HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (5)

BAGIAN II

TENTANG AHADITS RAJAM

Dalam Bagian I kita melihat bahwa jika kita memulai dengan menerima rajam sebagai benar-benar sebuah hukum Islam untuk perzinahan yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada penjelasan yang masuk akal tentang mengapa Al-Quran mengatur 100 cambukan bagi kasus zina tanpa pernah menyebutkan rajam. Kebanyakan pendukung rajam mengatakan bahwa hukuman Qurani  adalah untuk orang yang belum menikah dan rajm adalah untuk orang yang sudah menikah. Tetapi seperti yang kita lihat dalam Bab 1, ada bukti tak terbantahkan bahwa Al-Quran telah mencakup kedua kasus ketika berbicara tentang zina dan hukumannya. Selain itu, pemahaman ini tidak menawarkan penjelasan yang masuk akal tentang mengapa Al-Quran mengeluarkan/ mengecualikan untuk kasus yang lebih penting yaitu bagi yang sudah menikah. Ini mengarah kepada kesimpulan bahwa ada konflik nyata antara hukuman rajm dan Al-Quran. Menyadari hal ini, beberapa pendukung rajm telah menggunakan penjelasan lain – bahwa Al-Quran telah dibatalkan oleh hadits tentang rajam atau bahwa al-Quran tidak menentukan hukuman tersebut namun ayat yang relevan telah dihapus atau hilang. Tetapi penjelasan ini kelihatan tidak lebih sekedar mempertahankan yang dilakukan oleh orang yang membatasi hukuman yang Qurani bahwa 100 cambukan hanya untuk kasus orang yang belum menikah.

Alasan kenapa mayoritas umat Islam menerima hukum rajm adalah bahwa mereka menerima keaslian ahadits yang berbicara tentang hal itu. Tetapi mengingat fakta bahwa hukum rajm bertentangan dengan Al-Quran atau paling tidak bermasalah jika ditinjau dengan cahaya Al-Quran, maka keaslian hadits tentang rajm menjadi layak dicurigai secara serius. Hal ini mensyaratkan bahwa setidaknya kita harus berhati-hati memeriksa keaslian ahadits ini sebelum menerimanya, jika tidak demikian berarti menolak ahadits tersebut secara langsung karena bertentangan dengan Al-Quran. Tetapi pemeriksaan seperti ini belum dilakukan oleh para pendukung rajm. Mereka cukup puas dengan membuat daya tarik umum dengan argumen bahwa rajm ditetapkan atau terdapat dalam sejumlah besar hadits yang ditemukan di banyak koleksi hadits dengan asanid yang bervariasi dan oleh karena itu hadits ini adalah otentik.

Argumen umum ini didasarkan pada gagasan umum, tetapi keliru, bahwa sejumlah besar hadits yang ditemukan dalam sejumlah besar buku harus secara substansial terjadi dalam sejarah. Tetapi hal ini merupakan fenomena yang terkenal bahwa sekali sebuah ide diciptakan, maka akan mulai mengalami ekspresi yang berbeda-beda sepanjang waktu dan bahkan mulai memunculkan berbagai laporan keliru dari peristiwa yang mendukung ide tersebut. Sebagai contoh, sekali gagasan tentang piring terbang diciptakan, maka akan memunculkan peningkatan jumlah penampakan benda asing tersebut. Laporan penampakan yang banyak tersebut tidak membuktikan bahwa piring terbang tersebut datang ke bumi dari luar angkasa secara teratur. Contoh lainnya adalah tentang penyaliban Yesus, yang disebutkan dalam sejumlah besar variasi ahadits Kristen dan bahkan non-Kristen. Ahadits ini didokumentasikan dalam beberapa dekade setelah kepergian Yesus dari dunia ini, yang berbeda sama sekali dengan ahadits tentang rajm yang dokumentasinya dimulai tidak lebih awal dari seratus tahun setelah Nabi saw. Ada laporan yang panjang tentang bagaimana Yesus ditangkap, bagaimana ia diadili, dihukum, dicambuk, dan bagaimana ia dibawa ke suatu tempat di luar kota Yerusalem dan kemudian disalib di sana dan bagaimana pakaiannya disobek-sobek oleh para algojo dan ia diberi cuka untuk minum dan diolok-olok dan bagaimana ia akhirnya meninggal. Ada banyak rincian yang tepat dengan nama tempat dan orang-orang yang terlibat dan dengan referensi tanggal dan waktu dari hari di mana berbagai kejadian tersebut berlangsung. Rincian ini jauh lebih banyak dari pada rincian yang diberikan dalam ahadits tentang rajm yang jarang menyebutkan nama-nama orang-orang yang dilempari batu karena perzinahan dan nama-nama tempat di mana rajam berlangsung. Sama seperti hadits tentang rajm yang ditemukan dalam banyak buku-buku hadits begitu juga tentang ahadits penyaliban Yesus juga ditemukan di semua kitab-kitab Injil kanonik, dalam sebagian besar injil apokrif, dan banyak dokumen awal Kristen lainnya. Dalam banyak kasus bahkan seseorang dapat memberikan asanid yang bahkan terlihat lebih baik daripada asanid hadits tentang rajm. Sebagai contoh, injil kanonik pertama, yang mencatat laporan rinci tentang penyaliban, dikatakan ditulis oleh Matius yang adalah seorang saksi mata dari peristiwa kehidupan Yesus. Laporan yang sama benarnya adalah tentang Injil keempat yang dikatakan ditulis oleh Yohanes, saksi mata lain dari murid Yesus. Injil kedua ditulis oleh Markus yang dikatakan telah belajar ahadits Injil dari Petrus yang merupakan murid dari saksi mata. Asanid ini jauh terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan ahadits tentang rajm karena ahadits penyaliban memiliki paling tidak satu satu dokumen dari saksi mata, sedangkan dalam kasus ahadits tentang rajm kita tidak miliki satu dokumenpun yang ditulis oleh saksi mata.

Namun ketika anda melampaui kesan pertama kali yang diciptakan oleh berbagai referensi tentang penyaliban dalam tulisan-tulisan Kristen dari zaman awal dan melakukan analisis kritis dan historis kepada berbagai ahadits tersebut, untuk memahami ahadits tersebut dalam konteks peristiwa terkait lainnya, maka akan menjadi jelas bahwa penyaliban tersebut atau pada hakekatnya adalah laporan tersebut adalah fiktif (lihat buku saya, Hilangnya Yesus secara Misterius dan Asal-usul Kristen). Fakta penolakan Al-Quran  perihal penyaliban Yesus menjadikannya sebuah prinsip keyakinan Islam bahwa suatu kejadian yang dilaporkan dalam banyak jalan, dalam banyak sumber yang berbeda dan diterima dan diperingati oleh jutaan orang bisa saja sekedar fiksi. Dari kasus ini diperoleh pelajaran bahwa untuk terus berpegang dan menerima suatu peristiwa sebagai kejadian sejarah, tidak cukup hanya karena ditemukan dalam banyak variasi laporan dan banyak orang yang percaya pada kejadian itu, apalagi jika laporan tersebut tidak konsisten dengan Al-Quran.

Juga perlu diperhatikan di sini bahwa literatur hadits sendiri memberikan contoh-contoh hadits yang telah datang kepada kita melalui berbagai bentuk dan dengan berbagai rantai penularan dari banyak sahabat dan oleh karenanya diakui oleh para ahli dapat dipercaya. Namun demikian, al-Nawawi dalam Pendahuluan pada koleksi 40 hadits beliau yang terkenal, mengatakan:

Telah diriwayatkan kepada kami dari ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Abd Allah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abi al-Darda`, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri melalui banyak jalur transmisi dan dalam berbagai bentuk bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghafal untuk ummatku 40 hadits yang berkaitan dengan agama mereka akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kebangkitan dalam kelompok ahli fiqh dan ulama” . … Sarjana Hadits (huffaz) sepakat bahwa hadits ini adalah hadits lemah meskipun mempunyai banyak jalur transmisi. … Ulama religius menyetujui diperbolehkannya menggunakan hadits yang lemah dii dalam praktek jika itu menyangkut tindakan kesalehan.

Jadi banyaknya laporan tentang suatu kejadian atau perkatakan bukan sebagai bukti keasliannya. Lantas, apa kriteria yang dipakai untuk menentukan apakah serangkaian ahadits yang mendukung sebuah ide itu dapat dipercaya?

Ketika kita memiliki sejumlah besar laporan yang mengulangi suatu tema, kita perlu melihat setiap laporan tersebut secara terpisah. Kehandalan dari seluruh kelompok laporan tersebut tidak lebih tinggi dari pada yang paling dapat dihandalkan dari masing-masing laporan. Sebagai akibatnya, jika kita tidak menemukan salah satu hadits yang secara meyakinkan dapat dinyatakan dipercaya/ dihandalkan, maka seluruh kelompok laporan tersebut tidak dapat dideklarasikan sebagai dapat dihandalkan/ dipercaya. Selain itu, dalam kasus ahadits tentang rajm, kita perlu menggunakan seketat mungkin standar untuk menentukan kehandalannya, karena, sebagaimana dicatat beberapa kali sebelumnya, ada keberatan yang kuat terhadap kehandalan ahadits rajam atas dasar Al-Quran dan karena jika kita menerimanya berarti mengambil nyawa seorang manusia dengan cara yang sangat menyakitkan.

Dalam bagian penelitian ini kita menyelidiki hadits tentang rajm dan menunjukkan bahwa tidak satupun dari ahadits tersebut yang memenuhi standard yang diperlukan untuk masuk kategori dapat dipercaya dan oleh karena itu hukuman rajm tidak dapat dipercaya untuk dikaitkan kepada Nabi Islam. Hukum ini harus ditolak dalam rangka untuk mendukung hukuman yang ditentukan dalam Kitab Allah.

 

Bab 5

Hukuman Mati Bagi Homoseksualitas, Incest, dan Menyetubuhi Binatang

Beberapa ulama sekolah fiqh Syafi’i dan Maliki telah mendefinisikan zina mencakup tindakan homoseksual dan/ atau bestiality (seks dengan binatang). Incest, tentu saja, adalah zina, setidaknya dalam kasus heteroseksual.

Kami memulai bagian dari buku ini dengan bab tentang hukuman atas tindakan ini karena alasan berikut: Hukuman mati bagi tindakan-tindakan ini yang ditetapkan dalam beberapa hadits, ditolak oleh mayoritas ulama dan hadits itu sendiri dapat dengan mudah terlihat palsu. Hl ini semestinya sangat membantu bagi para pembaca yang merasa tidak mungkin untuk membayangkan bahwa kisah-kisah Nabi merajam orang karena zina bisa saja telah dipalsukan baik sengaja atau sebagai akibat dari serangkaian kekeliruan. Mereka semestinya dapat melihat setidaknya adanya kemungkinan bahwa hukuman rajam bagi perzinahan masuk ke dalam Islam tanpa ajaran dari Allah dan Rasul-Nya, seperti halnya hukuman mati untuk tindakan homoseksual, inses, dan hubungan sex dengan binatang yang masuk ke dalam Islam tanpa ajaran dari Allah.

 

Hukuman Mati bagi Bestiality (hubungan sex dengan binatang)

Tidak ada penyebutan apapun tentang hukuman untuk bestiality dalam Muwatta, Bukhari atau Muslim. Kami menemukan beberapa Ahadits tentang masalah ini dalam buku Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, namun terhadap ahdits ini, para muhadditsun yang mengemukakan pendapat tentang keaslian ahadits yang mereka catat, tidak memiliki pendapat yang mendukung dari ahadits ini.

Ada satu hadits yang menetapkan secara esensial adanya hukuman mati bagi bestiality:

‘Abd Allah bin Muhammad al-Nufayli meriwayatkan kepada kami: ‘Abd al-Aziz bin Muhammad meriwayatkan kepada kami: ‘Amr bin Abi ‘Amr meriwayatkan kepada saya dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw berkata: “Jika ada orang yang melakukan hubungan seksual dengan seekor binatang, bunuh dia dan bunuh (binatang) itu yang bersama dengan dia.” (‘Ikrimah) berkata: “Aku bertanya kepadanya (Ibnu ‘Abbas): “Mengapa binatang tersebut? Ia menjawab: “Saya pikir (Nabi) tidak menyetujui dagingnya dimakan ketika hal seperti itu telah dilakukan kepadanya [1]” Abu Dawud berkata, ini tidak kuat. (Abu Dawud 3871)

Riwayat hadits ini dengan banyak variasi juga ditemukan dalam Tirmidzi (1374), Ibnu Majah (2554), dan Musnad Ahmad (2294, 2591). Mereka semua diriwayatkan dari ‘Amr bin Abi ‘Amr dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Satu narasi di Ahmad berasal dari ‘Abbad bin Mansur bukan ‘Amr bin Abi ‘Amr tetapi dalam narasi itu Nabi tidak disebutkan dan kata-kata yang dikutip tersebut dipahami merupakan kata-kata Ibnu ‘Abbas:

‘Abd al-Wahhab meriwayatkan kepada kami: ‘Abbad bin Mansur memberitahu kami dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa mengenai orang yang berhubungan seks dengan binatang ia berkata: “bunuh fa`il dan maf`ul bihi“. (Ahmad 2597)

Tetapi dalam al-Hakim, sebuah narasi dari ‘Abbad bin Mansur yang sama dari ‘Ikrimah di mana perkataan Ibnu Abbas tersebut menjadi sebuah hadits Nabi:

From’Abbad bin Mansur dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia menyebut (dhakara) Nabi bahwa mengenai orang yang berhubungan seks dengan binatang ia berkata: “bunuh fa`il dan maf`ul bihi” (Al-Hakim, dikutip dari ‘Awn al-Ma’bud 3869).

Perhatikan bahwa narasi ini adalah sama dengan salah satu dari Ahmad kecuali kata-kata, “ia menyebut Nabi”. Kata-kata ini canggung dan samar-samar, tidak jelas menyatakan bahwa hukuman mati ditentukan oleh Nabi. Pada ahadits itu ada ada upaya takut-tahut untuk mengubah suatu pandangan ke dalam sebuah hadits yang dikaitkan kepada Ibnu Abbas.

Bahkan diragukan bahwa Ibnu ‘Abbas menganut pemahaman ini, karena dalam narasi berikut, Ibnu ‘Abbas sebenarnya mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda:

Ahmad Yunus bin meriwayatkan kepada kami bahwa Sharik, Abu al-Ahwas dan Abu Bakar bin ‘Ayyash meriwayatkan kepada mereka dari ‘Asim (bin Bahdalah Abi al-Najud) dari Abu Razin dari Ibnu ‘Abbas yang mengatakan: “Tidak ada hukuman yang ditetapkan untuk orang yang telah melakukan hubungan seksual dengan binatang“. Abu Dawud berkata: “‘Ata juga mengatakan begitu”. Al-Hakam berkata: “Saya pikir dia harus dicambuk, namun jumlahnya tidak boleh mencapai hukuman yang ditentukan (untuk zina, yaitu 100 cambukan)”. Al-Hasan berkata: “Ia seperti al-zan“. Adu Dawud berkata: “Hadits yang dari ‘Asim ini melemahkan hadits dari ‘Amr bin Amr’.” (Abu Dawud 3872)

Fakta-fakta berikut tentang narasi di atas, ketika diambil bersama-sama, meninggalkan sedikit keraguan bahwa hadits yang menetapkan hukuman mati untuk hubungan seks dengan binatang adalah sebuah pemalsuan yang dihasilkan dari beberapa kekeliruan atau disengaja berbohong:

Pertama, hadits tersebut diceritakan hanya pada otoritas dari Ibnu ‘Abbas (w. 68) pada generasi pertama, hanya pada otoritas ‘Ikrimah (w. 104) pada generasi kedua, dan kemudian sebagian besar dari ‘Amr bin Abi ‘Amr (wafat 144) pada generasi ketiga dan sangat jarang dari ‘Abbad bin Manshur (wafat 152). Imam Malik, Bukhari, juga Muslim tidak mengetahui hadits ini atau tidak mempercayainya.

Kedua, Para perawi pada generasi ketiga, ‘Amr bin Abi ‘Amr dan ‘Abbad bin Mansur, tidak dapat dipercaya. Abu Zur’ah al-Razi menganggap ‘Amr bin Abi ‘Amr thiqah dan Abu Hatim, Ibnu ‘Adi dan Ahmad mengatakan la bas bi hi. Namun, al-Nasa’i menganggap dia munkar dan mengatakan dia tidak kuat. Bukhari mengatakan bahwa ‘Amr bin Abi ‘Amr dapat dipercaya tetapi ia telah secara salah dikaitkan dengan beberapa hadits Ikrimah. Yahya bin Ma’in dan al-‘Ajli juga menyebut dia thiqah namun menolak ahadits yang ia riwayatkan dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Pemahaman para ulama tentang ‘Abbad bin Mansur bahkan lebih negatif. Jadi ia digambarkan sebagai da’if al- hadits oleh Abu Hatim, laysa bi shay` oleh Yahya bin Ma’in, layyin oleh al-Razi dan munkar al-hadits, qadri, mudallis oleh Ahmad.

Ketiga, dalam sebuah narasi dalam Musnad Ahmad, juga dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, “hadits” tersebut ditemukan sebagai perkataan Ibnu Abbas dan BUKAN perkataan Nabi saw. Jadi ada kemungkinan bahwa pendapat dari Ibnu ‘Abbas ini dikaitkan kepada Nabi oleh Perawi belakangan seperti ‘Amr bin Abi ‘Amr.

Keempat, adalah meragukan bahwa Ibnu ‘Abbas percaya pada hukuman mati bagi bestiality, karena dalam hadits lain Ibnu ‘Abbas sendiri mengatakan dengan jelas, “tidak ada hukuman yang ditetapkan bagi berhubungan seks dengan binatang”.

Kelima, sebagaimana yang disebutkan dalam ‘Awn al-Ma’bud, empat sekolah fiqh Sunni secara bulat menyatakan bahwa hukuman mati tidak ditetapkan untuk orang yang melakukan hubungan seksual dengan hewan, tetapi dapat diberi beberapa hukuman lain (yu’azzar wa la yuqtal ). Sebuah kesepakatan di antara fuqaha seperti ini akan sulit untuk berkembang jika mereka secara umum tahu dan menerima sebuah hadits, di mana Nabi memerintahkan untuk membunuh orang yang telah berhubungan seks dengan binatang.

Meskipun, mengingat pertimbangan di atas, tidak diragukan sedikitpun bahwa hadits yang dimaksud adalah hadits palsu, namun sebagian ulama belakangan menerima hadits tersebut dan kemudian mencoba untuk melakukan mendamaikan hadits tersebut dengan pendapat fuqaha. Sehingga ada yang mengatakan bahwa hukuman mati yang disebutkan dalam hadits hanyalah sebagai ancaman dan tidak dimaksudkan untuk dilaksanakan. Ada juga yang mengatakan bahwa hukuman mati terhadap si lelaki hanya ancaman, tetapi pembunuhan terhadap hewan tersebut benar-benar dilaksanakan. Berlawanan dengan penjelasan dibuat oleh para ulama belakangan, Abu Dawud dan Tirmidzi sendiri mengemukakan pengertian yang lebih baik. Abu Dawud, secara jelas, menyatakan: hadits dari ‘Asim (di dalamnya menyangkal bahwa ada hukuman yang ditetapkan untuk kasus hubungan seks dengan binatang) melemahkan hadits ‘Amr bin Abi ‘Amr (di mana hukuman mati ditetapkan). Tirmidzi juga mengemukakan keragu-raguan tentang hadits dengan mencatat: “Kami tidak menemukan hadits ini kecuali dari ‘Amr bin ‘Amr dan dia dari ‘Ikrimah dan dia dari Ibnu ‘Abbas dan dia dari Nabi.”

Adalah perlu bahwa ketika kelemahan hadits sampai pada tingkat sebagaimana yang ditunjukkan di atas, maka kita harus memiliki keberanian untuk menyebutnya sebagai hadits palsu, sesuatu yang banyak ulama tidak melakukannya. Ajaran yang asli dari Islam, yang dimaksudkan untuk membimbing umat manusia sepanjang masa hingga yang akan datang, tidak mungkin ditularkan dengan cara selemah ini. Jika kita tidak menyatakan bahwa hadits seperti itu palsu, maka ini berarti bahwa kita tidak dapat membebaskan diri dari kesalahan dan kebohongan dari beberapa Muslim di masa lalu dan oleh karena itu tidak dapat menafsirkan dan melaksanakan dengan taat apa yang Allah dan Rasul-Nya telah ajarkan kepada kita. Hal ini pada gilirannya berarti bahwa kita tidak bisa bergerak maju sebagai sebuah peradaban.

 

Sumber yang sesungguhnya dari hukuman mati bagi kasus bestiality

Kita telah menunjukkan bahwa hukuman mati untuk bestiality tidak datang dari Allah dan Rasul-Nya. Jadi, dari mana asalnya? Jawaban yang paling mungkin adalah bahwa hukuman itu dipinjam dari tradisi Yahudi. Bandingkan “hadits” yang dibahas di atas dengan apa yang Alkitab katakan.

“Hadits” tersebut mengatakan:

“Jika ada orang yang melakukan hubungan seksual dengan binatang, bunuh dia dan bunuh yang bersama dengan dia.” (Abu Dawud)

Dalam Alkitab kkami membaca:

Jika seorang lelaki melakukan hubungan seksual dengan binatang, ia harus dihukum mati, dan kamu harus membunuh binatang itu. (Lev 20:5)

Kesamaan ini mencolok, dan mengingat fakta bahwa hadits tersebut tidak otentik, maka sangat menunjukkan bahwa sebagian Muslim mengambil hukuman mati tersebut dari tradisi Alkitab dan tanpa malu-malu dikaitkan kepada Nabi Islam.

Beberapa ulama, seperti Dr Israr di masa kita, berpendapat bahwa hukum yang ditemukan dalam wahyu sebelumnya tetap berlaku dalam syariat Islam, kecuali jika secara tegas diubah dan mereka menggunakan prinsip ini untuk membenarkan rajm untuk perzinahan. Tetapi mudah untuk melihat bahwa pendapat ini tidak benar:

Prinsip bahwa umat Islam terikat dengan hukum pada wahyu sebelumnya kecuali hukum-hukum itu dibatalkan atau diubah oleh sumber-sumber Islam, secara jelas akan mengakibatkan konsekuensi terlalu juah bagi praktek-praktek Islam. Oleh karena itu kita mengharapkan agar dinyatakan secara jelas di dalam Al-Quran atau setidaknya ditunjukkan dalam beberapa hadits otentik dan kami juga berharap para ulama secara umum menerimanya. Tetapi kami tidak menemukan pernyataan perihal prinsip tersebut di dalam Al-Quran dan hadits yang otentik. Dan ada fakta bahwa para ulama pada umumnya menolak hukuman mati untuk bestiality meskipun ada fakta bahwa hukuman ini secara eksplisit dinyatakan dalam Taurat dan bahkan dalam beberapa Ahadits menunjukkan bahwa para ulama tidak menerima prinsip tersebut.

 

Hukuman Mati untuk Incest (hubungan sexual sedarah)

Incest tentu saja adalah zina`, setidaknya dalam kasus heteroseksual, dan jika pelaku kejahatan tersebut telah menikah, maka ia layak menerima hukuman mati menurut para pendukung rajm. Tetapi ada hadits yang lebih jauh mengatur hukuman mati untuk inses terlepas dari status perkawinan si pelaku. Hadits ini ditemukan dalam Tirmidzi, Musnad Ahmad dan Ibnu Majah.

Muhammad bin Rafi’ meriwayatkan kepada kami: Ibnu Abi Fudayk meriwayatkan kepada kami dari Ibrahim bin Isma‘il bin Abi Habibah dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi yang mengatakan: “Jika seseorang memanggil (Muslim) lainnya ‘Hai Yahudi’, pukul dia 20 kali, jika seseorang memanggil dia ‘Hai mandul’, pukul dia 20 kali; dan siapapun yang berhubungan seks dengan seorang mahram, bunuh dia”.

Narasi di atas adalah dari Tirmidhi. Narasi di Ahmad dan Ibnu Majah adalah:

Abu al-Qasim bin Abi al-Zinad meriwayatkan kepada kami sambil berkata: (Ibrahim bin Isma‘il) ibnu Abi Habibah memberitahu saya dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata: Rasulullah Allah berkata: Bunuh orang yang melakukan tindakan kaum Lut dan orang yang kepadanya dilakukan dan (bunuh) binatang dan orang yang berhubungan seks dengan binatang tersebut; dan siapapun yang telah berhubungan seks dengan mahram, bunuh dia. (Ahmad 2591)

‘Abd al-Rahman bin Ibrahim al-Dimashqi meriwayatkan kepada kami: Ibnu Abi Fudayk meriwayatkan kepada kami dari Ibrahim bin Isma‘il bin Abi Habibah dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata: Rasulullah Allah berkata: Barangsiapa telah berhubungan seks dengan mahram, bunuh dia dan barangsiapa yang telah berhubungan seks dengan binatang, bunuh dia dan bunuh hewan tersebut. (Ibnu Majah 2554)

Tampaknya ada dukungan yang lebih besar dari kalangan para ulama untuk hukuman mati dalam kasus inses dari pada dalam kasus bestiality. Tetapi hal ini bukan karena hadits dalam kasus yang lebih handal. Memang, karena alasan berikut hadits di atas bahkan lebih lemah dari pada hadits tentang hubungan seks dengan binatang:

Pertama, ketika hadits dalam kasus bestiality tersebut hanya memiliki satu orang Perawi untuk dua generasi pertama dari para Perawi dan paling banyak dua pada generasi ketiga, hadits di atas hanya memiliki satu orang Perawi pada empat generasi pertama. Hanya Ibnu ‘Abbas yang dikatakan menceritakan dari Nabi, hanya ‘Ikrimah yang dikatakan menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, hanya Dawud bin Husain yang dari ‘Ikrimah, dan hanya Ibrahim bin Ismail yang dari Dawud. Karena Ibrahim bin Ismail meninggal sekitar tahun 165 H, kita terpaksa menyimpulkan bahwa untuk selama satu setengah abad setelah kepergian Nabi dari dunia ini pengetahuan tentang hadits ini masih terbatas pada satu atau sangat sedikit orang. Selain itu, ini terjadi setelah zaman Malik, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan mungkin juga al-Nasa`i tidak mengetahui hadits ini atau mereka tidak menganggap hadits ini tidak dapat dipercaya, hadits tersebut tetap tidak diketahui atau dicurigai selama seabad atau lebih.

Kedua, satu rantai di isnad dalam hadits tentang hubungan seks dengan binatang, yaitu Ibrahim bin Ismail, adalah jauh kurang dapat dipercaya daripada sembarang hadits lainnya. Yahya bin Ma’in, Tirmidzi, dan al-Nasa’i menganggap Ibrahim bin Ismail seorang yang da’if sedangkan Bukhari dan Abu Hatim menganggap dia sebagai munkar al-hadits. Sulit sekali ditemukan, adanya ulama hadits yang memiliki sesuatu komentar yang positif tentang dia.

Kita dapat menyimpulkan dengan penuh keyakinan bahwa hadits yang sedang dipertanyakan tersebut adalah sebuah pemalsuan sebagai hasil dari sebuah kesalahan atau sengaja berdusta atas nama Nabi diberkati. Kita harus secara tegas dan yakin menolak hadits ini – dan juga terhadap hadits serupa lainnya yang lemah. Karena, jika tidak demikian, kita akan selama-lamanya tetap tersandera secara mental kepada kesalahan dan kebohongan dari beberapa orang perawi yang tidak bertanggung jawab pada zaman dahulu dan tidak akan dapat taat kepada Allah dan Rasul-Nya seperti yang seharusnya.

 

Hukuman mati pada seorang lelaki yang menikah dengan isteri ayahnya

Mengomentari hadits yang dibahas di atas, Tirmidzi mengatakan:

“Kami tidak tahu mengenai hadits ini kecuali melalui rantai (wajh) ini dan Ibrahim bin Ismail dianggap lemah dalam hadits. Telah diriwayatkan dari Nabi melalui rantai yang berbeda oleh al-Bara` bin ‘Azib dan Qurrah ibn Iyas al-Muzanni bahwa seorang lelaki menikah dengan isteri ayahnya dan Nabi memerintahkan dihukum mati. Berikut inilah dasar dari tindakan yang sebenarnya di antara rekan-rekan kita. Mereka berkata: “Barangsiapa dengan sengaja bersetubuh dengan mahram layak menerima hukuman mati.” Ahmad berkata: “Barangsiapa menikahi ibunya harus dibunuh.” Ishaq berkata: ‘Barangsiapa telah berhubungan seks dengan mahram dibunuh.” (HR al-Tirmidzi 1382)

Artinya, para ulama yang mendukung hukuman mati untuk kasus hubungan sex sedarah, ketika melakukannya tidak berdasarkan pada hadits Ibnu ‘Abbas tersebut, yang dianggap lemah, tetapi berdasarkan pada hadits hukuman mati oleh Nabi tentang seorang lelaki yang menikahi isteri ayahnya (setelah ayahnya meninggal atau bercerai istri). Hadits ini diperiksa secara lebih lengkap pada Lampiran I bab ini. Di sini kita memperhatikan hal berikut:

Pertama, tidak dibenarkan untuk menyimpulkan hukuman mati untuk kasus hubungan sedarah secara umum dari kasus hukuman mati pada kasus menikahi istri dari ayah seseorang setelah kematiannya. Perkawinan seperti ini, yang dipraktekkan sebelum Islam, tidak hanya akan merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah tetapi juga suatu perlawanan terhadapnya.

Al-Quran Suci telah memerintahkan:

“Jangan menikahi wanita yang ayahmu nikahi kecuali apa yang telah berlalu. Sungguh merupakan jalan yang memalukan, dibenci, dan jahat “(4:22).

Perkawinan secara alamiahnya adalah masalah publik: ini merupakan deklarasi oleh seorang lelaki dan seorang wanita dimana mereka memasuki sebuah hubungan seksual. Dalam menghadapi hukum Allah di atas, akan menjadi sebuah tindakan pembangkangan yang tidak dapat ditoleransi. Orang yang dilaporkan dihukum mati karena kasus perkawinan seperti ini harus memiliki kontrak perkawinan secara jelas setelah perintah itu datang, karena Al-Quran suci secara eksplisit membebaskan “apa yang telah berlalu”. Ada kemungkinan bahwa pengetahuan tentang hukum tersebut tidak sampai kepada orang itu. Tetapi kita dapat secara aman berasumsi bahwa dalam kasus semacam dia tidak akan dilaksanakan sebelum ia diberi kesempatan untuk bertobat dan membatalkan apa yang telah dilakukannya. Jadi orang tersebut harus telah menolak hukum itu sendiri dan tidak hanya melanggarnya di luar beberapa kelemahan. Kita dapat membandingkan kasusnya dengan kasus “orang-orang Islam” yang segera setelah kematian Nabi menolak untuk membayar zakat yang merupakan pembangkangan kepada perintah-perintah Allah yang sangat jelas.

Bahwa orang yang dihukum mati tersebut, jika benar-benar demikian, maka sebagai seorang pemberontak yang lebih jauh didukung oleh informasi cara pelaksanaan hukuman mati, yaitu: pemenggalan kepala. Dalam sebuah narasi dalam Tirmidzi Nabi diduga telah memerintahkan bahwa kepala orang itu dibawa kepadanya. Pada zaman kuno jenis perlakuan seperti ini dilakukan kepada para pemberontak dan bukan kepada para pelaku pelanggaran seksual. Meskipun detail berkaitan dengan kepala si pelaku tidak ditemukan dalam narasi lain dari cerita tersebut dan hal ini merupakan hal yang sekunder, namun isi hadits ini menunjukkan bahwa beberapa Perawi memahami hukuman mati tersebut sebagai kasus kematian seorang pemberontak.

Kedua, bahkan untuk kasus pemberontakan atau kemurtadan, hukuman mati tidak akan dilaksanakan begitu saja, karena bahkan untuk para pemberontak terburuk, Al-Quran (05:33) menyebutkan hukuman mati hanya sebagai salah satu dari beberapa alternatif hukuman yang dimulai dari pembuangan. Dan bahkan hukuman ini tidak “ditetapkan” seperti hukuman untuk kasus perzinahan atau pencurian tetapi hanya dikatakan sesuai.

Ketiga, tidak ada kepastian bahwa hukuman mati tersebut terjadi pada zaman Nabi. Akan lebih dipahami jika kejadian tersebut terjadi setelah zaman Nabi, katakanlah pada masa Sayidina Abu Bakar, karena pada waktu itu beberapa orangg tetap tulus dan sisanya berubah sikap mengambil keuntungan dari kematian Nabi dan memberontak terhadap Islam dalam berbagai cara.

Oleh karena itu kami menyimpulkan bahwa hukuman mati untuk kasus hubungan sex sedarah (incest) tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Sumber yang sebenarnya dari hukuman mati bagi kasus hubungan sedarah (incest)

Seperti dalam kasus bestiality, begitu juga untuk incest sumber sebenarnya dari hukuman mati tersebut bukanlah Allah atau Rasul-Nya tetapi hukum Yahudi, yang tidak semuanya berasal dari Allah atau dari Nabi Musa:

Lelaki yang bersetubuh dengan isteri ayahnya telah menyingkap ketelanjangan ayahnya; keduanya harus dihukum mati, darah mereka adalah atas mereka. Jika seorang lelaki bersetubuh dengan menantunya, keduanya harus dihukum mati, mereka telah melakukan penyimpangan, darah mereka adalah atas mereka. Jika seorang lelaki menjadikan istri dan ibunya sekaligus, ini adalah kebejatan, mereka harus dibakar sampai mati, baik dia dan mereka, sehingga tidak akan ada kebejatan di antara kamu. Jika seorang lelaki mengambil adiknya, seorang anak perempuan dari ayahnya atau seorang anak perempuan dari ibunya, dan melihat ketelanjangan, dan si perempuan melihat ketelanjangan silelaki, hal itu adalah memalukan, dan mereka akan dipenggal dengan disaksikan oleh masyarakat mereka, lelaki yang telah membuka ketelanjangan saudara perempuannya, ia akan dikenakan hukuman. (Lev 20:11-12, 14, 17)

 

Hukuman Mati untuk tindakan Homoseksual

Terdapat pola menghubungkan/ mengaitkan kepada Nabi saw perihal hukuman mati yang dipinjam dari Taurat dimana beliau sendiri tidak pernah menetapkan lebih lanjut hukum dalam kasus tindakan homoseksual. Berbeda dengan hukuman mati untuk kasus incest dan bestiality, untuk tindakan homoseksual kami menemukan hukuman yang disebutkan dalam sebuah buku yang relatif awal – Muwatta. Tetapi penyebutan awal ini ditemukan hanya sebagai pendapat Ibn Shihab, dan bukan sebagai hadits dari Nabi atau sebagai ucapan dari seorang Sahabat:

Malik meriwayatkan kepada saya bahwa ia bertanya kepada Ibnu Shihab tentang seseorang yang melakukan perbuatan homoseksual (‘amal qawm Lut, perbuatan kaum Lut). Ibn Shihab berkata, “Dia harus dilempari batu, apakah ia sudah atau tidak menikah (muhsan).” (Muwatta 41/11, direproduksi di Ahmad 1297)

Di sini Ibnu Shihab tidak menunjukkan apakah pendapat yang dia ungkapkan tersebut adalah pendapatnya sendiri atau berasal dari sesuatu yang Nabi atau Sahabat katakan. Hal ini mengingatkan kepada apa yang Rabi’ah biasa katakan kepada Ibnu Shihab:

Rabi’ah akan berkata kepada Ibnu Shihab: Bila kamu menceritakan sesuatu menurut pendapat kamu sendiri, hendaklan selalu beritahu kepada masyarakat bahwa itu adalah pemahaman kamu sendiri. Dan ketika kamu menceritakan sesuatu dari Nabi, hendaklah selalu beritahu mereka bahwa itu adalah dari Nabi sehingga mereka tidak menganggap hal itu merupakan pendapat kamu. (Khatib al-Baghdadi, Al-Faqih wa al-Mutafaqqih, vol 1, Lahore: Dar al-Ahya al-Sunnah, hal 148).

Satu kemungkinan, jika bukan kemungkinan kuat, alasan kenapa Ibn Shihab tidak mengutip perkataan apapun dari Nabi atau sahabat ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Imam Malik adalah bahwa dia tidak mengetahui perkataan apa pun tentang hal ini. Hal yang sama dapat dikatakan bahwa meksi dengan keyakinan yang lebih besar tentang Malik, karena ia telah mengetahui hadits atau perkataan dari seorang Sahabat, yang dia anggap asli, ia tidak akan bertanya kepada Ibnu Shihab tentang masalah tersebut, atau setidaknya mencatat hadits ini atau mengatakan sebaliknya, atau sebagai tambahan terhadap kata Ibn Shihab. Tetapi dalam bukunya Muwatta dia tidak mengutip kecuali dari Ibn Shihab.

Bukhari dan Muslim juga tidak mencatat hadits atau perkataan apapun mengenai hal ini. Tetapi di buku-buku zaman belakangan, pendapat hukum yang diungkapkan dalam Muwatta oleh Ibn Shihab berubah menjadi pendapat dari Sahabat, tidak lain di mana-mana dinsbatkan kepada Ibnu Abbas yang seperti Abu Hurairah di dalam hadits menjadi seorang jurubicara yang nyaman dari setiap jenis pendapat:

Ishaq bin Ibrahim bin Rahawayh meriwayatkan kepada kami: ‘Abd al-Razzaq meriwayatkan kepada kami: Ibnu Jurayj menginformasikan kepada kami: Ibnu Khuthaym memberitahu saya sambil berkata:

Aku mendengar Sa’id bin Jubair dan Mujahid meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam hal orang yang belum menikah (al-bikr) yang tertangkap dalam perbuatan homoseksual (al-lutiyyah). Dia berkata: “Dia harus dirajam”. (Abu Dawud 3870).

Di sini dipahami bahwa orang yang sudah menikah yang bersalah karena tindakan homoseksual harus dirajam. Pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan dengan orang yang belum menikah. Dengan menjawab bahwa ia dirajam, Ibnu ‘Abbas mengatakan secara persis dengan pendapat Ibn Shihab.

Dalam buku-buku zaman belakangan, pemahaman yang sama dengan Ibn Shihab ditemukan sebagai hadits Nabi saw. Narasi yang paling disukai dari hadits ini adalah dari ‘Abd al-Aziz bin Muhammad dari ‘Amr bin Abi ‘Amr dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dan bacaan isinya:

Rasul Allah berkata: “Jika kamu menemukan ada yang melakukan sebagaimana yang kaum Lut lakukan, bunuh orang yang melakukan hal itu, dan orang yang kepada dia hal itu dilakukan.” [2] (Abu Dawud 3869, Tirmidzi 1376, Ibnu Majah 2551)

Karena narasi di Abu Dawud 3870 tersebut tidak mengaitkan hukuman mati bagi tindakan homoseksual kepada Nabi tetapi hanya kepada Ibnu ‘Abbas, maka sangat mungkin bahwa hadits tersebut pada awalnya tidak marfu’ (dikaitkan kepada Nabi), tetapi menjadi demikian pada zaman belakangan. Sebelumnya kita telah mencatat situasi yang sama dalam hal hadits dari ‘Abbad bin Mansur tentang bestiality. Dalam satu narasi (Ahmad 2597) hukuman mati untuk kelakuan buruk ini dikaitkan kepada Ibnu ‘Abbas sementara di narasi lain, dilaporkan dalam al-Hakim, menjadi sebuah hadits. Bukti ini sangat menunjukkan bahwa hukuman mati bagi kejahatan seksual, pada awalnya tidak berdasarkan kata-kata Nabi, tetapi dari beberapa sahabat. Kami bahkan dapat menelusuri lebih jauh: bahwa karena hukuman mati setidaknya untuk kasus perbuatan homoseksual yang dikaitkan kepada al-Zuhri atau Imam Malik tersebut tidak diketahui sebagai sebuah hadits atau bahkan sebagai pendapat dari seorang sahabat tetapi hanya sebagai pendapat beberapa fuqaha` di antara para tabiin, maka sangat mungkin bahwa bahkan pengkaitan kepada seorang Sahabat seperti Ibn ‘Abbas tidak bersifat historis. Tentu saja, dalam kasus bestiality kita telah melihat bukti yang menunjukkan bahwa Ibnu Abbas tidak berpendapat bahwa ada hukuman yang ditetapkan untuk kasus tersebut.

Perlu juga diperhatikan bahwa semua hadits tentang hukuman mati untuk kasus hubungan seks menyimpang, yaitu hubungan seks dengan binatang, mahram, atau seorang dari anggota keluarga sendiri, berasal dari kelompok yang sangat kecil yang sama dari para Perawi pada empat generasi pertama,yaitu: Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Dawud bin al-Husain, ‘Amr bin Abi ‘Amr, Ibrahim bin Ismail dll. Jika Nabi menetapkan hukuman mati untuk semua kejahatan-kejahatan ini, adalah aneh bahwa pengetahuan tentang ketiga kasus tersebut masih terbatas kepada beberapa murid hadits selama sekitar satu setengah abad.

Keaslian tentang hadits penetapan hukuman mati bagi kasus tindakan homoseksual lebih jauh dipertanyakan oleh adanya fakta bahwa para ulama dalam semua zaman telah menunjukkan ketidaktahuan atau ragu-ragu terhadap keaslian ahadits tersebut. Kita telah mencatat bahwa pada abad pertama al-Zuhri menunjukkan tidak mengetahui hal itu, demikian juga Imam Malik pada abad kedua, meskipun keduanya jelas tertarik pada pertanyaan tentang hukuman bagi kasus tindakan homoseksual, karena mereka membicarakan hal itu. Bukhari dan Muslim pada abad ketiga tidak mengetahui hadits tersebut atau tidak menerimanya, karena mereka berdua tidak memasukkan dalam koleksi hadits mereka. Selain Malik fuqaha` awal lainnya mungkin juga tidak mengetahui atau tidak menerima hadits tentang masalah ini. Lebih awal lagi, Abu Hanifah atau fuqaha Hanafi awal berpaling kepada bukan hadits apapun tetapi kepada Al-Quran 4:16 sebagai panduan untuk menghukum tindakan homoseksual. Al-Sindi dalam komentarnya pada Ibnu Majah menekankan:

“Pendapat yang terkenal dari Abu Hanifah adalah [orang yang terlibat dalam tindakan homoseksual] adalah diluuruskan perilakunya (yu`addab), tetapi tidak ada hadd baginya. Para pengikut beliau telah menyatakan ini berdasarkan firman Yang Maha Tinggi: “Dan keduanya (alladhan) di antara kamu, yang melakukan hal itu (fahishah), hukum (`adhu) mereka berdua. Dan jika keduanya bertobat dan berbuat baik, biarkanlah mereka’.”

Seperti tidak mungkin bahwa jika Abu Hanifah tiba pada posisi bahwa tindakan homoseksual hanya memerlukan pendisiplinan perilaku dan tidak ada hukuman mati yang ditetapkan, dia mengetahui dan menerima hadits tersebut dengan kata-kata yang jelas dari Nabi: “bunuh seseorang yang melakukan hal itu dan seseorang yang dengan dia hal itu dilakukan”. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hadits tersebut belum ada pada zaman Abu Hanifah (wafat 150) atau tidak diketahui/ diterima oleh beliau. Para ulama sekolah Abu Hanifah zaman belakangan, tentu saja, mengetahui hadits tersebut, tetapi mayoritas dari mereka masih menyatakan bahwa tidak ada hukuman mati yang ditetapkan bagi kasus tindakan homoseksual, yang berarti bahwa mereka tidak memadang hadits tersebut secara serius. Namun beberapa dari mereka, tampaknya, menerima hadits tersebut dan mengaitkan kepada Abu Hanifah sebuah pemahaman yang menggabungkan dengan hadits tersebut. Thana Allah Panipati dalam mengomentari Al-Quran 4:15-16 menyebutkan pemahaman lain yang dikaitkan kepada Abu Hanifah [3]: jika seseorang tetap dalam tindakan homoseksual, dia bisa dibunuh [4].

Syafi’i juga tidak terlihat telah menggunakan hadits ini. Menurut Syarah al-Sunnah ada dua pemahaman yang dikaitkan kepadanya. Menurut salah satu pendapat, yang dianggap paling otentik oleh beberapa orang [5], hukuman bagi seseorang yang melakukan perbuatan homoseksual adalah hukuman bagi kasus zina` [6] – rajm jika lelaki tersebut telah menikah dan 100 kali cambukan jika belum menikah. Bagi orang yang dengan dia perbuatan itu dilakukan, hukumannya adalah 100 cambukan dan pengasingan selama setahun baik dia sudah atau belum menikah. Pemahaman ini tidak didasarkan pada hadits manapun, karena tidak ada hadits yang mendukung pembedaan hukuman yang dibuat oleh Syafi’i berdasarkan menikah atau belum menikah atau atas dasar menjadi seorang  fa’il atau maf’ul bi hi. Pemahaman ini merupakan ijtihad yang dilakukan oleh Syafi’i tanpa menggunakan hadits apapun. Tetapi di zaman belakangan pemahaman lain diatributkan kepada Syafi’i, di mana menurut paham ini kedua pasangan dalam tindakan homoseksual harus dirajam. Tetapi meski demikian pemahaman ini menunjukkan tidak adanya pengetahuan tentang hadits tentang masalah ini, karena paham ini tidak ditetapkan berdasarkan sebuah hadits Nabi, tetapi berdasar kepada suatu tindakan dari ‘Ali, khalifah keempat. Muhammad bin ‘Abd al-Rahman Mubarakpuri, dalam komentarnya pada Tirmidzi (Tuhfah al-`Ahwadhi bi Syarah Jami ‘Tirmidzi) mengatakan:

Al-Baihaqi mencatat tentang ‘Ali bahwa ia melempari batu kepada seorang Luti. Syafi’i mengatakan bahwa atas dasar inilah kami berpendapat bahwa seorang Luti harus dilempari batu baik menikah atau belum menikah.

Adalah wajar untuk menduga bahwa pemahaman versi kedua yang diatributkan kepada Syafi’i ini muncul setelah beberapa ahadits dan atsar para sahabat muncul dan menjadi terkenal dan mendapatkan beberapa penerimaan.

Tirmidzi memasukkan hadits tersebut dalam koleksinya tetapi menunjukkan adanya keragu-raguan tentang hal itu dalam kata-kata berikut:

Abu ‘Isa [al-Tirmidzi] berkata: Adalah melalui jalur ini (wajh) bahwa hadits ini diketahui dan Muhammad bin Ishaq melaporkan hadits ini dari ‘Amr bin Abi ‘Amr, di mana ia mengatakan “lelaki yang melakukan tindakan kaum Lut yang dikutuk” tetapi tidak menyebutkan pembunuhan dan dalam hadits itu juga mengatakan bahwa orang yang berhubungan seks dengan binatang dikutuk. Hadits ini juga telah dilaporkan dari ‘Asim bin ‘Umar dari Suhayl bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi yang mengatakan: “Bunuh orang yang melakukan tindakan tersebut dan orang yang kepadanya perbuatan itu dilakukan”. Abu ‘Isa [al-Tirmidzi] berkata: sanad dari hadits ini adalah sesuatu yang menjadi pertikaian, kami tidak tahu siapa saja yang melaporkan hadits ini dari Suhayl bin Abi Shalih kecuali ‘Asim bin ‘Umar al-‘Umari, dan ‘Asim bin ‘Umar dianggap lemah dalam hadits sebelum hifz nya. Dan orang-orang yang berilmu telah berbeda pendapat tentang hukuman bagi orang yang melakukan perbuatan homoseksual. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa ia harus dilempari batu terlepas dari apakah ia sudah menikah atau belum. Ini adalah pemahaman dari Malik dan Syafi’i dan Ahmad dan Ishaq. Dan beberapa orang berilmu di antara para fuqaha‘ dari tabiin, termasuk al-Hasan al-Basri dan Ibrahim al-Nakh’i dan ‘Ata bin Abi Rabah mengatakan, hadd untuk Luti adalah hadd dari zan dan itu adalah pemahaman Thawri dan para ulama dari Kufah.

Al-Sindi dalam komentarnya di Ibn Majah menafsirkan komentar Tirmidzi yang berarti bahwa dia “telah mempertimbangkan hadits ini lemah”.

Kita telah membahas hadits yang paling disukai tentang hukuman mati untuk tindakan homoseksual di atas dan menunjukkan bahwa hadits ini palsu yang diatributkan kepada Nabi. Ada beberapa ahadits lain tentang hal ini tetapi ahadits itu tidak berbicara tentang hukuman mati dan/ atau bahkan derajatnya lebih lemah [7].

 

Sebuah cerita tentang ‘Ali

Bahwa Nabi tidak pernah menetapkan hukuman mati apapun untuk tindakan homoseksual juga diasumsikan dalam cerita tentang ‘Ali oleh Al-Baihaqi (wafat 458):

“Ibnu Abu al-Dunya dari ‘Abd al-Aziz ibn Abi Hazim dari Dawud ibn Bakar dari Muhammad ibn al-Munkadir:

Khalid ibn al-Walid menulis kepada Abu Bakar tentang seorang lelaki yang dengannya lelaki lain telah melakukan hubungan seksual. Kemudian, Abu Bakar mengumpulkan para sahabat Nabi dan meminta pendapat mereka. `Ali adalah paling tegas dari mereka semua, berkata, ‘Hanya satu bangsa tidak menaati Allah dengan melakukan dosa seperti itu dan kamu semua tahu bagaimana Allah berurusan dengan mereka. Saya melihat bahwa kita harus membakar lelaki tersebut dengan api’. Para sahabat dengan suara bulat menyetujui hal ini.. “(Al-Baihaqi, Shu`ab al-Iman).

Kejadian ini juga disebutkan oleh al-Waqidi di bawah judul kemurtadan pada akhir dari bab tentang kemurtadan Bani Salim. Cerita tersebut jelas dapat diasumsikan bahwa Nabi tidak pernah menetapkan hukuman bagi tindakan homoseksual, karena tidak satupun sahabat yang dikumpulkan oleh Abu Bakar yang mengutip hadits apapun selama bermusyawarah.

Banyak hadits yang ahistoris mempunyai beberapa kejadian sejarah yang bersandar di belakangnya, yang secara radikal berubah. Tetapi ada beberapa hadits yang mewakili cerita yang dibuat secara keseluruhan dari hasil imajinasi. Hadits di atas sebagai contohnya. Sama sekali tidak ada dasar historis bagi cerita ini. Hal ini karena:

  • Jika semua para sahabat duduk dan memutuskan mengenai setiap masalah hukum, adalah tidak mungkin bahwa kita tidak akan membaca tentang keputusan ini dalam salah satu dari buku-buku seperti Muwatta, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, al-Nasa`i, Ibnu Majah, Musnad Ahmad. Adalah juga tidak mungkin bahwa begitu banyak fuqaha akan melawan ijma‘ para sahabat dan menyarankan jenis hukuman lain seperti rajam, atau 100 cambukan, atau pengasingan dll
  • Pembakaran kaum Lut tidak disebutkan dalam Al-Quran, yang disebutkan adalah hujan batu dari tanah liat yang dibakar (11:82, lihat juga 7:84, 15:74, 27:58, 29:34, 51: 33, 54:34). Pembakaran tersirat dalam Bible, karena Bible mengatakan bahwa Allah mengutus belerang dan api kepada kaum Lot (Kej 19:24).
  • Cerita ini bertentangan dengan hadits-hadits lain di mana beberapa Sahabat diduga menyarankan hukuman yang berbeda dari pendapat yang mana mereka telah dianggap menyepakati dalam cerita di atas. Kita telah menunjukkan adanya hadits bahwa Ali telah merajam seorang lelaki yang bersalah karena tindakan homoseksual. Sangat aneh bahwa setelah menyarankan kepada para sahabat yang lain, dan mendapatkan persetujuan dari mereka, yaitu membakar pelakunya sesuai dengan apa yang Allah lakukan terhadap kaum Lut, namun ‘Ali sendiri justru melakukan hukuman rajam! Makanya tidak mengherankan jila para ulama tidak menganggap serius salah satu dari dua hadits tentang ‘Ali tersebut. Tidak ada satupun tafsiran – ‘awn al-Ma’bud, Tuhfah al-`Ahwadhi dll yang menyebutkan kisah di mana para sahabat menyepakati hukuman mati dengan cara pembakaran. Adapun hadits bahwa Ali merajam seorang Luti, Tuhfah al-`Ahwadhi saja yang menyebutkan hal itu dan hanya untuk mengabaikannya dengan komentar singkat: “Adapun perajaman oleh ‘Ali kepada seorang Luti, itu adalah tindakannya”.

 

Hukuman lain yang diusulkan

Ibnu Abi Shaybah (w. 235?) dalam bukunya Musannaf dan al-Baihaqi mencatat perkataan Ibnu ‘Abbas bahwa seseorang yang bersalah karena tindakan homoseksual harus dijatuhkan dari bangunan tertinggi di kota dan kemudian dihujani dengan batu (Panipati). ‘Awn al-Ma’bud menyebutkan hukuman yang sama tetapi tanpa pengkaitan kepada Ibnu ‘Abbas: “Telah dikatakan bagaimana cara menghukum mati kepada mereka yaitu dengan menghancurkan sebuah bangunan di atas mereka atau melempar mereka dari tempat yang tinggi (shahiq) sebagaimana hal itu dilakukan kepada kaum Lut”. Hukuman ini didasarkan pada pernyataan dari al-Quran, bahwa kota Lut dihancurkan dan dihujani dengan batu yang terbuat dari tanah liat yang dipanggang, sehingga beberapa orang berdosa tewas di bawah reruntuhan bangunan yang hancur dan yang lain tewas karena jatuh dari ketinggian dan mereka yang selamat menyerah pada hujan bebatuan. Hal ini mengarah pada hukuman berupa melemparkan si pelaku dari sebuah gedung yang tinggi – selanjutnya ditunjukkan oleh kenyataan bahwa untuk “menghancurkan” Al-Quran menggunakan ungkapan “menjadikan yang tinggi menjadi rendah” – atau menghancurkan bangunan di atas mereka, dan jika mereka masih hidup, lalu menghujani mereka dengan batu. Sanksi tersebut memberikan contoh bagaimana beberapa fuqaha menggunakan logika yang tidak sehat untuk sampai pada aturan yang mereka tetapkan, yaitu bahwa ketetapan beberapa Muslim dianggap sebagai kehendak Allah. Hal seperti ini jelas merupakan prosedur yang tidak sehat, yaitu merancang suatu hukum pidana berdasarkan cara yang dilakukan oleh Allah ketika menghukum bangsa-bangsa zaman dahulu. Fiqh Islam penuh dengan aturan sejenis ini dan kita perlu memeriksa kembali seluruh proses dimana fiqh dibangun di masa lalu dan kemudian membangunnya kembali di atas pondasi yang lebih setia kepada Al-Quran, Sunnah yang otentik, dan akal sehat.

Ibnu Zubair dilaporkan telah mengatakan bahwa kedua pelaku harus dikurung di tempat yang penuh dengan bau yang sangat menjijikkan hingga mereka mati. (Panipati). Hal ini berasal dari Al-Quran 4:15 dengan tambahan tempat penjaranya dipenuhi dengan bau-bauan busuk, mungkin hal ini dimaksudkan untuk mencerminkan fakta bahwa pelaku lebih memilih melakukan hubungan seksual yang melibatkan anus, yang penuh kotoran dan bau busuk.

Semua keanekaragaman hukuman yang diajukan tersebut menunjukkan lebih bersifat hasil imajinasi dari beberapa Muslim awal yang tidak bertanggung jawab dari pada inspirasi dari Allah yang bermain di  dalam hadits.

 

Sumber yang sesungguhnya dari hukuman mati untuk tindakan homoseksual

Situasi sekarang menjadi lebih jelas: Kadang-kadang menjelang akhir abad pertama umat Islam mulai berpikir tentang hukuman untuk tindakan homoseksual. Beberapa menggunakan analogi, dengan cara membandingkannya dengan zina`. Ijtihad ini menyebabkan pandangan bahwa Luti harus diberikan 100 cambukan atau pandangan bahwa ia harus dilempari batu jika sudah menikah dan diberikan 100 cambukan jika belum menikah. Namun sebagian fuqaha`membuat perbedaan antara zina dan tindakan homoseksual. Fuqaha` yang berpaling kepada Quran (4:15-16) atau hukuman mati di Alkitab. Al-Quran memerintahkan selain hukuman mati seperti pemukulan yang keras atau penjara (lihat di bawah). Tetapi Alkitab memerintahkan hukuman mati:

Jika seorang lelaki tidur dengan seorang laki-laki seperti dengan seorang wanita, keduanya telah melakukan suatu kekejian; mereka harus dihukum mati, darah mereka akan berada  di atas mereka. (Lev 20:13)

Alkitab sangat tajam dalam menetapkan adanya hukuman mati. Hal ini sebagian dikarenakan hukum Alkitab merupakan sebuah bentuk hukum yang telah diubah dari aslinya yang diberikan oleh Allah atau Nabi Musa dan sebagian dikarenakan hukum Taurat kadang-kadang diberikan sebagai tanggapan terhadap kekerasan hati anak-anak Israel (Al-Quran 6:146, Yehezkiel 20:24-26) dan karenanya secara khusus sangat keras. Al-Quran, di sisi lain, dimaksudkan untuk menjadi rahmat bagi semua bangsa dan sepanjang zaman (21:107, 33:40). Jarang menetapkan hukuman mati. Bahkan untuk kejahatan sekaliber maker, merampok, membunuh, hukuman mati hanya sebagai salah satu dari beberapa hukuman yang dimungkinkan. Namun demikian, beberapa Muslim awal tidak mengangkat suatu pemahaman yang lebih baik terhadap Al-Quran sedemikian sehingga mereka mendatangkan dari Taurat ke dalam hukuman mati yang diubah bentuknya bagi semua jenis pelanggaran seksual.

Perhatikan bahwa ayat Alkitab yang disebutkan di atas tidak membedakan antara orang yang sudah menikah atau belum menikah atau antara orang yang melakukan perbuatan homoseksual dan kepada siapa hal itu dilakukan. Ini adalah persis dengan apa yang “hadits” katakan: “Jika kamu menemukan ada yang melakukan sebagaimana yang kaum Lut lakukan, bunuh orang yang melakukannya (fa’il), dan orang yang kepadanya hal itu dilakukan (maf’ul bi hi)”. Juga, perhatikan bahwa hadits ini isinya seperti ayat Alkitab yang tidak menentukan cara yang sebenarnya dalam melakukan hukuman mati.

Bahkan sebelum hukum Alkitab menjadi sebuah “hadits”, mungkin mempengaruhi fuqaha`dan terdapat spekulasi tentang cara melaksanakan hukuman mati. Beberapa menggunakan analogi terbatas dengan zina`dan tiba pada hukum rajam, dimana, dalam kasus zina itu sendiri bentuk hukuman dipinjam dari sumber-sumber non-Muslim, seperti yang akan kita bahas pada bab-bab yang akan datang. Yang lainnya beralih kepada kisah Luth dan menyusun hukuman yang mirip dengan yang diderita oleh kaum Lut baik yang digambarkan dalam Al-Quran maupun atau dalam Alkitab.

Bahwa beberapa Muslim bersentuhan dengan hadits/ tradisi non-Muslim dan di bawah pengaruh merekalah tradisi yang dibuat kelihatan secara lebih jelas oleh cerita tersebut, sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya, tentang bagaimana Abu Bakar mengadakan pertemuan dengan para sahabat dan bagaimana sahabat dengan suara bulat memutuskan usulan dari ‘Ali bahwa homoseksual dibakar hidup-hidup sebagaimana yang dialami orang-orang Sodom dan Gomora. Sebagaimana yang kita tekankan sebelumnya, bahwa Al-Quran tidak menyebut api atau membakar sehubungan dengan kaum Lut, tetapi Alkitab menyebutkannya. Tidak hanya ini, tetapi bahkan penggunaan cerita dari Alkitab untuk sampai pada hukuman mati dengan membakar telah dilakukan beberapa abad sebelumnya. Pada tahun 390 CE hukuman pembakaran hidup-hidup telah ditetapkan untuk kasus homoseksual oleh kaisar Kristen, pertama untuk kasus pelacur homoseksual dan kemudian pada tahun 559 CE untuk semua kasus homoseksual.

 

Hukuman Al-Quran bagi kasus tindakan Homoseksual

Kami sebelumnya menemui pemahaman beberapa ulama Hanafi bahwa Al-Quran 4:15-16 memberikan hukuman untuk tindakan homoseksual. Mayoritas ulama telah datang menolak pemahaman ini, tetapi pemahaman ini telah dilaksanakan sejak dari zaman yang sangat awal, sebagaimana yang kita lihat dari komentar berikut dalam tafsir Ibn Kathir:

“Kemudian [di ayat 4:16, Allah] berkata bahwa jika perbuatan cabul ini dilakukan oleh dua orang di antara mereka, hukum mereka, yaitu marahi/ tegur mereka dengan ucapan dan pukullah mereka. Perintah ini juga tetap berlaku hingga Allah membatalkannya dengan cambukan dan rajam. ‘Ikrimah, Atha’, Hasan, ‘Abd Allah bin Kathir mengatakan bahwa (ayat) ini  juga merujuk kepada seorang lelaki dan seorang wanita. Al-Suddi mengatakan bahwa hal itu mengacu pada lelaki muda yang belum menikah. Mujahid juga mengatakan bahwa ayat ini tentang tindakan homoseksual. Nabi berkata bahwa jika kamu menemukan beberapa orang yang melakukan perbuatan kaum Lut, bunuh mereka berdua.”

Abu Muslim Isfahani juga percaya bahwa ayat-ayat tersebut adalah tentang seks yang tidak wajar. Pada zaman ini pemahaman tersebut dipegang oleh Yusuf ‘Ali, Thana Allah Panipati, dan Muhammad Asad, dua yang terakhir mengatakan bahwa ayat ini mencakup perbuatan salah heteroseksual dan homoseksual. Kami sekarang berpendapat bahwa pemahaman ini secara substansial benar dan bahwa dua ayat tersebut berbicara tentang seks yang tidak wajar termasuk homoseksualitas.

Pembacaan ayat tersebut:

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan fahishah (perbuatan keji), hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau Allah menyediakan untuk mereka jalan keluar. Dan (terhadap) dua orang (alladhan) di antara kamu yang melakukan perbuatan keji (fahishah), maka berilah hukuman (`adhu) kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Sebagaimana telah diketahui fahishah adalah konsep yang sangat umum. Itu mengacu pada setiap jenis perbuatan keji yang nyata, ketidaksenonohan dll dalam ucapan atau tindakan. Secara khusus, mengacu pada segala macam perilaku seksual terlarang atau menyimpang. Percabulan dan perzinahan adalah fahishah (4:25), pernikahan dengan istri dari ayah seseorang adalah fahishah (4:22), demikian juga tindakan kaum Luth, yaitu homoseksual (29:28). Dalam setiap ayat konteks kalimatnya menjelaskan apa yang dimaksud. Dalam ayat 4:25, berbicara tentang budak wanita yang melakukan fahishah setelah menikah, di ayat ini berarti merujuk pada perzinahan.

Kata tersebut juga dapat mencakup:

  1. Bestiality (hubungan sex dengan binatang),
  2. seorang lelaki dan seorang wanita, yang tidak menikah satu sama lain, memamerkan diri mereka telanjang, menyentuh, atau mencium, meskipun perbuatan mereka tidak berujung pada tindakan seksual dengan penetrasi;
  3. secara terbuka menampilkan tubuh telanjang seseorang seperti dalam sebuah pertunjukan striptis atau film porno.

Argumen berikut sangat menunjukkan bahwa dalam ayat 4:15-16, fahishah termasuk tindakan homoseksual.

Pertama, meskipun kadang-kadang diasumsikan bahwa dua ayat ini diturunkan sebelum – dan dibatalkan oleh – hukuman untuk zina`yang ditetapkan pada ayat 24:2, ini tidak berarti merupakan pemahaman yang terbaik. Tidak ada bukti mengenai hal ini dalam Al-Quran dan Hadits. Pada kenyataannya, baik Al-Quran dan hadits mengindikasikan hal yang berlawanan.

Jadi tidak ada hadits yang menyatakan bahwa janji Allah pada ayat 4:15-16 untuk memberikan cara lain otomatis terpenuhi ketika Allah mewahyukan 24:2 atau bahwa ayat 4:15-16 dibatalkan oleh ayat 24:2. Sebaliknya, hadits berikut ini jelas menunjukkan bahwa janji Allah untuk menyediakan “jalan keluar” tidak terpenuhi oleh ayat 24:2 tetapi dengan hadits:

Dari ‘Ubadah bin al-Samit: Rasul Allah berkata: “Ambillah dari saya, ambillah dari saya, Allah telah menyediakan cara: untuk bikr dengan bikr cambuklah dengan seratus cambukan dan asingkan selama satu tahun; untuk al-thayyab dengan al-thayyabah, cambuklah dengan seratus cambukan dan [bunuhlah dengan] rajam.”

Di sini kata-kata, “Allah telah menyediakan jalan” merujuk pada kata-kata yang sama pada ayat 4:15 dengan implikasi yang jelas bahwa hukuman pada ayat 4:15 digantikan oleh sesuatu yang diberikan dalam hadits ini [8].

Adapun bukti di dalam Al-Quran sendiri, justru menunjukkan bahwa ayat 4:15-16 ini diwahyukan setelah ayat 24:2. Perhatikan bahwa seluruh rangkaian ayat 4:15-28 membentuk suatu kesatuan, yang mana ayat 4:25 sangat mungkin diwahyukan setelah ayat 24:2. Untuk menjelaskan indikasi ini, empat belas ayat-ayat dalam rangkaian ayat-ayat ini dihubungkan dengan fakta bahwa ayat-ayat ini sedang membicarakan tentang berbagai bentuk fahishah:

  • ayat 15-16 berhubungan dengan beberapa bentuk fahishah yang mana kita untuk sementara membiarkannya tidak spesifik/ tidak ditentukan jenisnya;
  • ayat 17-18 menjelaskan arti pertobatan yang disebutkan pada ayat 16,
  • ayat 19-21 menasihati terhadap mengambil kembali uang dari istri kecuali dalam kasus mereka bersalah melakukan fahishah yang nyata;
  • ayat 22-24 membicarakan tentang keluarga seperti istri dari ayah seseorang yang dengan dengannya terjadi pernikahan, termasuk perbuatan fahishah ;
  • ayat 25 berhubungan dengan perkawinan dengan budak dan hukuman bagi seorang budak wanita jika ia berbuat fahishah (zina) setelah menikah, dan
  • ayat 26-28 membentuk kesimpulan rangkaian ayat tersebut.

Karena seluruh rangkaian ayat-ayat tersebut merupakan suatu bagian yang terhubung/ terkait, maka sangatlah wajar jika menganggap bahwa bagian ini diturunkan sebagai satu kesatuan. Ayat 4:25 sangat mungkin diwahyukan setelah ayat 24:2, karena adanya pernyataan bahwa bagi wanita budak yang berzina menerima setengah dari hukuman wanita merdeka dan hanya hukuman pada ayat 24:2 yang bisa dibagi dua. Dengan demikian tampak sangat mungkin bahwa seluruh bagian ayat 4:15-28, dan khususnya ayat-ayat 15-16 yang menarik bagi kita di sini, diwahyukan setelah ayat 24:2. Ini berarti bahwa ayat 15-16 tidak membatalkan hukuman untuk perzinahan pada ayat 24:2, karena tidak ada dasarnya, atau dua ayat ini sedang berbicara tentang bentuk fahishah yang tidak tercakup oleh ayat 24:2. Ini hanya mungkin berupa hubungan seks yang tidak lazim seperti tindakan homoseksual, seks dengan binatang dll. Pandangan ini menjadikan kronologi ayat-ayat jauh lebih mudah dimengerti: pertama Al-Quran menangani kasus yang bersifat lebih umum tentang hubungan seks yang normal tetapi terlarang, yaitu pada ayat 24:2. Di kemudian hari berpaling pada hal, yang kurang umum, yaitu kasus hubungan seks tidak wajar pada ayat 4:15-16.

Kedua, meskipun kata alladhan dapat digunakan untuk suatu pasangan yang terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita atau dua orang laki-laki atau dua orang wanita, yang paling wajar adalah merujuk pada pasangan dari dua orang lelaki. Perlu diperhatikan bahwa Al-Quran menggunakan kata ini hanya pada ayat 4:16. Di tempat lain, ketika berbicara tentang fahishah menggunakan baik bentuk tunggal ataupun jamak umum, meskipun fahishah tersebut hanya melibatkan dua orang (baca ayat 4:19, 25, 24:2, 65:1). Ini saja sudah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berbeda yang dimaksudkan pada ayat 4:16. Tetapi struktur ayat memberikan suatu alasan tambahan yang jauh lebih menarik bahwa pada ayat 4:16, alladhan mengacu pada dua orang laki-laki. Jika ayat 4:15-16 menyangkut zina heteroseksual, maka kita harus mengharapkan ayat-ayat menjadi seperti berikut:

Adapun terhadap para wanita kamu yang melakukan fahishah … kurung mereka di rumah-rumah … Dan terhadap kalian (laki-laki) yang bersalah melakukan itu, hukum mereka (dengan cara lainnya) ….

Atau,

Jika ada dua orang dari kamu melakukan fahishah, …, kurung wanita tersebut di rumah dan hukum lelaki itu (dengan cara lainnya).

Tetapi konstruksi kalimatnya bukannya seperti itu, ayat 4:15 memberitahu kita bahwa hukuman bagi wanita yang melakukan fahishah adalah penjara yang tidak dibatasi waktu, sedangkan ayat 4:16 berbicara tentang hukuman bagi “kamu berdua” yang bersalah melakukan fahishah. Jika kita menganggap alladhan sebagai seorang lelaki dan seorang wanita, maka kita sekali lagi memiliki acuan hukuman bagi si wanita, meskipun hal ini sudah ditangani oleh ayat 15. Jika kita menafsirkan seperti ini, maka berarti bahwa wanita yang bersalah tidak hanya dijatuhi hukuman penjara yang tidak terbatas, tetapi juga menerima hukuman yang diterima oleh laki-laki, maka pemahaman seperti ini tidak konsisten dengan semangat Al-Quran, yang menganggap zina oleh wanita dan laki-laki dengan tingkat keseriusan yang sama dan pada ayat 24:2 menetapjan hukuman yang setara.

Dalam upayanya untuk memecahkan kesulitan ini beberapa ulama berpendapat bahwa ayat 15 adalah tentang wanita yang sudah menikah dan ayat 16 adalah tentang lelaki yang belum menikah dan wanita yang belum menikah. Tetapi, terlepas dari kenyataan bahwa ayat-ayat tersebut tidak memberikan dasar untuk usulan seperti itu, hal ini akan meninggalkan sama sekali hal penting tentang zina` yang dilakukan oleh lelaki yang menikah. Usulan lain, yang lebih kelihatan mengada-ada, adalah bahwa ayat 16 diturunkan sebelumnya dan dibatalkan oleh ayat 15, sehingga yang pertama kali hukuman untuk zina heteroseksual adalah idha (yang dipahami sebagai memarahi dan memukuli) sebagaimana disebutkan pada ayat 16 dan hal ini kemudian diubah oleh ayat 15, yaitu dipenjara dan kemudian oleh ayat 24:2, yaitu dicambuk. Usulan ini tidak menjelaskan mengapa pada ayat 15 hanya wanita yang disebutkan. Selain itu, saran tersebut terlalu berlebih-lebihan dalam menggunakan konsep pembatalan hingga pada titik sesolah-olah Allah nampak seperti orang yang tidak tahu hukuman seperti apa yang harus Ia tetapkan. Cara terbaik dan wajar untuk memahami ayat-ayat tersebut adalah menganggap ayat 15 sebagai sedang berbicara tentang wanita dan ayat 16 sebagai sedang bicara tentang dua orang laki-laki, yang berarti bahwa ayat 16 adalah mengacu pada perbuatan homoseksual yang dilakukan oleh dua orang laki-laki.

Beberapa penulis mengakui bahwa ayat 16 adalah berbicara tentang fahishah homoseksual, tetapi mereka menafsirkan ayat 15 sebagai sedang berbicara tentang fahishah heteroseksual. Pemahaman ini bisa dimengerti, karena jika kita membaca ayat ini sendirian, kedengarannya sangat mirip dengan beberapa ayat lain di mana fahishah heteroseksual disebutkan, misalnya, ayat4:25: “dan setelah mereka menjaga diri dengan nikah, jika mereka melakukan fahishah, hukuman bagi mereka adalah setengah dari wanita merdeka”. Tetapi perhatian yang lebih mendalam menunjukkan bahwa pemahaman tersebut menjadi sangat tidak mungkin. Karena:

1)      Perhatikan bahwa ayat 16 mengatakan, “Dua orang dari kamu yang melakukan hal itu”. Di sini kata “hal itu” hanya dapat mengacu pada fahishah yang sudah disebutkan pada ayat 15, yang menunjukkan bahwa kedua ayat tersebut harus ditafsirkan dengan cahaya satu sama lain dan bahwa homoseksualitas yang disebutkan pada ayat 16 adalah termasuk fahishah yang dilakukan oleh wanita yang disebutkan pada ayat 15. Bahwa dua ayat tersebut berkaitan erat dan harus ditafsirkan dengan cahaya satu sama lain, juga ditunjukkan oleh fakta bahwa ayat 15 menetapkan bahwa wanita yang bersalah melakukan fahishah harus dipenjara setelah mereka terbukti bersalah oleh kesaksian dari empat orang saksi. Tetapi pada ayat 16 tidak ada saksi yang disebutkan dalam kaitannya dengan dua orang laki-laki. Ini tidak berarti bahwa dua orang lelaki dapat dihukum tanpa bukti yang kuat. Ini hanya berarti bahwa dalam menafsirkan ayat 16 kita harus dengan sendirinya memakai aturan pembuktian yang disebutkan pada ayat 15.

2)      Kami sebelumnya berpendapat bahwa ayat 24:2 diturunkan sebelum ayat-ayat yang sedang kita bahas. Jika kita menganggap ayat 15 sebagai merujuk pada seks yang normal tetapi haram, maka kita harus sekali lagi mengatakan bahwa pencambukkan yang ditetapkan oleh ayat 24:2 dibatalkan oleh hukuman kurungan rumah pada ayat 15, yang belum pernah dikemukakan oleh siapa pun.

3)      Jika kita menganggap ayat 16 sebagai merujuk kepada seks yang tidak normal yang dilakukan oleh para lelaki dan ayat 15 merujuk pada seks yang nomal tetapi haram, maka hal ini mengeluarkan kasus seks yang tidak normal yang dilakukan oleh para wanita.

Orang mungkin akan bertanya bahwa jika ayat-ayat tersebut berbicara tentang homoseksualitas dan bentuk-bentuk lain dari seks tidak normal, mengapa hal ini tidak disampaikan buat secara lebih jelas?

Jawabannya adalah bahwa pada saat diwahyukan artinya cukup jelas. Al-Quran sudah menetapkan hukuman untuk zina. Kemudian ayat ini turun, secara terpisah dan membicarakan tentang wanita-wanita yang melakukan fahishah dan dua orang lelaki yang melakukan “hal itu”. Semua orang akan mengerti apa yang dimaksudkannya. Para pembaca yang berikutnya juga dapat dengan mudah menangkap maknanya, sebagaimana yang sudah banyak dilakukan, jika mereka melakukan upaya untuk bercermin kepada Al-Quran.

Kami sekarang akan menjelaskan dua ayat tersebut kata demi kata.

Mereka” (allati). Kata ini mempunyai struktur jamak wanita secara umum. Satu pertanyaan yang dapat diajukan terhadap pemahaman bahwa ayat-ayat 15-16 berbicara tentang seks yang tidak normal adalah, mengapa berlawanan dengan para lelaki pada ayat 16, dalam kasus wanita menggunakan bentuk jamak (wanita-wanita) allati dan bukannya allatani (dua wanita). Tetapi jenis pertanyaan seperti ini muncul terlepas dari bagaimana kita menafsirkan ayat-ayat tersebut. Jadi, jika kita menafsirkannya sebagai merujuk kepada fahishah heteroseksual, kita dapat bertanya mengapa ayat kedua tidak menggunakan kata alladhina sebagai ganti dari alladhani, sejajar dengan ayat 15? Tetapi pemahaman tersebut lebih disukai di sini — ayat 15-16 berbicara tentang fahishah yang tidak tercakup dalam ayat 24:2 dengan istilah zina`, pada kenyataanya tidak memberikan penjelasan perihal penggunaan kata allati yang berkaitan wanita dan alladhani yang berkaitan dengan dua orang lelaki. Sebab, nampak bahwa homoseksualitas belum pernah dilakukan sebagai sesuatu yang umum di kalangan wanita dibandingkan di kalangan lelaki. Penelitian menunjukkan bahwa di zaman kita, homoseksualitas di antara sesama lelaki jauh lebih umum daripada sesama wanita. Beberapa perkiraan menyatakannya sepuluh kali lebih umum terjadi di antara sesama lelaki dibandingkan pada sesama wanita [9]. Bahwa situasi itu agak mirip dengan jaman dahulu yang ditunjukkan oleh fakta bahwa ketika Taurat melarang tindakan homoseksual di kalangan laki-laki, namun bahkan tidak menyebutkan di antara sesama wanita. Perhatikan lagi bagian alkitab berikut:

Jika seorang lelaki melakukan hubungan seksual dengan binatang, ia harus dihukum mati, dan kamu harus membunuh binatang itu. Jika seorang wanita mendekati binatang apapun dan melakukan hubungan seksual dengan binatang itu, kamu harus membunuh wanita dan binatang itu, mereka harus dihukum mati, darah mereka ada di atas mereka. (Lev 20:15-16)

Di sini dalam kaitannya dengan seks dengan binatang, yang dilakukan oleh lelaki maupun wanita, disebutkan dalam dua ayat secara paralel. Tetapi dalam hukum tentang homoseksualitas kita hanya membaca:

Jika seorang lelaki tidur dengan seorang lelaki sebagaimana dengan seorang wanita, keduanya telah melakukan suatu kekejian, mereka harus dihukum mati, darah mereka ada di atas mereka. (Lev 20:13)

Hukum ini tidak diikuti dengan hukum yang sama bagi wanita, baik di sini maupun di tempat lain dalam Perjanjian Lama. Demikian juga dalam Perjanjian Baru [10], dalam hukum yang dikeluarkan oleh kaisar Bizantium Kristen, dan di dalam Hadits [11] kami jarang menemukan referensi apapun untuk kasus homoseksualitas di kalangan wanita.

Mungkin alasan kelangkaan referensi tentang homoseksualitas di kalangan wanita adalah sebagian karena seks dalam budaya kuno berkaitan erat dengan penetrasi kelamin dan hal ini tidak mungkin terjadi di antara wanita pada zaman itu. Tetapi jika homoseksualitas sudah menjadi umum di kalangan wanita, maka kita harus berharap akan menerima penyebutan yang jauh lebih besar dalam tradisi hukum dan keagamaan dari masa lalu dari pada kenyataannya.

Dengan tetap memelihara fakta-fakta di atas dalam pikiran, kami sekarang dapat menjelaskan mengapa allatan yang feminin tidak digunakan oleh ayat 15, sedangkan alladhan yang setara maskulin digunakan pada ayat 16. Dalam kasus lelaki, selain dari percabulan dan perzinahan yang sudah tercakup oleh ayat 24:2, homoseksualitas adalah bentuk paling umum dari fahishah dan dengan demikian hal ini difokuskan oleh ayat 16. Bentuk lain dari fahishah seperti bestiality dapat ditangani secara analogi. Dalam kasus wanita, homoseksualitas atau mungkin suatu jenis fahishah lainnya, selain zina heteroseksual, adalah lebih beragam dan karenanya tidak ada tipe tertentu yang menerima fokus khusus; fahishah dibiarkan dalam bentuk secara umum yang meliputi homoseksualitas, bestiality dan bahkan tindakan lainnya seperti pertunjukkan striptis dll. Jika merujuk fahishah dalam arti yang umum, penggunaan allatan (“dua wanita”) tidaklah cocok. Oleh karena itu kata allati (jamak para wanita) yang digunakan … Ini agak mirip dengan referensi tentang empat orang saksi pada ayat 15 dalam kasus wanita, sementara tidak ada referensi tersebut dalam kasus lelaki pada ayat 16, di mana ia dibiarkan dipahami. Hal ini karena wanita lebih banyak dipengaruhi oleh tuduhan ketidaksenonohan seksual dibandingkan para lelaki, dan karenanya aturan pembuktian disebutkan dalam kasus wanita (lihat juga 24:4, 13, yang juga menyebutkan saksi hanya sehubungan dengan wanita) dan dibiarkan dipahami seperti itu untuk lelaki. Demikian pula, homoseksualitas adalah jauh lebih umum di antara lelaki dari pada sesama wanita dan oleh karenanya disebutkan secara khusus bagi para lelaki, sedangkan untuk para wanita dibiarkan dipahami.

Di antara wanita kamu” (min nisa`i KUM). Di sini “kamu” (jamak maskulin umum) bisa merujuk kepada muslim lelaki atau masyarakat muslim secara keseluruhan. “Wanita kamu” dapat mencakup baik wanita yang sudah menikah dan yang belum menikah (lihat 2:45, ayat 2:187, 3:61 dll).

Melakukan fahishah“. Kata tersebut diterjemahkan sebagai “melakukan” pada kedua ayat dalam bentuk waktu sekarang dan akan datang (ya`tina dan ya`tiyani). Meskipun hal ini tidak selalu terjadi (lihat ayat 4:19) tetapi kata kerja ini sering menunjukkan tindakan yang berulang. Hal ini  berlawanan dengan ayat 4:25, yang berbicara tentang perzinahan, di mana kata kerja dalam bentuk lampau (atayna), menunjukkan tindakan satu kali.

sediakan terhadap mereka empat orang saksi dari antara kamu“. Sebagaimana ditekankan di atas, aturan ini secara implisit dipahami untuk kasus laki-laki pada ayat 16. Sekali lagi ayat ini menggunakan kata “di antara kamu”. Jika dialamatkan kepada orang-orang beriman lelaki, maka ini berarti bahwa para saksinya adalah laki-laki. Jika “kamu” merujuk kepada seluruh komunitas muslim, maka para saksi tersebut bisa para lelaki dan/ atau wanita. Bahkan dalam kasus pertama adalah mungkin bahwa penekananannya adalah bukan pada jenis kelamin dari para saksi tetapi pada keimanan dari mereka. Yaitu, tidak berarti bahwa saksi harus laki-laki, tetapi mereka harus beriman.

Kemudian jika mereka bersaksi, kurung mereka di rumah-rumah“. “Rumah tersebut” bisa berarti rumah dari si wanita yang bersalah, rumah keluarganya atau rumah suaminya, jika suaminya tidak menceraikannya. Ini juga bisa berarti bangunan rumah milik masyarakat, semacam penjara di mana wanita tersebut dapat hidup seperti di rumah. Jika penahanan dilakukan di rumah si wanita atau kerabatnya, maka pemerintahan Islam harus mengawasinya. Pertama, harus memastikan bahwa pengurungan benar-benar terjadi, dan kedua, menyediakan setiap jenis kemungkinan bantuan yang dibutuhkan untuk perbaikan.

Pada ayat ini, hukuman untuk kasus wanita ditentukan sedangkan untuk laki-laki, sebagaimana yang akan kita lihat, dibiarkan terbuka. Ini mungkin untuk melindungi kaum wanita karena ketika hukuman telah ditetapkan, pihak berwenang tidak bisa menjadikannya lebih keras.

“hingga kematian menemui mereka atau Allah menyediakan bagi mereka jalan keluar“. Wanita dapat terlibat dalam fahishah karena mereka tidak bisa menikah sebagai hasil dari adanya cacat yang mereka derita atau karena perkawinan mereka karena beberapa alasan tertunda jauh melampaui usia kematangan seksual mereka atau karena penyimpangan dalam dorongan seksual mereka. Tujuan dari pemenjaraan adalah untuk menghilangkan kesempatan untuk fahishah dan pada saat yang sama memberikan kesempatan untuk bercermin di bawah pengaruh pendidikan dan pelatihan yang sesuai. Penjara ini berlanjut hingga mati, kecuali “Allah menyediakan bagi mereka jalan keluar” sebelum mati. Kata-kata ini sering diartikan sebagai “kecuali Allah mewahyukan jenis hukuman yang lain” yang Ia lakukan pada Al-Quran ayat 24:2 atau di dalam hadits dari ‘Ubadah bin al-Samit. Tetapi penafsiran ini sama sekali tidak memuaskan.

  • Pertama, sebagaimana dicatat sebelumnya adalah masih jauh dari jelas mengapa ayat 24:2 harus dianggap lebih belakangan dari pada ayat 4:15.
  • Kedua, “Allah menyediakan jalan keluar bagi mereka” adalah sesuatu yang positif daripada hukuman bentuk lain.
  • Ketiga, tidak ada alasan mengapa Allah tidak mampu memberikan hukuman yang terbaik pada ayat 15 sebagai pengganti pemberian pertama suatu hukuman yang berbeda, yang mungkin tidak begitu baik, dan menjanjikan untuk memberikan hukuman yang lebih baik di lain waktu.
  • Keempat, memenjarakan wanita nampak merupakan hukuman terbaik untuk seks yang tidak normal.

Yang dimaksud dengan “sampai Allah menyediakan bagi mereka jalan keluar” adalah bahwa Allah mengubah keadaan sedemikian rupa sehingga penyebab-penyebab dari cara-cara yang buruk akan dihilangkan. Misalnya, jika perilaku seksual yang menyimpang tersebut disebabkan oleh kesulitan dalam menemukan pasangan perkawinan, maka pasangan tersenut mungkin akan tersedia pada suatu saat. Pemenjaraaan kemudian akan berakhir, jika ada kemungkinan nyata terjadi reformasi. Jika perilaku itu karena penyimpangan dalam dorongan seksual, pemenjaraan setelah jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan reformasi dan dimungkinkan untuk melanjutkan hubungan perkawinan secara normal. Maka pemenjaraan akan berakhir pada saat itu. Kedua hal baik tersebut bukan merupakan hal yang mudah, sehingga perubahan keadaan tersebut digambarkan sebagai “Allah menyediakan jalan keluar”, meskipun hal-hal itu bisa saja datang dengan mudah dari Allah.

Jadi kata-kata “hingga Allah menyediakan bagi mereka jalan keluar” dimaksudkan untuk menjadikan kita mencari kemungkinan reformasi dan penyembuhan daripada fokus pada menghukum. Mereka yang menjadikan kata-kata tersebut sebagai suatu janji bentuk jenis hukuman lain, yang berbeda, adalah terlalu fokus pada menghukum, yang bukan merupakan fokus dari ayat-ayat tersebut. Hal ini juga akan menjadi jelas ketika kami mengomentari ayat-ayat berikutnya.

Sebagaimana dicatat pada bab 4, pemenjaraan juga hukuman untuk perzinahan dalam hukum dari kaisar Kristen Justinianus. Tetapi hukuman yang Qurani, selain dari fakta bahwa hukuman ini bukan untuk perzinahan tetapi untuk seks yang tidak normal, berbeda dari hukum Justinianus dengan cara penting sebagai berikut: Pada hukum Justinianus suami bisa mengeluarkan si wanita dari kurungan dalam waktu dua tahun; jika ia tidak melakukannya, maka ia tetap dalam kurungan seumur hidup. Sebaliknya, di Al-Quran penahanan dapat berakhir kapan saja dan bukan hanya jika si suami memutuskan untuk mengambil kembali; keadaan apapun dengan suatu janji rehabilitasi dari si wanita yang masuk akal dan penyembuhan luka sosial, moral, dan spiritual yang disebabkan oleh kejahatan tersebut, dapat memastikan pembebasannya.

Dan dua orang (alladhan) di antara kamu yang melakukan hal itu” (fahishah). Seperti disebutkan sebelumnya, ini mengacu pada dua orang laki-laki yang melakukan hubungan homoseksual. Ini adalah KUM  ketiga kalinya yang digunakan dalam kedua ayat tersebut. Sekali lagi kita bisa menjadikan kata ganti ini dialamatkan kepada orang-orang yang beriman laki-laki atau semua orang yang beriman. Jika merujuk kepada orang-orang beriman laki-laki, maka hal ini akan menjadikannya lebih perlu untuk menganggap kata ganti ini sedang merujuk kepada semua pasangan dua orang lelaki dan hubungan homoseksual yang terjadi di antara mereka. Beberapa komentator menganggap kata ganti KUM merujuk pada semua orang beriman, sementara pada frase “empat di antara kamu” pada ayat 15, mereka membatasinya merujuk pada orang0orang beriman laki-laki.

Salah satu implikasi dari penggunaan berulang kata ganti KUM adalah bahwa hukuman yang ditetapkan dimaksudkan untuk muslimin saja. Penduduk non-muslim di negeri-negeri muslim tidak tunduk pada ketentuan itu. Mereka sesuai aturan [12] harus dihukum sesuai dengan tradisi mereka sendiri, sebuah prinsip yang dapat diterapkan untuk hukuman kejahatan lainnya.

hukum (`adhu) mereka berdua“. ‘Adhiya berarti menyakiti mental atau fisik dengan komentar atau tindakan seseorang (3:195, 7:129, 9:61, 29:10, 33:53, 69, 61:5). Oleh karena itu di sini bisa berarti bentuk hukuman baik lisan dan non-lisan seperti memarahi, mengutuk pelanggaran tersebut berkenaan dengan sifatnya yang menjijikkan, pemukulan, pencambukan, boikot sosial, pengasingan, dan bahkan pemenjaraan [13]. Karena lelaki pada umumnya memiliki tanggung jawab tertentu yang memerlukan keluar rumah, maka hukuman mereka tidak ditetapkan dengan dipenjara, tetapi hukuman itu dikecualikan dari Idha`. Jika, misalnya, ada bahaya bahwa lelaki tersebut bisa menganiaya anak muda, maka penjara mungkin merupakan hukuman hanya cocok.

Untuk lelaki, pemenjaraan bisa dilakukan di rumah seperti pada ayat 15, atau, dalam beberapa kasus, di rumah tahanan yang dijaga ketat. Al-Quran tidak melarang sistem penjara tetapi juga tidak membicarakannya. Sebagai suatu aturan, oleh karena itu, penjara adalah bukan sesuatu yang harus di negeri Muslim. Sistem penjara membutuhkan biaya yang terlalu banyak bagi masyarakat dan, juga, dalam penjara terjadi pencampuran penjahat dengan penjahat dan oleh karena itu tidak mengalami jenis pengaruh yang membantu reformasi mereka.

Hukuman tersebut tidak boleh mengandung pembunuhan, karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan ayat selanjutnya.

“kemudian (fa) jika keduanya bertobat dan berbuat baik, biarkanlah mereka “.

Fa bisa berarti “jadi”, “dengan demikian”, “kemudian,” “tetapi kemudian”. Kata tersebut menunjukkan di sini bahwa tujuan dari hukuman tersebut adalah untuk mengarahkan pada pertobatan dan reformasi. Keseluruhan pernyataan ayat sesuai dengan kata-kata “sampai Allah menyediakan bagi mereka jalan keluar” pada ayat sebelumnya. Hukuman tersbut, baik mental maupun fisik, harus dihentikan ketika orang yang bersalah tersebut menunjukkan tanda-tanda yang jelas memperbaiki diri. Penghentian hukuman ini memiliki beberapa implikasi penting:

  • Pertama, hukuman tersebut harus suatu bentuk hukuman yang alami yang dapat dihentikan. Hal ini akan menafikan adanya bentuk hukuman mati.
  • Kedua, seharusnya tidak ada stigma yang dilekatkan kepada orang tersebut setelah ia direformasi melalui pertobatan, karena stigmatisasi seperti ini dapat menyebabkan penderitaan mental yang perlu dihentikan.
  • Ketiga, jika suatu tindakan seks yang tidak normal tersebut dilakukan suatu waktu di masa lalu, tetapi orang tersebut telah direformasi, maka tidak akan ada hukuman untuk tindakan tunggal. Hal ini karena fokus pada ayat ini adalah mengenai reformasi, yang tidak hanya jelas dari kata-kata di atas, namun juga dari fakta bahwa dua ayat berikutnya (4:17-18) berlanjut dengan tema pertobatan.

Penekanan pada pertobatan dan reformasi ini menunjukkan bahwa Al-Quran menolak pemahaman bahwa perilaku homoseksual adalah sesuatu yang dengannya seseorang dilahirkan, oleh karena itu, ia dapat melakukan apa pun untuk mengubahnya.

Sesungguhnya, Allah paling menerima pertobatan dan paling belas kasihan“. Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa kasih sayang Allah selalu berkehendak untuk memalingkan hamba-Nya kepda pengampunan jika mereka bertobat sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, kita juga harus menunjukkan penerimaan dan kasih sayang setelah orang-orang yang bersalah telah bertobat dengan mestinya.

Secara singkat: ayat 24:2 dan 4:15-16 harus “dibaca“ bersama-sama dan bukan sebagai yang satu membatalkan yang lain. Bagian pertama, ayat 24; 2, memberikan hukuman bagi zina` yang dipahami sebagai hubungan seks yang normal antara lelaki dan wanita yang tidak menikah satu sama lain: maksimum 100 cambukan. Bagian kedua, ayat 4:15-16, mengatur hukuman untuk bentuk lain dari fahishah termasuk homoseksualitas: pengurungan rumah dalam kasus wanita dan semua jenis hukuman yang efektif untuk lelaki. Hukuman ini bertujuan untuk mereformasi pelakunya dan harus dihentikan segera setelah tanda-tanda yang jelas reformasi terlihat.

Ini adalah ajaran yang sederhana, dan jelas yang diberikan oleh Allah bahwa beberapa Muslim pada jaman dulu mengubah hukum dengan beralih kepada sumber-sumber selain firman-Nya, mengimpor hukuman mati untuk setiap jenis fahishah, dan memberikan pemahaman mereka dengan otoritas Nabi melalui ahadits yang dipalsukan. Dan sayangnya banyak umat Islam pada generasi berikutnya mengikuti mereka dalam kesalahan mereka. Semoga Satu-satunya yang Maha Pemurah membawa kita semua lebih dekat dengan firman-Nya dan sunnah otentik Rasul-Nya dan memiliki keberanian untuk menolak kesalahan atau kebohongan dari beberapa Muslim sebelumnya.


LAMPIRAN I

HUKUMAN MATI KEPADA SEORANG LELAKI YANG MENIKAHI ISTRI BAPANYA

Dalam Lampiran ini kami mempertimbangkan beberapa detail dari hadits yang sebagian fuqaha telah keliru merumuskan hukuman mati untuk inses.
Hadits ini datang kepada kita dari dua Perawi utama: Mutarrif dan ‘Adi, dari masing-masing riwayat menjadi beberapa narasi (matan) yang berbeda.

 

Narasi dari Mutarrif

Musaddad meriwayatkan kepada kami: Khalid bin ‘Abd Allah meriwayatkan kepada kami: Mutarrif meriwayatkan kepada kami dari Abu al-Jahm dari al-Barra` bin ‘Azib yang mengatakan: Ketika saya sedang berkelana mencari unta saya yang telah tersesat, beberapa penunggang atau penunggang kuda datang membawa sebuah panji. Suku Badui mulai mengelilingi saya karena posisi saya dengan Nabi. Mereka datang menuju bangunan kubah (qubbah), mengambil seorang lelaki darinya, dan memukul lehernya. Aku bertanya tentang dia. Mereka mengatakan kepada saya bahwa dia telah menikah dengan isteri ayahnya. (Abu Dawud 3864)

Riwayat ini mengatakan adanya indikasi bahwa hukuman mati dilakukan pada zaman Nabi dan atas perintahnya. Ia meninggalkan kemungkinan yang terbuka bahwa insiden itu terjadi pada masa salah satu khulafa`. Detail bahwa para penunggang menunjukkan sikap hormat kepada Sahabat yang masih muda al-Bara` juga mengindikasikan waktu kejadiannya setelah Nabi. Namun dalam riwayat lain kaitan antara Nabi saw dan pelaksanaan hukuman mati menjadi lebih dekat. Sehingga pada narasi dalam Musnad Ahmad (17867), juga diriwayatkan oleh Mutarrif dari Abu al-Jahm dari al-Bara`dinyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada “zaman Nabi”. Dalam riwayat lain, sekali lagi dari Mutarrif dari Abu al-Jahm dari al-Bara`, koneksi menjadi lebih dekat lagi bahwa bahkan Nabi sendiri yang dikatakan memerintahkan hukmanmati tersebut:

‘Utsman bin Muhammad meriwayatkan kepada kami (‘Abd Allah berfirman: dan aku juga mendengar ‘Utsman berkata) Jarir bin ‘Abd al-Hamid meriwayatkan kepada kami dari Mutarrif dari Abu al-Jahm dari al-Barra` bin Azib bahwa Nabi mengirim (orang-orang) kepada seorang lelaki yang menikah dengan isteri ayahnya bahwa ia dihukum mati. (Ahmad 17877)

Kami juga dapat mencatat di sini narasi berikut, yang nampak memberikan pembenaran yang lebih kuat kepada adanya hukuman mati bagi inses secara umum:

Aswad bin ‘Amir meriwayatkan kepada kami: Abu Bakar meriwayatkan kepada kami dari Mutarrif yang mengatakan: Mereka datang ke sebuah qubbah, membawa keluar dari padanya seorang lelaki dan membunuhnya. Dia berkata: Aku bertanya: Apa ini? Mereka berkata: Ini adalah seorang lelaki yang melakukan hubungan seksual (dakhala) dengan ibu dari istrinya dan Rasul Allah mengutus (orang-orang) dan mereka membunuhnya. (Ahmad 17868)

Orang mungkin berpendapat bahwa di hadith ini cerita tersebut membicarakan tentang hubungan seksual dan bukan kasus menikah dengan kerabat. Tetapi narasi ini sangat tidak bisa diandalkan. Isnadnya tidak lengkap, karena berakhir dengan Mutarrif (w. 141). Hadits ini tidak ada dalam salah satu dari delapan buku-buku lain dalam Encylopedia Hadits. Dan isinya kontradiksi dengan riwayat lain karena menyebutkan ibu dari istri bukan istri dari ayah. Selain itu, bahkan dalam narasi ini rujukan kepada menikah tidak dapat dikesampingkan, karena kata dakhala dapat merujuk pada perkawinan yang sempurna.

 

Riwayat dari ‘Adi

Tidak ada satupun dari narasi tersebut dikaitkan kepada Mutarrif. Ada identifikasi seseorang yang menghukum mati lelaki tersebut. Tetapi dalam narasi dari ‘Adi seorang paman dari al-Bara` dikatakan membawa panji tersebut:

‘Abd Allah bin Ja’far meriwayatkan kepada kami: ‘Ubayd Allah bin ‘Amr meriwayatkan kepada kami dari Zaid dari ‘Adi bin Tsabit bin dari Yazid al-Barra` dari ayahnya yang mengatakan: Aku menemui paman dari pihak ayah saya ketika dia memiliki sebuah panji. Maka saya bertanya kepadanya: Anda ingin pergi kemana? Ia berkata: Rasulullah saw telah mengutus aku kepada seorang lelaki yang menikah dengan istri ayahnya dan dia telah memerintahkan saya untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya. (Darimi 2141, juga ditemukan dengan sanad yang sama dan kata-kata yang sama yang hampir persis di Nasa’i 3280 dan Abu Dawud 3865)

Narasi di atas diriwayatkan dari ‘Adi melalui Yazid, anak dari al-Bara’ dari al-Bara`. Tetapi Nasa’i (3279) dan Tirmidzi (1282) memiliki narasi yang dikutip oleh ‘Adi langsung dari al-Barra` dan tidak melalui Yazid. Tirmidzi, yang menggambarkan hadits tersebut sebagai hasan gharib, mencatat bahwa ada juga narasi yang dikutip oleh Yazid bukan dari ayahnya, namun paman dari pihak ibu. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa para Perawi hadits tersebut sebelum ‘Adi tidak meyakinkan asal muasalnya.

Pembaca akan mencatat beberapa kontradiksi isi dari berbagai narasi tersebut:

  • Dalam salah satu narasi Mutarrif, al-Bara`menyaksikan pelaksanaan hukuman mati tersebut saat ia keluar mencari unta dan kemudian bertanya tentang hal itu dari laki-laki yang bertanggung jawab atas pelaksanaan hukuman mati tersebut dengan tidak menyebutkan tentang pamannya. Tetapi dalam riwayat Adi situasinya sangat berbeda: al-Bara‘ sendiri tidak menyaksikan. Dia hanya bertemu pamannya dengan sebuah banner dan bertanya ke mana ia akan pergi. Dia belajar tentang pelaksanaan hukuman mati sebelum hal itu terjadi. Tidak ada implikasi bahwa ia ternyata menyertai pamannya dan menyaksikan hukuman tersebut.
  • Ada kontradiksi lebih lanjut tentang identitas dari si paman. Dalam beberapa versi ia adalah paman dari phak ayah, di versi lain paman dari pihak ibu. Ibnu Majah merujuk pada narasi bahwa namanya adalah Hushaym. Namun versi di Tirmidzi memberikan namanya sebagai Abu Burdah bin Niyar. Hal ini kemungkinan bahwa narasi utama Mutarrif yang ditemukan di Abu Dawud dan Ahmad adalah yang lebih asli dan rujukan kepada paman adalah yang sekunder. Jika paman dari al-Bara` menjadi pemimpin pihak yang dipercaya dengan tugas melaksanakan hukuman mati lelaki tersebut, sulit untuk memahami mengapa detail ini hilang dalam riwayat milik Mutarrif.
  • Di sisi lain, adalah mungkin untuk menjelaskan penyisipan si paman dalam isnad. Beberapa Perawi memiliki kecenderungan untuk memberikan kerabat mereka tempat yang lebih menonjol dalam narasi mereka daripada kejadian yang sesungguhnya. Dengan demikian adalah mungkin bahwa anak al-Bara, Yazid memperkenalkan paman ayahnya dalam cerita tersebut.

Versi Mutarrif di Abu Dawud merekomendasikan dirinya sendiri juga, karena di sini tidak ada usaha untuk membuktikan masalah syari’ah. Tidak ada tindakan, keputusan, atau pernyataan yang dikaitkan kepada Nabi atau kepada otoritas lain syari’at Islam seperti khalifah atau Sahabat yang terkemuka. Sebuah insiden diriwayatkan sebagai al-Bara` (w. 72H) melihat kejadian itu ketika ia masih sangat muda tanpa pemahaman lebih dari apa yang algojo ceritakan kepadanya. Ini juga menjelaskan mengapa hadits tersebut tidak menemukan tempat dalam buku-buku sebelumnya seperti Muwatta, Bukhari, atau Muslim: tidak adanya penyebutan seorang yang punya otoritas pada laporan pelaksanaan hukuman mati, menjadikan hadits tersebut tidak bisa dipakai untuk menegakkan suatu aturan Syariat. Hanya jika pelaksanaan hukuman mati itu telah dijelaskan sebagai diperintahkan oleh Nabilah, maka hadits tersebut layak memperoleh otoritas dan dapat dimasukkan ke dalam koleksi hadits Nabi.

Kesimpulannya: Kisah tentang pelaksanaan hukuman mati pada seorang lelaki yang menikahi isteri ayahnya mungkin secara substansial otentik dalam hal diriwayatkannya dari Mutarrif di Abu Dawud. Tetapi tidak membuktikan apapun tentang hukuman bagi incest. Karena:

1)      cerita tersebut dalam bentuk aslinya tidak menyatakan tentang kapan dan oleh siapa perintah hukuman mati dilaksanakan

2)      bahkan jika eksekusi tersebut diperintahkan oleh Nabi, hukuman itu mungkin karena melanjutkan praktek menikahi istri dari seseorang ayah yang sudah meninggal yang bertentangan perintah eksplisit dari Allah. Ini tidak bisa diperluas untuk kasus inses pada umumnya.

Jadi hukuman mati bagi pelaku inses adalah pemahaman dari beberapa Muslim awal yang secara palsu diatributkan kepada Nabi saw.

 

Lampiran II

ALKITAB DAN PERDEBATAN MODERN TENTANG HOMOSEKSUALITAS

Seperti kita catat sebelumnya, Alkitab mengatur hukuman mati untuk tindakan homoseksual. Ketetapan ini ditemukan di bagian Alkitab yang disebut Taurat (atau Pentateukh), yang dianggap memiliki kewenangan yang cukup bagi sebagian besar umat Yahudi. Taurat juga diakui oleh umat Kristen, tetapi karena mengikuti Paulus, umat Kristen percaya bahwa kebanyakan hukum di Taurat telah dibatalkan dengan meninggalnya Yesus. Umat Kristen, oleh karena itu, tidak merasa terikat dengan hukum yang menetapkan hukuman mati karena tindakan homoseksual. Ini tidak berarti bahwa mereka menganggap homoseksualitas diterima, karena bagian khusus Alkitab Kristen – Perjanjian Baru – bahkan bagian tersebut ditulis oleh Paulus sendiri (Rom 1:26-27, 1 Kor 6:9-10) mengutuk homoseksualitas sebagai dosa.

Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa baik tulisan suci Yahudi dan Kristen menolak homoseksualitas. Meskipun demikian, orang-orang Yahudi dan Kristen terbagi tentang hal itu, beberapa menganggapnya suatu bentuk perilaku yang dapat diterima sementara yang lain menolaknya. Akibatnya, perdebatan telah berlangsung di antara mereka. Lampiran ini menguraikan cara Alkitab digunakan dalam perdebatan ini.

Secara umum, ada tiga cara, di mana orang-orang Yahudi dan Kristen menggunakan Alkitab:

  1. Seluruh Alkitab adalah firman Allah dan harus dipahami secara harfiah kecuali jika jelas dimaksudkan secara simbolis atau alegoris. Sudut pandang ini, biasanya digambarkan sebagai “fundamentalisme”, yang memiliki integritas. Tetapi ini tidak praktis, karena berdasarkan Alkitab tidak mungkin untuk mengembangkan sistem yang koheren dan dapat bekerja pada suatu masyarakat yang berfungsi, apalagi bagi masyarakat progresif yang mensejahterakan.
  2. Ada indikasi ucapan di bibir saja tentang keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, karena ajaran-ajarannya diterima secara sangat selektif. Seleksi dilakukan atas dasar kecenderungan pribadi dan tingkat popularitas suatu posisi. Pendekatan ini, yang dapat disebut “konservatisme yang nyaman”, yang tidak memiliki integritas tetapi praktis.
  3. Alkitab dipandang sebagai produk manusia dari suatu keadaan di mana berbagai buku ditulis. Ajarannya tidak diberi otoritas secara literal, bahkan ketika ayat-ayatnya secara jelas dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah. Posisi ini, yang dapat disebut “liberalisme radikal”, yang dalam beberapa kasus berdasarkan pada integritas intelektual. Namun, ketika seseorang memegang posisi ini dan masih bersikeras untuk menjadi seorang Yahudi atau seorang Kristen, maka batasan-batasannya pada penipuan atau penyalahgunaan bahasa. Hal ini terutama berlaku dalam kasus umat Kristen, karena istilah “Yahudi” lebih merujuk pada ras demikian juga kepercayaan dan praktek.

Sikap Yahudi dan Kristen terhadap homoseksualitas tergantung pada cara Alkitab digunakan. “Fundamentalis” menolaknya sebagai dosa. “Liberal radikal” umumnya menganggapnya sebagai perilaku yang dapat diterima, atau setidaknya tidak menganggap itu dosa. “Konservatif nyaman” terbagi dalam masalah ini: beberapa menerimanya dan sebagian menolaknya. Di bawah ini saya mereproduksi sebuah surat terbuka dari seorang “liberal radikal”, John Shelby Spong, kepada seorang ” konservatif nyaman”, George Will. Surat itu merupakan respon sebuah artikel yang ditulis oleh Will di mana ia menolak homoseksualitas.

Will menarik ayat-ayat Alkitab yang mengutuk homoseksualitas dan tradisi berabad-abad Gereja konsisten dengan pengutukan itu. Spong secara tepat menunjukkan bahwa orang Kristen seperti Will telah berangkat dari tradisi Alkitab dan Gereja dalam banyak cara yang tidak ada alasan bagi mereka untuk bersandar pada Alkitab dan tradisi Gereja dalam hal homoseksualitas. Dengan justifikasi yang sama, fundamentalis dan konservatif nyaman dapat membantah bahwa Spong dan liberal radikal lainnya telah berangkat dari tradisi Alkitab dan Gereja dalam cara yang lebih banyak dan jauh lebih radikal dari sebagian besar orang Kristen hingga mereka tidak seharusnya menyebut diri mereka Kristen. Satu-satunya hal yang tepat bagi mereka untuk dilakukan adalah memiliki kejujuran dan keberanian untuk menyatakan bahwa mereka adalah tidak lagi Kristen. Namun Spong tetap bersikeras menyebut dirinya umat Kristen, membiarkan dirinya disebut uskup dan bahkan berpakaian seperti itu.

 

Sebuah Surat Terbuka dari Uskup John Shelby Spong untuk Kolumnis Politik George F. Will dari Washington Post

Yth George:

Anda memiliki platform besar melalui televisi, Newsweek dan Washington Post yang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Saya menemukan diri saya terkesan dengan wawasan anda pada dunia bisbol dan sedikit kurang terkesan dengan hak anda terkait pusat renungan yang bersifat politik. Saya, bagaimanapun, benar-benar kagum pada posisi kamu yang sangat kekurangan informasi baru-baru ini yang melemparkan kepada masyarakat pertanyaan-pertanyaan yang pada saat ini isi merupakan perdebatan gerejawi dalam gereja-gereja kita. Anda tampaknya tidak memiliki pemahaman tentang apa arti dari mencari untuk menyatu bersama iman zaman kuno dengan sudut pandang dunia kontemporer kita.

Saya menghargai fakta bahwa anda adalah penganut Episkopal dan, dengan demikian, adalah sangat tertarik pada isu pentahbisan Rt. Gene Robinson Rev menjadi Uskup New Hampshire. Fakta bahwa acara ini diliput oleh media dunia menunjukkan bahwa hal itu dianggap sebagai momen penting sejarah, sebuah titik balik dalam kehidupan Gereja Kristen. Memang, saya percaya itu adalah suara yang memungkinkan pada Konvensi Umum Gereja Episkopal yang membolehkan pentahbisan ini untuk selanjutnya membuka gereja kita secara tegas kepada masuknya orang-orang homoseksual secara penuh. Ini juga merupakan pukulan yang hebat pada budaya homofobia. Dengan demikian telah membuka sebuah diskusi terbuka tentang penggalangan kesadaran yang kini telah mencapai jauh melampaui batas-batas Gereja Episkopal. Itu adalah prestasi besar bagi sebuah gereja yang relatif kecil.

Namun anda, George, dalam kolom Washington Post anda, telah menandai perdebatan ini sebagai sesuatu yang menimbulkan konflik “trend budaya” dari negara-negara belahan bumi utara melawan “kejelasan doktrin” negara-negara belahan bumi selatan. Saya menganggap analisis itu sebagai naif yang mendebarkan dan menunjukkan bahwa itu adalah wangsit yang tidak lebih dari prasangka melekat dan mendalam anda sendiri. Bagi anda berbicara secara terbuka tentang masalah ini, bila anda diinformasikan semiskin sebagaimana kata-kata anda, menjadikan anda baik kompetensi ataupun integritas anda, mungkin keduanya, dipertanyakan. Karena anda menambahkan komentar serampangan tentang saya dengan menyebut nama pada kolom Newsweek anda (November 10, 2003), saya pikir layak bila saya merespon anda secara publik yang sama.

Anda mengajukan isu pada perdebatan ini sebagai antara modernisme dalam agama dan iman yang sebenarnya jaman dahulu. Anda menunjukkan bahwa dua ribu tahun ajaran Gereja tentang seksualitas dan keluarga ditafsirkan secara imajinatif dalam “suatu lintasan interpretif tertentu.” Anda setuju mengutip seorang imam Fairfax, Virginia, Episkopal yang, merujuk perdebatan pada Konvensi Umum Episkopal Nasional di musim panas lalu, mengatakan, “Ketika ajaran sederhana dari Alkitab dirujuk, mata menggulung, dan dengan ekspresi sopan putus asa, kami diberitahu bahwa sudah waktunya untuk bergerak. Alkitab hanya telah tidak memelihara”. Anda seolah-olah mengatakan bahwa mereka yang mengutip Alkitab, seperti menyediakan kata terakhir pada isu-isu moral, menjadi terpuji.

Nah, George, mungkin anda perlu tahu mengapa hal ini bahwa orang yang mengutip Alkitab di bawah ikatan ketidakmampuan mereka sendiri untuk menerima realitas mungkin perlu dicerahkan.

Alkitab dikutip untuk mendukung hak ilahiah dari Raja ketika Magna Carta muncul pada tahun 1215. Sejarah telah menunjukkan bahwa Alkitab adalah salah pada masalah itu dan saat ini tidak ada peraturan raja di planet ini dengan hak ilahi. Orang-orang telah memeluk demokrasi. Anda mungkin berpikir mewakil “trend budaya”, tetapi saya percaya itu mewakili kesadaran yang muncul bahwa para penulis Alkitab, terikat pada zaman mereka dalam sejarah, tidak pernah bisa merenungkan.

Pada abad ke-17 Gereja, bertindak keluar dari apa yang anda sebut “kejelasan doktrinal,” memenjarakan Galileo dan hampir mnghukum mati dia karena studinya tentang gerakan “tubuh surgawi” membawanya pada kesimpulan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta dan bahwa memang bumi berputar mengelilingi matahari. “Bapak-bapak Gereja” dalam serangan mereka kepada Galileo mengutip sebuah ayat dari kitab Yosua, di mana matahari dijadikan berdiam diri di langit agar memungkinkan Yosua membunuh lebih banyak musuh-musuhnya, sebagai bukti yang meyakinkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi. Saya pikir mata harus menggulung di zaman ruang angkasa ketika “ajaran Alkitab yang jelas” ini dirujuk.

Pada abad ke-19, Charles Darwin menantang “pengajaran Alkitab yang jelas” dalam kisah penciptaan. Tetapi tidak peduli berapa banyak bagian dari tulisan suci telah dikutip sejak “The Origin of Species” diterbitkan pada tahun 1859, dunia modern kita cukup yakin pada Darwin ketimbang Alkitab yang lebih dekat dengan kebenaran. Yaitu kecuali jika anda sekarang ingin menganggap bukti DNA sebagai sedikit lebih kuatt dari pada “trendi budaya.”

Kita bisa terus membahas dan menunjukkan bagaimana “kejelasan doktrinal” memimpin Gereja untuk berpartisipasi dalam, dan untuk membenarkan dengan kutipan Alkitab, lembaga perbudakan serta perbudakan terjutuk dua anak tiri, segregasi dan apartheid. Apakah anda tidak menyadari bahwa, bahkan paus, dalam sejarah merupakan pemikik budak? Apakah masyarakat terintegrasi kita sekarang, yang telah membuka pintu untuk orang-orang seperti Colin Powell untuk melayani di sebuah kantor yang sebelumnya menolak setiap Afrika-Amerika, hanya sekedar contoh lain dari “trend budaya?” Wanita di negara ini apakah diperlakukan secara pasti hingga zaman yang relatif modern, dengan apa yang anda sebut “kejelasan doktrinal.” Sepuluh Perintah Tuhan mendefinisikan wanita sebagai barang milik yang, bersama dengan lembu dan keledai, tidak akan didambakan. Dengan dorongan Alkitab penuh, Gereja pada Abad Pertengahan menganggap wanita sebagai sesuatu tetapi tidak sama, dan bahkan hari ini Gereja Baptis Selatan, telah mengarahkan wanita untuk tunduk kepada suami mereka. Kata “tunduk” dibutuhkan untuk wanita saja, tidak dikeluarkan dari upacara pernikahan Episkopal hingga tahun 1928. Wanita tidak bisa masuk di universitas kita dalam jumlah yang signifikan sebelum abad ke-20. Wanita tidak menerima kuasa‘ hak bersuara di Amerika Serikat hingga tahun 1920, dan bahkan hal itu dilakukan untuk melawan oposisi dari para pengutip Alkitab. Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1876 memutuskan bahwa seorang wanita tidak boleh buka praktek hukum di Negara Bagian Illinois karena “Allah telah merancang dirinya untuk berperan lebih hal-hal rumah tangga.” Apakah itu yang sekarang anda sebut “agresi budaya progresif” yang anda sarankan melawan “konservatisme lembaga-lembaga?” Saya menganggapnya sebagai langkah kepada pencerahan.

Haruskah kita memeriksa cara anak-anak dipekerjakan dalam kedai berkeringat pada abad ke-19 atau dilecehkan di sekolah-sekolah asrama Inggris dengan sanksi resmi gereja sampai-sampai Charles Dickens mulai memunculkan kesadaran sekuler negaranya?

Anda menekankan persetujuannya dalam kolom anda, bahwa ketika pembangkang Episkopal baru-baru ini bertemu di kota Plano, Texas untuk merawat luka kekalahan mereka di Konvensi Umum, bahwa mereka menerima surat dukungan dari Paus dan Kardinal Ratzinger. Apakah gereja kita di abad 21 ini menyetujui negatifitas luar biasa yang berasal dari Gereja Katolik Roma tentang wanita? Apakah anda berpikir bahwa Gereja ini, yang telah melahirkan sebuah budaya yang sesungguhnya dari pelecehan dan menutup-nutupi, memenuhi syarat untuk memberikan kuliah kepada siapa saja tentang isu-isu moralitas baik ataupun “kejelasan doktrinal?”

Anda lihat, George, pertempuran atas penerimaan penuh orang-orang homoseksual di Gereja dan masyarakat adalah seperti semua gerakan lainnya. Ini menimbulkan konflik sebuah definisi tua dan sekarat, yang didukung dengan menghimpau kepada tulisan suci, melawan kesadaran baru yang sedang muncul. Perbudakan akan tetap berlanjut selama orang-orang Afrika dapat didefinisikan sebagai bukan manusia, kekanak-kanakan dan tidak mempunyai kecerdasan yang cukup untuk menjadi warga negara penuh di tanah ini. Perbudakan dan pemisahan ras runtuh ketika definisi itu terluka parah oleh kesadaran baru yang diinformasikan oleh data baru. Apakah anda menyarankan bahwa ini adalah hasil dari “trend budaya?”

Hal yang sama terjadi pada gerakan feminis. Pecahnya stereotipe tradisional tentang wanita dimulai ketika wanita menantang definisi laki-laki yang dipaksakan tentang apa arti menjadi seorang wanita. Wanita bersikeras pada haknya untuk mendefinisikan diri mereka sendiri. Definisi baru ini mendorong para wanita tidak hanya dalam pendidikan dan tempat kerja, tetapi juga ke posisi dalam kabinet Presiden Amerika Serikat pada tahun 1933, dan masuk ke DPR, Senat, rumah-rumah gubernuran dan Mahkamah Agung seperti abad 20 yang membuka lipatan. Tentu saja kita akan memilih presiden wanita pertama kita pada abad ini. Ini bukan “trend budaya,” George, ini adalah hasil langsung dari sebuah kesadaran baru yang baik anda maupun orang lain akan berbalik.

Pertempuran untuk penyertaan penuh orang-orang homoseksual di Gereja dan tatanan sosial adalah hasil dari suatu kesadaran baru yang sama yang menyerang definisi kuno dan tidak memadai. Masyarakat homoseksual pernah didefinisikan, dengan Alkitab di bawah ikatan, sebagai orang yang berdosa. Itu diasumsikan oleh definisi negatif ini bahwa orang-orang gay dan lesbian memilih untuk menjadi homoseksual, sebagai tindakan kebejatan moral, dan/ atau bahwa mereka sakit jiwa dan tidak bisa membantu diri mereka sendiri. Definisi yang diberikan itu menjadi tidak berlaku oleh pengetahuan baru. Kebanyakan orang yang berpendidikan hari ini menerima kenyataan bahwa orientasi seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual, adalah sesuatu yang orang tidak bisa mengendalikan. Manusia hanya terbangun untuk itu, mereka tidak memilihnya. Orientasi homoseksual juga sekarang diakui secara umumnya sebagai terdiri dari suatu persentase yang stabil dari sebuah populasi setiap zaman dan di semua tempat. Ini berarti bahwa ia tidak dapat disebabkan secara eksternal seperti yang diasumsikan oleh definisi lama. Secara ilmiah didokumentasikan bahwa kehadiran homoseksualitas di kerajaan hewan melawan argumen bahwa hal itu diklasifikasikan sebagai “sesuatu yang tidak normal,” kecuali anda menerapkan pada hewan kemampuan untuk membuat pilihan moral. Ini adalah faktor yang telah menciptakan munculnya konsensus baru, dan jika mereka benar, karena semakin banyak sarjana sekarang yang percaya, maka homoseksualitas harus dilihat sebagai kategori yang sama seperti ras, gender atau bahkan kidal. Mereka adalah “kodrat” bukan pilihan dari individu-individu tersebut. Mendiskriminasi seseorang atas dasar sesuatu yang ada pada orang itu harus dilihat sebagai tidak lebih dari ketidaktahuan yang merugikan yang mengarah kepada kehancuran yang disengaja pada kemanusiaan lainnya. Hal itu menjadikannya suatu tindakan nyata dari kefanatikan. Mengutip Alkitab untuk membuat kefanatikan menjadi diterima adalah bukan hal baru dan juga tidak lagi meyakinkan dalam situasi ini dan hal itu telah digunakan sebelumnya dalam sejarah kita untuk membenarkan kejahatan lainnya.

Karena anda menyarankan lebih lanjut bahwa negara-negara Dunia Ketiga, dimana hal-hal seperti poligami, khitan wanita dan status kelas kedua untuk wanita masih banyak dipraktekkan, harus didengarkan dan dihormati ketika mereka berbicara dari konteks mendiskreditkan dan definisi homoseksualitas yang sedang sekarat adalah aneh. Apa yang telah dilakukan gereja kita, George, adalah tidak kurang dari menantang ketidaktahuan dan prasangka yang telah memungkinkan orang-orang seperti anda dan saya untuk berpartisipasi dalam penindasan manusia yang tak terhitung jumlahnya sepanjang sejarah, yang hanya memiliki “dosa” dimana mereka dilahirkan dengan orientasi seksual yang berbeda dari mayoritas.

Gereja kita telah melakukan hal yang berani. Kita sekarang tidak akan gemetar pada keberanian kita sendiri. Ini lebih merupakan alasan untuk bersukacita bahwa yang lain dalam daftar panjang prasangka manusia sudah mulai turun. Fakta bahwa kita telah membenarkan perilaku yang merusak kita di masa lalu dengan mengutip Alkitab bukan merupakan alasan negativitas kita. Ini bukan “trend budaya,” George, juga bukan penyangkalan dari “kejelasan doktrinal.” Mungkin sudah waktunya bagi anda untuk memeriksa masalah ini lebih teliti sebelum anda menempatkan bias kurang informasi anda ke dalam arena publik.

John Shelby Spong

_____________________________________

Catatan kaki:

[1]   Syams al-Haqq ‘Azimabadi dalam komentarnya,’ awn al-Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud menyebutkan alasan lain untuk membunuh hewan tersebut: khawatir bahwa binatang tersebut akan melahirkan makhluk setengah manusia dan setengah binatang. Alasan ini, tentu saja, berlaku hanya bila seorang lelaki melakukan hubungan seks dengan hewan betina.

[2]   Abu Dawud menambahkan komentar berikut terhadap hadits tersebut:

Sebuah hadits yang sama telah disampaikan oleh Sulaiman bin Bilal dari ‘Amr bin Abi ‘Amr. Dan ‘Abbad bin Mansur menyampaikan dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia membawanya kepada Nabi (rafa’ahu). Dan Ibnu Jurayj menyampaikan dari Ibrahim dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia membawanya kepada Nabi (rafa’ahu).

Ketika Abu Dawud menjelaskan narasi tersebut sebagai “sama”,ini harus dipahami kehilangan dalam arti umum “berurusan dengan subjek yang sama”. Sebab, nampaknya tidak ada hadits dari Sulaiman bin Bilal dari ‘Amr bin Abi ‘Amr yang menetapkan hukuman mati untuk tindakan homoseksual. Ahmad 2765 diriwayatkan dari dua Perawi, namun hadits itu hanya mengatakan bahwa mereka yang melakukan perbuatan kaum Lut, dikutuk. Hadits ini tidak menetapkan hukuman mati. Demikian juga, Abu Dawud menyebutkan hadits dari ‘Abbad bin Mansur, tetapi nampak bahwa dari Perawi ini tidak ada hadits tentang tindakan homoseksual. Menurut ‘awn al-Ma’bud, hadits dari ‘Abbad bin Mansur dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas ditemukan di al-Hakim dan Ahmad (2597). Tetapi kedua narasi hadits ini tentang masalah “orang yang berhubungan seks dengan binatang” dan bukan tentang homoseksualitas, meskipun dua riwayat memiliki kata-kata, “bunuh fa`il dan maf`ul bi hi”, yang mirip dengan kata-kata dalam hadits tentang homoseksualitas.

“Ibrahim, baik Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah seperti di Ibnu Majah dan Daraqutni atau Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya seperti dengan ‘Abd al-Razzaq. Keduanya menyampaikan dari Dawud bin al-Husain” (‘awn al-Ma’bud). Tetapi dia mungkin Ibrahim bin Ismail karena ia adalah Ibrahim yang disebutkan di hampir semua hadits tentang perilaku seksual yang menyimpang.

Dengan isnad yang sama persis – dari Ibnu Jurayj dari Ibrahim – hadits tersebut nampaknya tidak dikutip dalam buku apapun. Tetapi, menurut ‘awn al-Ma’bud, dalam Ibnu Majah dan al-Daraqutni ada hadits dari Ibnu Abi Fudayk – tidak Ibnu Jurayj – dari Ibrahim bin Ismail dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari ‘Abbas. Dalam hadits itu, bagaimanapun, hanya hukuman mati untuk hubungan seks dengan binatang atau mahram yang disebutkan, tidak ada menyebutkan tindakan homoseksual.

Abu Dawud menggunakan kata rafa’ahu sehubungan dengan dua dari narasi yang ia rujuk. Kata tersebut menunjukkan bahwa riwayat yang sebenarnya tidak mengutip ucapan Nabi dengan menggunakan kata-kata seperti qala rasul allah (Rasul Allah berkata). Hal ini ditunjukkan dalam ‘awn al-Ma’bud bahwa riwayat dari Ibnu Abi Fudayk dicatat oleh Ibnu Majah dan al-Daraqutni mengutip Nabi secara eksplisit dengan kata-kata qala rasul dan menunjukkan bahwa rafa’ahu dan qala rasul mempunyai kekuatan yang sama. Tetapi kita tidak memiliki dasar untuk berpikir bahwa narasi Ibn Abi Fudayk adalah sama seperti yang dari Ibnu Jurayj. Lebih dari itu, sangat mungkin bahwa Ibnu Abi Fudayk memasukkan kata qola rasul dalam upayanya untuk menjadikan rafa’ahu lebih eksplisit.

[3]   Kami sering menemukan beberapa pemahaman yang berbeda yang diatributkan kepada para imam besar dari masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa orang zaman dahulu mengaitkan kepada pemahaman yang berwenang dimana mereka sendiri tidak menyatakannya.

[4]   Panipati menemukan dukungan untuk pandangan ini pada kenyataan bahwa hadits yang menetapkan hukuman mati bagi tindakan homoseksual menggunakan ya’mal dan bukan‘amila. Tetapi kata-kata dalam hadits ini adalah man wajadtumuhu ya’mal dan dalam konstruksi ini ya’mal tidak memiliki konotasi pengulangan.

[5]   Sebagai contoh dari Thana Allah Panipati, yang juga menyebutkan pemahaman ketiga dari Syafi’i: menaruh pelakunya kepada pedang.

[6]   Pemahaman bahwa tindakan homoseksual adalah seperti zina pada satu titik memunculkan sebuah “hadits”: “Ketika seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang lelaki, mereka adalah zaniyan.” Komentar berikut dari komentar Mubarakpuri terhadap Tirmidzi, cukup untuk memperlihatkan bahwa hadits ini adalah buatan/ palsu: “Al-Baihaqi mencatatnya dari hadits Abu Musa dan dalam isnadnya ada Muhammad bin Abd al-Rahman yang mana Abu Hatim menganggap dia pendusta . Dan al-Baihaqi mengatakan dia tidak tahu tentang dia dan hadits tesebut ditolak dengan isnad ini. Abu al-Fath al-Azdi melaporkan hal itu dalam al-Du’afa` (menganggap Muhammad bin Abd al-Rahman sebagai da’if). Al-Tabrani dalam al-Kabir melaporankannya dengan rantai yang berbeda dari Abu Musa dan di dalamnya ada Bishr bin al-Mufaddal al-Bajli dan dia majhul. Abu Dawud al-Tayalisi juga melaporkannya dari dia dalam Musnad-nya.”

[7]   Ahadits lain adalah sebagai berikut:

i)      Sebuah hadits dari Jabir dilaporkan dalam Tirmidzi (1377) dan Ibnu Majah (2553), di mana Nabi diduga berkata: “Aku paling khawatir tentang ummatku adalah perbuatan kaum Lut”. Hadits ini tidak berbicara tentang hukuman untuk tindakan homoseksual.

ii)    Sebuah hadits dikeluar dari Abu Hurairah oleh al-Hakim yang melaporkan bahwa Nabi berkata: “Bunuh fa’il dan maf’ul (orang yang melakukan, yaitu perbuatan homoseksual dan orang yang kepadanya perbuatan itu dilakukan) baik keduanya sudah menikah atau belum menikah”. (Tuhfah al-`Ahwadhi bi Syarah Jami ‘Tirmidzi) Dalam Ibnu Majah (2553) narasinya adalah: “Mengenai orang yang melakukan perbuatan kaum Lut, Nabi berkata: Rajam orang yang di atas (al-‘ala) dan orang yang di bawah (al-asfal) Rajam mereka berdua bersama-sama.”

Sebagaimana dicatat oleh Tirmidzi hadits yang diatributkan kepada Abu Hurairah hanya berasal dari ‘Asim bin ‘Umar dari Suhayl dari Abu Salih dari Abu Hurairah dan ‘Asim ini dianggap lemah. Ahmad dan Yahya bin Ma’in menganggap dia da’if sedangkan Bukhari dan Muslim mengatakan dia munkar al-hadits. Ini berarti bahwa hadits Abu Hurairah ditolak sebagai pemalsuan dari ‘Asim yang tidak hanya mengubah kata-katan dari versi yang lebih terkenal dari Ibnu ‘Abbas, tetapi juga memasukkan sanad mencapai Abu Hurairah dan Nabi.

iii)     Ahmad 2765, yang hanya mengatakan bahwa mereka yang melakukan perbuatan kaum Lut yang terkutuk. Hadits ni tidak menetapkan hukuman mati apapun.

iv)      Abu al-Qasim bin Abi al- Zinad meriwayatkan kepada kami berkata: (Ibrahim bin Ismail) ibn Abi Habibah memberitahu saya dari Dawud bin al-Husain dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata: Rasulullah Allah berkata: Bunuh orang yang melakukan tindakan kaum Lut dan orang yang kepadanya hal itu dilakukan dan (bunuh) hewan dan orang yang berhubungan seks dengan binatang itu; dan barangsiapa yang telah berhubungan seks dengan mahram, bunuh dia. (Ahmad 2591)

Dalam narasi ini Perawi Ibnu Abi Habibah tidak dapat dihandalkan. Selain itu, narasi yang lain dari Ibnu Abi Habibah yang sama dari Dawud dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas (Ibnu Majah 2554) tidak menyebutkan tindakan homoseksual.

v)       “Ketika seorang lelaki menunggangi orang lain, tahta Allah tergoncang.”

“Hadits” ini kadang-kadang terdengar, tetapi saya belum dapat menemukan sumbernya. Fakta bahwa hadits ini langka dan kenyataan bahwa ia menghina tahta Allah – karena sangat tidak bisa diterima bahwa perbuatan dosa manusia bisa menggoncang arsy Allah – sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa hadits itu palsu.

[8] Ini tidak berarti bahwa kita dapat menerima hadits ini, yang ditolak oleh beberapa ulama, yang mengatakan, karena, sebagaimana dicatat sebelumnya pada bab 2, sebuah ayat Al-Quran  tidak dapat dibatalkan oleh sebuah hadits.

[9] Anne Moir & David Jessel, Brain Sex, Carol Publishing Group, 1991.

[10] Homoseksualitas antara lelaki dikutuk dan disebutkan di Rom 1:27, 1Kor 6:9, Yudas 7, 1Tim 1:10. Satu-satunya referensi yang mungkin untuk homoseksualitas di kalangan wanita mungkin dalam Rom 1:26:

Untuk alasan ini Tuhan menyerahkan mereka kepada nafsu yang rendah. Para wanita mereka menukar hubungan normal dengan yang tidak normal, dan dengan cara yang sama juga kepada para lelaki, menyerahkan hubungan normal dengan wanita, yang menggunakan dengan gairah satu sama lain. Lelaki yang melakukan perbuatan tidak tahu malu dengan lelaki dan menerima di dalam orang-orang milik mereka sendiri, akan dijatuhi hukuman atas kesalahan mereka.

Di sini rujukan untuk homoseksualitas laki-laki cukup jelas, sedangkan dalam kasus wanita hanya merupakan referensi umum untuk hubungan tidak normal yang dibuat, yang mungkin, seperti dalam Perjanjian Lama, merujuk pada hubungan sex dengan binatang.

[11] Tidak ada dari enam buku kanonik hadith dan buku-buku terkenal lainnya seperti Muwatta, Darimi, dan Ahmad mengandung penyebutkan praktek lesbian. Satu-satunya “hadits” yang saya lihat tentang seks Lesbian adalah yang berikut dimana yang saya tidak dapat menemukan sumbernya: “Sihaq wanita ((sex lesbian)) adalah zina di antara mereka”

[12] “Sebagai sebuah aturan” karena ada kasus-kasus ketika umat Islam mungkin dipaksa untuk menerapkan hukuman mati pada warga non-Muslim. Sebagai contoh, beberapa tindakan seperti minum-minuman  keras, tindakan homoseksual, hubungan heteroseksual terlarang yang mungkin bukan merupakan kejahatan bagi sebagian non-Muslim dan mereka mungkin tidak memiliki aturan hukum bagi mereka. Dalam kasus tersebut, membiarkan beberapa warga negara bebas untuk melakukan tindakan-tindakan itu, sementara untuk kasus-kasus itu Muslim dihukum, hal ini akan memiliki konsekuensi yang sangat negatif.

[13] Semua bentuk hukuman adalah Qurani  dalam arti bahwa mereka disebutkan dalam al-Quran dalam berbagai konteks. Memukul disebutkan pada ayat 04:34, pencambukan pada ayat 24:2, pengasingan pada ayat 05:33, pemennjaraan pada ayat 4:15, dan boikot sosial dipahami mengacu ayat 9:118, menurut hadith.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: