BENARKAH VIRUS INKARUSSUNNAH DARI AHMAD HARIADI?

Kalau kata “As-Sunnah” di situ maksudnya adalah “hadis Nabi saw. yang menceritakan perilaku Nabi saw. di dalam mengamalkan ajaran Alquran, maka amat keliru sekali jika saudaraku dari PERSIS itu menyimpulkan bahwa, “Ahmad Hariadi menolak sunnah Nabi saw. dan sudah tertular virus inkarussunnah”. Tetapi sebaliknya, jika ada suatu hadis-hadisan (hadis palsu) yang menceritakan perilaku Nabi saw. padahal yang sebenarnya bukan perilaku/sunnah Nabi saw. karena memang bertentangan dengan Alquran, maka benarlah kalau Ahmad Hariadi disimpulkan “sebagai seseorang yang menolak hadis-hadisan yang seperti itu atau inkarussunnah”. Walaupun hadis-hadis itu dimuat di dalam berbagai kitab hadis yang masyhur/kutubus-sittah, seperti kitab hadis sahih Buchori, sahih Muslim, dan lain-lain.
Kalau seseorang mengingkari atau menolak satu dua hadis yang ada dalam berbagai kitab hadis yang masyhur itu disimpulkan, “sebagai inkarussunnah”, maka berapa banyak seseorang atau ulama Muslim yang mendapat julukan seperti itu, baik ulama tersebut dari kalangan Sunni atau syi`i/syiah. Padahal ulama tersebut setelah menyelidiki hadis-hadis itu berkesimpulan bahwa, hadis-hadis tersebut “bukan hadis Nabi” alias “bukan perbuatan/qoul Nabi, bukan ketetapan/taqrir Nabi, atau bukan sunnah/perilaku Nabi”. Karena memang menurut mereka hadis-hadis yang ditolaknya itu bertentangan dengan Alquran, bertentangan dengan akal yang sehat, atau bertentangan dengan fakta sejarah yang qot`i/pasti.
Dan akhirnya A. Hassan (rahimahullah) selaku pendiri PERSIS juga akan digolongkan “sebagai inkarusunnah” karena beliau yang sangat kami hormati itu juga mengatakan, “di dalam kitab Sahih Bukhori dan Sahih Muslim itu masih ada terdapat hadis-hadis yang bertentangan dengan Alquran. Baiklah di sini dicantumkan secara lengkap ketetapan A. Hassan itu di dalam soal jawab tentang kedudukan hadis-hadis Sahih Bukhori Muslim:
SOAL     : Apa sebab Hadiets yang diriwayatkan oleh Bukharie dan Muslim
      itu shahieh ?
JAWAB : Karena Bukharie dan Muslim terlalu cermat tentang menerima Hadiets dari seseorang, ya’ni tiap-tiap seorang rawinya hingga sampai kepada Nabi s.a.w. itu orang-orang yang sudah terpilih betul tentang kebenarannya, amanatnya, ibadatnya, akhlaqnya, dan lain-lainnya.
    Bacalah permulaan,,Muqaddimah-Fathul-Baari” dan permulaan,,Syarah-Muslim-Lin Nawawie”. Pendeknya tidak ada seorang ahli Hadietspun yang cermat dan hati-hati untuk menerima Hadiets dengan memperhatikan rawi-rawinya, lebih daripada imam Bukharie. Yang kedua dari Bukharie, ialah muridnya, yaitu imam Muslim. Sungguhpun begitu, tetapi masih ada juga di dalam kedua-dua kitab yang tersebut, beberapa Hadiets yang lemah atau ada ikhtilaafnya tentang shahnya dan ada pula beberapa Hadiets yang berlawanan dengan Qur’an (ditulis lengkap sesuai dengan aslinya – pen.)
                                            A.H.
Hal tersebut dapat dilihat dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 2 bab “HADIETS RIWAYAT BUKHARI DAN MUSLIM” halaman 695, penerbit C.V. DIPONEGORO, BANDUNG.
   
Tentang hadis-hadis Sahih Bukhori dan Sahih Muslim yang ditolak A. Hassan itu banyak sekali. Hal ini bisa dilihat di dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 4 bab “Sedaqoh Anak Untuk Orangtua” halaman 1499 s/d. 1501.
    Terhadap hadis-hadis itu, A. Hassan mengatakan, Hadits-hadits yang tersebut tadi, sungguhpun shahih menurut riwayat, tetapi lantaran perlawanan dengan beberapa ayat Qur’an yang dikuatkan oleh beberapa hadits, perkataan shahabat, dan perkataan iman-iman, dan berlawanan pula dengan maksud agama, dan berlawanan juga dengan fikiran yang waras seperti yang tersebut di bawah ini satu per satunya, maka tak dapatlah dikatakan hadits-hadits itu shahih isinya.
    Menurut qa’idah ilmu hadits, bahwa Hadits yang boleh dikatakan shahih dan boleh diamalkan itu, ialah Hadits-hadits yang shahih menurut riwayat dan shahih pada maknanya, yaitu tidak berlawanan dengan ayat Qur’an dan tidak juga berlawanan dengan Hadits yang lebih kuat dari padanya.
   
Di halaman selanjutnya itu, A. Hassan menerangkan alasan-alasannya…. Mohon diteliti sendiri!
    Oleh karena itu kalau Ahmad Hariadi mengatakan bahwa “hadis-hadis akan turunnya Isa di akhir zaman yang ada di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih  Muslim itu bukan sabda Nabi alias hadis-hadisan, maka saudaraku tercinta dari PERSIS itu mestinya yang harus dia lakukan adalah menanggapi “alasan-alasan yang saya kemukakan di Daurah Du’at PP PERSIS” itu. Yang mana alasan-alasan atau hujjah-hujjah saya itu juga ada di dalam Makalah yang diberikan kepada setiap peserta Daurah.
    Karena hal itu tidak dilakukan oleh saudaraku tercinta yang penuh semangat itu, maka di dalam menjawab tulisan dia yang ada di majalah Risalah edisi Nopember 2008 yang berjudul “Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi” itu, maka saya merasa perlu di sini mengemukakan pendapat-pendapat dari pendiri PERSIS itu sendiri dengan harapan, mudah-mudahan menjadi bahan masukan bagi saudaraku khususnya dan umumnya bagi para pembaca majalah Risalah. Sehingga dengan perantaraannya, seseorang tidak mudah menuduh orang lain sebagai “inkarussunnah”. Amin!
Di samping itu, untuk melengkapi hujjah-hujjah saya di dalam soal penolakan saya terhadap hadis-hadisan akan turunnya Isa as. yang ada dalam kitab hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim itu, maka di sini perlu saya kemukakan qoul jadid A. Hassan, di mana dia yang sangat saya hormati itu mengatakan:
… tetapi ada satu jalan buat orang yang tidak mau percaya hal turunya Nabi ‘Iesaa, yaitu menolak sekalian Hadiets-hadiets yang mengatakan ‘Iesaa akan turun dengan alasan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal :
ثَلاَثُةُ كُتُبٍ لَيْسَ لَهَا اَصْلٌ : الْمَغَازِيْ وَ الْمَلاَحِمُ وَالتَّفْسِيْرُ.
                (اسنى المطالب وتذكرة الموضوعات )
Artinya : Tiga kitab tidak ada asal baginya : Dari hal perang-perang, dan kejadian-kejadian yang akan datang, dan tafsir.
    Ya’ni tidak ada kitab hadiets yang shahieh tentang cerita-cerita peperangan dan tentang kejadian-kejadian yang di tunggu-tunggu dan tentang tafsir.
    Siapa yang berani berpegang dengan perkataan Imam Ahmad yang sudah memeriksa hadiest-hadiest itu, tentulah bisa ia tolak sekalian hadiest-hadiest turunnya ‘Iesaa.
    Kalau sudah ia tolak berarti tidak ada lagi ‘Iesaa yang akan datang, maupun ‘Iesaa betul-betul atau ‘Iesaa-‘Iesaaan dan diwaktu itu, bolehlah ia ta’wiel ayat yang mengatakan Allah telah angkat ‘Iesaa ke HadiratNya, dan dengan jalan itu, dapatlah ia berkata : Nabi ‘Iesaa sudah mati dan tidak seorangpun Nabi yang sedang hidup sekarang, (kitab Soal-Jawab A. Hassan jilid 3 halaman 1162, ditulis sesuai aslinya).   
Di dalam tulisan saudaraku itu, dia telah menanggapi Keterangan no.170 dari tafsir Alquran (Yassarnal-Qur’an) yang saya tulis yang ada di halaman 115 s/d. 116 yang secara utuhnya berbunyi:
Keterangan No. 170:   
Dalam surat 3 ayat 32 ini, kita disuruh mematuhi Allah dan mematuhi Rasul-Nya, maksudnya adalah “mematuhi terhadap ketetapan-ketetapan Allah yang ada dalam Alquran dan mematuhi terhadap jejak-jejak Rasulullah saw. di dalam mengamalkan risalah Alquran.” Kalau mengenai ketetapan-ketetapan yang ada dalam Alquran itu sudah jelas ayat-ayatnya berasal dari Allah. Tetapi walaupun begitu, maksud ayat-ayat tersebut masih bisa disalah-pahami oleh masing-masing orang karena latar belakang ini dan itu. Dan untuk mengatasi hal tersebut dalam rangka mencari pemahaman yang benar, masing-masing dari Kaum Muslimin harus berlapang dada dan berkewajiban untuk menyampaikan argumen-argumennya secara santun lagi qur’ani yang dapat mendukung terhadap pemahaman masing-masing yang dianggap dan diyakininya sebagai “pemahaman yang benar’.
    Sedangkan mengenai jejak-jejak Rasulullah saw., apakah dia berbentuk ucapannya, perbuatannya, ataupun ketetapannya, maka hal itu akan lebih sulit lagi untuk dapat mendeteksinya, apakah benar hal yang dibilangkan berasal dari Rasulullah saw. itu benar-benar ucapannya, benar-benar perbuatannya dan benar-benar ketetapannya? Karena ketiga hal tersebut kebanyakannya tidak ditulis atau tidak dicatat di zaman Rasulullah saw. atau dengan kata lain ketiga hal tersebut ditulis dan dicatat sekitar dua abad, bahkan ada yang tiga abad, bahkan lagi ada yang lebih dari tiga abad setelah Rasulullah saw. wafat. Hal itu berdasarkan laporan dari si A, dan si A dapat dari si B, dan si B dapat dari si C, dan si C dapat dari si D, dan si D dapat dari si E, dan si E dapat dari sahabat, kemudian dari Rasulullah saw. yang kemudian lagi dikatakan, Rasulullah saw. mengatakan ini dan itu, berbuat ini dan itu dan menetapkan ini dan itu.
Jadi, ketiga hal tersebut yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunah Rasul itu didapat melalui laporan dari seseorang ke seseorang di dalam masa sekitar lima generasi. Oleh karena itu, amat sulitlah untuk dapat mendeteksi bahwa ketiga hal tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah saw..
Tetapi walaupun begitu, ada cara yang sangat mudah untuk dapat mendeteksinya, yakni dengan memakai alat Alquran yang di dalam surat Yasin ayat 2, dikatakan, Alquran itu sebagai “sesuatu yang dapat memutuskan/menghakimi,” yakni memutuskan apa saja secara benar, termasuk memutuskan “apakah benar yang dikatakan hadis ini dan hadis itu, itu adalah benar-benar ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah saw.?”
Kalau memang hal itu benar-benar berasal dari Rasulullah saw., maka kita pun wajib mengikutinya, karena pada waktu itu berarti kita mengikuti Alquran. Karena bagaimanapun ucapan, perbuatan dan ketetapan-ketetapan Rasulullah saw. itu adalah merupakan manifestasi dari pengamalan Alquran itu sendiri, sehingga karenanya telah disebutkan bahwa “akhlak-akhlak/jejak-jejak Rasulullah saw. itu adalah Alquran.”
Jadi, kalau ada sesuatu yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunah Rasul, tetapi isi dan jiwanya bertentangan dengan isi dan jiwa Alquran, maka hal tersebut jelas bukan hadis atau sunah Rasul atau dengan kata lain hadis dan sunah Rasul yang sengaja dibikin-bikin/ hadis Maudhuu`.
Sehingga amat bijaksanalah para ahli ilmu hadis yang mengatakan, “syarat pokok hadis shoheh itu adalah isi dan jiwanya tidak boleh bertentangan dengan Alquran.”
Oleh karena itu, masing-masing kita dari Kaum Muslimin hendaklah sangat berhati-hati terhadap hadis-hadis yang ada dalam berbagai kitab hadis, hendaklah kita menggunakan Alquran sebagai alat untuk dapat menyeleksi, mana hadis-hadis yang benar dari Rasulullah saw. dan mana-mana yang bukan.
Untuk mengetahui hal itu, janganlah kita hanya menggunakan alat-alat yang dibikin oleh manusia yang pengetahuannya sangat relatif dan tidak mengetahui yang gaib itu, yakni dengan jalan menggunakan alat yang dengan alat mana konon dapat diketahui bahwa si A, si B, si C, dan seterusnya yang meriwayatkan hadis-hadis itu adalah orang-orang yang terpercaya, orang-orang yang takwa, orang-orang yang kuat hafalannya, dan lain-lain. Sehingga dengan perantaraannya, hadis-hadis yang konon diriwayatkan oleh mereka-mereka itu dianggap dan diyakini sebagai “hadis saheh”. Padahal untuk mengetahui orang-orang tersebut yang hidupnya jauh ratusan tahun bahkan seribu tahun sebelum kita, apakah orang-orang itu bertakwa atau tidak, terpercaya atau tidak? Semuanya itu bukan urusan dan tanggung jawab kita, karena masalah itu adalah masalah hati seseorang dan hanya Allah yang dapat mengetahuinya.
Di samping itu, bahwa orang yang sejujur apa pun, pasti akan pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, sehingga ada doa “Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan yang tidak disengaja.”
   
Dan di samping itu juga, bahwa orang-orang yang konon meriwayatkan hadis-hadis itu, baik si A, si B, si C, dan seterusnya itu, dapat saja terjadi bahwa bukan mereka yang meriwayatkannya, tetapi orang lain yang sengaja mengada-adakan riwayat hadis dengan dikatakan, yang meriwayatkannya itu adalah mereka, karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Hal yang seperti ini sangat mungkin terjadi sebagaimana sangat mungkin terjadinya hal tersebut dengan mengatasnamakan pada diri Rasulullah saw.
Sehingga beliau bersabda, “Barang siapa yang mengada-adakan dusta atas namaku, maka hendaklah dia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari api/akan sengsara” (hadis Mutaawatir).
Maksudnya adalah akan banyak orang yang memakai nama beliau, sehingga beliau dikatakan mengatakan dan berbuat ini dan itu, padahal beliau saw. tidak pernah mengatakan dan memperbuatnya. Bagi mereka yang melakukan kedustaan seperti ini diancam oleh Rasulullah saw. dengan ancaman yang sangat keras.
Jadi, sekali lagi, hati-hatilah terhadap hadis-hadis palsu/Maudhuu’ yang ada dalam berbagai kitab hadis, karena dia adalah merupakan berhala yang apabila kita ikuti/sembah, dia dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk yang akan menimpa umat Islam ini. “dampak-dampak buruk yang ditimbulkan oleh hadis-hadis palsu” itu dipakai judul oleh Muhammad Naashiruddiin al Albanii di dalam kitabnya yang berjudul lengkap;
سِلْسِــلَةُ الْأَحَادِيْــثِ الضَّــعِيْفَةِ وَالْمَوْضُــوْعَةِ وَأَثَرُهَــا السَّــيِّئُ فِـي الْأُمَّــةِ
Di dalam menanggapi tulisan saya yang ada dalam Keterangan no.170 itu, saudaraku yang tercinta dari PERSIS yang berinisial NS itu menanggapinya dengan tanggapan yang tidak proporsional dan jauh dari inti masalah. Dikatakan demikian karena dia tidak menanggapi berbagai inti masalah yang ada dalam tulisan saya itu. Padahal seharusnya menurut Alquran, dia harus menanggapinya satu-per satu masalah yang dianggap keliru olehnya yang ada dalam tulisan saya itu dengan mengemukakan hujjah-hujjah naqli dan aqli, sehingga dengan perantaraannya, hal-hal yang keliru yang ada dalam tulisan saya itu dapat terdeteksi kekeliruannya. Cara yang ditunjukkan oleh Alquran dalam surat 17 ayat 81 itu tujuannya adalah “untuk mencerdaskan kedua belah pihak, karena memang kedua belah pihak itu masing-masingnya saling mau memberi dan saling menerima”. Untuk lebih jelasnya hal tersebut, dapat dilihat dalam tafsir “Yassarnal-Qur`an”, surat 17 ayat 81 dengan Keterangan no.593.
Di dalam menanggapi tulisan saya itu, saudaraku tercinta dari PERSIS yang berinisial NS itu tidak melakukan hal mulia yang dianjurkan oleh Allah dalam Kitab Suci-Nya, malahan dia menanggapi dan mengatakan sebagai berikut:
  1. Ahmad Hariadi menolak ilmu hadis dan tidak mempercayai hadis-hadis shahih.
  2. Pernyataan yang ada dalam tulisan Ahmad Hariadi itu penuh dengan kesalahan yang fatal.
  3. Hadis-hadis yang diamalkan oleh Ahmad Hariadi hanyalah hadis-hadis yang sesuai dengan Alquran menurut akalnya sendiri walaupun hadis-hadis itu dhaif.
  4. Hadis-hadis sahih, kalau kenyataanya menurut akalnya Ahmad Hariadi bertentangan dengan Alquran, maka  dia tidak mau menggunakannya.
  5. Ahmad Hariadi meragukan kedudukan hadis-hadis shahih disebabkan berkeyakinan bahwa hadis ditulis beberapa abad dan beberapa generasi sesudah Nabi saw wafat.
  6. Ahmad Hariadi belum tuntas belajar hadis dan ilmu hadis.Oleh karenanya akan lebih bijaksana kalau Ahmad Hariadi memperdalam kembali ilmu hadisnya.
  7. Ahmad Hariadi harus menghilangkan terlebih dahulu praduga-praduga yang tidak berdasar. Karena praduga itu tidak bisa disejajarkan dengan ilmu yang sudah teruji berabad-abad lamanya.
  8. Meyakini bahwa hadits baru ditulis satu abad sesudah Nabi saw meninggal dunia, adalah sebuah kesalahan fatal. Jika yang dimaksud adalah kodifikasi hadits dalam kitab semisal Shahih al-Bukhari, Musnad Ahmad, dan sebagainya, maka itu bisa dibenarkan. Tapi jauh sebelum itu, hadits juga sudah di-tadwin (dihimpun dalam satu tulisan) oleh para shahabat dan tabi’in.
  9. Berkaitan dengan kritik rawi, tentunya tidak seperti yang digambarkan Ahmad Hariadi di atas. Di mana menurutnya selang waktu seratus sampai seribu tahun menyebabkannya berasumsi tidak mungkin identitas seorang perawi diketahui. Karena pada faktanya, kritik rawi dan periwayatan – atau dikenal dengan system isnad/sanad – sudah dilakukan dari sejak zaman awal Islam.
  10. Dalam jalur lain Ibn al-Mubarak mengatakan: Isnad itu termasuk agama, karena kalau tidak ada isnad pastilah orang-orang akan berkata seenaknya saja. (Shahih Muslim no.32)
  11. Dalam kajiannya terkait sistem isnad, al-A’zhami memberikan beberapa kesimpulan, di antaranya:
(8) Tidak ada alasan yang dapat diterima untuk menolak sanad. Justru penelitian menegaskan bahwa metode sanad itu mengandung unsur-unsur keaslian dan keotentikan (otentisitas), di mana secara umum sanad harus diterima. (9) Ahli-ahli hadits telah melakukan upaya maksimal untuk mengoreksi dan mengritik matan dan sanad hadits. Mereka melakukannya dengan penuh keberanian dan keikhlasan. (10) Kitab-kitab hadits sampai sekarang ini juga selalu siap untuk diperiksa, diteliti dan dikoreksi, sepanjang hal itu memenuhi kriteria-kriteria ilmiah dan objektifitas, bukan atas dasar ketidaktahuan dan kebencian. (Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, hlm.583).
  1. Dari profil karya terjemahan al-Qur’an Ahmad Hariadi tersebut, kejanggalan sudah dapat ditemukan, yakni: Terjemahan Perkata dengan Nahwu-Sorof dan Tafsir Bebas Kontemporer Lintas Asbaabul-Nuzuul. Profil dari karya tersebut menyisakan sebuah pertanyaan serius, apa yang dimaksud dengan “Tafsir Bebas Kontemporer” dan apa yang dimaksuddengan “Lintas Asbaabul-Nuzuul”?
  2. Bukankah karya tafsir Ahmad Hariadi itu menunjukkan bahwa dia tidak memahami metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah sehingga memerlukan adanya tafsir yang bebas dan lepas dari metodologi yang sudah ada? Dan memangnya apa itu asbabun-nuzul, sehingga perlu mengembel-embelinya dengan kata “lintas”? Memang benar terdapat riwayat asbabun-nuzul yang berbeda-beda untuk satu ayat, akan tetapi itu tidak berlaku untuk semua ayat. Dan hal tersebut tidak serta merta menjadikan penafsiran “warna-warni” sebagaimana sering dikampanyekan oleh kalangan Liberal dewasa ini.
  3. Mengenai profil “Terjemahan Perkata dengan Nahwu-Sorof”, para peserta Daurah Du’at sempat terperanjat ketika Ahmad Hariadi  kebingungan dalam menashrifkan kata du’at, sampai harus meminta jawaban dari Ustadz Aceng Zakaria dan para peserta. Tentu ini menjadi sebuah kejanggalan, karena bagaimana mungkin ia berani menerjemahkan al-Qur`an dengan nahwu-sharaf, sementara untuk menashrifkan kata du’at saja cukup kebingungan.
  4. Kejanggalan lainnya, Ahmad Hariadi menerjemahkan ayat berikut dengan cukup aneh:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (   )
    Hendaklah Engkau menunjuki (pada) kami (kepada) tuntunan yang minta pengukuhan/kukuh.
Di catatan kaki, Ahmad Hariadi menuliskan:
    Kata al-mustaqim berasal dari kata qama-yaqumu, dia dari aslinya mendapat tambahan alif, sin, dan ta (di teks asli, kata yang bergaris miring ditulis dengan huruf Arab – red), oleh karena itu dia diartikan dengan, “minta pengukuhan/kukuh.” Dan yang dimaksud dengan “tuntunan yang minta pengukuhan/kukuh” adalah “Alquran itu sendiri”. Hal ini dijelaskan di dalam surat 6 ayat 153. Jadi Alquran adalah minta pengukuhan dari kita/manusia, supaya kita mengukuhkannya sebagai “satu-satunya tuntunan hidup”. Dalam doa tersebut, kita minta ditunjuki oleh Allah agar di dalam menghadapi setiap persoalan apa pun bentuknya, kita dapat bersikap dan berbuat sesuai dengan petunjuk Allah yang ada dalam Alquran (Yassarnal-Qur`an, hlm.2).
    Penerjemahan dan penafsiran di atas tentu janggal. Dalam bahasa Arab, tidak semua kata yang diberi imbuhan alif, sin, ta, bermakna “minta”. Termasuk kata istiqamah/mustaqim di atas. Apakah seseorang yang istiqamah akan dimaknakan “minta pengukuhan”? Kalau begitu orang tersebut belum istiqamah/teguh pendirian….
  1. Karya Ahmad Hariadi, Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an itu modelnya mirip dengan Alquran terjemahan karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah.
  2. Terlebih seperti dikemukakan oleh M. Amin Djamaluddin dalam forum Daurah Du’at PP. Persis, Ahmad Hariadi dalam menulis karya Yassarnal-Qur`an tersebut secara terang-terangan bergandengan tangan dengan Lukman Saad, seorang tokoh Inkarussunnah, Dirut PT. Ghalia Indonesia. Apakah memang Ahmad Hariadi tidak tahu? Ataukah sudah tahu dan memang sependapat dengan paham Inkarussunnah? Buktinya ia bisa menjelaskan profil Lukman Saad sampai dua halaman dalam pendahuluan Yassarnal-Qur’an?
Komentar saya/Ahmad Hariadi terhadap tanggapan-tanggapan itu sesuai dengan nomor-nomor tersebut:
  1. Hal yang dikatakannya yang ada di no.1 itu tidak benar. Penjelasannya secara gamblang dapat dilihat di bagian awal dalam tulisan ini.
  2. Mohon ditunjukkan mana-mana saja kesalahan yang fatal itu! Dan setelah itu, mohon masing-masingnya ditunjukkan di mana letak kesalahannya itu dengan mengemukakan dalil-dalil naqli dan aqli, dan kemudian mohon ditunjukkan bagaimana benarnya.
  3. Di dalam Alquran berulang-ulang Allah memerintahkan agar kita di dalam mempelajari agama ini selalu menggunakan akal sehat kita dan banyak mendengar pendapat orang lain, karena dengan perantaraannya, seseorang akan ditunjuki oleh Allah kepada hal-hal yang benar, (Surat 2 ayat 242, Surat 39 ayat 18, dll.). Bahkan di dalam Surat 67 ayat 10 dikatakan, “Orang yang tidak mau menggunakan akal sehatnya dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dengan baik akan menjadi penghuni Neraka Sair”.
  4. Komentar saya terhadap tanggapan dari saudaraku yang no.4 itu sama dengan komentar saya yang ada di no.3.
  5. Hal yang dikatakannya yang ada di no.5 itu tidak benar. Penjelasannya secara gamblang dapat dilihat di bagian awal dalam tulisan ini.
  6. Hal itu benar adanya, karena tidak ada penuntut ilmu yang sudah tuntas di dalam mempelajari ilmu-ilmu tertentu, dan masing-masingnya harus memperdalam ilmu-ilmu itu. Kalimat tanggapan dari saudaraku yang di no.6 itu sangat tidak ilmiah dan tidak etis untuk ditujukan kepada seseorang tertentu. Karena ucapan yang seperti itu bisa saja diucapkan oleh siapa pun, termasuk oleh orang yang tidak berpendidikan lagi tidak santun di dalam arena debat kusir.
  7. Tolong sebutkan praduga-praduga saya yang tidak berdasar itu. Di dalam tulisan saya itu, praduga-praduga saya selalu didasarkan pada dasar/dalil naqli dan aqli. Dalil-dalil saya itulah yang harus ditanggapi oleh saudaraku dengan dalil-dalil naqli dan aqli pula!
  8. Tanggapan dari saudaraku yang no.8 ini, saya jawab dengan ucapan A. Hassan selaku pendiri PERSIS yang berbunyi: “Kita mesti ingat, bahwa Qur’an itu pokok yang utama bagi kita, dan sampainya kepada kita dengan mutawatir atas jalan hafalan dan tulisan. Adapun Hadits-hadits Nabi itu, umumnya ditulis orang sesudah lebih dari satu abad atau hampir dua abad Hijriyah. Sebelum itu, semuanya disimpan dalam hafalan orang sahaja, dan juga Hadits-hadits hadiah pahala itu (yang ada dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim – pen.), sampainya kepada kita tidak mutawatir, maupun dengan hafalan atau dengan tulisan, hanya yang demikian itu riwayat aahaad, ya’ni riwayat satu-satu orang yang tidak patut kita terima dan kita ubah arti ayat Qur’an yang dengan terang-terang menolak adanya hadits pahala dari seorang kepada seorang, maupun di waktu masih hidupnya atau sesudah matinya”, (buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 4 hlm. 1506).
Mohon pernyataan A. Hassan, orang nomor satu di PERSIS itu dijadikan bahan masukan bagi saudaraku yang tercinta, mudah-mudahan untuk selanjutnya dapat dijadikan pertimbangan di dalam hendak memutuskan sesuatu. Amin!
  1. Dalam tanggapannya di no.9, saudaraku tercinta mengatakan, “Karena pada faktanya, kritik rawi dan periwayatan – atau dikenal dengan system isnad/sanad – sudah dilakukan dari sejak zaman awal Islam”. Pernyataan saudaraku ini mohon diperjelas awal Islam itu kapan mulainya? Dan mohon dibandingkan dengan ucapan pendiri PERSIS yang ada di no.8 di atas!
  2. Di dalam tanggapannya no.10, saudaraku itu membawa perkataan Ibnu Mubarak yang mengatakan, “Isnad itu termasuk agama, karena kalau tidak ada isnad pastilah orang-orang akan berkata seenaknya saja. (Shahih Muslim no.32)”.
Kalimat itu bukan hadis Nabi saw. Pernyataan Ibnu Mubarak inilah yang sering dipakai oleh orang-orang LDII/ISLAM JAMAAH untuk menetapkan bahwa “mengaji Quran dan hadis itu harus melalui manqul (melalui sanad-sanad atau rawi-rawi yang ada pada Islam Jamaah melalui pendirinya, Haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis)”. Sehingga para pengikut Islam Jamaah kalau mengaji hadis, mereka akan mengatakan dengan kalimat:
حَدَّثَنَآ اِمَامْ حَاجِ نُورْ حَسَنْ\اَلْعُبَيْدَهْ لُوبِيْس عَنِ الشَّيْخِ عُمَرَحَمْدَانَ
الْمَكِّى …
Yang artinya: Imam haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis telah menceritakan hadis kepadaku, di mana dia mendapatkan hadis itu dari Syeikh Umar Hamdan Al-Makki … dan seterusnya … dan seterusnya sampai ada rawi atau sanad yang berjumlah 15 orang sampai kepada Imam Nasa’i kalau yang dikaji itu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, dan akan sampai kepada Bukhari dan Muslim kalau yang dikaji itu hadis yang diriwayatkan oleh keduanya … dan begitulah seterusnya.
Jadi dari situ kita dapat mengambil pelajaran bahwa “rawi-rawi yang meriwayatkan hadis itu bisa saja diada-adakan untuk kepentingan tertentu, padahal yang sebenarnya rawi-rawi tadi tidak meriwayatkannya atau nama rawi-rawi tadi dimanfaatkan bahwa para perawi itu menyampaikan hadis ini dan hadis itu, padahal yang sebenarnya mereka tidak pernah meriwayatkan atau menyampaikan hadis-hadis itu. Dan hal ini sangat mungkin terjadi, baik oleh para perawi sebelum hadis dibukukan ataupun sesudah hadis dibukukan (yang terakhir ini contohnya para perawi yang dimiliki oleh Islam Jamaah di atas). Dan hal yang seperti itulah ujung-ujungnya nama Rasulullah saw. dicatut dengan dusta dengan mengatakan, “Rasulullah saw. mengatakan ini dan itu, melakukan ini dan itu, dan menetapkan ini dan itu”. Terhadap orang yang melakukan dusta atas nama Rasulullah saw. seperti itu akan diancam dengan ancaman yang sangat keras sebagaimana sabda beliau saw. yang berbunyi, “Barang siapa yang mengada-adakan dusta atas namaku (membikin-bikin hadis diatasnamakan Rasulullah saw. – pen), maka hendaklah dia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari api/akan sengsara” (hadis Mutaawatir Lafdhi).
11. Marilah kita uji apa-apa yang dikemukakan oleh saudaraku tercinta dalam tanggapannya di no.11:
Contoh rangkaian isnad/rawi-rawi yang ada dalam hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:
Nabi Muhammad
  1. Khudaifah bin Al-Yaman
  2. Abu Idris Al-Khoulani
  3. Busr bin Ubaidillah Al-Hadlromi
  4. Ibnu Jabir
  5. Al-Walid bin Muslim
  6. Muhammad bin Al-Mutsanna
  7. Bukhari 

        
    Nabi Muhammad
  1. Abdullah
  2. Masruq
  3. Abdullah bin Murroh
  4. Al-A’masy
  5. Hafsh bin Ghiyab dan …
  6. Abu Bakar bin Abi Syaibah
  7. Muslim
Rangkaian isnad/rawi-rawi itu diadakan oleh Bukhari dan Muslim sekitar 200 tahun setelah Nabi saw. wafat, karena Imam Bukhari wafat tahun 256 H./870 M. dan Imam Muslim wafat tahun 261 H./875 M. Oleh karena itu, apakah yang menjadi bukti kongkret dalam rangkaian rawi-rawi itu, bahwa: rawi yang no.1 itu menjadi sumber berita pertama dari rawi yang no.2 s/d. no.7, yang lantas sumber berita yang pertama itu menceritakan hadis Nabi saw. Jadi di situ bukti kongkret tidak ada, paling banter orang yang mempertahankan hadis yang diberitakannya itu  mengatakan, “Sumber berita yang pertama itu kan ada nama sahabat Nabisaw, dan ucapan-ucapan lain yang diada-adakan dan dipaksa-paksakan ”. Padahal di dalam rangkaian rawi-rawi itu bisa saja terjadi salah satu orang rawi atau dua tiga orang rawi tidak pernah menceritakan hadis tersebut kepada rawi yang lain, hanya nama-nama mereka saja yang dipakai atau dicatut dengan dusta oleh rawi yang lain demi untuk mendapatkan jastifikasi/pembenaran melalui nama-nama mereka yang sudah terkenal di waktu itu… dan lain-lain. Pengatasnamaan dusta yang seperti itu sangat mungkin bisa terjadi sebagaimana sangat mungkin bisa terjadinya terhadap nama Rasulullah saw.(sebagaimana yang ada dalam Hadis Mutawatir lafdhi tersebut di atas).
Adapun matan/isi dari hadis yang konon disabdakan oleh Nabi saw. yang ada dalam hadis Sahih Bukhari tersebut di atas sangat panjang sekali, yang intinya: … kalau dalam suatu masyarakat sudah terjadi krisis moral dan krisis sosial, sedangkan di dalam masyarakat itu tidak ada Jamaah dan tidak ada Imam kaum Muslimin, maka kaum Muslimin diminta dengan sangat untuk memisahkan diri dari masyarakat yang ada walaupun mereka harus bersusah payah sampai harus makan akar-akar pepohonan (pergi ke hutan – pen).
Kalau mereka menganggap hadis tersebut benar-benar sabda Nabi saw., tolong dong amalkan hadis tersebut! Sedangkan saya/Ahmad Hariadi berkeyakinan hadis tersebut adalah “hadis-hadisan alias bukan sabda Nabi saw.” karena memang bertentangan dengan puluhan ayat-ayat Alquran, yang di antaranya Alquran menyuruh kaum Muslimin agar senantiasa amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat, mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan cara yang bijaksana, berusaha dengan sungguh-sungguh alias berjihad menyampaikan visi dan misi Alquran ke tengah-tengah masyarakat, dan selalu menyampaikan peringatan Tuhan kepada manusia sehingga tidak ada satu orang pun yang terjerumus karena tingkah lakunya yang menyimpang, dan lain-lain.
Sedangkan matan/isi dari hadis yang konon disabdakan oleh Nabi saw. yang ada dalam hadis Sahih Muslim tersebut di atas, intinya sebagai berikut: seseorang Muslim yang beristeri/bersuami yang melakukan perzinaan itu halal darahnya (boleh dibunuh), begitu juga halal darahnya seseorang Muslim yang murtad (meninggalkan agama Islam) ….
Hadis tersebut juga bukan sabda Nabi saw. alias hadis-hadisan, karena memang bertentangan dengan Alquran dalam surat 24 ayat 2, surat 5 ayat 54, dan lain-lain. Adapun hadis tentang hukum rajam sampai mati terhadap seseorang yang beristeri/bersuami yang berzina itu juga hadis-hadisan. Hukum rajam tersebut diadopsi dari hukum yang ada pada kitab Tauroh, dan hukum rajam itu sudah dimansukh oleh hukum Alquran yang ada di surat 24 ayat 2.   
12.    Terhadap pertanyaan dari saudaraku yang ada dalam tanggapannya di no.12 itu, jawabannya sebenarnya sudah ada di Pendahuluan dari Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an. Mohon dilihat kembali di halaman xii s/d. xxi!
13.    Komentar saya terhadap tanggapan saudaraku yang ada di no.13 itu adalah: mohon ditunjukkan oleh saudaraku poin-poin penafsiran mana dari tafsir saya itu yang keliru atau salah karena tidak menggunakan metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah itu. Kemudian setelahnya itu, saudaraku hendaklah membantahnya dengan menggunakan metodologi penafsiran yang dianggap oleh saudaraku sudah mapan itu. Menurut saudaraku dengan menggunakan metodologi penafsiran yang sudah teruji secara ilmiah itu akan terwujud tafsir yang satu macam/satu corak saja alias tidak warna-warni. Dalam hal tersebut, hendaklah saudaraku memahami bahwa tafsir Alquran yang sudah dihasilkan dan beredar di tengah-tengah masyarakat itu memang berwarna-warni coraknya, dan berbeda-beda. Hal itu suatu keniscayaan karena memang latar belakang dalam berbagai hal dari para penulis tafsir itu berbeda-beda. Tetapi perbedaan-perbedaan itu saling melengkapi satu sama lain karena memang Allah Yang Maha Rahman itu adalah “Robbul-‘aalamiin/ Robbnya berbagai dunia pemikiran, pemahaman, penafsiran, dan lain-lain.” Baiklah sebagai contoh, di sini disebutkan berbagai kitab tafsir Alquran dengan berbagai macam coraknya yang sudah dihasilkan dan beredar di tengah-tengah masyarakat:
1.     Ada kitab Tafsir bil-ma`tsuur, seperti kitab Tafsir Al-Qur`anul ‘Adhiim karangan Ibnu Katsir, kitab Tafsir Ad-durru al-mantsuur fit-tafsiiri bil-ma`tsuur karangan Jalaluddin As-Suyuti, Kitab Tafsir ma’aalimut-tanziil karangan Al-Baghowi, dan lain-lain.
2.    Kitab Tafsir bir-Ro`yi, seperti kitab Tafsir Mafaatihul-Ghaib karangan Muhammad bin Umar Al-Husain Ar-Rozii, kitab Tafsir Anwaarut-tanziil wa Asroorut-ta`wiil karangan Abdulah bin Umar Al-Baidhowi, kitab Tafsir Al-Bakhrul Muhiith karangan Muhammad bin Yusuf bin Hayan Al-Andalusi, dan lain-lain.
3.    Kitab Tafsir yang bercorak modern, seperti kitab Tafsir Al-Qur`anil-Hakiim/Tafsir Al-Manaar karangan Muhammad Rasyid Ridha, kitab Tafsir Al-Maroghi karangan Ahmad Musthofa Al-Maroghi, kitab Tafsir fii dhilaalil-Qur`an karangan Syayid Qutub, kitab Tafsir Adlwaa`ul Bayaan (Tafsir modern bercorak tafsir ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain) karangan Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar An Syanqithi, dan lain-lain.
Di samping itu ada kitab-kitab tafsir yang coraknya hanya memuat berbagai hukum/ahkam, dan ada juga banyak kitab tafsir yang coraknya tidak seperti yang tersebut di atas, belum lagi kitab-kitab tafsir dari kalangan Mu’tazilah dan Syi’ah.
Dari berbagai macam corak kitab tafsir tersebut di atas, banyak penafsiran yang berbeda-beda terhadap sesuatu ayat tertentu walaupun di dalam kitab-kitab tafsir yang coraknya sama, apalagi yang coraknya berbeda. Tetapi perbedaan-perbedaan  itu masih dalam rangka saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain, yang hal mana menunjukkan betapa luasnya penafsiran ayat-ayat Alquran itu, (surat 18 ayat 109).
Dari semuanya itu, kalau saudaraku yang tercinta itu mengharapkan hanya adanya satu corak tafsir alias tidak warna-warni, maka hal itu sesuatu yang tidak mungkin/mustahil, karena akhirnya akan menjadikan Allah Yang Maha Rahman itu bukan Robbul-‘aalamiin/Robbnya berbagai alam, tetapi sebagai “Robbul-‘aalam/Robbnya satu alam saja” (na’uudzu billaahi-min dzaalik).
14.    Pernyataan dari saudaraku yang ada di No. 14 itu sungguh menjadikan saya tertawa dan keheran-heranan, karena saudaraku itu menyimpulkan dengan kesimpulan yang salah terhadap apa-apa yang saya sampaikan dalam soal kata Du’at kepada para peserta Daurah. Padahal saya menyampaikan hal itu bersifat melemparkan masalah atau bertanya, seperti seorang guru bertanya kepada murid. Di situ bukan berarti saya tidak bisa menashrif kata jamak Du’at itu berasal dari kata tunggal apa, di situ saya hanya ingin agar para peserta Daurah itu dapat memahami dengan baik, bahwa kata jamak Du’at itu bisa berasal dari kata tunggal daa’in yang berbentuk isim fa’il yang artinya orang yang berdakwah, dan bisa juga bahkan yang lebih tepat kata Du’at itu berasal dari Shighoh Mubaalaghoh daa’iyatun yang artinya jurudakwah/pendakwah. Dan kata daa’iyatun yang bershighoh Mubaalaghoh itu bisa untuk laki-laki dan perempuan, karena memang di situ para peserta Daurahnya terdiri dari juru dakwah laki-laki dan perempuan.
        Jadi kejadian yang seperti itu, yakni menyimpulkan ucapan seseorang dengan kesimpulan yang salah itu dapat terjadi pada siapa pun, baik orang itu orang yang jujur, ataupun yang kurang jujur, ataupun lagi yang selalu tidak mau jujur. Dari kejadian itu, kita dapat mengambil pelajaran penting, bahwa masing-masing perawi hadis yang ada dalam rangkaian sanad hadis itu juga bisa menyimpulkan ucapan rawi yang lain dengan kesimpulan yang salah dan bisa juga salah dengar. Maka dari itu Siti Aisyah pernah mengatakan, bahwa pendengaran seseorang itu bisa melakukan kesalahan walaupun dia seorang sahabat Nabi saw, seperti Umar dan Abdullah bin Umar, (lihat buku Soal-Jawab A. Hassan, jilid 4 hlm. 1504).
  1. Dalam bahasa Arab, kata kerja atau fi’il yang mendapat tambahan huruf alif, sin, dan ta` itu asal-asalnya artinya mendapat tambahan kata “minta”. Karena ingin praktis dan mudah, maka kata “minta” itu sering dibuang. Padahal yang sebenarnya di situ ada falsafahnya atau ulasannya yang lebih dalam, contoh: Banyak orang mengaku Islam dan sering mengatakan, bahwa Kitab Sucinya adalah Alquran, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pola pikir dan tingkah lakunya banyak yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan Alquran. Hal itu terjadi karena mereka secara hakiki tidak mengukuhkan Alquran sebagai satu-satunya petunjuk hidupnya. Padahal pengukuhan itulah yang sering-sering diminta oleh Alquran. Jika pengukuhan secara hakiki terhadap Alquran itu ada, maka pada waktu itu seseorang akan rela untuk dibimbing oleh Alquran di dalam menjalani kehidupannya. Dengan ulasan yang sangat sederhana itu, mudah-mudahan saudaraku yang tercinta dari PERSIS itu dapat memahami dengan baik sehingga tidak mudah menyalahkan sesuatu hal sebelum merenungkannya lebih dahulu. Kalau toh umpamanya saudaraku itu masih tetap tidak mau menerima kata “Al-mustaqiim” itu diterjemahkan dengan “minta pengukuhan”, maka mohon ditunjukkan oleh saudaraku dua kata “minta pengukuhan” itu bahasa Arabnya apa? Dan lagi orang yang istiqomah itu baru bisa istiqomah secara benar dan berkelanjutan apabila dia di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup itu senantiasa minta kepada dirinya agar senantiasa pola pikir dan tingkah lakunya tetap kukuh di atas ketetapan-ketetapan Ilahi.
         Baiklah di sini ditambahkan satu contoh lagi untuk membantu memudahkan pemahaman, yakni kata “mustasyfaa”, kata ini artinya adalah “tempat yang dimintai kesembuhan” karena dia berasal dari kata kerja/fi’il “syafaa-yasyfii-syifaa`an” yang ditambah di depannya huruf alif, sin, dan ta`. Dan kata “mustasyfaa” itu adalah “kata benda yang menunjuk pada makna tempat/isim makan” berasal dari kata kerja/fi’il “istasyfaa-yastasyfii-istisyfaa`an”. Kata “mustasyfaa” itu biasa disebut “rumah sakit”. Karena kata rumah sakit itu bahasa Arabnya adalah “mustasyfaa”, maka falsafahnya atau ulasannya adalah: yang namanya rumah sakit/mustasyfaa itu mempunyai fungsi utama untuk menyembuhkan orang yang sakit, dari situ jelaslah yang namanya rumah sakit/mustasyfaa itu dituntut agar  berkualitas, lengkap fasilitas, tenaga medis yang berkapasitas dengan dilengkapi obat-obatan yang lengkap lagi siap, dan lain-lain. Yang dengan itu semua, fungsi utama rumah sakit/mustasyfaa dapat dilaksanakan sesuai dengan asal namanya, yakni “tempat yang dimintai kesembuhan”. Ini hanyalah sekedar contoh untuk memudahkan memahami dan mengulas kata-kata Arab yang ada dalam Alquran yang mendapat tambahan huruf alif, sin, dan ta`.   
  1. Saudaraku dari PERSIS itu mengatakan, Karya Ahmad Hariadi, Terjemah/Tafsir Yassarnal-Qur`an itu modelnya mirip dengan Alquran terjemahan karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah.
Pernyataan saudaraku itu sungguh tidak benar, karena dua terjemahan Aquran itu sungguh sangat jauh berbeda karena berbedanya berbagai latar belakang penulisnya. Nampaknya saudaraku belum pernah membaca terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu, seorang da’i inkarussunnah itu. Dia mengatakan begitu karena adanya kabar burung yang mengatakan seperti itu. Dan dalam Islam dibenci dan dilarang menerima kabar burung (qiila wa qoola) tanpa mengecek lebih dahulu.
Oleh karena itu, saya memohon kepada saudaraku yang tercinta agar mau mengecek lebih dahulu terhadap terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu itu, dan setelahnya itu membandingkannya dengan Terje-mahan/Tafsir Yassarnal-Quran yang saya tulis. Dan setelahnya itu, saudaraku baru dapat menyimpulkan dengan kesimpulan yang benar, (amin!) Kalau saudaraku tidak punya terjemahan Alquran Karya Nazwar Syamsu itu, silahkan datang ke Ahmad Hariadi untuk mengcopinya.      
  1. Untuk menjawab pernyataan dan pertanyaan dari saudaraku yang ada di no. 17 itu sebenarnya jawabannya sudah ada di riwayat hidup Lukman Saad yang ada di halaman ix, (nampaknya saudaraku kurang teliti di dalam membacanya).
    Alangkah baiknya kalau saudaraku itu memahami karakter Ahmad Hariadi di dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan masyarakat yang berbeda-beda, terutama kalangan masyarakat muslim. Ahmad Hariadi mempunyai prinsip seperti yang dianjurkan oleh Alquran, bebas bergaul dengan siapa saja dalam rangka mencari ilmu dan menyampaikan kebenaran. Karena dengan perantaraan itulah seseorang akan menemukan kebenaran/alhak dan menemukan kesalahan/albatil yang ada di kalangan masyarakat, baik dari kelompok masyarakat yang radikal, ekstrem, moderat, liberal, dan lain-lain. Baru setelahnya itu, sesuatu yang benar/alhak menurut Alquran wajib diambil dan diikuti, dan sesuatu yang salah/albatil menurut Alquran wajib dibuang dan dijauhi. Karena kebenaran/alhak itu ada di mana-mana, begitu pula kesalahan/albatil, tidak ada seorang pun dan kelompok mana pun yang mutlak benar dan mutlak salah pendapat-pendapatnya. Dan kebenaran/alhak itu pasti dapat menga-lahkan dan mengusir kesalahan/albatil yang ada dalam benak seseorang, asalkan seseorang tersebut bersikap jujur, (surat 17 ayat 81, surat 21 ayat 18, surat 36 ayat 7 s/d. ayat 11, dan lain-lain).
    Jadi jangan heran kalau Ahmad Hariadi bergaul sangat mesra dengan berbagai kalangan masyarakat muslim dan non muslim yang berbeda-beda itu, alias Ahmad Hariadi ada di mana-mana kelompok masyarakat dan juga tidak ada di mana-mana kelompok masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam biografi dan pengembaraan Ahmad Hariadi dalam kitab terjemah/tafsir Yassarnal-Qur`an!
    Mudah-mudahan saling menanggapi terhadap sesuatu tulisan seperti itu dapat berlanjut dan membudaya di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat muslim! Karena dengan perantaraanya, ilmu seseorang akan bertambah, dan akhirnya akan bertambah pula kebenaran dan kesalahan yang dapat diketahuinya, dan akhir bin akhirnya “yang benar/alhak diambil dan diikuti, dan yang salah/albatil dibuang dan dijauhi”. Marilah kita sama-sama berdoa:
Alloohumma arinal-haqqo haqqon warzuqnaa ittibaa’ahu, wa arinal-baathila baathilan warzuqnaa ijtinaabahu … robbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan wa qinaa adzaaban-naar. Amin!
NB:    Tanggapan saya itu agak sedikit terlambat karena memang saya tidak dikirimi majalah Risalah yang memuat hal tersebut, (semestinya majalah Risalah itu dikirimkan kepada saya, karena saya punya hak jawab/tang-gapan/menjelaskan). Setelah saya tahu dari teman di Bandung tentang majalah Risalah yang memuat hal tersebut, baru saya mencarinya di pesantren-pesantren PERSIS, termasuk pesantren PERSIS yang ada di Bentar-Garut. Di pesantren PERSIS Bentar ini pun, saya tidak mendapatkannya, mereka mengatakan, “pesantren PERSIS Bentar sudah tidak berlangganan lagi karena masalah keuangannya tidak lancar”. Setelah cari sana cari sini, akhirnya saya mendapatkan majalah Risalah itu dari seseorang PERSIS yang mengajar di pesantren Rancabogo-Garut. Setelah saya baca dengan teliti, baru pada tanggal 16 Desember 2008, saya mendatangi teman tercinta, yakni Ustadz Aceng Zakaria di pesantren PERSIS Rancabango-Garut, yang mana beliau itu sebagai anggota Dewan Redaksi dari majalah Risalah tersebut. Dan pada waktu itu beliau mengatakan ke saya, bahwa beliau belum tahu tentang judul Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi yang ada di majalah tersebut. Sehingga pada waktu itu saya pun bertanya kepada beliau, bukankah Ustadz Aceng terdaftar di majalah tersebut sebagai anggota Dewan Redaksi dan Redaktur Kehormatan dari majalah Risalah itu? Kemudian saya tanyakan lagi kepada beliau, “apakah setiap judul yang akan dimuat dalam majalah Risalah itu tidak dirapatkan/dimusyawarahkan lebih dahulu oleh Dewan Redaksi?” Beliau pada waktu itu menjawab, “saya tidak tahu tentang judul yang menyangkut nama Ustadz Ahmad Hariadi, dan setiap judul yang akan dimuatnya itu juga tidak dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh Dewan Redaksi”. Hal itu sangat disayangkan, apalagi majalah tersebut adalah merupakan corong dari suara PERSIS.
Dan setelahnya itu, baru saya menanggapinya dengan cukup hati-hati agar tidak menyinggung perasaan teman-teman tercinta di PERSIS. Dan tanggapan-tanggapan saya itu selesai saya tulis pada akhir Desember 2008, dan akhirnya pada awal Januari 2009 setelah liburan panjang, saya kirimkan tanggapan saya yang agak panjang itu ke Redaksi majalah Risalah melalui Ustadz Aceng Zakaria selaku anggota Dewan Redaksi dan Redaktur Kehormatan dari Majalah tersebut. Pengiriman melalui beliau itu dengan harapan “agar dapat dimuat, sehingga dapat seimbang/balans antara dua tulisan, dan yang akan menjadi hakimnya adalah para pembaca itu sendiri, karena memang para pembaca yang merdeka lagi adil itulah yang akan dapat menghakiminya dengan adil”. Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatannya itu, keterlambatan yang tidak disengaja.
AHMAD HARIADI
HP. 081 281 256 950877 437 586 36
E-mail: ahmadhariadi1951@yahoo.com

YANG PERLU DIUNGKAP TERKAIT KONTRAK SEX MUT-‘AH

Oleh: Abid Bata

Penerjemah: Islam saja

PENDAHULUAN

Sementara BBC mengungkapkan pelecehan seks pada anak, blog Iran mengklaim mengekspos skandal seks lain yang memalukan: Bahwa seorang lelaki yang mengoperasikan klub seks Mut’ah dari lantai atas flatnya. Blog mengklaim bahwa ia mengajak beberapa perempuan jalanan dari suatu jalan ke flatnya dan membayar mereka untuk seks. Awalnya teman-temannya bercanda pada kecanduannya untuk seks, tetapi bercanda mereka berhenti ketika ditemukan bahwa dalam petualangan seksnya dia bahkan berhasil tidur dengan beberapa perempuan yang ada hubungan keluarga termasuk ibu-ibu dan putri-putri mereka terpaksa menjajakan diri di jalanan karena kemiskinan.

Saat ditangkap si germo berpendapat bahwa kesalahan tidak ada pada dirinya tetapi pada izin keagamaan dari Mut’ah. Dia berargumen bahwa mengingat sifat alami Mut’ah maka akan tak terelakkan bahwa para lelaki yang hobi berpetualang seks akhirnya akan tidur dengan para wanita yang menjajakan  diri mereka di lingkaran Mut’ah. Dia mengatakan bahwa karena tidak ada yang tahu siapa sedang melakukan Mut’ah dengan siapa, yang bisa jadi wanita-wanita yang sama bisa suatu saat tidur dengan anak laki-lakinya dan ayahnya, yang telah terjadi – karena suatu kesalahan – tidur dengan ibu-ibunya dan anak-anak perempuannya.

Efek pertama dari cerita ini kotor ini pada diri saya hanya terkejut. Saya hanya berlindung pada penyangkalan karena saya tidak memiliki dalam diriku untuk mempertanyakan kekurangan dalam sistem Syiah kita. Bagaimana mungkin sistem ilahi dari Mut’ah begitu rusak yang dapat berakhir hingga orang melakukan incest (hubungan sex dengan orang yang masih ada hubungan keluarga dekat)? Ini semestinya membuktikan bahwa Mut’ah adalah gagal sebagai solusi sosial bagi masalah seks. Ini akan membuktikan bahwa semua alasan untuk Mut’ah adalah salah, dan makanya saya menolak cerita dan klaim dan oleh karena itu Mut’ah adalah tidak baik.

Saya terus membiarkan diriku dalam penyangkalan sampai saya mendengar cerita baru tentang bagaimana para anggota parlemen Iran telah menyusun undang-undang ‘agama’ baru yang mengizinkan membuka ‘Rumah-rumah Seks. “Di rumah-rumah ini wanita-wanita Iran yang menjual seks di jalanan akan secara resmi mendaftarkan diri mereka sebagai ‘wanita-wanita Mut’ah’ dan menjual ‘seks yang aman dan bermoral’ di bawah perlindungan hukum. Koran-koran Barat menjuluki rumah-rumah ini sebagai “SHIA BORDIL” tetapi pertanyaan kemarahan di kepala saya adalah: “Mengapa rumah-rumah seks ini diperkenalkan kepada masyarakat Iran oleh orang-orang yang tidak ma’shum? “. Bagi saya titik tolak menjadi Syiah adalah percaya bahwa hanya seorang yang ma’shum yang boleh merancang undang-undang dan sistem, dan, karenanya, melindungi Islam dari bid’ah dan turunannya yang rusak. Lalu mengapa laki-laki yang tidak mashum menciptakan hukum bagi kita yang kita harus menganggap sebagai perintah ilahi? Mengapa platform Islam Syiah yang digunakan untuk melegalkan rumah seks dalam budaya Islam?

Berbagai kelompok perempuan di Iran mengatakan bahwa hukum dibuat atau diturunkan oleh orang yang diberi label SHIA hanya untuk menjadikan kita begitu saja menerima mereka. Banyak pejabat tinggi di pemerintah Iran juga telah jujur ​​dalam keprihatinan mereka tentang bagaimana Mut’ah telah memberikan celah ideal untuk kejahatan seks. Pada suatu kasus khusus pemerkosaan dalam keluarga – “Yang Mulia, saya tidak memperkosa sepupu saya yang sudah saya cerai ketika dia sendirian: saya Mut’ah dengan dia!” Dan karena dalam sistem kita dibutuhkan dua perempuan untuk melawan bukti satu orang, maka si pemerkosa tidak pernah dikenakan hukuman.

Laporan yang disampaikan oleh satu kelompok wanita di Iran mengatakan bahwa gadis-gadis pelarian sering dijemput dan dipaksa untuk Mut’ah atau diperkosa oleh tuan-tanah di Teheran yang menginginkan seks sebagai uang muka untuk sewa. Ketika gadis-gadis tersebut pergi ke polisi tuan-tanah tersebut mengaku melakukan mut-‘ah yang ‘islami’ dengan mereka. Beberapa dari gadis-gadis ini akhirnya hamil dan bunuh diri. Beberapa menjadi pelacur Mut’ah dan melayani seks oral karena hal ini tidak memerlukan masa tunggu iddah. Banyak dari mereka berlari pada obat-obatan dan telah kehilangan harga diri mereka dan kepercayaan mereka di dalam masyarakat dan dalam sistem yang diberi label ‘Islam’. Dari sinilah para misionaris Kristen melompat dan mencoba untuk mengubah agama gadis-gadis tersebut. Bahkan, misi Kristen beroperasi di berbagai tempat secara rahasia di Iran dan melihat sejumlah besar perempuan berpindah agama sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa gadis-gadis tersebut kehilangan haknya setelah digunakan dan disalahgunakan di bawah sistem yang diberi label Islam.

Jika Anda melihat secara lebih luas, Anda akan menyadari bahwa banyak dampak dari sistem Mut’ah yang bersifat global. Mut’ah dikenal untuk menjadi alat bagi lelaki untuk memeras pekerja wanita di tempat-tempat seperti Pakistan di mana para bos mengancam untuk memecat karyawan perempuan yang miskin dari pekerjaan mereka jika mereka tidak melakukan itu dengan mereka atau mitra bisnis mereka. Para tuan tanah kaya akan membayar para ayah yang miskin untuk meyakinkan anak-anak perempuan mereka untuk memberikan kepada mereka seks sebelum mereka menikah.

BBC World Service menyebarkan cerita tentang bejatnya mullah ‘Syiah’ yang dipukuli oleh perempuan ‘Sunni’ di India ketika mereka mencoba untuk meyakinkan mereka untuk melakukan Mut’ah dan menarik pakaian mereka.

Di Iran seorang pembaca berita wanita terkenal ditangkap membuat video porno dengan lelaki yang ia lakukan secara Mut’ah. Wanita lain Iran melakukan Mut’ah dengan pemain sepakbola keren dan kemudian istrinya cemburu dan dibunuhnya. Pesepakbola tersebut berdiri di dekatnya tampak gembira ketika isterinya sedang digantung.

Di Tanzania Mut’ah telah membawa VD dan HIV di dalam komunitas Khoja.

Di Inggris juga kisah Mut’ah memberikan banyak bukti dampak buruknya pada orang-orang kita dan khususnya pada keluarga kita. Dan semua ini terjadi atas nama sistem yang berlabel Islam Syiah.

Jadi mungkinkah sesuatu yang terbukti sangat destruktif itu Islami? Bukankah Imam Ali (as) memberitahu kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu Halal atau Haram adalah dengan melihat dampaknya? Jika kita mengikuti prinsip yang Imam Ali ajarkan kepada kita maka pasti Mut’ah tidak bisa diterima karena akan membawa begitu banyak kehancuran di dalam kehidupan kita.

Bayangkan berapa banyak lelaki Syiah di Inggris berselingkuh secara Mut’ah dengan segala jenis wanita sementara para istri mereka merana di rumah. Hal ini telah menciptakan masalah kepercayaan dan menggerogoti nilai-nilai sebuah lembaga perkawinan. Anak-anak perempuan melihat ibu-ibu mereka marah sementara para ayah memuaskan kebiasaan rendah mereka dengan melakukan Mut’ah. Bagaimana anak-anak perempuan ini bereaksi adalah sesuatu yang perlu direnungkan, karena tidak ada gadis yang melihat ibunya marah dan frustrasi akan bersedia menikah dalam suatu sistem di mana para lelaki bebas selingkuh sementara para istri mereka merana di rumah dengan berjilbab. Standar ganda adalah sesuatu yang pada akhirnya akan menggerogoti keluarga kita dan iman kita.

Memang, Mut’ah mungkin memiliki beberapa pembenaran tetapi seperti khomar yang mungkin juga memiliki beberapa manfaat disamping fakta bahwa hal itu akan mengikat orang dan menghancurkan kehidupan. Selanjutnya, pembenaran Mut’ah sangat rumit dalam agama kita karena sebagian darinya didasarkan pada pemerasan terbuka. Misalnya dalam salah satu kitab-kitab awal para Imam kita telah dituduh mengatakan bahwa orang yang tidak menerima Mut’ah akan masuk neraka (1). Sehingga Anda bahkan tidak bisa berbeda atau menentangnya tanpa ancaman neraka kepada Anda!

Dan jika Anda membaca kitab-kitab tersebut lebih  lanjut, Anda akan menyimpulkan bahwa Mut’ah itu begitu sangat dihormati di kitab-kitab kita yang bahkan dapat diekstrapolasikan kedalam Kalimah Shahadah kita (“Mut’ah Halal Ullah!”). Berikut adalah contohnya:

Tertulis dalam kitab-kitab kita bahwa para imam kita mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah maka air najis dari Ghusal Janabat dirinya akan menjadi begitu suci dimana setiap tetesnya akan dihitung di surga sebagai sawab (2). Tingkat peringkat ini bahkan tidak diberikan kepada air suci Zamzam. Bayangkan: Kitab-kitab kita memberikan  derajat lebih kepada air ghusal najis dari mereka yang melakukan Mut’ah daripada air Zamzam!

Suatu ketika saya bertanya kepada seseorang yang tinggi dalam pembentukan Syiah kita mengapa nama-nama para imam kita disalahgunakan untuk membenarkan dan memuliakan Mut’ah dalam kitab-kitab kita, ia menjawab bahwa Mut’ah adalah sebuah ‘karunia & hak’ istimewa bagi Syiah karena kita percaya kepada wilayah Imam Ali! Lagi-lagi nama Imam digunakan untuk membenarkan sesuatu yang membawa begitu banyak kehancuran bagi kehidupan masyarakat.

Lelaki itu juga mengatakan kepada saya bahwa kita sebagai Syiah diberi hak istimewa ini karena kita adalah para penghuni surga yang mendapatkan tunjangan khusus. Dia menyarankan kepada saya untuk mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah karena mereka semua adalah pemalsuan melawan ‘Imam Zaman.” Dia mengatakan kepada saya bahwa orang-orang pertama yang Imam Zaman akan bunuh adalah orang-orang yang menolak Mut’ah. Sekali lagi ancaman kematian dan neraka diletakkan kepada siapa saja yang mempertanyakan hal-hal dan mulai berpikir secara mandiri.

Saya sangat gelisah dengan logika bahwa saya harus mengabaikan semua bukti yang melawan Mut’ah. Saya menganggap itu sebagai ‘hak asasi manusia’ dan ‘hak Islam’ untuk bertanya, mengeksplorasi dan berfikir untuk diri sendiri. Saya mulai melihat Islam sebagai pedoman yang membuka pintu pikiran, bukan malah menutupnya! Justru terbalik ketika seorang Muslim mengatakan kepada Muslim lainnya untuk menutup pikirannya karena seruan al-Quran kepada manusia agar berpikir mandiri.

Saya tidak bisa menerima menjadi digembok kepala saya seolah-olah saya sedang hidup di jaringan dari era abad pertengahan takhayul dan kebohongan yang dibingkai dalam konteks agama. Oleh karena itulah, saya telah menulis artikel singkat ini. Saya tidak hanya mempertanyakan Mut’ah tetapi saya juga mempertanyakan pola pikir kita dan doktrin-doktrin kita. Saya tahu saya akan melawan zona kenyamanan kebanyakan orang. Saya tahu bahwa kemapanan kita akan sangat tidak senang dengan saya, tetapi apa yang harus saya katakan akan menjadi jalan alternatif untuk berpikir bagi banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir di luar yang biasanya.

Saya berdoa agar artikel ini adalah nutrisi berpikir bagi Anda. Jika Anda pikir saya salah maka silakan beritahu saya. Tetapi tolong jangan membuat kesalahan dengan mengabaikan bukti konkret dan substansial yang melawan Mut’ah hanya karena tidak pas dengan kepribadian yang Anda ikuti atau dengan cara berpikir yang telah lama diajarkan. Mempelajari berarti mempertanyakan diri sendiri, melihat bukti alternatif, menerima fakta dan kemudian melanjutkan. Ini adalah seperti orang-orang yang membawa dinamika hidup dan bergerak lebih dekat kepada Allah.

BUKTI 1 – NILAI-NILAI ISLAM

Sebagai bukti pertama melawan Mut’ah adalah mempertimbangkan nilai-nilai moral Islam dan betapa Mut’ah mengolok-olok nilai-nilai itu. Salah satu tampilan khas simbolik yang mewakili nilai-nilai Islam adalah jilbab. Kenapa Hijab datang kepada Islam? Mengapa seorang wanita Muslim menutupi tubuhnya bahkan ketika berdoa ketika Tuhan menciptakan dia dan memberinya semua pesona seksual? Apa yang kita secara tradisional telah diajarkan tentang Hijab? Apakah Hijab hanya formalitas fikih yang dapat dihapus dengan kontrak sex atau apakah hijab memiliki nilai sosial, moral dan pribadi lebih dalam yang tidak dapat diperdagangkan atau dikompromikan pada kontrak sex?

Quran secara eksplisit menyatakan bahwa penutup luar (Hijab) adalah tidak hanya sekedar sebuah isu, tetapi merupakan nilai-nilai yang dimaksudkan untuk ditanamkan. Tetapi karena kita diajarkan untuk menjadi begitu terpaku pada aturan fikih, akhirnya menempatkannya dengan lebih menekankan pada Hijab luar daripada keseluruhan tujuan Hijab. Sehingga kita marah jika seorang wanita tidak mengenakan jilbab, tetapi kita menganggap merupakan suatu berkah bagi diri wanita jika dia setuju untuk membuka bajunya dalam kontrak sex Mut’ah. Kita perlu menyetel ulang cara berpikir kita dan menerima bahwa fungsi utama Hijab, sebagaimana al-Quran nyatakan, adalah untuk mengembangkan keunggulan moral pada diri wanita sehingga ia ‘mengenal’ dirinya, dan meningkatkan diri dari ego dasar dan tidak berkompromi menyangkut kehormatan dirinya.

Jadi akankah seorang wanita dengan kelembutan dan keunggulan moral yang tinggi akan menurunkan nilai dari hal-hal penting dalam hidupnya seperti hubungan sex dan cinta? Akankah seorang wanita seperti ini akan mejadikan Jilbab hanya sekedar formalitas fikih seolah-olah itu tidak bernilai baginya sehingga boleh dilepas untuk suatu kontrak sex?

Dan bagaimana dengan ikon dibalik Hijab seperti Syeda Fatimah (as)? Apakah ikon ini memiliki makna nyata dalam kehidupan kita? Apakah kita mengikuti teladan mereka? Ingat, mereka tidak pernah melepas Jilbab pada kontrak sex, dan mereka juga tidak pernah melakukan Mut’ah – meskipun dengan calon suami mereka sendiri!

Kesalahannya adalah bahwa kita telah mencampurkan sesuatu dan menjadi bingung tentang apa Islam itu sebenarnya. Kita tidak bisa melihat perbedaan antara bimbingan moral Islam dan apa yang diturunkan untuk kita oleh ekstrapolasi dan interpretasi. Kita tidak menyadari bahwa kita telah melanggar nilai-nilai moral Islam yang tinggi karena kita asyik dengan formalitas fikih. Ketika kita dihadapkan dengan fakta bahwa baik Syeda Fatima maupun ikon Islam lainnya tidak melakukan Mut’ah, maka kita membuat-buat alasannya. Kitaa membuat pembenaran sesuatu berdasarkan keinginan kita. Kita seperti orang yang minum alkohol dan selalu menemukan alasannya. Kita mengabaikan fakta bahwa jika Syeda Fatima bahkan tidak melakukan Mut’ah dengan calon suaminya maka itu berarti bahwa tidak ada ruang untuk Mut’ah dalam hidupnya.

Satu hal yang kita tidak pernah diberitahu kenapa pernikahan Syeda Fatimah ditahbiskan di surga adalah karena sebuah pernikahan di Islam adalah perintah ilahiah. Hal ini karena hubungan yang diikat oleh pernikahan memiliki tangan Tuhan di dalamnya. al-Quran mengatakan bahwa suami dan istri adalah kenyamanan dan kedamaian satu sama lain. Mereka yang membangun cinta sejati dan abadi juga akan disatukan di surga. Hubungan mereka dihargai begitu tinggi oleh Islam.

Quran tidak mendefinisikan pernikahan sebagai urusan kontrak seks sementara dalam periode waktu pendek. Menurut al-Quran, jika Anda menikahi seorang budak wanita sekalipun maka tidak bisa bersifat sementara tetapi Anda harus menghormatinya sebagai pasangan hidup. Mereka yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah Islami telah membawa kebingungan ke dalam Islam tentang nilai-nilai moral Islam dan tentang apa arti hubungan pernikahan di dalam Islam. Islam seperti ini bukanlah Islam dari Nabi yang menghabiskan sepuluh tahun pertama dari hidupnya di Mekkah jahiliyah untuk mendefinisikan Islam sebagai kekuatan moral bagi dunia dan dia tidak pernah melakukan Mut’ah meski dalam masyarakat jahiliyah.

Hampir kita umat Islam saat ini selalu melupakan bahwa kehidupan Nabi di Mekah adalah akar Islam yang mendorong keadaan moral di Madinah. Kita tahu begitu sedikit tentang Islam sebagai kekuatan moral dan namun kita memiliki mereka yang mendominasi orang-orang yang berpikir bahwa hanya karena mereka telah membaca beberapa kitab fikih, dan telah hafal sejarah dari sudut politik dan sektarian, lalu mereka telah menguasai Islam dari dalam dan dari luar. Ini adalah orang-orang yang telah me-redefinisi Islam sebagai agama tanpa jiwa yang mendorong kita untuk fokus pada aturan fikih luar sambil benar-benar mengabaikan nilai-nilai yang lebih dalam dari Islam. Dan karena alasan inilah kita telah merendahkan nilai moral institusi perkawinan dan dibawa ke dalam ranah kontrak sex. Kita telah melakukan hal yang sama terhadap jilbab dan dengan demikian kita memiliki para wanita yang akan melepas jilbabnya demi kontrak sex dan tidak menyadari kontradiksi yang mereka lakukan dengan nilai-nilai di balik pemakaian jilbab yang dimaksudkan untuk ditanamkan.

BUKTI 2 – ‘TARK E AULA’

Berikut ini adalah isu lain melawan Mut’ah. Ini dilakukan dengan apa yang disebut Tark E Aula. Ini berarti bahwa jika seorang ma’shum tidak melakukan suatu mustahabat maka sesuatu itu berarti salah. Ketika Nabi Adam melakukan Tark E Aula maka ia harus bertobat selama beberapa tahun dan tetap dipisah dari istri tercintanya sebagai hukuman. (Menariknya, Allah tidak menyediakan bagi dia dengan seseorang untuk melakukan Mut’ah ketika ia dipisah dari istrinya. Alangkah malangnya Adam!).

Jadi tanyakan pada diri anda bahwa jika Mut’ah begitu baik maka mengapa wanita yang ma’shum seperti Syeda Fatimah, Bibi Mariam, Syeda Asiah, Syeda Khadijah atau Syeda Zainab tidak pernah melakukannya, karena kalau tidak demikian mut’ah akan menjadi Tark E Aula.

Bahkan Nabi Muhammad pun tidak pernah melakukan mut’ah. Dan tidak ada laporan yang teruji bahwa setiap Imam melakukannya karena tidak ada yang menyebutkan bahwa salah satu dari mereka dilahirkan dari mut’ah ataupun memiliki anak dari mut’ah. Ada empat belas ma’shumeens dan tidak satupun dari mereka lahir dari mut’ah ataupun memiliki seorang anak dari mut’ah. Sungguh aneh bahwa tidak seorang pun Imam yang lahir dari Mut’ah meskipun fikih kita mengklaim mut’ah itu adalah ‘tsawab’ (karunia) untuk melakukannya. Tentunya jika Mut’ah begitu baik maka semestinya para imam kita harus memberikan contoh dan setidaknya menghasilkan seorang anak dari hasil mut’ah. Fakta ini saja sudah cukup untuk mendiskreditkan Mut’ah dan melepaskannya dari Islam Syiah.

Suatu kali saya menyajikan uji ilmiah ini bahwa tidak seorang pun ma’shum melakukan Mut’ah, maka seorang Mullah mengatakan kepada saya bahwa Ibn Zubair lahir dari hasil Mut’ah. Tetapi Ibnu Zubair tidak lahir dari orang yang ma’shum. Bahkan ia adalah musuh Ahlul Baith. Jadi kenapa kita diberikan contoh praktek-praktek jahiliyah yang ada di dalam Islam ketika isu Tark e Aula relevan dengan seorang ma’shum yang seharusnya tidak pernah melupakan perbuatan baik? Contoh Ibnu Zubair tidak relevan dengan diskusi tentang Tark E Aula yang berarti bahwa seorang ma’shum tidak bisa melupakan tindakan baik sementara kita tahu bahwa tidak seorang pun ma’shum yang tercatat pernah melakukan Mut’ah.

 

BUKTI 3 – ASAL USUL MUT’AH

Hal lain yang tidak ditekankan kepada kita adalah kenyataan bahwa Mut’ah adalah suatu bid’ah Jahiliyah. Lelaki Arab sebelum Islam menciptakan Mut’ah untuk menggunakan perempuan dan kemudian membuangnya seolah-olah mereka telah menyewa seekor keledai untuk dinaiki selama beberapa hari atau beberapa jam atau beberapa menit. Begitulah Mut’ah di antara orang-orang Arab dimana para janda yang terhormat dibawa kepada sex mut’ah oleh para kreditur untuk melunasi hutang suami mereka yang meninggal. Orang-orang Arab ini memperlakukan para wanita seperti objek dan oleh karenanya adalah wajar bagi mereka untuk menciptakan Mut’ah. Bukti bahwa kaum jahiliyah mengambil janda untuk Mut’ah adalah berikut:

“Diriwayatkan bahwa Zubair biasa melakukan banyak mut’ah sebelum ia menjadi Muslim dan setelah pindah agama ia pernah mengatakan bahwa bila Nabi meninggal maka dia akan mengambil para jandanya untuk di-mut’ah dalam rangka berhubungan seks dengan mereka. Setelah itu, sebuah ayat diturunkan melarang istri-istri Nabi diambil dalam pernikahan dan menyatakan bahwa mereka sebagai ibu bagi orang-orang yang beriman. “

Riwayat ini membutuhkan analisa yang baik tetapi hal itu menambah bukti bahwa orang-orang Islam yang masih memiliki mentalitas jahiliyah yang biasa menunggu seorang lelaki mati sehingga mereka bisa melakukan Mut’ah dengan jandanya. Dalam kasus ini Zubair sedang menunggu Nabi meninggal! Betapa menyedihkan bahwa para mullah kita memberi contoh kepada kita untuk mengikuti Zubair sambil menyatakan bahwa mereka menginginkan kita untuk mengikuti jejak dari Ahlul Baith!

Jika Islam memang mengizinkan Mut’ah, maka akan tak terelakkan untuk para lelaki SEPERTI Zubair di komunitas kita menunggu lelaki lain mati sehingga jandanya menjadi komoditas sex yang siap pakai! Bagaimana bangkrutnya etika Islam jika Mut’ah telah diterima secara luas dalam budaya Islam dan jiwa para lelaki kita?

Namun hari ini kita memiliki para ‘intelektual’ yang telah menggunakan busana keagamaan dan mencoba untuk membenarkan Mut’ah dengan mengatakan bahwa Islam meminjam beberapa budaya jahiliyah agar menjadikannya lengkap. Mereka sengaja kehilangan hal penting bahwa alasan orang-orang jahilyah melakukan Mut’ah adalah karena mereka menganggap perempuan sebagai komoditas. Dalam Islam memperlakukan perempuan sebagai komoditas adalah dosa dan penghinaan. Perempuan, menurut al-Quran, adalah pasangan jiwa lelaki dan sehingga menghina atau merendahkan mereka adalah merendahkan laki-laki juga. Lebih dari itu, Islam tidak menjadi lengkap dengan meminjam kebiasaan jahiliyah. Gagasan bahwa kebiasaan jahiliyah seperti menyewa perempuan dalam bentuk Mut’ah dapat menjadi bagian dari Islam, membuktikan bahwa para ulama zaman dahulu menciptakan sesuatu dengan mencampur Islam dengan kebiasaan jahiliyah zaman dahulu. Akibatnya Islam menjadi diikat dengan kotoran nilai-nilai jahiliyah. Inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak kontradiksi dalam Islam yang ditulis setelah Nabi. Sunni dan Syiah telah menderita karena hal ini meskipun kedua sekte tersebut menolak untuk mengakuinya.

Untuk lebih membuktikan bahwa Islam telah dicampur dengan ide-ide jahiliyah, perhatikanlah masalah perbudakan. Ini adalah suatu kejahatan dimana al-Quran mencoba untuk mengekangnya. Satu-satunya alasan Nabi masih memberikan toleransi adalah karena perbudakan itu sistemik dan tidak realistis untuk benar-benar melarangnya (pada zaman itu). Dan hanya karena Nabi pada zaman itu belum bisa melarangnya, maka tidak berarti bahwa perbudakan itu disahkan oleh beliau. Nabi sendiri tidak pernah memelihara budak meskipun adalah fakta bahwa perbudakan merajalela pada zaman itu. Beliau mengatakan kepada para sahabatnya untuk membebaskan budak sebanyak yang mereka bisa. Beliau mendefinisikan hak-hak budak yang belum dibebaskan. Dia bahkan mengangkat mereka ke status Muztad’afeens (tertindas). Namun para pedagang budak Arab yang datang setelah Nabi telah berhasil mempertahankan perbudakan booming di masyarakat muslim selama berabad-abad. Cara mereka mengatur kelestarian perbudakan adalah mengikat Islam dengan jahiliyah yang telah menciptakan perbudakan di tempat pertama.

Dan realitas yang menyedihkan adalah bahwa sementara seluruh dunia bergerak untuk menghapuskan perbudakan, justru para pedagang dan penguasa Muslim yang menolak untuk melarangnya. Bahkan ketika perusahaan India Inggris Timur mengambil alih India, raja-raja dan putri-putri Mugal menggunakan Islam untuk tetap menghidupkan budaya perbudakan dan harem. Mereka datang dengan ungkapan-ungkapan seperti: ‘Tidak ada yang bisa menjadikan Harram pada apa yang Halal E Muhammadi.” Dengan ide-ide seperti ini masyarakat Muslim kita tidak melarang perbudakan hingga tahun 1962 ketika Inggris memaksa suatu larangan kepada kita – sekitar dua abad setelah penghapusan yang terjadi di Eropa Kristen.

Betapa buruknya hal di atas, ketika Nabi Muhammad mencapai begitu banyak dalam membebaskan budak, justru ironinya butuh komitmen Eropa Kristen untuk mendorong perbudakan berakhir pada dunia Muslim. Mungkin kita akan terus membenarkan Mut’ah dengan cara yang sama hingga orang lain mengajari kita betapa salahnya mut’ah itu. Kita akan melakukan ini meskipun tahu bahwa Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah sebagaimana beliau tidak pernah mempertahankan perbudakan bahkan dalam sebuah masyarakat dimana perbudakan dan Mut’ah sudah sistemik.

BUKTI 4 – SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI SIAPA?

Kita semua tahu bahwa Islam mengatakan bahwa para wanita harus meningkatkan keunggulan moral mereka ke tingkat di mana surga terletak di bawah telapak kaki mereka. Tetapi jenis keunggulan moral apa yang ada pada wanita yang secara bodoh setuju pada mengontrakkan tubuh mereka untuk kontrak seks?

Jenis perempuan yang melakukan kontrak Mut’ah adalah orang-orang yang Anda bisa melihat telanjang satu menit dan kemudian ketika Mut’ah selesai mereka memakai pakaian mereka tak ubahnya seperti penari telanjang murahan yang melepas celana dalamnya menit demi menit atas dasar kontrak, yang merupakan campuran antara nilai-nilai tinggi Islam dan nilai-nilai pelacuran perempuan rendahan, yang menjadikan jilbab mereka sebuah kontrak dengan para lelaki daripada sebagai pelindung untuk mengendalikan ego dan untuk pertumbuhan rohani dan jiwa, yang berpikir tidak mengapa tidur dengan suami orang lain dengan kontrak sex dan tidak mempunyai hati nurani atau rasa bersalah pada diri sendiri dalam melakukan hal itu – tetapi siapa yang tidak menyukainya ketika beberapa perempuan lain tidur dengan suami mereka, siapakah yang telah belajar untuk menghidupkan atau mematikan cinta mereka, siapakah yang digunakan, kehilangan dan murahan, dan siapakah yang telah mengumpulkan begitu banyak kotoran dalam kehidupan mereka yang bahkan seratus Ghusal dari Mut’ah tidak akan membersihkan mereka.

Rajutan moral apa yang para wanita tersesat bisa berikan kepada masyarakat Islam ketika mereka telah mengizinkan kehidupan mereka sendiri untuk diisi dengan kotoran, kebingungan, kerangka dan kontradiksi! Dan dalam kelompok perempuan Mut’ah murahan ini selalu ada orang-orang yang telah melakukan aborsi sebagai akibat langsung dari budaya kontrak sex Mut’ah cepat. Tetapi mengapa ulama kita mengabaikan semua ini? Mengapa mereka menggunakan nama Ahlul Bait untuk mengakomodasi hal-hal seperti itu ketika Imam Ali mengatakan kepada kita bahwa untuk melihat apakah sesuatu itu merupakan kejahatan hanya dengan melihat akibat langsungnya?

Tetapi masih ada cahaya! Satu hal yang menakjubkan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa Allah menjadikan sinar terang-Nya di daerah dan periode sejarah yang paling gelap. Maka Dia mengangkat seorang lelaki di tempat yang paling tidak terduga untuk membuka mata kita terhadap standar masyarakat  yang munafik dan membingungkan. Dia adalah Malcom X. Dia menarik diri dari masyarakat yang rusak dimana sex dikemas seperti sebuah prestasi, permainan, kontrak atau hanya dilampiaskan secara singkat. Dia mengatakan kepada Amerika untuk mengubah dirinya dengan belajar dari Islam Nabi Muhammad. Secara khusus, ia mengatakan kepada para wanita hitam yang tertipu dan kehilangan moralnya untuk beralih ke Islam untuk mendapatkan bimbingan bagi anak-anak perempuan mereka dan mendapatkan kembali harga diri mereka sendiri. Dia mengatakan bahwa kegagalan masyarakat Amerika Hitam itu sebagian besar disebabkan oleh pencemaran moral pada para wanitanya oleh para lelaki hitam yang telah kehilangan arah moral mereka. Dia mengatakan kepada para lelaki untuk menghargai cinta yang diberikan para wanita dan tidak merendahkan nilainya menjadi kontrak sex singkat. Dia memahami kekuatan cinta sejati dalam kehidupan pria dan wanita. Dia tahu bahwa kekuatan masyarakat akan didapat dari membangun keunggulan moral. Dia adalah salah seorang yang berhasil berbicara lantang tentang hubungan keluarga yang langgeng, stabilitas hati dan penanaman cinta sejati dan abadi antara pria dan wanita. Dia mencoba membangun abad ke-20 Amerika menuju era baru bimbingan moral – Tepat seperti apa yang Nabi Muhammad (as) capai di Medina pada abad ke-6.

Saat ini Islam kita tidak seperti Islam dari Nabi. Kita tidak mempunyai apa-apa untuk dunia modern karena standar kita sendiri membingungkan. Kita hanya melegalkan hal-hal yang kita inginkan dan berpura-pura bahwa tidak ada implikasi moral pada kita. Sering non-Muslim seperti Hindu dan Sikh memiliki nilai lebih kuat daripada yang kita lakukan. Sikap mereka terhadap perempuan dan terhadap seks adalah sesuatu yang jauh lebih sehat daripada kita. Dan bagian dari kesalahan tersebut adalah bahwa kita secara sistemik diajarkan untuk mengikuti ‘turunan’ Islam, seperti burung beo. Jika kita terus mengikuti Islam seperti ini maka, saya pikir, kita akan akhirnya kehilangan Islam sama sekali dan kita akan mati sebagai penurut dan orang yang berpikiran tertutup seperti ketika kita masih hidup.

 

BUKTI 5 – WANITA MEMILIKI KECERDASAN YANG RENDAH

Sekarang di sini adalah salah satu paradoks terburuk dalam versi Syiah kita. Dalam semua kitab-kitab kita ada tertulis bahwa perempuan adalah ‘Nakis E Akal’ atau rendah akal. Hal ini ditulis dalam kitab terkemuka dan dibuktikan oleh ilmu agama ‘Elm ul Rijal’ bahwa Imam Ali mengatakan bahwa perempuan itu ular dan kalajengking. Karena ini adalah mutawatir (terpercaya) dan Rijali (rantai sanadnya terbukti), maka ulama kita zaman dahulu belum menolaknya meskipun ulama zamansekarang malu dengan hadits itu dan mencoba untuk meng-kontekstualisasi dalam rangka menjadikan riwayat itu tetap terhormat. Bahkan,  generasi para ulama zaman dahulu telah menggunakan hadits ini untuk mengatakan bahwa seorang wanita tidak bisa menjadi hakim dalam masyarakat Islam karena dia akhirnya akan membuat keputusan yang ‘emosional’. Kaum Sunni telah selangkah lebih jauh dalam merendahkan perempuan dengan mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka yang masuk neraka adalah perempuan.

Jadi sejak hal itu terukir di kitab-kitab Syiah dan Sunni kita,  bahwa perempuan itu rendah/kurang akalnya dan tidak dapat dipercaya dalam membuat keputusan yang tepat, lalu mengapa para pembuat fikih kita membolehkan kontrak seks rahasia dengan mereka ketika kerendahan akal mereka akan menjadikan rentan terhadap kekeliruan dan kesalahan dalam mengambil keputusan ? Tentunya, orang yang rendah/ kurang akal – seperti para wanita – tidak bisa memutuskan sendiri untuk melakukan Mut’ah tanpa risiko dirayu, dimanfaatkan dan dieksploitasi. Oleh karena itu, tidakkah terlalu nyaman bagi spesies laki-laki ‘cerdas’ yang tanpa saksi yang dipersyarat untuk menyetujui berhubungan seks dengan spesies yang kurang berakal, yaitu perempuan!

Lebih dari itu, hukum-hukum fikih kita yang asli/ awal juga mengatakan bahwa jika seorang wanita menjadi hamil akibat Mut’ah maka hanya ucapan si lelaki yang akan diterima untuk menyatakan bahwa anak itu adalah anaknya atau tidak. Wanita yang sedang hamil oleh Mut’ah tidak memiliki hak suara setelah si lelakinya menolak anak tersebut adalah anaknya.

Ketika saya menulis ke kantor seorang ulama untuk bertanya mengapa kata akhir dari lelaki untuk menerima atau menolak bahwa anak Mut’ah adalah anaknya atau bukan, maka kantor tersebut akhirnya menjawab kepada saya bahwa hal itu untuk mencegah para lelaki dari diperas. Di sini, sekali lagi, apa yang disebut sebagai hukum Islam kita di zaman dahulu terbukti ditulis untuk kenyamanan para lelaki dan dengan cara mengorbankan perempuan yang lemah. Tak perlu dikatakan bahwa hukum yang tidak adil ini telah tersingkir oleh ilmu sidik jari genetik modern!

Sekali lagi hukum kita seperti ini terbukti lebih jahiliyah dibanding Islam. Pada kenyataannya, bahkan ketika Anda menganalisis gagasan bahwa Allah menciptakan wanita itu memang ‘Nakis’ kemudian Anda menyadari bahwa itu benar-benar bertentangan dengan keadilan Allah, yang berarti bahwa di satu sisi kita mengaku percaya bahwa Allah itu adil (bagian dari Usool e Din), sementara di sisi lain kita menjadikan Allah itu tidak adil dengan mengatakan bahwa ia menjadikan wanita sebagai Nakis! Kita harus cukup hanya dengan melihat kontradiksi antara Usool dan fikih bagi kita untuk melihat betapa banyak yang salah dalam definisi kita tentang Islam.

 

BUKTI 6 – RIWAYAT MUT’AH DI KITAB SUNNI

Alih-alih menerima bukti yang melawan Mut’ah, ulama Syiah kita justru telah menggali parit lebih dalam untuk membenarkan Mut’ah. Salah satu buktinya mereka sering mengutip – untuk ‘membuktikan’ Mut’ah – dari kitab-kitab Sunni yang disebut Sahih Bukhari. Volume kitab ini yang ditulis sekitar 150 tahun setelah Nabi wafat dan salah satu narasi ‘sahih’ di dalamnya mengatakan bahwa dua orang lelaki Muslim sangat ingin berhubungan seks ketika bepergian melalui padang pasir bersama Nabi. Mereka datang menangis menghadap Nabi untuk meminta izin mengebiri diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa berhubungan seks selama lebih dari enam hari! Cerita tersebut mengatakan bahwa Nabi menertawakan mereka dan mengatakan kepada mereka agar melakukan Mut’ah.

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa kedua lelaki tersebut bergegas mengarungi padang pasir dan  menemukan seorang wanita sendirian. Mereka menggambarkan dia sebagai ‘wanita cantik yang langsing’. Jadi setelah ‘memeriksa si wanita tersebut’ kedua lelaki tersebut menawari kepadanya selimutnya masing-masing demi hubungan seks. Wanita itu menerima lelaki yang lebih muda dan melakukan hubungan seks dengan endusan nafas penuh dengan si wanita. Orang tua yang malang tersebut berdiri menunggu tetapi tidak mendapatkan apa-apa!

Tak perlu dikatakan lagi, ulama Syiah kita menerima cerita Sunni ini pada nilai permukaannya karena ia bekerja secara nyaman untuk membenarkan Mut’ah. Mereka setuju dengan cerita tersebut karena rijalinya dan cocok dengan apa yang kitab Syi’ah katakan. Tetapi marilah kita melakukan beberapa pengujian ilmiah terhadapnya untuk melihat seberapa validkah kisah tersebut.

Pertama, kita harus menerima bahwa seorang wanita kebetulan duduk sendirian di padang pasir yang luas dan siap untuk Mut’ah. Seberapa besar kemungkinan ini? Jelas, cerita ini mulai berantakan pada rintangan pertama!

Tetapi bahkan jika tidak secara kebetulan memang ada seorang wanita sedang duduk sendirian di suatu tempat di padang pasir yang luas, maka bagaimana mungkin untuk menemukan dirinya karena padang pasir tidak memiliki papan tanda yang menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk sendirian yang siap untuk hubungan seks! O maaf, mungkin dua lelaki tersebut memiliki sebuah sistem pelacakan GPS Mut’ah (Miss Tom Tom!) untuk menemukan wanita sendirian di padang pasir yang siap dimut’ah!

Lalu, apakah dia memberikan seks hanya karena ia takut dari dua orang karena dia sendirian? Mungkin para ulama kita dapat menurunkan hukum bahwa jika sekelompok lelaki Syiah yang melihat ‘wanita langsing cantik’ duduk sendirian di kursi taman maka itu boleh saja ia mencoba meyakinkannya untuk berhubungan seks (suatu bentuk pemaksaan atau pelecehan seksual?) dan berjanji untuk memberikan kepada si wanita tersebut sebuah selimut setelah nafsunya terlampiaskan.

(Yang menjadikan hal seperti itu adalah prostitusi, tidak peduli betapa banyak para ulama mengingkarinya!).

Lalu, apakah mereka bertanya kepada si wanita itu apakah ia sudah menikah? Lalu apakah dia hamil? Lalu apakah si lelaki memeriksa apakah ibunya juga menjual seks, siapa tahu ayah-ayah mereka telah melakukan hubungan sex dengan dia yang berarti si wanita itu ternyata kakak mereka? ….

Lalu bagaimana dengan nasib si lelaki yang lebih tua: Bagaimana dia bisa melampiaskan nafsunya ketika ia siap untuk mengebiri dirinya sendiri? Apakah tidak ada solusi yang lebih mudah baginya daripada menghabiskan waktunya berjalan berkeliling di gurun pasir dalam keadaan frustrasi! Karena Islam adalah agama yang universal, apa ada solusi untuk dia? Mengapa kisah itu tidak memikirkan nasib hasrat seksualnya yang sudah memuncak? (Note: Apakah sebagai solusi akhirnya dia mengebiri dirinya sendiri?)

Jelas kisah tersebut terlalu kosong untuk harus dianggap serius. Kisah-kisah palsu dan dibuat-buat seringkali tidak lengkap dan isinya karut seperti di atas.

Dan ada cacat utama dalam cerita ini. Cacat tersebut jelas sekali ketika Anda mempertimbangkan kenyataan bahwa kedua lelaki tersebut membawa dirinya ke titik puncak hasrat sexual. Mereka bahkan siap untuk mengebiri diri mereka sendiri. Jadi mengapa mereka telah membawa diri mereka pada kondisi ini jika Mut’ah tidak pernah dilarang? Pertanyaan utamanya adalah: “Mengapa mereka berpikir mut’ah dilarang?”

Dan karena mereka membawa diri mereka kepada puncak nafsu, maka itu akan berarti bahwa Nabi telah gagal dalam tugasnya untuk menjelaskan kepada para sahabat yang kesepian di padang gurun bahwa Mut’ah itu halal. Biasanya, seorang pemimpin yang baik yang memimpin anak buahnya ke padang pasir akan memberitahu mereka bagaimana untuk menghindari puncak nafsu untuk apa pun. Cerita tersebut menjadi lebih meragukan lagi ketika Anda lebih lanjut mempertimbangkan fakta bahwa kedua lelaki tersebut adalah di antara sahabat paling dekat dari Nabi yang seharusnya sudah tahu apa yang dilarang dan apa yang tidak.

Cerita dengan begitu banyak celah kekurangan, hanya melayani tujuan untuk memalsukan bukti bahwa Nabi memperbolehkan Mut’ah. Tetapi terdapat sebuah pembuka mata utama bagi kita, karena kisah tersebut memberitahu kita tentang telah rusaknya pola pikir kita. Berikut adalah penjelasannya:

Kisah dua lelaki yang tidak mampu menahan birahi, lalu memberikan selimut untuk membayar seksnya adalah di dalam Sahih Bukhari yang merupakan kitab Sunni. Oleh karena itu aneh bahwa kita Syiah awalnya mengejek kitab ini karena hanya memiliki beberapa hadits dari ma’shumeen, namun kemudian kita melakukan hal yang sebaliknya, yaitu menggunakan kitab tersebut untuk membenarkan hal yang meragukan seperti Mut’ah?

Hal ini seperti sebuah sekte Protestan yang awalnya mengejek buku-buku Katolik, namun kemudian menggunakan buku tersebut untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah? Saya secara pribadi tidak menganggap dua kesalahan dalam membuat sebuah kebenaran dan sehingga tidak masalah jika riwayat-riwayat tentang Mut’ah ada di kitab-kitab Syi’ah dan Sunni. Kekurangan-kekurangan yang konsisten di dalam kitab-kitab Sunni dan Syiah hanya membuktikan bahwa keduanya memiliki sejarah pemalsuan yang sama. Cara berfikir kita, karena itu adalah salah, jika kita mengatakan bahwa jika kedua kitab Sunni dan Syi’ah memiliki pemalsuan yang sama maka kita harus menerima mereka sebagai mutawatir (terpercaya) dan menerimanya sebagai kebenaran!

Apa yang saya perhatikan adalah bahwa semua kekurangan di narasi Mut’ah ini memberikan dampak kecil kepada orang-orang yang bersikeras membela Mut’ah. Mereka berpikir bahwa jika kita mempertanyakan Mut’ah maka itu melanggar agama. Oleh karena itu mereka akan mempertahankan Mut’ah dengan argumen dihasilkan secara buatan karena keseluruhan iman kita tergantung pada mempertahankan argument seperti itu. Mereka mengabaikan bukti-bukti tersebut dan mencoba untuk berargumen dengan cara yang sama dengan kaum Sunni ketika berargumen tentang hukum ‘talak tiga’ mereka. Sesungguhnya, waktu untuk membuka kunci pikiran baik di Sunni maupun Syiah harus tiba. Mungkin tugas pertama dari Syiah 12 Imam akan membawa Sunni dan Syiah kepada kepekaan mereka dan membuat mereka melihat betapa banyak mereka telah menyimpang dari Islam dari Nabi yang sebenarnya.

Satu hal yang menarik adalah bahwa para marjah kita tidak pernah mengatakan kepada kita untuk mengikuti mereka secara membabi buta atau menjadi seperti budak mental. Para Marjah kita hanya memberikan informasi pendapat-pendapat yang dapat berubah jika argumen yang lebih baik datang di depan mereka. Inilah apa yang menjadikan Syiah dinamis dan berbeda. Sebagai contoh beberapa Marjah akhir-akhir ini melarang kita untuk makan dari tangan Ismailies tetapi kemudian mengubah fatwa mereka ketika dikemukakan dengan argumen dan bukti-bukti yang lebih baik. Bahkan untuk menyatukan Syiah pada Asyura mendorong ulama tersebut untuk menggeser dari fatwa asli mereka mengikuti cakrawala terpisah. Selama bertahun-tahun Ashura diperingati pada hari-hari terpisah sampai berubah karena fatwa. Ada banyak contoh seperti itu bagaimana para ulama tetap dinamis dan bergerak maju. Ini adalah kita, orang-orang, yang ingin mengikuti mereka secara membabi buta ketika mereka tidak meminta kita untuk mengikuti mereka dengan cara seperti zombie.

Kenyataannya sejarah mengatakan bahwa Imam Ali tidak pernah ingin Syiahnya menjadi seperti budak. Adalah Muawiya yang mengembangkan masyarakatnya agar mengikuti dia seperti zombie yang otaknya mati. Suatu hari ia didorong bahwa para pengikutnya begitu setia kepadanya bahwa jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu unta betina maka para pengikutnya yang ‘setia’ akan menerimanya. Terhadap hal seperti ini Syiah E Ali mengatakan bahwa ini bukan loyalitas: Pada kenyataannya, itu adalah ketaatan buta dan kebodohan belaka!

BUKTI 7 – ALTERNATIF YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QURAN

Kisah dua orang lelaki yang sedang memuncak birahinya dan Nabi membolehkan mereka untuk melakukan Mut’ah sebenarnya bertentangan dengan al-Quran. Marilah kita lihat apa yang al-Quran nyatakan:

Dalam ayat 4:25 lelaki yang sudah butuh sex diberitahu untuk menikahi seorang gadis budak dengan cara nikkah (aqad) ataupun belajar melakukan pengendalian diri? Ayat ini tidak memberikan Mut’ah sebagai alternatif pilihan. Tetapi seorang ulama mengatakan kepada saya bahwa bahkan jika Mut’ah tidak disebutkan dalam ayat 4:25, tetapi disebutkan dalam ayat 4:24. Namun, hal ini tidak benar karena kata ‘Mut’ah’ pun bahkan tidak ada dalam ayat 4:24.

Ulama lain mengatakan kepada saya bahwa tidak mengapa Mut’ah tidak disebutkan sebagai kata-kata asli dari al-Quran karena kata-kata yang telah dihapus dan hilang adalah: “Jika kamu mengambil perempuan untuk kesenangan selama waktu yang terbatas, maka berilah mereka pembayaran yang telah disepakati …. “

Ini adalah sesuatu yang memalukan bahwa beberapa ‘ulama’ melakukan apa saja untuk membenarkan Mut’ah, bahkan jika mereka harus menggunakan narasi dari Elm ul Rijal yang membuktikan bahwa al-Quran telah diubah seperti di atas. Saya menemukan ini merupakan jenis argument yang menjijikkan dan tidak berguna. Ketika seseorang mengatakan bahwa al-Quran itu sudah diubah, maka orang tersebut telah berhenti menjadi seorang ulama di mata saya!

Jadi pertanyaannya yang masih ada adalah: Jika Mut’ah diterima di dalam al-Quran maka mengapa mut’ah bahkan tidak disebutkan di mana pun di dalamnya? Kenyataannya adalah bahwa bahkan memakan daging babi saja disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan, tetapi Mut’ah bahkan tidak disebutkan sebagai alternatif untuk keterpaksaan sexual. Apakah ini bukan bukti bahwa mut’ah itu benar-benar tidak diterima di dalam al-Quran?

BUKTI 8 – KATA-KATA ASLI DALAM AL-QURAN

Apa yang telah saya temukan tentang metode penurunan hukum dari kitab-kitab – baik dari merek Sunni maupun Syiah – adalah bahwa penurunan hukum dilakukan pertama-tama dari kitab-kitab dan kemudian al-Quran digunakan setelah itu sebagai alat untuk membenarkan apa yang telah diturunkan dari kitab-kitab tersebut. Dan oleh karena itu ayat-ayat dipotong dan disisipkan dan dikeluarkan dari al-Quran sesuai dengan hasil penurunan hukum.

Hukum Sunni yang menyatakan talak tiga juga dilakukan seperti ini. Pembenaran para Wahabi untuk memukul istri Anda adalah metode penurunan yang sama dan kemudian dicocokkan dengan kata-kata di dalam al-Quran yang dikutip di luar konteks. Untuk melegalkan perbudakan juga dilakukan seperti ini selama berabad-abad oleh kaum Sunni dan Syiah. Untuk menjadikan anak-anak yang tidak sah sebagai warga kelas dua juga dengan metode seperti ini di kedua sekte tersebut. Dan hukum Mut’ah juga diturunkan dengan metode yang sama dalam hukum Syiah. Bahkan untuk mengungkapkan bahwa Mut’ah itu berasal dari al-Quran dilakukan dengan cara kata-kata asli dari al-Quran pasti telah diubah di dalam Tafsir Al-Quran dan kata-kata baru yang ditambahkan di tempat itu. Mari saya buktikan masalah ini:

Untuk membenarkan Mut’ah, para ulama zaman dahulu pertama-tama akan memilih sendiri cerita dari kitab-kitab yang membenarkan Mut’ah. Mereka mengabaikan semua riwayat dan cerita yang melawan Mut’ah. Kemudian mereka beralih ke al-Quran untuk melihat mana ayat yang menyebutkan Mut’ah. Mereka tidak menemukan apa-apa! Makanya mereka mengubah kata-kata tersebut dalam tafsir mereka. Inilah yang terjadi pada 4:24 ayat. Berikut adalah buktinya:

Dalam ayat 4:24 Al-Quran tertulis bahwa ketika wanita yang Anda nikahi ISTAMTA’TUM (memenuhi) kaulnya maka si suami harus memberikan AJAR (pemberian)nya. Tetapi Tafsir Syiah telah mengubah kata Al-Quran ISTAMTA’TUM menjadi Mut’ah dan kata AJAR menjadi Mahar. Jadi tafsir tersebut akan mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan Mut’ah (kontrak sex sementara) maka berikan Mahar (Pembayaran)nya.

Bahkan, beberapa kata tambahan seperti ‘hingga waktu yang terbatas’ atau ‘berusaha untuk melakukan Mut’ah’ atau ‘dengan orang yang kamu melakukan Mut’ah’ sering ditambahkan pada ayat tersebut dalam rangka untuk menipu kita, meskipun kata-kata tersebut sama sekali tidak ada di dalam Al-Quran. Bahkan diklaim dalam beberapa riwayat bahwa kata-kata asli tersebut telah dihapus di kemudian hari oleh orang-orang yang menentang Mut’ah seperti khalifah kedua – Umar.

Untuk membenarkan diri mereka para ulama zaman dahulu mengatakan dalam tafsir-tafsir mereka bahwa tidak apa-apa jika kata Mut’ah tidak ada dalam al-Quran karena mereka mengatakan bahwa kita dapat menggunakan Elm Ul Rijal untuk menukar kata-kata Al-Qur’an dengan kata-kata yang ditemukan di dalam kitab-kitab. Elm Ul Rijal berarti pengetahuan tentang rantai riwayat. Mereka mengatakan bahwa menurut Elm ini kata Istamta’tum dalam ayat 4:24 al-Quran dapat ditukar dengan kata Mut’ah karena Elm tersebut mengatakan bahwa Imam telah ‘berkata’ demikian. Sekali lagi nama para Imam sedang disalahgunakan untuk membenarkan mengubah kata-kata Al-Quran agar cocok dengan tafsir tersebut. Para ulama zaman dahulu bahkan mengatakan bahwa tafsir asli yang ditulis oleh Imam Ali memiliki kata Mut’ah dan bukan kata Istimtatum. Mereka mengatakan bahwa ketika Imam ke-12 muncul, maka al-Quran yang asli atau Tafsir yang asli akan menunjukkan bahwa kata tersebut adalah Mut’ah dan bukan Istamta’tum!

Tetapi tanyakan pada diri Anda sendiri mampukah seorang Imam yang ma’shum seperti Imam Ali pernah mengubah kata-kata al-Quran dalam tafsirnya!. Selain itu, jika Allah bermaksud Mut’ah lalu mengapa Dia tidak menggunakannya dalam ayat tersebut? Mengapa Dia menggunakan kata ISTAMTA’TUM?

Sebagai Syiah E Ali kita diberitahu oleh Imam Ali untuk percaya bahwa al-Quran itu sempurna dalam setiap kata-katanya, lalu mengapa ulama kita menukar kata-kata Al-Qur’an dalam tafsir mereka dan kemudian menyalahkan hal itu kepada Imam Ali? Mengapa mereka mengatakan bahwa beberapa kata seperti ‘untuk waktu yang terbatas,’ telah hilang? Dan salah satu tata bahasa Arab ulama Syi’ah modern bahkan mencoba untuk membenarkan kesalahan zaman dahulu dengan menyatakan bahwa kata ‘istamta’tum’ yang digunakan pada ayat 4:24 adalah sama dengan kata ‘Mut’ah’ kecuali bahwa kata Mut’ah lebih baik karena itu adalah akar kata yang ke-12 dari kata Istamta’tum. Tetapi mengenai ini ada beberapa argumen mengapa ia benar-benar salah:

  1. Istamta’tum secara harfiah bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ tetapi secara konvensional, Mut’ah (menurut Elm Ul Rijal) berarti sekedar ‘menyewa vagina’ atau ‘kawin kontrak’. Jadi kedua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda. Mereka tidak sinonim. Jadi bagaimana mereka dapat dipertukarkan?
  2. Jika Anda menafsirkan Mut’ah juga bermakna ‘bersenang-senang, memenuhi atau menyelesaikan’ maka itu akan berarti bahwa Mut’ah tidak bermakna ‘pernikahan sementara.’ Oleh karena itu apa gunanya menukar kata tersebut?
  3. Istamta’tum adalah kata kerja, sedangkan Mut’ah secara konvensional digunakan sebagai kata benda. Oleh karena itu dua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan jika Anda ingin menggunakan Mut’ah dalam makna konvensional.
  4. Jika Anda mengikuti konteks ayat tersebut, maka Anda akan melihat bahwa isi ayat itu adalah mempertentangkan antara nikah dengan sekedar pelampiasan nafsu. Mut’ah adalah tentang nafsu. Jadi konteks Mut’ah benar-benar berlawanan dengan isi ayat tersebut.
  5. Jika Istamta’tum bermakna ‘pernikahan sementara’ maka akan menjadikan beberapa ayat di al-Quran tidak bermakna karena kata Istamta’tum juga digunakan pada ayat-ayat lain di mana Mut’ah bahkan tidak disinggung.
  6. Kata pernikahan dalam al-Quran adalah aqad. Jika al-Quran membolehkan pernikahan sementara maka akan menggunakan turunan dari kata aqad tersebut dan bukan akar ke-12 dari istamta’tum!
  7. Pasti ada alasan yang baik mengapa Allah tidak memasukkan kata Mut’ah pada keseluruhan al-Quran. Karena Allah telah mengeluarkan kata mut’ah dari al-Quran, maka itu berarti bahwa Mut’ah, apa pun arti yang Anda ingin ambil, tidak ada dalam al-Quran.

BUKTI 9 - MENJADI SYI’AH

Baru-baru ini, ketika saya bertanya kepada seorang ulama TV terkenal mengenai bukti yang melawan Mut’ah, saya menemukan diri saya berdebat melawan suatu kontradiksi ganda. Ketika saya berkata kepadanya bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran, dia bereaksi dengan mengatakan bahwa bahkan NIKKAH juga tidak disebutkan dalam al-Quran. Lalu saya katakan kepadanya bahwa sinonim dari Nikkah adalah AQAD yang digunakan berkali-kali dalam al-Quran. Saya katakan kepadanya hukum-hukum Nikkah juga ada di dalam al-Quran. Saya juga mengatakan kepadanya bahwa Imam Ali (as) mengatakan bahwa untuk memahami al-Quran kita harus mengkolaborasi satu ayat dengan ayat lainnya, tetapi tidak ada ayat kolaboratif dalam al-Quran untuk Mut’ah. Selain itu, tidak ada sinonim dari Mut’ah dalam al-Quran. Dan tidak ada satu pun hukum-hukum yang mengatur Mut’ah dalam al-Quran. Lalu segera, ulama tersebut membuat tuduhan kepada saya dan saya dicap sebagai non-Syiah. Ia mengatakan bahwa karena saya tidak menerima tanpa bertanya apa yang Marjas katakana, maka saya bukan Syiah!

Lalu saya mencoba menanggapi lagi. Saya katakan saya tidak bisa menerima Mut’ah karena tak seorang pun imam melakukannya. Lalu dia terganggu dengan kata-kata saya dan menjadi terganggu. Tetapi saya masih mengatakan kepadanya bahwa identitas pertama seorang ulama adalah bahwa dia rendah hati dan bersedia mengakui jika ia salah dalam pemikirannya.

Tetapi ulama ini mengatakan kepada saya bahwa seorang marja tidak pernah salah dan harus diikuti tanpa bertanya. Dia mengatakan kepada saya bahwa Imam Zaman pertama kali akan membunuh mereka yang tidak secara taqlid mengikuti seorang Marja karena tidak satupun shalat dan roza mereka akan diterima oleh Allah. Saya membantah bahwa kondisi seperti itu tidak ada dalam al-Quran. Lalu dia menjadi lebih gelisah dan membalas dengan kata-kata berikut:

“Memang Mut’ah tidak dalam al-Quran tetapi al-Quran tidak cukup. Mereka yang mengatakan bahwa al-Quran adalah cukup adalah seperti Umar yang mengubah banyak hal di dalam Islam. Dia adalah orang yang melarang Mut’ah dan membawa Tarawee ke dalam Islam. Hal ini dibuktikan dengan ratusan riwayat Rijali di kitab-kitab Sunni dan Syiah. “

Yang jelas, argumen Mut’ah tersebut, sekarang sedang berpaling ke isu sektarian dalam rangka mengaburkan bukti yang menentangnya. Pertama saya dicap sebagai non Syi’ah dan sekarang al-Quran dicap sebagai ‘tidak cukup.” Dan ketika semua argumen gagal, maka semua menjadi kesalahan Umar yang mampu menghapus Mut’ah dalam satu gebrakan, sedangkan Nabi tidak pernah bisa bahkan menghapus atau melarang perbudakan setelah keseluruhan misi Islam.

Tetapi berurusan dengan lelaki yang mengaku sebagai seorang ulama, maka saya harus mengangkat satu masalah pada saat yang sama. Maka pertama saya bertanya kepadanya bahwa jika al-Quran tidak cukup, bukankah itu artinya al-Quran ‘tidak memadai!”

Itulah, lalu ia bangkit dan pergi! Dia tidak berbicara kepada saya sejak itu. Dia menghindar dari saya yang membuktikan bahwa bukan al-Quran yang tidak memadai tetapi dia dan ilmunya dan ide-idenya. Jika al-Quran tidak cukup maka apa yang terjadi pada petunjuk Imam Ja’far Sadik (as) kepada Syiah asli di mana ia secara jelas menjadikan al-Quran satu-satunya tolok ukur untuk memutuskan apakah riwayat-riwayat dan kisah-kisah itu bisa diterima atau harus dibuang. Dia berkata: “Jika sesuatu bertentangan dengan al-Quran, membuanglah ia jauh-jauh meskipun jika mereka diklaim datang dari Ahlul Baith”. Jelas sekali, bahwa al-Quran adalah ‘cukup’ bagi Imam sebagai tolok ukur/ patokan. Lalu mengapa ini orang yang disebut ulama mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup? Tidak cukup untuk apa, dan untuk siapa?

Apa yang saya sadari adalah bahwa jenis ulama yang khas seperti ini akan mengatakan dua hal yang berlawanan kepada kita tergantung kepada apa yang cocok bagi mereka. Mereka pertama-tama akan mengatakan bahwa kita Syiah tidak menerima apa-apa yang melawan al-Quran. Tetapi ketika tidak cocok dengan mereka maka mereka akan mengatakan bahwa al-Quran tidak cukup.

Banyak yang disebut ulama juga menggunakan ungkapan-ungkapan yang siap pakai seperti ‘al-Quran ini tidak cukup’, hanya karena penurunan hokum mereka tidak diterima oleh al-Quran. Oleh karena itu dengan menggunakan kata-kata ini mereka mencoba untuk mengabaikan al-Quran dari diskusi-diskusi. Hal ini seperti menghilangkan bukti forensik utama dari suatu kasus pengadilan hanya karena tidak sesuai dengan pelaku kejahatan!

Dan jenis ulama seperti ini akan mengabaikan para imam kita hanya seperti mereka dengan cepat mengabaikan al-Quran. Anda perlu mengalami ini untuk diri anda sendiri. Berikut adalah apa yang Anda perlu lakukan:

Tanyalah seorang ulama yang membela Mut’ah, mengapa Imam Ali Reza (as) menolak pengikutnya untuk melakukan Mut’ah dengan mengatakan: “Ini adalah bagi para pelacur dan Anda tidak perlu itu …” Saya menjamin Anda bahwa seorang ulama yang membela Mut’ah akan membuat sebuat plintiran dalam rangka mengabaikan apa yang dikatakan Imam.

Sekarang, berikut adalah situasi lain yang telah saya alami. Suatu kali saya mencoba meyakinkan seorang teman untuk tidak melakukan Mut’ah ketika istrinya tercinta pergi mengunjungi ibunya di Dar, dia tertawa dan berkata: “Kamu tidak usah melakukannya jika kamu tidak ingin”. Lalu saya mengatakan kepadanya bahwa bahkan Jimmy Salive bisa bersembunyi di balik pernyataan konyol seperti: “Kamu tidak usah melakukan kekerasan pada anak jika kamu tidak ingin.”

Lalu dia sangat marah dan mulai berdebat bahwa jika Mut’ah itu salah maka dia tidak akan disalahkan karena para marja yang akan disalahkan. Ini adalah hal yang baru bagi saya! Saya sekarang diberitahu bahwa para marja akan memikul tanggung jawab perbuatan para lelaki yang menikmati seks dengan gadis-gadis ‘kulit putih’ seksi. Jadi para lelaki itu mendapat kenikmatan, sementara para marja mendapatkan disalahkan. Alangkah nyamannya! Dan betapa tidak adilnya!

Dan melemparkan kesalahan kepada para marja benar-benar bertentangan dengan al-Quran yang memperingatkan kita bahwa kitalah yang akan disalahkan terhadap tindakan yang kita ambil. Dan lebih dari itu, bahkan otak beku teroris Al Qaeda pun bisa membantah: “Kami akan masuk ke surga, meski jika kami melakukan bom bunuh diri, karena mufti kami yang akan disalahkan!” Ini jelas merupakan sikap jenis Zombie karena kita umat Islam telah belajar sebagai bagian dari mentalitas keagamaan kita. Bukankah sudah waktunya untuk bertanya pada diri kita sendiri dan mentalitas dan pembenaran diri kita yang rusak? Tantangan kita di dunia modern adalah mengambil mentalitas Zombies dan Bombies ini dan mencabutnya keluar dari Islam.

Sebenarnya, ketika Anda mempelajari Islam Syiah dengan benar, Anda akan melihat bahwa tidak seorangpun Marja yang ingin Anda mengikuti mereka secara membabi buta. Ada banyak contoh dalam sejarah dimana marja telah mengubah peraturan mereka karena mereka menemukan kesalahan. Menjadi seorang marja, Anda perlu menyempurnakan seperti ini. Adalah kita yang bersikeras dalam menjadikan mereka setengah dewa. Bahkan Imam Khomeni tidak membolehkan mengikuti secara membabi buta. Sebenarnya siapapun yang meminta diikuti secara membabi buta adalah seorang penindas karena ia menghentikan Anda berpikir untuk diri sendiri. Ikut secara membabi buta diajarkan oleh Muawiyah yang bangga bahwa para pengikutnya akan mempercayai dia bahkan jika ia mengatakan kepada mereka bahwa unta jantan itu adalah unta betina.

Apa yang telah saya temukan adalah bahwa ada kelompok fanatik ‘agama’ dalam setiap masyarakat yang akan mengabaikan semua bukti dan argumen yang jelas karena mereka pikir agama adalah monopoli mereka. Mereka ingin Islam terikat dengan keinginan dan ide-ide yang salah dan emosional mereka. Mereka berpikir bahwa hubungan mereka dengan Allah begitu dekat, sehingga mereka dapat mengaitkan ide-ide palsu mereka kepada-Nya. Jadi mereka memaksakan ide-ide mereka sendiri kepada kita, bahkan ketika ide-ide mereka terbukti melawan al-Quran dan melawan ma’shumeen. Mereka hanya menyalahgunakan nama al-Quran dan ma’shumeen sebagaimana Kristen menyalahgunakan nama Alkitab dan Kristus. Orang-orang jenis ini akan ada di setiap masyarakat. Mereka ingin mendominasi, menyalahkan dan merumitkan persoalan ketika mereka tidak memiliki jawaban. Dan ketika mereka gagal, mereka akan menyerang pribadi. Mereka akan melakukan segala sesuatu kecuali mengubah pola pikir mereka dan belajar untuk menerima bahwa mereka punya salah.

Kebenaran terbuka adalah bahwa untuk menjadi seorang Syiah Ali adalah bukan tentang mengikuti para marja secara membabi buta, tetapi tentang mengikuti para marja dalam semua hal kecuali untuk hal-hal yang telah terbukti salah. Syiah Imam Ali tidak tertutup pikirannya tetapi orang-orang yang berprinsip tinggi, berpengetahuan dan tajam dalam pemikiran mereka. Marilah kita setidaknya mengakui bahwa kita masih jauh dari menjadi orang seperti itu karena definisi keseluruhan kita menjadi Syiah adalah mengikuti seorang marja meski ketika ia terbukti telah melakukan kekeliruan.

RINGKASAN BUKTI TAMBAHAN

Berikut adalah beberapa fakta ringkasan tambahan yang melawan Mut’ah:

FAKTA 1:

Sebuah hadits yang paling sering dikutip dan diterima berdasar Elm Ul Rijal adalah bahwa jika Mut’ah diizinkan maka yang paling celakalah yang akan berzinah. Imam Ali-lah yang sedang didakwa mengatakan ini! Tetapi hadits ini mengabaikan bahwa Mut’ah telah menyebabkan banyak kejahatan seperti pemerkosaan. Ambil contoh: Katakanlah seorang bos memperkosa sekretarisnya dan kemudian mengklaim dia melakuan Mut’ah. Apakah Mut’ah, karena itu, bukan merupakan celah bagi pemerkosa seperti dia?

Jadi, jika sebuah hadis mengatakan bahwa jika Mut’ah diizinkan maka hanya yang celakalah yang akan berzinah, lalu bagaimana tentang semua hal celaka yang disebabkan oleh Mut’ah? Dapatkah sebuah hadis yang benar menjadi begitu picik dalam mendukung si pemerkosa dan merugikan korbannya? Dan bagaimana tentang semua kejahatan lain akibat dari Mut’ah seperti peningkatan aborsi, mengarahkan perempuan kepada prostitusi, penurunan standard dalam hubungan keluarga, menjadikan hijab tak ubahnya seperti pakaian dari seorang penari telanjang yang dilepas pada saat kontrak sex dll? Selain itu, jika seorang lelaki melakukan Mut’ah ketika istrinya sedang diam di rumah, maka apakah ini tidak akan mendorong para perempuan untuk mulai melakukan perzinahan hanya karena dendam?

FAKTA 2:

Hal lain yang benar-benar lucu dalam kitab-kitab kita untuk membenarkan Mut’ah adalah ini: Allah memberikan kepada kita lembaga suci Mut’ah karena Dia melarang bagi kita kenikmatan alkohol! Ya, narasi ini ada di kitab-kitab tersebut dan jelas sebuah upaya paksa untuk membenarkan Mut’ah. Bahkan para ulama yang memalsukan ini ke dalam kitab-kitab tersebut pasti para ulama berkaliber rendah karena mereka tidak tahu bahwa hal-hal yang diharamkan di dalam Islam adalah untuk tujuan yang baik dan bukan karena sebagai pengganti hal-hal lain yang diharamkan.

Hukum Islam tidak seperti jungkat-jungkit di mana jika satu hal dilarang maka hal lain diperbolehkan. Jadi jenis mullah seperti apa yang menulis ini di dalam kitab-kitab kita? Dan mengapa kita harus mengikuti ide-ide konyol mereka tentang bagaimana hukum dibuat di dalam Islam?

FAKTA 3:

Sebuah cerita dalam kitab-kitab kita mengatakan bahwa jika Anda melakukan satu Mut’ah Anda akan mati seperti matinya Imam Husain dan jika Anda melakukan empat Mut’ah Anda akan diangkat ke derajat Nabi.

Ya hal-hal sejenis ini yang dengan sengaja ditulis untuk mempromosikan Mut’ah tetapi bukankah hal-hal sejenis ini merupakan penghinaan terhadap perjuangan dan pengorbanan Ma’shumeen kita? Jika kitab Sunni memiliki hal-hal seperti ini, maka saluran TV Syi’ah kita akan secara bombastis membuktikan bahwa kaum Sunni menghina para imam kita. Tetapi kita tidak mengatakan apa-apa ketika kitab kita sendiri melakukan hal ini. Satu aturan bagi mereka dan aturan yang lain bagi kita, eh!

FAKTA 4:

Al-Qur’an memberitahu kita untuk mengikuti contoh dari Nabi, bahkan Imam Ali pun mengikuti contoh dari Nabi tersebut. Namun Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah. Sekarang juga sedang diterima bahwa tidak ada bukti yang kuat bahwa para Imam pernah melakukan Mut’ah. Jika salah seorang imam telah melakukan Mut’ah maka setidaknya seorang Imam akan lahir dari hasil mut’ah atau akan memiliki anak dari mut’ah. Mengapa tidak ada hal seperti itu di forensik sejarah jika memang Mut’ah diterima oleh mereka? Mengatakan bahwa ‘mungkin mereka melakukan’ bukanlah sebuah argumen tetapi dugaan. Kita tidak dapat mendasarkan argumen pada dugaan!

Bahkan, terbukti bahwa ada hadits di mana Imam Ali, Imam Jaffer E Sadik dan Imam Ali Reza menolak pengikut mereka untuk melakukan Mut’ah. Hadits seperti itu tidak pernah diungkapkan, sehingga kita tidak menyadari bahwa ada alternatif cara berpikir yang lebih logis dan lebih sesuai dengan al-Quran dan praktek ma’shumeen tersebut.

 

BUKTI PUNCAK:  FAKTA TENTANG MUT’AH PADA ZAMAN UMAR

Seluruh kontroversi Mut’ah dimulai dengan seorang lelaki bernama Amr bin Harits. Dia membuat hamil seorang wanita budak muda dan kemudian menyangkalnya. Insiden itu terjadi pada masa khalifah kedua, Umar bin Khattab.

Cerita ini ada di kitab-kitab Sunni dan Syiah. Jika cerita ini benar berarti bahwa Amr bin Harits telah terus menyangkal bahwa ia telah membuat si wanita hamil sampai cerita tentang wanita tersebut mencapai Umar. Umar tadinya tidak tahu hal itu! Cerita tersebut mengatakan bahwa Umar segera menangkap lelaki tua tersebut yang sedang mencoba untuk melarikan diri dari Madinah.

Ketika Amr melihat Umar, dia memutuskan untuk menerima apa yang telah dilakukannya, tetapi beralih menyalahkan. Dia menyalahkan perbuatannya kepada Nabi dengan mengatakan bahwa Nabi (dan Abu Bakar) telah membolehkan dia untuk melakukan Mut’ah dengan banyak gadis dan wanita sebanyak yang ia inginkan. Dia juga mengatakan bahwa ketika gadis-gadis menjadi hamil maka lelakilah yang memiliki kata Pamungkas dalam menerima dia untuk menjadi ayah atau tidak! Lalu Umar berkata: “Jika kamu begitu yakin bahwa Nabi membolehkan bagi kamu, maka mengapa kamu berbohong tentang apa yang kamu lakukan?” Tidak ada jawaban dari Amr bin Harrith.

Menjadi seorang Sahabat, Amr bin Harits seharusnya menampilkan keunggulan moral yang tinggi dan setidaknya tidak seharusnya berbohong. Tetapi Umar memiliki pertanyaan lagi. Dia bertanya: “Mengapa tidak ada kejadian seperti itu yang terjadi di masa Nabi atau Abu Bakar di mana gadis-gadis hamil akan datang kepada mereka dan mengklaim bahwa para lelakinya menyangkal sebagai ayah?” Sekali lagi Amr bin Harits tidak punya jawaban.

Umar kemudian menyeret Amr ke masjid untuk melihat apakah ada yang bisa memverifikasi klaim tersebut bahwa Nabi telah membolehkan orang-orang seperti dia untuk melakukan Mut’ah. Banyak sahabat terkenal berpendapat bahwa jika Mut’ah diizinkan oleh Nabi dan Abu Bakar maka semestinya sudah ada sejumlah besar anak yang lahir di Madinah yang jalur keturunannya diragukan. Para sahabat lebih jauh berpendapat bahwa tidak ada pezina yang akan dicambuk pada masa mereka karena mereka semua akan menyatakan telah melakukan Mut’ah. Kemudian Umar berkata: “Saya telah bersama Nabi sejak di Mekah tetapi saya tidak tahu adanya kasus tersebut.”

Cerita berlanjut dan mengatakan bahwa ketika Amr Harits tidak punya jawaban dan dalam aturan Umar yang keras dari keadilan yang tegas, ia dicambuk. Tetapi Amr adalah lelaki yang sudah tua dan banyak memohon Umar untuk tidak mencambuk dia. Kemudian setelah ragu-ragu lama, Abdullah bin Abbas berbicara mendukung Amr. Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa ketika Abduallah ibn Abbas ditantang oleh para sahabat lain, ia dengan cepat mengubah pendapatnya dan mengatakan bahwa Mut’ah hanya diizinkan oleh Nabi dalam beberapa pertempuran dengan orang-orang kafir seperti di Hunain ketika mereka mewarisi para wanita dari pertempuran.

Dan dalam satu riwayat dalam kitab Syi’ah kita juga secara jelas menyatakan bahwa untuk memastikan apakah Mut’ah itu diperbolehkan, Umar juga pergi ke Imam Ali (as). Hal ini ditulis dalam kitab-kitab Syiah kita (4) bahwa Imam Ali mengatakan bahwa Mut’ah dilarang secara total. Tetapi untuk menjelaskan hal ini ulama Syiah kita telah menulis bahwa Imam Ali mengatakan ‘kebohongan’ kepada Umar karena ia ber-taqiyyah, atau mereka mengabaikan cerita tersebut dan mengatakan cerita itu tidak ‘mutawatir.’

Dalam setiap aspek, Umar mempunyai cukup bukti bahwa Mut’ah tidak diperbolehkan dan, oleh karena itu, Amr harus dicambuk. Tetapi Amr adalah seorang lelaki tua yang teman-teman dan kerabat dekat dia tahu bahwa dia akan mati jika dicambuk. Lalu mereka bersikeras bahwa Umar harus membiarkan dia pergi dengan menerima bahwa Amr benar-benar berpikir bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Amr sendiri terus berkata bahwa dia yakin bahwa mut’ah itu diperbolehkan. Jadi akhirnya, memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut, Umar menggunakan kata-kata: “Nabi membolehkan kamu Mut’ah tetapi saya melarangnya untuk kamu dari sekarang!” Ia kemudian mengancam merajam kepada siapa saja yang melakukan Mut’ah, meskipun jika mereka mengklaim bahwa Nabi telah membolehkannya.

Jadi, apakah Umar benar ketika mengucapkan kata-kata di atas? Apakah dia menggunakan kata-kata tersebut karena dia melawan Nabi atau apakah dia menggunakan kata-kata tersebut dalam konteks bukti yang dimilikinya. Marilah kita, oleh karena itu, melihat bukti-bukti yang ada di depan Umar.

  1. Pertama, Umar telah menyaksikan bahwa Amr bin Harits telah berbohong tentang menjadi ayah dari janin tersebut yang berarti ia tidak bisa dipercaya dalam apa yang dia katakan dan hanya mengatakan hal-hal yang menguntungkan baginya.
  2. Umar juga melihat bagaimana Amr tua ini mencoba untuk melarikan diri dari Madinah dan tidak mengambil tanggung jawab terhadap anak dan ibunya.
  3. Lalu Amr tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan penting tentang apa yang Nabi dan Abu Bakar telah izinkan.
  4. Lalu Abdullah bin Abbas mengubah ceritanya
  5. Selanjutnya, Umar tahu bahwa Mut’ah tidak disebutkan dalam al-Quran.
  6. Dia juga tahu bahwa model peran Islam yaitu Nabi tidak pernah melakukan Mut’ah.
  7. Dia juga mendengar dari Imam Ali yang mengatakan mut’ah itu dilarang (meskipun ulama Syiah mengabaikan riwayat ini, padahal ditemukan di kitab-kitab Syiah).
  8. Dan terakhir, ia menyaksikan penderitaan dari budak wanita muda lemah yang dihamili. Islam bukanlah agama jahiliyah di mana laki-laki mengeksploitasi wanita lemah dengan mengambil keuntungan dari kelemahan mereka!

Jadi jelas bahwa Umar memiliki semua bukti melawan Mut’ah dan kata-katanya, karena itu, hanya akan memberikan Amr manfaat dari keragu-raguan tersebut untuk menghindari dia dari dicambuk. Jadi, Umar hanya mengucapkan kata-kata dalam konteks semua bukti di atas yang dia dapatkan melawan Mut’ah.

Saat ini ada banyak ulama yang secara sengaja menggunakan kata-kata Umar untuk menyerang dan mengklaim bahwa kata-kata Umar yang diucapkan dalam istilah yang umum adalah membuktikan bahwa dia adalah seorang munafik dan telah berbalik melawan Nabi. Mereka lupa bahwa Amr bin Harith-lah yang telah berbohong. Adalah Amr yang menyatakan bahwa Nabi membolehkan laki-laki untuk membuat gadis hamil dan kemudian menolak sebagai ayah dari bayinya.

Hari ini, fikih kita tentang Mut’ah menerima semua klaim Amr bin Harits dan sahabat-sahabatnya. Kita bahkan menerima bahwa lelakilah yang mempunyai kata pemutus dalam menerima anak hasil Mut’ah itu miliknya atau bukan. Kita dengan sengaja mengabaikan semua bukti yang ada di depan Umar.

Sebaliknya kita mengambil kata-kata Umar (“Saya melarangmu apa yang Nabi mengizinkan kamu!”) dan menjadikannya “di dalam daun ara” untuk menyembunyikan agenda politik kita melawan dia. Kita menolak untuk menerima bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan kata-kata ini secara terang-terangan karena itu akan berarti bunuh diri politik baginya. Sebaliknya, orang seperti Amr bin Harith, ia sudah berkata bohong. Dia juga akan mengubah ceritanya seperti Abdullah bin Abbas. Dia juga akan melakukan TAKKIYA! Kita tampaknya mengabaikan fakta bahwa jika Umar ingin berbalik melawan Nabi maka dia tidak akan menggunakan jenis kata-kata ini di depan umum. Sebaliknya ia akan bersikeras bahwa bukti yang melawan Mut’ah menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah mengizinkan mut’ah. Kita tampaknya mengabaikan bahwa Umar hanya menggunakan kata-kata ini dalam konteks bukti yang melawan dia dan hanya setelah memberikan Amr Harits manfaat dari keragu-raguan sehingga ia dapat diselamatkan dari hokum cambuk.

KONTRAK SEX MUT’AH PADA MASA KEKHALIFAHAN IMAM ALI

Sebuah fakta sejarah yang melawan Mut’ah adalah bahwa ketika Imam Ali (as) resmi menjadi Khalifah ke-4 dia tidak pernah melegalkan Mut’ah. Dalam rangka untuk menjelaskan mengapa Imam Ali (as) tidak pernah melegalkan Mut’ah selama pemerintahannya sebagai Khalifah ke-4, ulama Syiah kita memberi alasan bahwa masyarakat belum siap untuk itu. Mereka berpendapat bahwa meskipun Mut’ah tetap ilegal di pemerintahan Imam Ali (as) kita harus menganggapnya sebagai hukum dalam Islam Syiah yang didasarkan pada nama Imam Ali. Dengan kata lain, kita harus melawan “pengharraman resmi” Imam Ali dan masih menyebut diri kita Syiah Ali!

Berbagai dalih diberikan untuk menjelaskan mengapa Imam Ali tidak melegalkan Mut’ah:

  • Salah satunya adalah bahwa orang akan berbalik melawan dia, sehingga ia tidak mau mengambil risiko itu.
  • Yang kedua adalah bahwa ia sangat banyak terlibat dalam peperangan sehingga ia tidak punya waktu untuk melegalkannya.
  • Yang ketiga adalah bahwa dia hanya memperbolehkan ‘Syiah’nya untuk melakukannya secara pribadi tetapi tetap ilegal bagi orang lain.

Semua alasan yang dibuat-buat ini tidak masuk akal karena pada kenyataannya Mut’ah tetap ilegal pada zaman Imam Ali (as). Jadi, jika dia tetap menjaga secara resmi ilegal, lalu para mullah yang datang pada abad-abad kemudian tidak dapat menjadikannya hukum resmi, ini adalah karena akan melawan terhadap pemerintahannya. Membuat alasan untuk melegalkan Mut’ah adalah berbalik melawan pemerintahan Imam Ali.

Terdapat juga kontradiksi pada klaim bahwa masyarakat tidak siap jika Mut’ah harus dilegalisir oleh Imam Ali. Hal ini karena teks Syiah kita memberitahu kita bahwa salah seorang lelaki Syiah Ali biasa melakukan begitu banyak mut’ah secara diam-diam dimana dia akan memberikan nama baru kepada setiap wanita pasangan mut’ahnya dan memberitahu anak-anaknya untuk tidak melakukan Mut’ah dengan wanita dengan nama-nama tersebut karena mereka menjadi ‘ ibu sementara” dari anak-anak lelakinya. Jadi jika jenis cerita itu benar maka itu akan berarti bahwa pada masa Imam Ali ada banyak lelaki yang melakukan Mut’ah yang berarti bertentangan dengan klaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah. Sehingga kita tidak dapat menerima keduanya karena pertama-tama mengklaim bahwa masyarakat tidak siap untuk mut’ah dan kemudian ada cerita dalam kitab-kitab kita yang mengatakan bahwa Mut’ah adalah praktik yang umum di masa pemerintahan Imam Ali.

Selain itu, klaim bahwa masyarakat akan berbalik melawan Imam Ali jika dia melegalkan Mut’ah, bisa disimpulkan bahwa ketika Umar dianggap mampu mengubah masyarakat dengan pelarangan mut’ah, namun Imam Ali tidak mampu mengembalikan itu, yang berarti ia tidak memiliki ketegasan atau keberanian seperti Umar. Itu berarti menganggap Imam Ali adalah pemimpin yang lemah dan ini, oleh karenanya, merupakan penghinaan kepada Imam kita. Selain itu, memberikan argument bahwa Imam Ali terlibat dalam banyak peperangan adalah tidak relevan, karena Umar juga terlibat dalam peperang yang jauh lebih besar di mana kerajaan besar seperti Bizantium dan Persia yang dikalahkan.

Dan mengatakan bahwa Imam Ali terlalu sibuk (dalam hal-hal seperti peperangan) dan karena itu dia tidak melegalkan mut’ah, ini berarti bahwa dia lebih seperti seorang pemimpin militer daripada seorang pemimpin politik. Ini benar-benar salah karena dia melakukan banyak banyak untuk mendefinisikan pemerintahan Islam. Keajaiban dia adalah bahwa sementara ia terlibat dalam banyak peperangan, namun dia mampu membentuk pemerintah keduanya dalam sejarah. Inilah sebabnya mengapa, bahkan musuh-musuhnya, akan merujuk pada keunggulan administrasinya. Keadilannya, ajarannya, kesejahteraannya dll yang semua brilian. Jadi mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk melarang Mut’ah benar-benar konyol dan merupakan usaha yang lemah untuk memberikan argument kenapa Mut’ah tidak dilegalkan pada masa pemerintahan Imam Ali.

Artikel di atas diterjemahkan secara bebas dari artikel yang ada di: http://mullaandmutah.weebly.com/chapter-1-on-the-hidden-truths.html

APAKAH SHOLAT ITU SEBENARNYA?

Peneliti: Wakas Mohammed

Penerjemah: Islam saja

 

Infromasi tambahan tentang sholat menurut Al-Quran:

  1. Sholat harus dilakukan selama/ mendekati waktu pagi dan petang [11:114, 17:78, 24:58]
  2. Lelaki dan perempuan dapat menegakkan sholat. [9:71]
  3. Mereka yang menegakkan/ menjaga sholat adalah mereka yang rukuk (rendah hati) [2:43, 5:55]
  4. Apakah ayat 2:43-45 sedang menjelaskan hal yang sama?
  5. Seseorang dapat meminta tolong melalui sholat [2:45, 2:153]
  6. Mereka yang mempunyai keimanan akan menegakkan sholat [2:277, 4:43, 4:162, 5:55, 8:3, 14:31, 27:3 adalah sedikit contohnya]
  7. Sholat dapat melibatkan aktifitas berbicara/ membaca/ pidato dan orang harus mengetahui apa yang sedang dikatakan (yaitu dengan akal pikiran yang jernih, tidak ”sukaro” [hilang kesadaran/ mabuk]). [4:43, 11:84-94]
  8. Seseorang harus bersih ketika menuju sholat. [4:43, 5:6]
  9. Sholat itu dibatasi [4:101, 4:103, 5:106, 62:10]
  10. Sholat bisa dipendekkan (dihentikan ?) dan dikerjakan sambil bergerak bila keadaan kurang memungkinkan [[2:238-239, 4:101]
  11. Dalam kondisi khawatir/ takut (dalam kondisi berperang?) dapat dilakukan dalam dua kelompok secara bergantian [4:102]
  12. Dapat diakhiri dengan sujud (pengakuan/ tunduk berserah diri/ menyetujui/ mendengar dan menta’ati/ menanggapi secara positif) [4:102]
  13. Bagi orang-orang yang beriman sholat adalah Kitab/ perintah/ undang-undang yang diatur waktunya [4:103]
  14. Tersirat suatu pengertian bahwa merubah perkataan dari yang semestinya, banyak melupakan apa yang seharusnya diingat adalah bagian dari pelanggaran terhadap menegakkan sholat [5:12-13]
  15. Orang dapat dipanggil untuk sholat [5:58, 62:9]
  16. Ada seseorang yang menjadikan sholat sebagai suatu permainan (kesenangan/ hiburan) [5:58]
  17. Apakah tidak menghormati perjanjian dalam kitab Allah dan memberikan keterangan yang salah tentang Allah berlawanan dengan berpegang teguh pada Kitab Allah dan menegakkan sholat? [7:169-170]
  18. Musyrikin dapat bertaubat (kembali) dan menegakkan sholat setelah mereka melanggar perjanjian [9:5, 9:11]
  19. Apakah ayat 9:11-12 menjelaskan adanya pertentangan antara menegakkan sholat dengan yang memutuskannya?
  20. Masjid-masjid (institusi-institusi pengakuan) selalu dipelihara/ dikunjungi oleh mereka yang menegakkan sholat [9:18]
  21. Sholat dapat dihadiri [9:54]
  22. Ketika mempunyai otoritas di atas bumi memungkinkan seseorang untuk menegakkan sholat dengan lebih mudah [10:87, 22:41]
  23. Tempat tinggal/ rumah dapat digunakan untuk menegakkan sholat [3:39, 10:87, 33:33]
  24. Apakah ayat 14:37 menyiratkan pengertian bahwa menempatkan keturunan seseorang pada sebuah rumah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan memungkinkan merkea menegakkan sholat dengan lebih baik?
  25. Apakah ayat 17:78 menunjukkan bahwa istilah “Quran-al-fajr” dan “sholat-al-fajr” adalah saling menggantikan, yaitu dua hal yang berkaitan erat ?
  26. Sholat dapat terabaikan/ kehilangan maknanya jika mengikuti hawa nafsu/ keinginan [19:59, 107:5].
  27. Menegakkan sholat untuk mengingat/ menyebut Allah [20:14]
  28. Sholat mencegah/ menghalangi kejahatan dan kekejian [29:45]
  29. Apakah ayat 31:2-7 menjelaskan adanya pertentangan antara menegakkan sholat (yang didasarkan pada bimbingan/ system Tuhan) dengan menegakkan suatu perkataan yang tidak berguna? (perhatian dengan teliti kata ‘itu’ (HA) pada ayat 31:6)
  30. Apakah ayat 33:33-34 menyiratkan pengertian bahwa menegakkan sholat dikaitkan dengan mempelajari kitab Allah?
  31. Mereka yang menegakkan/ menjaga sholat adalah mereka yang nenerima seruan Tuhan mereka, melibatkan diri dalam konsultasi timbal balik (musyawarah) dan berbagi rizki yang diberikan oleh Allah [42:38]
  32. Burung-burung mengetahui sholat mereka [24:41]
  33. Seseorang harus mengamankan/ melindungi/ memelihara sholat yang paling sesuai/ setara/ adil/ seimbang [2:238].

Tambahan (pandangan lain) dari penerjemah:

  1. Apakah ”QOONITIIN” pada ayat 2:238 sebenarnya adalah ketaatan seseorang karena menjaga kehormatannya seperti ”AL-QOONITIIN” pada ayat 66:12 ?
  2. Apakah “QUUMU LILLAH” pada ayat 2:238 sebenarnya berkaitan erat dengan ”YUQIIMAA HUDUUD ALLAH” pada ayat 2:229 ?
  3. Apakah ”KHIFTUM” pada ayat 2:239 sebenarnya berkaitan dengan ”YAKHOOFA ALLA YUQIIMA HUDUUD ALLAH” dan ”FA IN KHIFTUM ALLA YUQIIMAA HUDUUD ALLAH” pada ayat 2:229 ?
  4. Lalu, apakah sholawat dan sholat pada ayat 2:238 sebenarnya berkaitan dengan implementasi dari hudud Allah dalam kehidaupan berkeluarga ?. Perhatikan dengan teliti konteks ayat 2:221-241.
  5. Seseorang dapat menegakkan sholat dengan malas dan hanya untuk pamer pada orang lain [4:142]
  6. Menyiratkan adanya sholat secara berjama’ah (berkelompok/ dalam suatu komunitas/ banyak) [4:142, 5:58, 9:54, 22:41, 42:38, 62:9]
  7. Melibatkan diri dalam hal-hal yang meracuni diri (minum-minuman keras) dan judi dapat menghalangi sholat. [5:91]
  8. Sholat juga berkaitan dengan pembuatan wasiat si mati dan sumpah dilakukan setelah sholat [5:106]
  9. Seseorang disuruh agar menyuruh keluarganya untuk sholat [19:55, 20:132]
  10. Orang harus bersabar dalam melaksanakan sholat [2:45, 20:132]
  11. Orang-orang yang menegakkan sholat termasuk dalam MUKHBITIIN (bersikap rendah hati/ sederhana/ berserah diri/ taat) [22:34-35]
  12. Orang hendaknya tidak dikacaukan oleh perniagaan dan jual-beli ketika menegakkan sholat [24:37]
  13. Orang harus rendah hati selama sholat [23:2]
  14. Musholliin (mereka yang mengikuti secara dekat atau selalu bersandar/ menempel) adalah mereka yang tetap/ melindungi/ menjaga sholatnya [70:22-23]
  15. Seseorang dapat menegakkan sholat sekedar untuk pamer [107:5-6]
  16. Ada yang sholat dengan melibatkan kebisingan/ siulan/ sambil bermalas-malasan/ penipuan/ kepalsuan/ tepuk tangan? [8:35]
  17. Dahulu musyrikin menegakkan sholat di sekitar Baitullah [8:35]
  18. Sholat seseorang dapat memerintahkan orang lain (misalnya menegakkan suatu sistem tertentu) [11:87]
  19. Sholat seseorang bisa memberikan kedamaian kepada yang lain, yaitu mereka akan diperlakukan dengan cara tertentu [9:103]
  20. Seseorang (Muhammad) tidak boleh terlalu keras dalam sholatnya [17:110]
  21. Sholat seseorang dapat kepada/ untuk Allah [6:162, 108:2, 87:15]
  22. Sholat harus diselenggarakan dengan serius [4:142, 5:58, 9:54, 107:5]
  23. Ayat 75:31-32 menyiratkan pengertian bahwa lawan dari kata sho-la (yaitu fi’il dari isim sholat) adalah “berpaling” (ta-walla)
  24. Ada orang yang menghalangi/ melarang orang lain sholat [96:9-10]
  25. Sebuah contoh tentang sholat yang dilakukan di suatu tempat khusus (mihrab) dan sendirian [3:39]
  26. Tanya-jawab dapat dilakukan selama orang sho-la (yaitu fi’il dari isim sholat) [3:39]
  27. Apakah Sholat melibatkan aktifitas berdo’a/ permohonan [3:37-40] ?
  28. Tuhan dan para malaikat dapat sholat kepada/ untuk anda/ kita, yang mengakibatkan kita keluar dari kegelapan kepada cahaya [33:43, 33:56]
  29. Sholat memungkinkan dilakukan antar sesama manusia [33:56, 9:103]
  30. Seseorang dapat melakukan sholat untuk orang lain (sekelompok orang) [4:102]. Perhatikan kata ”la-HUM” pada awal ayat ini.
  31. Orang hendaknya tidak sholat bagi orang munafiq [9:84]. (Apakah ini menyiratkan pengertian seseorang harus sholat bagi orang-orang beriman?)

 

Tambahan dari penerjemah:

Ayat 75:31-32 menyiratkan pengertian bahwa lawan dari kata sholat adalah “berpaling”/ “menghindari”. Padanan kata dalam bahasa Indonesia yang paling cocok dengan “lawan kata dari berpaling” adalah “memperhatikan” atau “memberikan perhatian” atau “mencurahkan perhatian kepada” sesuatu. Apakah sesuatu yang diperhatikan tersebut tergantung konteks kalimatnya. Pengertian ini cocok untuk diterapkan pada hampir semua ayat-ayat di atas.

Dalam bahasa Indonesia kata memperhatiakan itu menyiratkan banyak makna tergantung konteks kalimatnya. Sebagai contoh:

  1. Ketika seseorang mengatakan: “Kenakalan remaja bisa disebabkan karena kurangnya perhatian orang tuanya kepada anak tersebut”. Ini bermakna bahwa kenakalan remaja bisia disebabkan oleh orang tua yang kurang “memperhatikan” si remaja tersebut, yaitu misalnya: tidak mendidiknya, kurang memberikan pengarahan, tidak memantau perkembangan perilakunya dll.
  2. Ketika dikatakan: “Andi nilainya jelek karena kurang memperhatikan pelajaran ketika di kelas”. Ini bisa bermakna Andi tidak serius mendengarkan pelajaran, tidak konsentrasi terhadap pelajaran dll.

Sholat adalah isim dari sho-la-wa. Dengan demikian sholat adalah “keadaan memperhatikan sesuatu” atau “keadaan memberikan perhatian kepada sesuatu”. Saya belum menemukan padanan satu kata dlm bhs Indonesia yang mengambarkan “keadaan memperhatikan sesuatu”.

Berbeda dengan kata zakat yang merupakan isim dari kata za-ka-wa (tumbuh/ berkembang/ meningkat secara fisik dan mental), sehingga zakat bermakna “keadaan tumbuh/ berkembang/ meningkat secara fisik dan mental”. Yang padanan satu kata dalam Indonesianya adalah “pertumbuhan/ perkembangan/ peningkatan secara fisik dan mental”

Contoh penggunaan pengertian sholat di atas pada ayat-ayat di mana kata sholat atau sho-la-wa/ya tidak mungkin bermakna ritual sholat 5 x sehari yang berupa gerakan fisik berurutan dengan bacaan tertentu pada setiap perubahan posisinya, adalah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya YU-SHOLLU kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, SHOLLU kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [33:56].

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya “memberikan perhatian” kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, “berilah perhatian” kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [33:56].

Cara Allah dan para malaikat memberikan perhatian kepada Nabi, bisa saja dengan cara memberikan kekuatan batin, bantuan ghoib pada saat perang dll.

Cara umat Muhammad memberikan perhatian kepada Nabi adalah dengan cara menolongnya, memberi dukungan moral dan material, membantu dalam jihad dll.

2. Dan janganlah TUSHOLLI (kamu sho-la) kepada seorang yang mati di antara mereka selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [9:84]

Dan janganlah kamu “memberikan perhatian” kepada seorang yang mati di antara mereka selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [9:84]

Ini bisa berarti bahwa muslimin tidak perlu memberikan perhatian penuh pada munafiqin yang telah mati, misalkan mendo’akan mereka, memberikan penghormatan dll, Bila perlu biarkanlah sesama munafiqin yang mengurus jasad mereka.

3. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan AQOMUSH-SHOLAH dan ATUZZAKAH, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [9:45]

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka kembali dan “menegakkan/ mentaati perjanjian” dan “melakukan perbaikan”, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [9:45].

Sholat pada ayat ini tidak mungkin dipahami sebagai sholat ritual, karena musyrikin tidak mungkin mau melakukan sholat ritual. Kalau dipahami bahwa mereka telah muslim, maka ini berarti melakukan pemaksaan agar musyrikin menjadi muslim dengan ancaman pedang dan ini bertentangan dengan ayat 2:256.

4. Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah SHOLAT (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”. [5:106]

Sholat pada ayat ini berarti memperhatikan/ menyimak isi dari wasiat atau membacanya dengan teliti jika wasiat itu tertulis dan ini harus dilakukan oleh kedua saksi baik muslim maupun non muslim, bukan melakukan ritual sholat seperti di hari ini, karena saksi yang non muslim tidak mungkin bersedia melakukan sholat ritual.

5. Peliharalah SEMUA SHOLAT, dan SHOLAT WUSTHAA. Tegakkanlah karena Allah dengan ta’at. [2:23].

Peliharalah SEMUA KEADAAN MEMPERHATIKAN HUDUD ALLAH YANG TERKAIT DENGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA, dan KEADAAN MEMPERHATIKAN HUDUD ALLAH SECARA ADIL/ SEIMBANG. Tegakkanlah karena Allah dengan ta’at. [2:23].

Perhatikanlah hudud Allah pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

 

Pernyataan Penting:

Tulisan di atas mencerminkan pemahaman saya tentang sholat hingga pada saat artikel ini ditulis dan bisa saja berubah bila menemukan pemahaman baru yang lebih mencerahkan.

Artikel yang asli dari si peneliti dapat dibaca di: http://mypercept.co.uk/articles/quran_on_salat.htm

AL-QUR`AN MENYELAMATKAN MAKNA KATA SUJUD

Pengantar dari penerjemah

 

Salaamun ‘alaikum.

Muslim pada umumnya ketika mendengar kata sujud, maka yang terbayang adalah suatu gerakan tubuh untuk menempelkan minimal dahi/ kening, ujung hidung, telapak tangan, 2 lutut dan jari-jari kaki kanan dan kiri. Sujud seperti ini saya sebut sebagai sujud 8.

Nah, Wakas Mohammed telah berusaha meneliti ayat-ayat al-Quran yang menggunakan tsulatsi (akar kata dalam bahasa Arab) S-J-D (siin-jiim-dal) dan mencoba mencari artinya berdasarkan konteksnya dan dibandingkan dengan makna yang tersedia di kamus Arab klasik. Kesimpulannya ternyata sangat menarik –setidaknya bagi saya, karena ternyata makna sujud menurut al-Quran itu tidak sebagaimana yang umumnya dibayangkan oleh kebanyakan muslim.

Terjemahan terhadap hasil penelitian ini dilakukan secara bebas, yaitu atas dasar pemahaman saya terhadap teks dan konteksnya. Oleh karena itu para pembaca sangat disarankan untuk membaca sumbernya pada link yang disebutkan di bawah.

Ketika membaca artikel ini sangat disarankan untuk selalu melakukan pemeriksaan ayat-ayat yang dirujuk terutama teks arabnya dan link http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp akan membantu anda lebih merasakan maknanya setelah mengetahui posisi dan fungsi kata per kata dalam teks Arabnya.

Tambahan penjelasan atau pendapat dari penerjemah akan saya tulis pada note dalam tanda kurung. Silahkan menikmati !

 

Makna Sujud adalah mengakui Al-Quran

Peneliti: Wakas Mohammed

Penerjemah: Islam saja

Kata Arab ‘sujud’ (akarnya: Siin-Jiim-Dal) umumnya diartikan sebagai ‘sujud fisik’ (Note: selanjutnya saya sebut sujud 8), namun ada perbedaan di antara para penerjemah dan juga di antara kejadian dalam terjemahan. Dalam artikel berikut, semua kejadian kata spesifik dalam al-Quran ini (note: yaitu kata yang terbentuk dari tsulatsi SJD) dianalisis dan informasinya akan diambil, dalam rangka untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kata ini. Terkadang poin-poin penting akan terangkat, tetapi juga pengamatan kecil yang jika sendirian/ terpisah tidak dapat memberikan wawasan yang pasti, namun setelah dilihat secara bersama-sama dengan ayat-ayat lainnya diharapkan akan memberikan pandangan yang logis. Ketika membaca artikel ini, sangat dianjurkan sambil membuka “new window” untuk mencari dan mempelajari setiap ayat yang dikutip.

Untuk keperluan akurasi/ kejelasan, kadang-kadang ketika terjemahan ditampilkan dalam artikel ini:   SJD = tunggal, dan semua bentuk lainnya adalah plural. Terjemahan langsung ditampilkan dalam huruf biru (note: saya ubah menjadi huruf miring).

Singkatan:
AQ = al quran (bacaan)

KAK = Kamus Arab Klasik
Dari Project Root List (note: www.studyquran.co.uk/PRLonline.htm):

Siin-Jiim-Dal = rendah hati, sederhana, tunduk patuh, menghamba/ mengabdi, memuja, bersujud (sujud 8), melakukan sikap/ isyarat penghormatan (note: dengan gerakan bagian tubuh tertentu), menurunkan/ menekuk dirinya turun ke arah tanah, menurunkan/ menundukkan kepala, melakukan sikap pengakuan/ menghormati/ membesarkan, menghargai, berdiri, melihat secara terus menerus dan secara tenang.

Dari catatan dalam kamus Lane:

  • Sinonim dengan Kha-Daad-Ayn yang berarti rendah hati/ sederhana/ tunduk patuh.
  • “SuJuD dari benda-benda mati kepada Allah sebagaimana yang kita pahami dalam al-Quran, adalah menunjukkan ketaatan kepada sesuatu yang olehnya mereka dijadikan bawahan”
  • “Kapal SJD/ membelok/ condong oleh pengaruh angin”.
  • Ayat 55:6 mengatakan “tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon tunduk secara rendah hati kepada kehendak-Nya”.

Sebuah kata yang kadang-kadang digunakan bersama-sama dengan ‘sujud’ adalah “ruku’ (akarnya: Ra-Kaf-Ayn) yang dapat berarti: membungkuk, menekuk, miring/ condong, kerendahan hati, merendahkan diri, menundukkan kepala.

Catatan, preposisi “li” dalam bahasa Arab berarti “untuk/ kepada” atau “milik dari”, dan sering digunakan setelah SJD. Ini tidak selalu berarti sebuah arah secara fisik. Preposisi “ila” lebih tepat menyiratkan gerak dan/ atau arah.

Ulasan ayat-ayat SJD

SJD kepada/ untuk Adam/ manusia – 02:34, 7:11-12, 15:29-32, 17:61, 18:50, 20:116, 38:72-76.

  • kata SJD dipertentangkan dengan berpikir dirinya lebih tinggi (kesombongan/ superioritas), dan penolakan untuk SJD mengakibatkan digolongkan sebagai orang-orang yang menyembunyikan/ menyangkal/ menolak atau tidak bersyukur (kafir). Ini bisa menyiratkan bahwa orang yang SJD akan digolongkan sebagai seseorang yang mengungkapkan/ menegaskan/ menerima atau bersyukur.
  • alasan menolak SJD kepada makhluq (Adam/ manusia dalam kasus ini) dikarenakan berpikir bahwa dirinya lebih baik/ unggul terhadap makhluq itu. Ini memiliki implikasi bahwa makhluk yang SJD adalah dalam hubungan sebagai bawahan (note: lebih rendah) dari sesuatu yang kepadanya SJD dilakukan.
  • jika dianggap sebagai sujud fisik yang pada umumnya dipahami (sujud 8), akan tampak aneh bahwa para malaikat/ pengendali atau Iblis (yang terbuat dari ‘nyala api’) bisa melakukan sujud dalam bentuk yang didefinisikan terlihat secara fisik, tetapi hal ini masih dimungkinkan (note: yaitu bila para malaikat dan iblis tersebut menyerupai manusia).

3:113 Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka SJD (yasjuduun).

7:206 … mereka yang dekat dengan Tuhan mereka tidak terlalu bangga/ sombong* untuk melayani. Mengabdi (beribadat) kepada-Nya dan mereka memuliakan Dia (yusabbihu) dan kepada/ bagi-Nya mereka SJD (yasjuduun)

* kata yang sama untuk Iblis pada ayat 02:34, 38:73-76, 17:61 dll

Dengan demikian, bisa dikatakan: merasa bangga/ sombong merupakan penghalang bagi pemuliaan, penghambaan dan SJD seseorang. Menjadi dekat (kepada Allah) adalah kondusif untuk tindakan SJD.

22:18, 55:6 – Ber-SJD (yasjudu) kepada/ bagi Allah apa yang ada di langit/ bumi, dan matahari/ bulan/ bintang-bintang/ pegunungan/ pepohonan/ semua makhluk dan kebanyakan manusia

13:15 … kepada/ bagi Allah SJD (yasjudu) apa yang ada di langit dan di bumi, secara suka rela dan terpaksa, dan bayang-bayang mereka di pagi hari dan akhir-sore.

Secara kontekstual menyiratkan bahwa SJD yang sama dilakukan oleh bayang-bayang dan siapa/ apa saja yang ada di langit/ bumi, yang berarti ini tidak mungkin bermakna sujud 8. Jika kita menerima bahwa seseorang mungkin bersujud secara fisik (sujud 8) secara suka rela, bagaimana kita dapat memahami SJD secara terpaksa? Apakah Allah mendorong wajah orang-orang secara paksa sehingga mereka menempelkan hidung dan dahi di tanah secara terpaksa? Jelas bahwa sujud 8 tidak ada hubungannya dengan sujud dalam kasus ini.

Ayat 3:83 menggunakan ungkapan yang mirip dengan ayat 13:15 tetapi dengan kata “aSLaMa” (Maka apakah selain dari Diin Allah yang mereka cari, padahal kepada-Nya-lah “aslama” segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka rela maupun terpaksa….), dan ada juga dengan kata “SaBiH” pada ayat 57:1 dan 17:44. Apakah ketiga istilah ini tampak memiliki kesamaan yaitu bahwa kata-kata tersebut mengandung hubungan ketundukan yang melekat. Bagi saya, ada perbedaan antara “aSLaMa” dalam arti yang sebenarnya, dan arti teoritis atau dangkalnya. Sebagai contoh, jika seseorang berserah diri atau berdamai kepada saya, maka akan benar untuk mengatakan bahwa mereka berada dalam “penyerahan” kepada saya, tetapi ini tidak memberitahu kita apakah mereka melakukan itu atas dasar pilihan bebas/ dengan ketulusan, yaitu keputusan mereka sendiri, atau melakukannya karena alasan lain. Hal yang sama dapat dikatakan tentang SJD. Jika seseorang melakukan SJD, ini tidak memberitahu kita apakah mereka melakukan itu di luar pilihan bebasnya atau dengan ketulusan dll. Itulah mengapa segala sesuatu yang ada di alam semesta SJD/ SLM/ SBH, hanyalah mereka yang melakukannya bukan karena pilihan bebas mereka sendiri yang akan berhasil. Ini mungkin menjelaskan mengapa ada penyebutan “secara suka rela dan terpaksa”.

16:48-50 Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri, SJD (sujjadan) kepada/ bagi Allah dan/ sementara mereka* rendah hati?  Dan kepada/ bagi Allah SJD (yasjudu) apapun yang ada di langit dan apapun yang ada di bumi dari makhluk yang bergerak dan para malaikat/ pengendali, dan mereka tidak sombong. Mereka takut kepada Tuhan mereka dari atas mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.

* Tampaknya merujuk pada bayang-bayang

Jika kita menganggap ayat di atas sebagai sujud 8/ bersujud 8 (seperti beberapa terjemahan), maka ini jelas akan menyiratkan bahwa tidak peduli ke arah mana bayang-bayang tersebut menghadap, itu MASIH dalam keadaan bersujud kepada/ bagi  Allah, yaitu Allah ada dimana-mana, yang berhubungan dengan “bagi Allah milik timur dan barat sehingga di mana pun kamu menghadap ada wajah/ kehormatan Allah”, baca ayat 2:115. Ini secara sangat jelas menyiratkan bahwa arah tidak ada relevansinya di sini. Perlu dicatat bahwa sebagian besar umat Islam tidak benar-benar menghadap ke arah sesuatu yang berbentuk kubus yang disebut Kaabah di Mekah selama sholat ritual tradisional. Ini karena bumi ini bentuknya bulat, sehingga kebanyakan manusia akan menghadapi kea rah titik acak dalam ruang. Bahkan jika kita menarik garis lurus di bumi ke arah ia menghadap, setiap derajat darinya akan menghasilkan bermil-mil menjauhi ka’bah, karena adanya jarak yang jauh. Dengan demikian kita mendapatkan  argumen yang aman bahwa arah fisik yang tepat tidaklah sangat penting, karena sangat sulit untuk mendapatkan secara benar, dan Allah tidak ingin menyengsarakan kita, baca ayat 2:185. Juga, ketika seseorang bergerak, misalnya sedang berkendaraan, berjalan dll, seseorang dapat menegakkan sholat menurut pemahaman tradisional dari ayat 2:238-239, tetapi jelas sekali bahwa seseorang akan menghadap ke arah mereka bepergian dan tidak ke satu arah saja, sehingga ini dianggap sebagai pengecualian. Sekali lagi, ini menyiratkan bahwa arah tidaklah relevan.

Karena SJD adalah dalam bahasa Arab bentuk jamak (lebih dari dua), maka kita dapat menyimpulkan bahwa masing-masing dan setiap titik dalam gerakan bayang-bayang adalah sebuah SJD. Bagaimana pergerakan bayang-bayang  memperlihatkan SJD ini? Yaitu bergerak/ sesuai menurut keberadaan yang lebih tinggi, kewenangan/ hukum-hukumnya, dan ini adalah bentuk kepatuhan yaitu: berserah diri, menghormati, menghargai, melakukan ketaatan dll, maka mungkin “mereka melakukan apa yang kepada mereka diperintahkan” di 16:50.

Pada ayat 16:48-50 kita memiliki contoh yang jelas dari SJD kepada/ bagi Allah: ketika sebuah bayangan berubah arah ke kanan dan kiri. Yang perlu kita tentukan adalah: mengapa pergerakan bayang-bayang ini merupakan sebuah SJD dan bagaimana kita bisa menghubungkannya dengan pemahaman kita di dalam AQ?

Mungkin menarik untuk dicatat bahwa titik bayang-bayang akan menjauhi matahari, sehingga cukup sebagai contoh yang cerdas, mengingat matahari juga menghamba, menurut ayat-ayat yang lain.

(Note: dari ayat 16:48-50 juga dapat diketahui bahwa apapun yang ada di bumi – yang berarti seluruh umat manusia termasuk di dalamnya – ber-SJD kepada Allah. Padahal kita tahu tidak semua manusia melakukan sujud 8. Dengan demikian SJD pada ayat ini jelas bukan sujud 8).

25:60 Dan apabila dikatakan kepada mereka: “SJD-lah kamu sekalian kepada/ bagi Yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Mereka mempertanyakan keberadaan yang mereka disuruh untuk SJD kepada/ bagi-nya, menyiratkan bahwa Al-Rahman dianggap oleh mereka tidak layak untuk menerima tindakan tersebut atau mereka tidak yakin siapakah Al-Rahman itu, sehingga mereka tidak melakukan SJD. Perhatikan bagaimana mereka tidak keberatan untuk SJD, tetapi hanya keberatan terhadap keberadaan yang mereka diminta untuk SJD kepada/ bagi-nya.

27:24 “Aku mendapati dia (wajattuhaa) dan kaumnya SJuD (yasjuduuna) kepada/ untuk matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu mencegah/ menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, “

27:25 “Agar mereka tidak SjuD (yasjudu) kepada/ bagi Allah Yang mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan bumi, dan Dia tahu apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu menyatakan?”

Perhatikan bahwa burung itu “menemukan” (wajat) mereka, bukan “melihat” (raayt) mereka sebagaimana dalam mimpi Yusuf di mana ia melihat bulan/ matahari/ planet-planet SJD kepada/ untuknya. Tentu saja, bulan/ matahari/ planet-planet tidak secara fisik sujud seperti yang dilakukan manusia, jadi apa yang Yusuf lihat adalah sesuatu yang lain. Menariknya, jika kita melihat artinya di KAK, kemungkinannya hanyalah dalam bentuk: menghormati, berserah diri, menghargai, membuat persembahan. Jadi mereka harus melakukan sesuatu tampilan yang dapat diamati sebagai SJD, namun bukan dalam bentuk sujud tradisional (sujud 8).

Sekarang mari kita perhatikan apa yang ditemukan oleh burung tersebut. Kita sudah tahu bahwa ketika bayang-bayang bergerak ke kanan dan kiri (yaitu ke segala arah) ia SJD kepada/ bagi Allah. Ketika bayang-bayang terbentuk, mereka menjauhi matahari, sehingga jika pada ayat 27:24 kita menganggap kata SJD = sujud 8 maka satu-satunya kemungkinan adalah bahwa mereka sujud KEPADA matahari secara terarah. Deduksi ini mungkin tampak jelas bagi sebagian orang, tetapi jika memang itu yang terjadi, mengapa kejadian itu tidak dikatakan “melihat” mereka? Pada ayat 27:43 alasan yang diberikan untuknya (Ratu Sheba) yang  tidak menyadari kebenaran atau kekeliruan jalan yang dia tempuh adalah: “Dan mencegah/ menghalangi dia (adalah karena) ia biasa melayani/ menghamba kepada selain Allah”.

Jadi, mari kita asumsikan bahwa itu berarti sujud tradisional (sujud 8), lalu bagaimana seseorang bisa mengidentifikasi kepada siapa sujud itu dilakukan? Itu akan sulit mengingat Allah di mana-mana dan adalah suatu kenyataan bahwa kadang-kadang di banyak negara orang-orang sujud ke arah yang berbentuk kubus yang disebut Ka`bah di Mekah tetapi matahari/ bulan juga berada di arah ini. Jadi dalam kasus seperti ini bagaimana orang bisa membedakan apakah dia sujud ke ka’bah atau ke matahari? Tentu mereka tidak akan bisa, kecuali dengan mengamati dan mempertimbangkan tindakan-tindakan lainnya, yang oleh karena itu kemungkinan besar menggunakan kata “karya/ perbuatan” pada ayat 27:24.

Jika kita benar-benar membayangkan apa yang ayat tersebut maksudkan, yaitu mereka seharusnya bersujud secara fisik (sujud 8) kepada Allah bukan kepada matahari, maka ini akan menyiratkan adanya arah lain selain ke arah matahari, tetapi seandainya memang ini terjadi, maka tidaklah mungkin untuk menyimpulkan apa yang sedang mereka sujudi. Karena bisa jadi bintang, planet, bangunan pada arah itu, dewa lain yang memerlukan arah tertentu.

Intinya adalah, dengan hanya melihat sujud fisik adalah mustahil untuk menyimpulkan obyek yang disujudi. Mungkin dapat dikatakan bahwa burung tersebut entah bagaimana berhasil menyimpulkan, tetapi jika kita kembali kepada apa yang sebenarnya AQ katakan, itu mungkin sekali bermakna perbuatan/ karya mereka yang mereka berikan/ serahkan.

Adalah menarik bahwa ayat ini sering dikutip sebagai bukti adanya sujud fisik (semacam sujud 8) padahal sebenarnya tidak. Atau paling banter adalah netral (bisa sujud fisik, bisa juga bukan).

Beberapa orang telah menyarankan “mendengar dan mentaati” atau “ketaatan” sebagai arti dari SJD, tetapi ini dikesampingkan dalam kasus ayat 27:24, karena tidak mungkin melakukan hal ini kepada matahari, karena merupakan sebuah benda yang tidak memberikan perintah.

41:37 … jangan SJuD (la tasjuduu) kepada/ untuk matahari dan kepada/ untuk bulan, namun SjuD-lah (wasjuduu) kepada/ bagi Allah yang menciptakan mereka, jika kamu melayani Dia saja.

SJD di sini sepertinya akan bermakna sesuatu yang sama untuk kasus sujud kepada: matahari/ bulan/ Tuhan.
Jika anda melayani Allah, berarti SJD kepada/ bagi-Nya. Sesederhana itu. Oleh karena itu dalam kisah Yusuf, SJD kepadanya nampak bermasalah, sebagaimana dicatat oleh beberapa penafsir, (jika diartikan seabgai sujud 8). Masalah ini akan dibahas kemudian.

84:21-22 Dan ketika al-Quran/ bacaan dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau SJuD. Bahkan orang-orang yang telah menolak/ menyembunyikan (kafir) itu mendustakan/ menyangkal (nya).

Lawan kata dari menolak/ menyembunyikan adalah menerima/ mengungkapkan. Lawan kata dari mendustakan/ menyangkal adalah mengakui/ mengkonfirmasi/ menyadari. Jadi SJD – dalam konteks ayat ini – dapat disamakan dengan mengakui/ mengkonfirmasi/ menyadari, yang dilakukan oleh mereka yang menerima/ mengungkapkan.

Menariknya, jika sujud di sini = sujud 8, maka ini berarti Allah ingin pendengar untuk tidak hanya menerima apa yang difirmankan tetapi juga menurunkan tangan dan lutut dan menempelkan dahi ke lantai. Hal ini akan nampak janggal.

(Penerjemah: Karena ayat 84:21-22 akan menjadi:

Dan ketika al-Quran/ bacaan dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau menempelkan kedua telapak tangan dan jari-jari kaki serta dahi dan hidungnya ke tanah. Bahkan orang-orang yang telah menolak/ menyembunyikan (kafir) itu mendustakan/ menyangkal (nya).)

03:43 Wahai Maria, patuhlah/ taatlah kepada/ untuk Tuhan dan SJD (wasjudii) dan cenderunglah/ rendah hatilah/ membungkuklah (warka’ii) dengan mereka yang cenderung/ rendah hati/ membungkuk.

Menariknya, dikatakan kepada Maria untuk rukuk/ membungkuk bersama dengan mereka yang rukuk/ membungkuk (jamak maskulin) dan beberapa orang telah menggunakan ayat ini untuk argument dimungkinkannya jemaah bercampur antar jenis kelamin. Namun bisa dikatakan bahwa ayat itu hanyalah merupakan pernyataan umum.

Ayat ini sepertinya juga menunjukkan adanya perbedaan antara istilah qanit/ patuh/ taat dan SJD, karena disebutkan secara terpisah. Lihat juga ayat 96:19 di bawah ini untuk implikasi yang sama tetapi terhadap kata Tay-Waw-Ayn.

22:77 Hai orang-orang  yang beriman, cenderunglah/ rendah hatilah/ membungkuklah dan SJDlah dan layanilah (arka’uu wa-sjuduu wa-’buduu) Tuhan kamu semua dan berbuat baiklah supaya kamu berhasil.

76:25-26 Ingatlah nama Tuhanmu pagi dan sore hari, dan dari sebagian malam SJD-lah kepada/ bagi-Nya dan berTASBIHlah/ muliakanlah Dia sepanjang/ selama malam.

96:19 Sekali-kali jangan! Jangan kamu mematuhinya, dan/ tetapi SJD dan mendekatlah.

Larangan mematuhi seseorang yang tidak boleh dipatuhi diganti dengan SJD dan mendekat, menyiratkan makna ‘mematuhi’ mirip dengan ‘SJD dan mendekat’.

(Penerjemah: jika pada ayat 22:77, ro-ka-‘a = membungkuk dan sa-ja-da = sujud 8, lalu ‘a-ba-da = gerakan fisik apa?)

48:29 Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap para penutup/ penolak/ yang tidak berterima kasih, tetapi penyayang di antara mereka. Kamu lihat mereka cenderung/ merendahkan diri/ membungkuk yang SJD (rukka’an sujjadan), mencari karunia dan ridho/ persetujuan Allah. Perbedaan mereka DI (FI) wajah/ perhatian/ pertimbangan/ kehendak/ tujuan mereka, adalah dari jejak/ pengajaran/ pengaruh dari Sujud tersebut. Seperti itulah permisalan mereka di Taurat. Dan permisalan mereka di Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Sangat menarik untuk dicatat adalah penggunaan kata depan “FI” (dalam) bukan “’ALA” (pada), sehingga “perbedaan/ tanda mereka adalah DI wajah/ kehendak/ tujuan/ pertimbangan mereka”. Jarang penggunaan “FI” dengan arti “pada”.

Kata “atsar” (akarnya: Alif-Tsa-Ra) makna dasarnya adalah “yang tertinggal/ berbekas dari sesuatu” yang dapat berupa jejak/ tanda/ kesan/ pengajaran/ pengaruh dan tidak harus sesuatu yang berbentuk benda fisik, lihat ayat-ayat 5: 46, 18:6, 20:96, 30:50.

Kata “seema” (akarnya: Siin-Waw-Miim) artinya mengidentifikasi sifat/ corak/ sesuatu yang menonjol (misalnya bisa berupa cara seseorang berpenampilan atau melakukan suatu tindakan), lihat ayat-ayat 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 55:41.

Mungkin sebagian besar orang tidak memiliki jejak/ bekas sujud di wajah mereka dari sujud fisik dalam ‘ritual sholat’ misalnya, meskipun itu dilakukan berkali-kali setiap hari, sehingga pemahaman ini, meskipun secara dangkal masih masuk akal, namun sebenarnya menyempitkan makna ayat. Beberapa penerjemah, seperti Asad, tidak memilih terjemahan dengan makna tanda fisik pada wajah/ muka seseorang.

Perlu dicatat bahwa “cenderung/ merendahkan diri/ membungkuk yang SuJaD ” (rukkaan sujjadan) sepertinya berhubungan dengan “mencari karunia dan kesenangan/ persetujuan dari Allah” yang pada kejadian lainnya berhubungan dengan manfaat/ rejeki duniawi.

Perlu dicatat bahwa dalam konteks sebelumnya, ayat 48:25 jelas menyiratkan tentang orang-orang yang beriman yang tidak dikenali/ diakui, yang menjadikannya lebih tidak mungkin bahwa ayat itu mengacu pada tanda fisik pada wajah seseorang.

Kata “mereka” mengacu pada orang-orang yang beriman yang mengalami perkembangan/ pertumbuhan. Ini juga bisa berarti bahwa aktualisasi diri di bawah bimbingan sistem Allah akan mendorong perkembangan/ pertumbuhan kualitas diri dan manfaat. Ada implikasi bahwa tindakan SJD dapat berfungsi sebagai katalis untuk perkembangan/ pertumbuhan diri tersebut, karena pada saat meninggalkan kesan/ pengaruh (atsar) pada orang tersebut, maka sikap tersebut berasal/ berakar dari tindakan/ pola pikir tersebut, dan menghasilkan pertumbuhan yang penuh dengan buah dan penghargaan, dan inilah pesan yang dikemas dalam contoh di bagian akhir ayat. Untuk mencapai pertumbuhan yang efektif seperti itu, kehendak/ pertimbangan/ tujuan/ perhatian seseorang harus dapat dilacak ke belakang kepada tindakan SJD.

(Penerjemah: semestinya diperhatikan juga bahwa kata “sujjadan” pada “rukka-an sujjadan” adalah menempati kedudukan sebagai sifat (shifatu manshubah), yaitu bahwa kata “sujjadan” di sini menggambarkan sifat dari “rukka-an”. Terjemahan menjadi “rukuk dan sujud” dari Wakas dan juga DEPAG tidaklah tepat, karena seolah-olah menggambarkan 2 (dua) tindakan yang berbeda dan berurutan. Semestinya diterjemahkan sebagai “rukuk yang sujud”, yaitu rukuk yang bersifat sujud. Jadi kata “rukkaan sujjadan” tidak mengandung pengertian gerakan yang berurutan yang dimulai dengan membungkuk/ rukuk dan disusul dengan sujud 8).

2:58, 4:154, 7:161 … memasuki gerbang secara SuJuD (sujjadan)

(Penerjemah: Kata “sujjadan” pada ayat di atas “menjabat” sebagai HAL dari fi’il “udkhulu”). Jadi jelas sekali bahwa mereka tidak akan bisa memasuki gerbang sambil sujud 8. Karena memasuki gerbang adalah tindakan fisik, (penerjemah: maka tidak mungkin melakukan tindakan fisik yang berbeda secara bersamaan). Adalah mungkin jika SJD di sini ditunjukkan dalam tindakan fisik tetapi tidak dengan cara sujud 8 (penerjmah: misalnya dengan cara menundukkan kepala atau membungkukkan badan sebagai pengungkapan penghormatan atau sikap rendah hati). Sepertinya sujud di ayat ini lebih cenderung mengacu pada sikap/ pola pikir/ watak. Jika kita anggap bermakna metaforis, maka bermakna seperti dalam memeluk/ memasuki sebuah sistem baru, dimana untuk melakukannya dengan cara SJD.

2:125 … dan kami membuat perjanjian dengan Ibrahim dan Isma’il bahwa “Kamu harus mensucikan rumah/ tempat tinggal/ hunian-Ku bagi mereka yang pergi thowaf, dan yang tetap tinggal/ mencurahkan, dan yang rukuk yang sujud (arruka’issujudi).”

(penerjemah: kata “arrukka’issujuudi” saya terjemahkan “orang-orang yang rukuk yang sujud”, bukan “yang rukuk DAN yang sujud” karena kata SJD di sini menduduki sebagai SIFAT dari mereka yang rukuk).

Isi ayat ini mungkin menunjukkan suatu tahapan perkembangan yang mungkin dengan urutan: towaf (berbaur/ berkunjung) -> i’tikaf (tinggal/ mencurahkan [pada sesuatu]) -> rukuk (cenderung/ condong) -> SJD.

22:26 … dan sucikan rumah/ tempat tinggal/ penampungan Ku bagi mereka yang Thowaf (THOO-IFIIN), dan berdiri/ memelihara (QOO-IMIIN), dan  yang rukuk yang sujud (arruka’issujudi)

Ada sedikit perbedaan pada salah satu urutan/ tahapannya, yaitu kata “’AAKIFUUN (tinggal/ mencurahkan)” diganti dengan “QOO-IMIIIN (berdiri/ memelihara/ mengamati)”. Menariknya, kedua kata ini memiliki konotasi berada di satu tempat.

25:64 Dan orang-orang yang menghabiskan malam kepada/ bagi Tuhan mereka, SFD (sujjadan) dan berdiri.

Secara sekilas pengertian “sujud 8″ tampak cocok pada ayat ini karena adanya kata “berdiri” (qiyaaman), namun kejadian lain kata yang sama persis (qiyaaman) juga dipakai oleh ayat 4:5 dan 5:97, di mana artinya adalah penegakan/ pemeliharaan atau berdiri dalam arti kiasan. Secara teknis, jika seseorang menghabiskan malam harinya untuk berdiri dan sujud 8, jika mematuhi ayat ini, maka seseorang tidak perlu membungkuk seperti yang dilakukan secara tradisional, karena akan menjadi terlalu bertele-tele.

26:218-9 Dia yang melihat kamu ketika kamu berdiri/ bangkit, dan ketika kamu bergerak/ pergi ke sana kemari di antara as-Saajidiin.

Sepertinya menyiratkan pengertian bahwa Allah melihat kamu ketika kamu diam dan juga ketika bergerak.

Ref.: 7:120, 20:70, 26:46

20:70 Kemudian para penyihir tersebut dijatuhkan* SJD (SujJaDan). Mereka berkata: “Kami percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.”

*Kata Arab: uL’QiYa adalah dalam bentuk pasif yang sudah selesai (passive perfect), artinya obyek tersebut (yaitu para penyihir) menerima tindakan yang dinyatakan dalam kata kerja tersebut, berupa suatu tindakan yang sudah dilakukan/ diselesaikan kepada mereka. Jika menggunakan referensi silang, arti yang paling mungkin dari kata ini adalah “dijatuhkan”, dan sepertinya memainkan peranan pada kata-kata karena kata dijatuhkan tersebut dilakukan pada konteks ayat sebelumnya (menjatuhkan tongkat yang menggunakan kata “al-qi”). JIKA diterjemahkan sebagai dilemparkan/ dijatuhkan secara fisik ke bawah (seperti yang dilakukan di kebanyakan terjemahan), karena pasif, maka seseorang akan bertanya siapa/ apa yang secara fisik melemparkan tukang-tukang sihir itu ke bawah? Jawabannya tentu saja tidak ada/ tidak seorangpun, mereka melakukannya sendiri, sehingga penafsiran melemparkan/ menjatuhkan secara fisik menjadi tidak logis (Penerjemah: karena jika mereka melakukan sendiri semestinya menggunakan kata kerja aktif). Untuk meniadakan kejanggalan ini, contoh yang mirip dengan ini di AQ yang menggunakan kata kerja pasif lainnya akan dikutip.

Selanjutnya, jika melihat dialog pada ayat-ayat berikutnya, apakah mungkin mereka  membuat pernyataan sambil sujud secara fisik di tanah? Sepertinya tidak mungkin. Juga perhatikan bagaimana Fir’aun keberatan terhadap pernyataan mereka, dan tidak ada referensi untuk sujud 8. Kemungkinan adalah sebuah motif, seperti misalnya Firaun tidak ingin tukang-tukang sihir itu bersujud kepada siapa pun kecuali kepada dirinya.

Dilemparkan/ dijatuhkan SujJaDan dalam kasus ini dapat dilihat sebagai menjadi pelopor untuk suatu realisasi/ perubahan pola pikir [lihat ayat 48:29 di atas untuk implikasi yang sama].

9:112 … orang-orang yang kembali (bertaubat), melayani, memuji, mengabdi/ berpantang, cenderung, SJD (as-saajiduna), menyuruh yang baik dan melarang yang salah, menjaga batas-batas Allah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang percaya.

15:97-99 Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang SJD (as-Saajidiin), dan menghambalah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu yang diyakini (al-yaqiin).  

39:9 (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang patuh/ taat selama/ pada jam-jam (dari) malam dengan SJD dan melakukan/ berdiri/ mempertahankan/ menegakkan (saajidan qoo-iman), sedang ia takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang memiliki pemahaman (ulul albab) yang akan ingat.

Sekali lagi, kata qoo-iman itu dapat digunakan dengan makna “berdiri” secara harfiah dan “berdiri” secara kiasan atau “menegakkan/ mempertahankan”, misalnya pada ayat 3:18 (qoo-iman bil qisthi).

68:42-43 Pada hari ketika betis disingkapkan/ tidak ditutup/ dihilangkan dan mereka dipanggil kepada SJD (as-Sujuud); maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, kehinaan akan meliputi mereka. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru kepada SJD (as-Sujuud), ketika mereka dalam keadaan sejahtera.

(Penerjemah: Kaf-Shiin-Fa = To pull away [menarik menjauh], remove [menghilangkan], take off [melepas], open up [membuka], lay open [menggeletakkan secara terbuka], uncover [menjadikan tidak tertutup]).

Umumnya ditafsirkan sebagai “hari ketika mereka akan berada dalam keadaan terbuka/ panik/ penderitaan”. Untuk berbagai pendapat dari ungkapan ini dapat lihat pada referensi : Maududi, Keller, Ibnu Katsir, Jalalayn.

M. Asad: yaitu, ketika pikiran, perasaan dan motivasi terdalam manusia akan telanjang.

Ibnu Katsir mengacu kepada Bukhari mengatakan: “ini mengacu kepada: Allah menunjukkan kepada mereka kaki-Nya sebagai semacam tampilan pembuktian kebenaran!”. Tafsir ini seolah-olah menggambarkan bahwa ketika mereka berada pada kehidupan setelah mati itu, merupakan bukti yang tidak cukup!

Mustansir Mir di “Verbal Idiom of The Quran” mengatakan: “itu berasal dari sebuah ekspresi yang berhubungan dengan keganasan/ intensitas dari peperangan”.

Ada penggabungan pendapat yang jelas mengenai maknanya. Ayat ini tidak nampak untuk menunjukkan secara jelas suatu keadaan panik/ ketakutan, sehingga kemungkinan ada penjelasan sederhana yang lebih cocok. Pertama, mungkin perlu diperhatikan bahwa ini adalah satu-satunya ayat yang menggunakan kata “ila/ ke” (yang menyiratkan gerak dan/ atau arah) dan SJD secara bersama-sama, yang mungkin menyiratkan bahwa mereka dipanggil menuju/ ke arah sesuatu. Perhatikan bagaimana kata ini digunakan sebelum as-SuJuuD bukan setelahnya. Apakah ini suatu kebetulan belaka bahwa mereka dipanggil kepada sesuatu, tetapi tidak mampu, dan ayat ini menyebutkan tentang menghilangkan mobilitas – yang berhubungan dengan bagian tubuh sebelum ini, dan itu pada akhirnya berarti bahwa mereka tidak melakukannya ketika mereka dalam keadaan sehat/ baik (yaitu berbadan sehat)? Bisa jadi betis mereka bersaksi melawan mereka, mirip dengan ayat-ayat lain di mana tangan dll “bersaksi melawan kami” pada hari pembalasan/ hukuman, misalnya lihat ayat 24:24, 36:65.

Sangat menarik di sini bahwa kata “as-SuJuuD” yang digunakan di ayat ini menyiratkan sesuatu yang dikenal oleh para hadirin, dan itu merupakan sesuatu yang mereka dipanggil baik pada kehidupan ini maupun pada kehidupan berikutnya. Ini mungkin merujuk kepada bimbingan Allah, misalnya: lihat pada ayat 7:193, 7:198, 18:57 atau 3:23 ketika dipanggil kepada al-Huda dan Kitab Allah.

Perlu diperhatikan bahwa menjadikan betis seseorang dihilangkan sepertinya tidak untuk mencegah seseorang dari melakukan sujud secara fisik (sujud 8), maka beberapa penerjemah mengklaim bahwa mereka tidak akan mampu bersujud hanya karena rasa malu mereka, tetapi jika ini yang dimaksudkan, maka pertanyaan yang akan muncul adalah: mengapa menyebutkan sebuah betis?

(Penerjemah: “ketika betis disingkapkan” adalah menggambarkan keadaan huru-hara dimana biasanya orang-orang Arab akan mengangkat gamis bagian bawahnya agar mudah berlari kesana kemari karena kepanikan. Jadi ini menggambarkan keadaan hari pembalasan sebagaimana disinggung oleh tafsir Ibnu Kathir pada awal kalimat sebelum mengutip hadits Bukhori. Lihat di:

http://www.qtafsir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1279&Itemid=124)

17:107-109 Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman. Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka jatuh kepada dagu-dagu mereka dalam keadaan SUJUD (yakhirruuna lil azdqooni sujjadan), dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka jatuh pada dagu-dagu mereka (yakhirruuna lil azdqooni) sambil menangis* dan mereka bertambah** dalam sikap kesederhanaan/ kerendahan hati/ tunduk.

* Juga lihat ayat 5:83.

** Menyiratkan bahwa orang yang sudah bersikap sederhana/ rendah hati/ tunduk dipengaruhi dengan cara ini.

Kebanyakan penerjemah tidak menganggapnya sebagai jatuh secara fisik pada DAGU dalam sujud 8, tetapi, kebanyakan malah mengabaikan bahasa Arabnya dan menerjemahkannya sebagai “jatuh PADA MUKA-MUKA mereka”. Namun beberapa penerjemah mengemukakan penjelasan secara figuratif. Jika kata itu bermakna “jatuh pada (yaitu: ‘AAala = على) dagu-dagu mereka” maka akan menjadi lebih mungkin bermakna sebagai suatu ekspresi secara literal/ fisik, tetapi “jatuh kepada dagu-dagu” menunjukkan kemungkinan penafsiran metaforis atau suatu idiom (ungkapan/ kiasan). Dan tentu saja “adhqaan” artinya bukan “wajah-wajah”, tetapi “dagu-dagu”.

Lane’s Lexicon (Note: Buku I hal. 15 dan 968) secara gamblang menunjukkan adanya penggunaan idiomatiknya:

Khoruu li-adhqaanihim, infinitive noun (mashdar) dari khuruur [Mereka jatuh bersujud, dengan dagu-dagu mereka ke tanah: lihat Kur. xvii 108 dan 109:.] (A: al-Asas oleh al-Zamakhsyarii) dan [dari sini,] ashofat reehun fakharrat al asy-jaaru lil-adhqaani [angin bertiup keras, sehingga pepohonan tersebut jatuh, atau menekuk sendiri, ke tanah] (A. dalam art. Kho-ro :) dan Hhabbat alreehu fakabbat alsysyajara ‘alaa adhqaanihaa [Angin meniup, dan membalikkan, atau melemparkan, atau membungkukkan, pepohonan tersebut]: dan, tentang sebuah batu, kabbaHu-alssailu lidhaqanihi = Semburan tersebut membalikkannya (Taj al-‘Arus)”.

Perhatikan bahwa Lane menyediakan bagi pembaca dengan interpretasi/ makna idiomnya, selain terjemahan harfiah. Semua contoh-contoh tersebut menggunakan kata “dagu” meskipun pepohonan dan bebatuan jelas tidak mempunyai “dagu”. Lane juga menyatakan bahwa bagian dari seorang lelaki yang diletakkan ke tempat SJD (misalnya dahi/ hidung/ tangan/ lutut/ kaki) tetapi tidak termasuk “dagu” menyiratkan bahwa mengambil makna ayat ini secara harfiah, yaitu bersujud kepada dagu, adalah bukan makna yang semestinya.

Profesor Mustansir Mir di dalam “Verbal Idioms of The Quran” (Penerjemah: hal. 107), mengutip “jatuh pada dagu” sebagai ungkapan lisan yang menyiratkan kerendahan hati yang ekstrim, karena dagu mewakili kebanggaan, dagu adalah sesuatu yang semestinya diangkat tinggi, dan menjatuhkan kepada dagu seseorang adalah untuk merendahkan diri seseorang, dimana dalam kasus kedua ayat tersebut (Note: AQ ayat 17:107 dan 109) berarti merendahkan diri di hadapan Allah. (Penerjemah: Dalam menjelaskan sebuah kejadian banjir, Imru al-Qays membicarakan tentang dampak dari hujan deras pada pepohonan yang sangat besar: fa adhaa yasuh-hu l-maa’a ‘an kulli fiqotin/ yakubbu ‘alaa l-adhqooni dawha l-kanahbulii, Setelah setiap jeda, awan mulai menuangkan air, yang melemparkan pohon-pohon kanahbul besar pada dagu-dagu mereka”).

Di sini ini tidaklah mungkin berarti bahwa sebuah pohon akan benar-benar roboh karena hujan yang lebat, walaupun ada kemungkinan untuk mengambil pengertian sebagai jatuh secara fisik. (Penerjemah: dan pepohonan tentu saja tidak mempunyai dagu)

Secara gramatika, kata akusatif “sujjudan” dalam “yakhorruun lil’adhqaan sujjudan” merupakan tindakan atau cara dari kata kerja yang disebutkan sebelumnya. Dengan kata lain, ia menjelaskan bagaimana cara “mereka jatuh pada dagu-dagu mereka”. Jadi, jika “mereka jatuh pada dagu-dagu mereka” adalah idiom, maka “sujjadan” juga merupakan idiom dan bukan gerakan fisik-tubuh.

Demikian pula, pada ayat 38:24 ketika Dawud “jatuh rukuk” (khorro rooki’an), di mana kata rukuk juga “menjabat” sebagai keterangan (حال) dari fi’il khorro, dan karena tidak mungkin bermakna secara fisik ‘jatuh membungkuk’, maka banyak penerjemah merubahnya sebagai ‘jatuh bersujud/ berlutut’. Rukuk lebih mirip dengan merendahkan atau condong/ cenderung (dalam kaitannya dengan watak/ sikap/ pola pikir).

Jika hal ini kita kaitkan dengan tidak adanya bukti “menjatuhkan kepada dagu dalam sujud” menurut kitab-kitab hadits, dan tentu saja tidak setiap kali mereka mendengar bacaan AQ lantas sujud 8, maka hal ini secara kuat menunjukkkan bahwa kata tersbeut adalah ungkapan/ idiom. Juga, karena kata “jatuh” disebutkan dua kali, dimana yang terakhir tanpa SJD, itu akan menjadi lebih tidak umum untuk dilakukan.

Kata “jatuh” (kho-ra-ra) di AQ tidak selalu bermakna literal:

Dan orang-orang yang ketika mereka diingatkan tentang ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak JATUH pada ayat-ayat tersebut secara tuli dan buta. [25:73]

(Penerjemah: perhatikan “jabatan” dari kata ‘summan’ dan ‘umyaanan’ pada susunan kalimat ayat di atas, yaitu merupakan keterangan dari cara mereka ‘khorro’ pada ayat-ayat Allah)

yaitu seseorang harus jatuh pada ayat-ayat tersebut, mereka harus mendengarkan dan melihat, yaitu memberikan kepada tanda-tanda tersebut perhatian/ pemikiran/ kepedulian secara penuh/ segera, lihat ayat 7:204.

Dari kamus bahasa Arab Klasik kata kh-r-r dapat berarti “benar-benar jatuh”, sehingga nampak bermakna kiasan, yaitu: secara maksimal, secara cepat/ penuh/ intens dll. Ungkapan ini dapat disamakan dengan penggunaannya dalam bahasa Inggris/ Indonesia, misalnya “fall in love”/ “Jatuh cinta”. (Note: kata ini jika diterjemahkan secara literal ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi aneh: jatuh dalam cinta)

Dengan bukti-bukti di atas, dan penalaran bahwa “jatuh PADA” sesuatu menyiratkan derajat/ tingkat, maka kita dapat menyimpulkan bahwa “jatuh” dengan sendirinya cenderung menyiratkan ke-segera-an ketika digunakan sebagai kiasan.

Sekarang kita akan membahas kasus-kasus di mana “jatuh” digunakan sebelum SJD tanpa kata “pada dagu”, dengan memeriksa dan membandingkan akan lebih mencerahkan:

12:04 Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai Ayahku, aku telah melihat sebelas planet dan matahari dan bulan, aku melihat mereka Sajid kepada/ bagi saya.”

12:100 Dia menaikkan orang tuanya di atas singgasana, dan mereka jatuh kepada/ baginya SuJjaDan, dan dia berkata, “Ayahku, ini adalah interpretasi mimpi/ visi saya sebelumnya …

DAN

84:20-22 Maka apa yang terjadi dengan mereka bahwa mereka tidak beriman? Dan ketika AQ/ bacaan tersebut dibacakan kepada mereka, mereka tidak SuJuD. Tetapi, mereka yang menolak/ menyembunyikan akan menyangkal.

19:58 … ketika dibacakan kepada mereka tanda-tanda dari Yang Mahakuasa, mereka jatuh SuJjaDan dan menangis

32:15 Hanya mereka yang percaya pada ayat-ayat Kami yang ketika mereka diingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka jatuh* SuJjaDan, dan memuliakan dengan memuji Tuhan mereka, dan mereka tidak sombong.

* Tafsir ibn Abbas menjelaskan ungkapan ini sebagai “mereka datang dengan kerendahan hati sepenuhnya”, Ibnu Katsir mengatakan bahwa ungkapan itu berarti “mereka mendengarkan ayat-ayat itu dan mentaati ayat-ayat itu dalam kata dan perbuatan.” Namun demikian keduanya tidak menafsirkan ayat 19:58 dengan cara yang sama.

Sebelum mendiskusikan konsekuensinya, ayat 12:04 dan 12:100 perlu diklarifikasi, karena dalam beberapa terjemahan (misalnya M. Asad) mereka menyatakan/ menyiratkan bahwa Yusuf dan orang tuanya jatuh SJD kepada-Nya (yaitu kepada Allah), tetapi ini tidak benar menurut ayat 12:04 karena dalam mimpinya Yusuf melihat mereka SJD kepada/ bagi dirinya, bukan kepada Allah. Beberapa penerjemah mengartikan bahwa orang tua Yusuf jatuh SJD kepada/ untuk Yusuf, tetapi ini juga tidak benar, karena bahasa Arab jamak digunakan untuk kh-ro-ro, yang berarti sebanyak 3 atau lebih, dan karena pada ayat 12:93 secara jelas menyiratkan bahwa orang-orang yang kembali ke dalam rombongan Yusuf adalah keluarganya (yaitu saudara-saudaranya) dan orang tuanya, maka mungkin yang dimaksudkan adalah 11 anggota keluarganya dan matahari dan bulan dalam mimpinya adalah simbolis bagi orang tuanya, itulah maka kita dapat melihat mengapa bentuk jamak digunakan. Menariknya, M.Asad dalam catatannya terhadap ayat 12:100 mengatakan bahwa “para ulama” awal mengatakan bahwa tidak boleh bersujud kepada Yusuf, karena tak terbayangkan bahwa Yusuf akan membiarkan hal ini terjadi. Lihat misalnya ayat 27:25. Ini adalah poin penting untuk direnungkan.

Ketika jatuh/ kho-ro-ro digunakan dalam konteks wahyu, itu jelas merupakan kiasan. Karena Yusuf adalah salah seorang yang dibimbing, dalam otoritas dan dalam posisi untuk mengeluarkan perintah yang harus diikuti, mirip dengan contoh Allah dan perintah-Nya, “jatuh SJD” dapat berarti sesuatu yang sama persis pada ayat-ayat 12:100, 19:58 dan 32:15. Itulah mengapa “para ulama” awal yang dikutip oleh M.Asad mengalami kesulitan untuk mendamaikan sujud fisik kepada Yusuf, karena perbuatan ini adalah secara konseptual tak terbayangkan bagi mereka, sehingga beberapa “ulama” memilih memaknai “jatuh SJD” kepada-Nya (yaitu Allah). Karena kita tahu bahwa ini sama sekali tidak benar menurut ayat 12:4, maka kita dibiarkan dengan hanya satu pilihan, yaitu: “mereka jatuh SJD kepada/ untuk Yusuf”. Tentu saja, “para ulama” awal mungkin tidak mempertimbangkan pilihan makna non-sujud 8 atau mencoba untuk menjelaskan pemahaman diri mereka*, karena prasangka/ didikan yang mengajarkan mereka bahwa SJD berarti sujud fisik (note: sujud 8).

* Lihat altafsir.com di mana Jalalayn mengatakan “jatuh SJD” berarti membungkuk dan bukan sujud 8. Dengan nyamannya mengabaikan kata “jatuh” dan di tempat lain SJD berarti sujud 8 dalam karyanya.

Juga harus diperhatikan bahwa mereka dinaikkan/ diangkat ke atas singgasana dan mereka jatuh SJD kepada/ bagi Yusuf. Jika ini adalah membungkuk atau sujud 8, maka ini akan menjadi suatu cara yang aneh dan tidak bisa dipraktekkan. Dinaikkan ke atas singgasana adalah gerakan yang penting, karena hanya pemilik tahta tersebut yang membolehkan untuk ini, dan setelah kejadian ini, orang tua dan keluarga Yusuf jatuh SJD kepadanya.

Pada dasarnya, pemahaman tradisional memperlakukan sebuah pernyataan kiasan/ ungkapan kadang-kadang sebagai literal (yaitu ketika perlakuan itu cocok/ sesuai menurut mereka) dan di tempat lain secara non-literal (yaitu ketika perlakuan itu cocok/ sesuai menurut mereka), tanpa adanya kriteria yang    membedakan selain ketika tidak sesuai dengan pandangan mereka. Cara yang sembrono ini tidaklah layak bagi kata/ logika yang presisi yang sempurna, yaitu AQ.

Sekarang sebagai konsekuensi dari perbandingan ini: JIKA seseorang menggunakan ayat 12:04 dan 12:100 secara bersama-sama untuk menyiratkan bahwa SJD itu bermakna “sujud 8″ (atau hanya sekedar membungkuk secara fisik), maka mereka juga harus memilih – menggunakan logika yang sama – bahwa SJD pada ayat 84:21 dan 19:58/ 32:15 (perbandingan yang sama persis) juga bermakna “sujud 8/ membungkuk”. Atau jika anda memilih mengartikan sujud secara fisik pada salah satu dari ayat 84:21, 19:58 atau 32:15, maka anda harus melakukan hal yang sama untuk ayat-ayat lainnya, kecuali ada alasan yang kuat untuk tidak melakukan itu, jika tidak maka secara logis akan tidak konsisten dan/ atau terjadi kontradiksi di dalam pandangan seseorang. Dengan demikian, implikasinya adalah, setiap kali seseorang mendengar AQ, mereka harus secara fisik bersujud! Tentu saja, tidak ada muslim ahlul hadits sejauh yang saya tahu melakukan hal ini, atau pernah melakukannya, karena akan menjadi tidak praktis dan kadang-kadang malah berbahaya. Nampak bahwa temuan ini sangat penting, dan bukan hanya karena adanya masalah jika SJD = sujud 8, tetapi juga karena adanya masasalah pada setiap gambaran tubuh-fisik dari istilah ini, misalnya saat memberi hormat. Tentu saja ada cara untuk mengatasi masalah ini, yaitu: cukup memilah dan memilih makna sesuai dengan pandangan anda atau mengabaikan apa kata AQ. Tampaknya hal ini lazim dilakukan.

Perlu diperhatikan bahwa kata-kata kunci lainnya tidaklah eksklusif bagi Allah, sebagaimana anggapan umum, misalnya menjadi muslim (yaitu orang-orang yang menyerah/ berdamai) KEPADA Sulaiman [lihat ayat 27:31]. (Penerjemah: Jadi kata SJD-pun bisa dipakai untuk sesame/ kepada manusia).

50:39-40 Maka bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan muliakanlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan dari malam kemudian/ maka muliakanlah Dia dan setelah SJD tersebut (as-SuJuuDi).

Atau bisa diartikan sebagai “…dan bagian belakang/ akhir-akhir (dari) SJD” atau “…dan bagian belakang/ akhir-akhir Sujud”, tetapi itu semua bermakna sesuatu yang sama. Menariknya, tafsir tradisional Ibn Kathir dan Jalalayn memberikan variasi interpretasi dari ayat ini. Laporan yang isinya saling bertentangan cukup umum terjadi di antara penerjemah yang menggunakan Ahadith. Perlu diperhatikan bahwa ayat di atas adalah keseluruhan yang tunggal.

(Penerjemah: ayat di atas nampaknya menyiratkan perintah untuk ber-“tasbih” dengan “tahmid” sepanjang hari dan sebagian malam serta setelah aktifitas SJD).

4:102 … dan engkau tegakkan/ dirikan sholat/ ikatan bagi/ kepada mereka*, kemudian biarkan sekelompok dari mereka berdiri/ menegakkan/ mendirikan** dengan engkau dan biarkan mereka membawa senjata mereka, kemudian ketika mereka telah SaJaDu, maka/ kemudian biarkan mereka berada di belakang kamu (jamak) …

* dapat diterjemahkan bagi/ kepada mereka, misalnya lihat pada ayat 2:109, 5:75

** lagi, kata itu dapat berarti “berdiri” secara kiasan, misalnya lihat penggunaannya pada ayat 4:127. Juga ada kemungkinan kedua penggunaan dari QWM pada ayat ini memiliki arti yang sama.

Ayat ini menggambarkan seorang pemimpin menegakkan sholat dalam dua kelompok, secara bergiliran, yaitu pertama kali satu kelompok melakukannya, kemudian disusul kelompok berikutnya menyelesaikan sholat.

Jika ayat ini diperlakukan secara harfiah, maka ayat ini menyiratkan bahwa seseorang menegakkan sholat dan kelompok pertama juga melakukan demikian, SEMUA menghadap ke satu arah. Hal ini karena adanya kalimat “maka biarkan mereka berada di belakang kamu (jamak)”, karena jika si pemimpin tersebut menegakkan sholat menghadap ke kelompok tersebut, maka tidaklah mungkin berdiri di belakang mereka semua. Pemahaman literal ini akan memberikan bobot penafsiran yang condong kepada sholat dengan makna ritual sholat misalnya. Dengan menganggap bahwa memang ini yang terjadi, sebagaimana yang umumnya dipahami, jika mereka berdiri di belakang mereka maka hal itu membuktikan posisi yang sedikit canggung karena mereka yang di belakang akan harus menghadap ke dua arah dalam situasi ini, yaitu melihat melalui/ melewati kelompok yang di depan mereka. Bahkan jika mereka berada di sisi, sehingga tidak harus melihat melalui/ melewati mereka, maka salah satu kelompok tidak mungkin berada di depan kelompok lainnya, agar ayat tersebut tetap sepenuhnya benar. Alasan kenapa menghadap ke dua arah adalah bahwa selama sholat muslim tradisional seseorang cenderung untuk melihat ke tanah atau tidak jauh dari depan mereka, sehingga dalam istilah sholat mereka bertindak sebagai seorang pengintai dalam kasus jika ada serangan adalah tidak praktis. Posisi ini akan terbatas sehingga tidak ideal dalam situasi antara hidup dan mati, tetapi ini masih masuk akal.

Menariknya, catatan Muhammad Asad pada ayat 4:102 menyatakan bahwa “biarkan mereka berada di belakang kamu (jamak)” adalah sebuah ungkapan/ kiasan, dengan menyatakan: “Dalam penggunaan bahasa Arab klasik, kalimat kana min wara’ika (makna harfiahnya “dia di belakang kamu [tunggal]”) bermakna “ia melindungi kamu [tunggal]” atau (dalam bahasa militer) “ia menutupi kamu [tunggal]”, dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan posisi relatif secara fisik antara dua orang atau kelompok.”

Pemahaman ini akan menyelesaikan masalah tersebut, dan akan menghilangkan bobot penafsiran bahwa sholat di ayat ini = sholat ritual tradisional. Juga terdapat masalah lain dengan ayat ini jika diartikan sebagai sholat ritual tradisional, yang akan dibahas secara singkat sebagai berikut:

  • Ayat ini mungkin akan menyiratkan bahwa sholat berakhir pada SJD, tetapi jika sholat = sholat ritual dan SJD = sujud 8 di sini, maka kita semua tahu bahwa sholat Muslim ahlul hadits memiliki setidaknya dua sujud 8 per unit sholat, tidak hanya satu, sehingga ayat ini dengan sendirinya tidak jelas atau tidak masuk akal. Satu-satunya cara untuk membuatnya agak masuk akal, mungkin dengan mengatakan bahwa sholat Muslim ahlul hadits biasanya terdiri dari dua sujud, dan karena ini terjadi selama masa peperangan, maka bisa dikurangi menjadi satu sujud. Tidak ada sesuatu yang disebut sebagai satuan dari sholat menurut AQ, demikian juga Muslim ahlul hadits tidak melakukannya dengan cara ini (yaitu sholat tidak diakhiri dengan sujud), tetapi penjelasan ini hanya untuk menunjukkan apa yang masih masuk akal yang bisa dilakukan terhadap ayat ini menurut pemahaman ahlul hadits.
  • Ayat ini akan menyiratkan bahwa seseorang harus mengambil DAN memegang senjata/ barang-barang mereka bersama mereka (karena menggunakan kata ‘tadlo’uu/ meletakkan, pada bagian berikutnya dari ayat tersebut), namu jika dipahami sebagai sholat Muslim ahlul hadits maka secara fisik membungkuk, berlutut dan sujud 8 seperti itu mungkin tidak mudah dilakukan dan agak berbahaya, misalnya sujud dengan pedang!
  • (Penerjemah: Kepada kelompok yang sholat berikutnya, selain perintah memegang senjata juga ada perintah tambahan untuk tetap waspada. Bila sholat di ayat ini seperti sholah ahlul hadits/ fiqh, bagaimana mungkin bisa waspada ketika mereka membungkuk dan sujud 8?).
  • Ayat ini menyatakan bahwa jika terhambat oleh hujan atau penyakit maka seseorang dapat meletakkan senjatanya, tetapi tidak mengatakan apa-apa tentang dikecualikan dari sujud. Jadi pertanyaan yang akan muncul adalah jenis hujan/ penyakit seperti apa yang akan mencegah seseorang dari membawa senjata sebelum memungkinkan seseorang untuk bersujud 8? Tampaknya tidak ada jawaban yang mudah untuk masalah ini.

Jadi, jika SJD tidak bermakna sujud 8 di sini, lalu bagaimana si pemimpin atau kelompok tersebut bermaksud menandai akhir dari sholat? Baiklah, secara teoritis terdapat beberapa arti-arti dari SJD yang kurang bermasalah, misalnya memberikan penghormatan (yaitu setiap tampilan fisik atau verbal dari sikap hormat/ ketaatan/ khidmat), menundukkan kepala, memberikan salam penghormatan, menghargai, berdiri dll, tetapi jika ini diserahkan kepada setiap individu maka membayangkan adanya sebuah kelompok yang koheren di dalam sholat tampaknya agak sulit. Selain itu, makna ini harus dirujuk silang di AQ, tetapi sebagaimana yang sudah kita lihat dalam review kami terhadap ayat-ayat tersebut, mungkin tidak ada pilihan-pilihan lain yang akan benar-benar cocok, atau kita harus memperlakukan ayat 4:102 sebagai pengecualian.

Kami juga masih mendapatkan masalah lain, karena jika kita menerima bahwa sholat reguler/ terjadwal melibatkan pembacaan AQ yang secara kuat dibuktikan oleh AQ sendiri, dan disepakati oleh hampir semua ayat [lihat ayat 2:43-45, 4:103, 5: 12-13, 7:169-170, 8:2-3, 19:58-59, 29:45, 31:2-7, 33:33-34, 17:78], maka kita tahu bahwa kita diperintahkan untuk SJD ketika ayat-ayat itu disampaikan/ dibacakan kepada kita [84:20-22, 19:58, 32:15], tetapi jika kita melakukan sujud 8 dalam sholat reguler/ terjadwal dan kita tahu sholat berakhir dengan SJD sesuai dengan 4:102, maka sujud 8 akan berlangsung kurang dari 20 detik! Ini menyajikan masalah penting, yang sangat menyiratkan bahwa SJD bukanlah tindakan satu-waktu tertentu, misalnya sikap hormat/ bersujud 8/ dsb.

Jika seorang pemimpin menegakkan sholat kepada/ bagi orang lain, maka pemimpin tersebut kemungkinan akan menentukan kapan dimulai dan konsekuansinya kapan berakhir. Setelah pemimpin menyelesaikan apa yang mereka ingin sampaikan terkait AQ, maka itu sudah selesai dan peserta sholat dapat merespon/ meninggalkan tempat. Jika seseorang menerima informasi, orang itu tidak akan menyelesaikan atau merespon ketika masih setengah jalan. Jika kita gabungkan ini dengan apa yang telah diuraikan di atas, maka kita dapat mencatat bahwa hanya beberapa makna SJD yang cocok untuk ayat ini, yaitu “…maka apabila mereka telah berserah, menghamba, mengagumi, menghormati, menghargai”. Semua mengacu pada penyelesaian perintah (yaitu untuk menegakkan sholat), bukan perbuatan yang lain. Temuan ini mendukung ayat-ayat seperti 50:39-40 yang di dalamnya penyelesaian perintah (misalnya ber”tasbih”) adalah juga merujuk sebagai suatu SJD. Kita juga dapat melihat makna ini pada ayat 16:48-49 ketika pergerakan dari sebuah bayangan (yaitu penyelesaian sebuah perintah) adalah sebuah SJD.

Dengan kata lain, pada ayat 4:102, ketika mereka telah SJD/ berserah diri/ mengakui = ketika mereka telah menyelesaikan sholat tersebut. SJD adalah mendirikan/ menegakkan sholat itu sendiri. Kami mungkin bisa lebih menjelaskan ini menggunakan sebuah analogi: jika saya memberitahu sekelompok pelajar “Tolong tunjukkan kepada anggota kelas dan kemudian KETIKA TELAH KAMU LAKUKAN maka kamu boleh pergi”. “Ketika telah kamu lakukan” bermakna “ketika kamu telah mengambil alih kelas kamu”. Kelas tersebut bisa saja 10 menit atau satu jam, guru yang mengambil alih kelas tersebut akan menentukan kapan kelasnya berakhir.

Berikut ini dinyatakan di bawah catatan SJD di Lisan al-Arab yang menyediakan kecocokan secara sempurna: ؛سجد فقد ،به مر أُ لما وخضع ذل من وكل

Terjemahannya: Siapapun yang berserah dan mematuhi terhadap apa yang diperintahkan, maka sungguh ia telah “Sujud”.

Perhatikan: ayat 4:102 mungkin dapat dikaitkan dengan ayat 3:121-122. Contoh pada ayat 4:102 adalah satu-satunya contoh dari jenis itu di seluruh Quran, yaitu tidak ada Nabi/ Rosul lain dibahas sebagai telah menegakkan/ mendirikan/ memenuhi perintah sebuah sholat dengan cara seperti itu atau dengan orang lain. Secara teknis, mengatakan “ketika MEREKA telah SJD” dan tidak merujuk pada seseorang yang memimpin sholat sebagai melakukan SJD, akan cocok dengan apa yang didiskusikan.

 

Ringkasan dan Diskusi

Mengambil review di atas dari banyak kejadian yang perlu dipertimbangkan, sebuah daftar referensi ringkas dari informasi yang disaring tentang SJD akan diperlihatkan di bawah ini:

  • SJD kepada/ untuk suatu objek
  • Ber- SJD dipertentangkan dengan berpikir dirinya lebih besar
  • penolakan ber-SJD mengakibatkan digolongkan sebagai orang-orang yang menyembunyikan/ mengingkari/ menolak atau tidak berterima kasih
  • menjadi orang yang ber-SJD adalah dalam hubungan sebagai bawahan dengan sesuatu yang kepadanya/ baginya SJD dilakukan
  • ber-SJD kepada/ bagi Allah matahari/ bulan/ bintang-bintang/ pegunungan/ pepohonan/ seluruh makhluk/ bayang-bayang dan orang-orang, secara sukarela atau terpaksa
  • seseorang dapat ditemukan ber-SJD kepada/ untuk matahari
  • melihat planet-planet, matahari, bulan ber-SJD kepada/ untukku
  • orang yang SJD adalah bersikap rendah hati
  • ketika bayang-bayang bergerak ke kanan dan kiri, ini semua adalah SJD
  • SJD dapat disamakan dengan mengakui/ mengiyakan/ menyadari, yang dilakukan oleh mereka yang menerima/ mengungkapkan
  • taat disamakan dengan ‘SJD dan datang mendekat’
  • anda dapat melihat orang-orang yang ber-SJD
  • keinginan/ pertimbangan/ tujuan/ perhatian seseorang dapat dilacak ke belakang kepada tindakan SJD, dan ini dapat membedakan diri seseorang
  • seseorang dapat memasuki gerbang sambil ber-SJD
  • memurnikan bayt/ rumah/ tempat tinggal Allah bagi mereka yang ber-SJD
  • seseorang dapat menghabiskan malam ber-SJD
  • seseorang dapat “dilemparkan/ dijatuhkan SJD”, yang mendorong kepada perubahan pola pikir
  • dalam kehidupan sekarang dan berikutnya, orang dapat dipanggil kepada SJD
  • “Jatuh pada dagu-dagu mereka SJD” adalah ungkapan/ kiasan yang menunjukkan SJD bukanlah tindakan tubuh secara fisik
  • ketika AQ disampaikan/ dibacakan, orang harus SJD atau “jatuh SJD”
  • menyelesaikan perintah dari Allah adalah sebuah SJD
  • SJD bukanlah tindakan satu kali yang telah didefinisikan

Daftar di atas HARUS dipertimbangkan dengan SEMUA makna yang mungkin ada di dalam KAK yang diberikan di awal. Dengan menggunakan proses eliminasi kami sekarang akan menyajikan catatan-catatan dalam daftar di atas yang membantu kita menyortir (atau mejadikan lemah) beberapa makna dalam KAK, dan yang dalam tanda kurung menunjukkan makna yang dipilih. Makna-makna yang berikut akan dipertimbangkan: bersikap rendah hati, bersikap sederhana, mematuhi, mengabdi, memuja, bersujud 8, melakukan sikap penghormatan, melakukan sikap pengakuan/ menghormati/ membesarkan, menghargai:

  • ber-SJD kepada/ bagi Allah matahari/ bulan/ bintang-bintang/ pegunungan/ pepohonan/ seluruh makhluk/ bayang-bayang dan orang-orang, secara sukarela atau terpaksa (bersujud 8, melakukan sikap pengakuan)
  • melihat planet-planet, matahari, bulan ber-SJD kepada/ untukku (mengabdi, sujud 8, melakukan sikap pengakuan, membesarkan)
  • ketika bayang-bayang bergerak ke kanan dan kiri, ini adalah SJD (bersikap rendah hati, bersikap sederhana, membesarkan)
  • SJD dapat disamakan dengan mengakui/ mengiyakan/ menyadari, yang dilakukan oleh mereka yang menerima/ mengungkapkan (bersikap rendah hati, bersikap sederhana, membesarkan)
  • seseorang dapat memasuki gerbang ber-SJD (bersujud 8)
  • dalam kehidupan sekarang dan berikutnya, orang dapat dipanggil kepada SJD (bersikap rendah hati, bersikap sederhana)
  • ‘Jatuh pada dagu-dagu mereka SJD’ adalah ungkapan/ kiasan yang menunjukkan SJD bukanlah tindakan tubuh secara fisik (menghamba, bersujud 8, melakukan sikap pengakuan)
  • ketika AQ disampaikan/ dibacakan, orang harus SJD atau jatuh SJD (menghamba, bersujud 8, melakukan sikap pengakuan)
  • menyelesaikan perintah dari Allah adalah sebuah SJD (bersikap rendah hati, bersikap sederhana, menghamba, bersujud 8, melakukan sikap pengakuan)
  • SJD bukanlah tindakan satu kali yang telah ditetapkan (bersujud 8, melakukan sikap pengakuan)

Makna yang bernasib terbaik dan karena itu tetap ada adalah: mematuhi, memuja, melakukan sikap penghormatan, menghormati, menghargai. Jika kita menerapkan setiap kata dari berbagai arti ini pada semua kejadian, maka “memuja” dan “melakukan sikap penghormatan” adalah makna yang agak lemah, karena “memuja” menyiratkan rasa cinta atau hormat/ kasih sayang yang mendalam yang tidak cukup cocok, dan makna “melakukan sikap penghormatan” jika dilakukan secara khusus akan gagal sehingga hanya bekerja dengan tetap menjaganya agar bersifat umum sehingga bisa dilakukan dalam banyak bentuk.

Dengan demikian, makna yang paling tepat adalah: mematuhi, menghormati, menghargai.

Jika kita mempertimbangkan apa yang kata-kata ini miliki bersama dengan semua makna lain dalam KAK, maka kita dapat melihat makna yang melekat pada semua, yaitu: memberikan penghargaan/ pengakuan (dengan cara tunduk/ patuh). Makna inti ini dapat dimasukkan ke dalam setiap kejadian dan itu masuk akal. Jika seseorang menyelesaikan suatu perintah, ini dengan mudah dapat dianggap sebagai sebuah penghargaan/ pengakuan. Dengan pemahaman ini di dalam pikiran, kita harus membaca kembali semua kejadian SJD yang sedang kita tinjau ulang maknanya.

Harus jelas bagi semuanya bahwa SJD = sujud 8 adalah pilihan yang sangat tidak mungkin secara keseluruhan, dan dalam banyak ayat malah tidak mungkin bermakna sujud 8. Bahkan, tidak ada satu kejadian pun di keseluruhann ayat AQ yang benar-benar bermakna “sujud 8″.

Menjadi tunduk dan patuh/ menghormati/ menghargai bisa dikatakan sebagai konsep yang lebih universal dan memberitahu kita sesuatu tentang pola pikir seseorang, sedangkan melakukan “sujud 8″ mungkinkan atau tidak, karena ini merupakan suatu tindakan tubuh secara fisik yang bermakna dangkal. Jadi kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah yang paling utama yang Allah pedulikan: apakah pola pikir seseorang atau tindakan fisik tertentu? Tentu saja, Allah paling utama peduli dengan konsep yang mendalam dan universal dan bukan “sujud 8 yang dangkal”. Kita dalam dunia nyata dapat mem-verifikasi hal ini pada diri kita sendiri dengan mengamati fakta bahwa banyak orang yang rajin melakukan “sujud 8″ namun tidak ta’at kepada Allah. Jadi, apakah mereka benar-benar telah melakukan “SuJuD” yang dibahas dalam AQ?

Membuat tampilan fisik dangkal bukanlah apa AQ bicarakan, dan ini jelas dapat dilihat pada ayat 2:264, 4:38, 8:47, 107:6 dan ayat-ayat lainnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam Islam hadits bahwa niat seseorang adalah yang paling penting, dan ini menunjukkan bahwa sikap batin lebih bernilai dari pada tampilan luar, internal lebih penting dari pada eksternal. Tampilan luar/ eksternal adalah sekunder, bukan primer.

Adalah mungkin untuk melakukan sujud 8, berlutut, membungkuk dll sebagai salah satu cara yang umum untuk menunjukkan sikap tunduk patuh/ menghormati/ memuja/ menghargai, melakukan sikap penghormatan dll pada suatu saat, namun yang jelas adalah pasti bukan satu-satunya cara dan bahkan bukan sesuatu yang disorot di AQ.

Latar belakang/ cerita yang umum diberikan adalah bahwa Qureysh keberatan dengan bersujud 8 kepada Allah, dibanding kepada berhala/ dewa dll milik mereka sendiri, namun ketika kami berpikir bahwa Muslim ahlul hadits/ fiqh bersujud 8 kepada sesuatu yang berbentuk kubus yang disebut Kakbah di Mekkah, seseorang harus bertanya apakah ada bedanya mengingat Qureysh juga nampak menghormati benda berbentuk kubus ini? Mengapa terjadi keberatan yang kuat? Bisa diberikan argumen bahwa mereka tidak setuju dengan konsep SJD kepada Allah, meskipun untuk semua niat dan tujuan itu akan tetap menghadap kepada struktur berbentuk kubus yang mereka hormati, yaitu sama persis dalam prakteknya, sehingga penjelasan ini agak tidak memuaskan dalam pandangan saya.

Adalah hal yang mungkin dan barangkali makna sujud yang bersifat fisik ini diambil dari sumber-sumber Yahudi, misalnya lihat di sini (http://binacf.org/history.php): “Dalam Amharic, Sigd berarti “membungkuk ke bawah” dan akar katanya sama dengan kata kuil (mesgid).”

Sebagai catatan tambahan, ada akar kata Arab lain yang memiliki makna sujud fisik, misalnya Kaf-Ba-Ba, Ta-Lam-Lam, Kaf-Ba-Ta, Jiim-Tha-Miim, Saad-Ra-Ayn, Siin-Tay-Ra, dan beberapa dari kata-kata ini digunakan dengan makna ini di berbagai terjemahan.

Harap dicatat, bahwa bukan berarti tindakan tubuh-fisik tidak diperbolehkan. Seorang manusia terdiri dari pikiran, tubuh dan jiwa dan seringkali tindakan tubuh-fisik dapat berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat, menganggap diri hina dan kerendahan hati, menggunakan sebagai ucapan, atau memfokuskan pikiran kita dll seperti praktek meditasi, tai chi, yoga atau berlutut ketika berdo’a kepada Allah dll. Ini hanya berarti bahwa tidak ada argumen yang kredibel bahwa SJD = sujud 8 dan karenanya sujud 8 selama menegakkan/ mendirikan sholat dapat dilakukan menggunakan Quran.

Bagian ke dua artikel ini adalah sebuah analisis tentang “masjid”.

Alat-alat/ Sumber referensi/ Buku-buku yang digunakan:
www.StudyQuran.org

Project Root List – Quran concordance, grammar and dictionary
Quranic Arabic Corpus
Verbal Idioms of the Quran‘ by Mustansir Mir
Dictionary of The Holy Quran‘ by Abdul Mannan Omar
Study Method

 

Pekerjaan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa banyak orang yang telah memberikan kontribusi terhadap topik ini, dan tanpa sumber daya yang sekarang tersedia bagi siapa saja yang ingin belajar Quran secara rinci. Sebagai batu loncatan, saya benar-benar berhutang budi dan bersyukur.

PERNYATAAN PENTING:

Karya ini mencerminkan pemahaman pribadi saya, sejak tanggal 7 November 2010. Mencari pengetahuan merupakan proses yang berkelanjutan dan saya akan mencoba untuk meningkatkan pemahaman saya terhadap ayat-ayat dalam ‘bacaan’ (al quran) dan keluar dengan itu, kecuali Allah menghendaki sebaliknya. Semua informasi adalah benar bagi pengetahuan saya yang terbaik saja dan dengan demikian tidak harus diambil sebagai fakta. Seseorang harus selalu mencari pengetahuan dan memverifikasi sendiri bila memungkinkan: 17:36, 20:114, QS. 35:28, 49:6, 58:11.

Dan jangan mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua ini, akan ditanyai. [17:36]

Sumber: http://mypercept.co.uk/articles/meaning-of-SuJuD-from-Quran.html

 

KATA “HADITS” DALAM AL-QURAN

Peneliti: Wakas Mohammed

Penerjemah: Islam saja

 

Berikut ini adalah daftar kata hadits dan bagaimana digunakan dalam Al-Quran.

Berbagai arti dari kata hadits adalah narasi, ucapan, kata-kata, pidato, pendapat, pernyataan, ungkapan, wacana, cerita dan dongeng.

Ada 28 kemunculan kata hadits dalam Al-Quran dan akan ditunjukkan di bawah ini. Harap diperhatikan konteks (ayat-ayat sebelum dan sesudahnya) karena hal ini sangat penting untuk memahami makna ayat yang sebenarnya:

  1. Pada hari itu orang-orang yang menolak dan mendurhakai Rasul menginginkan bumi menelan mereka, tetapi mereka tidak dapat menyembunyikan HADITS dari Allah. [4:42]
  2. Dimanapun kamu berada, kematian akan menemukan kamu, bahkan jika kamu berada di menara-menara benteng. Jika menimpa pada mereka kebaikan, mereka berkata: “Ini dari Allah,” dan jika ada yang buruk menimpa mereka, mereka berkata: “Ini adalah dari Engkau!” Katakanlah: “Semua dari Allah,” apa yang salah dengan orang-orang ini, mereka hampir tidak memahami sebuah HADITS-pun! [4:78]
  3. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia akan mengumpulkan kamu pada hari kebangkitan yang tentangnya tidak ada keraguan. Siapa yang lebih benar dalam hal HADITS dibanding Allah?. [4:87]
  4. Dan sungguh telah diturunkan kepada kamu dalam Al-Kitab, bahwa jika kamu mendengar ayat-ayat Allah akan ditolak dan diolok-olok, maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai mereka pindah ke sebuah HADITS yang berbeda, jika tidak (kamu lakukan), maka kamu seperti mereka. Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka semuanya bersama-sama [4:140]
  5. Dan jika kamu melihat orang-orang yang campur tangan dalam ayat-ayat Kami, maka berpalinglah kamu dari mereka sampai mereka campur tangan dalam sebuah HADITS yang berbeda; dan jika setan memungkinkan kamu lupa, maka jangan duduk dengan orang-orang dzlim setelah ingat [6:68]
  6. Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi, dan semua yang Allah telah ciptakan?. Mungkin saat mereka datang waktu dekat, maka dalam HADITS yang mana setelah ini mereka akan iman? [7:185]
  7. Dan adalah sedemikian rupa sehingga Tuhanmu telah memilih kamu, dan Dia mengajarkan kamu ta‘wil HADITS, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia menyempurbakan nikmatNya kepada dua orang nenek moyangmu sebelum itu, Abraham dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui, Bijaksana. [12:06]
  8. Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: ‘Jadikan tempat tinggalnya yang murah hati, barangkali ia akan menguntungkan kita atau kita pungut dia menjadikan sebagai anak’. Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir dan agar Kami mengajarkan kepadanya men-ta‘wil HADITS. Dan Allah memiliki kekuasaan penuh atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu. [12:21]
  9. “Ya Tuhanku, Engkau telah memberi saya kedaulatan dan mengajar saya men-takwil HADITS. Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau pelindungku di dunia ini dan akhirat. Jadikanlah aku mati sebagai muslimin, dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholih. [12:101]
  10. Dalam cerita mereka adalah pelajaran bagi orang-orang berakal. Itu bukan sebuah HADITS yang diada-adakan, tetapi membenarkan tentang apa yang sudah ada dan memerinci segala sesuatu, dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang memiliki iman. [12:111]
  11. Mungkin kamu akan menyiksa diri kamu karena kesedihan atas mereka, karena mereka tidak akan beriman pada HADITS ini sama sekali. [18:06]
  12. Dan apakah HADITS dari Musa datang kepada kamu? [20:09]
  13. Kemudian Kami mengutus Rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap kali datang kepada suatu bangsa Rasulr mereka, mereka menyangkal dia. Maka Kami jadikan mereka mengikuti satu sama lain, dan Kami jadikan mereka HADITS-HADITS. Maka kebinsaanlah kepada orang-orang yang tidak percaya. [23:44]
  14. Dan di antara orang-orang, ada orang yang menerima HADITS tidak berdasar untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan membawanya sebagai olok-olok. Mereka akan memiliki azab yang menghinakan. [31:6]
  15. Hai orang-orang yang beriman, jangan memasuki rumah Nabi kecuali jika kamu diundang untuk makan, tanpa kamu memaksa undangan seperti itu. Tetapi jika kamu diundang, kamu dapat masuk. Dan ketika kamu selesai makan, kamu harus pergi, tanpa menginap untuk menunggu sebuah HADITS. Hal ini biasanya mengganggu Nabi, dan dia malu untuk memberitahu kamu. Tetapi Allah tidak menghindar dari kebenaran. Dan jika kamu meminta kepada mereka (para istri Nabi) sesuatu, memintalah kepada mereka dari belakang penghalang. Yang demikian ini lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti utusan Allah, atau kamu menikah dengan istri-istrinya setelah dia selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (disanya) di sisi Allah. [33:53]
  16. Tetapi mereka berkata: “Ya Tuhan kami, jadikanlah ukuran antara perjalanan kami lebih panjang’, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri. Maka Kami jadikan mereka HADITS, dan Kami mencerai-beraikan mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil. Sesungguhnya dalam hal demikian ini ada tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar yang bersyukur. [34:19]
  17. Allah telah menurunkan HADITS yang terbaik, sebuah buku yang mirip dengan dua cara. Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka gemetar karenanya, kemudian kulit mereka dan hati mereka melunak untuk mengingat Allah. Demikianlah petunjuk Allah; Ia menuntun dengan itu siapa yang Dia kehendaki. Dan bagi siapa saja yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat membimbingnya. [39:23]
  18. Ini semua adalah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan kebenaran. Maka, dengan HADITS yang manakah setelah Allah dan ayat-ayat-Nya yang mereka percaya? [45:6]
  19. Apakah HADITS tentang tamu mulia Ibraham datang kepada kamu? [51:24]
  20. Hendaklah mereka mendatangkan HADITS seperti ini, jika mereka benar. [52:34]
  21. Apakah kamu mempertanyakan HADITS ini? [53:59]
  22. Apakah kamu mengabaikan HADITS ini? [56:81]
  23. Dan ingatlah ketika Nabi telah mempercayakan kepada sebagian istri-istrinya sebuah HADITS tertentu, maka salah satu dari mereka menyebarkannya, dan Allah memberitahu dia tentang hal itu. Dia kemudian memberitahu seorang istrinya sebagian dari berita tersebut, dan mengabaikan sebagian yang lain. Isterinya berkata: “Siapa yang memberitahu kamu tentang ini?”. Dia berkata: “Aku diberitahu oleh yang Maha mengetahui, yang paling Ahli ‘. [66:3]
  24. Oleh karena itu, biarkan Aku berurusan dengan orang-orang yang menolak HADITS ini, Kami akan memimpin mereka dari arah yang mereka tidak pernah merasakan. [68:44]
  25. Maka kepada HADITS apakah setelah ini mereka akan beriman? [77:50]
  26. Sudahkah sampai kepada kamu HADITS Musa? [79:15]
  27. Sudahkah sampai kepada kamu HADITS tentang pasukan? [85:17]
  28. Sudahkah sampai kepada kamu HADITS tentang sesuatu yang akan membebani? [88:1]

 

Kesimpulan

1)     Allah menggunakan kata HADITS untuk menggambarkan Al-Quran itu sendiri, dan juga maknanya yang bersifat umum.

2)     Al-Quran tidak pernah menggunakan kata hadits dengan cara kata yang umum digunakan pada saat ini (yaitu merujuk semata-mata kepada “hadits“ Nabi Muhammad, atau buku-buku “hadits“), yang dipahami sebagai 6 buku Hadits yang disusun antara tahun 180-280 H setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Jauh setelah Al-Qur’an.

3)     Pada ayat 12:111 Allah menyatakan HADITS ini (Al-Quran) mem-fasal-kan/ memerinci segala sesuatu.

4)     Ada orang yang menerima HADITS yang tidak berguna, menurut ayat 31:6.

5)     Allah menyatakan bahwa Al-Quran adalah HADITS yang terbaik dan yang paling benar [4:87, 39:23].

Dan akhirnya … hanya ada dua ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan kata hadits dan Nabi bersama-sama dalam ayat yang sama.

1)     Yang memberitahu kita apa yang terjadi ketika Nabi mengatakan kepada istri-istrinya sebuah HADITS:

Dan ingatlah ketika Nabi telah mempercayakan kepada sebagian istri-istrinya sebuah HADITS tertentu, maka salah satu dari mereka menyebarkannya, dan Allah memberitahu dia tentang hal itu. Dia kemudian memberitahu seorang istrinya sebagian dari berita tersebut, dan mengabaikan sebagian yang lain. Isterinya berkata: “Siapa yang memberitahu kamu tentang ini?”. Dia berkata: “Aku diberitahu oleh yang Maha mengetahui, yang paling Ahli ‘. [66:3]

Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka hati kamu telah mendengarkan. Tetapi jika kamu bersatu melawan dia, maka Allah adalah penolong dia, dan begitu juga Jibril dan orang-orang percaya yang benar. Juga, para malaikat adalah para pembantunya. [66:4]

Jika ia menceraikan kamu, Tuhannya akan menggantikan dengan istri yang lain di tempat kamu – yang lebih baik daripada kamu, patuh, beriman, taat, menyesal, pemuja, saleh, baik yang sebelumnya pernah menikah, atau yang perawan. [66:5]

2)     Yang memberitahu kita bahwa mereka yang tidak tinggal dengan Nabi dan menunggu hadits dari dia ketika di rumahnya, secara jelas menunjukkan bahwa Allah membedakan antara hadits tersebut dengan HADITS-NYA (sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran), haidist yang itu tidak sama dan tidak perlu:

Hai orang-orang yang beriman, jangan memasuki rumah Nabi kecuali jika kamu diundang untuk makan, tanpa kamu memaksa undangan seperti itu. Tetapi jika kamu diundang, kamu boleh masuk. Dan ketika kamu selesai makan, kamu harus pergi, tanpa tetap tinggal untuk menunggu sebuah HADITS. Hal ini biasanya mengganggu Nabi, dan dia malu untuk memberitahu kamu. Tetapi Allah tidak menghindar dari kebenaran. Dan jika kamu meminta kepada mereka (para istri Nabi) sesuatu, memintalah kepada mereka dari belakang penghalang. Yang demikian ini lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti utusan Allah, atau kamu menikah dengan istri-istrinya setelah dia selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (disanya) di sisi Allah. [33:53].

Silakan mempertimbangkan apa yang jawaban anda untuk pertanyaan yang dinyatakan oleh ayat 7:185, 45:6 & 77:50. Jika anda ragu-ragu atas jawaban yang mana yang harus seseorang berikan, silakan baca ayat-ayat yang mengikuti dua ayat di atas.


Ringkasan singkat pandangan penulis terhadap buku-buku hadits:

Tidak ada satupun yang dapat dianggap sebagai Firman Tuhan yang harfiah/ langsung, karena ini hanya terkandung dalam Al-Qur’an.

Ahadits tidak mewakili ucapan/ tindakan langsung dari Nabi Muhammad, tetapi merupakan LAPORAN tentang ucapan/ tindakannya oleh generasi berikutnya. Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Beberapa informasi dalam buku-buku hadits bisa jadi benar, tetapi tidak ada cara untuk mengatakan bagian yang mana, kecuali kita menggunakan standar tertinggi untuk membandingkan, yaitu Al-Qur’an. Situasinya mirip dengan Alkitab (yang ditulis pada 100 tahun setelah meninggalnya Yesus), sebagian memang benar, tetapi tidak ada cara untuk mengatakan bagian yang mana, kecuali kita menggunakan standar tertinggi untuk membandingkan, yaitu Al-Qur’an.

Tidak ada informasi dalam buku-buku hadits yang dapat digunakan sebagai SUMBER HUKUM, karena Al-Quran sudah lengkap dalam hal ini dan tidak membutuhkan pelengkap.

Ahadits mungkin masih boleh digunakan sebagai SUMBER INFORMASI untuk meningkatkan pengetahuan kita, seperti buku-buku lainnya. Namun, studi Al-Qur’an harus menjadi yang pertama dan terpenting.

 

Pesan pribadi dari penulis:

Jika anda membaca artikel ini dan datang dari latar belakang Muslim ahlul hadits (seperti saya, Sunni/ Syiah dll) anda mungkin akan memiliki keraguan tentang kebenaran dari artikel ini. Oleh karena itu, harap memverifikasi semua ayat-ayat tersebut oleh anda sendiri, terutama karena ini adalah perintah dari Allah. Tidak ada yang lebih kuat daripada melihat kebenaran untuk diri sendiri.

Katakanlah anda menerima bahwa ada kesempatan yang sangat kecil bahwa sebagai Muslim, kita tidak harus mengikuti buku-buku hadits sebagai sumber hukum … Anda mungkin bertanya pada diri sendiri bagaimana bisa begitu banyak Muslim menjadi sesat? Itu tidak mungkin ….. atau apakah mungkin?

Apakah anda lupa tentang orang-orang Kristen? Sebagai Muslim, kita percaya bahwa Yesus mengajarkan pesan yang sama seperti semua Nabi, yaitu kepercayaan pada satu Tuhan, bukan tritunggal atau bahwa Isa adalah anak Allah.

Biarlah saya jawab dengan menggunakan logika yang sama … ini tidak mungkin benar, karena terdapat lebih dari 1,5 miliar orang Kristen yang berpikir sebaliknya. Yesus harus menjadi anak Allah, Allah harus trinitas! Pasti begitu banyak orang dapat tersesat? Atau bisakah mereka tersesat?

Hanya karena banyak orang yang mengikutinya, tidak otomatis menjadikannya benar. Selama studi saya tentang Al-Quran, Saya kagum melihat bahwa Al-Qur’an itu sendiri menyatakan bahwa sebagian besar orang di bumi adalah sesat/ musyrik/ kafir. Dan itu tidak semuanya, kebanyakan mereka yang berpikir bahwa mereka percaya kepada Allah sebenarnya musyrik (orang-orang yang mengasosiasikan adanya mitra Allah). Apa lagi bukti yang anda butuhkan? Anda harus setidaknya menerima, bahwa ini adalah suatu kemungkinan.

Tentu, ini mungkin tampak seperti pandangan radikal … Anda mungkin berpikir: saya belum pernah mendengar hal ini sebelumnya … pasti merupakan sesuatu yang baru? Benarkah in itu?

Apakah anda sudah meneliti ini? Saya sudah, dan anda akan terkejut bila mengetahui bahwa pandangan saya dipegang oleh para pengikut awal Islam. Masih tidak percaya padaku? Ayo … silahkan diverifikasi … apa yang hilang dari anda kalau anda tahu hak anda?

 

Beberapa contoh praktis untuk menunjukkan apa yang sedang saya bicarakan…..

  • Perbedaan antara apa yang Al-Quran katakan tentang anjing dan apa yang narasi tradisi (hadits) katakan tentang mereka.
  • Yang disebut rukun pertama dari Islam tidak ada dalam Al-Qur’an.
  • Konsep 5 rukun Islam tidak ada dalam Al-Qur’an.
  • Ritual-ritual tradisional di dalam “haji” tidak semuanya ada dalam Al-Qur’an.
  • “Sholat” tradisional ritual 5 kali sehari dll tidak ada dalam Al-Qur’an.
  • Dalam Al-Qur’an, kata “hijab” TIDAK PERNAH berarti item dari pakaian, apalagi penutup kepala
  • Kata-kata “sunnah” dan “hadits” TIDAK PERNAH digunakan dalam Al-Quran seperti yang mayoritas gunakan saat ini.
  • Mindset (pola pikir) dan tindakan lebih dihargai lebih besar dari pada keanggotaan anda dari sesuatu yang disebut kelompok, misalnya Muslim. Lihat ayat 2:62.
  • Hukuman untuk murtadin (di hadits/ fiqh) bertentangan dengan Al-Quran, lihat ayat 4:137, 2:256.
  • Perbedaan fundamental antara “mumineen” & “muslimeen”, misalnya 49:14.
  • “Zakat” tidaklah sekali per tahun dan 2,5%, keduanya melawan rekomendasi Al-Quran tentang kapan pun anda menerima upah anda memberikan bagian yang adil, dari kelebihannya.

Atau, lakukanlah penelitian sendiri: www.studyquran.org

Sumber: http://mypercept.co.uk/articles/Hadith_in_Quran.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.