HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (2)

Bab 2

Klaim Bahwa Untuk Orang Yang Sudah Menikah, Sunnah/ Hadits Membatalkan Hukum Al-Quran Atau Menetapkan Hukuman Kedua

Sebelumnya kami akan mengemukakan bagaimana para pendukung rajm berurusan dengan hukuman Al-Quran untuk zina:

I)   Hukuman yang Qurani berupa 100 cambukan adalah untuk kasus orang yang belum menikah. Untuk orang yang sudah menikah kami perlu beralih kepada Sunnah/ hadits, yang mengatur hukuman mati dengan rajam.

II) Untuk orang yang sudah menikah, Sunnah/ hadits membatalkan hukuman Al-Quran 100 cambukan dan sebagai gantinya menentukan hukuman mati dengan rajam.

III)  Untuk orang yang sudah menikah, Sunnah/ hadits menentukan rajm sebagai hukuman kedua yang akan dikombinasikan dengan hukuman Al-Quran 100 cambukan.

IV)  Hukuman rajam ditemukan di Al-Quran tetapi hanya diketahui oleh ulama besar berilmu yang mampu menyelami jauh ke dalam makna-makna dari Kitab Allah.

V)   Al-Quran memberikan ketentuan tentang rajam untuk kasus perzinahan tetapi ayat mengenai hal itu tidak termasuk dalam Al-Quran atau telah dihapus dari Al-Quran.

Pada Bab 1 kami telah meneliti yang pertama dari penjelasan ini dan memperlihatkan bahwa jika Al-Quran diperbolehkan untuk berbicara sendiri, kita tidak bisa membatasi hukuman 100 cambukan bagi pezina hanya berlaku untuk kasus orang yang belum menikah. Kita harus menyimpulkan bahwa hukuman maksimum untuk setiap kasus zina menurut Al-Quran adalah 100 cambukan. Dua pandangan berikutnya (II dan III) sesuai dengan penafsiran Al-Quran. Namun, seperti yang akan kita tunjukkan dalam bab ini, hal ini tidak berarti bahwa kedua pendapat ini bisa dipertahankan lagi.

Klaim Penghapusan Hukuman Al-Quran Oleh Sunnah/ Hadits

Pandangan bahwa hadits tentang rajam membatalkan hukuman Al-Quran sangat jarang ditemui. Pendapat ini dikaitkan dengan orang yang bernama Jassas, penulis Ahkam al-Al-Quran.

Gagasan tentang sunnah/ hadits dapat membatalkan Al-Quran benar-benar sangat problematik. Ini adalah sebuah klaim yang sangat penting, yang, jika kita terima, akan memiliki konsekuensi yang sangat dahsyat terhadap penafsiran kita dan dalam mempraktekkan ajaran Islam. Akibatnya, jika benar, kita berharap sumber-sumber Islam untuk mengkonfirmasinya dalam istilah yang jelas. Tetapi pandangan tersebut tidak mendapatkan dukungan sama sekali baik menurut Al-Quran maupun Hadits, atau bahkan ijma’, setidaknya jika ijma’ dipahami sebagai kesepakatan diantara antara semua ulama yang diakui.

Terdapat dua ayat di dalam Al-Quran yang menyebutkan tentang pembatalan/ penghapusan:

Setiap ayat yang kami batalkan atau menyebabkan untuk dilupakan, kami membawa sesuatu yang lebih baik atau mirip dengan itu. Apakah kamu [dalam bentuk tunggal] tidak tahu bahwa Allah mampu dalam segala hal? (2:106).

Dan ketika kami mengubah suatu ayat di tempat ayat yang lain – dan Allah mengetahui yang terbaik tentang apa yang Ia turunkan – mereka mengatakan, kamu adalah seorang pemalsu! Sebenarnya tidak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (16:101).

Pada kedua ayat di atas hanya mungkin didapatkan pengertian bahwa suatu ayat dapat membatalkan ayat yang lain. Kata ayat di sini tidak digunakan untuk merujuk kepada ahadits di dalam Al-Quran atau tempat lain di dalam warisan Islam. Ini berarti bahwa Al-Quran sedang berbicara tentang kemungkinannya suatu bagian dari Al-Quran membatalkan bagian yang lain.

Demikian juga, tampaknya tidak ada hadits yang mengakui adanya kemungkinan sunnah/ hadits membatalkan bagian dari Al-Quran. Tetapi justru ada hadits yang ditemukan di Daraqutni (306-385 H) yang menolak kemungkinan ini:

Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasul Allah berkata: kata-kata saya tidak membatalkan firman Allah, tetapi firman Allah membatalkan kata-kata saya. Juga, satu bagian dari firman-Nya membatalkan bagian lainnya. (Dikutip dari Mishkat al-Masabih)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw berkata: “Beberapa hadits kami (ahadits) membatalkan yang lain seperti Al-Quran (bagian-bagian dari Al-Quran membatalkan bagian-bagian lain)”. (Dikutip dari Mishkat al-Masabih)

Akhirnya, ijma’ ternyata juga tidak mendukung pandangan yang sedang dipertanyakan tersebut. Sebagian ulama seperti komentator Abu Muslim al-Isfahani menolak adanya pembatalan/ penghapusan dalam bentuk apappun. Imam Syafi’i, sebagaimana yang kita catat pada Bab 1, membolehkan adanya pembatalan/ penghapusan Al-Quran oleh Al-Quran dan Sunnah/ hadits oleh Sunnah/ hadits tetapi tidak Al-Quran oleh Sunnah/ hadits atau sebaliknya.

Terhadap pertimbangan-pertimbangan umum sebagaimana yang diutarakan di atas terhadap keseluruhan gagasan tentang adanya pembatalan/ penghapusan Al-Quran oleh Sunnah/ hadits, kami dapat menambahkan pertimbangan berikut terhadap klaim tertentu tentang adanya pembatalan hukuman Quran untuk zina oleh Sunnah/ hadits.

Ketika suatu hukum berubah, perlu adanya beberapa komentar yang menjelaskan adanya perubahan tersebut, karena jika tidak orang cenderung akan menjadi bingung. Ini adalah kasus untuk kasus-kasus yang jelas tentang penghapusan ayat-ayat Al-Quran oleh Al-Quran lainnya. Sebagai contoh, perhatikan ayat-ayat berikut:

Hai kamu yang diselimuti oleh pakaian, Berdirilah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sebagian kecil dari itu, Setengah atau sedikit kurang dari itu, Atau lebih sedikit… (73:14)

Bagian ayat di atas umumnya dianggap telah dibatalkan oleh:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu bangun hampir dua-pertiga malam atau setengahnya, atau sepertiga dari itu, dan (juga) segolongan dari mereka yang bersama dengan kamu, dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia tahu bahwa kamu tidak mampu melakukannya, sehingga Dia telah berbalik kepada kamu (dengan kasih sayang), maka bacalah apa yang mudah dari Al-Quran. Dia tahu bahwa mungkin ada di antara kamu yang sakit, dan orang lain yang melakukan perjalanan di bumi untuk mencari karunia Allah, dan yang lainnya yang berjuang di jalan Allah, oleh karena itu bacalah sebanyak yang mudah (bagimu) dari Al-Quran, dan tegakkan shalat dan laksanakan zakat dan pinjamilah Allah pinjaman yang baik, dan apa pun yang baik yang kamu berikan adalah bagi dirimu sendiri, kamu akan menemukan dari Allah, balasan yang lebih baik dan lebih besar, dan mintalah pengampunan Allah, sesungguhnya Allah adalah pemaaf, penyayang. (73:20)

Di sini harapan sebelumnya atau praktek bangun di malam hari selama sekitar satu hingga dua pertiga malam dimodifikasi dan diberikan penjelasan yang mudah dimengerti. Namun sebaliknya, hukuman rajm yang muncul dari hadits tidak diberikan penjelaskan yang mudah dipahami mengapa hukuman Qurani sebelumnya berupa 100 cambukan digantikan oleh rajm.

Klaim bahwa Sunnah yang mengatur rajm adalah paralel dengan hukuman Al-Quran 100 cambukan

Imam Ahmad bin Hanbal, Da`ud Zahiri dan Ishaq bin Rahawayh adalah di antara mereka yang berpegang bahwa ada dua hukuman bagi zina untuk orang yang sudah menikah: 100 cambukan yang diikuti rajm, hukuman pertama dinyatakan dalam Al-Quran dan yang kedua di Hadits. Jadi pemahaman ini menolak dua pemahaman pertama yang sejauh ini telah kami bahas – yaitu pemahaman bahwa hukuman Al-Quran terbatas pada orang yang belum menikah dan pemahaman bahwa Sunnah/ hadits telah membatalkan hukuman Al-Quran. Hal ini menegaskan bahwa hukuman Al-Quran 100 cambukan memang berlaku untuk orang yang sudah menikah tetapi hukuman ini hanya salah satu dari dua hukuman bagi orang yang sudah menikah. Hukuman kedua ditemukan pada Sunnah/ hadits dalam bentuk rajm. Berbeda dengan dua pemahaman pertama, pemahaman ini berdasarkan pada hadits yang dikaitkan dengan seorang sahabat. Hadits ini ditemukan dalam beberapa riwayat termasuk yang berikut:

Muhammad bin Ja’far meriwayatkan kepada kami: Sa’id (bin Abi ‘Arubah) meriwayatkan kepada kami dari Qatadah dari (‘Amir) al-Sha’bi: Sharahah al-Hamdaniyyah datang kepada ‘Ali dan berkata, saya telah melakukan zina`. Dia berkata, mungkin kamu keliru, mungkin kamu bermimpi, mungkin kamu dipaksa. Dia selalu menjawab, tidak Sehingga dia telah mencambuknya pada hari Kamis dan merajam sampai mati pada hari Jumat dan berkata: Aku mencambuknya sesuai dengan Kitab Allah dan melemparinya dengan batu sesuai dengan sunnah Nabi Allah. (Ahmad # 1124)

Husain bin Muhammad meriwayatkan kepada kami: Shu’bah meriwayatkan kepada kami dari Salamah (bin Kuhayl) dan al-Mujalid (bin Sa’id) bahwa keduanya mendengar al-Sha’bi meriwayatkan bahwa: ketika ‘Ali merajam sampai mati wanita dari al-Kufah ia mencambukinya pada hari Kamis dan merajam sampai mati pada hari Jumat dan berkata: Aku mencambuknya menurut Kitab Allah dan aku merajamnya sesuai dengan Sunnah Rasul Allah. (Ahmad # 678, juga 798, 897, 898, 931, 1129, 1248).

Hadits ini juga ditemukan dalam Hakim dan Nasa`i. Bukhari juga tahu tentang ini:

Adam meriwayatkan kepada kami: Shu’bah meriwayatkan kepada kami: Salamah bin Kuhayl meriwayatkan kepada kami sambil berkata: Aku mendengar al-Sha’bi meriwayatkan dari ‘Ali bahwa ketika dia merajam seorang wanita pada hari Jumat, ia berkata, “Aku telah merajam dia menurut Sunnah Rasul Allah” (8 / 803).

Di sini kata-kata, “ketika dia merajam seorang wanita pada hari Jumat” secara jelas menyinggung beberapa cerita dimana Bukhari tidak menceritakan dalam bentuk yang lengkap. Kisah diasumsikan tersebut paling mungkin seperti yang dikutip di atas dari Musnad Ahmad [1]. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan hadits di atas dalam Bukhari dengan mengutip sebagai berikut:. Ketika seorang wanita berzinah dibawa ke hadapan ‘Ali, ia pertama kali melakukan pencambukan dan kemudian rajm. Seseorang berkata: Tetapi kamu telah menjatuhkan dua hukuman!”. ‘Ali menjawab, “Aku merajam dia sesuai dengan Sunnah Nabi dan mencambuk dia sesuai dengan Kitab Allah” (Fath al-Bari; bandingkan dengan Ahmad # 897, dimana sebuah cerita yang sangat mirip menceritakan tentang seorang pria berzinah dan bukan seorang wanita.)

Cerita di atas dan pandangan yang dikemukakan tentangnya memiliki beberapa masalah serius:

Pertama, cerita tersebut hanya berasal dari SATU orang Tabiin, ‘Amir bin Sharahil al-Sha’bi (wafat 104) dan datang dengan isi riwayat yang bertentangan satu sama lain. Jadi, dalam narasi hadits Ahmad # 1124 (dikutip sebelumnya) wanita itu datang sendiri kepada ‘Ali dan mengakui kejahatannya sementara pada narasi lain (Ahmad # 931) dia dibawa oleh orang lain. Juga, dalam kebanyakan riwayat orang yang dicambuk dan dilempari batu adalah seorang wanita tetapi dalam satu versi (Ahmad # 897) orang tersebut adalah seorang pria.

Kedua, menggabungkan dua hukuman tampaknya sangat dibuat-buat, karena tidak perlu lagi mencambuk seseorang yang hendak dilempari batu sampai mati. Narasi Bukhari menunjukkan bahwa beberapa ulama, mungkin termasuk Bukhari sendiri, merasa ada masalah bahwa perempuan itu dicambuk dahulu sebelum dilempari batu sampai mati, karena versi Bukhori menghilangkan penyebutan cambukan pada hari Kamis.

Ketiga, mengapa Al-Quran tidak menyebutkan kedua hukuman tersebut? Mengapa hanya menyebutkan hukuman yang lebih ringan dan meninggalkan hukuman yang lebih berat kepada Sunnah/ hadits?

Keempat, mayoritas ulama tidak menerima keputusan Ali karena pada kasus rajm yang dilaporkan atas perintah Nabi, orang yang dihukum tidak pernah dicambuk. Beberapa ulama telah mencoba untuk menyelaraskan hadits ‘Ali dengan cerita-cerita rajm oleh Nabi, tetapi tanpa keberhasilan yang meyakinkan. Sebagai contoh, Thana Allah Pani Pati dalam bukunya Tafsir Mazhari mengatakan: “Mungkin ‘Ali tidak tahu bahwa wanita itu telah menikah, sehingga dia mencambuknya. Kemudian ia mengetahui bahwa ia sudah menikah, sehingga ia melempari dia dengan batu”. Tetapi ini benar-benar murni spekulasi. Tidak ada dalam laporan ini yang menunjukkan seperti itu dan tidak ada ulama hadits yang telah memahami cerita tersebut dengan cara itu.

Kelima, hadits tersebut tidak bersesuaian dengan baik dengan hadits lain, jauh lebih baik membuktikan hadits tentang ‘Ali, yang menunjukkan bahwa bagi ‘Ali sumber utama pembimbing adalah Al-Quran dan akal dan bahwa ia mungkin tidak menyuguhkan kemungkinan bahwa sunnah/ hadits dapat menambah kepada Al-Quran sesuatu yang baru seperti hukuman mati oleh rajam. Berikut adalah tiga dari banyak riwayat dari hadits ini:

[Ahmad Yunus bin meriwayatkan kepada kami: Zuhayr meriwayatkan kepada kami: Mutarrif meriwayatkan kepada kami bahwa ‘Amir al-Sha’bi meriwayatkan kepada mereka dari Abu Juhayfah yang mengatakan: Aku berkata kepada’ Ali dan]

Shadaqah bin al-Fadl meriwayatkan kepada kami: Ibnu ‘Uyaynah memberitahu kami: Mutarrif meriwayatkan kepada kami: aku mendengar al-Sha’bi meriwayatkan bahwa: Aku mendengar Abu Juhayfah berkata: Aku bertanya Ali:

“Apakah kamu punya sesuatu (pengetahuan agama) yang tidak terdapat di dalam Quran?” (Atau, “selain dari apa yang orang-orang punyai?” aebagaimana yang ‘Uyaynah pernah katakan). ‘Ali berkata: “Demi Dia yang membelah biji-bijian dan menciptakan jiwa, kami tidak mempunyai sesuatu kecuali apa yang ada dalam Al-Quran dan kemampuan memahami Kitab Allah yang diberikan pada seorang lelaki dan apa yang tertulis pada lembaran kertas (al-sahifah)”. Saya bertanya, “Apa yang ada di atas kertas ini?” Dia menjawab: “Peraturan hukum tentang darah-uang dan (tebusan untuk) tawanan, dan (aturan) bahwa tidak ada Muslim dibunuh dalam qisas karena membunuh seorang kafir (orang yang tidak beriman).” (Bukhari 9 / 50).

Muhammad bin Bashshar meriwayatkan kepada kami: ‘Abd al-Rahman yang meriwayatkan kepada kami: Sufyan meriwayatkan kepada kami dari al-A’mash dari Ibrahim al-Taymi dari ayahnya dari ‘Ali yang mengatakan: Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali Kitab Allah dan kertas tertulis ini (al-sahifah) dari Nabi (yang menyatakan): Madinah adalah tempat suci dari (gunung) Ayr ke sebuah tempat ini dan itu. Barangsiapa berinovasi di dalamnya suatu kesesatan atau memberikan tempat berlindung bagi inovator di dalamnya, pada dirinya ada kutukan Allah, para malaikat, dan semua orang dan tidak ada perbuatan baik ibadahnya yang wajib atau opsional akan diterima. Dan dia juga mengatakan, suaka (perlindungan) diberikan oleh Muslim semuanya bersama-sama dan siapa pun yang mengkhianati seorang Muslim dalam hal ini, pada dirinya ada kutukan Allah … dan siapa saja berteman (mengambil sebagai tuan) selain tuan-tuan dia tanpa izin mereka, pada dirinya ada kutukan Allah …. (Bukhari 3 / 94).

Abu Bakar bin Abi Shaybah meriwayatkan kepada kami: Abu Khalid al-Ahmar Sulaiman bin Hayyan meriwayatkan kepada kami dari Mansur bin Hayyan dari Abu al-Tufayl (‘Amir bin Wathilah) yang mengatakan: Kami berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib: Beritahukan kami tentang sesuatu yang Rasul Allah mengatakan kepada kamu secara rahasia. Dia berkata: Dia tidak menceritakan apapun kepada saya secara rahasia yang ia sembunyikan dari orang-orang, tetapi aku mendengar dia berkata: “Allah mengutuk dia yang berkorban bagi siapa pun selain Allah; Allah mengutuk orang yang memberi tempat bertedih kepada inovator; Allah mengutuk orang yang mengutuk orang tuanya dan Allah mengutuk dia yang mengubah garis batas (ghayyara al-manar) (tanah yang dimilikinya). (HR Muslim # 3658, juga # 3657 dan # 3659, Nasa`i # 4346;. narasi di hadits Nasa`i ‘Ali menjadi merah karena marah setelah mendengar permintaan untuk memberitahukan padanya tentang sesuatu yang Rasul Allah katakan kepadanya secara rahasia)

Serupa dengan hadits berdasarkan otoritas Abu Juhayfah, Abu Tufayl, al-Asytar, al-Harith bin Suwayd, Ibrahim Taymi (dari ayahnya), Jariyah bin Qudamah, Tariq bin Shihab dan Qays bin ‘Abbad ditemukan di Musnad Ahmad, Amwal, Mustadrak Hakim, Nasa`i, Tabarani, Daraqutni dan Tarikh Ibnu Abi Khaythamah. Ini adalah semacam hadits yang para pendukung rajm tidak dapat menolaknya.

Pada versi pertama dari Bukhari berdasarkan otoritas Abu Juhayfah, ide keluar dengan sangat jelas bahwa bagi ‘Ali sumber utama bimbingan/ petunjuk adalah Al-Quran dan akal. Gagasan ini menjadi lemah dalam beberapa versi lain, yang meninggalkan ruang bagi Sunnah secara lisan sebagai sumber bimbingan. Namun, ada kemungkinan bahwa pelemahan ini adalah hasil dari perubahan di kemudian hari, karena kami sering menemukan suatu hadits yang sebelumnya hanya menyebutkan Al-Quran sebagai sumber utama bimbingan sementara hadits yang dating kemudian menambahkan “Sunnah” sebagai sumber lain [2]. ‘Ali mungkin tidak akan menyangkal bahwa Sunnah/ hadits menyediakan konteks pengajaran Al-Quran atau memberikan beberapa rincian tentang pedoman umum yang diwahyukan di dalam Al-Quran, tetapi ia mungkin tidak akan setuju dengan ulama di kemudian hari yang mengemukakan bahwa Sunnah/ hadits bisa memberikan sesuatu yang secara fundamental berbeda dari Al-Quran mengenai setiap masalah penting atau suatu hal di mana Al-Quran telah berbicara. Secara khusus, dia mungkin tidak akan setuju bahwa Sunnah/ hadits bisa menetapkan rajm sedangkan Al-Quran menetapkan 100 cambukan.

Isi dari sahifah yang ia dikatakan memilikinya, digambarkan secara berbeda dalam berbagai versi, tetapi dalam semua kasus, mereka berurusan dengan:

  • rincian tentang hukum Al-Quran (misalnya “peraturan tentang darah-uang” atau dalam beberapa narasi, “usia unta”, yang diberikan sebagai zakat atau sebagai uang darah)
  • pernyataan yang secara mudah dapat diturunkan dari Al-Qur’an (misalnya “Allah mengutuk orang yang mengutuk orang tuanya”), atau
  • peraturan tentang hal-hal di mana Al-Quran tidak memberikan rinciannya (misalnya”Madinah adalah tempat dari ‘Ayr ke tempat yang lain ini dan itu”).

Ahadits di atas tidak menyebutkan sesuatu yang begitu radikal tak terduga dalam menghadapi bimbingan Al-Quran yang eksplisit seperti rajm untuk perzinahan.

Mengapa ada dua sumber?

Pemahaman para pendukung rajm yang dibahas dalam hal ini dan bab terakhir mengasumsikan adanya suatu hubungan antara Sunnah/ hadits dan Al-Quran dimana seseorang dapat bergerak dari satu sumber ke sumber lainnya seolah-olah tidak ada perbedaan antara keduanya dan salah satu dari keduanya tidak ada yang mempunyai prioritas di atas yang lain. Padahal anggapan ini sebenarnya menimbulkan pertanyaan:

  • Mengapa ada dua sumber di dalam Islam? Jika tidak ada perbedaan di antara keduanya dan tidak ada prioritas di antara keduanya, lalu mengapa keseluruhan ajaran Islam tidak diberikan dalam bentuk satu sumber yang diwahyukan dengan cara yang sama dan dipelihara pada tingkat yang sama?
  • Mengapa sumber yang satu disebut firman Allah dan dipelihara dengan penuh kesunggguhan sementara sumber lainnya yang digambarkan sebagai kata-kata/ tindakan Nabi dan dipelihara dengan begitu buruk dimana bahkan hadits dalam buku-buku yang paling awal dan yang paling dapat dipercaya datang dengan versi yang mengandung perbedaan yang signifikan dan kadang-kadang bahkan kontradiksi satu dengan lainnya?
  • Dan mengapa beberapa hal disebutkan di dalam Al-Quran sementara hal lainnya tidak?

Para pendukung rajm umumnya tidak mau membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, karena jika mereka melakukannya maka mereka tidak akan dapat mempertahankan dukungan mereka perihal rajm. Tetapi pertanyaan seperti itu jelas sangat relevan dan harus dijawab dengan cara yang masuk akal.

Satu-satunya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan seperti ini adalah bahwa sementara sebagian besar, jika tidak semua kata-kata dan tindakan Nabi adalah diwahyukan, namun Allah Maha Tinggi menetapkan bahwa Nabi sendiri akan merumuskan beberapa bagian dari wahyu dalam sebuah buku dengan suatu ukuran yang dapat dihafal dan dijaga dengan sungguh-sungguh dan akan berisi dalam bentuk ringkasan, atau merujuk pada semua ajaran penting Islam. Dengan cara ini Al-Quran memberikan dasar yang kokoh yang kepadanya bangunan keyakinan dan praktik Islam akan dibangun.

Fungsi Sunnah/ hadits adalah menyediakan beberapa rincian dan penjelasan yang meskipun penting namun tidak begitu sepenting sehingga Sunnah/ hadits harus dijaga dengan tingkat kesungguhan yang sama seperti Al-Quran. Sebab jika kita berpegang pada Al-Quran dengan sungguh-sungguh maka setiap ketidakpastian mengenai kehandalan ahadits bisa diselesaikan atau menjadi tidak merugikan.

Note:

[1] Perhatikan narasi dalam Bukhari dan ahadits Ahmad 678 dan 798 semua berasal dari Shu’bah dari Salamah bin Kuhayl dari al-Sha’bi. Kemungkinan besar Bukhari atau sumber langsungnya Adam telah mengabaikan referensi pencambukan pada hari Kamis.

[2] Sebagai contoh, lihat A. Shafaat, Proyek Hadits Suci, Bab 4.

bersambung ke Bab 3

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • me  On August 1, 2012 at 4:17 am

    Salaamun ‘alaikum .36:20 Al Mursaliin

    Kuatkan kesabaran ya pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: