Ayat-ayat MUHKAMAAT dan MUTASYAABIHAAT

“MUTASYABIHAT” vs  “MUHKAMAT”

source: http://millahibrahim.net

Telah menjadi pendapat umum dan hampir merata di kalangan ummat dan ulama Islam, bahwa Al Quran itu terdiri dari ayat-ayat Muhkamat, yakni ayat-ayat yang arti dan maknanya tegas dan jelas, tidak sulit difahami. Dan ayat-ayat Mutasyabihat, yakni ayat-ayat yang arti dan maknanya tidak cukup jelas atau samar-samar, baru dapat difahami melalui “penta`wilan” dan pengkajian yang mendalam, yang hanya bisa dilakukan oleh para ulama yang cukup luas dan dalam ilmunya, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya, seperti ayat-ayat mengenai hal-hal yang gaib.

Keterangan yang kurang lebih seperti diatas, antara lain tercantum sebagai catatan kaki pada terjemahan Al Quran versi Departemen Agama RI, dari terjemahan Surat Ali Imron ayat 7, yang kutipan selengkapnya sebagai berikut:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah UMMUL-KITAABI (pokok-pokok isi Al Quran) dan yang lain ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta`wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta`wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal”. (Ali Imron : 7)

Dalam terjemahan diatas, kita lihat bahwa kata “Muhkamat” dan “Mutasyabihat” tidak diterjemahkan, tapi kemudian dijelaskan dengan catatan kaki yang kurang lebih seperti disebut diatas.

Persoalannya sekarang, benarkah kata “muhkamat” itu artinya ”jelas” dan “mutasyabihat” itu “samar” atau tidak jelas?.

Padahal begitu banyak Allah mengatakan tentang ayat-ayat yang jelas itu dengan kata “aayaatun bayyinaat”. Kalau diterjemahkan secara bersih dan polos (tidak dipengaruhi oleh visi dan pemahaman lain tertentu yang sudah mendahului), maka tidak terlalu sulit untuk difahami, karena kata muhkamat (muhkam) adalah bentuk “isim maf’ul” (bentuk objek penderita) dari kata kerja ahkama yang artinya “menghukumkan” (bukan menghukum atau menghukumi).
Dengan demikian kata “aayaatun muhkamaat” itu berarti : ”ayat-ayat yang dihukumkan”, (dibakukan/ ditetapkan sebagai hukum).

Walaupun bentuknya berbeda, kata “Aayaatun Muhkamaat” ini sama persis artinya dengan kata “Uhkimat Aayaatuhu” (Huud : 1) yakni: “dihukumkan ayat-ayatnya” (uhkima adalah bentuk kata kerja pasif dari ahkama)

Coba kita bandingkan dua ayat tersebut:
Dialah yang telah menurunkan Al Kitab kepadamu, dari Kitab tersebut (terdapat) ayat-ayat yang dihukumkan (ayat-ayat muhkamat) itulah “ummul Kitab” (essensi Al Kitab).….” (Ali Imron : 7)

Alif Laam Raa, suatu kitab yang dihukumkan ayat-ayatnya, kemudian diperinci langsung dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. (Huud: 1)

Selanjutnya, benarkah kata “mutasyabihat” itu artinya samar atau tidak jelas, padahal banyak kata yang artinya “samar” Allah menyebutnya dengan “khofi” atau “khufyah”, dan yang artinya “tersembunyi” atau “sirr”.

“Mutasyaabih” adalah bentuk isim fa’il (menunjukkan subjek/ pelaku) yang artinya saling menyerupai atau mirip-mirip.

Ayat-ayat mana yang dimaksud ?

Ada petunjuk yang bisa didapat.

Untuk itu kita simak ayat berikut :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (ahsanal hadiets) berupa kitab yang saling menyerupai (mirip-mirip) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka ke arah mengingat (sadar akan) Allah. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorangpun pemberi petunjuk” (Az Zumar : 23)

Mutasyabih artinya hampir serupa atau mirip-mirip. Tidak sama benar tetapi mengandung beberapa kesamaan, kemudian muncul berulang-ulang (matsaani), yang berpengaruh kepada timbulnya gemetaran karena takut kepada Allah. Ayat-ayat yang demikian ini bukan tertuju kepada pembakuan hukum (karena ayat yang mengenai pembakuan hukum ini tidak berulang-ulang), melainkan untuk intensitas dan kompleksitas pengaruh kepada hati manusia.

Untuk satu substansi tertentu Allah menyajikan berulang-ulang dengan variasi bashiroh (sudut pandang) yang beragam, sehingga terkembangkanlah spektrum wawasan yang lebar dan luas, menyentuh berbagai sisi dan relung kehidupan. Pantas sekali bila kemudian jiwa tergetar dengan rasa takut kepada Allah, untuk kemudian terantarkan kearah kesadaran akan ke-Maha Sucian, ke-Maha Terpujian dan ke-Maha Besaran Allah. Tasbih, Tahmid dan Takbir (Dzikrullah)

Sedikit contoh, kiranya bisa dikemukakan sebagai berikut :

5 ayat pertama dari Surat Al-Baqoroh, mengidentifikasi orang-orang yang ada dalam petunjuk Allah dan memperoleh kemenangan (Hidayah dan falah).

Surat Al Baqoroh ayat 156 dan 157 (tentunya bukan sekedar dzikir karena mendapat atau mendengar berita musibah) juga tentang orang-orang yang mendapat rahmat dan hidayah.

Surat Ali Imron ayat 103 dan 104 juga tentang orang-orang yang mendapat hidayah dan kemenangan (falah).

Surat Al Mukminun ayat 1 sampai 11 juga berupa petunjuk bagaiana meraih kesuksesan/ kemenangan.

Keempat bagian dari Al Kitab tersebut di atas secara redaksional dan pendekatan nadhori (nalar), jelas berbeda dan beragam, dengan spektrum cahaya terang benderang merambah berbagai sisi kehidupan dan menyeruak kegelapan, tetapi kemudian jelas menggiring ke arah substansi yang sama, bagaimana memperoleh petunjuk ke arah rahmat dan kemenangan hakiki.
Insyaallah dalam kesempatan lain kita bahas lebih rinci ayat-ayat tersebut untuk menyingkap spektrum mutasyabihat yang dikandungnya.

Demikanlah, di Surat Az Zumar : 23  Allah menerangkan betapa sasaran dan efektifitas ayat-ayat mutasyabihat itu. Tetapi kemudian, sebagaimana diterangkan pada Surat Ali Imron ayat 7 di atas, bahwa orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan (“zaegun”) yang menyesatkan, mereka enggan untuk mengikuti ayat-ayat muhkamat, tentunya karena keengganan tunduk kepada hukum-hukum Allah, yang menurut pikiran sempitnya, akan membelenggu dan membatasi kebebasannya.

Mereka hanya mau mengikuti apa-apa yang hampir serupa dari Al-Kitab itu (“maa tasyaabaha minhu”). Dengan mereka-reka ta’wilnya, mereka mengeksploitir ayat-ayat mutasyabihat,  sehingga terkesan banyak kesamaan dengan ajakan pikiran dan hawa nafsunya sendiri, atau ajaran kelompoknya, yang mereka lebih komit menganutnya.

Mereka hanya mencuplik-cuplik ayat-ayat tertentu untuk “mendalili” atau menguatkan ajaran yang sebenarnya hanya produk pikiran dan hawa nafsunya sendiri.

Akibatnya, timbul kerancuan berat di berbagai hal dari konsep Ajaran Islam yang sebenarnya kholis (murni), bersih dari campur tangan siapapun.

Ada lagi sebagian orang yang pendapatnya rancu. Menurutnya, ayat-ayat mutasyabihat itu Surat Al Fatihah, karena terdiri dari tujuh ayat, dan dibaca berulang-ulang (barangkali) ini yang dimaksud Allah pada ayat berikut:
“Dan sesungguhnya Kami telah datangkan kepadamu tujuh yang berulang-ulang dan Al Quran yang agung“. (Al Hijr : 87)

Tetapi di lain pihak, Surat Al Fatihah itu dikatakan pula sebagai “Ummul Kitab”. Padahal di Surat Ali Imron ayat 7 di atas, Ummul Kitab itu adalah ayat-ayat Muhkamat, bukan Mutasyabihat.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Irvan  On November 20, 2010 at 5:35 am

    Alhamdulillah…

  • Tejo prayogi  On January 27, 2012 at 11:41 am

    Assalamu’alaikum wr wb, saya sangat tertarik dengan web site ini yg mudah2an benar menurut saya “Islam tanpa Embel eMBEL” Dan kitabNya juga tidak ada embell-embel ” hanya Alquran” seperti yg dijalankan Rasullullah Saw, saya pribadi mempunyai pengertian tentang hadist mudah2an salah. Hadist/sunnah yaitu ucapan, perbuatan dan tingkah laku dan Diamnya nabi nabi Muhammad didalam menjalankan Alqu’ran.
    Menanggapi tentang Bahasa Mutasabihat, Alquran hampir 80% bahasa mutashabihat, dan untuk mengerti maknanya dikatakan tidak boleh condong dengan kesesatan, artinya untuk mengetahui maknanya hanya Allah maksudnya orang yg taat dan patuh kepada Alquran, contoh diperintah lurus, ya lurus, diprintah tidak sombong ya jangan sombong dstnya baru bisa menakwilkan Alquran
    Satu Contoh: Ketika Allah marah sama manusia yg selalu menkafiri ayat2 Allah dikatakan “Bukankah langit itu saya ciptakan tanpa tiang” kalau orang yg condong akan mengatakan anak kecil juga tahu.
    Tapi kalau kembali kedalam diri kita, ternyata benar Jadi kalau Allah mau mengazab kita ternyata mudah…, langit tanpa tiang aja bisa.., terus pelajaranya dimana Jangan kita sombong, jangan menandingi Allah (makar), taat sama perintahnya saja belum sudah mau bikin perintah sendiri.
    maaf sya juga masih belajar untuk mengadakan perbaikan, artinya belum baik karena raport masih belum saya terima, tapi yg jelas pasti banyak nilai merahnya…

  • bayu  On February 24, 2012 at 1:37 pm

    Saya senang sekali dgn cara analisa penulis yg benar2 tanpa embel2. Sangat jarang ada yg berani mengkaji agamanya sendiri tanpa takut di cap sombong dan sok tahu hanya karena tidak menjadikan pendapat ulama sbg pendapat yg pasti benar.

    Bisa saya kontak via email?

    • Islam saja  On February 28, 2012 at 5:12 am

      Bisa, ke islamsaja@ymail.com, namun mohon maaf kalau saya tidak bisa menjawab atau menanggapi mengingat keterbatasan saya

  • asep tata sukmana  On May 1, 2013 at 7:29 pm

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Masih terlalu “sangat” banyak muslim yang sangat bangga dengan mengucapkan sesuatu dengan BAHASA ARAB terlebih ayat AL-Qur’an, tapi TIDAK MENGERTI terlebih P(F)AHAM akan ARTInya. Masih terlalu “sangat” banyak muslim yang menghap(f)al ayat=ayat Al-Qur’an tapi tidak tahu ARTI-nya terlebih P(F)aham maknanya/maksud dan tujuannya. MUNGKIN itulah SEBABnya dari sekian banyak Alim Ulama-Ustadz dan Ustadzah termasuh umat Islam dinegeri ini yang mendalami Al-Qur’an TAPI TIDAK atau BELUM mampu membentuk Budaya kehidupan Islam yang Santun, Sabar dan Penuh Kasih sayang. Mohon Maaf dan Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: