BAB XV. FAKTOR FILOSOFIS LAHIRNYA TEORI KEMAHDIAN

BAB XV

FAKTOR FILOSOFIS LAHIRNYA TEORI KEMAHDIAN

Jika kita melakukan suatu studi historis tentang apa yang terjadi pada Syi’ah Imamiah (12-Imam) setelah kematian Imam Hassan Askari pada tahun 260 AH, dan melihat sepintas lalu pada bukti akal (rasional0 yang dikemukakan oleh kelompok yang percaya pada keberadaan seorang putra tersembunyi dari Imam, dan bahwa ia adalah Imam setelah Imam Askari dan Mahdi yang ditunggu, jika kita melakukan ini, kita akan menemukan krisis secara teoritis dan doktrinal yang dialami oleh kelompok Syi’ah 12-Imam.

Krisis tersebut mendorong Imamah diwariskan secara vertikal dan tidak diperbolehkannya berpindah kepada saudara sepupu atau saudara kandung. Hal ini memaksa kelompok tersebut untuk mengkompromikan kondisi ini maupun menerima berhentinya Imamah setelah kematian Askari yang tanpa seorang pengganti, sebagaimana yang nampak nyata dari hidupnya, atau mengandaikan keberadaan seorang putra rahasia dari dia, mengesampingkan tidak adanya deklarasi dari Imam menyangkut hal itu, atau mengumumkan hal itu. Hal itu juga mendorong mereka untuk menafsirkan kerancuan ini dan menyembunyikan dengan cara taqiyyah (berpura-pura/ menyembunyikan keyakinan) dan takut kepada otoritas/ penguasa, di samping tidak adanya petunjuk apapun yang menjamin keabsahan masalah itu.

Kisah historis yang diterima dan disampaikan oleh semua ahli ilmu agama dan sejarawan dari Syi’ah 12-Imam mengatakan: Imam Askari meninggal tanpa meninggalkan seorang putra yang nyata, dan ia meninggalkan sebuah wasiat (mengenai kekayaannya) kepada ibunya yang bernama ‘Hadith’. Inilah yang mendorong saudaranya -Ja’far bin Ali- untuk mengklaim Imamah setelah dia dan memanggil Syi’ah Imamiah untuk mengikuti dia sebagai pengganti Imam Askari. Sama halnya dengan mereka yang mengikuti Imam Musa bin Ja’far setelah kematian kakak laki-lakinya Abdullah Aftah, yang menjadi Imam setelah Imam Sadiq. Di mana Ia tidak mempunyai isu, kepada siapa Imamah berlanjut.

Nubakhti, Ash’ari al-Qummi dan Mufid berkata bahwa: ‘Kebanyakan Syi’ah Imamiah menjawab panggilan Ja’far, dan Imamahnya mendekati kesepakatan’. (1) Firaq al-Shi’ah, hal. 98; Al-Maqalat, hal.110; Al-Fusul al-Mukhtarah, hal. 259

Hal itu dikarenakan massa Syi’ah pada umumnya tidak mengetahui seseorang di antara anak-anak Hadi, selain Ja’far, atau mereka melihat seorang putrapun dari Imam Askari. Inilah laporan yang dikonfirmasikan oleh Abu Al-Adyan al-Basri, pesuruh Imam Askari kepada masyarakat kota – sebagai orang terakhir yang mengucapkan selamat tinggal kepada Imam. Ia berkata: ‘Askari tidak memberitahu dia nama penggantinya, tetapi Imam memberitahu dia beberapa tanda untuk mengenali dan mengidentifikasi penggantinya. Ia juga berkata bahwa: ‘Ia kembali ke Samirra’i pada hari Imam Askari meninggal. Ia kemudian melihat Ja’far dan massa Syi’ah pada umumnya di sekeliling dia, yang terdepan dari mereka adalah Uthman bin Sa’id Al-Umari (kelak mengklaim/ dianggap sebagai wakil Mahdi). Syi’ah sedang mengucapkan pernyataan duka cita mereka dan pada saat yang sama memberikan selamat kepada Ja’far. Abu Al-‘Adyan (menurut laporan tersebut) juga mengunjungi Ja’far, memberikan pernyataan duka citanya dan memberikan ucapan selamat kepada dia seperti salah satu dari orang-orang. Sebagaimana ia berkata: ‘Sebuah delegasi Syi’ah dari Qum datang pada hari itu ke Samirra’i dan bertanya tentang Imam Hassan, yang mereka diberitahu kematiannya. Mereka kemudian berkata: ”Kepada siapa kami perlu memberi pernyataan duka cita kami? Orang-Orang menunjuk Ja’far. Mereka mengucapkan ‘Salam’ kepadanya dan menyampaikan pernyataan duka cita mereka dan memberi selamat kepadanya. (2) Saduq: Ikmal al Din, hal. 475.

Inilah juga laporan dari Sinan Al-Mausili yang menegaskan hal itu. Laporan tersebut menyebutkan kedatangan sebuah delegasi di bawah kepemimpinan Abu Abbas Muhammad bin Ja’far al-Himyari al-Qummi di Samirra’i setelah kematian Imam Askari. Mereka meminta keterangan tentang Imam dan ahli warisnya. Tanggapan orang-orang kepada mereka adalah bahwa ahli warisnya adalah Ja’far bin Ali. (3) Saduq: Ikmal al Din, hal. 476 – 479; Al-Rawandi: Al-Kharayij wa al-Jarayih, hal.164; Al-Sadr: Al-Ghaybah al-Sughra, hal. 323.

Semestinya tidaklah mencukupi bahwa Imamahnya ditolak hanya atas dasar ketiadaan pengetahuannya mengenai yang tidak terlihat

Berdasarkan hal itu, Ja’far mengirim kepada masyarakat Qum, di mana kelak menjadi pusat Syi’ah yang kuat, mengajak mereka kepada dirinya, dan memberi tahu mereka bahwa ia adalah pemimpin (Qayyim) setelah saudaranya. Masyarakat Qum berkumpul di sekitar Sheikh mereka -Ahmad bin Ishaq- dan membahas isu tersebut. Mereka pada akhirnya memutuskan untuk mengirimkan sebuah delegasi kepadanya untuk berdiskusi dengan dia dan untuk menanyai dia beberapa pertanyaan, mereka biasa menanyai nenek moyang Imam sebelumnya dan juga untuk mengkonfirmasikan klaimnya. (Ini adalah) seperti apa yang dikatakan oleh Khusaibi di dalam ‘Al-Hidaya al-Kubra’ (hal. 391) dan Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ (hal. 475) dan Tabrisi di dalam ‘Al-Ihtijaj (vol. 2 , hal. 279) dan Sadr di dalam Al-Ghaybah al-Sughra. (hal. 391).

Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat Qum tidak mengetahui adanya seorang putra dari Imam Askari, ataupun mereka sebelumnya sudah mengetahui identitas Imam yang baru, dan tidak ada sesuatupun yang mencegah mereka untuk menerima Imamah dari Ja’far bin Ali. Yaitu, mereka tidak dengan ketat menyesuaikan diri dengan hukum warisan vertikal terhadap Imamah, dan mereka melihat bahwa Imamah dari yang lain diperbolehkan.

Rintangan utama yang mencegah sebagian Syi’ah dari menerima Imamah dari Ja’far adalah prinsip yang meragukan dari masa lalu yang menolak Imamah dari dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Prinsip ini diangkat oleh delegasi Qum di depan Ja’far bin Ali, selama berdialog. Ia menjawab: “Allah telah mengubah kehendaknya (bada’) dalam hal itu” sebagaimana yang Khusaibi katakan di dalam ‘Al-Hidayah al-Kubra’. (8)

Sebagian dari kisah yang disampaikan oleh Saduq dan Tusi mengatakan bahwa: ‘Delegasi Qum meminta Ja’far, untuk mengungkapkan jumlah uang yang sedang mereka bawa dan berbagai kepemilikan, dengan cara yang ajaib, sebagaimana saudaranya –Askari- yang biasa melakukan hal itu. Ja’far menolak permintaan dan klaim tersebut (bahwa Askari mengetahui yang ghoib) dan mencurigai delegasi tersebut berbohong terhadap saudaranya. Ia menolak pengatributan mengetahui yang ghoib pada Askari. (9) Saduq: Ikmal al-Din hal. 476; Tusi: Al-Ghaybah; al-Sadr: Al-Ghaybah al-Sughra, hal. 316.

Beberapa laporan mencoba untuk mencurigai Ja’far sebagai fasiq, minum minumam keras, bodoh, dan tidak mengindahkan sholat. (10: Khusaibi: al-Hidaya al-Kubra, hal. 391; Saduq: Ikmal al-Din hal. 479). Itu dilakukan dalam rangka agar klaim Imamahnya tidak valid (tidak sah). Masyarakat Syi’ah pada umumnya tidak menganggap pernyataan tanpa bukti seperti itu, dan tidak memunculkan pertanyaan menyangkut pengetahuan pada yang ghoib (tidak terlihat). Mereka memberikan pernyataan duka cita mereka kepadanya dan memberikan selamat kepada dia atas Imamahnya.

Masalah yang utama beberapa di antara mereka adalah isu tentang dua saudara laki-laki sebagai Imam. Tusi telah menulis dengan huruf besar tentang hal itu ketika sedang berargumentasi melawan Imamah dari Ja’far, dan teori bahwa Hassan mempunyai seorang putra. Ia mengklaim bahwa tidak ada perbedaan pada titik ini di antara Syi’ah Imamiah. (11) Al-Ghaybah, hal. 135.

Masalah ini meletus di kalangan Syi’ah Imamiah untuk pertama kalinya setelah kematian Imam Abdullah Aftah bin Ja’far Sadiq, yang Imamahnya disetujui oleh fuqaha dan ulama Syi’ah, tetapi ia meninggal tanpa seorang putra. Hal ini mendorong Syi’ah Imamiah pada suatu krisis dan membagi mereka menjadi tiga sekte. Di antara mereka adalah:

  1. mereka yang berpegang pada prinsip: ‘Imamah tidak pada dua saudara laki-laki’ dan terpaksa mengasumsikan keberadaan seorang putra yang dibuat-buat dari Abdullah, yang namanya dikatakan Muhammad dan ia tersembunyi, tetapi akan muncul pada masa yang akan datang.
  2. mereka yang di luar prinsip di atas dan membolehkan Imamah bergeser kepada saudara, jika Imam sebelumnya tidak punya putra. Mereka, sebagai hasilnya, menerima Imamah Musa bin Ja’far setelah saudaranya Abdullah Aftah.
  3. mereka yang mengubah pikiran mereka mengenai Imamah dari Aftah, dan menyimpulkan bahwa Aftah tidak mempunyai seorang putra, bahwa ia bukanlah seorang Imam. Oleh karena itu mereka mencoret namanya dari daftar nama Imam.

Masalah yang sama ini terulangi lagi ketika Imam Hassan Askari meninggal tanpa suatu isu pengganti. Hal ini mendorong Syi’ah Imamiah berbeda tentang isu pengganti, yang pada akhirnya mendorong munculnya sejumlah sekte, di antara mereka adalah:

  1. mereka yang menerima dua saudara laki-lakinya sebagai Imam, sehingga mereka percaya pada Imamah dari Ja’far bin Ali, setelah saudaranya Hassan;
  2. mereka yang mempunyai pemikiran kedua tentang Imamah dari Askari dan berkata bahwa: “Mempercayai Imamah dari Hassan adalah sebuah kekeliruan dan kesalahan, adalah wajib bagi kami untuk mengubah pemikiran kami tentang hal itu, kepada mempercayai Imamah dari Ja’far. Karena Hassan telah meninggal tanpa suatu isu, itu menjadi sah dan jelas bagi kami bahwa ia mengklaim Imamah secara keliru. Hal ini karena seorang Imam, menurut konsensus kami tidak akan mati hingga ia meninggalkan seorang pengganti secara jelas, yang dikenal, yang kepadanya ia akan menyampaikan wasiatnya dan menetapkan dia pada  posisi Imamah. Imamah tidaklah sah pada dua saudara laki-laki, setelah Hassan dan Hussain…. Imam yang sebenarnya tidak bisa dielakkan adalah Ja’far, melalui wasiat bapaknya kepadanya.” Nubakhti di dalam ‘Firaq al-Shi’ah (hal. 8) dan Ash’ari di dalam ‘Al-Maqalat wa al-Firaq’ (hal.107-110) juga melaporkan kisah serupa.
  3. mereka yang bersikeras pada Imamah dari Hassan, dan memegang prinsip tersebut tentang tidak validnya Imamah pada dua saudara laki-laki (setelah Hassan dan Hussain). Kelompok ini berubah menjadi sekte yang berbeda: di antara mereka adalah mereka yang percaya pada kemahdian dan keghoiban Askari;
  4. mereka yang mengklaim Imam akan kembalian hidup setelah kematiannya;
  5. mereka yang percaya pada jeda waktu (antara seorang Imam dengan Imam penggantinya);
  6. mereka yang bingung dan tidak bisa mengambil posisi dan mereka berkata: Belum pasti bagi kami bahwa Hassan mempunyai seorang putra (seorang pengganti) sehingga pemilik urusan tersembunyi bagi kami. Kami tidak akan mengambil posisi manapun, dan berpegang pada (Imam) yang pertama hingga saatnya ketika orang (Imam) yang lain menjadi jelas bagi kami. Kami akan berpegang pada hal ini, dan kami tidak akan menyangkal atau memperdebatkan Imamah dari Abu Muhammad atau kematiannya. Kami tidak akan berkata bahwa ia kembali hidup setelah kematiannya, sebagaimana kami tidak yakin pada Imamah dari anak-anak dari seseorang, selain dari Askari. Tidak ada konflik pendapat di antara Syi’ah tentang hal itu. Imamah dari seorang Imam tidak bisa ditetapkan kecuali melalui sebuah wasiat yang jelas dari bapaknya kepadanya. (14) Nubakhti: Firaq al-Sh’iah hal. 105-107; Ash’ari al-Qummi, Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 115; Mufid: Ikmal al-Din hal. 230; Al-Hur al-amili: Ithbat al-huda vol. 3 hal. 477.
  7. mereka yang menemukan diri mereka terpaksa mengasumsikan keberadaan seorang putra tersembunyi dari Imam Askari dan mengklaim bahwa ia adalah Imam setelah Askari dan Mahdi yang ditunggu. Mereka menafsirkan pencalonannya yang nyata oleh bapaknya pada masa hidupnya, dan tidak adanya sebuah wasiat kepadanya dan ketidak munculannya setelah dia dan keghoibannya. Mereka menafsirkan semua ini dalam istilah taqiyyah (menyembunyikan keyakinan) dan khawatir terhadap musuh.

Motiv yang utama di balik pernyataan ini adalah kesetiaan yang tinggi pada hukum warisan vertikal dan tidak diperbolehkannya Imamah dipindahkan kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain. Dengan mengesampingkan fakta bahwa hal ini merupakan pernyataan yang sangat lemah, dan tidak semua Syi’ah bermufakat mengenai hal itu pada zaman itu, yang bertentangan dengan apa yang diklaim oleh Tusi dua ratus tahun setelah itu, ahli ilmu agama yang mempertahankan hal itu, menjadikannya landasan dalam proses berargumentasi tentang keberadaan seorang putra dari Imam Hassan Askari. Mereka telah menenunnya dan meninggalkan isu filosofis tentang keharusan ’ismah’ pada Imam atau keharusan adanya dalil pada Ahl al-Bayt, menjadi bukti yang kuat!

Kita sudah memperlihatkan pada bab pertama, pernyataan ahli ilmu agama dan sejarawan yang berargumentasi secara rasional tentang kelahiran dan keberadaan Muhammad bin Hassan Askari. Bukti mereka bergantung pada teori ‘ismah’, dalil dan warisan vertikal Imamah. Pada kenyataannya bagaimanapun, bukti mereka bergantung seluruhnya pada prinsip yang terakhir, yaitu warisan vertikal. Hal itu karena banyak dari Syi’ah Imamiah Fathiah, yang sepakat dengan mereka dalam hal percaya pada ‘ismah’ dan dalil dan juga percaya pada Imamah dari Hassan Askari, tidak menemukan diri mereka terpaksa mempercayai keberadaan seorang putra dari Imam yang dalam persembunyian, yang bertentangan dengan kenyataan. Sebagai gantinya mereka percaya pada Imamah saudaranya Ja’far bin Ali Hadi, sebab mereka tidak benar-benar percaya pada perlunya Imamah hanya diwariskan secara vertikal, dan pada tidak berlakunya dua saudara laki-laki menjadi Imam.

Oleh karena itu bukti rasional (akal) tidak lebih merupakan asumsi filosofis belaka, tanpa realitas sejarah apapun. Hal itu terlihat jelas dari ketergantungan beberapa ahli ilmu agama pada tradisi dari Rida yang berkata: “Pemilik urusan ini tidak akan mati hingga ia melihat putranya, yang akan menggantikan dia setelah dia”, dalam rangka menetapkan keberadaan putra Imam Askari, sebagaimana Syekh Tusi telah laporkan di dalam ‘Al-Ghaybah.’ (hal. 133 dan 135)

Dengan mengesampingkan kemungkinan berargumentasi dengan tradisi yang sama untuk menyangkal Imamah dari Askari, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh sebagian sekte Syi’ah, yang mengubah pikiran mereka mengenai Imamahnya dan berpegang pada tidak adanya seorang putra dari saudaranya, yang kepadanya Imamah akan berlanjut, sebagai bukti atas tidak berlakunya Imamahnya, hanyalah seperti Syi’ah Musawiah yang mengubah pikiran mereka mengenai Imamah dari Abdullah Aftah pada pertengahan abad ke-2 Hijrah, karena ia tidak mempunyai isu apapun, dan mereka mencoret namanya dari daftar Imam. (16) Nubakhti: Firaq al-Shiah; Ash’ari: al-Maqalat wa al-Firaq hal.110. Sekte Syi’ah tersebut menganggap perubahan pemikiran tentang Imamah dari Askari dan percaya bahwa Ja’far secara langsung menjadi Imam setelah bapaknya Hadi, lebih lemah dari pada mengasumsikan seorang putra yang diada-adakan dari Askari.

Yang aneh adalah ketika Sayyid Murtada ‘Alam al-Huda curiga pada mereka yang percaya akan keberadaan seorang putra dari Imam Abdullah Aftah, dengan mengambil jalan menciptakan seorang pribadi yang diada-adakan, terutama, agar keluar dari  kebingungan dan  jalan buntu.(17) Al-Shafi. hal. 184. Ia bagaimanapun, mempraktekkan hal yang sama dalam proses mengasumsikan keberadaan seorang putra dari Hassan Askari, yang diperlukan agar dapat keluar dari kebingungan dan kekacauan yang telah melanda Syi’ah Imamiah pada pertengahan abad ke-3 Hijrah.

Adalah perlu setelah ini untuk menunjukkan fakta bahwa, klaim proses argumentasi teoritis tentang keberadaan seorang putra dari Hassan Askari sebagai suatu argumentasi rasional (akal) adalah sebuah kekhilafan dan metafora, sebaliknya, jauh dari menjadi argumentasi yang rasional (akal), karena teori itu bergantung pada sejumlah dalil, yang beberapa di antara mereka dilaporkan oleh pelapor (perawi) tunggal yang perlu dibuktikan mengenai makna (matan) dan rantai kisah (sanad) mereka, seperti pernyataan: ‘Warisan vertikal dan tidak diperbolehkannya perpindahan Imamah kepada dua saudara laki-laki setelah Hassan dan Hussain’. Karena Syekh Saduq di dalam ‘Ikmal al-Din’ mengakui dan berkata: “Klaim tentang keghoiban Sahib Al-Zaman berdasar pada pernyataan tentang Imamah dari nenek moyang mereka. Dan ini adalah sah/ valid dan bukan merupakan argumentasi rasional (akal) murni. (18) Ikmal al-Din: hal. 63.

Ini berarti, mendiskusikan setiap dasar pemikiran terhadap dasar pemikiran yang panjang dengan argumentasi rasional (akal), seperti perlunya ‘ismah’ pada Imam; perlunya dalil tentang Imamah dari Allah; penetapan Imamah pada anggota keluarga Nabi dan terbatas pada keluarga Hussain; dan cara perpindahan dari satu Imam kepada Imam lainnya; dan klaim dari Imam lainnya (di luar Syi’ah 12-Imam), yang mengklaim Imamah dan kemahdian, seperti Muhammad bin Hanafiyyah dan putranya -Abu Hashim, Zayd bin Ali, Muhammad bin Abdullah Dhu al-Nafs al-Zakiyyah, Isma’il bin Ja’far dan anak-anaknya, Abdullah Aftah, dan Muhammad bin Ali Hadi dan seterusnya, tentang detail teori Imamah Ilahiah dari awal hingga akhir, hingga kematian Imam Hassan Askari; mendiskusikan dasar pemikiran teori-teori di atas akan menghalangi jalan yang mendorong ke arah pengasumsian/ pengandaian keberadaan seorang putra dari Hassan Askari.

Karena inilah, penetapan keberadaan Imam Mahdi Muhammad bin Hassan Askari secara rasional (akal) untuk sebagian orang, atau sebagian Muslimin, atau untuk sekte Syi’ah lainnya, atau bahkan untuk sekte Syi’ah Imamiah lainnya yang tidak sepakat dengan prinsip hukum warisan vertikal, menjadi sulit atau mustahil. Oleh karena itulah maka ahli ilmu agama syi’ah 12-Imam menghindari mendiskusikan dengan orang lain, tentang penetapan kepribadian putra Hassan, kecuali setelah menerima dasar pemikiran tradisional sebelumnya dan mempercayai masing-masing dalil tersebut.

Abdul Rahman bin Qubbah al-Razi telah berkata pada saat menyangkal Ali bin Ahmad bin Bashshar: “Jangan mendiskusikan (terlalu jauh) isu sekunder, yang prinsip utamanya tentang itu belum dibuktikan. Orang ini (putra Hassan), yang keberadaannya kamu sangkal, haknya semestinya hanya akan ditetapkan setelah bapaknya. Tidak ada artinya menunda pembacaan hak dari bapaknya dan beralih mendiskusikan dengan kamu keberadaannya. Jika hak dari bapaknya telah ditegakkan, dan hal itu telah ditetapkan pada waktu yang sama, karena anda sudah mengakui. Jika hak dari bapaknya telah tidak valid, maka permasalahan tersebut akan menjadi sebagaimana yang anda katakan, dan kami sudah menjadikan hal itu tidak valid. (19) Saduq: Ikmal al-Din, hal. 54.

Sayyid Murtada telah berkata: Keghoiban adalah sebuah cabang dari prinsip pokok; jika hal itu valid, diskusi tentang keghoiban akan menjadi sederhana dan jelas sebagaimana bersandar kepadanya. Dan jika (prinsip pokok seperti ini) tidak valid, maka diskusi tentang keghoiban akan menjadi sulit dan mustahil. (20) Murtada: Risalah fi al-Ghaybah. hal. 2.

Meskipun menerima Imamah dari Hassan Askari tidak akan mendorong perlunya menerima keberadaan seorang putra dari dia, sebenarnya kepercayaan itu berdasar pada perlunya keberlanjutan Imamah Ilahiah hingga hari Kebangkitan, dan perlunya menerima warisan Imamah secara vertikal. Dan ini hanyalah sebuah asumsi yang menyesatkan dan dugaan yang tidak berdasarkan pada ilmu pengetahuan.

Untuk alasan inilah Syekh Nasir Makarim al-Shirazi berkata di dalam bukunya: ‘Al-Mahdi: Al-Thaurah al-Kubra: “argumentasi filosofis dapat membuktikan isu umum yang universal, tetapi ia tidak bisa menunjukkan dengan tepat orangnya dan membuktikan existensinya.” (21) Mahdi: Inqilab Bazrak. hal. 213.

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: