Apakah Al-Hikmah itu Sunnah/ Hadits ?

Kata Al-Hikmah dalam Quran BUKAN berarti Hadis dan Sunnah

Karena pada kenyataannya Al-Quran tidak pernah menyebut kata ‘sunnah Muhammad’, maka para pengikut sunah Bukhori cs atau al-Kafi cs merasa perlu untuk memanipulasi arti dari beberapa kata Al-Quran sehingga seolah-olah mendapatkan referensi di dalam Al-Quran untuk berpegang pada Kitab-kitab ‘hadits’ dan ‘Sunah’. Kata yang mereka klaim adalah kata Al-Hikmah yang ditemukan di berbagai Surah dan ayat seperti berikut:

“Ingatlah nikmat Allah atasmu, dan apa yang diturunkan kepadamu dari ‘Al-Kitab’ dan ‘Al-Hikmah’ untuk mencerahkan/ mengajarkan/ mengingatkan kamu semua dengan itu.” 2:231.

Secara harfiah arti dari ‘Al-Kitab’ adalah “buku tersebut”, yaitu Al-Quran, sedangkan arti dari ‘Al-Hikmah’ adalah kebijaksanaan (keputusan yang tepat/ pas). Orang dapat melakukan pengecekan pada puluhan kamus bahasa Arab dan akan menemukan arti yang sama. Namun demikian, dalam upayanya untuk menjustifikasi adanya Sunah Muhammad dalam Al-Quran, maka sejak diinisiasi oleh pencetusnya (ahlul bid’ah) pada suatu zaman, maka banyak penafsir yang mengikutinya mengklaim bahwa kata “Al-Hikmah“ merujuk pada sunnah Muhammad!

Pada dasarnya, mereka mengatakan bahwa Allah menggunakan kata ‘al-hikmah’ (keputusan yang tepat/ kebijaksanaan) yang pada kenyataannya menurut mereka kata tersebut tidak bermakna ‘kebijaksanaan’, tetapi bermakna Sunnah! Semestinya kita bertanya-tanya, apakah Allah mencoba menggunakan kata yang ambigu? dan jika Allah bermaksud untuk menunjuk pada Sunah, mengapa Dia tidak cukup dengan mengatakan Sunah Muhammad?

Selain itu, apakah Allah akan membuat kita bingung? Apakah Dia akan merujuk pada sunnah Muhammad pada ayat 2:231, yang pada saat yang sama Allah memberitahu kita bahwa satu-satunya sunah adalah Sunnah Allah (33:62, 35:43 dan 48:23)?

Dengan memeriksa secara teliti beberapa ayat-ayat Al-Quran, dapat ditunjukkan bahwa penafsiran ini sama sekali tidak benar. Hal ini disebabkan oleh alasan-alasan berikut:

1. Kata ‘BI-HI’ (dengan itu) yang muncul pada akhir ayat 2:231, adalah dalam bentuk tunggal, dengan kata lain menggambarkan satu hal dan bukan dua hal. Karena itu kata-kata ‘Al-Hikmah’ dan ‘Al-Kitab’ harus menunjukkan pada satu hal dan bukan dua hal, kecuali kalau Allah membuat kesalahan gramatika bahasa Arab!

Jika kata ‘Al-Hikmah’ dan ‘Al-Kitab’ benar-benar mengacu pada Al-Quran dan Sunnah, maka secara gramatikal ayat tersebut akan diakhiri dengan kata ‘bihima’ (dengan keduanya), yang merupakan bentuk jamak 2 dari ‘BI-HI“.

2. Oleh Al-Quran kita diberitahu bahwa satu-satunya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Quran. Ucapan pribadi (hadits) Nabi bukan wahyu, melainkan kata-kata beliau sebagai manusia pada umumnya. Oleh karena itu, kalimat “apa yang diturunkan kepadamu dari ‘Al-Kitab’ dan ‘Al-Hikmah’ pada 2:231 tidak mungkin menunjuk pada Al-Quran dan Sunnah, karena Sunah BUKAN wahyu. Kalimat “Itu diturunkan kepadamu” menjelaskan bahwa kata ‘Al-Hikmah’ tidak sedang membicarakan hadits Nabi Muhammad.

3. Kata ‘Al-Hikmah’ yang digunakan di seluruh AL-Quran sebagai kata sifat dari ‘Al-Kitab’ (Al-Quran). Hal ini sangat jelas dalam ayat berikut:

a. “Yaa Siin., dan Al-Quran Al-Hakim” 36:1-2 (DEPAG: Demi Al Qur’an yang penuh hikmah,)

b. “Ini adalah apa yang Kami membacakan kepadamu dari ‘Ayat’ dan ‘Dzikr Al-Hakim” 3:58 (DEPAG: Demikianlah (kisah `Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah.).

c. “Alif Laam Raa, ini adalah ayat-ayat ‘Kitab Al-Hakim” 10:1 juga 31:2 (DEPAG: Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah).

4. Kata ‘Al-Hikmah’ yang sama juga digunakan dalam Al-Quran dalam kaitannya dengan Nabi dan Rasul yang hidup sebelum masa Nabi Muhammad (saw). Adalah sangat jelas bahwa sebelum zaman Nabi Muhammad, kitab hadits Bukhori cs dan Al-Kulaini cs tidak ada. Jadi untuk mengatakan bahwa ‘Al-Hikmah’ berarti Sunnah Muhammad adalah tidak benar. Perhatikan ayat-ayat berikut:

a. “Dan aku mengajari lamu ‘Al-Kitab’ (Kitab Suci) dan ‘Al-Hikmah’ dan Taurat dan Injiil.” 5:110.

Jelas kata ‘Al-Hikmah” di sini tidak berarti Sunah Muhammad.

b. Berikut adalah kata-kata Ibrahim ketika ia memohon kepada Allah: “Ya Tuhan kami, dan kirimlah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka untuk membacakan kepada mereka ‘Ayat’ dan mengajari mereka ‘Al-Kitab’ (Kitab Suci) dan ‘Al-Hikmah’.” 2:129.

Lagi, kata ‘Al-Hikmah’ di sini bisa tidak berarti apa-apa selain kebijaksanaan (keputusan yang tepat). Ibrahim tidak memiliki pengetahuan tentang ‘Sunah’ Muhammad.

5. Sebuah bukti lanjutan bahwa kata ‘Al-Hikmah’ seperti yang digunakan dalam Al-Quran berarti kebijaksanaan dan bukan Sunnah ditemukan pada ayat berikut:

“Dia menganugerahkan ‘Al-Hikmah’ kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan siapa pun yang mencapai ‘Al-Hikmah’ (berarti) telah benar-benar mencapai suatu berkat yang besar.” 2:269.

Kata-kata “siapa pun yang Dia kehendaki” dalam ayat ini menunjukkan bahwa Allah melimpahkan ‘Al-Hikmah’ kepada siapapun yang beriman dan bukan hanya kepada Rasul-rasul-Nya.
Jika kita menganggap bahwa ‘Al-Hikmah’ berarti Sunnah, maka kita harus percaya bahwa setiap orang beriman biasa (yang bukan Nabi) juga bisa memiliki Sunnah pribadi yang harus diikuti oleh orang beriman lainnya! Hal ini tentu saja tidak terjadi.

Ayat ini justru sangat logis jika kita berpikir tentang ‘Al-Hikmah’ dalam arti yang tepat yaitu keputusan yang tepat/ pas tentang suatu permasalahan atau kebijaksanaan.

6. Dalam Surah 17, kita diberi ilustrasi yang suaaangat jelas bahwa kata ‘Al-Hikmah’ mempunyai pengertian sebagai kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah dan bijaksana (dapat mengambil keputusan yang tepat) dalam memilih apa yang benar. Jika kita membaca ayat-ayat 22-39, kita menemukan bahwa Allah memerintahkan kita untuk tidak menghamba/ mengabdi kepada selain Dia, agar menghormati orang tua kita, agar memberikan hak kepada Al-Qurba/ kerabat kita, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan, tetapi tanpa berlebih-lebihan atau terlalu pelit, tidak membunuh anak-anak kita karena takut kemiskinan, tidak berzina, atau penyalahgunaan harta anak yatim, agar melakukan perdagangan secara benar dan adil, agar memverifikasi segala sesuatu sebelum mengikutinya secara membabi buta dan tidak bertindak sia-sia. Setelah nasihat berharga seperti yang Allah beritahukan kepada kita, pada ayat 39 Allah menyatakan ’Itulah sebagian dari Al-Hikmah’ yang di-WAHYU-kan kepada Nabi.
Melihat konteks ayat di atas maka ‘Al-Hikmah’ jelas bukanlah sebuah Kitab ‘hadits’ (perkataan) dari seseorang melainkan suatu ajaran yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya.

7. Mungkin penjelasan yang lebih sederhana dan paling meyakinkan alasan untuk membuang penyelewengan makna ‘Al-Hikmah’ yang katanya Kitab Hadits/ Sunah, adalah bahwa pada kenyataanya Allah tidak suka memberikan kepada kita puzzle. Allah menyatakan bahwa Al-Quran itu mudah dan tidak berisi kebengkokan:

“Sebuah Quran (bacaan) yang berbahasa Arab, tanpa ada kebengkokan, supaya mereka mengambil pelajaran.” 39:28

Tentunya, jika Allah menghendaki bahwa kita harus mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur’an ditambah dengan Sunnah, maka Dia akan menyebutkan kata ‘Sunnah Muhammad’ secara eksplisit di dalam Al-Quran. Memang benar Allah menggunakan kata Sunnah, namun bukan Sunnah Muhammad, melainkan Sunnah Allah dan Sunnah Al-Awwaliin.

“Ini adalah Sunnah Allah bagi orang-orang dari masa lalu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan pada Sunah Allah.” 33:62

Sunnah Allah dapat ditemukan dalam Al-Quran dan Kitab Suci sebelumnya.

Jika seandainya Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Sunnah tambahan selain Al-Quran sebagaimana yang diklaim Sunni dan Syii, maka kami mengharapkan bahwa Allah akan berfirman ‘Kami wahyukan kepadamu Kitab dan Sunnah’ atau kata-kata yang mirip dengan itu.

Namun justru sebaliknya satu-satunya wahyu yang disahkan di dalam Al-Quran adalah Al-Quran sendiri:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dengan Al-haq.” 5:48

Sesungguhnya Allah mengambil sumpah dari Nabi-Nya dari apa yang diturunkan kepadanya. Sumpah tersebut hanya mengandung Al-Quran:

Katakanlah: “Yang manakah sesuatu (yang) lebih besar (dalam) kesaksian?” Katakanlah: “Allah adalah saksi antara aku dan kamu semua, dan bahwa telah diwahyukan kepadaku Al Qur’an ini, untuk memperingatkan kamu semua dengan itu dan siapa pun yang mencapai (informasi ini); Apakah sesungguhnya kamu bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?”

Katakanlah: “Aku tidak bersaksi (demikian) “. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”. 6:19

Akhirnya Allah memerintahkan Nabi untuk mengambil keputusan permasalahan umat dengan Al-Quran dan tanpa tambahan apapun:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan AL-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu, ….” 4:105

8. Akhirnya, kata ‘Al-Hikmah’ dalam kamus bahasa Arab berarti kebijaksanaan atau keputusan yang tepat/ pas. Meninggalkan makna harfiah yang sebenarnya dan memanipulasi artinya, maka sama saja menolak kebenaran dari Al-Quran atau bahkan merusak Islam yang sebenarnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Amy  On October 28, 2010 at 9:51 pm

    Sebagian ulama mengatakan bahwa jika tidak menggunakan Hadits-nabi sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an sama halnya dengan menolak Sunnah-Rasul, bahwa banyak ayat menyatakan untuk taat kepada Allah dan RasulNYA, Apa yang diberikan rasul kepadamu maka ambilah, tidak beriman seseorang sampai menjadikan Rasul sebagai hakim dalam memutuskan perkara.

    Bagaimana tanggapan anda?

    • Muslim saja  On October 29, 2010 at 5:31 am

      Perintah taat kepada Allah dan taat kepada Rosul atau taat kepada Allah dan Rosulnya, banyak sekali di AL-Quran, sedangkan perintah untuk menjadikan Kitab Hadits (Kitab Bukhori cs di ASWJ atau Al-Kafi di SYii) untuk dipedomani TIDAK ADA perintahnya di Al-Quran.

      Kata Sunnah Rosul juga sama sekali tidak pernah disebut-sebut oleh AL-Quran. Yang sering disebut adalah Sunnah Allah (Sunnatullah) dan Sunnatul awwalin.

      Perintah mengimani selain Kitabullah juga tidak ada perintahnya di Al-Quran.

      Jadi apa yang mereka sebut “sunnah Rosul” tersebut pada kenyataannya adalah Kitab-kitab Bukhori dan kawan2 di kalangan ASWJ dan Kitab Al-Kafi berikut kawannya di Syii. Ini semua adalah buku sejarah yang isinya bisa benar dan bisa salah. Karenanya tidak mengikat untuk dijadikan pedoman hidup.

  • muslim juga  On February 24, 2011 at 2:34 pm

    @muslim saja: apa yang anda anggap buku sejarah adalah kumpulan ilmu yang diperoleh dengan ribuan kilometer menempuh perjalanan dan puluhan tahun waktu untuk meneliti kebenarannya, ketersambungan sanadnya, menghafal dan mengumpulkannya. Bahkan bisa jauh lebih berharga dari sekedar “tesis, disertasi, dsb” karena tanpanya bisa jadi kita tidak tahu bagaimana shalat itu (sebagai contoh kecil saja) karena Al-Qur’an tidak pernah menjabarkan aturan shalat, keutamaan2 shalat sunah, keutamaan2 shalat berjamaah dan banyak lagi ilmu dari kitab2 hadits.

    karenanya Sunnah Rasul (yang sedikit sekali diantaranya tercatat dalam kitab Hadits) adalah pedoman hidup yang besar kedudukannya dalam keilmuan kita namun tetap dibawah Al-Qur’an. artinya jika ada teks yang bertentangan dengan Al-Qur’an (bisa jadi ada cacat dalam penghafalan, dll) maka hadits tersebut menjadi lemah. wallahu a’lam

  • Kang Erry  On March 14, 2011 at 9:41 pm

    Kalau Begitu Buktikanlah Secara data dan Fakta bahwa Shalat Yang secara turun temurun diajarkan sejak Rasulullah Masih Hidup Sampai detik ini Adalah Salah dan tidak pernah dilakukan rasulullah karena rinciannya gak ada dalam Al-Qur’an.

    Jawablah secara data dan fakta bukan secara apa yang anda percayai..

    Kalau tidak bisa Maka gugurlah Hujjah Anda! karena ini adalah Ranah Akal

    Bukti bawah Shalat Di turunkan secara turun temurun Sebagaimana dapati skr adalah hujjah yang nyata, bukan karangan Ala Inkar Sunnah…

    • Muslim saja  On March 18, 2011 at 9:21 pm

      Penggagas sholat 5 waktu menyatakan bahwa sholat 5 waktu itu diperintahkan secara langsung oleh Allah sewaktu Nabi Mi’raj, dengan mekanisme tawar-menawar yang cukup melelahkan antara Nabi dengan Allah, dari yang semula 50 kali akhirnya mendapatkan discount 45 kali menjadi 5 kali. Konon kejadian ini setelah Nabi Hijrah (CMIIW).

      Jadi, diperkirakan Nabi pernah melakukan sholat 5 waktu selama lebih dari 10 tahun atau pernah melakukan sholat shubuh selama lebih dari 10 x 365 atau 3650 kali selama hidupnya.

      Perbuatan Nabi ini semestinya disaksikan puluhan ribu shohabat.

      Menyaksikan sesuatu yang berulang-ulang ribuan kali sulit untuk dilupakan.

      Pada kenyataannya tidak ada hadits yang melaporkan Nabi melakaukan sholat shubuh yang paling pendek ini secara lengkap mulai dari takbir hingga salam dalam sebuah laporan yang lengkap dalam satu hadits.

      Mengingat suatu perbuatan lebih mudah dari pada mengingat kata-kata, apalagi kalau perbuatan tersebut dilakukakan secara berulang-ulang.

  • Kang Erry  On March 15, 2011 at 12:18 am

    bihi pada kalimat tersebut adalah kata ganti dari maa maushul atau maa nakirah pd lafal sblumnya. Lalu maa tersebut dipertegas, bahwa maksudnya adalah alqur’an dan al hikmah. Jdi tidak boleh menggunakan dhomir bihimaa. Karena salah secara gramatikal arab .

  • Bounty  On January 13, 2012 at 10:53 pm

    Alhamdulillah kita punya kesamaan dalam mengkatagorikan kelompok umat Islam, yaitu cuma satu, Muslim. Saya adalah salah satu muslim yang kecewa atas perpecahan umat Islam, terutama golongan umat yang terpecah pada fitnah pertama: Sunni-Syi’ah.

    Alhamdulillah kekecewaan itu berangsur-angsur surut terkikis Istighfar, dengan berinteraksi “langsung” kepada saudara-saudara kita tiap-tiap golongan. Silatur-rahim yang masih dan akan terus saya jaga ini justru semakin meyakinkan saya pada satu kebenaran, bahwa hanya ada satu Islam. Bedanya, kali ini tanpa kekecewaan. Alhamdulillah.

    Saya setuju dengan pemahaman makna al-Hikmah, yang seharusnya tidak ‘dikhususkan’ kepada satu makna tertentu yang ‘agak’ lari dari makna sebenarnya.

    Saya sangat butuh mengenal karakter & tauladan Rasulullah SAW, kembali pelajari riwayat hidup beliau dari berbagai sumber. ini yang membuat saya tidak berani ingkar sunnah Rasulullah SAW, karena “semua sumber informasi” riwayat hidup beliau bersumber dari yang anda bilang sunnah Bukhori cs atau al-Kafi cs tadi.

    Satu hal yang saya pelajari tentang khilafiah, adalah mempermasalahkan hal yang sebenarnya “tidak ada”, kecuali perbedaan pendapat/sudut pandang yang tidak lepas dari salah paham, prasangka, kecewa dan politik. Semua itu mengkerucut pada pembenaran kelompok.

    Contoh: istilah (maaf) “Muslim Saja”, apabila istilah ini berpegang teguh pada salah paham, atau prasangka, atau kecewa, atau bahkan politik, begitu ide didukung banyak orang kelak akan ada satu kelompok lagi yang bernama “Muslim Saja”, dengan segala pembenarannya, yang juga akan disambut anti-pati calon kelompok-kelompok lain dengan sebutan Muslim Saja cs.
    Dan seterusnya, pola rutin khilafiah.

    Kalimat “Wa laa tafarraqu” (dan janganlah berpecah-belah) dalam Surah Ali Imran ayat 103. Cukuplah Qur’an sebagai pegangan hidup, dalam hal ini adalah dalam sosial.

  • Bounty  On January 13, 2012 at 10:55 pm

    “Hikmah” yang saya pelajari dari berinteraksi langsung dengan terbuka (tanpa prasangka buruk) dengan berbagai golongan Islam, adalah:
    ternyata dalam tiap kelompok “ADA” orang-orang yang juga tidak membenarkan perpecahan umat Islam dalam arti nyata, bukan sekedar slogan. Selalu ada orang-orang yang tidak mengelu-elukan kelompoknya sendiri, yang otomais juga tidak merendahkan kelompok-kelompok Islam lainnya.
    Adanya kebenaran/pembenaran tentang ilmu yang dipelajarinya di masing-masing kelompok dipegang sendiri saja, tidak dipermasalahkan di depan umum.

    Saya bersama orang-orang ini, muslim yang mencari persamaan dalam Islam, bukan perbedaan.

    Saya bukan muslim yang ingkar sunnah, tapi juga tidak mau jadi korban fitnah. Contoh:
    Negosiasi perintah shalat antara Rasulullah SAW kepada ALLAH SWT, termasuk hadits berstatus Shahih.
    Bagi saya riwayat ini matan-nya tidak masuk akal, karena berbenturan dengan sifat para Nabi dalam Qur’an, “Sami’na wa atha’na” dengar-taat, yang terbukti sepanjang sejarah hidup Nabi SAW.
    Menurut saya kalau proses “tawar-menawar ibadah” dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu dibenarkan, maka itu adalah satu-satunya momentum ‘keraguan’ Rasulullah SAW terhadap perintah ALLAH, yang dimotori oleh Nabi Musa AS.
    Dengan sederhana yang saya lihat adalah: Seorang Rasul yang membujuk Rasul lain untuk tawar-menawar ibadah kepada ALLAH, dengan alasan “membandingkan kekuatan” kaum masing-masing.
    Pertanyaannya sederhana:
    “Kaum mana yang paling banyak dikisahkan dalam Qur’an mempunyai kebiasaan menawar-nawar perintah ALLAH? Kaum mana yang dibilang kuat dalam riwayat itu?”

    Namun demikian,
    saya simpan sendiri pembenaran pendapat saya barusan sebatas ruang lingkup pribadi saja, dengan alasan kemaslahatan umat, supaya tidak lebih rusuh lagi. Toh pendapat saya tentang riwayat tadi bukanlah sesuatu yang “berhubungan dengan kebutuhan” umat sekarang ini.

  • Tejo prayogi  On January 31, 2012 at 5:53 pm

    Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya dan janganlah kamu menukarkan ayat ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Aku-lah kamu harus bertaqwa (2:41)
    Al Hikmah dan Sunah,
    Menurut pemahaman saya Sunnah adalah ucapan, perbuatan, tingkah laku dan diamnya Nabi Muhammad didalam menjalankan Alquran, makanya Nabi muhammad dikatakan Alquran berjalan, dan kita sebagai pengikut Nabi Muhammad yang taat kepada Rasulnya ya harus menjalankan Sunnah seperti yg dijalankan Rasulullah yaitu ucapan, perbuatan, tingkah laku dan diamnya kita di dalam menjalankan Alquran, Caranya : ikuti terus Alquran, jangan ikuti kitab kitab yang lain selain Alquran, kalau kebetulan kita mendengar dan membaca selain itu misalnya Hadist Riwayat dstnya yang menurut kita benar, kembalikan kepada Alquran kalau sesuai ya berarti benar. dimaklumkan tetapi yang kita imani yang lebih benar yaitu Alquran (Hanya Alquran Kitab yg diridhoi, obat, penawar dan rahmat kalau diminum(dijalankan), pembersih jiwa kalau kita mau membersihkan kotoranya, tidak menjadikan susah, sedih kalau mau mensyukuri Nikmat artinya menjalankan).
    Al hikmah, apabila kita bisa menjalankan Aquran dengan baik maka kita akan diberikan hikmah berupa ketenangan jiwa, sesuai dengan amal sholeh kita masing2.
    Pengertian Hadist/sunnah yg kitabnya hanya alquran bunyinya sudah beda dengan Hadist/sunnah yg kitabnya banyak, yg pertama menjalankan Alquran, yg kedua hanya menjalankan Contoh.

    • taklehangkat  On February 13, 2014 at 7:10 am

      Surah Az-Zumar,ayat18–Yang mendengarkan perkataan lalu mengikutinya apa yg paling baik diantaranya.mereka itulah orang2 yg telah diberi Allah petunjuk & mereka itulah orang2 yg mempunyai akal.

  • penasaran  On June 23, 2012 at 12:05 pm

    Kang Erry On March 15, 2011 at 12:18 am
    Permalink | Reply
    ===================================
    bihi pada kalimat tersebut adalah kata ganti dari maa maushul atau maa nakirah pd lafal sblumnya. Lalu maa tersebut dipertegas, bahwa maksudnya adalah alqur’an dan al hikmah. Jdi tidak boleh menggunakan dhomir bihimaa. Karena salah secara gramatikal arab .

    =============

    mohon ditanggapi

  • Islam saja  On June 25, 2012 at 7:13 am

    Bisa saja beliau benar, namun tidak berati Al-Quran dan Hikmah pada ayat itu adalah 2 hal yg terpisah, karena MA (apa) yang diturunkan itu pada kenyataannya hanya Al-Quran, yaitu tidak ada kitab lain selain al-Quran yang disuruh oleh Nabi Muhammad untuk menuliskannya pada zaman Beliau dan tidak ada juga kitab lain yang Allah berjanji memliharanya.

  • aswi  On June 30, 2012 at 4:44 am

    Assalamu’alaikum ww.

    Audzubillahiminassaitonirrajim, BISMILLAHIRRAHMANNIRAHIM.

    Saudara2 muslimku yang saya hormati, kita coba berpikir jernih dan menghargai pendapat orang, mari kita lepaskan atribut, golongan yg menjadikan kita berhati kaku, keras kepala dan merasa benar sendiri.
    Saya membaca, merenungi dengan hati nurani, insyaALLAH apa yang ditulis oleh Muslimsaja ini tentang pengertian AlQur’an Dan Hikmah, adalah mengandung kebenaran, semoga ALLAH dengan segala rahmatNya meneguhkan keyakinan saya.

    ALLAH menjamin keaslian & kemurnian AlQur’an sepanjang masa.
    AlQur’an adalah salah satu kitab ALLAH yang paling sempurna yg merupakan petunjuk, pedoman hidup yang diwahyukan ALLAH kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui Jibril dan oleh Muhammad, Rasulullah, diserapnya sebagai Akhlaq pribadinya dengan kehendak ALLAH.
    Rasul diperintah dan disuruh untuk menyampaikan AlQur’an kepada ummatnya.

    Sunnah adalah ucapan, perbuatan, tingkah laku dan diamnya Nabi Muhammad didalam menjalankan Alquran (seperti yg sudah dijelaskan di atas).
    Sunnah itu sendiri hanya diketahui oleh Rasul dan para sahabatnya pada waktu itu di kala Rasulullah masih hidup.
    Bagi para sahabat yang mencontoh sunnah Rasul tersebut adalah masih relevan, karena mereka selalu terkontrol oleh Rasul, dan mereka patuh.

    Hadist adalah cerita, kebaikan prasangka, yang disampaikan dan diceritakan oleh para generasi selanjutnya yg tidak pernah bertemu dengan Rasul.
    para generasi itu memang patut kita hargai dan dihormati. Mereka2 itu adalah pengumpul2 cerita kisah yang mereka yakini sunnah Rasul.
    akan tetapi mereka2 itu juga hati2 dan menyatakan jika suatu ketika yang disampaikannya tidak shahih supaya dimusnahkan.

    Rasul sendiri tidak pernah menyuruh membaca, membukukan, bahkan menandatangani hadist. yang disuruh hanya membaca, memahami & mengamalkan Alqur’an. Begitu pula para sahabatnya.

    jadi hadist itu mungkin untuk istilah di jaman sekarang bisa disebut hasil bajakan.

    sementara begitu saja yang bisa saya sampaikan. Barakallah fikum.

    Astaughfirullahil’adzim, mohon ma’af bila kuang berkenan.

    wabillahi wa taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum WW.

  • Syarif Muharim  On August 5, 2012 at 7:56 am

    Artikel di atas tampaknya lupa menyertakan ayat2 Al-Qur’an, yg menyebutkan “Al-Qur’an amat banyak mengandung hikmah”.

    Saya setuju dgn penulis artikel ini, bahwa Al-Hikmah memang tdk sama dgn Sunnah / Hadits Nabi. Dan saya lebih maknai Al-Hikmah sebagai “pemahaman yg amat mendalam ttg kebenaran-Nya (ayat-ayat-Nya yg tak tertulis)”, yg mmg amat banyak terkandung ‘di balik’ teks ayat-ayat Al-Qur’an.

    Namun saya tdk ingin bersikap curiga kpd sebagian para perawi Hadits, yg menyamakan Al-Hikmah dgn Sunnah / Hadits Nabi. Apalagi hanya Hadits2 Nabi yg masih ada tertinggal bagi umat, utk bisa memahami Sunnah2 Nabi. Serta umat bisa meninggalkan Hadits2 Nabi yg mmg benar2 tdk sesuai dgn Al-Qur’an.

    Dalam buku saya “Menggapai kembali pemikiran Rasulullah saw” (pada http://islamagamauniversal.wordpress.com/referensi/aa_cover/), saya lebih menyebutkan “Al-Hikmah (segala pemahaman yg amat mendalam ttg kebenaran-Nya di dlm dada-hati-pikiran para nabi-Nya) sebagai hal yang terlupakan” oleh umat Islam, terlepas dari adanya kesengajaan ataupun tidak utk dilupakan.

    Wassalammu ‘alaikum Wr Wb.

  • Gito  On July 30, 2013 at 10:01 pm

    Setuju deh dengan artikel ini …. :) izin share ya …?

    • Islam saja  On August 18, 2013 at 5:52 am

      Silahkan

    • Islam saja  On September 7, 2013 at 7:43 am

      Sangat dipersilahkan

  • shafiyyah fairuz  On November 4, 2013 at 3:16 pm

    istigfarlah. . .klo pun menurut yg bkin arti artikel ini berfikir seperti ini bukan bearti antum mengatakan bahwa Sunnah itu bkan pedoman hidup sunnah itu memperinci yang ada di dalam al-qur’an,, cba anda cari tata cara sholat di al-qur’an psti tdk ada yg ada perintah utk shlt adapun tata cara.a ada di sunnah rasul yang diriwayatkan oleh para ahli hadits al-qur’an dan sunnah tidak dapat dipisahkan..antum golongan ingkar sunah? atau liberal? karena antum berfikir terlalu bebas dan tak sesuai dengan islam sebenarnya. .

  • taklehangkat  On February 10, 2014 at 6:29 am

    Alhamdulillahirrabbil alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: