BAB I. SYURA: AJARAN IMAM ALI DAN KETURUNANNYA

BAB I

SYURA: AJARAN IMAM ALI DAN KETURUNANNYA

Ummah Muslim pada zaman Nabi Besar (SAAW), setelah kematiannya dan sepanjang dekade pergantian sejarahnya, menerima sistem Syura (konsultasi), dan hak Ummah untuk memilih pemimpin mereka. Anggota keturunan Nabi berada di garis terdepan dalam mendukung dan menerapkan hal itu. Namun demikian, ketika Ummah menghadapi tekanan yang kuat dari para penguasa Umayyah dan mereka berpegang pada kekuasaan secara turun-temurun, dan membuang sistem Syura tersebut, pada zaman itu beberapa Syi’ah yang setia kepada Ahl Al-Bayt terpengaruh oleh kejadian ini. Mereka menegaskan hak-hak Ahl Al-Bayt terhadap Khilafah (Kepemimpinan Ummah Muslim), sebagai ganti Umayyah. Mereka juga menekankan perlunya kepemimpinan ini tetap pada keturunan Ahl Al-Bayt. Gagasan ini bagaimanapun, tidak dikemukakan oleh Ahl-Al-Bayt sendiri, maupun Syi’ah abad pertama Hijrah.

Di samping apa yang biasa disebutkan oleh Syi’ah Imamiah mengenai dalil penunjukan Imam Ali bin Abi Talib oleh Nabi (SAAW) sebagai Khalifah setelah dia, namun warisan mereka secara literal juga penuh dengan dalil-dalil lain yang menekankan fakta bahwa Nabi Yang Agung (SAAW) sendiri dan keturunannya mempertahankan prinsip Syura dan hak Ummah untuk memilih pemimpin mereka. Sebuah laporan dari Sharif Al-Murtada – salah seorang ulama Syi’ah terkemuka abad ke-5 Hijrah – menyatakan bahwa Abbas bin Abd al-Muttalib berkata kepada Amir Al-Muminin (Ali bin Abi Talib) pada saat Nabi (SAAW) sakit, agar ia bertanya kepada Nabi, siapa yang akan diberi tanggung jawab terhadap urusan (muslim) sepeninggal Beliau, dan jika hal itu adalah bagi kita (Ahl al-Bayt), Beliau sebaiknya mengungkapkannya; dan jika hal itu bagi orang lain, maka Beliau mempercayakan urusan itu kepada kami. Amirul Mukminin (Ali) berkata, kami menghadap Rasulullah ketika penyakit Beliau semakin parah dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, pilihlah seorang pengganti bagi kami, Beliau berkata. “Tidak, aku takut kamu akan terbagi mengenai dia, sebagaimana anak-anak Israel menjadi terbagi perihal Harun, tetapi jika Allah mengetahui setiap kebaikan pada kamu, Ia akan memilihkan untuk kamu (seorang pemimpin). (1) (Murtada: Al-Shafi, vol. 4, hal. 149 dan vol. 3, hal. 295).

Kulayni berkata di dalam ‘Al-Kafi’, bahwa ia melaporkan dari Imam Ja’far bin Muhammad Sadiq: ‘Ketika Rasulullah (SAAW) berada di atas tempat tidur kematiannya, ia memanggil Abbas dan Amir Al-Muminin, dan kemudian ia berkata kepada Abbas “Wahai paman Muhammad… kamu akan mengambil warisan/ pusaka Muhammad, membayar kembali hutangnya dan memukul mundur musuhnya”. Ia menjawab Beliau sambil berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan ibu dan bapakku menjadi tebusanmu, saya adalah orang tua dengan banyak tanggungan dan sedikit kekayaan, siapa yang mampu memikul tanggung-jawabmu?” Beliau menurunkan kepalanya sebentar dan kemudian Beliau berkata lagi, “Wahai Abbas, maukah kamu mengambil warisan/ pusaka Muhammad, memukul mundur musuhnya dan membayar kembali pinjamannya?”. Ia menjawab seperti sebelumnya….. Beliau kemudian berkata “Pasti, aku akan memberikannya kepada seseorang yang akan mengambilnya dan semua tanggung jawab yang berhubungan dengan hal itu.” Kemudian Beliau berkata: “Wahai Ali! wahai saudara Muhammad, maukah kamu memukul mundur musuh Muhammad, membayarkan kembali pinjamannya dan tetap berpegang pada warisannya? Ia berkata, “Ya, biarkan bapak dan ibuku menjadi tebusanmu”. ‘Demikianlah Ali, sahabat terkasihku’. (2) (Kulayni: Al-Kafi, vol. 1 hal. 236 dari Muhammad bin Hussain dan Ali bin Muhammad dari Sahl bin Ziyad dari Muhammad bin Walid, al-Sirafi dari Iban bin Uthman dari Abu Abdullah).

Wasiyyah ini seperti yang dapat dilihat, adalah suatu kehendak pribadi biasa yang tidak berkaitan dengan politik atau Imamah dan kepemimpinan religius. Nabi (SAAW) pada mulanya telah meletakkan wasiat itu kepada Abbas bin Abd-Al-Muttalib, yang menjadi khawatir terhadapnya, tetapi Imam Ali menerimanya dengan sukarela.

Ada wasiat lain di mana Syekh Mufid biasa melaporkan dalam beberapa bukunya, dari Imam Amir Al-Muminin Ali (AS) yang mengatakan bahwa Rasulullah (SAAW) telah mempercayakan wasiat itu kepadanya sebelum kematiannya. Ini adalah sebuah wasiat umum yang bersifat spiritual dan etis, dan berhubungan dengan berbagai hal tentang amal sholih dan kemurahan hati. (3) (al-Mufid: Amali hal. 220; Majlisi No. 21 dan Al-Mufiid: Al-Irshad, hal.188).

Jika kita melemparkan sebuah kerlingan terhadap hadits ini, yang disebutkan oleh poros Syi’ah Imamiah seperti Kulayni, Mufid dan Murtada, kita akan melihat tidak adanya wasiat apapun dari Rasulullah kepada Imam Ali tentang (isu) Khilafah dan Imamah dan Beliau meninggalkan perkara seperti ‘Syura’ (isu konsultatif). Isi laporan ini menjelaskan keengganan Imam Ali pada saat pengambilan janji setia (bai’ah) bagi dirinya setelah kematian Nabi, di samping desakan tegas dari Abbas bin Abd Al-Muttalib kepada dia untuk melakukan hal demikian, ketika Abbas berkata kepada dia: ‘Ulurkan tanganmu, aku akan memberikan sumpah kesetiaanku kepada kamu, dan aku akan membawa Syekh dari Quraish ini kepada kamu -yaitu Abu Sufyan-, dan akan dikatakan bahwa paman Rasulullah telah memberikan kesetiaan kepada putra pamannya? Kemudian tak seorangpun dari Quraish akan menentang terhadap kamu; dan orang-orang yang lain mengikuti Quraish’. Imam Ali menolak hal (penawaran) itu. (4) (Murtada: al-Shafi, vol. 3, hal. 237 dan seperti itu pada pada vol. 2, hal.149).

Imam Sadiq telah melaporkan dari bapaknya, yang melaporkan dari bapaknya, bahwa ketika Abu Bakr ditetapkan sebagai Khalifah, Abu Sufyan datang kepada Imam Ali dan ia berkata kepada Beliau, “apakah kamu setuju, wahai anak-anak Abd Manaf, bahwa ‘Taym’ akan menjadi pemimpin kamu? Ulurkanlah tanganmu aku akan memberikan kesetiaanku kepada kamu, demi Allah, aku akan mendukung Abu Fusail dengan manusia dan kuda“. Imam Ali meninggalkan dia dan kemudian berkata, “Celaka kamu wahai Abu Sufyan, ini adalah salah satu dari kelicikanmu, semua orang sudah menyetujui (kepemimpinan dari) Abu Bakr. Kamu masih menginginkan pada Islam kejahatan Jahiliyyah (masa sebelum Islam) padahal kamu di dalam Islam? Aku bersumpah demi Allah. Tidak akan pernah membawa kejahatan apapun kepada Islam, sekalipun kamu masih merupakan sumber perselisihan (fitnah)”. (5) (Murtada: al-Shafi, vol. 3 hal. 252 dan 237 dan Ibn Abi al-Hadid: Sharh Nahj al-Balaghah vol. 1 hal. 222).

1.1. KESADARAN IMAM ALI TENTANG PRIORITASNYA

Terdapat suatu konsensus diantara sejarawan dunia Sunni dan Syi’ah bahwa Imam Ali bin Abi Talib pada mulanya telah marah atas pemilihan Abu Bakr, dan ia tidak memberikan sumpah setiaannya kepadanya, tetapi ia duduk di rumahnya selama beberapa periode waktu; Beliau berkomentar terhadap keberatan Quraish (di Thaqifah Bani Saidah), bahwa mereka adalah pohon (asal) dari Rasulullah (SAAW) dengan mengatakan: ‘Mereka mengajukan argumentasi menjadi pohon (asal) (kenabian), tetapi gagal mengambil keuntungan dari buah (kenabian)’. (6) (Nahj al-Balaghah, hal. 98)

Sharif Ridha menyebutkan di dalam “Nahj al-Balaghah“ bahwa: Suatu hari Imam mengeluh terhadap Quraish dan berkata: “Wahai Allah tolonglah aku melawan Quraish dan mereka yang mendukungnya. Mereka yang sudah melayani kekerabatanku, berbalik menjauhi aku dan menyetujui seseorang yang lain’. (7) (Nahj al-Balaghah, hal. 336 Khutbah ke-217).

Di samping kesadaran Imam Ali bahwa ia paling layak menjadi Khilafah, ia di kemudian hari memberi sumpah kesetiaan kepada Abu Bakr, dan hal itu terjadi saat sejumlah besar muslim murtad (Riddan). Pada waktu itu Uthman bin Affan pergi kepadanya dan berkata kepadanya: “Wahai sepupuku, pasti tak seorangpun mau keluar memerangi orang-orang ini, jika kamu tidak pernah memberikan sumpah kesetiaanmu!’ Kemudian ia meminta Abu Bakr untuk datang kepadanya, ketika Abu Bakr datang, ia (Ali) berkata kepadanya, “Aku bersumpah demi Allah, kita tidak bersaing dengan kamu apa yang Allah telah anugerahkan kepada kamu kebaikan dan kemurahan, tetapi kita berfikir bahwa kita mempunyai saham dalam urusan ini tetapi kita kewalahan. Ia berkata kepada muslim: “Tidak ada sesuatupun yang mencegah aku untuk memberikan janji kesetiaan kepada Abu Bakr, kecuali bahwa aku mengetahui hak dia (dalam urusan ini), tetapi kita melihat bahwa kita mempunyai saham dalam urusan ini, dan kita kewalahan. Kemudian ia memberikan janji kesetiaan kepada Abu Bakr. Muslim (yang hadir) berkata: ‘Engkau sudah melakukan apa yang benar dan apa yang baik….”  (8) (Murtada: Al-Shafi, vol-3, hal. 242).

Tidak diragukan lagi bahwa penolakan Imam Ali untuk segera memberikan janji setia kepada Abu Bakr (setelah pemilihannya), adalah karena fakta bahwa ia melihat dirinya adalah orang yang paling pantas sebagai Khalifah. Hal itu adalah benar; atau hal itu karena mempercayai akan perlunya mengambil bagian dalam Syura dan tidak diperbolehkannya seseorang selain dari dia merebut kuasa tanpa hak yang seharusnya. Aman dari Bani Asad telah bertanya kepada Beliau: ‘Bagaimana kaummu menolakmu tentang posisi ini ketika kamu adalah orang yang paling layak untuk itu? Ia menjawab, ‘Wahai saudara Bani Asad… karena seseorang mengambil posisi ini dengan paksa, ketika kami adalah yang terdekat dalam hubungan kekerabatan dengan Rasulullah dan yang paling dihormati, hal itu karena mementingkan diri sendiri di mana jiwa-jiwa sangat kaya. (9) (Kulayni: Rawdah al-Kafi, hal. 231 khutbah 162; Al-Shoduuq: ‘Ilal- al-Shara’i’  vol. 1 hal. 146).

Imam Amir Mumin telah berkata dalam khotbahnya yang terkenal yang bernama Shaqshaqiyyah: “Demi Allah, si anu telah membusanai dirinya dengan itu (Khalifah) dan ia pasti mengetahui bahwa posisiku dalam kaitannya dengan itu adalah sama seperti posisi poros pada penggilingan. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tidak bisa terbang menuju ke arahku. Aku menaruh suatu selubung tertentu terhadap Khalifah dan menjaga diriku melepaskan dari itu. Kemudian aku mulai berpikir apakah aku perlu menyerang atau memikul/ bertahan dengan tenang, kegelapan yang membutakan dari kesengsaraan, di mana orang dewasa menjadi lemah dan yang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah ketegangan hingga ia menemui Allah (pada saat kematiannya). Aku menemukan bahwa ketabahan pada situasi itu adalah lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ada yang sedang menusuk di mata dan sesak di kerongkongan. Aku mengamati perampasan warisan/ pusakaku, hingga yang nomor satu melanjutkan perjalanannya, tetapi memindahkan kepada si anu setelah dia. Meskipun demikian aku tetap tabah walaupun periodenya panjang, dan kesengsaraan dari kekejaman, hingga ketika ia melanjutkan perjalanan kematiannya, ia meletakhan Kekhalifahan pada sebuah kelompok; dan menghargai aku untuk menjadi salah satu dari mereka. Tetapi Ya Allah! Apa yang aku harus lakukan atas Syura (konsultasi) ini? Adakah yang meragukan tentang aku sehubungan dengan yang pertama dari mereka, bahwa aku kini dipertimbangkan sebagai salah satu dari mereka ini?” (10) (Nahj al-Balaghah hal. 48 Khutbah ke-3).

Terdapat kisah yang lain, dari Zayd bin Ali, bahwa Imam Amir Al-Mu’minin telah berkata, “Orang-orang memberikan sumpah kesetiaan mereka kepada Abu Bakr, sementara aku lebih patut untuk pakaian itu, tetapi aku mengendalikan kemarahanku dan menunggu dan menurunkan dadaku rata dengan tanah (mengendalikan kemurkaanku).” (11) (Murtada: Al-Shafi vol 3 hal. 110).

Dalam khotbah-khotbah tersebut, Imam Ali bin Abi Talib menunjukkan bahwa dirinya adalah yang paling layak menjadi Khalifah dan sebagai orang yang lebih berhak untuk itu, karena keturunan Nabi adalah buah-buahannya, sedangkan Quraish adalah pohon (asal) dari Rasulullah. Ia tidak menunjuk keberadaan suatu dalil (nass) dari Rasulullah yang menetapkan dia sebagai penggantinya, atau yang menetapkan dia (Ali) sebagai Khalifah setelah Beliau. Kulayni melaporkan dari Imam Muhammad Baqir perkataanya: Imam Ali belum pernah memanggil (orang-orang) kepada dirinya dan ia telah menyetujui orang-orang tentang apa yang mereka lakukan dan menyembunyikan urusannya’. (12) (Kulayni: Rawdah al-Kafi hal. 246).

