AHLUL BAIT menurut AL-QURAN

TERM AHL AL-BAIT

Istilah “Madinatul-Nabi” diterjemahkan menjadi “Kota Nabi”. Kata ini akhirnya disingkat menjadi “Madinah”, walaupun jika diterjemahkan secara bahasa hanya bermakna “kota,” yang sebenarnya mengacu pada Kota Nabi (yaitu kota yang dahulunya disebut Yatsrib, dan sekarang dianggap kota paling suci kedua bagi umat Islam).

Istilah “Ahli Bayt Muhammad” diterjemahkan menjadi “Orang-orang dari Rumah Muhammad”. Frasa ini juga disingkat menjadi hanya “Ahl al-Bayt” saja, yang secara implisit frasa ini merujuk pada Rumah Nabi dan bukan orang lain. Selanjutnya diterjemahkan menjadi “orang-orang (anggota) dari rumah tersebut” dengan penekanan pada kata “tersebut (AL)” untuk menunjukkan rasa hormat yang diberikan kepada rumah tangga Nabi.

Baik Ahlus Sunnah maupun Syiah percaya pada pentingnya mengasihi Ahlal Bayt. Sekarang, pertanyaannya adalah: Siapa sebenarnya Ahli Bayt Muhammad itu? Jawaban atas pertanyaan ini cukup sederhana, yaitu bahwa pertama-tama dan terpenting istri-istri Nabi adalah Ahlel Bayt. Para istri Nabi memiliki hak yang paling tepat dan kuat untuk disebut sebagai Ahlel Bayt, melebihi dan di atas semua individu lainnya.

Definisi “Ahlel Bayt” menurut Kamus

Marilah kita definisikan terlebih dahulu kata “Ahlel Bayt”.

Agar lebih objektif, kita tidak akan mendefinisikan sendiri, melainkan dengan mengutip langsung dari situs Syiah yang paling populer, Al-Islam.org:

Al-Islam.org mengatakan:

..The term “ahl” signifies the members of a household of a man, including his fellow tribesmen, kin, relatives, wife (or wives), children, and all those who share a family background, religion, housing, city, and country with him…“Bayt” refers to habitation and dwelling, including tents and buildings both. The “ahl-al-bayt” of any person refers to his family members and all those who live in his house…..
( ….Istilah “ahl” berarti anggota rumah tangga seorang lelaki, termasuk sesama suku, keluarga, kerabat, istri (atau para istri), anak-anak, dan semua orang yang memiliki latar belakang keluarga, agama, rumah, kota, dan negara dengan dia … “Bayt” mengacu pada tempat tinggal dan tempat berteduh, termasuk tenda dan bangunan rumah. “Ahl-al-Bayt” dari seseorang mengacu kepada anggota keluarganya dan semua orang yang tinggal di rumahnya.)

sumber: http://al-islam.org/mot/default.asp?url=14ahlbayt.htm

Kami mendorong para pembaca untuk memverifikasi definsi ini dengan mengambil kamus bahasa Arab manapun. Ada tiga kata yang perlu dilihat dan dipelajari, yaitu: Ahl, Bayt, dan Ahl-Al-Bayt. Mari kita rangkum apa yang dinyakatakan oleh kamus bahasa Arab, meskipun hasilnya tak diragukan lagi akan hampir identik dalam setiap kamus.

Ahl (kata benda) berarti: kerabat termasuk istri, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan, dan sanak saudara lainnya, dan kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada sesaman suku.

Bayt (kata benda) berarti: rumah, tempat tinggal

Ahl-al-Bayt (kata benda), orang-orang yang mempunyai kaitan/ hubungan keluarga dengan seorang lelaki yang tinggal di rumahnya, terutama istri dan anak-anaknya yang belum menikah yang hidup di seatap dan disediakan untuk mereka oleh lelaki tersebut.

Bahkan, definisi utama dari Ahl Bayt adalah istri seorang lelaki. Dalam budaya Arab, akan dianggap tidak sopan jika memanggil istri seseorang dengan nama mereka yang sebenarnya, sehingga ketika menyebut istri seseorang hanya dengan menyebut “Ahl Bayt”. Hal seperti ini mungkin tidak dipahami oleh para Mullah atau Ayatollah dari Parsi.

Muslim pada umumnya

Muslim pada umumnya menganggap istri-istri Nabi adalah Ahlal Bayt. Hal ini sesuai dengan definisi kamus dari kata tersebut sebagaimana yang ditunjukkan di atas. Istri-istri Nabi adalah bagian dari Ahl Nabi, dan mereka tinggal di Bayt-nya. Oleh karena itu, sesuai informasi sejarah, Aishah dan Hafsah termasuk dalam Ahlel Bayt.

Syiah

Para Mullah atau Ayatullah Syiah tidak memiliki sudut pandang yang positif kepada para istri Nabi. Bahkan, Ayatullah Syiah memiliki “Baraa” (kebencian) kepada Aishah dan Hafsa. Hal ini adalah karena Ayatullah Syiah menyangkal bahwa istri-istri Nabi adalah Ahlal Bayt. Bahkan, banyak dari saudara kita Syiah (atau yang baru masuk Syiah) yang tidak paham bahasa Arab bahkan tidak menyadari apa definisi yang sebenarnya dan penggunaan istilah “Ahlel Bayt” tersebut karena mereka hanya mengikuti secara membuta (taqlid) kepada Ayatullah mereka.

Para Ayatullah mengatakan bahwa hanya empat orang yang merupakan bagian dari Ahle Bayt Muhammad, yaitu Ali, Fatima, Hasan, dan Hussain. Kami ingin bertanya atas dasar apa mereka membuat klaim ini. Mereka bukanlah Ahlel Bayt Muhammad, melainkan Ahlel Bayt Ali. Mereka adalah empat orang yang tinggal di rumah Ali, bukan rumah Muhammad. Hal ini disepakati baik oleh sejarawan Ahlus Sunnah dan Syiah bahwa Ali tidak tinggal di Bayt Muhammad, melainkan memiliki tempat tinggal sendiri, di mana Fatima, Hasan, dan Hussain juga tinggal di dalamnya.

Lebih dari itu Syiah Imamiyah juga memasukkan para imam mereka yang mereka anggap ma’shum ke dalam anggota Ahlel Bayt. Kami bertanya-tanya atas dasar apa mereka melakukan hal ini juga, karena tidak satupun dari orang-orang ini (selain Ali, Hasan dan Hussain) hidup di zaman Nabi, apalagi tinggal di Bayt Muhammad.

Penggunaan umum istilah “Ahl-Al-Bayt”

Al-Quran adalah buku berbahasa arab yang jelas (12:2, 13:37, 16:103, 20:113, 26:195, 39:28, 41:3, 41:44, 42:7, 43:3, 46:12) yang telah diungkapkan kepada orang-orang yang berbahasa Arab. Kita akan salah menafsirkan Al-Quran jika kita berusaha memahami kata-kata dengan cara yang tidak (dan tidak bisa) dipahami orang-orang yang dijadikan target utama oleh buku tersebut. Hari ini, jika kita meminta seorang teman Arab untuk datang ke rumah kita dengan Ahl Al-Bayt-nya, maka secara otomatis dia akan datang ke rumah kita dengan istri dan anak-anak yang tinggal di rumahnya. Dia mungkin membawa anak-anaknya yang sudah menikah atau mungkin juga tidak. Dia bahkan mungkin membawa teman jika teman tersebut tinggal menetap di rumahnya. Tetapi yang penting terutama, bahwa orang Arab akan mengerti dari istilah ini bahwa ia harus membawa usteri/ istri-istrinya, karena ini adalah definisi utama dari frase “Ahl-Al-Bayt”.

Seorang Arab akan sangat heran jika ia menemukan bahwa Ahl-Al-Bayt itu berarti sepupunya, anak-anak yang sudah menikah, dan cucu-cucu, yang semuanya tinggal di rumah yang berbeda. Dia akan lebih terkejut lagi jika kita tidak menganggap istri yang tinggal di Bayt-nya bukan Ahl-Al-Bait. Hal ini karena bagi setiap orang Arab, kata Ahl-Al-Bayt (yang secara harfiah berarti mereka yang tinggal di rumah tersebut) adalah termasuk istri (atau para istri) dari seseorang. Mengenai pengertian ini sama sekali tidak berbeda dengan pada zaman Nabi. Dan hal ini sama di semua negara Arab. Adalah sangat menarik bahwa bahkan di Iran (negara yang didominasi Syiah) orang juga menggunakan kata Ahl Al-Bayt untuk merujuk kepada istri serta anak-anak dari seseorang. Jika kita melihat buku-buku populer yang berbahasa Arab kita akan menemukan bahwa pada definisi Ahlel Bayt, istri disertakan. Maka dengan demikian kita akan meminta penjelasan para Ayatullah Syiah mengapa mereka menyatakan definisi yang berbeda dari kata Ahlel Bayt? Kenapa istri-istri Nabi harus bukan bagian dari Ahlel Bayt, tetapi malah para imam maksum tersebut? Menurut pendapat kami, hal ini tidak sesuai dengan ayat Al-Quran yang berbahasa Arab yang jelas.

Logika dan Common Sense

Ahlel Bayt berarti keluarga dari seorang lelaki yang tinggal di rumah lelaki tersebut. Jika kita bertanya kepada Syii siapa yang merupakan bagian dari keluarga dia, niscaya dia akan memasukkan ibunya (atau istrinya) pada jawabannya. Ibu dan istri merupakan pondasi dasar sebuah keluarga. Jika kita bertanya kepada orang di luar Islam (yang tidak memihak) siapa keluarga Muhammad, maka nama pertama yang akan mereka sebutkan adalah istri Nabi.

Al-Quran menyebut Istri Nabi sebagai Ahlel Bayt

Sebagai Muslim, kita percaya pada otoritas mutlak dari Al-Quran. Ia adalah sumber tertinggi legislasi, karena ia adalah firman Allah. Sebagai Muslim yang mukmin juga percaya bahwa AL-Quran itu sudah FINAL, baik isinya maupun URUTANNYA. Mereka yang mengimani bahwa Al-Quran ini sudah final tidak akan mengatakan bahwa ada suatu kalimat yang SALAH TEMPAT atau DISISIPKAN pada suatu ayat karena adanya kepentingan politik tertentu. Jadi tidak ada TAHRIF BITTARTIB pada Al-Quran.

Keberatan apapun dari sekelompok orang yang mengaku muslim yang menyatakan bahwa Ahlal Bait itu bukan isteri atau isteri-isteri Nabi, namun pada faktanya Al-Quran menyebut istri Nabi itu sebagai Ahlel Bayt. Allah SWT sendirilah yang menafikan semua orang yang berani berpendapat bahwa isteri Nabi (Aisha dan Hafsa) bukan bagian dari Ahlel Bayt, meski mereka sangat membenci kedua isteri Nabi Muhammad..

Al-Quran secara spesifik/ khusus menyebut isteri-istri Nabi Muhammad sebagai Ahlel Bayt pada ayat berikut:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu semua memelihara diri. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan tegakkanlah shalat, laksanakan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan ARRIJSA dari kamu semua, HAI AHLALBAIT dan membersihkan kamu semua sebersih-bersihnya. (Quran, 33:32-33).

transliterasinya berbunyi sebagai berikut:

“Ya nisa al-nabiyi lastuna kahadin mina alnisa-i ini itaqaytuna fala takhdaAAna bialqawli fayatmaAAa allathee fee qalbihi maradun waqulna qawlan maAAroofan Waqarna fee buyootikunna wala tabarrajna tabarruja aljahiliyyati al-oola waaqimna alssalata waateena alzzakata waatiAAna Allaha warasoolahu innama yureedu Allahu liyuthhiba AAankumu alrrijsa Ahlul Bayt-i wayutahhirakum tatheeran” (Quran, 33:32-33)

Pada kenyataannya tidak satu ayat pun dalam Al-Quran yang mengidentifikasi nama Ali, Fatima, Hasan dan Hussain sebagai Ahlel Bayt. Juga, tidak satupun ayat dalam Al-Quran yang menyebut 12 Imam yang dianggap ma’shum oleh Syii, apalagi menyebut mereka sebagai Ahlel Bayt. Istilah “Ahlel Bayt” telah digunakan dua kali dalam Al-Quran, dan keduanya sesuai konteksnya merujuk kepada istri atau isteri-isteri. Dan istilah yang sama, Ahli Baytin juga digunakan dalam Al-Quran untuk merujuk pada istri Imran (ibu Musa) (Quran 28:12).

Tidak sekalipun kata “Ahlel Bayt” digunakan dalam Al-Quran untuk merujuk pada Ali, Fatima, Hasan, atau Hussain. Tidak ada di surat manapun Al-Quran yang mengatakan “Wahai sepupu Nabi”, yang ada di Al-Quran justru mengatakan “Hai istri-istri Nabi”. Jika mengikuti doktrin yang diciptakan Syii bahwa Ahlel Bayt merupakan dasar dan central dari keyakinan sebagaimana yang diklaim oleh Ayatullah Syiah, maka mengapa Al-Quran tidak pernah sekalipun menyebutkan Ali atau menyebut dia sebagai Ahlel Bayt? Jika kita meminta saudara kita Syiah untuk menyebutkan ayat-ayat dalam Al-Quran tentang Ahlel Bayt, maka mereka akan kecewa karena ayat-ayat ini semuanya ternyata dikaitkan dengan istri-istri Nabi. Tentu dengan catatan kalau mereka tidak meyakini adanya TAHRIF BITTARTIB dalam Al-Quran.

Kemudian Ayatollah Syiah bermain kata-kata dengan menyatakan bahwa istilah AHLAL BAIT pada ayat 33:33 tidak mungkin ditujukan kepada para isteri Nabi mengingat digunakannya kata ganti KUM, dimana menurut mereka semestinya KUNNA.

Kami ingin mengatakan sejak awal bahwa jika Allah ingin mengecualikan istri-istri Nabi dari Ahlel Bayt, tidak ada yang bisa mencegah-Nya dari menyatakan hal tersebut pada Al-Quran, tak seorang pun meski “sahabat yang jahat” sekalipun yang bisa memaksa Allah untuk mewahyukan Ayat Penyucian tersebut disisipkan di tengah-tengah perintah yang ditujukan kepada istri-istri Nabi.

Selain dari itu, istilah “Ahl” dalam bahasa Arab adalah selalu maskulin, tidak peduli dipakai ketika mengacu pada laki-laki atau perempuan. Ketika seorang Arab menyebut Ahlel Bayt dari seorang lelaki dan yang ia maksudkan adalah istri atau istri-istrinya, maka ia tetap akan menggunakan bentuk maskulin, karena istilah Ahlel Bayt menggunakan konstruksi maskulin meskipun mengacu pada istri. Istilah Ahlel Bayt tidak dapat digunakan dalam bentuk feminin, jika ditinjau semata-mata dari sudut tatabahasa Arab. Jadi kita tidak perlu heran ketika Allah menggunakan istilah maskulin untuk Ahlel Bayt. Jika, misalnya, situs ini adalah dalam bahasa Arab, maka kita akan menggunakan bentuk maskulin untuk Ahlel Bayt bahkan jika kita hanya merujuk kepada istri-istri Nabi. Jika Anda memberitahu seorang pria Arab untuk mengajak istrinya ke rumah Anda, Anda akan mengatakan “silahkan ajak Ahlel Bayt Anda ” dan dalam hal ini akan dikatakan dalam bentuk maskulin dengan mengabaikan fakta bahwa Anda sedang merujuk pada istri-istrinya. Akan dianggap tidak sopan dalam budaya Arab-Islam jika bertanya kepada seorang lelaki “bagaimana istri Anda” dimana pertanyaan yang lebih sesuai dengan budaya adalah: “bagaimana Ahlel Bayt Anda?” Ini adalah cara yang sopan dalam menyebut istri seorang lelaki, dan memang , setiap kali Anda menyebut Ahlel Bayt dari seorang pria, maka bentuk maskulinlah yang digunakan. Ini adalah aturan bahasa Arab, dan hanya seorang yang jahil dan pembicara non-Arablah yang akan mengklaim sebaliknya.

Ayat kedua di Al-Quran yang menggunakan kata “Ahlel Bayt”

Ahlel Bayt digunakan pada tempat lain dalam Al-Quran dan kali ini juga merujuk pada seorang istri:

“Dia (salah seorang isteri Ibrahim) berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Mereka (para malaikat itu) berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, HAI AHLULBAIT! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Quran, 11:72-73)

transliterasi itu berbunyi:

“Qalat Ya Waylata ‘A’alidu Wa ‘Ana `Ajuzun Wa Hadha Ba`li Shaykhaan ‘Inna Hadha Lashay’un `Ajibun. Qalu ‘Ata`jabina Min ‘Amri Allahi Rahmatu Allahi Wa Barakatuhu `Alaykum ‘Ahlul-Bayt-i ‘Innahu Hamidun Majidun.” (Quran, 11:72-73).

Pada ayat di atas, salah seorang istri Nabi Ibrahim bertanya kepada para malaikat bagaimana dia bisa memiliki seorang anak lelaki, dan mereka menjawab balik dengan memanggil isteri Nabi sebagai Ahlel Bayt.

Dan lagi, pada ayat di atas, Allah menggunakan bentuk maskulin untuk Ahlel Bayt meskipun Ahlel Bayt yang dimaksud pada ayat tersebut hanya SEORANG wanita. Sekali lagi, ini adalah sesuai norma bahasa Arab, dan itulah sebabnya mengapa ulama Syiah klasik tidak pernah membuat argumen serupa tentang perubahan kata ganti, karena bagi orang Arab hal itu tidak menjadi masalah.

Al-Quran juga menyatakan bahwa Istri adalah Bagian dari Keluarga

Allah SWT mengatakan bahwa semua anggota keluarga Nabi Lut akan diselamatkan selain  istrinya. Allah berfirman: “(Semua) kecuali keluarga Lut. Mereka semua pasti Kami akan menyelamatkan (dari kehancuran). Kecuali istrinya … “(Quran, 15:59-60)

Rangkaian kata “kecuali istrinya” akan menjadi tidak ada gunanya kecuali jika istri tersebut termasuk dalam keluarga Lut. Jika tidak demikian, mengapa Allah perlu menjelaskan bahwa istri Lut adalah perkecualian dari keluarga Lut yang akan diselamatkan?

Hadis/ Sejarah

Dalam Buku Hadits Bukhari, Nabi secara khusus merujuk Aisha sebagai bagian dari Ahlel Bayt:

Sahih Bukhari, Volume 6, Buku 60, Nomor 316

Dikisahkan oleh Anas:

Sebuah perjamuan roti dan daging diadakan pada kejadian perkawinan Nabi kepada Zainab binti Jahsh. Aku dikirim untuk mengundang orang-orang (untuk jamuan makan), sehingga orang-orang mulai datang (dalam kelompok). Mereka akan makan dan kemudian pergi. Kelompok lain akan datang, lalu makan dan pergi. Jadi saya terus mengundang orang-orang sampai saya menemukan tidak ada yang perlu diundang.

Lalu aku berkata, “Wahai Nabi Allah! Saya sudah tidak menemukan orang yang perlu diundang.

Dia (Nabi) berkata, “Bawa pergi sisa makanan tersebut.” Kemudian suatu kelompok yang teridiri dari tiga orang tetap tinggal di rumah tersebut sedang ngobrol. Nabi meninggalkan (mereka) dan pergi ke arah tempat tinggal Aisyah dan berkata, “Kedamaian dan rahmat Allah semoga pada anda, Ya Ahlel Bayt (wahai orang-orang rumah)!”

Dia (Aisyah) menjawab, “Kedamaian dan rahmat Allah semoga pada Anda juga. Bagaimana Anda menemukan istri Anda? Semoga Allah memberkati Anda.”

Lalu Beliau pergi ke tempat-tempat tinggal semua istrinya yang lain dan berkata kepada mereka sama seperti Beliau katakan kepada Aisyah dan mereka berkata kepadanya sama dengan yang telah Aisyah katakan kepadanya.

Lepas dari Hadits tersebut benar/ asli atau tidak, namun dari susunan kalimat dapat diambil contoh bagaimana seorang isteri Nabi dipanggil sebagai Ahlal Bait seperti pada ayat 11:73. Dan kalau seandainya kandungan hadits tersebut memang benar maka di sini merupakan record sejarah bahwa Nabi memanggil para isterinya dengan Ya Ahlal Bait.
Tertentu para Mullah dan Ayatullah Syiah akan sering mengemukakan Hadis yang lain konteks untuk “membuktikan” bahwa istri-istri Nabi bukanlah bagian dari Ahlel Bayt.

Kalau menemukan beberapa versi laporan sejarah, maka laporan yang sejalan dengan AL-Quran-lah yang ada kemungkinan benar.

Argumen Terakhir

Kami meminta kepada saudara kami yang Syii untuk merenungkan mengapa Al-Quran dan Nabi menggunakan istilah “Ahl al-Bayt”, bukan sekedar “Ahl” yang berarti „keluarga“. Dengan membatasi para „Ahl“ dengan “Al-Bayt” ini dimaksudkan untuk membatasi siapa yang sedang dirujuk sebagai keluarga yang hidup di bawah atap rumah Nabi. Baik Ali, Fatima, Hasan ataupun Hussain tidak tinggal di rumah yang sama dengan Nabi. Di sisi lain, istri Nabilah yang semestinya serumah dengan Beliau.

Jika Allah merujuk kepada keluarga Nabi yang tidak tinggal di rumahnya, maka pastilah kata “Ahl” akan lebih sesuai untuk digunakan, tambahan pengkhususan “Al-Bayt” justru akan menjadi aneh dan saling bertentangan dari sisi kaidah berbahasa Arab. Frasa “Ahl-Al-Bayt” membatasi Ahl tersebut kepada mereka yang tinggal di dalam Bayt, yang terdiri dari istri-istri Nabi. Setiap penjelasan yang lain akan tidak masuk akal.

Para Isteri Nabi adalah Ibu orang-orang beriman.

Isteri-isteri Nabi selain dijuluki Ahlal Bait oleh Allah, juga dijadikan Ibu bagi orang-orang yang beriman.

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. …(33:6)

Mereka yang tidak mengakui bahwa para isteri Nabi adalah ibu mereka, maka mereka tidak layak dimasukkan ke dalam kelompok mukminin.

Kalau isteri-isteri Nabi adalah ibu bagi orang-orang yang beriman, maka tegakah seorang yang mengaku beriman menuduh salah seorang dari ibu mereka (salah seorang isteri Nabi) telah berzina dengan Tholhah atas dasar desas-desus dan tanpa menghadirkan 4 (empat) orang saksi yang menyaksikan perzinahan tersebut?

Kalaulah seandainya hal itu benar-benar terjadi, tentu seorang mukmin yang berakhlaq tidak akan tega menyebarkan aib ibu mereka sendiri.

KESIMPULAN.

Kalau seorang mukmin meyakini bahwa Kitab Al-Quran adalah sebuah kitab yang sudah final, tentu mereka tidak akan mengatakan bahwa ada ayat-ayat AL-Quran yang salah letak atau DISISIPKAN pada suatu ayat. Atau dengan kata lain, seorang mukmin yang sebenarnya tentu tidak meyakini adanya TAHRIF BITTARTIB pada Al-Quran.

18:1 Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

39:28 (Ialah) Al Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.

Nah setelah mengakui bahwa tidak ada yang salah pada Al-Quran (termasuk urutan ayat-ayatnya) maka akan dengan mudah untuk memahami dan mengakui bahwa frasa AHLALBAIT pada ayat 33:33 tidak lain adalah isteri-isteri Nabi.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • almirzi  On May 31, 2011 at 1:45 pm

    Perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an nampaknya menjadi sebuah keniscayaan di zaman ini. Antara mufassir yang satu dengan mufassir yang lain, sering kali terjadi perbedaan penafsiran atas suatu ayat Al-Qur’an tertentu. Termasuk perbedaan penafsiran terhadap surat Al-Ahzab ayat 33 tentang siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.

    وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

    dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33)

    Masing-masing orang menafsirkannya dengan cara pandang yang berbeda dan dengan metode yang berbeda. Perbedaan cara pandang dan metode yang digunakan itu biasanya menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

    Adapun beberapa metode penafsirannya ialah tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits, tafsir ayat dengan asbabun nuzul, tafsir ayat dengan ra’yu, dll.

    Ada seorang kawan saya yang memiliki gaya diskusi yang sangat aneh, menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut dengan metode tafsir ayat dengan ayat.

    Mengapa saya katakan gaya diskusinya aneh? Karena saat dia berdiskusi dan kehabisan argumen, sering kali dia menyerang pribadi lawan diskusinya. Tentu segala cara pun ia tempuh untuk menyerang pribadi lawan diskusinya. Biasanya sih banyak orang yang tak tahan berdiskusi dengan dia. Bukan persoalan kalah argumen, tetapi karena tak tahan dirinya dijelek-jelekin.

    Kembali ke pendapat kawan saya diatas. Dia berpendapat bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut berkenaan dengan istri-istri Nabi saja. Pendapat dia ini berdasarkan ayat Al-Qur’an yang lain yang juga berbicara tentang Ahlulbayt, dan kata ahlulbayt disitu berbicara tentang perempuan.

    Ambil contoh dalam surat Hud ayat 72-73, Allah berfirman:

    قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخاً إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

    قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

    Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”

    Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

    Kata Ahlulbayt dalam ayat diatas, menurutnya, berbicara soal istri dari Ibrahim.

    Demikian pula dalam surat Al-Qashash ayat 12:

    وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

    dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

    Setelah ia hadapkan surat Al-Ahzab ayat 33 dengan kedua ayat diatas, kemudian dia mengambil sebuah kesimpulan bahwa Ahlulbayt yang terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ditujukan ke perempuan dalam hal ini ialah istri-istri Nabi.

    Sebuah Tanggapan

    Saya tergerak untuk sekedar menanggapi pendapat kawan saya tadi. Semoga tanggapan ini tidak dimaknai sebagai sikap merasa diri paling benar sendiri. Apa yang saya lakukan ini hanyalah sebuah usaha untuk memahami dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an.

    Metode yang digunakan oleh beliau tidaklah salah. Tetapi, menurut saya, proses penafsirannya yang masih cacat. Ada hal yang sama sekali tidak ia singgung, salah satunya ialah persoalan penggunaan kata ganti.

    Mari kita simak Surat Al-Ahzab tersebut dari ayat 30-34.

    Mulai dari Surat-Ahzab ayat 30-34 memang Allah berbicara soal istri-istri Nabi. Tetapi jika kita jeli, dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu sebetulnya terdiri dari dua kalimat:

    1. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.

    2. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Pada kalimat yang pertama, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak perempuan.

    وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

    wa qarna fii buyutikunna. Dan hendaknya kamu (perempuan) tetap dirumahmu (perempuan).

    Tetapi pada kalimat yang kedua, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak laki-laki perempuan:

    إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرا

    Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Antara kalimat pertama dan kedua, terdapat perbedaan penggunakan kata ganti. Kalimat pertama menggunakan kata ganti “kunna” sedangkan kalimat kedua menggunakan kata ganti “kum”.

    Jika kita hadapkan ini pada pendapat kawan saya diatas bahwa surat Al-Ahzab ayat 33 itu turun kepada perempuan, maka tidak sepenuhnya benar. Karena dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ada kalimat yang menggunakan kata ganti laki-laki perempuan.

    JADI ANGGAPAN BAHWA SURAT AL-AHZAB AYAT 33 YANG BERBICARA TENTANG AHLULBAYT ITU TURUN KEPADA PEREMPUAN ATAU ISTRI-ISTRI NABI, MAKA SUDAH DAPAT DIPASTIKAN ITU MENGADA-NGADA…ALIAS NGAWUR…

    Saya menggunakan pendekatan bahasa terlebih dahulu untuk menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut. Selain itu, saya juga menggunakan metode lain untuk mengetahuai siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.

    Bagi saya, ayat “Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.” (QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Apa alasannya?

    Saya menggunakan metode penafsiran ayat dengan asbabun nuzul yang itu ada dalam kitab-kitab hadits standar Ahlulsunnah.

    Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani

    عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

    Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.

    Jadi jelaslah sudah bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu merujuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Anggapan bahwa Ahlulbayt dalam ayat tersebut itu turun kepada perempuan atau istri-istri Nabi, maka itu adalah anggapan yang teramat sangat ngawurnya.

    Semoga Allah menjauhkan diri kita dari berbagai macam kengawuran seperti itu.

    • Muslim saja  On May 31, 2011 at 7:20 pm

      Silahkan dibaca secara keseluruhan, karena isi artikel tersebut telah menanggapi uraian anda.

  • Ibnu umar  On May 31, 2011 at 10:00 pm

    Saya ingin sedikit tanggapi coment diatas.
    1. Penggunaan jama’ mudzakar. :: sdh jls,bahwa setiap ayat yg didlm nya menyebut kalimah ahlu bait,pasti menggunakan jama’ mudzakar (maskulin). Sbgmn ayat ttg ahlu bait ibrahim disana kalimah ahlu bait merujuk kpd istri nabi ibrahim dan menggunakan jama’ mudzakar. Apakah qur’an cacat bhs ataukah penafsiran syiah yg cacat?

    2. Ttg riwayat yg dijadikan sandaran sbg asbabun nuzul (hadits kissa’)

    :: secara jelas riwayat menyatakan stlh turun ayat tsb,lalu nabi saw mengumpulkan ali,fatimah dll… Jd ayat turun dulu baru ada ke jadian/peristiwa kissa tsb. Lalu bgmn bisa sesuatu yg dtg belakangan mlh jadi asbab?

    Afwan

  • azmy  On June 13, 2011 at 3:33 am

    @ibnu umar:
    1. apakah korelasi ababun antara Hud 73 dengan al ahzab 33 adalah sama?
    jika beda, kenapa digeneralisasi?
    2. bukankah ayat tathir tersebut turun ketika Rasul sedang mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan, Husain ke dalam Kisa? setelah itu baru ayat tathir tersebut turun? jadi, peristiwa dulu baru ayat tersebut turun kan?
    3. Jika ayat al ahzab hanya berkenaan dengan isteri2 beliau, lantas bagimana dengan ahlulbait yang lain yang tidak disebut namanya? apakah mereka tidak suci sebagaimana isteri2 Rasul?

  • azmy  On June 13, 2011 at 3:46 am

    ayat2 tersebut terkait dengan suatu peringatan atas perbuatan2 yang semestinya jika mereka taati akan menjadikan mereka (isteri2 Rasul) mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. seperti halnya kita ketahui pada misalnya, Ummu salamah, Sayyidah Khadijah, dsb. tetapi tentunya adalah murka Allah jikalau peringatan tersebut tidak ditaati.
    maka, penjaminan tersebut, jikalaupun kita dipaksa untuk memasukkan isteri2 Rasul dalam konteks ahl bait yang dimaksudkan al Quran, maka yang tepat, al ini hanya berkenaan dengan isteri2 rasul yang mentaati peringatan yang terkandung dalam ayat tersebut dan bukan bagi mereka yang melanggar peringatan tersebut.
    pertanyaannya adalah, adakah diantara isteri2 rasul yang melakukan perbuatan seperti apa yang telah diperingatkan itu?

  • bob  On June 21, 2011 at 6:41 pm

    @ibnu Umar kata Kum disitu jelas merujuk pada istri Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim as
    jadi dhomirnya jelas harus menggunakan KUm…krn ada laki dan perempuan jadi bukan karena ada kata ahlul bait….lantas dhomirnya jadi Kum…hehehhe

  • ibnu umar  On June 26, 2011 at 6:37 am

    @Azmy ::

    1. Di kedua ayat tsb,istri nabi2 disebut ahlu bait,jadi korelasinya jelas!

    2. Ayat tathir turun terlebih dahulu,baru kemudian ada peristiwa kissa’. Cek dan baca riwayat kissa’ baik2.setelahnya monggo di coment kembali

    3. Pensucian disini bkn pensucian mutlak,sebab di kaitkan dengan ketaatan,diayat lain juga ada bentuk pensucian yg mana khitab ayat tsb adalah utk para sahabat,apakah artinya kereka juga mutlak suci? Tentu tidak bukan? Lalu jika disini mutlak,kenapa disana tdk?

    Ayat ini bentuknya umum utk para istri nabi,lalu kenapa dibatasi khusus utk khadijah dan ummu salamah? Jika ke umuman ayat hendak dibatasi,maka harus ada nash qathi yg menjelaskan,bukan hanya di jelaskan dengan kedengkian dan rasa benci.

    @Bob :: Dalam al ahdzab 33 Ayat menggunakan kata ganti org ke 2 jama’ (kalian) Jika ada kata ganti,maka harus ada yg digantikan dalam kalimat sebelumnya,lalu siapa yg digantikan? Sebab ayat sedang bicara dgn sekelompok org maka mereka harus ada pada kalimat sebelumnya. Siapakah mereka? ketika kata ganti berubah menjadi “kum” maka itu merujuk pada yg diajak bicara diawal rangkaian ayat2 tsb.

    Istri nabi ibrahim yg diajak bicara,ketika dhamir berubah maka nabi ibrahim berada dlm penyebutan disana,lalu knp ketika ayat bicara ttg istri bani Muhammad nt jadi bingung?

    Salam

  • bob  On June 26, 2011 at 11:16 pm

    @ ibnu Umar,
    kan sdh dijelaskan panjang lebar oleh @ Al mirza bahwa ada perubahan dhomir dari una ke Kum, ditambah lagi ayat ini dimulai dengan kata Innama, sungguh ada penegasan sekaligus pemutusan dari konteks sebelumnya.
    siapa yg digantikan kan sdh jelas dijelaskan dalam haditsul Kisa, tuh sdh dibahas oleh @ al mirza ente baca kagak?.

  • bob  On June 26, 2011 at 11:23 pm

    @ ibnu Umar,
    ini ada link…yg menjelaskan bagaimana istri nabi itu Ummu salamah tdk tahu bahwa dirinya Ahlul bait dan bertanya dan dijawab bahwa Ia bukan ahlul bait..
    semoga anda mau baca yah….http://secondprince.wordpress.com/2011/04/30/pengakuan-ummu-salamah-dirinya-bukan-ahlul-bait-dalam-al-ahzab-33/

  • bob  On June 26, 2011 at 11:27 pm

    @Ibnu Umar…
    coba anda jelaskan kenapa Allah menggunakan Kata “Buyutikunna” padahal itu rumah Istri dan Nabi…kenapa kgk pakai “Buyutikum” jika mengikuti teori antum…heheheheh

  • Ibnu Umar  On June 28, 2011 at 7:31 pm

    @Bob : Rupanya anda blm faham point yg saya angkat diatas,diayat tsb ada kata ganti org kedua jama’ (kalian) maka harus ada yg digantikan pada kalimat sblmnya!! Kalau anda katakan bahwa yg diajak bicara dgn kata ganti org kedua jama’ tadi adalah ahlu kissa’,ini adalah jawaban sembrono dan membabi buta,sebab saat ayat ini turun,peristiwa kissa’ blm terjadi,artinya yg di ajak bicara blm ada jadi qur’an cacat bahasa klu gini. Semoga anda mulai faham.

    Soal perubahan dhamir dari muannats ke mudzakar,sebenarnya ini mmg yg seharusnya,sebab disetiap ayat di al qur’an dimana ada lafadz “ahlu bait” maka disana digunakan jama’ mudzakar,baik ketika ayat sedang bicara pada istri nabi atau yg lainnya.

    Perubahan dhamir diayat ini juga sangat tepat…. di awal rangkaian ayat dimulai dgn kalimat “ya ayyuhan nabi….” lalu ayat berbicara menggunakan kata ganti muannats,siapa yg diajak bicara saat itu? sdh pasti adalah wanita,yaitu istri2 nabi…lalu saat dhamir berubah menjadi mudzakar,maka yg diajak bicara kembali kepada rangkaian awal ayat tsb!! Gampang klu mau difahami

  • bob  On July 3, 2011 at 4:34 pm

    @ibnu umar….makanya ente buka link yg ane kasih jelas2 di situ disebut dn dasar hadits Shohih Kalau
    1. Ayat itu turun karena Ahlukisa….ente yg sembrono kenape ane yg di tuduh.
    2. Ummu salamah ra jelas2 bilang kalo ahlul bait itu AHLUL KISA dan dia tdk termasuk didalamnya walau dia istri nabi…..ini linknya,….
    http://secondprince.wordpress.com/2011/05/06/pengakuan-ummu-salamah-ahlul-bait-dalam-al-ahzab-33-adalah-ahlul-kisa%E2%80%99/

    semoga kita diberi hidayah.juga pemilik blog ini…

  • bob  On July 7, 2011 at 5:42 pm

    Dhomir kum itu tdk ada hubngan secara langsung dgn Ahlul bait, tapi dhomir itu berhubungan dengan object yg diajak bicara laki dan perempuan. Bisa saja itu Nabi dan istrinya, atau Nabi dan laki2 lain juga perempuan yg lain. Oleh karenanya penjelasan ayat itu bisa dilihat dari permulaan kata “innama” yg menunjukkan ada peristwa baru dr kalimat sebelumnya/ayat diatas.
    sekaligus juga penjelasan dari hadits “Ahlul Kisa”, jika ente bersikeras mengatakan istri nabi Masuk, lalu kenapa “Ummu salamah” yg istri nabi mengatakan dirinya tdk masuk dalam Ahlul bait…..ah ente…mengada ada.

  • azar  On December 6, 2011 at 10:51 am

    إلْزَمُوْا مَوَدَّتَنَا أهْلَ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَّنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا,وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ إلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا.
    Teguhkan hatimu atas kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya barang siapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan bermanfa’at amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengenal hak kami (atasnya).”[5]

    • Islam saja  On December 6, 2011 at 11:42 am

      2:214 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

      3:142 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

      9:16 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

  • Tejo prayogi  On February 1, 2012 at 9:58 am

    Saya ingin mencoba menanggapi Makna Ahlel Bayt saya lebih memilih pada makna Keluarga dari seorang lelaki yang tinggal serumah (bukan dirumah) dengan lelaki itu yaitu istri, anaknya dan kerabatnya yg serumah (lagi2 bukan yg tinggal dirmah itu tapi yg serumah.

    Alquran adalah petunjuk jaman dulu, jaman sekarang dan jaman yang akan datang jadi Alquran adalah petunjuk dunia dan akhirat, sepakat bahwa Alquran petunjuk satu satu Umat Islam, jadi kalau kita kena musibah khawatir, dan bersedih hati obatnya hanya Alquran kalau kita mengakui bahwa alquran adalah petunjuk kita diluar Alquran tidak ada yg bisa memberi jawaban.

    dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33)

    Petunjuknya : Ahlul bait yg akan dibersihkan adalah yang tetap tinggal dirumahmu artinya tidak keluar rumah maksudnya keluar dari Alquran.
    Pertanyaannya Alquran adalah petunjuk buat kita semua, apakah kita termasuk ahlul bait nabi jawabanya kalau kita tinggal serumah dalam naungan Alquran artinya mengikuti apa yg dijalankan Rasulullah yaitu menjalankan Alquran kita termasuk Ahlul bait nabi. Kalau diibaratkan Rasullah masuk kerumah itu tanpa kotoran(Alquran berjalan), kalau kita mau masuk kerumahnya harus dicuci dulu caranya jalankan Alquran sepenuh kemampuan. Mudah2 an kita bisa diterima sebagai Ahlul bait kalau kita mengikutinya….

  • TS  On April 7, 2013 at 5:13 am

    semua salah…

    yang dimaksud ahlul bait dalam surat Al-Ahzab ayat 33 adalah:
    Imam Mahdi.

    • Islam saja  On April 16, 2013 at 5:30 am

      Bukannya eyang Subur?

  • TS  On April 7, 2013 at 5:50 am

    satu hal lagi…

    jangan membeda-bedakan sahabat-sahabat Rasulullah. Mereka juga adalah sahabat kaum muslim. Apakah kalian mengerti makna dari kata ‘sahabat’ dengan sebenar-benarnya?!

    dan satu hal yang kalian lupakan:
    pada diri Imam Mahdi terdapat cap kenabian, seperti yang dimiliki Rasulullah, dan tidak dapat ditiru oleh siapapun. Karena hal itu adalah tanda khusus yang Allah berikan langsung kepada mereka, dalam satu garis keturunan.

    Imam Mahdi terkait dengan Rasul yang terputus, yakni ‘Isa alaihis salaam. “Telah terputusnya pengiriman rasul-rasul”.

    Muslim meyakini bahwa nabi ‘Isa as telah diangkat-Nya. Apakah kalian meyakini hal yang berbeda?! Kalau memang berbeda, bagaimana cara Allah menyelamatkan “isa as? Apakah ia hidup seterusnya tanpa diangkat-Nya? Tentu kalian tidak dapat menjelaskannya.

    Pelajari lagi Al Qur’an dengan sebenar-benarnya. Kalau belum memahami Al Qur’an secara utuh (kaffah). Jangan tergesa-gesa menyimpulkan makna suatu hadits.

    • Islam saja  On April 16, 2013 at 5:32 am

      Kalau ada ayat tentang akan adanya Mahdi kan tinggal sebutkan saja di sini.

  • TS  On April 7, 2013 at 6:36 am

    Sebagai penutup:
    Mengapa kamu tulis/eja kata ‘ahlul bayt’ dengan ‘Ahlel Bayt’

    Apakah dalam bahasa Al Qur’an (bhs. arab) mengenal huruf ‘e’?

    Apa tujuan anda menulis artikel ini???

    • Islam saja  On April 16, 2013 at 5:35 am

      Itu ejaan Inggrisnya.

      Tujuannya supaya kaum muslimin bisa kembali memahami makna ahlul bait yang sebenarnya.

  • elfan  On July 13, 2013 at 7:03 am

    APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait menjadi universal:

    1. Kedua orang tua para nabi/rasul;.

    2. Saudara kandung para nabi/rasul.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah bukan termasuk kelompok ahlul bait.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  • Ali  On September 16, 2013 at 7:41 pm

    Ramai sekali yg membicarakan ttg ahlul bayt. Sepertinya ada mufassirin,muhadisin dan ahli lughah (bahasa) arab di blog ini. Untuk apa repot2 mengemukakan bermacam dalil siap dgn kata kerja bahasa arabnya lg. Adakah yg bicara yakin,bahasa arab 1400 tahun lalu masih sama dialeknya dgn arab hari ini? Atau bahasa indonesia 1000 tahun lalu persis ngak berubah hari ini? Cuba tanyakan petikan suatu ayat pada sembarang pemuda arab,apakah mrk tau mentafsirnya? Siapa kita atau guru2 kita,atau tokoh2 kita semua yg merasa keahlian nya atas al Quran itu melebihi org yg diturunkan al Quran kpdnya (Rasulullah saw) ? Hga kita berani2 membantah dari hadisnya,sejalan enggak dgn kitabullah? Siapa kita mahu membuang anak dan cucu2 Rasulullah saw dari gelar ahlul bayt,sesudah Baginda memakaikan nya? Siapa kita mahu mempertikaikan Baginda memasukan ali sbg ahlul bait,kita kah Rasulullah atau Baginda? Jawab lah wahai yg mengaku umat. Adakah saidina abu bakar dan umar berani menegah Rasulullah saw atas hal itu krn tdk sejalan Quran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: