Category Archives: Sejarah Islam

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (5)

BAGIAN- 14

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

HAZRAT HUSSAIN:

Pemerintahan Keemasannya

Rombongan para musafir akan tetap pada tujuan mereka kendati menghadapi berbagai tantangan yang datang kepada mereka.

Setelah pengunduran diri Imam Hasan, Hazrat Mua’wiya menetapkan Hazrat Imam Hussain sebagai gubernur Iraq. Kalifah yang saleh melanjutkan semua keagungan. Untuk pertama kali dunia bersaksi bahwa di suatu pemerintahan seluas 3,5 juta mil persegi, tidak ada yang bisa menemukan seorangpun yang berkeinginan untuk menerima derma. Dan tidak ada seekor anjingpun mati disebabkan kelaparan pada daerah tersebut. Ini adalah zaman yang patut dicontoh ketika seorang gadis yang membawa barang barang perhiasan bisa bepergian sendiri di atas seekor unta atau kuda sepanjang perjalanan lebih dari seratus mil tanpa rasa takut, kecuali kepada Tuhan!

Harmuzan, seorang aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar, menjadikan dirinya dibunuh pada tahun 23 AH. Anaknya, Jaban bin Harmuzan, telah bergabung dengan sanak keluarganya di  Koofa pada umur mudanya. Ini adalah Jaban bin Harmuzan yang sama yang pernah melakukan usaha pembunuhannya yang gagal kepada Hazrat Hasan pada tahun 46 AH (Meezanul Faris). Pada serangan itu, Hazrat Hasan telah menderita luka-luka serius pada pahanya, tetapi dapat disembuhkan. Di sini, perlu dicatat dengan baik bahwa setelah membunuh Hazrat Uthman, Saba bin Shamoon dan Abdullah bin Saba telah menghilang tanpa bekas. Menurut Hujjatullah Moosvi, mereka telah menghabiskan sisa umur mereka dalam penyamaran di Yemen. Jaban bin Harmuzan juga telah berhasil melarikan diri setelah menyerang Hazrat Hasan ketika orang-orang masih mencurigainya.

KESYAHIDAN IMAM HUSSAIN 680 CE

Hazrat Muawiya meninggal pada tahun 60 AH/ 680 CE. Pertemuan Dewan Syura untuk pemilihan  khalifah yang baru sedang berlangsung di Damascus, Koofa dan Madinah, ketika Jaban dan kaki tangannya memasuki kantor Gubernur di Koofa dengan diselimuti gelap malam. Mereka membunuh Gubernur Hazrat Hussain dengan sebuah pukulan pedang yang memisahkan kepala dari badan Beliau. Karena tidakadanya tindakan pengamanan dan terjadi pada kegelapan malam, Jaban dan kaki tangannya dengan mudah meloloskan diri. Menurut Allama Masoodi, Jaban tetap aktif melawan Hazrat Abdulla bin Zubair sepanjang sisa umur hidupnya. Pada akhirnya, ia dibunuh ketika sedang mencoba membunuh, pada akhir hidupnya pada tahun 70 AH. Ia juga mempunyai nama Islam, Bilal bin Yousuf.

BEBERAPA KEANEHAN TENTANG SEJARAH KITA

Dalam mengungkapkan kenyataan tentang tragedi Karbala dan sejarah lainnya, saya telah mengambil bab-bab sejarah dari banyak sumber. Kendati singkat, banyak acuan telah diberikan. Penelitian ini memerlukan sejumlah besar potongan dan sedikit informasi yang terserak di sana-sini dan kemudian meletakkannya bersama-sama untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan. Pembaca mungkin akan bertanya mengapa tak seorangpun menulis buku seperti ini sebelumnya. Barangkali jawabannya telah diberikan dalam buku saya, The Criminal of Islam, “Aku benar-benar tidak tahu.” Secara singkat,  alasannya bisa jadi karena mudah tertipu, kepercayaan yang kurang/ tidak kritis kepada para sejarawan, tidakadanya waktu dan sumber daya untuk penelitian baru, keputus-asaan dalam membuat terobosan baru, rasa takut hidup yang menyimpang dari main-stream, takut terhadap tuduhan keagamaan dari para Mullah dan lain lain. Beberapa sarjana mungkin telah terikat pada topik lain yang lebih penting.

TABARI:

Sejarah tentang muslimin pertama yang pernah ada adalah yang ditulis oleh ‘Imam’ Tabari (839-923 CE)  pada rentang abad yang ketiga dan keempat AH. Ia meninggal pada tahun 310 AH.

Apa sumber yang  ia pakai? Ia tidak mempunyai begitu banyak sejenis catatan yang dijadikan rujukan. Apapun yang ia catat adalah bersumber atau atas dasar “mendengar dari seseorang”. Mendengar dari siapa? Mendengar dari seseorang yang mendengar dari orang lain dan seterusnya…

Tabari sendiri memasukkan di dalam bukunya sebuah penyangkalan sejak dini bahwa mereka yang  menyampaikan ceritera kepadanya harus dipersalahkan jika ditemukan adanya kemustahilan dalam tulisannya! Yang lebih buruk dari itu adalah bahwa Tabari menulis apa yang ia sukai … Ia menulis apapun termasuk yang disampaikan oleh orang-orang yang berpemahaman Majusi di dalam hatinya dan… ia pun menulis apapun yang para ulama kerajaan perintahkan. Puncak dari semua itu adalah, bahwa ia mencatat semua informasi dari orang-orang yang ke dalam pikirannya telah dirasuki paham-paham/ ajaran tertentu oleh keturunan intelektual Harmuzan, Jafeena dan Saba bin Sham’oon. Tabari sendiri adalah seorang yang mampu membuat cerita dan tukang cerita. Ia membebaskan raja dari kesulitan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Hanya sejarah dan pengungkapan yang seperti inilah yang sesuai dengan para raja Abbasiah yang akan menyucikan dan mengesahkan martabat raja mereka, membuka pintu kearah kekayaan dan kenikmatan dunia, memungkinkan mereka untuk menimbun kekayaan dan membantunya memelihara budak dan harem-harem wanita. Tabari memberikan mereka segalanya. Sebagai balasannya, mereka mengguyurkan kepadanya emas, penghormatan dan berbagai anugrah.

Dengan menyusun buku sejarah (13 volume) dan tafsir Al-Quran (30 volume) ia dimahkotai sebagai seorang Imam yang paling dihormati. Lalu, siapa yang mampu dan berani mengoreksi hasil karyanya yang luar biasa tersebut?

KULAINI:

Yang ini adalah Muhammad bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini. Sebagai seorang keturunan Majusi, hasil karyanya juga sungguh mengesankan (Meezanul Faris). Seperti Tabari, ia juga tidak mempunyai satupun sumber tertulis dalam membuat bukunya. Ia menulis semata-mata didasarkan atas hasil dengar-dengar dan hal itu dilakukan sudah sangat terlambat yaitu pada akhir abad ke-4 dan ke-5 AH.

Para pembaca yang berpandangan terbuka dapat membayangkan kenyataan apa yang dapat ditemukan dalam tulisannya yang semata-mata didasarkan atas pembicaraan yang terbawa angin, “Ia berkata anu karena ia mendengarnya dari seseorang yang mendengarnya dari dia, dan seterusnya dan sebagainya”.

Yang lebih penting adalah, pengujian secara obyektif untuk melihat kandungan dari tulisannya (dan juga sejarawan yang lain) selalu terbuka lebar bagi para pencari kebenaran. Tulisan mereka sangat penuh dengan kebohongan, kepalsuan, hal-hal yang tidak masuk akal dan motiv tersembunyi.

SIAPA YANG BERANI BERBICARA TENTANG KEBENARAN!

Tabari khususnya memperoleh pengaruh karena adanya dukungan kerajaan Abbasiah. Orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang memberanikan diri berdebat dengan dia, maka para Qadzi (hakim) kerajaan akan memberikan label kepada orang seperti itu sebagai ahli bid’ah, seorang Mo’tazilah (orang yang berpendapat dengan cara berfikir yang rasional) dan bahkan akan dipancung. Dan tulisannya akan dilemparkan ke perapian. Inilah kenapa, seiring dengan berjalannya waktu, dengan tanpa rintangan tulisan-tulisan Tabari dan Muhaddithin pilihan kerajaan semakin banyak memperoleh justifikasi keaslian dan kesucian. Dengan lingkungan seperti ini, siapa yang mampu dan berani mengungkapkan kebenaran? Bagaimana seseorang berani berpendapat berbeda?

Menurut Allama Habibur Rahman Kandhalvi, para pegawai kunci Abbasiah dipegang oleh orang-orang Majusi. Para wanita mereka menduduki harem-harem Abbasiah. Dengan lingkungan yang seperti inilah penyimpangan yang serius diciptakan di bidang keimanan. Adalah benar-benar merupakan suatu kegemparan jika melaporkan suatu kebenaran yang sesungguhnya. Para sejarawan adalah orang-orang Majusi dan para penulis Hadith (perkataan dan perbuatan Nabi) dan Seerah (riwayat hidup Nabi) adalah orang-orang Yahudi dan Majusi.

Penulis pertama kronologi sejarah tentang peperangan Nabi yang agung dan riwayat hidupnya adalah seorang Majusi yang bernama Muhammad bin Ishaq bin Yassar. Ia juga telah dicatat sebagai orang Yahudi dalam beberapa laporan. Hasil kompilasinya sudah tidak ada! Tetapi versi yang diedit yang ditulis oleh Ibnu Hisham, yang berjudul ”Sirah”, didasarkan pada buku Ibnu Ishaq. Tipu dayanya adalah serupa dengan lainnya. Ia akan menguraikan beberapa baris dengan topik cerita yang bersifat memuji Nabi, dalam rangka untuk menetapkan kredibilitasnya terhadap Islam, yang kemudian diikuti dengan baris-baris atau paragraf narasi yang bersifat menghina. Kebanyakan dari sumbernya adalah Yahudi dan Majusi. Itulah mengapa Imam Malik telah menjuluki Muhammad bin Ishaq sebagai seorang pendusta. Antara Muhammad bin Ishaq dan turunannya yang pertama yang tersedia dari hasil karya Ibn Hisham, semua perawinya adalah orang-orang Persia dan Yahudi seperti Ziad Al-Bakai, Muslimatil Abrash dan Hameed Razi. Juga ada Waqidi, seorang Majusi tulen dan mempunyai reputasi sebagai pendusta terbesar pada zamannya (Mazhabi Dastanain aur Unki Haqeeqat oleh Allama Habib Kandhalwi).

Marilah kita lihat sebuah contoh mutiara laporan yang ditaburkan oleh karakter seperti ini: ”Siapa saja yang menyumbangkan dua unit doa sambil membayangkan kecantikan Puteri Shahr Bano, akan memperoleh tujuh puluh ribu istana baginya di Surga. Setiap dari istana-istana tersebut akan mempunyai tujuh puluh ribu kamar, setiap kamar tujuh puluh ribu singgasana dan setiap singgasana akan mempunyai tujuh puluh ribu bidadari yang siap jatuh dalam pelukan”.

Bencana lain yang ditimbulkan dari buku-buku seperti ini adalah tidakadanya garis pemisah yang jelas antara tiga disiplin ilmu, yaitu sejarah, tafsir (pengungkapan makna Al-Quran) dan Hadith (tradisi Nabi yang agung). Mereka semua dijalin dengan cara yang membingungkan. Dan mereka dipenuhi dengan pertentangan di sana sini.

Allama Shibli Nomani, pada halaman 27 Seeratun Nabi-nya telah memberikan suatu kutipan yang mengejutkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, yang menyatakan bahwa “Tiga jenis buku benar-benar tidak ditemukan, yaitu: Mughazi, Malaham dan Tafseer” (Peperangan-peperangan yang dihadiri Nabi, Pergerakan-pergerakan kecil dan Pengungkapan makna Al-Quran).

SEMUA SAHABA KARAM – KECUALI LIMA – MENJADI AHLUL BID’AH!

Atau, masih adakah seorang saja yang muslim? Imam Bukhari telah menyatakan bahwa para Sahabat Nabi telah kembali menjadi murtad ketika Nabi meninggal (Kitabul Fatan). Tabari menulis: Rasul Allah berkata, “Sebagian dari sahabatku akan mengunjungiku di telaga. Allah akan menjauhkan mereka dari hadapanku. Aku akan berkata: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Tetapi aku akan diberitahu: Kamu tidak mengetahui perbuatan apa yang mereka lakukan sepeninggal kamu.”

Bagaikan bola yang menggelinding ke depan, Hafiz Ibn Hajr menyatakan, “Umro bin Sabit telah berkata bahwa semuanya, kecuali lima, menjadi ahli bid’ah setelah meninggalnya Nabi.”

Dan Ayatullah Aluzma Al-Hussaini menembakkan bola mencapai sasarannya. Ia menulis, “Mereka yang lima itu, yaitu yang tetap dalam kelompok Islam adalah Salman Farsi, Miqdad, Abu Zar, Ammar dan Hazeefa.”

DUA LAGI DISINGKIRKAN!

Namun tidak hanya sampai di situ, lebih lanjut “orang-orang yang selamat” dikurangi lagi menjadi tinggal tiga. Hazrat Ammar dan Hazrat Hazeefa juga dibuang dari wadah Islam. Akhirnya score dua gol! Apakah ini akhir dari permainan mereka? [Secara mencengangkan, para sejarawan dan kolektor Hadith yang brilian melupakan untuk memasukkan orang sekaliber Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain dalam kelompok elit dari sedikit orang-orang yang mereka anggap setia dengan Islam. Apakah jalan sudah berujung? Ternyata belum]

SCORE GOL YANG LAIN – HANYA SEORANG MUSLIM YANG TERSISA:

Dikatakan oleh sejarawan kita bahwa jika keimanan Hazrat Salman Farsi dibandingkan dengan yang lain, maka keimanan Hazraat Miqdad dan Abu Zar Al-Ghaffari tidak akan sebanding dan, karena itulah maka mereka berdua perlu dianggap ahlul bid’ah juga! Maka, kesudahannya, setelah Nabi meninggal, hanya seorang Muslimin tetap setia di muka bumi ini, yaitu Salman Farsi. Ingat bahwa ia berasal dari Persia!

Imam Malik (salah seorang murid Al-Zuhri) dengan Muwatta yang terkenal itu tidak mau ketinggalan. Sesungguhnya ia mendahului kelompok tersebut di atas. Ia meletakkan dasar cerita tersebut dengan mencatat pada bab Kitabul Jihad, “Rasul Allah berkata tentang para syahid Uhud bahwa ia sendiri akan bersaksi kepada Allah tentang iman mereka. Hazrat Abu Bakr meminta keterangan tentang dirinya. Nabi berkata, “Aku tidak mengetahui bid’ah apa yang direncanakan setelah aku.”Hazrat Abu Bakr mulai menangis dan berteriak-teriak. Nabi tidak menghibur dia.” Paragrap yang terakhir ini disampaikan dengan singkat dalam buku “Saat Sahaba Kay Halaat-E-Zindagi”v(Kejadian dalam Hidup Tujuh Sahaba Vol. 3, hal. 19) karangan Ayatullah As-Syed Murtaza Hussain Nasir Ferozabadi terbitan Nasir Ptinting Press. Ia telah mengambil semua narasi dari enam buku “otentik” Ahadith dan sumber Sunni.

MUSLIMIN YANG MUDAH TERTIPU:

Adalah luar biasa bahwa kita Muslimin menganggap kumpulan dongeng ini merupakan buku-buku yang paling akurat, keaslian buku-buku tersebut menjadi yang kedua setelah Al-Quran. Hal ini, di samping hinaan yang memalukan kepada akal sehat, sekelompok orang memproklamirkan bahwa Bukhari dan Muslim adalah Kitab yang paling akurat, sementara yang lain setuju untuk menempatkan posisi istimewa ini kepada Tabari, Al-Kulaini dan buku-buku Syiah yang lain.

Mullah yang sangat terkenal seperti “Maulana” Maudoodi, sempat memperhatikan cerita kosong ini pada abad ke dua puluh, dengan menyatakan, “Jika kita membuang cerita ini, apa yang masih tersisa pada kita?” Baiklah, kita masih mewarisi Kitab Allah dan semua laporan yang lulus dengan Furqon ini untuk memilah dan memilih yang benar dari yang salah. Namun aturan yang sederhana ini gagal untuk meresap pada pikiran para Mullah yang tertutup. Sesungguhnya, bagi Muslimin hal ini merupakan sebuah tugas yang gampang. Apa yang para sejarawan dan Muhaddithin tulis, harus di-check kembali kebenarannya dengan Al-Quran. Sebagai contoh, apakah Al-Quran secara gamblang berkata bahwa para sahabat Nabi yang dihormati akan berpaling kepada bid’ah segera setelah Beliau meninggal dunia? Bukankah AL-Quran memberikan serangkaian penghargaan yang tinggi pada semua sahabat Nabi yang agung?

ORANG-ORANG MUNAFIK SUDAH DIKENAL:

Banyak sejarawan menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa bahkan pada masa hidup Nabi yang agung, kebanyakan dari sahabatnya adalah orang-orang munafik yang tidak dikenal (kecuali bagi para Penjahat Islam ini). Namun demikian Al-Quran ayat 3:179 dan 40:30 telah memberitahu kita bahwa orang-orang munafik telah diketahui dengan baik ketika mereka hidup bersama dengan Nabi.

BEBERAPA KRONOLOGI: ISLAM MURNI MENJADI ISLAM AJAMI MASA KINI

PENYAKIT QALA QALA QALA

Yang berikut adalah tahun kematian dari sebagian sejarawan dan para pengumpul Hadith. Hal ini akan membantu kita dalam menentukan siapa dan kapan Islam yang murni berubah menjadi Islam yang palsu, buatan manusia, Islam Ajami, Islam yang Nomor Dua.

Dua fakta harus selalu diingat. Pertama, Nabi meninggal pada tahun 11 AH (632 CE). Kedua, bahwa para pengarang tersebut (yang hidup lebih dari seabad setelah Nabi meninggal), pada saat mereka menulis, tidak satupun dari mereka mengacu pada tulisan ulama sebelumnya. Mereka semua menulis berdasarkan pada mendengar ucapan orang sezamannya, “Ia berkata ini atau sesuatu seperti ini, saya mendengar bahwa ia mendengar dari si Anu yang mendengar dari si Anu bahwa Nabi berkata ini atau begitu ….”- Itulah penyakit QALA QALA QALA.

Tolong Perhatian!

Sebelum kita lanjutkan, mari kita secara singkat menyelidiki apa kata Al-Quran terhadap para pemalsu ini:

6:112. Begitulah Kami mengadakan bagi tiap-tiap Nabi seorang musuh, syaitan-syaitan dari manusia dan jin, yang mewahyukan ucapan palsu yang indah-indah kepada satu sama lain, untuk menipu; dan sekiranya Pemelihara kamu menghendaki, tentu mereka tidak membuatnya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka mengada-adakan.

6:113. Dan supaya hati orang-orang yang tidak mempercayai akhirat condong kepadanya, dan supaya mereka sangat berpuas hati dengannya, dan supaya mereka memperoleh apa yang mereka peroleh.

22:52. Kami tidak mengutus seseorang Rasul, dan tidak juga seseorang Nabi sebelum kamu, melainkan bahawa apabila dia berkhayal, syaitan melemparkan ke dalam khayalannya; tetapi Allah menghapuskan apa yang dilempar syaitan, kemudian Allah menentukan ayat-ayat-Nya; Allah Mengetahui, Bijaksana. [Syaitan-syaitan manusia kemudian mencoba untuk mengubah ajaran-Nya setelah ia pergi. Allah, kemudian, mengirim Rasul (Pesuruh) yang lain untuk mengembalikan kemurnian Pesan-Nya 6:113. Hingga Pesan yang terakhir diwahyukan dan Allah sendiri yang menjamin pemeliharaan-Nya]

22:53. (Allah mengijinkan manusia-manusia syaitan ini untuk melanjutkan bujukan jahat mereka) Supaya Dia menjadikan apa yang syaitan lemparkan, (sebagai) satu cobaan bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, dan orang-orang yang hati mereka keras; dan sesungguhnya orang-orang yang zalim adalah dalam permusuhan yang sangat. [Zulm= pengasingan diri dari sesuatu yang benar, 2:53. Bagian akhir dari ayat tersebut telah menjelaskan akifitas mereka]

22:54. Dan supaya orang-orang yang diberi pengetahuan mengetahui bahwa ia yang benar dari Pemelihara kamu, dan mempercayainya, dan hati mereka merendah kepada-Nya; dan sesungguhnya Allah selamanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang percaya pada jalan lurus. (5:48,15:19)

22:55. Dan orang-orang yang tidak percaya tidak henti-hentinya dalam keragu-raguan padanya, sehingga ”Saat” datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau datang kepada mereka azab hari yang tandus.

Kita melihat bahwa Quran telah betul-betul memperingatkan dari awal kepada Muslimin tentang adanya komplotan/ konspirator sejarawan dan ahli hadits yang akan merusak Islam. Proses transisi dari Al-Islam, (DEENILLAH di  Al-Quran) menjadi IN2 (Islam Nomor Dua) adalah suatu penghancuran yaitu melalui komplotan tersembunyi.

Ketika komplotan tersebut telah mulai bekerja selama awal dinasti Abbasiah, mereka memerlukan waktu agar ajaran IN2 tersebar kepada masyarakat banyak. Metode mereka dengan cara memasukkan ajaran IN2 melalui tulisan, penggandaan, komunikasi dan penyebaran buku-buku, benar-benar lamban dan membosankan. Itulah mengapa Revolusi Islam terjadi dalam prosesnya selama berabad-abad. Kemunduran secara moral, sosial, ilmu pengetahuan dan politik kaum muslimin mulai terjadi sejak sekitar 800 tahun kemudian, yaitu pada abad ke-13 M, yaitu ditandai secara nyata dengan adanya serangan gencar oleh Hulago pada pusat kekhalifahan Baghdad pada tahun 1258 M atas undangan orang-orang Persia.

Berikut ini adalah daftar sebagian dari para komplotan/ konspirator yang paling utama (atau bisa jadi mereka adalah korban konspirasi juga?) yang telah memesongkan Islam dari DEEN kepada agama buatan sebagaimana yang kita lihat hari ini. Tahun kematian mereka diberi tanda *.

Perlu diketahui bahwa AH menunjukkan AL-HIJRAH, yaitu penanggalan sistim bulan kaum Muslimin yang dimulai sejak hijrah Nabi yang agung dari Makkah ke Madinah pada tahun  623 CE. Seratus tahun penanggalan Gregorian sama dengan 103 tahun sistem putaran bulan. Nabi yang agung menuju ke kehidupan berikutnya pada tahun 632 CE atau 9 AH.

MEREKA YANG ”BERCAHAYA”:

  • Imam Ibn Jareer at-Tabari 310* (penafsir al-Quran yang pertama dan sejarawan yang pertama)

IMAM HADITH SUNNI:

  1. Imam Muhammad Ismail Bukhari             256*
  2. Muslimin Imam Bin Hajjaj                       261*
  3. Imam Abu Dawood                                275*
  4. Imam Abu Abdullah bin Majah                273*
  5. Imam Abu Musa Tirmizi                          279*
  6. Imam Abdur Rahman Nisai                     303*
  7. Imam Malik bin Anas                              179*

Imam Malik adalah juga seorang Muhaddith (Pengumpul Hadith). Anehnya, ia adalah satu-satunya Muhaddith yang berasal dari Arab (bukan Persia). Koleksinya, Muwatta tidak diperhitungkan kedalam anggota Sahah Sittah (Enam kebenaran)!

IMAM FIQH (AHLI HUKUM):

  1. Imam Malik bin Anas      179*
  2. Imam Abu Hanifa           150* (Tanpa buku)
  3. Imam Ahmad bin Hanbal 241*
  4. Imam Shafi’I                  204*
  5. Imam Ja’Far Saadiq       145* (diterima oleh Syiah- Tanpa buku)

IMAM HADITH SYIAH:

  1. Muhammad Syekh Bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini 329* menulis Al-Kafi
  2. Syekh Saddooq Abu Jafar Muhammad Bin Ali Tabrasi 381* menulis Man Yazharal Faqeeh
  3. Syekh Abu Jafar Muhammad Ibn-Hasan Toosi 460* menulis Tehzeebul Ahkam dan Al-Istabsar

SEBUAH PERNYATAAN PRIBADI

Mungkin sudah saatnya untuk menyatakan dan menegaskan bahwa Shabbir tidak mempunyai sekte. Ia mengetahui dengan cukup baik bahwa sektarianisme adalah syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu merupakan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan) (QS, 30:31-32) dan bahwa Rasulullah yang agung tidak ada sangkut pautnya dengan sekte-sekte tersebut. (Al-Qur’an 6:159)

Aku dengan sungguh-sungguh sudah mencoba untuk menjadikan sesuatu itu mudah dan menghematkan waktu bagi para pembaca yang terhormat. Pembaca didukung untuk mempunyai pandangan yang ringkas terhadap sumber yang sangat banyak, yang mana buku-buku tersebut telah dianggap asli dan “suci”, untuk memastikan apa yang sebenarnya telah ditulis didalam buku-buku yang diskralkan tersebut.

Banyak dari para pembaca dan teman yang saya hormati sangat menginginkan bahwa Shabbir telah menkritisi semua agama dan sekte. Apakah ia tidak menyadari adanya semua resiko termasuk adanya hukuman dari pada mullah? Dengan mengenali adanya resiko, aku harus berterima kasih kepada mereka atas perhatiannya yang tulus. Sekalipun begitu, dogma yang sudah terbentuk secara mapan tidak bisa dilawan tanpa keberanian? Al-Quran memerintahkan kepada kita untuk tidak menyembunyikan kebenaran (2:42). Tolong ijinkan saya untuk menyatakan bahwa aku tengah menantang kepercayaan yang dipegang oleh anggota keluarga di mana aku dilahirkan dan kami telah melihat cahaya.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (4)

BAGIAN- 13

PEMBUNUHAN PARA KHALIFAH ISLAM

HAZRAT UMAR FAROOQ (23 H/ 644 CE):

Setelah kekalahan Persia di pertempuran Qadisia, Harmuzan, gubernur Tastar, dibawa ke Madinah sebagai narapidana (14 AH/ 635 CE). Tastar adalah provinsi Iran yang paling penting dan menjadi rumah angkatan perangnya yang paling besar. Ia diperkenalkan kepada Hazrat Umar, kemudian Khalifah Islam bertanya kepadanya, “Harmuzan! Kami orang Arab adalah penghuni padang pasir yang kamu menganggap terlalu rendah meski hanya dalam perkelahian. Kami dahulu biasa menjilat sebagian kecil dari pasukanmu. Sekarang kamu dapat melihat mahkota dan tahta Rajamu bersandar pada kaki kami sedangkan pemiliknya sedang melarikan diri mencari tempat untuk menyelamatkan jiwanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Harmuzan menjawab, “Tuan, sudah biasa terjadi suatu peperangan antara orang-orang Persia dengan orang-orang Arab. Namun sekarang Anda mempunyai Tuhan yang bersama Anda.”

Oleh karena kejahatan peperangannya, Harmuzan dihukum mati. Bagaimanapun, ia dapat menyelamatkan hidupnya melalui suatu tipu muslihat yang licik. Selama percakapan, ia meminta air minum. Ia diberikan air dalam sebuag gelas berbentuk piala dari emas yang didatangkan dari Tastar. Harmuzan meminta Hazrat Umar untuk menangguhkan hukuman untuk menjalani hidupnya sampai ia menghabiskan air minumannya. Permintaannya dikabulkan.

Bagai Sebuah Dongeng !

Terdengar seperti sebuah dongeng, begitu ia siap pada tempatnya untuk dieksekusi, Harmuzan menumpahkan air tersebut ke tanah. Ia belum minum dan oleh karena itu Pemerintah menangguhkan hukuman tanpa batas akhir. Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais yang hadir pada peristiwa itu, memastikan dengan bertanya; “Wahai Pemimpin orang beriman! Anda sudah tentu menangguhkan hukuman Harmuzan.” Atas kejadian ini, Hazrat Umar berkata kepada Harmuzan, “Harmuzan! Aku adalah seorang tawanan kepada kedermawanan dari muslimin ini.” Harmuzan akhirnya dibebaskan. Secara yang terlihat ia memeluk Islam dan berdiam di  Madinah.

Sekarang kita akan melihat bahwa pembunuhan Hazrat Umar bukanlah tindakan perorangan Feroze Abululu, tetapi ia hanyalah bagian dari suatu komplotan “lima belas permata’.

Feroz Abululu oleh sejarah telah dijelaskan secara membingungkan, ada yang menyebutnya seorang Kristen dan ada yang menyebutnya sebagai seorang Majusi. Sebenarnya ia adalah seorang Majusi. Siapapun Feroz, ia hanyalah bertindak sebagai alat. Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang memanfaatkan alat itu. Pemimpin dari pion-pion ‘Permata’ Cisra di  Madinah tidak lain adalah Harmuzan. Di Madinah, sahabat tetapnya adalah Jafeena Al-Khalil. Jafeena adalah seorang yang berpendirian Kristen dan seorang ahli Alkitab (Bible), bahasa Ibrani dan Arab. Ia adalah pion politis dari Kekaisaran Roma dan telah bertindak sebagai seorang pejabat di Damascus, Palestine dan Heerah. Sahabat ketiganya adalah seorang Yahudi bernama Saba bin Sham’oon. Ia adalah orang yang mempunyai anak bernama Abdullah Ibn Saba,  yang akan segera muncul di kemudian hari dengan karakter buruknya di panggung sejarah. Ketiganya tinggal di Madinah sebagai muslimin. Ketiganya adalah dedengkotnya konsprirator dan pengatur makar yang pintar.

MERPATI POS

Kardinal Roma, Thomas Melon, pada abad ke-11 menulis bahwa pada puncak Kerajaan Islam, orang-orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah tidak mempunyai pusat kekuasaan yang kuat, tetapi mereka menghasilkan banyak kuasa melalui rencana rahasia mereka. Mereka telah mempunyai sebuah sistem komunikasi yang canggih. Orang-orang Nasrani dan Majusi mengambil keuntungan yang besar dari sistem komunikasi ini. Merpati yang terlatih akan terbang setiap hari antara Madinah, Koofa dan Samarqand. Aktivitas kurir merpati ini menghasilkan peristiwa yang mengerikan. Beberapa dari kejadian tersebut adalah:

Suatu hari Feroz Abululu kebetulan bertemu dengan Hazrat Umar. Ia berkata kepada Feroze, “Aku mendengar bahwa kamu dapat membuat alat penggilingan”. Feroz menjawab dengan pedas, “Wahai Pemimpin orang beriman! Aku akan membuat sebuah penggilingan yang mengesankan di  Madinah yang akan tetap berputar selamanya.”

Sementara itu, Heraclius yang baru, Raja Byzantium, melarikan diri dari kekuatan Islam, bergabung dengan para pengungsi orang-orang istana Persia di Samarqand. Merpati pos dijaga tetap terbang antara Madinah dan Samarqand.

Ada seorang yang bernama Ka’ab Ahbar. Hingga hari ini tidaklah jelas apakah ia memeluk Islam atau tidak. Ia adalah seorang sarjana besar Taurat. Ketika Hazrat Umar tiba di Jerusalem pada penaklukannya (16 AH/ 635 CE), Kardinal dan Sri Paus Severinus mengundang dia untuk sholat pada Makam yang suci. Hazrat Umar dengan sopan menolak tawaran tersebut dengan berkata, “Aku khawatir nantinya Muslimin akan mulai mengubah gereja menjadi masjid.” Kemudian, ia melakukan sholatnya di  atas tanah terbuka dekat reruntuhan Kuil Sulaeman. Ia tetap melakukan hal itu hingga ia tinggal di Jerusalem. Ka’ab Ahbar melepas sepatunya ketika mendekati Batu Jacob. Ka’ab menyarankan kepada Hazrat Umar untuk melakukan sholat pada tempat itu. Terhadap hal ini, Hazrat Umar berkata, “Apakah kamu masih mempunyai sisa-sisa Keyahudian dalam dirimu?”

Abdul Malik bin Marwan telah membangun sebuah kubah di atas Batu Jacob pada sekitar tahun 60 AH ketika membangun Masjidil Aqsa. Sekarang dikenal sebagai Kubah Batu (Qubbah-Tas-Sakhra).

Suatu ketika, Hazrat Abuzar Ghaffari dan Hazrat Umar sedang mendiskusikan tentang topik Zakat. Ka’ab Ahbar berkata sesuatu. Abuzar menegur dia, “Wahai Yahudi! Akankah kamu mengajar kami Islam?”

Berkata Abdur Rahman bin Abu Bakr, “Aku melihat Harmuzan yang Majusi, Jafeena yang Kristen, dan Feroz Abululu berbisik-bisi, pada hari sebelum Hazrat Umar dibunuh. Mereka mempunyai golok bermata ganda yang sama dengan yang kemudian ditemukan di dekat mayat Abululu.”

Tiga hari sebelum pembunuhan tersebut, Ka’ab Ahbar berkata kepada Amirul Muminin – Hazrat Umar, bahwa ia akan mati dalam tiga hari. Abbas Mahmud Alakkad, seorang Sejarawan Mesir telah menulis bahwa Ka’ab Ahbar adalah seorang yang berpaham Yahudi dan ia adalah kaki tangan utama bersama-sama dengan Harmuzan dan Jafeenatil Khaleel berkomplot melakukan pembunhan tersebut. Pada malam sebelum pembunuhan Hazrat Umar Farooq, Ka’ab Ahbar berkata kepada Hazrat Umar, “Waktu telah berlalu bagi kamu.”

Abdul Qadir Ali Moosvi menulis, “Pada saat bencana ini, kekuasaan Islam dengan aman berdiri tegak dan mental yang terpelihara pada masyarakat dipastikan benar-benar damai dan bebas dari gangguan secara menyeluruh. Sekumpulan orang-orang yang bergabung dalam Iman Tuhan. Tak seorangpun akan membayangkan kemungkinan adanya komplotan yang mengerikan seperti itu. Jika memang pernah terjadi perselisihan antar kelompok Muslimin atau pernah terjadi pertumbahan berdarah selama lima puluh hingga seratus tahun pertama Negara Islam, pasti Muslimin tidak akan bisa membanjiri daerah seluas dua pertiga dunia. Mereka kepunyaan jaman Islam yang benar-benar diberkati. Al-Qur’an memberikan kesaksikan bahwa mereka yang benar-benar beriman akan berkasih-sayang satu sama lain. Allah ridho dengan mereka dan mereka ridho kepada-Nya, demikian pernyataan Al-Qur’an. Pada zaman kedamaian ini kelihatannya tidak ada peluang untuk melakukan gerakan makar di bawah tanah.”

TRAGEDI 23 H/ 644 CE

Dengan adanya panggilan untuk sholat fajar pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 AH, para sahabat Nabi yang agung berkumpul di Masjid Nabawi. Harat Umar tiba untuk memimpin sholat tersebut. Tidak lama setelah ia bertakbeer kemudian seseorang tiba-tiba mendekati dia dari depan dan melukai dia dengan goloknya pada beberapa tempat. Orang-orang yang berkumpul tersebut mengejar dan menangkap Feroz Abululu. Bagaimanapun, si penyerang membunuh dirinya sendiri dengan golok miliknya. Bukti yang paling kuat yang berhubungan dengan kejahatanan tersebut telah hilang untuk selamanya. Jafeena dan Harmuzan dibunuh oleh amukan masa setelah itu. Yahudi Saba bin Shamoon melarikan diri dan bergabung dengan kelompok persekongkolannya di Samarqand. Ka’ab Ahbar tidak ditangkap karena ia dianggap sebagai muslim yang tidak bersalah. Ironisnya, orang ini selalu berkata bahwa ia tidak akan memeluk Islam hingga ia secara penuh yakin dengan melihat berkah yang banyak dari jalan hidup Islam.

Dengan pembunuhan terhadap Hazrat Umar, makar orang-orang Persia semakin meningkatkan usahanya untuk mengasingkan Muslimin dari Tuhan mereka yaitu dengan menjauhkan Muslimin dari Al-Quran. Umar Farooq adalah rintangan yang paling besar bagi usaha mereka. Ketika berita pembunuhan khalifah sampai ke Samarqand, orang-orang istana Persia menyalakan langit dengan sorak kegirangan dengan petasan luncur.

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi menulis di dalam bukunya Meezanul Faris bahwa mekanisme syura kekhalifahan demikian sangat berkompeten, sehingga tanpa memboroskan waktu kesyahidan tersebut, Hazrat Usman terpilih sebagai Khalifah yang baru melalui musyawaroh antar sahabat yang diberkati.

PEMBUNUHAN HAZRAT UTHMAN 35 H/ 656 CE

Kita telah melihat modus operandi Majusi, Yahudi, dan Nasrani di  jaman Hazrat Umar.

Potongan-potongan yang terserak: Muzakkarah Hur bin Abdul Rahman (100-101H), Meezanul Faris, Fitnatul Kubra oleh Taha Hussain, Ajaibit Tareekh oleh Yaqoot Hamdi, Kitab Dalail-e-Nabawwut Syedna Muhammad oleh Abdul Jabbar Qaramati (280H), Tasweer Ka Doosra Rukh dan Intizar-E- Mahdi-O-Maseeh keduanya oleh Muhaddithul Asr Allama Tamanna Imadi. Mazhabi Dastanain Aur Unki Haqeeqat, oleh Allama Habibur Rahman Kandhalvi, Shahkar-e- Risalat oleh Allama Ghulam Ahmad Parvez, Tarikh-E-Islam oleh Dr. Oleh Dr. Hameeduddin, Profesor dari Harvard Universitas, dan banyak buku lainnya menyoroti sejarah abad pertama Islam mengukir guratan emas. Tetapi hal tersebut terserak seperti potongan teka-teki puzzle. Menggabungkan potongan-potongan informasi ini secara bersama-sama, gambaran yang muncul benar-benar mengagumkan walaupun disertai dengan tetesan darah yang suci.

Sebagaimana disebutkan di atas, setelah penaklukan Persia, ribuan orang yang berkedok muslimin menetap di luar, terutama di Iraq karena dekatnya Iraq dengan Persia. Mereka lebih mungkin ditemukan dan ditawan di ibukota kekhalifahan sehingga jumlah orang-orang Persia seperti ini lebih sedikit di Hejaz. Hazrat Umar tidak begitu sadar pada situasi ini. Maka, pada tahun 18 AH ia meminta bantuan dan menugaskan Hazrat Ali sebagai gubernur Iraq untuk pengawasan dan pendidikan unsur-unsur Persia ini.

Bertentangan dengan pernyataan sejarawan seperti Tabari, Ibn Hisham, dan Kulaini, semua dalam kedamaian dan ketenangan pada jaman Hazrat Uthman. Pasang naik Islam yang diberkati memberikan pengaruh pada semua aspek kehidupan yang menyertainya: di daratan, masyarakat dan hati. Hazrat Uthman mengendalikan dengan penuh kewaspadaan atas ibukota Madinah dan Hazrat Ali mengendalikan provinsi Iraq. Hazrat Muawiya di  Syria dan Hazrat Umro bin Al-’Aas di  Mesir, semuanya  terbukti sebagai gubernur yang handal. Tim kerja mereka dan para sahabat yang lain dengan karakter mereka yang patut dicontoh menambah semangat untuk bekerja keras karena Allah, sedang membawa Islam dari hari ke hari dari satu puncak kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Semboyan yang menyebar di seluruh kawasan adalah, “Kesucian adalah kenangan Anda!”. Pemimpin-pemimpin atau panutan-panutan Islam yang besar sangat mengetahui dengan baik bahwa penegakan perintah Al-Qur’an adalah prioritas utama Pemerintahan. Nabi yang agung telah melatih sendiri orang-orang istimewa ini dan mereka sangat berkasih sayang satu sama lain dan untuk kemanusiaan.

Mereka begitu berminat dan bersemangat untuk menyebarkan pesan-pesan Islam kepada seluruh penjuru dunia yang penguasa mereka tidak begitu peduli terhadap harkat dan martabat pribadi dari masyarakatnya. Keabadian dari Al-Quran memberikan kepada mereka kepercayaan diri secara ekstrim. Satu hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa pada waktu itu jika orang-orang diajak kepada Islam, mereka tidak menolak seperti pada hari ini. Tidak ada tuduhan murtad dan pengucilan (Takfeer) terhadap masyarakat. Jadi, pada negara Islam setiap orang yang menyatakan Islam diterima sebagai seorang Muslim. Tak seorangpun ‘yang dibedah dadanya’ untuk melihat apakah seseorang itu munafik, Majusi, Yahudi atau Kristen dalam hati mereka. Para Sahabat Nabi yang agung, memperlihatkan watak yang membuat kagum seluruh dunia, tidak menempatkan para penjaga di pintu-pintu masuk/ keluar mereka.

Mengambil keuntungan dari situasi seperti ini, tetua Yahudi, Saba bin Shamoon yang mempunyai nama Islam Saba Assalameh, dan anaknya Abdullah bin Saba masuk ibukota Madinah dalam kegelapan dari jam-jam akhir malam dan membunuh Hazrat Uthman dengan pedang mereka ketika Beliau sedang membaca Al-Quran. Kedua pembunuh tersebut menghilang dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak. (35 AH)

PEMBUNUHAN HAZRAT ALI 661 CE

Ketika Hazrat Usman sahid, Hazrat Ali sedang menjabat gubernur Iraq.

Para wakil Hazrat Uthman dengan segera menerapkan perintah Al-Qur’an untuk bermusyawarah untuk menetapkan pemimpin baru. Sebuah pertemuan para Sahabah yang mulia dilaksanakan di Masjid Nabawi, Madinah. Dua resolusi telah dihasilkan- pertama, bahwa Khalifah berikutnya adalah Hazrat Ali – kedua, bahwa ibukota negara akan dipindahkan ke tempat di mana Hazrat Ali menjabat sebagai gubernur Iraq. Dalam pertemuan ini juga terlewatkan perihal perlunya keamanan pribadi untuk Khalifah Islam, hal ini dikarenakan para sahabat membenci, dalam keadaan apapun, ada jarak antara diri mereka dengan masyarakatnya. Bagi mereka menempatkan para penjaga/ pengawal di pintu gerbang adalah sesuatu kebiasaan yang aneh.

Bagaimanapun, kapal negara Islam tetap berlayar dengan baik walaupun di tengah gelombang kecil intrik dan konspirasi. Tetapi pada tanggal 18 Ramadhan 40 AH (661 CE) tangan-tangan dari orang-orang istana Persia menyerang lagi. Pada waktu fajar menyingsing, ketika Hazrat Ali sedang memimpin sholat di Koofa, seorang Majusi bernama Jamshed Khorasani, yang mempunyai nama Islam, menyerang secara tiba-tiba dari persembunyiannya dan menikam Beliau dengan senjata tajamnya – pisau bermata dua – beberapa kali. Pada hari ketiga setelah serangan ini, yaitu pada 20 Ramadhan, Khalifah yang keempat akhirnya gagal untuk bertahan terhadap luka yang dideritanya. Dalam buku sejarah konvensional kita, Jamshed Khorasani ini dikenal sebagai Abdur Rahman Ibnu Maljam Al-Khariji. Jamshed dengan cepat segera ditangkap oleh jamaah. Ia diadili dalam sidang pengadilan dan menerima hukuman mati.

HAZRAT HASAN, SEORANG GUBERNUR

Sekarang karena Koofa adalah ibukota negara, para anggota dewan Syura bertemu di sana. Hanya ada dua nama yang muncul pada pemilihan Khalifah tersebut, yaitu Hazrat Hasan bin Ali dan Amir Muawiya, gubernur Syria. Hazrat Hasan menolak untuk menerima menjadi Kalifah. Oleh karena itu, Hazrat Mu’awiya menduduki jabatan sebagai Khalifah yang baru. Ia telah mempunyai cukup modal yang besar seperti sejarah yang baik di bidang administrasi, ketajaman politis dan popularitas di tengah masyarakat. Namun demikian ia harus memenuhi persyaratan konstitusional berupa kesetiaan masyarakat.

Sekarang ibukota negara dipindah ke Damascus. Beberapa orang Suriah mulai berdiri sebagai pengawal dengan pakaian sipil tanpa sepengetahuan Khalifah. Ketika pada bulan Ramadhan 40 AH seseorang menyerang Hazrat Mu’awiya, seorang penjaga menebas kepala penyerbu di sana. Hazrat Muawiya hanya menderita luka-luka kecil.

Unsur-unsur yang membahayakan kepada Islam menjadi paham bahwa disain mereka tidak mungkin berhasil di Damascus yang sekarang sebagai ibukota negara. Maka, mereka mengalihkan perhatian mereka kembali lagi ke Iraq di mana Hazrat Hasan telah ditetapkan sebagai gubernur oleh Hazrat Mu’awiya. Karena penuh dengan rasa kasih dan kedermawanan, Hazrat Hasan menjadikan provinsinya bagaikan sebuah surga di atas bumi. Setelah menegakkan administrasi di Iraq pada setiap lapisan pemerintahan, ia berhenti dari jabatannya pada tahun 48 AH karena penyakit dan mengambil tempat kediaman di Madinah.

Imam Ghazali melaporkan bahwa Imam Hasan mempunyai dua ratus isteri. Pada beberapa referensi lain, termasuk dalam tulisan-tulisan Ghazali, dinyatakan bahwa ia biasa menikahi empat wanita baru dan menceraikan empat isterinya setiap minggu!  Hanyalah orang-orang dengan tujuan untuk menghina Beliaulah yang tanpa merasa bersalah melempar tuduhan seperti itu pada Imam yang diakui oleh masyarakatnya.

Ada sebuah laporan yang diulang-ulang oleh Haq Ali Haq, seorang Presiden Jami’a Al-Azhar masa lalu, bahwa salah seorang isterinya, Ja’da, tidak setia dan Imam Hasan ingin menceraikannya. Bagaimanapun, sebelum ia melakukannya, istrinya meracuni dia dan ia langsung meninggal. Hal ini terjadi di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Penelitian Mahmood Ali Abbasi menyimpulkan bahwa Hazrat Hasan meninggal akibat TBC paru-paru di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (3)

BAGIAN- 12

ARSIP KHILAFAT RASHIDIIN DAN GUBERNURAN HAZRAT HUSSAIN LENYAP.

Alqami, perdana menteri kalifah Abbasiah yang terakhir, dan Toosi, ketua penasehat dan perdana menteri Hulagu Khan adalah seorang pengikut Zoroaster yang berkedok Muslim (menurut beberapa laporan berpaham Syiahh). Kerja sama/ kolaborasi mereka dan undangan rahasia dari Alqami menyiapkan jalan bagi invasi Mongol terhadap Kerajaan Muslimin. Hulagu Khan kemudian menggerebek Baghdad seperti angin topan pada tahun 1258 CE (655 H).

Singkatnya, kekhalifahan Abbasiah berakhir. Banyak Penulis sejarah yang telah melaporkan bahwa sangat banyak buku dimusnahkan dari perpustakaan Baghdad dan dilemparkan ke sungai Tigris sehingga airnya berubah menjadi hitam. Digambarkan bahwa orang-orang bisa menyeberangi sungai tersebut melalui jembatan dari buku-buku tersebut pada daerah sungai yang dangkal.

Hulago Khan, orang-orang istananya dan angkatan perangnya adalah penyembah berhala. Melakukan penaklukan telah menjadi hiburan mereka sejak masa Changez Khan. Mereka menyerbu banyak kerajaan, bangsa-bangsa, kota-kota besar dan kota-kota kecil, dan menghancurkannya. Mereka tidak mempunyai empati dan memusuhi pengetahuan dan literatur.

Lalu, mengapa mereka melemparkan buku-buku tersebut ke sungai?

Rancangannya adalah dengan mengisi perpustakaan ini dengan buku-buku yang mewakili paham Ajami yaitu Islam nomor dua. (Meezanul Faris). Dengan anjuran Alqami dan Toosi, angkatan perang Mongol tersebut mengambil langkah pemusnahan secara ekstrim terhadap semua buku yang mereka bisa pegang dengan tangan mereka, dari rumah-rumah, dari para sarjana dan dari institusi-institusi pendidikan. Untuk detailnyaa, silahkan dilihat “Tasweer Ka Dusra Rukh”. (Sisi lain dari sebuah Gambaran) oleh Jame-ul-Uloom Allama MohiuddinTamanna Imadi.

Kami menemukan adanya acuan pada buku-buku sejarah yang diterima secara luas adanya beratus-ratus hasil karya yang lebih tua dari penulis zaman dahulu, tetapi buku-buku tersebut tidak ada lagi.

Apa yang terjadi pada buku-buku tersebut?

Terima kasih kita ucapkan kepada Muqatdar Billah dan Musta’sam Billah demikian juga Naseeruddin Toosi dan Nasr Nawsher Alqami, buku-buku yang telah diselamatkan adalah buku-buku seperti Sejarah karangan Tabari (yang dikenal sebagai Induk dari Sejarah-sejarah, Umm-Ut-Tawareekh, Tareekh-Ul-Umam Wal- Mulook, dan 30 volume Tafseer oleh “Imam” Ibn Jareer Rustam Tabari. (Ref. Mua’Jjamul Adaba). (CATATAN: Buku ini mempunyai peranan besar memecah belah muslimin hingga hari ini dan menjauhkan muslimin dari memahami Al-Quran secara semestinya).

Hasil karya dari sarjana besar seperti Abu muslim Isphahani dan Abul Qasim Balakhi, Aqeel bin Asad telah benar-benar dimusnahkan sepenuhnya yang hari ini nama mereka hanya dapat ditemukan sebagai acuan kecil dalam buku-buku dari pengarang yang lain.

SEWADAH DEBU

Pada zaman Hazrat Umar, Muslimin telah menaklukkan salah satu dari super power zaman itu, yaitu Persia, dengan sepenuhnya. Mereka juga menaklukkan separuh bagian timur dari super power lain, Byzantium (kota Yunani kuno),  Kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi bagian barat masih terselamatkan. Kita ingat bahwa ketika pada tahun 631 CE Khusro Parvez, Raja Persia, merobek-robek surat yang Nabi kirimkan kepadanya. Nabi yang agung, kemudian, telah memperkirakan bahwa Kerajaan Persia akan koyak berkeping-keping – berantakan seperti kertas tersebut.

Ada contoh lain perilaku Khusrau Parvez yang kurang ajar. Ia mengutus seorang dari para gubernurnya yang bernama Bazan kepada Nabi dengan pesan, “Wahai Mohammad! Sungguhpun kamu hanyalah seorang budak bagiku, namun kamu berani menasehatiku! Datanglah anda untuk menyerahkan diri, jika tidak aku akan datang sendiri untuk menangkap kamu.” Sambil tersenyum, Nabi yang agung berkata kepada Bazan, “Temui rajamu. Putranya Sherovia telah membunuh dia semalam!

Sekarang, Yazdgard menjadi pengganti yang ke lima dari Khusro Parvez. Ia adalah raja ketika Hazrat Saad bin Abi Waqas mengirim utusan ke sana untuk mengajak kepada Islam. Mereka menyampaikan sebuah pesan dari Khalifah di Madinah yang memperingatkan dia agar berhenti menekan masyarakatnya, jika tidak malapetakan akan datang menimpa dia dan kerajaannya. Sebelum memberikan jawaban kepada utusan tersebut, Yazdgard memerintahkan salah satu dari pengawalya untuk membawa sebuah wadah yang berisi debu. Sambil membawa wadah tersebut, Raja berkata kepada utusan tersebut, “Pergilah dan berikan ini kepada Pemimpinmu Sa’ad bin Abi Waqas.” Ketika menerima hadiah tersebut, Hazrat Sa’d berseru, “Sambutlah, wahai tentara Islam! Hari ini Raja Persia telah menyerahkan tanahnya kepada kita!”

KEMATIAN  DINASTI SASSANID

Rangkaian pertempuran antara orang-orang Persia dengan Muslimin menjadikan kota Qadisia (14 AH/ 636 CE) dan ibukota Persia Madain (16 AH) di bawah kendali Hazrat Sa’d bin Abi Waqas. Kaisar Sassanid yang terakhir, Yazdgard melarikan diri dan menjalani hidupnya dalam pengembaraan dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia mengakhiri pengembaraannya bersembunyi di suatu tempat penggilingan, sambil menjadi perampok muatan emas, seorang petani membunuh dia dengan kampaknya. Candi-candi api menjadi dingin dan sebagaimana yang diperkirakan oleh Nabi yang agung, gelang-gelang emas Cisra dibawa ke Madinah. Khalifah Hazrat Umar memberikan gelang tersebut kepada Saraqa bin Malik Ja’sham. Saraqa adalah orang yang digoda dengan hadiah seratus unta, jika bisa menawan Nabi (S) dan Abu Bakr Siddiq (ra) ketika Hijrah (migrasi ke Madinah). Pada saat yang lemah tersebut lima belas tahun sebelumnya, Nabi (S) telah berkata kepada Saraqa, “Aku melihat gelang Cisra menghiasi lenganmu.”

Kematian yang mengerikan dari raja yang terakhir dinasti Sassanid tersebut beritanya menyebar menimbulkan awan kesedihan di seluruh Persia. Mereka tidak memuja-muja raja mereka tetapi:

Tidak ada halangan yang masih ada pada jalan kelaliman

Ketika para budak menjadi tetap kecanduan kepada hal itu

PARA PUTERI PARSI

Dari sudut pandang orang-orang Persia kondisi mereka menjadi semakin buruk, karena tiga putri dari raja yang terakhir ditangkap selama pertempuran dan dibawa ke Madinah. Puteri Shahr Bano adalah salah satu dari mereka. Menurut riset kami, nama aslinya adalah Shahrzadi dan dia adalah putri Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Ketika puteri tersebut dinikahkan dengan Imam Hussain, hal itu dianggap sebagai sebuah kehilangan ganda oleh sisa-sisa elit Persia. Ini terjadi pada tahun 25 AH. Dorongan mereka untuk melakukan balas dendam menjadi semakin kuat.


MAKAR AJAMI

Meezanil Faris oleh Hujjatullah Moosvi

RANCANGAN PARA PERMATA PERSIA

Para Permata: Seperti Sembilan Permata yang terkenal dari istana Raja Mughal Akbar, para raja Sassanid juga mempunyai duapuluh permata atau orang dekat istana. Lima belas darinya selamat dari pertempuran Qadisia dan Madain. Mereka semua, kemudian, mencari tempat perlindungan kepada Kaisar Cina Khaqan di  Samarqand.

Mereka membuat rencana masa depan sebagai berikut:

  • Ribuan dari orang-orang Persia ditempatkan di kota-kota besar utama dunia Islam seperti Mesir, Madinah, Makkah, Damascus, Baghdad, Basra, Koofa, San’aa dan Jerusalem. Mereka berpura-pura menjadi Muslimin. (Mizanul Faris, Hujjatullah Moosvi)
  • Misi mereka adalah memata-matai dunia Islam. Mereka lalu melaporkan kepada ‘lima belas permata’, yang disebut Asawarah (mereka yang memakai gelang emas kerajaan, sebuah tanda untuk membedakan bahwa mereka orang-orang istana Persia). Para penyusup ini dipersyaratkan mempunyai penguasaan atas bahasa Arab. Mereka harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang sejarah Roma dan Persia, demikian juga perihal tatakrama masyarakat Arab. Kebanyakan dari individu yang direkrut untuk menjadi mata-mata mempunyai ketrampilan dan pendidikan satu bidang tertentu atau lebih, seperti bahasa, menulis, akuntansi, kerajinan tangan, pandai besi, pengelasan, persenjataan dan pengobatan.
  • Berdasarkan ketrampilan mereka tersebut, orang-orang Persia yang bertobat ini (yang sebenarnya para penyusup), memajukan bidang mereka masing-masing di kota-kota besar tempat tinggal mereka. Mereka harus memperoleh pekerjaan dan menembus ke dalam lapisan yang sensitip di pemerintah. Dan mereka berhasil melaksanakan rencana busuk mereka.
  • ”Para permata’ tersebut paling efisien dan berhasil dalam kampanye mereka ketika sebagai pengungsi di kekaisaran Cina. Perlu diingat bahwa misi mereka adalah dua hal, pertama adalah memperlemah pusat pemerintahan Islam dengan membunuh para khalifah satu demi satu; dan yang kedua adalah mengasingkan Muslimin dari Al-Quran. Bazer yang berpengalaman dari Samarqand, yang dulunya seorang penasehat khusus Khusro Parvez, memimpin komite Asawirah tersebut. Kaum tua Marzaban, yang dulunya juga penasehat, adalah wakilnya. Kedua-duanya adalah politikus perencana yang sangat berpengalaman.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (2)

BAGIAN- 11

Secara umum, dongeng yang dipoles dengan agama menjadi sangat menakjubkan, yang seringkali kita gagal untuk menyadari adanya hinaan terhadap akal manusia. Orang tidak bisa mengukur dampak dongengan seperti ini, yaitu jika seseorang berhenti menggunakan akal pikirannya. Kebenaran memiliki kekuatan untuk menembus hati dan pikiran dan mengusir keragu-raguan dan kepalsuan. Sampai pada langkah ini, aku dengan kerendahan hati menyarankan agar bukuku, The Criminals of Islam (Penjahat-penjahat Islam), yang dengan jelas mengungkapkan bagaimana para perawi dan sejarawan kita telah merendahkan Islam menjadi suatu koleksi dongengan dan mitos.

RIWAYAT HIDUP HUR BIN ABDUR RAHMAN (MENINGGAL 115 H/ 734 M).

Kami telah menyebutkan sebelumnya dalam buku ini bahwa ketika Abu Muslim Khorasani meruntuhkan Kekhalifahan Arab Banu Umayyah, hanya satu anggota keluarga kerajaan yang berhasil meloloskan diri dari pembunuhan tersebut. Dia adalah seorang putra mahkota yang bernama Abdur Rahman. Ia berhasil mencapai Andulusia (Spanyol). Dengan orang-orang Arab yang telah berada di sana dalam jumlah yang besar, ia mendapat sambutan dan kelak akan menggantikan kepemimpinan Spanyol dan mengukuhkan berdirinya dinasti Umayyah di Spanyol. (132 AH/ 750 M).

Tolong perhatikan bahwa satu abad penanggalan sistem solar (matahari) mendekati sama dengan 103 tahun penanggalan sistem lunar (bulan) karena suatu tahun sistem lunar sekitar 354.5 hari.

Sebelum Abdur Rahman mencapai di sana, Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziayd telah menaklukkan Spanyol pada tahun  92 AH/ 711 M pada masa pemerintahan Khalifa Bin Waleed Abdul Malik. Kemudian, selama periode yang pendek, dua tahun (99-101 AH) Umar bin Abdul Aziz adalah Kalifah pemerintahan  Islam. Beliau adalah orang terkemuka yang sangat dihormati yang telah menyalakan kembali memori  Khilafat-E-Rashida (Kalifah yang dipandu) dalam pikiran orang-orang. Khalifa ini menempatkan seorang yang berbakat, Hur bin Abdur Rahman sebagai Gubernur Spanyol. Seperti Muhammad bin Qasim di  India, Hur membuktikan dirinya sebagai administrator handal kendati muda usianya. Ia mempengaruhi hati masyarakat Spanyol dengan karakternya yang tanpa cela dan kemampuannya sebagai seorang administrator. Adalah di bawah kepemimpinannya, angkatan perang muslimin menyeberangi perbatasan Spanyol melewati Perancis selatan dan menaklukkannya. (Sejarah Islam, oleh Dr. Hameeduddin, Madinah Publishing Company; Karachi, Halaman 299).

(CATATAN: Dalam hal ini Dr. Shabir telah keliru, karena Abdur Rahman yang melarikan diri dari Baghdad bukanlah AL-Hurr bin Abdur Rahman yang merupakan salah seorang yang pernah menjabat sebagai wali di Spanyol pada rentang tahun 97-101 H/ 716-719 CE. Al-Hur bin Abdurrahman menjadi Amir/ Wali menggantikan Ayub bin Habib al-Lajmi, sedangkan Abdur Rahman menjadi Amir pada periode 138-171 H/ 756-788 M setelah mengambil alih Wali Spanyol Yusuf Al-Fihri. Abdur Rahman yang ini dikenal sebagai Abdur Rahman Al Dakhel atau Abdur Rahman I).

Hur bin Abdur Rahman biasa memelihara sebuah buku harian tentang semua peristiwa di Arab. Sekitar dua orang ratus tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 920 CE, seorang pegawai pemerintahan Spanyol, Simone Ashbillia menemukan buku harian ini. Ia menterjemahkan buku harian ini (yang masih tersisa darinya) ke dalam bahasa Spanyol. Pada tahun 1910, Dennis Montgomery, seorang sarjana Britania meneliti buku harian ini secara hati-hati dan menyimpulkan bahwa buku harian ini lengkapnya berisi lebih dari 300 halaman. Buku harian ini meliput peristiwa sekitar tahun 100 AH.

Yang mengejutkan adalah, ternyata kandungan dari buku harian ini mendukung riset yang dilakukan oleh sejarawan Iran Hussain Kazimzadeh dan Hujjatullah Abdul Qadir Ali Moosvi dengan Meezanil Faris-nya. Dan semua sumber ini bersesuaian dengan tulisan Abdul Jabbar Qaramati di arsip bersejarah Istanbul.

Beberapa Kutipan dari Catatan Harian Hur bin Abdur Rahman:

Muzakkarah Hurr bin Abdur Rahman

Buku harian Hurr bin Abdur Rahman

(Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dennis Montgomery pada tahun 1910 dari arsip bersejarah di Barselona, Spanyol)

(Diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dari bahasa Arab aslinya oleh Simone Ashbillia pada pada tahun 920 CE (306 H) di  Gordova, Spanyol)

13 Safar, Al-Hijrah 100:

Mereka memanggilku Abu Nafe, Amir Hurr bin Abdur Rahman. Aku memanggil diriku Ibn Abduh. Malam ini tidak akan tidur. Harus bertemu dengan wakil-wakilku dari daerah. Tidak ada perencanaan berarti tidak ada operasi yang efektif. Tidak berbuat berarti tidak ada pencapaian. Baiklah Ibn Abduh! Akan kita lihat besok!

Tanpa Tanggal:

Aku sedang meminta Amir-ul-Momineen (Umar bin Abdul Aziz) untuk membiarkan kami menetapkan empat angkatan perang di Andalusia (Spanyol) sama halnya Sayyedna Umar Farooq yang telah menetapkan dua garnisun baru di Koofah dan Basra. Kami tinggal di sini karena orang-orang di negeri ini mencintai kami. Mereka merasa dibebaskan. Terdapat kedamai total di Emirah (Pemerintahan) kami. Yahudi, Kristen, Muslimin, semuanya hidup harmonis dan tanpa ketakutan. Tidak ada kerusuhan berkaitan dengan segala hal, keagamaan atau yang lainnya.

26 SAFAR 100 AH:

Aku sangat berterima kasih atas kepercayaan Amir-ul-Momineen….. dan Amir-ul-Momineen Umar bin Abdul Aziz sudah menemukan tempat yang pas padaku. Aku secara penuh sadar akan fakta bahwa kami akan harus….. dan berubah baik menjadi lebih baik setiap hari. (Titik-titik….. menandai tidak dapat dibaca)

Tanpa Tanggal:

Serupa dengan komplotan pengikut Majusi (pengikut Zoroaster) yang telah menciptakan gangguan di  Iraq sepanjang beberapa puluh tahun pertama Islam, dengan cara yang sama kita menghadapi persekongkolan ….. yang kadang-kadang meletus. Alasannya jelas. Kelompok kaya lokal dan para pemimpin yang kuat dari masa lalu membenci keadilan sosial di antara masyarakat.

17 Rajab, AH 100

Walaupun situasi di Spanyol sangat terkendali dan membaik setiap hari, aku masih merasakan bahwa Khilafah di Damascus seyogyanya menugaskan seorang gubernur yang lebih berkemampuan di tanah ini. Aku akan merasa terhormat bekerja di bawah perintah dari seorang gubernur seperti ini sebagai seorang pegawai biasa, seorang prajurit. Aku sudah menyatakan keinginan ini kepada Amir-ul-Momineen.

Tanpa Tanggal

Aku memahami bahwa mustahil untuk menemukan orang sekaliber Ali, Hasan dan Hussain (r.a.). Mereka, sebagai Emir (gubernur), telah sungguh-sungguh menjadikan Iraq sebuah surga di atas bumi. Ali dan Hussain (r.a.) yang mengorbankan hidup mereka di kantor mereka yang mulia sebagai Emir. Orang-orang pengikut Majusi (Jamsed Khurasani dan Jabaan bin Harmuzan) telah berpikir bahwa dengan membunuh dua orang mulia ini, Iraq akan ….. kepada Farisis (orang-orang Persia). Tetapi darah suci Emir Ali dan Emir Hussain tidaklah ditumpahkan dengan sia-sia. Para duta besar dari pusat (Khilafah) dan tempat lain melaporkan bahwa di Al-Hijrah 100 Koofa, Basra, dan ….. adalah bahkan lebih damai dan makmur dari pada Syria, Palestine dan Mesir.

Tanpa Tanggal (suatu hari di Al-Hijrah 101)

Ah! Amir-ul-Momineen Umar bin Abdul Aziz telah pergi. Semoga Allah memberkati dia! Ia benar-benar seorang yang berkeyakinan (Iman), berkarakter, berkemauan, dan mempunyai visi.

SEBUAH JIKA YANG BESAR DALAM SEJARAH!

Pada tahun 116 AH (732 CE) salah satu peristiwa yang paling utama dalam sejarah terjadi. Angkatan perang banu Umayyah maju dari Spanyol untuk memperkuat kemenangan mereka atas Perancis. Sebuah pertempuran terjadi pada suatu ekpedisi militer. Abdur Rahman Ghafiqi memerintahkan kekuatan Muslimin bertempur dengan penuh keberanian tetapi ia secara kebetulan terbunuh. Jika seandainya Muslimin menang pada pertempuran itu, maka Eropa dan Amerika hari ini telah menjadi benua Muslimin.  Terdapat beberapa alasan atas kekalahan tersebut, tetapi nampak bahwa garnisun yang diusulkan oleh Hur bin Abdur Rahman masih sedang dibangun. Ketidak-mampuan untuk memperoleh bantuan kekuatan adalah salah satu dari penyebab Muslimin kalah pada perjalanan tersebut.

(CATATAN: mengenai hal ini kemungkinan Dr. Shabir telah melakukan kekeliruan. Pada tahun 719 CE/ 101 H Hur bin Abdurrahman telah digantikan oleh Al-Samh ibn Malik al-Khawlani, Amir ke-4, yang memindahkan kedudukan Gubernur dari Seville ke Córdoba. Abdur Rahman Al-Ghafiqi menggantikan Al-Samh sebagai Amir pada tahun 721 CE (menjabat pertama kali). Setelah itu terjadi penggantian Amir Spanyol sebanyak 7 kali dan Amir yang ke-8 dijabat lagi oleh Abdur Rahman Al-Ghafiqi selama periode tahun 730 – 732 CE).

IMAM HUSSAIN, GUBERNUR IRAQ

Hazrat Hussain sebagai Gubernur Iraq! Pembaca boleh jadi merasa ragu mengapa fakta penting ini tidak diketahui umum! Tidak diketahuinya secara luas hingga hari ini tentang hal tersebut dikarenakan catatan yang asli telah dimusnahkan pada jaman dinasti Abbassiah.

Mari kita ingat kembali bahwa Abbassiah yang terakhir, Kalifah Musta’sim Billah adalah seorang penguasa yang lemah dan tidak berkelayakan. Ia telah mendelegasikan kekuasaan kerajaannya kepada Perdana Menterinya Muayyaduddin Ibn-E-Alqami, sebuah nama yang tidak sebenarnya. Nama dia yang sebenarnya adalah Nasr Nawsher Alqami. Kebanyakan sejarawan melaporkan bahwa ia adalah seorang berpaham Syiahh, tetapi yang lainnya mempertahankan pendapatnya bahwa ia adalah seorang pengikut Zoroaster. Sementara itu, Naseeruddin Toosi, seorang yang berpaham Syiahh yang lain, adalah ketua penasehat Hulagu Khan (cucu lelaki dari Chengiz Khan) dari Mongolia. Karena roda kekuasaan Dinasti Abbasiah dikendalikan oleh orang-orang Persia (para Ajami), maka mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan otoritas besar pemerintahan Abbasiah. Kita telah melihat pengaruh Abdullah bin Saba, ‘Imam’ Ibn Shahab Zuhri dan Abu Muslim Khurasani dalam merumuskan doktrin Syiahh dan akhirnya berhasil merobohkan Dinasti Umayyah. Oleh karena itu, orang-orang Persia yang hanya mempunyai nama Islam dan Syiahh mempunyai beberapa ambisi dan tujuan yang umum. (Ajaaeb-It-Tareekh oleh Yaqoot Hamdi).

Kami telah menyebutkan bahwa komplotan Majusi bergerak dengan tujuan untuk memperlemah pusat Kerajaan Muslimin dan tetap menjaga agar Muslimin menjauh dari Al-Quran. Kita telah melihat “capaian” mereka selama masa Khalifah Muqtadar Billah.

Bagaimana sejarah tersebut dibelokkan pada skala raksasa? Bagaimana cara orang-orang Persia menciptakan perselisihan di antara Muslimin? Silahkan baca bab berikutnya.

Benarkah para shohabat pernah saling berperang? (1)

BAGIAN-9

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

BEBERAPA TOKOH TERKEMUA

Sekarang mari kita lihat fakta tersebut. Malangnya, dogma apapun yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak, menjadi bagian yang melekat pada diri kita. Tentu saja, dogma-dogma tersebut terjalin secara emosional dengan kita. Itulah mengapa orang-orang pada umumnya cenderung untuk menghalangi pikiran mereka terhadap informasi baru dan bahkan menjadi tersinggung. Seorang Mullah akan dengan senang hati memberikan putusan hukum kafir. Sebuah syair mengatakan:

Aduhai, ratusan ribu macam persoalan semestinya dikatakan

Tetap tidak jadi dikatakan karena takut terhadap huru-hara massa

Bagaimanapun, menurut Al-Quran, merahasiakan kebenaran adalah suatu kesalahan besar (2:42, 140). Untuk memulainya, berikut adalah tahun kematian beberapa orang terkemuka:

Tahun Kelahiran dan Kematian Tokoh Sejarah

Semua penanggalan yang diberikan di bawah hanyalah pendekatan dan dapat mengandung kesalahan dikarenakan adanya perbedaan dalam sejarah yang berbeda. Sebuah ringkasan kronologi meskipun bersifat kasar, bagaimanapun, penting bagi kita untuk kembali sebentar melihat ke belakang.

Masa Hidup:

No. Nama Masa hidup
1. Prophet Muhammad (S) 52 sebelum Hijrah – 10 AH 570-632 CE
2. Hazrat Abu-Bakr Siddiq 49 sebelum Hijrah -12 AH 573-634 CE
3. Hazrat Umar Farooq 39 sebelum Hijrah – 23 AH 583-644 CE
4. Hazrat Uthman 39 sebelum Hijrah – 35 AH 583-656 CE
5. Hazrat Ali ibn Abi-Talib 22 sebelum Hijrah – 40 AH 600-661 CE
6. Hazrat Mu’awiya 19 sebelum Hijrah – 60 AH 600-680 CE
7. Yazeed bin Mu’awiya 26 – 64 AH 645-683 CE

PARA IMAM SHI’AH (Tahun kematian diberikan dengan AH saja)

No. Nama Tahun Kematian Periode
01. Ali ibn Abi Talib 40 AH 600-661 CE
02. Hasan bin Ali 49 621-670
03. Husain bin of Ali 61 623-680
04. Zainul Abedin bin Husain 95 658-712
05. Muhammad Baqir bin Zain 117 677-731
06. Ja’far Sadiq bin Baqir 148 699-765
07. Musa Kazim bin Ja’far 182 745-799
08. Ali Raza bin Musa Kazim 200 770-818
09. Muhammad Jawad Taqi bin Raza 220 809-834
10. Ali Hadi Naqi bin Taqi 254 829-868
11. Hasan Askari bin Naqi 260 846-874
12. Abul Qasim Muhammad Al-Muntazar Imam-uz-Zaman Al-Mahdi (jika memang pernah lahir) – tahun kelahirannya tidak diketahui secara tepat. Yaitu tahun 254 atau 255 AH. Dia menghilang pada umur 4 atau 5 tahun di Gua Samera di Iraq. 260 AH. 878 CE

Sekarang mari kita lihat kronologi para sejarawan yang pada awalnya menulis sejarah kita, termasuk peristiwa Karbala. Walaupun para sejarawam menangani disiplin informasi yang berbeda dengan Muhadhithin (para penulis Hadith), namun kedua kelompok tersebut melanggar batasan-batasan mereka kapan saja mereka inginkan. Oleh karena itu, kita menemukan sejarah bercampur dengan Hadith demikian juga sebaliknya. Volume yang luar biasa banyak ini dipenuhi dengan sejumlah pertentangan yang tiada akhir dalam diri mereka dan bertentangan satu dengan lainnya, karena buku-buku ini didasarkan pada informasi lisan. “Ia mendengar dari si-A yang mendengar dari si-B, dan dia mendengar dari si polan yang pada gilirannya mendengarnya dari ini dan itu dst”. Kemudian terdapat penjelasan dan analisa kredibilitas dan karakter orang-orang dalam ‘rantai periwayatan’ (sanad). Hal yang lucu adalah bahwa seorang pembawa cerita [perawi] yang dipercayai oleh sepuluh “ulama”, ternyata adalah seorang pendusta bagi sepuluh “ulama” yang lain.

SEJARAWAN & MUHADHITHIN YANG PALING TERKEMUKA

Para Pengarang dan Tahun Kematiannya:

  • Imam Ibn Jareer Tabari 310 AH (923 CE) – penafsir Al-Quran dan sejarawan yang pertama.

Imam Fiqh (Ahli hukum- tahun kematian AH):

  1. Imam Abu Hanifa                       150 AH
  2. Imam Malik Bin Anas                 179 AH
  3. Imam Shafi’i                              204 AH
  4. Imam Ahmad Bin Hanbal            241 AH

Imam Hadith Sunni:

  1. Imam Muhammad Ismail Bukhari             256 AH (870 CE)
  2. Imam Muslim Bin Hajjaj Al-Qasheeri        261 AH (875 CE)
  3. Abu Abdullah Ibn Yazeed Ibn Majah       273 AH (886 CE)
  4. Suleman Abu Dawood                           275 AH (888 CE)
  5. Imam Abu Musa Tirmizi                          279 AH (883 CE)
  6. Imam Abdur Rahman Nisai                     303 AH (915 CE)

Imam Hadith Shi’ah:

  1. Syaikh Muhammad Bin Yaqoob Bin Ishaq Al-Kulaini         329 AH (941 CE)
  2. Syaikh Saduq Abu Ja’far Ibn Ali Ibn Babwayhi Al-Qummi  381 AH (993 CE)
  3. Syekh Abu Ja’far Muhammad Ibn-Hasan Al-Toosi             460 AH (1071 CE)

Mullah yang dihormati Jalaluddin Rumi menulis tentang para Imam Fiqh:

Mereka memahat empat sekte keluar dari Deen (Agama) yang benar

Dan menciptakan sebuah celah di dalam Deen Nabi yang agung

Tetapi, berlawanan dengan Al-Qur-an, Rumi yang sama berkata:

Para sahabat begitu mencintai dunia ini yang

Mereka meninggalkan Mustafa (Nabi) tanpa peti mayat

“ILMU PENGETAHUAN” TENTANG ASMA-UR-RIJAAL

Ini adalah nama guru dari sejarah dan hadits kita. Hal ini penting diperhatikan bahwa sejarah Islam yang pertama ditulis oleh Tabari, sekitar 270 tahun setelah Nabi yang agung dan 230 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi.

Dan ia tidak mempunyai apapun di tangannya yang dapat digunakan sebagai rujukan karangannya. Pada kenyataannya, ia mengakui pada pembukaan bukunya yang berjudul “Induk dari semua Sejarah” bahwa ia hanya menulis berdasarkan apa yang diceriterakan oleh orang lain. Oleh karena itu, para pembawa ceritalah yang harus bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yang ada.

Dari sudut pandang Shi’ah, sejarah dicatat pertama kali oleh Imam Kulaini yang lebih kemudian dibanding Tabari, dimulai pada abad keempat AH atau sekitar 240 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi. Tabari dan Kulaini membangun khayalan mereka atas dasar desas-desus/ kabar burung. “Ia mendengar dari si polan yang mendengar dari si polan, dan seterusnya.”

Di samping menjadi mudah tertipu, kita – Muslimin mempunyai karakter yang aneh. Karena menjadi “Ummah yang aneh”, kita malah bangga terhadap sesuatu yang kita seharusnya malu! Perbuatan memalukan tersebut adalah apa yang disebut “Ilmu pengetahuan” tentang nama-nama manusia (asma-Ur-Rijaal). Para Mullah menepuk dada mereka mengklaim bahwa Muslimin telah memelihara nama-nama dari sekitar 500,000 orang yang memproklamirkan dirinya sebagai perawi/ ulama. Dr. James Gibbs dari Britania Raya telah dengan tepat menyerang Muslimin atas kenyataan ini, “Muslimin mempunyai sebuah Buku yang hidup, tetapi sambil duduk di mesjid-mesjid, madrasah-madrasah dan biara-biara mereka, mereka terus bermain dengan catatan sejarah yang usang. Lima ratus ribu pemain hantu ini bertanggung jawab terhadap perpecahan di antara Muslimin.”

TAMBAHAN INFO TENTANG PARA SEJARAWAN KITA

Adalah penting untuk diketahui bahwa sejarawan kita ‘yang terkenal, berjumlah ratusan, hidup pada zaman setelah Tabari/ Kulaini (310/ 329 AH). Tidak ada yang sebelumnya! Apa yang terjadi pada catatan periode keemasan sejarah muslimin? Pada masa pemerintahan Khalifa Abbasiah Haroon ar-Rasheed (memerintah tahun 169-192 AH), ketika Khalifa Haroon ar-Rasheed meminta kepada Imam Ahmad bin Hambal (164-241AH) bukti yang mendukung salah satu dari teorinya, ia secuilpun tidak bisa mengemukakan penjelasan dengan bukti tertulis! Imam Hambal menurut laporan dicambuk oleh Mamoon ar-Rashid (memerintah tahun 197-217 AH) atas perdebatan yang tanpa makna tersebut, yaitu apakah Al-Quran itu makhluq (yang diciptakan) atau bukan. Tetapi tak satupun dari para “Imam” ini mengucapkan bahwa sistem kerajaan adalah tidak Islami. Maka, pemerintahan yang sewenang-wenang tetap berlanjut semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.

DUA TABARI ?

Seperti halnya Imam Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifa, yang pernah menjadi ahli hukum (Faqeeh) kerajaan dinasti Ummayah, maka dengan cara yang sama Tabari telah menapakkan kakinya di  lingkungan kerajaan Khalifah Mo’tamid (memerintah tahun 255-278 AH) pada tahun 270 AH. Imam Ibn Jareer bin Yazeed Tabari (222-310 AH), (nama yang dia pakai) dengan penuh keindahan disampaikan kepada Khalifa Al-Muqtadar Billah (memerintah tahun 294-319 AH). Pada banyak catatan nama sebenarnya yang dimiliki “Imam” ini adalah Ibn Jareer bin Rustam Ibn Tabari yang menyingkapkan bahwa dia adalah seorang Parsi. (Sebagai contoh, lihat Kitabul Istaqama, hal.137).

Hari ini terdapat laporan yang membingungkan tentang dia, apakah ia seorang Syiahh atau Sunni, Khariji atau Rafidzi atau Majusi – pengikut Zoroaster (Muajjamil Adaba oleh Yaqoot Hamdi, 302 AH). Legenda juga menceritakan bahwa Imam Tabari bin Yazeed dan Imam Tabari bin Rustam adalah dua orang yang berbeda, meskipun keduanya lahir pada hari yang sama, keduanya adalah sejarawan, tinggal di kota yang sama, dan meninggal pada hari yang sama. Mereka berdua nampaknya sama dan berpakaian yang sama. [Mustahil merupakan sesuatu yang kebetulan]

PERSEKUTUAN ANTARA PARA MULLAH DAN RAJA

Singkatnya, selama masa pemerintahan Khalifah Muqtadir Billah (memerintah tahun 294-319 AH), delegasi kerajaan diberangkatkan ke Makkah, Madinah, Damascus, Qadisia, Koofa dan pusat provinsi lain. Isi perpustakaan mereka dimusnahkan dan diganti dengan buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang pada kenyataannya adalah para penjahat terhadap Islam. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Tabari dan “sarjana” lain yang seperti dia memperoleh kekuasaan sebesar ini.

SEMBILAN MUHADDITHIN ADALAH ORANG-ORANG PERSIA

Baiklah, adalah mengagumkan jika mengetahui bahwa semua dari enam orang yang disebut Muhadditheen Sunni dari Sahah Sitta (Sahih yang Enam – enam buku ‘resmi’ Hadith): Bukhari (w.256 AH), Muslim (w.261 AH), Ibn-Maja (w.273 AH), Abu Dawood (w.275 AH), Tirmizi (w.279 AH) dan Nasai (w.303 AH) datang dari Kerajaan Persia yang dikalahkan. Demikian juga, ketiga Muhadditheen Syiah: al-Kulaini (w. 329 AH), Syekh Saddooq (w. 381 AH), Syekh Al-Toosi (w. 460 AH) dan Abu Ali Tabrasi (486/1093 – 548/1154) (para penulis empat buku ‘resmi’ Hadith Syiah) berasal dari Persia. Tak satupun dari sembilan orang ini yang orang Arab.

ABU MUSLIM KHURASANI (80-137 AH/ 700-755 CE):

Para pengikut Majusi dari Persia telah menjadi sangat berpengaruh pada pemerintahan Abbasiah sejak dari awal. Pada kenyataannya, pendiri dinasti Abbasiah, Abu Muslim Khurasani adalah seorang yang bersemangat Majusi. Pada tahun 129 AH, dikarenakan tidak berkompetennya para penguasa Banu Umayyah yang terakhir dan adanya propaganda orang-orang Ajami (orang-orang Persia), kerusuhan telah terjadi diantara masyarakat Khorasan. Banyak dari massa yang menginginkan agar Muhammad Bin Ali bin Abdullah bin Abbas sebagai Khalifah.

Sebagaimana Imam Zainul Abedin, putranya – Imam Baqir – dan setelah dia putranya – Imam Ja’far Sadiq, semuanya telah sama sekali berhenti/ meninggalkan gelanggang politik. Sungguh menguntungkan bagi Abu Muslim Khorasani, karena Marwan II (memerintah tahun 125-132 AH), putra dari Marwan bin Hakam ternyata adalah seorang penguasa yang sangat tidak cakap. Abu Muslim menemukan pijakan yang kuat bagi dirinya. Imam Muhammad bin Ali meninggal pada tahun 126 AH dan para pengikutnya mengumumkan putranya Ibrahim sebagai Imam. Abu Muslim Khorasani berbicara kepada Imam Ibrahim untuk membunuh semua orang Arab di Khorasan, sebuah provinsi yang didominasi oleh orang-orang Persia. Tetapi, komplotan tersebut terungkap. Marwan II memenjarakan Imam Ibrahim dan kemudian membunuh dia. Saudaranya menggantikan Imam Ibrahim sebagai Imam, yaitu Imam Abul Abbas. Misi Abu Muslim adalah mencegah terjadinya konsolidasi pada pusat kekuasaan di antara para penguasa Arab, tentu saja di antara Muslimin secara keseluruhan. Akhirnya, pada tahun 132 AH gabungan angkatan perang Abu Muslim dan Imam Abul Abbas berhasil membinasakan rejim Ummayah. Marwan II dibunuh. Semua keturunan Banu Umayyah – kecuali wanita-wanita dan anak-anak – dilenyapkan. Hanya seorang pangeran yang bernama Abdur Rahman berhasil melarikan diri ke Andalusia (Spanyol). Dengan sebuah populasi muslim yang penting di Spanyol sejak penaklukannya oleh Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziyad tahun 91 H/ 711 M, Pangeran Abdur Rahman mengatur dinasti Ummayah di Spanyol pada tahun 138–171 H/ 756-788 M.

Karena khawatir Abu Muslim bangkit untuk berkuasa, maka Abul Abbas membunuh dia. Meski demikian, orang-orang Persia masih tetap sangat kuat pada awal pemerintahan Abbasiah tersebut. Sesungguhnya, dari tahun 129 hingga 132 AH orang-orang Persia secara langsung menguasai Kerajaan Muslimin. (Tareekhul Islam oleh Dr. Hameeduddin)

HAROON AR-RASHEED DAN BARAMIKAH

Naiknya orang-orang Majusi (Zoroaster) ini bertahan sekitar 200 (dua ratus) tahun. Pengaruh mereka, sekalipun secara sembunyi-sembunyi, menjadi sangat kuat sedemikian rupa sehingga seorang raja yang kuat seperti Haroon Ar-Rasheed (berkuasa sekitar tahun 169-193 AH) pada saat itu mendapati dirinya tanpa daya melawan mereka. Ini merupakan sebuah fakta yang sedikit diketahui bahwa Haroonur Rasheed sendiri adalah putra seorang perempuan Persia yang bernama Khaizran.

Keluarga Persia Baramika telah menaiki kekuasaan yang tak terukur dalam Kekhalifahan sebagai para pejabat tinggi Haroon. Kebanyakan sejarawan mengakui bahwa pada tahun 187 AH, Haroon sebenarnya mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menaklukkan dengan mudah daerah yang pada saat ini disebut Cyprus dan Turki, termasuk Constantinople (Istanbul), pintu gerbang menuju Eropa. Seandainya dia melakukan hal itu, boleh jadi akan mencegah terjadinya Perang Salib yang mengerikan yang telah terjadi di kemudian hari. Bagaimanapun, orang-orang Majusi Baramika menjaga dia agar tetap sibuk dengan cerita Seribu Satu Malam dan bersenang-senang.

Menteri/ para pembantu Haroon seperti Khalid, Yahya, Fazal dan Jafar semuanya adalah orang-orang Baramika. Mereka mengganti bahasa Arab dengan bahasa Persia sebagai bahasa kerajaan. Perlu dicatat bahwa pada masa pemerintahan Harunlah perayaan festival agama Majusi yang bernama Nawroze diadakan dengan semangat besar menggantikan perayaan Eid Muslimin.

Bagaimanakah orang-orang seperti Al-Zuhri (w. 124AH), Ibnu Ishaq (85-143AH), Al-Waqidi (130-207AH), Ibnu Sa’ad (168-230AH), Tirmizi (209-279AH), Tabari (224-310AH), Kulaini (w. 329AH), Saddooq (301-381AH) dan lainnya memperoleh kekuasaan yang banyak?

Mereka tidak hanya menikmati kebebaskan istimewa dari para penguasa, tetapi mereka juga mempunyai monopoli di bidang tulis-menulis. Sebagai balasannya mereka dahulu memproklamirkan bahwa raja adalah bayang-bayang Tuhan yang ada di bumi dan memalsukan sejarah, Hadith dan penafsiran Quran yang akan mengesahkan raja yang sewenang-wenang, istana-istananya, para harem dan bermacam-macam kenikmatan kerajaan.

SEBUAH CONTOH:

Shah Abdul Aziz Dehli, (meninggal 1229 AH) memberikan sebuah contoh kekacauan ini di jurnalnya. Suatu hari Khalifa Mahdi Abbassi sedang melepaskan merpati untuk terbang. Muhaddith Ghias bin Mamoon melihat ini dan mengucapkan, “Rasool (S) telah berkata bahwa seni memanah, adu kecepatan kuda dan menerbangkan merpati adalah kemuliaan mukminiin.” Hadith yang dilaporkan tersebut menyebutkan adu kecepatan unta, bukannya menerbangkan merpati.

Khalifa Haroon Rasheed mempunyai kerajaan yang paling baik dan mempunyai angkatan perang yang paling kuat pada zamannya. Jika mau, ia bisa dengan mudah menundukkan Byzantium, berikut keseluruhan Kerajaan Romawi. Seandainya Ia melakukan tugas tersebut, maka tidak akan ada Perang salib di kemudian hari dan Islam bisa sudah merengkuh keseluruhan Eropa dengan kekuatan dan kemuliannya.

PENIPU LAIN: IBNU SHAHAB AL-ZUHRI

Sekarang mari kita mempelajari “Imam” Ibnu Shahab Al-Zuhri (w. 124 H/ 742 CE) (lahir 50 H ?).

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Musvi, pengarang Mizanul Faris menyatakan bahwa nama yang sebenarnya dari Zuhri adalah Ibnu Shahab Toosi. Ia adalah salah satu dari ratusan ribu migran yang, setelah Arab menaklukkan Persia, telah menetap di kota-kota besar Iraqi seperti Koofa, Basra dan Baghdad. Beberapa buku sejarah telah menjuluki dia sebagai pendiri kedua theologi Syiah. (pendiri pertamanya adalah Yahudi Abdullah bin Saba)

Di  buku “Imam Zuhri dan Imam Tabari, Gambaran Sisi lain “, Allama Tamanna Imadi menyatakan bahwa peran Zuhri menonjol secara menyolok pada semua perbedaan antara sekte Syiah dan Sunni hingga hari ini.

Ia biasa memalsukan sebuah Hadith dan kemudian disebarkannya kepada pusat-pusat propaganda yang dari merekalah berita bohong tersebut menyebar ke keseluruhan dunia Islam. Beberapa ulama Syiah mengakui bahwa dia adalah pengikut Syiah, sementara yang lain berpendapat bahwa dia seorang Sunni (Syaikh Muhammad Tahir Al-Makki). Bagaimanapun, Ibn Shahab Zuhri (Tusi) adalah keturunan dari kerajaan Persia Sassanid dan berpaham Zoroastrian. Allama Imadi, Maulana Dost Muhammad Qureshi, Syaikh Muhammad Tahir Al-Makki (417-460 AH, dihukum bakar hingga meninggal) dan Allama Mujeebi, semuanya dengan suara bulat menyatakan bahwa akal bulus Zoroastrian ini menampilkan dirinya seperti “Imam” yang dipercayai banyak orang hingga hari ini. Dialah orangnya yang:

  • Mengarang cerita untuk menimbulkan keraguan tentang pengumpulan dan keaslian AL-Quran.
  • Yang memulai pembicaraan bahwa beberapa ayat Al-Quran membatalkan yang lain (konsep nasikh-mansukh).
  • Memalsukan dugaan yang bodoh bahwa Al-Quran diwahyukan dengan tujuh versi “bacaan”.
  • Dialah orangnya yang menyebutkan Hazrat Ayesha pada konteks Surah An-Noor. Hal ini telah menyediakan kesempatan terbuka bagi “Imam” Bukhari untuk memfitnah Ummul Mu’miniin (Ibu orang-orang beriman). Quran tidak pernah menyebut nama siapapun pada Surah tersebut.
  • Dialah orang yang mengarang cerita perselisihan antar Sahabah Karam mengenai suksesi Nabi yang mulia di Saqeefa Bani Saa’idah.
  • Cerita palsu tentang perdebatan antara Hazraat Ali, Abu Bakar dan Umar.
  • Cerita yang disisipkan tentang penyiksaan terhadap Fatima binti Muhammad, perselisihan tentang Kebun Fadak, dan penganiayaan putri Nabi oleh Hazraat Abu Bakr dan Umar.
  • Puncak dari semuanya adalah cerita dusta tentang pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha, Pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan Pertempuran Nahrawan antara Hazrat Ali dan Khawarij adalah ciptaan pikiran Zuhri. Sesungguhnya, Pertempuran Jamal, Saffain, Nahrawan dan Karbala tidak pernah terjadi!

Zuhri sebenarnya bukan hanya menyebarkan cerita menghebohkan tersebut di atas. Ia juga mempunyai dukungan penuh dari para pengikutnya yang Zoroastrian. Motiv utama mereka yang tersembunyi adalah untuk memecah-belah muslimin menjadi beberapa sekte, sehingga mendorong mereka untuk berselisih satu sama lain dan menjadikannya meninggalkan Al-Quran.

Komplotan lain dari urusan yang jahat ini adalah orang-orang Yahudi yang diusir dari jazirah Arab pada zaman Nabi. Banyak di antara mereka memakai nama dan berkedok muslim dan menetap di pusat-pusat peradaban Islam untuk turut menikmati pemerintahan muslim yang makmur.

Kekuatan ke-3 yang aktif dalam usaha makar ini adalah Kekaisaran Byzantium (Romawi timur) yang telah ditaklukkan oleh muslimin pada masa pemerintahan Hazrat Umar. Syria, Mesir, Jerusalem, Alexandria dll telah jatuh ke tangan muslimin. Orang-orang Romawi juga memesongkan umat Islam karena ingin membalas dendam atas kekalahan mereka dari muslimin.

KEMAH-KEMAH MUSUH:

Yaitu pusat-pusat pergerakan pemikiran Zoroastrian, Yahudi dan Nasrani membentuk suatu koalisi melawan muslimin. Suatu penderitaan akan membangkitkan rasa senasib seperjuangan. Tiga perencana makar tersebut, yaitu dari unsur-unsur yang terkalahkan, mengadakan suatu rangkaian pertemuan rahasia di  Koofa, Syria, Yemen dan Constantinople. (Lisanul Meezan)

Perlu diingat bahwa muslimin tidak menjajah kekaisaran Persia dan Romawi terhadap milik penduduk atau merampas tanah mereka. Di  kedua adikuasa zaman itu, segelintir elit yang berkuasa menekan dan memperbudak masyarakan secara fisik, mental dan ekonomi. Laporan tentang kekejaman tersebut dan teriakan masyarakat meminta tolong mencapai ibukota adikuasa yang baru di  Madinah. Nabi yang mulia telah memperingatkan kaisar yang lalim tersebut, bahwa jika mereka gagal mengubah dan mengembalikan hak-hak masyarakat, maka saatnya sudah dekat bahwa elit kekuasaan akan menghadapi kesulitan berhadapan dengan masyarakat. Hazraat Abu Bakr dan Umar hanyalah menegaskan kembali peringatan tersebut.

Perlu diingat kembali bahwa Al-Quran menjelaskan jihad dalam pengertian perang hanya dalam keadaan/ kondisi berikut:

  • Ketika musuh secara phisik menyerang Muslimin.
  • Ketika musuh mengusir Muslimin dari rumah dan negeri mereka.
  • Ketika orang-orang yang tidak bersalah mendapatkan tekanan dan berteriak meminta tolong.

Dalam hati mereka, masyarakat Parsi dan Kristen bergembira sekali atas munculnya Islam sebab pertama kali bagi mereka menyaksikan indahnya kebebasan. Namun demikian, bagi mantan elit istana/ penguasa kondisi tersebut merupakan bencana.

Orang-orang Yahudi tidak pernah melupakan luka akibat pengusiran yang mereka alami pada masa lalu. Dalam hati mereka, unsur-unsur yang terkalahkan ini berkesimpulan bahwa tidaklah mungkin melawan muslimin di medan pertempuran. Oleh karena itu, mereka memecahkan persoalan tersebut dengan cara menabur benih perselisihan dan perpecahan antar muslimin. Cara yang terbaik untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah menjadikan muslimin meninggalkan Al-Quran secara tanpa mereka sadari.. Selanjutnya, bentuk peperangan mereka adalah secara filosofis dan intelektual di mana orang-orang Arab yang lugu merasa tidak sedang berhadapan dengan musuh. Mereka adalah manusia yang suka bertindak, bukan tukang gosip.

HORMUZAN, PERANCANG MAKAR PERTAMA DALAM SEJARAH KITA:

Si Majusi Hormuzan pernah menjadi komandan militer Persia terakhir di bawah kekaisaran Yazdgard dan juga sebagai gubernur provinsi sebelah timur. Dialah aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar Farooq. Sejarawan kita hanya meninggalkan kepada kita sekelumit komentar ringkas dalam memandang tragedi kejam ini, yaitu bahwa seorang budak Persia non-Muslim yang bernama Feroz Abululu yang menyerang Hazrat Umar dengan sebuah pisau sewaktu sholat fajar karena adanya masalah pribadi! (Tarikh Tabari)“

  • Feroz membunuh yang “kedua” (Hazrat Umar) karena yang belakangan ini biasa menganiayanya.” (Malhoof yang merujuk pada Tawus)
  • Versi yang ketiga menyatakan bahwa Feroz Abululu biasa bekerja pada rumah Hazrat Mugheera. Ia adalah seorang pande besi dan tukang kayu. Pada suatu hari ia membawa keluhan di hadapan Hazrat Umar bahwa Hazrat Mugheera tidak membayar gaji dia secara mencukupi. Hazrat Umar mempelajari keluhannya dan memutuskan bahwa gaji dia sudah cukup, dan Abululu membunuh Hazrat Umar karena hal itu.

Bukankah hal itu terdengar terlalu sepele sebagai alasan untuk membunuh seorang Khalifah? Ini bukanlah sekedar pembunuhan kepada orang biasa, tetapi seorang Umar bin Khattab. Pembunuhan terhadap Umar Farooq adalah sesuatu hal yang besar! Pasti ada makar yang besar di belakang kejadian ini yang perlu diselidiki.

Abdullah bin Saba’ (yang juga disebut As-Saudah) adalah sebuah karakter yang misterius. Dengan Raa’in bin Saba’ sebagai nama aslinya, ia adalah seorang aktor intelektual Yahudi dengan rancangan jahat mengganggu otoritas pusat kekhalifahan. Pada masa Hazrat Uthman ia tampil ke kancah politik di Iraq dengan menyamar sebagai seprang muslim. Ia menciptakan dasar-dasar ajaran Syiah seperti:

  • Tiap-tiap Nabi mempunyai seorang ahli waris yang ditetapkan (‘Wasi’) dan Hazrat Ali adalah ahli waris Nabi Muhammad (S) yang menerima warisan suksesi kepemimpinan, pengetahuan dan kebijaksanaan dan segala sesuatu yang Nabi tinggalkan.
  • Kekhalifahan adalah hak Ilahiah Hazrat Ali dan Kalifah yang lain adalah perampas kuasa dan zalim. Dengan bekerjasama dengan orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi, Abdullah bin Saba’ berhasil dalam rancangan jahatnya.
  • Tokoh lainnya adalah seorang Kristen yang bernama Jafeena dari Hirah. Tadinya ia adalah pejabat keamanan kerajaan Romawi. Secara lahiriah ia memeluk Islam tetapi ia ditugaskan untuk menyewa pembunuh dan sebagai perancang pembunuhan Kalifah.
  • Shahrbano putri Yazdgard: Seorang puteri raja Persia, ditangkap dan dibawa ke Madinah pada tahun 20 AH. Hazrat Hussain menikahinya dengan persetujuannya pada tahun 25 AH. (Usool Al-Kafi).

Ada laporan lain bahwa nama yang sebenarnya dari puteri Yazdgard yang menarik ini adalah Jehan Shah dan Hazrat Umar mengusulkan dua nama yang bagus untuknya, Salameh dan Shahrbano. (Kitab Ash-Shafi).

Riset kami menemukan bahwa nama asli dari puteri ini adalah Shahrzadi dan dia adalah anak perempuan dari Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Tanpa memperhatikan bahwa perkawinan ini disetujui oleh para pemuka muslimin. Mereka mengharapkan bahwa perkawinan ini akan menciptakan niat yang baik antara bangsa Arab dan Ajami (non Arab). Bagaimanapun, sisa-sisa  pejabat kerajaan Persia menganggap peristiwa ini sebagai suatu hinaan. Akumulasi api kebencian membara di hati mereka hingga akhirnya mereka berhasil membunuh Imam Hussain.

SEBUAH PENGAKUAN MENGEJUTKAN- HUSSEIN KAZIMZADA

Ini adalah sebuah gambaran yang jelas beberapa karakter buruk dari sejarah kita. Sekarang marilah kita lihat apa yang ditulis oleh seorang sejarawan Iran terkenal abad 20 di dalam bukunya yang berbahasa Persia dengan judul Tajalliat-E-Rooh-E-Iran dar Adwar-E-Tareekhi (Kemuliaan Semangat Iran di dalam   Catatan Kejadian Sejarah):

“Sejak zaman Sa’ad bin Abi Waqas menaklukkan Persia (20 AH) atas perintah Khalifah kedua (Hazrat Umar), orang-orang Persia tetap memelihara semangat balas dendam di hati mereka. Mereka tidak pernah dapat melupakan bahwa segelintir orang-orang Arab telah mengakibatkan kerajaan mereka yang perkasa hancur dengan tiba-tiba. Nenek moyang kita menempuh satu-satunya jalan yang masih terbuka bagi mereka. Pertama-tama, mereka menghasut Abbasiah dari Banu Hashim untuk menghapuskan Dinasti Bani Umaiyyah yang telah berkuasa dari tahun 40 H/ 661 CE hingga 132 H/ 750 CE. Dengan tetap melakukan tujuan jangka panjang mereka dan tetap tekun dengan rencana mereka selama berabad-abad, pada saat yang paling tepat, akhirnya mereka mengundang Hulagu Khan dari Mongolia pada tahun 655 H/ 1258 CE dan menghancurkan kerajaan Arab Abbasiah. Dengan cara ini nenek moyang kita membalas dendam kekalahan mereka yang hina dan hilangnya kerajaan mereka di Qadisiyah pada tahun 16 H/ 637 CE di tangan orang-orang Arab.”

Ini adalah pembalasan dendam yang mereka lakukan kepada muslimin. Kami telah menyebutkan di atas karakter dasar dari drama yang mengerikan yang dirancang oleh mereka. Untuk membalas terhadap Islam sendiri, tokoh-tokoh ini mengganti Islam yang murni ajaran Nabi yang agung Muhammad dengan Islam Ajami. Fondasinya diletakkan selama masa pemerintahan Khalifa Haroon Ar-Rashid. Islam Ajami ini merajalela menjadi apa yang disebut dunia Islam hingga hari ini. Haroon lahir pada tahun 148 H/ 766 CE, dan memerintah selama perioda tahun 169-193AH (786-809 CE).

Ini adalah Islam yang sama, yang oleh Hussain Kazimzada dan Allama Iqbal disebut Islam Ajami. Tuan Syed Ahmad Khan menamainya Agama ciptaan, Allama Inayatullah Khan Al-Mashriqi menamainya Agama yang salah dari Maulvi. Saya menyebutnya N2I, Islam Nomor Dua seperti obat palsu yang dikenal sebagai obat no. 2 di anak benua Indo-Pakistan.

RAHASIA LAIN YANG TERUNGKAP: ABDUL JABBAR QARAMATI

Sebuah buku (dokumen tunggal tulisan tangan) yang ditulis oleh Abdul Jabbar Qaramati tertanggal 280 AH (sekitar zaman Kalifah Abbasiah Mo’tazid) tersimpan di musium Istanbul. Judulnya adalah Kitab-Al-Dalail Al-Nabawwut Syedna Muhammad. Buku ini menceritakan kepada kita bahwa:

« Meskipun hingga dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Nabi kita, Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan. Orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi (Zoroastrian) tetap berusaha menabur benih perselisihan pada kelompok Muslimin. Strategi pemimpin mereka adalah serupa dengan Abdullah bin Saba dan Abu Muslim Khorasani, yang menghidupkan kembali perbedaan etnis antara Arab dan non Arab, yang semua ini telah dihapuskan oleh Al-Quran. »

Mereka menyebarkan kepercayaan bahwa Kalifah seharusnya dari keturunan Hazrat Ali. Pada sisi lain, para konspirator mendapat dukungan kekhalifahan dari keluarga Hazrat Ali dan pada saat yang sama, mereka membunuh para Imam secara berurutan, sedemikian rupa sehingga kaum muslimin juga tidak akan bisa bersatu di bawah keturunan Hazrat Ali juga. Rangkaian pembunuhan ini dilakukan oleh orang-orang dari aktor utama di belakangnya. Pembunuh Hazrat Ali, Jamshed Khurasani, adalah orang suruhan. Perlu dicatat bahwa Jamshed Khorasani adalah seorang Parsi tetapi buku sejarah kita (yang sebenarnya sejarawan Persia) menyebut dia sebagai Abdul Rahman Ibn Muljam Khariji.

Abdul Jabbar Qaramati menulis dalam buku ini bahwa pada saat kesyahidannya, Hazrat Ali adalah seorang Gubernur Iraq yang ditugaskan oleh Hazrat Uthman, sebagaimana ia telah ditugaskan oleh Hazrat Umar sebelumnya. Sebelum membunuh Hazrat Ali, Abdullah bin Saba telah membunuh Hazrat Uthman secara mendadak pada suatu malam di rumah pemerintahan.

Apa yang disebutkan oleh buku tulisan tangan Abdul Jabbar Qaramati ini telah pula dibuat oleh Dr. Hameeduddin, seorang sejarawan terkenal anak benua (Ph.D. dari Harvard) dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam (Terbitan Madinah) pada  halaman 486. Perlu diperhatikan bahwa Qaramati tidak menyebutkan adanya huru-hara ribuan pemberontak yang masuk ke Madinah, ataupun adanya pengepungan rumah Khalifah Uthman. Hazrat Uthman sahid pada tahun 35 AH.

Hazrat Ali, hingga kesyahidannya pada tahun 40 AH/ 660 CE, sebelumnya adalah sebagai Gubernur Iraq yang diangkat oleh khalifah Umar dan Usman dan akhirnya sebagai Khalifah yang baru, Amirul mu’miniin.

Jadi, bagaimanakah perihal adanya pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha atau pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan yang terakhir pertempuran Nahrwan antara Hazrat Ali dan Khawarij, semua cerita ini adalah pemalsuan yang luar biasa dari hasil karya pemikir yang briliant.

Sekarang mari kita perhatikan apa yang dinyatakan oleh Hujjatallah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi dalam bukunya Meezanul Faris dan oleh Hur bin Abdul Rahman, Gubernur Andulusia (Spanyol), di buku hariannya, Muzakkrah Hur bin Abdul Rahman.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.