Jika Hadith Ghadir (baca Note) dipertimbangkan sebagai dalil dari Nabi yang paling jelas dan paling kuat mengenai imamah Amir Muminin (Ali), sebagian dari ulama yang lebih awal (salaf) Syi’ah Imamiah – seperti Sharif Murtada – menganggap hal itu sebagai sebuah dalil yang belum jelas dan rancu tentang isu Khilafah. Karena ia berkata di dalam (Al-Shafi) “Kita tidak mengklaim mengetahui secara pasti/ mutlak tentang dalil (di atas), juga tidak untuk diri kita maupun untuk berhadapan dengan lawan kita, dan kita tidak mengetahui siapa orangnya yang mengklaim hal itu” (13) (Murtada: Al-Shafi vol 2 hal. 128).

Oleh karena itu, para sahabat Nabi tidak memahami dari Hadith Ghadir atau Hadith lainnya, arti dari dalil secara spesifik atau penunjukan Khalifah. Karenanya, mereka memilih jalan syura sebagai cara memilih seorang pemimpin. Mereka kemudian memberikan sumpah kesetiaan mereka kepada Abu Bakr sebagai Khalifah sepeninggal Nabi (SAAW), yang dengan jelas menunjukkan bahwa tidak ada arti yang jelas tentang Khilafah bagi Imam Ali yang dapat disimpulkan dari dalil yang dilaporkan tersebut, atau tidak adanya dalil seperti itu pada zaman itu.

Note:

- Terdapat dua versi dari hadits Ghadeer, salah satunya hampir disepakati oleh kaum Muslim, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, dari Al-Bara bin ‘Azib, yang berkata: “Kami sedang bersama Rasul Allah (SAW) sedang dalam perjalanan, lalu kami singgah di Ghadir Khum, kemudian beliau memanggil kami unyuk sholat berjamaah, lalu kami membersihkan tempat diantara 2 pohon untuk Rasulullah (SAW), dan sholat Dhuhur. Setelah Sholat Rasulullah memegang tangan Ali bin Abi Thalib (RA) sambil bersabda: “Tidakkah kalian tahu bahwa aku ini lebih utama (AULIA) dari orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri?” para sahabat menjawab, “Benar! (Ya RasuluLlah)”, kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Tidakkah kalian tahu bahwa aku lebih utama (AULIA) dari tiap-tiap orang mu’min dibandingkan diri mereka sendiri?”, mereka menjawab, “Benar!” Kemudian Rasulullah memegang tangan Ali bin Abi Thalib (RA) sembari bersabda: “Orang-orang yang mengakui aku sebagai MAULA-nya, maka Ali sebagai MAULA-nya. Ya Allah! dukunglah orang-orang yg mendukung Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.” Al-Bara’ bin ‘Azib melanjutkan ucapannya, Kemudian Umar menemui Ali dan mengucapkan, “Selamat wahai ibnu Abi Thalib, engkau telah menjadi MAULA setiap mu’min dan mu’minah!”

Al-Hakim an-Naisaburi telah mengeluarkan hadits ini, melalui jalan Bukhari dan Muslim, dan Al-Albani mensahihkannya. Tetapi Ahlus Sunnah dan Syiah selain Imamiyah, menyangkal bahwa signifikansi hadits tersebut adalah tentang khilafah, sementara Syiah Imamiyah mengadopsi pengertian ini, meskipun beberapa di antaranya tidak diakui sebagai teks yang jelas dan eksplisit tentang Khilafah. Ada versi lain yang unik yang dikedepankan oleh Syiah Imamiyah, yang ditrasfer oleh al-Amini dalam bukunya (Al-Ghodir), dari Muhammad ibn Jarir al-Tabari dalam bukunya (al-Wilayah fi Thurug Ahadits al-Ghadir) dan dikeluarkan dengan isnad dari Zaid bin Arqam, yang menyatakan :” “Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepadaku ayat „Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan (apa yang diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah menjagamu dari (gangguan) manusia“ Sesungguhnya aku telah diperintahkan oleh Allah melalui Jibril supaya berdiri di tempat keramaian ini, dan memberitahukan (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku (akhii), washi-ku, penggantiku (kholifatii) dan imam sepeninggalku…… “Ketahuilah -wahai manusia- sesungguhnya Allah telah menetapkan Ali sebagai wali dan imam kamu, dan telah mewajibkan kepada setiap orang darimu untuk mentaatinya….“. “Dengarlah dan patuhilah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu dan Ali adalah pemimpinmu. Kemudian keimamahan dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada keturunan yang berasal dari tulang sulbinya, sehingga tiba hari kiamat.”….. Dan mereka adalah: (Nama-nama kedua belas Imam) … Jika saya adalah Maula-nya, maka Ali ini Maula-nya. Ke-Maulaan-nya adalah dari Allah SWT yang telah diturunkan kepadaku. Ingatlah, sungguh aku telah sampaikan. Ingatlah, sungguh aku telah perdengarkan. Ingatlah, sungguh aku telah aku jelaskan.”.

“Tidak diperkenankan siapa pun menyandang gelar Amirul Mukminin” (pemimpin orang-orang yang beriman) sepeninggalku selain dia.’ Kemudian Rasulullah saw mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu tingginya sehingga kakinya sejajar dengan lutut Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw berkata, “Wahai manusia, ini adalah saudaraku dan washi-ku, pemelihara ilmuku, khalifahku bagi orang yang beriman kepadaku …”. Pada riwayat lain disebutkan, “Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, musuhilah orang yang memusuhinya,….”. Al-Amini, Al-Ghodir Juz 1 hal. 214-216.

1.2. IMAM ALI DAN SYURA (KONSULTASI/ MUSYAWARAH)

Alangkah kuatnya fakta bahwa Syura adalah sistem yang konstitutional yang Imam Amir al-Mu’minin Ali bin Abi Talib mematuhinya; dan bukti bahwa Beliau tidak mempunyai pengetahuan tentang kepemimpinan turun-temurun secara vertikal dari Ahl al-Bayt, adalah keikutsertaannya dalam proses Syura setelah kematian Khalifah Umar bin Khattab, dan argumentasinya di depan anggota Syura perihal kesalihannya dan perannya dalam melayani Islam; demikian juga fakta bahwa ia tidak menunjuk isu tentang adanya dalil atau penetapannya sebagai Khalifah sepeninggal Nabi. Jika Hadith Ghadir bermakna penunjukan keimamahannya, tentu Imam akan merujuk kepadanya, dan Beliau pasti telah memperoleh kemenangan pada hari itu dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat dari pada menyebutkan kelebihannya/ kebaikannya.

Imam Ali percaya pada sistem syura dan hal ini menjadi hak yang pertama dan terpenting bagi Muhajirin dan Ansar. Karena itulah Beliau menolak untuk mengabulkan ajakan pemberontakan setelah pembunuhan Khalifah Uthman, dari orang-orang yang mengajak Beliau untuk mengambil kekuasaan, dan ia berkata kepada mereka “Ini bukanlah kekuasaanmu, ini adalah untuk Muhajirin dan Ansar, siapapun yang mereka pilih sebagai pemimpin akan menjadi pemimpin”.

Ketika Muhajirin dan Ansar datang kepadanya dan berkata, “Ulurkan tanganmu, kami akan memberimu sumpah kesetiaan kami”, Beliau meninggalkan mereka. Mereka mengulangi seperti yang pertama, dan Beliau juga meninggalkan lagi, dan mereka mengulangi hal itu untuk yang ketiga kalinya, kemudian Beliau berkata: “Tinggalkan aku dan carilah orang lain, dan ketahuilah, jika aku menanggapi kamu, aku akan melakukan pada kamu apa yang aku ketahui…. dan jika kamu membiarkan aku sendiri, aku hanyalah seperti salah satu dari kamu, aku akan menjadi yang paling setia dan taat kepada seseorang yang kamu pilih untuk melakukan urusanmu, bagiku menjadi wazir lebih baik bagimu dari pada menjadi pemimpin”. Beliau berjalan kepada Talhah dan Zubair dan mengutarakan kepada mereka dan berkata: ”Jika ada orang lain yang kamu inginkan, aku akan memberi dia sumpah kesetiaanku”. Mereka berdua berkata: “Tidak…orang-orang lebih menerima kamu (dibanding orang lain). Pada akhirnya Beliau berkata kepada mereka: “Jika kamu meminta dengan tegas, maka sumpah setia kepadaku/ “bay’ah” harus tidak rahasia, dan hal itu tidak akan dilaksanakan hingga setelah penerimaan dari massa Muslim (secara umum), sehingga aku akan keluar ke Masjid, siapapun yang ingin membai’ah kepadaku, biarkan dia melakukannya”. (14) (Tabari vol. 3 hal. 450).

Oleh karena itu, jika teori adanya “dalil” dan penunjukan ditetapkan dan diketahui muslim, maka tidak diperbolehkan bagi Imam (Ali) untuk menolak para “pemberontak”, dan kemudian menunggu ucapan dari Muhajirin dan Ansar, demikian juga tidak diperbolehkan bagi Beliau berkata: “menjadi wazir lebih baik bagi kamu dari pada menjadi pemimpin”. Juga tidak layak bagi Beliau untuk meletakkan kepemimpinan (Khilafah) tersebut di depan Talhah dan Al-Zubair, dan Beliau semestinya tidak perlu menunggi sumpah kesetiaan (bay’ah) dari muslim secara umum.

Terdapat kisah lainnya dari karya Salim bin Qays al-Hilali yang menyingkapkan kepercayaan Imam Ali terhadap Syura, dan hak Ummah untuk memilih pemimpinnya. Beliau berkata di dalam salah satu suratnya, “Apa yang menjadi wajib menurut hukum Allah dan Islam adalah bahwa Muslim, jika pemimpin mereka mati atau dibunuh, mereka mestinya tidak melaksanakan suatu tindakan ataupun sesuatu yang baru (bid’ah), ataupun bergerak dalam rangka melakukan sesuatu yang baru, kecuali jika mereka memilih untuk diri mereka seorang pemimpin yang bersih, yang terpelajar, cermat, dan berpengalaman dalam berbagai hal menyangkut undang-undang dan tradisi/ sunnah”. (15) (Kitab Salim bin Qays Al-Hilali hal.182; Majlisi: Bihar al-Anwar vol. 8 hal. 555 (edisi lama)).

Ketika Talhah dan Al-Zubair menolak, Beliau mengadakan pembelaan terhadap kasusnya atas dasar bai’ah mereka kepadanya, sambil berkata: “Kamu memberikan sumpah kesetiaanmu kepadaku dan sekarang kamu melanggarnya.” Beliau saat itu tidak menunjuk isu adanya suatu dalil dari Nabi Allah (SAAW) – tentang kekhalifahannya. Semua yang Beliau katakan kepada Al-Zubair yang menolak dan memerangi Beliau, adalah usaha Beliau untuk mengingatkan Zubair akan pernyataan Nabi (S.A.W), “Kamu akan memerangi dia, sementara kamu menjadi pelanggar (perjanjian)!”

Imam Ali juga berkata kepada Mu’awiyah yang memberontak melawan dia … Bai’at kepadaku di Madinah adalah mengikat kamu di Syam (Syria), karena orang-orang yang membai’at kepadaku, adalah orang-orang yang sama yang membai’at kepada Abu Bakr, Umar dan Uthman, sehingga yang hadir tidak punya alternatif lain untuk memilih, demikian juga yang tidak hadir tidak mempunyai hak untuk menolak. Sesungguhnya Syura adalah hak Muhajirin dan Ansar, bilamana mereka bermufakat pada seseorang, dan memanggil dia sebagai pemimpin (dari Ummah), padanya terdapat keridhoan Allah.’

Jadi, Syura adalah basis kepemimpinan sebagai hak Imam Ali, dan hal ini terjadi dengan tidak adanya teori Imamah Ilahiah (adanya dalil dan penunjukan atau pemilihan oleh Allah), yang tidak dijadikan rujukan oleh Imam Ali pada setiap kejadian.

Imam Ali memandang dirinya, tanpa diragukan lagi, sebagai orang biasa, yang tidak ma’sum, dan Beliau meminta Syi’ah, kepada muslim lainnya untuk memandang Beliau dengan pengertian seperti itu. Sejarah telah memelihara bagi kita suatu keajaiban dari banyak keajaiban yang diestafetkan oleh Kulayni di dalam al-Kafi, di mana Beliau berkata: “Aku di dalam diriku tidak bebas dari kekeliruan, dan aku tidak berpendapat bahwa tindakanku bebas dari kekeliruan, kecuali Allah mencukupi diriku, dengan apa yang Dia anugerahkan kepadaku’. (16) (Kulayni: Rawdah al-Kafi, hal. 292- 293; Majlisi: Bihar al-Anwar vol. 74 hal. 309).

Kepercayaan Imam Ali terhadap Syura (konsultasi) sebagai konstitusi untuk muslim, menjadi sangat jelas dalam proses Kekhalifahan Imam Hassan ketika Muslim datang kepada Beliau setelah serangan Abdul Rahman bin Muljan pada Beliau, yang meminta kepada Beliau untuk menunjuk putranya Hassan setelah Beliau (sebagai pemimpin), untuk itu Beliau berkata “Tidak, kami menghadap Nabi Allah dan berkata: ”Tunjuklah (bagi kami seorang pemimpin), dan Nabi berkata ”Tidak, aku takut bahwa kamu akan menjadi terpecah atas urusan ini, seperti Harun, tetapi jika Allah menemukan apapun yang baik di dalam hatimu, Dia akan memilihkan untuk kamu’. Syi’ah Ali meminta Beliau untuk menunjuk seseorang, tetapi Beliau tidak mau. Kemudian mereka berkata kepada Imam Ali: ”Jika kami kehilangan engkau, kami tidak akan kehilangan untuk memberikan sumpah kesetiaan kami kepada Hassan. Beliau berkata, “Aku tidak memerintahkan, maupun mencegah kamu, kamu dapat melihat mana yang lebih baik”. (17) (Murtada: Al-Shafi, vol. 3, hal. 295; Tathbit Dala’il al-Nubuwwah vol. 1 hal. 212).

Hafiz Abu Bakr Ibn Abi al-Dunya (208-281H) telah menyebutkan di dalam buku yang berjudul “Pembunuhan Imam, Pemimpin orang beriman”, dari Abdul Rahman bin Jundub dari bapaknya yang berkata: “Aku berkata: “Wahai! Pemimpin orang beriman, jika kami kehilangan kamu (jika kamu mati) dan kami tidak akan kehilangan, kami akan memberi sumpah kesetiaan kami kepada Hassan. Beliau berkata, “Aku tidak akan memerintahkan kamu (melakukan hal itu) maupun mencegah kamu”. Aku mengulangi apa yang aku katakan dan Beliau menjawab dengan cara yang sama. (18) (Tathbit Dala’il al-Nubuwwah, hal. 43).

Syekh Hassan bin Sulaiman telah menyebutkan di dalam ‘Mukhtasar Basair al-Darajat’ dari Salim bin Qays al-Hilali, yang berkata “Aku mendengar Ali berkata, ketika di dalam rombongan kedua putranya dan Abdullah bin Ja’far dan beberapa rekanan dekatnya (para pendukung): ‘Tinggalkan orang-orang dengan apa yang mereka pilih untuk diri mereka, dan pelihara sikap diam-diammu. (19) (Majlisi: Bihar al-Anwar. Vol. 7 bab tentang “Hadits yang diatributkan kepada Salim, tidak tersedia di dalam buku dia”).

Imam Ali, pemimpin orang beriman, telah memberikan wasiatnya kepada Imam Hassan dan anak-anaknya yang lain, tetapi Beliau tidak pernah menyebutkan isu kepemimpinan dan Khalifah, wasiatnya bersifat spiritual, etika dan pribadi, atau sebagaimana Syekh Mufid telah katakan di dalam Al-Irshad, wasiat tersebut adalah untuk Hassan mengenai keluarganya, anak-anak dan sahabatnya, tanggung jawabnya dan kedermawanannya’. (20) (Mufid: Al-Irshad, hal.187).

Wasiat Itu sebagai berikut:

“Ini adalah apa yang Ali bin Abi Talib wasiatkan. Ia mewasiatkan (memerintahkan) bahwa ia memberi kesaksian bahwa tidak tuhan kecuali Allah Sendiri, Ia tidak punya sekutu denganNya, dan memberi kesaksian bahwa Muhammad itu adalah hamba dan PesuruhNya, Allah mengirim Beliau dengan bimbingan dan agama kebenaran, yang Dia membuatnya memenangkan atas semua agama, sekalipun penyembah berhala (politheis) mungkin membencinya. Bahwa “Sesungguhnya, sholatku dan ibadahku, hidupku dan kematianku adalah (semuanya) bagi Allah, Tuhan semesta alam… dengan inilah aku diperintahkan, dan aku menjadi Muslim”. Kemudian aku memerintahkan kamu wahai Hassan dan seluruh keluarga dan anak-anakku dan kepada barangsiapa Kitabku menjangkau, bahwa kamu harus takut kepada Allah, Tuhanmu ‘Matilah kecuali sebagai Muslim’. Dan peganglah erat-erat, semua bersama-sama Tali yang mana Allah (rentangkan untuk kamu) dan janganlah berpecah-belah di antara diri kalian.” Aku mendengar Nabi Allah (SAAW) berkata: ‘selalulah berperilaku lurus (berdamai dalam) hubungan di antara kamu adalah lebih baik dari pada terlalu banyak puasa dan sholat (dalam hal memutus tali persaudaraan), kesalahan yang menghapuskan agama adalah memutuskan persaudaraan. Tidak ada kekuatan kecuali hanya dengan Allah. Peliharalah keluarga terdekatmu dan perbaiki hubunganmu dengan mereka, sehingga perhitungan akan menjadi cahaya bagimu. Takutlah kepada Allah mengenai urusan yatim piatu, kamu semestinya tidak meninggalkan mereka tanpa makanan (bahkan untuk hari lainnya), mereka semestinya tidak diabaikan dengan kehadiranmu. Takutlah kepada Allah mengenai urusan dengan tetanggamu, mereka adalah wasiat Rasulullah, karena Beliau selalu memerintahkan kita (untuk berbuat baik kepada mereka) hingga kepada tingkat di mana kita berpikir Beliau akan membagikan secara adil bagian warisannya kepada mereka. Takutlah kepada Allah mengenai perintah Al-Quran, sedemikian sehingga tidak ada orang lain yang akan bertindak dengannya sebelum kamu. Takutlah kepada Allah mengenai urusan Rumah Tuhanmu, urusan itu seharusnya tidak ditinggalkan selama hidupmu, karena jika urusan itu ditinggalkan, kamu tidak akan peduli antara satu dengan lainnya. Takutlah kepada Allah mengenai urusan Ramadhan, karena puasa merupakan sebuah perisai bagi kamu dari api neraka. Takutlah kepada Allah mengenai Jihad karena Allah dengan tangan, kekayaan dan lidahmu. Takutlah kepada Allah mengenai pembayaran Zakat untuk memadamkan kemarahan Tuhan. Takutlah kepada Allah dengan perjanjian dari Nabimu, ia semestinya tidak diperlakukan secara tidak adil di tengah-tengahmu. Takutlah kepada Allah mengenai apa yang dikuasai oleh tangan kananmu (para budak dan pelayan). Berhati-hatilah untuk tidak takut disalahkan dalam menerapkan perintah Allah. Adalah cukup bagi kamu (untuk diingat) “Bicaralah yang baik kepada semua orang” sebagaimana Allah telah memerintahkan kamu. Jangan meninggalkan ‘mengajak yang baik dan melarang kejahatan (Al-Amr bi Al-Maruf Wa al-Nahy an al-Munkar)’, agar yang terburuk di antara kamu tidak memerintah kamu, dan terhindar jika yang terbaik di antara kamu jika berdoa, doa mereka tidak akan diterima. Aku menasehati kamu anak-anakku dengan melihara persaudaraanmu dan kedermawanan. Aku mendesak kamu melawan terhadap memutuskan persaudaraan, bersaing dalam menimbun kekayaan dan berpecah-belah. ‘Tolong-menolonglah satu sama lain dalam kebaikan dan kesalehan; tetapi tidak bantu-membantu satu sama lain dalam dosa dan pelanggaran. Takutlah kepada Allah – dengan sungguh-sungguh, hukuman Allah sangat pedih.’ Semoga Allah melindungi kamu, anggota Ahl al-Bait (Nabi (SAAW)), semoga Dia memelihara (pesan) dari Nabimu dalam dirimu. Aku menawarkan kamu selamat jalan. Kudoakan semoga kedamaian, kemurahan hati dan berkat Allah dilimpahkan kepadamu”. (21) (Hafidh Abu Bakr bin Abi al-Dunya: Maqtal al-Imam Amir al-Muminin, hal. 41-42 (ed. Mustapha Murtada al-Qazwini, diterbitkan -Markaz Al-Dirasat wa al- Buhuth al-Ilmiyya, Beirut.)).

Dengan alasan wasiat yang berharga tersebut di atas, yang isinya bersifat spiritiual dan etis ini, tidak memainkan peran apapun dalam merekomendasikan Imam Hassan sebagi Khalifah, karena sama sekali tidak adanya petunjuk yang jelas ke arah itu. Juga bukan merupakan suatu alternatif pengganti dari sistem Syura di mana anggota keluarga nabi berpegang kepadanya sebagai konstitusi muslim.

1.3. IMAM HASSAN DAN SYURA

Ibn Abi al-Hadid telah menyatakan di dalam ‘Sharh Nahj- al Balaghah’: ‘Ketika Ali (AS) meninggal, Abdullah bin Abbas bin Abdulmutallib keluar menemui orang-orang dan berkata, ia telah meninggalkan seorang pengganti. “Jika kamu suka, ia akan tampil kepada kamu, dan jika kamu tidak suka, maka tidak ada seseorang di atas siapapun.” Orang-orang menangis (ketika mendengar ini) dan berkata “Tidak, ia harus tampil kepada kami”. (22) (Ibn Abi al-Hadid: Sharh Nahj al-Balaghah vol. 4, hal. 8, hal. 13 dan Muruj al-Dhahab, vol. 2, hal. 44).

Seperti dapat dilihat bahwa Imam Hassan dalam pemberian sumpah kesetiaan (bai’ah), tidak bergantung pada penyebutan dalil apapun mengenai dia dari Nabi (SAAW) atau dari bapaknya, Imam Ali. Ibn Abbass menunjukkan status Imam Hassan, ketika ia mengingatkan muslim bahwa Hasan adalah putra dari putri Nabi (SAAW). Ia menyebutkan bahwa Hasan adalah orang yang direkomendasikan (Wasiy) oleh Imam Ali (AS), tetapi ia tidak menunjukkan bahwa dasar dari ajakan untuk membai’at Hasan adalah sebuah dalil atau wasiat tentang kepemimpinannya.

Hal ini menjelaskan pendirian Imam Hassan terhadap sistem Syura dan hak Ummah untuk memilih pemimpinnya. Keyakinan ini menjadi begitu jelas secara mencolok untuk yang kedua kalinya, ketika ia meletakkan busana kepemimpinannya kepada Mu’awiyah, dan prasyaratnya kembali pada prinsip Syura yang sama setelah kematiannya. Ia menyebutkan sebagai bagian dari kondisi-kondisi (prasyarat) untuk perdamaian/ rekonsiliasi: “bahwa Mu’awiyah tidak mempunyai hak untuk menyerahkan kekuasaan kepada seseorang setelah dia, tetapi isu kepemimpinan tersebut akan dipecahkan melalui konsultasi (syura) di antara muslim’. (23) (Majlisi: Bihar al-Anwar, vol. 44 hal. 65, Bab tentang bagaimana mendamaikan Sejarah Imam Hassan Mujtabah dan Fitnah yang besar, vol. 2, hal. 183).

Jika Khalifah telah ada atas pertolongan sebuah dalil (nass) dari Allah, dan penunjukan dari Nabi (SAAW), seperti yang dikatakan oleh teori Imamiah, maka tidak diperbolehkan bagi Imam Hassan untuk meletakkan kekuasaan, lalu diberikan kepada seseorang, pada keadaan apapun. Tidak diperbolehkan bagi Beliau, jika ada dalil itu, untuk membai’at kepada Mu’awiyah, dan menyuruh para sahabat dan pengikutnya memberikan bai’at kepada Muawiyah. Tidak diperbolehkan bagi Beliau mengabaikan Imam Hussain, dan semestinya akan telah menyinggung perasaan tentang perlunya penunjukan dia setelah Hasan. Tetapi Imam Hassan tidak melakukan hal ini; Beliau menunjukkan reaksi dengan cara yang mengungkapkan dukungannya pada hak muslim untuk memilih Khalifah mereka melalui prinsip Syura (lihatlah isi perjanjian antara Imam Hasan dan Muawiyyah).

1.4. IMAM HUSSAIN DAN SYURA

Imam Hussain tetap setia terhadap sumpah kesetiaannya kepada Mu’awiyah hingga hari terakhir dari surat tersebut, dan ia menolak tawaran dari Syi’ah Kufah untuk bangkit melawan Mu’awiyah setelah kematian Imam Hassan. Ia menyebutkan bahwa ada sebuah perjanjian antara dia dan Mu’awiyah, yang tidak akan dilanggar. Ia tidak memanggil orang-orang kepada dirinya hingga setelah kematian Mu’awiyah, yang melanggar persetujuan perdamaian/ rekonsiliasi tersebut, dan menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Yazid sebagai Khalifah setelah dia. Imam Hussain menolak untuk memberikan sumpah kesetiaannya kepadanya, dan mendesak akan pergi ke Iraq, yang membawa kesyahidan Beliau di Karbala pada tahun 61 AH. (24) (Mufid: Al-Irshad. hal. 199).

Syekh Mufid mengungkapkan bahwa Imam Hussain tidak memanggil siapapun kepada Imamahnya sepanjang pemerintahan Mu’awiyah. Ia menjelaskan hal itu sebagai taqiyyah dan gencatan senjata antara dia dan Mu’awiyah, dan ia memenuhi persetujuan di pihaknya hingga kematian Mu’awiyah. (25) (Mufid: Al-Irshad. hal. 200).

Tidak ada jejak apapun dari teori adanya dalil Imamah Ilahiah pada peristiwa Karbala, demikian juga pada surat Syi’ah Kufah kepada Imam Hussain dan undangan mereka kepadanya agar datang ke Syi’ah yang berkumpul di Kufah di rumah Sulaiman bin Sard al-Khuza’i dan mereka memuji Allah dan berterimakasih kepadaNya. Sulaiman bin Sard berkata: “Mu’awiyah sudah mati dan Hussain telah mengelakkan diri menerima sumpah kesetiaan dari orang-orang (kepada dirinya). Ia telah pergi ke Makkah dan kamu adalah para pengikut dan para pendukungnya dan para pendukung bapaknya. Jika kamu tahu bahwa kamu akan membantu dia dan memerangi musuhnya, dan bahwa kita akan mengorbankan diri kita demi kepentingannya, maka tulislah kepadanya dan biarkan dia sadar (mengenai hal itu); dan jika kamu khawatir gagal dan kelemahanmu, kamu sama sekali tidak boleh membohongi orang tersebut”. Mereka (penduduk Kufah) menjawab, ‘Tidak, kami akan memerangi musuhnya dan mengorbankan diri kami untuk tebusannya. Ia kemudian berkata, “Tulislah surat kepadanya!”. Mereka menulis: ‘Kepada Hussain bin Ali dari Sulaiman bin Sard dan Musayyib bin Najiyyah, Rifa’ah bin Shaddad al-Bujali, Habib bin Madhahir, dan para pengikut dan para pendukungnya dan muslimin Kufah; Semoga kedamaian atas kamu, kami memuji Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Ia tidak punya mitra….… Setelah itu: Semua pujian hanya kepada Allah yang menghukum raja lalimmu dan musuh keras kepala yang merenggut dari Ummah ini urusannya dan mengambilnya dengan kekerasan dari pemiliknya yang syah, dan menjadi seorang pemimpin lebih dari hal itu, tanpa persetujuannya, dan kemudian membunuh yang saleh dan yang baik di antara mereka, dan meninggalkan yang terburuknya; ia perlakukan harta Allah berputar di antara orang yang kejam dan yang kaya, maka musnahlah dia, seperti musnahnya Thamud! Ia bukanlah seorang pemimpin kami, datanglah kepada kami, jika sekiranya Allah akan mendamaikan kami kepada kebenaran. Nu’man bin Bashir berada di dalam istana, kami tidak menemuinya baik pada sholat Jumat ataupun sholat Eid! Jika hal itu menjangkau kami bahwa kamu di depan kami, kami akan mengusir dia ke luar hingga kami mengirim dia ke Syria dengan kehendak Allah”. (26) (Mufid: Al-Irshad. hal. 204)

Ia menulis kepada mereka: “Dari Hussain putra Ali kepada para pemimpin di antara mukmin dan muslim… Setelah itu, sungguh benar bahwa Hani dan Sa’id sudah datang kepadaku membawa suratmu, dan mereka adalah para pesuruh yang harus datang kepadaku dari kamu, dan aku sudah memahami semua yang sudah kamu ceriterakan dan katakan, perihal pernyataan kebanyakan dari kamu yang ini: “Kami tidak mempunyai seorang pemimpin (Imam), datanglah, ada kemungkinan bahwa Tuhan akan mendamaikan di antara kami pada bimbingan dan kebenaran”. Dalam kaitan dengan ini, aku sedang mengirim kepada kamu saudara dan sepupuku dan seorang yang aku percayai, dari keluargaku, Muslim bin Aqil. Jika ia menulis kepadaku bahwa pikiran, kehormatan dan kesalehan masyarakat di antara kamu telah sampai pada suatu konsensus perihal apa yang para utusan tersebut datang kepadaku dengannya, dan yang aku baca di dalam surat-suratmu, aku akan datang kepada kamu dengan segera, dengan rahmat Allah. Karena sesungguhnya, seorang pemimpin tidak lain adalah orang yang menghakimi menurut Kitab (Qur’an), orang yang menegakkan keadilan, orang yang menjalankan agama dengan kebenaran dan orang yang menanamkan semua jasanya karena Allah. Wassalam’.

Hal ini memperlihatkan bahwa konsep Imam menurut Imam Hussain tidak lain adalah orang yang menghakimi menurut Kitab (Quran), orang yang menegakkan keadilan, orang yang menjalankan agama dengan kebenaran dan orang yang menanamkan semua jasanya karena Allah. Beliau tidak menghadirkan teori baru apapun, misalnya tentang Imam yang ma’sum yang ditetapkan oleh Allah (melalui dalil dari Nabi); Beliau juga tidak menuntut Khilafah sebagai hak pribadi Beliau, karena menjadi putra Imam Ali, atau ditunjuk oleh Allah. Karena hal inilah, ia tidak berpikir untuk memindahkan Imamah kepada salah satu dari anak-anaknya, ia tidak memberikan sebuah wasiat (Imamah) kepada putra satu-satunya yang masih hidup Ali Zayn al-Abidin”. Ia hanya menasehati saudarinya Zaynab atau putrinya Fatimah, dan wasiatnya adalah sesuatu yang biasa, berkaitan dengan urusan pribadinya, dan semua ucapannya sama sekali tidak menyangkut topik Imamah dan Kekhalifahan. (27) (Saduq Ali bin Babawaih: Al-Imamah wa al-Tabsirah Min al-Hayrah, hal. 198; Al-Saffar: Basair al-Darajat, hal. 148 dan 198).

1.5. PENGASINGAN DIRI IMAM ZAYN AL-ABIDIN

Apa yang selanjutnya memastikan tidak adanya teori Imamah Ilahiah pada zaman itu, adalah tidak disebutkannya hal itu oleh Imam Ali bin Hussain, di dalam khotbahnya yang terkenal yang diberikan secara terus terang dan berani di depan Yazid bin Mu’awiyah, di dalam Mesjid Umayyah, ketika Beliau ditangkap dan dibawa ke Syria. Ia berkata di dalam khotbah tersebut: ”Wahai manusia! Kami telah diberi enam (kebaikan) dan telah dilebihkan dalam tujuh (keutamaan): Kami telah dianugerahi pengetahuan, kesabaran, toleransi dan keluwesan, keberanian dan cinta di hati masyarakat. Dan kami telah diberi keutamaan atas Ummah ini karena Nabi (SAAW) adalah dari kami, demikian juga Siddiq, Jafar al-Tayyar, singa Allah dan NabiNya dan kedua cucunya. Ia kemudian menyebutkan Imam, pemimpin mukminin (Ali) dan berkata: “Aku adalah putra dari orang mukmin yang saleh, dan pewaris Nabi, lebah jantan muslim, cahaya Mujahidin, pejuang melawan pelanggar (perjanjian), penindas dan pembuat bid’ah, aku adalah pembubar rombongan besar, yang paling berani dari mereka pada saat penderitaan, dan yang paling kuat dalam ketabahan, yaitu kakek dari cucunya, Ali bin Abi Talib’.

Imam Zayn al-Abidin dalam khotbahnya yang berani tidak menyinggung isu wasiat atau Imamah Ilahiah, atau hukum Imamah yang turun-temurun dengan dalil. Ia tidak berkata kepada orang-orang, bahwa ia adalah Imam (yang ke empat) yang sah secara hukum, yang harus dipatuhi setelah bapaknya Imam Hussain. Imam Zayn al-Abidin telah puas dengan pembicaraan perihal kebaikan keluarga Nabi, dan kualitas kebaikan Imam Ali, dan prestasi historisnya.

Imam Ali bin Hussain memberikan sumpah kesetiaannya kepada Yazid bin Mu’awiyah, setelah peristiwa (pertempuran) Harrah. (28) (Kulayni: Al-Kafi, al-Rawdah, hal.196). Ia menolak untuk memimpin Syi’ah, yang meminta untuk membalas dendam atas pembunuhan bapaknya Imam Hussain, yang sedang menyiapkan untuk melakukan suatu pemberontakan, ataupun ia mengakui Imamah, atau berjuang untuk itu, sebagaimana Syekh Saduq telah katakan, “Beliau menjauhi masyarakat dan tidak menemui seseorang, atau orang menemui Beliau, kecuali sahabat terdekatnya. Beliau mengabdikan dirinya pada ibadah kepada Allah; hanya sedikit pengetahuan telah datang dari Beliau. (29) (Saduq: Ikmal al-Din, hal. 91)

Syekh Saduq secara serius melebih-lebihkan, dengan cara yang tidak logis, ketika ia menceriterakan dari Imam Sajjad: Bahwa ia sedang mendesak Syi’ah untuk mengalah kepada penguasa dan mematuhi dia, dan memelihara untuk tidak menjauh dari dia, dan untuk menyingkir dari kemarahannya. Ia mencurigai pemberontakan tersebut yang bertanggung jawab memunculkan tekanan yang dihukumkan kepada mereka dari penguasa tersebut. (30) (Saduq: Al-Amali, hal. 396; Majlisi, hal. 59)

1.6. PEMILIHAN SULAIMAN BIN SARD AL-KHUZA’I SEBAGAI PEMIMPIN SYI’AH

Jadi, sebagai hasilnya, kepemimpinan menjadi vakum, sebagai contoh, Syi’ah di Kufah menunjuk Sulaiman bin Sard al-Khuza’i sebagai pemimpin mereka, setelah pembunuhan Imam Hussain. Itu terjadi ketika mereka sebanyak lima dari para pemimpin mereka berkumpul, dan Musayyib bin Najibah berkata ditujukan kepada mereka: “Wahai orang-orang! Pilihlah seorang di antara kamu sebagai pemimpinmu; sebab kamu tidak dapat melakukan tanpa seorang pemimpin (Amir) untuk ditaati, dan sebagai pusat untuk berputar di sekelilingnya. Rifa’ah bin Shaddad kemudian berdiri dan mengulang pernyataannya sambil berkata: “Kamu berkata bahwa pilihlah seorang di antara kamu sebagai pemimpinmu, kamu dapat mentaati dan berputar-putar di sekitar panjinya, kami mengulang pendapat tersebut, dan jika kamu orangnya, maka kamu akan diterima oleh kami, seseorang yang akan menasehati kami dan mencintai kelompok kami; tetapi kamu pemberi pendapat, dan yang lainnya juga melihat bahwa ini (kepemimpinan) semestinya pergi kepada Syekh (pemimpin) Syi’ah, sahabat Nabi (SAAW) dan seorang pelopor -Sulaiman bin Sard, orang yang teguh dan tegas” kemudian Abdullah bin Wal dan Abdullah bin Sa’ad berbicara. Mereka memuji Allah dan memuliakanNya… Musayyib bin Najibah kemudian berkata, kamu benar dan sudah mencapai keberhasilan, aku berpendapat yang sama seperti anda semua”. Maka mereka memilih Sulaiman bin Sard sebagai pemimpin mereka. (31) (Tarikh al-Tabari: vol. 7 hal. 48)

Sulaiman bin Sard al-Khuza’i memimpin pergerakan pembalasan dendam kepada para pembunuh Hussain. Kejadian ini dikenal sebagai pergerakan Pertobatan (al-Tawwabin).

Ketika Mukhtar bin Ubaidah al-Thaqafi mendirikan pergerakannya di Kufah, ia menulis surat ditujukan kepada Ali bin Hussain untuk memanggil dia, ia akan memberikan sumpah kesetiaannya kepadanya (Ali), dan Beliau diharapkan memproklamirkan Imamah, dan menyebarkan panggilannya. Ia mengirim kepada Beliau harta benda yang banyak. Tetapi (Ali) menolak untuk menerima semuanya itu dari dia, atau bahkan untuk menjawab suratnya. Ketika Mukhtar putus asa terhadap Beliau, ia menulis surat kepada pamannya, Muhammad bin Hanafiyyah, menuntut hal serupa dari Beliau. Beliau memulai memproklamirkan Imamahnya. (32) (Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 3, hal. 84).

Muhammad bin Hanafiyyah benar-benar telah mengambil kepemimpinan Syi’ah, dan telah mengajukan pendirian negara bagi Mukhtar bin Ubaidah al-Thaqafi di Kufah.

Kenyataan di atas untuk ke sekian kalinya memastikan bagi kita tentang tidak adanya pengetahuan massa Syi’ah pada zaman itu tentang adanya dalil Imamah Ilahiah, sehingga mereka memilih pemimpin mereka berdasarkan kelayakan dan kesediaan yang bersangkutan baik dari anggota Ahlul Bait maupun tidak, baik dari keturunan Husein maupun tidak.

1.7 AHL AL-BAIT DAN SYURA

Imam dari Ahl al-Bayt percaya pada hak umat Islam untuk memilih para pemimpin mereka. Mereka juga percaya pada perlunya mempraktekkan konsultasi (Syura), dan mengutuk pergerakan memperoleh kekuasaan dengan cara kekerasan. Hal ini agaknya seperti yang kita temukan di dalam hadith yang dilaporkan oleh Saduq (di dalam Uyun Akhar al-Ridho) dari Imam Ridha dari bapaknya Kadhim, dari bapaknya, Ja’far Sadiq, dari bapaknya Muhammad Baqir dari kakeknya, Rasulullah, di mana Beliau berkata, “SIAPAPUN YANG MENDATANGI KAMU, DENGAN NIAT MEMECAH-BELAH MASYARAKAT, DAN MERENGGUT DARI UMMAH HAKNYA, DAN INGIN MENJADI PEMIMPIN TANPA KONSULTASI (SYURA), BUNUHLAH DIA, ALLAH YANG MAHA KUASA TELAH MENGIJINKAN HAL ITU. (33) (Mas’udi: Muruj al-Dhahab, vol. 2 hal. 62).

Kita dapat melihat dari hadith ini, ungkapan terbaik mengenai keyakinan dari Imam Ahl al-Bait tentang konsultasi (Syura) dan konsistensi mereka mengenai hal tersebut. Jika mereka memanggil orang-orang agar mengikuti dan mematuhi mereka, mereka dengan mudah dapat melakukannya, karena adanya kepercayaan mereka perihal ketinggian dan lebih patutnya menjadi pemimpin (Khilafah) dari pada “Khalifah” yang tidak dijustifikasi dengan Qur’an, dan tidak menegakkan keadilan atau mempraktekkan agama secara sungguh-sungguh.

Jadi, melalui konsep kelayakan/ kepatutan, generasi Syi’ah yang awal, terutama pada abad yang pertama Hijrah berkata: “Sesungguhnya Ali adalah yang paling layak di antara manusia setelah Rasulullah (SAAW), dalam kaitan dengan kebaikannya dan kepeloporannya (peranan di dalam Islam) dan pengetahuannya. Ia adalah manusia yang paling baik setelah Nabi (SAAW), yang paling berani, yang paling dermawan, yang paling zuhud di antara manusia. Tetapi lepas dari itu, mereka mengesahkan kepemimpinan Abu Bakr dan Umar dan menganggap mereka, sebagai yang berkualifikasi untuk posisi terhormat itu. Mereka menyebutkan bahwa Ali menyerahkan urusan tersebut kepada mereka, menerima hal itu dan dengan secara sukarela memberikan sumpah kesetiaannya kepada mereka, tanpa dipaksa melakukan hal itu, ia melepaskan haknya kepada mereka, maka kami juga menerima apa yang muslim telah menerima dari dia, dan kepada orang yang ia memberikan kesetiaannya. Apapun selain dari ini tidak diperbolehkan bagi kami, dan tidak ada apapun akan mencukupi setiap orang dari kami selain dari ini. Maka kepemimpinan Abu Bakr menjadi benar dan diterima karena penerimaan Ali terhadapnya.” (34) (Nukhbati: Firaq al-Syi’ah hal. 21; Ashari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 18).

Sementara itu Sekte Syi’ah lainnya berkata “Ali adalah manusia yang terbaik, karena hubungan eratnya dengan Rasulullah, dan peran kepeloporannya dan pengetahuannya. Tetapi adalah sah bagi muslim untuk memilih selain dari dia sebagai pemimpin mereka, jika pemimpin yang akan dipilih berkualitas, apakah ia suka atau tidak menyukai hal itu. Kepemimpinan seorang pemimpin ditetapkan oleh mereka, dengan penerimaan mereka, yang benar, terbimbing dan taat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Ketaatannya adalah suatu kewajiban (yang dibebankan) oleh Allah.’ (35) (Nukhbati: Firaq al-Syi’ah hal. 421; Ashari: Al-Maqalat wa al-Firaq hal. 18)

Fraksi yang lain dari mereka berkata; ”Imamah (kepemimpinan) tentang Ali telah ditetapkan pada saat ia dipanggil oleh muslim (untuk menerima dia sebagai Imam) dan ketika ia menampakkan urusannya.” (36) (Nukhbati, Firaq al-Syi’ah hal. 54 )

Telah dikatakan kepada Hassan bin Hassan bin Ali, orang yang tertua dari Talibiah pada zaman itu, dan salah seorang yang kepadanya bapaknya memberikan wasiat, dan penjaga kepercayaan kakeknya, “Bukankah Rasulullah berkata, “Siapapun yang aku adalah walinya, maka Ali baginya wali”? Ia menjawab, “Ya, tetapi demi Allah, Rasulullah tidak mengartikan Imamah dan kekuasaan, jika Beliau mewasiatkan hal itu Beliau akan menegaskan hal itu…” (37) (Ibn Asakir: Al-Tahdihib, vol. 4 hal. 162)

Putranya, Abdullah, biasa berkata: “Dalam urusan ini kami tidak mempunyai, apa yang orang lain tidak punya, dan tidak seorangpun dari ahlul bayt Nabi adalah Imam yang ketaatannya diwajibkan oleh Allah”. Ia biasa memperdebatkan pernyataan yang menyatakan bahwa Imamah Amir Al-Muminin (Ali) adalah dari Allah. (38) (Al-Saffar: Basair al-Darajat, hal. 153 dan 156)

Ini bermakna bahwa teori adanya suatu dalil (yang menetapkan para Imam tersebut) dan kepemimpinan yang turun-temurun hanya di antara anggota keluarga Nabi (Ahl Al Bayt), tidak ada pada generasi pertama Syi’ah.

Jadi, pandangan mereka pada kedua sahabat besar, Abu Bakr dan Umar, adalah positif, karena mereka tidak menganggap keduanya sebagai perampas kekuasaan kekhalifahan, yang ditinggalkan oleh Rasulullah (SAAW) sebagai hal yang dipecahkan oleh konsultasi (Syura) di antara muslim. Dan bahwa Nabi tidak menunjuk seseorang secara spesifik dengan sebuah dalil atau keputusan hukum. Hal ini menjelaskan perintah Imam Sadiq kepada para pengikutnya untuk menerima kepemimpinan mereka.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: