HUKUMAN RAJAM MENURUT ISLAM (1)

Sebuah Kajian Detil

Oleh: Dr Ahmad Shafaat


PENDAHULUAN

Al-Qur`an menetapkan aturan 100 cambukan untuk pelaku zina, yaitu bagi hubungan seksual antara seorang pria dan seorang wanita yang tidak melalui pernikahan satu sama lain. Ahadits mengatur adannya hukuman mati bagi tiga kasus: zina yang dilakukan oleh orang yang menikah, sodomi dan hubungan seksual dengan binatang. Namun, sejak abad-abad awal Islam hukuman mati telah ditentang oleh beberapa umat Islam pada tiga kasus tersebut. Untuk kasus sodomi dan hubungan seksual dengan hewan, mayoritas ulama menolak hukuman mati; sedangkan dalam kasus perzinahan mayoritas ulama telah menerima adanya hukuman tersebut setidaknya sejak paruh terakhir abad kedua.

Dalam buku ini saya memeriksa keislaman dari hukuman mati ini secara menyeluruh, dengan fokus utama pada kasus perzinahan. Masalah ini sangat penting tidak hanya dalam kasusnya, tetapi juga karena hal ini berguna untuk mengklarifikasi dan mungkin menyelesaikan beberapa pertanyaan yang paling mendasar dalam penafsiran ajaran Islam: Seberapa jauh hadits yang ditemukan dalam sumber-sumber awal dapat dipercaya dan apa hubungan dari Sunnah/ Hadits terhadap Kitab Allah.

Muslim yang menerima hukum rajam bagi perzinahan bertanya dengan beberapa justifikasi: Bagaimana mungkin semua variasi hadits pendukung rajam yang ditemukan dalam buku-buku hadits zaman awal seperti di Muwatta, Ibnu Ishaq, Syafi’i, Ibn Sa’d, Bukhari dan Muslim merupakan pemalsuan? Bahkan jika hanya beberapa dari hadits ini yang terbukti otentik, maka hukuman tersebut menjadi bagian dari Islam. Para pendukung rajam juga mengklaim bahwa selama rentang zaman para sahabat dan tabi-in telah terjadi konsensus mengenai posisi mereka dan dari sini mereka menyimpulkan bahwa posisi mereka konsisten dengan Al-Quran dan Sunnah/ Hadits, karena kalau tidak, mereka berpendapat, akan mustahil konsensus seperti ini dikembangkan, terutama dari sudut pandang hadits, dimana Nabi saw dilaporkan berkata: “ummatku tidak dapat bersatu pada kesalahan”. Semua ini bagi banyak pendukung rajam berarti bahwa tidak ada diskusi lebih lanjut atau permulaan dari masalah ini atas dasar Al-Quran dan Sunnah/ Hadits. Beberapa dari mereka mengidentifikasi posisi mereka sebagai “Islam yang sebenarnya” dimana mereka mendeklarasikan sebagai irtidad (murtad) terhadap orang-orang yang menentang adanya hukum rajam atau bahkan meski hanya ingin memeriksa kembali masalah ini.

Di sisi lain, mereka yang menolak adanya hukum rajam, juga memunculkan beberapa pertanyaan yang sangat sah: Mengapa Al-Quran menetapkan 100 cambukan karena zina tanpa pernah menyebutkan adanya hukum rajam sampai mati? Ada 5 (lima) jawaban secara hadits terhadap pertanyaan ini, yang semuanya menimbulkan pertanyaan lebih lanjut yang sah. Sebagai contoh, salah satu dari 5 (lima) jawaban pada zaman awal adalah bahwa Al-Quran menyebutkan adanya hukum rajam untuk perzinahan, tetapi ayat yang memerintahkan rajam tersebut telah dihapus dari Al-Quran. Hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: Mengapa ayat tersebut dihapus ketika praktek yang diperintahkan olehnya dilanjutkan? Apakah ada orang yang punya wewenang untuk menghapus sesuatu dari Kitab Allah? Jika penghapusan ayat tersebut terjadi secara tidak sengaja, lalu mengapa tidak dikembalikan ke tempat semula pada saat kelalaian tersebut diketahui, yang konon diduga terjadi pada zaman ‘Umar al-Faruq atau sebelumnya? Bukankah adanya penghapusan dan tidak adanya ayat tersebut dalam Al-Quran secara tidak langsung menunjukkan bahwa penjagaan terhadap ayat-ayat Al-Quran tidak benar-benar terjadi sebagaimana yang diklaim oleh Muslim?

Mengenai berbagai hadits dan tradisi tentang sahabat yang mendukung rajam, mereka yang menentang hukum tersebut mengatakan bahwa ahadits tersebut tidak otentik atau ahadits tersebut terjadi pada masa sebelum wahyu Surah Nur dan digantikan oleh hukuman 100 cambukan yang ditentukan dalam Surah tersebut. Sedangkan perihal klaim adanya ijma’, mereka mengatakan bahwa dalam Al-Quran Allah tidak secara jelas menyatakan adanya hukuman mati untuk kasus perzinahan sehingga ijma’ adanya bentuk hukuman lain adalah tidak nyata atau tidak sah. Pada saat yang sama beberapa pendukung hukum rajam menuduh murtadun kepada lawan-lawannya, begitu juga beberapa penentang rajam, terutama  Muslim yang hanya berpedoman pada Qur’an menuduh mushrikun kepada para pendukung rajam karena mereka menggunakan otoritas manusia (para ulama) secara mutlak sama dengan otoritas yang dimiliki Allah.

Kecenderungan masing-masing pihak tidak secara semestinya memperhatikan pertanyaan-pertanyaan lawannya. Para penentang hukuman mati (rajam hingga mati) nampaknya tidak memeriksa secara teliti hadits yang menyebutkan tentang adanya hukum rajam. Para pendukung hukuman tersebut, tampaknya mengabaikan dengan tidak berpikir secara sungguh-sungguh terhadap pertanyaan yang diajukan karena adanya fakta bahwa Al-Quran memberikan hukuman yang berbeda untuk zinah.

Apa yang dibutuhkan adalah pemeriksaan kembali terhadap Al-Quran dan Sunnah/ Hadits untuk menjawab pertanyaan dari kedua belah pihak secara serius dan obyektif. Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, sebagian besar Muslim tidak cenderung untuk melakukan pemeriksaan secara teliti, tetapi terdapat pertanyaan-pertanyaan yang cukup sah dari kedua belah pihak untuk memastikan masalah itu.

 

Niat (Niyyah)

Sebagaimana setiap tindakan dari seorang Muslim, mendiskusikan tentang pertanyaan agama harus berasal dari niat yang tulus. Memang, ketulusan suatu niat lebih penting ketika membahas tentang pertanyaan-pertanyaan keagamaan dari pada tentang jenis kegiatan lainnya, karena hasil diskusi tersebut dapat mempengaruhi keyakinan dan praktek bagi banyak orang.

Niat yang tulus dalam memeriksa masalah agama adalah mencari tahu dengan penuh kesungguhan apa yang diajarkan kepada kita oleh Allah yang Maha Tinggi dan Rasul-Nya yang mulia tentang masalah ini dan untuk mentaati mereka. Tidak ada motif atau niat lain yang hadir dalam hati orang-orang yang menulis atau membaca masalah ini. Kita semestinya tidak boleh, misalnya, menolak hukuman rajam dengan alasan karena hukuman ini tidak cocok dengan zaman modern dan kita menginginkan Islam muncul dalam wajah modern. Demikian juga, kita tidak boleh menuntut hukuman rajam dengan alasan karena kita ingin mempertahankan pendapat mayoritas atau pandangan hadits atau karena kita tidak ingin Nampak bersikap lemah pada perzinahan.

Saya telah memeriksa pertanyaan kontroversial perihal hukuman untuk kasus perzinahan di dalam Islam ini dengan niat sebagaimana dijelaskan di atas dan akhirnya menolak hukuman rajam karena ternyata tidak Islami. Berikut ini saya berbagi kepada para pembaca yang sabar dan tertarik pada semua rincian penting dari hasil penyelidikan saya. Diharapkan bahwa buku ini akan mengungkapkan kebenaran bagi mereka yang bersedia untuk membimbing dirinya terutama dengan wahyu dan akal dan tidak dengan ahadits yang tidak diperiksa dengan teliti.

 

Sumber/ Referensi Yang Dipakai

Sumber kami meliputi sembilan koleksi Hadits dan komentarnya yang ditemukan pada CD yang berjudul, The Hadith Encyclopedia, Versi 2.1, (Harf Information Technology, 2000):

  1. Muwatta Imam Malik
  2. Sahih Bukhari
  3. Sahih Muslim
  4. Sunan Abu Da`ud
  5. Sunan atau Jami’ al-Tirmidzi
  6. Sunan al-Nasa`i (al-Sughra)
  7. Sunan Ibnu Majah
  8. Musnad Ahmad bin Hambal (dikompilasi oleh anaknya ‘Abd Allah)
  9. Sunan al-Darimi
  10. Al-Muntaqa Syarah Muwaththa Malik
  11. Fath al-Bari bi Syarah Sahih al-Bukhari
  12. Sahih Muslim bi Syarah al-Nawawi
  13. ‘Awn al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Da`ud
  14. Ta’liqat ala al-Hafiz Ibnu Qayyim ‘Sunan Abi Da`ud
  15. Tuhfah al-Ahwadhi bi Syarah Jami ‘al-Tirmidthi
  16. Syarah Sunan al-Nasa`i li al-Suyuti
  17. Syarah Sunan al-Nasa`i li al-Sindi
  18. Syarah Sunan Ibnu Majah li al-Sindi

Sebagai tambahan, kami telah menggunaan beberapa buku sejarah seperti Sirah Rasul Allah Ibn Ishaq sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hisyam dan Tabaqat al-Kabir atau al-Tabaqat al-Kubra Ibnu Sa’d, demikian juga karya-karya seperti al-Risalah dari al-Syafi’i. Adalah adil untuk mengatakan bahwa jika sebuah hadits tidak ditemukan pada salah satu dari sumber-sumber tersebut, maka hampir tidak mungkin bahwa itu adalah bersifat sejarah.

Semua buku yang disebutkan di atas ditulis pada abad kedua Islam atau setelah itu. Sebuah kemungkinan yang lebih awal penyebutan rajam adalah pada referensi singkat pada dokumen yang relatif sedikit dikenal yaitu Sirah Salim bin Dhakwan, di mana kami menemukan sebuah referensi singkat perihal rajam. Dalam sebuah kritik terhadap Azariqah, kelompok Khawarij, dokumen ini menyatakan:

wa kafaru bi al-rajm wa qad rajama rasul allah rajulan min aslam wa madat bihi al-sunnah (mereka menolak rajam ketika Rasul Allah me-rajam seseorang dari Aslam dan oleh karenanya sunnah tersebut ditegakkan).

Sirah atau Surat dari Salim ini ditemukan di koleksi Oman yang dimiliki secara pribadi oleh ‘Amr Khalifah al-Nami yang menggunakannya dalam tesisnya pada tahun 1971. Aslinya tidak ditemukan tetapi fotokopinya ada. Berdasarkan fotokopi ini, beberapa orientalis telah mempelajari dokumen tersebut dan memperkirakan tertanggal antara 70 H dan 185 H. Jika tanggal yang lebih awal yang diterima (yaitu tahun 70-an H), maka dalam Surat tersebut kita memiliki sebuah dokumentasi tentang hukum rajam pada abad pertama, sekitar 60 tahun setelah kepergian Nabi dari dunia ini. Tetapi referensi berupa sunnah sangat jarang ditemukan di tempat lain dalam Sirah dari Salim, sehingga ada kemungkinan bahwa kutipan di atas adalah tambahan belakangan. Selain itu, studi paling lengkap perihal tanggal dari Sirah Salim, dilakukan oleh Partricia Crone dan Fritz Zimmermann, dan memperkirakan tertanggal antara 134 H dan 177 H, sehingga ditulis setidaknya 124 tahun setelah Nabi meninggal. Saya belum memeriksa pandangan dari orientalis ini dan oleh karena itu sulit bagi saya untuk memberikan penilaian. Saya hanya bisa mengatakan bahwa setidaknya dua dari orientalis yang telah mempelajari Surat tersebut – Cook dan Crone – adalah sejarawan yang tidak kompeten dengan penilaian sejarah yang dapat dipercaya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh teori mereka yang tidak berdasar dan tidak bertanggung jawab tentang asal-usul Islam yang disajikan dalam buku, Hagarism.

Dalam setiap kasus Sirah dari Salim tidak menyediakan informasi baru. Ini hanya memberikan konfirmasi lanjutan dari fakta-fakta berikut, yang diketahui dari sumber lain:

a)      kepercayaan akan adanya hukuman rajam muncul pada dekade terakhir abad pertama dan telah cukup diterima secara luas berdasarkan Sunnah yang dilaporkan pada dekade awal abad kedua (dinyatakan secara jelas pada asanid di Ibn Ishaq, Muwatta, Bukhari, Muslim dll),

b)      kasus orang dari Aslam adalah salah satu kasus yang paling khas yang melaporkan dilakukannya hukum rajam oleh Nabi (yang juga jelas dari ahadits yang banyak tentang dia dalam koleksi Hadits yang masih ada dan al-Risalah dari Syafi’i);

c)      beberapa orang Khawarij menolak hukuman rajam, fakta ini diketahui dari para penulis zaman berikutnya dari abad ke-4 dan seterusnya seperti Asy’ari, Baghdadi, Shahrastani;

d)     susunan bahasa dari Sirah Salim menunjukkan bahwa Khawarij tersebut pada prinsipnya tidak menolak otoritas Sunnah/ Hadits, karena pandangan mereka ditolak dengan hanya mengutip Sunnah; sumber kami yang lain juga tidak menuduh bahwa Khawarij menolak Sunnah Nabi.

 

Sebagaimana dicatat dalam Pendahuluan, Al-Quran tidak menyebutkan hukuman rajam sama sekali tetapi mengatur 100 cambukan karena perzinaan (24:2). Fakta ini sangat penting sehingga harus sepenuhnya dihadapi dan dijelaskan jika kita hendak meraih kebenaran. Para pendukung hukuman rajam untuk perzinahan telah menjelaskan fakta ini dengan salah satu dari lima cara berikut:

I)    Hukuman Al-Quran tentang 100 cambukan adalah untuk kasus orang yang belum menikah. Untuk orang yang sudash menikah kita perlu beralih kepada Sunnah/ Hadits, yang mengatur hukuman mati dengan rajam.
II)  Untuk orang yang sudah menikah, Sunnah/ Hadits membatalkan Al-Quran perihal hukuman 100 cambukan dan sebagai gantinya ditentukan hukuman mati dengan rajam.
III)  Untuk orang yang sudah menikah, Sunnah/ Hadits menetapkan hokum rajm sebagai hukuman kedua yang akan dikombinasikan dengan hukuman Al-Quran tentang 100 cambukan.
IV)  Hukuman rajam ditemukan di Al-Quran tetapi hanya diketahui oleh para ulama dengan ilmu yang mendalam yang mampu menyelam jauh dalam memaknai Kitab Allah.
V)    Al-Quran tidak memberikan penjelasan tentang rajam bagi perzinahan namun ayat di mana hukum tersebut dinyatakan tidak termasuk dalam Al-Qur`an atau telah dihapuskan dari Al-Quran.

Jelaslah bahwa inilah lima penjelasan yang berbeda dimana beberapa diantaranya saling bertentangan satu dengan lainnya. Sebagai contoh, penjelasan II dan III mengakui bahwa hukuman Al-Quran adalah untuk kedua kasus baik untuk orang yang telah menikah dan yang belum menikah, sehingga bertentangan I. Demikian pula, IV dan V mengklaim bahwa hokum rajm adalah Qur`anic, yang jelas ditolak oleh argumen I, II, dan III . Bahwa ada lima penjelasan yang berbeda dan bertentangan sudah merupakan indikasi kelemahan kasus ini. Dalam tiga bab berikutnya kami meneliti penjelasan ini dan menunjukkan dengan rincian spesifik betapa lemahnya masing-masing argument tersebut.

 

Bab 1

Klaim Bahwa Hukuman Yang Di Al-Quran Adalah Hanya Untuk Kasus Orang Yang Belum Menikah

Telah diterima secara umum bahwa dalam kata `zina itu sendiri tidak ada pengertian yang membatasi penerapannya pada kasus orang yang belum menikah. Bahkan saat ini, setelah berabad-abad perbedaan fiqhi antara kasus yang menikah dan yang belum menikah, kata tersebut tetap diterapkan pada keduanya. Suatu pembatasan makna bisa dilakukan hanya jika diminta oleh sesuatu dalam konteks penggunaan tertentu. Namun dalam Al-Quran tidak ada yang mensyaratkan membatasi kata tersebut bagi kasus zima orang yang belum menikah. Sesungguhnya, beberapa argumen berikut ketika dikemukakan secara bersama-sama membuktikan tanpa diragukan lagi bahwa pada ayat 24:2, zina mempunyai pengertian termasuk hubungan seksual gelap oleh seseorang yang sudah menikah maupun yang belum menikah:

1)      Selain di ayat 24:2, kata zina juga digunakan pada ayat 17:32, 24:3, 25:68, 60:12. Dalam semua ayat-ayat ini satu-satunya cara yang alamiah untuk memahami kata tersebut adalah bahwa kata tersebut mengacu pada hubungan seksual gelap baik yang dilakukan oleh orang yang menikan maupun orang yang belum menikah. Marilah kita baca ayat-ayat ini:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”(17:32).

Dan orang-orang yang tidak menyeru tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, .. (25:68).

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia (bay’ah), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina,… ” (60:12).

Para Zani tidak menikahi kecuali zaniah atau mushrikah dan zaniah tidak menikahi kecuali Zani atau musyrik (24:3).

Apakah mungkin bahwa ketika Al-Quran memerintahkan untuk tidak mendekati zina atau mengatakan bahwa orang yang beriman tidak boleh melakukan zina atau berbicara tentang janji dari para wanita bahwa mereka tidak akan melakukan zina atau mengatakan bahwa mereka yang melakukan zina atau syirik menikah satu sama lain, itu berarti membatasi dirinya dengan pengertian hanya tentang hubungan seksual gelap bagi orang yang belum menikah dan mengabaikan kasus orang yang sudah menikah atau mengecualikannya kepada Sunnah/ hadits untuk mengatasinya? Jika jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak, yang memang semestinya demikian, lalu mengapa kita mengkhususkan kata tersebut dengan mengatakan bahwa kata zina khusus pada satu ayat 24:2 (dimana hukuman untuk zina ditetapkan) hanya merujuk pada hubungan seks terlarang oleh orang yang belum menikah,? Setelah mengulangi kecaman pada perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang belum menikah dan sudah menikah, seharusnyakah kita tidak berharap bahwa pengertian yang dikemukakan oleh Al-Quran juga mencakup kedua kasus tersebut pada saat meletakkan hukuman atas tindakan tersebut? Jika memang ada pengecualian, apa hikmah di balik mengambil kasus orang yang belum menikah dan meninggalkan kasus orang yang menikah?

2)      Al-Quran sering berkaitan dengan peristiwa penting tertentu yang terjadi pada masa Nabi saw, baik untuk kasus yang baik atau buruk, dan memberikan bimbingan pada pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika peristiwa tersebut terjadi. Hal yang sama terjadi juga berkaitan dengan Surah 24. Ayat 24:2 adalah salah satu dari serangkaian ayat (24:1-34) yang diwahyukan dalam hubungannya dengan tuduhan palsu (ifk) terhadap umm al-mu `Minin ‘Aishah (semoga Allah ridho kepadanya). Insiden ifk terhadap ‘Aishah, yang referensi ditemukan pada ayat 11-20, secara alamiah akan menimbulkan pertanyaan seperti: Bagaimana menghadapi tuduhan zina? Bagaimana kebenaran tuduhan tersebut ditetapkan? Apa yang harus dilakukan kepada si penuduh ketika tuduhan tersebut tidak dapat ditetapkan? Apa yang harus dilakukan kepada terdakwa ketika tuduhan ditetapkan? Dan apa langkah-langkah dapat diambil tentang cara berpakaian yang sopan dll yang dapat menciptakan suasana kemurnian seksual dalam masyarakat dan mencegah pelecehan seksual? Ayat 1-34 memberikan panduan yang sangat komprehensif pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mempertimbangkan hal ini, apakah lantas kita bisa membayangkan bahwa Al-Quran akan mengeluarkan dari panduan yang komprehensif tersebut perihal kasus yang paling serius seperti zina (yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah) dan hukuman yang paling serius (dirajam hingga mati) dan sebagai gantinya menganggap ayat 24:2 ini sedang berurusan dengan kasus orang yang belum menikah saja dan hukuman yang relatif kurang berat berupa cambukan? Agar diperhatikan bahwa ‘Aishah adalah seorang wanita yang sudah menikah dan terjadi tuduhan terhadap dirinya, meskipun secara nyata tuuduhan itu palsu, maka secara alami pertanyaan terpenting pertama yang akan muncul adalah tentang apa yang harus dilakukan kepada orang yang sudah menikah dan terbukti bersalah zina?. Sehingga, jika Al-Quran akan mengecualikan hukuman untuk kasus zina, semestinya justru akan mengecualikan untuk kasus orang yang belum menikah dan bukan sebaliknya. Perhatikan juga bahwa Al-Quran mengabaikan pernyataan tentang tuduhan palsu zina terhadap laki-laki. Hal ini bukan hanya karena perempuan lebih banyak terkena dampak dari tuduhan seperti ini dibandingkan laki-laki, tetapi juga karena kejadian yang memberikan kesempatan bagi wahyu turun adalah melibatkan seorang wanita – yaitu ‘Aishah. Demikian juga, mengingat status ‘Aishah yang sudah menikah, Al-Quran diharapkan setidaknya mencakup kasus zina oleh orang yang sudah menikah jika seandainya tidak fokus pada hal itu.

3)      Al-Quran membagi kasus tuduhan zina terhadap perempuan dalam dua kategori, yaitu: tuduhan oleh suami dan tuduhan oleh selain suami. Terhadap kasus tuduhan oleh suami Al-Quran mengatakan:

Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Tetapi Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. (24:6-9).

Jika kita membaca ayat-ayat di atas sesuai konteksnya, maka menjadi jelas bahwa hukuman yang akan dihindarkan kepada terdakwa wanita yang sudah menikah setelah dengan sungguh-sungguh melawan tuduhan serius dari suaminya, adalah juga satu-satunya hukuman yang ditetapkan pada 24:2, yaitu 100 cambukan. Kami menyarankan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendukung hukuman rajam, bahwa jika hukuman yang dihindarkan dari istri adalah rajam adalah justru melupakan bahwa Al-Quran adalah mukjizat bahasa, tidak hanya dalam hal keindahan linguistik, tetapi juga dalam hal kejelasan maknanya. Bagian ayat 24:1-34, pada kenyataannya, dimulai dan diakhiri dengan pernyataan bahwa Allah telah mewahyukan dalam Surah (24:1) atau pada Al-Quran (24:34) ayat bayyanat, tanda-tanda atau pernyataan yang jelas. Dapatkah kita menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut sebagai jelas jika ayat-ayat ini berbicara tentang penghindaran hukuman yang bahkan tidak disinggung sama sekali dengan cara apapun?

Jika seseorang menyarankan pendapat bahwa hukuman yang disebutkan pada ayat tersebut adalah hukuman di akhirat, maka itu justru pendapat tersebut yang mustahil. Karena, sumpah istri mungkin saja palsu dan sumpah seperti itu jauh dari menghindarkan hukuman di akhirat, justru akan meningkatkannya, karena akan berarti bahwa istri tidak hanya bersalah karena berbuat zina tetapi juga memberikan sumpah palsu. Hanya sanksi hukum yang ada dalam kehidupan inilah dengan wewenang yang diberikan kepada manusia yang dapat dihindari oleh sumpah seseorang. Untuk menghukum di akhirat Allah tidak memerlukan sumpah seperti ini.

4)      Pada ayat 4:25 Al-Quran menetapkan bahwa seorang budak wanita yang bersalah melakukan kekejian (fahishah) adalah menerima setengah dari hukuman yang harus diterima oleh muhshonat untuk kejahatan sejenus. Kata muhsanat dapat berarti baik “wanita yang sudah menikah” maupun “wanita merdeka”. Dalam kasus ini, kata tersebut tentu harus mengacu pada “wanita yang merdeka”. “Waniat yang merdeka ini” mungkin sudah menikah atau mungkin belum menikah. Al-Quran sama sekali tidak memberikan indikasi bahwa kata muhshonat mengacu pada perempuan merdeka yang sudah menikah. Jika ada indikasi, maka akan ada beberapa justifikasi untuk memahami kata tersebut dengan pengertian merujuk kepada perempuan merdeka yang sudah menikah, karena muhshanat sedang dibandingkan dengan wanita budak yang sudah menikah. Jadi kata tersebut mengacu baik kepada wanita merdeka yang sudah menikah ataupun wanita merdeka umumnya terlepas dari status perkawinan mereka. Maka hukum yang Qurani dapat dipahami dengan baik sebagai:

budak perempuan yang sudah menikah dikarenakan zina menerima setengah dari hukuman yang harus diterima oleh perempuan merdeka yang sudah menikah bebas

atau sebagai:

budak perempuan yang sudah menikah dikarenakan zina menerima setengah hukuman yang harus diterima oleh perempuan merdeka, baik yang sudah menikah atau belum menikah, (pemahaman ini menyiratkan bahwa hukuman bagi perempuan merdeka adalah sama apakah mereka sudah menikah atau belum menikah dan hukuman ini adalah bersifat umum bagi wanita merdeka yang sudah menikah atau belum/ tidak menikah yang akan menjadi separonya dalam kasus budak perempuan yang sudah menikah.)
Dalam kedua kasus, telah ditetapkan bahwa hukuman yang Qurani bagi perempuan yang sudah menikah adalah 100 cambukan dan bukan hukuman mati oleh rajam, karena model hukuman yang terakhir ini tidak dapat dibagi dua.

Kita juga dapat mengacu pada ayat 33:30, yang membahas tentang nisa’ dari Nabi, yang secara jelas termasuk istri-istrinya (wanita yang sudah menikah), dan memperingatkan mereka dari hukuman ganda jika mereka melakukan fahishah. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa dalam Al-Quran hukuman bagi perempuan menikah dipahami sebagai 100 cambukan dan bukan hukuman mati dengan dilempari batu, yang tidak bisa digandakan. Ada kemungkinan bahwa Al-Quran di sini sedang berbicara hanya tentang hukuman di akhirat, tetapi bahasa tersebut memungkinkan mengacu pada sanksi hukum di dunia ini. Perhatikan bahwa kata untuk hukuman dan untuk kelakuan buruk – `adhab dan fahishah – sama persis seperti di 4:25, di mana hukuman dibagi dua untuk kasus wanita budak yang sudah menikah.

5)      Pada ayat 4:15-16, Al-Quran berkata: “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan terhadap dua orang (alladhan) yang melakukan hal itu (fahishah) di antara kamu, maka berilah hukuman (`adhu) kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”.

Bab 5 akan membahas penafsiran ayat-ayat ini secara rinci. Di sini kami hanya mencatat bahwa kata “perempuan Anda” (nisa ikum) pada ayat-ayat ini terutama berarti “isteri-istri kamu” atau setidaknya termasuk para istri berikut beberapa anggota keluarga perempuan lainnya seperti anak-anak perempuan [1]. Jadi hukuman bagi fahishah pada ayat ini dimaksudkan bagi wanita yang sudah menikah atau wanita yang sudah menikah dan yang belum menikah. Ini berarti bahwa Al-Quran menunjukkan pola yang konsisten, yaitu mencakup kasus wanita menikah dan yang belum menikah, ketika berbicara tentang seks terlarang atau ketika membicarakan khususnya kasus wanita yang sudah menikah. Jadi, sebagaimana yang telah kami catat, dalam banyak ayat larangan zina tanpa mengacu pada status perkawinan dari orang-orang yang terlibat;  pada ayat 4:25 ini secara tegas berbicara tentang hukuman terhadap budak perempuan yang sudah menikah dan dibandingkan dengan muhsanat dengan beberapa indikasi bahwa muhsanat di sini mengacu pada wanita merdeka yang sudah menikah atau setidaknya termasuk wanita merdeka yang sudah menikah; Ayat 4:15-16 berbicara tentang hukuman untuk fahishah dari “wanita-wanita kamu” dan sekali lagi berkaitan dengan kedua jenis wanita baik wanita yang sudah menikah maupun yang belum menikah atau terutama berkaitan dengan wanita yang sudah menikah; dan akhirnya, ayat 33:30 berbicara tentang hukuman untuk kasus-kasus kemungkinan fahishah yang dilakukan oleh nisa dari Nabi yang jelas termasuk wanita yang sudah menikah. Dengan sudut pandang yang konsisten ini, adalah wajar melihat ayat 24:2 meliputi kasus wanita yang sudah menikah dan yang belum menikah atau terutama justru berkaitan dengan kasus wanita yang sudah menikah, sebagaimana yang ditunjukkan pada argumen ke-2 di atas.

6)      Tidak ditemukan adanya hadits atau perkataan dari seorang sahabat yang secara eksplisit mengacu pada Al-Quran dan menyatakan bahwa hukuman tersebut adalah untuk hanya kasus orang yang belum menikah.

7)      Penggunaan kata sandang tertentu “al” sebelum zan dan zaniyah pada ayat 24:2, justru menunjukkan makna umum.

 

Kelemahan pandangan ulama yang membatasi hukuman Qurani hanya untuk kasus yang orang yang belum menikah

Beberapa pembaca mungkin mengatakan bahwa ulama kita -yang percaya bahwa ayat 24:2 membicarakan tentang orang yang belum menikah – memahami Al-Quran lebih baik dibandingkan kami dan oleh karena itu pendapat mereka lebih dapat dipercaya dibandingkan pendapat kami. Sulit untuk menanggapi argumen seperti itu, karena komunikasi yang bermakna di antara manusia hanya mungkin jika mereka bersedia untuk melakukan setidaknya beberapa pemikiran sendiri. Jika mereka menunda melakukan pemikiran sendiri dan melimpahkan sepenuhnya kepada para “ulama” masa lalu, maka komunikasi itu akan gagal. Penundaan pemikiran dan pendelegasian kepada orang lain dalam beberapa kasus bertentangan dengan ajaran Al-Quran yang berulang kali mengatakan kepada kita bahwa petunjuk/ bimbingan adalah bagi mereka yang berpikir dan secara berulang kali mengajak semua pembaca, bukan hanya “ulama” untuk menggunakan akal mereka.

Bagi para pembaca yang mau berpikir, saya akan menghadirkan di sini pandangan “ulama” masa lalu yang berpendapat bahwa hukum Al-Quran 100 cambukan hanya untuk orang yang belum menikah. Para pembaca kemudian dapat menilai sendiri apakah “ulama” tersebut telah memperlakukan Al-Quran secara adil. Tentu saja, beberapa umat Islam akan sekali lagi mencoba untuk mencabut dari Anda hak Anda untuk berpikir untuk diri sendiri dengan mengatakan bahwa Anda harus menguasai bahasa Arab dan ini dan itu serta ilmu-ilmu Islam lainnya sebelum Anda melakukan penilaian Anda sendiri tentang pendapat para “ulama” zaman lalu [2]. Terserah kepada Anda untuk menerima ajakan ini atau menolaknya dalam kaitannya dengan ajakan Al-Quran untuk berpikir dan menggunakan akal.

Dua contoh yang mewakili mereka yang membatasi zina pada ayat 24:2 untuk wanita yang belum/ tidak menikah adalah Imam Syafi’i pada zaman klasik dan A. A. Maududi di zaman modern dan sehingga kami anggap cukup mendiskusikan pandangan mereka secara lebih detail.

 

Imam Syafi’i

Pendapat Imam Syafi’i didasarkan pada dua asumsi:

Pertama, Al-Quran dan Sunnah/ Hadits benar-benar konsisten satu sama lain sehingga mereka harus ditafsirkan seolah-olah mereka adalah sumber tunggal. Mungkin saja ada perintah di dalam Al-Quran yang saling bertentangan karena adanya pembatalan/ penghapusan (nasikh –mansukh) dan demikian juga bisa saja ada pertentangan dalam Sunnah/ Hadits, tetapi tidak akan terjadi pertentangan antara Al-Qur`an dan Sunnah/ Hadits. Pendapat seperti ini memiliki dua implikasi:

1)      Bahkan sebelum mencoba untuk menjelaskan suatu bagian dari Al-Quran dengan sudut pandang cahaya dari bagian-bagian terkait lainnya, seseorang dapat menggunakan sunnah/ hadits untuk menjelaskan bagian Al-Qur`an tersebut.

2)      Penghapusan hanya mungkin terjadi pada kedua sumber tetapi tidak di antara keduanya, yaitu suatu bagian dari Al-Quran dapat membatalkan bagian dari Al-Qur`an lain dan suatu Sunnah/ hadits dapat membatalkan sunnah/ hadits lain tetapi Al-Quran tidak membatalkan sunnah/ hadits dan Sunnah/ hadits tidak membatalkan setiap pernyataan dalam Al-Quran.

Kedua, hadits tentang rajam adalah otentik, meskipun Imam Syafi’i tidak membahas tentang keasliannya.

Atas dasar asumsi inilah maka Imam  Syafi’i mendalilkan serangkaian penghapusan ayat Al-Quran oleh ayat Al-Quran lainnya dan penghapusan Sunnah/ Hadits oleh Sunnah/ Hadits lainnya. Oleh karena itu, beliau berkata dalam al-Risalah bahwa wahyu pertama tentang hukuman terhadap perbuatan seksual yang salah ditemukan pada ayat 4:15-16, di mana dua jemis hukuman disebutkan: a) “pengurungan hingga mati atau Allah memberi jalan yang lain”; dan b) adha, suatu bentuk umum lain dari hukuman. “Tetapi,” Imam Syafi’i berkata, “Allah telah membatalkan hukuman ‘kurungan’ dan ‘adha’” dengan ayat 24:2. Pada titik ini, dalam analisisnya, Imam Syafi’i tidak berupaya untuk terlebih dahulu mencoba memahami zina yang disebutkan pada ayat 24:2 dengan sudut pandang cahaya seluruh ayat Al-Qur`an lainnya. Beliau lebih menarik mengikuti pandangan hadits untuk membatasi zina pada ayat 24:2 dengan hubungan seks haram hanya yang dilakukan oleh orang yang belum menikah:

‘Abd al-Wahhab mengatakan kepada kami dari Yunus bin ‘Ubayd dari al-Hasan dari ‘Ubadah bin al-Samit bahwa Rasulullah Allah berkata: “Ambillah dari saya, ambillah dari saya, Allah telah menunjukkan suatu cara: untuk bikr dengan bikr (pasangan yang belum menikah?) cambuk dengan seratus garis dan buang selama satu tahun;. untuk al-thayyab dengan al-thayyabah (pasangan yang sudah menikah?), cambuk dengan seratus garis dan [mati oleh] rajam ‘”

Hadits ini, menurut Syafi’i, menjelaskan bahwa hukuman 100 cambukan yang ditentukan oleh ayat 24:2 adalah untuk orang yang belum menikah yang juga akan diasingkan, sedangkan hukuman rajam sampai mati adalah hukuman bagi orang yang sudah menikah yang juga akan dicambuk 100 kali. Tetapi ada ahadits lain di mana orang-orang sudah menikah yang melakukan zina tidak dicambuk sebelum dilempari batu hingga mati. Jadi Syafi’i menyimpulkan bahwa ahadits ini membatalkan hokum cambuk sebelum rajam. “Nabi memerintahkan merajam seorang yang bernama Ma’iz al-Aslami dan bukan mencambuk, dan ia memerintahkan Unays untuk meminta keterangan kepada istri Aslami dan melempari batu jika dia mengaku berzina (tanpa memerintahkan mencambuk). Hal ini menunjukkan bahwa hokum cambuk dari pezina merdeka dibatalkan dan hokum rajam ditetapkan, karena ini adalah keputusan yang kemudian” (Di sini Imam Syafi’i merujuk pada kisah terkenal tentang eksekusi dengan rajam yang akan kita bahas secara rinci pada Bab 7 dan 9) Sedangkan tentang mengasingkan orang yang belum menikah., Syafi’i tetap mempertahankannya, karena pada kisah kedua dari dua cerita yang telah disebutkan, orang yang bersalah tersebut tidak hanya diberikan 100 cambukan tetapi juga diasingkan selama setahun.

Dengan demikian kita dapat melihat rangkaian pembatalan yang dipostulasikan oleh Syafi’i:

  • 4:15-16 (kurungan dan adha) dibatalkan oleh 24:2 (100 cambukan)
  • 24:2 dijelaskan oleh hadits dari ‘Ubadah (“Ambillah dariku, ambillah dariku, Allah telah menunjuki jalan …”), yang memberitahu kita bahwa 24:2 adalah menjadi terbatas pada kasus orang yang belum menikah,
  • Hadits dari ‘Ubadah dibatalkan oleh hadits tentang “istri Aslami” yang berzinah dengan seorang karyawan. Hadits ini memberikan hukum terakhir sebagai berikut: untuk orang yang belum menikah 100 cambukan dan diasingkan selama satu tahun dan untuk orang yang sudah menikah dihukum mati dengan rajam.

Ada beberapa masalah serius dengan teori Shafi’i.

Pertama, seperti disebutkan sebelumnya, pengurungan untuk fahishah pada ayat  4:15 dimaksudkan bagi perempuan yang sudah menikah atau keduanya – perempuan yang sudah menikah dan belum menikah. Tetapi menurut Syafi’i, 24:2 hanya berbicara tentang mencambuk orang yang belum menikah. Ini berarti bahwa pengurungan perempuan yang sudah menikah belum dibatalkan oleh ayat 24:2. Namun, Syafi’i mengatakan kepada kita bahwa pengurungan dalam semua kasus telah dibatalkan. Pembatalan ini harus diasumsikan dilakukan oleh hadits, yang bertentangan dengan pustulasi Syafi’i sendiri bahwa hanya Al-Quran yang dapat membatalkan Al-Quran.

Kedua, teori Shafi’i sangat tergantung pada tanggal kejadian berbagai ahadits, yang sangat tidak pasti, seperti yang kita lihat pada hadits yang disepakati berikut ini:

Musa bin Ismail menceritakan kepada kami: ‘Abd al-Wahid menceritakan kepada kami: Shaybani menceritakan kepada kami:

Aku bertanya ‘Abd Allah bin Abi `Awfa tentang rajam. Dia menjawab, “Nabi melakukan rajam.” Saya bertanya, “Apakah itu sebelum atau setelah diturunkannya (Surah) al-Nur?” Dia menjawab, “Saya tidak tahu.” (hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Ali bin Mus-hir, Khalid bin’ Abd Allah, al-Muharibi dan ‘Abidah bin Humaid dari Shaybani. Seseorang di antara mereka berkata, (Surah) al-Ma`idah. Tetapi yang pertama [referensi, al-Nur] adalah lebih sahih. (Bukhari 8/ 824).

Dari Abu Ishaq Shaybani yang berkata: Aku bertanya ‘Abd Allah bin Abi Awfa apakah Rasulullah saw melakukan rajam. Dia berkata: Ya. Aku berkata: Setelah Surah al-Nur diwahyukan atau sebelum itu? Dia berkata: Aku tidak tahu (Muslim 17/4218).

Versi kedua sedikit berbeda dari yang pertama dimana di sini Shaybani bertanya kepada Ibnu Abi Awfa apakah Nabi melempari batu dan menerima jawaban, “ya”, dalam versi lain ia hanya bertanya tentang rajm dan menerima jawaban bahwa Nabi merajam. Versi ini juga ditemukan dalam Bukhari tanpa perubahan yang mendasar dengan sanad berikut: Ishaq menceritakan kepada saya: Khalid menceritakan kepada kami dari al-Shaybani (8 / 804).

Di sini saya tidak akan mengevaluasi keaslian hadits ini. Tujuan saya untuk saat ini adalah untuk memeriksa secara kritis pandangan Imam Syafi’i dalam sistem pemikiran tradisional para pendukung rajm.

Bagi Shafi’i suatu hadits dapat diterima jika mempunyai isnad sahih. Hadits al-Shaybani, penggantinya, memiliki isnad yang sahih karena sudah disepakati, yang berarti bahwa isnadnya diterima Bukhari dan Muslim. Memang, hadits ini lebih bias dipercaya dari pada hadits ‘Ubadah bin Samit yang al-Syafi’i gunakan (“Ambillah dari saya, ambillah dari saya, …”), karena disepakati sementara yang lainnya tidak diterima oleh Bukhari dan ulama lain seperti Ibnu Jarir al-Tabari juga menganggapnya lemah. Menurut hadits yang disepakati ini, seorang Sahabat, Ibnu Abi Awfa, dan seorang Penerus, Abu Ishaq al-Shaybani, tidak memiliki informasi mengenai tanggal kejadian berbagai rajam yang dilaporkan [3]. Mereka bahkan tidak mengetahui apakah terjadi sebelum wahyu 24:2 atau setelahnya. Jadi bagaimana bisa Syafi’i menetapkan urutan kronologis dari hadits tentang rajam dan ayat 24:2? Perhatikan bahwa Syafi’i tidak menyebutkan bukti apa pun untuk kronologinya. Ini hanyalah sebuah asumsi pribadi.

Ketiga, Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya melaporkan dari ‘Amir al-Sha’bi bahwa seorang wanita bernama Shurahah datang kepada Ali dan mengaku bahwa dia hamil dari zina. ‘Ali telah mencambuknya pada hari Kamis dan merajam sampai mati pada hari Jumat dan berkata: “Kami mencambuk sesuai dengan Kitab Allah dan merajam sesuai dengan sunnah Rasulullah Allah”. Bukhari juga menganggap hadits ini dapat dipercaya (lihat Bab 2 ). Hadits ini setidaknya dapat diandalkan sebagai salah satu yang digunakan olehSyafi’i. Namun hal itu menunjukkan bahwa bahkan puluhan tahun setelah Nabi, mencambuk kepada mereka yang dirajam masih dipraktekkan, yang justru bertentangan dengan teori Syafi’i bahwa mencambuk seperti ini dibatalkan. Jika ‘Ali, yang menghabiskan sekitar 23 tahun hidup dengan Nabi sebagai seorang Muslim tidak tahu bahwa 100 cambukan sebelum rajam kepada seorang pezinah telah dibatalkan, bagaimana bisa Syafi’i yang meninggal 144 tahun setelah ‘Ali mengetahui tentang hal itu?

Sedangkan menurut hadits di atas, mencambuk ditambah rajam yang Syafi’i menganggap sebagai dibatalkan telah dilakukan oleh ‘Ali, pembuangan ditambah cambukan yang dia anggap sebagai masih berlaku, dikatakan telah diabaikan oleh ‘Ali. Dalam Ahkam al-Al-Quran, Abu Bakar al-Jassas mencatat bahwa Ali menolak untuk mengusir seorang pria dan wanita karena berzina, sambil mengatakan bahwa pembuangan dapat menjadi sumber fitnah. Adalah tidak terbayangkan bahwa ‘Ali akan menjelaskan sebuah aturan syari’ah sebagai fitnah dan mengabaikannya.

Keempat, serangkaian pembatalan yang dipostulasikan oleh Syafi’i tidak cocok dalam kasus hukum yang diberikan oleh Allah, baik melalui Al-Quran ataupun Hadits, karena Allah maha tahu segala sesuatu tentang sifat manusia dan kejadian masa depan. Pada kasus-kasus lain tentang pembatalan, kita dapat dengan jelas melihat mengapa hokum Al-Quran berubah. Jadi dalam beberapa kasus, pembatalan menghasilkan karena legislasi yang sebenarnya ditunda sampai menjadi benar-benar diperlukan, seperti dalam kasus larangan minuman keras. Pada kasus lain, pembatalan menghasilkan dari pada mulanya menetapkan kondisi yang ideal dan kemudian memberikan kelonggaran karena kelemahan manusia, seperti pada kasus pengurangan jumlah musuh yang dapat dikalahkan oleh orang-orang beriman dari sepuluh kali (8:65) menjadi dua kali (8:66); dalam kasus tersebut tujuannya adalah untuk memberikan hukum realistis sambil menjaga kondisi ideal di sepan kita. Tetapi apa tujuan dari pembatalan hukum yang pada mulanya menambahkan 100 cambukan pada hukuman mati oleh rajam dan kemudian menghilangkannya? Dapatkah kita mengatakan bahwa ketika 100 cambukan digabungkan dengan hukuman mati oleh rajam, ummat belum siap karena hukuman mati oleh rajam saja atau dengan menghapus hukum 100 cambukan dan hanya mempertahankan hukuman mati kelonggaran telah dilakukan karena adanya beberapa kelemahan manusia? Jika kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan seperti, rangkaian pembatalan yang dikemukakan oleh Syafi’i mulai terlihat lebih seperti manusia sedang mencoba satu demi satu ide untuk menemukan secara „trial and error“ hukum yang terbaik daripada mengikuti bimbingan Allah yang Maha Tahu melalui wahyu.

Kelima, mayoritas ulama tidak setuju dengan hukum terakhir yang dirumuskan oleh Syafi’i, karena mereka tidak menerima pembuangan untuk kasus orang yang belum menikah.

 

A. A. Mawdudi

Tidak seperti Syafi’i, Mawdudi telah menulis tafsir Al-Quran di mana seseorang berharap kepada dia untuk menangani beberapa pertanyaan berbobot yang telah diangkat sehubungan dengan membatasi hukuman pada ayat 24:2 kepada kasus orang yang belum menikah. Tetapi harapan ini tidak terpenuhi. Beberapa pertanyaan sangat relevan bahkan tidak diatasi, pertanyaan lain diangkat tetapi tidak benar-benar dijawab, sementara yang lainnya lagi juga masih tetap tidak dijawab.

Di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut yang sama sekali tidak mendapat perhatian adalah mengapa ayat-ayat lain Al-Quran yang menggunakan kata zina dipahami bahwa di dalamnya termasuk untuk kasus orang yang sudah menikah tetapi pada ayat 24:2 dipahami dengan tidak memasukkan orang yang sudah menikah.

Sebuah pertanyaan yang patut dipertimbangkan tetapi tidak benar-benar dijawab adalah apa hukuman yang dihindarkan dari wanita yang sudah menikah pada ayat 24:8 ketika dia berhasil menyangkal tuduhan perzinahan yang dikenakan terhadap dirinya oleh suaminya. Pertanyaan tersebut ditanggapi hanya secara sambil lalu ketika membahas pandangan fuqaha Hanafi dan bukan sebagai bagian dari memahami Al-Quran itu sendiri. Fuqaha telah membahas pertanyaan tersebut: apa konsekuensi bagi seorang wanita yang telah dituduh oleh suaminya dari perzinahan dengan sumpah khidmat (li’an) tetapi dia menolak tuduhan tersebut dengan sumpah khidmat juga. Ada dua jawaban berbeda diatributkan kepada Imam Hanafi:

a)      si wanita harus dipenjara sampai ia mengakui atau pura-pura tidak bersalah melalui li’an,

b)      ia harus dihukum karena zina.

Sambil menolak pandangan yang terakhir Mawdudi mengatakan: Para Imam “menyimpulkan pandangan mereka dari pernyataan Al-Quran bahwa hukuman (‘adhab) akan dicegah hanya jika dia juga mengambil sumpah. Jika ia tidak mengambil sumpah, maka dia dikenakan hukuman. Kelemahan dalam argumen ini adalah bahwa di sini Al-Quran tidak menentukan sifat dari ‘adhab. Jika seseorang mengatakan bahwa adhab ini hanya berupa hukuman bagi zina, maka jawabannya adalah bahwa karena hukuman zina diterapkan, maka Al-Quran telah menyatakan dengan jelas adanya persyaratan dengan menghadirkan empat saksi. Kondisi ini tidak dipenuhi dengan empat sumpah dari satu orang saksi”. Ini adalah semua yang Mawdudi katakan tentang firman Allah: “dan ‘adhab akan dihindarkan dari si wanita jika dia melakukan empat sumpah karena Allah … “. Dalam komentar yang bersifat mengelak ini, tidak ada jawaban atas pertanyaan adhab apa yang dibicarakan oleh Al-Quran. Jika seandainya Mawdudi secara serius dan jujur menyelidiki ​​pertanyaan ini dengan cahaya Al-Quran, ia mungkin akan melihat bahwa adhab ini tidak lain adalah 100 cambukan sebagaimana yang disebutkan pada ayat 24:2 dan kekeliruan dari pandangan bahwa ayat 24:2 membatasi untuk kasus orang yang belum menikah akan menjadi jelas baginya.

Sebuah pertanyaan yang Mawdudi tidak menyelesaikan dengan rinci adalah pertanyaan tentang hubungan antara 24:2 dengan 4:25-26, yang mengatur wanita budak yang sudah menikah yang berzinah dengan hukuman setengah dari yang diterima oleh muhsanat. Tetapi di sini jawabannya sangat tidak memadai. Mari kita periksa jawabannya.

Mawdudi secara benar mencatat bahwa pada ayat 4:25-26 “kata Arab [muhsanat] telah digunakan dalam dua pengertian yang berbeda, yaitu (1) ‘para istri yang terikat perkawinan’, yang menikmati perlindungan dari suami mereka dan (2) ‘wanita merdeka muslimah’, yang menikmati perlindungan dari keluarga mereka, meskipun mereka mungkin belum menikah”. Kemudian ia berkomentar: “Para Khariji dan orang-orang yang tidak percaya adanya hukum merajam seorang perempuan yang berzinah telah menyalahgunakan ayat 25 ini untuk membuktikan sudut pandang mereka”. “Kesalahan dari argumen [mereka] akan menjadi jelas, jika seseorang menggunakan akal sehat dalam menerapkan makna yang tepat dari kata ‘muhsanat‘. Pada kasus wanita budak yang bersalah, telah digunakan dengan pengertian ‘wanita yang sudah menikah’, yang menikmati perlindungan dari suaminya, seperti jelas dari klausa berikutnya, ‘setelah mereka telah dibentengi dalam suatu ikatan nikah (uhsinna)’. Tetapi pada kasus wanita muslimah yang bersalah, setengah dari hukuman yang kepadanya harus diberikan, adalah berarti ‘wanita merdeka muslimah’, yang menikmati perlindungan keluarganya, dan tidak berarti ‘wanita merdeka muslimah yang sudah menikahi’, sebagaimana yang disalahpahami oleh para penentang hukuman rajam”.

Mari kita perhatikan di sini bahwa tidak hanya Khawarij dan para penentang rajam yang percaya bahwa hukuman Al-Quran 100 cambukan dimaksudkan untuk kedua kasus orang yang menikah dan belum menikah. Bahkan banyak pendukung terkemuka rajam memiliki pandangan yang sama. Ingatlah lima cara di mana para pendukung rajam berurusan dengan hukuman Qurani untuk zina. Beberapa dari cara ini mengakui bahwa hukuman yang Qurani tersebut mencakup orang yang sudah menikah.

Melanjutkan pembahasan pandangan Mawdudi, ia memberikan pembenaran berikut ketika berpendapat bahwa muhsanat yang menerima hukuman separuhnya pada ayat 4:25 adalah “perempuan merdeka yang belum menikah”:

“Adapun hukuman yang lebih ringan untuk seorang gadis budak berzinah daripada seorang perempuan merdeka muslimah, itu didasarkan pada kenyataan bahwa yang terakhir menikmati perlindungan ganda dibandingkan dengan yang pertama – yaitu perlindungan dari keluarga (walaupun dia sudah menikah). Berbeda dengan seorang wanita meredeka, seorang budak tidak mendapatkan perlindungan sama sekali, jika dia belum menikah, dan bahkan perkawinannya tidak menjadikan posisinya sama dengan seorang wanita merdeka muslimah yang belum menikah, karena yang kedua menikmati perlindungan statusnya, keluarganya, suku dll dll. Oleh karena itu, hukumannya harus setengah dari seorang wanita merdeka yang belum menikah dan tidak setengah dari wanita merdeka yang sudah menikah bebas.

“Hal ini juga menunjukkan bahwa hukuman seratus cambukan, ditetapkan untuk wanita bersalah karena percabulan pada ayat 24:2 adalah untuk seorang wanita merdeka yang belum menikah, setengah dari yang telah ditentukan bagi seorang gadis budak yang sudah menikah. Hal ini jelas bahwa seorang wanita merdeka yang sudah menikah yang berzinah pantas mendapatkan hukuman mati untuk kejahatan keji ini karena ia menikmati perlindungan ganda dari keluarga dan suami, dan hukuman itu adalah ‘dirajam sampai mati’. Meskipun Al-Quran tidak secara eksplisit menyebutkan hukuman rajam sampai mati, ayat ini mengindikasikan dengan suatu cara yang halus, yang Nabi saw pahami dan tegakkan. Dan siapa lagi yang bisa memahami Al-Quran dengan lebih baik?”

Sebagai sebuah aturan, Mawdudi cukup mudah dimengerti dalam tulisan-tulisannya, tetapi di sini dia tidak masuk akal, setidaknya tidak bagi saya. Dia melihat dalam ayat tersebut adanya referensi samar untuk hukuman rajam, tetapi gagal untuk mempertimbangkan pertanyaan penting: Mengapa referensi tersebut yang merupakan hal yang serius seperti kematian akibat rajam tetap ditinggalkan secara implisit sebagai petunjuk yang samar yang akan diambil oleh Nabi saw atau para ulama? Mengapa tidak dinyatakan secara eksplisit? Dalam hal yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib, yang tentangnya manusia memiliki pengalaman yang sangat terbatas dan berkabut, kita bisa mengharapkan Al-Quran menggunakan bahasa yang tidak jelas, meskipun, bahkan dalam kasus seperti ini kurangnya kejelasan tidak diinginkan sebagai suatu tujuan tetapi diterima sebagai suatu keharusan. Tetapi dalam kasus hukuman yang legal bagi suatu kejahatan tidak ditemukan alasan mengapa Al-Quran harus menggunakan bahasa yang samar.

Selain dari itu, dalam pernyataan yang dikutip di atas, Mawdudi tampaknya mengatakan bahwa perlindungan dinikmati oleh seorang gadis budak yang sudah menikah adalah setengah dari perlindungan yang dinikmati oleh seorang wanita merdeka yang belum menikah yang pada gilirannya adalah setengah dari yang dinikmati oleh seorang perempuan merdeka yang sudah menikah. Jadi bukankah seharusnya hukuman bagi wanita merdekan yang sudah menikah menjadi dua ratus cambukan bukan dirajam sampai mati?

Dalam komentarnya pada ayat 24:2 Mawdudi melakukan upaya lain yang tidak berhasil untuk menunjukkan bahwa pada ayat 4:25 budak perempuan yang sudah menikah dibandingkan dengan perempuan merdeka yang sudah menikah. Ia mengutip bagian dari ayat 4:25:

Dan orang-orang di antara kamu yang tidak memiliki sarana untuk menikahi muhsanat yang beriman dapat menikahi gadis beriman dari antara mereka yang dimiliki oleh tangan kananmu … Dan jika, setelah diambil dalam ikatan nikah (uhsinna), mereka berbuat keji, maka hukuman mereka adalah setengah dari muhsanat.

Mawdudi kemudian berkomentar: “Di sini, di surah yang sama dalam urutan berfikir yang terhubung, kata muhsanat telah digunakan dua kali dan karena kebutuhan konteks kita harus mengakui bahwa ia memiliki arti yang sama di kedua tempat tersebut. Sekarang di kalimat pertama dikatakan: “Dan orang-orang di antara kamu yang tidak memiliki sarana untuk menikahi muhsanat yang beriman’. Jelas, ini tidak dapat diartikan sebagai  wanita yang sudah menikah tetapi seorang wanita merdeka yang belum menikah. Selanjutnya dalam kalimat terakhir dikatakan bahwa jika seorang budak wanita melakukan zina setelah menikah, dia akan menerima setengah hukuman yang diterima oleh muhsanat untuk kejahatan tersebut. Konteks kalimat jelas menunjukkan bahwa dalam kalimat ini muhsanat memiliki arti yang sama seperti pada kalimat pertama, yaitu perempuan yang belum menikah yang hidup di bawah perlindungan sebuah rumah tangga merdeka dan bukan seorang perempuan merdeka yang sudah menikah.”

Tetapi bagian dari surah yang Mawdudi menghilangkan sepertiga bagian yang menggunakan kata muhsanat, benar-benar menghancurkan argumennya:

Allah mengetahui keimanan kamu semua (baik budak atau merdeka), sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain. Karena itu nikahilah (para wanita budak) dengan seizin dari tuan-tuan mereka (atau wali) dan berilah mahar mereka secara ma’ruf sebagai muhsanat dan bukan musaafihaat (pezina) dan bukan sebagai wanita yang mengambil pasangan seks secara rahasia.

Di sini dilihat dari sisi konteks kalimatnya, kata muhsanat jelas tidak berarti wanita merdeka, baik yang sduah menikah atau belum menikah, karena kata tersebut diterapkan pada wanita budak. Jadi dalam ayat yang sama dan dalam urutan pemikiran terhubung yang sama, penggunaan pertama dari kata tersebut adalah untuk wanita merdeka yang belum menikah, dan penggunaan kedua adalah untuk wanita budak. Akibatnya, sama sekali tidak ada alasan mengapa penggunaan ketiga tidak boleh berbeda dari dua yang pertama dan karenanya tidak ada alasan mengapa dalam menggunakan ketiga dari kata muhsanat tidak boleh merujuk kepada perempuan merdeka yang sudah menikah. Sama seperti arti dalam dua kasus pertama yang ditentukan oleh konteks kalimat yang menggunakan kata tersebut, demikian juga arti dalam kasus ketiga harus ditentukan oleh konteks kalimat yang menggunakan kata tersebut. Kalimat ini memungkinkan muhsanat bermakna perempuan merdeka, baik yang sudah menikah dan belum menikah. Tidak ada alasan untuk membatasi kata tersebut bagi perempuan merdeka yang belum menikah. Jika sesuatu itu lebih masuk akal untuk membatasi kata tersebut bagi perempuan merdeka yang sudah menikah, karena jauh lebih alami membandingkan seorang budak wanita yang sudah menikah dengan seorang wanita merdeka yang sudah menikah bukan dengan wanita merdeka yang belum menikah. [4]

Ketika membatasi kata zina pada ayat 24:2 kepada orang yang belum menikah, sebenarnya Mawdudi melanggar salah satu dari prinsipnya sendiri. Dengan demikian, dalam membahas pertanyaan apakah definisi zina meluas mencakup hubungan sodomi atau hubungan melalui dubur dengan istri, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh para ulama fiqh Syafi’i dan Maliki, Mawdudi merumuskan suatu prinsip sebagai berikut: Perluasan makna tersebut adalah “menghilangkan pengertian umum dari kata zina. Al-Quran selalu menggunakan kata-kata dengan makna/ pengertian yang sudah diketahui dan dipahami secara umum dan luas, kecuali ketika Al-Quran menjadikan sebuah kata sebagai sebuah istilah teknis khusus, dalam hal ini Al-Quran mengklarifikasi bahwa merupakan kata dengan makna khusus. Di sini (pada ayat 24:2) tidak ada indikasi bahwa kata zinah digunakan dengan makna khusus, sehingga harus diambil makna umumnya digunakan yaitu hubungan alami (melalui vagina) dengan seorang wanita yang ilegal. Tidak harus diperluas (pengertiannya) kepada bentuk-bentuk kepuasan seksual (menyimpang) lainnya”. Pertanyaannya adalah: jika pada ayat 24:2 kata zina digunakan dengan makna yang biasa dan umumnya dipahami, lalu bagaimana kita bisa membatasi ayat tersebut untuk orang-orang yang belum menikah.? Dalam Al-Quran, Hadits, dan dalam bahasa Arab sekuler dari zaman kuno hingga zaman sekarang, zina berarti, kecuali jika dinyatakan khusus, hubungan seksual ilegal antara seorang pria dengan seorang wanita terlepas dari apakah ada salah satu dari mereka sudah menikah atau tidak . Dari sisi konteks kalimat pada ayat 24:2 tidak ada yang menunjukkan bahwa makna umumnya dibatasi. Akibatnya, dengan menerapkan prinsip Maududi sendiri, kita dapat menyimpulkan bahwa pada ayat 24:2 kata zina digunakan dalam pengertian/ makna umum. Mungkin tanggapan Mawdudi adalah bahwa sunnah/ hadits mengatur hukuman rajam dan itu yang mengharuskan kita untuk membatasi pengertian kata zina pada ayat 24:2 untuk kasus orang-orang yang belum menikah. Kami insya allah akan menguji kehandalan dari hadits tentang rajam secara cukup rinci pada waktunya. Untuk saat ini, sudah cukup untuk dicatat bahwa alasan utama para pendukung rajm menerima hadits tentang rajm adalah bahwa isnad ahadits tersebut sahih. Namun, banyak ulama, bahkan mereka yang mendukung rajm, tidak ragu-ragu dalam menolak ahadits dengan isnad sahih yang ditemukan di Kitab Muslim atau Bukhari. Ini juga terjadi pada kasus Maududi.

 

Sebuah hadits dengan isnad sahih ditolak

Sementara Syafi’i menganggap hadits dari ‘Ubadah bin al-Samit (“Ambillah dari saya, ambillah dari saya …”) sebagai otentik dan menjadikannya sebagai dasar bagi pandangannya tentang hukuman zina, namun Mawdudi justru menolaknya. Dia mengatakan: “Meskipun hadits ini adalah sahih dari sisi sanad, tetapi sejumlah hadits sahih lainnya mengatakan kepada kita bahwa ini tidak dilakukan pada masa Nabi maupun di masa khulafa yang mendapat petunjuk. Selain itu, para ahli hukum juga tidak pernah memberikan vonis secara pasti dengan dasar hadits tersebut. Telah disepakati di dalam fiqh Islam bahwa status perkawinan dari zan dan zaniah akan dilihat secara terpisah. Seorang pria yang belum menikah akan dihukum dengan cara yang sama tanpa membedakan apakah ia melakukan zina dengan seorang wanita yang sudah menikah atau belum. Sama dengan kasus wanita. … “. Di sini meski tidak menemukan kesalahan perihal sanad dari hadits tersebut, Mawdudi mengusulkan pendapat bahwa hadits tersebut palsu.

 

Kekeliruan dalam analogi

Dalam mendukung hukuman rajam Maududi mengatakan: “Apapun bobot hukum kata-kata dari Al-Quran, adalah demikian juga bobot hukum penjelasan kata-kata yang diberikan oleh Nabi yang mulia, asalkan keasliannya telah ditetapkan. Al-Quran memiliki cara yang mutlak (mirip dengan hokum cambuk untuk kasus zina) dalam menyatakan pemotongan tangan ‘si pencuri, laki-laki atau perempuan’. Jika kita tidak membatasi perintah ini oleh penjelasan yang kemungkinan besar diberikan oleh Nabi, maka secara umum akan mengharuskan Anda mendeklarasikan bahwa seorang pencuri meski ia hanya mencuri sebuah jarum atau sebuah berry, maka potong tangannya dari bahu. Pada saat yang sama, jika seseorang mencuri ratusan ribu rupee dan setelah ditangkap mengatakan bahwa ia telah mengubah perilakunya dan bertobat dari mencuri, Anda harus melepaskan dia karena Al-Quran berkata, ‘siapapun yang bertobat setelah pelanggaran dan mengoreksinya perilakunya, Allah memberi pengampunan kepadanya’ (5:39)”.

Syafi’i juga menyebutkan hukuman pemotongan tangan untuk mencuri dan hukuman cambuk untuk zina sebagai dua dari beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa sunnah/ hadits kadang-kadang mengkhususkan keadaan yang darinya perintah yang bersifat umum dari Al-Quran dilaksanakan. Jadi Sunnah mengkhususkan bahwa perintah yang dalam kata-katanya bersifat umum tentang hokuman cambuk untuk zina harus diterapkan untuk orang-orang yang belum menikah dan tidak untuk orang sudah menikah dan perintah umum untuk memotong tangan si pencuri diterapkan untuk beberapa jenis item dan untuk nilai tertentu suatu item. Dalam hubungan ini Syafi’i mengutip hadits berikut: “Tangan tidak boleh dipotong untuk (pencurian) buah-buahan atau gagang dari pohon palem, dan tangan tidak boleh dipotong kecuali harga dari barang yang dicuri adalah seperempat dinar atau lebih.”

Kami tidak menyangkal bahwa Al-Quran meninggalkan pertanyaan-pertanyaan rinci tertentu kepada Nabi agar mengurusnya atau menganggap adanya beberapa ajaran rinci yang telah diberikan oleh Nabi kepada orang-orang dan hal ini kadang-kadang disebabkan oleh adanya perintah Al-Quran yang bersifat umum yang perlu menjadi lebih spesifik. Memang, bukan hanya Nabi, tetapi Muslim lainnya kadang-kadang juga harus berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut shingga perintah-perintah Al-Quran dan Nabi yang bersifat umum perlu dirinci untuk situasi tertentu. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan bahwa puasa di bulan Ramadhan harus dilakukan dari fajar hingga lail. Tetapi kita harus menjadikan perintah ini lebih rinci untuk wilayah dunia di mana siang harinya lebih panjang.

Yang keliru dari cara pandang para pendukung hukum rajam tentang fungsi Nabi adalah bahwa mereka lupa bahwa hukuman rajam sampai mati tidak pernah disebutkan oleh pemberi hukum, apalagi semua tahu, Tuhan semesta yang Maha bijaksana, akan meninggalkan para penafsir untuk berurusan dengannya. Jika kita berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang terjadi jika pasangan dipaksa untuk melakukan zina seperti pemerkosaan, atau bagaimana seharusnya cara mencambuknya, atau apakah kehamilan dapat memberikan bukti terjadina suatu perzinahan atau aktivitas seksual seperti apa yang dikategorikan sebagai zina – jika kita bicara tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka memang Sunnah/ hadits dan ulama dapat memberikan jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan tersebut dan dalam proses membuat perintah-perintah yang bersifat umum dari Kitab Allah menjadi lebih spesifik. Tetapi memperkenalkan hukuman mati dengan rajam sedangkan Al-Quran hanya berbicara tentang 100 cambukan adalah jauh dari disebut sebagai menafsirkan atau menjelaskan atau memerinci perintah Al-Quran. Perhatikan bahwa dalam kasus mencuri, jenis hukuman Al-Quran tidak pernah dilebih-lebihkan di dalam Sunnah, tetapi dalam kasus zina, Sunnah sangat berlebih-lebihan dalam “memerinci” hukuman Al-Quran, sehingga kita harus mempertanyakan keaslian hadits tentang rajm tersebut.

Mawdudi menyebutkan beberapa contoh lain bahwa Sunnah menjelaskan, membatasi atau memperluas aturan Al-Quranic:

“Dengan cara yang sama, Al-Quran melarang pernikahan dengan ibu rada’i dan saudara perempuan rada’i [4:23-24] (tapi bukan anak perempuan rada’i). Larangan anak perempuan rada’i (yang ditemukan di dalam Hadits) akan sesuai dengan argumen ini (dari penentang rajam) yang seharusnya melawan Al-Quran. Al-Quran hanya melarang pernikahan dengan dua saudara perempuan. Setiap orang yang menganggap pernikahan dengan seorang wanita dan keponakannya sebagai haram harus dituduh memutuskan yang menentang Al-Quran. Al-Quran melarang menikah dengan seorang putri tiri ketika ia dibesarkan di rumah ayah tirinya. Larangan mutlak (dari pernikahan dengan putri tiri) harus dinyatakan bertentangan dengan Al-Quran. Al-Quran membolehkan rahn hanya ketika seseorang melakukan perjalanan dan juru tulis untuk menulis dokumen pinjaman tersebut tidak ada. Membolehkan rahn ketika tidak bepergian dan ada juru tulis itu harus dianggap melawan Al-Quran. Al-Quran memerintahkan secara umum: ‘Hadirkan saksi ketika kamu melakukan transaksi komersial’ [2:282]. Konsekuensinya, semua jual beli yang terjadi di toko siang dan malam harus dianggap melanggar hukum. Ini hanya beberapa contoh bahwa ketika diperiksa secara sekilas, menjadi diketahui adanya kesalahpahaman orang-orang yang mengatakan rajm itu bertentangan dengan Al-Quran. Dalam sistem Syariat, fungsi dari Nabi yang tak terbantahkan adalah bahwa setelah menyampaikan perintah Allah, beliau harus memberitahu kita apa tujuan dari perintah tersebut, bagaimana cara melaksanakan berdasarkan atasnya, pada kasus apa diterapkan dan pada kasus apa ada perintah yang berbeda. Penyangkalan terhadap fungsi ini tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, tetapi juga akan melibatkan konsekuensi praktis yang tidak diinginkan yang tidak terhitung”

Seperti kasus hukum potong tangan, contoh-contoh lain yang disebutkan oleh Mawdudi di atas, beberapa di antaranya juga ditemukan dalam tulisan-tulisan Syafi’i, tidak bisa dianalogikan dengan kasus rajam sampai mati. Dalam semua contoh di atas, Sunnah hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan detail atau berujung pada jawaban yang mudah dimengerti berdasarkan Al-Quran dengan menggunakan analogi dan akal sehat. Ini tidak terjadi pada kasus rajam. Selanjutnya, bahkan dalam contoh kasus-kasus lain, ada kemungkinan ahadits yang dinyatakan telah membatasi atau memperluas pernyataan Al-Quran itu, mungkin tidak asli atau mungkin belum dipahami dengan baik.

 

Kekeliruan pandangan lawan.

Dalam menjadikan hal yang utama untuk mendukung rajm, Mawdudi mengatakan: “Di antara para sahabat dan tabiin terhadap kasus ini (rajam) telah sepakat. Tidak ada satupun perkataan yang mengarah pada kesimpulan bahwa di jaman dulu orang meragukannya sebagai perintah yang ditetapkan oleh Syariat. Setelah (para sahabat dan penerusnya) para ahli Fiqh Islam dari semua zaman dan pelosok daerah telah sepakat bahwa hukum ini ditetapkan oleh sunnah. Hal ini karena ada mutawatir dan bukti-bukti yang cukup kuat untuk kesahihannya yang tidak ada orang yang berpengetahuan dapat menyangkalnya. Sepanjang sejarah umat Islam tidak ada yang menyangkalnya kecuali Khawarij dan beberapa Mu’tizilah dan bahkan penolakan mereka tidak didasarkan atas kemampuan mereka menunjukkan sisi kelemahan dari keaslian perintah Nabi tersebut. Sebaliknya, mereka hanya menyatakan bahwa hukum itu bertentangan dengan Al-Quran. Tetapi ini adalah sebuah kekeliruan dalam pemahaman mereka sendiri.”

Di sini Mawdudi, seperti pendukung rajam lainnya, mengklaim adanya tawatur pada ahadits tentang rajm. Kami akan memeriksa pernyataan ini di bab selanjutnya dari kajian ini. Di sini hanya kita komentari pada klaim bahwa para penentang rajam zaman awal mendasarkan pandangan mereka hanya pada Al-Quran dan mengabaikan Hadits. Klaim ini meragukan. Bagi para penentang rajam, fakta bahwa Al-Quran mengatur sendiri hukuman yang berbeda untuk perzinahan adalah bukti bahwa hadits rajam adalah palsu. Dalam logika ini, mereka tidak sendirian. Hadits-hadits berikut, apakah asli atau tidak, menunjukkan bahwa pada jaman dulu ada banyak umat Islam yang menjadikan Al-Quran sebagai sebuah standard untuk membedakan hadits shahih dari yang palsu:

Abu Yusuf [wafat 183H] mencatat dalam al-Radd ‘ala Siyar al-Awza’i:

Nabi berkata: hadits tentang aku akan menyebar. Jadi apa yang datang kepada kamu tentang saya dan selaras dengan Al-Quran adalah dari saya dan apa yang datang kepada kamu tentang saya dan bertentangan dengan Al Qur’an bukan dari saya.

Syafi’i dalam al-Risalah mencatat hadits berikut:

Nabi berkata: Setelah kematianku, kamu akan berpeah-belah atas dasar perbedaan pendapat. Ketika sesuatu sampai kepadamu yang dikaitkan dengan aku, membandingkan hal itu dengan Al Qur’an, jika ia sesuai dengan Al-Kitab, itu dari aku, yang bertentangan dengan Al Quran bukan dari aku.

Abu Yusuf [d. 183] menerima hadits ini sebagai asli tetapi Syafi’i [w. 204] menolak, menyebutnya lemah.

Hadits berikut ini juga relevan:
Beberapa sahabat dari Mu’adh ibn Jabal berkata: Ketika Rasulullah saw bermaksud mengirim Mu’adh ibn Jabal ke al-Yaman, ia bertanya: Bagaimana kamu memutuskan ketika kesempatan memutuskan kasus muncul? Dia menjawab: Aku akan memutuskan sesuai dengan Kitab Allah. Dia bertanya: (Apa yang akan kamu lakukan) jika kamu tidak menemukan petunjuk dalam Kitab Allah? Dia menjawab: (Saya akan bertindak) sesuai dengan sunnah Rasul Allah. Dia bertanya: (Apa yang akan Kamu lakukan) jika Kamu tidak menemukan petunjuk dalam Sunnah Rasul Allah dan dalam Kitab Allah? Dia menjawab: Aku akan melakukan yang terbaik untuk membentuk suatu pendapat dan aku tidak akan mencadangkan upaya. Rasulullah kemudian menepuk dada dia dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membantu utusan dari Rasul Allah untuk menemukan suatu hal yang menyenangkan Rasul Allah. (Abu Da`ud 3119, Tirmidzi 1249, Ahmad 21084, 168 Darimi).

Hadits ini telah ditolak oleh beberapa muhaddithun atas dasar lemahnya isnad. Banyak Muslim, termasuk mereka yang mendukung rajm, menerima hadits ini. Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa kita pertama-tama harus berpaling kepada Al-Quran sebagai pedoman dan hanya jika kita tidak menemukan pedoman yang jelas di sana, kita harus beralih ke Sunnah/ hadits. Para penentang rajam mencatat bahwa Al-Quran menjelaskan adanya 100 cambukan bagi pelaku perzinahan. Hal ini mengakibatkan tidak perlu beralih kepada Sunnah/ hadits dan setiap hadits yang menyuruh hukuman yang sangat berbeda dari 100 cambukan tidak otentik.

Ibn Ishaq mencatat hadits berikut:

“Demi Allah Kamu tidak dapat menyandarkan apapun kepada sebagai beban saya. Aku hanya membolehkan apa yang Al-Qur’an bolehkan dan melarang hanya apa Al-Quran larang.”

Hadits ini menunjukkan bahwa panduan yang diberikan oleh Nabi sangat didasarkan pada Al-Quran, dan tidak demikian halnya dengan kasus rajm. Kesimpulan yang sama mungkin berasal dari hadits yang disepakati berikut ini:

Diceritakan dari Jabir bin ‘Abd Allah: Aku jatuh sakit dan Rasul Allah dan Abu Bakar datang mengunjungi saya, berjalan kaki. Dia datang padaku pada saat aku tak sadarkan diri. Kemudian Rasulullah saw melakukan wudhu dan menuangkan air sisa di atas diriku dimana aku menjadi sadar. Aku berkata, ya Rasul Allah! (ya Rasul Allah, atau mungkin Sufyan meriwayatkan Jabir yang mengatakan ay Rasul Allah). Tetapi Rasulullah tidak memberi saya jawaban apapun sampai ayat tentang warisan datang. (Bukhari 5219, 6228, 6765, 3031 Muslim)

Tepat sebelum mencatat hadits di atas Bukhari memberikan judul bab berikut:

Setiap kali Nabi ditanya tentang sesuatu perihal tidak adanya ayat yang diturunkan, ia juga akan berkata, “Saya tidak tahu” atau tidak memberikan jawaban, tetapi tidak pernah memberikan suatu putusan yang berdasarkan pendapat atau qiyas, dan itu karena pernyataan Allah: “… (putuskan perkara orang-orang) dengan apa yang Allah tunjukkan kepadamu” (4:105). Dan Ibnu Mas’ud berkata, “Nabi ditanya tentang roh, dan ia tetap diam sampai ayat ini turun.”

Beberapa hadits hanya menyebutkan Al-Quran sebagai sumber petunjuk/ bimbingan dan tidak merujuk kepada Sunnah/ hadits sama sekali. Jadi dalam Muslim kita membaca:

Kemudian [selama haji perpisahan Nabi] datang ke dasar lembah, dan dialamtkan kepada orang-orang berkata: “…. Aku telah meninggalkan di antara kamu Kitab Allah, dan jika kamu berpegang teguh kepadanya, kamu tidak akan tersesat …. “.

Di sini tidak menyebutkan tentang sunnah. Ada versi hadits di Ibn Ishaq dan Muwatta di mana Sunnah ditambahkan kepada Al-Quran sebagai sesuatu yang kita harus berpegang kepadanya, tetapi baik Ibnu Ishaq laupun Malik tidak memberikan isnad yang lengkap versi mereka.

Sebuah hadits yang didokumentasikan sangat baik tentang khalifah ‘Umar menunjukkan bahwa sahabat tersebut dengan jelas paham bahwa Al-Quran adalah sumber utama bimbingan Islam, meskipun Hadits adalah penting (lihat Bab 3).

Jadi ketika orang-orang pada zaman dahulu dan baru-baru ini menolak adanya hukum rajam dengan menunjuk pada hukuman yang Qurani, maka mereka tidak perlu dianggap menolak nilai dan pentingnya Sunnah/ hadits. Sebaliknya, mereka hanya mengatakan bahwa hadits tentang rajm tidak otentik karena dalam Al-Quran Allah telah menyatakan dengan jelas hukuman untuk perzinahan dan Nabi tidak akan memberikan hukuman yang berbeda secara fundamental. Lebih dari itu, dalam mencapai kesimpulan ini, mereka juga mengikuti metode yang diajarkan oleh beberapa hadits yang diterima secara luas. Akhirnya, para penentang rajam juga menunjukkan bahwa ahadits tentang rajam semuanya hadits ahad dan tidak menegakkan suatu hukum. Thana`Allah Panipati dalam buku Tafsirnya yang mewakili pandangan para penentang rajam secara lebih meyakinkan ia mengatakan:

“Khawarij menolak (rajm) karena mereka menolak (otoritas) konsensus di antara para sahabat dan laporan ahad dan menyatakan bahwa hukuman rajam sampai mati tidak ditetapkan oleh Al-Quran. Hanya laporan ahad yang telah menyebutkan rajam dan laporan ahad tidak menjadi sebuah perintah yang mengikat.”

Note:

[1] pernyataan nisa` kum serupa dengan pernyataan “perempuan kami” (nisa` na) dan “perempuan mereka” (nisa’ hum) digunakan oleh Al-Quran pada ayat 2:49, 187, 223,, 226 3: 61, 4:23, 7:127, 14:6, dan 65:4 dan dalam hampir semua ayat-ayat ini, pernyataan ini jelas merujuk pada “istri”, sebagai contoh, ditemukan pada ayat 2:187, yang menyatakan: “Dihalalkan bagi kamu pada malam Al-Shiyam berhubungan seksual dengan nisa’ kum“. Satu-satunya pengecualian adalah ayat-ayat di mana abna`(anak laki-laki atau anak-anak) dan nisa` disebutkan secara paralel. Ini adalah kasus pada ayat 3:61, di mana orang-orang Kristen ditantang untuk bersama-sama dengan umat Islam, masing-masing pihak membawa abna`dan nisa` mereka dan ayat 2:49, 7:127 dan 14:6, di mana Firaun dikatakan membunuh abna`dan membiarkan hidup nisa’ dari Bani Israel. Pada ayat 3:61, abna` dapat diartikan sebagai anak-anak lelaki dan nisa` sebagai anak perempuan atau anak perempuan dan istri. Atau, abna` dapat dipahami sebagai anak-anak (baik lelaki maupun perempuan) dan nisa` sebagai istri. Pasa bagian kalimat tentang nisa’ yang dibiarkan hidup oleh Firaun jelas berlaku untuk perempuan pada umumnya karena Firaun tidak akan memiliki alasan untuk mencadangkan anak-anak perempuan, tetapi membunuh perempuan dewasa yang menikah. Dan juga jika hanya anak-anak perempuan yang dimaksudkan, maka kata yang digunakan semestinya banat.

[2] Saya di sini tidak meremehkan akan perlunya kualifikasi yang tepat untuk menafsirkan Al-Quran dan Hadits. Meskipun tradisi mencantumkan daftar kualifikasi seperti penekanan yang terlalu tinggi pada daya ingat, namun kurang menekankan dalam kemampuan lain seperti berpikir analitis. Orang-orang dengan kecerdasan normal dapat mengikuti bukti dan penalaran utama yang para ulama gunakan untuk sampai pada pendapat mereka. Menurut tingkat kedalaman studi, orang-orang seperti mereka harus menggunakan pikiran mereka untuk membentuk penilaian-penilaian tentang apa yang dikatakan ulama. Kalau tingkatan studi mereka sangat terbatas, sebagai langkah praktis mereka mungkin mengikuti beberapa ulama, tetapi dalam kasus seperti itu mereka tidak seharusnya melarang orang lain yang memiliki lebih banyak waktu untuk mempelajari literatur Islam dalam hal mempertanyakan, mendiskusikan dan memeriksa kembali pandangan para ulama.

[3] Ibnu Abi Awfa dianggap sebagai seorang ilama yang cukup punya nama/ bereputasi. Dia memeluk Islam sebelum perjanjian Hudaybiyah pada tahun 6 H dan mengambil bagian dalam tujuh pertempuran termasuk Khaibar, Makkah, dan Hunayn. Kejadian ifk yang oleh karenanya wahyu Surah 24 terjadi pada tahun 5 H atau 6H. Jadi Ibn Abi Awfa tampaknya berada pada posisi yang mengetahui urutan kronologis wahyu dari Surah 24 dan insiden stonings, jika hal itu benar-benar terjadi.

[4] Mawdudi, dengan mencoba memaksakan beberapa kesamaan arti dari berbagai penggunaan kata muhsanat tampaknya telah kehilangan poin penting. Al-Quran dengan menggunakan kata yang berbeda bagi perempuan budak dan bagi perempuan merdeka yang sudah menikah dan belum/ tidak menikah, secara radikal mengubah cara pandang orang-orang terhadap perbudakan, kebebasan dan kesucian. Dalam budaya pra-Islam perzinahan oleh seorang wanita yang belum menikah tidak dianggap sebagai pelanggaran pidana yang serius. Hanya si lelaki yang melakukan hubungan seksual dengan-nya dalam beberapa cara dihukum (lihat Bab …). Al-Quran dengan mengacu pada kedua jenis perempuan merdeka yang belum maupun yang sudah menikah sebagai muhsanat adalah menyampaikan pesan bahwa keduanya harus menjaga kehormatan dirinya. Pesan yang sama didorong oleh perlunya perumusan hukuman yang sama bagi zina baik yang dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah ataupun belum menikah. Demikian juga, dengan menggunakan kata itu bagi budak yang menikah dan perempuan merdeka yang menikah, Al-Quran adalah menjembatani kesenjangan antara keduanya dan mengangkat status para budak. Ayat tersebut juga menyampaikan pesan yang sama dengan kata-kata, “(baik yang merdeka atau budak) kamu adalah salah satu dari yang lain”.

bersambung ke Bab 2

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • anggoro  On October 23, 2011 at 11:29 am

    izin copas Pak, Jzklah khair

    • Muslim saja  On October 23, 2011 at 8:25 pm

      Silahkan

  • ummu  On December 16, 2011 at 4:30 am

    jelas sekali.. ijin mengcopy ya pak… jzkmlh

    • Islam saja  On December 16, 2011 at 5:05 pm

      Sangat dipersilahkan.

  • Anto  On March 24, 2012 at 2:02 pm

    “Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr : 7)

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa’ : 80)

    Abu Rafi’ ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas singgasananya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti’.” (HR. Imam Ahmad VI/8, Abu Dawud no. 4605, At-Tirmidzi no. 2663–dan ia menshahihkannya-, Ibnu Majah no. 12, At-Thahawi IV/209 dan lainnya dengan sanad yang shahih)

    Dari al-Miqdam bin Ma’di Karib bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Saya telah diberikan Al-Qur’an dan yang semacamnya, bukankah suatu saat ada seorang yang perutnya kenyang di atas pembaringannya kemudian berkata, “Hendaklah kalian mengambil apa yang berasal dari Al-Qur’an, apa yang dihalalkan olehnya maka halalkanlah dan apa yang diharamkan olehnya maka haramkanlah.” Ketahuilah sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah sama derajatnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (Abu Dawud, Bab luzum as-Sunnah, 5/10.h.4604. perawi haditsnya semuanya tsiqat. At-Tirmidzi, Kitab al-ilmi, 5/38 h. 2664. Dia berkata, hadits hasan garib)

    Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (telaga Nabi).” (HR. Imam Malik secara mursal Al-Hakim secara musnad dan ia menshahihkannya. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ no. 1594 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak I/172).

    Sehubungan dengan ayat QS. Al-Hasyr : 7, ada kejadian yang menakjubkan dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud ra. yaitu bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepadanya kemudian berkata kepadanya : “Kamukah yang berkata bahwa Allah melaknat namishaat (= wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanaamishaat (= wanita yang dicabut rambut alisnya) dan waasyimaat (= wanita yang membuat tato) ?”. Ibnu Mas’ud menjawab,”Ya, benar”. Perempuan tadi berkata,”Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan”. Maka Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika kamu betul-betul membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca: ”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr : 7). Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ”Allah melaknat An-Naamishaat…..” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

    Al-Baihaqi berkata : “Hadits yang menyatakan bahwa suatu hadits harus dicocokkan terhadap Al-Qur’an adalah bathil dan tidak benar bahkan batal dengan sendirinya karena di dalam Al-Qur’an tidak ada dalil yang menunjukkan suatu hadits harus dihadapkan pada Al-Qur’an.” (Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah oleh Imam Suyuthi hal. 11-17 Penerbit Darul Haq)

    Ibnu Abdil Bar berkata: “Sehingga tidak boleh dikatakan, kita mau mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam asalkan bersesuaian dengan Al-Qur’an. Sungguh perkataan semacam ini adalah perkataan orang yang menyimpang.” (Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih oleh Ibnu Abdil Bar 2/190-191)

    Ibnul Qayyim berkata: “Imam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang wajibnya ketaatan kepada Rasulullah, dia membantah pandangan orang yang berargumen dengan zhahir Al-Qur’an untuk menolak Sunnah Nabi dan tidak mengakui kekuatan hukum hadits.” (I’laam Al Muwaqi’in ‘An Rabbi Al Alamin oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah 2/290-291)

    Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi (murid Ibnu Katsir) berkata: “Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in)…” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi halaman 212 cetakan ke-4)

    Al-Qurthubi rahimahullahu berkata dalam Tafsir-nya setelah beliau menyebutkan hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat tersebut: “Ini semua telah didustakan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah. ” Lalu beliau menyebut atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya rajam itu benar, maka janganlah kalian tertipu. Dan hujjah yang menunjukkan hal tersebut bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegakkan rajam, dan Abu Bakr pun telah merajam, dan sesungguhnya kami pun telah melaksanakan rajam setelah mereka berdua. Dan akan muncul satu kaum dari kalangan umat ini yang akan mendustakan rajam, mendustakan Dajjal, mendustakan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, mendustakan adanya siksa kubur, mendustakan syafaat, mendustakan kaum yang keluar dari neraka setelah mereka hangus terbakar. ” (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 7/13364, Ahmad, 1/23)

    Ibnu Abdil Barr rahimahullahu juga berkata dalam kitabnya At-Tamhid (23/98) setelah menyebutkan atsar ini: “Seluruh Khawarij dan Mu’tazilah mendustakan enam perkara ini. Sedangkan Ahlus Sunnah membenarkannya dan merekalah al-jamaah serta hujjah membantah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah. ”

    • irwan eris alfaisyal  On September 13, 2013 at 2:54 am

      Jazzakumullah khairan katsiraan,,,,,,

  • pambudi prakoso  On May 18, 2013 at 5:43 pm

    niki seng ngadah tiyang jamaah nopo???(LDII),kulo badhe copas,ajkk

  • irwan eris alfaisyal  On September 13, 2013 at 2:46 am

    Ass,,,,,,moga allah ta’ala menuntun kita kejalan yang di ridhoi nya,,,,,,,,
    .آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ…. ……
    Tentang hukum rajam ini atau cambuk 100x, wallahu a’lam, para ulama(syafi’i,hambali,maliky,hanafy,al maududi,dll) mereka berpedoman kepada al_qur’an dan as_sunnah, dan perbuatan para sahabat,khususnya sahabat kulafaul rasidin, lagian masalah hukum ini,tak perlu lah kita jelaskan mana untuk yang mana,yang jelas hukum itu di adakan agar kita berhati hati dalam berbuat,agar tidak sesuka hati kita dalam kehidupan di dunia ini, yang jelas dan harus kita pahami bersama bahwa, mereka para ulama salaf itu telah berijtihat sekuat tenaga mereka untuk menjelaskan hukum2 al_qur’an dan al_hadits kepada kita umat yang sekarang, dan kita harus memahimi batas daya pikir manusia,dan para ulama itu dalam kitab nya masing2 telah menjelas kan tentang pandangan mereka demi kabaikan umat, mereka juga tidak memaksakan kepada kita untuk harus menerima pendapat mereka, atau meng agungkan pandangan mereka, memang mereka diberi kelebihan oleh Allah kelebihan dalam akal dan pikiran dalam memahami ilmu allah, tapi kan tidak mutlah seperti ilmu nya allah ta’ala,dan juga mereka mengatakan dalam bukunya/kitab nya masing2,jika ada pendapat yang lebih shahih dari pendapat ku ini, maka tinggalkan lah pendapatku ini, ini secara akal dapat kita pahami, bahwa mereka juga manusia yang banyak kekurangan dalam hal memahami ,mentafsirkan ayat2 al_qu’an dan al_hadits, ,,,,, mohon maaf kalo ada kata kata saya yang kurang pas, sebenarnya pembahasan seperti ini sangat baik,,,,, dan sangat bermanfaat,,,,,,, baraqallahu wafiq,,,,,,,,wass

  • hambah allah  On September 30, 2013 at 2:15 pm

    assalamualaikum wr wb

    saya ingin bertanya ttg awal kasus zina yg dihukum mati

    sangat menarik ketika disinggung soal sodomi

    apakah sodomi dan liwath itu sama?

    setau saya liwath berhubungan melalui anus dengan sesama laki laki yaitu hukuman mati

    tetapi bagaimana bila dilakukan zina melalui dubur dengan wanita apakah tetap hukuman mati?

    karena ada beberapa imam yg mengatakan zina melalui dubur(berbeda jenis kelamin)termasuk zina..

    ada yg bilang tidak dan mempunyai hukum tersendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: