagi dia untuk muncul dan melakukan tugas kepemimpinannya pada kesempatan pertama yang memungkinkan dia untuk melakukannya, dan tidak diperbolehkan meninggalkan umat tanpa kepemimpinan yang sah.

Para pendukung teori kekhawatiran telah meminta kepada kaum Syiah untuk tidak mempertanyakan alasan mengapa Imam Mahdi pergi okultasi (ghoibah), yaitu dengan cara menegakkan keberadaanya, mempersiapkan untuk mendukung dia, atau membantu, memperkuat dan berkorban untuk dia dan menerimanya dan berhenti mendukung si penindas, dan memanggil kemunculannya. Sayyid Murtada telah berkata di dalam ‘Al-Syafi': “Mukallifin (mereka yang dianggap bertanggung jawab secara legal) dapat melakukan sesuatu yang dapat mendorong lenyapnya taqiyyah Imam, kekhawatirannya yang akan mewajibkan dia untuk muncul/ tampil. .. Kami telah menjelaskan bahwa alasan okultasi Imam adalah tindakan yang tidak adil dari para penguasa dan kegagalan mereka dalam melakukan aktifitas mereka yang diperlukan untuk menegakkan kekuasaan Imam dan menjadikan Imam bebas dan memberikan dia kekuasaan penuh atas mereka. Kami juga telah menjelaskan bahwa alasan positif perlunya okultasi adalah agar mereka (orang-orang beriman yang mendapat tanggung jawab) dapat mencapai tujuan mereka dengan cara menghilangkan keadaan yang menjadi penyebab okultasi, sedemikian rupa sehingga Imam akan muncul dan mereka akan mendapatkan manfaat dari administrasi pemerintahan dan kebijakan Imam. (11)

Pada hari ini sudah tidak ada kekhawatiran tersebut, dan Syii telah menghapus alasan yang mendorong Imam untuk ghoibah, dan mereka telah siap untuk mendukung Imam dan telah bertekad untuk memperkuat dan menyerahkan diri mereka kepad Imam. Mereka juga telah berhenti mendukung penguasa yang tidak adil, dan telah selalu memanggilnya agar keluar (dari tempat persembunyiannya), tetapi tidak keluar-keluar! Meskipun Sayid Murtada menyatakan bahwa adalah wajib bagi dia keluar/ muncul, namun Imam (kalau memang benar-benar ada) tidak melakukannya.

Syekh Saduq di dalam Ikmal al-Din telah menyangkal untuk menerima keyakinan Waqifiyyah tentang adanya okultasi (ghoibah) Imam Musa al-Kadhim dan bahwa ia adalah Mahdi, karena umur dia yang telah melampaui umur alamiah manusia normal. Nmun di sisi lain ia dan Tusi telah melaporakan hadits yang menyatakan bahwa umur al-Mahdi dapat selama umur Nuh (AS), dan adanya kemungkinan Allah menunda pemerintahannya karena beberapa alasan demi kebaikan. (12)

Referensi:

  1. Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 380.
  2. Al-Kashi: Al-Rijal, hal. 379.
  3. Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 177, Al-Himyari: Qurb al-Isnad, hal. 203.
  4. Ikmal al-Din, hal. 88.
  5. Ibid, hal. 531.
  6. Saduq: Ilal al-Shara’i, hal. 246, Al-Amali, hal. 426.
  7. Al-Fusul al-Mukhtarah Masalah fi al-Ghoybah, hal. 266 dan 269.
  8. Al-Karajiki: Kanz al-Fawaid, vol. 1 hal. 371.
  9. Tusi: Al-Ghaoybah, hal. 3 – 4.
  10. Mufid: Al-Amali, hal. 390.
  11. Al-Shafi, vol. 1 hal. 147.
  12. Tusi: Al-Ghaoybah, hal.76 dan 78.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.